“PELAYANAN PASTORAL BAGI KELUARGA”
(Oleh: Nasib Sembiring Brahmana)
I. Pendahuluan
Pelayanan pastoral adalah suatu jawaban terhadap kebutuhan setiap orang akan kehangatan,
perhatian penuh, dukungan, dan pendampingan; kebutuhan yang memuncak pada waktu
tekanan pribadi dan kekacauan sosial terjadi. Oleh karena itu, pelayanan pastoral pernikahan
merupakan dimensi pelayanan gereja yang perlu dilakukan mengingat sepanjang rentang
kehidupannya, umat tidak akan terlepas dari krisis-krisis atau persoalan-persoalan
pernikahan, yang terduga maupun yang tidak terduga.
II. Permasalahan Dalam Keluarga
Banyak hal yang dapat menimbulkan dan memicu persoalan atau masalah dalam pernikahan
dan rumah tangga. Secara jelas dan detail M.S Hadisubrata memaparkan masalah-masalah
yang timbul dalam pernikahan. Menurutnya masalah-masalah dalam pernikahan timbul
karena pengaruh dari luar dan dari dalam hubungan pernikahan itu sendiri. Masalah yang
timbul karena pengaruh dari luar misalnya adalah dampak modernisasi sebagai era peradaban
teknologi modern yang membawa banyak perubahan bagi kehidupan keluarga. Salah satu
perubahan karena modernisasi adalah pergeseran dari masyarakat agraris ke masyarakat
industri. Pergeseran ini berdampak terhadap hubungan kekerabatan dalam keluarga.
Misalnya, dalam masyarakat agraris keluarga dipahami sebagai keluarga besar
(
extended
family
) yang tinggal dalam satu rumah, mencari makan bersama dan dimakan
bersama. Sedangkan dalam masyarakat industri keluarga hanya berarti ayah, ibu dan anak
yang belum menikah (
nuclear family
), mereka harus bertanggung jawab atas keluarganya
sendiri-sendiri. Perubahan pola hidup keluarga ini juga berdampak terhadap peranan
masing-masing anggota keluarga (Hadi Subrata, 2008: 22-23). Jika perubahan ini tidak diantisipasi
dan ditangani, maka akan menimbulkan masalah-masalah serius dalam rumah tangga.
Sedangkan masalah-masalah yang timbul dari dalam pernikahan biasanya disebabkan
oleh ketidakmampuan dalam penyelesaian kepribadian dan dalam mengatasi
masalah-masalah yang berhubungan dengan pernikahan itu sendiri.
Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut (Hadi Subrata:2008, 30-35):
a.Harapan-harapan yang tidak realistis. Biasanya harapan-harapan ini muncul pada masa
romantik, yakni selama pacaran dan tahun-tahun pertama pernikahan. Harapan-harapan
yang tidak realistis ini misalnya, mereka merasa bahwa pernikahan mereka akan
membuat mereka bahagia selamanya, hubungan seksual mereka akan selalu
menyenangkan, mereka tidak akan pernah kesepian lagi, dengan perkawinan ini
pasangan mereka akan berubah menjadi lebih baik, dan sebagainya.Ketika
harapan-harapan ini tidak terpenuhi, maka dapat menimbulkan kekecewaan bagi kedua belah
pihak.
dan lain-lain, dan adanya kelainan mental misalnya homoseks atau lesbian,
schizophrenia, sadisme dan lain-lain. Kedua, konflik yang bersumber pada hal-hal yang
erat kaitannya dengan perkawinan, misalnya masalah keuangan, kehidupan dan
tempramen sosial, pendidikan anak, agama, hubungan dengan mertua dan ipar,
penyelewengan dalam hubungan seksual dan lain-lain.
c.Ketidakpuasan seksual; hal ini dapat disebabkan sebagai akibat dari kekecewaan
terhadap pasangan yang dapat mengakibatkan mengendornya hubungan pribadi
suami-isteri. Ketidakpuasan dalam hubungan seksual ini dapat juga disebabkan oleh anggapan
yang salah (tabu) mengenai aktivitas seksual. Hambatan-hambatan yang menyebabkan
ketidakpuasan seksual dapat meliputi hambatan psikologis, misalnya rasa takut dan
cemas akan kehamilan, dan hambatan fisik, misalnya dalam bentuk kelainan seksual.
d.Masalah penyesuaian diri terhadap keluarga: latar belakang keluarga yang berbeda,
cara bergaul, cita-citanya tentang rumah tangga, disiplin dalam rumah tangga, sikap
mereka terhadap keluarga kedua belah pihak, tentang hubungan saudara ipar, dan
lain-lain.
e.Masalah pengendalian keuangan: Hasil survai para ahli menyatakan lebih50 %
perceraian disebabkan karena masalah keuangan dalam keluarga (Vivian: 2001, 118).
f.Masalah harapan-harapan: harapan-harapan mengenai soal keuangan, anak, cita-cita,
masa depan, masalah seksual dan lain-lain dalam rumah(keluarga) yang dibina.
g.Kehidupan rohani
(spritual life)
: Keanggotaan gereja, doa dan kebaktian bersama,
peran serta atau partisipasi dalam gereja, dan lain-lain.
Untuk itulah pelayanan pastoral pernikahan diperlukan.
III. Pelayanan Pastoral Bagi Keluarga
Clinebell mengatakan penggembalaan adalah pelayanan pendeta dan anggota jemaat secara
bersama. Pendeta (pelayan yang ditahbiskan) merupakan pelatih yang bertanggung jawab
untuk memampukan anggota jemaat saling melayani di samping menjalankan pelayanannya
sendiri yang unik dan berharga (Clinebell: 1984, 34.) Menurut John Patton dalam
bukunya
Pastoral Counseling: A Ministry of The Church
, pelayanan pastoral adalah
pelayanan gereja yang berdasar pada pelayanan Kristus (Potton, 1983: 16).
Di dalam bukunya, “
Apakah Penggembalaan Itu
?”, Bons-Storm mengemuka- kan bahwa
pelayanan pastoral merupakan pelayanan yang menekankan manusia sebagai individu (satu
persatu) dan pribadi, serta relasi antara pelayan dan anggota-anggota jemaat yang setara,
mencakup krisis-krisis dalam kehidupan, bertujuan kesembuhan dalam bentuk kekuatan dan
pertumbuhan dalam diri orang-orang yang dilayani dengan menggunakan sumber-sumber
teologis-alkitabiah dan psikologi.Bons-Storm mengemukakan bahwa penggembalaan
menjadi jelas gambarannya kalau kita membaca Yoh 21:15-19 (menggembalakan anak
domba maupun domba dewasa) (Bons-Storm: 1982, 20).
Menurut Clinebell ada empat faktor yang saling berkaitan erat antara pelayanan pastoral
pernikahan dengan keharmonisan pernikahan yaitu (Clinebell: 1984, 318-320):
1.Pelayanan pastoral pernikahan memungkinkannya tetap berhubungan secara tetap
dengan pasangan suami-isteri dan keluarga pada setiap tahap dan kejadian tertekan
dalam kehidupan keluarga. Pendeta mempunyai kesempatan pendampingan dan
konseling yang amat banyak dalam pelayanan kepada pasangan suami-isteri di dalam
kunjungan keluarga, serta dalam keterlibatannya dalam kehidupan anggota keluarga
masing-masing dari semua tahapan pernikahan dan juga baik dalam duka dan
sukacita.Selanjutnya peran konseling ini memampukan dan memberikan pemahaman
bagi pasangan suami-isteri untuk menguatkan pergaulan dan keterampilan komunikasi
penyelesaian konflik kontemporer. Konseling semacam ini bisa bertumbuh dalam
kesempatan konseling ketika pasangan didera krisis.
2.Pelayanan pastoral pernikahan dapat memberikan sumbangan bagi kesehatan mental,
kesehatan jasmani dan kesehatan rohani dari pasangan suami-isteri. Konseling semacam
ini dapat memfokuskan sinar yang menyembuhkan dan menumbuhkan pada akar-akar
kesehatan dan penyakit kepribadian. dengan demikian, konseling pernikahan merupakan
suatu bentuk yang diperlukan untuk pencegahan penyakit mental dan rohani yang
pengaruhnya dapat berlanjut ke masa depan.
3.Pelayanan pastoral pernikahan memberikan keterampilan bagi pasangan suami-isteri
guna mengatasi persoalan-persoalan dalam pernikahan kelak nanti.
4.Pastoral pernikahan dapat mengubah secara mendalam peranan, hubungan, citra atau
identitas dari suami dan isteri. Melalui pastoral pernikahan akan diajarkan serta
diberikan keterampilan bagaimana menjalin hubungan kerja yang sederajat dalam hal
mana didalamnya melibatkan hubungan komitmen dan kesetiaan.
Secara alkitabiah, pelayanan pastoral/penggembalaan pernikahan perlu dilakukan karena hal
itulah yang dilakukan dan ditunjukkan Allah dan Yesus Kristus kepada umat manusia dalam
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah dan Yesus Kristus digambarkan sebagai gembala
yang mencirikan suatu kualitas, karakter dan pekerjaan yang dimiliki dan dikerjakan oleh
Allah dan Yesus kepada umat manusia sebagai domba-domba-Nya. Gereja harus melakukan
pelayanan ini karena secara alkitabiah inilah salah satu alasan pelayanan gereja (motif
menggembalakan), selain karena Tuhan sendiri memerintahkannya (Yoh. 21:15, 16, 18, bnd.
Yeh. 34). (Brister: 1992, 33-34).
Pelayanan Pastoral pernikahan bersifat holistik berarti keseluruhan hidup manusia itu
berelasi satu dengan yang lainnya, sekaligus bertujuan menyeimbangkan dan meningkatkan
seluruh aspek kehidupan yang ada. Menurut Clinebell, dalam
BasicTypes of Pastoral Care
and Counseling,
ada enam aspek (Clinebell: 1984, 31):
1. Merayakan jiwa (
mind
), termasuk perasaan, pikiran, pengalaman, dan kreasi,
memperkaya kesadaran, membebaskan kreativitas, mempertajam kesadaran,
kekuatan untuk membangun pernikahan. Perbedaan dalam masing-masing pasangan
bukanlah sumber perpecahan.
2. Merevitalisasi tubuh atau jasmani (
body
): memampukan untuk mengatasi sikap
egois dan stress. Bagian ini ingin menekankan bahwa untuk mengatasi sikap-sikap
semacam itu, dibutuhkan revitalisasi tubuh atau jasmani.
3. Memperbaharui dan memperkaya hubungan intim pasangan. Bagian ini menekankan
bahwa hubungan intim bukan saja soal hubungan seks, namun juga patut diperhatikan
hubungan-hubungan yang positif yang membangun pernikahan itu.
4. Memperdalam hubungan seseorang dengan alam dan lingkungan: seseorang dapat disebut
utuh ketika secara fisik, mental dan spiritual, membangun dan memelihara alam. Bagian
menekankan bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang terasing dalam alam maupun
lingkungan.
5. Meningkatkan hubungan dengan lembaga-lembaga dalam kehidupan seseorang. Pada
bagian ini, terlalu sering didengar bahwa pelayanan pastoral sering terlalu
hiper-individualistis. Karena itu, perlu diperhatikan sisi lain dari pribadi yaitu masyarakat.
Lembaga-lembaga yang dimaksud adalah keluarga, gereja maupun lembaga adat.
6. Meningkatkan dan memvitalkan hubungan seseorang dengan Tuhan.
Tuhan merupakan sumber seluruh kehidupan, sumber segala keutuhan. Bagian
ini menekankan bahwa patut diakui bahwa segala sumber kehidupan, sumber
segala keutuhan adalahTuhan. Meningkatkan dan memvitalkan hubungan
dengan Tuhan justru semakin mengokohkan pernikahan itu sendiri.
Tujuan pelayanan pastoral pernikahan berarti juga menjadikan pelayanan pastoral menjadi
efektif. Tujuan holistik dari pelayanan pastoral ini adalah meningkatkan kemampuan berelasi
dengan keseluruhan yang ada dalam diri sendiri dan orang lain atau pasangan, untuk
meningkatkan hubungan yang mutualistis sekaligus memuaskan. Selain itu juga
mempersiapkan suami-isteri dilengkapi agar ketika masalah-masalah dalam keluarga muncul
dapat diatasi secara lebih membangun. Pasangan juga diperlengkapi agar mereka dapat
meningkatkan hubungan yang bermakna dengan Allah. Pasangan suami-isteri juga
dimampukan sekaligus diperlengkapi agar menjadi agen-agen rekonsiliasi secara keseluruhan
baik dalam keluarga, komunitas dan gereja.
Kerinduan menciptakan pernikahan bahagia haruslah memerlukan upaya “merajut
bersama”, cinta kasih, kesetiaan dan relasi yang baik di antara suami-isteri, terlebih kepada
Tuhan, Sang Maha Kasih yang ilahi.
1. Cinta Kasih dalam Pernikahan
Berbicara tentang cinta-kasih, kita mengenal kasih agape. Agape berarti cinta yang tidak
mementingkan diri sendiri, cinta rohani, cinta persaudaraan, kemurahan hati dan keharuan.
Agape merupakan kasih yang berdasarkan pada hormat dan pengetahuan yang dalam akan
ketuhanan-Nya termasuk pada perintah-perintah-Nya untuk manusia (Rottschafer: 1999,
706). Abineo menegaskan bahwa cinta agape adalah cinta yang murni. Allah adalah cinta
murni, cinta yang dicurahkan (Rm. 5:5). Agape artinya berada untuk orang lain. Penulis
kitab-kitab Perjanjian Baru menggunakan kata “
agapan
” untuk menyatakan bahwa Allah
bukanlah Allah yang egois dalam cinta-Nya kepada orang-orang yang hidup bermusuhan
dengan Dia. Cinta Allah tidak mencari apa yang menyenangkan, tetapi Ia membuat menjadi
menyenangkan. Ia mencurahkan dan membagi-bagikan karunia-Nya tanpa syarat kepada
orang-orang berdosa. Agape ialah cinta kepada seseorang yang tidak layak untuk dicintai.
Agape ialah kemurahan, belas kasih yang sedalam-dalamnya (Abineno: 1983, 67-68).
Dalam pernikahan suami-isteri hanya dapat menemukan kebahagiaan dalam
pasangannnya kalau ia mau hidup untuk dia. Disinilah letak cinta-kasih (agape) dalam
pernikahan. Agape juga berperan dalam hubungan seksual. Agape tidak dapat berfungsi
sepenuhnya dalam hubungan suami-isteri kalau dalam hubungan itu sedikitpun tidak terdapat
unsur erotic. Kekecewaan, konflik dan kesulitan lain yang merongrong banyak pernikahan
sering disebabkan oleh eros yang tidak dipimpin, diatur dan dikekang oleh agape. Hanya
cinta agape Allah yang dapat membebaskan kita dari cinta kita yang hanya berpusat pada diri
dan kepentingan sendiri, serta mengajar kita untuk mencintai sesama manusia, juga kepada
tidak mencintai atau memusuhi kita. Dalam hubungan suami-isteri kita dapat saling
mengampuni dan mengandalkan cinta Allah. Dengan pengampunan (mengampuni seorang
akan yang lain) pernikahan akan bisa rukun dan bahagia (Abineno: 1983, 71-73).
2. Kesetiaan dalam Pernikahan
Richard Foster menuliskan bahwa pernikahan Kristen merupakan perjanjian. Sebuah
perjanjian adalah ikrar, sebuah janji kasih dan kesetiaan. Sebuah perjanjian melibatkan
kesinambungan dalam pengertian melihat ke masa depan dan menoleh ke belakang kepada
sejarah bersama-sama. Sebuah perjanjian berarti keterlibatan, sebuah pengabdian kepada
sebuah hubungan kasih dan perhatian yang kaya semakin bertumbuh (Foster, 155-156).
Gagasan pernikahan sebagai suatu
covenant relationship
(ikat janji) juga didukung
oleh pendapat Kartini Kartono yang mengatakan bahwa ikatan laki-laki dan perempuan
dalam bentuk relasi suami-isteri itu sebenarnya merupakan ikatan janji kesetiaan cinta-kasih
yang diikrarkan dalam janji nikah. Nikah merupakan manisfetasi ikatan janji setia di antara
laki-laki dan perempuan yang memberikan batasan-batasan dan pertanggungjawaban tertentu,
baik kepada sang suami maupun pada si isteri (Kartini: 1986, 18).
Prinsip fidelitas atau kesetiaan dalam pernikahan berarti tetap berusaha menjaga
kesetiaan dan kekudusan pernikahan. Arti kesetiaan dalam pernikahan yang dimaksud
sebagaimana ditulis lebih rinci oleh Richard Foster, adalah (a) monogami; (b) sebuah janji
seumur hidup untuk mengasihi dan setia; (c) saling merendahkan diri dalam dan takut akan
Kristus; (d) pengendalian seksual di luar perjanjian pernikahan; dan (e) kebebasan seksual di
dalam janji pernikahan (Foster, 156-162).
untuk melindungi kebahagiaan dan keutuhan keluarga dari hanya pelampiasan hawa
nafsu (Budyaprana: 1987, 38). Orang Kristen dewasa ini harus melihat perintah tersebut
sebagai suatu “penjaga” atas keberlangsungan ikatan pernikahan (Shelton: 1993, 39).
Dasar dan teladan kesetiaan kita dalam pernikahan adalah Allah sendiri. Allah
sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab adalah Allah yang setia (I Kor. 1:9;
Mzm.145:13). Paulus juga menyebutkan bahwa kesetiaan merupakan salah satu dari buah
Roh (Gal.5:22). Oleh sebab itu kesetiaan harus dipertahankan, sebab kita memiliki Allah
yang setia dan kita ingin hidup sesuai dengan keteladanan-Nya.
3. Membangun Relasi yang Baik
Hidup adalah sebuah relasi. Hubungan yang baik menghasilkan suasana yang baik. Oleh
sebab itu, sangat penting dibangun suatu relasi. Dalam pernikahan, masing-masing orang
(suami atau isteri) berupaya supaya terbangun relasi yang baik dengan menjalin komunikasi
yang baik setiap hari. Dasar dan pusat dari relasi ini adalah Yesus Kristus. Relasi yang baik
antara suami-isteri selalu dapat diukur dengan bagaimana suami-isteri terhadap Tuhannya.
Dimensi kedekatan relasi ini dapat digambarkan secara sederhana dengan “segi tiga cinta” di
bawah ini:
Diagram “Segi tiga cinta” di atas memperlihatkan bahwa suami dan isteri yang berupaya
mendekat kepada Tuhan maka dengan sendirinya relasi mereka pun semakin dekat terhadap
satu sama lain. Menambahkan dimensi rohani akan mengubah hubungan pernikahan menjadi
ikatan rumah tangga yang kuat. Tanpa kesatuan rohani tidak akan pernah ada keutuhan
pemahaman, komunikasi, ataupun seks (Nancy: 2006, 162). Tanpa campur tangan Tuhan
dalam “membangun rumah tangga”, maka sia-sialah kita membangunnya (Mzm. 127:1).
IV. Kesimpulan
Pernikahan yang direncanakan Allah adalah pernikahan yang dilandasi cinta-kasih.
Persekutuan cinta kasih ini harus selalu diperjuangkan supaya tetap menjadi suatu pernikahan
yang ideal (sesuai dengan rancangan Allah) dan bahagia. Kebahagiaan pernikahan dapat
terjadi apabila Kristus hadir sebagai pusat dari relasi pernikahan tersebut. Cinta-kasih,
kesetiaan dan relasi yang baik antara suami-isteri terus dibangun dan dipertahankan dalam
dan bersama Kristus
---Daftar Pustaka
- Abineno, JL.Ch.
Pernikahan
. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.
- Brister, C.W.
Pastoral Care in The Church.
New York: Harper Collins
Publishers, 1992.
- Campbell, A.V. “
Love
”, dalam Rodney J. Hunter, et.al. (eds.),
Dictionary of
Pastoral Care and
Counseling.
Nashville: Abingdon Press, 1990.
- Clinebell, Howard.
Basic Types of Pastoral Care and Counseling
. Nashville:
Abingdon Press, 1984.
- Hadisubrata, M.S.
Keluarga dalam Dunia Modern
. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2008.
- Patton, John.
Pastoral Counseling: A Ministry of The Church
. Nashville:
Abingdon Press, 1983.
- Pelt van Nancy,
The Compleat Marriage
(terj.) Bandung: Indonesia Publishing
House, 2006.
- Rottschafer, R.H. “
Love
”, dalam David G. Benner & Peter C. Hill et.al. (eds.),
Baker Encyclopedia of Psychology & Counseling (Michigan: Baker Book House
Corp., 1999.
- Soesilo, Vivian.A.
Bimbingan Pranikah. Cet. Ke 3
. Malang: SAAT, 2001.
Biografi Penulis
Nasib Sembiring, lahir di perladangan Ujung Teran - Langkat 03 Juli 1949. Anak ke-4 dari 5
bersaudara di keluarga Malem Sembiring Brahmana (+ 1953) dan Tera Malem br. Sitepu
Pandebesi (+ 2006). Dosen tetap dan Direktur pascasarjana di STT Lintas Budaya Jakarta.
Alumnus SMA negeri-IV Medan (1967). Insinyur Teknik Industri (Ir.) dari Fakultas Teknik
USU Medan (1976). Karyawan di PT Socfindo Medan (1975-2005); Head of Enginering PT
MAKIN GROUP Jakarta (Jan-Mei 1976). Dosen dan Direktur Pascasarjana STT Lintas
Budaya (2012-2016) Master of Business Administration (M.B.A) dari Kennedy Western
University Wyoming USA – LMII Medan (2000); Magister Ministri (M.Min) dari STT
Jakarta (2008); Master of Arts in Counseling (M.A) dari IFTK Jaffray Jakarta (2010); Master
Teologiae (M.Th) dan Doctor of Ministry (D.Min) dari STT Lintas Budaya (2011);
Mahasiswa program Doktor Ilmu Psikologi Angkatan ke-IX/2012-2015 di Universitas
Persada Indonesia – Y.A.I Jakarta. Mempunyai isteri bernama Tetap br. Sitepu Buahdiken,
BA (61 Thn) bebere Bangun dan dikaruniai lima orang puteri; tiga menantu, dan lima orang
orang cucu laki-laki.-
RIWAYAT HIDUP / CURRICULUM VITAE
N a m a : Nasib Sembiring Brahmana.
Tempat / tgl lahir : Ujung Teran-Langkat, 03 Juli 1949 merupakan anak ke-4 dari 5
bersaudara
di keluarga Malem Brahmana (+1953) dan Tera Malem Sitepu (+ 2006).
Email / Face Book :
HP.: +62 812 606 2390.
Pekerjaan : Mengajar, konselor, menulis dan bertani.
Anggota Gereja : GBKP Majelis Darussalam – Medan ( PJJ – Jalan Binjai Barat 1A )
GBKP Majelis Jakarta Pusat ( Sektor-5 Pejompongan )
Tempat Tinggal : 1. Jalan Titi Papan Gang Rezeki No. 21, Medan - Petisah ( 20119 )
: 2. Apartemen Taman Rasuna, Tower 12 – 17 H
Pendidikan
:
1.
Sekolah Rakyat Negeri No-2 - Tanjung Langkat, Kec. Salapian lulus
1961
2.
Sekolah Menengah Pertama Harapan - Tanjung Langkat lulus
1964
3.
Sekolah Menengah Atas Negeri – IV - Medan lulus 1968
4.
Fakultas Teknik USU Medan - Jurusan Teknik Industri lulus
1976
5.
Kennedy Western University – Wyoming USA Program - MBA lulus
2000
6.
Sekolah Tinggi Teologi Jakarta – Magister Ministri – M.Min lulus
2008
7.
Sekolah Tinggi Teologi Jaffray - Jakarta – M.A in Christian Counseling lulus
2010
8.
Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya – M.Th dan ujian negara lulus
2011
9.
Sekolah Tinggi Lintas Budaya – Doctor of Ministry – D.Min lulus
2011
10.
Univ. Persada Indonesia YAI Mahs. Doktor Ilmu Psikologi Angk ke-9 2012-2015
Pengalaman Bekerja:
1.
1970 – 1973 Asisten Laboratorium Kimia di Fakultas Teknik USU – Medan.
2.
1975 – 2005 Pegawai Staf di PT Socfin Indonesia (SOCFINDO) – Medan.
3.
2006 (Januari – Mei) Head of Engineering Department PT MAKIN Group – Jakarta.
4.
2012 - Konselor di Palm Oil Mill swasta di Sumatera dan Kalimantan.
Pengabdian di GBKP, Pendidikan
dan Masyarakat:
1.
2004 - 2005 Wakil Ketua Perluasan Areal Retreat Centre GBKP - Suka Makmur.
3.
2009 - Anggota Dewan Penyantun Neumann Development Centre – Medan.
4.
2008 - Anggota PT Namo Tiara/ Yayasan GBKP – Medan.
5.
2009 - 2010 Bendahara Umum, Panitia Sidang Sinode GBKP ke – 34 Suka
Makmur.
6.
2009 - 2014 Ketua Sie Pastoral Counseling GBKP Majelis Darussalam – Medan.7.
7.
2009 - 2013 Bendahara Umum Asosiasi Pastoral Indonesia ( API ) Pusat – Jakarta.
8.
2011 - Bendahara Forum Diskusi Kemah Kaleb Medan.
9.
2012-2016 Pengurus Majelis Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Jakarta.
10.
2012-2016 Dosen dan Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya
Susunan Keluarga:
1.
Isteri : Tetap Br. Sitepu, BA No. Hp. 0811656734.
2.
Anak: 5 orang puteri / 3 orang menantu / 5 orang cucu laki-laki.
1. Reh Menda Ulina, M.Bus.Sys(Monash University)/ Kushara Kandana, M.Bus – Vic.
- Ethan Jeremial Parera Ginting
2.
Reh Milna Aprina, B. App.Scs(RMIT)/ Gelora K.P.Gintings, SSTP., M.M –
Medan.
- Rafael Reguna Gintings.
- Ronan Reginald Gintings.
- Reymen Remire Gintings
3.
Reh Diana Pujinta, B.Bus Acct(Swinburne)/ Haniel Julienda Kaban, ST –
Jakarta.
- Damianici Bestanta Kaban.
5.
Reh Gia Saberina Sembiring, B.Bus. Marketing (Swinburne University)
-Melbourne.
- See more at: http://www.gbkp.or.id/index.php/84-gbkp/artikel/367-pelayanan-pastoral-bagi-keluarga#sthash.ZpBQEKVS.dpuf
Membangun Keluarga Sejahtera, Tinjauan Prespektif
Iman Katolik
Oleh : Mansetus Balawala | 16-Jul-2009, 13:49:04 WIB
KabarIndonesia - Undang-Undang Nomor 10/1992 serta Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1993 menyebutkan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Dalam BAB I pasal 1, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, secara tegas dinyatakan bahwa keluarga dibentuk melalui suatu proses perkawinan yang sah yang
Ditingkat hukum internasional, Pasal 16 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia juga menyatakan bahwa keluarga sebagai unit terkecil dan mendasar yang harus mendapat perlindungan dari negara dan masyarakat. Batasan keluarga versi hukum internasional ini sesungguhnya menyatakan bahwa masyarakat internasional menyadari bahwa jaminan terhadap ketentraman keluarga juga harus menjadi tanggung jawab negara dan semua pihak, tidak saja dalam artian bahwa keluarga bebas dari kekerasan secara fisik dan non fisik tapi juga upaya untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga itu sendiri.
Pada dokumen dasarnya, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Katolik, Konsili menyebut keluarga sebagai “Gereja setempat”. Ini berarti bahwa keluarga mempunyai “pemberian khusus diantara hamba Tuhan”. Melalui gereja, rahmat yang besar yang datang kepada gereja itu, dan gereja menyumbangkan bantuannya kepada keluarga. Sepasang suami-isteri mengambil bagian dari kesatuan itu dan membuahkan cinta kasih yang hidup diantara Kristus dan orang-orangnya.
Keluarga harus memperlihatkan segi yang menolong dari gereja. Orang tua harus mengajar dan menyampaikan pesannya kepada anak-anak mereka. Dalam hal ini keluarga mengisi praturan yang spesifik dan unik dalam pekerjaan yang sulit dalam membawa persatuan di dunia. Uskup-uskup Amerika Latin pada pertemuan luar biasa di Puebla tahun 1979 memandang keluarga sebagai kunci dari usaha gereja untuk penyebaran Injil di dunia.
Keluargalah pewarta injil dan pengajar agama yang pertama dan utama. Pendidikan iman, kemurnian dan keutamaan-keutamaan Kristiani lainnya, serta pendidikan seksuil harus dimulai dari dalam keluarga. Cakrawala pandangan keluarga Kristen tidak boleh sempit dan terbatas hanya pada lingkungannya sendiri.
Seluruh keluarga umat manusia harus diperhatikan. Ia mempunyai tugas dalam masyarakat luas untuk memberikan kesaksian tentang nilai-nilai kristiani. Keluarga ikut memajukan keadilan sosial dan siap sedia membantu orang miskin dan tertindas.
Gereja Katolik juga meyakini hidup berkeluarga sebagai panggilan atas titah Tuhan sebagaimana dalam Kitab Kejadian. Diawal penciptaannya, Tuhan menciptakan manusia sebagai pria dan wanita menurut citra dirinya dan berfirman kepada mereka, “beranak cuculah dan bertambah banyak penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segalah binatang yang merayap di bumi (Kej : 1 : 26-29)”.
Tuhan mencipatkan manusia sebagai pria dan wanita maksudnya, sebagai partner terhadap sesamanya. Sebagai partner berarti pria dan wanita itu memang berbeda secara biologis maupun psikologis, namun dengan perbedaan itu bisa saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain. Pria membutuhkan wanita dan wanita membutuhkan pria untuk menjadi pribadi yang utuh dan sempurna. Keduanya sama derajatnya, yang satu tidak melebihi yang lain. Menyadari bahwa hidup berkeluarga merupakan sebuah panggilan, maka Gereja Katolik turut mengambil bagian dalam membina keluarga menuju kemandirian mencapai
kesejahteraan lahir dan batin.
Terlepas dari rumusan keluarga yang ditemukan di berbagai literatur, baik dalam bentuk undang-undang maupun rumusan dari para ahli dan ajaran Gereja Katolik, namun pada hakekatnya, keluarga merupakan unit sosial, dimana terjadi hubungan sosial yang dibentuk oleh perkawinan. Keluarga juga membentuk fungsi yang esensial bagi kestabilan dan kelangsungan hidup masyarakat. Karena itu keluarga perlu pengelolaan yang serius untuk mencapai kesejahteraan.
Sedangkan sejahtera oleh Indrawan WS dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,
mengartikannya sebagai aman sentosa dan makmur, selamat, terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya. Karena itu kesejahteraan diartikan sebagai keamanan dan keselamatan, kesenangan hidup dan sebagainnya.
Dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992, keluarga sejahtera dijabarkan sebagai keluarga yang dibentuk atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya.
Perkawinan Sebagai Sakramen
membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Meski rumusan ini secara tegas menyatakan bahwa perkawinan itu kekal adanya, namun disatu sisi Undang-undang Nomor 1/1974 masih memperbolehkan seseorang untuk menikah lagi dengan alasan–alasan tertentu seperti, salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun bertutut-turut tanpa pemberitahuan, salah satu pihak tidak menjalankan
kewajibannya sebagai suami atau isteri, dan berbagai alasan lainnya.
Tidak demikian bagi Gereja Katolik yang menjadikan Perkawinan sebagai sakramen dalam memulai kehidupan berkeluarga. Sebagai sakramen, perkawinan yang telah diberikan kepada pasangan yang hendak berkeluarga bersifat kekal, dimana tidak bisa diceraikan oleh
manusia, karena perkawinan itu sesungguhnya diberikan Tuhan sendiri melalui tangan-tangan orang yang diurapi (baca; imam/pastor).
Bukti intervensi Allah dalam Sakramen Perkawinan itu sendiri nampak jelas pada pengucapan janji perkawinan yang ditujukan kepada Allah sendiri dengan disaksikan imam dan umat yang hadir. Di sini Allah sendiri saecara tegas menyatakan orang yang telah menerima Sakramen Perkawinan akan menjadi satu daging, dan mereka bukan lagi dua melainkan satu Karena itu dalam iman Katolik perceraian tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun (Markus, 10:5-9).
Kendati demikian, dalam kehidupan berkeluarga ada juga praktek perceraian yang dilakonkan umat Nasrani. Menghadapi kenyataan demikian, Gereja Katolik memilki wadah yang disebut dengan Tribunal. Bagi pasangan yang hendak bercerai Gereja Katolik selalu mengupayakan perdamaian sebagai langkah pertama. Bila upaya ini gagal akan dilakukan pisah ranjang. Kedua belah pihak dalam hal ini suami-isteri tinggal berlainan rumah untuk jangka waktu tertentu guna rekonsiliasi. Apabila langkah ini pun gagal maka dibuat gugatan ke Pengadilan Gereja dengan mencari bukti-bukti sejarah hidup untuk dianalisis. Namun gereja tidak memiliki sikap tegas mengenai apakah salah satu pihak boleh menikah lagi setelah proses analisa mengenai bukti-bukti sejarah hidup.
Gereja Katolik juga memandang perkawinan memiliki sifat partnership, dimana suami-isteri yang utuh dan lengkap. Yang menjadi dasar hubungan partnership antara pria dan wanita adalah penciptaan manusia oleh Allah sebagai citraNya, sebagai partner atau lawan bicaranya. Sedangkan cipataan-cipataan lainnya tidak demikian. Karena itu manusia harus terbuka kepada Allah. Dengan demikian hendaknya hubungan cinta antara Kristus dan gerejaNya dijadikan ideal dan patokan bagi hubunghan antara suami- isteri. Meski ideal dan patokan ini terlalu tinggi, tetapi suami- isteri tidak usah takut, karena Tuhan sendiri akan menyanggupkan mereka untuk itu. Jesus telah menjadikan perkawinan ‘alat keselamatan’ bagi suami isteri.
Strategi Gereja Katolik Membangun Keluarga Sejahtera
Gereja Katolik secara hirarki selalu dan senantiasa memainkan peran dalam upaya-upaya mewujudkan keluarga sejahtera. Hal ini ditandai dengan berbagai dukungan konkrit kepada pemerintah dan aksi-aksi nyata yang dilakukan Gerja Katolik dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera lahir dan batin.
Dalam hal upaya mensukseskan program Gerakan Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera, Gereja Katolik memberikan
dukungan konkrit melalui penandatanganan naskah kerja sama antara Konperensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dengan Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Semarang pada tanggal 14 Pebruari 1992.
Dalam Naskah Kerja Sama ini Gereja Katolik mengambil peranan dalam peningkatan partisipasi generasi muda Katolik dalam gerakan KB nasional melalui pendidikan keluarga bertanggung Jawab. Gereja mendukung program KB karena program ini memiliki tujuan yang mulia yakni membuat jumlah anak semakin berkurang dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan keluarga. Bila keluarga sejahtera, rakyat seluruhnya pun ikut sejahtera dan makmur, karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.
Strategi lain yang dilakukan Gereja Katolik terhadap upaya mewujudkan keluarga sejahtera juga dilakukan dengan pembentukan komisi – komisi di setiap Keuskupan seperti Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi, Komisi Keadilan dan Perdamaian, Komisi Kepemudaan dan sejumlah komisi lainnya yang berkarya demi kesejahteraan keluarga sesuai dengan tugas dan karya pelayanan masing-masing. Berbagai komisi yang dibentuk, tentunya sesuai dengan kebutuhan hidup masyarakat, karena untuk mewujudkan kesejahteraan, tidak hanya terpenuhinya kebutuhan secara ekonomi tapi juga terpenuhinya kebutuhan lahiria.
Gereja Katolik juga memiliki lemabaga-lembaga sosial lainnya dalam bentuk yayasan yang bergerak dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sebagianya. Bahkan organisasi-organsiasi Katolik begitu banyak dibentuk hingga ke tingkat kelompok Basis Gerejani (KGB).
Gereja Katolik juga sangat menaruh perhatian peningkatan kerasulan dan pastoral keluarga dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh selurih umat Allah melalui paroki dan khususnya melalui bantuan para pastor dan kaum awam yang membaktikan dirinya pada karya pastoral keluarga. Mereka ini merasul diantara orang-perseorangan, pasangan-pasangan suami-isteri dan keluarga-keluarga guna membantu mereka mewujudkan sesempurna mungkin panggilan hidup perkawinan mereka. Kerasulan ini mencakup persiapan perkawinan, bantuan bagi pasangan-psangan suami-isteri pada segala macam tingkatan hidup perkawinan mereka.
Termasuk pula, program katakese dan ibadat khsusus untuk keluarga; bantuan bagi pasangan suami-isteri yang tidak mempunyai anak; pertolongan bagi keluarga yanag hanya mempunyai bapa atau ibu saja; ibu-ibu yang ditinggalkan suami; bagi janda-janda; bagi keluarga yang hidup terpisah dan cerai; dan secara khsusu bagi keluarga-keluarga dan pasangan suami-isteri yang menderita beban berat karena kemiskinan; ketegangan emosional dan kelainan psikologis; rintangan fisik dan mental; dan berbagai keadaan lainnya yang mengganggu kestabilan keluarga. Gereja juga mendorong usaha mewujudkan kesejahteraan keluarga melalui tema-tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) setiap tahunnya. Tema-tema APP diangkat susuai kebutuhan masyarakat seiring dengan issu-issu yang dipandang strategis untuk dijalankan oleh umat ditingkat Kelompok Basis Grejani (KBG).
Di bidang pendidikan, Gereja Katolik telah melahirkan kurikulum pendidikan untuk pengajaran Agama Katolik mengenai Kesehatan Reproduksi yang diperkenalkan kepada remaja sekolah tingkat SLTA. Gereja memandang bahwa untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan ekonomi belaka tapi juga pemenuhan akan berbagai kebutuhan lainnya termasuk kebutuhan biologis.
Usaha-usaha untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga yang dilakukan Gereja Katolik, bertitik tolak dari ajaran gereja tentang Cinta Kasih terhadap sesama manusia. Untuk itulah Gereja Katolik dalam usaha-usaha mensejahterakan umatnya memiliki dasar hukum sebagaimana yang dikemukakan oleh Matius 25:40 “Aku berkata kepadamu, sesungguhya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudaraKu yang paling hina ini , kamu telah melakukannya untuk Aku.” Juga dalam II Kor, 5 : 15 “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”
Hal mengenai kesejahteraan sosial ini pun oleh negara diatur dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 1974 mengenai Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negera No 53, 1974 yang menyebutkan: “Kesejahteraan soaial ialah suatu tata kehidupan dan
penghidupan sosial material maupun spritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir bathin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk
mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak azasi serta serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila (Pasal 2 ayat 1).
Usaha-usaha untuk meningkatkan keluarga sejahtera merupakan semua upaya, program dan kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan, membina, memelihara, memulihkan dan
mengembangkan kesejahteraan keluarga. Karena itu, hendaklah dalam melaksanakan usaha kesejahteraan keluarga dapat berpedoman pada beberapa hal yang dapat menjadi pegangan sebagai berikut :
Memberi kesempatan kepada yang dibantu untuk menyatakan perasaan-perasaannya tidak hanya karena ia ingin diperlakukan sebagai individu, tetapi juga untuk meringankan
penderitaannya dan memenuhi kebutuhan serta turut serta mengatasi masalahnya.
Mengekang emosi :
Janganlah kita melibatkan diri kita dengan perasaan emosionil yang tak terkendali.
Dimaksudkan disini, untuk membantu orang lain, keterlibatan diri kita memang penting, akan tetapi tak ada gunanya bila kita membantu dengan tidak mengendalikan emosi kita. Hal ini untuk kepentingan orang yang akan dibantu. Menguasi perasaan diri kita sendiri adalah wajib.
Respek:
Penerimaan dengan respek kepada seseorang sebagaiman adanya merupakan sesuatu yang harus kita perhatikan apalagi kita akan membantu orang itu. Dengan penuh pengertian kita harus dapat menerima pengakuan dari orang tersebut dan memahami keadaan sebenarnya apa yang menimpa orang itu dengan penuh respek.
Sikap yang tidak menghakimi
Bila kita sudah memutuskan untuk membantu seseorang/kelompok ataupun masyarakat, hal mana merupakan usaha sosial kita, maka tak perlu kita mencari kesalahan atau menyalahkan orang/kelompok yang akan kita bantu tersebut. Kita harus menerima realita bahwa memang demikianlah adanya.
Memberi kesempatan untuk memilih pilihannya sendiri
Mengharagai sesorang dengan dibuktikan bahwa kita akan memberi kesempatan kepadanya untuk menentukan pilihannya sendiri, tidak mendikte ataupun bersikap dominan, biarpun pada orang yang akan kita bantu.
Kerahasiaan
Bila orang yang kita bantu mempercayakan segala sesuatu kerahasiaannya kepada kita, kita patut dan harus menghormati kepercayaan itu, tidak menyia-nyiakan dengan menceriterakan urusannya ataupun keadaannya kepada orang lain yang tak berkepentingan.
Dari uraian di atas maka diakhir tulisan ini, penulis memberikan suatu kesimpulan bahwa Gereja Katolik secara hirarki selalu mendukung upaya-upaya untuk mewujudkan
kesejahteraan keluarga. Namun dukunga itu tetap mengacu pada doktrin dan ajaran moral gereja. Karena itu, cara-cara yang dilakukan gereja untuk mewujudkan keluarga sejahtera selalu bertitik tolak pada penghargaan atas kehidupan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna. (*)
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): [email protected] Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/
Tong Stephen Pdt.Dr, KELUARGA BAHAGIA, (Surabaya : Momentum, 2006).
Borrong P Robert. Dr, ETIKA KRISTEN, (Bandung : INK Media, 2006).
PENDAHULUAN
1.1 Alasan Memilih Judul
Judul Tulisan ini adalah: KELUARGA KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB,
Keluarga adalah lembaga yang pertama yang ada di dunia ini. semua bermula dari keluarga, baik itu
pendidikan, ilmu atau iman. Keluarga Kristen adalah bagian integral dari keluarga-keluarga dalam
masyarakat yang plural. Dalam hal ini tentunya keluarga Kristen juga memiliki hak dan
tanggungjawab dalam pembangunan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Tentunya hal ini
harus senantiasa di bangun atas dasar kesadaran dan apresiasinya akan eksistensinya sebagai ciptaan
Allah yang istimewa. Ada tanggungjawab dalam setiap keluarga Kristen untuk memberi kontribusi
positif dalam pembentukan masyarakat yang teratur, damai dan sejahtera.
Alkitab (secara khusus kitab Kejadian) dengan tegas dan lugas mendeskripsikan eksistensi manusia. Pendeskripsian ini dimulai dari proses penciptaan hingga pada pengingkaran manusia kepada Allah (dosa). Dalam proses penciptaan dinyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang istimewa. Keistimewaan ini terletak pada penciptaan manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei) dan juga diciptakan dengan sikap proaktif Allah. Keistimewaan manusia ini pada akhirnya menimbulkan suatu tanggungjawab manusia kepada Allah. Pertanggungjawaban manusia kepada Allah nyata dalam mandat Allah kepada manusia untuk menaklukkan dan menguasai segenap ciptaan. Dengan kata lain, keutuhan dan bahkan kesejahteraan seluruh ciptaan adalah tanggungjawab manusia. Manusia harus senantiasa proaktif untuk mewujudkan dunia yang diwarnai dengan keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan sebagai konsekwensi keistimewaan itu.
Paling tidak ada dua hal yang harus diperlihatikan setiap keluarga Kristen dalam penyataan
kontribusi positifnya dalam pembentukan tatanan masyarakat yang teratur, damai dan sejahtera.
Pertama: Setiap keluarga Kristen harus senantiasa sadar akan keistimewaannya sebagai ciptaan, yang
pada akhirnya membawanya pada sikap yang sadar bahwa ia bertanggungjawab atas keteraturan,
kedamaian dan kesejahteraan masyarakat dimana ia berada. Kesadaran ini di implementasikan dalam
kepeduliaan terhadap sesama dan lingkungan. Ada peran yang senantiasa diperlihatkan keluarga
Kristen dalam masyarakat dimana ia berada. Jadi tanggungjawab tersebut tidaklah bersifat abstrak.
Kedua : Kesadaran akan hal di atas kemudian dinyatakan terlebih dahulu secara internal melalui pola
hidup pribadi dan keluarga yang layak untuk diteladani oleh orang lain. Teladan yang dimaksud di sini
tentunya berpusat pada firman Allah yang senantiasa dijadikan sebagai orientasi hidup. Artinya,
atas kita melihat bahwa setiap keluarga Kristen harus peka dan peduli pada realitas masyarakat dan ia
harus mampu menjadi teladan positif dalam masyarakat. Dan itu diekspresikan pertama-tama dari
pribadi, kemudian keluarga sebagai buah kedekatan dan ketaatannya kepada Allah.
Keluarga Kristen dalam masyarakat dewasa ini diperhadapkan dengan multi pergumulan.
Dalam ranah sosial, realitas yang ada adalah kemiskinan dan kelaparan; kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT) sebagai bias budaya patriakhat; tingginya angka kematian ibu dan anak sebagai buah
dari rendahnya kesadaran akan pola hidup sehat dalam masyarakat. Pemanasan global (global
warming), tingginya angka kriminalitas anak dan remaja, meningkatnya angka perceraian dan
keluarga yang tidak harmonis, dan ragam masalah sosial sebagai bias dari kemajuan teknologi dan
informasi yang merusak moral, spiritual dan tatanan masyarakat. Dan dalam ranah kepercayaan/ iman,
realitas yang terbentang juga tak kalah ragamnya. Maraknya model dan corak kepercayaan yang
berkembang tidak jarang membuat keluarga dan masyarakat kehilangan iman, terjebak pada pola
keberimanan yang cenderung pragmatis, semu dan ekstrim. Dinginnya minat dan kontribusi anggota
keluarga dalam pelayanan, dan lain lain. Inilah ragam tantangan yang harus dijawab setiap keluarga
Kristen di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.
Keluarga Kristen yang adalah ciptaan yang istimewa dan bertanggungjawab sudah
selayaknya menunjukkan sikap yang proaktif menanggapi semua realitas tersebut. Bukanlah sikap
yang bertanggungjawab jika dalam realitas yang ada kita masih berpangku tangan, duduk diam
menjadi penonton yang budiman. Sekaranglah saatnya setiap keluarga Kristen menampilkan dirinya
sebagai sosok teladan yang senantiasa peduli dan bereaksi serta memberi kontribusi positif untuk
menanggapi segala persoalan yang ada. Keluarga Kristen diharapkan mampu mempromosikan
nilai-nilai positif ditengah-tengah masyarakat. Hal ini tentunya dimulai dari pribadi dan keluarga yang
layak untuk diteladani.
Keluarga adalah tempat yang begitu indah untuk berbagi dan bertumbuh. Tanpa keluarga, kita
tidak akan tetap tegar dalam menjalani hari-hari kita. Saat kita susah, senang, gagal, ataupun berhasil,
keluargalah yang paling setia menemani dan menerima kita. Tidak ada seorang pun yang ingin
terpisah dari keluarga. Namun, ada kalanya kita harus pergi meninggalkan keluarga karena studi atau
pernikahan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti kita putus hubungan dengan keluarga. Allah menetapkan
keluarga sebagai wadah untuk menyatakan rencana-Nya bagi dunia. Allah sebagai pembentuk
bagi dunia. Dalam tujuan ini Allah membentuk keluarga serta mengikatnya oleh persekutuan yang
berbasis iman dan tentunya memiliki kasih dalam setiap relasi yang dibangun.
Di dunia yang kacau dan sedang tidak menentu ini, adalah lebih penting daripada sebelumnya untuk menjadikan keluarga pusat dari kehidupan kita dan prioritas tertinggi kita. Keluarga menjadi inti dalam rencana Bapa Surgawi kita. Pernyataan dalam “Keluarga: Pernyataan kepada Dunia” menegaskan tanggung jawab orang tua bagi keluarga mereka: Supaya anak-anak mereka tidak Terjerat oleh kemajuan zaman yang menyuguhkan berbagai situasi yang cepat menarik perhatian muda/i Kristen sehingga mereka bisa terjebak pada hal-hal yang tidak di inginkan semisal NAPZA, NARKOBA, SEKS BEBAS, PERGAULAN BEBAS dan lain sebagainya.
“Suami dan istri memiliki tanggung jawab kudus untuk mengasihi dan memelihara satu sama lain dan anak-anak mereka. ‘Anak-anak adalah milik pusaka daripada Tuhan’ (Mazmur 127:3). Orang tua memiliki kewajiban kudus untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kasih dan kebenaran, menyediakan kebutuhan fisik dan rohani mereka, mengajar mereka untuk saling mengasihi dan melayani, untuk mematuhi perintah-perintah Allah, mereka menjadi penduduk yang mematuhi hukum di mana pun mereka tinggal. Para suami dan istri, para ibu dan ayah akan bertanggung jawab di hadapan Allah untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut.”
Menurut pengalaman dan penglihatan penulis banyak keluarga Kristen sekarang ini yang mengalami kehancuran, akibat perceraian, perselingkuhan, kenakalan anak anak bisa membawa pertikaian/permasalahan dalam keluarga. Banyak suami- suami yang tidak memahami peranannya dalam keluarga, fungsi dan tugasnya, demikian sebaliknya isteri tidak memahami hakekat dan makna, fungsi dan peranannya dalam keluarga dan rumah tangga. Anak tidak patuh dan hormat lagi kepada orang tua yang merawat dan membesarkannya.
banyak ngerumpi dengan teman-temannya tanpa memperdulikan bagaimana anak-anaknya pergi dan pulang sekolah, makan atau tidak makan. Demikian juga dengan anak yang sesukanya bolos dan tawuran padahal orang tuanya susah payah mencari nafkah untuk kepentingan dan biaya sekolahnya.
Maka dari itu penulis merasa perlu menuliskan dan menguraikan perlunya keluarga Kristen yang bertanggung jawab, baik tanggung jawab sebagai orang tua, Isteri dan anak, dewasa ini semakin diperlukan jiwa jiwa yang penuh tanggungjawab baik di masyarakyat, sosial terlebih di dalam Gereja, maka dengan demikian akan membuat Iman semakin dewasa dan makin bertanggung jawab di segala bidang. Dan dapat mengimplementasikan Imannya dalam Gereja masa kini.
Pertanggungjawaban manusia sebagai ciptaan yang unik dan istimewa berpusat kepada Allah. Dan yang menarik dalam hal ini adalah, kekuatan dan kesanggupan manusia dalam pelaksanaan tanggungjawab tersebut juga tergantung kepada Allah sebagai pemberi tanggungjawab. Dengan demikian perlu ada komunikasi dan koordinasi yang kontiniu antara manusia dengan Allah dalam perwujudan dunia yang diwarnai keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan itu. Manusia akan mampu menata dunia dan seluruh ciptaan sesuai dengan kehendak Allah apabila dalam diri manusia tersebut terkandung dimensi ketaatan kepada Allah. Inilah yang menjadi faktor penentu kesuksesan manusia dalam pelaksanaan tanggungjawabnya sebagai ciptaan yang istimewa di hadapan Allah
penting dalam kehidupan manusia, karena melalui keluargalah dapat terbentuk suatu masyarakyat yang maju, Greja yang Misioner. Keluarga merupakan jantung masyarakat dan didalamnya tercipta awal dari semua gagasan, sikap, keyakinan dan kasih.[1].
1.2. Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini, penulis memakai metode studi literature, yaitu dengan memilih, membaca, dan mempelajari buku-buku yang sesuai dengan judul, artikel, artikel atau tulisan yang berkaitan dengan judul yang dapat mendukung penyelesaian tulisan ini.
1.3.
Sistematika PenulisanDalam karya tulis ini, penulis membahas mengenai tanggungjawab keluarga Kristen dan dan implementasinya dalam Gereja masa kini, penulis sadar bahwa topik ini amatlah luas cakupannya. Dengan demikian supaya penulis lebih mudah mengetahui inti pokok dari karya tulis ini, maka penulis membuat suatu batasan secara bab demi bab
BAB I: Dalam bab ini penulis menguraikan : Pendahuluan
tentang permasalahan, alasan memilih judul, metode penulisan, serta sistematika penulisan.
BAB II: Dalam bab ini penulis menguraikan: pengertian keluarga, tinjauan Budaya Batak tentang keluarga, dan keluarga dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru
BAB III: Dalam bab ini penulis menguraikan peranan orang tua dalam keluarga, peranan ayah sebagai imam dalam keluarga, tanggungjawab ibu dan anak dalam keluarga
BAB IV: Dalam bab ini penulis menguraikan keluarga Kristen harus mampu sebagai Garam dan Terang dunia, tugas dan tanggung jawab Kristen dan implikasinya dalam Gereja masa kini
BAB V: Bab ini merupakan kesimpulan dari seluruh pembahasan serta saran- saran
TINJAUAN BUDAYA /ALKITAB MENGENAI KELUARGA
2.1. Pengertian Keluarga
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keluarga di artikan dengan
[2]
: (1)Ibu, Bapak dengananak-anaknya; seisi rumah, (2) Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, (3) satuan kekerabatan
yang sangat mendasar dalam masyarakat. Dari pengertian tersebut muncullah istilah
keluarga, keluarga besar yang berarti tidak hanya terdiri atas suami, istri, dan anak tapi juga
mencakup adik, kakak ipar, keponakan dan sebagainya.
Kelurga : Berasal dari Bahasa Sansekerta"kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota" adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, dan tanggung jawab
Selain itu juga muncul istilah berkeluarga yang berarti berumah tangga; mempunyai Keluarga,
bersanak keluarga, berkerabat mempunyai istri dan suami, dalam banyak hal, keluarga merupakan
organisasi yang terpenting. Menurut James Starhan, keluarga adalah kelompok sosial yaitu suatu hasil
dari proses sosial Dalam masyarakat dan merupakan unsur terkecil dalam pembentukan masyarakat.
[3]
Keluarga adalalah: Yang terdiri dari ayah, ibu yang dipersatukan seumur hidup dalam pernikahan
yang monogamy, sekelompok manusia yang mempunyai hubungan erat satu sama lain
[4]
.Keluarga adalah kelompok sosial dari hasil proses sosial masyarakyat dan merupakan unsur
terkecil dalam pembentukan masyarakat. Keluarga secara umum dapt dibagi menjadi empat bagian
besar, yaitu.
1. Keluarga Batih/inti (Nucleur Family) yaitu kelompok yang teridiri dari ayah, ibu dan
anak-anak atau tanpa anak-anak yang belum memisahkan diri dari keluarga.
2. Keluarga Besar (Extention Family/Great Family) yaitu kelompok kekerabatan yang
berdasarkan atas garis keturunan yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, mertua, menantu, cucu, cicit
dan sebagainya.
4. Keluarga Orientasi (Orientasi Family) yaitu keluarga dimana individu-individu bergabung
dalam satu keturunan, dalam arti keluarga yang terdiri dari segolongan yang hidup bersama.
[5]
Hakekat Keluarga adalah kesatuan dari semua anggota keluarga dimana ayah, ibu dan anak
dipersatukan disalam persekutuan sesungguhnya. Masing masing mereka mereka merasakan bahwa
mereka adalah bagian integral (utuh yang tidak dapat terpisahkan) satu dengan yang lain. Keluarga
merupakan tempat pembentukan pribadi seseorang. Akan tetapi setiap orang yang telah dibentuk
dalam keluarga juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
ML Thomson menyatakan suatu defenisi tentang keluarga dalam kerangka iman, yakni “Sebagai
saudara dalam keluarga Allah, kita menerima setiap orang sebagai keluarga tanpa membeda-bedakan,
baik mereka yang dihubungkan dengan hasil perkawinan, adopsi, mereka yang memilih hidup sendiri
atau menjadi anggota keluarga di luar kelarga mereka sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan
Keluarga merupakan pemberian Tuhan dan Dia sendirilah sebagai pusta atau kepala keluarga melalui
anakNya Yesus Kristus (Ef 5:23)
[6]
Soemadi Tciptojoewono mengatakan tentang pentingnya keluarga, setiap orang belajar dari
lingkungan keluarga, dan keluargalah yang perta sekali menikmati jika seseorang itu berhasil dalam
hidupnya. Demikian sebaliknya, bila ada yang gagal maka keluarga itulah yang palin menderita,
artinya di dalam keluarga ada hubungan timbal balik diantara sesama.
[7]
Ny. Singgih D.Gunarsah mendefenisikan Keluarga adalah bagian dariMasyarkat yang
mempunyai hubungan dalam perkembangan Zaman. Keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya
terbatas selaku penerus keturunan saja. Keluarga yang teridir dari Ayah, ibu, anak dan sanak famili
harus saling mengisi, dan memberi. Keluarga merupakan sumber dari pendidikan utama, pengetahuan,
kecerdasan anggotanya. Keluarga merupakan produsen dan konsumen sekaligus, dan harus
mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari seperti sandang, pangan dan papan.
Setiap anggota keluarga dibutuhkan dan saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka dapat
hidup lebih senang dan tenang. Hasil kerja mereka harus dinikmati bersama.
[8]
Keluarga adalah Unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang
ketergantungan, saling berhubungan melalui pertalian darah yang mempunyai kedekatan dan
konsistensi hubungan yang erat
2.2 Pandangan Orang Batak terhadap Keluarga
Salah satu Falsafah Orang Batak adalah 3 H, Hamoraon (Harta kekayaan), Hagabeon (anak
dan keturunan) dan hasangapon (Kedudukan dan kehormatan) hal ini masih berlaku hingga saat ini.
Keluarga dalam pandangan orang Batak mempunyai ruang lingkup yang cukup luas yaitu mencakup
ayah (Among), inong (Ibu) Anggi ( adik) Haha (abang) ito (Saudara perempuan), parumaen (Menantu
perempuan) Hela (menantu laki-laki), Pahompu (Cucu) haha doli dan anggi boru, Tulang (Paman)
saudara laki laki dar ibu, Namboru (Bibi) saudara perempuan dari ayah , Lae, Tunggane (Saudara dari
isteri). Keluarga dalam masyarakat batak dikenal dengan istilah “Tutur (Famili).
[9]
Hagabeon (kesuburan, memiliki banyak turunan) adalah satu dari antara tiga cita-cita atau filsafat hidup terpenting Batak. Dua lagi adalah: hamoraon (memiliki banyak harta) dan hasangapon (sangat dihormati). Ketiga hal itu, sering disingkat 3 (tolu) H, dianggap sebagai “tiga serangkai” nilai yang menjadi falsafah atau orientasi hidup masyarakat Batak. (dalam lagu Alusi ahu ciptaan Nahum Situmorang ke tiga nilai itu sudah disebut sebagai cita-cita banyak orang Batak). Namun menurut penulis, sadar atau tidak sadar, banyak rang Batak sebenarnya menganggap hagabeon itulah yang paling penting atau bahkan satu-satunya yang makna hidup di dunia ini[10].
Umpasa dibawah ini adalah salah satu yang mengungkapkan Bahwa Orang Batak rindu akan Keluarga dan anak.
Bintang na rumiris ombun na sumorop Anak pe riris boru pe torop.
Lili ma di ginjang hodong ma di toru
Riris ma jolma di ginjang torop ma pinahan di toru. Andor halumpang togu-togu ni lombu
Sai saur matua ma ho paabing-abing pahompu. Harangan ni Pansur batu hatubuan ni singgolom
Maranak ma hamu sampulu pitu marboru sampulu onom. Sahat-sahat ni solu sai sahat tu bontean
Sai tubuan laklak ma tubuan singkoru Sai tubuan anak ma hamu tubuan boru.
Tinampul bulung ni salak laos hona bulung singkoru
[11]
Dalam kebudayaan Batak dikenal istilah Dalihan Natolu (tungku nan tiga), Dalihan natolu adalah satu kerangka yang meliputi hubungan-hubungan perkawinan yang menghubungkan sauatu kelompok kekerabatan yang terdiri daripara pria yang seketurunan dengan, pada satu pihak pria yang seketurunan, yang telah mengawinkan anak wanita mereka dengan pria kelompok kekerabatan pertama, Lebih dalam lagi mengaplikasikan kawan satu marga adalah keluarga.
Marga adalah kelompok orang-orang yang merupakan keturunan dari seorang kakek bersama)
dan garis keturunan diperhitungkan melalui bapak yang bersifat patrinileal. Dalihan natolu mencakup
Hula-hula (Pihak dari Isteri dan Ibu), Dongan tubu, pihak dari laki-laki, Boru pihak dari saudari
perempuan, juga disebut pihak keluarga.
[12]
. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa pengertiankeluarga bagi orang batak sudah mencakup luas, bukan hanya sebatas antara hubungan anak, ayah,
ibu lagi.
2.3 Keluarga dalam Perjanjian Lama
Dalam Alkitab, Teologi Penciptaan (Kej 1-2) keluarga yang diawali dengan perkawinan
disebut dengan persekutuan yang dipersatukan oleh Allah. Apa yang telah dipersatukan oleh Allah
tidak dapat diceraikan dan dipisahkan oleh manusia kecuali oleh karena kematian dan Zinah (band
Mat 19:5-9) didalam Perjanjian Lama pengertian keluarga dihubungkan dengan seluruh anggota
keluarga, baik dari masa lalu hingga masa kini, yang masih hidup dan yang sudah mati. Istilah yang
sering dipergunakan dalam menyebut keluarga adalah “syebet” artinya suku “mispakha” artinya kaum
dan bayi yang artinya keluarga.(Yos 7:16-18).
Keluarga dalam Perjanjian Lama berada dalam kerangka dasar umat Allah, Kehidupan
keluarga tidak terlepas dari identitas bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Keluarga merupakan
pusat perjanjian bangsa Israel dengan Allah. Dengan menjadi anggota keluarga, yang lahir dan
bertempat tinggal di Israel, maka orang tersebut sudah menjadi umat Allah. Di dalam Tradisi Israel
keluarga. Dalam Keluarga Israel, kehadiran anak sangatlah penting hal ini dikaitkan dengan
pemeliharaan warisan lelhur. Ketika anak lahir orangtuanya memberi nama, dan pemberian nama
kepada anak menurut tradisi Israel kuno berkaitan dengan otoritas yang di miliki orang tua. Dalam
menjalin hubungan, keluarga mendapat penekanan untuk saling berbagi diantara sesama anggota
keluarga: suami-isteri, orangtua-anak. Orang tua mempunyai peran yuridis yang sangat besar.
[13]
Manusia merupakan karya ciptaan Allah yang terbesar, mahkota ciptaan, hanya manusialah
yang dapat memasuki hubungan persekutuan dengan Allah pencipta dan juga dengan ciptaan lainnya.
Manusia sebagai ciptaan Tuhan mempunyai kewajiban mematuhi segala ketetapan Allah. Salah satu
ketetapan itu adalah ketetapan di dalam keluarga, sebagaimana manusia harus patuh kepada Allah
demikian juga keluarga harus patuh pada Tuhan, dengan demikian setiap anggota keluarga
dsitekankan untuk hidup persektuan yang harmonis dengan sesame anggota keluarga. Artinya harus
ada keseimbangan dalam hubungan dengan Allah dan juga dengan sesama manusia.
[14]
Keluarga adalah lembaga yang tertua di dunia sejak Tuhan menciptakan langit dan bumi
beserta segala isinya (Kej 2:24), dan sekaligus merupakan unit sosial terkecil dalam masyarkata.
Alkitab menyaksikan bahwa Allah sendirilah yang membentuk manusia menjadi satu keluarga.
Sehubungan dengan hal tersebut, Allah memberi peraturan dan ketentuan yang harus di tata oleh
setiap anggota keluarga, sekaligus memperingatkan mereka untuk melanggar ketentuan tersebut (bnd
Ef 5:22-26;6:1-4).
[15]
Deretan bentuk organisasi keluarga terjadi dari Suku atau marga (bahasa Ibraninya: “Schebet”
naskah iman menyebut matte, batang/tongkat, golongan(clan), keluarga besar dan keluarga rumah
tangga(famili). Keluarga adalah pertalian darah yang didasarkan pada persekutuan (Kel 1:9) dan
“Persekutuan darah: (Im 17:10). Demikian juga dengan ke 12 suku atau Marga Israel disebut sebagai
keluarga Israel
[16]
Persekutuan atau pertemuan keluarga terjadi dapat kita temui misalnya dalam keluarga Abraham dan
Lot, di mana Abraham berpisah dengan Lot sanak saudaranya itu (Kej 13:5,13), tetapi menjadi tugas
Abraham menjaga ersekutuan keluarga apabila Lot diancam oleh musuhnya(Kej 14:12-16) segera ia
2.4 Keluarga dalam Perjanjian Baru
Didalam Perjanjian Lama pengertian keluarga dihubungkan dengan seluruh anggota keluarga,
baik dari masa lalu hingga masa kini, yang masih hidup dan yang sudah mati. Dalam Perjanjian Baru
istilah yang dipakai adalah “narpia” yang menekankan asal-usul keluarga yang menunjuk pada bapak
leluhurnya (band Lukas 2:4; Kis 3:25). Istilah lain yang digunakan adalah “oikos” yang artinya rumah
tangga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak dan juga para hamba, budak, pelayan dan sesama (bnd Mat
21:33; Kis 10:7)
[18]
.Keluarga Sebagai anggota Tubuh Kristus terbuka kepada keluarga lainnya dengan saling
mengasihi dan saling menghargai.1 Kor 10:16-17, Ef 5:10. Dalam Efesus fatsal yang ke 6 secara
sederhana pengertian keluarga dapat dirumuskan : Keluarga dimana ayah, ibu dan anak-anaknya
percaya kepada Yesus Tuhan sebagai Juruselamatnya, artinya seluruh anggota keluarga mengikuti
ajaran Kristus dan mngamalkannya dalam kehidupan seharihari. Hal senada juga di ungkapkan Oleh
Roy Lessin : Keluarga merupakan gagasan Allah bukan gagasan manusia, tetapi Tuhanlah yang
menentukanNya. Ia mempersatukan laki-laki dan perempuan yang pertama dalam pernikahan. Bertitik
tolak dari pemahaman ini, Lessin membuat paradigma sebagai berikut :
Ayah- Iteri- Anak
Dari kiri ke kanan menunjukkan ketundukan
Dari kanan ke kiri menunjukkan pelayanan
Demikianlah hubungan antara anggota kel;uarga diatur sehingga berjalan dengan harmonis
[19]
.Selanjutnya pemahaman yang serupa di nyatakan oleh Hadisubrata dengan membentangkan 4 bagian
besar yang disebut sebagai keluarga orang Kristen
Fondasi kehidupan keluarga Kristen dan seluruh kerangka hidupnyaberoperasi dalam Kasih Kristus
(Ef 5:22-6:9). Semua anggota keluarga dalam posisi apapun harus saling mengasihi sebagai landasan
hidup harmonis, baik secara pribadi dan rumah tangga.
- Isteri adalah penolong/pendamping suami yang harus berperan sebagai penopang, buka
sebagai pengatur kebijakan rumah tangga.
- Anak adalah milik bersama, dan suami adalah penanggung jawab utama bersama isteri dalam
membina anak-anak agar hidup dalam Ketaatan kepada Allah dan orang tua
Dari penjelasan di atas maka dapat kita ketahui bahwa keluarga Kristen adalah Keluarga yang
menerima baptisan dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus. Segala tindakan-tindakan dalam
keluarga Kristen berpatokan pada Pengajaran Tuhan Yesus.
[20]
Kata “oikos” artinya “rumah” banyak terdapat dalam masyarakat Yunani dan Romawi (Kurios atau
despotes), istri, anak dan hamba-hamba, tapi juga beberapa tanggungan seperti para pelayan, pekerja
dan bahkan budak-budak tebusan atauu teman-teman yang sukarela menggabungkan diri dalam
persekutuan yang timbal balik Mat 21:33. Jemaat digambarkan sebagai satu keluarga Allah (Ef 2:19)
atau keluarga iman (Gal 6:10)
[21]
Dalam 1 Korintus 3:11 dikatakan “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari
pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” Artinya Yasus kristuslah yang menjadi dasar
dan pemimpin setiap keluarga.
BAB III
3.1 Peranan orang Tua
Kata peranan tidak asing lagi bagi kehidupan dan aktifitas manusia, setiap individu memiliki “peran”
dan memiliki “peranan” untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia dikatakan bahwa: Peranan adalah seperangkat tingkat yang diharapkan, dimilik oleh orang
yang berkedudkan dalam masyarakat
[22]
.Arti peranan dalam hal ini adalah merupakan tugas dan tanggungjawab yang harus dilaksanakan.
Poerwadarminta menjelaskan bahwa : Peranan berasal dari kata peran yang berarti tokoh atau pelaku,
oleh karena itu peranan merupakan salah satu bagian yang terpenting
[23]
Peranan orang tua sangat penting dalam kehidupan rumah tangga, maju mundurnya keluarga terletak
pada orangtua dalam hal ini kita sebut ayah dan ibu. Anak anak dipandang sebagai anugerah Tuhan
yang dipercayakan pada orang tua. Pemberian kasih, disiplin dan latihan diwujudkan dengan peranan
orang tua, orang tua sebagai pelatih, penasehat dan sebagai pendamping anak setiap hari, membri
petunjuk, anjuran dan menegur. Sehingga anaknya mampu bertumbuh dewasa . Kemajuan
anak-anak terletak pada peran orang tua
[24]
Peranan orang tua di tinjau dar berbagai segi
1. Segi Etika Kristen
Pandangan etis oleh seorang ahli yang bernama Bienert yang adalah seorang Teolog yang kemudian
dikutip oleh J Verkuil dalam bukunya Etika Kristen mengatakan bahwa : Pekerjaan Allah adalah
sumber pekerjaan manusia, artinya Allah sebagai sumber dan pemula kerja, kemudian diteruskan
kepada manusia sebagai ciptaanNya. Setelah manusia diciptakan oleh Allah, Ia memberikan mandate
kepada manusia untuk menguasai dan menahlukkan bumi. Manusia dalam hal ini adalah laki-laki dan
perempuan (orang tua), adalah mahlukk pekerja secara khusus untuk anak-anak.
[25]
2. Segi Sosiologi
Pandangan Sosiologi mengatakan bahwa keluarga merupakan jantung masyarakat, dikatakan
keyakinan, dan perasaan. Apa yang terjadi dalam keluarga akan menentukan apa yang akan terjadi
dalam Gereja, di sekolah, di dalam masyarakat atau di dalam suatu bangsa atau negara
[26]
.Dari keterangan datas maka dapat di rangkum bahwa keluarga adalah masyarakat sosial, dan suami
isteri (orang tua) harus mampu untuk memimpin keluarganya (anak-anaknya) dan segala aktifitas
keluarga dengan baik.
3. Segi Psikologi
Pandangan Psikologi tentang peran orang tua dalam keluarga sangatlah mutlak dalam Psikologi
Perkembangan/anak orang tua adalah prioritas utama dalam satu keluarga. Orang tua harus bisa
memenuhi kebutuhan anaknya, menjalin keakraban dan hubungan yang erat. Mampu memupuk
kepercayaan diri anak dan perasaan amang untuk dapate berdiri dan bergaul dengan teman-temannya.
Memberi kasih sayang, mendukung perkembangan anak serta melindungi mereka. Memberikan
kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya, Memperhatikan dan
mempersiapkan anak anaknya untuk mandiri. Mengavaluasi sifat dan sikap anak-anaknya dan
terutama mendidik anaknya kea rah yang lebih baik, peran orang tua adalah menenteramkan jiwa anak
anaknya.
[27]
4. Segi Teologis(Alkitab) Di dalam Ulangan 6:6-9 dikatakan
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya
apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau
berbaring dan apabila engkau bangun.
6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi
lambang di dahimu,
6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Nas ini mengatakan tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya, Kewajiban orang tua untuk
mengajarkan Firman Tuhan pada anaknya, melalui pembiasaan, pemahaman serta penghayatan akan
Gagasan atau konsep tersebut memiliki makna penting untuk dipergumulkan dan diterapkan, yakni
membangun persekutuan dalam keluarga Kristen yang diperankan oleh orang tua.
Persekutuan keluarga yang dipimpin orang tua adala organisma terkecil dari Gereja, melalui
persekutuan tersebut akan tercipta iman, cinta dan kasih sayang, norma dan etika yang berlaku dalam
keluarga dan Gereja yang bertujuan untuk meningkatkan kwalitas spritualitas anak. Orang tua
merupakan perpanjangan tangan Tuhan yang bertanggungjawab untuk mensejahterakan keluarga.
Orang tua memiliki peran dalam bidang ekonomi, pendidikan, social dan rohani anak.
Tokoh Reformasi Marthin Luther “Hendaknya orang tua harus mempersiapkan sejak dini
anak-anaknya untuk menjadi seorang Kristen yang baik. Orang tua harus mengingat bahwa pesan dan
hokum atau perintah dari Allah, wajib mereka ajarkan pada anak-anaknya.
[28]
Pendapat tersbut dapatdisimpulkan bahwa salah satu profil orang tua yang baik adalah mendidik anak-anaknya dalam ajaran
dan nasehat Tuhan agar menjadi orang Krsiten yang takut akan Tuhan (Ams 1:7)
[29]
Tanggungjawab dan tugas orang tua
1. Menjadi penasehat utana dalam rumah tangga bagi anak-anak dalam kebutuhan rohani.
Menata komunikasi yang baik terutama tentang pengajaran Firman Tuhan.
2. Penegak disiplin dalam keluarga seperti Allah menerapkan disiplin kepada anak-Nya atau
umat-Nya (Ibr 12:5-11). Allah menggunakan metode pemeliharaandan teguran sebagai disiplin dan
peringatan (Ul 11:1)
[30]
Dalam Ef 6:4 terdapat perintah yang sangat penting, bahkan merupakan kewajiban orang tua untuk
melatih anak dalam pendidikan disip