ANALISIS PRODUKTIVITAS BEBERAPA TIPE PADI
META SIMANGUNSONG
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Produktivitas Beberapa Tipe Padi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2013
ABSTRAK
META SIMANGUNSONG. Analisis Produktivitas Beberapa Tipe Padi. Dibimbing oleh ISKANDAR LUBIS
Penelitian ini berlangsung pada bulan November 2012 – April 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil beberapa tipe padi serta faktor – faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan empat varietas yaitu, Mentik Wangi yang merupakan varietas lokal, IPB 3S yang merupakan Padi Tipe Baru, Inpari 13 yang merupakan varietas unggul baru, dan Hipa 8 yang merupakan tipe hibrida. Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan tiga ulangan digunakan dalam percobaan ini. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Padi Kebun Percobaan Muara, Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Inpari 13 merupakan varietas dengan produktivitas tertinggi, yaitu 6 ton/ha. Varietas ini kemungkinan menggunakan asimilat di batang secara efektif dan juga mampu mengalokasikan bahan kering selama pengisian biji. Selain itu, ketahanan varietas Inpari 13 terhadap hawar daun bakteri yang menyerang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan produktivitasnya tinggi.
Kata kunci: asimilat, bahan kering, pengisian biji
ABSTRACT
META SIMANGUNSONG. Productivity Analysis of Some Types of Rice. Supervised by ISKANDAR LUBIS.
This research was carried out in November 2012 until April 2013. The objective of this research was to study the productivity of some types of rice and some factors that influence it. Four varieties of rice were used. The varieties are Mentik Wangi as a local variety, IPB 3S as a new plant type of rice, Inpari 13 as a new variety of rice and Hipa 8 as a hybrid type. A Randomized Complete Blocked Design with three replications using for this experiment. This research was conducted at Muara Experiment station. The result showed that Inpari 13 had a high productivity, 6 ton ha-1. The variety may use the assimilates in stems and alocate the dry matter during grain filling effectively. In addition, the resistance of Inpari 13 against bacterial leaf blight attack is one of the factors that cause the high productivity.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Agronomi dan Hortikultura
ANALISIS PRODUKTIVITAS BEBERAPA TIPE PADI
META SIMANGUNSONG
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Produktivitas Beberapa Tipe Padi Nama : Meta Simangunsong
NIM : A24090138
Disetujui oleh
Dr. Ir. Iskandar Lubis, MS Pembimbing
Diketahui oleh
Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc.Agr. Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian yang dilakukan ini diberi judul Analisis Produktivitas Beberapa Tipe Padi dan dilaksanakan mulai bulan November 2012 sampai April 2013.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Iskandar Lubis, MS selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama kegiatan penyusunan skripsi ini. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Balai Besar Padi Kebun Percobaan Muara beserta staf yang telah membantu selama penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ir. Megayani Sri Rahayu, MS selaku dosen pembimbing akademik, bapak, mamak, adik-adik, serta seluruh keluarga, Mazmur, AGH 46, diaspora, Asistensi Amos, dan PMK IPB atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Tujuan Penelitian 1
Hipotesis Penelitian 1
TINJAUAN PUSTAKA 2
Botani Padi 2
Varietas Unggul Baru 2
Varietas Padi Tipe Baru 3
Padi Hibrida 3
Faktor yang mempengaruhi daya hasil padi 3
BAHAN DAN METODE 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 5
Kondisi Umum Penelitian 5
SIMPULAN DAN SARAN 13
Simpulan 13
Saran 13
DAFTAR PUSTAKA 14
LAMPIRAN 16
DAFTAR TABEL
1 Nilai rataan tinggi tanaman padi pada 3 MST-8 MST 7 2 Nilai rataan jumlah anakan padi pada 3 MST-8 MST 7 3 Nilai rataan lingkar batang pada 4 MST sampai panen 8 4 Intensitas warna daun padi berdasarkan skala chlorophyll meter
Minolta SPAD pada 4 MST, 6 MST, dan 8 MST serta Luas 3 daun
teratas pada saat berbunga 9
5 Kandungan gula dan pati (gram) dalam batang padi pada waktu
berbunga dan panen 10
6 Nilai rataan komponen hasil padi 11
7 Hasil dan indeks panen padi 13
DAFTAR GAMBAR
1 Hama dan penyakit yang menyerang lahan percobaan, (a) Keong
Mas, (b) Hawar Daun Bakteri, (c) Beluk 6
2 Grafik rata - rata biomassa tajuk padi (gram) mulai 4 MST sampai
panen 9
3 Jumlah anakan produktif dan anakan tidak produktif padi 11
DAFTAR LAMPIRAN
1 Deskripsi Varietas Mentik Wangi 16
2 Deskripsi Varietas IPB 3S 17
3 Deskripsi Inpari 13 19
4 Deskripsi Hipa 8 21
5 Dokumentasi selama penelitian 23
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Beras merupakan bahan pangan sumber karbohidrat yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk Indonesia. Kebutuhan pangan terutama beras yang harus dipenuhi menjadi tantangan yang harus dihadapi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan tekanan terhadap lahan yang cukup besar.
Program peningkatan produksi padi saat ini dititikberatkan pada upaya pelaksanaan intensifikasi, karena pelaksanaan ekstensifikasi kurang memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan lahan dan infrastruktur, disamping banyaknya konversi lahan pertanian. Upaya pemerintah tersebut berhasil dengan tercapainya swasembada beras pada tahun 1984 melalui revolusi hijau.
Pengembangan penggunaan varietas unggul baru merupakan salah satu bentuk peningkatan mutu intensifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Penggunaan varietas unggul sangat berperan dalam peningkatan produksi dan produktivitas padi nasional. Perakitan varietas padi sawah selain bertujuan untuk meningkatkan hasil, juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi agroekosistem, sosial, budaya, dan preferensi masyarakat. Varietas unggul merupakan varietas yang memiliki sifat–sifat unggul seperti hasil yang tinggi, tahan hama penyakit, respon terhadap pemupukan, serta rasa nasi yang enak.
Kultivar–kultivar padi yang dibudidayakan di Indonesia mempunyai produktivitas yang beragam. Menurut Badan Pusat Stastistik (2012), produktivitas padi sawah di Indonesia pada tahun 2012 adalah 5.308 ton ha-1 dengan luas lahan panen padi sawah sebesar 12 281 000 ha. Miah et al. (1996) melaporkan bahwa, kemampuan tanaman dalam mengakumulasi bahan kering sebelum heading pada padi dan translokasi asimilat selama pengisian biji merupakan faktor yang menyebabkan perbedaan hasil pada padi. Mapegau (2006) menyatakan bahwa potensi hasil tanaman jagung ditentukan oleh fotosintat yang tersedia selama fase pengisian biji sehingga distribusi bahan kering selama fase pengisian biji perlu mendapat perhatian untuk mengetahui seberapa jauh bahan kering hasil fotosintesis dapat direalisasikan menjadi hasil akhir melalui pengorbanan organ-organ penyimpanan (tongkol, kelobot, batang, dan daun).
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil beberapa tipe padi.
Hipotesis Penelitian
2
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Padi
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis dari marga Oryza, yang termasuk kedalam suku Poaceae (Gramineae). Chang (1965) menyatakan bahwa Oryza sativa dan Oryza glabberina berasal dari leluhur yang sama, yaitu Oryza parennis Moench, dengan Gondwanaland sebagai habitat asal. Saat ini tanaman padi berdasarkan ekogeografinya diklasifikasikan dalam tiga jenis, yaitu indica, japonica, dan javanica (tropical japonica). Tipe indica cocok ditanam pada daerah kontinental seperti di daerah Cina Selatan, Taiwan, India, dan Ceylon (Sri Lanka). Tipe japonica cocok ditanam pada daerah beriklim sedang dan tipe javanica cocok ditanam di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia.
Pertumbuhan padi dibagi ke dalam tiga fase, yaitu fase vegetatif (awal pertumbuhan sampai pembentukan bakal malai/primoridia), reproduktif (primordia sampai pembungaan), dan pematangan (pembungaan sampai gabah matang) (De Datta 1981). Perbedaan masa pertumbuhan pada padi hanya ditentukan oleh masa vegetatif . Sebagai contoh, IR 64 yang matang dalam 130 hari fase vegatatifnya 65 hari (Makarim dan Suhartatik 2009).
Varietas Unggul Baru
3 Varietas Padi Tipe Baru (PTB)
Pembentukan PTB di Indonesia dimulai sejak tahun 1995. Empat varietas
telah dilepas, yaitu Cimelati, Gilirang, Ciapus, dan Fatmawati. PTB merupakan
hasil persilangan antara padi jenis indica dengan japonica. Dari uji multilokasi pada tahun 2001−2003, beberapa galur harapan PTB mempunyai potensi hasil
tinggi, salah satunya adalah Fatmawati, yaitu mencapai 9 ton GKG ha-1.
Perkembangan varietas PTB tersebut cukup menggembirakan. Pada saat dilepas,
banyak petani yang antusias menanam varietas Fatmawati karena
penampilannya kekar, daun tegak, tebal dan berwarna hijau tua, serta malai panjang dan lebat. Namun, varietas ini banyak menghasilkan gabah yang tidak berisi penuh dan dianggap hampa, serta susah dirontok sehingga kurang mendukung dalam pengembangannya. Jumlah gabah hampa yang tinggi merupakan sifat utama yang menyebabkan daya hasil PTB tidak seperti yang diharapkan (Abdullah et al. 2008).
Padi Hibrida
Padi hibrida diperoleh dari persilangan antara dua galur murni. Penelitian tentang padi hibrida semakin intensif dilaksanakan sejak tahun 1998 untuk memperoleh padi hibrida yang adaptif dan berpotensi hasil 15 – 20% lebih tinggi daripada varietas inbrida. Menurut Hairmansis, et al. (2005), usaha pemuliaan padi hibrida selain untuk mendapatkan kombinasi-kombinasi hibrida yang berdaya hasil tinggi, juga diarahkan untuk memperoleh hibrida-hibrida yang memiliki sifat ketahanan terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik, serta memiliki mutu beras yang baik. Menurut Satoto et al. (2012), delapan varietas padi hibrida telah dilepas Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) pada kurun waktu tahun 2002 sampai tahun 2009, seperti Maro dan Rokan pada tahun 2002, Hipa 3 dan Hipa 4 pada tahun 2004, Hipa 5 Ceva dan Hipa 6 Jete pada tahun 2007, serta Hipa 7 dan Hipa 8 tahun 2009. Satoto dan Suprihanto (2008) menyatakan bahwa dalam demonstrasi dan uji coba pengembangan padi hibrida yang dilepas Badan Litbang Pertanian melalui Program P3T (Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu) di 13 kabupaten pada tahun 2002-2003 memberikan hasil rata-rata 7.35 ton GKG ha-1 atau 16% lebih tinggi dibanding varietas pembanding inbrida. Varietas Maro dan Rokan mampu menghasilkan 1.0-1.5 ton ha-1gabah lebih tinggi dibandingkan varietas IR64 pada kondisi yang cocok.
Faktor yang mempengaruhi daya hasil padi
4
dengan sifat yang beragam pula dapat memecahkan masalah lingkungan biotik dan abiotik serta memenuhi keinginan petani dan preferensi konsumen yang juga berbeda antar daerah. Selain itu menurut Sugiarto (2008), upaya peningkatan produksi dilakukan melalui peningkatan produktivitas didukung oleh pengembangan teknologi seperti penggunaan bibit unggul bermutu, perbaikan teknik budaya, penggunaan alat dan mesin pertanian, pengendalian hama dan penyakit tanaman, penanganan pasca panen, peningkatan luas tanam, dan pemanfaatan lahan tidur dan pekarangan.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Balai Besar Padi Kebun Percobaan Muara, Bogor dengan jenis tanah latosol pada ketinggian 250 mdpl. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai April 2013. Pengukuran biomassa dilakukan di Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB dan analisis gula dan pati dilakukan di Balai Besar Industri Agro, Bogor.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian terdiri dari seperangkat alat budidaya, SPAD (Soil Plant Analysis Development), Multi Auto Counter, Seed Sorter, Grain Moisture Meter, Leaf Area Meter LI – 3000C, gunting, tali rafia, meja kemurnian, meteran, oven, timbangan, alat tulis, kantong plastik, amplop coklat, dan karung. Bahan yang digunakan adalah 4 varietas padi yaitu, Mentik Wangi, Inpari 13, IPB 3S, dan Hipa 8. Pupuk yang digunakan adalah pupuk Urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, dan KCl 100 kg ha-1, dan Phonska 300 kg ha-1, bakterisida berbahan aktif Tembaga Oksida, dan insektisida berbahan aktif fipronil.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Jumlah plot percobaan yang dibutuhkan sebanyak 12 satuan percobaan, dengan luas masing-masing petak adalah 25m2.
Model aditif linier dari rancangan percobaan ini adalah : Yij = μ + αi + βj+ εij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan pada varietas ke-i dan ulangan ke-j,
μ = nilai tengah umum
αi = pengaruh perlakuan varietas ke-i (1,2,3,...,10)
βj = pengaruh kelompok ke-j (1,2,3)
εij = pengaruh galat percobaan pada varietas ke i dan kelompok ke-j Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F). Apabila hasil analisis ragam menunjukkan pengaruh nyata, analisis dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5 %.
SP-5 36 diberikan pada 1 MST dan 4 MST, masing-masing 1/2 dosis, dan pupuk KCl diberikan pada 1 MST dan 6 MST, masing-masing 1/2 dosis.
Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyulaman dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pengendalian OPT dilakukan secara manual dan kimiawi. Pemanenan dilakukan 30 hari setelah heading.
Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman contoh per petak dengan komponen yang diamati meliputi :
1. Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi yang diamati mulai 3 MST sampai keluar malai dengan menggunakan meteran.
2. Jumlah anakan diamati mulai 3 MST sampai dengan anakan maksimum 3. Lingkar batang diamati pada batang padi yang diukur 10 cm dari
permukaan tanah dengan menggunakan meteran
4. Bobot kering tajuk diamati pada saat tanaman berumur 4 MST, 6 MST, berbunga, 2 minggu setelah berbunga, dan saat panen. Pengamatan dilakukan pada 2 tanaman per petak. Bobot kering diamati dengan menimbang bagian batang dan daun setelah dikeringkan dengan oven pada suhu 800C selama 3 hari.
5. Warna Daun diamati pada 4 MST, 6 MST, dan 8 MST dengan menggunakan SPAD pada daun teratas yang telah membuka sempurna. 6. Luas 3 daun teratas dilakukan pada 5 tanaman per petak pada saat
tanaman berbunga dengan menggunakan Leaf Area Meter LI – 3000C 7. Pengamatan komponen hasil, yaitu jumlah anakan produktif/rumpun,
panjang malai, jumlah gabah/malai, bobot 1000 butir gabah isi dengan kadar air 14%, persentase gabah isi, gabah tidak berisi penuh dan hampa pada setiap malai sampel.
8. Dugaan hasil per hektar dengan menghitung produktivitas ubinan yang dikonversikan ke hektar
9. Indeks panen diperoleh dari perbandingan antara bobot gabah kering dengan bobot biomas total
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Varietas Inpari 13 merupakan varietas pengganti varietas IR 64. Varietas IR 64 tidak tumbuh selama di persemaian sehingga dilakukan penggantian varietas, yaitu varietas Inpari 13 sehingga terdapat perbedaan umur 2 minggu antara Varietas Inpari 13 dengan ketiga varietas yang lain.
6
dilakukan sampai tanaman berumur 3 MST. Upaya untuk mengatasi serangan ini dilakukan dengan mengeringkan petakan, pemungutan keong, serta pemberian furadan bersamaan dengan pemupukan.
Tanaman mulai terserang hawar daun bakteri (Gambar 1(b)) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae pada umur 6 MST. Serangan ini disebabkan oleh iklim mikro dimana pada saat anakan maksimum memungkinkan berkembangnya bakteri ini. Gejala yang ditimbulkan, yaitu warna coklat seperti terbakar pada ujung daun dan kering. Upaya untuk mengendalikan serangan ini adalah dengan pengeringan lahan untuk mengurangi penyebaran bakteri, serta aplikasi bakterisida berbahan aktif Cu yang diberikan bersamaan dengan pupuk KCl yang berguna untuk memperkuat jaringan tanaman terutama saat terkena serangan hawar daun bakteri. Varietas yang terkena serangan hawar daun bakteri ini adalah Mentik Wangi, IPB 3S, dan Hipa 8.
Serangan penggerek batang padi pada stadia generatif atau yang dikenal dengan beluk (Gambar 1(c)) menyerang malai pada padi. Hama ini menyerang batang padi sehingga terjadi hambatan saat pengisian biji yang menyebabkan kehampaan yang cukup tinggi pada malai.
Rebah batang padi terjadi pada varietas Mentik Wangi, IPB 3S, dan Hipa 8 pada saat 2 hari menjelang panen. Hal ini disebabkan oleh hujan deras dan angin kencang. Dokumentasi selama penelitian berlangsung dapat dilihat dalam Lampiran 5.
Vegetatif Tanaman Padi
Tinggi Tanaman
Rata-rata tinggi tanaman varietas Mentik Wangi, IPB 3S, Inpari 13, dan Hipa 8 dapat dilihat dalam Tabel 1. Terdapat perbedaaan tinggi tanaman antar varietas pada 8 MST. Varietas Hipa 8 merupakan varietas dengan rata-rata tinggi tanaman paling tinggi, yaitu 122.64 cm dan varietas Inpari 13 merupakan varietas dengan tinggi tanaman paling rendah, yaitu 98.25 cm.
Siregar (1981) membagi tinggi tanaman padi menjadi tiga kelompok yaitu tinggi tanaman pendek (< 115 cm), sedang (115 - 125 cm) dan tinggi (> 125 cm). Berdasarkan tinggi tanaman tersebut, varietas Inpari 13 dan IPB 3S termasuk dalam kelompok tinggi tanaman pendek sedangkan varietas Mentik
(a) (b) (c)
7 Wangi dan Hipa 8 termasuk dalam kelompok tinggi tanaman sedang. Hal ini sesuai dengan deskripsi varietas yang terdapat dalam Lampiran 1 – Lampiran 4.
Tabel 1 Nilai rataan tinggi tanaman padi pada 3 MST-8 MST
a
Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji DMRT taraf 5%; MST = Minggu Setelah Tanam
Jumlah Anakan
Hasil pengukuran pada Tabel 2 menunjukkan rata-rata jumlah anakan untuk varietas Mentik Wangi, IPB 3S, Inpari 13, dan Hipa 8. Pada 8 MST, jumlah anakan Mentik Wangi, IPB 3S, dam Hipa 8 tidak berbeda nyata namun berbeda nyata dengan varietas Inpari 13.
Jumlah anakan total per rumpun varietas padi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok (Las et al. 2004) yaitu jumlah anakan sedikit (<10), sedang (11-15), banyak (16-20), dan sangat banyak (>20). Berdasarkan pengelompokan tersebut, varietas IPB 3S termasuk ke dalam kelompok tanaman dengan jumlah anakan sedikit, varietas Mentik Wangi dan Hipa 8 termasuk ke dalam kelompok dengan jumlah anakan sedang, dan Inpari 13 termasuk ke dalam kelompok dengan jumlah anakan banyak. Kemampuan membentuk anakan yang banyak pada varietas yang diuji dapat berpengaruh terhadap hasil.
Tabel 2 Nilai rataan jumlah anakan padi pada 3 MST-8 MST
a
Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji DMRT taraf 5 %; MST = Minggu Setelah Tanam
Lingkar Batang
Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa pada 4 MST tidak ada perbedaan yang nyata pada lingkar batang antar varietas. Lingkar batang varietas Mentik Wangi, IPB 3S, dan Hipa 8 tidak berbeda nyata pada 6 MST dan pada saat panen. Pada saat berbunga, lingkar batang mulai mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena tanaman sudah berkonsentrasi terhadap pertumbuhan generatif, yaitu adanya translokasi asimilat yang diperoleh selama fotosintesis menuju bagian generatif. Persentase penurunan lingkar batang terbesar dari berbunga
Varietas Tinggi Tanaman (cm)
8
sampai panen ditunjukkan oleh varietas IPB 3S yaitu 21.43% dan varietas Inpari 13 merupakan varietas dengan persentase penurunan lingkar batang terkecil, yaitu 11.76%.
Tabel 3 Nilai rataan lingkar batang pada 4 MST sampai panen
a
Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji DMRT taraf 5 %; MST = Minggu Setelah Tanam; MSB = Minggu Setelah Berbunga; ∆* = persentase penurunan lingkar batang pada waktu berbunga dengan panen
Intensitas warna daun dan luas 3 daun teratas
Nilai SPAD yang dihasilkan diperhitungkan berdasarkan jumlah cahaya yang ditransmisikan oleh daun dalam dua berkas panjang gelombang dimana absorbansi klorofil berbeda (Gani 2006). Menurut Dobermann dan Fairust (2000), nilai kritis SPAD yang menunjukkan tanaman kekurangan hara N adalah sebesar 35. Berdasarkan pengamatan menggunakan SPAD, keempat varietas tidak mengalami kekurangan hara N.
Berdasarkan Tabel 4, intensitas warna daun pada 4 MST berbeda antara varietas Inpari 13 dan Hipa 8. Pada 6 MST, intensitas warna daun berbeda antara varietas Mentik Wangi dan IPB 3S. Bila keragaan nilai skala SPAD tersebut dihubungkan dengan produktivitasnya, maka tidak terlihat adanya korelasi antara tingginya nilai SPAD dengan produktivitas masing-masing varietas. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunarsih dan Daradjat (2007), bahwa penggunaan SPAD untuk menduga hubungan antara intensitas warna daun dengan kandungan klorofil dan kaitannya dengan produktivitas tanaman kurang tepat. Kadar klorofil total yang diukur menggunakan spektrofotometer dengan nilai yang tinggi saat anthesis berpengaruh terhadap produktivitas tanaman.
Pertambahan jumlah total luas daun merupakan faktor penting yang berhubungan dengan produksi padi karena total luas daun pada saat pembungaan berpengaruh sangat besar pada jumlah fotosintat yang tersedia untuk malai (De Datta 1981). Pada Tabel 4, Varietas Mentik Wangi , IPB 3S, dan Hipa 8 memiliki luas daun daun yang tidak berbeda nyata. Varietas Inpari 13 memiliki ukuran daun yang lebih kecil dibanding ketiga varietas lainnya. Adanya klorofil pada daun menyebabkan tanaman dapat mengolah radiasi surya menjadi karbohidrat/energi untuk tumbuh-kembangnya organ tanaman lainnya atau disebut sebagai sources. Menurut Yoshida (1981), pada keadaan ILD yang sama, tanaman yang memiliki tajuk yang besar, tetapi berdaun kecil akan memiliki fotosintesis yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang memiliki tajuk yang kecil walaupun daunnya lebar.
9 Tabel 4 Intensitas warna daun padi berdasarkan skala chlorophyll meter Minolta SPAD pada 4 MST, 6 MST, dan 8 MST serta Luas 3 daun teratas pada saat berbunga
a
Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji DMRT taraf 5 %; MST = Minggu Setelah Tanam
Bobot Kering Tajuk
Sejak inisiasi malai, terjadi penumpukan asimilat yang mencapai puncaknya pada anthesis dan setelah itu simpanan tersebut berkurang cukup signifikan. Hal ini terjadi karena pertumbuhan padi sudah mulai terfokus pada pengisian biji. Pada 4 MST sampai berbunga bobot kering tajuk tidak berbeda nyata antar varietas. Pada saat pengisian biji, bobot kering tajuk varietas Inpari 13 berbeda nyata dengan varietas Hipa 8. Varietas Hipa 8 menunjukkan rata-rata akumulasi bahan kering paling tinggi pada saat pengisian biji dan terus mengalami penurunan sampai panen. Varietas Mentik Wangi dan IPB 3S masih mengalami pertambahan bobot kering tajuk saat fase pengisian biji dan mengalami penurunan saat panen. Varietas Inpari 13 mengalami penurunan bobot kering tajuk yang signifikan mulai fase pengisian biji sampai panen.
Mentik Wangi 38.333ab 37.973b 39.603a 76.284a
IPB 3S 39.167ab 40.973a 42.173a 76.206a
4 MST 6 MST Berbunga 2 MST setelah
berbunga
10
Kandungan Gula dan Pati pada Batang
Simpanan asimilat selama pra berbunga oleh Murata dan Matshushima (1978) disebut sebagai simpanan asimilat temporer, yang pada umumnya terdiri atas pati dan gula, yang tersimpan di pelepah daun dan pangkal batang.
Yoshida (1981) melaporkan bahwa sumbangan terhadap gabah, yang berasal dari simpanan sementara tersebut berkisar dari 0-90%, namun pada umumnya hanya 20-40%. Varietas Inpari 13 menggunakan gula dan pati terbesar selama proses pengisian biji, yaitu 2.821 gram dan 0.516 gram. Varietas Mentik Wangi, masih mengalami peningkatan kandungan gula dan pati selama pengisian biji di dalam batang. Varietas ini kemungkinan besar tidak menggunakan asimilat dari batang selama fase pengisian biji, karena adanya keterbatasan kapasitas sink atau adanya hambatan translokasi asimilat ke biji. Varietas IPB 3S menggunakan pati sebesar 2.437 gram selama pengisian biji. Varietas Inpari 13 memiliki produktivitas tertinggi dari keempat varietas yang diuji. Varietas Inpari 13 diduga mendapat aliran asimilat dari batang secara efektif selama pengisian biji.
Tabel 5 Kandungan gula dan pati (gram) dalam batang padi pada waktu berbunga dan panen
Jumlah Anakan Total dan Jumlah Anakan Produktif
Kemampuan membentuk anakan yang banyak pada varietas yang diuji dapat berpengaruh terhadap hasil. Berdasarkan Gambar 2, varietas Inpari 13 merupakan varietas dengan rata-rata jumlah anakan produktif paling tinggi, yaitu 12.5 sedangkan varietas IPB 3S merupakan varietas dengan jumlah anakan paling rendah, yaitu 7.5.
Jumlah anakan total varietas Mentik Wangi, IPB 3S, dan Hipa 8 tidak memiliki perbedaan yang nyata. Penurunan jumlah anakan yang cukup tinggi ditunjukkan oleh varietas Inpari 13 sedangkan varietas Hipa 8 hampir semua anakan total merupakan anakan produktif.
Varietas Berbunga Panen Pati yang
11
Gambar 3 Jumlah anakan produktif dan anakan tidak produktif padi
Komponen Hasil Padi
Suhu, radiasi matahari, dan curah hujan merupakan faktor iklim yang mempengaruhi fase pengisian biji. Fase pengisian biji merupakan salah satu fase yang sangat kritis karena terjadi translokasi asimilat hasil fotosintesis ke bagian biji (Yoshida dan Parao 1976). Hasil fotosintat (karbohidrat), translokasi, serta akumulasinya dalam gabah sangat menentukan tingkat pengisian gabah. Abdullah et al. (2006) menyatakan bahwa persentasi gabah isi per malai sangat menentukan potensi hasil maksimum suatu varietas padi.
Pada Tabel 6, jumlah gabah/malai varietas Mentik Wangi tidak berbeda nyata dengan varietas Inpari 13 namun berbeda nyata dengan varietas IPB 3S dan Hipa 8. Jumlah gabah per malai tertinggi ditunjukkan oleh varietas Hipa 8 dan varietas Inpari 13 merupakan varietas dengan jumlah gabah per malai terendah. Persentase gabah isi semua varietas yang diuji menunjukkan angka 65.61 sampai 70.12% dan tidak ada perbedaan nyata antar varietas yang diuji sedangkan persentase gabah hampa genotipe yang diuji menunjukkan angka diantara 27.25 sampai 28.26%. Persentase gabah hampa normal menurut Jennings et al. (1979) yaitu sekitar 10.0 sampai 15.0%. Tingginya persentase gabah hampa mungkin disebabkan karena curah hujan yang cukup tinggi sehingga intensitas cahaya matahari rendah untuk pengisian biji.
Tabel 6 Nilai rataan komponen hasil padi Varietas
Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji DMRT taraf 5%
Malai yang panjang umumnya mempunyai jumlah bulir lebih banyak, tetapi belum tentu memberikan hasil lebih tinggi, karena hal ini dipengaruhi oleh
0
Menthik Wangi IPB 3S Inpari 13 Hipa 8
Varietas
12
persentase kehampaan (Silitonga et al. 1993). Panjang malai berkorelasi positif dengan jumlah gabah per malai (r = 0.599). Varietas IPB 3S memiliki panjang malai terpanjang dan varietas Inpari 13 memiliki panjang malai terpendek. terdapat korelasi yang negatif antara tinggi tanaman (r = -0.612), panjang malai (r = -0.588), dan jumlah gabah/malai (r = -0.760) dapat dilihat dalam Lampiran 6. Hal ini berarti semakin tinggi indeks panen, maka bobot gabah ubinan semakin tinggisemakin tinggi tanaman padi, produktivitasnya semakin rendah. Selain itu semakin panjang malai dan semakin tinggi jumlah gabah/malai, produktivitasnya juga semakin rendah. Hal ini terkait dengan kehampaan yang cukup tinggi pada keempat varietas padi yang diuji
Bobot 1 000 butir merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi komponen hasil. Purohit dan Majumder (2009) menyatakan karakter-karakter yang paling memberikan kontribusi terhadap potensi hasil adalah jumlah anakan produktif, jumlah gabah isi per malai, dan bobot 1 000 butir. Bobot 1 000 butir varietas Mentik Wangi tidak berbeda nyata dengan varietas Hipa 8. Varietas IPB 3S memiliki bobot 1 000 butir tertinggi, yaitu 28.80 gram sedangkan varietas Hipa 8 memiliki bobot 1 000 butir terendah, yaitu 26.61 gram. Perbedaan ukuran serta bentuk gabah menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan bobot 1 000 butir masing-masing varietas. Bobot 1 000 butir keempat varietas yang diuji disajikan dalam Tabel 6. Korelasi antara produktivitas dengan parameter dengan komponen produksi pada varietas Inpari 13 dalam Lampiran 9, menunjukkan korelasi positif terhadap bobot 1 000 butir (r = 0.998).
Hasil dan Indeks Panen Padi
Tabel 7 menunjukkan produktivitas masing-masing varietas yang diuji. Produktivitas Inpari 13 adalah yang tertinggi, yaitu 6 ton ha-1, tetapi secara statistik tidak berbeda nyata dengan produktivitas IPB 3S dan Mentik Wangi. Ketahanan varietas ini terhadap hawar daun bakteri mungkin memberikan kontribusi terhadap tingginya hasil. Inpari 13 juga diduga memanfaatkan asimilat hasil fotosintesis selama pengisian biji secara efektif. Varietas Mentik Wangi merupakan varietas dengan produktivitas rata – rata 5.25 ton ha-1 . Hasil uji korelasi dalam Lampiran 7 menunjukkan bahwa luas 3 daun teratas yang besar (r = 0.995) mempengaruhi produktivitas varietas ini. Varietas IPB 3S dengan produktivitas rata – rata 5.16 ton ha-1 dipengaruhi oleh faktor persentase gabah isi (r = 0.999) dapat dilihat dalam Lampiran 8.
13 Tabel 7 Hasil dan indeks panen padi
Varietas Hasil ubinan Hasil (ton
GKG ha-1) Indeks Panen
Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji DMRT taraf 5%
Indeks panen merupakan rasio bobot gabah dengan total biomas. Peningkatan hasil dapat dicapai dengan peningkatan produksi biomas dan indeks panen (Yoshida 1981). Indeks hasil rata-rata untuk varietas-varietas unggul adalah 0.5 (Makarim dan Suhartatik 2009). Indeks panen varietas Inpari 13 merupakan yang paling tinggi, yaitu 0.55 dan tidak berbeda nyata dengan varietas IPB 3S. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang positif antara indeks panen dan produktivitas (r = 0.783). Hal ini berarti produktivitas dapat terus meningkat dengan meningkatkan indeks panen.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas dari empat tipe padi yang diuji berkisar antara 4.65 sampai 6 ton ha-1. Secara umum produktivitas keempat varietas dipengaruhi oleh tinggi tanaman, panjang malai, jumlah gabah/malai, dan indeks panen. Varietas Inpari 13 merupakan varietas unggul baru yang memiliki produktivitas tertinggi, yaitu 6 ton ha-1 dan tidak berbeda nyata dengan varietas Mentik Wangi dan IPB 3S. Faktor yang mempengaruhi produktivitas pada varietas Inpari 13 adalah bobot 1 000 butir. Produktivitas varietas IPB 3S sebesar dipengaruhi oleh faktor persentase gabah isi sedangkan varietas Mentik Wangi dengan produktivitas dipengaruhi oleh faktor lingkar batang dan luas 3 daun teratas yang dimiliki. Ketahanan terhadap hawar daun bakteri dan retranslokasi asimilat dari batang pada saat pengisian biji, diduga berkontribusi terhadap hasil yang tinggi pada varietas Inpari 13.
Saran
14
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah B, Prajitno al KS, Mudjisihono R. 2006. Keragaan Beberapa Genotipe Padi Menuju Perbaikan Mutu Beras. Subang (ID). Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi.
Abdullah B, Tjokrowidjojo S, Sularjo. 2008. Perkembangan dan prospek Padi Tipe Baru di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 27(1):1-8.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2009. Deskripsi Padi Hiprida Hipa 8 Pioneer [internet]. [diunduh 2012 November 12]. Tersedia pada: http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp09014.pdf.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2004. Perjalanan Perakitan dan Perkembangan VUB Padi [internet]. [diunduh 2012 September 13].
Tersedia pada:
http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/st140704-1.pdf. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Padi
Provinsi Indonesia [internet]. [diunduh 2013 Maret 18]. Tersedia pada: http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi. Jakarta(ID):Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Chang TT. 1965. The Morphology and The Varietal Characteristics of The Rice Plant. Los Banos (PH): The International Rice Research Institute.
Daradjat AA, Susanto U, Suprihatno B. 2003. Perkembangan pemuliaan padi sawah di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 22(3):125-131.
Daradjat AA, Suprihatno B. 2008. Kemajuan dan Ketersediaan Varietas Unggul Padi [internet]. [diunduh 2013 Juni 18]. Tersedia pada: http://www.litbang.deptan.go.id/special/padi/bbpadi_2009_itkp_12.pdf. De Datta SK. 1981. Principles and Practices of Rice Production. New York
(US): A Wiley Interscience Publication.
Dobermann A, Fairhurst T. 2000. Rice : Nutrient Disorders and Nutrient Management. Canada(US): Potash and Phospate Institute.
Gani A. 2006. Bagan Warna Daun [internet]. [diunduh 2013 Juni 2]. Tersedia pada:http://www.dpi.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0008/199457/Ses 3-Leaf-colour-chart.pdf.
Gunarsih A, Daradjat AA. 2007. Viabilitas kecepatam senesens pada sejumlah genotipe padi sawah serta korelasinya dengan hasil dan komponen hasil. Apresiasi Hasil Penelitian [internet]. [diunduh 2013 Mei 23]. Tersedia pada:http://www.litbang.deptan.go.id/special/padi/bbpadi_2008_p2bn2_0 3.pdf.
Hairmansis A, Aswidinnoor H, Trikoesoemaningtyas, Suwarno. 2005. Evaluasi daya pemulih kesuburan Padi Lokal dari Kelompok Tropical Japonica. Buletin Agronomi 33(3)1-6.
Jennings PR, Coffman WR, Kauffman HE. 1979. Rice Improvement. Los Banos (PH):International Rice Research Institute.
15 Kumudini S, Omielan J, Hume DJ. 2008. Soybean genetic improvement in yield and the effect of Late-Season Shading and Nitrogen source and supply. Agronomy Journal 1000:400-405.
Makarim AK, Suhartatik E. 2009. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi. Publikasi Balai Besar Tanaman Padi.
Mapegau. 2006. Pengaruh salinitas tanah terhadap hasil dan distribusi bahan kering pada tanaman Jagung Kultivar Arjuna selama fase pengisian biji. Jurnal Agrivigor 6(1):9-17
Miah, MNH, Yoshida T, Yamamoto Y, Nitta Y. 1996. Characteristics of dry matter production and partitioning of dry matter in yielding semi dwarf indica and japonica-indica hybrid rice varieties. J.Crop Sci. 65:672-685. Murata Y, Matsushima. 1978. Rice. Di dalam: Evans LT, editor. Crop
Physiology. Cambridge (GB): University Press.
Purohit S, Majumder MK. 2009. Selection of high yielding rice variety from a cold tolerant three-way rice(Oryza sativa L.) cross involving Indica, japonica and wide compatible variety. Middle-East Journal of Scientific Research. 4(1):28-31.
Satoto, Suprihatno B. 2008. Perkembangan Padi Hibrida di Indonesia [internet].
[diunduh 2012 Oktober 16]. Tersedia pada:
http://www.litbang.deptan.go.id/special/padi/iptektp_2008_0301_3.pdf. Satoto, Direja M, Widyastuti Y, Rumanti IA. 2012. Keragaan Hasil Padi Hibrida
Turunan Galur Mandul Jantan Baru Hasil Seleksi BB Padi [internet].
[diacu 2012 Oktober 16]. Tersedia pada:
http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php/in/berita/hasil-hasil
penelitian/493-keragaan-hasil-padi-hibrida-turuna-galur-mandul-jantan. Siregar H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Jakarta(ID):Sastra
Hudaya.
Silitonga TS, Kartowinoto S, Suardi D. l993. Penyaringan ketahanan 500 varietas galur padi terhadap kekeringan. Penelitian Pertanian 13 (2): 52-57. Sugiarto. 2008. Analisis Faktor – faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di Kabupaten Dharmasraya [tesis]. Padang(ID):Universitas Andalas.
Yoshida S, Parao FT. 1976. Climatic influence on yoeld and yield components of lowland rice in the tropics. Los Banos(PH):International Rice Research Institute.
16
Lampiran 1 Deskripsi Varietas Mentik Wangi No. aksesi : 1754
Nama aksesi : Mentik wangi
Provinsi asal : Jawa Tengah
Kabupaten asal : Magelang
Warna daun : Hijau
Habitus : Sedang
Warna kaki : Kuning emas
Permukaan daun : Tidak berambut
Posisi daun bendera : Mendatar
Warna lidah daun : Putih
Warna telinga daun : Tidak berwarna
Warna leher daun : Hijau muda
Panjang malai rata-rata : 27.4 cm Panjang daun bendera rata-rata : 30.8 cm Lebar daun bendera rata-rata : 1.6 cm
Bobot 1000 butir : 18 gram
Umur tanaman : 125 hari
Jumlah anakan produktif : 14 Jumlah anakan vegetatif : 15 Tinggi tanaman rata-rata : 114 cm
17 Lampiran 2 Deskripsi Varietas IPB 3S
Nomor silsilah : IIPB97-F-15-1-1
Asal persilangan : IPB6-d-10s-1-1-1/Fatmawati
Golongan : Cere
Umur tanaman : 112 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : 118 cm Anakan produktif : 7-11 batang
Warna kaki : Hijau
Warna Batang : Hijau
Warna Telinga Daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Permukaan daun : Kasar
Posis daun : Tegak
Daun Bendera : Tegak
Bentuk gabah : Medium
Warna Gabah : Kuning jerami
Kerontokan : Sedang
Ketahanan terhadap hama : Agak rentan terhadap wereng coklat Biotipe 1,2, dan 3.
Ketahanan terhadap
penyakit :
Tahan terhadap Tungro, agak tahan terhadap blas ras 033, agak tahan terhadap HDB ras III.
18
Pemulia : Hajrial Aswidinnoor, Willy Bayuardi S., Desta Wirnas, dan Yudiwanti WE Kusumo
Peneliti :
Toni Eka Putra, Sutardi, Titiek Ismaryati, Asep Suryana, Said Gatta, Winda Halimah, Deni Hamdan Permana, Sumiyati, Baehaki SE, dan Triny S. Kadir. Teknisi : Adang, Jaenal, Suti’ah, Jumisnan, Joko Mulyono,
Sulaeman, Rohana, Iroh, Siti Nurmah, Odah, Robiah Pengusul : Institut Pertanian Bogor
19 Lampiran 3 Deskripsi Inpari 13
Nomor Seleksi : OM1490
Golongan : Cere
Umur tanaman : 103 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : 101 cm Anakan produktif : 17 malai
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau Warna telinga daun : Putih Warna lidah daun : Hijau
Warna daun : Hijau
Permukaan daun : Kasar
Posisi daun : Tegak
Daun bendera : Agak terkulai Bentuk gabah : Panjang ramping Warna gabah : Kuning bersih
Kerontokan : Sedang
: Tahan terhadap hama Wereng Batang Coklat Biotipe 1,2 dan 3
Ketahanan terhadap penyakit
: Agak rentan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri strain III, IV dan VIII, tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan agak tahan terhadap ras 133, 073 dan 173 Anjuran : cocok ditanam di ekosistem sawah tadah hujan dataran
rendah sampai ketinggian 600 m dpl
Pemulia : Nafisah, Cucu Gunarsih, Bambang Suprihatno, Aan A.Daradjat. Trias Sitaresmi, M.Yamin Samaullah Peneliti : Baehaki SE, Triny SK, Suprihanto, Prihadi Wibowo,
20
Teknisi :Thoyib S.Maaruf,Maman Suherman,Uan DS,Karmita, Meru. Suwarsa, Dede Munawar
21 Lampiran 4 Deskripsi Hipa 8
Nomor seleksi : H51
Asal persilangan : A1/PK21
Golongan : Cere
Umur tanaman : 110-112 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : 120-130 cm Anakan produktif : 14-18 batang
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau Warna telinga daun : Hijau
Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Permukaan daun : Kasar
Posisi daun : Tegak
Posisi daun bendera : Tegak
Leher malai : -
Bentuk gabah : Sedang Warna gabah : Kuning jerami Kerontokan mudah : Sedang
Kerebahan : Sedang
Tekstur nasi : Pulen Kadar amylosa : 22.7% Indeks glikemik :73.5 Bobot 1000 butir : 27-29 gr Jumlah gabah bernas permalai : - Rata-rata hasil : 7.5 ton ha-1 Potensi hasil : 10.4 ton ha-1
Ketahanan terhadap hama : Rentan terhadap wereng coklat biotipe 3 Ketahanan terhadap penyakit : Agak tahan terhadap hawar daun bakteri
22
Anjuran tanam : Baik ditanam pada daerah dataran rendah <450 m dpl
Pemulia : Satoto, Sudibyo TWU dan Murdani D
Peneliti : Yudistira N, Yuni Widiastuti, Agus Guswara, dan Entis Sutisna
Teknisi : Warsidi, Sony Suharsono, Munada, Prima, Ujang Sarmadi, A Abdul Somad, Cecep Suparman, Suardi,
Alasan utama dilepas : Potensi hasil 10% lebih tinggi dibanding
Ciherang, tahan hawar daun bakteri, adaptasi luas dan produksi benih lebih mudah dibandingkan hibrida lainnya
23 Lampiran 5 Dokumentasi selama penelitian
(a) (b) (c)
Bibit padi disemai pada sistem persemaian kering (a), bibit IPB 3S berumur 14 HSS (b), dan persemaian pada varietas IR 64 (c)
(a) (b)
Penanaman varietas Mentik Wangi, IPB 3S, dan Hipa 8 (a) dan penanaman varietas Inpari 13 saat Mentik Wangi, IPB 3S, dan Hipa 8 berumur 8 MST
(a) (b)
24
(a) (b)
Keadaan 50% berbunga pada varietas IPB 3S (a) dan 50% berbunga pada varietas Inpari 13 (b)
(a) (b)
Varietas Inpari 13 saat panen (a) dan kerebahan varietas Hipa 8 saat panen (b)
v
(a) (b) (c)
25
Lampiran 6 Tabel hasil uji korelasi antar peubah terhadap komponen produksi
Karakter Pengamatan
Jumlah anakan produktif
Panjang malai (cm)
Jumlah gabah per
malai
Bobot 1000 butir
(gr)
Persentase gabah isi
Bobot gabah ubinan (kg)
Vegetatif (8 MST)
Tinggi tanaman (cm) -0.473tn 0.361tn 0.616* -0.408tn 0.169tn -0.612*
Jumlah anakan per rumpun 0.870** -0.605* -0.566tn -0,178tn -0.471tn 0.314tn
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 0.401tn -0.290tn 0.248tn -0.474tn -0.536tn -0.327tn
Lingkar Batang -0.810* 0.392tn 0.387tn 0.031tn 0.606* -0.317tn
Luas 3 daun teratas -0.860** 0.619* 0.336tn 0.246tn 0.477tn -0.242tn
Generatif dan Saat Panen
Indeks Panen 0.424tn -0.947tn -0.650* 0.320tn 0.214tn 0.783**
Jumlah anakan produktif -0.785** -0.569tn -0.381tn -0.379tn 0.593tn
Panjang malai 0.593* 0.539tn 0.067tn -0.588*
Jumlah gabah per malai -0.173tn -0.058tn -0.760*
Bobot 1000 butir 0.320tn 0.233tn
Persen gabah isi 0.493tn
Keterangan : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata
26
Lampiran 7 Hasil uji korelasi antar peubah pada varietas Mentik Wangi
Karakter Pengamatan
Jumlah anakan produktif
Panjang malai
Jumlah gabah per
malai
Bobot 1000 butir
Persentase gabah isi
Bobot gabah ubinan (kg)
Vegetatif (8 MST)
Tinggi tanaman (cm) -0.080tn -0.340tn 0.151tn -0.002tn 0.883tn 0.947tn
Jumlah anakan per rumpun 0.996* -0.983tn 0.950tn 0.987tn -0.608tn -0.473tn
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 0.538tn 0.736tn 0.324tn 0.466tn -0.999* -0.988tn
Lingkar Batang -0.510tn -0.713tn 0.292tn -0.436tn 0.999* 0.993tn
Luas 3 daun teratas -0.489tn -0.696tn 0.269tn -0.414tn 0.998* 0.995tn
Generatif dan Saat Panen
Indeks Panen -0.982tn -0.997* -0.911tn -0.964tn 0.486tn 0.565tn
Jumlah anakan produktif 0.967tn 0.972tn 0.996* -0.543tn -0.402tn
Panjang malai 0.879tn 0.942tn -0.740tn -0.623tn
Jumlah gabah per malai 0.988tn -0.330tn -0.174tn
Bobot 1000 butir -0.471tn -0.323tn
Persen gabah isi 0.987tn
Keterangan : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata
27
Lampiran 8 Hasil uji korelasi antar peubah pada varietas IPB 3S
Karakter Pengamatan
Jumlah anakan produktif
Panjang malai (cm)
Jumlah gabah per
malai
Bobot 1000 butir
(gr)
Persentase gabah isi
Bobot gabah ubinan (kg)
Vegetatif (8 MST)
Tinggi tanaman (cm) 0.760tn -0.553tn -0.679tn 0.868tn 0.915tn 0.911tn
Jumlah anakan per rumpun 0.200tn 0.997* 0.971tn 0.013tn 0.796tn -0.813tn
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 0.719tn 0.777tn 0.667tn 0.576tn -0.315tn -0.325tn
Lingkar Batang -0.814tn -0.675tn -0.549tn -0.691tn -0.170tn 0.181tn
Luas 3 daun teratas 0.004tn 0.993tn 0.999* -0.183tn -0.899tn -0.904tn
Generatif dan Saat Panen
Indeks Panen 0.988tn -0.033tn -0.192tn 0.999* 0.979tn 0.558tn
Jumlah anakan produktif 0.121tn -0.039tn 0.982tn 0.434tn 0.424tn
Panjang malai 0.987tn -0.067tn -0.842tn -0.848tn
Jumlah gabah per malai -0.225tn -0.917tn -0.922tn
Bobot 1000 butir 0.595tn 0.586tn
Persen gabah isi 0.999*
Keterangan : tn = tidak nyata, * = nyata, ** = sangat nyata
28
Lampiran 9 Hasil uji korelasi antar peubah pada varietas Inpari 13
Karakter pengamatan
Jumlah anakan produktif
Panjang malai (cm)
Jumlah gabah per
malai
Bobot 1000 butir
(gr)
Persentase gabah isi
Bobot gabah ubinan (kg)
Vegetatif (8 MST)
Tinggi tanaman (cm) -0.462tn 0.981tn 0.123tn -0.979tn -0.168tn -0.965tn
Jumlah anakan per rumpun -0.415tn -0.453tn 0.707* 0.764tn 0.881tn 0.801tn
Bobot kering tajuk/tanaman (g) 0.965tn -0.807tn -0.812tn 0.513tn -0.610tn 0.462tn
Lingkar Batang -0.098tn 0.839tn -0.255tn -0.985tn -0.523tn -0.993tn
Luas 3 daun teratas 0.340tn -0.948tn 0.009tn 0.997* 0.297tn 0.991tn
Generatif dan Saat Panen
Indeks Panen 0.998* -0.693tn -0.911tn 0.334tn 0.919tn 0.277tn
Jumlah anakan produktif -0.623tn -0.937tn 0.269tn -0.797tn 0.212tn
Panjang malai 0.311tn -0.921tn -0.024tn -0.896tn
Jumlah gabah per malai 0.084tn 0.958tn 0.143tn
Bobot 1000 butir 0.367tn 0.998*
Persen gabah isi 0.421tn
Keterangan : tn = tidak nyata* = nyata, ** = sangat nyata
29
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pematangsiantar, Sumatera Utara pada tanggal 12 Januari 1992 sebagai anak sulung dari pasangan Batara Simangunsong dan Tina Nababan. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA RK Budi Mulia Pematangsiantar dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Tes Masuk IPB dan diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten praktikum Ilmu Tanaman Pangan pada tahun ajaran 2012/2013, asisten praktikum Ilmu Tanaman Perkebunan pada tahun ajaran 2012/2013, dan asisten praktikum Dasar-dasar Hortikultura pada tahun ajaran 2012/2013. Penulis juga pernah aktif sebagai staf Departemen Fundrising BEM Fakultas Pertanian IPB pada tahun 2011-2012 dan penulis juga aktif melayani di