REPRESENTASI MASALAH SOSIAL TENTANG ANAK JALANAN DALAM KARYA FOTOGRAFI
(Analisis Semiotik Foto Essay “Jalan Hidup Emma Memungut Mimpi” Karya Fransiskus Simbolon Pada Buku Anugrah Pewarta Foto Indonesia
2012)
SKRIPSI
Oleh:
Dahlia Eka Fitri P NIM: 09220368
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
LEMBAR PENGESAHAN
Nama : DAHLIA EKA FITRI P
NIM : 09220368
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Judul Skripsi : REPRESENTASI MASALAH SOSIAL TENTANG
ANAK JALANAN DALAM KARYA FOTOGRAFI (Analisis Semiotik Foto Essay “Jalan Hidup Emma Memungut Mimpi” Karya Frasiskus Simbolon pada buku Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012)
Telah dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Muhammadiyah Malang
dan dinyatakan LULUS
Pada Hari : Selasa
Tanggal : 12 Agustus 2014 Tempat : Ruang 605
Mengesahkan,
Dekan FISIP UMM
Dr. Asep Nurjaman, M.Si
Dewan Penguji:
1. Dr. Muslimin Machmud, M. Si. Penguji I ( )
2. Jamroji, M. Comm. Penguji II ( )
3. Nurudin, S. Sos., M. Si. Penguji III ( )
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Sholawat
serta salam saya curahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW, atas
terselesaikannya tugas akhir ini. Dengan perjuangan keras dan dukungan dari
banyak pihak, akhirnya saya dapat menyelesaikan studi di Jurusan Ilmu
Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM) ini.
Dengan terselesaikannya Skripsi yang berjudul “Representasi Masalah Sosial Tentang Anak Jalanan Dalam Karya Fotografi (Analisis Semiotik Foto Essay “Jalan Hidup Emma Memungut Mimpi” Karya Fransiskus Simbolon Pada Buku Anugerah Pewarta Fotot Indonesia 2012)” maka selesai sudah masa studi Strata 1 saya. Walaupun masih banyak kekurangan dan kelemahan di
penelitian saya ini, saya berharap bisa di jadikan acuan untuk penelitian
berikutnya yang berguna bagi perkembangan ilmu komunikasi.
Penelitian ini berawal dari minat saya menekuni fotografi sejak masuk
kuliah. Beberapa tahun mendalaminya akhirnya saya sadar bahwa fotografi tidak
hanya sebatas bagus atau tidak, namun harus perlu juga mengetahui esensi
fotografi. Karena sebuah esensi fotografi mengandung banyak pesan yang ingin di
sampaikan kepada masyarakat. Dalam penelitian saya ini menggunakan analisis
semiotik yang salah satunya ilmu tentang memahami suatu tanda. Tanpa disadari
atau tidak, dalam sebuah foto banyak mengandung pesan-pesan tersirat
Dengan bekal tersebut saya mencoba mengupas tanda-tanda yang ada dalam buku
“Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012” karya Fransiskus Simbolon, dimana
nantinya peneliti memaknai masalah sosial yang di hadapi anak jalanan didalam
sebuah foto jurnalistik.
Akhir kata, semoga penelitian saya ini berguna bagi perkembangan ilmu
komunikasi dan yang pasti juga perkembangan fotografi. Paling tidak para
fotografer selain menguasai teknis, harus menguasai visual literacy. Dan juga
semoga penelitian saya ini bisa menjadi acuan awal dan motivasi untuk penelitian
sejenis. Amin
Malang, 12 Agustus 2014
DAFTAR ISI
Lembar Judul ... i
Lembar Persetujuan ... ii
Lembar Pengesahan ... iii
Pernyataan Orisinilitas ... iv
Berita Acara Bimbingan Skripsi... v
Abstrak ... vi
Kata Pengantar ... x
Lembar Persembahan ... xii
Daftar Isi ... xiii
Daftar Tabel ... xvi
Daftar Gambar ... xvii
BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Representasi Sosial... 9
2.2 Masalah Sosial ... 10
2.3 Kemiskinan Diperkotaan ... 11
2.4 Perkembangan anak Usia 8 hingga 9 tahun ... 15
2.5 Anak Jalanan ... 16
2.5.1 Pengertian Anak Jalanan ... 16
2.5.2 Pekerja Anak ... 18
2.5.3 Pekerja Anak Rawan Eksploitasi ... 19
2.5.4 Karakteristik Anak Jalanan ... 20
2.5.5 Pendidikan Anak Jalanan ... 22
2.6 Foto Sebagai Kegiatan Komunikasi ... 25
2.6.1 Bahasa Foto ... 28
2.7 Foto Jurnalistik ... 36
2.7.1 Foto Berita ... 36
2.7.2 Foto Feature ... 37
2.7.3 Foto Dokumenter atau Stori ... 38
2.8 Foto Jurnalistik Sebagai Bentuk Komunikasi Massa ... 41
2.9 Fotografi Sebagai Representasi Realitas ... 42
2.9.1 Fotografi Sebagai Representasi Objektif ... 42
2.9.2 Fotografi Sebagai Tafsir Subjektif ... 44
2.10Analisis Teks Media ... 46
2.11Membaca Prespektif Fotografi dengan Semiotik ... 47
2.12Semiotika Sebagai Pendekatan untuk Mengetahui Pesan Foto ... 48
2.13Semiotika Charles Sanders Pierce ... 49
BAB III : METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 58
3.2 Ruang Lingkup Peneliti ... 58
3.3 Unti Analisis ... 59
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 59
3.5 Teknik Analisis Data ... 59
BAB IV : Gambaran Objek Penelitian 4.1 Tentang Buku “Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012” ... 61
4.1.1 Sekilas Tentang Anugerah Pewarta Foto ... 61
4.1.2 Resensi Tentang Buku Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012 ... 63
4.1.3 Hak Cipta Penerbit ... 65
4.2 Profil Fotografer ... 65
BAB V : HASIL PENELITIAN dan ANALISIS DATA
5.1 Kemiskinan dan Anak Jalanan Perempuan ... 79
5.2 Teman dan Tempat Bermain Anak Jalanan ... 94
5.3 Pendidikan Anak Jalanan ... 97
5.4 Permasalahan yang Dihadapi Anak Jalanan ... 106
5.5 Interpretasi Data ... 116
BAB VI : PENUTUP 6.1 Kesimpulan ... 120
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Tabel Data Visual Foto Dibalik Gemerlap Kota Jakarta ... 82
Tabel 5.2 Tabel Data Visual Malam Dipermpatan Jalan (Gambar 5.2) ... 86
Tabel 5.3 Tabel Data Visual Malam Dipermpatan Jalan (Gambar 5.3) ... 92
Tabel 5.4 Tabel Data Visual Canda Emma Bersama Teman ... 95
Tabel 5.5 Tabel Data Visual Berangkat Sekolah ... 98
Tabel 5.6 Tabel Data Visual Emma dan Pendidikan ... 101
Tabel 5.7 Tabel Data Visual Tugas Sekolah ... 104
Tabel 5.8 Tabel Data Visual Hilangnya Kebebasan Emma ... 108
Tabel 5.9 Tabel Data Visual Keretakan Keluarga Emma ... 111
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Buku Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012, tampak depan
... 64
Gambar 4.1 Buku Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012, tampak belakang ... 64
Gambar 5.1 Foto Dibalik Gemerlap Jakarta ... 82
Gambar 5.2 Foto Malam Diperempatan Jalan ... 86
Gambar 5.3 Foto Malam Diperempatan Jalan ... 91
Gambar 5.4 Foto Canda Emma Bersama Teman ... 95
Gambar 5.5 Foto Berangkat Sekolah ... 98
Gambar 5.6 Foto Emma dan Pendidikan ... 101
Gambar 5.7 Foto Tugas Sekolah ... 103
Gambar 5.8 Foto Hilangnya Kebebasan Emma ... 107
Gambar 5.9 Foto Keretakan Keluarga Emma ... 110
Daftar Pustaka:
Ajidarma, Seno Gumirah. Kisah Mata: Fotografi antara Dua Subyek. Yogyakarta: Galang Press, 2001.
Alwi, Audy Mirzani. Foto Jurnalistik: Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004
Barton, Will, Andrew Beck. Bersiap Memperlajari Kajian Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra, 2010.
Barker, Chris. Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006.
Budiman, Kris. Kosa Semiotika. Yogyakarta: LkiS, 1999.
. Semiotika Visual. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik, 2003.
Danesi, Marcel. Pesan, Tanda dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra, 2011.
Hasiholan, Dheyna., Et al. Politik Kemiskinan. Depok: Koekoesan, 2007
Hoed, Benny. Semiotika & Dinamika Sosial. Jakarta: Komunitas Bambu, 2011.
Meggitt Carolyn. Memahami Perkembangan anak. Jakarta, Indeks, 2013
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006.
. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Cetakan ke-14. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2010.
Noviana, Ratna. Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2000
Nurudin. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007
Pawito. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS. 2008.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.
. Analisis Teks Media. Cetakan ke-5. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.
Suharto, Edi. Kemiskinan dan perlindungan sosial di Indonesia. Bandung:
Alfabeta, 2009.
Suparlan, Persudi. Kemiskinan Di Perkotaan. Jakarta: Sinar Agape Press, 1984.
Surya, Rama. Yang Kuat Yang Kalah. Jakarta: Elex Media Kompatindo, 1996.
Suyanto, Bagong. Masalah Sosial Anak. Jakarta: Kencana, 2003
Sztompka, Piotr. Sosiologi Perubahan Sosial. Cetakan ke-3. Jakarta: Prenada Media Grup, 2007
Tinarbuko, Sumbo. Semiotika Komunikasi Visual. Edisi Revisi. Yogyakarta: Jalasutra,2013.
Widowati, Heningtyas. Irama Visual: Dari Toekang Reklame Sampai Komunikator Visual. Yogyakarta: Jalasutra, 2007
Wijaya, Taufan. Foto Jurnalistik. Klaten: CV Sahabat, 2011.
Yusuf, Syamsul. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosda, 2012.
Non Buku
Adriana, Galuh. Representasi Sosial Tentang Kerja Pada Anak Jalanan (Kasus: Anak Jalanan di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat). Bogor: Fakultas Pertanian Universitas Pertanian Bogor.2009.
Aulia, Eva. Orientasi Masa Depan Anak Jalanan. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. 2010.
Prabowo, M. Firman Unggul. Pencitraan Presiden dalam Karya Fotografi (Analisis Semiotik Foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyonon dan Megawati Soekarno Putri dalam buku “Split Second Split Moment” karya Julian Sihombing). Malang: Fakultas Ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. 2012.
Handout Materi ORDAS (Orientasi Dasar) JUFOC (Jurnalistik Fotografi Club),
2009
Herdiana, ike. (Minggu, 24 September 2013)
http://ikeherdiana-fpsi.web.unair.ac.id/artikel_detail-42211-Dunia%20AnakAnak-Dunia%20Anak%20Jalanan.html
Nurwijayanti, Andriyani Mustika. (Senin, 16 Maret 2014)
http://jurisprudence-journal.org/2012/07/eksploitasi-anak-perlindungan-
hukum-anak-jalanan-dalam-perspektif-hukum-pidana-di-daerah-yogyakarta/
Wapada.com, (Rabu, 18 juni 2014).
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&
id=305856:penyebab-dan-dampak-kemiskinan&catid=25:artikel&Itemid=44
Koran Sindo.com, (Rabu, 18 Juni 2014)
(http://www.koran-sindo.com/node/325615).
Bagmu2.com (Rabu, 13 agustus 2014)
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berkomunikasi merupakan hal dasar dalam berinteraksi dengan
orang lain. Berkomunikasi merupakan isyarat penyampaian pesan kepada
seseorang atau sekelompok orang baik secara langsung (tatap muka) atau
melalui media seperti: surat kabar, majalah, radio atau televisi (Deddy
Mulyana, 2006:61). Keberhasilan proses komunikasi tergantung pada teknik
penyampaian pesan dan pemilihan jenis informasi yang akan disampaikan.
Mereka mempunyai cara tersendiri dalam memindahkan rangkaian
imajinasi, termasuk ide, dan kreatifitas jika komunikasi tersebut melalui
sebuah madia cetak. Maka dari itu manusia tidak pernah lepas dari
berkomunikasi.
Fotografi merupakan media komunikasi visual yang tercipta dari
hasil perkembangan bentuk komunikasi. Fotografi menyampaikan sesuatu
melalui pesan simbolik, dapat dimaknai masing-masing personal yang
melihat. Melalui mata seorang fotografer, realitas direkam dengan
menggunakan kamera dan kemudian ditampilkan ke dalam sebuah gambar
yang bercerita. Ketika fotografer hendak menampilkan sebuah gambar atau
foto, secara tidak langsung mereka mempunyai keinginan untuk
2 sebuah media foto menggunakan elemen visual sebagai bahasa yang
ditangkap mata. Antok Sugiarto (2005:3) menyatakan bahwa “berbeda dari
kata-kata yang menghubungkan penalaran khusus yang harus dicerna otak
agar artinya bisa dipahami secara langsung, foto memancing respons
pengamatannya, oleh karena itu saat ini foto menjadi objek yang sangat
diperhitungkan”. Tubbs dan Moss dalam Deddy Mulyana (2006:59)
mendefinisikan “komunikasi sebagai proses penciptaan makna antar dua
orang atau lebih”
Sampai saat ini perkembangan fotografi masih terus berkembang.
Perkembangan sendiri terbagi menjadi tiga era, diantaranya era pra negatif
film yakni pada tahun 1826 Joseph Nicephore Niepece yang membuat foto
dengan melapisi plat logam dengan senyawa buatannya dengan disinari
kamera obscura sampai tercipta imaji, kemudian dilanjutkan pada masa era
negatif film dengan ditemukannya roll film oleh George pada tahun 1888
dan yang terakhir dikenal dengan era fotografi digital yakni kamera digital
yang mengunakan sensor elektronik sebagai media rekam imaji dan
kemudian dirubah menjadi data dengan bentuk dan ukuran yang sangat
praktis.
Di Indonesia sendiri, dunia fotografi masuk pertama pada tahun
1841, saat seorang pegawai kesehatan Belanda bernama Juriaan Munich
mendapat perintah dari Kementerian Kolonial untuk mendarat di Batavia
dengan membawa daguerreotype. Munich diberi tugas mengabadikan
3 untuk mendapatkan informasi seputar kondisi alam. Karena latar inilah,
fotografi mulai berkembang di Indonesia. Kassian Cephas, warga lokal asli
yang dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1844 di Yogyakarta. Cephas
sebenarnya adalah asli pribumi yang kemudian diangkat sebagai anak oleh
pasangan Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft, lalu di sekolahkan ke
Belanda. Cephas yang pertama kali mengenalkan dunia fotografi ke
Indonesia. Nama Kassian Cephas mulai dikenal dengan karya fotografi pada
tahun 1875 (Hand Out Materi ORDAS, JUFOC 2009:16).
Fotografi tidak hanya dinikmati, dikenal oleh jurnalis foto melainkan
dapat dinikmati dalam media cetak atau koran, melainkan banyak
diantaranya di pingiran jalan raya, pusat perbelanjaan dalam bentuk baliho,
spanduk dan masih banyak lagi. Dengan tujuan untuk menarik konsumen
sabagai media promosi.
Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang
bertujuan dalam permotretannya karena keinginan fotografer bercerita
kepada orang lain, memberikan informasi tentang suatu peristiwa dalam
bentuk visual gambar (berupa hasil karya foto). Jadi foto jenis ini
kepentingan utamanya adalah dalam menyampaikan pesan (massage) visual
pada orang lain. Memang selain sebagai alat komunikasi, foto jurnalistik
juga dapat dijadikan sebagai alat kritik sosial.
Sebuah foto jurnalistik harus memuat unsur 5W+1H (What, Where,
When, Who, Why, dan How). Unsur tersebut bisa diterapkan dalam berita
4 dalam menyampaikan unsur how, bagaimana peristiwa itu terjadi. Memang
unsur how dapat di tuangkan dalam bentuk tulisan namun foto lebih bisa
menguraikan dan menceritakan lebih baik (Atok Sugiarto, 2005:22).
Perbedaan mendasar bahasa tulis dan bahasa gambar yakni bahasa
tulis memerlukan proses membaca yang teliti dan pemahaman yang
kemudian bisa mengerti maksud tulisan tersebut. Namun, bahasa gambar
bisa langsung memberi dampak tanpa harus berimajinasi. Pemahaman pesan
terjadi melalui penglihatan. Secara langsung gambar menciptakan persepsi
mengenai kejadian tertentu. Bahasa gambar bisa menimbulkan respons lebih
cepat daripada bahasa tulisan. Eko S Hilman meyatakan dalam prakarta
katalog Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2012 (2012:39) “foto jurnalistik
adalah menampilkan berita secara visual, faktual dan menarik, serta sebagai
jejak dan langkah kenyataan dari sebuah peristiwa yang patut diketahui”.
Sebuah karya foto tidak lepas dari sang kreator pembuatnya, yakni
fotografer. Wartawan foto dituntut untuk menyampaikan kejujuran dalam
mengungkapkan sebuah objek foto. Fotografer merekam sebuah fakta,
layaknya penulis yang mengunakan gaya bahasa dalam setiap tulisannya
untuk merangsang emosi pembaca, unsur-unsur foto berita juga dapat
disusun sedemikian rupa untuk membagkitkan berbagai tangapan terhadap
penikmat foto. Di dalam objek foto, fotografer menampilkan gambar tanpa
mengurangi bahkan melebih-lebihkankan hasil yang sudah ada.
Buku Anugrah Pewarta Foto Indonesia 2012 (APFI) merupakan
5 pagelaran rutin tahunan untuk memberikan penghargaan setinggi-tingginya
kepada insanpers yang telah berdedikasi untuk menghasilkan karya foto
jurnalistik terbaik. Melaui lensa pewarta foto, kejadian demi kejadian,
peristiwa demi peristiwa, datang menghampiri sepanjang tahun 2012.
Fransiskus Simbolon memotret fenomena seorang anak jalanan yang
tinggal di kota besar, belajar dan bekerja untuk kelangsungan hidup
keluarganya. Foto yang dikemas sederhana dengan judul “Jalan Hidup
Emma: Memungut Mimpi” adalah rangkaian foto, sesuai dengan fakta yang
ada serta sudut pandang fotografer. Fotografer merangkai cerita dalam karya
foto essay. Foto essay dan tulisan essay sebenarnya tidak ada pembeda yang
sangat besar, yang membedakan hanya media yang digunakan. Dalam kaya
fransiskus pembaca atau penikmat foto diajak melihat fenomena secara
sederhana dalam realitas.
Dalam foto menjelaskan bagaimana kehidupan hidup Emma anak
jalanan, sebagai seorang anak yang baru saja berusia sembilan tahun harus
mejalani kerasnya kehidupan ibu kota dengan berbagai persoalan, dimulai
dari hidup dengan serba kekurangan, ketidak harmonisan keluarga, bekerja
di jalan hingga malam hari dan bagaiman lingkungan tempat tinggalnya.
Faktor pendorong yang menyebabkan anak-anak memilih hidup di
jalan karena kehidupan rumah tangga anak jalanan biasanya berasal dari
keluarga yang diwarnai dengan ketidak harmonisan, baik itu perceraian,
percekcokan, hadirnya ayah atau ibu tiri, absennya orang tua baik karena
6 Mustika 2012). Faktor lain yang menjadi alasan anak untuk lari adalah
faktor ekonomi rumah tangga. Haryad dalam Eva Auliai (2010:24)
menyatakan kurangnya kesempatan kerja yang produktif dengan imbalan
yang memadai, tidak adanya ketersediaan fasilitas kesejahteraan sosial untuk
pengangguran dan orang miskin, serta tingginya tingkat droup out sekolah
dari kalangan keluarga kurang mampu.
Undang-Undang No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan
bahwa tentang hak kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan
pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa dan untuk memenuhi
kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk
suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok yaitu tentang hak kerja dan
tugas tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut
telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah
umur 15-64 tahun.
Berdasarkan UU RI No. 23/2002 tentang perlindungan anak, pada
salah satu pasalnya dengan jelas disebutkan mengenai batas usia manusia
yang berhak dinaungi oleh Undang-Undang tersebut. Mereka adalah:
“seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan”.
Terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang masalah peraturan
pemerintah tersebut juga membuat ketidaktahuan, kalau anak di bawah umur
tidak dapat bekerja atau diperkerjakan, dan beberapa faktor yang telah
7 pemaparan di atas merupakan sebuah kritik dengan sebuah karya foto
Jurnalistik. Seperti kita ketahui hingga saat ini masalah kemiskinan dan
maraknya anak-anak yang berkerja atau dipekerjaakan, yang berusia di
bawah umur belum juga bisa terselesaikan.
Setiap pagi belajar di sekolah dan ketika malam hari bekerja menjadi
pemulung dan mengamen di perempatan jalan yang dilakukan Emma.
Wajarnya seorang anak hanya dibebankan belajar dan menikmati aktifitas
bermain memperoleh perhatian dari keluarganya, bukan bekerja. Tinggal
dalam lingkungan yang demikian bukan tempat yang baik bagi
perkembangan fisik dan psikis anak, dengan berbagai ancaman yang kurang
baik diluar sana.
Dilansir dari Ike Hardiana (2012) adapun ciri-ciri anak jalanan secara
umum, antara lain: Berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan,
tempat hiburan) selama 3-24 jam sehari, berpendidikan rendah (kebanyakan
putus sekolah, dan sedikit sekali yang tamat SD), berasal dari keluarga yang
tidak mampu (kebanyakan kaum urban, dan beberapa di antaranya tidak
jelas keluarganya) dan beberapa juga sering melakukan tidak kriminal unruk
memenuhi kebutuhannya.
Pemaparan di atas merupakan alasan bagi peneliti untuk melakukan
studi terhadap foto jurnalistik. Foto yang dikaji peneliti adalah foto essay
“Jalan Hidup Emma: Memungut Mimpi” karya Frasnsiskus Simbolon dalam
8 1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan
masalah peneliti yakni bagaimana makna foto essay karya Fransiskus
Simbolon dengan judul “Jalan Hidup Emma Memungut Mimpi” yang
merepresentasikan masalah sosial anak jalanan
1.3. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui makna yang terkandung dalam foto essay karya
Fransiskus Simbolon dengan judul “Jalan Hidup Emma Memungut Mimpi”
yang merepresentasikan masalah sosial anak jalanan.
1.4. Manfaat Penelitian
Melalui hasil penelitian ini di harapkan menambah wawasan peneliti
mengenai makna tanda yang terdapat dalam foto serta diharapkan dapat
memberi wawasan bagi penikmat foto maupun fotografer dalam
mengaplikasikan ide-ide dalam berkarya sehingga dapat melahirkan
foto-foto representatif. Serta bahan pertimbangan bagi peneliti lain yang ingin