• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 2 Tanaman Beras merah organik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bab 2 Tanaman Beras merah organik"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 2

Tanaman Beras merah organik

A. Sejarah Beras merah organik Beras adalah tanaman pangan yang berasal dari tanaman padi. Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi).

Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

(2)
(3)

Inggris. Setelah Perang saudara berakhir, beras diproduksi di seluruh daerah Selatan.

Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Beras umumnya tumbuh sebagai tanaman tahunan. Tanaman padi dapat tumbuh hingga setinggi 1 - 1,8 m. Daunnya panjang dan ramping dengan panjang 50 - 100 cm dan lebar 2 - 2,5 cm. Beras yang dapat dimakan berukuran panjang 5 -12 mm dan tebal 2 - 3 mm.

(4)
(5)

Kandungan beras

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.

Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:

- amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang

- amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket

Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

(6)

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.

Beras "biasa" yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.

Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.

Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.

Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.

Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.

(7)

Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras. Aspek pangan

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.

(8)

Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.

Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg).

(9)

berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.

Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

(10)

Produksi padi per negara

2009

(million metric ton)

Republik Rakyat Cina 1

96

India 1

33

Indonesia 6

4

Bangladesh 4

7

Vietnam 3

8

Myanmar 3

2

(11)

2

Filipina 1

6

Brasil 1

2

Jepang 1

0 Sumber:fao.org

Produksi beras indonesia (dalam ribuan ton) Produksi beras diprediksi sebagai 63,2% dari produksi Gabah Kering Giling (GKG):

Swasembada beras

Dengan asumsi produksi GKG 58.5 juta ton yang setara dengan 36,9 juta ton beras

(12)

surplus 3 juta ton dan asumsi bahwa 63.83 juta ton GKG setara dengan 40.34 juta ton beras, 67.15 juta ton GKG diasumsikan setara dengan 42.43 juta ton beras

Impor beras indonesia (dalam ribuan ton)

Tahun Produksi (kiloton) 1

983 1.169

1

984 403

1 985

-371

(swasembada beras) 1

986 -213

(13)

987 1

988 13

1

989 325

1

990 32

1

991 179

1

992 561

1

993 -540

1

994 643

(14)

995 1

996 1.090

1

997 406

1

998 6.077

1

999 4.183

2

000 1.512

2

001 1.404

2

002 3.703

(15)

003 2

004 0(impor dilarang)

2

005 0 (surplus 16 ribu ton) 2

006 15

2

007 500

2

008 0

2

009 0 (perkiraan)

Sumber: BPS dan The Rice Report, 2003

(16)

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. [1]

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.

Budidaya padi

(17)

berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50 % bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100 %.

Teknik S.R.I. ini telah berkembang di 36 negara antara lain Indonesia, Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam, Bangladesh, Cina, Nepal, Srilanka, Gambia, Madagaskar dan lainnya.

Dalam budidaya padi metode S.R.I. ini ada beberapa prinsip yang menjadi ketentuan, yaitu :

a. Tanam bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah sebar (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai.

b. Tanam bibit satu lubang satu batang dengan jarak tanam biasa 25 Cm x 25 Cm, 30 Cm x 30 Cm atau legowo 2. c. Pindah tanam harus hati-hati karena

batang masih lemah dan akar tidak putus dan ditanam tidak dalam.

(18)

e. Penyiangan sejak awal pada umur 10 hari dan diulang sampai 3 kali dengan interval 10 harian.

f. Upayakan menggunakan pupuk organik. Kelebihan S.R.I. dibandingkan dengan tanam padi secara biasa petani (konvensional) adalah :

a. Tanaman hemat air. b. Hemat biaya benih.

c. Hemat waktu karena panen lebih awal. d. Produksi bisa meningkat.

Budidaya Padi Metode S.R.I. a. Pengolahan Tanah

• Tanah dibajak sedalam 25 – 30 Cm. • Benamkan sisa-sisa tanaman dan

rumput-rumputan

• Gemburkan dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna, lalu diratakan sehingga saat diberikan air ketinggiannya di petakan sawah merata.

(19)

(pupuk kandang,pupuk kompos,pupuk hijau).

b. Pemilahan Benih Bernas dengan Larutan Garam

Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik (bernas) maka perlu dilakukan pemilihan, walaupun benih tersebut dihasilkan sendiri, atau benih berlabel yaitu dengan menggunakan larutan garam dengan langkah-langkah sebagai berikut:

• Masukan air kedalam ember, kemudian masukan garam lalu diaduk sampai larut, jumlah garam dianggap cukup bila telur itik bisa mengapung.

• Masukan benih padi kedalam ember, kemudian pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam/benih yang bermutu dicuci dengan air biasa sampai bersih.

(20)

• Benih yang bermutu (tenggelam) direndam dalam air bersih selama 24-48 jam.

• Setelah direndam, dianginkan (ditiriskan) selama 24-48 jam sampai berkecambah. d. Persemaian

Persemaian untuk budidaya S.R.I dapat dilakukan dengan mempergunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu/besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan, dan penanaman.

Proses persemaian adalah sebagai berikut: • Benih yang dipergunakan tergantung

pada kebiasaan/ kesukaan petani (bermutu baik/bernas).

(21)

• Benih yang ditaburkan ke dalam tempat persemaian, kemudian ditutup tanah tipis.

e. Penanaman

• Pola penanaman bibit metoda S.R.I adalah bujur sangkar 30 x 30 cm, 35 x 35 cm atau lebih jarang lagi misalkan sampai 50 x 50 cm pada tanah subur. • Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan

caplak.

• Bibit ditanam pada umur 5-15 hari (daun dua) setelah semai, dengan jumlah bibit per lubang satu, dan dangkal 1-1,5 cm, serta posisi perakaran seperti huruf L. f. Pemupukan

Takaran pupuk an-organik (kimia) disesuaikan dengan anjuran. Hasil Demplot digunakan pupuk kimia sebagai berikut:

(22)

• Pemupukan II pada umur 20-30 HST dengan dosis Urea 125kg/ha

• Pemupukan III pada umur 40-45 HST dengan dosis ZA 100kg/ha. jika tanaman belum bagus.

Metode S.R.I sangat menganjurkan pemakaian pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau/daun-daunan), penggunaan pupuk organik selain memperbaiki struktur tanah juga bisa mengikat air/menghemat air.

g. Penyiangan

Penyiangan dilakukan dengan

mempergunakan alat penyiang jenis landak atau rotary weeder, atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah. Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih, sesuai kondisi sawah. Semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi.

(23)

2 cm, paling baik macak-macak (0,5 cm). Pada periode tertentu petak sawah harus dikeringkan sampai tanahnya pecah-pecah rambut.

i. Panen

Panen dilakukan setelah tanaman sudah tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah. Bulir padi telah benar-benar bernas berisi. Bila dihitung dari pesemaian, maka umur panen lebih singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

B. Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi beras merah:

Nama Indonesia : Padi Beras Merah Nama Latin : Oryza nivara

Klasifikasi Tumbuhan padi biji merah: Kingdom :Plantae(Tumbuhan)

Subkingdom :Tracheonbionta(Tumbuhan berpembuluh)

(24)

Divisi :Magnoliophyta(Tumbuhan berbunga)

Kelas :Liliopsida (Berkeping

satu/monokotil) Sub Kelas :Commelinidae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus : Oryza Species : Oryza

(25)

dilepas oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi yaitu beras merah varietas Aek Sibundong dan Ciherang (Indrasari, 2006).

Sedangkan varietas unggul yang di yang telah dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian adalah varietas Bahbutong dan Aek Sibundong.

(26)

tumbuhan beras dapat ditemukan di sawah-sawah, dengan keadaan yang cukup lembab, terutama untuk tumbuhan beras merah organik. tanaman beras merah organik lebih cocok dibudidayakan di daerah tropis di kawasan pegunungan dengan ketinggian diatas 800 mdpl. Berdasarkan KBBI morfologi adalah ilmu pengetahuan bentuk luar dan susunan makhluk hidup.Secara alami, tanaman beras merah organik memiliki akar serabut sehingga mudah roboh. Akar serabut tersebut dimiliki oleh semua jenis tanaman beras yang berasal dari bibit semai (okulasi) yang batang bawahnya berasal dari bibit semai.

(27)

cabang air. Cabang ini tidak menghasilkan bunga atau buah. Cabang Plagiotrop merupakan cabang yang tumbuh ke samping. Cabang ini menghasilkan bunga dan buah. Daun beras berbentuk lonjong memanjang, ujungnya agak meruncing sampai mengecil dengan bagian pinggir yang lurus. Daun tumbuh pada batang. Pada cabang Orthrotrop letak daun berselang seling, sedangkan pada cabang Plagiotrop terletak pada satu bidang. Daun beras merah organik ukurannya lebih besar daripada beras biasa.

(28)

kemudian segera terjadi penyerbukan. Setelah itu bunga akan berkembang menjadi biji.

Buah beras merah organik terdiri dari kulit buah dan biji. Biji buah terdiri dari tiga bagian yaitu lapisan kulit luar (eksokarp), lapisan dalam buah (endosperm), dan lapisan kulit tanduk (endokarp) yang tipis, tetapi keras. Biji beras merah organik yang muda 11 berwarna hijau, tetapi setelah tua menjadi merah dan jika masak warnanya menjadi merah kehitaman. Besar biji kira-kira 0.3 x 0.5 cm dan bertangkai pendek. Pada umumnya biji beras merah organik mengandung satu butir biji, biji tersebut mempunyai dua bidang, bidang yang datar (perut) dan bidang yang cembung (punggung).

(29)

Di dunia perdagangan dikenal beberapa golongan beras, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya beras putih, ketan, dan merah. Pada umumnya, penggolongan beras berdasarkan spesies, kecuali beras merah organik.

1. Beras Pandan Wangi

Sesuai namanya, beras pandan wangi mempunyai aroma nan khas serta berbau wangi. Oleh karenanya, aroma nan wangi dari beras pandan wangi inilah nan dijadikan Karakteristik

(30)

tersebut kerap dipalsukan dengan memberi zat pewangi kimia. Hal tersebut tentu saja merugikan konsumen, sebab beras tersebut menjadi tak sehat lagi setelah tercampur dengan zat kimia . Beras pandan wangi memang terbilang mahal dibandingkan beras-beras nan lain.

(31)

Gambar 1. Beras Pandan Wangi

(32)

kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat, akhirnya menyebar ke berbagai bagian di kepulauan Indonesia (Gandul, 2010).

2. Beras IR 64 atau Beras Ramos

Beras IR 64 atau juga dikenal dengan sebulan beras Setra Ramos. Beras ini cenderung lebih mudah ditemui di masyarakat daripada beras pandan wangi. Beras Sentra Ramos ini cukup populer di kalangan masyarakat sebab beras ini harganya terjangkau di seluruh lapisan masyarakat. Beras Sentra Ramos setelah dimasak akan menjadi nasi nan pulen. Namun jika beras IR 64 ini terlalu lama disimpan, yakni lebih dari 3 bulan, akan menjadi mudah basi jika sudah dimasak menjadi nasi.

(33)
(34)

Gambar 2. Beras IR 64 atau Beras Ramos

2. Beras Rojolele

Jenis beras unggulan lain selain beras pandan wangi ialah beras Rojolele. Beras ini tak ada hubungannya dengan ikan lele, meskipun bernama beras Rojolele. Beras ini dapat disebut beras Rojolele biasanya di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Berbeda dengan di daerah Jawa Barat dan di beberapa daerah lain, beras ini terkenal dengan sebutan Beras Muncul. Beras tersebut bisa dikenali dengan karakteristik fisik nan cenderung berbentuk bulat.

(35)
[image:35.420.85.340.165.305.2]

Gambar 3. Beras Rojolele

Beras rojolele ini ternyata tahan penyakit karat daun, dan memerlukan syarat tumbuh dan pemeliharaan yang ringan, sedang produksinya jauh lebih tinggi. Oleh karena itu beras rojolele ini cepat berkembang, dan mendesak beras rojolele-beras jenis lainnya. Saat ini lebih dari 90% dari areal pertanaman rojolele di Indonesia.

(36)

Beras IR 42 mempunyai kemiripan dengan Beras IR 64. Selain dari segi nama, kemiripan tersebut juga dari bentuk berasnya. Beras ini bisa mudah dikenali dengan bentuk nan tak bulat. Bentuk tersebut mirip dengan beras IR 64 nan banyak beredar di masyarakat. Meskipun demikian, ukuran beras IR 42 lebih kecil dibandingkan beras IR 64.

(37)
[image:37.420.83.356.204.438.2]

Gambar 4. Beras IR 42

(38)

tersebut secara potensial telah dapat diatasi. Pada tahun 1955/56 telah dimasukkan sejumlah nomor seleksi dan kultivar beras Indonesia dari luar negeri.

Dari introduksi ini telah terpilih beberapa nomor lini S, yang berasal dari India, yang lebih tahan terhadap penyakit karat daun, dan dapat ditanam pada ketinggian 500 m ke atas. Lini S ini dilepas untuk digunakan petani pada tahun 1963/64, setelah mengalami pengujian seperlunya. Dengan demikian, maka seluruh zona vertikal secara potensial dapat ditanami beras merah organik, dengan overlapping zone setinggi 300 m (antara ketinggian 500 dan 800 m), dimana secara komersial dapat ditanam beras rojolele maupun IR 42.

5. Beras IR 42

(39)

masyarakat, yakni sejak 2800 SM. Beras merah lebih populer di global dibandingkan beras-beras lain disebabkan kepercayaan para tabib. Para tabib atau jika sekarang ini orang nan bisa menyembuhkan penyakit, percaya jika beras merah memiliki nilai-nilai medis. Nilai-nilai medis nan terkandung dalam beras merah tersebut menyebabkan beras merah dicari buat dijadikan obat. Beras merah oleh para tabib dipercaya bisa memulihkan kembali kondisi tubuh sehingga memunculkan rasa tenang dan damai.

(40)

Pernyataan dari penulis Asis Timur tersebut juga diteliti hingga sekarang. Hasil nan didapat dari penelitian tersebut sama dengan nan ditulis oleh penulis pada zaman dahulu. Beras merah jika dimasak menghasilkan rasa seperti kacang dan lebih kenyal dibandingkan beras putih pada umumnya. Meskipun demikian, beras merah lebih cepat basi.

Di pasaran, harga beras merah cenderung tinggi, sebab sporadis ada petani nan menanam beras merah. Selain itu, beras merah juga mengandung lebih banyak bernutrisi. Jika dimakan dalam porsi nan lebih sedikit, akan sama mengeyangkannya dengan nasi biasanya dengan jumlah nan banyak.

D. Persyaratan Tempat 1. Ketinggian Tempat

(41)

perkembangannya dengan adanya introduksi beberapa klon baru dari luar negeri, beberapa klon saat ini dapat ditanam mulai di atas ketinggian 500 m dpl, namun demikian yang terbaik seyogyanya ditanam di atas 700 m dpl, terutama jenis beras merah organik. Beras merah baik tumbuh dengan citarasa yang bermutu pada ketinggian di atas 1000 m dpl.

Namun demikian, lahan pertanaman beras merah organik yang tersedia di Indonesia sampai saat ini sebagian besar berada di ketinggian antara 700 sampai 900 m dpl. Mungkin hal ini yang menyebabkan mengapa sebagian besar (sekitar 95%) jenis di Indonesia saat ini adalah beras ramos dan rojolele. Oleh sebagian besar negara pengguna, beras merah organik dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit dibanding beras lainnya.

(42)

tersebut juga mempengaruhi pangsa pasar beras merah organik dunia terhadap kebutuhan beras dunia. Kondisi pasar beras merah organik ini justru bertolak belakang dengan produksi beras merah organik Indonesia yang hingga saat ini masih didominasi jenis ramos, rojolele, maupun IR 42.

[image:42.420.85.344.89.406.2]

Gambar 5. Pertanaman Beras

(43)

tempat penanaman akan berkaitan juga dengan citarasa beras merah organik.

E. Cara Budidaya 1. Pembibitan

Tanaman beras merah organik dapat diperbanyak dengan cara vegetatif menggunakan bagian dari tanaman dan generatif menggunakan benih atau biji. Perbanyakan secara generatif lebih umum digunakan karena mudah dalam pelaksanaanya, lebih singkat untuk menghasilkan bibit siap tanam dibandingkan dengan perbanyakan bibit secara vegetatif (klonal). Beberapa kelebihan yang dimiliki perbanyakan beras merah organik secara klonal adalah sebagai berikut:

- Mempunyai sifat yang sama dengan tanaman tetuanya.

- Mutu hasil seragam

(44)

- Memiliki umur mulai berbuah (prekositas) lebih awal

[image:44.420.119.384.207.459.2]

Setelah melakukan pertumbuhan fase vegetatif ada baiknya tanaman padi disemaikan terlebih dahulu.

(45)

Untuk lahan dengan kemiringan tanah kurang dari 15%, tiap klon ditanam dengan lajur sama, berseling dengan klon lain. Pergantian klon mengikuti arah timurbarat. Apabila kemiringan tanah lebih dari 15% tiap klon diletakkan dalam satu teras, diatur dengan jarak tanam sesuai lebar teras.

(46)

Gambar 8. Tata Tanam Empat Klon

2. Pemupukan

Tujuan pemupukan adalah untuk menjaga daya tahan tanaman, meningkatkan produksi dan mutu hasil serta menjaga agar produksi stabil tinggi. Seperti tanaman lainnya, pemupukan secara umum harus tepat waktu, dosis dan jenis pupuk serta cara pemberiannya. Semuanya tergantung kepada jenis tanah, iklim dan umur tanaman. Pemberian pupuk dapat diletakkan sekitar 30-40 cm dari batang pokok. Pedoman dosis pemupukan beras merah organik secara ringkas pada tabel berikut:

(47)
(48)
[image:48.420.120.367.84.221.2]

Gambar 8. Penempatan Pupuk Organik

Pemangkasan

Manfaat dan fungsi pemangkasan umumnya adalah agar padi tetap rendah sehingga mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru, mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan penyakit. Pangkasan juga dapat dilakukan selama panen sambil menghilangkan cabang-cabang yang tidak produktif, cabang liar maupun yang sudah tua.

(49)

kepada batang-batang yang lebih produktif. Secara morfologi buah beras merah organik akan muncul pada percabangan, oleh karena itu perlu diperoleh cabang yang banyak. Pangkasan dilakukan bukan hanya untuk menghasilkan cabang-cabang saja, (pertumbuhan vegetatif) tetapi juga banyak menghasilkan buah.

(50)

lebih sesuai untuk jenis beras merah organik arabika karena jenis beras merah organik ini banyak membentuk cabang-cabang sekunder dan sistem ini lebih banyak diarahkan pada pengaturan peremajaan cabang.

Sehubungan dengan hal tersebut, apabila peremajaan cabang yang merupakan inti dan sistem ini, kurang diperhatikan produksi akan cepat menurun, karena pohon-pohon menjadi berbentuk payung. Untuk daerahdaerah yang basah dan letaknya rendah, dimana pertumbuhan batang-batang baru berjalan lebih cepat sistem berbatang-batang ganda lebih diarahkan pada peremajaan

batang oleh karena itu lebih sesuai.

(51)

berbatang ganda (multiple stem). Perusahaan Perkebunan besar di Indonesia pada umum-nya menggunakan sistem berbatang tunggal. Umumnya perkebunan-perkebunan rakyat kebanyakan menggunakan sistem berbatang ganda. Sistem berbatang ganda pada umumnya kurang bersifat individu atau tergantung keadaan antar pohon tanaman beras merah organik.

(52)

Oleh karena itu apabila peremajaan cabang, yang merupakan inti dan sistem ini, kurang diperhatikan produksi akan cepat menurun, karena pohon-pohon menjadi berbentuk payung. Sistem berbatang ganda lebih diarahkan pada perema-jaan batang oleh karena itu lebih sesuai bagi daerah-daerah yang basah dan letaknya rendah, dimana pertumbuhan batang-batang baru berjalan lebih cepat. Sebaliknya, sistem ini pada umumnya kurang sesuai bagi tanaman-tanaman tua yang telah lemah daya regenerasinya (kecuali apabila tanpa peremajaan periodik). Kedua sistem tersebut dapat dibedakan tiga macam pemangkasan yaitu:

pemangkasan bentuk 

pemangkasan produksi (pemangkasan 

pemeliharaan)

pemangkasan rejuvinasi (peremajaan) 

(53)
[image:53.420.87.340.91.501.2]

Tanaman menjadi tidak terlalu tinggi, cabangcabang lateral dapat tumbuh dan berkem-bang menjadi lebih kuat dan lebih panjang. Selain itu kanopi pertanaman lebih cepat menutup. Hal ini penting untuk mencegah rumpai dan erosi.

(54)

bertujuan agar dapat memacu pertumbuhan cabang-cabang produksi.

Apabila tidak ada cabang-cabang reproduksi, cabang tersebut harus dipotong juga agar zat hara dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan cabang lain yang lebih produktif. Pemangkasan juga dilakukan terhadap cabang yang terserang hama hal ini agar tidak menjadi sumber inang.

Pangkasan rejuvinasi bertujuan untuk memperoleh batang muda, untuk sistem berbatang ganda pangkasan produksi adalah juga merupakan pangkasan rejuvinasi. Pangkasan ini dilakukan apabila produksi rendah tetapi keadaan pohon-pohon masih cukup baik. Untuk lokasi kebun yang banyak diperoleh tanaman yang mati (lebih 50%) sebaiknya didongkel dan dilakukan penanaman ulang (replanting).

(55)

Apabila batang nampak “halus”, biasanya wiwilan sukar keluar, kurang lebih 1 tahun sebelum dilakukan rejuvenasi tanaman harus dipotong (distump). Agar produksi tidak menurun secara drastis, maka pemangkasan rejuvinasi hendaknya

dilakukan pada akhir suatu tahun panen besar (akhir onyear).

3. Penaungan

(56)

peredaran udaranya (Yahmadi, 2007). Jika diperlukan bahkan dilakukan penjarangan, sehingga populasi pohon naungan menjadi sekitar 400-600 pohon/ha, terutama setelah kanopi pohon beras merah organik sudah saling menutup.

Selama musim hujan, pohon lamtoro sebagai pohon naungan dapat dipangkas agar matahari masuk dan merangsang pembentuk-an pembungaan beras merah organik. Penjarangan dilakukan tidak harus dengan cara mendongkel pohon, tetapi bisa mempertahankan menjadi setinggi satu meter, sehingga apabila diperlukan pohon naungan masih dapat tumbuh lebih tinggi lagi.

Tanaman naungan ada dua macam, yaitu: (a) tanamannaungan sementara dan (b) tanaman naungan tetap.

(57)

tanah melalui daun-daun yang gugur). Tanaman naungan dibedakan menjadi 2, yaitu tanaman naungan sementara dan naungan tetap. Tanaman penaung sementara bertujuan untuk memberikan naungan kepada tanaman beras merah organik sebelum penaung pohon naungan tetap dapat berfungsi dengan baik (belum cukup besar).

Ada beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai naungan-sementara yaitu:

- Mogania macrophylla - Leucaena glauca - Crotalari anagyroides - Crotalaria usaramoensis - Tephrosia candida - Desmodium gyroides

- Acacia villosa (dapat tumbuh baik di tempat-tempat yang lamtoro sukar tumbuh).

(58)

di atas 1000 m sebaiknya meng-gunakan Tephrosia yang pertumbuhannya lebih cepat (Yahmadi, 2007). Tanaman penaung tetap yang banyak digunakan pada tanaman beras merah organik adalah:

- Lamtoro (Leucaena glauca)

- Dadap (Erythrina subumbrans, dadap serep)

- Sengon (Albizzia falkata; A. sumatrana). Saat ini di perkebunan, tanaman dadap jarang digunakan lagi karena :

- Tajuknya sukar diatur;

- Banyak mengalami serangan hama dan penyakit;

(59)
[image:59.420.120.371.85.245.2]
(60)

Pada tempat yang tinggi (di atas 1000-1500 m), dimana lamtoro biji (Leucaena glauca) telah banyak di ganti. Dalam pengelolaan tanaman naungan tetap umumnya dilakukan melalui pemangkasan. Tujuan pengaturan naungan adalah :

a. Memberi cukup cahaya matahari.

-Untuk merangsang pertumbuhan primordia bunga.

-Primordia bunga terbentuk pada akhir musim hujan dan awal musim hujan dan awal musim kemarau (April-Juni)

b.Mempermudah peredaran udara atau airasi dalam pertanaman.

- Bila cabang pohon naungan terlalu rendah dan rimbun, udara sukar beredar;

(61)

c.Mengurangi kelembaban udara yang tinggi selama musim hujan.

-Bila terlalu lembab banyak buah gugur bisa mencapai

20-30% yang gugur.

-Untuk mencegah agar pertumbuhan cabang-cabangprimer tidak lemas (ruas panjang dan lembek).

(62)

Tanaman Sengon hanya dipakai di tempat-tempat tinggi (di atas 1000-1500 m), dimana lamtoro biji (Leucaena glauca) telah banyak di ganti (ditempel) dengan jenis-jenis lamtoro yang tidak berbiji, yang juga mempunyai Oleh karena itu, semakin tinggi pohon beras merah organik, harus semakin dipertinggi letak percabangan pohon naungan. Cabang-cabang di bagian bawah harus sering dipangkas (dibuang). Untuk pertanaman beras merah organik dewasa, tinggi percabangan pohon naungan.

(63)

waktu musim hujan banyak cabang pohon naungan telah tumbuh.

(64)

lamtoro dan pohon beras merah organik menjadi 1 : 2, atau 1 : 4, tergantung kondisi naungan dan tanaman beras merah organik yang ada di kebun.

Untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak dikehendaki keadaan lingkungan yang terjadi, penjarangan ini dapat dilakukan dengan memotong lamtoro pada tinggi ± 1m sehingga dalam keadaan daruat masih bisa ditumbuhkan kembali (tidak sekaligus didongkel).

4. Pengendalian Hama dan Penyakit

Secara garis besar penurunan produktivitas beras merah organik ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya oleh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Terdapat tiga (3) jenis OPT utama yang menyerang tanaman beras merah organik yaitu hama (Hama Penggerek Buah Beras merah organik atau PBKO), nematoda parasit (Pratylenchus coffeae) dan penyakit (Penyakit Karat Daun Beras merah organik).

(65)

PHT hama PBKO telah diterapkan di Amerika Latin. Tiga komponen utama yang diintegrasikan adalah :

(1) Pengendalian secara kultur teknik atau agronomis yang meliputi pemangkasan setelah panen pada pohon beras merah organik penunjangnya,

(2) Sanitasi buah yang tersisa di pohon dan pangkasan cabang dan

(3) Pemangkasan perangkap untuk menangkap sehingga secara massal. Tingkat keefektifan ini bisa mencapai 90% dibanding kontrol.

(66)

 Nematoda parasit, yaitu Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis. Pengendalian disarankan menggunakan metode kimiawi seperti karbofuran (Curaterr 3 G) ataupun tanaman tahan, seperti klon BP 961

 Hama penggerek buah beras merah organik, yaitu Hypothenemus hampei Untuk pengendalian disarankan melakukan pengaturan naungan agar pertanaman tidak terlalu gelap, atau penggunaan parasitoid Cephalonomia stephanoderis ataupun menggunakan tanaman yang masak serentak seperti USDA 762 untuk arabika dan BP 234 dan BP 409

 Kutu dompolan atau kutu putih Planococcus citri, yang disarankan dikendalikan dengan pengaturan naunganmaupun cara kimia dengan insectisida propoksur

(67)

 Kutu hijau (Coccus viridis) atau kutu coklat (Saesetia

coffeae), pengendalian yang disarankan dengan pemeliharaan dan pemupukan yang berimbang atau cara

kimia menggunakan tepung Sividol atau Karbaril) maupun penyemprotan insektisida (Anthio 330n EC).

 Penggerek cabang Xylosandrus spp. yang dikendalikan

dengan memotong cabang terserang, pemangkasan dan membakar ranting-rantingnya.

 Penggerek batang merah Zeuzera coffeae, disarankan

dikendalikan dengan memotong batang terserang maupun cara kimia dan biologis lainnya

(68)

ordo Coleoptera. Hama hanya menyerang dan berkembangbiak pada berbagai jenis beras merah organik. Serangga dewasa berwarna hitam kecoklatan. Panjang tubuh serangga betina 2 mm, sedang jantan lebih kecil 1.2 mm, perbandingan antara betina dan jantan rata-rata 10 ; 1. serangga jantan tidak bisa terbang, sedang betina terbang sore hari dari pukul 16.00 sampai 18.00 dengan umur rata-rata 103 hari dan 150 hari.

(69)

yang ada di panen dan lelesan adalah mengambil buah yang ada di tanah.

b. Penyakit

(70)

Menurut Puslitkoka (2006), penyakit utama pada tanaman beras merah organik adalah :

 Karat daun, dikendalikan dengan menanam tanaman tahan (misal S 795) serta pemangkasan dan pemupukan agar tanaman cukup kuat dan bugar serta menggunakan cara kimiawi dengan fungisida kontak (misal Cupravit OB 21 dll).

 Bercak daun, dikendalikan dengan pemberian naungan yang cukup tapi pertanaman tidak lembab serta cara kimiawi dengan penyemprotan Bavistin 50 WP dll.

 Jamur upas, dikendalikan dengan memotong batang sakit dan dibakar potongan-potongan tersebut ataupun dengan pemberian fungisida Calixin RP dll.

(71)

kimiawi dengan pemberian fungisida Delsene MX 200 atau sejenisnya

 Jamur akar coklat, dikendalikan dengan membongkar akar tanaman yang terserang lalu dibakar dan bekasnya tidak ditanami lagi minimal 2 tahun.

 Penyakit rebah batang, dikendalikan dengan pengaturan naungan agar cukup sinar matahari ataupun menyemprot pembibitan dengan Delsene MX 200.

(72)

bantuan air, angin, serangga, burung dan manusia. Waktu berkecambah tergantung dari suhu dan diperlukan air. Suhu optimal adalah 21-25oC.

Daun-daun yang berada pada buku ke-2 dan ke-3 lebih rentan terhadap serangan jamur. Gejala serangan sangat spesifik yaitu pada permukaan bawah daun terdapat bercak yang semula kuning muda selanjutnya kuning tua. Pada bercak tersebut terbentuk tepung berwarna jingga cerah yang terdiri dari Urediospora. Bercak yang sudah lanjut berwarna coklat tua sampai hitam dan mengering.

Pada serangan berat bercak memenuhi lembar daun sehingga daun gugur dan gundul. Tindakan pengendalian, bila serangannya mulai dari sedang sampai berat. Pengendalian hanya mungkin

(73)

terserang. Early Warning System sangat diperlukan dan harus dievaluasi setiap 0,5 – 1 bulan.

F. Cara Pengolahan a. Panen

Pemanenan buah beras merah organik yang umum dilakukan dengan cara memetik buah yang telah masak pada tanaman beras merah organik adalah berusia mulai sekitar 2,5 – 3 tahun. Buah matang ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua adalah buah masih muda, berwarna kuning adalah setengah masak dan jika berwarna merah maka buah beras merah organik sudah masak penuh dan

menjadi kehitam-hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe) (Starfarm, 2010a).

(74)

kuncup sampai matang, sedangkan beras merah organik arabika 6 sampai 8 bulan. Beberapa jenis beras merah organik seperti beras merah organik liberika dan beras merah organik yang ditanam di daerah basah akan menghasilkan buah sepanjang tahun sehingga pemanenan bisa dilakukan sepanjang tahun. Beras merah organik dan beras ramos yang ditanam di daerah kering biasanya menghasilkan buah pada musim tertentu sehingga pemanenan juga dilakukan secara musiman. Musim panen ini biasanya terjadi mulai bulan Mei/Juni dan berakhir pada bulan Agustus/September

(Ridwansyah, 2003).

(75)

di bawah pohon. Metode ini memang lebih cepat, namun menghasilkan kualitas biji beras merah organik yang lebih rendah (Starfarm,2010b).

Gambar 10. Petani memetik biji beras merah organik

(76)

akan memilih buah beras merah organik yang betul-betul masak sebagai hasil panennya. Dalam proses pencernaannya, biji beras merah organik yang dilindungi kulit keras tidak dan akan dikupas pakai kupasan manual dengan cara di tumbuk. Biji beras merah organik seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani beras, karena diyakini berasal dari biji beras merah organik terbaik dan ditanam secara alami pada lahan, dan oleh karenanya disebut beras merah organik. "Beras merah organik" sekarang telah menjadi merek dagang dari sebuah perusahaan beras merah organik.

(77)

organik jenis ini ke mancanegara memang harus memperhatikan kebersihannya. Beras merah organik yang diberikan oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono kepada PM Australia, Kevin Rudd, pada kunjungannya ke Australia di awal Maret 2010 menjadi perhatian pers Australia, karena menurut Jawatan Karantina Australia tidak melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Pers menjulukinya dung diplomacy ( Nichholls and Mahar, 2010).

b. Pengolahan

(78)

Pemisahan kulit buah -> Penjemuran 1-2 hari, KA ± 40 % -> Pengupasan kulit cangkang -> Penjemuran biji sampai KA 11 - 13 % -> Sortasi dan pengemasan -> Penyimpanan dan penggudangan Basis usaha beras merah organik rakyat umumnya terdiri atas kebun-kebun kecil dengan luas areal rata-rata per petani berkisar 0,5 – 2 hektar. Dengan jumlah buah per panen yang relatif kecil, yaitu antara 50-200 kg, maka sebaiknya pengolahan hasil panen dilakukan secara berkelompok.

(79)
(80)

panen disortasi secara teliti untuk memisahkan buah superior (masak, bernas dan seragam) dari buah inferior (cacat, hitam, pecah, berlubang, dan terserang hama penyakit). Kotoran seperti daun, ranting, tanah dan kerikil harus dibuang karena benda-benda tersebut dapat merusak mesin pengupas.

Buah merah terpilih (superior) diolah dengan metode pengolahan secara basah atau semi basah supaya diperoleh biji beras merah organik HS (Haulk Snauk) kering dengan tampilan yang bagus, sedang buah campuran hijau-kuning-merah diolah dengan cara pengolahan kering (Starfarm, 2010a). Saat ini sudah tersedia alat atau mesin untuk sortasi yang dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan ini.

(81)

merah organik HS kering dengan tampilan yang bagus. Sebelum dikupas, biji beras merah organik sebaiknya dipisahkan berdasarkan ukuran biji agar menghasilkan pengupasan yang baik jika dilakukan dengan mesin pengupas. Mesin pengupas beras merah organik saat ini sudah tersedia dan mudah diperoleh dipasaran. Proses pengolahan basah atau semi-basah diawali dengan pengupasan kulit buah dengan mesin pengupas (pulper) tipe silinder untuk kemudian menghasilkan beras merah organik HS, yaitu biji beras merah organik yang masih terbungkus kulit tanduk. Pengupasan kulit buah berlangsung di antara permukaan silinder yamg berputar (rotor) dan permukaan pisau yang diam (stator).

(82)

dengan kapasitas 200-300 kg buah beras merah organik per jam digerakkan dengan motor bensin 5 PK. Alat ini juga bisa dioperasikan secara manual (tanpa bantuan mesin), namun kapasitasnya turun menjadi hanya 80-100 kg buah beras merah organik per jam. Mesin ini dapat digunakan oleh petani secara individu atau kelompok petani yang beranggota 5-10 anggota. Sedang untuk kelompok tani yang agak besar dengan anggota lebih dari 25 orang sebaiknya menggunakan mesin pengupas dengan kapasitas 1000 kg per jam, yang bisa digerakkan dengan enjin 8-9 PK.

(83)

Untuk proses semi-basah, konsumsi air sebaiknya tidak lebih dari 3 m³ per ton buah.

(84)

Proses fermentasi umumnya hanya dilakukan untuk pengolahan beras merah organik arabika, dan tidak banyak dipraktekkan untuk pengolahan beras merah organik robusta, terutama untuk kebun rakyat. Tujuan proses ini adalah untuk menghilangkan lapisan lendir yang tersisa di lapisan kulit tanduk pada biji beras merah organik setelah proses pengupasan. Pada beras merah organik arabika, fermentasi juga bertujuan untuk mengurangi rasa pahit dan mendorong terbentuknya kesan “mild” pada citarasa seduhannya.

(85)

ember, sedang kapasitas besar perlu di bantu dengan mesin. Mesin pencuci tipe batch mempunyai wadah pencucian berbentuk silinder horisontal segi enam yang diputar. Mesin ini dirancang untuk kapasitas kecil dan konsumsi air yang terbatas. Biji beras merah organik HS sebanyak 50-70 kg dimasukkan ke dalam silinder berbentuk corong dan kemudian direndam dengan sejumlah air. Silinder di tutup rapat dan diputar dengan motor bakar (5 PK) selama 2-3 menit. Motor dimatikan, tutup silinder dibuka dan air yang telah kotor dibuang. Proses ini diulang 2 sampai 3 kali tergantung pada kebutuhan atau mutu biji beras merah organik yang diinginkan. Kebutuhan air pencuci berkisar antara 2-3 m³ per ton biji.

(86)

berlubang horisontal dan sirip pencuci berputar pada poros silinder. Biji beras merah organik dimasukkan ke dalam corong silinder secara kontinyu disertai dengan semprotan aliran air ke dalam silinder. Sirip pencuci yang diputar dengan motor bakar mengangkat massa biji beras merah organik ke permukaan silinder.

(87)

(sekitar 900C) dalam waktu singkat (sekitar 20-24 jam). Pengeringan dapat juga dilakukan dua tahap, dengan pengeringan awal melalui penjemuran sampai kadar air sekitar 20 % dan selanjutnya dilakukan pengeringan mekanis sampai kadar air 12,5 %.

(88)

Tahapan proses ini relatif pendek dibanding proses semi basah. Penentuan kadar biji beras merah organik merupakan salah satu tolak ukur proses pengeringan agar diperoleh mutu hasil yang baik dan biaya pengeringan yang murah. Akhir dari proses pengeringan harus ditentukan secara akurat. Pengembangan yang berlebihan (menghasilkan biji beras merah organik dengan kadar air jauh di bawah 12%) merupakan pemborosan bahan bakar dan merugikan karena terjadi kehilangan berat. Sebaliknya jika terlalu singkat, maka kadar air beras merah organik belum mencapai titik. Biji beras merah organik kering atau beras merah organik HS kering digiling dengan mesin huller untuk mendapatkan biji beras merah organik pasar atau beras merah organik beras (Puslitkoka, 2006).

(89)

merah organik akan lebih mudah larut pada saat dimasak dan disajikan, dengan demikian seluruh citarasa beras merah organik terlarut ke dalam air seduan beras merah organik yang akan dihidangkan (Starfarm, 2010). Penggilingan beras merah organik seyogyanya hanya dilakukan terhadap beras merah organik HS yang sudah kering.

(90)

Gambar

Gambar 3. Beras Rojolele
Gambar 4. Beras IR 42
Gambar 5. Pertanaman Beras
Gambar 6. Bibit Tanaman Beras merah
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya permasalahan tersebut maka perlu dilakukan riset pasar terhadap beras merah organik yang dijual oleh perusahaan Bulir Indonesia untuk dapat mengetahui sasaran

Hasil penelitian menunjukkan (1) penilaian yang diberikan oleh konsumen kepada atribut beras merah organik dikategorikan sebagai sikap positif (baik), (2) atribut

organik, maka tanaman padi menjadi lebih kuat, rendemen hasil beras lebih tinggi. (68 kuintal beras per hektar dengan cuaca tidak menentu) sedangkan

Agribisnis GPO mengatasnamakan produknya sebagai produk pangan organik dengan produk unggulannya berupa komoditas beras merah. Bagaimanakah proses

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian jenis pupuk organik berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan

Berdasarkan pada hasil analisis keragaman terdapat pengaruh konsentrasi pupuk organik cair dan media tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada merah

Strategi-strategi alternatif yang dapat dilaksanakan oleh Subak Wongayabetan dalam pengembangan agribisnis beras merah organik yaitu peningkatan produktivitas padi

Dalam jangka panjang, penelitian ini mendorong pentingnya penemuan varietas beras merah yang tahan naungan dan pada sisi lain mendorong penelitian budidaya tanaman karet untuk