• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Islam Dalam Film Get Married 99% Muhrim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Representasi Islam Dalam Film Get Married 99% Muhrim"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

REPRESENTASI ISLAM DALAM

FILM GET MARRIED 99% MUHRIM

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh : Siti Aisyah NIM: 1112051000144

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK Siti Aisyah

1112051000144

Representasi Islam dalam Film Get Married 99% Muhrim

Film merupakan produk komunikasi massa yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Film juga menjadi media belajar manusia mengenai sejarah, tingkah laku manusia dan ilmu pengetahuan.Pada dasarnya dalam kajian media, tayangan film dijadikan alat dalam menyampaikan pesan baik social, politik,

budaya maupun sebagai sarana penyampaian pesan dakwah serta pesan moral.Get

Married 99% Muhrim, merupakan film bergendre komedi yang mengangkat tema Religi. Lewat film ini penonton diajak untuk menemukan hidayah.Film ini menyampaikan pandangan tentang bagaimana sebuah keluarga yang apabila tidak diisi dengan pembinaan agama yang benar maka terasa sulit menjalani kehidupan di dunia ini. Film ini memberikan gambaran tentang kehidupan umat islam dari sisi sosial maupun sisi keagamaan.

Pertanyaan penelitian ini diantaranya ialah, bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terdapat dalam Film Get Married 99% Muhrim berdasarkan model Roland Barthes? Bagaimana islam direpresentasikan dalam film Get Married 99% Muhrim?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma penelitian yang digunakan ialah paradigma konstruktivis. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah analisis semiotika model Roland Barthes.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori representasi Stuart Hall dan semiotika model Roland Barthes. Menurut Stuart Hall representasi merupakan perwakilan yang menghubungkan makna dan bahasa. Representasi dapat berwujud gambar, kata, cerita yang mewakili ide, emosi, fakta dan sebagainya. Dan bagaimana representasi tersebut dikaitkan dengan semiotika Roland Barthes yang mengembangkan semiotik menjadi dua tataran petanda tentang makna yang terkandung dalam film. Barthes menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan penanda dan petanda yang disebut denotasi, kemudian konotasinya adalah istilah untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua, pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos.

Hasil penelitian ini menampilkan beberapa tanda yang muncul dalam adegan-adegan pada film tersebut. Penulis mendapatkan data yang ditinjau dari denotasi, konotasi, dan mitos. Makna denotasi berupa penjelasan gambar-gambar pada kelima scene yang berkaitan dengan representasi islam. Makna konotasinya menjelaskan bagaimana para pemain memberi gambaran tentang ajaran sebagai seorang muslim. Dan mitosnya menjelaskan mengenai representasi sebagai seorang muslim. Film ini mengajarkan tentang ajaran-ajaran islam yang harus dilaksanakan, salah satunya memberi gambaran bagaiman sebagai seorang muslim diwajibkan menutup aurat yang sesuai dengan syariat islam. Dan mematuhi segala perintah dan larangan yang sudah ditetapkan Allah SWT.

Kata kunci: Film, Semiotika, Representasi, Islam, Get Married 99%

(6)

ii

berkah, kekuatan dan atas izin yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Representasi Islam dalam Film Get

Married 99% Muhrim”.

Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada nabi besar kita Nabi

Muhammad SAW beserta para sahabat dan keluarganya. Semoga kita tetap

istiqomah menjadi umatnya hingga hari kiamat. Aamiin.

Adapun skripsi ini merupakan tugas akhir yang disusun guna memenuhi

salah satu yang telah ditentukan dalam menempuh program studi Strata Satu (S1)

Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam hal ini,

penulis tentu menyadari bahwa skripsi ini tidak akan mampu terselesaikan tanpa

bantuan dari pihak lain yang telah memberikan bimbingan, nasihat, serta motivasi

baik secara moral maupun material. Oleh karenanya, penulis hendak

menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu

Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

2. Bapak Drs. Masran, M.A, selaku Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran

Islam.

3. Ibu Fita Fathurokhmah SS, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan

(7)

iii

4. Bapak Dr. Gun Gun Heryanto, M. Si, Selaku Dosen Penasehat

Akademik KPI E angkatan 2012 yang telah memberikan bantuan

dalam penyusunan proposal skripsi.

5. Bapak Dr. H. Sunandar, MA selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktunya guna memberikan arahan bagi penulis.

6. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

memberikan berbagai pengarahan, pengalaman, serta bimbingan

kepada penulis selama dalam masa perkuliahan.

7. Segenap pimpinan serta Karyawan Perpustakaan Utama dan

Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

melayani penulis dalam menggunakan buku-buku serta literatur yang

penulis butuhkan selama penyusunan skripsi ini.

8. Kedua orang tuaku tercinta, yang tidak pernah lelah dan penuh

kesabaran dalam mendidik anak-anaknya, terimakasih untuk kasih

sayang, do’a, serta nasihat-nasihatnya. Dan kepada kakak-kakak serta

abang-abangku tersayang yang selalu memberi nasihat serta motivasi

baik secara moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

9. Terimakasih untuk Fajar Bustomi, selaku narasumber penulis yakni

sutradara film Get Married 99% Muhrim yang telah meluangkan

waktunya untuk memberikan data-data untuk melengkapi skripsi ini.

10.Sahabat serta teman-teman ku Sarah Meida yang telah menjadi tempat

(8)

iv

pikiran serta berbagi pengalaman yang berharga selama berada di

bangku kuliah.

11.Seluruh teman-teman KPI E 2012 atas do’a dan semangatnya yang

sudah memberikan inspirasi kepada penulis.

12.Seluruh teman-teman KKN BRIGHT yang sedang berjuang dalam

menyelesaikan tugas akhir kuliah ini.

Untuk semua pihak yang telah membantu baik secara langsung

ataupun tidak langsung terimakasih. Penulis berharap semoga skripsi ini

mampu memberikan manfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan

Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Demikianlah

pengantar yang dapat penulis sampaikan, akhir kata penulis mohon maaf

jika terdapat kesalahan penulisan dalam skripsi ini.

Jakarta, Agustus 2016

(9)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 5

1. Batasan Masalah ... 5

2. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan Penelitian ... 6

2. Manfaat Penelitian ... 6

D. Metodologi Penelitian ... 7

1. Pendekatan Penelitian ... 7

2. Metode Peneltian ... 8

3. Subjek dan Objek Penelitian ... 8

4. Teknik Pengumpulan Data ... 8

5. Teknik Analisa Data ... 10

E. Tinjauan Pustaka ... 11

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Teori Representasi Stuart Hall ... 14

B. Semiotika ... 16

1. Pengertian Semiotika ... 16

2. Semiotika Roland Barthes ... 18

C. Pengertian Islam ... 21

D. Busana Muslim ... 23

1. Pengertian Busana Muslim ... 23

2. Kriteria Busana Muslim ... 24

E. Tinjauan Tentang Film ... 26

1. Pengertian Film ... 26

2. Unsur-unsur Pembentukan Film ... 27

(10)

vi

A. Sekilas Tentang Film Get Married 99% Muhrim ... 34

B. Synopsis Film Get Married 99% Muhrim ... 35

C. Tim Produksi Film Get Married 99% Muhrim ... 36

D. Profil Sutradara Film Get Married 99% Muhrim ... 38

E. Profil Pemain Film Get Married 99% Muhrim ... 39

BAB IVANALISIS DATA ... 44

A. Analisis Semiotika Scene Representasi Islam... 44

B. Representasi Makna Dalam Film Get Married 99% Muhrim ... 65

BAB V PENUTUP ... 68

A. Kesimpulan ... 69

B. Kritik dan Saran ... 70

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Peta Tanda Roland Barthes ……..……….19

Tabel 4.1..………...…..……….………..45

Tabel 4.2……….………...……..47

Tabel 4.3……….………...……..51

Tabel 4.4……….………...……..54

Tabel 4.5………..57

(12)

1

A. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan kemajuan teknologi dan cara dalam berkomunikasi

membuat para komunikator semakin mudah dalam menyampaikan pesan.

Beragam media komunikasi baik visual maupun audiovisual pun hadir di

masyarakat. Hal ini menjadi kebutuhan yang wajib bagi masyarakat sekarang

ini. Apalagi media komunikasi terus berinovasi dan berkembang tiap

tahunnya. Dengan canggihnya media komunikasi sekarang ini dapat

dimanfaatkan oleh setiap orang salah satunya sebagai media dakwah dalam

meningkatkan iman dan takwa khususnya untuk umat muslim.

Film merupakan produk komunikasi massa yang sangat berpengaruh bagi

kehidupan manusia. Kerjanya ibarat jarum hipodermik atau peluru yang

banyak dicetuskan oleh pakar ilmu komunikasi, dimana kegiatan mengirimkan

pesan sama halnya dengan tindakan menyuntikan obat yang dapat langsung

merasuk ke dalam jiwa penerima pesan.1 Film dapat dikatakan sebagai media

komunikasi yang unik dibandingkan dengan media lainnya, karena sifatnya

yang bergerak secara bebas dan tetap, penerjemahnya langsung melalui

1

(13)

2

gambaran-gambaran visual dan suara yang nyata, juga memiliki kesanggupan

untuk menangani berbagai subyek yang tidak terbatas ragamnya.2

Film saat ini juga menjadi media belajar manusia mengenai sejarah,

tingkah laku manusia dan ilmu pengetahuan. Film bukan lagi sekedar hiburan

karena dalam film mengangkat realita kehidupan yang ada dimasyarakat yang

dikombinasikan dengan unsur hiburan dan pendidikan di dalamnya. Film

adalah bagian kehidupan sehari-hari kita, dalam banyak hal bahkan cara kita bicara di

pengaruhi oleh metafora film.3

Pada dasarnya dalam kajian media, tayangan film dijadikan alat dalam

menyampaikan pesan baik social, politik, budaya maupun sebagai sarana

penyampaian pesan dakwah serta pesan moral. Dengan dibuatnya film

diharapkan alur cerita serta pesan-pesan yang disampaikan oleh sang aktor

yang memainkan perannya dapat diterima dan dimengerti oleh penontonnya.

Setelah film Get Married yang sebelum-sebelumnya mendulang

kesuksesan dengan cerita yang kocag, film ini juga merupakan sekuel dari seri

film terpanjang di Indonesia yang telah lima kali membuat sekuel film dengan

cerita yang berbeda-beda namun tetap dinikmati oleh penontonnya.4

Dibanding empat seri sebelumnya, film Get Married 99% Muhrim jelas

berbeda, karena sangat kental dengan pesan religius. Film ini juga dirilis

2

Adi Pranajaya, Film dan Masyarakat Sebuah Pengantar,(Jakarta, BPSDM Citra Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, 2000), h.6.

3

John Vivian, Teori Komunikasi Massa (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008), hlm.160.

4

(14)

setelah hari raya idul fitri untuk memanfaatkan moment lebaran dan sukses

menyita perhatian penonton yang menyukai genre komedi namun dikemas

dengan nuansa religi yang menghibur.

Film Get Married 99% Muhrim menceritakan tentang kehidupan Mae

yang kini tengah hidup berbahagia bersama Rendy serta anak-anaknya dengan

segala kemewahan yang dimiliknya. Namun dibalik kesenangannya saat ini ia

tersadar bahwa iman yang dia miliki masih kurang. Dalam harinya-harinya ia

mengalami kegalauan yang kemudian membuatnya mendapatkan hidayah. Ia

sadar bahwa selama ini keluarganya masih memiliki kekurangan yaitu

pendidikan agama. Dan dari situ iapun mulai belajar agama dan juga

mengajak sang suami untuk mempelajari masalah agama.

Perubahan pun terjadi pada adik iparnya, Sophie yang tengah kawin

gantung dengan Jali berubah setelah sophie mendalami ajaran agama di

pesantren. Perubahan keduanya benar-benar terlihat dimana Sophie yang

biasanya berpakaian seksi berubah menjadi seorang wanita alim yang

menggunakan pakaian muslim yang syar‟i. Awalnya perubahan Sophie itu

mendapat pertentangan dari ibunda Sophie yang khawatir bahwa anaknya

akan terpengaruh aliran agama yang salah.

Namun berkat pengenalan agama yang selama ini mereka ikuti, mereka

pun jadi tergugah untuk mempelajari masalah agama dan mulai berubah

menjadi pribadi yang Islami. Bahkan Rendy pun awalnya sempat melarang

(15)

4

yang baik dari Mae. Dari situ keduanya pun akhirnya sadar bahwa kehidupan

yang mapan tanpa pelajaran agama bagaikan "nasi tanpa garam".

Dalam film terbarunya yang bertajuk Get Married 99% Muhrim, bisa

dibilang menghadirkan kisah yang lebih seru, dan menginspirasi. Lewat film

ini penonton diajak untuk menemukan hidayah. Ini perbedaan Get Married

dengan film-film sejenisnya yang lebih banyak mengumbar komedi dan

kurang memperhatikan pesan dan nilai positif dari film tersebut. Disini juga

terlihat perbedaan dengan film Get Merried yang sebelum-sebelumnya yang

lebih banyak mengisahkan drama dan komedi.

Dalam film Get Married 99% Muhrim ini salah satu kunci kesuksesannya

terletak pada pengangkatan isu-isu yang masih terjadi hingga saat ini, seperti

pada lingkup masyarakat disekitar kita yang masih asing dengan

berpenampilan syar’I. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa

berpenampilan seperti itu merupakan salah satu ciri khas dari aliran sesat.

Dalam film Get Merried 99% Muhrim ini dibalik gendre komedi yang

ditampilkan namun, film ini juga banyak mengungkapkan pesan-pesan moral

yang berkaitan dengan ajaran islam tentunya dan sosial yang ditujukan kepada

masyarakat tanpa maksud menggurui.

Film ini menjadi menarik ketika pesan serta isi dalam film ini

menyampaikan pandangan tentang bagaimana sebuah keluarga yang apabila

tidak diisi dengan pembinaan agama yang benar maka terasa sulit menjalani

(16)

penonton dengan mudah karena pengemasanya yang ringan namun tetap

berbobot. Tema yang diangkat pun selalu berbicara tentang masalah yang

terjadi di masyarakat dikemas menjadi menyenangkan lewat aksi penuh tawa

yang diperankan antar pemain serta penuh makna.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian untuk menemukan makna yang ada dalam film tersebut. Peneliti

bermaksud menyusun skripsi dengan judul “Representasi Islam Dalam Film

Get Married 99% Muhrim”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Berdasarkan judul dan latar belakang masalah di atas, penulis

membatasi untuk mempermudah penyusunan dengan membatasi

pengambilan adegan-adegan dalam film “Get Married 99% Muhrim” yang

memiliki simbol dan merepresentasikan busana muslimah, sapaan salam,

serta arti perkawinan.

2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :

a. Bagaimana makna denotasi, konotasi dan mitosl yang terdapat

dalam film Get Married 99% Muhrim?

b. Bagaimana islam direpresentasikan dalam film Get Married 99%

(17)

6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah:

a. Untuk mengetahui makna denotasi, konotasi dan mitos dalam film

Get Married 99% Muhrim.

b. Untuk mengetahui bagaimana islam direpresentasikan dalam film

Get Married 99% Muhrim.

2. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Akademis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dan

menjadi referensi di bidang ilmu komunikasi, bagi mahasiswa UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam,

dalam mengembangkan penelitian skripsi menganalisis film dalam

kajian semiotika.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan para

akademisi dakwah dalam mengemas pesan melalui media audio visual

yaitu film. Selain itu, dari segi praktis diharapkan penelitian ini dapat

bermanfaat bagi praktisi perfilman terutama untuk memberikan sudut

(18)

D. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan

pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian

yang pemecahan masalahnya dengan menggunakan data empiris yang

bertujuan mengembangkan pengertian tentang individu dan kejadian

dengan memperhitungkan konteks yang relevan.5 Penulis akan

menggunakan data-data empiris lainnya unruk memberikan makna yang

ingin disampaikan dalam film Get Married 99% Muhrim, agar penafsiran

pesan dalam film Get Married 99% Muhrim tepat dengan isi pesan yang

ingin disampaikan.

Dalam penelitian ini menggunakan paradigma kostruktivis. Aliran ini

melihat bahwa realitas ada sebagai hasil konstruksi dari kemampuan

berpikir seseorang.6 Maka analisis dalam pandangan konstruktivis ialah

menentukan bagaiman realitas dikonstruksi dan menggunakan cara apa

konstruksi tersebut dibentuk. Paradigma ini dipakai peneliti untuk

menggali makna dan mengkonstruksikan pesan-pesan yang ingin

disampaikan kepada penonton.

5

Mashuri dan M. Zainuddin, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dan Aplikatif

(Malang: Refika Aditama, 2008), h. 13.

6

(19)

8

2. Metode penelitian

Dalam menganalisis penelitian ini, metode analisis yang digunakan

adalah analisis semiotika. Semiotika mempelajari sistem-sistem,

aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut

mempunyai arti.7 Peneliti memilih analisis semiotika Roland Barthes

untuk menganalisis film Get Married 99% Muhrim. Dalam semiotika

model ini, sistem signifikasi terbagi ke dalam dua tingkatan, dimana

denotasi merupakan tingkat pertama, sementara konotasi merupakan

tingkat kedua. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi,

tanda bekerja melalui mitos. Mitos adalah bagaimana kebudayaan

menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala

alam.8

3. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah film Get Married 99% Muhrim, sedangkan

objek penelitiannya adalah potongan adegan dalam film Get Married 99%

Muhrim yang berkaitan dengan unsur keislaman yang disampaikan.

4. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara, adalah teknik pencarian data atau informasi mendalam

yang diajukan kepada responden atau informan dalam bentuk

7

Rachmat Kriyanto, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta:PT. Kencana Prenada Media Grup,2006).h. 263.

8

(20)

pertanyaan.9 Penulis melakukan wawancara kepada pihak terkait,

yang dapat membantu penulis guna menggali informasi lebih

mendalam yangberkaitan dengan penulisan. Dalam penulisan ini

data tambahan diperoleh dari wawancara kepada sutrada Get

Married 99% Muhrim yaitu Fajar Bustomi.

b. Dokumentasi, yaitu mengumpulkan data-data melalui telaah dan

mengakaji berbagai literature yang sesuai dan ada hubungannya

dengan bahan penelitian yang kemudian dijadikan bahan

argumentasi. Data-data yang dikumpulkan dalam teknik ini terbagi

dua, yaitu:

1. Data primer adalah berupa data yang diperoleh dari film Get

Married 99% Muhrim.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen atau

literature-literatur yang mendukung data primer, seperti

buku-buku yang sesuai dengan penelitian, artikel, internet dan

sebagainya.

c. Observasi non partisipan. Pengumpulan data dilakukan oleh

penulis dengan menggunakan dua cara. Yang pertama observasi,

yaitu melakukan pengamatan secara langsung dan bebas terhadap

objek penelitian dan unit analisis dengan cara menonton dan

mengamati adegan demi adegan dalam film Get Married 99%

9

(21)

10

Muhrim. Kemudian, memilih dan menganalisis sesuai dengan

model penelitian yang digunakan.

5. Teknik Analisis Data

Setelah data primer dan data sekunder terkumpul, kemudian teknik

analisis data diklasifikasikan sebagai berikut:10

a. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan,

perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi

data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,

menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan

mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa hingga

kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

b. Penyajian data tahapan penting yang kedua dari kegiatan analisis

adalah penyajian data, penyajian data ialah sekumpulan informasi

yang tersusun dan memberi kemungkinan adanya penarikan

kesimpulan dan pengambilan data. Dengan melihat

penyajian-penyajian maka akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan

apa yang harus dilakukan lebih jauh menganalisis ataukah

mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat

dari penyajian-penyajian tersebut.

10

(22)

c. Penarikan kesimpulan (verifikasi) kegiatan analisis ketiga yang

penting adalah menarik kesimpulan verifikasi. Penarikan

kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi

yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama

penelitian berlangsung. Kemudian, dilakukan analisis data dengan

menggunakan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Dimana

Barthes mengembangkan semiotika menjadi denotasi, konotasi dan

mitos.

E. Tinjauan Pustaka

Pada penelitian ini penulis juga menggunakan skripsi yang memiliki

beberapa persamaan dengan penelitian ini, sebagai referensi atau rujukan bagi

penulis dalam merumuskan permasalahan, dan sekaligus sebagai referensi

tambahan selain buku, koran dan artikel. Adapun beberapa judul penelitian

yang penulis dapatkan sebagai berikut:

Representasi Simbol Keislaman Dalam Film Mata Tertutup Karya Garin

Nugroho. Yang diteliti oleh Siti Mawarni Murdiati. Mahasiswa Jurusan

Komunikasi Penyiaran Islam, tahun 2014. Persamaan skripsi yang dijadikan

rujukan dengan skripsi yang peneliti buat adalah dalam hal sama-sama

menggunakan analisis semiotika film. Perbedaannya pada objek penelitian

dimana skripsi yang digunakan sebagai rujukan menggunakan film Mata

Tertutup dan menggunakan teori Charles Sander Pierce, sedangkan skripsi

yang peneliti buat menggunakan film Get Married 99% Muhrim dan

(23)

12

Representasi Islam Dalam Film PK. Yang diteliti oleh Nurleli Mahasiswa

jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, tahun 2015. Persamaan skripsi yang

dijadikan rujukan dengan skripsi yang peneliti buat adalah dalam hal

sama-sama menggunakan analisis semiotika film. Perbedaannya pada objek

penelitian dimana skripsi yang digunakan sebagai rujukan menggunakan film

PK, sedangkan skripsi yang peneliti buat menggunakan film Get Married 99%

Muhrim dan sama-sama menggunakan teori Roland Barthes.

Representasi Islam Pada Iklan-iklan Partai Perindo di Televisi. Yang

diteliti oleh Giovanni Mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, tahun

2016. Persamaan skripsi yang dijadikan rujukan dengan skripsi yang peneliti

buat adalah dalam hal sama-sama menggunakan analisis semiotika film.

Perbedaannya pada objek penelitian dimana skripsi yang digunakan sebagai

rujukan menggunakan Iklan Partai Perindo di Televisi, sedangkan skripsi yang

peneliti buat menggunakan film Get Married 99% Muhrim dan sama-sama

menggunakan teori Roland Barthes.

Dengan begitu maka penulisan mengambil kesimpulan bahwa belum ada

mahasiswa/I yang meneliti tentang Representasi Islam Dalam Film Get

Married 99% Muhrim.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ditujukan untuk memudahkan pemahaman

tentang penelitian ini, maka penulis membagi skripsi ini menjadi lima bab

(24)

yang utuh dari skripsi ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah

sebagi berikut:

BAB I: PENDAHULUAN Dalam bab ini terdapat latar belakang

masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

peneliatian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematikan

penelitian.

BAB II: LANDASAN TEORI Dalam bab ini berisi tentang konsep

semiotika, semiotika Roland Barthes, pengertian representasi, pengertian

islam, definisi representasi islam, film sebagai media komunikasi massa,

tinjauan tentang film, struktur film, jenis dan klasifikasi film.

BAB III: GAMBARAN UMUM FILM GET MARRIED 99%

MUHRIM Pada bab ini pembahasan gambaran umum film Get Married

99% Muhrim, synopsis film, tim produksi film Get Married 99% Muhrim,

profil sutradara, dan profil pemain.

BAB IV: ANALISIS DATA Bab ini membahas tentang penelitian

yang mencakup analisis semiotika gambar (film Get Married 99%

Muhrim) model Roland Barthes dan representasi makna dalam film Get

Married 99% Muhrim.

BAB V: PENUTUP Penulis mengakhiri skripsi ini dengan

memberikan kesimpulan sebagai jawaban atas rumusan masalah bab I dan

(25)

14

BAB II

Landasan Teori

A. Teori Representasi Stuart Hall

Stuart Hall berargumentasi bahwa representasi dipahami sebagai berikut:1

Representation: Cultural Representation and signifying Practice,

“Representation connect meaning and language to culture...representation is an essential part of the process by wich

meaning is produced and exchanged between member of culture.”

Perwakilan budaya dan praktek yang signifikan, “perwakilan

menghubungkan makna dan bahasa atas kebudayaan... perwakilan merupakan bagian penting dari proses yang berarti dihasilkan dan ditukar diantara para anggota”.

Melalui representasi suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar

anggota masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa, representasi secara

singkat adalah cara memproduksi makna. Representasi bekerja melalui

sistem representasi, sistem ini teridri dari dua komponen yang penting

yakni konsep pikiran dan bahasa. Keduanya saling berkolerasi, konsep dari

suatu hal yang diketahui dalam pikiran sehingga dapat mengetahui makna

akan hal tersebut, namun tanpa adanya bahasa tidak akan bisa

mengkomunikasikannya.

Sistem representasi yang kedua adalah bekerja pada hubungan antara

tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah, selalu

ada pemaknaan baru. Representasi berubah akibat dari hal tersebut maka

1

(26)

makna juga berubah. Setiap waktu terjadi proses negosiasi dalam

pemaknaan.2

Representasi merupakan kegunaan dari tanda. Marcel Danesi

mendefinisikannya sebagai aktivitas pembentukan ilmu pengetahuan yang

dimungkinkan kapasitas otak untuk dilakukan oleh semua manusia.3

Representasi dapat didefinisikan sebagai penggunaan tanda (gambar,

bunyi, dan lain-lain) untuk menghubungkan, menggambarkan, memotret,

atau memproduksi sesuatu yang dilihat, diindera, dibayangkan, atau

dirasakan dalam bentuk fisik tertentu.4

Representasi bergantung pada tanda dan citra yang sudah ada dan

dipahami secara kultural, dalam pembelajaran bahasa dan penandaan yang

bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik. Hal ini

mewakili fungsi tanda „mewakili‟ yang kita tahu dan mempelajari realitas.

Oleh karena itu yang terpenting dalam sistem representasi adalah

bahwa kelompok masyarakat tersebut dapat bertukar makna dengan baik

yaitu kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan latar belakang

pengetahuan, sehingga dapat menciptakan pemahaman yang sama.

Menurut Stuart Hall5

2

Idiwan Seto, Semiotika Komunikasi: Aplikasi Praktis Bagi Peneliti dan Skripsi Komunikasi, (Jakarta: PT. Mitra Wacana Media, 2013),h.123.

3

Marcel Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), h. 24 4

Marcel Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna, h. 24.

5

(27)

16

“Member of same cultural must share concept, images, and ideas which enable them to think and feel about the world in roughly similiar ways. The must share, broadly speaking, the same „cultural

codes’ in this sense, thinking and feeling are themselves „system of respresentation’.”

Anggota dari budaya yang sama harus berbagi konsep, gambar, dan ide-ide yang dapat memungkinkan mereka untuk berfikir dan merasakan dunia dengan cara yang hampir sama. Konsep harus berbagi, secara umum, adalah „kode budaya‟ yang sama dalam hal ini, berpikir dan merasakan sendiri yang merupakan „sistem perwakilan‟.

Berfikir dan merasa menurut Stuart Hall juga merupakan sistem

representasi, sebagai sistem representasi maka berfikir dan merasa juga

berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu konsep (dalam

pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting yang digunakan dalam

proses konstruksi atau produksi makna.

Jadi dapat disimpulkan bahwa representasi adalah suatu proses untuk

memproduksi makna dari konsep yang ada dipiran kita melalui bahasa.

Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem

representasi. Representasi merujuk kepada segala bentuk media terutama

media massa terhadap segala apa yang dikonstruksikannya dan bagaimana

kita memaknainya.

B. Semiotika

1. Pengertian Semiotika

Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studi tentang tanda dan

(28)

dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka

yang menggunakannya.6 Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa

Yunani, semeion yang berarti “tanda” atau seme, yang berarti “penafsir

tanda”. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika,

dan retorika.7

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji

tanda (sign). Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan

makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu

tanda. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat

luas berurusan dengan simbol, bahasa, wacana, dan bentuk-bentuk

nonverbal, teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan

dengan maknanya dan bagaimana tanda disusun.8

Batasan yang lebih jelas dikemukakan Preminger dikatakan, semiotic

adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena

social/ masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotic

itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang

memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.9

Pokok perhatian semiotika adalah tanda. Tanda itu sendiri adalah

sebagai sesuatu yang memiliki ciri khusus yang penting. Pertama, tanda

6

Rachmat Kriyanto, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta:PT. Kencana Prenada Media Grup,2006).h. 261

7

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 16-17 8

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi. h. 15-16. 9

(29)

18

harus dapat diamati, dalam arti tanda itu dapat ditangkap. Kedua, tanda

harus menunjuk pada sesuatu yang lain. Artinya bisa menggantikan,

mewakili dan menyajikan.

2. Semiotika Roland Barthes

Barthes lahir tahun 1915 ia dikenal sebagai salah seorang pemikir

strukturalis yang rajin mempraktikkan model lingustik dan semiologi

Saussure. Ia berpendapat bahasa adalah sebuah system tanda yang

mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu

tertentu.10

Semiotika dalam pandangan Barthes pada dasarnya hendak

mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal.

Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan

mengkomunikasikan (to comunnicate). Memaknai berarti bahwa

objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek-objek-objek itu

hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi system terstruktur dari

tanda.11

10

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 63. 11

(30)

Gambar 2.1 Peta Tanda Roland Barthes

Dari peta di atas terlihat bahwa tanda denotative (3) terdiri atas

penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda

denotative adalah juga penanda konotatif (4) dengan kata lain, hal tersebut

merupakan unsur material: hanya jika anda mengenal kata “singa”, barulah

konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi

mungkin.12

Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi sebagai

kunci analisisnya.13 Barthes menggunakan istilah “orders of

signification”. First order signification adalah deotasi. Sedangkan

konotasi adalah second order of signification. Lewat model ini Barthes

menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama merupakan

12

Alex sobur, Semiotika Komunikasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009),h. 69.

13

(31)

20

hubungan sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Itu yang disebut

Barthes sebagai makna denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda.14

Dalam pengertian umum, denotasi biasanya dimengerti sebagai makna

harfiah, makna yang sesungguhnya, bahkan kadang kala juga dirancukan

dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional

disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa

dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap.15

Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan

signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi

ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta

nilai-nilai kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau

paling tidak intersubjektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang

digambarkan tanda terhadap sebuah objek, sedangkan makna konotasi

adalah bagaimana cara menggambarkannya.16

Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda

bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan

menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala

alam. Mitos adalah suatu wahana dimana suatu ideology berwujud.

Ideology dalam teks dengan jalan meneliti konotasi-konotasi yang terdapat

14

Idiwan Seto, Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi (Jakarta: Mitra Wacana Media,2013), h. 21.

15

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 70. 16

(32)

didalamnya. Mitos dapat berangkai menjadi mitology yang memainkan

peranan penting dalam kesatuan-kesatuan budaya.17 Adapun Umar Junus

beranggapan bahwa, mitos tidak dibentuk melalui penyelidikan, akan

tetapi melalui anggapan berdasarkan observasi kasar yang

digeneralisasikan oleh karenanya lebih banyak hidup dalam mayarakat.18

Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa denotasi

merupakan makna harfiah atau makna sesungguhnya yang pada dasarnya

meliputi hal-hal yang digambarkan pada suatu objek. Konotasi adalah

suatu jenis makna dimana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai

emosional. Sementara mitos merupakan makan yang berfungsi untuk

mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan

yang berlaku dalam suatu periode tertentu.

C. Pengertian Islam

Islam adalah agama dalam pengertian, agama yang ajaran-ajarannya

diwahyukan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad SAW

sebagai Rasul.19 Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang

bukan mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari aspek

kehidupan manusia sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai

aspek yaitu al-qur‟an dan hadist.

17

Idiwan Seto, Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi (Jakarta: Mitra Wacana Media,2013), h. 22.

18

Umar Junus, Mitos dan Komunikasi, (Jakarta: Sinar Harapan, 1981), h.74. 19

(33)

22

Nama islam berasal darim kata Salam yang terutama berarti “damai”

dan juga berarti “menyerahkan diri”. Tertuang dalam ayat berikut :

:ĐÁفĚأا° ĕħēعْĒا عħė|سĒا ġه ۥه|Ěº ۚ |َ ģēع ْđ|كġتĠ ÁğĒ ْحěْجÁف ĕْē|سēĒ ۟اġحěج ĘºĠ

¯

Artinya: “dan jika mereka condong kepada perdamian, maka condonglah kepadanya dan bertawakalah kepada allah. Sesungguuhnya

dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui”.QS. Al-anfal: 61 Maka keseluruhan pengertian yang dikandung nama ini adalah

“kedamaian sempurna yang terwujud jika hidup sudah diserahkan kepada

allah”20

tuhan dalam agama islam adalah Allah SWT, kitab yang dianut

umat islam adalah al-qur‟an. Al-quran merupakan mukzijat yang diberikan

kepada nabi Muhammad SAW, yang dipercayai umat islam sebagai nabi

akhir zaman yang membawa cahaya bagi umat manusia.

Pengertian islam menurut KH. M. Syafi‟I Hadzami adalah tunduk dan

patuh terhadap apa yang diberitakan oleh rasulullah.21 Dalam pengertian

agama, kata islam berarti kepatuhan kepada kehendak dan kemauan Allah,

serta taat kepada hukum-Nya.22

Dari segi bahasa, kata islam berasal dari bahasa arab yang terambil

dari akar kata salima. Dalam bahasa Indonesia, kata tadi diartikan dengan

“selamat”. Dari akar kata salima tadi dibentuk kata aslama,yaitu salam

yang artinya keselamatan, taslim yang artinya perdamaian.23

20

Huston Smith, Agama-agama Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008),h.254. 21

M. Syafi‟I Hadzami, Tauhid Adilah (Jakarta: PT. Alwx Media Komputindo, 2010), h.7. 22

Abdalati hammudah, Islam Suatu Kepastian (Jakarta: Media Dakwah, 2008),h.13 23Jam‟annuri,

(34)

Jadi, islam dalam pengertian umum berarti ketundukan dan ketaatan

semua makhluk terhadap hukum-hukum yang telah ditetapkan tuhan sang

pencipta. Arah ketundukan terhadap hukum-hukum alam dan ketundukan

terhadap ketentuan-ketentuan agama.24

D. Busana Muslim

1. Pengertian Busana Muslim

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, busana adalah pakaian (yang

indah-indah); perhiasan; -muslim, baju muslim.25 Secara etimologi istilah

pakaian merupakan terjemahan dari kata “libas” atau “tsiyab” dalam bahasa

arab. Kata libas digunakan dalam al-Qur‟an untuk menunjukkan pakaian

lahir maupun pakaian batin, sedangkan kata tsiyab diambil dari kata dasar

tsaub yang berarti kembali, yakni kembalinya sesuatu pada keadaan semula

atau pada keadaan yang seharusnya sesuai dengan ide pertamanya.26

Dalam al- Qur‟an, Allah SWT menjelaskan kepada manusia tujuan

dan fungsi pakaian yang sebenarnya:

ْÝق Ĕدآ ĥěب ÁĦ

ۚ áْħخ كĒ ٰÞ ٰĢġْق|تĒا äÁبĒĠ ۖ ÁشĦàĠ ْĕďتآْġس ĤàاġĦ ÁسÁبĒ ْĕďْħēع ÁěْĒãْĚأ

:فاáعأا( ĘĠá|ك|ßĦ ْĕğ|ēعĒ |َ تÁĦآ ْęĖ كĒ ٰÞ

62

)

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (al-A’raf: 26).

24Jam‟annuri,

Agama Kita Perspektif Sejarah Agama-agama.h.111.

25

W.J.S Poerdarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, h. 197. 26

(35)

24

كتÁěبĠ كجاĠْâأ ْđق }ĥب|ěĒا Áğ}Ħأ ÁĦ

كĒÞ |ęğبħباج ْęĖ |ęğْħēع ęħĚْÝĦ ęħěĖْ¹ėْĒا ءÁسĚĠ

Áėħحà اàġفغ |َ ĘÁكĠ ęْĦÞْ¹Ħ اف ęْفáْعĦ ْĘأ ģĚْدأ

:Âاãحأا(

95

)

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al- Ahzab: 59).

Dari Firman Allah tersebut di atas dapat dipahami bahwa tujuan dari

pakaian adalah untuk menutup aurat, sedangkan fungsi dari pakaian

beraneka ragam, misalnya untuk perhiasan, untuk pelindung dari segalam

macam gangguan dan sebagai identitas agar mudah dikenali. Maka dapat

disimpulkan busana muslim adalah busana yang memiliki tujuan untuk

menutup aurat sesuai dengan ajaran Islam, dan pengguna busana tersebut

dapat mencerminkan identitasnya sebagai seorang muslimah.

2. Kriteria Busana Muslim

Tantangan yang dihadapi muslimah saat ini adalah bagaimana

menganakan busana muslim namun tetap bisa beradaptasi dengan

perkembangan fashion. Di satu sisi seorang muslimah harus menutup aurat

mereka sesuai dengan perintah Allah SWT dan di sisi yang lain, seorang

muslimah dituntut untuk dapat berpenampilan menarik dan adaptif terhadap

perkembangan zaman. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang

memiliki akal dan fitrah untuk bisa berfikir inovatif. Seorang muslimah

boleh berinovasi dalah hal tampilan berbusana muslim namun tetap dalam

(36)

a. Menutup Dada

Hijab sendiri memiliki konsep sebagai “penutup” Allah SWT berfirman:

نيدْبي َ ن ج رف نْظف ْحي نهراصْبأ ْنم نْضضْغي انم ْ مْ ل ْلق

ام َإ ن تنيز

ْ أ ن تل عبل َإ ن تنيز نيدْبي َ ۖ ن ب يج ٰى ع نهرمخب نْبرْضيْل ۖ ا ْنم ر ظ

ن نا ْخإ ْ أ ن تل عب ءانْبأ ْ أ ن ئانْبأ ْ أ ن تل عب ءابآ ْ أ ن ئابآ

ْ أ ن نا ْخإ ينب ْ أ

نم ب ْر ْْا يل أ رْيغ نيعباتلا أ ن نامْيأ ْ ك م ام ْ أ ن ئاسن ْ أ ن تا خأ ينب

ب نْبرْضي َ ۖ ءاسنلا ار ْ ع ٰى ع ا ر ْظي ْ ل نيذلا لْفطلا أ لاجرلا

ن ج ْر

ن ح ْفت ْ ك عل ن نم ْ مْلا هيأ اًعيمج َ ىلإ ا ب ت ۚ ن تنيز ْنم نيف ْخي ام ْعيل

.

:ر نلا(

13

)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S. An-Nur: 31).

Kenakanlah pakaian yang menutup aurat sesuai dengan

batasa-batasan dalam Islam, seperti menutup dada atautidak menonjolkan bagian

tubuh lainnya.

(37)

26

Usamah bin Zaid pernah berkata: “Rosululllah Shalallahu „alahi wa Salam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut lalu di hadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada isteriku. Suatu kala Rasulullah Shalallahu

„alahi wa salam menanyakanku: “kenapa baju Quthbiyyahnya tidak engkau pakai?” kujawab : “baju tersebut aku pakaikan kepada isteriku

wahai Rosulullah”, lantas beliau berkata“suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya” .(Dhiya Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah 1/441; Ahmad dengan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).

c. Tidak Transparan

Dari Abdullah bin Abu Salamah, dikatakan Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan

berwarna putih) kemudian Umar berkata: “Jangan kamu pakaikan baju

-baju ini untuk istrimu!” seseorang kemudian bertanya, “Wahai Amirul

Mu’minin, telah saya pakaikan itu pada istriku dan telah aku lihat di

rumah dari arah depan maupub belakang, namun aku tidak melihatnya

sebagai pakaian yang tipis. Maka Umar menjawab “sekaliput tidak tipis,

namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh)”. (H.R Al-Baihaqi II/ 23-235; muslim al-bitthin dari Abi Shalih dari Umar).

E. Tinjauan Tentang Film

1. Pengertian Film

Film atau gambar hidup juga sering disebut movie. Film, secara

kolektif sering disebut „sinema‟. Gambar hidup adalah bentuk seni,

bentuk popular dari hiburan, dan juga bisnis. Film dihasilkan dengan

rekaman dari orang dan benda dengan kamera, dan atau oleh animasi.27

Definisi film Menurut Prof. Dr. Azhar Arsyad, M. A, film atau gambar

hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame

diproyeksi melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar

27

(38)

terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian

sehingga memberikan daya tarik tersendiri.28

Jadi dapat dipahami film adalah media gambar bergerak yang

merupakan karya seni berupa hiburan dan pembelajaran yang

dipertunjukkan lewat proyeksi mekanik atau elektronik yang dapat

memberikan pengaruh pada kehidupan sehari-hari manusia.

2. Unsur- unsur Pembentukan Film

Secara umum film dapat dibagi atas dua unsur pembentukan, yakni

unsur naratif dan unsur semantic, dua unsur tersebut saling berinteraksi

dan berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk sebuah film.

Dapat dikatakan bahwa unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan

diolah, sementara unsur sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya.

Dalam film cerita, unsur naratif adalah perlakuan terhadap cerita filmnya.

Sementara unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis pembentukan

film.

Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Setiap

cerita pasti memiliki unsur-unsur seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi,

waktu, serta lainnya. Seluruh elemen-elemen tersebut saling berinteraksi

dan berkesinambungan satu sama lian untuk membentuk sebuah jalinan

peristiwa yang memiliki maksud dan tujuan. Seluruh jalinan peristiwa

terikat oleh sebuah aturan yakni hukum kausalitas (logika sebab-akibat).

28

(39)

28

Aspek kausalitas bersama unsur ruang dan waktu adalah elemen-elemen

pokok pembentukan naratif.

Unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi sebuah

film. Unsur sinematik terbagi menjadi empat pokok yakni, mise-en-scene,

sinematografi, editing, dan suara. mise-en-scene adalah segala hal yang

berada di depan kamera. Sinematografi adalah perlakuan terhadap kamera

dan filmnya serta hubungan kamera dengan objek yang diambil.

Editing adalah transisi sebuah gambar (shot) lainnya. Sedangkan suara

adalah segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera

pendengaran. Seluruh unsur sinematik tersebut saling terkait, mengisi,

serta berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk unsur sinematik

secara keseluruhan.29

3. Struktur Film

Film jenis apapun panjang, pendek pasti memiliki struktur fisik. Secara

fisik struktur film dapat dibagi menjadi:

a. Shot

Memiliki arti proses perekam gambar sejak kamera diaktifkan (on)

hingga dihentikan (off) atau juga sering diistilahkan satu kali take

(pengambilan gambar). Sementara shot setelah film telah jadi (pasca

produksi) memiliki arti satu rangkaian gambar utuh yang tidak

29

(40)

terintrupsi oleh potongan gambar (editing). Shot merupaka unsur

terkecil dari film.

Sekumpulan shot biasanya dapat dikelompokkan menjadi sebuah

adegan. Satu adegan bisa berjumlah belasan hingga puluhan shot. Satu

shot dapat berdurasi satu detik, beberapa menit bahkan beberapa jam.

Dalam dunia sinematografi kode shot dinamakan dengan basic

shot, basic shot adalah shot dasar yang dibangun untuk menampilkan

seseorang pada ukuran-ukuran (size) tertentu. Berikut adalah

bentuk-bentuk tampilan shot:

1) Close Up (CU), sebuah shot yang menampilkan wajah

seseorang dengan ukuran penuh.

2) Medium Close Up (MCU), menampilkan seseorang dengan

ukuran dada keatas.

3) Medium Shot (MS), memperlihatkan tampilan seseorang dari

batas pinggang keatas.

4) Medium Long Shot (MLS), menampilkan ukuran seseorang

sebatas atas lutut atau bawah lutut.

5) Long Shot (LS), menampilkan sesorang secara utuh mulai dari

(41)

30

6) Big Close Up (BCU), bagian dari close up, ukurannya lebih

kecil daripada close up.

7) Extrim Close Up (ECU), gambar yang dihasilkan hanya focus

pada satu bagian saja.

8) Very Long Shot (VLS), latar subjek lebih dominan dari pada

subjek sendiri.

9) Extrim Long Shot (ELS), tidak menonjolkan subjek, penekanan

pada latar dimana subjek berada.

b. Scane (adegan)

Scene adalah gabungan dari beberapa shot yang menimbulkan satu

pengertian yang utuh. Membangun satu scene sama dengan

membangun sebuah kalimat yang terdiri dari awal, pengembangan atau

pemaknaan, dan terakhir bagian penutup.

Satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan

satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi(cerita),

tema, karakter atau motif.

c. Sequence

Sequence adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu

(42)

adegan yang saling berhubungan.30 Dalam karya literature, Sequence

bisa diibaratkan babak atau sekumpulan bab.

4. Jenis dan Klasifikasi Film

Film dibagi menjadi tiga jenis. Ketiga jenis film itu adalah film

documenter (documentary films), film cerita pendek (short film) dan film

cerita panjang (feature-lenght films).31

a. Film Dokumenter (documentary films)

Film dokumenter adalah karya ciptaan mengenai kenyataan

(Creative Treatment of Actuality).32 Film dokumenter merupakan

interprestasi yang puitis yang bersifat pribadi dari

kenyataan-kenyataan. Atau dengan kata lain merupakan film non fiksi yang

menggambarkan perasaannya dan pengalamannya dalam situasi yang

apa adanya, tanpa persiapan, langsung pada kamera atau pewawancara.

Film documenter pada dsarnya berusaha dibuat untuk menyajikan

realitas melalui berbagai macam cara untuk berbagai macam tujuan.

Secara umum film documenter dibuat untuk tujuan penyebaran

informasi, pendidikan juga propaganda bagi seseorang atau kelompok

tertentu.

30

Haruf effendi, Mari Membuat Film, Panduan Menjadi Produser (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya,1986), cet.ke-3,h.35.

31

Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotica Media (Yogyakarta: Jala Sutra, 2010),h.134.

32

(43)

32

b. Film Cerita Pendek

Durasi film cerita pendek biasanya dibawah 60 menit. Film cerita

pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi

seseorang atau sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film

cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh mahasiswa

jurusan film atau orang atau kelompok yang meyukai dunia film dan

ingin berlatih membuat film dengan baik.

c. Film Cerita Panjang

Sebuah film dikatakan film cerita panjang bila durasi dari film

lebih dari 60 menit. Film yang biasanya diputar termasuk dalam jenis

film cerita panjang. Seiring perkembangan zaman dan dunia perfilman,

gendre dalam filmpun mengalami sedikit perubahan.33 Sejauh ini jenis

film cerita panjang di bagi menjadi lima gendre, yaitu:

1) Komedi, tema ini berbeda dengan lawakan sebab jika dalam

lawakan biasanya yang berperan adalah pelawak. Film komedi

tidak harus dilakonkan oleh pelawak, tetapi pemain film biasa.

Intinya, tema komedi selalu menawarkan sesuatu yang

membuat penontonnya tersenyum bahkan tertawa

terbahak-bahak. Ada dua jenis drama komedi yaitu slapstick dan

situation comedy. Splastick adalah komedi yang

memperagakan adegan konyol. Sedangkan komedi situasi

33

(44)

adalah adegan lucu yang muncul dari situasi yang dibentuk

dalam alur dan irama film.

2) Drama, film yang menggambarkan realita disekeliling hidup

manusia. Dalam film drama, alur ceritanya terkadang dapat

membuat penonton tersenyum, sedih dan meneteskan air mata.

Tema ini mengetengahkan aspek-aspek human interest

sehingga yang dituju adalah perasaan penonton untuk meresapi

kejadian yang menimpa tokohnya.

3) Horror, film yang beraroma mistis, alam gaib dan supranatural.

Alur ceritanya biasanya membuat jantung penonton berdegup

kencang, menegangkan, dan berteriak histeris. Film ini biasa

dibuat dengan cara animasi, special efek, atau langsung oleh

tokoh-tokoh dalam film tersebut.

4) Musical, film yang penuh dengan nuansa music. Alur ceritanya

sama seperti drama. Hanya saja dibeberapa bagian adegan

dalam film para pemain bernyanyi, berdansa, bahkan berdialog

menggunakan music (seperti bernyanyi).

5) Laga (action). Film yang dipenuhi aksi, perkelahian,

tembak-menembak, kejar-kejaran, kebut-kebutan dan adegan-adegan

berbahaya yang mendebarkan. Bisa dikatakan film yang berisi

(45)

34

BAB III

GAMBARAN UMUM FILM 99% MUHRIM GET MARRIED A. Sekilas Tentang Film 99% Muhrim Get Married

Film lanjutan drama komedi Get Married merupakan seri kelima ini diberi

title Get Married 99% Muhrim, mengangkat kisah romantis Mae yang

diperankan Nirina Zubir dan Rendy yang diperankan Nino Fernandez, dan

disutradarai oleh Fajar Bustomi. Di episode teranyar dari karya layar lebar ini,

pasangan Mae dan Rendy memasuki kehidupan yang lebih mapan.

Film yang diproduseri Chand Parwez, mengklaim jika cerita di film

terbaru ini lebih menyentuh.Film ini juga dijadikan penutup dari film Get

Married dari rumah produksi.1Get Married 99% Muhrim ini, selain mapan,

diceritakan pula jika kebahagiaan kehidupan rumahtangga Mae dan Rendy

kian bertambah, dengan kehadiran tiga orang anak kembar. Bahkan tak ada

yang kurang dalam kehidupan Mae dengan memiliki suami ganteng dan tiga

orang anak yang mencintainya.

Dilihat dari judulnya yang bertajuk Get Married 99% Muhrim disini sang

produser memang menginginkan nuasa yang religi, karena memang pada

setiap peluncuran filmGet Married selalu bertepatan pada bulan ramadhan.

Namun dari film-film pertama sampai pada film keempat Get Married belum

ada yang menyinggung masalah islaminya. Jadi, pada sekuel terakhirnya film

Get Married ini sang sutradara mengangkat nuasa religi yang mengadung

1

(46)

unsur islami didalamnya dimana dalam film ini berkisah tentang pencarian jati

diri seseorang untuk lebih mengenal lagi tentang islam.2

B. Sinopsis 99% Muhrim Get Married

Berkisah tentang pernikahan Mae dengan Rendy yang bahagia, kehidupan

mereka mulai dihadiri dengan tiga anak yang baik dan soleh Hanung, Mark

dan Oprah. Mae juga makin terlihat modis dan kekinian dengan selalu update

status di sosial media, Rendy pun makin cemerlang dalam soal pekerjaan

hingga ditawari bekerja ke Los Angeles, Amerika Serikat, ditengah

kebahagiaan mereka musibah pun terjadi terhadap Pak Mardi dan Bu Mardi

yang dibegal kelompok penjahat jalanan.

Ditengah suasana kritis dan keadaan yang sangat kacau, Mae tersentuh

melihat ketiga anaknya membacakan ayat-ayat suci Al-Quran untuk

kesembuhan Bu Mardi, keajaiban terjadi Nyai mulai sadar dan bisa melihat

dengan jelas suara-suara merdu dari cucunya dalam membaca Al-Quran. Mae

tersadar dan malu melihat ketulusan anaknya, sedangkan dirinya sendiri belum

fasih membaca Al-Quran, ditengah kegalauan mencari iman, sang suami

Rendy tidak menghiraukan keinginan yang terjadi pada dirinya.

Tidak hanya Mae, Sophie juga mengalami kegalauan serupa,

pernikahaannya dengan Jali menjadi tanda tanya dengan status kawin gantung,

ditengah kegalauannya Sophie melarikan diri dengan mengikuti pesantren

kilat, perubahan pun terjadi pada diri Sophie yang tadinya berpakaian seksi,

2

(47)

36

mulai berubah menjadi religi dengan memakai busana muslim, Sophie mulai

melakukan perubahan total dengan menjual semua barang kesayanganya di

garage sale bersama Eman.

Perubahan Sophie tidak direstui Mamanya yang ketakutan kalau anaknya

terjebak mengikuti aliran ekstrimis seperti Si Jubah Hitam, kekacuan juga

terjadi dikantor Rendy, banyak beredar kabar kalau Rendy mendadak religius

dikarenakan akan bercerai dan kantor mengalami kebangkrutan. Mae dan

Rendy mulai rengang melihat kejadian yang terjadi disekeliling mereka,

gossip perceraian dan kantor mengalami kebangkrutan.Sophie mendadak

religius dan musibah yang terjadi kepada Bapak dan Bu Mardi, membuat Mae

dan Rendy harus mengambil keputusan yang tepat, menyelamatkan

perkawinan atau membiarkan kejadian tanpa keputusan.3

C. Tim Produksi Film Get Married 99% Muhrim

Sebuah film tidak akan terbentuk tanpa adanya tim produksi yang berkerja.

Dan tim produksi di dalam film Get Married 99% Muhrim adalah.

Sutradara : Fajar Bustomi

Penulis Skenario : Cassandra Massardi

Produser : Chand Parwez Servia

Fiaz Servia

3

(48)

Produser Lini : Angling Sagaran

Eksekutive Produser : Riza, Reza Serviz, Mithu Nisar

Pemain : Nirina Zubir sebagai Mae

Nino Fernandez sebagai Rendy

Ricky Harun Sebagai Jali

Anggika Bolsterli sebagai Sophie

Meriam Bellina sebagai Ibu Mardi/ ibunya Mae

Jaja Miharja sebagai Pak Mardi/ bapaknya Mae

Ira Wibowo Sebagai Mamanya Rendy & Sophie

Penata Kamera : Roby Herbi

Penyunting Gambar : Cesa David Luckmansyah

Penata Artistic : Masbin Kurniawansyah Putra

Penata Casting : Raldy re

Penata Rias & Busana : Joko Idris dan Cindy Tanod

(49)

38

D. Profil Sutradara

Gambar 3.1 Fajar Bustomi

Fajar Bustomi kelahiran tahun 1982 merupakan salah satu sutradara muda

berbakat dalam perfilman Indonesia. Beliau pernah menuntut ilmu di Institut

Kesenian Jakarta (IKJ) dengan mengambil jurusan Film dan mayornya

peyutradaraan film pada tahun 2001. Setelah lulus dari IKJ, beliau ikut

dengan Hanung Bramantyo sebagai asisten sutradara pada tahun 2007. Dan

memulai bikin film sendiri menjadi sutradara dengan film

pertamanyaBestfriendpada tahun 2008.Setelah film tersebut beliau break dan

memfokuskan pada iklan dan video klip penyanyi kondang seperti

Krisdayanti, Vidi Aldiano, dan Marcel. Beberapa film yang telah ia buat

diantaranya seperti Slank nggak Ada Matinya (2013), Remember When

(2014), Ku Kejar Cinta Ke Negri Cina (2014), Romeo Dan Rinjani (2015)

dan yang terbaru Winter in Tokyo (2016).4

4

(50)

E. Profil Pemain 1. Nirina Zubir

Gambar 3.2

Nirina Zubir lahir di Tananarive Madagaskar, 12 Maret 1980. Nirina

mengawali kariernya di dunia entertainment dengan menjadi VJ MTV

Indonesia dan memulai debut akting dalam film 30 Hari Mencari

Cinta.Nirina mendapatkan tantangan untuk bermain di film keduanya yang

berjudul Mirrorpada tahun 2005 dan ditahun selanjutnya ia mendapatkan

film selanjutnya berjudul Belahan Jiwa dan film ini juga sukses dipasaran.

Setelah sukses dengan film sebelumnya, pada tahun 2006, film

keempatnya diputar di bioskop dengan judul Heart yang berhasil

menyedot 1,6 juta penonton.5Kemudian pada tahun 2007 Nirina

melanjutkan dominasinya dengan film Get Married yang menjadi film

tersuksesnya di box office yaitu ditonton sebanyak 2,2 Juta orang.6

Beragam penghargaan dan judul film telah banyak ia bintangin dan

kesuksesannya dalam memerankan Mae di film Get married membuat ia

5

https://id.wikipedia.org/wiki/Nirina_Zubir. Diakes pada 16 Mei 2016

6

(51)

40

dipercaya memerankan karakter Mae mulai dari Get Married pertama

sampai Get Married 5 yang merupakan sekuel terakhirnya. Dalam film Get

Married yang bertajuk 99% Muhrim ini Nirina masuk nominasi dalam

kategori pemeran utama wanita terpuji Festifal Film Bandung 2015.7

2. Nino Fernandez

Gambar 3.3

Nino Fernandez lahir di Hamburg, Jerman, pada 13 Januari

1984Nino Fernandez mengambil pekerjaan sebagai VJ dengan MTV

Indonesia. Pada 2007 ia berperan dalam film pertamanya, Terowongan

Casablancadalam film tersebut ia memainkan sebagai peran utama.Pada

2009, Fernandez memainkan peran utama sebagai Randy di film Get

Married 2, kelanjutan dari kesuksesan film 2007 karya Hanung

Bramantyo Get Married.

3. Ricky Harun

7

(52)

Gambar 3.4

Ricky Chilnady Pratama atau lebih dikenal dengan nama Ricky Harun

lahir di Bandung 12 januaru 1987 adalah seorang actor, model dan DJ

(Disc jockey) Ricky adalah putra sulung dari Model Donna Harun.

Debut filmnya adalah film bergender horror Rumah Pondok

Indah (2006). Ricky bermain lagi dalam film horor, kali ini berjudul Pulau

Hantu. Nama Ricky semakin melambung berkat aktingnya di

sinetron Ganteng Ganteng Serigala. Kemapuan Aktingnya disegala genre

Drama, Horor, Komedi maupun Laga mampu ia buktikan dengan berhasil

membintangi belasan Judul Film, Sinetron serta Film televisi (FTV).8

4. Anggika Bolsterli

Gambar 3.5

8

(53)

42

Anggika Bolsterli lahir di Jakarta 21 juni 1995 adalah aktris

berkebangsaan Indonesia-swiss. Ia pertama kali bermain di sinetron

utamanya dalam sinetron Terbang Bersamamu pada tahun 2013. Ia mulai

terkenal sejak perannya sebagai Astrid dalam sinetron Putri Duyung. Film

yang telah diperankannya antara lain Youtuber (2015) sebagai Alexandra

dan 99% Muhrim: Get Married 5 (2015) sebagai Sophie.9

5. Meriam Bellina

Gambar 3.6.

Meriam Bellina lahir di Bandung, 10 April 1965 adalah seorang artis,

penyanyi, dan bintang iklan senior Indonesia.Film pertama yang

dibintanginya saat masih remaja berjudul Perawan-perawan. Setelah

meraih Piala Citra pada tahun 1984 sebagai Pemeran Utama Wanita

Terbaik dalam film Cinta di Balik Noda. Karirnya mulai mencuat dalam

film Catatan Si Boy. Selain terjun di dunia acting dia juga dikenal sebagai

penyanyi pop dengan lagu-lagu andalan seperti Begitu Indah dan

Kerinduan.10

9

https://id.wikipedia.org/wiki/Anggika_Bolsterli. Diakses pada 16 Mei 2016

10

(54)

Ia juga banyak membintangi berbagai sinetron. Dalam perjalan

karirnya ia telah banyak menerima penghargaan. Seperti Aktris Pendukung

Terbaik, Piala Citra FFI 2007 dalam film Get Married, Aktris Pembantu

Terpuji Festival Film Bandung 2008 dalam film denga judul yang sama

Get Married 2, Pemeran Pendukung Wanita Terpuji Festival Film

Bandung 2014 serta Piala Maya untuk aktris Pendukung Terbaik dalam

film Slank Nggak Ada Matinya pada tahun 2014.11

11

(55)

44

BAB IV

ANALISIS DATA

A. Analisis Semiotika Scene Representasi Islam

Film merupakan salah satu ide cerdas insan perfilman untuk meraih

keuntungan, kepuasan dan keintelektualan dalam memb

Gambar

Gambar 2.1 Peta Tanda Roland Barthes
Gambar 3.1  Fajar Bustomi

Referensi

Dokumen terkait

Dilarang membunuh orang-orang lemah (wanita, anak-anak, orang tua). Nabi Muhammad selalu senantiasa mewasiatkan kepada para panglima perang untuk bertakwa dan merasa

Sebelum suami Jamaah Tabligh berdakwah hal yang harus diperhatikan adalah nafkah untuk istri dan anak selama mereka ditinggal.. berdakwah, kalau seandainya berdakwah

a. Pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu pakaian darurat seperti pakaian dalam dan hijab bagi perempuan. Kewajiban menutup aurat seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak

Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan

Syarat yang harus dipenuhi dalam mengenakan pakaian bagi perempuan adalah menutup seluruh tubuh kecuali bagian-bagian tertentu yang boleh diperlihatkan, pakaian

Penggambaran dengan long shot bertujuan menujukkan adanya jarak antara anak ber-ras cina dengan temannya dilingkungan sekitarnya, seorang anak bungsu digambarkan

Mitos perempuan sebagai mahluk yang multitasking, sebagai istri yang memiliki kewajiban dalam melayani suami, peran emosional untuk mendidik anak, mengurusi

Jawaban dari seluruh responden baik istri, suami, maupun tokoh adat ialah tidak ada komitmen secara lisan yang diungkapkan oleh suami atau istri untuk jumlah anak dalam keluarga