BAGAIMANA MASA DEPAN TOLERANSI DI INDONESIA mrb

Teks penuh

(1)

BAGAIMANA MASA DEPAN TOLERANSI DI INDONESIA...? MENCARI PARADIGMA BARU PENDIDIKAN DI INDONESIA

Mahnan Marbawi, M.A.

Opening Story

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. Latarbelakang Masalah.

Majlis Ulama Indonesia (MUI)1pada bulan September tahun 2007 mengeluarkan

fatwa tentang sepuluh (10) kriteria sebuah aliran di anggap sesat. Sepuluh kriteria tersebut menjadi rujukan MUI-MUI di daerah dalam menetapkan sebuah kelompok atau aliran di berikan label atau dihukumi sesat. Dimana kemudian, fatwa tersebut memicu tindak kekerasan atau anarkisme terhadap kelompok yang di anggap sesat atau tidak sama dengan kelompok mainstream. Selain oleh MUI, fatwa MUI pusat tersebut dijadikan rujukan oleh kelompok vigilante2 agama atau pelaku kekerasan di berbagai daerah untuk legitimasi

1 MUI adalah lembaga yang didirikan negara berisi ahli-ahli dalam berbagai bidang agama Islam.

Lembaga ini menjadi rujukan pemerintah dalam menetapkan persoalan kehidupan keagamaan, relasi antar agama dan relasi internal agama Islam.

2Ahmad Suaedy, Islam, Negara Bangsa, Dan Kebebasan Beragama, dalam Merayakan Kebebasan

Beragama, Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi, ed Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009), 419. Sore itu anak saya yang baru kelas 3 SD, Ain, mendatangi saya dan bercerita tentang kejadian yang ia alami ketika sedang bermain dengan teman-temannya siang tadi. Ain memang biasa bercerita, dan saya selalu bersemangat mendengarkannya. Tetapi apa yang ia ceritakan sore itu benar-benar membuat saya terharu.

Ain bercerita tentang percakapan antara Sin dan Naf. Sin adalah teman sepermainan Ain yang baru kelas nol besar di TK dan berasal dari keluarga Muslim, sementara Naf sudah kelas 2 SD dan berasal dari keluarga non-Muslim. Sin berbicara kepada Naf, “Naf kamu kan orang kristen, kenapa kamu bermain dengan Teh Ain?” kata Sin.

Ain lalu memotong pembicaraan Sin, “ Sin….. (ada jeda) walaupun kita berbeda agama, tetapi kita harus saling hidup rukun, jangan begitu ya..,” kata Ain.

(2)

melakukan ancaman dan kekerasan terhadap kelompok lain yang dianggap sesat dan minoritas.

Fatwa MUI tentang kriteria aliran yang dianggap sesat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam.

2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan sunnah.

3. Meyakini turunnya setelah Al-Quran

4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Quran.

5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. 6. Mengingkari kedudukan hadits nabi sebagai sumber ajaran Islam.

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul. 8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.

9. Mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak lima waktu.

10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan sekelompoknya.

Fatwa MUI ini kemudian menjadi dasar beberapa kelompok masyarakat untuk melakukan penilaian terhadai kelompok lain yang dianggap “sesat”. Pada perkembangannya Fatwa MUI ini menjadi salah satu pemicu terjadinya peristiwa anarkisme, pengrusakan dan peristiwa kerusuhan berbasis agama di beberapa daerah3. Seperti di Manis Lor

Kuningan-Jawa Barat, Sampang-Madura Kuningan-Jawa Timur, Bima-NTB, dan beberapa daerah lainnya. Pada tahun 2005 MUI juga pernah mengeluarkan fatwa tentang anti pluralisme4, sekulerisme, dan

liberalisme.

3Dimana persepsi atau pemahaman berdasarkan Fatwa MUI tersebut terhadap istilah pluralisme

khususnya mengalami distorsi. Dimana menurut Fatwa MUI pluralisme dianggap sebagai sinkretisme agama, penyaParataan doktrin kebenaran. padahal pluralisme yang dimaksud adalah keragaman budaya, etnik, bangsa, bahasa, warna kulit termasuk agama. Sumanto Al-Qurtuby, Pluralisme, Dialog, Dan Peacebuilding Berbasis Agama di Indonesia, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, editor Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009), 179.

4Pluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Yang dikehendaki dari

(3)

Jauh sebelum fatwa MUI keluar, tahun 1965 telah lahir undang-undang yang senafas dengan fatwa MUI di atas yaitu UU No. 1/PNPS/1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama yang dikukuhkan oleh UU No. 5/1969. Undang-undang tersebut pada Pasal 1 menyebutkan,” Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama”.5

Hingga saat ini dua produk hukum tersebut – UU PNPS dan Fatwa MUI, menjadi rujukan utama bagi kelompok masyarakat tertentu (kelompok mainstrem6) dan pemerintah

(baik pusat maupun daerah) dalam menentukan dan menekan kelompok yang dianggap sesat. Akibatnya, sejak era reformasi, pelanggaran terhadap kebebasan beragama di Indonesia mengalami peningkatan7.

Dampak paling nyata dari fatwa MUI dan UU PNPS tersebut adalah terjadinya pelanggaran terhadap para penganut Ahmadiyah, penganut Syi’ah serta beberapa kelompok kepercayaan yang tidak diakui negara8. Selain pelarangan terhadap kelompok yang dianggap

sesat, kelompok mainstream tersebut juga melakukan penekanan terhadap kelompok agama yang minoritas seperti pelarangan terhadap pembangunan gereja, masjid dan lain-lain.

Catatan Komisi Nasional (Komnas) HAM tentang pelanggaran kebebasan beragama dan bekeyakinan mengalami kenaikan. Pada 2010 Komnas HAM menerima 84 buah pengaduan, yang terdiri dari kasus perusakan, gangguan dan penyegelan rumah ibadah sebanyak 26 kasus, kekerasan terhadap “aliran sesat” 14 kasus, konflik dan sengketa internal 7 kasus dan yang terkait pelanggaran terhadap jama’ah Ahmadiyah 6 kasus, dan sisanya pelanggaran lain-lain. Pada 2011, pengaduan yang masuk sebanyak 83 kasus dengan 32 kasus terkait gangguan dan penyegelan atas rumah ibadah, 21 kasus terkait Jama’ah Ahmadiyah, gangguan dan pelarangan ibadah 13 kasus, dan diskriminasi atas minoritas agama 6 kasus. Pada tahun 2012, tercatat 68 pengaduan dengan perincian: perusakan dan penyegelan rumah

5 Siti Musdah Mulia, Potret Kebebasan Beragama Dan Berkeyakinan Di Era Reformasi dalam

Merayakan Kebebasan Beragama, Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi, ed Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009), 337.

6 Yang dimaksud kelompok mainstrem di sini adalah kelompok (bisa agama, etnis, golongan, faham)

yang mayoritas dan mendominasi kehidupan sosial masyarakat di suatu daerah. Kelomopok mainstrem terjadi juga di kelompok agama baik Kristen atau pun di Islam.

7 Lihat laporan Wahid Institute dan Setara Institue tentang Kebebasan Beribadah dan Beragama (KBB)

antara tahun 2010-2012.

8 Penganut kepercayaan dan agama lokal seperti Parmalin di Sumatera Utara, Kaharingan, Sunda

(4)

ibadah sebanyak 20 kasus, konflik dan sengketa internal 19 kasus, gangguan dan pelarangan ibadah 17 kasus dan diskriminasi minoritas serta penghayat kepercayaan 6 kasus. Pada tahun 2013 Komnas menerima 39 berkas pengaduan. Diskriminasi, pengancaman, dan kekerasan terhadap pemeluk agama sebanyak 21 berkas, penyegelan, perusakan, atau penghalangan pendirian rumah ibadah sebanyak 9 berkas dan penghalangan terhadap ritual pelaksanaan ibadah sebanyak 9 berkas.9

Tidak berbeda dengan laporan Komnas HAM, laporan tahunan Setara Institute mencatat pelanggaran hak beribadah dan beragama pada pelanggaran dari 286 kasus pada tahun 2010 menjadi 371 kasus pada tahun 2012. Dalam laporannya Setara Isntitute menyebutkan bahwa pengikut Syiah paling banyak mengalami tindak intoleransi. Pelanggaran terhadap kelompok Syiah mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 hanya 10 kasus dan melonjak pada tahun 2012 menjadi 34 kasus. Dalam insiden lain, seorang warga Syiah tewas dalam bentrokan di Sampang, Madura pada tanggal 26 Agustus 2012. Menyusul insiden ini, ratusan pengikut jemaah Syiah terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Hingga saat ini mereka masih di tampung di Sidoarjo Surabaya. Termasuk tindak intoleransi juga dialami oleh kelompok Kristiani10, kelompok umat Islam di Kupang - NTT11 dan Jemaah

Ahmadiyah12.

9Jimly Asshiddiqie, Toleransi Dan Intoleransi Beragama Di Indonesia Pasca Reformasi , dalam

Dialog Kebangsaan tentang “Toleransi Beragama”, Ormas Gerakan Masyarakat Penerus Bung Karno, di Hotel Borobudur Jakarta, 13 Februari, 2014.

10 Pembangunan GKI Yasmin di Bogor dan Geraja Philadelphia di Kabupaten Bekasi yang hingga saat

ini masih mendapat penolakan dan penyegelan dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Dalam tiga tahun terakhir, Jemaah GKI Yasmin di Bogor, Jawa Barat telah dibiarkan tanpa ada pilihan lain selain beribadah di lokasi yang berbeda, termasuk di sepanjang trotoar dan di depan Istana Negara karena gereja mereka disegel oleh pemerintah kota Bogor.

11 Penolakan pembangunan sebuah masjid di kota Kupang oleh warga. Yang terakhir adalah kasus

penolakan ibadah Id Fitri oleh warga di Tolikara di Papua Barat tahun 2015.

12Peristiwa pengurasakan rumah dan tempat ibadah Jemaah Ahmadiyah di Manis Lor-Kuningan Jawa

Barat, di Bima NTB, dan di berbagai daerah lainnya yang hingga saat ini belum tuntas penyelesaiannya. Dasarpelarangan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) ini adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam negeri No. 03 tahun 2008, No. KEP-033/A/JA/6/2008 dan No. 199 tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota dan/atau Pengurus JAI dan Warga Masyarakat (“SKB Tiga Menteri diterbitkan tanggal 9 Juni 2008”). Dasar hukum penerbitan SKB Tiga Menteri tersebut antara lain: 1) Pasal 28E, Pasal 281 ayat (1), Pasal 28J, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 156 dan Pasal 156a; 3) Undang-Undang Nomor 1/PnPs/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 tentang Pernyataan Berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden sebagai Undang-Undang (“UU Penodaan Agama”). Dalam pasal 2 ayat (1) UU Penodaan Agama dinyatakan, dalam hal ada yang melanggar larangan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama, diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.

(5)

Sementara itu pemerintah sejak jaman Presiden Suharto hingga Presiden Joko Widodo seolah terlena dengan jargon Indonesia adalah negara muslim yang toleran. Sehingga Indonesia pantas dianggap sebagai rujukan untuk belajar bertoleransi dalam kehidupan beragama. Bahkan semasa Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Indonesia mendapat penghargaan dari sebuah lembaga yang bergerak dalam kebebasan beragama di New york, Appeal of Conscience Foundationyang memberikan World Statesman Award kepada Susilo Bambang Yudhoyono13 (SBY).Walau kemudian, penghargaan tersebut banyak mendapat

penolakan karena SBY dianggap gagal mempertahankan kehidupan toleransi dan penindakan terhadap pelaku intoleransi yang banyak terjadi di Indonesia14.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan intoleransi, yang melahirkan kekerasan atas nama agama, diskriminasi, anarkisme, pengrusakan tempat ibadah, dan tindak penyegelan rumah ibadah di Indonesia adalah sesuatu yang belum selesai15. Bahkan dalam

Undang-Undang Dasar 1945 baik yang versi lama atau hasil amandemen, jelas-jelas konstitusi Indonesia melindungi kebebasan beragama dan beribadah serta berkeyakinan. Pasal 29 ayat 2 berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu.”

Pada pasal 28 UUD 1945 yang telah diamandemen huruf E ayat 1 dan 2 menyebutkan; 1) “setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali” 2) “Setiap

Pakem adalah Tim Koordinasi Pengawasan Kepercayaan yang dibentuk berdasar Keputusan Jaksa Agung RI No.: KEP004/J.A/01/1994 tanggal 15 Januari 1994 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM).

Tim Pakem ini bertugas mengawasi aliran-aliran kepercayaan yang tumbuh dan hidup di kalangan masyarakat. Tim Pakem ini kemudian akan menghasilkan suatu surat rekomendasi untuk Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri, tindakan apa yang harus diambil. Dalam kasus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (“JAI”), misalnya, Tim Pakem memberikan rekomendasi agar JAI diberi peringatan keras sekaligus perintah penghentian kegiatan. ( http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6556/ham-dan-kebebasan-beragama-di-indonesia diakses tanggal 27 September 2015).

13Penghargaan serupa sebelumnya pernah diterima oleh Perdana Menteri Kanada Stephen Harper,

Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan Presiden Korea Lee Myung Bak. Ketiga tokoh tersebut menerima pernghargaan tersebut untuk demokrasi, Hak Asasi Manusia dan kebebasan beragama.

14

http://nasional.tempo.co/read/news/2013/04/12/078473096/penghargaan-toleransi-beragama-untuk-sby-keliru. Diakses tanggal 25 September 2015.

15 Dalam sebuah diskusi informal (obrolan yang terjadi di rumah beliau pada tanggal 25 September

(6)

orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”.

Dalam pasal 28 E ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan”. Selain itu dalam pasal 28 I ayat (1) UUD 1945 diakui bahwa “Hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia”.Persoalan kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia tersebut kemudian ditegaskan dan menjadi jaminan negara dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan kepercayaannya”. Kebebasan sebagai bagian atas hak asasi manusia tersebut tetap mendapat batasan. Dalam pasal 28 J ayat (1) UUD 1945 diatur bahwa “Setiap orang wajib menghormati hak asaski orang lain”. Yang berarti bahwa pelaksanaan hak asasi tersebut tetap wajib tunduk kepada pembatasan yang diberlakukan dalam undang-undang16.

Pasal-pasal tersebut menegaskan bahwa jaminan kebebasan beragama, berkeyakinan dan beribadah adalah menjadi tanggung jawab negara. Sehingga fakta tentang adanya sikap intoleransi dan diskriminasi serta berbagai bentuk pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan lainnya mencedrai UUD 1945 itu sendiri. Termasuk Fatwa MUI dan UU PNPS 1965 atau UU No. 5 tahun 1969 atau UU penodaan agama bertentangan dengan UUD 1945. Dan di era kebebasan seperti saat ini sangat mungkin keberadaan Fatwa MUI, UU PNPS 1965 dan UU No. 5 tahun 1969 tersebut di”uji materikan” ke Mahkamah Konstitusi untuk dihapus.

Walaupun ada jaminan konstitusi, sikap intoleransi yang terjadi di bedakan berdasarkan 1) Intoleransi terhadap pemeluk agama lain seperti kasus penolakan gereja Philadelphia Ciketing Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 2) Intoleransi terhadap kelompok yang dianggap berbeda seperti kasus penolakan terhadap Ahmadiyah dan Syiah. 3) Intoleransi terhadap kelompok kepercayaan dan penghayat atau agama lokal lainnya yang dipaksa untuk memilih agama yang sejenis untuk administrasi kependudukan khususnya pencantuman kolom agama dalam KTP. 4) Terkait intoleransi terhadap kelompok seperti Lia Eden dengan Agama Salamullah atau Ahmad Musyadeqdengan Jama’ah Al-Qiyadah atau kelompok lainnya seperti Isa Bugis, Baha’i, dan lainnya17.

Pada intoleransi yang pertama, sikap intoleransi didasarkan atas ketakutan kelompok mayoritas akan berkembangnya agama kelompok minoritas. Pada intoleransi ke dua, sikap

16 Lihat pasal-pasal dalam UUD 1945 hasil amandemen.

17Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencatat, sejak tahun 2001 hingga 2007, sedikitnya ada

(7)

intoleransi terkait persoalan yang dianggap pokok aqidah dalam agama yang sama (satu agama). Pada intoleransi ke tiga, sikap intoleransi terkait sosial politik. Dan ke empat sikap intoleransi terkait persoalan yang dianggap penodaan agama.

Sikap intoleransi tersebut ternyata terjadi disemua kalangan, suku, agama, ras, dan golongan. Menariknya lagi pelaku intoleransi didominasi oleh golongan keagamaan mayoritas. Dan sikap intoleransi yang terekspos di berbagai media massa memberikan pengaruh terhadap anak-anak. Stigma kelompok sesat atau lain agama yang disematkan terhadap kelompok yang berbeda tertanam dibenak anak-anak.

Opening story yang di awal menunjukkan bagaimana sikap intoleransi telah merasuk pada sikap anak seusia taman kanak-kanak (TK). Pertanyaannya dari mana ananda Nay memiliki sikap intoleran tersebut? Apakah dari orang tua Nay atau dari media TV yang ditontonnya atau dari lingkungannya?. Pertanyaan sama juga datang untuk ananda Ain. Dari mana sikap toleran Ain diperoleh? Apakah dari orang tuanya atau dari media TV atau dari lingkungannya?.

Terlepas dari mana ananda Nay dan ananda Ain mendapatkan sikap intoleran dan toleran, ada satu hal yang bisa disepakati, pendidikan dalam keluarga atau nilai dari orang tuanya memberikan pengaruh yang besar terhadap sikap kedua anak tersebut. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh HAR Tilaar bahwa peran keluarga tidak tergantikan oleh lembaga lain dalam menjamin keberlanjutan keturunan. Selain itu peran keluarga sangat penting dalam menanamkan dan mengembangkan sebuah nilai, seperti nilai toleransi18.

Selain dari orang tua, sikap toleransi atau sikap intoleran juga bisa diturunkan dari pendidik atau guru. Sebab seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan. Guru lah yang akan menentukan masa depan generasi penerus. Guru lah yang akan menjadikan sosok siswa akan menjadi toleran atau tidak toleran19. Bahkan Ir Soekarno

mengatakan “Guru adalah pembentuk akal dan jiwa anak-anak!”.20

Peran guru dalam menanamkan nilai toleransi kepada anak didik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan masa depanm sikap toleransi di negeri ini. Sebab hal ini berkaitan dengan sikap toleransi yang akan dimiliki oleh anak didik. Institusi pendidikan dan isntrumen kurikulum yang digunakan di sekolah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan sikap toleransi anak didik. Sebab dalam proses pendidikan, budaya sekolah, dan kurikulum menjadi panduan utama dalam proses pembelajaran di sekolah.

(8)

Penguatan dan masa depan sikap toleransi memiliki landasan yang kuat dengan kembali kepada nilai-nilai Pancasila. Ideologi negara ini, mengalami sebuah masa yang surut pasca reformasi 1998. Seolah ideologi negara yang seharusnya menjadi soko guru dalam peri kehidupan bernegara dan bermasyarakat hilang tergantikan dengan sikap pragmatisme.

Masa depan sikap toleransi masyarakat Indonesia akan ditentukan oleh seberapa kuat guru dan kurikulum mampu menanamkan nilai kepada anak didik. Termasuk bagaimana pendidikan dalam keluarga melandasi sikap anak didik yang dibawaya dalam interaksi pergaulan dengan lingkungan. Nilai-nilai keluarga adalah pertama yang akan terlihat dalam sikap anak. Nilai-nilai ini akan melebur dalam nilai yang diajarkan di sekolah dan lingkungan dimana anak didik tersebut berinteraksi.

Intoleransi terjadi karena terjadi kegagalan sistemik pada beberapa aspek yaitu: 1) Pemahaman agama yang dangkal yang merujuk kepada klaim kebenaran absolut pada satu pihak atau satu agama21 2) Hukum, dimana hukum tidak bekerja pada kasus konflik berbasis

agama seperti Penolakan terhadap pembangunan Geraja Piladelpiadi Ciketing Bekasi Jawa Barat atau Gereja Yasmin di Bogor, atau hukum tidak bekerja pada pelaku intoleransi22 3)

Ketiadaan keteladanan dalam menerapkan nilai-nilai agama yang damai dan kasih sayang. 4) Struktural, dimana pemerintah mengabaikan kelompok tertentu atas tekanan mayoritas23. 5)

Lunturnya basis ideologi Pancasila yang tidak menjadi pedoman dan pandangan hidup dalam berperilaku dan bermasyarakat yang majemuk24. 6) Pendidikan, sistem pendidikan yang tidak

21Abdurahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita, (Jakarta, Wahid Institute, 2006),300.

22 Philips J. Vermonte dan Tobias Basuki, Masalah Intoleransi, Toleransi, Dan Kebebasan Beragama

di Indonesia,dalam Jurnal Maarif Vol.7, No. 1 (Jakarta, 2012), 27. Ahmad Najib Burhani, Tiga Problem Dasar Dalam Perlindungan Agama-Agama Minoritas di Indonesia, dalam Jurnal Maarif Vol.7, No. 1 (Jakarta, 2012), 44.

23Ismatu Ropi, Minoritas, Legal Jihad, Dan Peran Negara, dalam Jurnal Maarif Vol.7, No. 1 (Jakarta,

2012), 20. Dalam makalahnya Ismatu Ropi menegaskan aspek hukum dimaksudkan sebagai bagian dari cara legal untuk memerangi kelompok yang dianggap berbeda, sesat atau berbagai faham yang dianggap menyimpang dari mainstream. Sebagai contoh Peraturan perundang-undangan Kehidupan Beragama (1999) yang diterbitkan Kementrian Agama RI yang memuat 51 aturan yang berisi tentang pelarangan terhadap sekte, ajaran, kegiatan agama, buku-buku, kalender dan lain sebagainya, yang oleh otoritas negara dianggap menyebarkan paham palsu, dari mainstrean atau menodai satu tradisi agama sesuai dengan penjelasan UU No. 1 tahun 1965. Inilah yang kemudian disebut oleh Ismatun Ropi sebagai Legal Jihad yang digunakan oleh sekelompok orang atau negara untuk melakukan berbagai tindakan diskriminatif .

24 Dalam sidang BPUPKI (Badan Pekerja Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tahun 1945

(9)

secara ketat mengembangkan sikap toleran dan penghargaan terhadap perbedaan25 7)

Lunturnya nilai-nilai keluarga, sikap hidup pragmatis dan hedonis serta tuntutan ekonomi menyebabkan orang tua lupa terhadap kewajiban untuk memberikan pendidikan dini melalui nilai-nilai keluarga26. Aspek-aspek inilah yang menjadi bagian dari kajian disertasi ini.

Dalam melihat toleransi di Indonesia perlu cara pandang atau paradigma baru serta konsensus bersama dalam menetapkan dan menanamkan toleransi sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Paradigma baru tersebut menekankan kepada aspek penghargaan terhadap keragaman budaya, agama dan cara pandang yang berbeda yang ada di masyarakat. Paradigma baru tersebut salah satunya dibangun melalui pendidikan.

B. Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia

Sewindu terakhir ini, kita mendapat banyak sajian peristiwa kekerasan yang marak terjadi. Kekerasan yang cendrung meningkat dari tahun ke tahun baik dari sisi kuantitas maupun dari sisi kesadisan. Kekerasan yang terjadi tersebut dilatar belakangi oleh banyak hal. Mulai dari perbedaan politik, ekonomi, budaya, etnis, perbedaan faham agama, atau hanya sekedar solidaritas kelompok. Yang pasti kekerasan yang terjadi tersebut mengakibatkan kerugian dan kerusakan yang besar. Baik fisik, psikologis, harta-benda maupun nyawa27.

Ada banyak analisis dari para pakar tentang akar masalah dari peristiwa kekerasan tersebut. Salah satunya adalah disebabkan menipisnya rasa toleran antar sesama anggota masyarakat. Sekelompok masyarakat atau individu memiliki pandangan yang berbeda dan menganggap benar pandangannya, dan memandang salah apa yang menjadi pandangan orang lain atau kelompok lain yang tidak sepaham atau tidak sejalan.Anggapan salah terhadap pandangan orang lain tersebut kemudian dimanifestasikan dalam bentuk penolakan. Bentuk penolakan terhadap kelompok yang berbeda tersebut kadang dilakukan dengan cara-cara

oleh berbagai golongan, termasuk oleh PKI yang “dianggap” atheisoleh kelompok politik lain. Selain itu pada persoalan ini, penulis mengunakan prinsip quote:”lihatlah apa yang dikatakan seseorang bukan melihat siapa yang berkata”. Apa yang disampaikan oleh tokoh-tokoh PKI pada konteks penerimaan Pancasila bisa diterima. Bukan berarti penulis setuju dengan ideologi Komunisme. Sayangnya ketika zaman dulu Pancasila menjadi bagian dari alat perjuangan untuk mempersatukan bangsa Indonesia, saat ini Pancasila seolah kehilangan elan vitalnya dalam peri kehidupan dan peri kebangsaan Indonesia.

25 Romo Y.B. Mangunwijaya, Demi Kesatuan dan Persatuan, dalam kumpulan artikel Pluralitas

Agama: Kerukunan Dalam Keragaman, editor Nur Achmad, (Jakarta, Kompas, 2001),33. Sayangnya tidak banyak diulas peran pendidikan dalam menanamkan nilai toleransi dan mencegah ideologi kebencian.

26 HAR Tilaar, Pedagogik Teoritis Untuk Indonesia, (Jakarta, Kompas, 2014), 16-19.

27 Baca laporan KBB Wahid Institute atau Setara Institute atau lembaga yang concern terhadap

(10)

yang tidak demokratis bahkan menjurus anarkis. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik horizontal dikalangan masyarakat sendiri.

Zuhairi Misrawi dalam bukunya menyebutkan bahwa “Al-Quran Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, Dan Multikulturalisme”menyebutkan temuan bahwa dari 6666 ayat di dalam Al-Quran ada sekitar 300 ayat yang secara eksplisit menegaskan pentingnya toleransi dan perdamaian. Dan ada sekitar 176 ayat yang dapat ditafsirkan untuk tindak intoleran atau kekerasan atas nama agama. Lebih lanjut Zuhairi menjelaskan bahwa toleransi dan perdamaian merupakan fundamen Al-Quran, sedangkan intoleransi atau kekerasan merupakan ayat yang berkaitan dengan konteks sosial tertentu, dan karenanya perlu ditafsirkan28.

Contoh konkrit dari apa yang disampaikan Zuhairi Misrawi adalah QS. Al-Hujraat: 13

“Wahaimanusia!Sungguh, Kami telahmenciptakankamudariseoranglaki-lakidanseorangperempuan, kemudian Kami jadikankamuberbangsa-bangsadanbersuku-suku agar kamusalingmengenal.Sesungguhnya yang paling mulia di antarakamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.Sungguh, Allah MahaMengetahui, Mahateliti. “

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa manusia secara sosiologis terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama, ras dan golongan. Keberadaan sosiologis yang majemuk, atau multikultural tersebut adalah sesuatu yang sudah given atau sunnatullah. Yang tidak bisa semua orang merubah atau mengingkarinya. Disinilah keharusan untuk saling mengenal atau bertoleransi terhadap berbagai macam perbedaan yang sudah menjadi fakta sosiologis tak terbantahkan tersebut.

Rainer Forst dalam Toleration and democracy menyebutkan, dua cara pandang tentang toleransi, yaitu konsepsi yang dilandasi pada otoritas negara (permission conception) dan konsepsi yang dilandasi pada kultur dan kehendak untuk membangun pengertian dan penghormatan terhadap yang lain (respect conception)29. Forst sendiri menekankan kepada

28 Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian,

(Jakarta, Kompas, 2010), xxvi.

29 Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian,

(11)

membangun saling pengertian dan saling menghargai ditengah keragaman suku, agama, ras, dan bahasa.

Namun demikian ada tanggapan atau pandangan pesimitis terhadap persoalan toleransi yang dikelola negara. Dimana negara dianggap faktor determinan –dengan membuat peraturan terkait kehidupan toleransi dan kerukunan warga masyarakat, dalam mewujudkan kehidupan yang toleran. Pandangan pesimistis ini berdasarkan kepada negara sendiri terdiri atas pelbagai entitas yang memahami demokrasi sebagai hegemoni mayoritas atas minoritas. Atau sebaliknya, hegemoni minoritas atas mayoritas yang sering terjadi pemerintahan diktator. Hegemoni mayoritas ini menyebabkan penegakkan prinsipkesetaraan dan keadilan terabaikan. Inilah yang dimaksudkan oleh Richard H. Dees toleransi memiliki potensi sebagai penguatan dalam masyarakat plural. Dimana toleransi dianggap sebagai modus vivendi, yaitu kesepakatan bersama yang dituangkan dalam sebuah perjanjian atau persetujuan formal30.

Toleransi model modus vivendi membutuhkan pemerintahan yang kuat dan memiliki kemauan untuk mengelola masyarakat pluranya atau masyarakat yang majemuk menuju sebuah masyarakat yang multikultur. Model toleransi modus vivendi adalah model top down yang memiliki kelemahan dimana kepentingan kelompok masyarakat tidak terwakili secara aktif. Justru yang harus dilakukan adalah bagaimana memposisikan sikap toleransi bukan atas dasar modus vivendi karena keinginan penguasa, namun menempatkan toleransi sebagai bagian dari kesepakatan bersama yang terus berproses berdasarkan kebutuhan dimana masyarakat tersebut berada dan berbasis kearifan lokal.

Maskuri Abdillah memberikan penjelasan tentang konsep toleransi. Menurutnya ada dua macam penafsiran tentang konsep toleransi, yakni penafsiran negatif (negatif interpretation of tolerance) dan penafsiran positif (positive intrepretation of tolerancei). Yang pertama menyatakan bahwa toleransi itu hanya mensyaratkan cukup dengan membiarkan dan tidak menyakiti orang/kelompok lain. Sementara yang kedua menyatakan bahwa toleransi membutuhkan adanya bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang/kelompok lain31.

Masykuri mensyaratkan toleransi yang kedua ini harus pada posisi objek dari toleransi tidak tercela secara moral. Pada toleransi yang pertama lebih dikenal dengan istilah toleransi pasif dan pada model yang kedua dikenal dengan istilah toleransi aktif.

30Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian, (Jakarta,

Kompas, 2010), 4-5.

31 Masykuri Abdilla, Pluralisme dan Toleransi, dalam dalam Pluralitas Agama: Kerukunan dalam

(12)

Setara Institute membedakan antara intoleransi aktif dan intoleransi pasif. Intoleransi pasif adalah residu dari keyakinan seseorang bahwa agamanya adalah satu‐satunya agama yang benar. Intoleransi dan diskriminasi mengacu pada segala bentuk pembedaan, pengecualian, pembatasan atau preferensi atas dasar agama atau keyakinan yang berakibat pada pembatalan atau berkurangnya pengakuan, penikmatan atau pelaksanaan hak‐hak dasar yang berdasarkan pada asaskesetaraan.

Namun demikian, karena adanya dinamika interaksi sosial, individu harus menerima perbedaan dan mencoba untuk beradaptasi. Di sisi lain, intoleransi aktif bukan hanya meyakini bahwa agamanya adalah satusatunya agama yang benar, tetapi juga memiliki kecenderungan untuk melihatmereka yang berbeda agama atau bahkan yang berbeda interpretasi dalam agama yang sama sebagai sesat dan menyimpang.Sebuah perbedaan nyata antara dua bentuk intoleransi terletak pada bagaimana seseorang berperilaku dan bertindak. Mereka yang berada dalam kategori intoleransi aktif tidak hanyamengungkapkannya secara lisan tetapi juga melalui tindakan32. Sementara itu, intoleransi keagamaan (religious

intolerance) merupakan sebuah pengertian yang luas, mencakup prasangka negatif bermotif keyakinan, afiliasi atau praktek keagamaan tertentu, baik terhadap individu maupun kelompok. Prasangka negatif ini memberi jalan untuk sewaktu-waktu menjelma dalam aksi intimidasi atau kekerasan bermotif pengabaian33.

Lebih tegas lagi mengenai sikap toleransi dijelaskan oleh Nurcholis Madjid atau yang lebih dikenal dengan Cak Nur. Cak Nur mengenalkan kepada bangsa ini dengan istilah Teologi Inklusif sebagai modal melakukan interaksi sosial masyarakat majemuk. Cak Nur memberi tempat yang tinggi terhadap pluralisme dan kebhinekaan. Menurut Cak Nur, pluralitas dan kemajemukan adalah kehendak Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hujjrat: 13 di atas.

Dasar pandangan Cak Nur terhadap pluralisme sebenarnya berpijak pada semangat humanisme dan universalitas Islam. Sebab Islam adalah agama kemanusiaan (fitrah) yang mewujudkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), dan tidak semata-mata untuk menguntungkan komunitas Islam saja. Karena sifatnya yang cendrung kepada kemanusiaan, menuru Cak Nur menyebabkan Islam memiliki sifat inklusif yaitu sikap terbuka yang

32Laporan penelitian Infid, Kebebasan Beragama di Indonesia 2010-2012.

(13)

menolak eksklusifisme dan absolutisme, dan memberikan apresiasi yang yang tinggi terhadap kemajemukan atau pluralisme34.

Tentu tidak ketinggalan dan wajib hukumnya merujuk kepada maestro pluralisme Indonesia, Abdurahman Wahid. Mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini adalah orang yang dikenal sangat menjunjung tinggi terhadap penghargaan keberagaman agama, pikiran, suku atau pun golongan. Sikap pembelaannya terhadap minoritas sebagai implementasi pemikiran dan pendiriannya dalam menjunjung tinggi pluralisme dan nilai-nilai Islam universale, KH Abdurahman Wahid sering tergambar baik dalam esai-esainya atau aksi langsung membela ketertindasan kaum minoritas.

Kumpulan esai-esainya terkait toleransi, pemahaman ajaran agama yang inklusif, HAM, kekerasan, terorisme, sosial budaya, ekonomi dan berbagai aspek kehidupan lainnya tersebar dalam berbagai media masa. Pembaca pun bisa menikmati esai-esai cerdas KH Abdurahman Wahid dalam buku “Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi” dengan pengantarnya Syafii Anwar tokoh Muhammadiyah. Judul buku tersebut sebenarnya diambil dari salah satu esainya yang berjudul sama.

Dalam esainya tersebut KH Abdurahman Wahid yang juga Presiden ke empat RI ini menjelaskan dalam berbeda pandangan, orang sering memaksakan kehendak dan menganggap pandangannya sebagai satu-satunya kebenaran, dan karenanya ingin dipaksakan kepada orang lain.Pendapatnya tersebut menunjukkan pentingnya sikap toleransi terhadap pandangan yang berbeda35.

Pandangan toleransi menjadi penting untuk ditanamkan sejak dini kepada anak didik atau siswa. Secara implisit maupun eksplisit nilai-nilai toleransi memang sudah ada dalam kurikulum pendidikan kita. Namun hal tersebut tidak secara tegas di ajarkan. Hanya pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PAI) serta Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) saja materi toleransi jelas eksplisit ada. Sementara pada mata pelajaran lain, nilai toleransi hanya ada pada praktek pengajaran di kelas saja. Selain itu nilai-nilai toleransi yang ada dalam kurikulum hanya berhubungan dengan model toleransi pasif. Tidak mendorong pada toleransi aktif. Di bawah ini peneliti mencoba menawarkan sebuah gagasan tentang bagaimana nilai-nilai toleransi perlu dipertegas dalam kurikulum pendidikan kita. Penulis sementara ini menawarkan dengan Pendidikan Lintas Budaya seperti di bawah ini:

34 Ruslani, Cak Nur, Islam, Dan Pluralisme, dalam Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keragaman,

editor Nur Ahmad, (Jakarta, Kompas,2001), 46-49.

(14)

DRAFT KOMPETENSI INTI

1.2. Mengembangkan harga diri siswa/konsep diri siswa melalui identitas etnik dan budayanya 1.3. Melihat keunikan orang lain dari budaya 2.3. Meningkatkan kepekaan/kesadaran terhadap

(15)

sama, kemanusiaan, keadilan dan nilai-nilai budaya yang berkembang

5 Mengembangkan interaksi yang positif antar etnik, budaya, ras, agama

5.1. Mengapresiasi orang, budaya, nilai ajaran dari pihak lain yang sesuai dengan warisan etnik budaya lain

5.2. Mengembangkan warisan dan apresiasi terhadap keragaman budaya yang berpengaruh terhadap aspek politik, social, ekonomi dan budaya

5.3. Menguatkan keterampilan dan strategi relasi antar personal/kelompok dalam masyarakat kelompok pemerintah sebagai warga masyarakat

7.2. Menguatkan sikap positif dalam nilai budaya dan sikap etnik dalam masyarakat multikultur 7.3. Mendukung kerja keras dalam menciptakan

rasa adil/keadilan social dan perubahan social

8 Mendukung Penguatan

Nasionalisme Kebangsaan

8.1. Mengembangkan pemahaman terhadap perbedaan gagasan yang terjadi dalam

(16)

turunan atau kompetensi dasarnya. Inilah yang dimaksud dengan paradigma baru dalam pendidikan yang menekankan kepada aspek penghargaan terhadap keragaman budaya, agama dan cara pandang yang berbeda yang ada di masyarakat.

DAFTAR PUSATAKA:

1. Al-Qurtuby, Sumanto, Pluralisme, Dialog, Dan Peacebuilding Berbasis Agama di Indonesia, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, editor Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009)

2. Asshiddiqie, Jimly, Toleransi Dan Intoleransi Beragama Di Indonesia Pasca Reformasi , dalam Dialog Kebangsaan tentang “Toleransi Beragama”, Ormas Gerakan Masyarakat Penerus Bung Karno, di Hotel Borobudur Jakarta, 13 Februari, 2014. 3. Abdilla Masykuri, Pluralisme dan Toleransi, dalam dalam Pluralitas Agama:

Kerukunan dalam Keragaman, editor Nur Ahmad, (Jakarta, Kompas,2001)

4. Fokus Berita majalah Ikhlas Beramal, Nomor 61 Tahun XIII Maret 2010

5. Ghozaly, Moqsith, Islam dan Pluralitas(isme) Agama, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, editor Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009).

6. http://nasional.tempo.co/read/news/2013/04/12/078473096/penghargaan-toleransi-beragama-untuk-sby-keliru. Diakses tanggal 25 September 2015.

7. (

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6556/ham-dan-kebebasan-beragama-di-indonesia diakses tanggal 27 September 2015).

8. Laporan penelitian Infid, Kebebasan Beragama di Indonesia 2010-2012

9. Mangunwijaya Romo Y.B., Demi Kesatuan dan Persatuan, dalam kumpulan artikel Pluralitas Agama: Kerukunan Dalam Keragaman, editor Nur Achmad, (Jakarta, Kompas, 2001)

10. Misrawi Zuhairi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian, (Jakarta, Kompas, 2010)

11. Musdah Mulia Siti, Potret Kebebasan Beragama Dan Berkeyakinan Di Era Reformasi dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi, ed Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009)

12.Pancasila dan Islam: Perdebatan antar Parpol dalam Penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante, (Jakarta, Yayasan TIFA,2008)

13. Ropi Ismatu, Minoritas, Legal Jihad, Dan Peran Negara, dalam Jurnal Maarif Vol.7, No. 1 (Jakarta, 2012)

14. Suaedy, Ahmad, Islam, Negara Bangsa, Dan Kebebasan Beragama, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi, ed Elza Peldi Taher, (Jakarta:ICRP-Kompas, 2009).

15. Ruslani, Cak Nur, Islam, Dan Pluralisme, dalam Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keragaman, editor Nur Ahmad, (Jakarta, Kompas,2001)

(17)

18. UUD 1945 hasil amandemen.

19. Vermonte , Philips J. dan Tobias Basuki, Masalah Intoleransi, Toleransi, Dan Kebebasan Beragama di Indonesia, dalam Jurnal Maarif Vol.7, No. 1 (Jakarta, 2012), 27. Ahmad Najib Burhani, Tiga Problem Dasar Dalam Perlindungan Agama-Agama Minoritas di Indonesia, dalam Jurnal Maarif Vol.7, No. 1 (Jakarta, 2012)

20. Wahid, Abdurahman, Islamku Islam Anda Islam Kita, (Jakarta, Wahid Institute, 2006) 21. Wahid Institute dan Setara Institue tentang Laporan Kebebasan Beribadah dan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...