• Tidak ada hasil yang ditemukan

TA : Perancangan Tata Kelola Service Operation Teknologi Informasi Pada Information Capital Readiness PT. PJB UPHT Gresik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TA : Perancangan Tata Kelola Service Operation Teknologi Informasi Pada Information Capital Readiness PT. PJB UPHT Gresik."

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PT PJB UPHT GRESIK

TUGAS AKHIR

Nama : Rachmad Sukma Putranto

NIM : 09.41010.0019

Program : S1 (Strata Satu)

Jurusan : Sistem Informasi

SEKOLAH TINGGI

MANAJEMEN INFORMATIKA & TEKNIK KOMPUTER SURABAYA

(2)

PERANCANGAN TATA KELOLA SERVICE OPERATION TEKNOLOGI INFORMASI PADA INFORMATION CAPITAL READINESS

PT PJB UPHT GRESIK

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Program Sarjana Komputer

Disusun Oleh :

Nama : Rachmad Sukma Putranto

NIM : 09.41010.0019

Program : S1 (Strata Satu)

Jurusan : Sistem Informasi

SEKOLAH TINGGI

MANAJEMEN INFORMATIKA & TEKNIK KOMPUTER SURABAYA

(3)

vi

ABSTRAK

PT PJB UPHT Gresik memerlukan tata kelola teknologi informasi (TI)

untuk menyusun kerangka struktur yang lengkap, proses, dan cara pengerjaan setiap

proses bisnisnya. Penilaian tata kelola TI pada Information Capital Readiness (ICR)

yang telah dilakukan oleh tim assessor mempunyai nilai 3,5. Dokumen feedback

report yang diberikan assessor tidak menjelaskan langkah-langkah perbaikan

dalam pencapaian target yang diinginkan oleh kantor pusat, sehingga PT PJB

UPHT Gresik mengalami kesulitan.

Berdasarkan permasalahan tersebut dibuat perancangan tata kelola service

operation TI pada ICR yang mengacu pada pedoman penilaian kontrak kinerja unit

dan service operation di ITIL V3. Pada tahapan perancangan, hasil analisis

kesenjangan yang diperoleh dari buku pedoman kontrak kinerja unit dan OFI yang

terdapat di dalam dokumen feedback reports dianalisis sehingga diperoleh

identifikasi perbaikan. Hasil analisis identifikasi tersebut berupa Prosedur

Operasional Baku (POB) dan Instruksi Kerja (IK) yang masing-masing mengacu

pada proses service operation di dalam ITIL V3 pada ICR.

Perancangan tata kelola service operation TI pada ICR menghasilkan dua

kebijakan, tiga POB (Infrastructure, Business Process Management dan

Information Management), dan enam IK (dua instruksi kerja pada Infrastructure,

tiga instruksi kerja pada Business Process Management dan satu instruksi kerja

pada Information Management) yang dibutuhkan perusahaan untuk melakukan

improvement pada indikator kinerja proses ICR.

(4)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Batasan Masalah ... 4

1.4 Tujuan ... 4

1.5 Manfaat Penlitian ... 4

1.6 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II. LANDASAN TEORI ... 7

2.1 Tata Kelola Teknologi Informasi ... 7

2.2 ITIL Service Operation ... 14

2.3 Pedoman Penilaian Kontrak Kinerja Unit ... 19

2.3.1 Information Capital Readiness (ICR) ... 20

BAB III. METODE PENELITIAN... 24

3.1 Identify Needs ... 26

(5)

x

3.1.2 Definisi Lingkup Kegiatan Berdasarkan Buku Pedoman

PT PJB ... 28

3.1.3 Mendefinisikan Resiko ... 30

3.1.4 Mendefinisikan Sumber Daya ... 30

3.1.5 Merencanakan Program ... 32

3.2 Envision Solution ... 34

3.2.1 Menganalisis Hasil Feedback Report... 35

3.2.2 Mendefinisikan Target Perbaikan ... 35

3.2.3 Analisa Kesenjangan dan Identifikasi Perbaikan ... 36

3.3 Plan Solution ... 38

3.3.1 Menganalisis Keadaan Proyek ... 39

3.3.2 Pengembangan Rencana Perbaikan... 40

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1 Identify Needs ... 41

4.1.1 Mendapatkan Komitmen dan Kepedulian Manajemen ... 41

4.1.2 Definisi Lingkup Kegiatan Berdasarkan Buku Pedoman PT PJB ... 44

4.1.3 Mendefinisikan Resiko ... 48

4.1.4 Mendefinisikan Sumber Daya ... 50

4.1.5 Merencanakan Program ... 53

4.2 Envision Solution... 58

4.2.1 Menganalisis Hasil Feedback Report ... 59

4.2.2 Mendefinisikan Target Perbaikan ... 64

4.2.3 Analisa Kesenjangan dan Identifikasi Perbaikan ... 68

(6)

xi

4.3.1 Menganalisis Keadaan Proyek ... 77

4.3.2 Pengembangan Rencana Perbaikan ... 79

A. Hasil Perbaikan Infrastructure ... 79

B. Hasil Perbaikan Business Process Management ... 90

C. Hasil Perbaikan Information Management ... 109

BAB V. PENUTUP ... 114

5.1Kesimpulan ... 114

5.2Saran ... 115

DAFTAR PUSTAKA ... 116

DAFTAR ISTILAH ... 118

(7)

1

1.1Latar Belakang Masalah

Seiring dengan semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi telah

membawa perubahan dari peran efisien ke peran strategi. Perubahan peran tersebut

terlihat dari fungsi teknologi informasi (TI) sebagai pendorong utama dari suatu

proses transformasi bisnis yang memberikan imbas penting bagi organisasi dalam

mencapai misi, visi, dan tujuan strategis.

Dalam mencapai visi, misi, dan tujuan bisnisnya PT Pembangkit Jawa

Bali, Unit Pelayanan Pemeliharaan Wilayah Timur (PT PJB UPHT) Gresik

memerlukan tata kelola teknologi informasi. Tata kelola teknologi informasi dalam

perusahaan PT PJB digunakan dalam menyusun kerangka struktur yang lengkap,

proses, dan cara pengerjaan untuk pendukung pencapaian visi, misi, dan tujuan

bisnisnya. PT PJB memiliki acuan dalam penilaian tata kelola TI berupa pedoman

penilaian kontrak kinerja unit. Penilaian tersebut dilakukan setiap satu semester

sekali atau enam bulan sekali.

Assessor PT PJB UPHT Gresik melakukan penilaian menggunakan buku

pedoman penilaian kontrak kinerja unit yang menghasilkan dokumen feedback

report. Di dalam buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit untuk TI dalam

penilaiannya yang bertanggung jawab adalah sub direktorat (subdit) teknologi

informasi ini terletak pada sub indikator Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu pada

Information Capital Readiness (ICR). ICR merupakan indikator penilaian kinerja

(8)

2

management, dan information management. Dari hasil penilaian KPI yang

dilakukan oleh tim assessor untuk sub indikator SDM, ICR mempunyai nilai

realisasi terendah yaitu 3,50 dari target yang telah ditentukan yaitu 4,05

dibandingkan nilai KPI dari Human Capital Readiness (HCR) yaitu 4,15 dan

Organization Capital Readiness (OCR) yaitu 3,86. Untuk range penilaian yaitu

antara 1 hingga 5 dan setiap semester terdapat peninjauan dan target yang

ditentukan oleh kantor pusat sehingga setiap semester terdapat perubahan sesuai

dengan tinjauan dan kesepakatan kantor pusat PT PJB. Semua kriteria penilaian

ICR telah diatur di dalam buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit. Nilai

rendah tersebut diakibatkan karena banyak proses dari ICR yang belum terlaksana

akibat tidak jelasnya langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa mencapai

target. Ketidak jelasan tersebut diakibatkan karena langkah-langkah hanya

disampaikan oleh bagian tertentu dan apabila terdapat pergantian personil pada

bagian tersebut maka kemungkinan tidak terjadi kesamaan penjelasan yang

diberikan. Pencapaian target ICR tersebut penting dilakukan untuk bisa mendukung

proses bisnis perusahaan.

Penilaian utama dalam ICR dilihat dari pencapaian Key Performance

Indicator (KPI) setelah itu melihat maturity. Setiap unit mendapat dokumen

feedback report yang di dalamnya terdapat hasil diskusi, strength, dan Opportunity

For Improvement (OFI). Hasil diskusi menjelaskan tentang diskusi yang dilakukan

tim assessor kantor pusat dengan bagian yang bertanggung jawab pada PT PJB

UPHT Gresik. Strength menjelaskan tentang inovasi yang dimiliki PT PJB UPHT

Gresik yang tidak dimiliki oleh unit pembangkit lain. OFI menjelaskan tentang hal

(9)

Dokumen feedback report yang telah diberikan oleh assessor kepada

UPHT Gresik tidak menjelaskan langkah-langkah perbaikan untuk mencapai target

yang diinginkan oleh kantor pusat, sehingga PT PJB UPHT Gresik mengalami

kesulitan. UPHT Gresik membutuhkan rekomendasi perbaikan berupa Prosedur

Operasi Baku (POB) dan Instruksi Kerja (IK) berdasarkan best practice yang

berkaitan dengan operasional layanan Sistem dan Teknologi Informasi (STI).

Information Technology Infrastructure Library 3rd Version (ITIL V3) tentang

service operation merupakan best practice yang digunakan sebagai acuan karena

service operation menjelaskan tentang kegiatan yang diperlukan untuk

menyediakan serta mengelola layanan bagi pengguna dan pelanggan. Selain itu juga

pemilihan ITIL V3 tentang service operation dilihat berdasarkan kepada tujuan dari

buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit yang berdasarkan kepada rencana

jangka panjang unit yaitu penyedia jasa pemeliharaan instalasi unit pembangkit

yang terrencana.

1.2Perumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang yang telah dibahas, maka dapat dirumuskan

permasalahan PT PJB UPHT Gresik yang akan diselesaikan pada penelitian ini

adalah bagaimana merancang dokumen tata kelola service operation TI tentang

ICR sehingga diperoleh panduan untuk melakukan improvement pada indikator

(10)

4

1.3Batasan Masalah

Dalam penelitian di PT PJB UPHT Gresik, lingkup pembahasan dibatasi

pada :

1. Rancangan dokumen tata kelola service operation TI pada kinerja proses hanya

dilakukan untuk sub bagian Sumber Daya Manusia khususnya bagian ICR.

2. Rancangan dokumen tata kelola service operation TI pada ICR menggunakan

pedoman penilaian kontrak kinerja unit dan proses service operation pada ITIL

V3.

3. Rancangan dokumen tata kelola service operation TI dilakukan sampai tahap

plan solution.

1.4Tujuan

Tujuan dalam penelitian ini adalah merancang dokumen tata kelola service

operation TI pada ICR yang mengacu pada pedoman penilaian kontrak kinerja unit

dan service operation di ITIL V3. Hasil akhir dalam merancang dokumen tata

kelola service operation TI pada ICR berupa POB dan IK.

1.5Manfaat Penelitian

Penelitian ini akan menghasilkan manfaat bagi perusahaan PT PJB UPHT

Gresik terkait dengan tata kelola service operation TI pada ICR :

Dengan diberikannya langkah-langkah tata kelola service operation TI tentang ICR

yang sesuai dan mengacu pada pedoman penilaian kontrak kinerja unit dan service

operation di ITIL V3 maka akan terbentuk dokumen secara terstruktur sehingga

(11)

1.6Sistematika Penulisan

Agar para pembaca dapat memahami dengan mudah persoalan dan

pembahasanya, maka penulisan dari penelitian tugas akhir ini akan dibuat dengan

sistematika yang terdiri dari beberapa bab yang di dalamnya terdapat penjabaran

masalah, yakni :

Pada bab pertama ini akan membahas tentang perumusan dan penjelasan

masalah umum, sehingga diperoleh suatu gambaran umum mengenai seluruh

penelitian yang dilakukan oleh penulis. Bab ini akan menyangkut beberapa masalah

yang akan dibahas mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan

masalah, tujuan, manfaat penelitian, dan dilanjutkan oleh sistematika penulisan.

Pada bab kedua ini akan membahas tentang teori penunjang yang

menjelaskan secara singkat mengenai landasan teori yang berkaitan dengan

permasalahan dari penelitian tugas akhir mengenai tata kelola teknologi informasi,

ITIL service operation, dan pedoman kontrak kinerja unit.

Pada bab ketiga membahas mengenai metode penelitian. Metode

penelitian dalam tata kelola teknologi informasi terdiri dari identify needs, envision

solution, dan plan solution.

Pada bab keempat membahas mengenai hasil dan pembahasan dari bab

ketiga mengenai metode penelitian. Hasil dan pembahasan ini mengenai identify

needs, envision solution, dan plan solution

Pada bab kelima ini akan membahas mengenai kesimpulan dari pembuatan

perancangan tata kelola service operation teknologi informasi pada Information

(12)

6

ada, serta saran untuk pengembangan perancangan tata kelola service operation

teknologi informasi di masa mendatang.

(13)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

Menurut Jogiyanto dan Abdillah (2010), pemanfaatan teknologi informasi

(TI) pada sebagian besar perusahaan saat ini bukan lagi menjadi barang langka yang

sulit ditemukan. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa teknologi informasi telah

menjadi kebutuhan sekaligus persyaratan bagi organisasi dalam menjalankan

bisnisnya. TI sangat dibutuhkan organisasi untuk membantu mencapai tujuannya,

namun pengadaan TI membutuhkan investasi yang besar. Investasi TI yang sudah

dikeluarkan perusahaan harus dapat dijalankan dengan maksimal. TI pada

organisasi tidak cukup hanya diatur (manage) oleh bagian TI saja, tetapi harus

dikelola (govern) secara profesional. Pengelolaan TI yang profesional disebut

sebagai tata kelola teknologi informasi (IT Governance).

2.1Tata Kelola Teknologi Informasi

Menurut Surendro (2009), tata kelola teknologi informasi merupakan

bagian terintegrasi untuk pengelolaan perusahaan yang mencakup kepemimpinan,

struktur, serta proses organisasi yang memastikan bahwa teknologi informasi

perusahaan dapat digunakan untuk mempertahankan dan memperluas strategi dan

tujuan organisasi. Tata kelola teknologi informasi merupakan bagian yang

terintegrasi untuk pengelolaan perusahaan yang mencakup kepemimpinan, struktur

serta proses organisasi yang memastikan bahwa teknologi informasi perusahaan

dapat dipergunakan untuk mempertahankan dan memperluas strategi dan tujuan

organisasi. Menurut itSMF (2007), tata kelola TI terdiri dari kerangka struktur yang

(14)

8

menyediakan struktur yang menghubungkan proses TI, sumber daya TI, dan

informasi mengenai strategi dan tujuan perusahaan.

Pada Gambar 2.1 menjelaskan tentang siklus tata kelola TI yang dimulai

tujuan atau sasaran yang akan dilakukan dalam suatu perusahaan. Di setiap tujuan

atau sasaran dalam perusahaan harus terdapat control, yang mengarah kepada

aktivitas TI. Di dalam arahan tersebut terdapat perencanaan, melakukan, memeriksa

dan memperbaiki yang nantinya terdapat dalam dokumen aktivitas TI. Setelah

dokumen aktivitas TI sudah terisi dengan hasil pemeriksaan dan perbaikan maka

setelah itu hasil akan dilaporkan untuk dikontrol ulang. Proses ini akan terus

berulang untuk menghasilkan laporan tata kelola TI yang berkualitas yang sesuai

dengan kebutuhan perusahaan.

Tata kelola TI dalam proses kegiatanya dibutuhkan suatu Prosedur Operasi

Baku (POB) dan Instruksi Kerja (IK). Menurut itSMF (2007), Prosedur Operasi

Baku adalah cara tertentu untuk melaksanakan suatu kegiatan atau proses. Prosedur

Operasi Baku dapat bervariasi dalam pembentukannya tergantung kepada

organisasi. Instruksi Kerja adalah bagaimana satu atau lebih kegiatan dalam

prosedur yang harus dilakukan secara rinci, menggunakan teknologi atau sumber

daya lainnya.

(15)

Dalam implementasi tata kelola TI membutuhkan proses evaluasi karena

kesuksesan pelaksanaan TI harus dapat terukur melalui metrik tata kelola TI.

Menurut Jogiyanto dan Abdillah (2010:7), ada lima hal penting di dalam tata kelola

TI yaitu :

1. Adanya perubahan peran TI, dari peran efisien ke peran strategis yang harus

ditangani di level korporat.

2. Banyak proyek TI strategis yang penting namun gagal dalam pelaksanaannya

karena hanya ditangani oleh pihak teknisi TI.

3. Keputusan TI di dewan direksi sering bersifat ad hoc atau tidak terencana dengan

baik.

4. TI merupakan pendorong utama proses transformasi bisnis yang memberi imbas

penting bagi organisasi dalam mencapai misi, visi dan tujuan strategis.

5. Kesuksesan pelaksana TI harus dapat terukur melalui metrik tata kelola TI.

Untuk dapat berhasil, TI tidak cukup hanya diatur (manage) oleh

departemen TI saja, tetapi harus ditata kelola (govern) ditingkat korporasi.

Perbedaan pendapat tentang konsep tata kelola TI tidak lepas dari perdebatan

tentang konsep mengatur TI dan menata kelola TI. Selain itu ada perbedaan

mendasar antara mengatur (manage) dengan menata kelola (govern). Makna

mengatur (manage) lebih sempit dibanding menata kelola (govern). Mengatur

(manage) TI oleh departemen TI merupakan bagian menata kelola (govern) TI

korporasi. Mengatur TI hanya menunjuk pada serangkaian mekanisme di

departemen TI untuk menghasilkan suatu keputusan spesifik TI, sedangkan menata

(16)

10

pihak–pihak, baik di departemen TI maupun di luar departemen TI, yang membuat

dan berkontribusi dalam pembuatan keputusan TI.

Menurut Van Grembergen (2003), Tata kelola yang efektif tidak

tergantung kepada CIO dan eksekutif TI, tetapi adalah tanggung jawab bersama

dalam suatu perusahaan sehingga menjadi komitmen bersama untuk

mempertahankan dan memaksimalkan nilai bisnis di dalam pengelolaan bisnis TI.

Menurut De Haes dan Van Grembergen (2004), Tata kelola TI dapat digunakan

menggunakan campuran dari struktur, proses dan mekanisme relasional. Struktur

melibatkan adanya fungsi yang bertanggung jawab seperti eksekutif TI dan

keseluruhan komite TI. Proses mengacu kepada pengambilan keputusan yang

strategis dan juga pemantauan. Sedangkan untuk mekanisme relasional ini

termasuk partisipasi bisnis TI, dialog strategis, pelatihan dan komunikasi yang baik.

Tabel 2.1 Structures, Processes and Relational Mechanisms for IT Governance (De Haes dan Van Grembergen 2004:2)

Integration Strategy

Structures Processes Relational Mechanisms

Tacties IT executives and accounts Committees and councils Strategic IT Decision-making Strategic IT monitoring Stakeholder participation Business/IT partnerships Strategic dialog Shared learning

Mechanisme oRoles and Responsibilities

oIT organization

structure

oCIO on board

oIT strategy

committee

oIT steering

committee(s) o Strategic information systems planning o Balanced (IT) scorecards o Information economics oActive participation by principal stakeholders oCollaboration between principal stakeholders oShared understanding of business/IT objectives

oActive conflict

Resolution

(17)

Integration Strategy

Structures Processes Relational Mechanisms

o Service

level

agreements

o COBIT and

ITIL o IT alignment/ governance maturity models o Partnership rewards and incentives o Business/IT colocation oCrossfunctional business/IT training oCrossfunctional business/IT job rotation

Dalam penerapan Tata kelola TI yang menggunakan campuran dari

struktur, proses dan mekanisme relasional seperti Tabel 2.1 memerlukan tahapan

dalam penyelesaian. Menurut ITGI (2007), Road Map to IT Governance terdiri dari

identify needs, envision solution, plan solution, implement solution, operationalise

solution.

Menurut ITGI (2007), terdapat peran bagi manajemen teknologi informasi

dalam setiap fase yang telah digambarkan pada Gambar 2.2 tentang Road Map to

IT Governance diantaranya :

1. Identify Needs, peran dalam fase ini adalah mengumpulkan persyaratan dan

sasaran dari semua pihak, mendapatkan data mengenai pendekatan dan ruang

lingkup. Menyediakan saran ahli dan pedoman mengenai teknologi informasi,

dan memastikan bisnis dan eksekutif memahami dan mengapresiasikan seluruh

(18)

12

2. Envision solution, peran dalam fase ini adalah untuk menerapkan penilaian

professional dalam mengformulasikan perbaikan rencana prioritas dan inisiatif.

Memastikan penilaian yang terbuka dan adil pada aktivitas-aktivitas teknologi

informasi. Memperoleh kesesuaian data atas suatu target yang diperlukan dan

memastikan bahwa solusi yang dipikirkan selaras dengan tujuan teknologi

informasi.

3. Plan Solution, peran dalam fase ini adalah untuk memastikan bahwa rencana

program dapat dijalankan dan masuk akal. Manajemen teknologi informasi

juga memastikan bahwa rencana dapat dicapai dan terdapat sumber daya untuk

menjalankan rencana.

Selain terdapat peran bagi manajemen teknologi informasi dalam setiap

fase, juga terdapat aturan yang jelas tentang Road Map to IT Governance yaitu

mengenai manajemen harus :

1. Memperlakukan inisiatif implementasi sebagai suatu aktivitas program dengan

serangkaian fase. Dalam hal ini, jangan memperlakukan inisiatif implementasi

sebagai suatu langkah ‘one-off’.

2. Mengingatkan bahwa implementasi melibatkan perubahan budaya serta proses

baru. Oleh karena itu, kunci sukses utama adalah manajemen perubahan

organisasi yang efektif.

3. Memastikan terdapat pemahaman yang jelas tentang tujuan yang ada.

4. Mengelola ekspektasi. Pada sebagian besar perusahaan, mencapai pengawasan

teknologi informasi yang berhasil memerlukan waktu dan merupakan proses

(19)

5. Memfokuskan terlebih dahulu pada bagian yang termudah dalam membuat

perubahan dan memberikan perbaikan, dan secara inkremental membangun

sukses.

6. Mendapatkan buy-in dan ownership manajemen tingkat atas. Kebutuhan

didasarkan pada prinsip mengelola investasi dalam teknologi informasi dan

perubahan karena teknologi informasi.

7. Menghindari inisiatif dipandang sesuatu yang bersifat birokrasi semata.

8. Menghindari pendekatan checklist yang tidak fokus.

Pengumpulan informasi yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian

adalah dengan cara wawancara. Menurut Sudaryono,dkk (2010), berdasarkan sifat

pertanyaan, wawancara dapat dibedakan menjadi :

(20)

14

1. Wawancara terpimpin adalah wawancara dalam pertanyaan yang diajukan

menurut daftar pertanyaan yang telah disusun.

2. Wawancara bebas adalah wawancara yang dilakukan tanya-jawab bebas antara

pewawancara dan responden, tetapi pewawancara menggunakan tujuan

penelitian sebagai pedoman. Kelebihan wawancara ini adalah responden tidak

menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang diwawancari.

3. Wawancara bebas terpimpin adalah wawancara yang merupakan perpaduan

antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Dalam pelaksanaanya,

pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang

hal-hal yang akan ditanyakan.

Dari ketiga sifat pertanyaan ini yang akan digunakan dalam pengumpulan

informasi menggunakan wawancara bebas terpimpin. Untuk tahapan identify needs

poin-point pertanyaan wawancara didapatkan dari tasks pada tahapan yang berada

pada Road Map to IT Governance. Sedangkan untuk tahapan Envision solution

poin-point pertanyaan wawancara didapatkan dari buku penilaian kontrak kinerja

unit dan buku feedback reports.

2.2ITIL Service Operation

ITIL service operation dipilih untuk digunakan dalam penelitian ini karena

tujuan service operation mendukung tujuan perusahaan yaitu menyediakan

pelayanan jasa pemeliharaan instalasi pembangkit yang telah terencana dengan

tingkatan tertentu yang disepakati. Menurut Jogiyanto dan Abdillah (2010),

Information Technology Infrastructure Library (ITIL) adalah seperangkat konsep

dan praktik untuk mengelola layanan TI, pengembangan, dan operasi TI. ITIL

(21)

komprehensif tugas dan prosedur yang di dalam setiap organisasi dapat

menyesuaikan dengan kebutuhan sendiri. Menurut ITGI dan OGC (2008), COBIT

dan ISO/IEC 27002 digunakan untuk membantu menentukan apa yang harus

dilakukan sedangkan ITIL menyediakan cara aspek manajemen pelayanan.

ITIL V3 terdiri atas 5 bagian yaitu service strategy, service design, service

transition, service operation, dan continual service improvement phase. Kelima

bagian ITIL V3 yang mendukung untuk penelitian pada PT PJB UPHT Gresik

adalah service operation. Menurut itSMF (2007), service operation di dalam ITIL

V3 mempunyai tujuan adalah mengkoordinasikan dan memenuhi kegiatan proses

yang diperlukan untuk menyediakan serta mengelola layanan bagi pengguna bisnis

dan pelanggan dengan tingkatan tertentu yang disepakati. Layanan operasional ini

juga bertanggung jawab atas pengelolaan teknologi yang dibutuhkan untuk

menyediakan dan mendukung suatu layanan. Untuk cakupan layanan operasional

ini sendiri meliputi layanan, proses pelayanan manajemen, teknologi, dan

orang-orang.

Menurut itSMF (2007), service operation dapat ditingkatkan dengan dua

cara yaitu :

1. Perbaikan jangka panjang yang bertahap, ini didasarkan pada hasil peninjauan

terhadap kinerja dan keluaran semua kegiatan yang telah dilakukan pada proses

layanan operasional.

2. Jangka Pendek atau yang sedang berlangsung. Proses perbaikan layanan

operasional ini didasarkan pada sebuah proses kecil yang mengakibatkan

(22)

16

Dalam ITIL V3 service operation terdapat proses yang saling terhubung

untuk memberikan panduan IT secara efektif. Menurut OGC (2007), terdapat lima

proses service operation yaitu :

1. Event management adalah memonitor semua peristiwa yang terjadi di seluruh

infrastruktur TI.

2. Incident and problem management adalah berfokus kepada pemulihan

kegagalan pelayanan secepat mungkin bagi pelanggan, sehingga memiliki

dampak minimal terhadap bisnis.

3. Request fulfilment adalah proses penanganan permintaan layanan, di mana

proses yang terpisah digunakan untuk memenuhi kebutuhan permintaan.

4. Problem management adalah terlibat dalam menganalisis dan menyelesaikan

penyebab insiden. Selain itu mengembangkan kegiatan proaktif untuk mencegah

insiden saat ini dan masa depan.

5. Access management adalah proses yang memungkinkan pengguna layanan

untuk berwenang dalam akses. Sementara akses untuk pengguna yang sah

bersifat terbatas. Manajemen akses membantu memastikan bahwa akses ini

selalu tersedia pada waktu yang disepakati.

Proses yang terdapat pada service operation tidak akan bisa berdiri sendiri

untuk bisa menghasilkan layanan yang efektif. Sebuah infrastruktur yang stabil dan

tepat juga membutuhkan orang-orang yang terampil. Menurut OGC (2007), selain

proses ada juga fungsi yang mendukung service operation yaitu :

1. Service desk adalah sebuah unit fungsional dengan sejumlah anggota staf yang

berurusan dengan beragam peristiwa layanan/gangguan dalam layanan, untuk

(23)

Permintaan dapat masuk melalui panggilan telepon, internet atau secara otomatis

melaporkan kejadian infrastruktur. Tujuan utama service desk adalah untuk

mengembalikan layanan normal bagi pengguna secepat mungkin.

2. Technical management ini mengacu kepada departemen kelompok atau tim yang

menawarkan keahlian teknis dan umum pengelolaan infrastruktur TI. Tujuan

technical management adalah membantu dalam perencanaan, pelaksanaan dan

pemeliharaan infrastruktur untuk mendukung proses bisnis organisasi.

3. IT operations management adalah fungsi yang bertanggung jawab untuk

melakukan kegiatan operasional sehari-hari. Mereka memastikan bahwa tingkat

layanan yang telah disepakati berjalan.

4. Applications management adalah aplikasi yang bertanggung jawab atas

pengelolaan aplikasi selama siklus hidup manajemen. Aplikasi manajemen juga

memainkan peran penting dalam merancang, menguji dan meningkatkan

aplikasi yang merupakan bagian layanan TI. Tujuan aplikasi manajemen adalah

untuk mendukung proses bisnis organisasi dengan menentukan persyaratan

fungsional dan manajemen untuk aplikasi.

Menurut OGC (2007), faktor penentu keberhasilan service operation

adalah sebagai berikut :

1. Management Support

Dalam hal ini dukungan manajemen tingkat atas dan tingkat menengah dalam

layanan TI diperlukan untuk layanan operasional. Hal ini penting untuk

menjamin dan memadai pendanaan serta sumber daya. Manajemen tingkat atas

(24)

18

manajemen menengah juga harus memberikan tindakan dukungan yang

diperlukan.

2. Business Support

Hal ini juga penting bahwa layanan operasional ini didukung oleh unit bisnis. Ini

akan bekerja lebih baik jika staf layanan operasional melibatkan unit bisnis

dalam semua kegiatan mereka, dan menunjukkan tentang keberhasilan dan

kegagalan. Konsultasi rutin dengan unit bisnis sangat penting untuk membangun

hubungan yang baik dan untuk memastikan dukungan yang diberikan. Layanan

operasional akan lebih baik digunakan untuk menilai keinginan dan kepentingan

bisnis.

3. Staffing and retention

Memiliki jumlah karyawan yang sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan

karena hal ini penting untuk keberhasilan service operation.

4. Service Management Training

Kesadaran atas adanya pelatihan yang baik dapat memberikan keuntungan besar.

Selain keahlian meningkat, pelatihan dapat membangkitkan antusiasme pada

orang. Layanan manajemen hanya akan berhasil jika orang-orang fokus pada

tujuan manajemen layanan secara keseluruhan.

5. Suitable Tools

Banyak proses kegiatan layanan manajemen tidak dapat efektif dijalankan tanpa

dukungan alat yang tepat. Manajemen yang lebih tinggi harus memastikan

bahwa pembiayaan untuk alat tersebut termasuk dalam anggaran tahunan, dan

(25)

6. Validity of testing

Kualitas layanan TI yang disediakan oleh layanan operasional tergantung pada

kualitas sistem dan komponen yang disampaikan dalam lingkungan operasional.

Tingkat kualitas akan meningkatkan pengujian yang cukup solid dan lengkap

jika komponen baru dirilis dalam waktu yang tepat. Dokumentasi juga harus

diuji untuk kelengkapan dan kualitas.

7. Measuring and Reporting

Diperlukan suatu perjanjian yang jelas mengenai cara item diukur dan

dilaporkan, sehingga semua karyawan akan memiliki pedoman yang jelas

tentang TI dan manajer bisnis akan dapat dengan cepat mengevaluasi.

2.3Pedoman Penilaian Kontrak Kinerja Unit

Dalam pencapian visi dan misinya, PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) telah

menentapkan pedoman penilaian kontrak kinerja unit. Pedoman penilaian kontrak

kinerja unit ini digunakan untuk panduan dalam mencapai, bahkan melampaui

target-target yang telah ditetapkan.

Menurut PT PJB (2012), tujuan ditetapkan kontrak kinerja unit/badan

adalah :

1. Sebagai pedoman dalam menetapkan pencapaian nilai kinerja unit dengan

prinsip proporsional dan keadilan.

2. Sebagai guidance/petunjuk di dalam implementasi kontrak kinerja, sehingga

dapat memenuhi target yang telah ditetapkan.

3. Sebagai panduan dalam pelaksanaan assessment yang dilaksanakan secara

(26)

20

4. Dengan penambahan unit dan badan assessment serta penambahan stream,

adalah upaya meningkatkan maturity level pada tata kelola perusahaan yang ada.

Menurut PT PJB (2012), yang dinilai oleh subdit teknologi informasi

adalah ICR. ICR berada pada bagian sumber daya manusia dan pada indikator

kinerja proses lihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Penetapan Nilai Kontrak Kinerja PT PJB UPHT (PT PJB:2012)

2.3.1 Information Capital Readiness (ICR)

Menurut PT PJB (2012), ICR merupakan suatu modal kesiapan informasi

yang dimiliki oleh PT PJB untuk mengelola infrastructure, bussiness process

management dan information manajemen untuk keberlangsungan proses bisnisnya.

Infrastructure menjelaskan tentang ketersediaan layanan dan kesiapan

infrastruktur. Bussiness Process Management menjelaskan tentang peningkatan

(27)

Manajemen menjelaskan tentang konsistensi entry data dan peningkatan

pengelolaan informasi.

a. Infrastructure

Menurut Sarno (2009), infrastructure adalah teknologi dan fasilitas yang

memungkinkan dalam pemrosesan aplikasi, antara lain : perangkat keras, sistem

operasi, sistem database, jaringan, multimedia dan lingkungan pendukung lain.

Menurut PT PJB (2012), ketersediaan layanan infrastruktur adalah komponen vital

dalam sebuah sistem TI perusahaan. Oleh karena itu pengelolaan infrastruktur,

sumber daya manusia TI, dan infrastruktur Local Area Network (LAN) sendiri

mempengaruhi layanan TI. Pengelolaan infrastruktur meliputi pengelolaan LAN,

pengelolaan data center, pengelolaan Personal Computer (PC), komplain, dan

virus, yang satu sama lain sangat mempengaruhi jalannya aplikasi TI dan

ketersediaan layanan LAN.

Kesiapan infrastruktur merupakan salah satu hal penting dalam

mendukung berjalannya informational capital, karena infrastruktur merupakan

pondasi kegiatan aplikasi dalam suatu gedung TI. Infrastruktur yang harus

disiapkan untuk menjaga ketersediaan aplikasi TI pada aspek ICR meliputi

penerapan standar infrastruktur yang terdiri dari:

a. standardisasi koneksi LAN/ Wide Area Network (WAN),

b. manajemen PC user,

c. standardisasi data center,

d. standardisasi security LAN/ WAN,

(28)

22

b. Business Process Management

Menurut Waske (2007), business process management adalah pemahaman

atas aturan manajemen dalam proses bisnis organisasi. Menurut PT PJB (2012),

peningkatan kompetensi penggunaan aplikasi TI di dalam proses bisnis perusahaan

akan mempercepat proses dan efisiensi biaya. Monitoring dan controlling unit akan

bisa dilakukan secara cepat dan akurat. Namun apabila data yang masuk ke dalam

sistem TI tidak lengkap dan akurat, maka proses bisa dianggap sama dengan

manual. Aplikasi Core Business yang paling urgent untuk dilaksanakan adalah

Ellipse dan Manajemen Energi.

Peningkatan konsistensi penggunaan aplikasi TI bertujuan untuk

meningkatkan budaya penggunaan TI dalam proses bisnis perusahaan dengan cara

menjamin setiap transaksi TI dilakukan dengan benar sesuai dengan Prosedur

Operasi Baku (POB) yang ada, sehingga data yang masuk ke Sistem Informasi

Terpadu (SIT) merupakan data yang benar dan akurat. Keakuratan data dapat

memudahkan analisis oleh manajemen untuk membantu pengambilan keputusan

yang tepat. Keputusan yang diambil dengan menggunakan analisis yang akurat

diharapkan dapat memudahkan dan meningkatkan pengelolaan proses bisnis di

setiap unit. Terdapat tiga hal yang harus di assessment yaitu:

1. Pencetakan report standart rutin.

2. Ketersediaan POB dan buku pelatihan penggunaan aplikasi TI.

3. Terdapat aplikasi tools monitoring data TI.

c. Information Management

Menurut Effendy (1989), information management adalah suatu informasi

(29)

dipergunakan dalam rangka pengambilan keputusan. Menurut PT PJB (2012),

information management dapat dilihat pada konsistensi entry data, peningkatan

kompetensi analisis data Sistem Informasi Terpadu (SIT) dan pemanfaatan

balanced scorecard untuk monitoring kinerja unit.

Peningkatan pengelolaan informasi dilakukan dengan meningkatkan

fungsi analisis data SIT di unit dan monitoring kinerja unit melalui dashboard dan

balanced scorecard perusahaan. Maturity pengelolaan informasi ini dibagi menjadi

dua area yaitu konsistensi entry data dan peningkatan analisis data SIT dan area

pemanfaatan dashboard dan balanced scorecard perusahaan oleh manajemen

(30)

24

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada Bab III dalam pelaksanaan tata kelola Teknologi Informasi (TI) akan

membahas tentang perencanaan. Pembahasan mencakup semua aktivitas yang

dilakukan dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan yang didapat. Gambar 3.1

[image:30.595.93.530.282.593.2]

merupakan alur dari serangkaian kegiatan metode penelitian.

Gambar 3.1Road Map to IT Governance (ITGI 2007 : 10)

Langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan secara garis besar telah

dijelaskan pada Gambar 3.1 yang terdiri dari identify needs, envision solution, plan

solution, implement solution, dan operationalise solution. Tetapi dalam penelitian

(31)

solution dan operationalise solution membutuhkan beberapa proses dan waktu

pengerjaanya yang panjang. Implement solution membutuhkan proses yaitu

implement the improvements, monitor implementation performance, and review

programme effectiveness. Pelaksanaan implement solution membutuhkan waktu 6

bulan dalam pelaksanaanya karena pada tahapan ini terdapat proses review setelah

implementasi dan monitoring perbaikan. Selain itu pada tahapan berikutnya

operationalise solution membutuhkan proses build sustainability and identify new

governance requirements. Pelaksanaan operationalise solution baru bisa

dilaksanakan setelah hasil dari implement solution berupa review programme

effectiveness telah dihasilkan. Pada tahapan operationalise solution tahapan yang

dilakukan yaitu peninjauan ulang untuk proses review programme effectiveness dan

merencanakan perbaikan secara maksimal yang berguna untuk mempertahankan

tata kelola TI bagi perusahaan.

Langkah-langkah pada Gambar 3.2 merupakan suatu alur gambar yang

akan digunakan untuk menyusun tata kelola TI. Pada Gambar 3.2 terdapat input,

(32)
[image:32.595.98.504.96.491.2]

26

Gambar 3.2 Langkah-Langkah Kegiatan Metode Penelitian

3.1 Identify Needs

Pada tahapan ini, ada empat hal yang harus dilakukan untuk identifikasi

sebuah kebutuhan.Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3.3 yang menjelaskan tentang

alur dari Alur Identify Needs.

Pada alur Identify Needs dijelaskan langkah-langkah dalam pengerjaan

antara lain mendapatkan komitmen dan kepedulian manajemen, mendefinisikan

lingkup kegiatan berdasarkan buku pedoman PT PJB, mendefinisikan risiko, dan

mendefinisi sumber daya. Identify Needs mempunyai peran sebagai kumpulan

persyaratan dan sasaran dari semua pihak untuk mendapatkan persetujuan

mengenai pendekatan dan ruang lingkup. Bagi manajemen teknologi informasi

(33)

semua pihak. Selain itu Identify Needs menyediakan saran ahli dan pedoman

mengenai teknologi informasi, memastikan bisnis dan eksekutif memahami dan

mengapresiasi seluruh isu kunci permasalahan. Identify Needs akan menghasilkan

rencana program yaitu tata kelola TI untuk information capital readiness (ICR).

Cara yang digunakan untuk identifikasi kebutuhan adalah studi literatur dan

wawancara dengan pihak perusahaan yaitu manajemen Sumber Daya Manusia

(SDM) dan SINFO.

Teks Wawancara

Kumpulan Dokumen Wawancara

Analisis

Buku Pedoman PT PJB Lingkup Kegiatan

ICR

Mendefinisikan resiko dan Sumber Daya

[image:33.595.89.507.253.525.2]

Rencana Program

Gambar 3.3 Alur Identify Needs

3.1.1 Mendapatkan Komitmen dan Kepedulian Manajemen

Pada tahapan mendapatkan komitmen dan kepedulian manajemen langkah

yang akan dikerjakan yaitu melakukan wawancara dengan pihak manajemen PT.

PJB UPHT. Salah satu contoh pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan

detailnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Selain melakukan wawancara apabila

terdapat kebijakan, atau buku yang mengatur tentang komitmen dan kepedulian

manajemen tentang tata kelola khususnya TI maka akan dilakukan analisis tentang

dokumen tersebut. Hasil pada tahapan ini adalah memperoleh informasi tentang

(34)
[image:34.595.95.514.108.519.2]

28

Tabel 3.1 Contoh Pertanyaan Mendapatkan Komitmen dan Kepedulian Manajemen

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

Komitmen Perusahaan

1 Apakah terdapat komitmen dari PT PJB dalam hal tata kelola khususnya dalam TI?

2 Dari mana komitmen tata kelola khususnya TI itu berasal?

3 Dalam Bentuk apakah Komitmen tata kelola khususnya TI?

Pelaksanaan Komitmen

7 Apakah terdapat peninjauan ulang tentang komitmen yang telah disusun perusahaan?

8 Dalam Bentuk apa peninjauan tersebut dilakukan?

9 Peninjauan tersebut dilakukan apakah dilakukan secara rutin, kalau ya berapa bulan sekali?

3.1.2 Mendefinisikan Lingkup Kegiatan Berdasarkan Buku Pedoman PT PJB

Pada tahapan mendefiniskan lingkup kegiatan berdasarkan buku pedoman

PT PJB langkah yang akan dikerjakan yaitu melakukan wawancara dengan pihak

manajemen SDM UPHT. Sebelum melakukan wawancara tahapan yang dilakukan

adalah melakukan analisis isi dari buku pedoman yang menjelaskan bahwa untuk

lingkup TI berada pada ICR dimana untuk ICR yang bertanggung jawab dalam

penilaian adalah sub direktorat teknologi informasi. Selain itu ICR membahas

tentang infrastruktur yang harus dikelola sedangkan untuk human capital readiness

(HCR) membahas tentang manajemen karyawan, dan organizational capital

readiness (OCR) tentang manajemen organisasi. Dilihat dari siapa yang

(35)

bertanggung jawab dan apa yang dibahas juga dilihat nilai realisasi yang dihasilkan

ICR. Penilaian realisasi ICR di dalam indikator kinerja proses untuk semester ini

juga paling rendah dibandingkan kegiatan lain di indikator sumber daya manusia

misalnya HCR mempunyai nilai KPI 4,15, OCR mempunyai nilai KPI 3,86 dan

ICR mempunyai nilai KPI 3,50 dari target yang diinginkan kantor pusat adalah

4,05. Penetapan target nilai KPI 4,05 didapatkan dari hasil kajian penilaian ICR

yang dilakukan kantor pusat semester sebelumnya karena setiap semester terdapat

peninjauan ulang untuk penetapan target nilai. Perhitungan nilai untuk key

performance indicator (KPI) dan maturity level sendiri telah diatur di dalam buku

pedoman yaitu untuk pencapaian mempunyai rumusan = (realisasi : rencana) x

100%, sedangkan untuk nilai mempunyai rumusan = persen nilai x bobot. Range

nilai bobot dan target antara 1 sampai 5.

Salah satu contoh pertanyaan tentang pemahaman tentang lingkup TI dapat

dilihat pada Tabel 3.2 dan detailnya dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil pada

tahapan ini adalah memperoleh informasi dan pemahaman tentang lingkup TI yang

terdapat di dalam buku pedoman PT PJB UPHT.

Tabel 3.2 Contoh Pertanyaan Pemahaman tentang Lingkup TI

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Di dalam buku pedoman apakah terdapat komitmen tentang lingkup dalam bidang TI?

2 Untuk ICR dalam pelaksanaan pada PJB UPHT, siapa yang melaksanakanya?

3 Untuk ICR apa saja yang dibahas?

(36)

30

3.1.3 Mendefinisikan Risiko

Untuk tahapan setelah mendapatkan informasi tentang komitmen,

kepedulian manajemen dan lingkup kegiatan bedasarkan buku pedoman PT PJB,

tahap selanjutnya adalah mendefinisikan risiko berdarkan lingkup kegiatan ICR

yang telah dijelaskan pada tahap sebelumnya. Pada tahapan mendefiniskan risiko

langkah yang akan dikerjakan yaitu melakukan wawancara dengan pihak SINFO.

Risiko sendiri adalah bahaya yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang

berlangsung. Salah satu contoh pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan

detailnya dapat dilihat pada Lampiran 5. Hasil pada tahapan ini adalah memperoleh

informasi tentang risiko yang akan timbul apabila setiap kegiatan di dalam ICR

tidak terlaksana. Hasil wawancara ini juga diperkuat dari keterangan dokumen

[image:36.595.90.514.298.626.2]

feedback reports bahasan OFI pada lampiran 2.

Tabel 3.3 Contoh Pertanyaan Mendefinisikan Risiko

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Di dalam ICR apa saja bahasan harus diperhatikan untuk menentukan risiko?

2 Dokumen apa yang menjadi dasar untuk mengetahui risiko yang terjadi di dalam bahasan ICR?

3 Apa resiko yang akan muncul apabila tidak terdapat pengelolaan dan kesiapan dalam infrastructure?

3.1.4 Mendefinisikan Sumber Daya

Untuk tahapan setelah mendapatkan informasi tentang komitmen,

kepedulian manajemen dan lingkup kegiatan bedasarkan buku pedoman PT PJB,

mendefinisikan risiko dan tahap selanjutnya adalah mendefinisikan sumber daya.

(37)

Tahapan ini terdiri dari dua hal yang akan dibahas yaitu tentang menentukan standar

yang dipakai dan mendefinisikan organisasi program.

a. Menentukan Standar Yang Dipakai

Menentukan standar yang dipakai digunakan untuk mendefinisikan kerangka

kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Menentukan standar yang

dipakai untuk prosesnya bisa melihat dari hasil analisis wawancara pada proses

mendapatkan komitmen, kepedulian manajemen dan lingkup kegiatan

berdasarkan buku pedoman PT PJB. Setelah analisis didapat barulah bisa

menentukan standar apa yang sesuai dengan tata kelola TI perusahaan untuk

ICR. Analisis ini didapat dari buku pedoman kontrak kinerja unit dan dari proses

bisnis perusahaan. Setelah analisis ini dilakukan barulah bisa menentukan

standar apa yang sesuai untuk mendukung proses pengerjaan tata kelola TI.

b. Mendefinisikan Organisasi Program

Pada tahapan mendefiniskan organisasi program langkah yang akan dikerjakan

yaitu melakukan wawancara dengan pihak SINFO. Salah satu contoh pertanyaan

tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.4 dan detailnya dapat dilihat pada Lampiran

6. Hasil pada tahapan ini adalah memperoleh informasi tentang struktur

organisasi dengan peran dan tanggung jawab yang jelas, dan sumber daya yang

diperlukan untuk menjalankan program tata kelola teknologi informasi.

Tabel 3.4 Contoh Pertanyaan Mendefinisikan Organisasi Program

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Apakah terdapat staff TI khusus untuk menerima semua informasi gangguan atau pertanyaan dari pengguna bisnis?

2 Menurut bapak apakah perlu adanya

(38)

32

informasi gangguan atau pertanyaan dari pengguna bisnis?

3 Perlukah ada pembagian tugas untuk

staff SINFO dalam pengerjaan ICR?

3.1.5 Rencana Program

Rencana program merupakan hasil dari Identify Needs. Rencana program

ini membutuhkan masukan dari kesimpulan hasil wawancara komitmen,

kepedulian manajemen, lingkup kegiatan berdasarkan buku pedoman PT PJB,

definisi risiko, definisi sumber daya dan hasilnya. Rencana program dalam

prosesnya terdapat dua hal yang dibahas yaitu mendefiniskan timeline, pendekatan,

dan metodologi serta mengkomunikasikan tujuan dan sasaran.

a. Mendefinisikan timeline, pendekatan,dan metodologi

Pada tahapan mendefinisikan timeline, pendekatan, dan metodologi yang

dikerjakan yaitu melakukan analisis lingkup ICR yang terdapat pada buku

pedoman penilaian kontrak kinerja unit dan wawancara dengan pihak SINFO.

Sebelum melakukan wawancara akan dilakukan analisis lingkup ICR yang

terdapat pada buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit yang digunakan

sebagai acuan untuk menentukan timeline, pendekatan, dan metodologi yang

dilakukan. Salah satu contoh pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.5

dan detailnya dapat dilihat pada Lampiran 9. Hasil pada tahapan ini adalah

memperoleh informasi tentang timeline, pendekatan,dan metodologi yang

dilakukan untuk mempersiapkan dan mengontrol kinerja dari ICR.

(39)

Tabel 3.5 Contoh Pertanyaan Timeline, Pendekatan,dan Metodologi

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Apakah terdapat timeline ditiap masing-masing proses di dalam ICR?

2 Siapa yang bertanggung jawab dalam menentukan timeline ditiap masing-masing proses di dalam ICR?

3 Apa manfaat adanya timeline ditiap masing-masing proses di dalam ICR?

b. Mengkomunikasikan Tujuan dan Sasaran

Pada tahapan mengkomunikasikan tujuan dan sasaran yaitu memastikan bahwa

seluruh pihak yang terkena pengaruh telah dilibatkan dan berkomitmen

mengenai sasaran dan pendekatan program perbaikan ICR. Tahapan ini

dilakukan dengan cara wawancara dengan pihak SINFO. Salah satu contoh

pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.6 dan detailnya dapat dilihat pada

Lampiran 10. Hasil pada tahapan ini adalah mendapatkan alur komunikasi antara

bagian bisnis dan TI.

Tabel 3.6 Contoh Mengkomunikasikan Tujuan dan Sasaran

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Mengapa komunikasi antara bisnis dan TI perlu untuk didefinisikan?

2 Apakah di PT PJB UPHT terdapat aturan yang menjelaskan tentang komunikasi antara bisnis danTI?

3 Sebelum terjalin komunikasi hal apa yang harus didefinisikan?

Dan seterusnya.

(40)

34

3.2 Envision Solution

Envision Solution mempunyai peran untuk memperoleh persetujuan atas

suatu target kemampuan yang diperlukan dan memastikan bahwa solusi yang

dipikirkan selaras dengan tujuan teknologi informasi. Hal ini dapat dilihat pada

Gambar 3.4 yang menjelaskan tentang alur Envision Solution.

Pada alur Envision Solution dijelaskan langkah-langkah dalam pengerjaan

antara lain membutuhkan masukan dokumen tentang rencana program yang akan

dilaksanakan. Langkah selanjutnya adalah melakukan wawancara dengan pihak

SINFO untuk mengetahui isi dan kegunaan dari dokumen Feedback Reports yang

dihasilkan dari assessment kantor pusat.

Terdapat dua langkah yang harus dilakukan pada Envision Solution yaitu

menganalisis hasil dari Feedback Reports dan mendefinisikan target perbaikan

yang diperoleh dari buku pedoman kontrak kinerja unit. Dari Envision Solution

yang dilakukan ini akan mendapatkan hasil yaitu berupa analisis kesenjangan dan

[image:40.595.90.506.301.711.2]

identifikasi perbaikan.

Gambar 3.4 Alur Envision Solution

Rencana Program

Wawancara

Analisis

Kesenjangan Dan Identifikasi Perbaikan Feedback Report

Buku Pedoman PT PJB

(41)

3.2.1 Menganalisis Hasil Feedback Reports

Dari masukan rencana program yang telah disusun, langkah selanjutnya

adalah melakukan analisisis dan wawancara dengan pihak SINFO tentang isi

Feedback Reports yang telah dilakukan oleh tim assessor setiap semester.

Pertanyaan yang akan ditanyakan berisikan tentang kegunaan dan isi pembahasan

Feedback Reports. Salah satu contoh pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel

3.7 dan detailnya dapat dilihat pada Lampiran 11. Hasil pada tahapan ini adalah

[image:41.595.96.512.322.534.2]

pendefinisian tentang isi yang ada di dalam dokumen Feedback Reports.

Tabel 3.7 Contoh Pertanyaan Hasil Feedback Reports

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Siapa yang bertanggung jawab dalam mengeluarkan dokumen feedback report?

2 Kapan dokumen feedback report ini dikeluarkan?

3 Apakah Keguanaan dari dokumen

feedback report?

3.2.2 Mendefinisikan Target Perbaikan

Langkah berikutnya yang dilakukan untuk bisa mendapatkan Envision

Solution adalah setelah hasil dokumen Feedback Reports dianalisis, setelah itu

mendefinisikan target perbaikan yang akan dilakukan oleh perusahaan untuk

semester depan. Untuk target perbaikan ini langkah yang akan dilakukan adalah

menganalisis buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit dan OFI dari dokumen

Feedback Reports. Target perbaikan yang diinginkan oleh perusahaan untuk

semester depan terdapat di dalam dokumen Feedback Reports berupa OFI. OFI

(42)

36

didapatkan dari hasil diskusi yang ditelah dilakukan oleh assessor kepada setiap

unit. Untuk bisa menghasilkan suatu OFI, assessor harus mengacu kepada buku

pedoman penilaian kontrak kinerja unit. Selain buku pedoman kontrak kinerja unit

sebagai acuan, untuk menentukan target perbaikan diperoleh dari dokumen

Feedback Reports berupa OFI pada Lampiran 2. Dari dokumen Feedback Reports

berupa OFI maka akan dianalisis dan akan dijadikan satu dengan penerapan target

di dalam buku pedoman kontrak kinerja unit pada Lampiran 12.

3.2.3 Analisis Kesenjangan dan Identifikasi Perbaikan

Tahap analisis kesenjangan dan identifikasi perbaikan dilakukan untuk

menentukan kesenjangan dari proses-proses teknologi informasi yang dipilih, dan

mengubah kesenjangan ini menjadi peluang perbaikan. Analisis kesenjangan dan

identifikasi perbaikan adalah tahap akhir dari proses envision solution. Analisis

kesenjangan didapatkan dari hasil ketetapan di buku pedoman kontrak kinerja unit

dan dari OFI yang terdapat di dalam dokumen Feedback Reports. Dari hasil

kesenjangan tersebut maka akan diidentifikasi perbaikan apa yang nantinya akan

dilakukan.

Selain analisis yang dilakukan hasil ketetapan di buku pedoman kontrak

kinerja unit dan dari OFI langkah yang dilakukan adalah melakukan wawancara

dengan SINFO dari masing-masing proses di dalam ICR. Salah satu contoh

pertanyaan tentang proses infrastructure dapat dilihat pada Tabel 3.8 dan detailnya

dapat dilihat pada Lampiran 13. Salah satu contoh pertanyaan tentang proses

business process management dapat dilihat pada Tabel 3.9 dan detailnya dapat

dilihat pada Lampiran 14. Salah satu contoh pertanyaan tentang proses information

(43)

Lampiran 15. Hasil pada tahapan ini adalah mengetahui penyebab dari

masing-masing kegiatan di dalam ICR sehingga menjadi suatu analisis identifikasi

perbaikan yang akan dilakukan oleh perusahaan.

Tabel 3.8 Contoh Pertanyaan Analisis Kesenjangan Proses Infrastructure

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Apakah terdapat aturan tertulis mengenai standar dalalam penyediaan dan pengelolaan infrastructure TI dalam perusahaan?

2 Apa terdapat standar khusus yang dipakai untuk penyediaan dan pengelolaan

infrastructure perusahaan?

3 Apa saja infrastructure perusahaan yang harus disiapkan dan dikelola untuk mendukung proses bisnis perusahaan?

Tabel 3.9 Contoh Pertanyaan Analisis Kesenjangan Proses Business Process Management

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Apakah terdapat aturan tertulis mengenai pemasukan data tiap aplikasi core business perusahaan?

2 Apa saja aplikasi core business perusahaan?

3 Dimana letak penyimpanan manual

book tiap aplikasi core business?

Dan seterusnya.

(44)

38

Tabel 3.10 Contoh Pertanyaan Analisis Kesenjangan Proses Information Management

No Pertanyaan Pernyataan Dokumen Pendukung

1 Apakah terdapat aturan dan langkah-langkah tertulis mengenai menganalisa data hingga pemberian

comment pada aplikasi PBViews

yang digunakan manajemen?

2 Dimana letak penyimpanan manual

book PBViews?

3 Data apa saja yang dianalisis oleh pihak manajemen?

3.3 Plan Solution

Setelah dilakukan kedua tahapan yang telah terpenuhi diatas, tahap yang

berikutnya adalah tahapan plan solution. Plan solution ini mempunyai peran untuk

memastikan bahwa rencana program dapat direncanakan, masuk akal dan dapat

dicapai. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3.5 yang menjelaskan tentang alur dari

alur Envision Solution.

Hasil Analisa Kesenjangan dan Identifikasi Perbaikan

Dokumen POB dan IK

Standart ITIL V3

Rencana Perbaikan Analisis

Analisis

Gambar 3.5 Alur Plan Solution

Pada alur Plan Solution dijelaskan langkah-langkah dalam pengerjaan

antara lain membutuhkan masukan dari dokumen sebelumnya yaitu dokumen

(45)

analisis kesenjangan dan target perbaikan. Setelah memperoleh dokumen analisis

kesenjangan dan target perbaikan maka identifikasi perbaikan akan di padukan

dengan standar ITIL V3 Service Operation untuk dianalisis sehingga memperoleh

rencana perbaikan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Tahapan selanjutnya

adalah hasil dari rencana perbaikan tersebut setelah dipadukan oleh ITIL V3 Service

Operation dianalisis dan menghasilkan dokumen berupa Prosedur Operasi Baku

(POB) dan Instruksi Kerja (IK).

3.3.1 Menganalisis Keadaan Proyek

Tahap menganalisis keadaan proyek ini dilakukan untuk memprioritaskan

dan fokus pada proyek yang berdampak tinggi. Masukkan rencana program yang

telah disusun, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis masukkan yang

didapat dari hasil proses sebelumnya. Hasil masukkan berupa identifikasi perbaikan

dianalisis kembali untuk diklasifikasikan dan dipadukan kedalam proses yang

terdapat pada standar ITIL pada V3 service operation. Hasil pada tahapan ini adalah

perpaduan antara hasil identifikasi perbaikan dengan lima proses yang terdapat

pada standar ITIL pada V3 service operation. Pada ITIL V3 service operation

terdapat lima proses service operation yaitu :

1. Event Management adalah memonitor semua peristiwa yang terjadi di seluruh

infrastruktur TI.

2. Incident Management adalah berfokus kepada pemulihan kegagalan pelayanan

secepat mungkin bagi pelanggan, sehingga memiliki dampak minimal terhadap

bisnis.

3. Request fulfilment adalah proses penanganan permintaan layanan, dimana proses

(46)

40

4. Problem management adalah terlibat dalam menganalisis dan menyelesaikan

penyebab insiden. Selain itu mengembangkan kegiatan proaktif untuk mencegah

insiden saat ini dan masa depan.

5. Access management adalah proses yang memungkinkan pengguna layanan

untuk berwenang dalam akses. Sementara akses untuk pengguna yang sah

bersifat terbatas. Manajemen akses membantu memastikan bahwa akses ini

selalu tersedia pada waktu yang disepakati.

3.3.2 Pengembangan Rencana Perbaikan

Tahap pengembangan rencana perbaikan ini dilakukan untuk

mengintegrasikan proyek-proyek perbaikan dalam rencana program keseluruhan.

Untuk tahapan yang terakhir pada plan solution akan dilakukan pengembangan

rencana perbaikan. Dalam pengembangan rencana perbaikan yang dibutuhkan

adalah masukkan yang diperoleh dari hasil keadaan proyek. Dari hasil masukkan

tersebut akan menjabarkan secara detail hal yang mendukung rencana perbaikan

sesuai dengan standar ITIL V3 service operation. Hasil pada tahapan ini adalah

mengintegrasikan hasil analisis proyek-proyek perbaikan sehingga menghasilkan

suatu penyelesaian masalah yang bisa membantu perusahaan dalam menyelesaikan

(47)

41

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada Bab IV ini akan membahas hasil analisis dalam pembuatan tata kelola

Teknologi Informasi (TI) yang ada di PT PJB UPHT Gresik. Hasil yang didapatkan

dari masing-masing metode dari tahapan identify needs, envision solution, dan plan

solution adalah sebagai berikut.

4.1Identify Needs

Identify needs didapatkan dari studi literatur dan hasil wawancara kepada

pihak perusahaan yaitu manajemen dan SINFO. Pada Subbab 3.1 telah menjelaskan

proses dari tahapan identify needs antara lain mendapatkan komitmen dan

kepedulian manajemen, mendefinisikan lingkup kegiatan berdasarkan buku

pedoman PT PJB, mendefinisikan risiko, dan mendefiniskan sumber daya. Tahapan

identify needs dalam prosesnya akan menghasilkan output berupa rencana program.

4.1.1 Mendapatkan Komitmen dan Kepedulian Manajemen

Hasil dari jawaban wawancara pada Lampiran 3 dan hasil dari analisis dari

kebijakan, atau buku yang mengatur tentang komitmen akan memperoleh bahasan

mengenai suatu komitmen dalam menunjang tata kelola TI. Perusahaan PT PJB

UPHT mempunyai suatu rencana jangka panjang unit. Rencana jangka panjang unit

ini disusun setiap 4 tahun sekali. Jangka panjang unit yang telah disusun,

menjelaskan sasaran strategis UPHT dalam bidang TI salah satunya berada pada

Learning and Growth Perspective : Sumber Daya Manusia (SDM), Organisasi dan

(48)

42

Capital Readiness, Improve Information Capital Readiness). Selain rencana jangka

panjang unit ada juga rencana jangka panjang perusahaan perusahaan yang disusun

setiap 4 tahun sekali.

Dari kedua jangka panjang tersebut kemudian disusun suatu komitmen

untuk melakukan penilaian kontrak kinerja unit. Penyusunan buku penilaian

kontrak kinerja unit terdapat beberapa dokumen yang dibutuhkan sebagai acuan

diantaranya:

1. Keputusan Direksi PT PJB No 061.K/010/DIR/2009 tentang Organisasi dan Tata

Kerja PT PJB.

2. Keputusan Direksi PT PJB No 062.K/010/DIR/2009 tentang Organisasi dan Tata

Kerja PT PJB Kantor Pusat.

3. Keputusan Direksi PT PJB No 105.K/010/DIR/2007 tentang Tata Kelola Unit

Pembangkit.

4. Keputusan Direksi PT PJB No 038.K/010/DIR/2009 tentang Tata Kelola Unit

Pelayanan Pemeliharaan.

5. Keputusan Direksi PT PJB No 161.K/020/DIR/2010 tentang Implementasi PJB

Integrated Management System (PJB-IMS) Pada PT Pembangkitan Jawa Bali.

Buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit ini disusun sebagai dasar

daya saing perusahaan terhadap Peningkatan Kinerja Unit secara

berkesinambungan, PT PJB telah menetapkan program kerja yang terwujud dalam

Tata Kelola Unit. Selain itu, untuk mengevaluasi kinerja unit-unit PT PJB perlu

ditetapkan pedoman penilaian kontrak kinerja yang sesuai dengan indikator–

indikator proses bisnis terkini. Buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit

(49)

1. Sebagai pedoman dalam menetapkan pencapaian nilai kinerja unit dengan

prinsip proporsional dan keadilan.

2. Sebagai guidance/petunjuk di dalam implementasi kontrak kinerja, sehingga

dapat memenuhi target-target yang telah ditetapkan.

3. Sebagai panduan dalam pelaksanaan assessment yang dilaksanakan secara

periodik terhadap penilaian kontrak kinerja UP, UBJOM, UPHar dan BPWC.

4. Dengan penambahan unit dan badan assessment serta penambahan stream,

adalah upaya meningkatkan maturity level pada tata kelola perusahaan yang ada.

Semua karyawan PT PJB bertanggung jawab dalam penerapan buku

pedoman kontrak kinerja unit, karena buku pedoman unit merupakan suatu acuan

dalam pencapaian nilai kinerja unit, implementasi kontrak kinerja, dan pelaksanaan

assessment. Untuk pelaksanaan komitmen tersebut terdapat suatu peninjauan ulang

dalam bentuk assessment yang dilakukan oleh kantor pusat PT PJB ke

masing-masing unit. Assessment dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali. Pertanggung

jawaban Assessment dilakukan oleh assessor yang telah ditunjuk sesuai dengan

bidangnya yang telah diatur di dalam buku pedoman kinerja unit.

Hasil dari assessment yang dilakukan kantor pusat akan menghasilkan

feedback reports. Dari hasil feedback reports ini akan ditindak lanjut oleh unit

untuk semester berikutnya. Untuk bisa memenuhi hasil feedback reports tidak

terdapat panduan secara terperinci hal apa saja yang seharusnya dilakukan, untuk

menanggulangi masalah tersebut maka unit mencari penyelesaian dengan cara

melihat Prosedur Operasional Baku (POB), namun jika tidak terdapat pada POB

maka unit akan mencari referensi di internet, buku, dll. Gambaran umum dari hasil

(50)
[image:50.595.195.436.95.298.2]

44

Gambar 4.1 Mendapatkan Komitmen dan Kepedulian Manajemen

4.1.2 Mendefiniskan Lingkup Kegiatan Berdasarkan Buku Pedoman PT PJB

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh manajemen pada Lampiran 4

diperoleh suatu informasi bahwa untuk komitmen perusahaan dalam tata kelola

khususnya TI diatur di dalam Buku pedoman PT PJB. Buku pedoman PT PJB ini

berjudul pedoman penilaian kontrak kinerja unit. Buku pedoman penilaian kontrak

kinerja unit ini menjelaskan tentang komitmen manajemen dalam hal pencapaian

nilai kinerja unit.

Lingkup TI di dalam buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit berada

pada Information Capital Readiness (ICR). Pemilihan ICR sebagai lingkup

kegiatan karena ICR merupakan kegiatan yang menangani masalah TI yang berada

di UPHT seperti Infrastructure, Business Process Management dan Information

Management, selain itu dalam penilaian yang dilakukan oleh kantor pusat yang

bertanggung jawab dalam penilaian adalah bagian sub direktorat teknologi

informasi. Penilaian realisasi ICR di dalam indikator kinerja proses untuk semester Rencana Jangka

Panjang Perusahaan

Buku Pedoman PT PJB

Rencana Jangka Panjang Unit

(51)

ini juga paling rendah dibandingkan kegiatan lainnya yaitu nilai realisasi Key

Performance Indicator (KPI) pada ICR 3,5 dari target yang diinginkan kantor pusat

adalah 4,05. Penilaian yang dilakukan oleh kantor pusat untuk kinerja proses yang

telah diatur di dalam buku pedoman penilaian kontrak kinerja unit mempunyai

range bobot antara 1 hingga 5. Pembobotan antara range 1 higga 5 juga telah diatur

di dalam standar Capability Maturity Model Integration (CMMI) yaitu untuk bobot

level 1 initial, level 2 managed, level 3 defined, level 4 quantitatively managed, dan

level 5 optimizing.

Berikut ini akan dijelaskan tiga bahasan yang terdapat di dalam ICR yaitu

Infrastructure, Business Process Management dan Information Manag

Gambar

Gambar 3.1Road Map to IT Governance (ITGI 2007 : 10)
Gambar 3.2 Langkah-Langkah Kegiatan Metode Penelitian
Gambar 3.3 Alur Identify Needs
Tabel 3.1 Contoh Pertanyaan Mendapatkan Komitmen dan Kepedulian Manajemen
+7

Referensi

Dokumen terkait