• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengeringan Kayu Secara Umum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengeringan Kayu Secara Umum"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS

PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM

Disusun Oleh: Tito Sucipto, S.Hut., M.Si. NIP. 19790221 200312 1 001

DEPARTEMEN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan

keajaiban-Nya sehingga dapat menyelesaikan karya tulis mengenai “Pengeringan

Kayu Secara Umum“.

Karya tulis ini berisi tentang gambaran umum pengeringan kayu utnuk

meningkatkan kualitas kayu. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat

memperkaya khasanah wawasan dan pengetahuan di bidang ilmu dan teknologi

kayu.

Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran

dan masukan yang konstruktif demi menyempurnakan karya tulis.

Medan, Desember 2009

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

Manfaat Pengeringan Kayu... 1

Mekanisme Pengeringan Kayu ... 1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeringan Kayu... 3

Metode Pengeringan Kayu... 3

Cacat Kayu Akibat Pengeringan ... 8

Jadwal Pengeringan... 10

(4)

PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM

Manfaat Pengeringan Kayu

Pengeringan kayu adalah proses penurunan kadar air kayu sampai

mencapai kadar air lingkungan tertentu atau kadar air yang sesuai dengan kondisi

udara di mana kayu tersebut ditempatkan (Tsoumis, 1991). Pada umumnya dalam

penggunaannya, kayu harus dikeringkan terlebih dahulu. Alasan dilakukannya

pengeringan kayu antara lain :

1. Penyusutan pada produk yang menggunakan kayu yang dikeringkan akan

berkurang, pembengkokan dan belah ujung dapat dihindarkan.

2. Kayu terlindung dari serangan jamur pembusuk dan jamur pewarna, sehingga

kayu akan lebih awet. Tingginya temperatur pada pengeringan tanur

membunuh jamur dan insekta yang bisa hidup dalam kayu.

3. Pengeringan menghasilkan kekuatan kayu yang lebih tinggi, dengan asumsi

tidak terjadi cacat khususnya belah ujung. Selain itu, kuat pegang paku

terhadap kayu akan meningkat.

4. Meningkatkan kualitas hasil pengecatan dan proses pengerjaan akhir.

5. Berat kayu berkurang sehingga biaya transportasi bisa lebih rendah.

Mekanisme Pengeringan Kayu

Pengeringan kayu dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu pergerakan air

dari bagian dalam ke permukaan kayu dan penguapan air dari permukaan kayu.

Air dalam kayu umumnya bergerak dari bagian dengan kandungan air tinggi ke

bagian dengan kandungan air rendah. Artinya permukaan kayu harus lebih kering

dibandingkan dengan bagian dalamnya jika ingin mengeluarkan air dari dalam

kayu.

Air bergerak pada bagian dalam kayu ke bagian permukaan kayu sebagai

cairan atau uap melalui saluran dalam struktur selular kayu, dinding sel kayu dan

rongga sel atau saluran kecil yang menghubungkan rongga sel yang berdekatan.

Uap air bergerak dalam saluran ini ke semua arah, melewati atau melalui serat.

(5)

daerah konsentrasi rendah. Difusi pada arah longitudial lebih cepat 10–15 kali

dibandingkan dengan difusi pada arah radial maupun tangensial. Difusi arah

radial lebih cepat dibandingkan dengan difusi arah tangensial. Hal inilah yang

menjelaskan mengapa kayu gergajian flatsawn (papan tangensial) umumnya

mengering lebih cepat dibandingkan dengan kayu gergajian quartersawn (papan

radial).

Kecepatan gerakan uap air dalam kayu tergantung pada kelembaban relatif

dari udara sekitar, kecuraman moisture gradient dan suhu kayu. Semakin rendah

kelembaban relatif udara sekitar, aliran uap air dalam kapiler menjadi lebih cepat.

Kelembaban yang rendah juga mempercepat difusi dengan menurunkan kadar air

pada permukaan, sehingga mempercuram moisture gradient. Semakin tinggi suhu

kayu, uap air akan lebih cepat bergerak dari bagian dalam yang basah ke bagian

luar yang kering. Jika kelembaban relatif terlalu rendah pada tahap awal

pengeringan, dapat terjadi penyusutan yang berlebihan, yang menyebabkan retak

permukaan dan retak ujung. Jika suhu terlalu tinggi, dapat terjadi lengkung,

honeycomb dan penurunan kekuatan.

Selama proses pengeringan, sirkulasi udara perlu diatur. Sirkulasi udara

yang terlalu lambat menyebabkan waktu yang dibutuhkan permukaan kayu untuk

mencapai titik keseimbangan kadar air menjadi lebih lama, selain itu memberikan

kesempatan untuk tumbuhnya jamur.

Karena ekstraktif kimia dalam kayu teras menghalangi saluran, umumnya

moisture bergerak lebih bebas dalam kayu gubal dibandingkan dalam kayu teras,

yang berarti kayu gubal lebih cepat mengering. Namun kayu teras pada

kebanyakan jenis kayu, mengandung kadar air yang lebih rendah dibandingkan

dengan kayu gubal sehingga pada akhirnya akan mencapai keseimbangan kadar

air dengan kecepatan yang sama.

Tahap pengeringan kayu meliputi tahap proses evaporasi konstan, tahap

transisi dan tahap eksponental. Tahap proses evaporasi konstan adalah proses

evaporasi air bebas sel kayu yang tidak berpengaruh pada dimensi kayu. Tahap

transisi adalah proses pengeluaran air terikat dari dinding sel, yang berakibat pada

perubahan dimensi kayu. Tahap eksponental adalah tahap penyesuaian akhir kayu

(6)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeringan Kayu

Faktor yang mempengaruhi pengeringan adalah panas, RH (kelembaban

relatif), dan sirkulasi udara.

1. Panas, merupakan energi yang diperlukan oleh molekul air untuk melepaskan

diri dari ikatan antara molekul pada air bebas dalam rongga sel atau

melepaskan diri dari ikatan dengan tangan hidroksil pada air terikat. Pada

suhu tinggi, udara cenderung menghisap kelembaban atau uap air

dibandingkan dengan udara bersuhu rendah. Panas termal udara sangat

berpengaruh terhadap nilai kelembaban udara. Tetapi nilai kelembaban udara

tidak akan berubah walaupun dipanaskan atau didinginkan.

2. Kelembaban relatif (air humidity), menentukan kapasitas pengeringan udara.

Udara yang lebih kering (kelembaban relatif lebih rendah) memiliki kapasitas

pengeringan yang lebih tinggi dan dapat menahan uap air lebih banyak.

Kapasitas pengeringan dipengaruhi oleh temperatur karena udara yang panas

memiliki kapasitas pengeringan yang lebih tinggi, karena peningkatan

temperatur menyebabkan turunnya kelembaban relatif.

3. Sirkulasi udara (air velocity), berfungsi sebagai pengantar panas ke kayu yang

digunakan untuk menguapkan air dari dalam kayu dan memindahkan uap air

dari permukaan kayu ke udara sekitar. Sirkulasi udara yang baik akan

mempercepat perambatan gelombang panas pada udara sehingga

mempercepat pengeringan.

Metode Pengeringan Kayu

Metode pengeringan kayu yang biasa digunakan antara lain:

Pengeringan udara (alami)

a. Pemilihan tempat, kriteria dalam memilih tempat untuk pengeringan udara

adalah ukuran luas, permukaan datar, terbuka (aerasi baik), kering, bersih dari

sampah/limbah kayu, tidak ditumbuhi rumput-rumputan atau vegetasi yang

lain.

b. Penumpukan, yang harus diperhatikan dalam penumpukan pada pengeringan

adalah pola penumpukan, dimensi penumpukan, fondasi, stiker, atap,

(7)

untuk membentuk lorong-lorong yang mempermudah penanganan

pengeringan. Dimensi penumpukan berpengaruh terhadap kecepatan

pengeringan. Fondasi dimaksudkan untuk menghindari terjadinya aliran air

hujan atau salju yang mengalir dibawah penumpukan kayu. Sticker digunakan

untuk membatasi antar kayu yang ditumpuk yang bertujuan untuk sirkulasi

udara pada setiap kayu yang dikeringkan. Atap dimaksudkan untuk

menghindari hujan, sinar matahari, dan salju. Atap bisa dibuat dari kayu,

asbes, metal. Perlindungan terakhir dimaksudkan untuk mencegah terjadinya

pecah pada kayu yang dikeringkan, dilakukan dengan cara melaburkan parafin

dipermukaan aksial dari kayu.

c. Kecepatan pengeringan, Kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh beberapa

faktor antara lain jenis kayu, ketebalan kayu, pola lingkaran tahun, kayu

teras/kayu gubal, cara penumpukan, kondisi tempat, dan faktor iklim.

d. Pengendalian kadar air, Perubahan kadar air kayu selama pengeringan udara

dapat diketahui. Pengukuran dimaksudkan untuk mempercepat atau

memperlambat keluarnya air dari kayu sampai dengan tingkat tertentu

(dibawah 20%), pengeringan dengan penumpukan bisa dihentikan, dan

kemudian disimpan di gudang tanpa harus menggunakan stiker.

Pengeringan dengan kiln pengering (konvensional)

Kiln drying biasanya menggunakan uap panas, peralatan dilengkapi

dengan pengendali suhu dan kelembaban, sirkulasi udara, dan buangan uap air.

a. Tipe kiln, ada dua tipe kiln-kompartement dan progressive. Pada kiln

kompartemen pengeringan dilaksanakan secara tetap (kayu tidak bergerak).

Kondisi pengeringan (suhu, RH) ditetapkan pada interval tertentu, sampai

dengan kondisi konstan tetap masih berada dalam kiln tersebut. Pada kiln

progressive (kayu bergerak), kayu berjalan secara bertahap sampai dengan

kering dan langsung keluar. Kondisi pengeringannya tidak konstan didalam

kiln, pada saat masuk kondisinya rendah (suhu rendah dan RH tinggi) secara

bertahap suhu dinaikkan dan RH dikurangi.

b. Konstruksi dan peralatan, kiln pengering biasanya dibuat dari tembok batu

bata dan lantainya terbuat dari beton. Dinding dalam kiln biasanya terbuat

(8)

di dalam kiln, dan sirkulasi udara dikendalikan oleh kipas angin yang

diletakkan diatas atau dibawah tumpukan kayu, bahkan kadang-kadang di

samping (dinding samping). Kiln juga dilengkapi miostermeter untuk

mengukur kadar air kayu.

c. Penumpukan, prinsip umum penumpukan kayu pada kiln pengering sama

dengan penumpukan pada pengeringan alami (udara), dibutuhkan stiker

(ganjal) diantara kayu yang berfungsi sebagai sirkulasi udara.

d. Prosedur pengeringan, Penyususnan jadwal pengeringan sangat penting untuk

mengkondisikan suhu dan kelembaban relatif dalam kiln. Jadwal pengeringan

ini disusun dengan maksud untuk mengefisiensikan waktu pengeringan dan

meminimalkan kerusakan akibat pengeringan. Jadwal pengeringan

dikembangkan oleh FPL (Forest Product Laboratory) secara trial and error.

Jadwal ini disesuaikan dengan jenis kayu dan kadar air kayu yang diinginkan.

Tahap-tahap pengeringan meliputi preparatory (persiapan), actual drying

(pengeringan), equaluzation of moisture content (perhitungan kadar air).

Tahap preparatory kayu dipanaskan pada suhu 40-65 OC. Tahap actual drying

yaitu mengeringkan kayu sesuai dengan keinginan. Tahap terakhir mengambil

sample dari kayu yang dikeringkan untuk mengetahui kadar airnya.

Kerusakan pada saat pengeringan dapat diminimalkan dengan cara

mengeringkan secara bertahap.

e. Durasi pengeringan, waktu pengeringan kiln-drying lebih cepat dibanding

dengan pengeringan udara. Faktor yang mempengaruhi waktu pengeringan

adalah sifat anatomi kayu (kayu gubal/teras, hardwood/softwood), ketebalan

kayu, jenis kayu, kecepatan sirkulasi udara dalam kiln, kualitas pengeringan

kayu, perbahan kadar air dari awal-akhir, dan cacat kayu setelah pengeringan.

f. Kadar air akhir, penentuan kadar air kayu yang dikeringkan tergantung pada

tujuan pengeringan dan tujuan penggunaan kayu tersebut.

g. Penyimpanan kayu gergajian, sifat higroskopis kayu tidak tergantung pada

metode pengeringan udara maupun pengeringan dengan kiln. Kayu kering

bisa menyerap air lagi. Untuk itu kayu yang sudah dikeringkan perlu

disimpan pada kondisi dimana tempat penyimpanan tersebut dapat menahan

(9)

(ganjal), dimana suhu dan kelembaban relatif terus dijaga dimana kayu tidak

akan lagi menyerap air dan diusahakan seimbang kadar air kayu dengan

kondisi di ruangan.

Metode pengeringan yang lain

a. Pengeringan dengan energi matahari, metode ini lebih cepat dibanding

pengeringan udara. Ada 2 tipe : greenhouse dan solar collector. Solar

collector dengan cara mengumpulkan panas dari matahari yang ditransfer

kedalam kiln pengering. Sedangkan pada greenhouse pelaksanaannya lebih

sederhana dibanding dengan kiln-drying, dan kadar air kayu dapat direduksi

sampai dengan KA 7% dibanding dengan pengeringan udara.

b. Pengeringan dengan dehumidifikasi, Air yang dikeluarkan dari kayu tidak

dipindahkan dari kiln dalam bentuk uap air, seperti pada pengeringan

kiln-konvensional, tetapi dikondensasikan dan dipindahkan sebagai cairan.

c. Pengeringan temperatur tinggi, pengeringan ini mempunyai keuntungan dapat

mengeringkan secara cepat, tetapi masih punya kelmahan antara lain

membutuhkan kiln khusus (metal atau berlapis aluminium), juga tidak efektif

pada kayu yang mempunyai kadar air tinggi. Pengeringan metode ini juga

menyebabkan warna kayu menjadi gelap, keluarnya resin ke permukaan kayu,

dan lepasnya mata kayu. Kerugian yang lain dapat menyebabkan menurunnya

sifat kekuatan kayu (MOR,MOE, keuletan).

d. Pengeringan dengan peningkatan temperatur secara kontinu, pengeringan

dimulai pada suhu 60 oC dan perbedaan bola basah dan bola kering tetap

konstan, samapi dengan bola kering suhunya menjadi 100 oC. Metode ini lebih

cepat dibanding dengan metode temperatur tinggi, lebih efektif, menghemat

energi, dan meminimalkan cacat akibat pengeringan.

e. Pengeringan kimia, metode ini didasarkan pada penggunaan bahan kimia yang

dapat mengikat air dan mengurangi penyusustan. NaCl dan urea efektif

digunakan untuk pengeringan, tetapi sangat korosif terhadap metal. Metode ini

memakan biaya besar, kayu yang sudah kering dapat ”berkeringat” pada RH

tinggi (diatas 80 %), dan metode ini jarang digunakan. Metode menaburkan

garam (salt seasoning) untuk meningkatkan permeabilitas kayu. Bahan kimia

(10)

f. Pengeringan dengan penguapan,. Kayu ditempatkan pada silinder tertutup

(seperti pada pengawetan) pada suhu tinggi 100-200 oC dengan dicampur uap

organik dan terjadi kondensasi. Dua cairan ini tidak akan bisa bercampur

karena kerapatannya berbeda. Air dapat diukur dan dibuang, bahan kimianya

bisa dipakai kembali, terakhir dilakukan vakum untuk menghilangkan bahan

kimia yang diserap kayu. Keuntungan metode ini pengeringan cepat, tetapi

biaya tinggi dan membutuhkan energi besar.

g. Pengeringan dengan minyak mendidih, metode ini biasanya dikombinasikan

dengan perlakuan pengawetan pada kayu yang mempunyai kadar air tinggi.

Metode ini juga menggunakan suhu tinggi dengan perlakuan vakum.

Keuntungan dari metode ini adalah perlakuan pengawetan dan pengeringan

dapat bersamaan, sedangkan kerugiannya adalah kayu bisa menjadi gelap, dan

kadang-kadang pecah dan retak.

h. Pengeringan dengan pelarut, kayu ditempatkan pada suatu ruangan kedap

udara dan disemprotkan aseton panas (90 oC), setelah itu cairan (campuran

aseton, air yang keluar dari kayu, dan zat ekstraktif) dibuang, sementara udara

bersirkulasi sampai dengan pengeringan selesai. Setelah pengeringan selesai

pelarut dapat didistilasi dan digunakan kembali. Keuntungannya dapat

mengeringkan kayu dengan cepat tetapi biaya tinggi.

i. Pengeringan dengan elektrik frekuensi tinggi, Kayu dipanaskan secara cepat

dan merata. kayu diangkut dengan conveyor dan melewati bidang listrik, kayu

kering secara bertahap. Keuntungan metode ini cepat, namun peralatannya

sangan mahal.

j. Metode lain, antara lain menggunakan ruang hampa, tempat yang berputar

(centrifuging), dan radiasi ultraviolet. Vacuum-drying mengeluarkan kadar air

pada suhu dibawah mendekati 100 oC dan berlahan dinaikkan sampai dengan

suhu tinggi mancapai diatas 100 oC.metode ini dikombinasikan dengan

frekwensi tinggi tetapi tidak ekonomis. Pada centrifuging, kayu diletakkkan

pada tempat yang berputas dimana suhu dan RH dikontrol. Metode ini cepat,

ekonomis, tanpa cacat, tetapi hanya sebatas teori, tanpa ada aplikasinya.

Radiasi ultraviolet sangat jarang diaplikasikan dan tidak ekonomis,

(11)

Steaming

Steam (uap) digunakan dalam kiln pengeringan untuk mengendalikan

kelembaban relatif dalam ruang pengering yang bertujuan untuk mencegah cacat

kayu. Steaming juga dimanfaatkan untuk hal yang lain, seperti merubah warna

alami kayu, atau persiapan untuk produksi veneer dan steaming untuk

membengkokkan kayu.

Cacat Kayu Akibat Pengeringan

1. Kerusakan karena Penyusutan

Kayu yang menyusut jika dikeringkan akan menyebabkan terjadinya

beberapa kerusakan. Selama tahap awal pengeringan, lapisan luar (outer

shell) kayu kehilangan air dan ketika mencapai titik jenuh serat (TJS), lapisan

permukaan mulai menyusut. Jika lapisan dalam (inner core) lebih padat,

dengan catatan masih di atas titik jenuh serat, maka core akan menahan

penyusutan lapisan luar. Laju penyusutan relatif terhadap ketebalan,

menghasilkan gaya tarik (tensile stress) pada bagian luar dan berakibat pada

gaya tekan (compression stress) pada bagian dalam. Gaya tarik lapisan luar,

bisa sangat besar sehingga melebihi batas elastis pada arah tegak lurus serat

dan menjadi bentuk yang permanen. Pada beberapa kasus, gaya bisa lebih

besar dari kekuatan maksimum dan menyebabkan retak.

Selama proses pengeringan, lapisan dalam mulai mencapai keadaan di

bawah titik jenuh serat dan menyusut, mengakhiri tahap pengeringan yang

kedua. Gaya tarik yang terbentuk selama tahap pengeringan yang pertama,

memberikan pengaruh besar karena menahan penyusutan lapisan dalam. Hal

ini menyebabkan kembalinya stress (stress reversal), yaitu lapisan luar

mengalami gaya tekan dan lapisan dalam mengalami gaya tarik.

Gaya tekan pada permukaan biasanya terjadi dekat pada retak

permukaan sehingga mudah terlihat selama tahap awal pengeringan,

menimbulkan kesan bahwa kayu tersebut sudah tidak dapat dipergunakan.

Jika gaya tarik pada lapisan dalam lebih besar dari gaya tarik pada arah tegak

lurus serat maka akan terjadi internal rupture, namun tidak dapat terlihat pada

(12)

Ketika proses pengeringan selesai, papan masih dalam keadaan

tegangan yang belum konstan, lapisan luar mengalami gaya tekan dan lapisan

dalam mengalami gaya tarik. Kondisi ini biasanya berakhir dengan terjadinya

kekerasan. Pada beberapa kasus tidak menimbulkan masalah, kecuali jika

pada papan terjadi ketidakseimbangan tegangan antara tebal dan lebar, yang

dapat menyebabkan penyimpangan. Dengan kondisi pengeringan kilang

yang terkendali, kondisi stress ini dapat dihilangkan.

Pada tahap akhir pengeringan, panas diberikan pada waktu singkat dengan

kondisi kelembaban relatif yang tinggi akan mendorong terbentuknya gaya

tekan pada lapisan luar. Jika gaya tekan akhir ini sama dengan gaya tarik

awal, semua tegangan dapat dihilangkan dan akhirnya kayu gergajian bebas

dari tegangan. Perlakuan ini disebut dengan conditioning. Namun jika waktu

conditioning terlalu lama, stress dapat kembali dan kayu gergajian secara

permanen akan berada pada kondisi reverse-case-hardened yang tidak

diinginkan.

Jenis cacat karena penyusutan, adalah sebagai berikut :

a. Retak ujung dan permukaan (end and surface checks)

Hal ini terjadi karena pada saat permukaan kayu mengering, bagian

luar kayu mulai menyusut, tetapi bagian dalam kayu masih basah.

Akibatnya terjadi tegangan dan retak pada permukaan dan ujung kayu.

Cara pencegahannya adalah dengan mengoleskan oli, resin, urea atau

polyetilen glikol (PEG) pada ujung kayu. Pada tahap awal pengeringan

digunakan temperatur rendah, kemudian dinaikkan secara perlahan.

b. Case hardening

Case hardening disebabkan oleh tingginya kadar air dalam kayu

sebelum mulai dikeringkan dan sangat cepatnya proses pengeringan.

Proses evaporasi dalam inti kayu terhambat karena sel permukaan kayu

yang kering menghalangi keluarnya air dari sel bagian dalam kayu ke

(13)

c. Retak dalam (honey combing)

Cacat retak dalam adalah cacat yang diakibatkan oleh kesalahan

pengendalian mesin pengering dan merupakan kelanjutan dari cacat case

hardening kayu.

d. Perubahan bentuk (distorsi)

Perubahan bentuk yang mungkin terjadi adalah melengkung

(bowing), mencawan (cupping), dan memuntir (twisting). Perubahan

bentuk ini disebabkan oleh tidak meratanya persentase penyusutan

bagian-bagian kayu.

2. Kerusakan karena kandungan ekstraktif

Ekstraktif kayu dapat menyebabkan warna yang tidak diharapkan

(discolouration) pada permukaan kayu karena perubahan konsentrasi

ekstraktif ataupun perubahan kimiawi ekstraktif (polimerisasi ekstraktif)

selama pengeringan. S ebagai contoh warna gelap pada bagian kayu yang

disanggah selama pengeringan.

3. Kerusakan karena Jamur

Blue stain, decay dan mold dapat berkembang pada kayu gergajian,

selama menunggu proses pengeringan atau pada kondisi pengeringan

tertentu. Kayu gubal pada kebanyakan jenis kayu, lebih mudah diserang

jamur daripada kayu terasnya karena kandungan ekstraktifnya lebih sedikit.

Kerusakan karena jamur terjadi sebelum pengeringan, ketika kayu dalam

kondisi di atas titik jenuh serat dan jamur mendapat makanan, air, oksigen

dan suhu yang sesuai. Kerusakan ini dapat dicegah dengan pengeringan

kilang atau pengeringan udara yang dipercepat, khususnya pengeringan pada

permukaan, ataupun menggunakan cairan kimia antifungal.

Jadwal Pengeringan

Jadwal pengeringan merupakan kompromi antara kebutuhan kecepatan

pengeringan kayu dengan efisiensi ekonomi dan kebutuhan untuk menghindari

kondisi pengeringan yang dapat menyebabkan kerusakan. Jadwal pengeringan

(14)

pada berbagai tahap pengeringan, umumnya dengan peningkatan suhu dan

penurunan kelembaban relatif.

Stress yang terjadi selama pengeringan merupakan faktor pembatas dalam

menentukan jadwal pengeringan. Jadwal pengeringan dibuat sedemikian rupa

sehingga stress akibat pengeringan tidak melebihi kekuatan kayu pada suhu dan

kadar air tertentu pada kondisi pengeringan tersebut.

Jadwal pengeringan tiap kayu akan berbeda, tergantung jenis, ketebalan,

kualitas dan penggunaan akhir kayu gergajian. Terdapat dua macam jadwal

pengeringan, yaitu penjadwalan berdasarkan kadar air dan penjadwalan

berdasarkan waktu pengeringan. Kebanyakan kayu daun lebar menggunakan

jadwal pengeringan berdasarkan pengaturan kadar air. Sedangkan jadwal

(15)

Referensi

Arganbright, D.G. 1989. Drying Process. In:Arno P. Schniewind, Robert W. Cahn

dan Michael B. Bever (Eds.), Concise Encyclopedia of Wood &

Wood-Based Materials,. Pergamon Press, Oxford, England.

Budianto, A. Dodong. 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Penerbit Kanisius,

Semarang.

Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood; Structure, Properties,

Utilization. Van Nostrand Reinhold, New York.

Referensi

Dokumen terkait

Pada pengeringan hingga ke KA kering tanur, bagian batang memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase penurunan KA harian, sedangkan pada pengeringan hingga ke

Grafik Rerata Kadar air Kayu Pengkih Pada data pengukuran kadar air dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kadar air basah tertinggi pada bagian kayu dekat ujung,

Pengaruh massa umpan terhadap profil kandungan uap air produk yaitu semakin sedikit massa tepung yang dikeringkan, maka semakin cepat tepung kering yang ditandai

Hasil pengujian kayu oven, kayu kering angin dan kayu basah dengan tegangan 1.767 Vrms dan frekuensi 10 kHz diperoleh data bahwa bahan kayu basah dengan jenis borneo merupakan

Pengeringan kayu adalah suatu proses pengeluaran air dari dalam kayu hingga mencapai kadar air yang seimbang dengan lingkungan dimana kayu akan digunakan

Distilasi uap air adalah pernyempurnaan teknik distilasi air, teknik ini jauh lebih baik di bandingkan distilasi uap kering dan distilasi air, karena distilasi ini bisa

Kayu memiliki sifat anisotropis dalam penyusutan dan pengembangan, pada perubahan kadar air yang sama kayu mengalami perubahan dimensi yang berbeda pada ketiga arah dimensinya

Faktor koreksi  Cm adalah faktor koreksi layan basah, untuk memperhitungkan kadar air masa layan yang lebih tinggi daripada 19% untuk kayu masif dan 16% untuk produk kayu yang