• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP ANAK PALSI SEREBRAL YANG MENDAPAT TERAPI FISIK LEBIH DARI 10 BULAN DENGAN

KURANG DARI 10 BULAN

TESIS

DEWI ANGREANY

107103016 / IKA

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK - SPESIALIS ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP ANAK PALSI SEREBRAL YANG MENDAPAT TERAPI FISIK LEBIH DARI 10 BULAN DENGAN

KURANG DARI 10 BULAN

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik (Anak) dalam Program

Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi Kesehatan Anak-Spesialis pada

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

DEWI ANGREANY

107103016 / IKA

(3)

Judul Tesis : Perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan

Nama Mahasiswa : Dewi Angreany Nomor Induk Mahasiswa : 107103016

Program Magister : Magister Kedokteran Klinik

Konsentrasi : Kesehatan Anak

Menyetujui Komisi Pembimbing

Ketua

dr. Johannes H. Saing, M.Ked(Ped), SpA(K)

Anggota

dr. Hj. Melda Deliana, M.Ked(Ped), SpA(K)

Program Magister Kedokteran Klinik Dekan Sekretaris Program Studi

dr.Murniati Manik,MSc,SpKK,SpGK

NIP: 19530719 198003 2 001 NIP: 19540220 198011 1 001 Prof.dr.Gontar Siregar,SpPD- KGEH

(4)

PERNYATAAN

PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP ANAK PALSI SEREBRAL YANG MENDAPAT TERAPI FISIK LEBIH DARI 10 BULAN DENGAN KURANG

DARI 10 BULAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

(5)

Telah diuji pada

Tanggal: 3 November 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : dr. Johannes H. Saing, M.Ked(Ped), Sp.A(K) ... Anggota :

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya serta telah memberikan kesempatan kepada penulis sehingga

dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Tesis ini dibuat untuk memenuhi persyaratan dan merupakan tugas

akhir pendidikan magister Kedokteran Klinik Konsentrasi Ilmu Kesehatan

Anak di FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan.

Penulis menyadari penelitian dan penulisan tesis ini masih jauh dari

kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan, oleh sebab itu dengan segala

kerendahan hati penulis mengharapkan masukan yang berharga dari semua

pihak di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyatakan

penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Pembimbing utama dr. Johannes H. Saing, M.Ked(Ped), Sp.A(K) yang

telah memberikan bimbingan, bantuan serta saran-saran yang sangat

berharga dalam pelaksanaan penelitian dan penyelesaian tesis ini.

2. dr. Hj. Melda Deliana, M.Ked(Ped), Sp.A(K), sebagai pembimbing

(7)

3. dr. Yazid Dimyati, M.Ked(Ped), Sp.A(K) selaku kepala divisi Neurologi

dan dr. Fereza Amelia, M.Ked(Ped), Sp.A sebagai staf pengajar divisi

Neurologi yang sangat banyak memberikan masukan dan bimbingan

kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

4. Prof. dr. H. Munar Lubis, Sp.A(K), selaku Kepala bagian Departemen

Ilmu Kesehatan Anak FK USU dan dr. Beby Syofiani Hasibuan,

M.Ked(Ped), Sp.A selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter

Spesialis Anak FK USU yang telah banyak membantu dalam

menyelesaikan tesis ini.

5. Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. dr. H. Syahril Pasaribu,

DTM&H, MSc (CTM), Sp.A(K) dan Rektor Universitas Sumatera Utara

sebelumnya Prof. Dr. H. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A(K) serta

Dekan FK-USU Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp.PD-KGEH, FInaSIM

yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti program

pendidikan Dokter Spesialis Anak di FK USU.

6. Ibu Elvi Andriani Yusuf, M.Si, Psikolog, dr.Tina Christina L.Tobing,

M.Ked(Ped), Sp.A(K), dan dr. Nelly Rosdiana M.Ked(Ped), Sp.A(K)

yang telah menguji, memberikan koreksi, saran dan perbaikan pada

penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

7. Seluruh staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU /

RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan sumbangan

(8)

8. Teman-teman yang tidak mungkin bisa saya lupakan yang telah

membantu saya dalam keseluruhan penelitian maupun penyelesaian

tesis ini, Poppy Indriasari, Regia Sabarati Sinurat, Bebi Trianita Sari,

Khairunnisa Agustina, Silvia Yasmin Lubis, Ghazali Ahmad Siregar,

Febriyanti mobilina, Cherry Nurul Faried Lubis, Dwi Novianti, Sisca

Kartika Dewi, Selwan S. Situngkir, Supriadi, Rahmat Sumiko, Atika

Rimalda Nasution, Dame Lamtiur Sitompul, Ratna Sari Barus, Rika

Haryanti, Perjuangan, Fadhila Ihsani, Trina Devina, Ika Citra Dewi

Tanjung, Elida Irawaty Saragih, dan Ahmad Tarmizi Rangkuti. Terima

kasih untuk kebersamaan kita dalam menjalani pendidikan selama ini.

9. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang

telah memberikan bantuan dalam terlaksananya penelitian serta

penulisan tesis ini.

Kepada yang sangat saya cintai dan hormati, orangtua saya Alm. Raja

Ahmad Muchtar dan Alm. Hj. Nurhayati. Jasa ibu dan bapak tidak akan

pernah saya lupakan yang telah membimbing, mendidik dan membesarkan

saya. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada mertua saya H.

(9)

terimakasih atas doa, pengertian, dukungan dan pengorbanan yang telah

diberikan selama saya menempuh pendidikan. Kepada para kerabat dan

saudara yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas doanya

selama ini. Semoga budi baik yang telah diberikan mendapat imbalan dari

Allah SWT. Akhirnya penulis mengharapkan semoga penelitian dan tulisan ini

dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Medan, November 2014

(10)

DAFTAR ISI

Lembaran Persetujuan Pembimbing ii

Daftar isi iii

Daftar tabel v Daftar gambar vi Daftar singkatan dan lambing vii

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 3

1.3. Hipotesis 3

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum 3

1.4.2. Tujuan Khusus 3

1.5. Manfaat Penelitian 3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi palsi serebral 5

2.2. Etiologi dan faktor risiko palsi serebral 5

2.3. Diagnosis palsi serebral 6

2.4. Klasifikasi palsi serebral 6

2.5. Kualitas hidup anak palsi serebral 7

2.6. Penilaian kualitas hidup anak palsi serebral 8 2.7. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup

anak palsi serebral 10

2.9. Terapi fisik pada anak palsi serebral 11

2.8. Kerangka Konseptual 13

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Desain 14

3.2. Tempat dan Waktu 14

3.3. Populasi dan Sampel 14

3.4. Perkiraan Besar Sampel 15

3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 16

3.5.1. Kriteria Inklusi 16

(11)

3.11. Definisi Operasional 20

3.12. Rencana Pengolahan dan Analisis Data 27

BAB 4. HASIL 28

BAB 5. PEMBAHASAN 36

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 41

5.2 Saran 41

DAFTAR PUSTAKA 42

LAMPIRAN

1. Personil Penelitian 47

2. Biaya Penelitian 47

3. Jadwal Penelitian 48

4. Penjelasan dan Persetujuan Kepada Orang Tua 48

5. Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 50

6. Kuisioner penelitian 51

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Data demografi sampel penelitian 30

Tabel 4.2. Data neurologi sampel penelitian 31

Tabel 4.3 Data dasar terapi fisik 32

Tabel 4.4 Perbedaan tingkatan motorik sebelum dan

setelah terapi pada kelompok I 33

Tabel 4.5 Perbedaan tingkatan motorik sebelum dan

setelah terapi pada kelompok II 34

Tabel 4.6 Perbedaan skor kualitas hidup anak palsi

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.8 Kerangka konseptual 13

(14)

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

CP QOL-child : Cerebral Palsy Quality Of Life questionnaire for children

TORCH : Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus, Herpes simpleks

PVL : periventricular leukomalacia

GMFCS : Gross Motor Function Classification System

CPCHILD : Caregiver Priorities and Child Health Index of Life with

disabilities

PedsQL : Pediatric Quality of Life inventory

YPAC : Yayasan Pendidikan Anak Cacat

IQ : Intelligence quotient

NDT : neurodevelopmental therapy

(15)

PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP ANAK PALSI SEREBRAL YANG MENDAPAT TERAPI FISIK LEBIH DARI 10 BULAN DENGAN KURANG

DARI 10 BULAN

Dewi Angreany

Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik, Medan, Indonesia

, Johannes H. Saing, Melda Deliana, Yazid Dimyati, Fereza Amelia

Abstrak

Latar belakang Palsi serebral merupakan penyebab keterbatasan fisik paling umum pada anak. Keterbatasan aktivitas fisik menyebabkan rendahnya kualitas hidup anak. Terapi Fisik memegang peranan penting dalam tatalaksana anak dengan palsi serebral.

Tujuan Untuk membandingkan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan.

Metode Penelitian sekat lintang yang dilakukan pada bulan Juni sampai Desember 2012 di Medan. Sampel adalah anak palsi serebral usia 4 sampai 12 tahun yang telah mendapat terapi fisik. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok secara konsekutif yaitu kelompok I yang mendapat terapi fisik 10 bulan atau lebih, dan kelompok II yang mendapat terapi fisik kurang dari 10 bulan. Orangtua diminta untuk mengisi kuisioner CQ QOL-child. Data dianalisis menggunakan uji t independen dan Mann-Whitney dengan interval kepercayaan 95%.

Hasil Dari 60 anak yang memenuhi kriteria, 30 anak dimasukkan dalam kelompok I dan 30 anak dalam kelompok II. Rerata lamanya terapi fisik pada kelompok I adalah 35.7 (SD 19.3) bulan dan kelompok II 4.2 (SD 3.1) bulan. Tingkatan kemampuan motorik kasar anak meningkat pada kedua kelompok yaitu dari GMFCS IV menjadi GMFCS II pada kelompok I (P=0.0001) dan dari GMFCS IV menjadi GMFCS III (P=0.002) pada kelompok II. Rerata skor kualitas hidup pada kelompok I dan II adalah 79.63 (SD 5.73) dan 47.71 (SD 6.85) secara berurutan (P=0.0001).

Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang mendapat terapi fisik kurang dari 10 bulan.

(16)

COMPARISON OF THE QUALITY OF LIFE IN CEREBRAL PALSY CHILDREN WITH PHYSICAL THERAPY MORE AND LESS THAN 10

MONTHS

Dewi Angreany

Department of Child Health, Medical School,

, Johannes H. Saing, Melda Deliana, Yazid Dimyati, Fereza Amelia

University of Sumatera Utara – Haji Adam Malik Hospital, Medan, Indonesia

Abstract

Background Cerebral palsy (CP) is the most common cause of severe physical disability in childhood. These limitations may cause lower level experience or quality of life (QOL). Physical therapy (PT) plays a central role in managing CP.

Objective To compare QOL in CP children with PT more and less than 10 months.

Methods A cross sectional study was performed from June to December 2012 in Medan. Eligible samples were four until twelve years old CP children who received PT. samples were devided into 2 group consecutively, group I was CP children with PT≥10 months, group II was CP children with PT<10 months. Parents were asked to fill CP QOL questionnaires. Data was analyzed by using independent t-test and mann-whitney U test with 95% confidence interval.

Results We enrolled 60 CP children, 30 children into group I and 30 children into group II. The mean duration of PT in group I was 35.7 (SD 19.3) months and group II was 4.2 (SD 3.1) months. Gross motoric level in both group Increased from GMFCS IV to GMFCS II in group I (P=0.0001) and from GMFCS IV to GMFCS III (P=0.002) in group II. The mean total CP QOL scores in group I and II was 79.63 (SD 5.73) and 47.71 (SD 6.85) respectively (P=0.0001).

Conclusion Our study demonstrates that QOL in more than 10 months PT group is significantly higher than the other group.

(17)

PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP ANAK PALSI SEREBRAL YANG MENDAPAT TERAPI FISIK LEBIH DARI 10 BULAN DENGAN KURANG

DARI 10 BULAN

Dewi Angreany

Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik, Medan, Indonesia

, Johannes H. Saing, Melda Deliana, Yazid Dimyati, Fereza Amelia

Abstrak

Latar belakang Palsi serebral merupakan penyebab keterbatasan fisik paling umum pada anak. Keterbatasan aktivitas fisik menyebabkan rendahnya kualitas hidup anak. Terapi Fisik memegang peranan penting dalam tatalaksana anak dengan palsi serebral.

Tujuan Untuk membandingkan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan.

Metode Penelitian sekat lintang yang dilakukan pada bulan Juni sampai Desember 2012 di Medan. Sampel adalah anak palsi serebral usia 4 sampai 12 tahun yang telah mendapat terapi fisik. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok secara konsekutif yaitu kelompok I yang mendapat terapi fisik 10 bulan atau lebih, dan kelompok II yang mendapat terapi fisik kurang dari 10 bulan. Orangtua diminta untuk mengisi kuisioner CQ QOL-child. Data dianalisis menggunakan uji t independen dan Mann-Whitney dengan interval kepercayaan 95%.

Hasil Dari 60 anak yang memenuhi kriteria, 30 anak dimasukkan dalam kelompok I dan 30 anak dalam kelompok II. Rerata lamanya terapi fisik pada kelompok I adalah 35.7 (SD 19.3) bulan dan kelompok II 4.2 (SD 3.1) bulan. Tingkatan kemampuan motorik kasar anak meningkat pada kedua kelompok yaitu dari GMFCS IV menjadi GMFCS II pada kelompok I (P=0.0001) dan dari GMFCS IV menjadi GMFCS III (P=0.002) pada kelompok II. Rerata skor kualitas hidup pada kelompok I dan II adalah 79.63 (SD 5.73) dan 47.71 (SD 6.85) secara berurutan (P=0.0001).

Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang mendapat terapi fisik kurang dari 10 bulan.

(18)

COMPARISON OF THE QUALITY OF LIFE IN CEREBRAL PALSY CHILDREN WITH PHYSICAL THERAPY MORE AND LESS THAN 10

MONTHS

Dewi Angreany

Department of Child Health, Medical School,

, Johannes H. Saing, Melda Deliana, Yazid Dimyati, Fereza Amelia

University of Sumatera Utara – Haji Adam Malik Hospital, Medan, Indonesia

Abstract

Background Cerebral palsy (CP) is the most common cause of severe physical disability in childhood. These limitations may cause lower level experience or quality of life (QOL). Physical therapy (PT) plays a central role in managing CP.

Objective To compare QOL in CP children with PT more and less than 10 months.

Methods A cross sectional study was performed from June to December 2012 in Medan. Eligible samples were four until twelve years old CP children who received PT. samples were devided into 2 group consecutively, group I was CP children with PT≥10 months, group II was CP children with PT<10 months. Parents were asked to fill CP QOL questionnaires. Data was analyzed by using independent t-test and mann-whitney U test with 95% confidence interval.

Results We enrolled 60 CP children, 30 children into group I and 30 children into group II. The mean duration of PT in group I was 35.7 (SD 19.3) months and group II was 4.2 (SD 3.1) months. Gross motoric level in both group Increased from GMFCS IV to GMFCS II in group I (P=0.0001) and from GMFCS IV to GMFCS III (P=0.002) in group II. The mean total CP QOL scores in group I and II was 79.63 (SD 5.73) and 47.71 (SD 6.85) respectively (P=0.0001).

Conclusion Our study demonstrates that QOL in more than 10 months PT group is significantly higher than the other group.

(19)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Palsi serebral merupakan penyebab keterbatasan aktivitas fisik yang paling

sering pada anak, dengan Insidensi sekitar 2 sampai 2.5 per 1000 kelahiran

hidup.1 Palsi Serebral ditandai dengan perubahan tonus otot berupa

spastisitas atau rigiditas, kelemahan otot, gerakan involunter, atau kombinasi

diantaranya. Gangguan motorik umumnya disebabkan karena kerusakan

sistem saraf pusat dalam 2 tahun pertama kehidupan, bersifat tidak episodik

dan tidak progresif.2 Palsi serebral terjadi pada masa bayi dan anak, namun

dampak yang ditimbulkannya berlangsung sepanjang hidup.3

Prevalensi palsi serebral diketahui meningkat pada kelahiran prematur.

Bayi dengan berat badan lahir rendah 24 kali lebih berisiko menjadi palsi

serebral.4 Di Asia, distribusi pada bangsa Melayu lebih besar dibandingkan

bangsa India dan Cina.5

Pengobatan palsi serebral memerlukan pendekatan multidisiplin.

Secara garis besar tatalaksana dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu: latihan

fisik, obat-obatan dan / atau pembedahan, terapi perilaku.6 Terapi fisik

memegang peranan penting dalam meningkatkan fungsi motorik anak palsi

serebral.7 Perbaikan kemampuan motorik dapat meningkatkan kualitas hidup

(20)

Kualitas hidup anak palsi serebral dipengaruhi oleh kondisi kesehatan

fisik, personal dan lingkungan.9 Penilaian kualitas hidup merupakan hal yang

sangat penting untuk menilai kondisi kesehatan dan mengevaluasi terapi

yang telah diberikan terhadap anak palsi serebral.10 Kualitas hidup anak palsi

serebral dapat dinilai dengan menggunakan berbagai instrumen. Salah satu

insrumen yang dapat digunakan adalah Cerebral Palsy Quality Of Life

questionnaire for children (CP QOL-child). Kuisioner ini spesifik untuk anak

palsi serebral, memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi dan telah

diterjemahkan dalam beberapa versi bahasa.11

Gangguan motorik pada anak palsi serebral mengakibatkan

berkurangnya partisipasi dan menurunkan kualitas hidup anak. Pemberian

terapi fisik secara rutin selama 1 tahun dapat memperbaiki fungsi motorik

sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan mental anak.12 Dalam

suatu pengamatan yang dilakukan Prudente dkk di Brazil tahun 2010

didapatkan adanya peningkatan kualitas hidup yang signifikan pada anak

palsi serebral yang melakukan terapi fisik selama 10 bulan.13 Di Indonesia

belum ada penelitian yang menilai kualitas hidup anak palsi serebral

menggunakan kuisioner CP QOL-child dan membandingkan antara yang

(21)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan

pertanyaan : Bagaimana perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral

yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dan kurang dari 10 bulan?

1.3. Hipotesis

Ada perbedaan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik

lebih dari 10 bulan dan kurang dari 10 bulan.

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1. Tujuan Umum : membandingkan kualitas hidup anak palsi

serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dan

kurang dari 10 bulan.

1.4.2. Tujuan Khusus : membandingkan tingkatan motorik kasar anak

palsi serebral sebelum dan sesudah mendapat terapi fisik.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Di bidang akademik / ilmiah : meningkatkan pengetahuan peneliti

mengenai dampak palsi serebral terhadap kualitas hidup, dan pengaruh

terapi fisik dalam meningkatkan kualitas hidup anak.

2. Di bidang pelayanan masyarakat : dengan mengetahui dampak dari palsi

(22)

pelayanan kesehatan terhadap anak dan mempermudah akses dalam

mencapai tempat pelayanan kesehatan.

3. Di bidang pengembangan penelitian : memberikan kontribusi ilmiah

mengenai pengaruh terapi fisik terhadap peningkatan kualitas hidup anak

(23)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi palsi serebral

Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan

dan bentuk tubuh, yang menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan

tidak bersifat progresif, terjadi saat perkembangan otak janin dan bayi.

Gangguan motorik sering disertai dengan gangguan sensasi, persepsi,

kognisi, komunikasi, gangguan perilaku, epilepsi, dan gangguan

muskuloskeletal.14

2.2. Etiologi dan faktor risiko palsi serebral:

Penyebab palsi serebral pada sebagian besar anak tidak diketahui.1

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya palsi serebral antara

lain: faktor risiko prenatal (korioamnionitis pada ibu, pertumbuhan janin

terganggu, terpapar dengan toksin, infeksi Toksoplasma, Rubella,

Sitomegalovirus, Herpes simpleks / TORCH kongenital); kerusakan otak di

masa perinatal (hipoksik-iskemik, strok neonatal, trauma, perdarahan

intrakranial), kerusakan otak pada prematuritas (periventricular leukomalacia /

PVL), gangguan perkembangan (malformasi otak intrauterin, gangguan

metabolik dan genetik); kerusakan otak di masa postnatal (kern icterus,

(24)

2.3. Diagnosis palsi serebral

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Beberapa

pemeriksaan neurologi yang dapat dilakukan seperti pemeriksaan terhadap

perubahan tonus otot, kekuatan otot, refleks, dan koordinasi.16 Terdapatnya

refleks primitif yang persisten dan tidak adanya reflek protektif pada usia

yang seharusnya, merupakan gambaran penting yang menggambarkan

adanya gangguan pada traktus kortikospinalis.17

2.4. Klasifikasi palsi serebral

Secara garis besar, klasifikasi palsi serebral dapat dibagi menjadi:

1. Klasifikasi fisiologi dan topografi

Palsi serebral dapat dibagi dalam 2 kelompok fisiologi yaitu piramidal dan

ekstrapiramidal.15 Pada kelompok piramidal, gejala yang menonjol adalah

spastisitas, ditemukan pada 70% - 85% dari seluruh kasus palsi serebral. 18

Sedangkan kelompok ekstrapiramidal antara lain diskinesia, korea, atetosis,

distonia, dan ataksia.15

Klasifikasi palsi serebral tipe spastik dapat dibagi berdasarkan

lokalisasi atau topografi disfungsi motorik, antara lain: diplegi, hemiplegi,

(25)

2. Klasifikasi fungsional

Klasifikasi fungsional berdasarkan tingkat keparahan gangguan motorik /

Gross Motor Function Classification System (GMFCS).19 GMFCS dibedakan

berdasarkan kelompok umur dan terbagi menjadi 5 tingkatan, yaitu:20

Tingkat I : berjalan tanpa hambatan

Tingkat II : berjalan dengan hambatan

Tingkat III : berjalan dengan menggunakan alat bantuan pegangan tangan

Tingkat IV : bergerak sendiri dengan hambatan, kadang menggunakan alat

bantu mobilitas

Tingkat V : berpindah tempat dengan menggunakan kursi roda

GMFCS dapat digunakan untuk menentukan pemilihan terapi yang tepat

sesuai dengan usia pasien dan tingkatan fungsi motorik, serta memprediksi

prognosis fungsi motorik kasar anak palsi serebral.19

2.5. Kualitas hidup anak palsi serebral

Kualitas hidup diartikan sebagai persepsi subjektif individu terhadap

kedudukannya dalam kehidupan, meliputi berbagai komponen kehidupan

seperti sistem nilai dan budaya di tempat tinggalnya dalam hubungannya

dengan tujuan, harapan, dan norma.10,12 Kualitas hidup anak palsi serebral

merupakan penilaian terhadap seluruh aspek kehidupan, meliputi aspek

kesehatan (fisik, mental, dan sosial) dan aspek non kesehatan (ekonomi,

(26)

Secara umum, kualitas hidup anak palsi serebral lebih rendah

dibandingkan anak normal kelompok usia yang sama. Gangguan motorik

memegang peranan penting dalam hal ini.12 Di Asia seperti Malaysia, kualitas

hidup anak palsi serebral masih rendah, hal ini disebabkan karena kurangnya

fasilitas pelayanan kesehatan untuk anak-anak cacat, kurangnya kesadaran

dan keahlian dari sumber daya manusia, dan tingkat ekonomi yang rendah.5

Namun beberapa bayi dengan gangguan motorik ringan menunjukkan

perbaikan dan mencapai fungsi motorik normal pada masa anak-anak.21

2.6. Penilaian kualitas hidup anak palsi serebral

Pemilihan instrumen kualitas hidup bergantung kepada validitas, keandalan,

mudah dalam penggunaan, biaya lebih murah, sesuai dengan sosial kultural /

budaya setempat.11,22

Beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kualitas hidup anak

palsi serebral, diantaranya:

1. Cerebral Palsy Quality Of Life questionnaire for children (CP QOL-child).

CP QOL-child adalah kuisioner yang digunakan untuk menilai kualitas hidup

anak palsi serebral usia 4-12 tahun. Ada 7 aspek yang dinilai, yaitu: (1)

(27)

CP QOL dapat digunakan untuk: menentukan faktor-faktor yang

mempengaruhi kualitas hidup anak palsi serebral, mengetahui apakah

intervensi yang diberikan telah meningkatkan kualitas hidup dan

mendapatkan informasi tentang beberapa aspek dalam kehidupan anak.11

2. Caregiver Priorities and Child Health Index of Life with disabilities

(CPCHILD)

Merupakan alat yang digunakan untuk menilai status fungsional dan

kesehatan, hubungan kesehatan dan kualitas hidup anak palsi serebral yang

sangat berat umur 5-18 tahun. CPCHILD menilai 6 aspek yaitu: (1)

Perawatan diri sendiri (2) Posisi, pindah tempat, dan mobilitas (3) Komunikasi

dan interaksi sosial (4) Kenyamanan, emosi, dan perilaku (5) Kesehatan (6)

Kualitas hidup.23

CPCHILD dapat digunakan untuk: membantu klinisi menilai faktor

yang mengganggu kualitas hidup anak, memonitor perkembangan anak,

membantu dalam perencanaan dan evaluasi program rehabilitasi bagi

anak.22,23

3. Pediatric Quality of Life inventory (PedsQL) 3.0 Cerebral palsy module

Merupakan alat untuk menilai hubungan kesehatan dengan kualitas hidup

khusus pada palsi serebral. PedsQL 3.0 ini dirancang untuk anak sehat dan

(28)

Aktivitas sehari-hari (2) Aktivitas sekolah (3) Pergerakan dan keseimbangan

(4) Nyeri dan sakit (5) Kelelahan (6) Aktivitas untuk makan (7) Berbicara dan

komunikasi.24,25 PedsQL 3.0 ini dapat digunakan untuk: menentukan faktor

yang mempengaruhi kualitas hidup anak, membantu mengoptimalkan terapi

yang diberikan pada anak.25

2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup palsi serebral 1. Kondisi kesehatan atau penyakit anak

Hal ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi kualitas hidup anak.

Kondisi kesehatan fisik terutama ditentukan oleh struktur dan fungsi tubuh

anak. Anak palsi serebral mempunyai gangguan beberapa sistem tubuh

seperti sistem saraf pusat, respirasi, kardiovaskular, dan muskuloskeletal.26

Gangguan anatomi tubuh disebabkan karena perubahan struktur dan

morfologi otot. Penelitian secara immunohistochemical pada anak palsi

serebral, menunjukkan adanya peningkatan jaringan lemak intramuskular,

penumpukan kolagen pada otot, dan hipotrofi serat otot.27 Perubahan struktur

dan fungsi tubuh pada anak palsi serebral akan mengakibatkan penurunan

aktivitas dan partisipasi anak dalam melakukan kegiatan sehari-hari,

(29)

2. Faktor personal

Faktor personal berkaitan dengan aspek emosional dan perilaku (internalisasi

dan eksternalisasi). Perlindungan yang berlebihan dari orang tua dapat

menimbulkan masalah psikologis pada anak palsi serebral seperti

kecemasan dan depresi. Suatu penelitian di Hongkong tahun 2008

menunjukkan bahwa tingkatan gangguan motorik tidak mempengaruhi

psikologi anak.28 Anak dengan gangguan emosional dan perilaku

menunjukkan penurunan komunikasi dan fungsi sosial, yang mengakibatkan

rendahnya kualitas hidup.12,29

3.Faktor lingkungan

Keluarga, masyarakat, dan pemerintah memegang peranan penting dalam

faktor lingkungan.30 Kurangnya penerimaan anak palsi serebral dalam

masyarakat berupa adanya sikap diskriminasi, stigmatisasi, dan kurang

pengertian dari masyarakat terhadap kondisi anak palsi serebral,

menyebabkan menurunnya kualitas hidup anak.31 Faktor keluarga

dipengaruhi oleh: tingkat pendidikan orang tua, status perkawinan orang tua,

serta kesehatan fisik dan mental orang tua.29

2.8. Terapi Fisik pada anak palsi serebral

Terapi fisik adalah bentuk pengobatan dengan latihan dan peralatan

(30)

kemampuan fisiknya. Disebut juga fisioterapi. Terapi fisik sebaiknya diberikan

dalam satu tahun pertama kehidupan atau segera setelah diagnosis palsi

serebral dibuat. Pemberian terapi fisik juga terbukti dapat memperbaiki

panjang langkah, urutan langkah, kecepatan dan irama gaya berjalan,

peningkatan rentang gerakan, pengurangan spastisitas dan rigiditas.31

Terapi fisik bertujuan untuk memperbaiki struktur dan fungsi tubuh,

sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan partisipasi anak.8 Manfaat

pemberian terapi fisik pada anak palsi serebral antara lain: mencegah

komplikasi muskuloskeletal seperti kelemahan atau atrofi otot, menghindari

kontraktur otot, mencegah deformitas tulang, dan membantu anak melakukan

aktivitas sehari-hari.32

Terapi fisik pada anak palsi serebral mencakup peregangan,

penguatan, dan pengaturan posisi.9 Frekuensi pemberian terapi fisik masih

bervariasi diantara beberapa sentra. Suatu penelitian menggambarkan

bahwa perbaikan motorik dicapai bila terapi dilakukan empat kali dalam

sebulan, dan tiga jam setiap kali latihan, selama dua tahun. Terapi fisik

(31)

2.9. Kerangka Konseptual

Kerusakan otak masa prenatal Kerusakan otak masa perinatal Kerusakan otak masa postnatal

PALSI SEREBRAL

Gangguan gerakan dan bentuk tubuh Penurunan aktivitas Penurunan partisipasi Faktor personal Faktor lingkungan KUALITAS HIDUP CP QOL-child

(1) fungsi sosial dan penerimaan, (2) partisipasi dan kesehatan fisik, (3)

fungsi, (4) mental, (5) nyeri dan dampak kecacatan, (6) akses ke tempat pelayanan kesehatan, (7)

[image:31.612.113.480.138.671.2]

kesehatan keluarga

Gambar 2.8 Kerangka konseptual

= yang diteliti

Gangguan sensasi, persepsi,

(32)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Desain

Penelitian ini merupakan studi sekat lintang yang membandingkan kualitas

hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik 10 bulan atau lebih

dengan kurang dari 10 bulan.

3.2. Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Haji Adam Malik

Medan, Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD dr.Pirngadi Medan, Yayasan

Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan. Penelitian dilaksanakan pada bulan

Juni sampai Desember 2012.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi target adalah anak yang didiagnosis palsi serebral oleh dokter

spesialis neurologi anak. Populasi terjangkau adalah populasi target yang

datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik Medan, Instalasi

Rehabilitasi Medik RSUD dr. Pirngadi Medan, dan Yayasan Pembinaan Anak

(33)

3.4. Perkiraan Besar Sampel

Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus data numerik untuk dua

populasi independen,yaitu:34

�1 = �2 = 2 �(��+��)�� (�1− �2) �

2

n1 = n2 = besar sampel masing-masing kelompok

α = kesalahan tipe I = 0,05 Tingkat kepercayaan 95%

Zα = deviat baku normal untuk α = 1,96

β = kesalahan tipe II = 0,2 Power (kekuatan penelitian) 80%

Zβ = 0,842

Sd = simpangan baku kelompok yang mendapat terapi fisik = 34,213

X1–X2 = perbedaan selisih skor yang diharapkan = 30

Dengan menggunakan rumus di atas maka didapat besar sampel untuk

(34)

3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.5.1. Kriteria Inklusi

1. Anak usia 4-12 tahun yang telah didiagnosis palsi serebral oleh dokter

spesialis neurologi anak.

2. Anak mendapat terapi fisik / fisioterapi

3.5.2. Kriteria Eksklusi

1. Anak menderita penyakit neurodegeneratif atau penyakit psikiatri.

2. Telah menjalani terapi pembedahan.

3. Menggunakan obat-obatan anti spastisitas.

3.6. Persetujuan / Informed Consent

Semua sampel penelitian akan diminta persetujuan dari orang tua setelah

dilakukan penjelasan terlebih dahulu. Formulir penjelasan terlampir dalam

usulan penelitian ini.

3.7. Etika Penelitian

Penelitian ini disetujui oleh Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran

(35)

1. Orang tua dan anak diberikan penjelasan dan informed consent yang

menyatakan setuju mengikuti penelitian ini.

2. Data dasar diperoleh dari wawancara dan kuisioner.

3. Semua anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik 10 bulan atau

lebih dimasukkan dalam kelompok pertama, dan anak palsi serebral yang

mendapat terapi fisik kurang dari 10 bulan dimasukkan dalam kelompok

kedua. Frekuensi terapi fisik yang dilakukan minimal 1 kali dalam

seminggu atau 4 kali dalam sebulan, dengan lama terapi fisik 1 sampai 3

jam setiap kali latihan.

4. Dilakukan pengukuran antropometri yang terdiri dari pengukuran berat

badan dan tinggi / panjang badan anak. Berat badan diukur dalam

satuan kg, menggunakan timbangan merk Camry buatan Cina, dengan

ketelitian 0.1 cm. Tinggi badan diukur dalam satuan cm, menggunakan

stadiometer bagi anak yang dapat berdiri. Sedangkan untuk anak yang

tidak dapat berdiri, dilakukan pengukuran panjang badan dengan

menggunakan kayu pengukur, dengan pengurangan 0.5-1.5 cm dari hasil

pengukuran. Anak dengan gangguan fisik dilakukan pengukuran alternatif

dengan rentang lengan, panjang lengan atas, dan panjang tungkai

bawah, dengan rumus sebagai berikut:35

Perempuan (cm) = 84.88 - (0.24 x usia) + (1.83 x panjang tungkai bawah)

(36)

5. Lingkar kepala diukur dengan menggunakan pita pengukur, diambil dari

lingkar maksimum kepala yaitu di atas tonjolan supraorbita dan

melingkari protuberantia oksipital. Pengukuran dicatat dengan ketelitian

0.1 cm.35

6. Tingkatan gangguan motorik kasar dinilai dengan menggunakan Gross

Motor Function Classification System (GMFCS).20 Data gangguan motorik

sebelum terapi diambil dari terapis berdasarkan kemampuan fisik anak

sebelum mendapat terapi yang dikonversikan ke GMFCS. Tingkatan

gangguan motorik setelah terapi dinilai langsung saat mengambil data.

7. Tingkatan IQ anak diukur dengan melakukan tes IQ secara langsung

kepada anak yang dilakukan oleh seorang psikologis anak; sebagian lagi

diambil dari data IQ anak yang telah dilakukan di tempat terapi.

8. Masing-masing orang tua diberi kuisioner CP QOL-Child yang berisikan

beberapa pertanyaan penilaian kualitas hidup anak palsi serebral.

9. Kuisioner yang telah diisi dikumpulkan dan diteliti kelengkapannya.

10. Berdasarkan hasil jawaban kuisioner dilakukan penilaian kualitas hidup

anak pada kelompok pertama dan kedua dengan menjumlahkan seluruh

(37)

12. Anak dengan hasil kuisioner menunjukkan gangguan kualitas hidup yang

berat akan ditindaklanjuti dengan konseling ke ahli psikologi anak.

3.9. Alur Penelitian

3.10. Identifikasi Variabel

Variabel bebas Skala

Lama menjalani fisioterapi kategorikal

Variabel tergantung Skala

Kualitas hidup numerik

Populasi terjangkau yang memenuhi

kriteria inklusi

Anak yang mendapat terapi fisik ≥ 10 bulan

Anak yang mendapat terapi fisik < 10 bulan

Penilaian kualitas hidup

(38)

3.11. Definisi Operasional

a. Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh,

yang menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan bersifat tidak

progresif dan tidak episodik.14

b. Gross Motor Function Classification System (GMFCS) adalah klasifikasi

fungsional berdasarkan kemampuan untuk bergerak dengan lebih

menekankan pada duduk, berpindah tempat, dan terbagi dalam 5

tingkatan gangguan motorik:20

• GMFCS usia 4-6 tahun

Tingkat I: Anak duduk di kursi tanpa bantuan penyangga tangan. Anak

bangkit dari lantai atau kursi untuk berdiri tanpa alat bantu. Anak dapat

berjalan di dalam dan di luar ruangan, dan menaiki tangga. Anak

mempunyai kemampuan untuk berlari dan melompat.

Tingkat II: Anak duduk dengan kedua tangan bebas untuk memegang

benda. Anak bangkit dari lantai atau kursi untuk berdiri sering

membutuhkan permukaan yang stabil untuk dapat menarik atau

mendorong dengan tangan mereka. Anak berjalan tidak membutuhkan

alat bantu penyangga tangan di dalam ruang dan untuk jarak yang dekat

(39)

Tingkat III: Anak duduk di kursi biasa namun membutuhkan penyangga

panggul dan badan untuk memaksimalkan fungsi lengannya. Anak

bangkit meninggalkan kursi duduk dengan menggunakan permukaan

yang stabil untuk menarik atau mendorong dengan lengannya. Anak

berjalan dengan bantuan penyangga tangan dan menaiki tangga dengan

bantuan orang dewasa. Anak sering digendong pada perjalanan jauh atau

pada medan yang tidak rata.

Tingkat IV: Anak duduk di kursi namun membutuhkan susunan duduk

adaptif untuk mengontrol badan dan memaksimalkan fungsi tangan. Anak

bangkit meninggalkan kursi duduk dengan bantuan orang dewasa atau

pada permukaan yang stabil untuk menarik dan mendorong dengan

lengannya. Anak dapat berjalan baik pada jarak dekat dengan walker dan

pengawasan orang tua tetapi mempunyai kesulitan untuk mengubah dan

mempertahankan keseimbangan pada permukaan yang tidak rata. Anak

digendong dalam masyarakat. Anak dapat bergerak sendiri dengan

menggunakan kursi roda listrik.

Tingkat V: Gangguan fisik membatasi kontrol gerakan dan kemampuan

mempertahankan antigravitasi kepala dan bentuk tubuh. Seluruh fungsi

motorik terbatas. Keterbatasan fungsi dalam duduk dan berdiri yang tidak

sepenuhnya dapat dikompensasi dengan menggunakan alat bantu. Pada

(40)

digendong. Beberapa anak dapat bergerak sendiri dengan menggunakan

kursi roda listrik dengan adaptasi yang luas.

• GMFCS usia 6-12 tahun

Tingkat I: Anak berjalan di rumah, sekolah, di luar ruangan, dan di dalam

masyarakat. Anak dapat berjalan menaiki dan menuruni trotoar tanpa

penyangga badan dan menaiki tangga tanpa berpegangan pada pinggir

tangga. Anak dapat melakukan kemampuan motorik kasar seperti berlari

dan melompat, namun kecepatan, keseimbangan, dan koordinasi

terbatas. Anak dapat berpatisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga

bergantung pada pilihan sendiri dan faktor lingkungan.

Tingkat II: Anak berjalan pada sebagian besar tempat. Anak mengalami

kesulitan berjalan jauh dan keseimbangan di tempat yang tidak rata,

tempat mendaki, tempat ramai, tempat tertutup, atau ketika membawa

benda. Anak naik dan turun tangga dengan berpegangan pada pinggir

tangga atau dengan bantuan penyangga badan jika tidak ada pinggir

tangga. Di luar ruangan dan dalam masyarakat anak dapat berjalan

dengan penyangga badan, alat mobilitas penyangga tangan, atau alat

(41)

ketrampilan motorik mungkin memerlukan adaptasi agar dapat

berpartisipasi pada kegiatan fisik dan olahraga.

Tingkat III: Anak berjalan dengan menggunakan alat mobilitas penyangga

tangan di dalam ruangan. Ketika duduk, anak mungkin membutuhkan

sabuk pengaman untuk keselarasan panggul dan keseimbangan.

Perpindahan dari duduk untuk berdiri atau dari lantai untuk berdiri

memerlukan bantuan fisik dari orang lain atau dukungan tempat. Ketika

pergi jarak jauh, anak menggunakan beberapa bentuk mobilitas beroda.

Anak dapat naik dan turun tangga dengan berpegangan pada pinggir

tangga dengan pengawasan atau penyangga badan. Keterbatasan

berjalan mungkin memerlukan adaptasi agar dapat berpartisipasi pada

kegiatan fisik dan olahraga termasuk mendorong sendiri kursi roda

manual atau kursi roda listrik.

Tingkat IV: Anak menggunakan metode mobilitas yang membutuhkan

penyangga badan atau mobilitas listrik pada berbagai situasi. Anak

memerlukan duduk adaptif untuk mengontrol tubuh dan panggul, dan

penyangga badan pada sebagian besar perpindahan. Di rumah anak

menggunakan mobilitas lantai (berguling, merayap, merangkak), berjalan

jarak pendek dengan penyangga badan atau menggunakan mobilitas

listrik. Bila diposisikan anak memerlukan walker penyangga tubuh di

rumah atau di sekolah. Di sekolah, di luar ruangan, dan dalam

(42)

Keterbatasan dalam pergerakan memerlukan adaptasi agar dapat

berpartisipasi pada kegiatan fisik dan olahraga termasuk penyangga

badan dan atau mobilitas listrik.

Tingkat V: Anak dibawa dengan kursi roda manual dalam berbagai situasi.

Anak memiliki keterbatasan dalam kemampuan mempertahankan

antigravitasi kepala dan postur tubuh, dan mengontrol pergerakan lengan

dan kaki. Bantuan teknologi diperlukan untuk memperbaiki kesejajaran

kepala, duduk, berdiri, dan atau bergerak, namun keterbatasan tidak

sepenuhnya dapat dikompensasi dengan peralatan. Perpindahan

memerlukan bantuan fisik lengkap dari orang dewasa. Di rumah anak

mungkin dapat bergerak jarak pendek di lantai atau digendong orang

dewasa. Anak mungkin dapat bergerak sendiri menggunakan mobilitas

listrik dengan adaptasi yang luas untuk duduk dan mengontrol jalan.

Keterbatasan mobilitas memerlukan adaptasi agar dapat berpartisipasi

pada kegiatan fisik dan olah raga termasuk penyangga tubuh dan

menggunakan mobilitas listrik.

c. Spastisitas dikarakteristikkan dengan peningkatan tonus otot berupa fleksi

pasif disepanjang kelompok otot suatu sendi.18

(43)

Distonia adalah perubahan abnormal tonus otot secara keseluruhan yang

dipicu oleh pergerakan.21

e. Diplegi adalah keterlibatan motorik terutama pada ekstremitas bawah

bilateral.15

f. Hemiplegi adalah keterlibatan ekstremitas atas dan bawah unilateral.15

g. Kuadriplegi / tetraplegi adalah disfungsi keempat ekstremitas.15

h. Kualitas hidup diartikan sebagai persepsi subjektif individu terhadap

kedudukannya dalam kehidupan, meliputi berbagai komponen kehidupan

seperti sistem nilai dan budaya di tempat tinggalnya dalam hubungannya

dengan tujuan, harapan, norma dan perhatian yang dimiliki.Dinilai dengan

menggunakan CP QOL-child.10,12

i. CP QOL-child adalah kuisioner yang digunakan untuk menilai kualitas

hidup anak palsi serebral, dirancang untuk anak umur 4-12 tahun. Ada 7

aspek kehidupan yang dinilai yaitu: (1) kemampuan sosial dan

penerimaan, (2) partisipasi dan kesehatan fisik, (3) status fungsional, (4)

emosi, (5) nyeri dan dampak kecacatan, (6) akses ke tempat pelayanan

kesehatan, (7) kesehatan keluarga.10,11,22 Masing-masing pertanyaan

mempunyai 9 tingkatan, mulai dari 1 (sangat tidak bahagia) sampai 9

(sangat bahagia) kecuali untuk pertanyaan ke 47 yang terdiri dari 5 kriteria.

Selanjutnya tiap tingkatan diberi nilai 0-100 dengan perincian 1=0; 2=12,5;

3=25; 4=37,5; 5=50; 6=62,5; 7=75; 8=87,5; 9=100. Untuk pertanyaan ke

(44)

pertanyaan dijumlahkan dan diambil nilai rata-ratanya. Kemudian

dibandingkan nilai rata-rata antara kedua kelompok.

j. Fungsi fisik adalah setiap pergerakan tubuh yang menghasilkan

peningkatan output energi.9

k. Partisipasi adalah keterlibatan dalam situasi kehidupan dan merupakan

interaksi antara individu dengan kesehatan fisik, sosial dan lingkungan.36

l. Fungsi sosial adalah upaya untuk membentuk dan mempertahankan

hubungan sosial yang diperkuat oleh faktor lingkungan dan interaksi

positif.29

m. Status fungsional adalah kapasitas anak untuk memenuhi keperluan hidup

sehari-hari.29

n. Terapi fisik adalah bentuk pengobatan dengan latihan dan peralatan

khusus agar anak dapat memulihkan, mempertahankan, dan

meningkatkan kemampuan fisiknya. Disebut juga fisioterapi.31

o. Penyakit neurodegeneratif adalah penyakit akibat kerusakan neuron dan

serabut mielin, yang bermanifestasi berupa gangguan motorik (ataksia)

dan mempengaruhi ingatan (demensia).2

p. Penyakit psikiatri adalah penyakit gangguan mental yang meliputi kelainan

(45)

3.12. Pengolahan dan Analisa Data

Pengolahan data yang terkumpul dilakukan dengan menggunakan perangkat

lunak SPSS dengan tingkat kemaknaan P < 0.05. Untuk membandingkan

kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10

bulan dan kurang dari 10 bulan digunakan uji t independen dan uji

Mann-Whitney. Untuk membandingkan tingkat gangguan motorik anak palsi

serebral sebelum dan setelah terapi fisik digunakan uji marginal homogeinity.

(46)

BAB 4. HASIL

Sampel diperoleh dari anak penderita palsi serebral yang mendapat terapi

fisik di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Haji Adam Malik, RSUD dr.

Pirngadi, Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Medan. Pada ketiga

tempat ini hanya didapatkan 47 anak (16 anak dari RSUP Haji Adam Malik, 4

anak dari RSUD dr.Pirngadi Medan, 27 anak dari YPAC). Untuk memenuhi

jumlah sampel, kami melakukan penelitian terhadap anak palsi serebral yang

mendapat terapi fisik di tempat atau klinik swasta lain di Kota Medan seperti

Kidcare children therapy center, Althaf home care, pusat rehabilitasi medik

RS dr. Rusdi Medan. Diperoleh sampel 73 anak palsi serebral yang terdiri

dari 38 anak yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dan 35 anak yang

mendapat terapi fisik kurang dari 10 bulan.

Dari 73 anak palsi serebral, 13 anak dieksklusikan dari penelitian ini

karena 4 anak berusia di bawah 4 tahun, 6 anak berusia di atas 12 tahun, 3

anak mendapat terapi anti spastisitas. Dari 60 anak yang memenuhi kriteria

inklusi dibagi menjadi dua kelompok yaitu: kelompok pertama yang terdiri dari

30 anak penderita palsi serebral yang mendapat terapi fisik 10 bulan atau

(47)
[image:47.612.84.500.104.452.2]

Gambar 4.1. Profil penelitian

Rata-rata usia pada kelompok I adalah 9.7 tahun dan pada kelompok

II adalah 6.9 tahun. Responden terbanyak berjenis kelamin laki-laki pada

kelompok I yaitu 17 anak (56.7%), sedangkan pada kelompok II

perbandingan laki-laki dan perempuan sama. Status gizi dan lingkar kepala

terbanyak pada kedua kelompok responden adalah normal. Tingkat

pendidikan orang tua responden yang terbanyak adalah SMA (Tabel 4.1). 73 anak palsi serebral yang

mendapat terapi fisik

13 anak dieksklusikan : 4 anak berusia < 4 tahun 6 anak berusia > 12 tahun 3 anak mendapat obat anti spastisitas

60 anak yang memenuhi kriteria inklusi

Kelompok I Anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik ≥ 10

bulan (n=30)

Kelompok II Anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik < 10

bulan (n=30)

Orangtua mengisi kuisioner penilaian kualitas hidup

( CP QOL-Child )

Orangtua mengisi kuisioner penilaian kualitas hidup

(48)
[image:48.612.119.509.139.669.2]

Tabel 4.1 Data demografi sampel penelitian

Karakteristik responden Kelompok I n = 30

Kelompok II n = 30

Jenis Kelamin, n (%)

Laki-laki 17 ( 56.7 ) 15 ( 50 )

Perempuan 13 ( 43.3 ) 15 ( 50 )

Umur (tahun), mean (SD) 9.7 ( 2.45 ) 6.9 ( 1.74 ) Berat badan (kg), mean (SD) 26 ( 9.11 ) 19.3 ( 4.98 ) Tinggi badan (cm), mean (SD) 126.0 ( 15.28 ) 110.8 ( 20.09 ) BB/TB (%), mean (SD) 95.9 (10.48 ) 93.0 ( 6.48 ) Status Gizi, n (%)

Gizi normal 16 ( 53.3 ) 21 ( 70 )

Malnutrisi ringan 8 ( 26.7 ) 9 ( 30 )

Malnutrisi sedang 1 ( 3.3 ) -

Gizi lebih 5 ( 16.7 ) -

Lingkar kepala (cm), mean (SD) 50.8 ( 2.74 ) 48.9 ( 3.76 ) Lingkar kepala, n (%)

Normal 18 ( 60 ) 18 ( 60 )

Mikrosefali 9 ( 30 ) 11 ( 36.7 )

Makrosefali 3 ( 10 ) 1 ( 3.3 )

Status imunisasi anak, n (%)

Lengkap 26 ( 86.7 ) 29 ( 96.7 )

Tidak lengkap 4 ( 13.3 ) 1 ( 3.3 )

Pendidikan ayah, n (%)

SD 3 ( 10 ) 1 ( 3.3 )

SLTP 1 ( 3.3 ) 1 ( 3.3 )

SLTA 17 ( 56.7 ) 15 ( 50 )

S1 9 ( 30 ) 13 ( 43.3 )

Pendidikan ibu, n (%)

SD 3 ( 10 ) 1 ( 3.3 )

SLTP 1 ( 3.3 ) 5 ( 16.7 )

SLTA 18 ( 60 ) 14 ( 46.7 )

S1 8 ( 26.7 ) 10 ( 33.3 )

Pekerjaan ayah, n (%)

Wiraswasta 21 ( 70 ) 13 ( 43.3 )

Buruh/tani - 2 ( 6.7 )

PNS 3 ( 10 ) 2 ( 6.7 )

Pegawai swasta 5 ( 16.7 ) 11 ( 36.7 )

Profesional 1 ( 3.3 ) -

TNI/Polri - 2 ( 6.7 )

Pekerjaan ibu, n (%)

Wiraswasta 2 ( 6.7 ) 3 ( 10 )

(49)
[image:49.612.116.522.148.548.2]

Tabel 4.2 Data neurologi sampel penelitian

Karakteristik responden Kelompok I (n =30) Kelompok II (n = 30)

Klasifikasi fisiologis, n (%)

Spastik 22 ( 73.3 ) 23 ( 76.7 )

Hipotoni 7 ( 23.3 ) 6 ( 20 )

Atonia 1 ( 3.3 ) 1 ( 3.3 )

Klasifikasi topografi, n (%)

Hemiplegi - 1 ( 3.3 )

Diplegi 13 ( 43.3 ) 8 ( 26.7 )

Tetraplegi / kuadriplegi 17 ( 56.7 ) 21 ( 70 ) Usia pertama kali didiagnosis, n (%)

< 2 tahun 16 ( 53.3 ) 11 ( 36.7 )

> 2 tahun 9 ( 30 ) 15 ( 50 )

Tidak tahu 5 ( 16.7 ) 4 ( 13.3 )

Gangguan lain, n (%)

Bicara 14 ( 46.7 ) 22 ( 73.3 )

Bicara & melihat 1 ( 3.3 ) 3 ( 10 )

Bicara & mendengar 3 ( 10 ) 4 ( 13.3 )

Tidak ada 12 ( 40 ) 1 ( 3.3 )

Memerlukan alat bantu khusus, n (%)

Ya 25 ( 83.3 ) 21 ( 70 )

Tidak 5 ( 16.7 ) 9 ( 30 )

Jenis alat bantu khusus, n (%)

Tongkat khusus 3 ( 10 ) -

Kursi roda 8 ( 26.7 ) 2 ( 6.7 )

Sepatu khusus 5 ( 16.7 ) 7 ( 23.3 )

Splint 3 ( 10 ) 6 ( 20 )

Tidak ada 11 ( 36.7 ) 15 ( 50 )

Tingkatan IQ anak, n (%)

Average 1 ( 3.3 ) -

Low average 6 ( 20 ) -

Borderline mental retardation 5 ( 16.7 ) -

Mild mental retardation 6 ( 20 ) -

Moderate mental retardation 5 (16.7) 1 (3.3)

Tidak dapat diperiksa 7 (23.3) 29 (96.7)

Tabel 4.2 menunjukkan data neurologi anak palsi serebral dimana pada

kedua kelompok didapatkan: tipe gangguan motorik yang paling banyak

ditemukan adalah spastik tetraplegi / kuadriplegi. Selain gangguan fisik,

gangguan lain yang paling banyak ditemukan adalah gangguan bicara.

(50)

pada usia kurang dari 2 tahun dan pada kelompok II pada usia lebih dari 2

tahun. Hasil penelitian menunjukkan 83.3% pada kelompok I dan 70% pada

kelompok II responden memerlukan alat bantu khusus. Tingkatan IQ

responden pada kelompok I terbanyak adalah low average dan mild mental

retardation, 20 responden tidak dapat dilakukan pemeriksaan. Sedangkan

[image:50.612.117.522.337.543.2]

pada kelompok II hanya 1 anak yang dapat dilakukan pemeriksaan IQ.

Tabel 4.3 Data dasar terapi fisik

Karakteristik responden Kelompok I (n =30) Kelompok II (n = 30)

Lama terapi fisik (bulan), mean (SD) 35.7 ( 19.37 ) 4.2 ( 3.13 ) Frekuensi terapi fisik/minggu, n (%)

1 kali 1 ( 3.3 ) -

2 kali 3 ( 10 ) -

3 kali 15 ( 50 ) 22 ( 73.7 )

4 kali 11 ( 36.7 ) 8 ( 26.7 )

Motorik sebelum terapi, n (%)

GMFCS II 1 ( 3.3 ) 5 ( 16.7 )

GMFCS III 9 ( 30 ) 9 ( 30 )

GMFCS IV 15 ( 50 ) 10 ( 33.3 )

GMFCS V 5 ( 16.7 ) 6 ( 20 )

Motorik setelah terapi, n (%)

GMFCS I 2 ( 6.7 )

GMFCS II 19 ( 63.3 ) 9 ( 30 )

GMFCS III 9 ( 30 ) 10 ( 33.3 )

GMFCS IV - 6 ( 20 )

Rata-rata lama terapi fisik pada kelompok I adalah 35.7 bulan dan pada

kelompok II adalah 4.2 bulan dengan frekuensi terapi fisik paling sering yaitu

(51)

motorik kasar terbanyak adalah GMFCS II pada kelompok I dan GMFCS II

[image:51.612.113.521.238.396.2]

dan III pada kelompok II (tabel 4.3).

Tabel 4.4 Perbedaan tingkatan motorik sebelum dan setelah terapi pada kelompok I

Tingkatan motorik setelah terapi P

GMFCS I GMFCS II GMFCS III

Tingkatan motorik sebelum terapi

GMFCS II 1 (50) 0 0 0.0001

GMFCS III 1 (50) 8 (42.1) 0

GMFCS IV 0 9 (47.4) 6 (66.7)

GMFCS V 0 2 (10.5) 3 (33.3)

Dengan menggunakan uji marginal homogeneity pada tabel 4.4 ditemukan

perbedaan yang signifikan tingkatan motorik anak sebelum dan setelah

terapi fisik (P = 0.0001, P < 0.05) pada kelompok I. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa tingkatan motorik kasar sebelum terapi terbanyak pada

tingkat IV yaitu sebanyak 15 responden. Namun, setelah diberikan terapi,

umumnya tingkatan motorik berada pada tingkat II yaitu sebanyak 19

(52)
[image:52.612.112.554.162.330.2]

Tabel 4.5 Perbedaan tingkatan motorik sebelum dan setelah terapi pada kelompok II

Tingkatan motorik setelah terapi P

GMFCS II

GMFCS III

GMFCS IV

GMFCS V

Tingkatan motorik sebelum terapi

GMFCS II 5 (55.6) 0 0 0 0.002

GMFCS III 4 (44.4) 5 (50) 0 0

GMFCS IV 0 5 (50) 5 (83.3) 0

GMFCS V 0 0 1 (16.7) 5 (100)

Dengan menggunakan uji marginal homogeneity pada tabel 4.5 ditemukan

perbedaan yang signifikan tingkatan motorik sebelum dan setelah terapi (P =

0.02, P < 0.05) pada kelompok II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

tingkatan motorik sebelum terapi kebanyakan pada tingkat III dan IV yaitu

sebanyak 9 dan 10 responden. Namun, setelah diberikan terapi, umumnya

tingkat gangguan motorik berada pada tingkat II dan III yaitu sebanyak 9 dan

(53)
[image:53.612.119.523.157.414.2]

Tabel 4.6 Perbedaan skor kualitas hidup anak palsi serebral pada kedua kelompok

Skor Kelompok I

n = 30

Kelompok II

n = 30 P 95% CI

Kemampuan sosial dan penerimaan, mean (SD)

82.5 (8.34) 52.3 (8.46) 0.0001a 25.94 – 34.62

Partisipasi dan

kesehatan fisik 80.8 (7.52) 44.3 (10.56) 0.0001

a 31.81 – 41.29

Status fungsional 69.3 (5.30) 42.3 (9.37) 0.0001b -

Emosi 82.2 (10.51) 41.9 (16.14) 0.0001b -

Nyeri dan dampak

kecacatan 71.9 (9.44) 39.1 (8.52)

0.0001a 33.32 – 42.62 Akses ke tempat

pelayanan kesehatan

81.9 (6.03) 53.9 (8.14) 0.0001b -

Kesehatan keluarga 88.7 (6.19) 65.3 (9.81) 0.0001b -

Total

79.6 (5.73) 47.7 (6.85) 0.0001a 28.66 – 35.18 a Uji t independent, b Uji Mann whitney

Tabel 4.6 menampilkan perbedaan skor kualitas hidup anak palsi serebral

pada kedua kelompok responden. Dari uji statistik menggunakan uji t

independent dan Mann whitney diperoleh bahwa seluruh komponen kualitas

hidup menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok

responden (P = 0.0001, P < 0.05). Begitu pula untuk skor total kualitas hidup

(54)

BAB 5. PEMBAHASAN

Palsi serebral dijelaskan sebagai gangguan perkembangan motorik dan

bentuk tubuh akibat hambatan fungsi yang dikaitkan dengan gangguan non

progresif yang terjadi pada perkembangan otak janin atau anak.37 Palsi

serebral sering diikuti dengan gangguan neurologi yang lain seperti retardasi

mental, gangguan pendengaran, dan gangguan berbicara.2

Penelitian yang dilakukan oleh Pfeifer dkk terhadap 100 anak palsi

serebral di Brasil tahun 2009 didapati tipe palsi serebral secara fisiologi yang

paling banyak adalah spastik (80%) dan secara topografi yang terbanyak

adalah kuadriplegi / tetraplegi (52%).38 Hasil yang sama diperoleh dari

penelitian ini dimana lebih dari 70% responden pada kedua kelompok

termasuk dalam tipe spastik kuadriplegi. Sedangkan gangguan penyerta lain

yang paling banyak ditemukan adalah gangguan bicara.

Gangguan motorik pada anak palsi serebral merupakan penyebab

utama berkurangnya partisipasi dan aktivitas fisik anak.39 Terapi fisik sebagai

salah satu tatalaksana palsi serebral memegang peranan penting dalam

(55)

terapi fisik pada anak palsi serebral dapat berupa latihan kekuatan, latihan

olahraga, dan terapi berkuda.6

Terapi fisik pada anak palsi serebral bertujuan untuk memperbaiki

struktur dan fungsi tubuh, sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan

partisipasi anak.8 Penelitian yang dilakukan oleh The American Physical

Therapy Association tahun 2007 menunjukkan bahwa latihan fisik dapat

mengurangi kondisi sekunder atau komplikasi pada anak palsi serebral, dapat

membantu memperbaiki postur, tonus otot, dan keseimbangan.41

Suatu sistematik review yang menganalisis 22 uji klinis intervensi

terapi fisik terhadap anak palsi serebral, memperlihatkan efektifitas

menengah beberapa jenis terapi fisik untuk ekstremitas atas yang terbukti

memperbaiki range of motion (ROM) dengan segera.42 Penelitian yang

dilakukan Sorsdahl dkk di Norwegia tahun 2010 terhadap 22 orang anak palsi

serebral yang diberikan terapi fisik secara intensif dengan durasi 3 jam tiap

latihan, 5 hari dalam seminggu, selama 3 minggu terbukti dapat memperbaiki

kemampuan motorik dasar, meningkatkan kemandirian anak, dan

mengurangi ketergantungan anak terhadap pengasuh dan alat bantu gerak.8

Penelitian yang dilakukan Virginia Knox dkk di London, UK tahun 2002

terhadap 20 anak palsi serebral usia 2 sampai 12 tahun didapatkan hasil

bahwa pemberian terapi bobath selama 6 minggu efektif memperbaiki fungsi

(56)

Penelitian ini memperlihatkan adanya perbaikan motorik kasar anak

setelah mendapat terapi fisik. Pada kedua kelompok terjadi perubahan

tingkatan motorik kasar setelah mendapat terapi fisik yaitu dari GMFCS IV

menjadi GMFCS II pada kelompok I dan dari GMFCS IV menjadi GMFCS III

pada kelompok II. Terapi fisik pada penelitian ini terbukti secara bermakna

memperbaiki fungsi motorik anak palsi serebral.

Kualitas hidup didefinisikan oleh WHO sebagai persepsi subjektif

individu terhadap posisi dirinya dalam kehidupan.12 Penelitian Kualitas hidup

anak palsi serebral hampir selalu tidak mungkin melalui laporan langsung dari

anak karena keterbatasan dalam komunikasi dan gangguan kognisi.

Penilaian kualitas hidup anak palsi serebral yang berasal dari laporan anak

hasilnya sangat subjektif dan kurang akurat. Kesehatan mental anak menjadi

faktor yang penting dalam hal ini.44 Pada penelitian ini kuisioner diisi oleh

orangtua. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan responden untuk

berkomunikasi dan sebagian besar responden mempunyai gangguan motorik

yang berat yaitu GMFCS IV pada kedua kelompok yang diteliti.

Penilaian kualitas hidup anak palsi serebral dapat menggunakan

beberapa instrumen spesifik antara lain: CP QOL-child, CPCHILD, PedsQL

(57)

dampak kecacatan (6) Akses ke tempat pelayanan kesehatan (7) Kesehatan

keluarga.10,22

Aktivitas fisik diasumsikan mempunyai korelasi positif dengan kualitas

hidup dan fungsi psikososial.39 Penelitian yang dilakukan oleh Janssen dkk di

Belanda tahun 2009 menunjukkan kualitas hidup anak palsi serebral lebih

rendah dibandingkan anak normal pada kelompok usia yang sama dikaitkan

dengan gangguan motorik dan kesehatan mental yang dialami anak.12

Namun pada penelitian case control yang dilakukan oleh Jeng dkk di

Taiwan tahun 2013 terhadap 23 anak palsi serebral dengan GMFCS I,

dimana 11 anak diberikan terapi fisik secara rutin, dan 12 anak lainnya

sebagai kontrol tidak mendapat terapi fisik, didapati hasil adanya perbaikan

daya tahan jantung dan paru, kekuatan otot, fleksibilitas, agilitas, dan

keseimbangan yang bermakna pada kelompok kasus, namun tidak terdapat

perbedaan kualitas hidup yang bermakna antara kedua kelompok.45

Penelitian longitudinal yang dilakukan Prudente dkk di Brasil tahun 2010

menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup dan fungsi motorik anak

palsi serebral setelah melakukan rehabilitasi selama 10 bulan.13

Pada penelitian ini didapatkan hasil adanya perbedaan kualitas hidup

secara bermakna antara kedua kelompok dimana pada kelompok anak palsi

serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan kualitas hidup lebih

(58)

10 bulan. Perbedaan kualitas hidup tersebut terdapat pada ketujuh aspek

yang dinilai dan skor total antara kedua kelompok.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian ini dilakukan

secara cross-sectional sehingga tidak dapat diketahui perkembangan atau

perbaikan motorik kasar anak secara berkala. Tidak dapat diketahui frekuensi

terapi fisik yang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup anak palsi

serebral. Pemeriksaan IQ tidak dapat dilakukan terhadap seluruh responden

penelitian oleh karena sebagian besar sampel termasuk dalam palsi serebral

(59)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

- Kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10

bulan lebih tinggi dibandingkan dengan anak palsi serebral yang mendapat

terapi fisik kurang dari 10 bulan.

- Tingkat kemampuan motorik anak palsi serebral mengalami perbaikan

setelah mendapat terapi fisik.

6.2 Saran

Diperlukan penelitian lebih lanjut yang dapat menilai durasi dan frekuensi

terapi fisik yang efektif dalam memperbaiki tingkat kemampuan motorik dan

(60)

RINGKASAN

Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang

menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidak bersifat progresif,

terjadi saat perkembangan otak janin dan bayi. Gangguan motorik sering

disertai dengan gangguan sensasi, persepsi, kognisi, komunikasi, gangguan

perilaku, epilepsi, dan gangguan muskuloskeletal.

Keterbatasan aktivitas fisik dapat menyebabkan rendahnya kualitas

hidup anak palsi serebral. Perbaikan kemampuan motorik dapat

meningkatkan kualitas hidup anak. Terapi fisik memegang peranan penting

dalam meningkatkan fungsi motorik anak palsi serebral. Pemberian terapi

fisik terbukti dapat memperbaiki panjang langkah, urutan langkah, kecepatan

dan irama gaya berjalan, peningkatan rentang gerakan, pengurangan

spastisitas dan rigiditas. Terapi fisik yang diberikan pada anak palsi serebral

mencakup peregangan, penguatan, dan pengaturan posisi menggunakan

metode bobath atau neurodevelopmental therapy (NDT).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kualitas hidup

anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dan kurang

(61)

fisik 10 bulan atau lebih dan kelompok II yang mendapat terapi fisik kurang

dari 10 bulan. Masing-masing 30 anak untuk tiap kelompok.

Sebagai kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hidup

anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan lebih tinggi

dibandingkan dengan anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik kurang

dari 10 bulan. Terdapat perbaikan kemampuan motorik anak palsi serebral

(62)

SUMMARY

Cerebral palsy (CP) describes a group of permanent disorders of the

development of movement and posture, causing activity limitation. These

disorders are attributed to nonprogressive disturbances that occurred in the

developing fetal or infant brain. The motor disorders of CP are often

accompanied by disturbances of sensation, perception, cognition,

communication, and behavior, by epilepsy and by secondary musculoskeletal

problems.

Activity limitation may cause lower level experience or quality of life

(QOL). Physical therapy (PT) plays a central role in managing CP

The purpose of this study is to determine the comparison of QOL in

CP children with more than 10 months and less than 10 months PT. Also to

compare gross motor level before and after PT. This study enrolled 60 CP

children, devided into 2 groups consecutively, group I was CP children with

10 months PT, group II was CP children with 10 months

(63)

and group II was 4.2 (SD 3.1) months. Gross motoric level in both group Increased from GMFCS IV to GMFCS II in group I (P=0.0001) and from GMFCS IV to GMFCS III (P=0.002) in group II. The mean total CP QOL scores in group I and II was 79.63 (SD 5.73) and 47.71 (SD 6.85) respectively (P=0.0001).

Conclusion Our study demonstrates that QOL in more than 10 months PT group is significantly higher than the other group.

DAFTAR PUSTAKA

1. Reddihough D. Cerebral palsy in childhood. Aust fam physician. 2011; 40:192-6.

2. Swaiman KF, Wu Y. Cerebral palsy. Dalam: Swaiman KF, Ashwal S, Ferriero DM, Schor NF, penyunting. Pediatric Neurology principles and practice. Edisi ke-5. Philadelpia: Elsevier Inc, 2011.h.491-504.

3. Mesterman R, Leitner MD, Yifat R, Gilutz G, Hakeini OL, Bitchonsky O, et al. Cerebral palsy-long-term medical, functional, educational, and psychosocial outcomes. J Child Neurol. 2010; 25:36-42.

4. Wu YW, Xing G, Afflick EF, Danielson B, Smith LH, Gilbert WM. Racial, ethnic, and socioeconomic disparities in the prevalence of cerebral palsy. Pediatrics. 2011; 127:e674-81.

5. Lim MSY, Wong CP. Impact of cerebral palsy on the quality of life in patients and their families. Neurol Asia. 2009; 14:27-33.

6. Tsoi WS, Zhang LA, Wang WY, Tsang KL, Lo SK. Improving quality of life of children with cerebral palsy: a systematic review of clinical trials. Child care health dev. 2011; 38:21-31.

7. Anttila H, Autti-Ramo I, Suoranta J, Makela M, Malmivaara A. Effectiveness of physical therapy interventions for children with cerebral palsy: a systematic review. BMC Pediatrics. 2008; 8(14):1-10.

(64)

intensive, goal-directed, activity-focused physiotherapy in a group setting for children with cerebral palsy. BMC Pediatr. 2010; 10:26-37.

9. Colver AF, Dickinson HO, Parkinson K, Arnaud C, Beckung E, Fauconnier J, et al. Access of children with cerebral palsy to the physical, social and attitudinal environment they need: a cross-sectional European study. Disabil Rehabil. 2010; 1:1-8.

10. Wang HY, Cheng CC, Hung YH, Lin JH, Lo SK. Validating the cerebral palsy quality of life for children (CP QOL-Child) questionnaire for use in Chinese populations. Neuropsychol Rehabil. 2010; 20:883-98.

11. Davis E, Shelly A, Waters E, davern M. Measuring the quality of life of children with cerebral palsy: comparing the conceptual differences and psychometric properties of three instruments. Dev Med Child Neurol. 2010; 52:174-80.

12. Janssen CGC, Voorman JM, Becher JG, Dallmeijer AJ, Schuengel C. Course of health-related quality of life in 9-16-year-old children with cerebral palsy: associations with gross motor abilities and mental health. Disabil Rehabil. 2010; 32:344-51.

13. Prudente COM, Barbosa MA, Porto CC. Relation between quality of life of mothers of children with cerebral palsy and the children’s motor functioning, after ten months of rehabilitation. Rev Lat Am Enfermagem. 2010; 18:149-55.

14. Rosenbaum P, Paneth N, Levinton A, Goldstein M, Bax M. A report: the defenition and classification of cerebral palsy april 2006. Dev Med Child Neurol. 2007; 109 Suppl:8-14.

15. Pakula AT, Braun KVN, Yeargin-Allsopp M. Cerebral palsy: classification and epidemiology. Phys Med Rehabil Clin N Am. 2009; 20:425-52.

16. Liptak GS, Murphy NA. Clinical report providing a primary care medical h

Gambar

Gambar 2.8 Kerangka konseptual
Gambar 4.1. Profil penelitian
Tabel 4.1 Data demografi sampel penelitian
Tabel 4.2 Data neurologi sampel penelitian
+5

Referensi

Dokumen terkait