• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Pidana Mati Terhadap Pelaku Korupsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Urgensi Pidana Mati Terhadap Pelaku Korupsi"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

URGENSI PIDANA MATI TERHADAP PELAKU KORUPSI

TESIS

Oleh

HINDUN HARAHAP

087005076/HK

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

URGENSI PIDANA MATI TERHADAP PELAKU KORUPSI

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Dalam Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

HINDUN HARAHAP

087005076/HK

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Tesis : URGENSI PIDANA MATI TERHADAP PELAKU KORUPSI

Nama Mahasiswa : Hindun Harahap Nomor Pokok : 087005076

Program Studi : Ilmu Hukum

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Alvi Syahrin, SH, MS) Ketua

(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum)(Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM)

Anggota Anggota

Ketua Program Studi D e k a n

(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH) (Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 14 Agustus 2010

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Alvi Syahrin, SH, MS

Anggota : 1. Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M, Hum

2. Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM

(5)

ABSTRAK

Di Indonesia praktek korupsi sudah semakin meluas dan bahkan sudah sampai disegala aspek kehidupan, baik ditingkat pusat maupun di daerah, korupsi disebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan karena telah menyebabkan timbulnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat. Upaya pemberantasan korupsi telah direalisasikan dalam kerangka yuridis pada masa pemerintahan Habibie dengan keluarnya UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menggantikan UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang kemudian diubah lagi menjadi Uu RI No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam era reformasi, penjatuhan pidana bagi pelaku korupsi mengalami perkembangan dengan makin mencuatnya wacana penjatuhan pidana mati bagi koruptor, banyak pro dan kontra tentang pemberlakuan pidana mati untuk kasus korupsi.

Tulisan ini mengangkat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan Urgensi Pidana Mati terhadap Pelaku korupsi, yakni tentang Urgensi Pidana Mati Terhadap Pelaku Korupsi dalam upaya pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, dan Penerapan Pidana Mati dalam upaya pemberantasan Tindak pidana Korupsi di Indonesia.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doctrinal yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku, maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan.

(6)

mengatur tentang pidana mati, sehingga pidana mati masih dipahami sebagai sesuatu yang sah secara hukum maupun moral.

(7)

ABSTRACT

In Indonesia, corruption has been increasingly practiced and even spread into all aspects of life either at the local or central levels. Corruption is called a crime for humanity because its practice has resulted in people’s poverty and suffering. During habibie’s administration, the attempt to fight corruption had been realized in the juridicial framework trought the issuance of Law No. 31/1999 on Eliminating Corruption Criminal Act replacing Law No. 3/ 1971 on Eliminating Corruption Criminal Act and then it was replaced again with Law No.20/2001 on the amendment of Law No. 31/1999 on Eliminating Corruption Criminal Act. In this era of reformation, pronouncing the sentence of criminal act for the corruptor is developing in line with the bringing out of the plea for the pronouncing of death sentence for corruptors although in fact is still in pro and contra situation.

The purpose of this study was to bring out several problems related to the urgency of pronouncing death sentence and the application of death sentence to the corruptors in an attempt to eliminate the practice of corruption in Indonesia. This study employed normative juridicial method to analyze both the law which is written in the (text) books or the one dicided by the judge throughtthe trial process at the court of law.

The urgency of pronouncing death sentence to the corruptors in an attempt to eliminate the practice of corruption in Indonesia is still considered as being essential because it is intended to frighten the corruptors and to give them a lesson to learn that whoever has intention to practice corruption will be afraid of doing it, moreover if we know that Indonesia belongs to the countries with the most corruptors in the world, the application of the sentence must be strict but do it selectively and carefully. The application of death sentence in an attempt to eliminate the practice of corruption in Indonesia has been regulated I article 2 (2) of Law No. 20/2001 on the amendement of Law No. 31/1999 on the elimination of corruption criminal act. In Indonesia, a democratic country with the biggest Moslem population in the world, death sentence is still understood as something which is legally and morally legitimate because the death sentence is regulated in the Islamic law itself.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis Panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkat

dan kasih karunia-Nya sehingga Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan

tepat pada waktunya. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk

mencapai gelar Magister Humaniora pada Program Studi Ilmu Hukum,

Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara, Medan.

Adapun judul Tesis penelitian ini adalah: “URGENSI PIDANA MATI

TERHADAP PELAKU KORUPSI”. Di dalam menyelesaikan Tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran, bimbingan dan

arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis menyampaikan ucapan

terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat para

pembimbing: Prof. Dr. Alvi Syahrin, SH, MS, Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH,

M, Hum, Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM, Prof. Dr. Sunarmi, SH, M. Hum,

dan Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum, dimana di tengah-tengah kesibukannya

masih tetap meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, petunjuk,

dan mendorong semangat penulis untuk menyelesaikan penulisan Tesis ini.

Perkenankanlah juga, penulis menyampaikan ucapan terima kasih

kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian studi ini, kepada:

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril

Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM), SpA(K) diberikan kepada penulis

(9)

2. Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, atas

kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ketua Program Studi Ilmu Hukum Prof. Dr. H. Bismar Nasution, SH,

MH, dan Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum, sebagai Sekretaris Ilmu

Hukum, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu

Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum, dan Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum,

sebagai Komisi Penguji yang telah meluangkan waktunya dan dengan

penuh perhatian memberikan dorongan, bimbingan, saran dan masukan

yang sangat penting kepada penulis.

5. Ayahanda Drs. Harapan Naulisyah Harahap dan Ibunda Hanisah Ritonga

tercinta yang telah mendidik Penulis dari kecil hingga dewasa dengan

penuh rasa kasih sayang dan yang senantiasa mendo’akan penulis agar

menjadi anak yang sukses dan berbakti kepada orangtua, bangsa, dan

juga agama.

6. Abangda Muzni L.H. Harahap, SSTP dan Istri, adik – adikku Mardyah

Harahap, Hafifah Harahap yang Penulis sayangi, atas kesabaran dan

pengertiannya serta memberikan Doa dan semangat kepada penulis

dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini.

7. Ardi Susilo, A.md yang dengan penuh kesabaran, perhatian, ketulusan,

(10)

semangat kepada penulis agar dapat segera menyelesaikan perkuliahan

tepat pada waktunya.

8. Kepada seluruh staf sekretariat program studi magister ilmu hukum

fakultas hukum universitas sumatera utara, kak Juli, kak Fika, kak Fitri,

Bu Niar, Bu Ganti, dan bang Hendra, terima kasih telah membantu

penulis selama mengikuti perkuliahan.

9. Kepada Rekan-rekan di Program Studi Ilmu Hukum Universitas

Sumatera Utara, Beserta seluruh Staf Ilmu Hukum terima kasih atas

segala bantuan selama penulis mengikuti perkuliahan, semoga Allah

Membalas kebaikan yang berlipat ganda, dan rekan-rekan kerja saya

yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhirnya penulis berharap semoga Tesis ini dapat memberi manfaat dan

menyampaikan permintaan yang tulus jika seandainya dalam penulisan ini

terdapat kekurangan dan kekeliruan, penulis juga menerima kritik dan saran

yang bertujuan serta bersifat membangun untuk menyempurnakan penulisan

Tesis ini.

Medan, September 2010

Penulis,

(11)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Hindun Harahap

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 02 Februari 1985

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pekerjaan : Pegawai Kejaksaan RI

Alamat : Jl. Gaperta Gg. Berkat No. 15 Medan

Pendidikan : SD YasPenHar 2 Medan Tamat Tahun 1997

SMP Negeri 1 P. Sidimpuan Tamat Tahun 2000

SMU Negeri 1 P. Sidimpuan Tamat Tahun 2003

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah... 11

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12

D. Keaslian Penelitian... 13

E. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 14

1.Kerangka Teori ... 14

2.Kerangka Konsep ... 20

F. Metode Penelitian ... 24

G. Sistematika Penulisan... 29

BAB II URGENSI PIDANA MATI TERHADAP PELAKU KORUPSI DI INDONESIA A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi ... 31

(13)

Tindak Pidana Korupsi ... 33

C. Tindak Pidana Korupsi sebagai kejahatan

kemanusiaan (crime againts humanity) ... 38

D. Argumentasi Pro dan Kontra terhadap pidana

mati untuk pelaku korupsi ... 42

E. Urgensi Pidana Mati Terhadap Pelaku Korupsi

Dalam upaya pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi di Indonesia ... 52

BAB III PENERAPAN PIDANA MATI DI INDONESIA

A. Tinjauan Umum Mengenai Pidana Mati ... 57

B. Pidana Mati dalam Peraturan Perundang –

Undangan di Indonesia ... 69

C. Beberapa masalah dalam Pelaksanaan

Pidana Mati... 92

D. Pidana Mati dalam persfektif

Hak Asasi Manusia... 96

E. Penerapan pidana mati dalam upaya pemberantasan

(14)

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 115

B. Saran ... 117

(15)

ABSTRAK

Di Indonesia praktek korupsi sudah semakin meluas dan bahkan sudah sampai disegala aspek kehidupan, baik ditingkat pusat maupun di daerah, korupsi disebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan karena telah menyebabkan timbulnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat. Upaya pemberantasan korupsi telah direalisasikan dalam kerangka yuridis pada masa pemerintahan Habibie dengan keluarnya UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menggantikan UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang kemudian diubah lagi menjadi Uu RI No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam era reformasi, penjatuhan pidana bagi pelaku korupsi mengalami perkembangan dengan makin mencuatnya wacana penjatuhan pidana mati bagi koruptor, banyak pro dan kontra tentang pemberlakuan pidana mati untuk kasus korupsi.

Tulisan ini mengangkat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan Urgensi Pidana Mati terhadap Pelaku korupsi, yakni tentang Urgensi Pidana Mati Terhadap Pelaku Korupsi dalam upaya pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, dan Penerapan Pidana Mati dalam upaya pemberantasan Tindak pidana Korupsi di Indonesia.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doctrinal yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku, maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan.

(16)

mengatur tentang pidana mati, sehingga pidana mati masih dipahami sebagai sesuatu yang sah secara hukum maupun moral.

(17)

ABSTRACT

In Indonesia, corruption has been increasingly practiced and even spread into all aspects of life either at the local or central levels. Corruption is called a crime for humanity because its practice has resulted in people’s poverty and suffering. During habibie’s administration, the attempt to fight corruption had been realized in the juridicial framework trought the issuance of Law No. 31/1999 on Eliminating Corruption Criminal Act replacing Law No. 3/ 1971 on Eliminating Corruption Criminal Act and then it was replaced again with Law No.20/2001 on the amendment of Law No. 31/1999 on Eliminating Corruption Criminal Act. In this era of reformation, pronouncing the sentence of criminal act for the corruptor is developing in line with the bringing out of the plea for the pronouncing of death sentence for corruptors although in fact is still in pro and contra situation.

The purpose of this study was to bring out several problems related to the urgency of pronouncing death sentence and the application of death sentence to the corruptors in an attempt to eliminate the practice of corruption in Indonesia. This study employed normative juridicial method to analyze both the law which is written in the (text) books or the one dicided by the judge throughtthe trial process at the court of law.

The urgency of pronouncing death sentence to the corruptors in an attempt to eliminate the practice of corruption in Indonesia is still considered as being essential because it is intended to frighten the corruptors and to give them a lesson to learn that whoever has intention to practice corruption will be afraid of doing it, moreover if we know that Indonesia belongs to the countries with the most corruptors in the world, the application of the sentence must be strict but do it selectively and carefully. The application of death sentence in an attempt to eliminate the practice of corruption in Indonesia has been regulated I article 2 (2) of Law No. 20/2001 on the amendement of Law No. 31/1999 on the elimination of corruption criminal act. In Indonesia, a democratic country with the biggest Moslem population in the world, death sentence is still understood as something which is legally and morally legitimate because the death sentence is regulated in the Islamic law itself.

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Korupsi dewasa ini sudah semakin berkembang baik dilihat dari jenis,

pelaku maupun dari modus operandinya. Masalah korupsi bukan hanya menjadi

masalah nasional tetapi sudah menjadi internasional, bahkan dalam bentuk dan ruang

lingkup seperti sekarang ini, korupsi dapat menjatuhkan sebuah rezim, dan bahkan

juga dapat menyengsarakan dan menghancurkan suatu negara.

Dampak korupsi bagi negara-negara dengan kasus korupsi berbeda-beda

bentuk, luas dan akibat yang ditimbulkannya, walaupun dampak akhirnya adalah

menimbulkan kesengsaraan rakyat. Di negara miskin korupsi mungkin menurunkan

pertumbuhan ekonomi, menghalangi perkembangan ekonomi dan menggerogoti

keabsahan politik yang akibat selanjutnya dapat memperburuk kemiskinan dan

ketidakstabilan politik. Di negara maju korupsi mungkin tidak terlalu berpengaruh

terhadap perekonomian negaranya, tetapi juga korupsi dapat menggerogoti keabsahan

politik di negara demokrasi yang maju industrinya, sebagaimana juga terjadi di

negara berkembang. Korupsi mempunyai pengaruh yang paling menghancurkan di

(19)

dihentikan, korupsi dapat menggerogoti dukungan terhadap demokrasi dan sebuah

ekonomi pasar.1

Masalah korupsi merupakan masalah yang mengganggu, dan menghambat

pembangunan nasional karena korupsi telah mengakibatkan terjadinya kebocoran

keuangan negara yang justru sangat memerlukan dana yang besar di masa terjadinya

krisis ekonomi dan moneter. Terpuruknya perekonomian Indonesia yang terus

menerus pada saat ini mempengaruhi sendi-sendi kehidupan di dalam masyarakat,

berbangsa dan bernegara.

Korupsi pada saat ini maupun untuk masa yang akan datang merupakan

ancaman serius yang dapat membahayakan perkembangan kehidupan bangsa-bangsa

pada umumnya, dan khususnya Bangsa Indonesia sehingga kejahatan korupsi

selayaknya dikategorikan sebagai kejahatan yang membahayakan kesejahteraan

bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Romli

Atmasasmita sebagai berikut:

Menempatkan korupsi dalam posisi tersebut bukanlah tidak beralasan dan kecenderungan ke arah tersebut sudah dimulai oleh organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan atau Organization for Economic Cooperation

and Development (OECD) lembaga ini (OECD) telah mengambil inisiatif

dan berhasil mempertemukan visi dan misi para anggotanya dalam pemberantasan korupsi dan diwujudkan dalam suatu perjanjian yang disebut

“The OECD Anti Corruption Treaty” yang ditandatangani oleh 29 (dua

puluh sembilan) anggota dan 3 (tiga) negara di Amerika Selatan dan 2 (dua) negara di Eropa. Perjanjian ini berlaku efektif sejak bulan Desember 1998.2

1

Kimberly Ann Elliott, Korupsi dan Ekonomi Dunia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 1-2.

2

(20)

Upaya pemberantasan korupsi telah mulai direalisasikan dalam kerangka

yuridis pada masa pemerintahan Habibie dengan keluarnya UU No. 31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menggantikan UU No. 3 Tahun

1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Alasan pergantian

Undang-Undang Korupsi dari UU No. 3 Tahun 1971 menjadi UU No. 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dapat dilihat dalam diktum UU No. 31 Tahun

1999 sebagai berikut:

Bahwa Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan dalam masyarakat, karena itu perlu diganti dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang baru sehingga diharapkan lebih efektif dalam mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi.3

UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga

telah diubah menjadi Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2001 tentang

Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi.

Dalam era reformasi dewasa ini, upaya pencegahan dan penanggulangan

korupsi beserta penjatuhan pidana bagi pelakunya mengalami perkembangan dengan

makin mencuatnya wacana penjatuhan pidana mati bagi koruptor. Banyak pro dan

kontra tentang pemberlakuan pidana mati untuk kasus korupsi ini. Pro dan kontra

pidana mati ini memberikan pendapat yang berbeda-beda. Ada pembela pidana mati

itu perlu untuk menjerakan dan menakutkan penjahat, dan relatif tidak menimbulkan

3

(21)

sakit jika dilaksanakan dengan tepat. Yang menentang pidana mati antara lain

mengatakan bahwa pidana mati dapat menyebabkan ketidakadilan, tidak efektif

sebagai penjera, karena sering kejahatan dilakukan karena panas hati dan emosi yang

di luar jangkauan dan kontrol manusia.

Di Indonesia, penerapan pidana mati sendiri sebenarnya sudah diatur

di dalam undang-undang. Pasal 2 ayat (2) UU No. 20 tahun 2001 jo. UU No. 31

Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan :

"Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu pidana mati dapat dijatuhkan".

Pasal 2 ayat (1) sebagai berikut:

“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).”

Romli Atmasasmita berpendapat bahwa penjatuhan pidana mati bagi pelaku

tindak pidana korupsi efektif diterapkan di Republik Rakyat Cina (RRC), dan

ternyata cukup berhasil dalam rangka mengurangi tindak pidana korupsi. Hal ini

tentunya dapat dijadikan contoh untuk Indonesia dalam menjatuhkan pidana mati

bagi koruptor-koruptor.4

4

(22)

Berkenaan dengan penjatuhan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana

korupsi di Republik Rakyat Cina, Presiden Republik Rakyat Cina Jiang Zemin

menggambarkan sebagai kanker ganas yang menggerogoti tubuh pemerintah dan

politik luar negeri, karena itulah Cina dalam beberapa tahun terakhir sangat giat

melancarkan perang terhadap korupsi.

Efektivitas penerapan pidana mati didasarkan juga pada alasan bahwasannya

pidana mati itu lebih pasti dan tertentu dari hukuman penjara, karena hukuman

penjara sering diikuti dengan kemungkinan melarikan diri karena pengampunan

ataupun karena adanya pembebasan. Pidana mati sering dipertahankan, karena pada

dasarnya pidana mati memakan ongkos yang jauh lebih sedikit bila dibandingkan

dengan hukuman penjara seumur hidup.5

Alasan yang pro terhadap pidana mati antara lain dikemukakan oleh De Bussy

yang membela adanya pidana mati di Indonesia dengan mengatakan bahwa di

Indonesia terdapat suatu keadaan yang khusus. Bahaya terhadap gangguan ketertiban

hukum di Indonesia adalah lebih besar. Hazewinkel Suringa berpendapat bahwa

pidana adalah suatu alat pembersih radikal yang pada masa revolusioner dapat

dipergunakan. Van Veen menganggap pidana mati sebagai alat pertahanan bagi

masyarakat yang sangat berbahaya dan juga pidana mati dapat dan boleh

dipergunakan sebagai alat demikian.6

5

Ibid., hal. 75.

6

(23)

Selain argumentasi yang pro terhadap pidana mati, tidak sedikit pula yang

kontra terhadap pidana mati untuk koruptor. Di Indonesia sendiri, walaupun sudah

diatur secara jelas di dalam perundang-undangan, namun sampai saat ini tidak ada

implementasinya. Pihak yang kontra terhadap pidana mati pada umumnya

menghubungan penjatuhan tindak pidana mati dengan hak hidup dan kemanusiaan.

Keterkaitan pidana mati dengan hak asasi manusia (HAM) sangatlah erat, hal

ini didasarkan pada satu alasan bahwasannya penjatuhan pidana mati terkait erat

dengan hak yang paling asasi bagi manusia. Dalam konteks penjatuhan pidana mati

terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang dilakukan dalam keadaan tertentu

haruslah dikaji secara mendalam, mengingat penjatuhan pidana mati merupakan

pidana yang terberat dalam arti pelaku akan kehilangan nyawanya yang merupakan

sesuatu hak yang tak ternilai harganya.

Eksistensi pidana mati sebagai pidana perampasan nyawa sudah digugat

dengan timbulnya pendapat-pendapat yang kontra baik berupa pendapat perorangan

atau kelompok. Alasan untuk menentang pidana mati yang paling mendasar adalah

alasan kemanusiaan yang dilihat dari hak hidup seseorang. Walaupun pidana mati

banyak yang menentang namun tidak satupun negara berkembang yang telah

menghapuskan pidana mati dari KUHP nya termasuk Indonesia.

Pengakuan terhadap HAM di Indonesia dapat terlihat dalam Pasal 1

Undang-Undang Nomor 39 tentang Hak Asasi Manusia yang memberikan batasan tentang hak

asasi manusia sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan

(24)

sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib

dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap

orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.7

Berbicara mengenai Pidana Mati tidak lepas dari pembicaraan mengenai

nyawa manusia, dan berbicara mengenai nyawa manusia yang merupakan Hak

Azazi Manusia, berarti berbicara mengenai Penciptanya, dan sebagai manusia

yang beragama, kita tidak bisa menutup mata dari hukum tuhan, yaitu agama.

Indonesia terdiri dari masyarakat yang pluralistik, yang terdiri dari

berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama. Bangsa yang Pluralistik itu

telah mengadakan kesepakatan nasional, yang tertuang dalam Pancasila dan

UUD 1945, sebagai hukum dasar ( fundamental Law ) dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Fundamental Law itulah yang

merupakan hukum positif tertinggi yang harus dijadikan pegangan tertinggi

oleh semua warga negara Indonesia.

Di dalam UUD 1945 Pasal 28J merupakan dasar utama pembenaran

pidana mati, sepanjang pidana mati itu memenuhi kriteria yang ada dalam pasal

28J, khususnya yang berkaitan dengan “ untuk memenuhi tuntutan yang adil

sesuai dengan pertimbangan moral dan nilai agama “, tidak bisa dilepaskan

dari kelima sila yang terdapat dalam Pancasila, khusunya sila pertama “

7

(25)

Ketuhanan Yang Maha Esa “, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan

dari UUD 1945 yang ada dalam pembukaan UUD 1945.

Dilihat dari sudut hukum Islam, maka sila pertama dapat dipahami identik

dengan tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, dengan pengertian bahwa dalam

ajaran islam diberikan toleransi, kebebasan dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi

pemeluk agama-agama lain untuk melaksanakan ajaran agama mereka

masing-masing. Segi lain yang perlu dicatat dalam hubungan dengan sila pertama ini ialah

bahwa negara Republik Indonesia bukan negara sekuler dan bukan pula negara

agama. Prinsip yang terkandung dalam sila pertama itu ialah adanya suatu pengakuan

bangsa Indonesia terhadap wujud Tuhan. Hal yang terakhir ini ditegaskan oleh

Presiden Soeharto pada Dies Natalis kerajaan ke-25 Universitas Indonesia, 15

Februari 1975, dan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, 24 Maret 1975 di

Jakarta sebagai berikut: “Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan sifat bangsa

kita yang percaya bahwa ada kehidupan lain di masa nanti setelah kehidupan kita di

dunia sekarang. Ini memberi dorongan untuk mengejar nilai-nilai yang dianggap

luhur yang akan membuka jalan bagi kehidupan yang baik di masa nanti itu”8

Salah satu prinsip pengakuan dan perlindungan yang berkaitan dengan

martabat manusia itu telah digariskan dalam al-Qur’an, surah al-Isra/17:33,

yang artinya:

8

Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum, Suatu Studi tentang Prinsip-prinsipnya dilihat

dari segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini,

(26)

“ Dan janganlah kamu membunuh nyawa yang diharamkan Allah, kecuali dengan suatu alasan yang benar.”

Yang dimaksud dengan “alasan yang benar” dalam ayat itu ialah alasan yang

dibenarkan oleh hukum Islam seperti qishas yang merupakan salah satu bentuk

hukuman dalam hukum pidana Islam.Dari ayat di atas dapat ditarik suatu garis hukum

bahwa manusia dilarang menghilangkan nyawa baik nyawa orang lain maupun

nyawanya sendiri (bunuh diri). Disini tampak jelas bahwa hak untuk hidup dan hak

atas perlindungan untuk hidup diwajibkan pada penyelenggara negara. Perlu segera

dipahami bahwa dalam negara hukum menurut al-Qur’an dan sunnah, manusia hanya

memiliki hak untuk hidup dan hak atas perlindungan untuk hidup. Adapun “hak untuk

mati” sama sekali tidak dimiliki manusia karena soal kematian setiap manusia adalah

wewenang Tuhan.9

Dalam nomokrasi Islam, jaminan perlindungan terhadap nyawa manusia

sangat diperhatikan, sebagai tercantum dalam al-Qur’an, surat al-Maidah/5:32

yang artinya:

“ Barangsiapa yang membunuh seseorang manusia karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kekacauan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”.

Dari ayat ini dapat ditarik garis hukum yaitu manusia dilarang membunuh

sesamanya, kecuali berdasarkan alasan yang dibenarkan hukum islam yaitu qishas.

Menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan qishas dikualifisir sebagai tindakan

pidana karena orang yang menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan qishas itu

9

(27)

wajib dijatuhi hukuman mati atau pidana mati. Suatu tindak pidana pembunuhan

dalam ayat ini diumpamakan bahwa seoarang pembunuh seakan-akan telah

melakukan pembunuhan terhadap seluruh manusia. Logika al-Qur’an di sini terletak

pada bahwa manusia itu adalah anggota masyarakat dan membunuh seorang

masyarakat berarti juga membunuh keturunannya, karena itu dalam hukum pidana

Islam, hukuman mati wajib dijalankan kecuali apabila keluarga korban

memaafkannya.10 Penjatuhan pidana mati kepada pelaku tindak pidana

merupakan obat terakhir (ultimum remedium), yang hanya dijalankan apabila

upaya-upaya lain seperti pencegahan sudah tidak berjalan.

Dari uraian yang dikemukakan di atas maka penerapan pidana mati dengan

mendasarkan pada alasan-alasan yang sudah dikemukakan ternyata masih didukung

oleh pihak-pihak yang pro dengan alasan bahwa pidana mati masih cukup efektif dan

rasional khususnya diterapkan terhadap kejahatan-kejahatan yang sangat berat jika

tidak dijatuhkan pidana mati akan berakibat lebih buruk terhadap keamanan dan

ketentraman di masyarakat. Sedangkan bagi pihak yang kontra menyatakan bahwa

pidana mati bertentangan dengan hak asasi.

Pencantuman pidana mati dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo.

UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi, tepatnya yang

diatur dalam Pasal 2 ayat (2) yang belum terealisasi pada akhirnya menjadi fenomena

baru dalam upaya pencegahan korupsi di Indonesia. Dengan semakin maraknya

kasus-kasus korupsi dewasa ini serta upaya penyelesaiannya yang kurang maksimal,

10

(28)

tentunya kondisi ini sudah selayaknya menjadi bahan pemikiran khususnya bagi

aparat penegak hukum dan pemerintah dalam upaya penegakan korupsi yang serius

dan kongkrit sehingga kasus-kasus korupsi yang muncul dewasa ini tidak menjadi

komoditas politik semata, tetapi benar-benar dapat diselesaikan melalui prosedur

hukum yang transparan dan adil.

Berdasarkan dasar uraian yang penulis kemukakan di muka mengenai

permasalahan korupsi, khususnya yang berkaitan dengan kondisi di Indonesia,

mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan urgensi pidana

mati terhadap pelaku korupsi. Apakah penerapan pidana mati sudah sedemikian

urgennya untuk situasi dan kondisi Indonesia sebagai negara dengan angka korupsi

yang tinggi di dunia dan apakah penerapan pidana mati sudah berjalan sesuai norma

hukum dan agama dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan dikaji di dalam penulisan Tesis ini mendasarkan

pada alasan bahwasanya permasalahan korupsi-korupsi di Indonesia sudah

sedemikian parahnya sehingga pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi apakah

urgen bagi aparat penegak hukum dalam upaya pencegahan korupsi di Indonesia. Hal

ini dikarenakan penjatuhan hukum pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi di

Indonesia belum pernah dijatuhkan meskipun sudah mendapat landasan hukum yang

kuat dengan telah diaturnya mengenai pidana mati dalam Pasal 2 ayat (2)

(29)

Mengingat Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo UU No.31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diundangkan pada tanggal 16

Agustus 1999 sehingga dalam penerapannya ditemukan masalah-masalah khususnya

dalam hal penerapan sanksi pidananya terutama yang menyangkut pidana mati,

karena penjatuhan pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi selain dapat

menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelaku tindak pidana korupsi juga dapat

menimbulkan kontroversi terutama yang menyangkut hak asasi manusia, karena

dengan penjatuhan pidana mati ini tentunya ada pelanggaran terhadap hak asasi

manusia yaitu hak untuk hidup yang merupakan hak yang paling hakiki bagi manusia.

Didasari oleh pemikiran-pemikiran yang telah diuraikan di atas, maka

dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana urgensi pidana mati terhadap pelaku korupsi dalam upaya

pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia.

2. Bagaimana penerapan pidana mati dalam upaya pemberantasan tindak

pidana korupsi di Indonesia.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui urgensi pidana mati terhadap pelaku korupsi dalam

upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia.

2. Untuk mengetahui penerapan pidana mati dalam upaya pemberantasan

(30)

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan

praktis yaitu :

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam

menambah ilmu pengetahuan pada penegakan hukum positif dalam

penanggulangan perilaku anti korupsi pada penyelenggaraan pemerintahan era

kini.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat memberikan

masukan bagi Pemerintah sehingga kebijakan yang diambil agar tetap

mempertimbangkan aspek kejujuran dalam berprofesi (mental anti korupsi)

dalam rangka menciptakan manfaat dan keadilan bagi masyarakat.

D. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi dan penelusuran kepustakaan yang dilakukan oleh

penulis terhadap hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan dan secara khusus di

lingkungan Universitas Sumatera Utara, penelitian mengenai “Urgensi Pidana Mati

Terhadap Pelaku Korupsi” belum pernah dilakukan penelitian pada topik dan

permasalahan yang sama. Obyek penelitian yang dilakukan merupakan suatu kajian

ilmiah dan belum pernah dianalisis secara komprehensif dalam suatu penelitian

ilmiah sehingga penelitian ini merupakan sesuatu yang baru dan asli sesuai dengan

azas-azas keilmuan yang jujur, rasional, obyektif dan terbuka sehingga dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan transparan untuk kritikan yang bersifat

(31)

E. Kerangka Teori dan Konsepsi a). Kerangka Teori

Kerangka Teoritis dalam penulisan ilmiah berfungsi sebagai pemandu untuk

mengorganisasi, menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena dan atau objek

masalah yang diteliti dengan cara mengkonstruksi keterkaitan antara konsep secara

deduktif ataupun induktif. Oleh karena objek masalah yang diteliti dalam tesis ini

berada dalam ruang lingkup ilmu hukum, maka konsep-konsep yang akan digunakan

sebagai sarana analisis adalah konsep-konsep, asas-asas, dan norma-norma hukum

yang dianggap paling relevan.

Sebelum membicarakan lebih jauh mengenai urgensi penjatuhan pidana mati

bagi pelaku tindak pidana korupsi, maka perlu dikemukakan terlebih dahulu batasan

atau pengertian dari pidana itu sendiri. Menurut Van Hamel, arti dari pidana adalah:

Suatu penderitaan yang bersifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama negara sebagai penanggung jawab dari ketertiban hukum umum bagi seorang pelanggar, yakni semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara.11

Mengenai pidana yang dapat dijatuhkan, pengaturannya diatur jenisnya dalam

Pasal 10 KUHP yang terdiri dari pidana pokok dan pidana tambahan, pidana pokok

terdiri dari pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda dan pidana

tutupan, sedangkan pidana tambahan terdiri dari pidana tambahan perampasan

11

(32)

barang-barang tertentu, pencabutan hak-hak tertentu dan pengumuman keputusan

hakim.12

Pidana mati ditempatkan sebagai pidana yang terberat karena objek dan

sasarannya adalah nyawa seseorang yang merupakan sesuatu yang sangat berharga

dan tidak ternilai harganya, oleh karena itu setiap manusia, selalu berusaha untuk

mempertahankan nyawanya untuk tetap hidup. Pidana mati ditujukan untuk

membinasakan penjahat yang dianggap tidak dapat diperbaiki lagi agar kejahatannya

tidak ditiru oleh orang lain atau tidak semakin bertambah orang yang dirugikan.

Pidana mati biasanya diancamkan secara selektif dan selalu diikuti dengan ancaman

pidana lain sebagai alternatifnya.

Berkenaan dengan pidana mati ini Modderman mengatakan bahwa:

Demi ketertiban umum pidana mati dapat dan harus diterapkan, namun penerapan ini hanya sebagai sarana terakhir dan harus dilihat sebagai wewenang darurat yang dalam keadaan luar biasa dapat diterapkan.13

Selanjutnya Oemar Seno Adji juga memberikan pendapatnya mengenai

penjatuhan pidana mati sebagai berikut :

Selama negara kita masih meneguhkan diri, masih bergulat dengan kehidupan sendiri yang terancam bahaya, selama tata tertib masyarakat di kacaukan dan dibahayakan oleh anasir-anasir yang tidak mengenal perikemanusiaan ia masih memerlukan pidana mati.14

12

Andi Hamzah, KUHP dan KUHAP, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hal. 6.

13

J.E. Sahetapy, Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap

Pembunuhan Berencana, (Jakarta: C.V. Rajawali), hlm. 47. 14

(33)

Wirjono Prodjodikoro mengemukakan pendapatnya mengenai tujuan

penjatuhan pidana mati sebagai berikut:

Tujuan menjatuhkan dan menjalankan hukuman mati selalu diarahkan kepada khalayak ramai agar mereka dengan ancaman hukuman mati akan takut melakukan perbuatan-perbuatan kejam yang akan mengakibatkan mereka dihukum mati. Berhubungan dengan inilah zaman dahulu hukuman mati dilaksanakan di muka umum.15

Adapun pengertian korupsi itu sendiri dapat dilihat dari beberapa pendapat

antara lain menurut Andi Hamzah dinyatakan sebagai berikut:

Korupsi ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.16

Pengertian tindak pidana korupsi dapat dilihat dalam rumusan Pasal 2

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo UU No. 31 Tahun 1999 yang menyebutkan

bahwa:

1. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

2. Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

Selain yang diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo

UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pengertian

15

Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung: Eresco, 1989), hlm. 9.

16

(34)

tindak pidana korupsi juga diatur dalam Pasal 3, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8,

Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15 dan Pasal 16

Undang-Undang Nomor Nomor 20 tahun 2001 jo UU No. 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Berkenaan dengan tindak pidana korupsi, Muladi dan Barda Nawawi Arief

berpendapat:

Tindak pidana korupsi termasuk jenis tindak pidana yang penanggulangannya sangat diprioritaskan, namun diakui termasuk jenis perkara yang sulit penanggulangannya atau pemberantasannya. Kongres PBB Ke-VI mengenai The Prevention of Crime and The Treatment of Effenders pada tahun 1980 mengklasifikasikan jenis tindak pidana korupsi sebagai tipe tindak pidana yang sukar dijangkau oleh hukum (offences beyond the reach of the law).17

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menggantikan Undang-Undang Nomor 3

Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka penjatuhan pidana

mati bagi pelaku tindak pidana korupsi memiliki landasan hukum yang kuat karena

sudah diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor Nomor 20 tahun 2001 jo

UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana sudah penulis sebutkan sebelumnya.

Adapun penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyebutkan:

Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam ketentuan ini dimaksudkan sebagai pemberatan bagi palaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana tersebut dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, pada waktu terjadinya bencana alam nasional,

17

(35)

sebagai penanggulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter.18

Penjatuhan pidana yang tegas khususnya pidana mati bagi pelaku tindak

pidana korupsi harus menjadi prioritas utama dalam rangka penyelesaian kasus-kasus

korupsi sehingga tidak berlarut-larut yang akan menimbulkan ketidakpercayaan

masyarakat terhadap aparat-aparatnya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan

oleh Ramelan selaku mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus sebagai

berikut :

Sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut dalam negara demokrasi dimana supremasi hukum senantiasa dikedepankan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka konsepsi dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi adalah menggunakan asas-asas kepastian hukum dimaksudkan agar penanganan suatu perkara tidak berlarut-larut, transparansi terbuka penanganannya, tidak ditutup-tutupi dan bukan karena rekayasa.19

Penjatuhan pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana sudah

diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor Nomor 20 tahun 2001 jo UU

No. 31 Tahun 1999 tentunya merupakan dasar hukum yang kuat bagi aparat penegak

hukum khususnya hakim dalam menjatuhkan pidana mati bagi koruptor-koruptor

yang melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor Nomor 20 tahun

2001 jo UU No. 31 Tahun 1999.

Kekeliruan dalam menderivasikan nilai-nilai Pancasila dan tujuan yang

dicita-citakan bangsa Indonesia pada masa Orde Baru terjadi tanpa hambatan. Model

18

Indonesia, Op. Cit., Penjelasan Pasal 2 ayat (1).

19

Ramelan, Profesionalisme Jaksa Menyongsong Penegakan Hukum Undang-Undang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Menyongsong

(36)

penataan oleh hukum mengikuti cara sentralisme dan regimentasi, yang secara

sepihak memaksakan kehendak dan tidak toleran terhadap orang lain serta tidak

menerima perbedaan atau pluralisme sebagai berkah dan kekayaan. Nilai Ketuhanan

Yang Maha Esa, yang terkandung dalam nilai-nilai dasar hukum nasional, merupakan

nilai sentral dan menjiwai nilai-nilai yang lain. Hal ini mengisyaratkan bahwa hukum

nasional mengenal adanya hukum Tuhan, hukum kodrat dan hukum susila.

Berpangkal dari keyakinan dan kebenaran bahwa manusia ciptaan Tuhan, dan Tuhan

memberikan aturan-aturan bagi ciptaan-Nya, maka sudah semestinya hukum kodrat

dan hukum susila tidak bertentangan dengan hukum Tuhan. Ketiga macam hukum ini

tidak berdiri sendiri ataupun terpisah satu sama lain.20

Republik Indonesia tidak mengenal doktrin pemisahan antara agama dan

negara. Karena doktrin semacam ini sangat bertentangan dengan Pancasila dan

Undang-Undang Dasar 1945. Adapun lima unsur utama itu bertumpu pada suatu

prinsip yang sangat mendasar bagi segenap bangsa Indonesia yaitu sila pertama dari

Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena sila pertama ini menurut Hazairin

mempunyai ”posisi yang istimewa”, ia ”terletak diluar ciptaan akal budi manusia”.

Dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, inilah maka negara hukum Pancasila

memiliki bukan hanya suatu ciri tertentu tetapi ciri yang paling khusus dari semua

konsep negara hukum. Sila pertama merupakan pula dasar kerohanian dan dasar

moral bagi Bangsa Indonesia dalam bernegara dan bermasyarakat, artinya,

penyelenggaraan kehidupan bernegara dan bermasyarakat wajib memperhatikan dan

20

(37)

mengimplementasikan petunjuk-petunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, dengan

sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu dan dengan empat sila lainnya setiap orang yang

arif dan bijaksana akan melihat banyak persamaan antara konsep nomokrasi Islam

dengan konsep Negara Hukum Pancasila. Persamaan itu antara lain tercermin dari

lima sila atau Pancasila yang sudah menjadi Asas Bangsa dan Negara Indonesia.21

b). Kerangka Konsep

Sebagai acuan pokok untuk mengorganisasi dan menganalisa masalah tesis

ini, penulis mengunakan konsep yang termuat dalam Teori penghukuman yang akan

mendeskripsikan tujuan diberlakukannya hukuman kepada penjahat atas kejahatan

yang dilakukannya. Demikian dengan tindak pidana korupsi yang meupakan

kejahatan. Berkaitan dengan urgensi dan efektifitas pidana mati terhadap

pemberantasan tindak pidana korupsi Indonesia akan dilihat dari teori penghukuman

sebagaimana telah disebutkan di atas.

Apabila berbicara mengenai penghukuman, maka pertanyaan yang kerapkali

muncul adalah apakah tujuan hukuman itu dan siapakah yang berhak menjatuhkan

hukuman. Pada umumnya telah disepakati bahwa yang berhak menghukum adalah di

dalam tangan negara (pemerintah)., yang oleh Hazewinkel-Suringa dilukiskan

sebagai berikut :22

21

Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum, Suatu Studi tentang Prinsip-prinsipnya dilihat

dari segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini,

(Jakarta,Prenada Media,2003)Hal. 99.

2222

R. Soesilo dalam Syahruddin Husein, Kejahatan dalam Masyarakat dan Upaya

(38)

Pemerintah negara harus menjamin kemerdekaan individu, menjaga supaya pribadi manusia tidak disinggung dan tetap dihormati. Tapi kadang-kadang sebaliknya, pemerintah negara menjatuhkan hukuman, dan karena menjatuhkan hukuman itu maka pribadi manusia tersebut oleh pemerintah negara sendiri diserang, misalnya yang bersangkutan dipenjarakan. Jadi pada satu pihak pemerintah negara membela dan melindungi pribadi manusia terhadap serangan siapapun juga, sedangkan dipihak lain pemerintah negara menyerang pribadi manusia yang hendak dilindungi dan dibela itu.

Orang berusaha untuk menunjukkan alasan apakah yang dapat dipakai untuk

membenarkan penghukuman oleh karena menghukum itu dilakukan terhadap

manusia-manusia yang juga mempunyai hak hidup, hak kemerdekaan bahkan

mempunyai hak pembelaan dari negara itu juga yang menghukumnya. Maka oleh

karena itu muncullah berbagai teori hukuman, yang pada garis besarnya dapat dibagai

atas tiga golongan :

a. Teori absolut atau teori pembalasan

b. Teori relatif atau teori tujuan

c. Teori gabungan

a. Teori absolut

Tokoh-tokoh yang terkenal yang mengemukakan teori pembalasan ini antara

lain adalah Kant dan Hegel. Mereka beranggapan bahwa hukuman itu adalah suatu

konsekwensi daripada dilakukannya suatu kejahatan. Sebab melakukan kejahatan,

maka akibatnya harus dihukum. Hukuman itu bersifat mutlak bagi yang melakukan

kejahatan. Semua perbuatan yang temyata berlawanan dengan keadilan, harus

menerima pembalasan. Apakah hukuman itu bermanfaat bagi masyarakat, bukanlah

(39)

Untuk menghindari hukuman ganas, maka Leo Polak menentukan tiga syarat

yang harus dipenuhi dalam menjatuhkan hukuman, yaitu :23

1. Perbuatan yang dilakukan dapat dicela sebagai suatu perbuatan yang bertentangan

dengan etika, yaitu bertentangan dengan kesusilaan dan tata hukum obyektif

2. Hukuman hanya boleh memperhatikan apa yang sudah terjadi. Hukuman tidak

boleh dijatuhkan dengan suatu maksud prevensi

3. Beratnya hukuman harus seimbang dengan beratnya delik. Hal ini perlu supaya

penjahat tidak dihukum secara tidak adil.

Gerson W. Bawengan dalam bukunya Pengantar Psychologi Kriminil

menyatakan bahwa ia menolak teori absolut atau teori pembalasan itu yang

dikemukakan dalam bentuk apapun, berdasarkan tiga unsur, yaitu :24

1. Tak ada yang absolut didunia ini, kecuali Tuhan Yang Maha Esa.

2. Pembalasan adalah realisasi daripada emosi, memberikan pemuasan emosionil

kepada pemegang kekuasaan dan merangsang ke arah sifat-sifat 'sadistis',

sentimentil. Oleh karena itu kepada para penonjol teori pembalasan itu, dapatlah

diterka bahwa mereka memiliki sifat-sifat sadistis. Dan kerena itu pula ajaran

mereka lebih condong untuk dinamai teori sadisme.

3. Tujuan hukuman dalam teori itu adalah hukuman itu sendiri. Dengan dernikian

teori itu mengalami suatu jalan buntu, oleh karena tujuannya hanya sampai pada

23

Ibid, hal. 5. 24

(40)

hukuman itu sendiri. adalah suatu tujuan yang tak bertujuan, sebab dipengaruhi

dan disertai nafsu membalas.

b. Teori relatif atau teori tujuan

Para penganjur teori relatif tidak melihat hukuman itu sebagai pembalasan,

dan karena itu tidak mengakui bahwa hukuman itu sendirilah yanag menjadi tujuan

penghukuman, melainkan hukuman itu adalah suatu cara untuk mencapai tujuan yang

lain daripada penghukuman itu sendiri. Hukuman, dengan demikian mempunyai

tujuan, yaitu untuk melindungi ketertiban. Para pengajar teori relatif itu menunjukkan

tujuan hukuman sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum.

Menghindarkan, agar umumnya orang tidak melakukan pelanggaran bahkan

ditujukan pula bagi terhukum agar tidak mengulangi pelanggaran. Dengan demikian

maka hukuman itu mempunyai dua sifat, yaitu sifat prevensi umum dan sifat prevensi

khusus. Dengan prevensi umum, orang akan menahan diri untuk tidak melakukan

kejahatan. Dan dengan prevensi khusus para penganjurnya menitikberatkan bahwa

hukuman itu bertujuan untuk mencegah orang yang telah dijatuhi hukuman, tidak

mengulangi lagi perbuatannya. Selanjutnyaa bagi mereka yang hendak melakukan

pelanggaran akan mengurungkan maksudnya sehingga pelanggaran tidak

dilaksanakan.

c. Teori Gabungan

Menurut teori gabungan hukuman hendaknya didasarkan atas tujuan

(41)

kombinasi dengan menitikberatkan pada saiah satu unsurnya tanpa menghilangkan

unsur yang lain maupun pada semua unsur yang telah ada.

Kebijakan penaggulangan kejahatan atau yang biasa disebut dengan istilah

‘politik kriminal' dapat meliputi ruang lingkup yang cukup luas. Menurut G. Peter

Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan :

a. penerapan hukum pidana

b. pencegahan tanpa pidana

c. mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat

mass media.

Dengan demikian upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat

dibagi dua, yaitu lewat jalur 'penal' (hukum pidana) dan lewat jalur 'non penal'

(bukan/diluar hukum pidana). Dalam pembagian GP. Hoefnagels tersebut diatas

upaya-upaya yang disebut dalam (b) dan (c) dapat dimasukkan dalam kelompok

upaya non penal. Secara kasar dapatlah dibedakan, bahwa upaya penanggulangan

kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah

kejahatan terjadi, sedangkan jalur non penal lebih menitikberatkan pada sifat

preventif sebelum kejahatan terjadi.

F. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode

penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal yaitu suatu penelitian

(42)

book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan.25

Penelitian hukum normatif berdasarkan data sekunder dan menekankan pada

langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif.26

Metode penelitian yang digunakan pada proposal penelitian ini, sebagai

berikut :

a. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum

normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang menggunakan metode

yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan

perundang-undangan dan putusan pengadilan,27 yang berkaitan urgensi dan efektifitas pidana

mati bagi pelaku tindak pidana korupsi di Indonesia. Dalam penelitian hukum

normatif yang digunakan adalah merujuk pada sumber bahan hukum, yakni penelitian

yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam perangkat hukum.

Menurut Ronald Dworkin, penelitian hukum normatif disebut juga sebagai

penelitian doctrinal (doctrinal research), yaitu suatu penelitian yagn menganalisis

baik hukum yang tertulis dalam buku (law as written in the book), maupun hukum

yang diputuskan oleh hakim melalui proses.28

25

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Grafitti Press, 2006), hal.118

26

J. Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: Pradnya Paramitha, 2003), hal. 3.

27

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 14.

28

(43)

Adapun sifat dari penelitian ini adalah deskriptif analitis, yaitu penelitian ini

hanya untuk menggambarkan tentang situasi atau keadaan yang terjadi terhadap

permasalahan yang telah dikemukakan dengan membatasi kerangka studi kepada

suatu analisis terhadap urgensi dan penerapan pidana mati terhadap pelaku korupsi

dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

b. Pendekatan Penelitian

Di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Penelitian ini

menggunakan 2 (dua) pendekatan, yaitu :

1. Pendekatan undang-undang (statute approach)

Pendekatan undang-undang (statute approach) dilakukan dengan menelaah

semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan issue hukum yang

sedang ditangani, yaitu : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, UU No. 30 Tahun

2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No. 31 Tahun 1999

jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No. 39

Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan peraturan perundang-undangan lainnya

yang relevan.

2. Pendekatan Perbandingan (Comparative approach)

Pendekatan perbandingan (comparative approach) ini dilakukan dengan cara

menelaah kasus-kasus penjatuhan pidana mati pada pelaku korupsi yang terjadi di

negara lain, yaitu di China kemudian akan dilakukan perbandingan dengan

(44)

adalah ratio decidendi atau reasoning, yaitu pertimbangan yuridis dan sosial dalam

penjatuhan pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi. 29

c. Sumber Data

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, didasarkan pada penelitian

kepustakaan (library research), yang dilakukan dengan menghimpun data-data

sekunder. Data sekunder tersebut diperoleh dari :

1. Bahan Hukum Primer, terdiri dari :

a. Norma atau kaedah dasar ;

b. Peraturan dasar ;

c. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Komisi Pemberantasan

Korupsi, tindak pidana dan penghukuman, hak asasi manusia beserta

peraturan-peraturan terkait lainnya.

2. Bahan Hukum Sekunder, seperti : hasil-hasil penelitian, laporan-laporan, artikel,

majalah dan jurnal ilmiah, hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya yang

relevan dengan penelitian ini.

3. Bahan Hukum Tersier atau bahan hukum penunjang yang mencakup bahan yang

memberi petunjuk-petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan

sekunder, seperti kamus umum, kamus hukum serta bahan-bahan primer,

29

(45)

sekunder dan tersier di luar bidang hukum yang relevan dan dapat dipergunakan

untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini. 30

d. Teknik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library

research, yaitu meneliti sumber-sumber bacaan yang berhubungan dengan

permasalahan dalam tesis ini, seperti buku-buku hukum, majalah hukum,

artikel-artikel, peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, pendapat sarjana dan

bahan-bahan lainnya. Situs Web juga menjadi bahan bagi penulisan tesis ini

sepanjang memuat informasi yang relevan dengan penelitian ini.

e. Analisis Data

Seluruh data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan selanjutnya akan ditelaah

dan dianalisis. Analisis untuk data kualitatif dilakukan dengan pemilihan pasal-pasal

yang berisi kaidah-kaidah hukum yang mengatur mengenai urgensi dan efektifitas

pidana mati bagi pelaku tindak pidana korupsi, kemudian membuat sistematika dari

pasal-pasal tersebut sehingga akan menghasilkan klassifikasi tertentu sesuai dengan

permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.

Pada bagian akhir, data yang berupa peraturan perundang-undangan ini diteliti

dan dianalisis secara induktif kualitatif yang diselaraskan dengan hasil dari data

pendukung yang diperoleh, yaitu berupa data-data skunder melalui penelitian

kepustakaan (library research).

30

Bambang Sunggono, Metodologi Penelitan Hukum, Ghalia Indonesia, Jakrta 1998, hal. 195, sebagaimana dikutip dari Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu

(46)

G. Sistematika Penulisan

Sistematika pada penulisan tesis ini adalah :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan Latar

Belakang, Perumusan Masalah, Keaslian Penelitian, Tujuan

Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori dan Konsepsi,

Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan

BAB II URGENSI PIDANA MATI TERHADAP PELAKU KORUPSI DI INDONESIA

Bab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan Pengertian

Tindak Pidana Korupsi, Pertanggungjawaban Pidana pada

Perkara Tindak Pidana Korupsi, Tindak Pidana Korupsi sebagai

kejahatan kemanusiaan (crime againts humanity), Pro dan Kontra

terhadap pidana mati dan urgensi pidana mati terhadap pelaku

korupsi dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

BAB III PENERAPAN PIDANA MATI DI INDONESIA

Bab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan Pengertian

Pidana Mati, Pidana Mati dalam Peraturan Perundang-Undangan

di Indonesia, beberapa masalah dalam pelaksanaan Pidana Mati,

Pidana Mati dalam persfektif Hak Asasi Manusia dan penerpan

pidana mati terhadap pelaku korupsi dalam upaya pemberantasan

(47)

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan Kesimpulan

(48)

BAB II

URGENSI PIDANA MATI TERHADAP PELAKU KORUPSI DI INDONESIA

A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya busuk,

rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok.31 Korupsi menurut Huntington

adalah perilaku pejabat publik yang menyimpang dari norma-norma yang diterima

oleh masyarakat, dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi

kepentingan pribadi.

Dalam arti yang luas, defenisi korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan

publik untuk kepentingan pribadi atau privat yang merugikan publik dengan

cara – cara bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku.32

Arti harfiah dari kata itu ialah kebusukan, keburukan, kebejatan,

ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata

– kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah. Arti kata korupsi yang

telah diterima dalam pembendaharaan kata bahasa Indonesia itu, disimpulkan

oleh Poewadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia : ” Korupsi ialah

31

Fockema, S.J. andreae, 1951, rechtsgeleerd handwoordenboek, groningen – djakarta : Bij J. B. wolter Uitgeversmaatschappij N.V sebagaimana dikutip andi Hamzah, 1984, Korupsi di Indonesia masalah dan pemecahannya, Gramedia Pustaka Utama, hlm.7

32

The Role of a National Integrty system in Fighting corruption, Peter langseth et al,

(49)

perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan

sebagainya”.33

Di sisi lain, Indonesia juga telah mengambil langkah maju dalam

mendefenisikan tindak pidana korupsi, dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 20

Tahun 2001, Tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999, Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, disebutkan bahwa:

“setiap orang baik pejabat pemerintah maupun swasta yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Dengan demikian, pendekatan yang dapat dilakukan terhadap masalah

korupsi bermacam – macam pula, dan artinya sesuai pula dari segi mana kita

mendekati masalah itu. Pendekatan sosiologis misalnya, seperti halnya yang

dilakukan oleh Syed Hussein alatas dalam bukunya The Sociology of

Corruption, akan lain artinya kalau kita melakukan pendekatan normatif ;

begitu pula dengan politik ataupun ekonomi. Misalnya Alatas, memasukkan

nepotisme sebagai bentuk korupsi, yaitu menempatkan keluarga atau teman

pada posisi pemerintahan tanpa memenuhi persyaratan untuk itu. Tentunya hal

seperti ini sangat sukar dicari normanya dalam hukum pidana.34

33

W.J.S Poerwadarminta, 1982, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 524.

34

(50)

B. Pertanggungjawaban Pidana pada Perkara Tindak Pidana Korupsi Istilah korupsi diartikan sebagai setiap orang baik pejabat pemerintah

maupun swasta yang secara melawan hukum melakukan perbuatan

memperkaya diri sendiri atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara

atau perekonomian negara.35 Untuk konteks UU No. 20 Tahun 2001, para

koruptor itu bisa juga korporasi ( lembaga yang berbadan hukum maupun

lembaga yang bukan berbadan hukum ) atau siapa saja, entah itu pegawai

negeri, tentara, masyarakat, pengusaha dan sebagainya asal memenuhi

unsur-unsur yang terkandung dalam pasal ini.

Perbuatan melawan hukum dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 20 Tahun

2001, seharusnya dipahami secara formil maupun secara materil. Secara formil

berati perbuatan yang disebut tindak pidana korupsi adalah perbuatan yang

melawan/bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, seperti UU No.

8 Tahun 1981, Tentang KUHP, UU No. 20 Tahun 2001, Tentang Revisi Atas

UU No. 31 Tahun 1999, Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU

No. 28 Tahun 1999, Tentang Pelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Dari

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, PP No. 105 Tahun 2000, tentang Pengelolaan

dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, PP No. 109 Tahun 2000, Tentang

Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, PP No. 110

Tahun 2000, tentang kedudukan keuangan DPRD, dll.

35

(51)

Sedangkan secara materil berarti perbuatan yang disebut tindak pidana

korupsi adalah perbuatan yang walaupun tidak bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku namun apabila perbuatan tersebut dianggap

tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan

sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat di pidana.

Perluasan unsur “melawan hukum” ini sangat ditentang oleh sebagian

ahli hukum dan sangat berpengaruh dalam proses penegakan hukum sekarang.

Alasan dari pihak yang menolak perluasan unsur melawan hukum ini adalah

jika unsur “melawan hukum” ini diartikan secara luas, maka pengertian

melawan hukum secara materil dalam Hukum pidana diartikan sama dengan

pengertian “melawan hukum (Onrechtmatige Daad)” dalam pasal 1365 KUH

Perdata dan ini sangat bertentangan dengan asas legalitas yang dalam bahasa

Latin, disebut : “Nullum Delictum Nulla Poena Lege Pravie Poenali” yang

dalam hukum pidana Indonseia pengertiannya telah diadopsi dan dituangkan

dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yang berbunyi: “suatu perbuatan tidak dapat

dihukum/dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan

perundang-undangan yang telah ada”.

Alasan dari para pihak yang menolak perluasan unsur “melawan

hukum” ini pada dasarnya dapat di terima oleh akal sehat, namun belum tentu

bertolak dari suatu pemikiran/akal yang sehat karena perlu diingat juga bahwa

(52)

menerapkan hukum secara materil dalam berbagai perkara tindak pidana

korupsi.

Bertolak dari realita yang demikian dan fakta yang membuktikan bahwa

para pelaku bermasalah dalam kasus korupsi selalu lolos dari jeratan hukum,

maka dalam rangka melakukan pendidikan hukum kritis, pada tulisan ini akan

dibuat catatan hukum terhadap Pasal 2 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2001,

Tentang perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999, Tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi, yang merupakan pasal utama dalam menjerat para

koruptor.

Dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2001, Tentang perubahan atas

UU No. 31 Tahun 1999, Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,

disebutkan bahwa:

“setiap orang baik pejabat pemerintah maupun swasta yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Dari bunyi pasal yang demikian, jelas pasal 2 ayat (1) UU No. 20 Tahun

2001, menghendaki agar siapa saja yang terbukti melakukan tindak pidana

korupsi, sebagaimana yang diatur dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 20 Tahun

2001, akan dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara

paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau

(53)

Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Berkaitan dengan sanksi bagi pelaku

tindak pidana korupsi dalam pasal 2 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2001, pada

pasal 2 ayat (2) UU No. 20 Tahun 2001, Tentang Revisi Atas UU No. 31 Tahun

1999, Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juga menegaskan bahwa

apabila suatu tindak pidana korupsi dilakukan terhadap dana-dana yang

diperuntukan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional,

penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis

ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi, maka para

pelaku tersebut dapat di pidana mati.

Ancaman hukuman seumur hidup untuk kasus korupsi, sudah dikenal

sejak pemberlakuan UU No 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi. Undang – Undang yang menggantikannya membawa kemajuan

yakni sanksi hukuman mati yang terdapat pada Pasal 2 ayat 2 UU No. 20

Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999. Pasal 2 dari UU

tentang pemberantasan korupsi ini membangun harapan masyarakat terhadap

penerapan hukuman mati bagi koruptor, sebagaimana diberlakukan atas

kasus-kasus narkotika dan terorisme. Pertimbangannya, tindak pidana korupsi telah

menimbulkan dampak sosial yang luas.

Dengan adanya keterlibatan pejabat publik dan adanya "catatan" dalam

ancaman sanksi maksimal kasus korupsi, bakal tidak mengherankan bila

Referensi

Dokumen terkait

Tempat bongkar muat barang di DAOP III Cirebon, DAOP IV Semarang, DAOP V Purwokerto, DAOP VI Yogyakarta, DAOP VIII Surabaya dan DIVRE I Medan sebagai lahan

“Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu

 Information technology can be used to  unlock  new  game  content  automatically  once  the  players  have  achieved  something  that  can  be 

Pengumpulan data melalui lembar penilaian observasi guru dan observasi aktivitas siswa dan lembar soal evaluasi siswa, menunjukan bahwa pembelajaran menggunakan

[r]

Walaupun berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal sendiri berpangaruh signifikan terhadap rentabilitas, hendaknya para anggota koperasi atau seluruh pengurus

Berdasarkan hasil perhitungan skor rata-rata pengetahuan tentang penanganan cedera olahraga yaitu sebesar 56% maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan

1. Penyediaan air baku air minum dengan kualitas yang layak masih minim di Kecamatan Kedungjati. Kualitas dan kuantitas air baku air minum yang menurun. Manajemen