• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogenik pada Umbi Bibit Bawang Merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogenik pada Umbi Bibit Bawang Merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer)"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN TEKNIK DETEKSI

Fusarium

PATOGENIK PADA UMBI BIBIT BAWANG MERAH

(

Allium cepa

L. var

ascalonicum

Backer)

SITI FADHILAH

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogenik pada Umbi Bibit Bawang Merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2014 Siti Fadhilah NIM A352110091

(4)
(5)

RINGKASAN

SITI FADHILAH. Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogenik pada Umbi Bibit Bawang Merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer). Dibimbing oleh SURYO WIYONO dan MEMEN SURAHMAN.

Bawang merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer) merupakan salah satu tanaman hortikultura penting di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa luas areal produksi bawang merah di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 109 ribu hektar dan perkiraan kebutuhan benih bawang merah di Indonesia lebih dari 90 ribu ton. Sebagian besar petani menggunakan umbi sebagai bibit, dan diketahui bahwa beberapa patogen dapat terbawa oleh bibit. Salah satu penyakit penting yang banyak dilaporkan menyerang pertanaman dan terbawa bibit bawang merah adalah layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum.

Berbagai metode dapat digunakan dalam pengujian kesehatan benih di laboratorium. Salah satu metode yang cukup sederhana dan mudah, namun tetap mampu memberikan hasil yang cukup akurat adalah metode blotter test. Metode ini juga merupakan salah satu metode standar International Seed Testing Association (ISTA) untuk pengujian beberapa cendawan antara lain Drechslera oryzae dan Pyricularia oryzae pada benih padi (ISTA 2011). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa F. oxysporum yang terbawa umbi bawang merah tidak seluruhnya bersifat patogenik dan terdapat beberapa strain F. oxysporum yang bersifat non patogenik. Kedua strain F. oxysporum tersebut tidak dapat dibedakan secara morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter yang efektif pada blotter test untuk deteksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah, serta menentukan jumlah sampel minimal deteksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah.

Media yang digunakan pada tahap blotter test adalah kertas filter steril, sedangkan media pada tahap growing on test (GOT) adalah pasir steril. Terdapat dua parameter yang diamati pada blotter test yaitu tingkat infeksi Fusarium sp. dan persen nekrosis pada basal plate setelah masa inkubasi. Parameter yang diamati pada GOT adalah tingkat serangan penyakit layu Fusarium selama fase pembibitan. Uji patogenisitas isolat Fusarium yang diisolasi pada blotter test dilakukan pada umbi bawang merah. Penentuan jumlah minimal umbi bibit bawang merah untuk blotter test dilakukan dengan menggunakan beberapa jumlah sampel yang berbeda yaitu 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175 dan 200 umbi. Umbi yang digunakan dalam pengujian ini berasal dari satu varietas dan satu lot yang sama. Pengamatan hasil uji berdasarkan persen nekrosis pada umbi setelah masa inkubasi.

(6)

mengalami kematian yang diindikasikan dengan warna coklat pada jaringan tersebut. Pada tingkat lanjut beberapa umbi menunjukkan gejala nekrosis parah pada seluruh jaringan umbi. Rata-rata tingkat serangan layu fusarium berdasarkan hasil GOT adalah 9.5%, dengan kisaran tingkat infeksi penyakit antara 0% - 30%. Gejala penyakit layu fusarium pada bawang merah selama masa pertumbuhan di rumah kasa dapat diamati berdasarkan gejala yang tampak, antara lain pada tahap awal pucuk daun yang mucul mulai melingkar (beberapa helai atau semua helai daun yang ada), kemudian terjadi yellowing atau perubahan warna daun yang melingkar menjadi kuning dimulai dari pucuk daun ke arah pangkal daun. Pada tahap selanjutnya daun akan mengering dan mengalami kematian. Gejala ini dapat muncul pada tahap awal perkecambahan maupun pada tahap akhir perkecambahan.

Hasil pengujian menunjukkan parameter nekrosis pada basal plate umbi bawang merah mempunyai koefisien korelasi (r) sebesar 0.77 terhadap tingkat infeksi layu fusarium pada GOT dan lebih besar dari tingkat infeksi Fusarium sp. (0.34) pada blotter test. Oleh karena itu, nekrosis pada basal plate dapat digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi Fusarium patogenik pada blotter test. Hasil persamaan regresi yang diperoleh dari tingkat nekrosis dan tanaman sakit adalah y = 0.61x + 0.564 dengan nilai R2 sebesar 0.591. Hasil pengujian patogenisitas 195 isolat Fusarium sp. menunjukkan bahwa sebagian besar isolat bersifat non patogenik terhadap umbi bawang merah (71.3%).

Penentuan jumlah minimal umbi menggunakan dua sampel yaitu varietas Timur Carwan dari daerah Cirebon dan varietas Bima dari daerah Brebes. Hasil pengolahan data dengan plot kurva rata-rata jumlah nekrosis pada basal plate dan standar deviasi menunjukan jumlah sampel umbi minimal untuk blotter test adalah 150 umbi. Perhitungan jumlah sampel dengan formal probabilty statement yang menunjukkan jumlah umbi minimal untuk blotter test adalah 125 dan 138 umbi.

(7)

SUMMARY

SITI FADHILAH. Development of Detection Technique for Pathogenic Fusarium on Shallot Bulb (Allium cepa L. var ascalonicum Backer). Supervised by SURYO WIYONO and MEMEN SURAHMAN.

Shallot (Allium cepa L. var ascalonicum Backer) is one of common vegetable plant in Indonesia. Based on statistical data from Center of Statistical Agency, Indonesia had almost 109 thousand hectares of shallot area production in 2010, and it needed more than 90 thousand ton of bulb as propagation material. Most of Indonesian farmers prefer to use shallot bulbs for their planting material. However, these bulbs can transmit some seed-borne diseases to the field. One of the most important seed-borne diseases of shallot is fusarium wilt caused by Fusarium oxysporum.

There are many methods for seed health testing such as blotter test method. Blotter test is a simple, effective and accurate method for seed health testing in laboratory. International Seed Testing Association (ISTA) also has applied this method to detect some pathogenic fungus in Oryza sativa seed such as Drechslera oryzae and Pyricularia oryzae (ISTA 2011). Some research showed that not all Fusarium oxysporum which transmitted by shallot bulb are pathogenic. Moreover, both strains could not be distinguished morphologically. The research aimed to determine the appropriate parameter and the minimum sampel number of bulb to detect the pathogenic Fusarium sp. on shallot bulb using blotter test.

Steriled filter paper and sand were used in blotter test and growing on test respectively. There were two kind of parameter that observed in blotter test, i.e. infection of Fusarium sp. and necrotic rate of the basal plate. Fusarium wilt infection in seedling was the parameter that observed in growing on test. Pathogenicity test on shallot bulb was conducted for Fusarium sp. that isolated from the blotter test. There were some different sizes of sample (25, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200) to determine minimum sample size of shallot bulb for the blotter test. Furthermore, the shallot bulb that used in this step should be drawn from the same lot. Necrosis rate of basal plate after bulb incubation was observed to determine the sample size.

(8)

The result showed that necrosis on basal plate of shallot bulb had correlation coefficient (r) 0.77 to the disease infection in GOT and it was higher than Fusarium sp. infection with correlation coefficient (0.34) in the blotter test. Therefore, necrosis of basal plate can be applied as parameter in blotter test to detect pathogenic Fusarium in blotter test. The 195 isolates of Fusarium sp. were tested their pathogenicity on shallot bulb, and the result showed that most of the isolates were not pathogenic (71.3%) and only 28.7% were pathogenic on the bulbs. It was indicated that many isolates that found in blotter test were not pathogenic to shallot, thus the correlation index of Fusarium sp. infection rate to the disease infection rate in GOT was low.

Curve plot of necrosis rate and its deviation standard were used to determine the minimum sample number of shallot bulb should be tested in the blotter test. The samples used for this test were Timur Carwan (from Cirebon region) and Bima (from Brebes). The result showed that the minimum sample for blotter test was 150 bulbs, and the formal probability statement also showed that minimum number of shallot were 125 and 138 bulbs.

(9)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(10)
(11)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Fitopatologi

PENGEMBANGAN TEKNIK DETEKSI

Fusarium

PATOGENIK PADA UMBI BIBIT BAWANG MERAH

(

Allium cepa

L. var

ascalonicum

Backer)

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

(12)
(13)

Judul Tesis : Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogenik pada Umbi Bibit Bawang Merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer) Nama : Siti Fadhilah

NIM : A352110091

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. Ketua

Prof. Dr. Ir. Memen Surahman, M.Sc.Agr. Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Fitopatologi

Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc.

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr.

(14)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2013 ini ialah deteksi penyakit pada bawang merah dengan judul Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogenik pada Umbi Bibit Bawang Merah(Allium cepa L. var ascalonicum Backer).

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. dan Prof. Dr. Ir. Memen Surahman, M.Sc.Agr. selaku pembimbing, Dr. Ir. Sri Hedrastuti Hidayat, M.Sc dan Dr. Ir. Bonny Poernomo WS, M.Si atas masukan yang telah diberikan kepada penulis, serta Ir. Tri Susetyo, MM dan seluruh staf Balai Besar PPMBTPH yang telah memberikan ijin, dukungan dan fasilitas laboratorium sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian dengan baik. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada orang tua, suami (Sugeng Widodo), anak-anak (Sabrina dan Syifana) dan keluarga besar tercinta yang selalu memberikan dukungan dan doa selama penulis menempuh studi di IPB. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman Program Studi Fitopatologi angkatan 2011 atas dukungan dan kekompakan selama masa studi di Program Studi Fitopatologi IPB. Hasil penelitian ini akan dipublikasikan di jurnal Hortikultura, Litbang Hortikultura, Kementerian Pertanian.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN vi vii 1 Latar Belakang Tujuan Penelitian 1 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Pengujian Kesehatan Benih

Metode Blotter Test untuk Pengujian Cendawan Terbawa Benih Cendawan Terbawa Benih Bawang Merah

Fusarium oxysporum Schlecht emend. Snyder dan Hansen Standar Mutu dan Sertifikasi Benih Bawang Merah di Indonesia

2 3 3 4 6

BAHAN DAN METODE 8

Tempat dan Waktu Penelitian Metode Penelitian

8 9 Sampel Pengujian

Blotter test

Growing on Test di Rumah Kasa

Uji Patogenisitas Isolat Fusarium sp. Asal Umbi Bawang Merah

Penentuan Jumlah Minimal Umbi Bibit Bawang Merah untuk Blotter Test 9 9 10 11 11

HASIL 12

Sampel Umbi Bibit Bawang Merah

Blotter Test Pada Umbi Bibit Bawang Merah Growing on Test (GOT) di Rumah Kasa

Korelasi Parameter Blotter Test dengan Tingkat Infeksi Penyakit Layu Fusarium pada Pengujian Growing on Test (GOT) di Rumah Kasa

Penentuan Jumlah Sampel Minimum untuk Blotter Test

12 12 14

15 17

PEMBAHASAN 18

SIMPULAN 22

SARAN 22

DAFTAR PUSTAKA 22

LAMPIRAN 26

(16)

DAFTAR GAMBAR

1 Label sertifikat benih bawang merah kelas benih sebar 8 2 Tahapan blotter test: a) sterilisasi permukaan umbi, b) dan c)

umbi diletakkan pada kotak plastik dengan media kertas filter,

d) inkubasi didalam inkubator 9

3 Growing on test (GOT) di rumah kasa: a) media pasir, b) penanaman umbi pada media, c) pengujian GOT sampai dengan 21 hari, d) rumah

kasa 10

4 Uji patogenisitas Fusarium sp. dengan umbi: a) sterilisasi permukaan umbi, b) umbi dibelah secara vertikal, c) penempelan isolat pada bagian basal plate, d) inkubasi di dalam inkubator 11 5 Hasil blotter test: a) dan b) umbi tidak bergejala, c) dan d) umbi

bergejala

13 6 Gejala nekrosis pada basal plate umbi: a) umbi tidak bergejala; b)

umbi bergejala nekrosis pada basal plate 13

7 Gejala layu fusarium pada tanaman: a) Perbandingan antara tanaman sehat dan tanaman bergejala layu fusarium, b) bagian pangkal tanaman sehat, c) bagian pangkal tanaman bergejala layu fusarium, d) Fusarium sp. yang diisolasi dari tanaman bergejala layu fusarium 14 8 Tingkat infeksi layu fusarium berdasarkan wilayah asal sampel 15 9 Hubungan tingkat infeksi Fusarium sp. umbi pada blotter test dan

tingkat tanaman sakit pada GOT di rumah kasa 15

10 Hubungan tingkat nekrosis umbi pada blotter test dan tingkat

tanaman sakit pada GOT di rumah kasa 16

11 Pengujian patogenisitas pada umbi a) kontrol, b) isolat non patogenik,

c) dan d) isolat patogenik 17

12 Hubungan jumlah sampel dan tingkat nekrosis basal plate umbi pada blotter test: a) varietas Timur Carwan, b) varietas Bima

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Gejala nekrosis pada basal plate umbi bawang merah: a) c) e) dan g) gejala luar pada umbi, b) d) f) dan h) gejala pada basal plate umbi 26 2 Gejala awal serangan layu fusarium pada bawang merah: daun

melingkar atau meliuk, warna daun hijau pucat atau kekuningan 27 3 Gejala nekrosis pada daun bawang merah dimulai dari ujung daun ke

arah pangkal daun 27

4 Gejala serangan penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah: daun meliuk dan mengalami nekrosis kemudian tanaman menjadi layu dan mati

27 5 Patogenisitas Fusarium sp. pada umbi bawang merah 28 6 Tingkat infeksi Fusarium dan tingkat nekrosis pada blotter test, serta

tingkat tanaman sakit pada growin g on test (GOT) 29 7 Daftar varietas bawang merah yang telah dilepas oleh Kementerian

Pertanian 30

8 Deskripsi bawang merah varietas Bima Brebes 31

9 Deskripsi bawang merah varietas Crok Kuning 32

10 Deskripsi bawang merah varietas Super Philip 33

(18)
(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bawang merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer) merupakan salah satu tanaman hortikultura penting di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa luas areal produksi bawang merah di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 109 ribu hektar, dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Beberapa daerah sentra produksi dengan luas lahan terbesar antara lain Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB dan Jawa Timur. Perkiraan kebutuhan benih bawang merah di Indonesia lebih dari 90 ribu ton dan menjadi satu peluang besar bagi petani untuk mengembangkan dan memperbanyak benih bawang merah. Sebagian besar petani di Indonesia menggunakan umbi untuk bahan perbanyakan tanaman di lapangan.

Permasalahan dalam produksi umbi bibit bawang merah baik di lapangan maupun di gudang penyimpanan adalah penyakit tanaman. Penyakit tanaman dapat disebabkan oleh berbagai faktor baik biotik maupun abiotik. Salah satu faktor biotik penyebab penyakit tanaman adalah cendawan patogen. Laporan Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian tahun 2011 menyebutkan bahwa salah satu cendawan patogen dominan yang menyerang tanaman bawang merah di Indonesia yaitu Fusarium oxysporum. Cendawan ini menyebabkan penyakit busuk pangkal umbi dengan LTS (luas tambah serangan) sebesar 618 ha. Selain itu cendawan ini juga merupakan salah satu cendawan patogen utama yang tercantum dalam spesifikasi persyaratan mutu umbi SNI bawang merah.

Fusarium oxysporum Schlecht emend. Snyder dan Hansen merupakan salah satu cendawan patogen yang mampu bertahan di jaringan tanaman yang hidup atau mati, serta mampu bertahan di tanah. Cendawan ini menyebabkan penyakit busuk dan layu vaskular yang dapat menyebabkan tanaman mati. F. oxysporum dilaporkan memiliki banyak forma spesiales sesuai dengan inang yang diinfeksi, dan masing-masing dibagi ke dalam ras fisiologi yang pola karakteristik virulensi pada berbagai tanaman inang yang berbeda (Armstrong dan Armstrong 1968; Agrios 2005).

(20)

2

benih di laboratorium baik untuk pengujian mutu fisik, fisiologis maupun kesehatan benih. Namun di dalam ISTA Rules belum ditetapkan metode standar dan jumlah sampel yang harus diuji untuk pengujian kesehatan benih bawang merah dalam bentuk umbi.

Beberapa patogen terutama cendawan, dapat terbawa benih bawang merah khususnya umbi. Salah satu cendawan patogen yang dilaporkan menyerang dan terbawa umbi bawang merah di lapangan adalah Fusarium oxysporum penyebab penyakit busuk dan layu vaskular. Cendawan ini juga merupakan salah satu cendawan yang terdaftar dalam standar mutu kesehatan benih SNI Bawang Merah dengan toleransi maksimal sebesar 5%. Fusarium sp. juga merupakan cendawan dominan yang ditemukan pada pengujian pendahuluan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu sebesar 90.63%.

Berbagai metode dapat digunakan dalam pengujian kesehatan benih di laboratorium. Salah satu metode yang cukup sederhana dan mudah, namun tetap mampu memberikan hasil yang cukup akurat adalah metode blotter test. Metode ini juga merupakan salah satu metode standar ISTA untuk pengujian beberapa cendawan antara lain Drechslera oryzae dan Pyricularia oryzae pada benih padi (ISTA 2011). Namun, beberapa penelitian menyebutkan bahwa F. oxysporum yang terbawa umbi bawang merah tidak seluruhnya bersifat patogenik dan terdapat beberapa F. oxysporum yang bersifat non patogenik. Groenewald (2006) menyebutkan bahwa secara morfologi, Fusarium sp. yang bersifat patogenik tidak dapat dibedakan dengan non patogenik, sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui apakah cendawan tersebut bersifat patogenik atau non patogenik.

TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter yang efektif pada blotter test untuk deteksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah, serta menentukan jumlah sampel minimal untuk deteksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengujian Kesehatan Benih

Penggunaan benih yang sehat untuk pertanaman di lapangan merupakan salah satu upaya mengurangi intensitas serangan dan penyebaran penyakit di lapang. Benih dinyatakan sehat apabila tidak menunjukkan adanya gejala serangan penyakit atau tidak terinfeksi patogen penyebab penyakit. Untuk mengetahui atau memastikan bahwa benih yang digunakan sehat, diperlukan adanya pengujian kesehatan benih di laboratorium.

(21)

3 dalam perlakuan benih dalam upaya menekan resiko penularan penyakit (ISTA 2010). Pengujian kesehatan benih penting untuk tujuan karantina dalam proses perdagangan benih, selain itu juga dapat digunakan untuk keperluan sertifikasi benih, sebagai pengujian dalam rangka penentuan perlakuan benih yang tepat dan efektifitas perlakuan tersebut, serta untuk menentukan ketahanan suatu kultivar terhadap patogen yang menginfeksi benih (Neergaard 1977).

Metode umum dalam pengujian kesehatan benih antara lain pengamatan lapang, pengamatan visual secara langsung, inkubasi, perkecambahan atau pembibitan, dan serologi. Metode pengujian dengan inkubasi pada benih bertujuan memberikan kondisi yang memungkinkan patogen untuk tumbuh dan berkembang. Beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan patogen target antara lain perlakuan pendahuluan pada benih dengan sterilisasi permukaan, penggunaan berbagai media tumbuh, dan manipulasi faktor lingkungan selama masa inkubasi (Machado et al. 2002).

Metode Blotter Test untuk Pengujian Cendawan Terbawa Benih

Blotter test merupakan salah satu metode pengujian dengan inkubasi yang telah direkomendasikan oleh ISTA untuk pengujian kesehatan benih di laboratorium. Pengujian ini menggunakan kertas yang telah dilembabkan dengan air steril. Jumlah air yang ditambahkan pada kertas harus cukup untuk menjaga kelembaban lingkungan selama masa inkubasi dan dapat digunakan benih untuk berimbibisi. Benih yang diuji diletakkan di media dalam kondisi aseptik, dan diberikan jarak antar benih yang cukup untuk perkembangan patogen selama masa inkubasi. Suhu inkubasi yang digunakan merupakan suhu optimum untuk perkembangan patogen pada benih. Tingkat infeksi dihitung berdasarkan jumlah patogen yang tumbuh pada benih yang diuji. Salah satu inti dari pencatatan dalam blotter test ini adalah pengamatan secara cepat karakter masing-masing spesies cendawan yang muncul seperti bentuk, panjang dan susunan konidiofor, bentuk, ukuran, warna, jumlah septa, pembentukan rantai dari konidia cendawan, serta karakter lain yang menjadi penciri suatu spesies cendawan yang diamati (Neergaard 1977).

Metode ini secara umum digunakan dalam pengujian kesehatan benih secara rutin, terlebih apabila benih tidak dapat diuji menggunakan metode agar. Kelebihan dari metode ini adalah dapat digunakan untuk semua jenis benih, baik benih sereal, sayuran, bunga, maupun benih kehutanan. Tingkat sensitifitas metode ini cukup tinggi, metode pengujian cukup sederhana, mudah serta tidak dibutuhkan peralatan laboratorium yang kompleks dan mahal. Namun terdapat beberapa keterbatasan dari metode ini yaitu tingkat sensitivitas dapat berkurang jika lot benih yang diuji memiliki tingkat kontaminasi saprofit yang tinggi. Selain itu, metode ini hanya cocok untuk patogen yang menghasilkan struktur yang dapat diidentifikasi, serta membutuhkan waktu inkubasi minimal 7 hari (Neergaard 1977; Machado et al. 2002).

Cendawan Terbawa Benih Bawang Merah

(22)

4

Faktor biotik penyebab penyakit tanaman antara lain cendawan, bakteri, virus, nematoda, maupun serangga. Sumber infeksi di lapang dapat berasal dari lahan atau pertanaman disekitarnya, maupun benih atau bibit yang digunakan dalam proses pertanaman. Umbi bawang merah yang merupakan bahan perbanyakan vegetatif, sangat berpotensi membawa penyakit atau sebagai sumber infeksi di lapang. Penyakit terbawa umbi juga dapat menyebabkan kerugian pada masa penyimpanan umbi sebelum tanam karena menimbulkan penyakit busuk umbi.

Rajapakse dan Edirimanna (2002) mengisolasi cendawan dari umbi sakit dan umbi sehat yang sedang di simpan di Sri Lanka dan diperoleh beberapa isolat kelompok cendawan yang berbeda antara lain spesies Fusarium, Colletotrichum gloeosporoides, Altenaria, dan Sclerotium. Diantara isolat cendawan yang ditemukan Fusarium sp. Colletotrichum sp. dan Sclerotium sp. terbukti berperan dalam menyebabkan terjadinya busuk umbi selama penyimpanan. Cavanagh dan Hazzard (2012) melaporkan beberapa penyakit pascapanen dan penyakit pada penyimpanan bawang putih dan bawang bombai antara lain busuk pangkal fusarium yang disebabkan oleh F. oxysporum f. sp cepae, busuk leher botrytis oleh Botrytis sp., bercak abu-abu oleh A. porri, busuk putih oleh Sclerotium cepivoru, dan blue mold oleh Penicillium sp..

Fusarium oxysporum penyebab penyakit busuk dan layu vaskular pada bawang merah merupakan salah satu penyakit utama yang banyak dilaporkan menyerang tanaman di lapangan. Penyakit ini juga dilaporkan terbawa oleh benih bawang merah dalam bentuk umbi. Hasil studi pada pengujian pendahuluan yang dilakukan pada penelitian ini diketahui bahwa Fusarium sp. merupakan cendawan yang dominan ditemukan di umbi bawang merah dengan tingkat infeksi 90.63%, dibandingkan dengan cendawan lain yaitu Alternaria sp. (6.25%), Cladosporium sp. (9.38%), dan Botrydiplodia sp. (3.13%).

Fusarium oxysporum Schlecht emend. Snyder dan Hansen

Fusarium oxysporum Schlecht emend. Snyder dan Hansen merupakan cendawan tular tanah yang mampu beradaptasi dan ditemukan di berbagai jenis tanah baik di daerah tropis, temperate, maupun daerah gurun. Strain-strain F. oxysporum menyebar sebagai penghuni tanah yang mampu bertahan sebagai saprofit, mendegradasi lignin dan karbohidrat komplek, serta dapat bertahan dalam partikel organik tanah. Cendawan ini juga dapat menjadi endofit tanaman yang mengkolonisasi akar tanaman, dan bahkan dapat melindungi tanaman atau dapat menekan penyakit tanaman. Meskipun secara umum cendawan ini pada habitat asalnya di tanah tidak berbahaya atau bahkan berfungsi sebagai endofit tanaman yang menguntungkan atau saprofit tanah, namun ditemukan banyak strain kompleks F. oxysporum bersifat patogenik terhadap tanaman khususnya pada lahan pertanian (Kistler 2001).

(23)

5 jumlah banyak, multinukleat, dan mampu berkecambah lebih cepat. Klamidospora dihasilkan dari modifikasi segmen hifa vegetatif, sel konidia memiliki dinding yang tebal dan merupakan struktur bertahan F. oxysporum di alam. Cendawan ini dapat menyebar melalui sisa-sisa tanaman dan tanah yang terinfeksi, air irigasi, alat-alat pertanian, serta benih tanaman.

Strain patogenik F. oxysporum telah lama diteliti dan memiliki kisaran inang yang cukup beragam. Namun beberapa individu isolat biasanya hanya mampu menyebabkan penyakit pada jenis tanaman inang tertentu, sehingga dikelompokkan dalam forma spesiales. Forma spesiales didefinisikan sebagai klasifikasi berdasarkan karakteristik cendawan yang mampu menimbulkan penyakit pada tanaman inang tertentu. Armstrong dan Armstrong (1968) menyebutkan terdapat 65 forma spesiales dengan 36 ras dari F. oxysporum penyebab penyakit layu pada tanaman, dan salah satunya adalah Fusarium oxysporum f. sp cepae. Selain formae spesiales, Fusarium juga dikelompokan berdasarkan vegetative compatibility group (VCG). Pada kelompok VCG yang sama hifa pada strain cendawan yang kompatibel secara vegetatif, dapat menyatu selama pertumbuhan cendawan dan sel yang menyatu tersebut dapat bertahan hidup, dan pada spesies tertentu sel tersebut dapat tumbuh. Jika hifa dari dua strain tidak dapat menyatu, atau jika satu atau kedua sel yang menyatu mati, maka sel tersebut dianggap tidak kompatibel secara vegetatif. Isolat dalam kelompok VCG yang sama mempunyai karakter genotipik dan fenotipik yang hampir sama (Klein dan Correl 2001). Appel dan Gordon (1994) mengidentifikasi 56 VCG dari 197 isolat F. oxysporum yang diisolasi dari lahan pertanian melon di Maryland. Widodo (2000) juga melaporkan terdapat 4 VCG yang berbeda dari 38 isolat F. oxysporum f. sp. cepae yang diisolasi dari tanah di Hokaido, Jepang.

F. oxysporum f. sp. cepae dilaporkan menyebabkan penyakit layu fusarium dan busuk basal pada tanaman bawang-bawangan seperti bawang bombai (Allium cepa), bawang putih (Allium sativum) maupun bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum). Cendawan ini juga dilaporkan menyerang pertanaman bawang merah dan menyebabkan leaf twisting disease di Sri Lanka (Kuruppu 1999), serta di Indonesia (Tondok 2001). F. oxysporum f. sp. cepae menyebabkan basal rot pada bawang bombai di Iran (Rabiei-Motlagh et al. 2010) dan menyebabkan busuk fusarium pada umbi bawang putih (Jepson 2008).

F. oxysporum f. sp. cepae bertahan antar musim tanam di dalam tanah dalam sisa-sisa tanaman terinfeksi dalam bentuk miselium dan berbagai bentuk spora seperti klamidospora, makrokonidia dan mikrokonida. Cendawan ini dapat aktif dalam berbagai tingkat kadar air tanah yang memungkinkan tanaman dapat tumbuh dan berkembang, dengan kisaran kelembaban optimum 60-70%. Kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan F. oxysporum f. sp. cepae di media kultur adalah 24-27OC, sedangkan kisaran suhu optimum di tanah adalah 25-28OC, serta jarang ditemukan pada suhu di bawah 15OC. Tingkat infeksi pada tanaman akan semakin parah pada periode iklim basah sebelum fase panen. Cendawan ini dapat menyebar melalui air, alat-alat pertanian terkontaminasi, bahan tanaman termasuk benih yang terinfeksi serta tanah yang terbawa bagian tanaman tersebut (Abawi dan Lorbeer 1972; Agrios 2005; Havey 2008).

(24)

6

tanaman sehat ditanam pada tanah yang terkontaminasi, maka spora akan membentuk tabung kecambah atau miselium untuk melakukan penetrasi pada ujung akar secara langsung atau memasuki akar melalui luka atau pada titik pembentukan akar lateral (Abawi et al.1971a; Agrios 2005; Havey 2008). Pada bawang Bombai, F. oxysporum f. sp. cepae menginvasi akar melalui penentrasi secara langsung maupun melalui luka. Patogen tumbuh pada bagian bawah pangkal batang menginvasi pangkal batang tanaman dan daun yang muncul dari umbi. Patogen tumbuh di dalam ruang interseluler akar atau pangkal batang, kemudian menginvasi sel-sel yang ada (Abawi et al.1971a).

Gejala serangan penyakit pada tanaman dapat muncul pada umur 15 sampai 20 hari setelah tanam, dengan gejala antara lain berupa daun menguning pada pucuk daun ke arah pangkal daun. Bentuk daun menjadi rata dan tebal (daun normal berbentuk seperti pipa), daun tidak tumbuh tegak tetapi meliuk karena daun tumbuh lebih panjang, serta warna daun hijau pucat atau kekuningan. Tanaman terkadang menjadi kerdil atau mengalami pertumbuhan yang berlebihan, pada tahap selanjutnya tanaman akan mengalami nekrosis dan umbi pada tanaman bergejala akan membusuk. Akar tanaman berwarna coklat pucat dan berukuran lebih pendek dibandingkan dengan akar tanaman sehat. Pada umumnya tanaman yang bergejala tidak dapat menghasilkan umbi atau bahkan akan kering dan mati pada 38 hari setelah tanam. Pada tingkat serangan penyakit ringan umbi yang dihasilkan akan berukuran lebih kecil dan lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman sehat (Tondok 2001; Wiyatiningsih et al. 2009).

Cendawan F. oxysporum menghasilkan enzim pendegradasi dinding sel yang merupakan salah satu alat penetrasi cendawan pada sel tanaman. Beberapa enzim yang dihasilkan antara lain selulosa, glucanase, xylanase, glucosidase, pektinase dan poligalakturonase (Leslie et al. 2006). Dua peranan penting enzim pendegradasi dinding sel dalam perkembangan penyakit layu vaskular antara lain pada saat penentrasi lapisan kortek akar untuk memperoleh akses ke dalam sistem vaskular dan selama proses kolonisasi tanaman inang melalui penyebaran di jaringan xylem (Roncero et al. 2003). Aktivitas pektinase dan xylanase ditemukan pada tanaman chickpea yang terinfeksi Fusarium oxysporum f. sp. ciceris, sedangkan aktivitas enzim poligalakturonase terjadi pada jaringan tanaman yang terinfeksi pada saat gejala penyakit mulai berkembang. Aktivitas enzim pendegradasi dinding sel di akar dan batang tanaman ini memiliki korelasi positif dengan perkembangan gejala kuning dan layu (Jorge et al. 2006). Enzim pectinolitic extracellular ditemukan pada akar dan batang tanaman tomat yang terinfeksi oleh F. oxysporum f.sp. lycopersici, sedangkan poligalakturonase terdeteksi pada batang tanaman terinfeksi dan pektatliase terdeteksi pada akar tanaman selama fase infeksi awal (Pietro dan Roncero 1996).

Standar Mutu dan Sertifikasi Benih Bawang Merah di Indonesia

(25)

7 bawang merah di Indonesia sebagian besar menggunakan umbi untuk bahan perbanyakan di lapangan. Sebagai bahan pembiakan vegetatif, umbi sangat berpotensi membawa dan menyebarkan penyakit di lapangan

Penggunaan benih yang bermutu merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal di lapangan. Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya karena bebas dari serangan hama dan penyakit, serta mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan. Kebutuhan benih bawang merah di Indonesia belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produsen atau penangkar benih yang ada. Maemunah (2013) menyebutkan dari total kebutuhan benih bawang merah yang ada, baru dapat terpenuhi sekitar 9 524 ton kelas benih sebar atau setara 9.24% dari total kebutuhan benih. Oleh karena itu, masih banyak petani di Indonesia yang menggunakan benih asalan yang berasal dari umbi untuk konsumsi untuk ditanam di lapangan. Penggunaan benih yang bermutu rendah dapat mengakibatkan terjadinya penurunan produksi sekitar 2.6% untuk satu kali tanam.

Standar mutu benih merupakan syarat mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan harus dipenuhi oleh benih yang akan diedarkan. Proses penetapan dan pengawasan mutu benih yang dihasilkan oleh petani dilaksanakan melalui proses sertifikasi benih. Sertifikasi benih adalah proses pemberian sertifikat kepada kelompok benih yang sudah lulus pemeriksaan, pengujian laboratorium dan pengawasan, serta memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah untuk diedarkan. Tujuan dari sertifikasi benih secara umum adalah untuk menjamin kemurnian dan kebenaran varietas dan menjamin tersedianya benih bermutu secara berkesinambungan. Hal ini dapat mendukung penangkar benih dalam memproduksi benih berkualitas tinggi yang sehat dan ekonomis, serta membantu konsumen untuk mendapatkan benih yang berkualitas. Sertifikasi juga menjamin suatu lot benih memenuhi standar mutu tertentu dan sejarah lot benih tersebut dapat tertelusur dengan baik. Proses sertifikasi juga diharapkan mampu mengendalikan patogen terbawa benih dan mencegah penyebaran penyakit di lapangan.

Berbagai negara di dunia telah menerapkan proses sertifikasi benih secara ketat. Standar Phoma lingam untuk benih dasar guna perbanyakan tanaman di Inggris adalah 0% dalam 1000 benih. Hal ini juga berlaku untuk Phoma betae pada red beet, Phoma apiicola dan Septoria apiicola pada seledri, Colletotrichum lindemuthianum pada buncis, dan Aschochyta fabae pada faba bean. Pengujian benih untuk tingkat infeksi cucumber mosaic virus (CMV) pada benih Lupinus angustifolius di Australia tidak boleh melebihi 0.5%. Di New South Wales terdapat hubungan antara infeksi benih dan serangan penyakit di pertanaman, sehingga penerapan sertifikasi dalam proses produksi benih mampu menekan infeksi Sclerotia sclerotiorum. Penerapan program sertifikasi benih yang ketat di Idaho juga berperan dalam mengeliminasi bakteri terbawa benih pada benih buncis (Agarwal dan Sinclair 1996).

(26)

8

dan standar dari Direktorat Perbenihan dan Sarana Hortikultura diketahui bahwa standar mutu di lapangan terdiri atas campuran varietas lain maksimal 1.0%, isolasi jarak minimal 1 meter, tingkat serangan penyakit di lapangan antara lain OYDV (Onion Yellow Dwarf Virus), SLV (Shallot Laten Virus) dan LYTV (Leak Yellow Tripe Virus) masing-masing maksimal sebesar 1.0-2.0%, bercak ungu (Alternaria porri) 0.5% dan embun bulu (Peronospora destructor) 1.0%. Standar mutu umbi di gudang penyimpanan antara lain campuran varietas lain maksimal 1.0%, gejala penyakit busuk leher batang (Botrytis allii), bercak ungu (Alternaria porri), bakteri busuk lunak (Erwinia carotovora) masing-masing maksimal 2.0%, busuk pangkal (Fusarium sp.) 5.0%, antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) 1.0% dan lalat penggorok daun (Liriomyza chinensis) 0.0%.

Gambar 1 Label sertifikat benih bawang merah kelas benih sebar

Proses sertifikasi dalam menghasilkan benih bawang merah terdiri atas beberapa tahap yaitu permohonan sertifikasi, pemeriksaan, penerbitan sertifikat dan pelabelan. Untuk proses pemeriksaan terdiri atas beberapa tahap yaitu pemeriksaan pendahuluan untuk pengecekan lahan, pemeriksaan lapang pada fase vegetatif dan generatif, serta pemeriksaan umbi di gudang penyimpanan. Benih yang telah lolos sertifikasi akan diberikan label sesuai dengan kelas benih yang bersangkutan (Gambar 1). Label sertifikat benih berisi informasi mengenai identitas benih antara lain nama dan alamat produsen, jenis tanaman, varietas, nomor kelompok atau nomor lot, berat bersih, ukuran umbi, tanggal panen serta tanggal masa berlaku label sertifikat benih. Benih yang telah habis masa berlaku label sertifikatnya dapat mengajukan perpanjangan untuk setengah kali masa berlaku label sertifikat tersebut (Direktorat Perbenihan dan Sarana Hortikultura 2009).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

(27)

9

Metode Penelitian

Sampel Pengujian

Sampel umbi bibit bawang merah yang digunakan untuk tahap blotter test dan GOT pada penelitian ini diambil dari empat daerah sentra produksi bawang merah yaitu Cirebon, Brebes, Nganjuk dan Bantul. Umbi bibit diperoleh dari penangkar benih yang merupakan penangkar binaan BPSBTPH setempat. Dari masing-masing daerah diambil beberapa lot umbi dari beberapa lokasi penangkaran yang berbeda. Penentuan jumlah sampel pada blotter test umbi menggunakan sampel yang berasal dari satu lokasi dan satu lot yang sama. Umbi bibit bawang merah yang digunakan sudah melalui proses sortasi dan beberapa lot telah melalui proses sertifikasi sehingga memenuhi syarat untuk digunakan sebagai benih di lapang.

Blotter Test

Blotter test dilakukan dengan cara meletakkan 200 umbi bibit bawang merah di atas 2 lembar kertas saring steril lembab di dalam kotak plastik (panjang x lebar x tinggi: 33.5 x 26.5 x 7 cm) dengan jumlah 25 umbi/kotak sebanyak 8 ulangan. Bawang merah kemudian diinkubasi di dalam inkubator yang dilengkapi lampu NUV (dengan durasi penyinaran 12 jam terang dan 12 jam gelap) pada ruangan dengan suhu AC (22-25 OC) selama 8 hari (Gambar 2).

Gambar 2 Tahapan blotter test: a) sterilisasi permukaan umbi, b) dan c) umbi diletakkan pada kotak plastik dengan media kertas filter, d) inkubasi pada inkubator

Terdapat dua parameter yang diamati pada pengujian ini yaitu tingkat infeksi Fusarium sp. dan tingkat nekrosis pada basal plate setelah masa inkubasi. Pengamatan tingkat infeksi Fusarium sp. dilakukan secara makroskopis menggunakan mikroskop stereo dan mikroskopis menggunakan mikroskop compound. Tingkat infeksi dihitung dalam persen dengan rumus:

a

d

c

(28)

10

Untuk pengamatan parameter nekrosis pada umbi yang diuji dengan blotter test dilakukan dengan cara membelah tiap umbi secara vertikal, kemudian diamati bagian basal plate di bawah mikroskop stereo. Bagian basal plate yang menunjukkan gejala nekrosis dicatat dan dinyatakan dalam persen jumlah umbi nekrosis pada tiap sampel uji dengan rumus:

Growing on Test di Rumah Kasa

Pengujian ini dilakukan di rumah kasa dengan cara menanam umbi pada media pasir steril di dalam kotak plastik (p x l x t: 37 x 27.5 x 15 cm). Pasir yang digunakan telah diayak dan disterilkan dengan air mendidih dan digunakan hanya untuk satu kali penanaman. Syarat media pasir yang digunakan sebagai media tumbuh pada pengujian ini adalah memiliki tingkat salinitas kurang dari 400µS/cm2, yang diukur dengan alat condutivity meter (ISTA 2011). Umbi ditanam sebanyak 25 umbi/kotak sebanyak 8 ulangan dengan perlakuan pemotongan 1/3 bagian pucuk umbi sebelum tanam (Gambar 3).

Gambar 3 Growing on test (GOT) di rumah kasa: a) media pasir, b) penanaman umbi pada media, c) pengujian GOT sampai dengan 21 hari, d) rumah kasa

Pengamatan pada pengujian ini dilakukan sampai 21 hari setelah tanam. Parameter yang diamati adalah tingkat serangan penyakit layu fusarium selama fase pembibitan dihitung dalam persen tanaman sakit sebagai berikut:

a

b

(29)

11

Uji Patogenisitas Isolat Fusarium sp. Asal Umbi Bawang Merah

Isolat Fusarium sp. diperoleh dengan cara mengisolasi Fusarium sp. dari umbi bibit bawang yang telah diuji dengan blotter test pada media PDA. Isolat murni yang diperoleh disimpan pada agar miring dan diuji tingkat patogenisitasnya pada umbi bibit bawang merah.

Pengujian patogenisitas pada umbi dilakukan dengan cara menempelkan isolat murni Fusarium sp. pada bagian basal plate umbi yang telah dibelah secara vertikal. Umbi yang digunakan dalam pengujian ini terlebih dahulu disterilisasi dengan NaOCl 1% selama 3 menit. Umbi yang telah ditempel isolat murni diletakkan di atas 2 lembar kertas saring di dalam cawan petri, kemudian diinkubasi selama 7 hari. Pengamatan dilakukan dengan melihat ada tidaknya jaringan nekrosis pada bagian basal plate yang diinokulasi Fusarium sp.. Isolat dikategorikan patogenik jika terjadi nekrosis pada basal plate, dan isolat dikategorikan non patogenik jika tidak terdapat jaringan nekrosis pada basal plate tersebut. Digunakan kontrol sebagai pembanding yaitu bawang merah yang tidak diinokulasi dengan isolat murni (Gambar 4).

G

Gambar 4 Uji patogenisitas Fusarium sp. dengan umbi: a) sterilisasi permukaan umbi, b) umbi dibelah secara vertikal, c) penempelan isolat pada bagian basal plate, d) inkubasi di dalam inkubator

Penentuan Jumlah Minimal Umbi Bibit Bawang Merah untuk Blotter Test Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa jumlah sampel yang berbeda yaitu 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175 dan 200 umbi. Umbi yang digunakan dalam pengujian ini berasal dari satu varietas dan satu lot umbi yang sama. Pengujian menggunakan metode blotter test dan masing-masing sampel

a

b

(30)

12

ditabur dalam 5 ulangan. Pengamatan hasil uji berdasarkan persen nekrosis pada umbi setelah masa inkubasi.

Sampel yang digunakan untuk tahap pengujian ini berasal dari satu lot yang diambil pada waktu yang sama. Sampel yang digunakan adalah umbi bawang merah varietas Timur Carwan dari daerah Cirebon dan varietas Bima dari daerah Brebes.

Penentuan jumlah sampel minimal berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian menggunakan dua metode. Metode pertama data ditampilkan dalam grafik berupa hubungan antara standar deviasi dan rata-rata nekrosis basal plate dengan jumlah contoh yang diuji (Kranz 1987; Neher dan Campbell 1997). Metode yang kedua adalah formal probability statement dengan cara menghitung jumlah sampel secara statistik (Neher dan Campbell 1997), dengan rumus sebagai berikut:

N : jumlah sampel yang dibutuhkan : nilai rata-rata

s2 : varian

t2 : nilai dari t table dengan α 0.05

d2 : setengah dari total panjang selang kepercayaan dalam bentuk proporsi

HASIL

Sampel Umbi Bibit Bawang Merah

Sampel yang digunakan dalam pengujian tahap ini sebanyak 20 sampel yang diperoleh dari empat daerah sentra produksi bawang merah di pulau Jawa. Sampel yang diperoleh dari daerah Nganjuk sebanyak enam sampel dengan beberapa varietas berbeda, yaitu Thailand (1 sampel), Super Philip (1 sampel), Manjung (2 sampel), Mentes (1 sampel) dan Katumi (1 sampel). Sampel dari daerah Brebes sebanyak enam sampel yang terdiri atas varietas Bima brebes (5 sampel) dan Manjung (1 sampel). Dari daerah Cirebon diperoleh enam sampel yaitu varietas Bima curut (4 sampel), Mentes (1 sampel), dan Timur carwan (1 sampel). Dari daerah Bantul diperoleh dua sampel yaitu varietas Tiron (1 sampel) dan Crok kuning (1 sampel).

Beberapa varietas yang berbeda diperoleh dari masing-masing daerah asal sampel umbi bibit bawang merah. Perbedaan ini dikarenakan kesukaan petani terhadap varietas yang biasa ditanam pada masing-masing daerah juga berbeda, seperti di daerah Brebes sebagian besar petani menanam bawang merah varietas Bima yang merupakan varietas lokal daerah tersebut, begitu pula di daerah Bantul petani biasanya menanam varietas Tiron.

Blotter Test pada Umbi Bibit Bawang Merah

(31)
[image:31.595.116.460.135.355.2]

13 (Gambar 5). Hasil rata-rata tingkat infeksi Fusarium sp. pada sampel umbi bawang merah adalah 78.7%, dengan kisaran tingkat infeksi antara 32% - 97.5% (Lampiran 6).

Gambar 5 Hasil blotter test: a) dan b) umbi tidak bergejala, c) dan d) umbi bergejala

Nekrosis pada umbi diamati pada bagian basal plate umbi. Ciri nekrosis pada umbi adalah adanya jaringan yang mengalami kematian yang diindikasikan dengan warna coklat pada jaringan tersebut (Gambar 6). Pada tingkat lanjut beberapa umbi menunjukkan gejala nekrosis parah pada seluruh jaringan umbi. Tingkat rata-rata nekrosis dari seluruh sampel yang diuji adalah 17.3%, dengan kisaran tingkat nekrosis antara 1.5% - 43% (Lampiran 6).

Gambar 6 Gejala nekrosis pada basal plate umbi: a) umbi tidak bergejala, b) c) dan d) umbi bergejala nekrosis pada basal plate

c

d

a

b

a

b

[image:31.595.112.459.493.730.2]
(32)

14

Growing on Test (GOT) di Rumah Kasa

Hasil growing on test di rumah kasa menunjukkan bahwa rata-rata tingkat serangan layu fusarium adalah 9.5%, dengan kisaran tingkat infeksi penyakit antara 0% - 30% (Lampiran 6).

Gejala penyakit layu fusarium pada bawang merah selama masa pertumbuhan di rumah kasa dapat diamati berdasarkan gejala yang tampak. Pada tahap awal gejala terlihat pucuk daun yang mucul mulai melingkar baik beberapa helai atau semua helai daun yang ada, kemudian terjadi yellowing atau perubahan warna daun yang melingkar menjadi kuning, dimulai dari pucuk daun ke arah pangkal daun. Pada tahap selanjutnya daun akan mengering dan mengalami kematian. Gejala ini dapat muncul pada tahap awal perkecambahan maupun pada tahap akhir perkecambahan.

Tondok (2001) menjelaskan gejala twisting disease yang disebabkan oleh F. oxysporum pada bawang merah dapat dilihat pada 13 hari setelah tanam. Gejala awal berupa klorosis yang diawali pada daun termuda dan diikuti dengan nekrosis pada ujung daun. Kadang-kadang perkembangan gejala klorosis diikuti dengan terjadinya gejala kerdil pada tanaman atau pemanjangan berlebih pada daun, kemudian umbi akan membusuk ketika berkembang gejala nekrosis.

Gambar 7 Gejala layu fusarium pada tanaman: a) Perbandingan antara tanaman sehat dan tanaman bergejala layu fusarium, b) bagian pangkal tanaman sehat, c) bagian pangkal tanaman bergejala layu fusarium, d) Fusarium sp. yang diisolasi dari tanaman bergejala layu fusarium

Selain diperoleh parameter pengujian pada blotter test yang tepat, dari data hasil pengujian ini juga diperoleh informasi sebaran tingkat infeksi layu fusarium berdasarkan wilayah asal sampel. Tingkat infeksi tertinggi terdapat di wilayah Brebes dan tingkat infeksi terendah terdapat di wilayah Cirebon (Gambar 8).

a

b

(33)
[image:33.595.128.453.87.239.2]

15

Gambar 8 Tingkat infeksi layu fusarium berdasarkan wilayah asal sampel

Korelasi Parameter Blotter Test dengan Tingkat Infeksi Penyakit Layu Fusarium pada Growing on Test (GOT) di Rumah Kasa

Growing on test di rumah kasa diperlukan untuk mengetahui parameter yang tepat pada blotter test, serta cukup berkorelasi dengan tingkat serangan penyakit layu fusarium di lapangan. Sebaran data hasil pengujian pada parameter nekrosis menunjukkan terdapat dua data yang cukup jauh kisarannya dibandingkan dengan data yang lain oleh karena itu dua data tersebut dikeluarkan dan hanya digunakan 18 data dalam penghitungan nilai korelasi antara hasil blotter test dan GOT di rumah kasa.

Gambar 9 Hubungan tingkat infeksi Fusarium sp. umbi pada blotter test dan tingkat tanaman sakit pada GOT di rumah kasa

Untuk menentukan parameter yang tepat untuk deteksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah dengan metode blotter test, dilakukan uji korelasi pada dua parameter blotter test dengan persen tanaman sakit pada GOT. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa untuk korelasi antara parameter persen infeksi Fusarium sp. pada basal plate dan persen tanaman sakit memiliki nilai r sebesar 0.34. Nilai r pada parameter tingkat infeksi Fusarium dan R2 yang diperoleh pada persamaan regresi sangat rendah, sehingga tingkat infeksi

0 5 10 15 20 25 30

Nganjuk Brebes Cirebon Bantul

T in gk at in fe k si F u sari u m sp . ( % )

Wilayah asal sampel

% Tanaman sakit

% Nekrosis Basal Plate

y = 0.1354x - 0.8839 R² = 0.1165

0 5 10 15 20 25 30 35

0 25 50 75 100 125

T ana man sa kit ( % )

(34)

16

Fusarium ini tidak dapat digunakan sebagai parameter tunggal untuk menentukan tingkat infeksi Fusarium patogenik pada blotter test (Gambar 9).

Hasil korelasi parameter persen nekrosis basal plate dan persen tanaman sakit diperoleh nilai r sebesar 0.77. Nilai r pada parameter nekrosis memiliki kategori hubungan yang kuat, sehingga nekrosis dapat digunakan sebagai parameter tambahan untuk pendugaan umbi yang membawa Fusarium patogenik dengan blotter test. Hasil persamaan regresi yang diperoleh dari tingkat nekrosis dan tanaman sakit adalah y = 0.61x + 0.564 dengan nilai R2 sebesar 0.591 (Gambar 10). Nilai koefisien x yang positif dan kurang dari satu pada persamaan regresi tersebut mengindikasikan bahwa umbi yang terinfeksi berpotensi untuk menghasilkan tanaman yang bergejala, namun tidak setiap umbi yang terinfeksi Fusarium akan menghasilkan tanaman sakit di pertanaman.

Gambar 10 Hubungan tingkat nekrosis umbi pada blotter test dan tingkat tanaman sakit pada GOT di rumah kasa

Uji patogenisitas isolat Fusarium bertujuan untuk mengetahui apakah Fusarium yang ditemukan pada tahap blotter test bersifat patogenik atau non patogenik. Pada penelitian ini diuji sebanyak 195 isolat, dan diketahui bahwa sebagian besar isolat tidak bersifat patogenik pada umbi yaitu sebesar 71.3% (Lampiran 5).

Hasil uji patogenisitas isolat asal bawang merah menunjukkan bahwa pada isolat yang bersifat patogenik terdapat jaringan umbi yang mengalami nekrosis di sekitar tempat inokulasi. Pada isolat non patogenik tidak terdapat jaringan nekrosis pada daerah sekitar tempat inokulasi. Pada umbi kontrol tidak terdapat infeksi Fusarium maupun jaringan nekrosis pada basal plate dan seluruh bagian umbi yang diuji (Gambar 11).

y = 0.61x + 0.564 R² = 0.5912

0 5 10 15 20 25 30 35

0 10 20 30 40 50

T

ana

man

sa

kit

(

%

)

(35)
[image:35.595.126.457.83.308.2]

17

Gambar 11 Pengujian patogenisitas pada umbi: a) kontrol, b) isolat non patogenik, c) dan d) isolat patogenik

Penentuan Jumlah Sampel Minimum untuk Blotter Test

Hasil penentuan jumlah sampel minimum untuk blotter test dengan dua metode menunjukkan bahwa analisa data yang diperoleh dengan metode pertama yaitu plot hubungan antara standar deviasi (SD) dan tingkat rata-rata nekrosis ( nekrosis) terhadap jumlah sampel, menunjukkan tingkat nekrosis pada basal plate bawang merah pada kedua sampel cukup berfluktuasi pada jumlah sampel dibawah 150 umbi (Gambar 16). Pada sampel di atas 150 umbi tingkat nekrosis mulai terlihat menurun secara konstan. Pada sampel Bima Brebes rata-rata tingkat nekrosis pada basal plate masih berfluktuasi pada kisaran 150 umbi, namun standar deviasi yang diperoleh sudah menunjukan nilai konstan di atas 150 umbi.

[image:35.595.118.473.94.485.2]

Hal ini juga diperkuat dengan hasil analisa dengan metode kedua yaitu formal probability statement. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan estimasi tingkat keparahan penyakit berada dalam 10% dari rata-rata populasi sesungguhnya, diperoleh nilai N sebesar 125 dan 138 (Tabel 1). Untuk memudahkan dalam perhitungan persentasi tingkat infeksi pada pengujian di laboratorium (jumlah sampel yang digunakan pada umumnya dalam jumlah pembulatan), maka jumlah minimum sampel yang diuji dapat dibulatkan menjadi minimal 150 umbi.

Tabel 1. Hasil perhitungan formal propability statement untuk menentukan jumlah sampel umbi minimal pada blotter test

Sampel n(x) s2 d N

Timur Carwan 40 17 9.21 0.1 125

Bima Brebes 40 30 17.69 0.1 138

a

c

b

(36)
[image:36.595.52.483.80.639.2]

18

Gambar 12. Hubungan jumlah sampel dan tingkat nekrosis basal plate umbi pada

blotter test: a) varietas Timur Carwan, (b) varietas Bima Brebes; : SD nekrosis, : nekrosis pada basal plate

PEMBAHASAN

Pemilihan empat wiliyah (Cirebon, Brebes, Nganjuk dan Bantul) untuk pengambilan sampel uji dikarenakan empat wilayah ini merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di pulau Jawa. Salah satu serangan penyakit utama yang terjadi di wilayah ini adalah penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Wiyatiningsih et al. (2009) menyebutkan bahwa penyakit layu fusarium terdapat di tiga daerah sentra produksi bawang merah yaitu Kabupaten Bantul, Brebes dan Nganjuk bersifat epidemik pada musim hujan dengan keparahan penyakit 13.75% - 30.00%. Selain itu beberapa varietas yang banyak ditanam di Bantul antara lain Tiron, Biru dan Philip, sedangkan di

0 5 10 15 20 25 30 0 2 4 6 8 10 12 14 16

0 50 100 150 200 250

ẋ ti ng ka t Ne kr osis P ada Basal Plat e S D Nekro si s P ada Bas al Pl at e 0 10 20 30 40 50 60 0 5 10 15 20 25 30

0 50 100 150 200 250

Jumlah Sampel

a

(37)

19 Nganjuk varietas Philip dan Biru. Varietas Tiron diduga tahan terhadap penyakit layu fusarium namun tingkat produksinya cukup rendah, sedangkan varietas Super Philip diduga tidak tahan terhadap penyakit layu fusarium namun produksinya tinggi. Agrios (2005) menyebutkan jika suatu lahan pertanian telah terinfestasi dengan Fusarium, maka cendawan ini mampu bertahan dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Selain itu, pada daerah pertanian yang mempunyai sejarah lahan dimana selalu ditemukan penyakit busuk pangkal batang fusarium, mempunyai populasi F. oxysporum f. sp. cepae tertinggi dibandingkan dengan daerah yang belum pernah dilaporkan mengenai penyakit tersebut (Abawi dan Lorbeer 1971b). Layu fusarium merupakan salah satu penyakit dominan yang banyak dilaporkan menyerang bawang merah di Indonesia. Fusarium oxysporum merupakan cendawan tular tanah yang mampu bertahan di tanah dalam bentuk klamidospora. Cendawan ini dapat terbawa benih atau tular benih secara pasif pada permukaan umbi baik berupa hifa atau spora. Keberhasilan penularan penyakit pada kecambah tanaman seringkali tergantung pada lokasi infeksi patogen dan jumlah inokulum yang ada. Hubungan antara jumlah inokulum pada umbi dan tingkat penularan penyakit akan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kerentanan kultivar tanaman (Rennie 1998). F. oxysporum menginfeksi basal stem plate umbi dan dapat menyebabkan kematian pada tanaman. Infeksi cendawan ini pada umbi yang dorman selama penyimpanan dapat menyebabkan terjadinya infeksi sekunder. Metode infeksi oleh F. oxysporum f. sp. cepae terutama melalui penetrasi langsung pada basal plate atau melalui jaringan luka pada akar dan pada bagian umbi lapis (Cramer 2000).

Fusarium yang bersifat saprofit, patogenik dan non patogenik tidak dapat dibedakan berdasarkan karakteristik morfologi maupun kultural. Selain itu, spesies Fusarium secara umum menginvasi jaringan nekrosis di tanah, sehingga proses isolasi tidak selalu menghasilkan isolat patogen. Oleh karena itu diperlukan uji patogenisitas untuk mengetahuinya (Windels 1992). Umur tanaman pada saat inokulasi berpengaruh terhadap penentuan tingkat keparahan penyakit. Inokulasi tanaman dengan layu fusarium pada fase awal perkecambahan menghasilkan penyakit damping off, sedangkan inokulasi pada tanaman dewasa menyebabkan evaluasi tidak akurat.

Penggunaan metode blotter test untuk pengujian cendawan pada bawang merah disebabkan metode ini merupakan metode yang cukup sederhana, murah, efektif dan akurat untuk mendeteksi cendawan terbawa umbi. Metode ini juga merupakan salah satu metode yang telah diakui oleh ISTA untuk pengujian beberapa cendawan terbawa benih seperti Alternaria padwickii dan Drechslera oryzae pada padi (ISTA 2011). Penelitian Ora et al. (2003) juga membuktikan bahwa metode ini mampu mendeteksi 12 cendawan pathogen terbawa benih padi secara akurat di Bangladesh, salah satunya adalah Fusarium moniliforme dan cendawan ini merupakan salah satu cendawan paling banyak ditemukan diberbagai varietas padi yang diuji. Metode ini juga dilaporkan mampu mendeteksi 16 cendawan termasuk F. oxysporum pada benih legum (Rathod et al. 2012).

(38)

20

menyebabkan koefisien korelasi Fusarium pada blotter test dengan tingkat tanaman sakit pada GOT rendah.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat strain Fusarium oxysporum yang bersifat non patogenik pada beberapa inang antara lain pada melon (Appel dan Gordon 1994), bayam (Fiely et al. 1995) dan cabai (Joshi et al. 2012). F. oxysporum non patogenik telah terbukti mampu menekan serangan penyakit pada beberapa tanaman. Hasil penelitian Davis (1968) menunjukkan beberapa forma spesiales F. oxysporum non patogenik dilaporkan lebih efektif menurunkan penyakit layu fusarium pada tomat dibandingkan cendawan non patogenik lainnya. Hasil analisa untuk keragaman genetik 41 strain F. oxysporum dari akar tanaman tomat menunjukkan terdapat 20 strain bersifat patogenik dan 21 strain bersifat non patogenik (Bao et al. 2002). Widodo (2000) juga menyebutkan bahwa terdapat 5 isolat potensial F. oxysporum non patogenik yang mampu menekan busuk pangkal pada bawang bombai (onion).

Fuchs et al. (1997) dan Bolwerk (2005) menyatakan pengendalian cendawan patogen Fusarium oxysporum f. sp. radicis-lycopersici yang menyebabkan busuk akar dan pangkal batang pada tanaman tomat dapat dilakukan melalui penambahan cendawan non patogenik F. oxysporum Fo47 ke dalam tanah. Inokulasi dengan Fo47 meningkatkan aktivitas kitinase, β -1,3-glucanase, dan β-1,4-glucosidase yang menginduksi ketahanan di dalam tomat. Selain itu, cendawan Fusarium non patogenik diduga berpengaruh terhadap perkembangan cendawan patogenik F. oxysporum yang disebabkan adanya kompetisi ruang dan waktu selama proses perkembangan cendawan. Beberapa mekanisme pengendalian Fusarium oxysporum f.sp radicis-lycopersici oleh F. oxysporum non patogenik Fo47 adalah tingkat perkecambahan spora dan kompetisi penggunaan nutrisi pada permukaan akar tanaman tomat.

Parameter nekrosis berdasarkan gejala yang ditimbulkan oleh infeksi Fusarium pada basal plate dapat digunakan untuk mendeteksi Fusarium patogenik pada blotter test dan sebagai penduga tingkat infeksi di pengujian GOT. Parameter ini juga memiliki nilai koefisien korelasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat infeksi Fusarium sp. pada umbi. Havey (2008) menyebutkan infeksi F. oxysporum pada umbi dapat menimbulkan gejala perubahan warna (discolored) dan jika umbi dibelah, pada jaringan yang terinfeksi terdapat jaringan lunak dan berwarna coklat.

Tingkat patogenisitas Fusarium sp. diduga dapat berperan terhadap rendahnya tingkat infeksi penyakit pada tanaman di GOT dibandingkan dengan blotter test. Hal ini juga dapat dilihat dari hasil uji patogenisitas isolat, terdapat beberapa tingkat nekrosis pada umbi yang diinokulasi isolat Fusarium yang diuji. Groenewald (2006) menemukan variasi virulensi yang signifikan pada isolat F. oxysporum f.sp. cubense dari tanaman pisang yang dievaluasi. Hasil penelitian Fiely et al. (1995) juga menemukan perbedaan tingkat virulensi tiga kelompok isolat F. oxysporum pada bayam, terdapat dua kelompok isolat yang lebih virulen secara signifikan dibandingkan satu kelompok isolat lainnya.

(39)

21 Lorbeer (1972) menyebutkan terdapat hubungan yang erat antara suhu dan perkembangan penyakit. Kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan Fusarium oxysporum f.sp. cepae pada media biakan adalah 24-27OC, sedangkan kejadian penyakit meningkat seiring dengan meningkatnya suhu antara 10-32OC. Busuk basal fusarium jarang terlihat pada suhu tanah di bawah 15OC, dan perkembangan penyakit akan merata pada suhu mendekati suhu optimum (25-28OC).

Maude (1998) menyebutkan beberapa kendala yang mempengaruhi benih sebagai sumber infeksi pada bawang bombai antara lain suhu dan tingkat penularan penyakit. Dibutuhkan kisaran suhu yang optimum untuk perkembangan patogen sebagai agen penyakit di pertanaman. Tingkat penularan penyakit (transmission rate) merupakan faktor epidemi penting dalam inisiasi penyebaran penyakit. Penularan penting pada beberapa organisme terbawa benih dan cendawan patogen terbawa benih pada bawang bombai memerlukan keberadaan benih terinfeksi yang cukup untuk menyebabkan infeksi pada sebagian kecambah. Sehingga hal ini dapat menyebabkan ledakan penyakit yang menimbulkan kerugian ekonomi. Ambang batas inokulum merupakan faktor yang sangat penting karena benih terinfeksi merupakan sumber utama penyakit pertanaman. Tingkat penularan patogen terbawa benih bawang bombai dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis cendawan (seperti biotrop, nekrotop), tingkat keparahan infeksi benih, kondisi tanah (suhu dan kelembaban) serta mikroflora tanah. Dibutuhkan tingkat populasi 5x104 propagul/g atau lebih pada tanah kering-oven untuk dapat menimbulkan perkembangan gejala penyakit damping-off kecambah bawang bombai pada tanah di lapangan, dan 100 propagul mampu menyebabkan perkembangan penyakit secara ekstensif pada tanah steril (Abawi dan Lorbeer 1972). Smith dan Snyder (1971) juga menyebutkan Fusarium oxysporum f. sp. batatas dengan kepadatan 50 klamidospora/g pada tanah kondusif mampu menyebabkan serangan penyakit layu fusarium pada tanaman ubi jalar dalam periode waktu 4 minggu.

Penentuan jumlah sampel dalam blotter test bertujuan untuk mendapatkan sampel yang tepat dan mampu mewakili lot sampel yang diuji sehingga diperoleh hasil pengujian yang akurat. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari tahap sebelumnya, pada tahap pengujian ini parameter yang digunakan adalah tingkat nekrosis pada basal plate umbi.

(40)

22

SIMPULAN

Tingkat nekrosis basal plate pada uji blotter test memiliki koefisien korelasi yang kuat dengan tingkat infeksi penyakit layu fusarium pada GOT, sehingga parameter ini merupakan parameter yang baik dalam penentuan tingkat infeksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah.

Jumlah sampel minimal untuk deteksi Fusarium patogenik pada umbi bibit bawang merah dengan metode blotter test adalah 150 umbi.

SARAN

Diperlukan proses lebih lanjut agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai metode standar di laboratorium, seperti uji validasi dan uji banding yang melibatkan beberapa laboratorium pengujian benih.

DAFTAR PUSTAKA

Abawi GS, Lorbeer JW. 1971a. Pathological histology of four onion cultivar infected by Fusarium oxysporum f. sp. cepae. Phytopathology 61: 1164-1169.

Abawi GS, Lorbeer JW. 1971b. Population of Fusarium oxysporum f. sp. cepae in organic soils in New York. Phytopathology Vol 61, pp. 1042-1048.

Abawi GS, Lorbeer JW. 1972. Several aspect of the ecology and pathology of Fusarium oxysporum f. sp. cepae. Phytophatology 62: 871-876.

Agarwal VK, Sinclair JB. 1996. Principles of Seed Pathology. 2nd ed. Florida (US). CRC Press. hlm 461-475.

Agrios GN. 2005. Plant Pathology. 5th ed. Elsevier Academic Press. California (US).

Armstrong GM, Armstrong KA. 1968. Formae speciales and races of Fusarium oxysporum causing a tracheomycosis in the syndrome of disease. Phytopathology 58: 1242-124.

Appel DJ, TR Gordon. 1994. Local and regional variation in population of Fusarium oxysporum from agricultural field soil. Phytopathology 84: 786-791.

Bao JR, Deborah RF, Nichole RO, George L, Peter van B. 2002. Genetic analysis of pathogenic and nonpathogenic Fusarium oxysporum from tomato plants. Can. J. Bot. 80: 271–279. DOI: 10.1139/B02-004.

Bolwerk A, Anastasia L.L, Ben JJL, Guido VB. 2005. Visualization of interactions between a pathogenic and a beneficial Fusarium strain During biocontrol of tomato foot and root rot. Molecular Plant-Microbe Interactions 18(7): 710–721. DOI: 10.1094/MPMI -18-0710.

(41)

23 [BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2004. SNI 01-6999-2004: Benih Bawang Merah (Allium cepa L.) Bentuk Umbi Kelas Benih Sebar (BR). Jakarta (ID). Cavanagh A, Hazzard R. 2012. Post harvest and storage disese of onions and garlic. University of Massachusets Amherst. (US). Tersedia pada: http://extension.umass.edu/vegetable/articles/post-harvest-and-storage-disease-onions-and-garlic

Davis D. 1968. Partial control of fusarium wilt in tomato by formae of Fusarium oxysporum. Phytopathology 58(1):121-122.

Cramer SC. 2000. Breeding and genetics of Fusarium basal rot resistance in onion. Euphytica 115:159–166.

Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi. 2009. Standar prosedur operasional produksi benih bawang merah (Allium ascalonicumi L). Direktorat Jenderal Hortikultura. Jakarta (ID). [Diunduh 2014 Mar 11]. Tersedia pada: http://ditbenih.hortikultura.deptan.go.id/sopbenih/ SOPbwgmerah.pdf Fiely MB, Correll JC, Morelock TE. 1995. Vegetative compatibility,

pathogenicity, and virulency of Fusarium oxysporum from spinach. Plant Dis. 79: 990-993.

Fuchs JG, Moenne-Loccoz Y, Defago G. 1997. Nonpathogenic Fusarium oxysporum strain Fo47 induces resistance to fusarium wilt in tomato. Plant Dis. 81(5):492-496.

Groenewald S. 2006. Biology, pathogenicity and diversity of Fusarium oxysoprum f.sp. cubense. [Thesis]. Pretoria (ZA). Faculty of Agriculture Science, University of Pretoria.

Havey MJ. 2008. Fusarium basal rot. Di dalam: Howard FS, Mohan SK, editor. Compendium of onion and garlic diseases and pests. 2nd ed. Minnesota (US). APS Press. hlm 12-14.

[ISTA] International Seed Testing Association. 2011. ISTA Rules. Bassersdorf (CH).

Jepson SB. 2008. Fusarium rot of garlic bulb. OSU Plant Clinic. [Internet].

[diunduh 2014 Mar 12] Tersedia pada:

http://www.science.oregonstate.edu/bpp/Plant_Clinic/Garlic/ Fusarium.pdf Joshi M, Srivastava R, Sharma AK, Prakash A. 2012. Screening of resistant

varieties and antagonistic Fusarium oxysporum for biocontrol of fusarium wilt of chilli. J Plant Pathol Microb. [Internet]. [diunduh 2014 Apr 28] 3(5). < http://dx.doi.org/10.4172/2157-7471.1000134.

Jorge I, Navas-Corte JA, Jimenez-Diaz RM, Tena M. 2006. Cell wall degrading enzymes in fusarium wilt of chickpea: correlation between pectinase and xylanase activities and disease evelopment in plants infected with two pathogenic races of Fusarium oxysporum f. sp. ciceris. Can. J. Bot. 84:1395–1404. DOI:10.1139/B06-103.

Kistler HC. 2001. Evolution of host specificity in Fusarium oxysporum. Di dalam: Summerell BA, Leslie JF, Backhouse D, Bryden WL, Burgess LW, editor. Fusarium Paul E. Nelson Memorial Symposium. Minnesota (US). APS Press. hlm:70-82.

(42)

24

Kranz J. 1987. Measuring plant disease. Di dalam: Jurgen K, Joseph R, editor. Experimental Technique in Plant Disease Epidemiology.

Gambar

Gambar 2  Tahapan  blotter test: a) sterilisasi permukaan umbi, b) dan c) umbi
Gambar 3  Growing on test (GOT) di rumah kasa: a) media pasir, b) penanaman
Gambar 5  Hasil blotter test: a) dan b) umbi tidak bergejala, c) dan d) umbi   bergejala
Gambar 8  Tingkat infeksi layu fusarium berdasarkan wilayah asal sampel
+3

Referensi

Dokumen terkait

Senyawa fitoaleksin nampaknya lebih banyak terbentuk dalam tanaman jika menggunakan mikroorganisme non patogenik dibandingkan hypovirulen (Fuchs et al. Sinyal

(Allium Ascalonicum L) bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian agensia hayati mikoriza terhadap intensitas penyakit layu fusarium, pertumbuhan dan hasil

Maka dari itu dalam penelitian ini dilakukan analisa regresi dan korelasi untuk menyatakan hubungan antar karakter agronomi pada tanaman bawang merah sehingga karakter yang

Pengaruh pengaruh pemberian dosis cendawan antagonis Trichoderma harzianum terhadap pengendalian penyakit layu Fusarium oxysporum pada tanaman bawang merah (Allium

Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis virus terbawa umbi pada beberapa varietas bawang merah yang berasal dari Jawa Tengah (Brebes) dan Jawa Barat (Cirebon,

untuk Mengendalikan Penyakit Layu (Fusarium oxysporum) pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum L.).. Dibimbing oleh Lisnawita dan

Senyawa fitoaleksin nampaknya lebih banyak terbentuk dalam tanaman jika menggunakan mikroorganisme non patogenik dibandingkan hypovirulen (Fuchs et al. Sinyal