• Tidak ada hasil yang ditemukan

Social Capital in the Management of Forest Gardens (Dukuh) on Karang Intan Subdistrict, Banjar Regency, South Kalimantan Province

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Social Capital in the Management of Forest Gardens (Dukuh) on Karang Intan Subdistrict, Banjar Regency, South Kalimantan Province"

Copied!
324
0
0

Teks penuh

(1)

MODAL SOSIAL

DALAM PENGELOLAAN KEBUN HUTAN (

DUKUH

)

DI KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

MUHAMMAD MUGNI BUDI MULYONO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Modal Sosial dalam Pengelolaan Kebun Hutan (Dukuh) di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

(4)

ABSTRACT

MUHAMMAD MUGNI BUDI MULYONO. Social Capital in the Management of Forest Gardens (Dukuh) on Karang Intan Subdistrict, Banjar Regency, South Kalimantan Province. Under direction of DIDIK SUHARJITO and SARWITITI.

Some researches on the management of community forestry have been done across continents with various themes. This study aims to measure the level of social capital in the management of forest gardens (dukuh), and analyze their effects on the dukuh performance. The research was conducted by using survey method. Two villages were purposively selected. Respondents were randomly selected from each villages with total number of 60 respondents. The results showed that the level of social capital in two communities in the management of dukuh is high, based on strongly held norms, values, beliefs, and rules. High social capital has facilitated the formation of the good dukuh performance, characterized by good levels of plant density, the value of high productivity, efficient use of resources, utilization of resources is fair, as well as the on going sustainable management of dukuh. This study concludes that social capital of Karang Intan community is still strong. Considering the high social capital in the community, the authors suggest the need for government support, especially through the enhancement of the role, the expansion of social networks, and strengthening the norms in force.

(5)

RINGKASAN

MUHAMMAD MUGNI BUDI MULYONO. Modal Sosial dalam Pengelolaan Kebun Hutan (Dukuh) di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Dibimbing oleh DIDIK SUHARJITO dan SARWITITI.

Kajian-kajian tentang pengelolaan sumberdaya hutan dan eksistensi masyarakat lokal telah cukup banyak dilakukan bahkan terus memperoleh perhatian serius hingga saat ini. Perhatian tersebut didorong oleh keinginan untuk memahami hubungan sosial dan ekologi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan berkelanjutan. Kajian-kajian tersebut menunjukkan kesimpulan yang berbeda-beda tentang kapasitas masyarakat dalam mengelola hutan, sebagian menunjukkan kapasitas masyarakat yang memadai untuk mengelola hutan secara baik dan lestari, sebagian lain menunjukkan kasus kelompok masyarakat yang gagal mengelola hutan. Para peneliti sepakat bahwa kapasitas masyarakat menentukan keberhasilan pengelolaan hutan. Namun deskripsi penjelasan dan operasionalisasi konsep-konsep tersebut berbeda-beda. Demikian pula konsep social capital (modal sosial) sebagai salah satu konsep yang dapat digunakan untuk mengukur kapasitas masyarakat, sering dioperasionalkan secara berbeda-beda tergantung pada kajian.

Penelitian tentang modal sosial maupun penelitian tentang pengelolaan sumberdaya hutan yang berbasiskan masyarakat dalam berbagai aspek sudah cukup banyak diteliti, akan tetapi penelitian tentang keterkaitan keduanya yaitu pengaruh dan peranan modal sosial dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang berbasis masyarakat belum banyak diteliti, lebih khusus modal sosial dalam pengelolaan kebun hutan (dukuh) di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Fakta menunjukkan bahwa keberadaan sumberdaya hutan dukuh yang terbentuk sejak ratusan tahun yang lalu ternyata masih mampu eksis hingga saat ini. Sistem pengelolaan dukuh tersebut tidak terlepas dari modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat. Penelitian tentang modal sosial dalam pengelolaan dukuh ini penting untuk memberikan pemahaman tentang hubungan sosial dan ekologi, khususnya untuk pengelolaan sumberdaya hutan yang berbasiskan masyarakat secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat modal sosial dalam pengelolaan dukuh dan menganalisis bagaimana hubungan antara modal sosial dengan performansi dukuh.

(6)

(roles), dan jejaring (networks). Kepercayaan, kerjasama dan solidaritas, serta kelembagaan formal maupun informal dengan segala aturan, peranan, dan interaksi jaringan yang tersebar di dalam komunitas pengelola dukuh dapat memberikan energi dan menunjukkan bagaimana seseorang dapat memperoleh hasil dan manfaat darinya sekaligus memperkuat modal sosial. Semakin kuat modal sosial, semakin baik pula upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan untuk mempertahankan performansi dukuh. Sebaliknya semakin baik performansi dukuh maka akan semakin menguatkan modal sosial masyarakat karena meningkatnya ekspektasi (harapan) akan aliran manfaat yang dapat mereka produksi bersama-sama.

Penelitian ini menggunakan metode survai. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner terstruktur kepada responden, wawancara mendalam kepada beberapa informan kunci yaitu kepala desa (pembakal) dan beberapa tokoh masyarakat, pengamatan (observation) dan pengukuran langsung di lapangan untuk mengetahui performansi dukuh. Data sekunder diperoleh dari data-data laporan (dokumentasi) dari berbagai instansi terkait yang mendukung penelitian ini. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) kondisi umum lokasi penelitian, (2) modal sosial masyarakat dalam pengelolaan dukuh, (3) performansi dukuh (kerapatan tumbuhan, produktivitas dukuh, sustainabilitas/keberlanjutan dukuh, ekuitabilitas/keadilan, dan efisiensi). Responden dipilih secara acak dari anggota komunitas yang memiliki dukuh di dua desa yaitu Bi‟ih dan Mandiangin Barat. Jumlah responden untuk masing-masing komunitas dukuh adalah 30, sehingga total untuk dua desa adalah 60 responden. Penetapan dua desa tersebut dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Bi‟ih adalah desa yang paling jauh sedangkan Desa Mandiangin Barat adalah desa yang paling dekat dengan Ibu Kota Kabupaten. Penelitian berlangsung selama 3 (tiga) bulan, sejak Bulan Desember 2011 sampai dengan Bulan Pebruari 2012. Data diolah dan dianalisis dengan beberapa cara, yaitu: pengukuran tingkat modal sosial, pengukuran tingkat performansi dukuh dan analisis hubungan antara modal sosial dengan performansi dukuh. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan besarnya tingkat modal sosial (rendah, sedang, tinggi) serta tingkat performansi dukuh (buruk, sedang, baik) dilakukan dengan persamaan selang nilai. Adapun untuk mengetahui hubungan antara modal sosial dengan performansi dukuh dilakukan dengan menggunakan analisis uji koefisien Peringkat Spearman (Rs).

(7)

modal sosial Komunitas Dukuh Bi‟ih tersebut masih lebih tinggi daripada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat karena norma-norma (norms), nilai-nilai (values), sikap (attitudes), dan keyakinan (beliefs) yang melekat pada warga Komunitas Dukuh Bi‟ih lebih terjaga dan terpelihara dari berbagai faktor yang mempengaruhinya sehingga kepercayaan (trust), kerjasama (cooperation), dan solidaritas (solidarity) yang terbangun juga lebih kuat dibanding dengan Komunitas Dukuh Mandiangin Barat. Nilai-nilai (values) yang melekat pada kedua komunitas dukuh tersebut diantaranya adalah kejujuran, ketulusan, ikhlas tanpa pamrih, saling menolong dan menghormati, kedermawanan, rasa empati, kesetiakawanan, dan keyakinan (beliefs) akan adanya keberkahan, pembalasan serta pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.

Performansi dukuh yang diukur dari kerapatan tumbuhan, produktivitas dukuh, sustainabilitas/keberlanjutan dukuh, ekuitabilitas/keadilan, dan efisiensi pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat dan Komunitas Dukuh Bi‟ih juga sama-sama tergolong baik dengan skor masing-masing 395 dan 418. Meskipun tingkat performansi dukuh pada kedua komunitas dukuh tersebut sama-sama tergolong baik, namun jika dibandingkan maka skor performansi dukuh pada Komunitas Dukuh Bi‟ih masih lebih tinggi daripada skor performansi dukuh pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat. Performansi dukuh pada Komunitas Dukuh

Bi‟ih lebih tinggi daripada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat karena upaya-upaya yang dilakukan oleh warga Komunitas Dukuh Bi‟ih dalam pengelolaan dukuh masih lebih intensif daripada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat, namun demikian performansi dukuh keduanya sama-sama tergolong baik.

Modal sosial yang tinggi pada komunitas dukuh di Kecamatan Karang Intan telah memfasilitasi terbentuknya performansi dukuh yang baik, dicirikan oleh tingkat kerapatan tumbuhan yang baik, nilai produktivitas yang tinggi, penggunaan sumberdaya yang efisien, pemanfaatan sumberdaya yang adil, serta berlangsungnya pengelolaan dukuh secara berkelanjutan. Performansi dukuh yang baik di Kecamatan Karang Intan tersebut tidak terlepas dari pengaruh modal sosial komunitasnya. Hasil uji korelasi peringkat spearman menunjukkan bahwa modal sosial kognitif berupa kepercayaan, kerjasama, dan solidaritas serta modal sosial struktural berupa aturan, peranan dan jaringan berpengaruh nyata dan berkorelasi positif terhadap performansi dukuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi modal sosial yang dimiliki oleh warga komunitas dukuh maka semakin tinggi pula harapan untuk terwujudnya performansi dukuh yang baik karena upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan dukuh semakin intensif. Sebaliknya, semakin baik performansi dukuh maka akan semakin menguatkan modal sosial masyarakat karena meningkatnya ekspektasi (harapan) akan aliran manfaat yang dapat mereka produksi bersama-sama.

(8)

©

Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(9)

MODAL SOSIAL

DALAM PENGELOLAAN KEBUN HUTAN (

DUKUH

)

DI KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

MUHAMMAD MUGNI BUDI MULYONO

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)
(11)

Judul Tesis : Modal Sosial dalam Pengelolaan Kebun Hutan (Dukuh) di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan

Nama Mahasiswa : Muhammad Mugni Budi Mulyono

NRP : E151090131

Disetujui: Komisi Pembimbing,

Dr. Ir. Didik Suharjito, MS Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS

Ketua Anggota

Diketahui: Koordinator Mayor

Ilmu Pengelolaan Hutan,

Dekan Sekolah Pascasarjana,

Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

(12)
(13)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tesis ini berjudul

“Modal Sosial dalam Pengelolaan Kebun Hutan (Dukuh) di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Didik Suharjito, MS dan Ibu Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan dalam penyusunan tesis ini. Juga kepada seluruh instansi dan pihak terkait di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten atas bantuan fasilitas, data dan informasi yang diberikan selama penulis melaksanakan penelitian. Serta kepada semua masyarakat di Kecamatan Karang Intan khususnya kepada Bapak H. Imanuddin, Amang Mahyani dan Muhammad Fitriyandhi yang telah memberikan bantuan kepada saya pada saat pengumpulan data di lapangan. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada ayah, ibu, seluruh keluarga serta sahabat-sahabat semua atas dukungan, bantuan, serta doanya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.

(14)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Barabai, 11 Mei 1975 dari ayah Hamran Sani dan ibu Misrah. Penulis merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN Sei Pering 1 Martapura, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Martapura dan Sekolah Menengah Atas pada SMA Negeri Martapura Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan dan lulus tahun 1993. Penulis mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan dari Jurusan Manajemen Hutan pada Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1999.

(15)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan ... 4

1.4 Manfaat ... 4

1.5 Hipotesis ... 4

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Konsep Modal Sosial ... 5

2.2 Kategori Modal Sosial ... 9

2.3 Pengukuran Modal Sosial ... 12

2.4 Konsep Kehutanan Masyarakat ... 13

3 METODOLOGI PENELITIAN ... 17

3.1 Kerangka Pemikiran ... 17

3.2 Definisi Operasional ... 19

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 23

3.5 Pengukuran Lapangan ... 24

3.6 Pengolahan dan Analisis Data ... 25

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ... 29

4.1 Keadaan Fisik ... 29

4.1.1 Letak dan Luas Wilayah ... 29

4.1.2 Topografi ... 29

4.1.3 Iklim ... 30

4.1.4 Tanah ... 30

4.2 Keadaan Sosial Ekonomi ... 30

4.2.1 Kependudukan ... 30

4.2.2 Tingkat Pendidikan ... 31

4.2.3 Mata Pencaharian ... 32

4.2.4 Penggunaan Lahan ... 33

4.2.5 Sarana dan Prasarana ... 34

4.3 Karakteristik Responden ... 35

4.3.1 Umur ... 35

4.3.2 Tingkat Pendidikan ... 35

4.3.3 Jumlah Anggota Keluarga ... 36

4.3.4 Mata Pencaharian ... 37

(16)

4.4 Sistem Pengelolaan Dukuh ... 39

4.4.1 Proses Terbentuknya Dukuh ... 39

4.4.2 Penanaman/Permudaan ... 40

4.4.3 Pemeliharaan ... 41

4.4.4 Pemanenan ... 42

4.4.5 Pengaturan Hasil/Pemasaran ... 44

5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 47

5.1 Modal Sosial Dalam Pengelolaan Dukuh ... 47

5.1.1 Modal Sosial Kognitif ... 47

5.1.1.1 Kepercayaan (trust) ... 47

5.1.1.2 Kerjasama (cooperation) ... 57

5.1.1.3 Solidaritas (solidarity) ... 62

5.1.2 Modal Sosial Struktural ... 69

5.1.2.1 Aturan (rules) ... 69

5.1.2.2 Peranan (roles) ... 81

5.1.2.3 Jaringan (networks) ... 87

5.2 Performansi Dukuh ... 95

5.2.1 Kerapatan Tumbuhan ... 96

5.2.2 Produktivitas ... 99

5.2.3 Keberlanjutan (Sustainabilitas) ... 100

5.2.4 Keadilan (Ekuitabilitas) ... 102

5.2.5 Efisiensi ... 103

5.3 Hubungan Modal Sosial dengan Performansi Dukuh ... 105

5.3.1 Hubungan Modal Sosial Kognitif dengan Performansi Dukuh ... 106

5.3.2 Hubungan Modal Sosial Struktural dengan Performansi Dukuh ... 109

6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 113

6.1 Kesimpulan ... 113

6.2 Saran ... 116

DAFTAR PUSTAKA ... 117

(17)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Kategori modal sosial ... 11

2 Variabel pengukuran modal sosial berdasarkan definisi operasional ... 21

3 Cara pengukuran tingkat modal sosial pada komunitas dukuh ... 25

4 Cara pengukuran tingkat performansi dukuh pada komunitas dukuh ... 28

5 Keadaan penduduk di Desa Mandiangin Barat dan Desa Bi‟ih ... 31

6 Tingkat pendidikan penduduk di Desa Mandiangin Barat dan Desa Bi‟ih ... 32

7 Mata pencaharian masyarakat di Desa Mandiangin Barat dan Desa Bi‟ih ... 32

8 Penggunaan lahan di Kecamatan Karang Intan ... 33

9 Keadaan sarana dan prasarana di Desa Mandiangin Barat dan Desa Bi‟ih ... 34

10 Sebaran umur responden ... 35

11 Tingkat pendidikan responden ... 36

12 Jumlah anggota keluarga responden ... 37

13 Mata pencaharian pokok responden ... 38

14 Luas kepemilikan dukuh responden ... 38

15 Estimasi hasil produksi dukuh pada tiga jenis tanaman buah ... 43

16 Distribusi responden menurut tingkat kepercayaan (trust) ... 48

17 Distribusi responden menurut tingkat kerjasama (cooperation) ... 57

18 Distribusi responden menurut tingkat solidaritas (solidarity) ... 62

19 Ikhtisar sumber-sumber modal sosial kognitif pada komunitas dukuh ... 68

20 Distribusi responden menurut tingkat pemahaman terhadap aturan .... 78

(18)

22 Peranan para tokoh yang terlibat dalam mendukung pengelolaan

dukuh pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat dan Bi‟ih ... 82

23 Distribusi responden menurut tingkat peranan para tokoh ... 83

24 Distribusi responden menurut tingkat jaringan ... 87

25 Tingkatan modal sosial pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat dan Komunitas Dukuh Bi‟ih ... 93

26 Komposisi jenis dan kerapatan tumbuhan dari tingkat semai, pancang, tiang, hingga pohon yang terdapat pada Dukuh Mandiangin Barat ... 97

27 Komposisi jenis dan kerapatan tumbuhan dari tingkat semai, pancang, tiang, hingga pohon yang terdapat pada Dukuh Bi‟ih ... 98

28 Distribusi responden menurut tingkat produktivitas dukuh ... 99

29 Distribusi responden menurut tingkat keberlanjutan dukuh ... 101

30 Distribusi responden menurut tingkat keadilan dukuh ... 103

31 Distribusi responden menurut tingkat efisiensi dukuh ... 103

32 Tingkatan kategori performansi dukuh dan modal sosial pada Dukuh Mandiangin Barat dan Dukuh Bi‟ih ... 105

33 Hubungan antara modal sosial kognitif dengan performansi dukuh pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat ... 106

34 Hubungan antara modal sosial kognitif dengan performansi dukuh pada Komunitas Dukuh Bi‟ih ... 107

35 Hubungan antara modal sosial struktural dengan performansi dukuh pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat ... 109

(19)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Bias pemanfaatan lahan (the land use spectrum) berdasarkan zona

ketinggian tempat menurut Salafsky (1994) ... 14

2 Kerangka pemikiran penelitian ... 19

3 Diagram pemasaran hasil-hasil dukuh ... 45

(20)
(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Data responden pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat ... 125 2 Data responden pada Komunitas Dukuh Bi‟ih ... 126 3 Pendapatan responden dalam pengelolaan dukuh dan

kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga pada komunitas

Dukuh Mandiangin Barat ... 127 4 Pendapatan responden dalam pengelolaan dukuh dan

kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga pada komunitas

Dukuh Bi‟ih ... 128 5 Luas dukuh responden dan asal usul kepemilikannya pada

komunitas Dukuh Mandiangin Barat ... 129 6 Luas dukuh responden dan asal usul kepemilikannya pada

komunitas Dukuh Bi‟ih ... 130 7 Luas lahan milik responden pada komunitas Dukuh Mandiangin

Barat ... 131 8 Luas lahan milik responden pada komunitas Dukuh Bi‟ih ... 132 9 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat semai pada Dukuh

Mandiangin Barat ... 133 10 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat semai pada Dukuh

Bi‟ih ... 133 11 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat pancang pada

Dukuh Mandiangin Barat ... 134 12 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat pancang pada

Dukuh Bi‟ih ... 134 13 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat tiang pada Dukuh

Mandiangin Barat ... 135 14 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat tiang pada Dukuh

(22)

15 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat pohon pada Dukuh

Mandiangin Barat ... 136 16 Kerapatan dan Kerapatan Relatif (KR) tingkat pohon pada Dukuh

Bi‟ih ... 136 17 Jenis-jenis satwa yang terdapat di dalam Dukuh Mandiangin Barat

dan Dukuh Bi‟ih ... 137 18 Uji Korelasi Spearman antara modal sosial dengan performansi

dukuh pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat ... 138 19 Uji Korelasi Spearman antara modal sosial dengan performansi

(23)

1.1 Latar Belakang

Suatu fenomena dalam pengelolaan sumberdaya hutan di dunia sekarang adalah melakukan desentralisasi dan devolusi pengelolaannya kepada beberapa stakeholder di level bawah seperti lembaga-lembaga independen, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok masyarakat itu sendiri. Beberapa faktor yang melatarbelakangi trend tersebut antara lain tumbuhnya keinginan untuk memangkas sistem birokrasi yang terpusat, pengalaman kegagalan pengelolaan hutan, globalisasi ekonomi dan pasar bebas, serta semakin tumbuhnya kesadaran akan keberhasilan pengelolaan hutan yang berbasiskan masyarakat.

Kajian-kajian tentang pengelolaan sumberdaya hutan dan eksistensi masyarakat lokal telah cukup banyak dilakukan bahkan terus memperoleh perhatian serius hingga saat ini. Perhatian tersebut didorong oleh keinginan untuk memahami hubungan sosial dan ekologi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan berkelanjutan (Ashenafi & Williams 2005; Moeliono et al. 2008). Di Indonesia, kajian-kajian ini berkembang terkait belum optimalnya implementasi kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis masyarakat, dimana masih terdapat perbedaan persepsi antara masyarakat sekitar hutan dan pengambil kebijakan kehutanan (Suharjito et al. 2000).

(24)

al. 2006). Kajian-kajian tersebut menunjukkan kapasitas masyarakat dan dinamikanya dalam mengelola sumberdaya hutan.

Kajian-kajian tersebut menunjukkan kesimpulan yang berbeda-beda tentang kapasitas masyarakat dalam mengelola hutan. Sebagian kajian menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai kapasitas yang memadai untuk mengelola hutan secara baik dan lestari (Becker & Leon 2000, Hafizianor 2002, Adnan et al. 2008, Suharjito & Saputro 2008, Gunarso et al. 2009, Aryadi 2010). Sebagian lain menunjukkan kasus kelompok masyarakat yang gagal mengelola hutan (Gibson & Becker 2000). Para peneliti sepakat bahwa nilai sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat, property rights (hak-hak penguasaan sumberdaya hutan), dan kapasitas masyarakat menentukan keberhasilan pengelolaan hutan. Namun deskripsi penjelasan dan operasionalisasi konsep-konsep tersebut berbeda-beda. Demikian pula konsep-konsep modal sosial (social capital), sebagai salah satu konsep yang dapat digunakan untuk mengukur

kapasitas masyarakat, sering dioperasionalkan secara berbeda-beda tergantung pada kajian (Serageldin & Grootaert 2000).

Modal sosial disamping modal manusia, modal fisik dan modal ekonomi, merupakan faktor krusial yang mendorong percepatan pembangunan (Fadli 2007). Modal sosial juga memiliki peranan yang cukup penting dalam memelihara dan membangun integrasi serta perekat sosial (social engagement) dalam masyarakat, bahkan secara tidak langsung mampu mencegah terjadinya konflik horizontal dalam masyarakat (Sobel 2002, Adger 2003, Hermawanti & Rinandri 2003, Siregar 2004, Flora 2007, Vemuri 2011).

(25)

kesejahteraan rumah tangga cenderung akan semakin menguatkan modal sosial (Vipriyanti 2007).

Penelitian tentang modal sosial maupun penelitian tentang pengelolaan sumberdaya hutan yang berbasiskan masyarakat dalam berbagai aspek sudah cukup banyak diteliti, akan tetapi penelitian tentang keterkaitan keduanya yaitu pengaruh dan peranan modal sosial dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang berbasiskan masyarakat belum banyak diteliti, lebih khusus modal sosial dalam pengelolaan dukuh1 di Kalimantan Selatan belum pernah diteliti. Fakta menunjukkan bahwa keberadaan sumberdaya hutan dukuh yang terbentuk sejak ratusan tahun yang lalu ternyata masih mampu eksis hingga saat ini. Modal sosial dengan wujud nyata seperti kepercayaan, kerjasama dan solidaritas yang terinternalisasi dalam masyarakat, serta adanya aturan, peranan dan jaringan sosial yang bekerja dalam pengelolaan dukuh menjelaskan tingkat performansinya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara modal sosial masyarakat dengan performansi

sumberdaya hutan berupa “dukuh” yang ada di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Modal sosial dalam pengelolaan dukuh merupakan akumulasi dari beragam unsur sosial yang saling terkait yang dapat meningkatkan tindakan kolektif yang saling menguntungkan masyarakat dalam pengelolaan dukuh. Dalam pengelolaan sumberdaya hutan berupa dukuh, unsur-unsur modal sosial, baik kognitif (kepercayaan, kerjasama, dan solidaritas), maupun struktural (aturan, peranan, dan jaringan) yang tersebar di dalam komunitas pengelola dukuh dapat memberikan energi untuk memperkuat modal sosial dalam mendukung terwujudnya performansi dukuh yang baik. Semakin kuat modal sosial, semakin baik pula upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan untuk mempertahankan performansi dukuh.

1

(26)

Sebaliknya semakin baik performansi dukuh maka akan semakin menguatkan modal sosial masyarakat karena meningkatnya ekspektasi (harapan) akan aliran manfaat yang dapat mereka produksi bersama-sama. Dengan demikian maka dapat dirumuskan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana tingkat modal sosial dalam mendukung pengelolaan dukuh? b. Bagaimana hubungan antara modal sosial dengan performansi dukuh?

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

a. Mengidentifikasi tingkat modal sosial dalam pengelolaan dukuh. b. Menjelaskan hubungan antara modal sosial dengan performansi dukuh.

1.4 Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh hasil dan informasi yang berguna secara akademis dalam mengembangkan kajian sosial kehutanan yang terkait dengan modal sosial masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan sebagai salah satu strategi pembangunan kehutanan masyarakat berkelanjutan.

1.5 Hipotesis

(27)

2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Modal Sosial

Secara umum, konsep modal sosial dikembangkan oleh dua aliran utama, yaitu kelompok ahli sosiologi-antropologi serta kelompok ahli politik dan ekonomi kelembagaan. Para ahli tersebut memiliki beragam definisi tentang apa yang mereka maksudkan dengan modal sosial, walaupun secara hakikat tidak terdapat perbedaan yang mendasar. Pandangan sosiologis melihat aktor dan tindakan sosial dikendalikan oleh norma sosial, aturan, dan jaminan. Modal sosial menjelaskan tindakan di dalam konteks sosial dan menjelaskan cara tindakan dibentuk, dihambat, dan dialihkan oleh konteks sosial itu. Pandangan ekonomis melihat aktor sebagai pemilik tujuan yang dapat mencapai tujuannya secara bebas, keseluruhan yang mendahulukan kepentingan sendiri dalam prinsip memaksimalkan keuntungan (Siregar 2004).

Bourdieu (1970), mendefinisikan modal sosial sebagai sumberdaya aktual dan potensial yang dimiliki oleh seseorang yang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain: keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif. Dalam pengertian ini modal sosial menekankan pentingnya transformasi dari hubungan sosial yang sesaat dan rapuh, seperti pertetanggaan, pertemanan, atau kekeluargaan, menjadi hubungan yang bersifat jangka panjang yang diwarnai oleh perasaan kewajiban terhadap orang lain. Bourdieu (1970) juga menegaskan tentang modal sosial sebagai sesuatu yang berhubungan satu dengan yang lain, baik ekonomi, budaya, maupun bentuk-bentuk social capital (modal sosial) berupa institusi lokal maupun kekayaan sumberdaya alam lainnya. Pendapatnya menegaskan tentang modal sosial yang mengacu pada keuntungan dan kesempatan yang didapatkan seseorang di dalam masyarakat melalui keanggotaannya dalam entitas sosial tertentu seperti paguyuban, kelompok arisan, atau asosiasi tertentu (Damsar 2009).

(28)

beberapa struktur sosial yang memfasilitasi tindakan dari para pelakunya, apakah dalam bentuk individu atau kelompok/organisasi dalam suatu struktur sosial. Ia juga menjelaskan bahwa modal sosial adalah aspek-aspek dari struktur hubungan antara individu-individu yang memungkinkan mereka menciptakan nilai-nilai baru. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa modal sosial sebagai sesuatu yang memiliki dua ciri, yaitu merupakan aspek dari struktur sosial serta memfasilitasi tindakan individu dalam struktur sosial tersebut. Dalam pengertian ini, bentuk-bentuk modal sosial berupa kewajiban dan harapan, potensi informasi, norma dan sanksi yang efektif, hubungan otoritas, serta organisasi sosial yang bisa digunakan secara tepat dan melahirkan kontrak sosial. Beberapa tambahan pengertian misalnya bersumber dari hasil konferensi yang dilakukan oleh Michigan State University, Amerika Serikat, tentang modal sosial dapat didefinisikan pengertian

modal sosial sebagai “simpati atau rasa kewajiban yang dimiliki seseorang atau

kelompok terhadap orang lain atau kelompok lain yang mungkin bisa menghasilkan potensi keuntungan dan tindakan preferensial, dimana potensi dan

preferensial itu tidak bisa muncul dalam hubungan sosial yang bersifat egois”.

Berbeda dengan Bourdieu (1970) dan James Coleman (1988) di atas, menurut Ostrom (1992), modal sosial adalah kemampuan suatu komunitas merajut institusi atau pranata. Lebih lanjut Ostrom menjelaskan bahwa melalui serangkaian pengalamannya yang cukup luas dalam mengkaji proyek-proyek pembangunan di negara-negara berkembang menyatakan bahwa modal sosial merupakan prasyarat bagi keberhasilan suatu proyek pembangunan. Ostrom menitikberatkan pada rajutan institusi atau pranata. Dalam hal ini yang dimaksud dengan institusi atau pranata adalah seperangkat aturan yang digunakan secara aktual oleh sekelompok individu atau komunitas untuk mengorganisasikan tindakan yang berulang-ulang yang menghasilkan suatu luaran yang mempengaruhi kelompok individu tersebut dan juga sangat potensial untuk mempengaruhi orang lain. Kesimpulannya, institusi adalah seperangkat aturan yang berlaku atau digunakan dan dijadikan sebagai acuan berperilaku.

(29)

jaringan-jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi dalam suatu masyarakat melalui fasilitasi bagi tindakan-tindakan yang terkoordinasi. Lebih lanjut Putnam menjelaskan bahwa modal sosial senantiasa berada pada posisi utama dalam membangun dan terciptanya masyarakat sipil. Sebagai elemen penting yang terkandung dalam masyarakat sipil, modal sosial menunjuk pada nilai dan norma yang dipercayai dan dijalankan oleh sebagian besar anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup individu dan keberlangsungan komunitas masyarakat. Bahkan, berdasarkan banyak pengalaman dalam kerja sosial, menurut Putnam bahwa apa yang dinamakan kerjasama sukarela (kerja bakti, gotong-royong) lebih mudah terjadi di dalam suatu komunitas yang telah mewarisi sejumlah modal sosial yang substansial dalam bentuk aturan-aturan, pertukaran timbal balik, dan jaringan-jaringan kesepakatan warga.

Menurut Uphoff (2000) serta Serageldin dan Grootaert (2000), rumusan konsep modal sosial oleh Putnam tersebut kurang operasional. Uphoff (2000) menyatakan banyak definisi yang diberikan oleh para ahli masih membutuhkan validasi, sehingga perlu lebih fokus pada komponen-komponen, hubungan-hubungan dan hasil-hasil yang dapat dievaluasi dalam praktek pembangunan secara nyata. Modal sosial membutuhkan penekanan pada hal-hal seperti apa unsur-unsur yang menyusunnya, apa yang menghubungkan mereka, serta konsekuensi apa yang dapat dikaitkan dengan unsur-unsur dan interaksi tersebut.

(30)

diandalkan demi pembangunan sosial ekonomi dengan biaya yang efektif? Saat ini, konsep modal sosial bentuknya memang tidak lebih jelas daripada partisipasi, namun ia justru lebih menarik, karena jika kita berhasil memahaminya, maka kita dapat berinvestasi di dalamnya untuk menciptakan aliran manfaat yang lebih besar.

Uphoff (2000) menyatakan bahwa “Social capital is an accumulation of various types of social, psychological, cultural, cognitive, institutional, and related assets that increase the amount (or probability) of mutually beneficial

cooperative behavior” (modal sosial adalah akumulasi dari beragam tipe sosial, psikologis, budaya, kognitif, kelembagaan, dan aset-aset yang terkait yang dapat meningkatkan kemungkinan manfaat bersama dari perilaku kerjasama). Aset disini diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat mengalirkan manfaat untuk membuat proses produktif di masa mendatang lebih efisien, efektif, inovatif dan dapat diperluas atau disebarkan dengan mudah. Sedangkan perilaku bermakna sama positifnya antara apa yang dilakukan untuk orang lain dengan perilaku untuk diri sendiri. Artinya, perilaku tersebut bermanfaat untuk orang lain dan tidak hanya diri sendiri. Dalam hal ini, Uphoff (2000) menghubungkan konsep modal sosial dengan proposisi bahwa hasil dari interaksi sosial haruslah dapat

mendorong lahirnya “manfaat bersama” (Mutually Beneficial Collective Action/MBCA).

(31)

komponen-komponen, hubungan-hubungan dan hasil-hasil yang dapat dievaluasi dalam praktek pembangunan secara nyata. Modal sosial membutuhkan penekanan pada hal-hal seperti apa unsur-unsur yang menyusunnya, apa koneksi/yang menghubungkan mereka, serta konsekuensi apa yang dapat dikaitkan dengan unsur-unsur dan interaksi tersebut (Uphoff 2000).

2.2 Kategori Modal Sosial

Woolcock (1998) membedakan modal sosial menjadi tiga tipe yaitu bounding, bridging dan linking. Tipe ‘bounding’ dicirikan dengan ikatan yang

kuat (atau „social glue‟), seperti antar anggota atau anggota keluarga dalam grup

etnik yang sama. Tipe ‘Bridging’ dicirikan dengan ikatan yang lemah (social oil), seperti asosiasi lokal, hubungan teman dari grup etnik berbeda. Tipe ‘linking’ dicirikan dengan hubungan antara kelompok yang berbeda level kekuasaanya atau status sosialnya, seperti hubungan antara elit politik dengan masyarakat umum, atau antara individu-individu dari klas sosial yang berbeda.

Social bounding (perekat sosial), merupakan modal sosial yang lebih banyak bekerja secara internal dan solidaritas yang dibangun karenanya menimbulkan kohesi sosial yang lebih bersifat mikro dan komunal karena itu hubungan yang terjalin di dalamnya lebih bersifat eksklusif (nilai, kultur, persepsi, tradisi dan adat istiadat). Sedangkan social bridging (jembatan sosial) timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompoknya dan lebih banyak menjalin jaringan dengan potensi eksternal yang melekat. Social linking merupakan hubungan sosial di antara beberapa level dari kekuatan sosial atau status sosial dalam masyarakat tanpa membedakan kelas dan status sosial tersebut (Ramli 2007; LP UNPAD 2008).

(32)

tidak dapat diamati, namun keduanya saling terkait di dalam praktik, aset struktural datang dari hasil proses kognitif.

Lebih lanjut Uphoff (2000) menjelaskan bahwa kategori struktural berkaitan dengan beragam bentuk organisasi sosial. Peranan (roles) adalah perihal atau tindakan spesifik baik formal maupun informal dalam struktur sosial. Aturan (rules) adalah segala ketentuan yang berlaku baik yang tersirat maupun yang tersurat. Peranan (roles) dan aturan (rules) mendukung empat fungsi dasar dan kegiatan yang diperlukan untuk tindakan kolektif, yaitu pembuatan keputusan, mobilisasi dan pengelolaan sumberdaya, komunikasi dan koordinasi, dan resolusi konflik. Hubungan-hubungan sosial membangun pertukaran (exchange) dan kerjasama (cooperation) yang melibatkan barang material maupun non material. Jejaring (networks) adalah pola pertukaran dan interaksi sosial yang menggambarkan hubungan antar masyarakat. Peranan, aturan, dan jejaring memfasilitasi tindakan kolektif yang saling menguntungkan (mutually beneficial collective action/MBCA) Bentuk struktural dari modal sosial (peranan, aturan, prosedur, preseden dan jaringan) yang memfasilitasi terciptanya manfaat bersama dari tindakan kolektif (MBCA) dengan jalan menurunkan biaya transaksi, mengkoordinasikan berbagai usaha, menciptakan harapan, membuat kemungkinan berhasil lebih besar, dan menyediakan jaminan tentang bagaimana orang lain akan bertindak dan sebagainya.

Selanjutnya Uphoff (2000) menjelaskan bahwa kategori kognitif datang dari proses mental yang menghasilkan gagasan/pemikiran yang diperkuat oleh budaya dan ideologi. Norma, nilai, sikap, dan keyakinan memunculkan dan menguatkan saling ketergantungan positif dari fungsi manfaat dan mendukung MBCA. Terdapat dua orientasi, yaitu orientasi ke arah pihak/orang lain dan orientasi mewujudkan tindakan.

(33)

(solidarity) adalah upaya membantu orang lain untuk berdiri bersama-sama agar mendapatkan manfaat dari kelompok yang lebih besar di luar keluarga dan kerabat. Kepercayaan (trust) dilandasi oleh norma-norma (norms), nilai-nilai (values), sikap (attitudes), dan keyakinan (beliefs) untuk membuat kerjasama dan kedermawanan efektif. Solidaritas juga dibangun berdasarkan norma, nilai, sikap, dan keyakinan untuk membuat kerjasama dan kedermawanan bergairah (Uphoff 2000).

Orientasi kedua pada kategori kognitif adalah, norma-norma (norms), nilai-nilai (values), sikap (attitudes), dan keyakinan (beliefs) yang diorientasikan untuk mewujudkan tindakan (action), bagaimana seseorang harus berkemauan untuk bertindak. Kerjasama (cooperation) adalah cara tindakan bersama dengan orang lain untuk kebaikan bersama. Sedangkan tujuan dari tindakan adalah kedermawanan (generosity). Kerjasama dilandasi oleh norma, nilai, sikap, dan keyakinan untuk memunculkan harapan bahwa pihak/orang lain akan bersedia kerjasama dan membuat tindakannya efektif. Kedermawanan juga dilandasi oleh norma, nilai, sikap, dan keyakinan untuk memunculkan harapan bahwa “moralitas yang tinggi akan mendapat pahala/virtue will be rewarded” (Uphoff 2000).

Rincian unsur-unsur modal sosial berdasarkan kategori struktural dan kognitif menurut Uphoff (2000) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Kategori modal sosial

Struktural Kognitif

Sumber dan

perwujudannya/manifestasi

Peran dan aturan

Jaringan dan hubungan antar pribadi lainnya

Prosedur-prosedur dan preseden-preseden

Norma-norma Nilai-nilai Sikap Keyakinan

Domain/ranah Organisasi sosial Budaya sipil/kewargaan Faktor-faktor dinamis Hubungan horisontal

Hubungan vertikal

Kepercayaan, solidaritas, kerjasama, kemurahan hati/kedermawanan Elemen umum Harapan yang mengarah pada perilaku kerjasama, yang akan

(34)

2.3 Pengukuran Modal Sosial

Metode pengukuran modal sosial yang dapat disesuaikan dengan kondisi lokal cukup beragam. Model-model tersebut antara lain adalah:

1. Index of National Civic Health

Indeks ini dikembangkan oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk merespon penurunan partisipasi masyarakat. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan 5 (lima) indikator, yakni: (a) keterlibatan politik; (b) kepercayaan; (c) keanggotaan dalam asosiasi; (d) keamanan dan kejahatan; serta (e) integritas dan stabilitas keluarga. Keterlibatan politik mencakup pemberian suara dalam pemilihan umum dan kegiatan politik lainnya, seperti petisi dan menulis surat kepada koran. Kepercayaan diukur melalui tingkat kepercayaan pada orang lain dan kepada institusi pemerintah. Keanggotaan dalam asosiasi diukur melalui keanggotaan dalam suatu kelompok, kehadiran di gereja/tempat ibadah, kontribusi derma, partisipasi di tingkat komunitas, dan menjadi pengurus di organisasi lokal. (Narayan dan Cassidy 2001).

2. Integrated Questionnaire for The Measurement of Social Capital (SC-IQ) Model ini dikembangkan oleh Grootaert et al. (2004) dengan penekanan fokus pada negara-negara berkembang. Model ini bertujuan memperoleh data kuantitatif pada berbagai dimensi modal sosial dengan unit analisis pada tingkat rumah tangga. Pada model ini, digunakan 6 (enam) indikator, yakni: (a) kelompok dan jejaring kerja; (b) kepercayaan dan solidaritas; (c) aksi kolektif dan kerjasama (cooperation); (d) informasi dan komunikasi; (e) kohesi dan inklusivitas sosial; serta (f) pemberdayaan dan tindakan politik.

3. Social Capital Assesment Tool

(35)

institusi lokal. SCAT mengukur modal sosial pada tiga level yaitu profil komunitas, profil rumah tangga dan profil organisasi. SCAT walaupun mengangkat kajian pada level makro dan mikro tetapi untuk level makro dapat dilakukan wawancara untuk informan kunci pada institusi yang terkait. Pada SCAT diperolah gambaran profil masyarakat melalui serangkaian wawancara. Beberapa metode partisipatif digunakan untuk mengembangkan profil masyarakat. Selain format kelompok fokus, pengumpulan data mencakup pemetaan masyarakat diikuti diagram kelembagaan.

4. Mapping and Measuring Social Capital

Model ini dikembangkan oleh Krishna dan Uphoff (1999) yang mencoba menggunakan metode kuantitatif untuk pemetaan dan mengukur modal sosial pada sebuah studi konseptual dan empiris pada tindakan bersama (collective action) dalam konservasi dan pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Rajasthan India. Model ini bertujuan untuk mengamati hubungan antara modal sosial dengan kinerja pembangunan DAS di 64 desa di Rajasthan, India. Model ini dilakukan dengan memperoleh data kuantitatif pada unsur modal sosial dengan unit analisis pada tingkat individu rumah tangga dipilih secara acak di setiap desa. Selain wawancara pada individu rumah tangga, juga dilakukan wawancara kelompok fokus dengan para pemimpin desa. Pada model ini digunakan 6 (enam) unsur modal sosial dari kategori struktural dan kognitif. Unsur modal sosial kategori struktural berhubungan dengan hubungan sosial yakni: (a) peranan; (b) jaringan; dan (c) aturan. Unsur modal sosial kategori kognitif berhubungan dengan norma, nilai, sikap, dan kepercayaan yang diorientasikan kepada pihak lain, yakni: (a) kepercayaan; (b) kerjasama; dan (c) solidaritas.

2.4 Konsep Kehutanan Masyarakat

(36)

teknologi dan organisasi sosial praktek kehutanan masyarakat yang bertujuan untuk subsisten akan berbeda dengan tujuan komersial.

Sehubungan dengan status peguasaan hutan (lahan dan yang tumbuh di atasnya) dan tanggung jawab pelaksanaan akan terdapat variasi hak akses dan kewajiban masyarakat terhadap sumber daya hutan dalam praktek kehutanan masyarakat. Variasi tersebut dapat digambarkan sebagai suatu kontinum sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang di dalamnya masyarakat berperan. Kehutanan masyarakat yang dikelola oleh individu pada lahan miliknya akan menempatkan individu sebagai pemegang tanggung jawab dan akses sepenuhnya. Tanggung jawab dan akses individu akan semakin berkurang pada sistem kehutanan masyarakat yang dikelola oleh komunitas sebagai kolektif atau kelompok, dan kerjasama antar pemerintah dan masyarakat (Suharjito et al. 2000).

Salafsky (1994) menyebutkan bahwa pemanfaatan lahan secara tradisional yang berbasiskan pada masyarakat ada beberapa macam, yaitu : farm untuk lahan pertanian, home gardens untuk kebun pekarangan, forest gardens untuk kebun hutan. Kemudian yang dibiarkan berhutan berupa secondary forest and/or extraktive area (hutan sekunder atau areal hutan campuran) dan natural forest (hutan alam), sebagaimana terlihat pada gambar 1.

(37)

Di Indonesia berbagai jenis sistem pengelolaan sumber daya hutan dan lahan yang berbasiskan pada masyarakat (tradisional) masih banyak ditemukan. Kartasubrata (1991) dan Suharjito et al. (2000) menyebut sistem pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan lahan yang berbasiskan masyarakat tersebut dengan istilah

“Kehutanan Masyarakat”, Foresta (2000) menyebutnya “Agroforestri”, Roslinda (2008) menyebutnya “Hutan Kemasyarakatan”, Fauzi (2010) menyebutnya “Sistem Hutan Kerakyatan (SHK)”. Fauzi (2010) menjelaskan bahwa SHK

mempunyai sifat yang unik dan khas serta berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain dan masing-masing memiliki nama lokal tersendiri, Talun (Jawa Barat), Tembawang (Kalimantan Barat), Repong (Lampung), Lembo dan Simpung (Kalimantan Timur), Dukuh (Kalimantan Selatan).

Sejalan dengan konsep di atas, hasil kajian Suharjito (2002) tentang kebun Talun di Desa Buniwangi Jawa Barat, menjelaskan secara rinci bahwa, keberadaan kebun talun bukan hanya mempunyai fungsi ekonomi dan ekologis melainkan juga fungsi sosial. Pada satu sisi kebun talun menjadi media bagi penguatan solidaritas sosial, pada sisi yang lain hubungan-hubungan sosial dan pranata sosial pengelolaan kebun talun menguatkan keberadaan kebun talun sebagai sumber ekonomi keluarga/rumah tangga, yang dari kedua sisi tersebut kemudian berimplikasi pada sisi ketiga, yakni keberlanjutan kebun talun yang mempunyai fungsi ekologis (Suharjito 2002).

Selain kebun talun di atas, salah satu bentuk kehutanan masyarakat yang mampu eksis dan bertahan hingga sekarang adalah kebun buah di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan yang dalam bahasa

lokal dikenal dengan istilah “dukuh”. Dukuh (kebun hutan/kebun buah/pulau buah) adalah suatu areal yang ditumbuhi oleh kelompok pohon yang didominasi jenis pohon buah-buahan dengan pola tanam tidak teratur, strata yang tidak seragam serta tegakan tidak seumur, menyerupai hutan alam (Fauzi 2010).

(38)

atau forest gardens). Dukuh rumah keberadaannya menyatu dengan pemukiman dan dapat dicapai dalam waktu beberapa menit sedangkan dukuh gunung baru dapat dicapai setelah menempuh perjalanan sekitar setengah sampai tiga jam dengan cara berjalan kaki melalui jalan setapak yang berbukit-bukit. Diperkirakan bahwa dukuh mulai terbentuk seiring terjadinya perubahan pola bercocok tanam dari pola perladangan berpindah/bergilir ke pola perladangan menetap, diperkirakan terbentuk sejak 180 tahun yang lalu (± tahun 1830). Dukuh yang merupakan peninggalan dari kakek–nenek mereka tersebut sampai sekarang masih terpelihara keberadaannya (Hafizianor 2002).

Terkait dengan kehutanan masyarakat, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam baik berupa hutan maupun lahan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut tentunya memiliki performansi atau kinerja. Performansi yang dimaksud adalah produktivitas, keberlanjutan, keadilan dan efisiensi (Suharjito et al. 2000). Mengacu pada Conway (1987) dalam Suharjito et al. (2000) produktivitas didefinisikan sebagai out-put produk bernilai per-unit sumber daya. Keberlanjutan didefinisikan sebagai kemampuan suatu agroekosistem untuk menjaga produktivitas dari waktu ke waktu. Keadilan didefinisikan sebagai pemerataan distribusi produk dari agroekosistem diantara yang berhak menerima manfaat dan dengan terdefinisinya property rights dengan baik maka akan tercapai efisiensi.

Performansi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam baik berupa hutan maupun lahan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut antara lain dipengaruhi oleh :

1. Sistem pengelolaan, yaitu sistem penguasaan dan pengambilan keputusan apakah secara individual atau komunal. Sistem penguasaan dan pengambilan keputusan pengelolaan mempengaruhi responsibilitas terhadap ekonomi pasar dan model ekonomi sosialnya.

2. Orientasi usaha, apakah subsisten atau komersial. Tingkat subsisten dan komersialisasi merupakan ukuran responsibilitas terhadap ekonomi pasar. 3. Jenis dan keragaman produk yang dikonsumsi atau dipasarkan merupakan

(39)

3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Pemikiran

Dukuh, sebagai salah satu bentuk kehutanan masyarakat (community forestry), dalam rangka pengelolaan dan pelestariannya sangat membutuhkan kapasitas masyarakat yang kuat dalam memelihara dan membangun integrasi sosial bahkan sebagai perekat sosial (social engagement) untuk mencegah terjadinya konflik horizontal dalam masyarakat agar kegiatannya dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat, berkelanjutan dan lestari. Salah satu konsep yang dapat digunakan untuk mengukur kapasitas masyarakat tersebut adalah modal sosial.

Penelitian ini menggunakan konsep modal sosial Uphoff (2000) yang mendefinisikan modal sosial sebagai akumulasi dari beragam tipe sosial, psikologis, budaya, kognitif, kelembagaan, dan aset-aset yang terkait yang dapat meningkatkan kemungkinan manfaat bersama dari perilaku kerjasama. Pertimbangan menggunakan konsep ini adalah bahwa konsep modal sosial Uphoff (2000) tersebut lebih operasional dan terperinci unsur-unsurnya yang dicirikan adanya pembagian kategori sehingga lebih jelas untuk bisa melihat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan berupa dukuh. Mengacu pada Uphoff (2000) unsur-unsur modal sosial dirinci menjadi dua kategori yang saling berhubungan, yaitu struktural dan kognitif. Kategori struktural berkaitan dengan beragam bentuk organisasi dan hubungan sosial, sedangkan kategori kognitif datang dari proses mental yang menghasilkan gagasan/pemikiran yang diperkuat oleh budaya dan ideologi.

(40)

Unsur-unsur modal sosial yang dikaji pada kedua kategori tersebut baik kategori struktural (aturan, peranan, dan jejaring), maupun kategori kognitif (kepercayaan, kerjasama, dan solidaritas) keduanya tentu saling terkait di dalam praktik kehidupan sehari-hari. Walaupun unsur modal sosial struktural bersifat ekstrinsik dan dapat diamati di dalamnya, mereka semua tetap datang dari hasil proses kognitif. Sementara aspek kognitif tidak dapat diamati karena berada dalam pikiran, namun keduanya secara intrinsik saling terkait. Dua kategori dari modal sosial ini tentu memiliki ketergantungan yang sangat tinggi, bentuk yang satu mempengaruhi bentuk yang lain. Keduanya mempengaruhi perilaku hingga mekanisme terbentuknya harapan/ekspektasi. Kedua bentuk fenomena ini terkondisikan oleh pengalaman dan diperkuat oleh budaya, zeitgeist [semangat pada masa/waktu tertentu], dan pengaruh-pengaruh lainnya. Kedua bentuk modal sosial (struktural dan kognitif) pada akhirnya adalah persoalan mental. Peran dan aturan yang dituliskan barangkali bersifat objektif, namun peran, aturan, dan bahkan sanksi itu pun keberhasilannya juga akan tergantung pada efektivitas proses kognitif mereka.

Dalam pengelolaan dukuh, aturan, peranan, dan jejaring, bersifat memfasilitasi tindakan kolektif yang saling menguntungkan, khususnya dalam menurunkan biaya transaksi, melahirkan pola-pola interaksi yang membuat hasil produktif dari kerjasama dapat diprediksi dan lebih bermanfaat. Sedangkan pemikiran dalam kategori kognitif (kepercayaan, kerjasama, dan solidaritas) mempengaruhi orang-orang ke arah tindakan kolektif yang saling menguntungkan. Unsur-unsur yang membentuk modal sosial kognitif adalah salah satu yang dapat merasionalkan perilaku kerjasama dan membuatnya menjadi sesuatu yang lebih dihargai.

(41)

pengelolaan untuk mempertahankan performansi dukuh karena meningkatnya ekspektasi (harapan) akan aliran manfaat yang dapat mereka produksi bersama-sama.

Berdasarkan perumusan masalah, tinjauan pustaka dan kerangka konseptual yang telah dibuat, maka dapat digambarkan kerangka pemikiran penelitian ini sebagai berikut.

Gambar 2 Kerangka pemikiran penelitian.

3.2 Definisi Operasional

Beberapa variabel dalam penelitian ini secara garis besar dapat tergambar pada definisi operasional sebagai berikut:

1. Kepercayaan (trust) adalah rasa percaya dalam berhubungan dengan orang lain yang dimiliki warga masyarakat dalam mempersepsikan seseorang berdasarkan perasaan dan kondisi yang dialami. Kepercayaan diukur dari kepercayaan terhadap pengetahuan warga tentang manfaat dukuh dan fungsi aturan, serta kepercayaan terhadap kemampuan kerjasama warga untuk mengelola dan melestarikan dukuh, sebagaimana pada Tabel 2.

2. Kerjasama (cooperation) adalah cara tindakan bersama dengan orang lain untuk kebaikan bersama dalam proses saling membantu di antara sesama warga komunitas untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama diukur dari Performansi

Dukuh Aturan

(Rules) Solidaritas (Solidarity)

Jaringan (Networks)

Peranan (Roles)

Modal Sosial

Kerjasama (Cooperation)

Kepercayaan (Trust)

Kognitif

(42)

tingkat kerjasama dalam kegiatan lingkungan/sosial kemasyarakatan warga dan tingkat kerjasama warga komunitas dalam kegiatan pengelolaan dukuh, sebagaimana pada Tabel 2.

3. Solidaritas (solidarity) adalah aktivitas/kegiatan yang dilakukan dengan membantu orang lain di luar kelompok/komunitas sehingga turut mendukung dalam pengelolaan dan pelestarian dukuh. Solidaritas diukur dari tingkat pelibatan tetangga/warga yang tidak memiliki dukuh sebagai tenaga kerja dalam kegiatan pengelolaan dukuh, serta intensitas membagikan hasil panen secara cuma-cuma kepada tetangga/warga yang tidak memiliki dukuh, sebagaimana pada Tabel 2.

4. Aturan (rules) adalah ketentuan yang berlaku baik yang tersirat maupun yang tersurat yang berlaku dalam kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai pengontrol dan pengatur perilaku. Aturan diukur dari tingkat pemahaman dan tingkat pelanggaran warga komunitas dukuh terhadap aturan yang berlaku baik aturan tertulis (peraturan per UUan) maupun aturan tidak tertulis (norma-norma) dalam pengelolaan dukuh, sebagaimana pada Tabel 2.

5. Peranan (roles) adalah perilaku penting dari kedudukan yang terkait dengan fungsi sosial masyarakat yang dilaksanakan oleh orang tertentu dalam kegiatan pengelolaan dukuh. Peranan yang diteliti adalah peranan para tokoh baik formal maupun informal dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian dukuh, yang diukur dari tingkat peranan tokoh agama, tokoh adat, kepala desa, dan camat, sebagaimana pada Tabel 2.

6. Jaringan sosial (social networking) adalah pola pertukaran dan interaksi sosial yang menggambarkan hubungan antar masyarakat. Jaringan sosial diukur dari tingkat keterbentukan kelompok/lembaga formal, intensitas kunjungan/pertemuan dg keluarga, tetangga, anggota komunitas, dan dengan kelompok atau komunitas lain serta tingkat kepadatan organisasi yg diikuti, sebagaimana pada Tabel 2.

(43)

8. Kerapatan Tumbuhan adalah komposisi jenis tumbuhan, yang diukur dari jumlah individu perhektar yang tersebar dari tingkat semai hingga pohon, sebagaimana pada Tabel 2.

9. Produktivitas adalah keluaran (output) produk yang bernilai, yang diukur dari nilai/pendapatan dari buah yang dihasilkan dukuh permusim perhektar, sebagaimana pada Tabel 2.

10. Sustainabilitas (keberlanjutan) adalah kemampuan dukuh untuk menjaga produktivitasnya dari waktu ke waktu, yang diukur berdasarkan usaha-usaha yang dilakukan untuk mempertahankan keberadaan tanaman (replanting/peremajaan dan pemeliharaan tanaman), sebagaimana Tabel 2. 11. Equitabilitas (keadilan) adalah pemerataan distribusi produk dari dukuh di

antara yang berhak menerima manfaat, yang diukur dari banyaknya pihak yang turut merasakan manfaat atas keberadaan dukuh, sebagaimana pada Tabel 2.

12. Efisiensi adalah penghematan (minimalisasi) biaya dalam proses pengelolaan dukuh hingga menghasilkan produk (buah), diukur dari persentase biaya

produksi terhadap nilai produksi (nilai jual buah), sebagaimana pada Tabel 2. Tabel 2 Variabel pengukuran modal sosial berdasarkan definisi operasional

Variabel Indikator Kategori

Kepercayaan (trust)

Kepercayaan responden terhadap:

Pengetahuan warga tentang manfaat dukuh Pengetahuan warga tentang fungsi aturan tertulis Pengetahuan warga tentang fungsi aturan tidak tertulis Kemauan dan kemampuan warga dalam menjaga kelestarian dukuh

Kemauan dan kemampuan kerjasama warga dalam kegiatan pengelolaan dukuh

Pengetahuan warga tentang fungsi hubungan sosial dapat memudahkan pekerjaan

Kesediaan warga untuk saling menguatkan hubungan sosial dalam pengelolaan dukuh.

Kerjasama dengan sesama komunitas dukuh dalam hal Kegiatan lingkungan/kemasyarakatan (sehari-hari)

Pelibatan warga sekitar yang tidak memiliki dukuh sbg tenaga kerja/mitra dlm keg pengelolaan dukuh Membagikan hasil panen scr cuma2 kpd tetangga Menolong/membantu tetangga/warga sekitar.

Tingkat pemahaman dan kepatuhan responden terhadap: Aturan-aturan tertulis yang mengikat individu atau masyarakat

(44)

Aturan-aturan tidak tertulis yang mengikat individu atau masyarakat

Tingkat pelanggaran warga terhadap aturan: Pelanggaran oleh pribadi responden

Pelanggaran oleh warga yang lain menurut responden.

3. Paham

Pendapat responden terhadap peranan para tokoh dalam mendukung pengelolaan & pelestarian dukuh:

Tokoh Agama

Intensitas kunjungan kepada keluarga/ sanak famili dalam satu desa

Intensitas kunjungan kepada tetangga Intensitas pertemuan anggota komunitas Kerjasama dengan komunitas lain Negosiasi pemasaran hasil panen

Kepadatan organisasi/perkumpulan yang diikuti

1. Rendah

Nilai/Pendapatan dari buah yang dihasilkan dukuh -Rendah : < Rp 7 juta perhektar

Tingkat akses terhadap manfaat yang dirasakan oleh masyarakat:

-Rendah : Hanya bermanfaat bagi pemiliknya saja -Sedang : Bermanfaat bagi pemilik dan pembeli

buahnya saja

-Tinggi : Bermanfaat bagi banyak pihak (pemilik, masyarakat sbg tenaga kerja/ mitra, sanak famili & tetangga yg tdk memiliki dukuh, serta para pembeli buahnya, dll)

(45)

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada dua desa di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Desa Bi‟ih (Komunitas Dukuh Bi‟ih) dan Desa Mandiangin Barat (Komunitas Dukuh Mandiangin Barat). Pilihan pada dua desa tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) dengan

pertimbangan bahwa Desa Bi‟ih adalah desa yang paling jauh sedangkan Desa

Mandiangin Barat adalah desa yang paling dekat dengan Ibu Kota Kabupaten. Alasan lain pemilihan lokasi tersebut adalah bahwa peneliti sudah cukup mengenal dan memahami dengan baik sosial budaya serta bahasa yang digunakan sehari-hari, sehingga komunikasi dengan anggota masyarakat di kedua desa tersebut tidak menjadi hambatan. Oleh sebab itu, secara purposive peneliti tertarik melakukan penelitian di lokasi tersebut.

Pengambilan data, pengamatan dan pengukuran di lapangan dilaksanakan dari bulan Desember 2011 hingga Pebruari 2012.

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode survai. Ciri khas penelitian ini adalah pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada responden (Nazir 2003, Singarimbun & Effendi 2008). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner terstruktur kepada responden, wawancara mendalam kepada beberapa informan kunci yaitu kepala desa (pembakal) dan beberapa tokoh masyarakat, pengamatan (observation) dan pengukuran langsung di lapangan untuk mengetahui performansi dukuh. Data sekunder diperoleh dari data-data laporan (dokumentasi) dari berbagai instansi terkait yang mendukung penelitian ini.

(46)

Responden dalam penelitian ini dipilih secara acak dari anggota komunitas yang memiliki dukuh di dua desa yaitu Bi‟ih dan Mandiangin Barat. Jumlah responden untuk masing-masing komunitas dukuh adalah 30, sehingga total untuk dua desa adalah 60 responden. Jumlah tersebut ditentukan atas berbagai pertimbangan, diantaranya tingkat homogenitas populasi yang tinggi, selain itu jumlah tersebut dianggap cukup karena untuk data yang akan dianalisis dengan teknik statistika parametrik dapat menggunakan data minimal 30 responden (Usman & Akbar 2008).

3.5 Pengukuran Lapangan

Pengukuran lapangan dilakukan untuk mendapatkan data mengenai komposisi jenis tumbuhan. Data pengukuran ini merupakan salah satu bentuk identifikasi vegetasi yang dapat menjelaskan kondisi tegakan hutan yaitu pohon dan permudaannya serta tumbuhan bawah (Soerianegara & Indrawan 1998).

Data komposisi jenis tumbuhan diperoleh melalui pengambilan contoh menggunakan petak pengamatan berbentuk bujur sangkar. Petak pengamatan dipilih secara sengaja (purposive sampling). Pada setiap dukuh yang dimiliki oleh masing-masing responden di buat 1 petak pengamatan dengan ukuran 20m x 20m. Petak contoh dibuat bersarang (nested sampling) yang dibagi dalam 4 ukuran berdasarkan perbedaan fase pertumbuhan, yaitu:

(a) 2 m x 2 m untuk pengamatan tumbuhan bawah (tinggi ≤ 1,5 m);

(47)

3.6 Pengolahan dan Analisis Data

3.6.1 Pengukuran Tingkat Modal Sosial

Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan besarnya tingkat modal sosial (rendah, sedang, tinggi) dalam mendukung pengelolaan dukuh dilakukan dengan persamaan:

Jumlah kelas yang diinginkan yaitu 3 kelas (rendah, sedang, tinggi). Adapun jumlah responden pada masing-masing komunitas dukuh adalah sebanyak 30 responden. Nilai untuk setiap pertanyaan pada responden adalah yang terendah (1), sedang (2), dan yang tertinggi (3). Secara rinci cara pengukuran tingkat modal sosial pada masing-masing komunitas dukuh adalah sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 Cara pengukuran tingkat modal sosial pada komunitas dukuh

No. Modal

Kriteria Nilai Kelas Ukuran

(48)

3.6.2 Pengukuran Performansi Dukuh

Performansi dukuh dijelaskan berdasarkan nilai kerapatan tumbuhan, produktivitas dukuh, keberlanjutan (sustainabilitas), keadilan (ekuitabilitas), dan efisiensi.

3.6.2.1 Kerapatan Tumbuhan

Identifikasi komposisi jenis tumbuhan dilakukan dengan menggunakan pengukuran kerapatan tumbuhan menurut Soerianegara dan Indrawan (1998). Pengukuran yang dilakukan adalah dengan menghitung kerapatan tumbuhan (individu/ha) setiap tingkatan untuk menduga kecukupan jumlah tumbuhan atau kerapatan tumbuhan dalam menjaga heterogenitas dan adaptabilitas vegetasi terhadap gangguan. Perhitungan kerapatan menggunakan rumus sebagai berikut:

Kerapatan =

Kerapatan Relatif = x 100%

Kecukupan jumlah tumbuhan atau kerapatan tumbuhan penting untuk tetap dapat menjaga heterogenitas dan adaptabilitas vegetasi terhadap perubahan-perubahan ataupun penyakit, yakni berkisar 1.000 – 25.000 individu/ha dengan rata-rata kisaran 5.000 individu/ha yang tersebar dari tingkat semai hingga pohon (Jacobs 1981).

Nilai Kerapatan Tumbuhan diperoleh dari total penjumlahan seluruh nilai kerapatan (individu/ha) yang tersebar dari tingkat semai hingga pohon. Penentuan Nilai Kerapatan didasarkan pada kriteria sebagai berikut:

- Nilai Kerapatan Buruk : jumlah individu perhektar < 1.000. - Nilai Kerapatan Baik : jumlah individu perhektar 1.000 - 25.000. - Nilai Kerapatan Sangat Baik : jumlah individu perhektar > 25.000.

Jumlah individu

Luas petak contoh

Kerapatan suatu jenis

(49)

3.6.2.2 Produktivitas Dukuh

Produktivitas dukuh adalah keluaran (output) produk yang bernilai dari dukuh, dalam konteks ini keluaran (output) produk dukuh diukur dari nilai/pendapatan dari buah yang dihasilkan dukuh permusim perhektar, yaitu: - Produktivitas Rendah : Nilai hasil buah/ha < Rp. 7 juta.

- Produktivitas Sedang : Nilai hasil buah/ha Rp. 7 juta s/d Rp. 10 juta. - Produktivitas Tinggi : Nilai hasil buah/ha > Rp. 10 juta.

3.6.2.3 Sustainabilitas (Keberlanjutan) Dukuh

Sustainabilitas (keberlanjutan) dukuh adalah kemampuan dukuh untuk menjaga produktivitasnya dari waktu ke waktu, yang diukur berdasarkan usaha-usaha yang dilakukan untuk mempertahankan keberadaan tanaman (persemaian/pembibitan, replanting/peremajaan dan pemeliharaan tanaman), yaitu:

- Rendah : Tidak pernah dilakukan

- Sedang : Jarang (Kadang-kadang) dilakukan - Tinggi : Sering dilakukan.

3.6.2.4 Equitabilitas (Keadilan)

Equitabilitas (keadilan) adalah pemerataan distribusi manfaat dari keberadaan dukuh, yang diukur dari tingkat akses terhadap manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

- Rendah : Hanya bermanfaat bagi pemiliknya saja

- Sedang : Bermanfaat bagi pemiliknya dan para pembeli buahnya

- Tinggi : Bermanfaat bagi banyak pihak (pemilik, masyarakat sbg tenaga kerja/mitra, sanak famili dan tetangga yg tidak memiliki dukuh, serta para pembeli buahnya, dll).

3.6.2.5 Efisiensi

(50)

- Efisiensi Rendah : Biaya produksi > 40% dari Nilai Produksi - Efisiensi Sedang : Biaya produksi 20% – 40% dari Nilai Produksi - Efisiensi Tinggi : Biaya produksi < 20% dari Nilai Produksi.

Secara rinci cara pengukuran tingkat performansi dukuh adalah sebagai berikut:

Tabel 4 Cara pengukuran tingkat performansi dukuh pada komunitas dukuh No. Performansi

Dukuh Parameter

Pengukuran

Terhadap Responden Total Nilai Komunitas

Kriteria Nilai Kelas Ukuran

(Total Nilai)

2. Produktivitas Pendapatan

dukuh/ha

< Rp. 7 juta 1 (30x1) s/d (30x3) (90-30)/3 Rendah 30-50

Rp. 7 juta – 10 jt 2 30 s/d 90 = 20 Sedang 51-70

> Rp. 10 juta 3 Tinggi 71-90

3. Keberlanjutan Intensitas keg. pemeliharaan

3.6.3 Analisis Hubungan Modal Sosial dengan Performansi Dukuh

Untuk menjelaskan korelasi antara tingkat modal sosial dengan performansi dukuh dilakukan dengan menggunakan analisis uji koefisien Peringkat Spearman (Rs):

Jika Rs bernilai nol, maka tidak ada korelasi,

Gambar

Gambar 1  Bias pemanfaatan lahan (the land use spectrum) berdasarkan zona
Gambar 2  Kerangka pemikiran penelitian.
Tabel 2  Variabel pengukuran modal sosial berdasarkan definisi operasional
Tabel 3  Cara pengukuran tingkat modal sosial pada komunitas dukuh
+7

Referensi

Dokumen terkait