• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DISPARITAS PREVALENSI STUNTING PADA BALITA DI BERBAGAI WILAYAH DI INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP KEBIJAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS DISPARITAS PREVALENSI STUNTING PADA BALITA DI BERBAGAI WILAYAH DI INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP KEBIJAKAN"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Hasil-Hasil PPM IPB 2013 Vol. II : 530–545 ISBN : 978-602-8853-19-4

978-602-8853-21-7

ANALISIS DISPARITAS PREVALENSI

STUNTING

PADA BALITA DI

BERBAGAI WILAYAH DI INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA

TERHADAP KEBIJAKAN

(Disparitiesof Stunting Prevalence of Under Five Years Old Childrenat Various

Regions in Indonesia and Their Implication for Policy)

Drajat Martianto

1)

, Hidayat Syarief

1)

,Yayat Heryatno

1)

, Ikeu Tanziha

1)

,

Indah Yuliana

2)

1)

Dep. Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

2)

Mayor Ilmu Gizi Masyarakat, Sekolah Pasca Sarjana, IPB

ABSTRAK

Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada balita sebesar 36,8% dan terdapat disparitas antar wilayah di Indonesia baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. Studi ini bertujuan menganalisis disparitas prevalensi stunting pada balita di berbagai wilayah di Indonesia serta implikasinya terhadap kebijakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan disparitas prevalensi stunting antara lain imunisasi yang tidak lengkap, Indeks Pembangunan Manusia, ibu tunggal dan kemiskinan. Berdasarkan hasil analisis SEM, variabel laten yang berpengaruh signifikan dengan disparitas prevalensi stunting hanya akses ekonomi masyarakat. Terdapat pengaruh negatif antara akses ekonomi masyarakat dengan disparitas prevalensi stunting, semakin tinggi akses ekonomi masyarakat maka semakin rendah disparitas prevelansi stunting. Kajian ini merekomendasikan agar pemerintah pusat (khususnya Bappenas dan Kementrian Kesehatan) dapat meningkatkan intensitas sosialisasi masalah stunting kepada setiap daerah, mengadakan pelatihan terutama kepada para kepala dinas/pejabat eselon 1 dan 2 di kabupaten/kota, dan mengintegrasikan program penanggulangan kemiskinan dengan program gizi dan kesehatan.

Kata kunci: Disparitas stunting, balita, kemiskinan.

ABSTRACT

Results of Basic Health Research in 2007 showed that the prevalence of stunting in under five years oldchildren was 36.8% and there is a disparity between regions in Indonesia, both the provincial and district/city level

.

This study aims to analyze the determinants of stunting prevalence disparities among underfive years old children in various regions Indonesia. The analysis showed that the factors that cause stunting prevalence disparities are incomplete immunization, Human Development Index, single mothers and poverty. Based on the results of SEM analysis, only economic access are significant to stunting prevalence disparities. There is a negative impact of economic access to disparity prevalence of stunting, the higher the economic access, the lower the stunting prevalence disparities. This study recommends that the central government (particularly the Ministry of Health and the National Development Planning Agency ) can increase the intensity of stunting problems socialization to each area, held the training especially to department head/Echelon 1 and 2 at the district/city, and integrate poverty reduction programs and nutrition programs health.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan Altman pada tahun 1968 menyatakan bahwa rasio ini berpengaruh signifikan negatif yang berarti semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah

Sedangkan semakin rendah tingkat utang perusahaan maka akan semakin rendah kewajiban yang harus dibayarkan kepada pihak kreditur sehingga semakin tinggi kemampuan perusahaan

Penyebab dari stunting adalah berat bayi lahir rendah, ASI yang tidak memadai, makanan tambahan yang tidak sesuai, diare berulang, dan..

Artinya NPL memiliki pengaruh negatif terhadap ROA, maka dalam hal ini semakin tinggi rasio NPL maka semakin rendah profitabilitas (ROA) suatu bank begitu pula

Penelitian yang dilakukan Altman pada tahun 1968 menyatakan bahwa rasio ini berpengaruh signifikan negatif yang berarti semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah

R umah tangga yang memiliki sanitasi sarana pembuangan kotoran manusia yang tidak baik mempunyai pel- uang mengalami kejadian balita stunting 1,43 kali lebih tinggi daripada

Menurut hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa faktor tinggi badan ibu, BBLR dan status ekonomi merupakan faktor resiko yang berhubungan dengan stunting pada balita

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan status gizi kurang pada balita yakni asupan nutrisi yang tidak adekuat, keadaan sosial ekonomi masyarakat yang rendah serta kebutuhan