Penggunaan Jamur Antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. untuk Mengendalikan Penyakit Layu (Fusarium oxysporum) pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

125  93  Download (2)

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN JAMUR ANTAGONIS Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU (Fusarium oxysporum)

PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)

SKRIPSI

OLEH:

ARIE RAMADHINA

070302034

HPT

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENGGUNAAN JAMUR ANTAGONIS Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU (Fusarium oxysporum)

PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)

SKRIPSI

OLEH:

ARIE RAMADHINA 070302034

HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan.

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

(Dr. Lisnawita, SP, M. Si) (Ir. Lahmuddin Lubis, MP) Ketua Pembimbing

Anggota Pembimbing

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRACT

Arie Ramadhina, 2012. The Use of Antagonism Fungus of Trichoderma sp

and Gliocladium sp. for Controlling Wilt (Fusarium oxysporum) in Red Onion Plants (Allium ascolanicum). Supervised by Lisnawita and Lahmuddin Lubis. The aim of

the research was to know the effectiveness of antagonism fungus of Trichoderma sp.

and Gliocladium sp. in controlling wilt in red onion plants. The research was performed in the green-house at the faculty of Agriculture, USU, from February until May, 2012. The research used non-factorial RAK (random group design) with eight

treatments: control, 10 grams of F. oxysporum, 12 grams of Trichoderma sp., 18

grams of Trichoderma sp., 24 grams of Trichoderma sp. and 12 grams of

Gliocladium sp., 18 grams of Gliocladium sp., 24 grams of Gliocladium sp., and three repetitions.

The results of the research showed that the worst-highest disease was in the

control treatment with 10 grams of F. oxysporum (2.60%) and the lowest disease was

in the control treatment with 18 grams of Trichoderma sp., 24 grams of Trichoderma

sp., 18 grams of Gliocladium sp., and 24 grams of Gliocladium sp. (0.71%). The

accident of the highest disease was in the treatment with 10 grams of F. oxysporum

(5.01%) and the lowest disease was in control treatment with 18 grams of

Trichoderma sp., 24 grams of Trichoderma sp., 18 grams of Gliocladium sp. and 24

grams of Gliocladium sp. (0.71%). The largest number of leaves was found in the

treatment with 24 grams of Trichoderma sp. (36 leaves), and the smallest number of

leaves was found in the treatment with 10 grams of F. oxysporum (29 leaves). The

highest plant was in the treatment with 24 grams of Gliocladium sp. (40.20

centimeters) and the lowest plant was in the treatment with 10 grams of F. oxysporum

(37.26 centimeters). The largest number of F. oxysporum colonies was in the

treatment with 10 grams of F. oxysporum (8.86%). The highest production was in the

treatment with 24 grams of Trichiderma sp. (2.34 tons/ha) and the lowest production

was in the treatment with 10 grams of F. oxysporum (1.56 tons/ha). The test of

antagonism fungus of Trichoderma sp. and Gliocladium sp. on F. oxysporum

indicates that the growth of both types of antagonism is faster so that F. oxysporum

tends to keep away from antagonism in the medium of the laboratory.

(4)

ABSTRAK

Arie Ramadhina, 2012. Penggunaan Jamur Antagonis Trichoderma sp. dan

Gliocladium sp. untuk Mengendalikan Penyakit Layu (Fusarium oxysporum) pada

Tanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum L.). Dibimbing oleh Lisnawita dan

Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas jamur

antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dalam mengendalikan penyakit layu

pada tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di rumah kassa di Fakultas Pertanian, USU dari bulan Februari – Mei 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan delapan perlakuan, yaitu: Kontrol, 10 g

F. oxysporum, 12 g Trichoderma sp. 18 g Trichoderma sp. 24 g Trichoderma sp. dan

12 g Gliocladium sp. 18 g Gliocladium sp. 24 g Gliocladium sp. dan tiga ulangan.

Hasil penelitian menunjukkan keparahan penyakit tertinggi terdapat pada

perlakuan Kontrol dengan 10 g F. oxysporum yaitu sebesar 2,60 % dan terendah pada

perlakuan control, 18 g Trichoderma sp., 24 g Trichoderma sp., 18 g Gliocladium sp.

24 g Gliocladium sp. yaitu sebesar 0,71 %. Kejadian penyakit tertinggi terdapat pada

perlakuan dengan 10 g F. oxysporum sebesar 5,01 % dan terendah pada perlakuan

Kontrol, 18 g Trichoderma sp., 24 g Trichoderma sp., 18 g Gliocladium sp. dan 24 g

Gliocladium sp. yaitu sebesar 0,71 %. Jumlah daun terbanyak terdapat pada

perlakuan 24 g Trichoderma sp. sebesar 36 helai dan terendah pada perlakuan

dengan 10 g F. oxysporum sebesar 29 helai. Sementara tinggi tanaman tertinggi pada

perlakuan 24 g Gliocladium sp. sebesar 40,20 cm dan terendah pada perlakuan

dengan 10 g F. oxysporum sebesar 37,26 cm. Adapun jumlah koloni F. oxysporum

terbanyak terdapat pada perlakuan dengan 10 g F. oxysporum sebesar 8,86 %.

Produksi tertinggi terdapat pada perlakuan 24 g Trichoderma sp. sebesar 2,34 Ton/Ha

dan terendah perlakuan dengan 10 g F. oxysporum sebesar 1,56 Ton/Ha. Uji

antagonisme jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. terhadap F. oxysporum

menunjukkan pertumbuhan kedua antagonis berkembang lebih pesat sehingga

F. oxysporum cenderung menjauhi antagonis pada media di laboratorium.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Arie Ramadhina lahir pada tanggal 26 April 1989 di Rantau Prapat,

merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dari Ayahanda Ir. Paijo dan Ibunda

Dahlia Lubis Spd.

Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis yaitu :

- Tahun 2001 lulus dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 112143 Rantau Prapat.

- Tahun 2004 lulus dari Madrasah Tsanawiyah Swasta PP Arraudhatul Hasanah

Medan.

- Tahun 2007 lulus dari Madrasah Aliyah Swasta PP Arraudhatul Hasanah

Medan.

- Tahun 2007 lulus dan diterima di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SPMB.

Pengalaman Kegiatan akademis :

1. Tahun 2007-2011 menjadi anggota Komunitas Muslim (KOMUS) HPT

Universitas Sumatera Utara.

2. Tahun 2007-2012 menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman

(IMAPTAN).

3. Tahun 2008-2009 menjadi anggota Badan Kenaziran Musholla (BKM)

(6)

4. Sebagai asisten Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu pada tahun ajaran

2011/2012.

5. Sebagai asisten Entomologi pada tahun ajaran 2011/2012.

6. Tahun 2008 mengikuti seminar Peranan Pertanian dalam Pembangunan

Sumatera Utara.

7. Tahun 2010 mengikuti seminar Syngenta, dengan tema “How do we feed a

growing population”.

8. Tahun 2011 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Juni

sampai Juli di PTPN IV Pabatu, Tebing Tinggi.

9. Melaksanakan penelitian di Rumah kassa di Fakultas Pertanian dan di

Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas

rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan

sebaik-baiknya.

Adapun judul dari skripsi saya ini adalah “Penggunaan Jamur Antagonis

Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. untuk Mengendalikan Penyakit Layu

(Fusarium oxysporum) pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)”

yang disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana

Pertanian di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ibu Dr. Lisnawita, SP, M.Si selaku ketua komisi pembimbing dan Ir. Lahmuddin

Lubis, MP selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak membantu,

memberikan bimbingan, mengarahkan dan memberi saran kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu

penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun demi

kesempurnaan tulisan ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga

tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Mei 2012

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ………….………. i

RIWAYAT HIDUP ………. iii

KATA PENGANTAR……….………. v

DAFTAR ISI………. vi

DAFTAR GAMBAR……… vii

DAFTAR TABEL………. viii

DAFTAR LAMPIRAN ………. ix

PENDAHULUAN Latar Belakang………... 1

Tujuan Penelitian……… 4

Hipotesa Penelitian………. 4

Kegunaan Penelitian……… 4

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman………..……….……… 5

Klasifikasi Penyakit Layu Fusarium (F. oxysporum)……….……… 7

Gejala Serangan F. oxysporum...………....………. 8

Siklus Hidup F. oxysporum………....……….……. 9

Pengendalian F. oxysporum ………..……….. 9

Klasifikasi Jamur Trichoderma sp………...……….……… 10

Klasifikasi Jamur Gliocladium sp……….……… 11

BAHAN DAN METODE Waktu Dan Tempat Penelitian………. 13

Bahan Dan Alat……… 13

Metode Penelitian……… 13

Pelaksanaan Penelitian………. 15

Persiapan Media PDA……….………. 15

Isolasi dan Penyediaan F. oxysporum………...…... 15

Identifikasi Jamur………. 16

Penyediaan Jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.………… 16

Pengujian di Lapangan ……… 16

(9)

Penanaman Benih………..………...…... 16

Aplikasi Jamur F. oxysporum ke Tanaman…..………. 17

Aplikasi Jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. ke Tanaman…..………..…………. 18

Pemeliharaan Tanaman………..………… 18

Panen………...………..………… 18

Peubah Amatan……… 19

Periode Inkubasi……… 19

Keparahan Penyakit….………. 19

Kejadian Penyakit…...……….………. 20

Jumlah Daun Tanaman……….………...…... 20

Tinggi Tanaman……….………...…... 20

Populasi Koloni Jamur F. oxysporum ………....………. 21

Produksi ……….………..………… 21

Pengujian di Laboratorium…...………..….……… 21

Persentase Zona Penghambatan Pertumbuhan….……….. 22

HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 23

KESIMPULAN DAN SARAN ………. 40 DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Hlm

1. Makrokonidia F. oxysporum ………. 8

2. Gejala Serangan layu Fusarium ( F. oxysporum)……….. 9

3. Konidia Jamur Trichoderma sp. ………...……… . 11

4. Konidia Jamur Gliocladium sp. ………...…. . 12

5. Uji Antagonisme Trichoderma sp. terhadap F.oxysporum ………. . 36

(11)

DAFTAR TABEL

No Judul Hlm

1. Periode Inkubasi F. oxysporum Pada Tanaman Bawang Merah…………. 23

2. Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah.. 24

3. Kejadian penyakit (%) F. Oxysporum pada Tanaman Bawang Merah... 26

4. Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah pada Beberapa Perlakuan……… 28

5. Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah pada Beberapa Perlakuan ……… 30

6. Jumlah Koloni Jamur F. oxysporum pada PDA ……… ……… 23

7. Produksi Bawang Merah ………..………..……….... 33

8. Persentase Penghambatan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. terhadap

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hlm

1. Bagan Percobaan (Pengujian In-Vivo) ...…………. 45

2. Lampiran 2. Bagan Percobaan In-Vitro... 46

3. Data Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

15 Hsi ... 47

4. Data Keparahan Penyakit (%) F. Oxysporum Pada Pengamatan

30 Hsi ...……….…… 48

5. Data Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

45 Hsi ... 49

6. Data Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

60 Hsi ... 51

7. Data Kejadian Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

15 Hsi ... 53

8. Data Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

30 Hsi ... 54

9. Data Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

45 Hsi……….. 55

10.Data Keparahan Penyakit (%) F. oxysporum Pada Pengamatan

60 Hsi………..………. 57

11.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

1 Mst………..………..………... 59

12.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

2Mst... 61

13.Data Tinggi (Cm) Tanamaan Bawang Merah Pada Pengamatan

3 Mst ... 63

14.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

4 Mst ... 65

15.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

5 Mst ... 67

16.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

6 Mst ... 69

17.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

7 Mst ... 71

18.Data Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

8 Mst ... 73

19.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

1 Mst ... 75

20.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

2 Mst ... 77

21.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

3 Mst ... 79

(13)

4 Mst ... 81

23.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

5 Mst ... 83

24.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

6 Mst ... 85

25.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

7 Mst ... 87

26.Data Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

8 Mst ... 89

27.Data Jumlah Koloni Jamur F. oxysporum Pada Pengamatan

15 Hsi ... 91

28.Data Jumlah Koloni Jamur F. oxysporum Pada Pengamatan

30 Hsi ... 93

29.Data Jumlah Koloni Jamur F. oxysporum Pada Pengamatan

45 Hsi ... 95

30.Data Jumlah Koloni Jamur F. oxysporum Pada Pengamatan

60 Hsi ... 97

31.Data Produksi (Kg/Ha) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

15 Hsi ... 99

32.Data Produksi (Kg/Ha) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

30 Hsi ... 101

33.Data Produksi (Kg/ha) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

45 Hsi ... 103

34.Data Produksi (Kg/Ha) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

60 Hsi ... 105

35.Data Produksi (Kg/Ha) Tanaman Bawang Merah Pada Pengamatan

(14)

ABSTRACT

Arie Ramadhina, 2012. The Use of Antagonism Fungus of Trichoderma sp

and Gliocladium sp. for Controlling Wilt (Fusarium oxysporum) in Red Onion Plants (Allium ascolanicum). Supervised by Lisnawita and Lahmuddin Lubis. The aim of

the research was to know the effectiveness of antagonism fungus of Trichoderma sp.

and Gliocladium sp. in controlling wilt in red onion plants. The research was performed in the green-house at the faculty of Agriculture, USU, from February until May, 2012. The research used non-factorial RAK (random group design) with eight

treatments: control, 10 grams of F. oxysporum, 12 grams of Trichoderma sp., 18

grams of Trichoderma sp., 24 grams of Trichoderma sp. and 12 grams of

Gliocladium sp., 18 grams of Gliocladium sp., 24 grams of Gliocladium sp., and three repetitions.

The results of the research showed that the worst-highest disease was in the

control treatment with 10 grams of F. oxysporum (2.60%) and the lowest disease was

in the control treatment with 18 grams of Trichoderma sp., 24 grams of Trichoderma

sp., 18 grams of Gliocladium sp., and 24 grams of Gliocladium sp. (0.71%). The

accident of the highest disease was in the treatment with 10 grams of F. oxysporum

(5.01%) and the lowest disease was in control treatment with 18 grams of

Trichoderma sp., 24 grams of Trichoderma sp., 18 grams of Gliocladium sp. and 24

grams of Gliocladium sp. (0.71%). The largest number of leaves was found in the

treatment with 24 grams of Trichoderma sp. (36 leaves), and the smallest number of

leaves was found in the treatment with 10 grams of F. oxysporum (29 leaves). The

highest plant was in the treatment with 24 grams of Gliocladium sp. (40.20

centimeters) and the lowest plant was in the treatment with 10 grams of F. oxysporum

(37.26 centimeters). The largest number of F. oxysporum colonies was in the

treatment with 10 grams of F. oxysporum (8.86%). The highest production was in the

treatment with 24 grams of Trichiderma sp. (2.34 tons/ha) and the lowest production

was in the treatment with 10 grams of F. oxysporum (1.56 tons/ha). The test of

antagonism fungus of Trichoderma sp. and Gliocladium sp. on F. oxysporum

indicates that the growth of both types of antagonism is faster so that F. oxysporum

tends to keep away from antagonism in the medium of the laboratory.

(15)

ABSTRAK

Arie Ramadhina, 2012. Penggunaan Jamur Antagonis Trichoderma sp. dan

Gliocladium sp. untuk Mengendalikan Penyakit Layu (Fusarium oxysporum) pada

Tanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum L.). Dibimbing oleh Lisnawita dan

Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas jamur

antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dalam mengendalikan penyakit layu

pada tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di rumah kassa di Fakultas Pertanian, USU dari bulan Februari – Mei 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan delapan perlakuan, yaitu: Kontrol, 10 g

F. oxysporum, 12 g Trichoderma sp. 18 g Trichoderma sp. 24 g Trichoderma sp. dan

12 g Gliocladium sp. 18 g Gliocladium sp. 24 g Gliocladium sp. dan tiga ulangan.

Hasil penelitian menunjukkan keparahan penyakit tertinggi terdapat pada

perlakuan Kontrol dengan 10 g F. oxysporum yaitu sebesar 2,60 % dan terendah pada

perlakuan control, 18 g Trichoderma sp., 24 g Trichoderma sp., 18 g Gliocladium sp.

24 g Gliocladium sp. yaitu sebesar 0,71 %. Kejadian penyakit tertinggi terdapat pada

perlakuan dengan 10 g F. oxysporum sebesar 5,01 % dan terendah pada perlakuan

Kontrol, 18 g Trichoderma sp., 24 g Trichoderma sp., 18 g Gliocladium sp. dan 24 g

Gliocladium sp. yaitu sebesar 0,71 %. Jumlah daun terbanyak terdapat pada

perlakuan 24 g Trichoderma sp. sebesar 36 helai dan terendah pada perlakuan

dengan 10 g F. oxysporum sebesar 29 helai. Sementara tinggi tanaman tertinggi pada

perlakuan 24 g Gliocladium sp. sebesar 40,20 cm dan terendah pada perlakuan

dengan 10 g F. oxysporum sebesar 37,26 cm. Adapun jumlah koloni F. oxysporum

terbanyak terdapat pada perlakuan dengan 10 g F. oxysporum sebesar 8,86 %.

Produksi tertinggi terdapat pada perlakuan 24 g Trichoderma sp. sebesar 2,34 Ton/Ha

dan terendah perlakuan dengan 10 g F. oxysporum sebesar 1,56 Ton/Ha. Uji

antagonisme jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. terhadap F. oxysporum

menunjukkan pertumbuhan kedua antagonis berkembang lebih pesat sehingga

F. oxysporum cenderung menjauhi antagonis pada media di laboratorium.

(16)

PENDAHULUAN

Latar belakang

Di Indonesia, bawang merah telah banyak merambah ke berbagai daerah

sehingga komoditi ini memiliki nama khas masing-masing daerah. Misalnya bawang

abang mirah (Aceh), pia (Batak), bawang sirah (Minangkabau), brambang (Jawa),

bharjang merah (Madura), bawa (Maluku), lasuma (Makasar), jasun bang (Bali) dan

sebagainya (Wiyatiningsih, 2003).

Kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah akan terus meningkat seiring

dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya belinya. Agar kebutuhan selalu

terpenuhi maka harus diimbangi dengan jumlah produksinya. Saat ini produksi

bawang merah lebih banyak diproyeksikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan

untuk ekspor jumlahnya relatif sangat rendah (Rahayu dan Berlian, 1999).

Selama periode 1989-2004, pertumbuhan produksi rata-rata bawang merah

adalah sebesar 5,4% per tahun, dengan kecenderungan pola pertumbuhan yang

konstan. Komponen pertumbuhan areal panen (4,3%) ternyata lebih banyak

memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksi bawang merah dibandingkan

dengan komponen produktivitas (1,1%) (Departemen Pertanian, 2011).

Konsumsi rata-rata bawang merah untuk tahun 2004 adalah 4,56

kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan. Estimasi permintaan domestik untuk tahun

2010 mencapai 976.284 ton, dimana 824.284 ton diantaranya untuk konsumsi, 97.000

(17)

ekspor-impor 1983-2003 mengindikasikan bahwa selama periode tersebut Indonesia

adalah net importer bawang merah, karena volume ekspor secara konsisten selalu

lebih rendah dibandingkan volume impornya

(Dirjen Hortikultura, 2004 dalam Departemen Pertanian, 2011).

Pengembangan bawang merah banyak mengahadapi kendala diantaranya

adalah serangan hama dan penyakit. Salah satu penyakit bawang merah yang harus

diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium yang disebabkan

oleh patogen Fusarium oxysporum. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan

menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat. Tanaman yang

terserang dicabut lalu dibakar atau dibuang di tempat yang jauh

(Pinem & Wileswati, 2005).

Potensi kehilangan hasil oleh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) utama,

pada bawang merah dapat mencapai 138,4 Milyar dibanding dengan komoditas

lainnya seperti cabai, kubis, kentang dan tomat. Kehilangan hasil karena OPT

mencapai 20-100% (Adiyoga et al., 2000). Kehilangan hasil karena penyakit layu

Fusarium yang terdapat di pertanaman dan berdasarkan wawancara dengan petani

dapat mencapai 50% (Wiyatiningsih, 2003).

Cara pengendalian yang umum dilakukan untuk mengendalikan penyakit layu

Fusarium adalah dengan menggunakan pestisida (Departemen Pertanian, 2011).

Selain itu, dilakukan juga pemupukan dengan dosis tinggi serta pemupukan

anorganik yang berlebihan, cara pemupukan seperti ini dapat menyebabkan tanah

menjadi keras, tanah tercemar dan keseimbangan alam terganggu. Sistem pemupukan

(18)

perkembangan dan pertumbuhan F. oxysporum (Suwandi et al., 1997 dalam Nur dan

Ismiyati, 2007).

Beberapa tahun belakangan ini telah dicoba pengendalian dengan

memanfaatkan mikroorganisme antagonis. Diantara jamur antagonis yang umun

digunakan adalah Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. Kedua jamur ini diketahui

dapat memarasit miselium jamur Rhizoctonia dan Sclerotium, serta menghambat

pertumbuhan banyak jamur seperti Phytium, Fusarium dan mengurangi penyakit

yang disebabkan oleh sebagian patogen tersebut (Agrios, 1996).

Potensi jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. sebagai jamur antagonis

yang bersifat preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur

tersebut semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian OPT.

Disamping karakternya sebagai antagonis diketahui pula bahwa Trichoderma sp. juga

berfungsi sebagai dekomposer dalam pembuatan pupuk organik. Aplikasi jamur

Trichoderma sp. pada pembibitan tanaman guna mengantisipasi serangan OPT sedini

mungkin oleh petani telah membuktikan bahwa tingkat kesadaran petani akan arti

penting perlindungan preventif perlahan telah tumbuh (Departemen Pertanian, 2011).

Berdasarkan uraian di atas, mengingat besarnya kebutuhan bawang merah dan

besarnya kerugian karena penyakit layu Fusarium, tetapi belum adanya cara

pengendalian yang selektif dan ramah lingkungan. Maka perlu diadakan penelitian ini

untuk mengetahui efektifitas dan pengaruh jamur antagonis Trichoderma sp. dan

Gliocladium sp. dalam beberapa dosis untuk mengendalikan layu Fusarium pada

(19)

Tujuan penelitian

Untuk mengetahui efektifitas jamur antagonis Trichoderma sp. dan

Gliocladium sp. dalam mengendalikan penyakit layu pada tanaman bawang merah.

Hipotesa penelitian

Jamur antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. mempunyai efektivitas

yang berbeda dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium pada tanaman bawang

merah.

Kegunaan penelitian

- Sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan penelitian di Departemen Hama

dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

Medan.

- Sebagai pengendalian alternatif dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium

(20)

TINJAUAN PUSTAKA

1. Botani tanaman

Menurut Rahayu dan Berlian (1999) tanaman bawang merah

(Allium ascalonicum L.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Liliales

Family : Liliaceae

Genus : Allium

Spesies : Allium ascalonicum L.

Bawang merah merupakan tanaman semusim berbentuk rumput yang tegak

dengan tinggi dapat mencapai 15-50 cm dan membentuk rumpun. Akar berbentuk

serabut yang tidak panjang (Rahayu dan Berlian, 1999).

Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan

bercabang pencar pada kedalaman antara 15-20 cm di dalam tanah. Jumlah perakaran

tanaman bawang merah dapat mencapai 20-200 akar. Diameter bervariasi antara 2-5

mm. Akar cabang tumbuh dan terbentuk antara 3-5 akar (Rukmana, 1994).

Tanaman bawang memiliki batang sejati atau disebut “discus” yang

(21)

mata tunas (titik tumbuh). Di atas discus terbentuk batang semu tersusun dari

pelepah-pelepah daun. Batang semu yang berada di dalam tanah akan berubah bentuk

dan fungsinya menjadi umbi lapis (bulbus) (Rukmana, 1994).

Daun bawang merah berbentuk bulat kecil dan memanjang seperti pipa, tetapi

ada juga yang membentuk setengah lingkaran pada penampang melintang daun.

Bagian ujung daun meruncing, sedangkan bagian bawahnya melebar membengkak

(Rahayu dan Berlian, 1999). Ukurannya antara 50-70 cm, berlubang dan bagian

ujungnya runcing, berwarna hijau muda sampai tua dan letak daun melekat pada

tangkai yang ukurannya relatif pendek (Rukmana, 1994).

Tangkai bunga keluar dari ujung tanaman (titik tumbuh) yang panjangnya

30-90 cm, dan diujungnya terdapat 50-200 kuntum bunga yang tersusun melingkar

(bulat) seolah berbentuk payung. Tiap kuntum bunga terdiri dari 5-6 helai daun bunga

yang berwarna putih. Sebagai bunga sempurna (hemaprodit). Bawang merah dapat

menyerbuk sendiri ataupun silang dengan bantuan serangga dan tangan manusia

(Rukmana, 1994).

Buah berbentuk bulat dengan ujungnya timbul membungkus biji berjumlah

2-3 butir. Bentuk biji agak pipih, sewaktu masih muda berwarna bening atau putih,

tetapi setelah tua menjadi hitam. Biji-biji berwarna merah dapat dipergunakan sebagai

bahan perbanyakan tanaman secara generatif (Rukmana, 1994).

Syarat tumbuh

Bawang merah menghendaki kelembaban udara nisbi antara 80-90 persen,

(22)

yang lebih dari 12 jam. Tanaman bawang merah dapat ditanam di dataran rendah

sampai dataran tinggi (0-1000) m di atas permukaan laut dengan curah hujan

300-2500 mm/tahun. Tanaman bawang merah menghendaki temperature udara antara

250C-320C. Suhu rata-rata pertahun yang dikehendaki oleh tanaman bawang merah

adalah sekitar 300C (BP4K, 2011).

Bawang merah tumbuh baik pada tanah subur, gembur dan banyak

mengandung bahan organik dengan jenis tanah lempung berpasir atau lempung

berdebu. Derajat kemasaman tanah (pH) tanah untuk bawang merah antara 5,5-6,5.

Draenasi dan aerasi dalam tanah berjalan baik, tidak boleh ada genangan

(Rukmana, 1994).

2. Klasifikasi penyakit layu fusarium (F. oxysporum)

Menurut Pelczar et al., (1983) dan Volk & Wheeler (1984) penyakit layu

fusarium (F. oxysporum) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Mycota

Divisio : Eumycota

Subdivisio : Deuteromycotina

Kelas : Deuteromycetes

Ordo : Moniliales

Family : Dematiaceae

Genus : Fusarium

(23)

Ciri-ciri dari cendawan ini adalah konidia hialin terdiri dari dua jenis yaitu

makrokonidia dan mikrokonidia. Makrokonidia berbentuk sabit, umumnya bersekat

tiga, berukuran 30 – 40 x 4,5 – 5,5 µm (Gambar 1), mikrokonidia bersel-1, berbentuk

bulat telur atau lonjong, terbentuk secara tunggal atau berangkai-rangkai, membentuk

massa yang berwarna putih atau merah jambu. Koloni tumbuh cepat dalam waktu 4

hari setelah mencapai diameter 7,5-9 cm. Miselia seperti kapas, dan semula berwarna

agak putih (Indrawati, 1999).

Sporangia berwarna jingga hingga coklat kemerahan dan dibentuk di bagian

tengah dari koloni yang sudah tua. Konidiofor dapat bercabang dan tidak akan

membentuk monofialid. Mikrokonidia dan makrokonidia membengkok di bagian

dorsal sehingga tampak seperti sekat. Memiliki sel halus dan sel apical yang

membengkok jelas (Indrawati, 1999).

Gambar 1: Makrokonidia F. oxysporum (a. Sekat, b. Konidiofor)

Sumber : foto langsung

(24)

Gejala serangan

Bagian tanaman yang diserang adalah bagian dasar umbi lapis, sehingga

pertumbuhan akar dan umbi terganggu. Daun bawang menguning dan terpelintir layu,

tanaman mudah tercabut bahkan membusuk akibat serangan Fusarium pada dasar

umbi sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan akar. Umbi yang terserang akan

menampakkan dasar umbi yang putih karena massa cendawan dan umbi membusuk

dimulai dari dasar umbi. Pada dasar umbi terlihat cendawan berwarna

keputih-putihan, serangan lanjut tanaman akan mati yang dimulai dari ujung daun kemudian

menjalar ke bagian bawah (BP4K, 2011) (Gambar 2).

Gambar 2: Gejala serangan layu fusarium Sumber : foto langsung

Siklus hidup

Jamur mampu bertahan hidup lama di dalam tanah dan bersifat tular tanah.

Selain itu jamur juga ditularkan oleh pengairan dan tanah terkontaminasi. Infeksi

pada umbi dapat juga disebabkan patogen yang terbawa bibit dan tersebar di lapangan

(25)

Fusarium oxysporum dapat bertahan hidup dengan membentuk spora jamur.

Klamidospora membentuk masa dormansi pada tanaman inang. Tallus dapat

menghasilkan konidia dalam 6-8 jam, dan klamidospora dalam 2-3 hari jika kondisi

memungkinkan (Groenewald, 2006).

Pengendalian :

- Penanaman sebaiknya dilakukan bukan pada bekas lahan yang terserang layu

fusarium. Apabila pertanaman dilakukan pada lahan yang pernah terserang

sebaiknya dilakukan rotasi dengan tanaman lain yang bukan tanaman

inangnya.

- Tanaman yang terserang layu fusarium dicabut lalu dimusnahkan.

- Menggunakan bibit yang bebas penyakit.

- Drainase sebaik mungkin.

- Memberi perlakuan bibit sebelum ditanam dengan 100 gr fungisida per 100

kg umbi bibit.

- Menjaga tanaman / umbi jangan sampai terluka akibat perlakuan sewaktu

pemeliharaan maupun panen (BP4K, 2011).

3. Biologi Jamur Antagonis

a. Klasifikasi Jamur Trichoderma sp.

Menurut Pelczar et al., (1983) klasifikasikan Trichoderma sp adalah sebagai

berikut ;

Divisio : Eumycota

(26)

Kelas : Hyphomycetes

Ordo : Hyphomycetales

Famili : Moniliaceae

Genus : Trichoderma

Spesies : Trichoderma sp.

Cendawan ini berwarna hijau seperti lumut tetapi lebih cerah. Penampilan

warna ini disebabkan oleh pewarnaan fialospora, jumlah spora dan adanya

perpanjangan hifa steril. Menghasilkan sejumlah besar enzim ekstaraseluler β

(1,3)-glukanase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen

(Howell, 2003).

Trichoderma sp. memproduksi konidia aseksual berbentuk globus dengan

konidia tersusun seperti buah anggur. Konidium berbentuk jorong, bersel 1, dalam

kelompok-kelompok kecil yang terminal dan berwarna hijau kebiruan

(Harman, 2006) (Gambar 3).

Gambar 3: Konidia Trichoderma sp. (a. konidiofor, b. konidia)

Sumber : Foto langsung

Beberapa anggota dari genus Trichoderma menghasilkan toksin trichodermin.

Toksin ini dihasilkan oleh cendawan bila hidup pada tanaman hidup Adanya aktifitas a 

(27)

metabolik hifa yang tinggi pada bahan organik dapat pula menyerang dan

menghancurkan propagul patogen yang ada disekitarnya (Harman, 2006).

b. Klasifikasi jamur Gliocladium sp.

Menurut Alexopaulus (1982) klasifikasi Gliocladium sp. adalah sebagai

berikut :

Divisio : Eumycota

Sub Divisio :Deuteromycota

Kelas : Hyphomycetes

Ordo : Hyphomycetales

Famili : Moniliaceae

Genus : Gliocladium

Spesies : Gliocladium sp.

Gliocladium sp. mempunyai konidiofor tegak, bersepta bening dan tidak

berwarna, pada cabang terakhir menghasilkan fialid dan kadang-kadang berbentuk

botol. Fitur yang paling karakteristik dari genus ini adalah konidiofor tegak, hialin

bersel satu dan konidia berdinding halus di kepala (Schlegel, 1994) (Gambar 4).

 

Gambar 4: konidia Gliocladium sp. (a. Konidiofor, b. konidia)

(28)

Sumber : Foto Langsung

Gliocladium sp. digambarkan sebagai tiruan Penicellium dengan konidia

berlendir. Koloni yang cepat tumbuh, memiliki tekstur berwarna putih pada awalnya,

kadang-kadang merah muda seperti salmon, kemudian menjadi pucat sampai hijau

tua dengan sporulasi. Spesies Gliocladium sp. juga dapat menghasilkan konidiofor

percabangan verticillate dan penicillate sehingga sulit dibedakan dengan Verticillium

atau Trichoderma (Howell, 2003).

Cendawan mengeluarkan gliovirin dan viridian yang merupakan antibiotic

yang bersifat fungistatik. Senyawa tersebut mampu menghambat pertumbuhan

cendawan lain. Patogen/penyakit yang dikendalikan adalah penyakit layu tanaman

(Fusarium spp), Rhizoctiona solani, Phytium spp dan Sclerotina sclerotiorum.

Gliocladium sp. memarasit inangnya dengan cara menutupi atau membungkus

patogen, memproduksi enzim-enzim dan menghancurkan dinding sel patogen hingga

patogen mati. Gliocladium sp. dapat hidup sebagai saprofit maupun parasit pada

cendawan lain, dapat berkompetisi dengan makanan, dapat menghasilkan zat

(29)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan di Rumah Kassa Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan laut.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2012.

Bahan dan alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit bawang merah

varietas Bima, biakan F. oxysporum, Trichoderma sp, Gliocladium sp, pupuk

kandang, alkohol, spirtus, aquades, PDA.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, spatula, cawan

petri, erlenmeyer, autoclave, bunsen, laminar air flow, meteran dan alat tulis.

Metode penelitian

Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial yang

terdiri dari :

A0 = Kontrol (tanaman sehat)

A1 = 10 gr F. oxysporum

A2 = 12 gr Trichoderma sp.

A3 = 18 gr Trichoderma sp.

A4 = 24 gr Trichoderma sp.

A5 = 12 gr Gliocladium sp.

A6 = 18 gr Gliocladium sp.

(30)

Biakan F. oxysporum dalam media beras sedangkan biakan Trichoderma

sp. dan Gliocladium sp dalam media jagung.

Banyaknya ulangan yang dilakukan adalah :

(t-1) (r-1) ≥ 15

(8-1) (r-1) ≥ 15

7r ≥ 21

r ≥ 3

Model linier dari rancangan yang digunakan adalah:

Yij = µ + πi + βj + ∑ij

Keterangan :

Yij = Nilai pengamatan pada satuan percobaan yang memperoleh perlakuan

taraf ke-i dari faktor I dan taraf ke-j pada faktor II

µ = Nilai umum tengah

σi = Pengaruh taraf ke-I dari faktor I

βj = Pengaruh taraf ke-j dari faktor II

εij = Pengaruh galat kedua pada satuan percobaan yang memperoleh perlakuan

taraf ke-I dari faktor I, taraf ke-j dari faktor II.

(Sudjana, 2005)

Jumlah ulangan : 3 ulangan

Jumlah tanaman/plot : 5 tanaman

Jumlah tanaman seluruhnya : 120 tanaman

Jumlah sampel/plot : 4 tanaman

(31)

Pelaksanaan penelitian Pembuatan media PDA

Kentang dikupas dan dicuci bersih lalu ditimbang 250 gr, dipotong dadu

berukuran 1-2 cm, kemudian kentang dimasak dengan aquades 500 ml pada panci

selama 30 menit, lalu disaring ekstraknya dengan kain muslin sampai volume 500 ml

(larutan A). Masukkan dextrose sebanyak 20 gr dan agar-agar sebanyak 20 gr ke

dalam beaker glass, tambahkan aquades sebanyak 500 ml, aduk sampai merata

(larutan B). Masukkan larutan A dan larutan B, aduk hingga homogen dan didihkan

di atas panci selama 30 menit. Masukkan ke dalam Erlenmeyer masing-masing 200

ml. Selanjutnya erlenmeyer ditutup dengan kapas dan aluminium foil lalu dibalut

dengan cling wrap. Selanjutnya masukkan ke dalam autoclave untuk disterilkan

selama 30 menit dengan suhu 120 – 1210C pada tekanan 1,5 atm.

Isolasi dan penyediaan jamur Fusarium oxysporum

Jamur diisolasi dari tanaman bawang merah yang terserang penyakit layu

(F. oxysporum). Gejala serangan biasanya muncul pada pangkal batang tanaman yang

terserang. Diambil tanaman yang bergejala layu dan dicuci bersih. Setelah itu

dipotong bagian yang sakit dengan mengikut sertakan bagian yang sehat, berbentuk

persegi dengan ukuran 1-2 cm. Selanjutnya potongan tanaman tersebut disterilisasi

dengan Natrium hipoklorit1,5%, dibilas dengan air steril sebanyak 3 kali. Setelah itu

potongan tanaman ditanam pada PDA kemudian diinkubasi pada suhu ruang.

(32)

Identifikasi jamur

Jamur yang tumbuh pada biakan murni diambil kemudian diamati di bawah

mikroskop untuk diidentifikasi dengan menggunakan buku Mikologi dasar dan

terapan (Indarawati et al., 2006) dan buku Pengenalan Kapang Tropik (Indrawati,

1996).

Penyediaan jamur Trichoderma sp dan Gliocladium sp

Isolat jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. berasal dari tanah di sekitar

perakaran tanaman bawang merah yang sehat. Diambil tanah bersih dari kotoran dan

akar sebanyak 0,5gr ditaburkan pada PDA, kemudian diinkubasi pada suhu ruang.

Miselium yang tumbuh, dibuat biakan murni. Jamur Trichoderma sp dan Gliocladium

sp diperbanyak dalam media jagung. Jagung direndam dengan air panas sekitar 1 jam,

kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan ditimbang sesuai dengan perlakuan.

Kantong plastik yang telah berisi jagung disterilkan dalam autoclave dengan tekanan

1,5 atm pada suhu 1210C selama 30 menit. Media yang telah didinginkan

diinokulasikan dengan biakan murni Trichoderma sp dan Gliocladium sp, kemudian

dibiarkan dalam kotak inkubasi. Setelah 4-5 hari siap diaplikasikan.

Persiapan Rumah Kassa

Rumah kassa dibersihkan dari sisa penelitian sebelumnya. Polibeg yang telah

(33)

Penanaman benih

Penanaman bawang merah dilakukan dengan cara memasukkan umbi bibit ke

lubang tanam yang telah ditentukan. Sebelum ditanam, umbi atau bibit dipotong

seperempat bagian. Hal ini dilakukan untuk menyeragamkan pertumbuhan bawang

merah. Bibit yang telah dipotong kemudian didisinfektan dengan menggunakan

Natrium hipoklorit 1,5 %. Bibit direndam selama ±5menit kemudian dibilas dengan

air steril sebanyak 3 kali. Bibit yang telah steril dimasukkan ke dalam kotak tray

untuk di semai. Setelah tunas tumbuh bibit ditanam dengan cara membenamkan

setengah bagian umbi ke dalam tanah secara merata.

Aplikasi jamur Fusarium oxysporum ke tanaman

Inokulum F. oxysporum diperbanyak secara massal pada media beras. Beras

direndam dengan air sekitar 1 jam, kemudian ditimbang sebanyak 10gr dan

dimasukkan ke dalam plastik. Kantong plastik yang telah berisi beras disterilkan

dalam autoclave dengan tekanan 1,5 atm pada suhu 1210C selama 30 menit. Media

yang telah didinginkan diinokulasikan dengan biakan murni F. oxysporum, dan

diinkubasi selama 7-10 hari dan siap untuk di aplikasikan. Sebelum aplikasi, terlebih

dahulu dihitung kerapatan konidia per gram beras dengan menggunakan alat

haemocytometer. Setelah kerapatan mencapai 106 per gram beras dan miselium

tumbuh merata pada seluruh bagian beras, kemudian inokulum diinventarisasikan di

sekitar perakaran.

Aplikasi dilakukan seminggu setelah penanaman bibit. Aplikasi jamur

(34)

merata di sekitar perakaran, inokulum yang telah ditabur kemudian ditutup dengan

tanah.

Aplikasi jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. ke tanaman

Aplikasi jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dilakukan dengan cara

menabur inokulum secara merata di sekitar perakaran, inokulum yang telah ditabur

kemudian ditutup dengan tanah. Aplikasi dilakukan seminggu setelah penanaman

bibit bawang merah.

Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan meliputi penyiraman, penyiangan, dan penggemburan

tanah. Penyiraman dilakukan sejak penanaman setiap hari, pagi atau sore hari.

Penyiangan dapat dilakukan sedini mungkin karena akar bawang merah yang

muda sukar untuk bersaing dengan rumput atau tumbuhan liar. Penyiangan dilakukan

dua kali yaitu 3 minggu setelah tanam (mst) dan 6 mst. Namun jika pertumbuhan

gulma cukup banyak, penyiangan dapat dilakukan lebih sering.

Bersamaan dengan penyiangan juga dilakukan penggemburan tanah, untuk

memperlancar sirkulasi udara dalam tanah. Untuk menyiangi gulma yang berada

didekat tanaman dicabut dengan tangan agar tidak mengganggu atau merusak akar

tanaman bawang.

Panen

Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur 60-80 hari setelah tanam

(35)

menguning, warna kulit mengkilap, pangkal batang mengeras, sebagian umbi telah

tersembul di atas permukaan tanah, lapisan umbi telah penuh berisi dan berwarna

merah.

Peubah amatan Periode Inkubasi

Pengamatan periode inkubasi dilakukan setiap hari setelah aplikasi

F. oxysporum dengan cara mengamati gejala serangan F. oxysporum yang muncul

pada setiap perlakuan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui periode awal

munculnya gejala serangan penyakit pada tanaman.

Keparahan Penyakit

Pengamatan keparahan penyakit F. oxysporum dilakukan 4 kali yaitu pada 15,

30, 45, dan 60 hari setelah inokulasi (hsi). Tanaman dibongkar dan umbi dicuci bersih

dengan air mengalir. Kemudian umbi dipotong secara melintang untuk menghitung

keparahan penyakit layu fusarium dengan menggunakan rumus :

KP = 100%

) (

) (

x NxZ

nxv

Dimana :

KP= Keparahan Penyakit

n = Jumlah tanaman pada setiap scoring

v = Nilai skala serangan penyakit tiap individu tanaman

Z = Nilai tertinggi kategori kerusakan

N = Jumlah tanaman yang diamati

(36)

Skala serangan yang digunakan adalah :

Skala 0 = tidak ada gejala

Skala 1 = < 10% akar busuk

Skala 2 = 10-30% akar busuk, < 10% daun bergejala layu

Skala 3 = 30-50% akar busuk, > 30% daun layu

Skala 4 = > 50% akar busuk, > 30% daun layu

(Rengwalska & Simon yang dimodifikasi, 1986).

Pengamatan keparahan penyakit dilakukan sesuai dengan besarnya kerusakan

pada setiap tanaman, kemudian disesuaikan dengan rumus di atas.

Kejadian Penyakit

Pengamatan terhadap kejadian penyakit dilakukan 15, 30, 45 dan 60 hari

setelah inokulasi (hsi) yaitu dengan melihat gejala serangan secara visual. Kejadian

penyakit dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KjP = x 100%

Keterangan:

KjP = Kejadian Penyakit Fusarium oxysporum

a = Jumlah tanaman yang terserang Fusarium oxysporum

b = Jumlah tanaman sehat

(Abbott, 1925).

Jumlah daun

Pengamatan jumlah daun dilakukan seminggu sekali yaitu dengan menghitung

(37)

Tinggi tanaman

Pengamatan tinggi tanaman dilakukan seminggu sekali dengan menggunakan

penggaris. Tinggi tanaman dihitung dari pangkal batang sampai ujung daun yang

terpanjang.

Populasi Konidia Jamur

Populasi F. oxysporum dihitung setiap kali melakukan pembongkaran

tanaman, dengan menabur tanah sebanyak 0,5 gr dari setiap perlakuan pada media

Water Agar (WA) 2%, kemudian dihitung jumlah koloni yang tumbuh.

Produksi

Penghitungan produksi dilakukan setiap kali melakukan pembongkaran

tanaman yaitu 15, 30, 45, 60 dan 75 hsi dari masing-masing plot perlakuan. Produksi

dihitung dengan menggunakan rumus:

Y =

kg m x

L X

1000 10000

Y = Produksi dalam Ton/ha

X = Produksi dalam Kg/ha

L = Luas plot (m2)

(Sudarsono dan Sujarman, 1981).

Pengujian di laboratorium

Pengujian dilakukan dengan cara menanam biakan murni

Trichoderma sp.,Gliocladium sp. dan F. oxysporum pada cawan petri berdiameter 9

(38)

petri. Koloni jamur diambil dengan cork borer diameter 5 mm dan ditanam pada petri

yang telah diberi tanda. Diamati pertumbuhan jamur pada 24 jam, 48 jam, 72 jam dan

96 jam setelah inokulasi (Syahnen, 2006).

1 cm

Gambar : Uji antagonismeTrichoderma sp. Terhadap F. oxysporum

Keterangan :

X = Jamur Trichoderma sp.

Y= Jamur F. oxysporum

Presentase Zona Hambatan Pertumbuhan

Pengamatan presentase zona penghambatan pertumbuhan dilakukan setiap

hari selama 4 hari. Presentase zona penghambatan pertumbuhan ini dapat dihitung

dengan menggunakan humus :

P = 1 100%

2 1

x r

r r

(Fokkema, 1973)

 

   r2       r1      

(39)

Keterangan :

P = Presentase zona penghambatan pertumbuhan

r1= Jari-jari patogen yang menjauhi antagonis

(40)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Periode Inkubasi F. oxysporum sp. pada Tanaman Bawang Merah

Data pengamatan periode inkubasi menunjukkan bahwa periode inkubasi

tercepat terdapat pada perlakuan A1 (hanya diinokulasi dengan F. oxysporum) yaitu

30 hsi, selanjutnya diikuti dengan A5 (Gliocladium sp. 12 g) yaitu 45 hsi dan A2

(Trichoderma sp. 12 g) yaitu 60 hsi. Sedangkan pada perlakuan A0 (kontrol tanaman

sehat), A3 (Trichoderma sp. 18g), A4 (Trichoderma sp. 24g), A6 (Gliocladium sp.

18g), dan A7 (Gliocladium sp. 24g) tidak menunjukkan gejala sampai akhir

penelitian. Nur & Ismiyati (2007) melaporkan waktu aplikasi Trichoderma sp.

maupun Gliocladium sp. 7 hari sebelum tanam berpengaruh pada pertumbuhan dan

hasil tanaman. Hal ini disebabkan pertumbuhan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

yang telah optimal di dalam tanah sehingga mempersulit pertumbuhan F. oxysporum

yang diaplikasikan 7 hari setelah penanaman bibit, sehingga dapat meningkatkan

perkembangan dan pertumbuhan tanaman bawang merah. Hasil pengamatan periode

inkubasi F. oxysporum selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 : Periode Inkubasi F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Perlakuan Hari Setelah Inokulasi

(41)

Keterangan : Tanda (-) tidak terdapat gejala serangan F. oxysporum pada tanaman bawang merah sampai akhir penelitian

Periode inkubasi baru muncul pada 30 hsi yaitu pada perlakuan A1, 45 hsi

pada perlakuan A5 dan 60 hsi pada perlakuan A2. Hal ini disebabkan pada perlakuan

A1 yang hanya diinokulasi dengan F. oxysporum, sehingga lebih cepat terserang

dibandingkan dengan perlakuan A5 (Gliocladium sp. 12g) dan A2 (Trichoderma sp.

12g), karena pada perlakuan tersebut terdapat agens antagonis yang dapat melindungi

tanaman serta dapat menghambat pertumbuhan F. oxysporum. Baker & Synder

(1970) mengemukakan salah satu jamur yang bersifat antagonis yang banyak

ditemukan di dalam tanah adalah Trichoderma sp. Jamur ini selain bersifat

hiperparasit terhadap beberapa jamur patogen, diketahui pula dapat menghasilkan

antibiotik yang dapat mematikan dan menghambat pertumbuhan jamur patogen.

Sedangkan menurut Roseline (2000) Gliocladium sp. merupakan jamur saprofit yang

dapat berperan sebagai agen antagonis yang efektif untuk mengendalikan patogen

tanaman, terutama patogen tanah.

2. Keparahan penyakit F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Data keparahan penyakit F. oxysporum berdasarkan analisis sidik ragam pada

tanaman bawang merah dari 15-60 Hst dapat di lihat pada Tabel 2 berikut :

Tabel 2. Keparahan penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Perlakuan 15 hsi 30 his 45 hsi 60 hsi

A0 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A1 0.00(0.71) 2.08(1.34) 6.25 A(2.60) 6.25 A(2.60)

A2 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 2.08 B(1.34)

A3 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A4 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A5 0.00(0.71) 0.00(0.71) 2.08 B(1.34) 2.08 B(1.34)

A6 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

(42)

Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 1% menurut Uji Jarak Duncan. (Angka di dalam kurung adalah hasil Transformasi Data Arc Sin).

Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa keparahan penyakit baru terlihat pada 30

hsi yaitu pada perlakuan A1 (hanya diinokulasi dengan F. oxysporum) yaitu sebesar

2,08% kemudian meningkat pada 45 hsi sebesar 6,25% tetapi tidak ada peningkatan

keparahan penyakit pada 60 hsi. Pada perlakuan A5 (Gliocladium sp. 12 g) terlihat

pada 45 hsi yaitu sebesar 2,08% dilanjutkan dengan perlakuan A2 (Trichoderma sp.

12 g) pada 60 hsi sebesar 2,08%. Keparahan penyakit F. oxysporum pada ketiga

perlakuan di atas ketika dilakukan pembongkaran terdapat pada skala 1. Sedangkan

pada perlakuan A0, A3, A4, A6 dan A7 tidak terdapat gejala.

Tingginya keparahan penyakit F. oxysporum pada perlakuan A1 disebabkan

pada perlakuan ini tidak disertakan jamur antagonis yang dapat menghambat

pertumbuhan dan perkembangan patogen. Sehingga kemungkinan terserang penyakit

lebih besar dibanding dengan perlakuan yang menggunakan jamur Trichoderma sp.

dan Gliocladium sp. Well (1988) mengemukakan Trichoderma sp. merupakan

antagonis yang potensial. Menurut Winarsih (2007) bahwa Gliocladium sp. dapat

mengeluarkan antibiotik gliotoksin, glioviridin, dan viridin yang bersifat fungistatik.

Gliotoksin dapat menghambat cendawan dan bakteri, sedangkan viridin dapat

menghambat cendawan.

Penggunaan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. sebanyak 12 gram

pertanaman belum dapat menekan pertumbuhan penyakit F. oxysporum. Dibutuhkan

(43)

F. oxysporum agar mendapatkan produksi yang lebih besar. Pinem dan Wileswati

(2005) melaporkan semakin tinggi dosis Trichoderma koningii dan Gliocladium

virens yang diberikan maka semakin rendah intensitas serangan F. oxysporum karena

semakin banyak kerapatan konidia dari setiap media. Pemberian antagonis seminggu

sebelum penanaman bibit juga dapat membantu menghambat pertumbuhan dan

perkembangan F. oxysporum.

3. Kejadian penyakit F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Data analisa sidik ragam kejadian penyakit F. oxysporum pada tanaman

bawang merah dapat dilihat pada Tabel 3. Berikut ini :

Tabel 3: Kejadian Penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Perlakuan 15 hsi 30 his 45 hsi 60 hsi

A0 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A1 0.00(0.71) 8.33(2.15) 25.00 A(5.01) 25.00 A(5.01)

A2 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 8.33 B(2.15)

A3 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A4 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A5 0.00(0.71) 0.00(0.71) 8.33 B(2.15) 8.33 B(2.15)

A6 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

A7 0.00(0.71) 0.00(0.71) 0.00 C(0.71) 0.00 C(0.71)

Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 1% menurut Uji Jarak Duncan. (Angka di dalam kurung adalah hasil Transformasi Data Arc Sin).

Dari analisa sidik ragam (Tabel 3) dapat dilihat pada 15 hsi belum ditemukan

gejala layu Fusarium pada semua perlakuan. Gejala F. oxysporum baru terlihat pada

30 hsi yaitu pada perlakuan A1 (kontrol hanya diinokulasi dengan F. oxysporum),

dilanjutkan pada perlakuan A5 (Gliocladium sp. 12 g) pada 45 hsi dan A2

(44)

sehat), A3 (Trichoderma sp. 18 g), A4 (Trichoderma sp. 24 g), A6 (Gliocladium sp.

18 g) dan A7 (Gliocladium sp. 24 g) tidak ditemukan gejala hingga akhir penelitian.

Pada Kejadian Penyakit pada perlakuan A1 pada 30 hsi sebesar 8,33%. Kejadian

Penyakit meningkat menjadi 25% pada 45 hsi dan 60 hsi. Hal ini terjadi karena A1

tidak diberikan agens antagonis yang dapat melindungi tanaman dari serangan

patogen F. oxysporum serta menghambat pertumbuhan dan perkembangan F.

oxysporum. Menurut Cook & Baker (1983) salah satu syarat suatu organisme dapat

dikatakan sebagai agen hayati adalah mempunyai kemampuan antagonisme yaitu

kemampuan menghambat perkembangan atau pertumbuhan organisme lainnya.

Dari Tabel 3 dapat dilihat pemberian Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

masing-masing sebanyak 12 gr/polibeg (A2 dan A5) masih terdapat tanaman bawang

merah yang menunjukkan gejala layu. Pada perlakuan pemberian 12 g Trichoderma

sp. (A2) gejala layu baru terlihat pada 60 hsi yaitu sebesar 8,33%. Sedangkan

pemberian Gliocladium sp. (A5) gejala layu sudah terlihat pada 45 hsi yaitu sebesar

8,33%. Kejadian penyakit tidak meningkat hingga 60 hsi. Sebaliknya pemberian 18

dan 24 g Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. tidak menyebabkan gejala layu hingga

akhir penelitian. Hasil ini menunjukkan perbedaan dosis jamur antagonis yang

diberikan ke tanaman dapat mempengaruhi kejadian penyakit F. oxysporum. Menurut

Purwantisari & Hastuti (2009) Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. merupakan

jamur antagonis yang sangat penting untuk pengendalian hayati. Selain memiliki

mekanisme pengendalian yang spesifik target jamur juga dapat mengkoloni rizosfer

(45)

4. Jumlah daun

Data jumlah daun tanaman bawang merah berdasarkan analisis sidik ragam

berbeda nyata pada setiap perlakuan. Pengamatan 1 (mst) sampai 8 mst dapat di lihat

pada Tabel 4 berikut :

Tabel 4. Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah pada Berbagai Perlakuan

Perlakuan Waktu Pengamatan Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 1% menurut Uji Jarak Duncan. (Angka di dalam kurung adalah hasil Transformasi Data Arc Sin).

Dari Tabel 4 dapat dilihat pemberian agens antagonis dengan berbagai dosis

dapat meningkatkan dan menambah jumlah daun pada tanaman bawang merah.

Pemberian Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. masing-masing sebanyak 12 g dapat

meningkatkan jumlah daun sebesar 27,33 (A2) dan 27,00 (A5) pada 8 mst

(46)

24,33 pada 8 mst. Jumlah daun bawang merah yang diberikan Trichoderma sp. dan

Gliocladium sp berbeda sangat nyata dengan jumlah daun tanaman bawang merah

yang hanya diinokulasi dengan F. oxysporum (A1) yaitu sebesar 35,33 dan 31,00.

Dari Tabel 4 juga terlihat jumlah daun yang paling sedikit terdapat pada

perlakuan A1 pada pengamatan 8 mst sebesar 23,67, tidak berbeda nyata dengan

perlakuan A0 (tanaman sehat) sebesar 24,33. Jumlah daun terbanyak berturut-turut

terdapat pada perlakuan A3 (29,00), A7 (31,00) dan A4 sebesar 35,33. Hal ini

disebabkan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dapat mengurai bahan organik di

dalam tanah menjadi nutrisi serta mudah diserap bagi tanaman sehingga dapat

meningkatkan kesuburan tanaman seperti pada perlakuan A3, A4, A6 dan A7. Cook

& Baker (1983) mengemukakan bahan organik yang yang diaplikasikan ke dalam

tanah dapat menjadi sumber nutrisi mikroorganisme antagonis dan meningkatkan

aktivitas gen antagonis.

Pemberian Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dengan dosis yang berbeda

dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan jumlah daun bawang merah karena

selain dapat digunakan sebagai agens hayati, Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

dapat juga digunakan sebagai pupuk hayati yang dapat menambah kesuburan tanah.

Anggraeni (2004) mengemukakan Trichoderma sp. juga diketahui dapat

meningkatkan pertumbuhan tanaman yang menghasilkan peningkatan

(47)

5. Tinggi Tanaman

Data tinggi tanaman bawang merah berdasarkan analisis sidik ragam berbeda

nyata pada setiap perlakuan dari pengamatan 1 mst sampai 8 mst. Hasil selengkapnya

dapat di lihat pada Tabel 5 berikut :

Tabel 5. Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah pada Berbagai Perlakuan Perlakua Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang

sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 1% menurut Uji Jarak Duncan. (Angka di dalam kurung adalah hasil Transformasi Data Arc Sin).

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pemberian Trichoderma sp. dan Gliocladium

sp. masing-masing sebanyak 12 gr dapat meningkatkan tinggi tanaman bawang

merah sebesar 37,67 (A2) dan 38,33 (A5) pada 8 mst sedangkan tanaman yang tidak

diberi agens antagonis tinggi tanaman hanya mencapai 37,00 pada 8 mst tidak

berbeda sangat nyata dengan perlakuan A1 yang hanya diinokulasi dengan F.

(48)

Trichoderma sp. sebanyak 24 g (A4) yaitu sebesar 40,00 berbeda sangat nyata dengan

pemberian Gliocladium sp. sebanyak 24 g (A7) yaitu sebesar 41,67, hal ini

dikarenakan adanya perbedaan antibiotik yang dikeluarkan oleh kedua agens

antagonis.

Hasil pengamatan menunjukkan jumlah daun tertinggi terdapat pada

perlakuan A7 sebesar 41,67 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan A1 sebesar

36,67. Selain menjadi agen antagonis Gliocladium sp. dan Trichoderma sp. juga

memiliki kemampuan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan cara

melindungi akar dari serangan patogen dengan mengkoloni rizosfer di dalam tanah.

Purwantisari & Hastuti (2009) mengemukakan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

mempunyai mekanisme pengendalian yang spesifik target sehingga dapat mengoloni

rizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur patogen,

mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman.

6. Jumlah koloni jamur F. oxysporum

Hasil pengamatan jumlah koloni jamur F. oxysporum yang tumbuh pada

media WA 2% pada pengamatan 60 hsi menunjukkan jumlah koloni tertinggi terdapat

pada perlakuan A1 sebesar 80,67 berbeda sangat nyata dengan perlakuan yang

menggunakan agens antagonis (perlakuan A2, A3, A4, A5, A6 dan A7). Hal ini

disebabkan pada perlakuan A1 F. oxysporum dapat tumbuh dengan cepat karena tidak

ada agens antagonis yang menghambat pertumbuhan koloni, seperti pada perlakuan

(49)

Data analisa sidik ragam jumlah koloni jamur F. oxysporum yang tumbuh

pada tanaman bawang merah dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini :

Tabel 6: Jumlah Koloni Jamur F. oxysporum pada PDA

Perlakuan Waktu Pengamatan

15 hsi 30 his 45 his 60 his

A0 0.00E(0.71) 0.00F(0.71) 0.00F(0.71) 0.00E(0.71)

A1 65.67A(8.02) 71.00A(8.38) 79.67A(8.90) 80.67A(8.86)

A2 50.67B(7.14) 38.33C(6.23) 35.00C(5.95) 31.67B(5.66)

A3 39.67C(6.30) 32.00D(5.66) 30.67D(5.55) 27.33C(5.23)

A4 30.69D(5.54) 27.33E(5.24) 24.67E(5.00) 21.33D(4.66)

A5 50.67B(7.05) 42.67B(6.44) 38.00B(6.12) 32.00B(5.62)

A6 39.00C(6.17) 33.33D(5.69) 31.33D(5.54) 28.33C(5.26)

A7 32.33D(5.70) 29.00E(5.40) 25.67E(5.07) 22.00D(4.69)

Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 1% menurut Uji Jarak Duncan. (Angka di dalam kurung adalah hasil Transformasi Data Arc Sin).

Data jumlah koloni jamur F. oxysporum terlihat pada perlakuan A1 (80,67)

berbeda sangat nyata dengan perlakuan A4 (21,33) dan A7 (22,00), demikian juga

dengan A3 (27,33) dan A6 (28,33). Hal ini disebabkan adanya sinergi antara kedua

agens antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. terhadap tanaman sehingga

menghambat perkembangan patogen F. oxysporum. Menurut Shoresh & Harman

(2008) mekanisme perlindungan tanaman oleh Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.

tidak hanya menyerang patogen pengganggu tetapi dapat meningkatkan produksi

beberapa metabolit sekunder (meningkatkan pertumbuhan tanaman dan akar) dan

memacu mekanisme pertahanan tanaman itu sendiri.

Dari Tabel 6 dapat dilihat pada perlakuan A1 menghasilkan jumlah koloni

terbanyak, hal ini dikarenakan pada perlakuan A1 tidak terdapat agens antagonis

(50)

mempertahankan diri dari serangan F. oxysporum. Shoresh et al. (2010) melaporkan

bahwa fungi biokontrol mempunyai kemampuan untuk memicu tanaman

memproduksi berbagai senyawa untuk membantu tanaman dari gangguan patogen

dan dapat mengatasi berbagai stress lingkungan. Selain itu menurut Howell (2003)

Trichoderma sp. dapat menghasilkan sejumlah besar enzim ekstraseluler β

(1-3)-glukanase dan kitinase. Menurut Schlegel (1994) Gliocladium sp. dapat

mengeluarkan gliovirin dan viridin sebagai antibiotik yang bersifat fungistatik.

7. Produksi

Data analisa sidik ragam produksi tanaman bawang merah dapat dilihat pada

Tabel 7 berikut ini :

Tabel 7: Produksi Bawang Merah

Perlakuan Waktu Pengamatan

15 hst 30 hst 45 hst 60 hst 75 hst

A0 1.20A(1.30) 1.48A(1.41) 1.71B(1.49) 1.93B(1.56) 2.09C(1.61)

A1 0.90B(1.18) 1.18D(1.30) 1.40D(1.38) 1.54D(1.45) 1.92E(1.56)

A2 0.93B(1.20) 1.25C(1.32) 1.63B(1.46) 1.93B(1.56) 2.09C(1.61)

A3 0.93B(1.20) 1.35B(1.36) 1.67B(1.47) 1.97B(1.57) 2.19B(1.64)

A4 1.23A(1.32) 1.55A(1.43) 1.87A(1.54) 2.08A(1.61) 2.34A(1.68)

A5 0.91B(1.18) 1.25C(1.32) 1.52C(1.42) 1.68C(1.48) 2.01D(1.58)

A6 0.94B(1.20) 1.33C(1.35) 1.61B(1.45) 1.80B(1.56) 2.12B(1.62)

A7 1.12A(1.27) 1.43B(1.39) 1.73B(1.49) 2.03B(1.58) 2.18B(1.64)

Keterangan : Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 1% menurut Uji Jarak Duncan. (Angka di dalam kurung adalah hasil Transformasi Data Arc Sin).

Data pengamatan analisa sidik ragam produksi bawang merah menunjukkan

bahwa hasil tertinggi terdapat pada perlakuan A4 sebesar 2,34 kg/ha dan yang

terendah pada perlakuan A1 sebesar 1,92 kg/ha. Penggunaan Trichoderma sp. dan

(51)

dikemukakan Herlina & Dewi (2010) salah satu mikroorganisme fungsional yang

dikenal sebagai pupuk biologis adalah jamur Trichoderma sp.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan produksi

tanaman bawang merah dengan menggunakan Trichoderma sp. dan Gliocladium

sp. selain dapat digunakan sebagai agens antagonis yang dapat menekan pertumbuhan

penyakit F. oxysporum. Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. juga dapat

meningkatkan produksi yang dihasilkan tanaman. Anggraeni (2004) mengemukakan

bahawa pengaruh Trichoderma sp. terhadap ketahanan tanaman dapat menghasilkan

elisator yang dapat menginduksi ketahanan tanaman. Trichoderma sp. juga diketahui

dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman yang menghasilkan peningkatan

perkecambahan, peningkatan pembungaan dan peningkatan berat tanaman pada

(52)

Uji Antagonisme Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. secara in-vitro

Uji Antagonisme Trichoderma sp. terhadap F. oxysporum 1 Hari setelah inokulasi

Trichoderma sp.

F. oxysporum

2 Hari setelah inokulasi

Trichoderma sp.

Zona hambatan

F. oxysporum

3 Hari setelah inokulasi

Trichoderma sp.

Zona hambatan

F. oxysporum

4 Hari setelah inokulasi

Trichoderma sp.

F. oxysporum

(53)

Uji Antagonisme Gliocladium sp. terhadap F. oxysporum 

1 Hari setelah inokulasi

Gliocladium sp.

F. oxysporum

2 Hari setelah inokulasi

Gliocladium sp.

Zona hambatan

F. oxysporum

3 hari setelah inokulasi

Gliocladium sp.

Zona hambatan

F. oxysporum

4 Hari setelah inokulasi

Gliocladium sp.

Zona hambatan

F. oxysporum

Figur

Gambar 1: Makrokonidia F. oxysporum (a. Sekat, b.  Konidiofor) Sumber : foto langsung

Gambar 1:

Makrokonidia F. oxysporum (a. Sekat, b. Konidiofor) Sumber : foto langsung p.23
Gambar 2: Gejala serangan layu fusarium Sumber : foto langsung

Gambar 2:

Gejala serangan layu fusarium Sumber : foto langsung p.24
Gambar 3: Konidia  Trichoderma sp. (a. konidiofor, b. konidia) Sumber : Foto langsung

Gambar 3:

Konidia Trichoderma sp. (a. konidiofor, b. konidia) Sumber : Foto langsung p.26
Gambar 4: konidia  Gliocladium sp. (a. Konidiofor, b. konidia)

Gambar 4:

konidia Gliocladium sp. (a. Konidiofor, b. konidia) p.27
Gambar : Uji antagonismeTrichoderma sp. Terhadap F. oxysporum

Gambar :

Uji antagonismeTrichoderma sp. Terhadap F. oxysporum p.38
Tabel 1 : Periode Inkubasi F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Tabel 1 :

Periode Inkubasi F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah p.40
Tabel 2. Keparahan penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Tabel 2.

Keparahan penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah p.41
Tabel 3: Kejadian Penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah

Tabel 3:

Kejadian Penyakit (%) F. oxysporum pada Tanaman Bawang Merah p.43
Tabel 4. Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah pada Berbagai Perlakuan

Tabel 4.

Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah pada Berbagai Perlakuan p.45
Tabel 5. Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah pada Berbagai Perlakuan

Tabel 5.

Tinggi (Cm) Tanaman Bawang Merah pada Berbagai Perlakuan p.47
Gambar 5 : Uji Antagonis Trichoderma sp. Terhadap Jamur F. oxysporum

Gambar 5 :

Uji Antagonis Trichoderma sp. Terhadap Jamur F. oxysporum p.52
Gambar 6 : Uji Antagonis Gliocladium sp. Terhadap Jamur F. oxysporum

Gambar 6 :

Uji Antagonis Gliocladium sp. Terhadap Jamur F. oxysporum p.53

Referensi

Memperbarui...