• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondensasi Pada Dental Amalgam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kondensasi Pada Dental Amalgam"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN

HUTAN MANGROVE

( Studi kasus : Desa Paluh Sibaji Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara)

SKRIPSI

Oleh :

ALEX DANIEL .B. HUTAPEA 040304053

SEP-AGRIBISNIS

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN

HUTAN MANGROVE

( Studi kasus : Desa Paluh Sibaji Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara)

SKRIPSI

Oleh :

ALEX DANIEL .B. HUTAPEA 040304053

SEP-AGRIBISNIS

Usulan Penelitian Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Melaksanakan Penelitian di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

( Dr. Ir. Tavi Supriana, MS ) ( Ir. Iskandarini, MM ) Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi Pembimbing

DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL... iv

DAFTAR GAMBAR... v

DAFTAR LAMPIRAN... vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Identifikasi Masalah... 7

1.3. Tujuan Penelitian... 8

1.4. Kegunaan Penelitian... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN... 9

2.1. Tinjauan Pustaka... 9

2.2. Landasan Teori... 14

2.2.1. Penyebaran Hutan Mangrove... 14

2.2.2. Permasalahan Hutan Mangrove... 15

2.2.3. Partisipasi Masyarakat Dalam Pelestarian Hutan Mangrove... 16

2.3. Kerangka Pemikiran... 19

2.4. Hipotesis Penelitian... 22

BAB III METODE PENELITIAN... 23

3.1. Metode Penentuan Daerah... 23

3.2. Metode Penarikan Responden... 23

3.3. Metode Pengumpulan Data... 25

3.4. Metode Analisis Data... 25

3.5. Defenisi dan Batasan Operasional... 29

3.5.1. Defenisi... 29

(4)

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK

RESPONDEN... 31

4.1. Deskripsi Daerah Penelitian... 31

4.1.1. Keadaan Geografis... 31

4.1.2. Topografi... 32

4.1.3. Luas Wilayah... 32

4.1.4. Sarana dan Prasarana... 33

4.1.5. Demografi... 35

4.2. Deskripsi Karakteristik Responden... 36

4.2.1. Komposisi Responden Berdasarkan Kelompok Umur... 36

4.2.2. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga... 37

4.2.3. Komposisi Responden Berdasarkan Lama Masa Bermukim... 38

4.2.4. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan... 39

4.2.5. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendididikan... 40

4.2.6. Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan.... 41

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN... 43

5.1. Tingkat Partisipasi Masyarakat terhadap Pelestarian Hutan Mangrove... 43

5.1.1. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Umur... 44

5.1.2. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Jumlah AnggotaKeluarga... 45

5.1.3. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Lama Masa Bermukim... 46

5.1.4. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendapatan... 47

5.1.5. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan... 49

5.2. Analisis Hubungan Antara Karakteristik Masyarakat dengan Tingkat Partisipasi dalam Pelestarian Hutan Mangrove... 50

5.2.1. Hasil Analisis Hubungan umur dengan Tingkat Partisipasi... 50

(5)

5.2.3. Hasil Analisis Hubungan Lama Masa Bermukim

dengan Tingkat Partisipasi... 52

5.2.4. Hasil Analisis Hubungan Tingkat Pendapatan dengan Tingkat Partisipasi... 52

5.2.5. Hasil Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Partisipasi... 53

5.3. Kendala yang Dapat Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Masyarakat... 54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 55

6.1. Kesimpulan... 55

6.2. Saran... 56

(6)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1. Luas dan Penyebaran Hutan Mangrove di Sumatera Utara (Ha)... 6

2. Skala Tingkat Partisipasi Responden... 26

3. Kriteria Interpretasi Tingkat Partisipasi pada Taraf 100 %... 27

4. Daftar Rincian Pemerintahan Kecamatan Pantai Labu Tahun 2007... 33

5. Daftar Rincian Sarana dan Prasarana di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 34

6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Paluh Sibaji Tahun 2006... 35

7. Komposisi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 36

8. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 37

9. Komposisi Responden Berdasarkan Masa Lama Bermukim di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 38

10. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 39

11. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 40

12. Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007... 41

13. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Umur... 44

14. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga... 45

15. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Lama Masa Bermukim... 46

16. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendapatan... 47

17. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan... 49

(7)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1. Bagan Hubungan Saling Bergantung Antara Berbagai Komponen Ekosistem Mangrove... 13

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul

1. Hasil Analisis Rank Spearman Antara Karakteristik Individu Masyarakat dengan Tingkat Partisipasi dalam Pelestarian Hutan Mangrove.

2. Perhitungan Uji t-hitung

(9)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai sepanjang

81.000 km. Jajaran pantai ini tergabung di dalam 17.508 pulau yang merupakan

gabungan antara bentuk ekosistem pantai dan hutan pantai. Dengan banyaknya

pulau-pulau ini, maka banyak pula ekosistem hutan pantai yang tumbuh di sekitar

garis pantai tersebut. Ekosistem hutan pantai ini sangat berperan penting dalam

kehidupan biota darat dan biota laut. Diketahui juga bahwa beberapa tipe hutan

pantai merupakan tipe perantara antara ekosistem hutan darat dengan ekosistem

laut (Sugiarto dan Willy, 2003).

Sebagaimana diketahui bahwa pantai merupakan kawasan indah dengan

pemandangan yang mempesona bagi banyak orang. Kawasan ini ditumbuhi jenis

tumbuhan semak belukar, yang disebut sebagai hutan mangrove. Hutan mangrove

ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia dan hewan yang hidup

di dalamnya atau disekitarnya, bahkan bagi mahluk hidup yang tinggal untuk

sementara waktu (Arief, 2003).

Secara umum, hutan mangrove didefenisikan sebagai hutan yang terdapat

di daerah-daerah yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh

oleh pasang surut air laut, tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Mangrove

merupakan vegetasi khas di zona pantai, floranya berjenis semak hingga pohon

yang besar dan tingginya hingga 50-60 meter dan hanya mempunyai satu tajuk di

(10)

Hutan mangrove biasa disebut sebagai hutan payau atau hutan bakau.

Namun pengertian hutan mangrove tidak hanya terbatas pada daerah yang

bervegetasi saja, tetapi juga daerah terbuka atau berlumpur, selalu atau secara

teratur tergenang air laut yang terletak diantara hutan dan laut, yang sering dikenal

dengan daerah payau (Istomo, 1992).

Seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk dan pembangunan

diberbagai sektor, baik sektor pertanian hingga sektor perumahan pada dasawarsa

belakangan ini, telah banyak fungsi lingkungan pantai di beberapa daerah

mengalami kerusakan ataupun penurunan. Efek dari kerusakan itu dapat

diindikasikan (diketahui) oleh adanya proses erosi/abrasi pantai, intrusi air laut,

dan degradasi hasil perairan. Adanya penggunaan lahan mangrove untuk berbagai

kepentingan adalah salah satu penyebabnya. Dan mengingat letaknya yang

strategis serta sumber daya alam yang dapat diperoleh dari kawasan ini, banyak

kepentingan masyarakat yang menyebabkan kawasan mangrove mengalami

perlakuan pengelolaan yang melebihi kemampuannya (Arief, 2003).

Saat ini hutan mangrove di dunia hanya tersisa sekitar 17 juta hektar, dan

22% dari luas tersebut terdapat di kawasan Indonesia. Namun luas hutan

mangrove itu telah mengalami kerusakan, bahkan sebagian besar telah berubah

status peruntukannya (fungsi) oleh masyarakat setempat maupun pihak lain yang

berada di sekitar kawasan pantai (Arief, 2003).

Bila dilihat kondisi sekarang, luas hutan pantai yang terdapat di Indonesia

hanya 4,25 juta hektar yang sebagian besar ditumbuhi hutan mangrove. Hutan

mangrove sendiri ada sekitar 3,6 juta hektar. Dimana hutan ini merupakan

(11)

(keanekaragaman jenis) yang tinggi, serta lebih didominasi oleh semak belukar

dan tanaman bakau yang lebih spesifik (Sugiarto dan Willy, 2003).

Dari data yang diperoleh, dapat dipastikan bahwa keadaan hutan mangrove

di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini menghasilkan suatu pemikiran

bahwa telah terjadi suatu tekanan atau kerusakan pada hutan mangrove. Adapun

bentuk tekanan terhadap kawasan mangrove yang paling besar adalah

pengalih-fungsian (konversi) lahan mangrove menjadi tambak udang/ikan, sekaligus

pemanfaatan kayunya untuk diperdagangkan. Selain itu juga tumbuh berbagai

konflik akibat berbagai kepentingan antar lintas instansi sektoral maupun antar

lintas wilayah administratif yang mempengaruhi kondisi maupun luas kawasan

mangrove itu sendiri (Anonim, 2008).

Selain adanya pengalih-fungsian kawasan mangrove, masalah yang paling

disorot pada sektor kehutanan adalah program konservasi (pengelolaan kawasan

lindung). Program konservasi kawasan hutan kurang mendapat perhatian dari

masyarakat dan pemerintah sendiri. Seperti dimaklumi bersama, akibat eksploitasi

hutan yang dilakukan selama beberapa dekade terakhir ini membuat kondisi hutan

di Indonesia rusak. Dalam situasi ini, konservasi merupakan jalan keluar yang

paling rasional untuk menyelamatkan eksistensi hutan di masa depan. Namun

implementasi konservasi tidaklah segampang merumuskan konsepnya. Indikasi

dari kesulitan pelaksanaan konservasi adalah banyaknya konflik yang muncul

antara masyarakat lokal dengan pengelola kawasan konservasi (Yustika, 2005).

Pelestarian ataupun tindakan konservasi kawasan hutan sangat tergantung

kepada lembaga perencanaan sektor kehutanan, selain itu juga tidak terlepas dari

(12)

sangat memahami hutan mangrove. Oleh sebab itu, ada baiknya perencanaan

membangun kembali kehutanan Indonesia harus dimulai dengan menguatkan

lembaga dan personil perencanaan yang berkaitan dengan sektor kehutanan

Indonesia. Dengan prinsip perencanaan pembangunan hutan Indonesia adalah

untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terpadu (berkaitan) antar berbagai

sektor, dan terdapat jenjang waktu serta lingkup wilayah. Sehingga manfaat yang

diperoleh dari hutan lebih optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

tanpa melupakan pelestariannya. Hal ini akan tercapai jika kinerja lembaga

kehutanan lebih baik lagi (Simon, 2004).

Secara ideal, sebaiknya pemanfaatan kawasan mangrove dalam membantu

pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat tidak sampai mengakibatkan kerusakan

terhadap keberadaan mangrove. Selain itu yang menjadi pertimbangan paling

mendasar adalah pengembangan kegiatan yang dapat menguntungkan bagi

masyarakat, namun dengan tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi mangrove

secara ekologis (fisik-kimia dan biologis). Perlu juga mengembangkan mata

pencaharian alternatif bagi masyarakat di sekitar kawasan mangrove dengan

pemanfaatan bahan baku non-kayu dan diversifikasi bahan baku industri

kehutanan (Anonim, 2008).

Untuk menciptakan kawasan mangrove yang lestari, masyarakat di sekitar

kawasan hutan mangrove tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam

mendukung suksesnya kegiatan ini. Peran tersebut dapat secara individual

maupun secara kelompok sebagai organisasi masyarakat. Keberhasilan

pengelolaan hutan mangrove tidak terlepas dari partisipasi/peran serta masyarakat.

(13)

hutan mangrove. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 6 ayat (1)

yang berbunyi “ Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi

lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan

pengerusakan lingkungan hidup “. Kemudian dipertegas dalam penjelasan bahwa

hak dan kewajiban mengandung makna bahwa setiap orang (anggota masyarakat)

baik individu maupun kelompok sebagai organisasi masyarakat turut

berpartisipasi dalam upaya memelihara lingkungan hidup (Sianipar, 2001).

Menurut BPDAS Asahan Barumun dan DAS Wampu Sei Ular (2006),

bahwa luas dan penyebaran hutan mangrove di Sumatera Utara sebesar

364.580,95 hektar. Terdiri dari kawasan hutan rusak berat sebesar 280.939,71

hektar, kawasan hutan rusak sedang sebesar 47.645,41 hektar, dan kawasan hutan

tidak rusak sebesar 35.995,83 hektar. Sedangkan penyebaran hutan mangrove di

Kabupaten Deli Serdang sebesar 12.816,7 hektar. Terdiri dari kawasan hutan

rusak berat sebesar 7.493,4 hektar, kawasan hutan rusak sedang sebesar 3.784,9

hektar, dan kawasan hutan tidak rusak sebesar 1.538,3 hektar.

Namun data ini dikeluarkan oleh BPDAS Asahan Barumun dan DAS

Wampu Sei Ular kurang up to date (terkini ), yaitu data untuk tahun 2006.

Memang dalam mensurvei kawasan hutan mangrove, baik yang rusak berat, rusak

sedang, hingga tidak rusak memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang cukup

besar. Karena kawasan mangrove berada pada area yang sulit dijangkau, yaitu

kawasan berlumpur. Disamping itu kawasan ini memiliki luas yang cukup besar.

Oleh sebab itu penyediaan data-data terbaru mengenai mangrove cukup lama

(14)

Tabel 1. Luas dan Penyebaran Hutan Mangrove di Sumatera Utara (Ha)

10. Tapanuli Selatan 5.304,6

3.044,8 2.259,8 0

Total 364.580,5

280.939,71 47.645,41 35.995,83

Sumber : Inventarisasi dan Identifikasi mangrove BPDAS Asahan Barumun dan DAS Wampu Sei Ular Tahun 2006.

Keadaan hutan mangrove yang semakin mengalami kerusakan tidak

terlepas dari masyarakat yang ada di daerah tersebut, oleh sebab itu sangat

diperlukan masyarakat yang memiliki jiwa partisipasi yang tinggi. Namun pada

kenyataannya, perkembangan pergaulan dan transformasi kemajuan peradaban

masyarakat telah membawa perubahan sikap, kebiasaan dan serta mendorong

mereka untuk mengeksploitasi sumber daya alam pantai dan hutan mangrove.

Masyarakat tersebut semakin berantusias untuk merombak hutan-hutan mangrove

(15)

aktivitas masyarakat ini akan mengganggu fungsi primer dari hutan mangrove itu

sendiri (Anonim, 2007c).

Sikap masyarakat yang hanya memanfaatkan sumber daya hutan

mangrove tanpa memperhatikan kelestariannya dapat merusak ekosistem hutan

mangrove. Untuk itu diperlukan upaya-upaya untuk memperbaiki sikap dan

meningkatkan pola partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove agar

fungsi ganda (fungsi ekologis dan sosial ekonomi) dari hutan mangrove dapat

berjalan dengan baik dan dapat digunakan secara optimal dan lestari (Sianipar,

2001).

1.2 Identifikasi Masalah

Dilihat dari keadaan dan kenyataan yang dipaparkan, baik dalam data

angka luas penyebaran hutan mangrove di Sumatera Utara pada latar belakang

hutan mangrove di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat yang berada di Desa Paluh

Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang dalam upaya

pelestaraian hutan mangrove.

2. Bagaimana hubungan antara karakteristik masyarakat secara individu

dengan tingkat partisipasi terhadap pelestarian hutan mangrove yang

berada di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli

Serdang.

3. Kendala-kendala yang dapat mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat

(16)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka tujuan penelitian

dirumuskan sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam upaya

pelestarian hutan mangrove yang ada di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan

Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.

2. Untuk menganalisis hubungan antara karakteristik masyarakat secara

individu dengan tingkat partisipasi terhadap pelestarian hutan mangrove

yang ada di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli

Serdang.

3. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dapat mempengaruhi tingkat

partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian hutan mangrove di Desa

Paluh Sibaji.

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan informasi mengenai masalah yang berkaitan dengan

partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian hutan mangrove di Desa

Paluh Sibaji, kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.

2. Sebagai bahan acuan dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat

dalam upaya pengelolaan hutan mangrove yang berkelanjutan khususnya

di Desa Paluh Sibaji, kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.

3. Sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak terkait dalam mengambil

kebijakan pengembangan dan pembinaan serta peningkatan partisipasi

(17)

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Menurut Mac Nae (1968), pada mulanya hutan mangrove hanya dikenal

secara terbatas oleh kawasan ahli lingkungan, terutama lingkungan laut.

Mula-mula kawasan hutan mangrove dikenal dengan istilah vloedbosschen (hutan

payau) karena sifat habitatnya yang payau. Berdasarkan dominasi jenis pohonnya,

yaitu bakau, maka kawasan mangrove juga disebut hutan bakau. Kata mangrove

merupakan kombinasi antara kata mangue (bahasa portugis) yang berarti

tumbuhan dan grove (bahasa inggris) yang berarti belukar atau hutan kecil (Arief,

2003).

Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas

tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk

individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.

Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan

individu spesies tumbuhan, dan kata mangal untuk menyatakan komunitas

tumbuhan tersebut (Anonim, 2003).

Mangrove juga dapat digunakan untuk menyebut populasi

tumbuh-tumbuhan dari beberapa spesies yang mempunyai perakaran Pneumatophores

(akar nafas) dan tumbuh di antara garis pasang surut (Steenis, 1978). Sehingga

hutan mangrove juga disebut “hutan pasang”. Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan

(18)

sepanjang pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut, yakni tergenang pada

waktu pasang dan bebas genangan pada waktu surut (Arief, 2003).

Keberadaan hutan mangrove dalam ekosistem pantai merupakan suatu

persekutuan hidup alam hayati dan alam lingkungannya yang terdapat di daerah

pantai dan disekitar muara sungai pada kawasan hutan tropika, yaitu kawasan

hutan yang khas dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove ,

baik di dalam maupun di luar kawasan hutan merupakan jalur hijau daerah pantai

yang mempunyai fungsi ekologis dan sosial ekonomis yang memiliki berbagai

manfaat (Farimansyah, 2005).

Adapun tumbuhan yang dominan hidup di daerah hutan mangrove adalah

bakau. Bakau merupakan jenis pohon yang tumbuh di daerah perairan dangkal

dan daerah intertidal yaitu daerah batas antara darat dan laut dimana pengaruh

pasang surut masih terjadi. Hutan bakau tumbuh di daerah tropis dan subtropics,

yang berfungsi sebagai pelindung pantai dari terjangan gelombang secara

langsung. Oleh karena itu daerah hutan bakau dicirikan oleh adanya lapisan

lumpur dan sedimen halus. Hutan bakau juga menjadi tempat hidup bagi habitat

liar dan memberikan perlindungan alami terhadap angin yang kuat, gelombang

yang dibangkitkan oleh angin (siklon atau badai), dan juga gelombang tsunami

(Anonim, 2005).

Menurut Marsoedi dan Samlawi (1997), hutan mangrove adalah vegetasi

hutan yang tumbuh di daerah pantai dan disekitar muara sungai, yang selalu atau

secara teratur digenangi oleh air laut serta dipengaruhi pasang surut. Vegetasi

hutan mangrove dicirikan oleh jenis-jenis tanaman bakau, api-api, prepat, dan

(19)

salah satu sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan

manusia. Hutan mangrove juga berperan sebagai tempat hidup jenis udang dan

ikan yang bernilai komersial.

Dengan demikian secara ringkas hutan mangrove dapat didefenisiskan

sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, yang tergenang

pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas

tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove

merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang

berinteraksi dengan faktor lingkungan dan dengan sesamanya di dalam suatu

habitat mangrove (Anonim, 2003).

Fungsi dan Manfaat Mangrove

Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan (Gunarto, 2004).

Hutan mangrove mempunyai keterkaitan dalam pemenuhan

kebutuhan hidup manusia sebagai penyedia bahan pangan, papan dan kesehatan.

Fungsi mangrove dibedakan menjadi 5 golongan yaitu; (1) Fungsi Fisik :

(20)

pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi, dll. (2) Fungsi

Kimia : sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen,

sebagai penyerap karbondioksida. (3) Fungsi Biologi : sebagai kawasan untuk

berlindung, bersarang serta berkembangbiak bagi burung dan satwa lain, sebagai

kawasan pemijahan dan daerah asuhan bagi udang. (4) Fungsi

Ekonomi : penghasil ikan, udang, kerang dan kepiting, telur burung serta madu

(nektar), penghasil kayu bakar, arang serta kayu untuk bangunan dan

perabot rumah tangga. (5) Fungsi Wisata : sebagai kawasan wisata alam

pantai, sebagai lahan konservasi dan lahan penelitian (Suwignyo, 2007).

Ekosistem hutan mangrove mempunyai arti penting karena tidak sedikit

jumlah masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam ini

(Sugiarto dan Willy, 2003). Disamping itu adanya berbagai komponen rantai

makanan yang saling bergantung pada ekosistem mangrove ini, yaitu serasah yang

berasal dari tumbuhan mangrove, yang prosesnya dimulai oleh bakteri dan

cendawan yang mengubah daun-daun menjadi detritus yang disebut sebagai bahan

organik. Selanjutnya bahan organik ini menjadi makanan bagi udang atau rebon,

kemudian binatang pemakan detritus menjadi makanan larva ikan, udang, dan

(21)
(22)

Dari segi fungsinya, menurut Wartaputra (1990), hutan mangrove mempunyai fungsi ganda disamping fungsi sosial ekonomis yang sejak lama kegunaannya telah dimanfaatkan secara tradisional oleh sebagian besar masyarakat disekitar pesisir, juga mempunyai fungsi yang sangat penting sekali untuk menjaga keseimbangan lingkungan disekitar pantai yaitu fungsi ekologis (fisik). Dari segi aspek ekologis hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai penahan abrasi, angin taufan, pencegah intrusi air laut, dan pencegah banjir. Disamping itu hutan mangrove juga berfungsi sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat persembunyian, tempat pembenihan berbagai jenis binatang air (Sianipar, 2001).

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Penyebaran Hutan Mangrove

Penyebaran hutan mangrove di Indonesia telah diteliti oleh berbagai

institusi baik organisasi internasional maupun nasional melalui departemen atau

lembaga. Lembaga FAO (1982) memperkirakan luas hutan mangrove Indonesia

4,25 juta hektar, PHPA-AWB (1987) memperkirakan tinggal 3,23 juta hektar,

sedangkan menurut RePPPRot (1985-1989) memperkirakan 3,79 juta hektar, dan

GIESEN (1993) memperkirakan luas hutan mangrove Indonesia tinggal 2,49 juta

hektar. Untuk mengurangi ketidakpastian luas hutan mangrove maka DITJEN

INTAG DEPHUT (1993) memperkirakan bahwa luas hutan mangrove Indonesia

tinggal 3,74 juta hektar (Anonim, 2004). Dari data di atas dapat diketahui bahwa

kawasan hutan mangrove mengalami kemerosotan dari tahun ke tahun dalam

pengelolaan yang bersifat lestari. Hal ini adalah suatu latar belakang perlunya

(23)

2.2.2 Permasalahan Hutan Mangrove

Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam

Hayati dan Ekosistemnya merupakan suatu kekuatan dalam pelaksanaan

konservasi kawasan hutan mangrove ( Arief, 2003). Di dalam undang-undang

tersebut terdapat tiga aspek yang sangat penting, yaitu :

1. Perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan dengan menjamin

terpeliharanya proses ekologi bagi kelangsungan hidup biota dan

keberadaan ekosistemnya.

2. Pengawetan sumber plasma nutfah, yaitu menjamin terpeliharanya sumber

genetik dan ekosistemnya, yang sesuai bagi kepentingan kehidupan umat

manusia.

3. Pemanfaatan secara lestari atau berkelanjutan, baik berupa produksi dan

jasa.

Adapun penyebab kerusakan mangrove yang kerap terjadi menurut

Kusmana (1994) adalah : (1) Pencemaran oleh minyak dan logam berat,

(2) Konversi hutan mangrove yang kurang memperhatikan lingkungan, seperti

budidaya tambak udang dan ikan, lahan pertanian, pembuatan jalan raya, industri,

produksi garam, penggalian pasir laut, dan (3) Penebangan/pemanenan hasil hutan

secara berlebihan (Anonim, 2003).

Faktor-faktor pendukung penyebab kerusakan hutan mangrove adalah

pengaruh dari pertumbuhan ekonomi yang memerlukan tersedianya sarana dan

prasarana transportasi terutama jalan raya. Pembangunan industri, pelabuhan,

(24)

aktivitas perekonomian. Peningkatan aktivitas perekonomian seperti ini ikut

mempercepat terjadinya kerusakan hutan mangrove (Anonim, 2003).

Penyebab utama kerusakan hutan mangrove secara tak terkendali dimasa

lalu ada dua penyebab utama yakni, karena ketidaktahuan kita tentang arti dan

peranan yang sangat penting dari hutan mangrove bagi kehidupan, termasuk

manusia, dan kurangnya penguasaan kita tentang teknik-teknik pengelolaan hutan

mangrove yang ramah lingkungan (Bengen, 2000). Adapun cara-cara

memanfaatkan hutan mangrove cenderung bersifat ekstruktif dan tidak

mengindahkan asas-asas kelestariannya, terjadinya penebangan kayu mangrove

secara semena-mena melebihi kemampuan regenerasinya (Sianipar, 2001).

2.2.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Menurut Arimbi (1993) dalam Sianipar (2001), partisipasi merupakan

instrumen untuk mencapai tujuan tertentu, dimana tujuan dimaksud adalah

dikaitkan dengan keputusan atau tindakan yang lebih baik dalam menentukan

kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini partisipasi datang dari pola pandang

masyarakat yang berada di desa penelitian, dengan tujuan pelestarian hutan

mangrove. Bila dilihat secara umum kata partisipasi dapat diartikan sebagai

keikutsertaan mengambil peran tertentu dalam kegiatan pelestarian kawasan

mangrove. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat adalah kelompok

penduduk yang dapat dikategorikan menjadi masyarakat lokal, masyarakat swasta,

dan masyarakat umum yang ada di desa penelitian (Debdikbud, 1989; dalam

Sianipar, 2001 ).

Partisipasi masyarakat yang terjadi di Desa Paluh Sibaji diartikan sebagai

(25)

pengambilan keputusan, perumusan, pelaksanaan, dan pengawasan kebijakan

dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, serta pembinaan

masyarakat yang mendukung kegiatan pelestarian hutan mangrove. Adapun asas

partisipasi masyarakat yang dipakai adalah kebebasan berpendapat mengeluarkan

pikiran secara lisan dan tulisan secara rasional, efisien, tepat guna dan tepat

sasaran. Sedangkan tujuan dari partisipasi itu adalah meningkatkan kualitas dan

keefektifan kebijakan yang dirumuskan dan ditetapkan dalam membangun

pemerintahan yang demokratis dan partisipatif. Tujuan lainnya adalah

meningkatkan kesadaran masyarakat akan makna penting peran dan tanggung

jawab bersama dalam menentukan masa depan kehidupannya khususnya

pelestarian hutan mangrove, sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal maupun

kebijakan nasional (Sudirman, 2005).

Untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian

hutan mangrove sebaiknya ada keterlibatan aktif masyarakat secara sukarela

dalam seluruh tahapan proses pembangunan bukan melalui para wakilnya.

Dikatakan bahwa pengertian tersebut mengandung substansi pokok yaitu : (1)

Partisipasi dalam perencanaan kegiatan; (2) Partisipasi dalam pelaksanaan keg

iatan; (3) Partisipasi dalam penerimanmanfaat ; (4) Partisipasi dalam pemantuan

dan evaluasi; (5) Partisipasi dalam menerima resiko (Mishra, 1984).

Partisipasi masyarakat juga dapat berupa suatu perwujudan dari proses

intervensi pemerintah dalam kehidupan masyarakat dengan pemberian

bantuan-bantuan yang bersifat stimulan/perangsang (Awang, 2002). Partisipasi secara

kelompok ditunjukkan dengan wujud perpanjangan tangan pemerintah ke tingkat

(26)

informal di desa itu . Berkaitan dengan perekonomian, partisipasi masyarakat

dalam pembangunan ekonomi sekarang bukan lagi merupakan mau tidaknya

masyarakat di desa itu ikut berpartisipasi, tapi sejauh mana masyarakat

memperoleh manfaat dari program partisipasi itu (Soetrisno, 1995).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam

kegiatan palestarian hutan mangrove, terdiri dari tiga hal, yaitu : (1) Keadaan

sosial masyarakat meliputi; pendidikan, tingkat pendapatan, kebiasaan, dan

kedudukan sosial dalam sistem sosial, (2) Kegiatan program pembangunan

meliputi; kegiatan pelestarian mangrove yang direncanakan dan dikendalikan oleh

pemerintah dalam waktu yang telah dijadwalkan. Hal ini dapat mengikutsertakan

organisasi masyarakat, dan (3) Keadaan alam sekitar meliputi; faktor fisik atau

keadaan geografis daerah yang ada pada lingkungan tempat hidup masyarakat

(Amba, 1998).

Berdasarkan hasil penelitian Cut Yusnawati (2004), mengenai pengaruh

sosial ekonomi masyarakat terhadap pemanfaatan hutan mangrove di Kecamatan

Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, bahwa faktor yang mempengaruhi

pemanfaatan hutan mangrove adalah adanya kesiapan, pengetahuan, dan

penyuluhan masyarakat. Sedangkan faktor sosial ekonomi adalah pendapatan dan

umur. Dapat dikatakan bahwa partisipasi masyarakat sangat memegang peranan

penting dalam mempengaruhi penerapan faktor-faktor tersebut dalam pelestarian

hutan mangrove. Menurut Cut Yusnita (2004), untuk merangsang dan memacu

sikap partisipasi pada masyarakat tersebut, diperlukan penyuluhan-penyuluhan

(bimbingan) kepada masyarakat, faktor pengetahuan dan kepatuhan hukum perlu

(27)

Adapun kerusakan pada kawasan mangrove sering ditimbulkan oleh

kepentingan pribadi oleh masyarakat sekitar hutan mangrove itu sendiri. Baik

tujuannya pembuatan tambak, penebangan kayu bakau untuk dijual, maupun

pendirian pelabuhan seperti di Pantai Labu. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian

Tambunan (2004) mengenai pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Asahan,

bahwa kerusakan yang paling parah adalah konversi lahan menjadi tambak.

Melalui observasi Tambunan (2004), bahwa partisipasi masyarakat dalam

perlindungan hutan mangrove, baik dalam perencanaan, sosialisasi, pengawasan,

maupun evaluasi masih sangat rendah.

2.3 Kerangka Pemikiran

Kondisi hutan mangrove yang ada saat ini berada dalam situasi yang

sangat mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari luas hutan mangrove yang

mengalami penyusutan tiap tahunnya. Keadaan ini tidak terlepas dari kerusakan

yang disebabkan oleh alam, dan terutama oleh manusia. Lestarinya kawasan hutan

mangrove sangat dipengaruhi oleh aktifitas yang terjadi di sekitar hutan itu

sendiri. Adapun aktifitas yang dapat membantu pelestarian hutan mangrove itu

adalah adanya partisipasi masyarakat yang timbul secara berkelanjutan dalam

pelestarian hutan mangrove.

Partisipasi masyarakat disekitar hutan mangrove sangat diperlukan untuk

mensukseskan kegiatan pelestarian hutan mangrove. Oleh sebab itu sangat

diperlukan masyarakat yang memiliki jiwa partisipasi yang tinggi. Namun tingkat

partisipasi tiap-tiap masyarakat berbeda. Hal ini disebabkan oleh karakteristik

(28)

masyarakat itu adalah umur, jumlah anggota keluarga, lama masa bermukim,

tingkat pendapatan, dan tingkat pendidikan.

Tingkat partisipasi masyarakat dapat dinilai dari tindakan-tindakan

masyarakat dalam kegiatan pelestarian hutan mangrove yang berkelanjutan di

desa penelitian. Tindakan pelestarian itu dapat berupa kegiatan penanaman bibit

(baik dari lembaga desa maupun individu masyarakat), kegiatan pemeliharaan

hutan mangrove, pengawasan terhadap hutan mangrove, hingga pemanfaatan yang

bersifat lestari. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar.2.

Hasil yang diharapkan dari adanya partisipasi masyarakat dalam

pelestarian hutan mangrove adalah terciptanya kawasan hutan mangrove yang

lestari. Keadaan ini juga akan memberikan pengaruh kepada lingkungan di sekitar

hutan mangrove, dapat berupa manfaat ekologi (lingkungan), manfaat biologi,

hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan itu. Namun pada

kenyataannya ada beberapa kendala yang mempengaruhi tingkat partisipasi

masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove. Kendala ini dapat menghambat

(29)

Keterangan : (Menyatakan hubungan)

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran

Tingkat

Partisipasi

Masyarakat

Tindakan

Pelestarian :

- Penanaman Bibit - Pemeliharaan - Pengawasan - Pemanfaatan

Bersifat Lestari

Hutan

Mangrove

Lestari

Karakteristik

Masyarakat

:

- Umur

- Jumlah Anggota Keluarga

- Lama Bermukim - Pendapatan - Pendidikan

(30)

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah, maka yang menjadi hipotesis dalam

penelitian adalah sebagai berikut :

1. Tingkat partisipasi masyarakat di Desa Paluh Sibaji terhadap pelestarian

hutan mangrove adalah rendah.

2. Terdapat hubungan antara karakteristik masyarakat secara individu

terhadap tingkat partisipasi dalam upaya pelestarian hutan mangrove,

dimana :

a. Semakin tinggi umur masyarakat maka semakin tinggi tingkat

partisipasi masyarakat terhadap pelestarian hutan mangrove.

b. Semakin besar jumlah anggota keluarga masyarakat maka semakin

tinggi tingkat partisipasi masyarakat terhadap pelestarian hutan

mangrove.

c. Semakin lama masa bermukim masyarakat maka semakin tinggi tingkat

partisipasi masyarakat terhadap pelestarian hutan mangrove.

d. Semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat maka semakin tinggi

tingkat partisipasi masyarakat terhadap pelestarian hutan mangrove.

e. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka semakin tinggi

(31)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penetuan Daerah Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu.

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja), karena Desa

Paluh Sibaji memiliki kawasan hutan mangrove, dan pernah terdapat kegiatan

penanaman bibit mangrove oleh pemerintah. Selain itu desa ini merupakan daerah

yang dapat dijangkau bila dilihat dari adanya akses transportasi dan biaya untuk

mendapatkan data di lokasi penelitian.

3.2 Metode Penarikan Sampel

Dalam penelitian ini, pemilihan sampel/responden sebagai unit penelitian

dilakukan dengan metode simple random sampling (acak sederhana). Adapun

populasi dalam objek penelitian ini adalah penduduk yang bertempat tinggal di

wilayah desa Paluh Sibaji dengan sampel yaitu masyarakat yang terpilih secara

acak. Jumlah sampel ditetapkan dengan metode Slovin (Umar, 2004), yaitu :

n = N

1 + N (e2)

Keterangan :

n = Ukuran sampel penelitian (jiwa).

N = Ukuran populasi (jiwa).

(32)

Jadi, berdasarkan jumlah kepala keluarga tahun 2007 di desa Paluh Sibaji

sebesar 690 dan e = 10%, diperoleh jumlah sampel sebesar :

n = 690

1 + 690 (0,12)

n = 87,34 = 87 Kepala Keluarga

Adapun data-data yang digunakan adalah data yang memiliki indikasi ada

atau tidaknya partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove di desa

Paluh Sibaji. Data ini diperoleh dari hasil kuisioner dan wawancara langsung

kepada sampel penelitian serta data sekunder yang diperoleh dari Dinas

Kehutanan, BPS, dan instansi lainnya. Adapun data-data yang diperlukan adalah :

1. Aspek karakteristik individu sampel ; umur, jumlah anggota keluarga,

lama bermukim, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan jenis

pekerjaan.

2. Aspek partisipasi masyarakat yang meliputi; aktivitas mengikuti

penyuluhan, penanaman, pengawasan, dan pemeliharaan baik atas

kehendak sendiri maupun oleh pemerintah dalam pelestarian hutan

mangrove.

3. Luas dan penyebaran hutan mangrove di Sumatera Utara dan

Kabupaten Deli Serdang.

4. Jumlah penduduk Kecamatan Pantai Labu Tahun 2007, dan Desa Paluh

(33)

3.3 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam pengumpulan data

adalah metode survei yang bersifat deskriptif korelasional serta observasi

lapangan. Sedangkan data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data

sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara dan pengisian

daftar pertanyaan (kuisioner) kepada pihak-pihak yang dikualifikasikan sebagai

sampel, yaitu masyarakat yang berada di desa Paluh Sibaji.

Kuisioner tersebut meliputi pemahaman mengenai partisipasi dalam upaya

pelestarian hutan mangrove, yaitu kegiatan atau aktivitas sampel mengikuti

kegiatan penyuluhan, penanaman dan pemeliharaan hutan mangrove yang

dilakukan lembaga desa maupun aktivitas penanaman dan pemeliharaan terhadap

hutan mangrove yang dilakukan atas kehendak sendiri. Serta pemahaman akan

kegiatan, kelembagaan, dan manfaat yang diperoleh dari hutan mangrove. Untuk

pengumpulan data sekunder diperoleh dari instansi terkait seperrti ; Dinas

Kehutanan, Badan Pusat Statistik Kabupaten dan Kecamatan, internet, serta

informasi lainnya dari tokoh-tokoh masyarakat yang ada di desa Paluh Sibaji.

3.4 Metode Analisis Data

Data yang telah diperoleh dalam penelitian diolah dan ditabulasikan,

kemudian dimasukkan ke dalam tabel dan dihitung frekuensi dan persentasenya

sesuai dengan kriterianya. Tindakan terakhir penganalisisan dan dijabarkan

hasilnya.

Penilaian rentang besaran tingkat partisipasi serta karakteristik atau

kondisi setiap unsur pada masing-masing parameter yang diamati dilakukan

(34)

masyarakat dengan menggunakan ukuran ordinal (Nazir, 2005). Untuk lebih jelas

dapat dilihat pada Tabel.2.

Tabel 2. Skala Tingkat Partisipasi Responden

No.

Tingkat Partisipasi Responden

Pilihan Jawaban Terhadap Pertanyaan Skor

1 2

3

4

5

A B

C

D

E

4 3

2

1

0

Untuk menafsirkan tingkat partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian

hutan mangrove di desa Paluh Sibaji, maka dibuat rentang total nilai seperti

(35)

Tabel 3. Indikator Tingkat Partisipasi Berdasarkan Rentang Skor

No. Rentang Persentase Skor Tingkat Partisipasi

1

2

3

4

5

81 – 100

61 – 80

41 – 60

21 – 40

0 – 20

Sangat Tinggi

Tinggi

Sedang

Rendah

Sangat Rendah

Untuk menganalisis data dilakukan dengan analisis deskriptif korelasional

dengan menggunakan uji Korelasi Peringkat Spearman (Nazir, 2005), dan rumus

yang digunakan adalah sebagai berikut :

rs = 1 – 6 ∑ di2 N3 – N

Keterangan :

rs = Koefision Korelasi Spearman

di = Beda antara 2 pengamatan berpasangan

(36)

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara variabel

yang diteliti sebagai pengujian hipotesis digunakan uji t pada taraf α = 0,05

(Djarwanto, 1996) dengan rumus :

t = rs N - 2 1 - rs2

Keterangan :

t = Studen ( Taraf Signifikansi )

rs = Koefisien Korelasi Spearman

N = Total Pengamatan

Dengan kriteria uji sebagai berikut :

- H0 diterima apabila t-hitung < t-tabel

- H1 diterima apabila t-hitung > t-tabel

Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut :

H0 : Tidak terdapat hubungan antara variabel individu masyarakat terhadap

tingkat partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove.

H1 : Terdapat hubungan antara variabel individu masyarakat terhadap tingkat

partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove.

Variabel individu masyarakat yang dikaji adalah :

1. Umur.

2. Jumlah anggota keluarga.

(37)

4. Tingkat pendapatan.

5. Tingkat pendidikan.

Untuk memudahkan dalam mengolah dan menganalisis dalam penelitian

ini, maka dipergunakan perangkat komputer dengan program SPSS for Windows.

3.5 Defenisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Defenisi

Untuk menghindari kesalahan pengertian dan defenisi yang berbeda-beda

dalam mengartikan hasil penelitian ini, maka variabel yang diamati perlu

didefenisikan secara khusus guna memberikan batasan-batasan terhadap setiap

variabel yang diteliti sebagai berikut :

1. Partisipasi Masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat dalam pelestarian

hutan mangrove, dalam bentuk mengikuti kegiatan penyuluhan, penanaman,

pemeliharaan, dan pengawasan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh

pemerintah desa maupun kehendak sendiri.

2. Karakteristik Individu, meliputi :

- Umur, adalah usia sampel yang dihitung dari tahun lahir sampai saat

penelitian dilaksanakan dan dinyatakan dalam tahun.

- Pendidikan, adalah lama pendidikan formal yang diikuti oleh sampel yang

dinyatakan dalam tahun.

- Tingkat Pendapatan, yaitu penghasilan rata-rata sampel setiap bulan yang

diperoleh dari berbagai sumber.

- Lama Bermukim, yaitu lamanya sampel mulai tinggal di desa penelitian

(38)

- Jumlah Anggota Keluarga, adalah banyaknya anggota keluarga yang

ditanggung dalam satu keluarga.

3. Lain – lain :

- Pelestarian adalah suatu tindakan nyata untuk menjaga suatu keberadaan

sumber daya alam tetap tersedia dalam kondisi yang tidak rusak.

- Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara

sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut, yakni tergenang pada

waktu pasang dan bebas genangan pada waktu surut.

3.5.2 Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dari penelitian ini adalah :

1. Daerah penelitian adalah Desa Paluh Sibaji Kecamatan Pantai Labu.

2. Penelitian yang dilakukan adalah Partisipasi Masyarakat Dalam

Pelestarian Hutan Mangrove.

3. Waktu penelitian adalah tahun 2008.

Indikator dan cara pengukuran setiap parameter yang dilakukan dalam

(39)

IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

Lokasi penelitian berada di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu

yang berada di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Desa Paluh Sibaji berada

dikawasan Pantai Timur Sumatera Utara, yang langsung menghadap ke Selat

Malaka. Desa Paluh Sibaji memiliki 4 dusun, yaitu ; Dusun I, Dusun II, Dusun III,

dan Dusun IV.

4.1.1 Keadaan Geografis

Secara geografis, Kecamatan Pantai Labu terletak di antara koordinat 20

57’ – 30 16 LU dan 980 37’ – 990 27’ BT. Berdasarkan batas administratif,

Kecamatan Pantai Labu memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Berbatasan dengan Selat Malaka

 Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Pantai

Cermin, Kab. Serdang Bedagai.

 Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Beringin.

 Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan

(40)

4.1.2 Topografi

Keadaan topografi di wilayah lokasi penelitian adalah daerah pantai,

dengan ketinggian 0 – 8 meter di atas permukaan laut yang berbatasan langsung

dengan Selat Malaka.

Faktor iklim yang berpengaruh besar terhadap wilayah pantai adalah curah

hujan dan angin. Daerah Kecamatan Pantai Labu beriklim tropis dengan dua

musim yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan suhu berkisar antara 230C

s/d 340C. Kedua musim ini sangat dipengaruhi oleh angin laut yang membawa

hujan dan angin gunung yang membawa panas dan lembab. Curah hujan yang

menonjol di wilayah Kecamatan Pantai Labu adalah pada bulan Maret, April,

September sampai bulan Desember. Sedangkan musim kemarau terjadi pada

bulan Januari, Februari, Mei sampai bulan Agustus.

4.1.3 Luas Wilayah

Luas wilayah Kecamatan Pantai Labu adalah 81,85 Km2 atau 8.185 Ha,

dan dalam administrasi pemerintah terdiri dari 19 Desa dan 76 Dusun, dimana

salah satu desa dipilih sebagai lokasi penelitian yaitu Desa Paluh Sibaji.

Khusus pemerintahan di Desa Paluh Sibaji, yang merupakan daerah

penelitian memiliki luas wilayah 2, 06 Km2, terdiri dari 4 dusun dengan kepadatan

(41)

Tabel 4. Daftar Rincian Pemerintahan Kecamatan Pantai Labu

Pantai Labu Pekan

Pantai Labu Baru

Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Pantai Labu 2007

4.1.4 Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana desa akan mempengaruhi perkembangan dan

kemajuan masyarakat. Semakin baik atau lengkap sarana dan prasarana

pendukung maka akan mempercepat laju perkembangan desa tersebut. Sarana dan

(42)

Tabel 5. Daftar Rincian Sarana dan Prasarana di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

No. Uraian Jumlah

(unit)

1. Kantor Kepala Desa 1

2. Sekolah Dasar ( SD ) Negeri 1

3. Sekolah Dasar ( SD ) Swasta 1

4. SLTP Swasta 1

5. SLTA Swasta 1

6. Polindes 1

7. Posyandu 20

8. Mushollah 4

Jumlah 30

Sumber : Data Monografi Desa Paluh Sibaji 2007

Dari Tabel.7 di atas dapat diketahui bahwa fasilitas pendidikan yang

tersedia adalah 2 unit SD (Sekolah Dasar), 1 unit SLTP (Sekolah Lanjutan

Tingkat Pertama), dan 1 unit SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Adapun

sarana beribadah sudah cukup baik, hal ini terlihat dari adanya 4 unit mushollah.

Untuk sarana kesehatan masyarakat tersedia 20 unit posyandu (pos pelayanan

(43)

4.1.5 Demografi

Keadaan penduduk di desa penelitian kebanyakan adalah nelayan, karena

lokasi penelitian berada pada daerah pesisir pantai. Lokasi ini juga merupakan

daerah pantai yang masih berada pada jalur hijau. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat Tabel.6.

Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Paluh Sibaji Tahun 2006

Rentang Umur

( Tahun )

Jumlah Penduduk

Jiwa %

0 – 4 346 11,17

5 – 9 392 12,66

10 – 14 351 11,33

15 – 19 339 10,94

20 – 24 331 10,69

25 – 29 333 10,75

30 – 34 186 6,01

35 – 39 221 7,13

40 – 44 154 4,97

45 – 49 146 4,71

50 – 54 108 3,48

55 – 60 58 1,87

> 60 131 4.23

Jumlah 3096 100

Sumber : Data Monografi Desa Paluh Sibaji 2006

Dilihat dari data penduduk, maka didapat kelompok umur yang kurang

produktif 0 – 14 tahun sebanyak 35,17 % ( 1089 jiwa ). Kemudian kelompok

umur produktif 15 – 60 tahun sebanyak 60,59 % ( 1876 jiwa ). Dan kelompok

umur tidak produktif > 60 tahun adalah 4,23 % ( 131 jiwa ). Dapat dilihat bahwa

(44)

bahwa pertumbuhan penduduk juga tinggi, dimana hal ini juga dapat

mempengaruhi tingkat perkembangan desa itu sendiri.

4.2 Deskripsi Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat yang

bermukim di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu yang merupakan wilayah

pemerintahan Kabupaten Deli Serdang. Adapun yang menjadi sampel adalah

sebanyak 87 kepala keluarga yang diambil secara acak dengan mempergunakan

metode simple random sampling (acak sederhana). Gambaran Umum responden

mencakup karakteristik individu, yaitu ; umur, pendidikan, pekerjaan,

pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan lama bertempat tinggal (bermukim).

Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut.

4.2.1 Komposisi Responden Berdasarkan Kelompok Umur

Responden pada desa penelitian kebanyakan berusia produktif, dimana

sebagian besar bekerja sebagai nelayan .Adapun komposisi responden penelitian

berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel.7.

Tabel 7. Komposisi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

Rentang Umur

(45)

Karakteristik umur responden di Desa Paluh Sibaji adalah berbeda-beda.

Ditemukan karakterisrik umur responden yang paling banyak secara umum adalah

pada rentang umur 21 sampai > 50 tahun. Untuk rentang umur 21 – 30 tahun ada

sebanyak 13,79 % ( 12 KK ). Umur 31 – 40 tahun sebanyak 26,45 % ( 23 KK ).

Untuk rentang umur > 50 tahun ada sebanyak 25,28 % ( 22 KK ). Dan untuk

rentang umur responden yang terbanyak berada pada rentang umur 41 – 50 tahun,

yaitu sebesar 34,48 % ( 30 KK).

4.2.2 Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga

Komposisi jumlah anggota keluarga yang dimaksud pada desa penelitian

adalah jumlah anggota keluarga yang menetap dalam satu rumah tangga dan

masih mendapat tanggungan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel.8.

Tabel 8. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

Jumlah Anggota Keluarga

Sumber Data : Data Primer, 2008

Komposisi jumlah anggota keluarga responden di Desa Paluh Sibaji

rata-rata berada pada rentang < 2 sampai > 7 KK. Untuk jumlah anggota keluarga

responden pada rentang 2 – 3 jiwa ada sebanyak 16,09 % ( 14 KK ). Untuk jumlah

(46)

KK ). Jumlah anggota keluarga responden pada rentang 6 – 7 jiwa ada sebanyak

24,13 % ( 21 KK ). Dan untuk jumlah anggota keluarga responden pada rentang

>7 jiwa ada sebanyak 21,83 % ( 19 KK ).

Jadi, dapat dilihat bahwa jumlah anggota keluarga responden terbesar

berada pada rentang 4 – 5 jiwa, yaitu 37,93 % ( 33 KK ). Dan untuk rentang

jumlah anggota keluarga terkecil berada pada 2 - 3 jiwa, yaitu 16,09 % (14 KK).

4.2.3 Komposisi Responden Berdasarkan Lama Masa Bermukim

Komposisi responden berdasarkan lama masa bermukim adalah jumlah

responden berdasarkan lama tinggal responden mulai dari tahun tinggal di desa

sampai saat penelitian dilaksanakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

Tabel.9.

Tabel 9. Komposisi Responden Berdasarkan Masa Lama Bermukim di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

Lama masa bermukim responden di Desa Paluh Sibaji adalah

berbeda-beda. Ditemukan lama masa bermukim responden rata-rata secara umum adalah

pada rentang < 10 sampai > 40 tahun. Untuk responden dengan lama masa

(47)

lama masa bermukim 10 – 20 tahun ada sebanyak 14,94 % ( 13 KK ). Untuk

responden dengan lama masa bermukim 21 – 30 tahun ada sebanyak 9,19 % ( 8

KK ). Untuk responden dengan lama masa bermukim 31 – 40 tahun ada sebanyak

27,58 % ( 24 KK ). Dan untuk responden dengan lama masa bermukim > 40 tahun

ada sebanyak 36,78 % ( 32 KK ).

Berdasarkan komposisi responden, banyak yang ditemukan sudah lama

bermukim di Desa Paluh Sibaji, dapat dilihat dari masa lama bermukim responden

terbesar pada rentang > 40 tahun, yaitu sebesar 36,78% ( 32 KK ). Sedangkan

yang terkecil berada pada rentang 21 – 30 tahun, yaitu sebesar 9,19 % ( 8 KK ).

4.2.4 Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Adapun komposisi responden berdasarkan tingkat pendapatan adalah

jumlah responden berdasarkan penghasilan rata-rata yang diperoleh dalam satu

bulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel.10.

Tabel 10. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

Sumber Data : Data Primer, 2008.

Secara umum komposisi tingkat pendapatan responden berada pada

(48)

tingkat pendapatan Rp. 300.000 sampai 500.000 adalah yang terkecil sebanyak

16,09 % ( 14 KK ). Responden dengan pendapatan Rp. 550.000 sampai Rp.

750.000 adalah yang terbesar, yaitu 33,33 % ( 29 KK ). Responden dengan

pendapatan Rp. 800.000 sampai Rp. 1.000.000 ada sebesar 25,28 % ( 22 KK ).

Dan responden dengan pendapatan > Rp. 1.000.000 ada sebesar 25,28 % (22

KK). Dapat dilihat rata-rata mata pencaharian responden di desa penelitian masih

rendah. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden hanya memiliki satu

sumber pencaharian, yaitu sebagai nelayan.

4.2.5 Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Komposisi responden berdasarkan tingkat pendidikan yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah jumlah responden berdasarkan lama pendidikan

formal yang pernah diikuti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel.11.

Tabel 11. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

Tingkat Pendididkan Jumlah Penduduk

Kepala Keluarga %

Sumber Data : Data Primer, 2008

Dari data responden dapat dilihat bahwa sebagian besar responden adalah

(49)

sekolah sebesar 3,44 % ( 3 KK ). Sedangkan yang tidak tamat SD ada sebesar

31,01 % ( 27 KK ), tamat tingkat SLTP sebesar 14,94 % ( 13 KK ), tamat tingkat

SLTA sebesar 10,43 % ( 9 KK ), dan belum ada responden yang mengenyam

pendididikan perguruan tinggi. Rendahnya mutu pendidikan para responden

disebabkan kurangnya biaya untuk mengenyam pendidikan atau melanjut ke

jenjang yang lebih tinggi. Sehingga belum ada responden yang mengenyam

pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi karena mereka lebih memilih ikut

melaut dari pada bersekolah karena dengan begitu tenaga untuk melaut lebih

besar sehingga dapat menangkap ikan lebih lama dilaut dan lebih banyak hasil

tangkapannya.

4.2.6 Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Untuk mengetahui komposisi responden berdasarkan jenis pekerjaan,

dapat dilihat pada Tabel.12.

Tabel 12. Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Desa Paluh Sibaji Tahun 2007

Jenis Pekerjaan Jumlah Penduduk

Kepala Keluarga %

(50)

Secara umum jenis pekerjaan responden sebagian besar adalah nelayan,

yaitu sebesar 77,01 % ( 67 KK ). Petani sebesar 3,44 % ( 3 KK ), pegawai swasta

13,79 % ( 12 KK ), Pedagang 2,29 % ( 2 KK ), PNS 1,15 % ( 1 KK ), dan

lain-lain sebesar 2,29 % ( 2 KK ). Banyak responden yang bekerja sebagai nelayan

dapat dimaklumi, karena desa penelitian berada pada daerah pesisir pantai.

Adapun jenis pekerjaan lainnya tidak begitu dominan ( menonjol ) dibandingkan

pekerjaan nelayan. Pekerjaan selain nelayan ini dilakoni responden hanya sebagai

sampingan atau karena responden tersebut memiliki kesempatan seperti modal

(51)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Tingkat Partisipasi Masyarakat Terhadap Pelestarian Hutan Mangrove

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa partisipasi

masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove yang dimaksud dalam penelitian

ini adalah untuk mengetahui seberapa besar sikap masyarakat dalam menanggapi

keadaan lingkungan di sekitarnya terutama pada kawasan pesisir yang terdapat

tumbuhan mangrove atau disebut hutan bakau. Dengan demikian akan diharapkan

adanya pemanfaatan hutan mangrove atau apapun yang memiliki nilai ekonomis

dan ekologis dari hutan mangrove tersebut secara optimal dan lestari. Dalam

kaitannya dengan pelestarian hutan mangrove maka yang menjadi indikator dari

penelitian ini adalah karakteristik individu yang meliputi umur, jumlah anggota

keluarga, masa lama bermukim, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan

masyarakat yang ada di Desa Paluh Sibaji.

Secara keseluruhan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pelestarian

hutan mangrove, yang dilihat dari aspek karakteristik individu masyarakat (umur,

jumlah anggota keluarga, lama masa bermukim, tingkat pendapatan, dan tingkat

pendidikan), diperoleh nilai tingkat partisipasinya pada taraf sedang, yaitu sebesar

49,78 %. Nilai ini diperoleh dari nilai rata-rata total skor tingkat partisipasi para

responden yang telah diwawancarai sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada lampiran 5e. Namun nilai ini berbeda dengan Hipotesis 1 yang

menyatakan tingkat partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove di

Desa Paluh Sibaji adalah rendah. Jadi H0 diterima dan H1ditolak, artinya

(52)

Pada perhitungan tingkat partisipasi ini, akan dianalisis kekuatan atau

pengaruh dari karakteristik individu (yaitu ; umur, jumlah anggota keluarga, lama

masa bermukim, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan) terhadap partisipasi

yang diberikan oleh masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove di Desa Paluh

Sibaji. Untuk lebih jelasnya, perhitungan tingkat partisipasi dalam pelestarian

hutan mangrove dapat dilihat pada analisis-analisis di bawah ini.

5.1.1 Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Umur

Untuk mengetahui analisis tingkat partisipasi berdasarkan umur dapat

dilihat pada Tabel.13.

Tabel 13. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Umur

Umur

( Tahun )

Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Total S.Tinggi Tinggi Sedang Rendah S.Rendah

> 50

Pada tabel ini dapat diketahui kategori umur > 50 tahun yang memiliki

tingkat partisipasi ada sebanyak sebanyak 25,3 % (22 KK). Pada kategori umur

41-50 tahun yang memiliki tingkat partisipasi ada sebanyak 34,5 % (30 KK).

Kategori umur 31-50 tahun yang memiliki tingkat partisipasi ada sebanyak 26,4 %

(23 KK). Untuk kategori umur 21-30 tahun yang memiliki tingkat partisipasi ada

(53)

Jadi dari hasil analisis tingkat partisipasi berdasarkan umur pada Tabel.13

dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat partisipasi masyarakat yang paling

dominan ( menonjol ) adalah pada taraf sedang sebesar 65,5 % (57 KK). Dilihat

dari rentang umur, rata-rata responden sedang berada pada usia produktif,

sehingga ada kecendrungan tiap responden berkemampuan untuk berpartisipasi

dalam suatu kegiatan seperti pelestarian hutan mangrove.

5.1.2 Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga

Untuk mengetahui analisis tingkat partisipasi berdasarkan jumlah anggota

keluarga dapat dilihat pada Tabel.14.

Tabel 14. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga

Jlh.Ang.Kel

( Jiwa )

Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Total S.Tinggi Tinggi Sedang Rendah S.Rendah

> 7

Pada tabel ini dapat diketahui bahwa keluarga yang berjumlah anggota

keluarga > 7 jiwa, yang berpartisipasi sebanyak 21,8 % (19 KK). Pada keluarga

dengan jumlah anggota keluarga 6-7 jiwa, yang berpartisipasi sebanyak 24,1 %

(54)

sebanyak 37,9 % (33 KK). Sedangkan untuk kategori yang berjumlah anggota

keluaga 2-3 jiwa, yang berpartisipasi sebanyak 16,09 % (14 KK).

Jadi dari hasil analisis tingkat partisipasi berdasarkan jumlah anggota

keluarga pada Tabel.14 dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat partisipasi

masyarakat yang paling dominan (menonjol) adalah pada taraf sedang sebesar

65,5 % (57 KK).

5.1.3 Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Lama Masa Bermukim

Untuk mengetahui analisis tingkat partisipasi berdasarkan lama masa

bermukim dapat dilihat pada Tabel.15.

Tabel 15. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Lama Masa Bermukim

M.Bermukim

( Tahun )

Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Total S.Tinggi Tinggi Sedang Rendah S.Rendah

> 40

Dari hasil tabulasi silang di atas diperoleh masyarakat yang bermukim >

40 tahun sebesar 36,8 % (32 KK). Untuk masyarakat yang bermukim 31-40 tahun

sebesar 27,5 % (24 KK). Untuk masyarakat yang bermukim 21-30 tahun sebesar

9,2 % (8 KK). Sedangkan masyarakat yang bermukim 10-20 tahun sebesar 14,9 %

(55)

KK). Jadi dari hasil analisis tingkat partisipasi berdasarkan masa lama bermukim

pada Tabel.15 dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat partisipasi masyarakat yang

paling dominan (menonjol) adalah pada taraf sedang sebesar 65,5% (57 KK).

5.1.4 Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Untuk mengetahui analisis tingkat partisipasi berdasarkan tingkat

pendapatan dapat dilihat pada Tabel.16.

Tabel 16. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendapatan

T.Pendapatan

( Rp/Bulan )

Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Total S.Tinggi Tinggi Sedang Rendah S.Rendah

> 1.000.000

Dari hasil tabulasi silang pada Tabel.16 diperoleh masyarakat yang

berpendapatan > Rp. 1.000.000 per bulan sebesar 25,3 % (22 KK). Untuk

masyarakat yang berpendapatan Rp. 1.000.000 – Rp. 800.000 per bulan sebesar

25,3 % (22 KK). Sedangkan masyarakat berpendapatan Rp. 750.000 – Rp.

550.000 per bulan sebesar 33,3 % (29 KK). Dan untuk masyarakat berpendapatan

(56)

Jadi dari hasil analisis tingkat partisipasi berdasarkan tingkat pendapatan

pada Tabel.16 dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat partisipasi masyarakat yang

paling dominan (menonjol) adalah pada taraf sedang sebesar 67,8% (59 KK).

Dapat dilihat rata-rata mata pencaharian responden di desa penelitian

masih rendah. Sering kali hasil tangkapan ikan para responden tidak menentu

hasilnya, kadang-kadang banyak tapi lebih sering sedikit. Ini dikarenakan hasil

produksi nelayan bergantung kepada kondisi alam (dipengaruhi alam), seperti

keadaan angin, musim, ombak, hujan, dan lain-lain.

Oleh sebab itu masyarakat kurang peduli pada kegiatan pelestarian hutan

mangrove. Mereka lebih memilih ikut melaut bersama keluarganya, karena

dengan begitu tenaga untuk melaut lebih besar sehingga dapat menangkap ikan

lebih lama dilaut dan lebih banyak hasil tangkapannya dan memperoleh

(57)

5.1.5 Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Untuk mengetahui analisis tingkat partisipasi berdasarkan tingkat

pendidikan dapat dilihat pada Tabel.17.

Tabel 17. Analisis Tingkat Partisipasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan T.Pendidikan

( Tahun )

Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Total S.Tinggi Tinggi Sedang Rendah S.Rendah

> 12

Dari hasil tabulasi silang di atas diperoleh masyarakat yang mengenyam

pendidikan 9 tahun sebesar 10,3 % (9 KK). Sedangkan masyarakat yang

mengenyam pendidikan 6 tahun sebesar 55,2 % (48 KK). Dan masyarakat yang

mengenyam pendidikan < 6 tahun sebesar 34,5 % (30 KK). Jadi dari hasil analisis

tingkat partisipasi berdasarkan tingkat pendidikan pada Tabel.17 dapat ditarik

kesimpulan bahwa tingkat partisipasi masyarakat yang paling dominan (menonjol)

(58)

5.2 Analisis Hubungan antara Karakteristik Individu Masyarakat dengan Tingkat Partisipasi dalam Pelestarian Hutan Mangrove

Untuk melihat hubungan antara karakteristik individu masyarakat dengan

tingkat partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove dapat diketahui

dengan korelasi Rank Spearman (rs) pada Tabel.18.

Tabel 18. Korelasi Rank Spearman antara Karakteristik Individu Masyarakat dengan Tingkat Partisipasi

Karakteristik Individu

2. Jumlah Anggota Keluarga

3. Lama Masa Bermukim

4. Tingkat Pendapatan

Sumber : Correlation Rank Spearman SPSS 15.0 (Lampiran 6)

5.2.1 Hasil Analisis Hubungan Umur dengan Tingkat Partisipasi

Dari hasil analisis hubungan umur dengan tingkat partisipasi pada

Tabel.18 dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,035.

Hubungan ini sangat lemah namun memiliki angka probabilitas sebesar 0,747

lebih besar dari α = 0,05 pada taraf kepercayaan 95 % (artinya, Ho diterima).

Begitu juga jika dibandingkan angka hitung = 0,322 lebih kecil dari pada angka

t-tabel (87 : 0,05) = 1,980.

Keadaan ini dapat diinterpretasikan bahwa variabel umur di desa

penelitian tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap tingkat partisipasi

masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove. Meskipun korelasinya sangat

Gambar

Tabel 1.   Luas dan Penyebaran Hutan Mangrove di Sumatera Utara (Ha)
Gambar  1.  Bagan
Gambar  2.  Skema Kerangka Pemikiran
Tabel  2.   Skala Tingkat Partisipasi Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Di Kelurahan Tekolabbua perilaku masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove terkategori sedang dengan rataan skor 65.2, sedangkan perilaku masyarakat dalam pelestarian hutan

2) mengkaji aktivitas masyarakat yang mempengaruhi kerusakan hutan mangrove dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas masyarakat terhadap kerusakan hutan mangrove di

Penelitian ini penting dilakukan untuk melihat Kontribusi Pelestarian Hutan Mangrove Terhadap Tingkat Pendapatan Kelompok Pengelola Mangrove (KPM) Belukap di Desa

Semakin tinggi tingkat pengetahuan maka akan semakin tinggi peran serta masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove, Namun hal ini tidak terjadi pada masyarakat di Desa Batu Gajah

Di Kelurahan Tekolabbua perilaku masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove terkategori sedang dengan rataan skor 65.2, sedangkan perilaku masyarakat dalam pelestarian hutan

Adapun hasil penelitian ini diketahui bahwa tingkat partisipasi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove adalah sedang dengan indek 58,65% dimana tidak ada hubungan

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Tingkat Pengetahuan dan Pertisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan Mangrove di Desa Maccini Baji Kecamatan

2) mengkaji aktivitas masyarakat yang mempengaruhi kerusakan hutan mangrove dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas masyarakat terhadap kerusakan hutan mangrove di