1
Kasus atau perkara pidana merupakan perkara publik, yang proses
pengaturannya adalah diatur oleh negara sebagai puncak dari pengaturan
terhadap publik. Dalam kasus pidana ada beberapa tahap yang harus dilalui
dalam proses penyelesaiannya. Kasus pidana melibatkan orang atau subyek
hukum yang melawan negara yang dalam hal ini dijalankan oleh lembaga
penegak hukum baik kepolisian dan kejaksaan sekaligus hakim sebagai
tonggak keadilan dalam memberikan putusan dalam penyelesaian kasus
pidana.
Proses penyelesaian kasus pidana diatur dalam KUHAP (Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana) yang merupakan hasil karya
pertama bangsa Indonesia yang telah dituangkan dalam aturan No. 8 tahun
1981 yang mengatur proses beracara tersebut. Tujuan dari hukum acara
pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya
mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya
dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum secara jujur
dan tepat.1
Surat dakwaan merupakan suatu akta yang dikenal dalam proses
penuntutan perkara pidana dan merupakan bagian dari hukum acara pidana.
1
Proses penuntutan terhadap perkara pidana merupakan tindak lanjut dari
proses penyidikan terhadap dugaan terjadinya suatu tindak pidana oleh
seseorang atau suatu badan hukum. Di dalam pasal 140 ayat (1) KUHAP
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang bahwa, “dalam hal Penuntut
Umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan
penuntutan, ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan.”
Di dalam pasal 143 ayat (1) KUHAP dinyatakan bahwa, “Penuntut
Umum melimpahkan perkara ke Pengadilam Negeri dengan permintaan
agar segera mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan.”
Hampir tidak ada literatur yang dapat dipakai sebagai acuan tentang
pengertian surat dakwaan. Pada umumnya surat dakwaan diartikan oleh
para ahli hukum berupa pengertian surat akta yang memuat perumusan
maupun ditarik atau disimpulkan dari hasil pemeriksaan penyidik
dihubungkan dengan pasal tindak pidana yang dilanggar dan didakwakan
kepada terdakwa, dan surat dakwaan tersebutlah yang menjadi dasar
pemeriksaan bagi hakim dalam sidang pengadilan.2
Menurut rusli muhammad,3 KUHAP tidak menyebutkan pengertian
surat dakwaan. KUHAP hanya menyebutkan ciri dan isi surat dakwaan itu
seperti di sebutkan pasal 143 ayat(2), yakni;
“Penuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan
ditandatangani serta berisi:
2
M. Yahya Harahap, 1997, Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP, jilid 1, Sinar Grafika, Jakarta, hlm 414
3
a. Nama lengkap, tempat tanggal lahir, umur atau tanggal
lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan
pekerjaan tersangka.
b. Uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak
pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan
tempat tindak pidana dan tempat tindak pidana itu
dilakukan.
Di dalam KUHAP tidak dijelaskan bahwa surat dakwaan merupakan
dasar dari pemeriksaan oleh hakim dipersidangan, tetapi dari rumusan pasal
140 ayat (1), 141 ayat (1), 143 ayat(1) dan (2), 144 dan pasal 155 ayat (2)
maupun pengertian surat dakwaan yang dikemukakan oleh M. Yahya
Harahap, SH dan praktek persidangan pidana yang selama ini berlaku di
Indonesia, dapat disimpulkan bahwa surat dakwaan merupakan dasar bagi
pemeriksaan oleh hakim dalam sidang pengadilan. Selain berfungsi sebagai
dasar bagi pemeriksaan di persidangan, surat dakwaan berfungsi sebagai
dasar bagi Penuntut Umum dalam mengajukan tuntutan pidana terhadap
terdakwa, sebagai dasar bagi terdakwa untuk membela dirinya dan sebagai
dasar bagi hakim untuk menjatuhkan putusannya.
Berdasarkan rumusan-rumusan tersebut di atas dapat juga
disimpulkan bahwa surat dakwaan merupakan suatu rumusan dari tindak
pidana, hasil proses penyidikan yang dibuat dalam bentuk suatu akta guna
membawa hasil penyidikan tersebut ke dalam pemeriksaan pengadilan
disangkakan atasnya. Tanpa surat dakwaan penyidikan tentang tindak
pidana tidak dapat diperiksa dan diputus oleh pengadilan.
Pasal 140 ayat (1) KUHAP memberikan petunjuk bahwa yang
berwenang membuat surat dakwaan adalah Jaksa Penuntut Umum. Dengan
fungsi surat dakwaan seperti demikian maka seorang Jaksa Penuntut Umum
dituntut untuk memiliki kapabilitas dalam membuat surat dakwaan sehingga
kesalahan membuat surat dakwaan yang mengakibatkan seorang terdakwa
yang benar-benar bersalah dapat dibebaskan dari dakwaan tidak perlu
terjadi.
Walaupun di dalam KUHAP tidak diatur tentang bentuk-bentuk
surat dakwaan tetapi pembuatan suatu dakwaan terkait dengan tindak pidana
secara materiil, misalnya kejadiannya seperti yang diatur dalam pasal 65
ayat (1) KUHAP yaitu gabungan dari beberapa perbuatan yang
masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri dan
yang masing-masing menjadi kejahatan yang terancam dengan hukuman
utama yang sejenis (concursus realis), dimana dakwaannya harus berbentuk
kumulatif, atau jika ada beberapa perbuatan yang diduga dilakukan oleh
terdakwa tetapi Penuntut Umum ragu-ragu perbuatan mana yang tepat
didakwakan terhadap terdakwa maka Penuntut Umum membuat dakwaan
secara alternatif.4
4
Di dalam praktek, surat dakwaan dibuat dalam beberapa bentuk
sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya yaitu, Dakwaan tunggal,
Dakwaan kumulatif, Dakwaan subsidair, Dakwaan alternatif, Dakwaan
kombinasi.
Bentuk surat dakwaan ini merupakan gabungan antara hukum acara
pidana dan hukum pidana, Sedang bentuk subsidair, alternatif dan
kombinasi tidak ditemukan dalam hukum pidana maupun hukum acara
pidana. Ketiga bentuk dakwaan tersebut lahir dari praktek yang kemudian
yang diterima didalam persidangan sehingga menjadi kebiasaan yang
diterima sebagai hukum.5
Alasan adanya dakwaan dengan bentuk subsidair dan alternatif
adalah apabila penuntut umum ragu-ragu pasal mana yang paling tepat
diterapkan terhadap perbuatan yang didakwakan terhadap terdakwa (apakah
penipuan atau penggelapan, apakah pembunuhan berencana atau
pembunuhan biasa). Oesman Simanjuntak berpendapat dakwaan alternatif
berbeda dengan dakwaan subsidair, tetapi M.Yahya Harahap berpendapat
bahwa kedua bentuk dakwaan tersebut sama. Pendapat bahwa kedua bentuk
dakwaan tersebut sama mengakibatkan sering dipersidangan kedua bentuk
dakwaan tersebut (alternatif dan subsidair) diperiksa didalam pengertian
yang sama, yaitu jika dakwaan pertama tidak terbukti, maka hakim akan
menyatakan bahwa dakwaan pertama tidak terbukti secara sah menurut
hukum dan oleh karena itu terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan
5
tersebut. Selanjutnya hakim akan memeriksa dakwaan kedua dan jika
terbukti maka terdakwa akan diputuskan dipidana berdasarkan kedua
dakwaan tersebut.
Surat dakwaan harus memenuhi syarat yang ditentukan dalam pasal
143 ayat (2) huruf a (syarat formil) dan huruf b (syarat materil) KUHAP.
Kesalahan dalam membuat atau menyusun surat dakwaan baik bentuknya
maupun syarat-syarat yang ditentukan bagi materilnya dapat mengakibatkan
surat dakwaan batal demi hukum atau surat dakwaan dianggap tidak terbukti
secara sah dan menurut hukum, walaupun secara faktual dan secara yuridis
terdapat cukup alasan adanya kesalahan terdakwa seperti yang didakwakan.
Salah satu contoh perbuatan dalam hal ini adalah dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Kepabeanan beserta perubahannya
pada Undang-Undang Nomor 39 TAHUN 2007 yaitu mengenai kejahatan
tindak pidana cukai dan lebih spesifiknya adalah mengelakkan pembayaran
cukai.
Mengelakkan pembayaran cukai merupakan suatu tindak pidana
yang telah diatur dalam pasal 50 UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 yaitu. Setiap orang yang tanpa
memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 menjalankan kegiatan
pabrik, tempat penyimpanan, atau mengimpor barang kena cukai dengan
maksud mengelakkan pembayaran cukai dipidana dengan pidana penjara
denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh)
kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.
Seperti kasus yang terjadi pada Purnomo Yanto yang didakwa telah
menyalahi ketentuan cukai dan menjalankan kegiatan pabrik. Berdasarkan
surat dakwaan dalam perkara no : PDS-01/Tg.Prk/02/2011, membuat
tempat penyimpanan dan mengimpor barang kena cukai dengan maksud
mengelakkan pembayaran cukai.6 Pada hal ini motif pelaku dengan sengaja
agar meraup keuntungan dengan mejual minuman keras tanpa dilekati
ataupun dilekati pita cukai, Diduga pelaku tidak memiliki ijin dan
mengelakkan barang kena cukai dengan membubuhi pita cukai palsu,
sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 yaitu, menjalankan kegiatan pabrik,
tempat penyimpanan atau mengimpor barang kena cukai yang tidak
dikemas untuk penjualan eceranatau tidak dilekati pita cukai atau tidak di
bubuhi tanda pelunasan.7
Dipilihnya tindak pidana dalam bidang cukai dikarenakan tingginya
angka-angka kejahatan dalam tindak pidana bidang cukai yang sering
terjadi. Mengingat keuntungan yang di dapatkan pelaku usaha, dalam
pengelakan tersebut akan sangatlah besar kerugian yang ditanggung negara
dalam hal ini. Oleh karena itu dalam penyusunan surat dakwaan haruslah
sesuai. Menurut penulis yang menarik Hakim pada prinsipnya tidak dapat
6
Nurul Arifin, Ribuan Botol Miras dan 400 Bal Pakaian Dimusnahkan ,
http://news.okezone.com/read/2011/10/12/340/514367/ribuan-botol-miras-dan-400-bal-pakaian-dimusnahkan, 12 januari 2014.
7
memeriksa dan mengadili keluar dari lingkup yang didakwakan, ini berarti
hakim tidak dapat memeriksa, mengadili dan memutuskan suatu perkara
pidana diluar yang tercantum dalam surat dakwaan.8
Dengan demikian surat dakwaan berfungsi sentral dalam
persidangan pengadilan dalam perkara-perkara pidana. Konsekuensinya
adalah jika terjadi kesalahan dalam penyusunan surat dakwaan dapat
berakibat seseorang dapat dibebaskan oleh pengadilan walaupun orang
tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana. Di dalam proses
pengadilan pidana Indonesia, sudah banyak terjadi seorang terdakwa
dibebaskan oleh pengadilan walaupun terbukti bersalah karena kesalahan
yang dibuat dalam penyusunan surat dakwaan.
Setelah melihat dan mengamati penjabaran dari uraian fakta-fakta
yang telah dijabarkan oleh penulis, maka penulis tertarik mengangkat judul
mengenai “ANALISA PEMENUHAN ASPEK KEPASTIAN HUKUM
DAKWAAN JAKSA PENUNTUT UMUM TENTANG TINDAK
PIDANA CUKAI”.
8
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pemenuhan aspek kepastian hukum dalam menyusun
surat dakwaan dalam perkara no: PDS-01/Tg.Prk/02/2011 ditinjau dari
pemenuhan syarat formil dari suatu dakwaan sebagaimana ketentuan
pasal 143 ayat (2) huruf a?
2. Bagaimanakah pemenuhan aspek kepastian hukum dalam menyusun
surat dakwaan dalam perkara no: PDS-01/Tg.Prk/02/2011 ditinjau dari
pemenuhan syarat materil dari suatu dakwaan sebagaimana ketentuan
pasal 143 ayat (2) huruf b?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah :
1. Untuk mengetahui pemenuhan aspek kepastian hukum dalam
menyusun surat dakwaan dalam perkara no: PDS-01/Tg.Prk/02/2011
ditinjau dari pemenuhan syarat formil dari suatu dakwaan sebagaimana
ketentuan pasal 143 ayat (2) huruf a.
2. Untuk mengetahui pemenuhan aspek kepastian hukum dalam
menyusun surat dakwaan dalam perkara no: PDS-01/Tg.Prk/02/2011
ditinjau dari pemenuhan syarat materil dari suatu dakwaan sebagaimana
ketentuan pasal 143 ayat (2) huruf b.
D. Kegunaan Penelitian
Penulisan yang dilakukan ini mempunyai manfaat baik secara teoritis
maupun praktis:
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan mafaat dalam bentuk
sumbangan pemikiran serta juga dalam bentuk saran demi kemajuan
perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan untuk bidang ilmu
hukum pada khususnya yang berhubungan dengan perumusan surat
dakwaan tindak pidana cukai oleh Jaksa Penuntut Umum.
2. Praktis
a. Bagi Peneliti
Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan
dalam bidang ilmu hukum, selain itu juga diharapkan memperluas,
meningkatkan,mengkaji dan menggali kemampuan dalam wawasan
ilmu khususnya ilmu hukum.
b. Bagi Jaksa Penuntut Umum
Sebagai sumbangan pemikiran kepada Jaksa Penuntut Umum dalam
melakukan perumusan surat dakwaan dengan benar serta mekanisme
penyusunannya tersebut sesuai dengan hukum acara pidana yang
berlaku dalam hal perumusan atau pembuatan surat dakwaan
terhadap perkara tindak pidana cukai.
c. Bagi Masyarakat
Sebagai wawasan kepada masyarakat dasar atau landasan apa yang
dipakai oleh Jaksa Penuntut Umum dalam melakukan perumusan
surat dakwaan dengan benar serta mekanisme penyusunannya
perumusan atau pembuatan surat dakwaan terhadap perkara tindak
pidana cukai.
d. Bagi Akademis
Diharapkan penelitian ini dapat berguna, utamanya dalam rangka
menambah wawasan ilmu hukum, khususnya perumusan surat
dakwaan dengan benar serta mekanisme penyusunannya tersebut
sesuai dengan hukum acara pidana yang berlaku dalam hal
perumusan atau pembuatan surat dakwaan terhadap perkara tindak
pidana cukai.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian sebagai alat atau cara untuk memudahkan peneliti
dalam melakukan penelitian, sehingga dalam penelitian tersebut peneliti
selalu mengarahkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang
bertujuan untuk memecahkan suatu masalah yang bersifat ilmiah.9
Dalam penelitian ini penulis mengnukan metode-metode sebagai
berikut:
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
yuridis normatif, yaitu pendekatan yang mengkaji hukum sebagai
norma dalam masyarakat. Selain itu konsep ini juga memandang hukum
9
sebagai sistem normatif yang bersifat otonom, tertutup dan terlepas dari
kehidupan masyarakat.10
2. Sumber Bahan Hukum:
a. Bahan Hukum Primer adalah Bahan hukum primer yaitu bahan
hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah:11 yaitu bahan
hukum yang diperoleh dari surat dakwaan dalam perkara no :
PDS-01/Tg.Prk/02/2011.
b. Bahan hukum sekunder adalah jenis sumber bahan hukum yang
mendukung serta melengkapi bahan hukum primer
diatas.diantaranya:12
1) Undang-undang republik Indonesia Nomor. 2 Tahun 1986
tentang Peradilan umum.
2) Undang-undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai dan
telah dirubah undang-undang nomor 39 tahun 2007.
3) KUHP (kitab Undang-undang Hukum Pidana), KUHAP
(Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana)
c. Bahan Hukum Tersier adalah yaitu bahan hukum yang digunakan
sebagai pelengkap penjelasan, penafsiran dan pengembangan dari
bahan hukum primer maupun sekunder seperti Ensiklopedi dan
Kamus.
10
Ronny Hanitijo Soemitro, , 1988, Metode Penelitian Hukum dan jurimetri, Ghalia Indonesia,Jakarta, hal. 11
11
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Ilmu Hukum, Cetakan ke Tiga, Penerbit University Indonesia Press, Jakarta, Hal 51.
3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum dan Data
a. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara
menggali kerangka normatif menggunakan bahan hukum yang
membahas tentang teori-teori hukum, tidak pidana Mengelakkan
Pembayaran Cukai dengan Terdakwa Purnomo Yanto (surat
dakwaan dalam perkara no : PDS-01/Tg.Prk/02/201). Baik bahan
hukum primer maupun bahan hukum sekunder dikumpulkan
berdasarkan topik permasalahan yang telah dirumuskan berdasarkan
sistem bola salju dan diklasifikasi menurut sumber dan hierarkinya
untuk dikaji secara komprehensif.
b. Teknik Pengumpulan Data
Data ini diperoleh untuk mendukung kelengkapan bahan hukum
yang akan dianalisis yang terkait dengan permasalahan yang diteliti,
data tersebut diperoleh dengan teknik pengumpulan data sebagai
berikut:
1) Studi Dokumentasi:
Penggunaan dokumentasi merupakan teknik pengumpulan
data yang bersumber dari non manusia dan merupakan
sesuatu yang sudah ada, sehingga penulis tinggal
dari observasi.13 Dalam penelitian ini dokumen yang diteliti
oleh penulis adalah dokumen tentang bahan-bahan yang
berupa, Surat dakwaan Pengadilan Negeri Surabaya dalam
perkara no : PDS-01/Tg.Prk/02/2011 yang diperoleh di
Pengadilan Negeri.
2) Penelusuran Kepustakaan
Yaitu berupa metode pengumpulan data dengan cara
membaca berbagai literatur, media masa, serta mempelajari
peraturan perundang-undangan yang terkait yakni dan juga
sumber-sumber lain yang ada hubungannya dengan objek
yang diteliti.
4. Teknik Analisa Bahan Hukum
Teknik analisa bahan hukum dalam penulisan hukum normatif adalah
analisa isi. Bahan hukum Diperoleh dari bahan-bahan pustaka dianalisis
secara kualitatif. Selanjutnya, hasil analisis tersebut, penulis tuang
dalam suatu rumusan kesimpulan. Dengan menyusun dasar-dasar
argumentasi demikian rupa sehingga dapat memberikan gambaran yang
lebih jelas bagaimana pertimbangan hakim dalam mengambil
keputusan perkara khusunya perkara pidana bidang kepabeanan
mengelakan pembayaran cukai.
13
F. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan rangkaian penulisan ini, maka penulis akan
membuat sistematika penulisan dengan tujuan untuk memberikan landasan
yang dapat ditelusuri serta dapat dipertanggung jawabkan secara hukum,
selain itu untuk mempermudah dalam penulisan sehingga dapat sistematis
serta terstruktur. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut :
BAB I: PENDAHULUAN
Dalam pedoman penulisan hukum “pendahuluan” berisi dalam
berbagai sub bab yaitu: Latar belakang, perumusan masalah, tujuan
penulisan, kegunaan penulisan, metode penulisan, dan sistematika
penulisan.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini membahas mengenai uraian doktrin, pendapat para
ahli, kaijan yuridis serta bahan-bahan kerangka teori yang dipakai oleh
penulis untuk mendukung analisa terhadap masalah yang di teliti. Seperti
tentang Tinjauan umum tindak pidana, Tinjauan umum bea dan cukai.
Tinjauan umum cukai, dan Tinjauan umum mengenai surat dakwaan.
BAB III: PEMBAHASAN
Dalam bab ini berisi mengenai uraian pembahasan permasalahan
yang akan di angkat peneliti serta dianalisis dengan menggunakan Metode
Analisa Isi yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Adapun
pemaparan gambaran analisis penulis berfokus padaJaksa Penuntut Umum
dalam suatu perkara khusunya perkara pidana bidang kepabeanan
mengelakan pembayaran cukai. Pada bab ini juga penulis akan memaparkan
bagaimana cara dalam menyusun surat dakwaan dalam agar sesuai dengan
tujuan dan fungsi dari Surat Dakwaan tersebut sehingga mampu diterima
dan dianggap adil oleh berbagai pihak.
BAB IV: PENUTUP
Dalam bab ini adalah bab terakhir yang berisikan dengan dua sub
yaitu kesimpulan dan saran atau rekomendasi. Apa yang disimpulkan oleh
peneliti, pada dasarnya hasil analisa pada bab III, kesimpulan permasalahan
dapat disebut dengan “ringkasan jawaban” atas permasalahan yang telah
dirumuskan dan dibahas sebelumnya. Selain kesimpulan “inti” peneliti
menambah kesimpulan lain. Kemudian dari kesimpulan tersebut peneliti
memberikan saran, sebagai rekomendasi terhadap pihak-pihak yang
Surabaya Dengan Terdakwa Purnomo Yanto)
PENULISAN HUKUM
Oleh :
YOGI PRIYAMBODO
08400014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS HUKUM
Surabaya Dengan Terdakwa Purnomo Yanto)
Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan
dalam bidang Ilmu Hukum
Oleh :
YOGI PRIYAMBODO
08400014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS HUKUM
ini dengan judul “ANALISA PEMENUHAN ASPEK KEPASTIAN HUKUM
DAKWAAN JAKSA PENUNTUT UMUM TENTANG TINDAK PIDANA
CUKAI (Studi Surat Dakwaan NO.REG.PERKARA :
PDS-01/TG.PRK/02/2011 Surabaya Dengan Terdakwa Purnomo Yanto).”
Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi tugas dan pemenuhan persyaratan
dalam menempuh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas
Muhammadiyah Malang.
Dalam penyelesaian skripsi ini penulis membutuhkan bantuan serta
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis
memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
semua pihak yang telah membantu secara moril dan materiil.
Ucapan terima kasih ini, penulis sampaikan pula kepada :
1. Untuk Papa dan Mama serta adikku, Najwa yang selalu banyak memberikan
doa dan dukungan selama ini.
2. Untuk Dosen Pembimbing I, Bayu Dwiwiddy Jatmiko, SH., M.Hum dan
Dosen Pembimbing II, Cekli Setya Pratiwi, SH.,LL.M.
3. Bapak Muhadjir Effendy, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah
Malang.
4. Bapak Dr. Sulardi, SH.,M.Si., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Muhammadiyah Malang
5. Dosen-dosen FH-UMM dan Staf FH-UMM
6. M. Widhayati SH.,M.Hum selaku Panitera Muda Hukum di Pengadilan
Negeri Surabaya.
7. Untuk Ketut Setefi Savitri, S.Ikom, yang selalu memberikan semangat dan
dukungan serta selalu menemani penulis disaat susah maupun senang.
8. Teman-teman Kos Al-Kautsar No. 10 dan Teman-teman Fakultas Hukum
serta Keluarga di Mojokerto, Bude Japar, mas Wiwin, Yopi, Mbak Yayuk
dan Mbak Yuli di Jakarta , dan Om Ermansyah dan Tante di Lampung
terima kasih atas saran-sarannya dan dukungannya.
10.Dan untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.
Malang, 1 Februari 2015
Penulis,
Surat Pernyataan ... iv
Ungkapan Pribadi Penulis ... v
Abstraksi ... vi
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ... x
Daftar Lampiran ... xii
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penulisan ... 9
D. Kegunaan Penulisan ... 9
E. Metode Penulisan ... 11
F. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Jaksa dan Penuntut Umum ... 17
1. Pengertian Jaksa dan Penuntut Umum ... 17
B. Tinjauan Surat Dakwaan ... 21
1. Pengertian Surat Dakwaan ... 21
2. Syarat Surat Dakwaan ... 23
3. Bentuk Surat Dakwaan ... 29
4. Perubahan Surat Dakwaan ... 32
C. Pengertian Kepastian Hukum ... 33
D. Pengertian Tindak Pidana, Unsur-unsur dan Jenis Tindak Pidana ... 35
1.PengertianTindakPidana ... 35
2. Unsur-unsur Tindak Pidana ... 38
4. Unsur-unsur Terkait Tindak Pidana Cukai ... 49
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Indentitas Terdakwa dan Surat Dakwaan ... 53
B. Pemenuhan Aspek Kepastian Hukum Dalam Menyusun Surat Dakwaan Dalam Perkara No: PDS-01/Tg.Prk/02/2011 Ditinjau Dari Pemenuhan Syarat Formil Dari Suatu Dakwaan Sebagaimana Ketentuan Pasal 143 Ayat (2) Huruf a ... 56
C. Pemenuhan Aspek Kepastian Hukum Dalam Menyusun Surat Dakwaan Dalam Perkara No: PDS-01/Tg.Prk/02/2011 Ditinjau Dari Pemenuhan Syarat Materil Dari Suatu Dakwaan Sebagaimana Ketentuan Pasal 143 Ayat (2) Huruf b ... 73
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 113
B. Saran ... 117
DAFTAR PUSTAKA ... 119
INDEKS ... 122
Kesatuan Bangsa dan Politik
3. Lampiran 3, Surat izin penelitian dari Fakultas untuk Pengadilan
Tingi Surabaya
4. Lampiran 4, Surat izin penelitian dari Fakultas untuk Pengadilan
Negeri Surabaya
5. Lampiran 5, Surat Rekomendasi dari Badan Kesatuan Bangsa dan
Politik untuk Pengadilan Tingi Surabaya
6. Lampiran 6, Surat Rekomendasi dari Pengadilan Tinggi Surabaya
untuk Pengadilan Negeri Surabaya
7. Lampiran 7, Surat keterangan dari lokasi penelitian Tugas Akhir
Pengadilan Negeri Surabaya
8. Lampiran 8, Kartu Kendali Bimbingan Tugas Akhir
9. Lampiran 9, Surat Dakwaan NO.REG.PERKARA :
Burhanuddin S. SHI, M.Hum., 2013, Prosedur Hukum Pengurusan Bea dan Cukai, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.
C.S.T.Kansil dan Christine S.T.Kansil, 2004, Pokok-Pokok Hukum Pidana, Jakarta, Pradnya Paramita.
Erdianto Effendi. 2011. Hukum Pidana Indonesia. Bandung. Penerbit PT Refika Aditama.
Gatot Supramono,1991, Surat Dakwaan dan Putusan Hakim Yang Batal Demi Hukum, Djambatan, Jakarta.
Harun M.Husein SH., 1994, Surat Dakwaan (Teknik Penyusunan,Fungsi dan Permasalahannya), Rineka Cipta
HMA Kuffal S.H., 2010, Penerapan Kuhap Dalam Praktik Hukum, edisi revisi, Jakarta, UMM Press
H.M. Syarif Arbi, M.M, 2003, Petunjuk Praktis Perdangan Luar Negeri, Cetakan pertama, BPFE, Yogyakarta
Lilik Mulyadi, SH, 2002, Hukum Acara Pidana Suatu Tinjauan Khusus Terhadap Surat Dakwaan,Eksepsi dan Putusan Peradilan, Bandung
Lamintang, 1997, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya bhakti, Bandung
Lamintang dan Djisman Samosir, 1981, Delik-delik Khusus Kejahatan Yang Ditujukan Terhadap Hak Milik dan Lain-lain Hak yang Timbul
Dari Hak milik, Tarsito, Bandung, hal. 25 dalam Tongat, 2002,
Hukum Pidana Materiil , UMM Press, Malang.
Lexy J Moleong, 2005, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung
M. Yahya Harahap, 1997, Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP, jilid 1, Sinar Grafika, Jakarta
M. Yahya Harahap S.H., 2006, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Edisi kedua, Sinar Grafika, Jakarta.
Martiman Prodjohajojo, 1986, Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Edisi Kedua, Eresco, Bandung.
Ronny Hanitijo Soemitro, 1988, Metode Penelitian Hukum dan jurimetri, Ghalia Indonesia,Jakarta.
Rusli Muhammad, 2007, Hukum Acara Pidana Kontenporer, Citra Aditya bakti, Bandung
Satjipto Rahardjo, SH., 2010, Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, cetakan ke 3, Yogyakarta, Genta.
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Ilmu Hukum, Cetakan ke Tiga, Penerbit University Indonesia Press, Jakarta.
Sulistyowati Irianto dkk., 2012, Kajian sosio-legal, edisi pertama, Jakarta, Pustaka Larasan
Tongat, 2009, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan, Umm press, Malang.
Usman Simanjutak, 1994, Teknik Penuntutan dan Upaya Hukum, Bina Cipta, Jakarta
Zainudin Ali,2009, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta
Internet :
Nurul Arifin, Ribuan Botol Miras dan 400 Bal Pakaian Dimusnahkan, http://news.okezone.com/read/2011/10/12/340/514367/ribuan-botol-miras-dan-400-bal-pakaian-dimusnahkan, 12 januari 2014.
Official Website DJBC, Pengertian Tempat Penimbunan Berikat, http://www.beacukai.go.id/index.html?page=faq/pengertian-tempat-penimbunan-berikat.html, 12 Oktober 2014.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian kata dasar “elak”,
http://kbbi.web.id/elak, 10 Januari 2015.
Adnan Buyung Nasution, “Praperadilan vs Hakim komisaris (on-line)”,