• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi limbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabati pada tanaman lada perdu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Potensi limbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabati pada tanaman lada perdu"

Copied!
424
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI LlMBAH SAGU SEBAGAI AMELIORAN

DAN HERBISIDA NABATI PADA

TANAMAN LADA PERDU

MUHAMMAD SY AKIR

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pemyataan da-lam disertasi saya yang berjudul :

Potensi Limbah Sagu Sebagai AmeIioran dan Herbisida Nabati pada Tanaman Lada Perdu

Adalah gagasan atau hasil penelitian saya sendiri dengan bimbingan komisi pem-bimbing kecuali yang dengan jelas ditunjukan rujukannya. Disertasi ini belum pemah diajukan untuk memperolah gelar apapun di perguruan tinggi lain. Semua data dan infonnasi yang digunakan telab dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya

Bogor, Maret 2005

(3)

ABSTRACT

MUHAMMAD SYAKIR. The Potency of Sago Waste as Arneliorant and Bio-herbicide on Bushy Pepper Crop (Supervised by: H.M.H. BlNTORO DJOE-FRIE as Principal Advisor. HERDHATA AGUSTA and PASRlL WAHID as Co-advisors).

Sago processing produces sago waste that further can be used as a source of organic matters. About 75% of the sago by product are barks and sago waste that so far has not been used, but it potentially can be utilized as ameliorant and bioherbicide.

The objectives of the research are to study the decomposition process of sago waste and compost regarding to their nutrients, phenolic acid, and lignin con-tents; to detennine the optimal composition of the compost as an activator in en-hancing the decomposition process; to evaluate the effect of different combina-tions of sago waste and compost on the growth, yield and quality of bushy pepper and the chemical, physical, and biological properties of the soil; to study the effect of combination of the sago waste and compost in different levels of decomposi-tion on weed control; and to detennine the effect of applicadecomposi-tion of sago waste as mulch and weeding methods on weed controL The research consists of five expe-riments. (I) The effect of composting duration of sago waste on nutrients, pheno-lic acid, and lignin contents of the compost, (2) The effect of sago waste as arne-liorant and bioherbicide on young bushy pepper crops, (3) The effect of sago waste as ameliorant and bioherbicide on mature bushy pepper crops, (4) The effect of sago waste and weeding method on the growth of bushy pepper crops and (5) The effect of sago waste on the growth of weeds.

The results revealed that application of compost at the rate of 25-75% as activator can enhance the decomposition process of the sago waste. Application of the sago waste at the rate of 50-100% can also stimulate the production of phe-nolic acid during decomposition process. The higher the content of sago waste the higher phenolic acid produced, however, the lower the total amount of C-micro-organisms and fungi. The phenolic components contained in the decomposed sago waste are p-hydroxybenzoat, p-cumaric, ferulic, vanillic, synapic, and syringic a-cids. These aci!.!s have bioherbicide characteristics. As mulch, sago waste can ameliorate the chemical, physical, and biological properties of the soils.

(4)

MUHAMMAD SYAKlR. Potensi Limbah Sago Sebagai Amelioran dan

Her-bisida Nabati pada Tanaman Lada Perdu (di bawah bimbingan H.M.H. BIN-TORO DJOEFRIE sebagai Ketua Komisi Pembimbing, HERDHA TA AGUSTA dan PASRIL W AHID sebagai Anggota Kornisi Pembimbing).

Pengolahan sagu menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai

sumber bahan organik. Sekitar 75% dari hasil pengolahan sagu yang berupa kulit

batang dan ampas adalah limbah yang belurn termanfaatkan, dan limhah ini

potensial digunakan sebagai amelioran dan herhisida nabati.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dekomposisi beberapa kombinasi limhah sagu dengan kompos terhadap kandungan unsur harn,

asam fenolat dan lignin; memperoleh komposisi kompos yang tepat sebagai

ak-tivator uotuk mempercepat proses dekomposisi limbah sagu; menguji pengaruh

beberapa kombinasi limbah sagu dengan kompos pada berbagai tingkat dekom-posisi terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas lada serta sifat kimia, fisika dan biologi tanah; menguji pengaruh kombinasi limbah sagu dengan kompos pada berbagai tingkat dekomposisi terhadap pengendalian gulma; memperoleh cara pemberian limbah sagu dan penyiangan yang tepat dalam pengendalian gulma. Penelitian ini terdiri atas lima percobaan yaitu: (1) Pengaruh waktu pengomposan dan limbab sagu terhadap kandungan harn, asam fenolat dan lignin, (2) Pengaruh limbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabati terhadap tanaman lada perdu muda, (3) Pengaruh limbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabati terhadap tanaman lada perdu produlctif, (4) Pengaruh limbah sagu dan cam pengendalian gulma terhadap pertumbuhan lada perdu serta (5) Pengaruh limbah sagu terhadap pertumbuhan gulma.

Hasil percobaan menunjukkan penggunaan kompos sebagai aktivator sebanyak 25%-75% dapat mempercepat proses dekomposisi limbah sagu. Peng-_ gunaan limbah sagu 50%-100% meningkatkan kandungan senyawa fenolat dalam proses dekomposisi. Semakin tinggi komposisi limbah sagu yang diberikan sema-kin tinggi asam fenolat yang dihasilkan, namun menurunkan total C-mikroorga-nisme dan fungi. Komponen-komponen senyawa fenolat yang terkandung dalam limbah sagu adalah p-hidroks:benzoat, p-kumarat, ferulat, vanilat, sinapat dan si-ringat yang memiliki daya herbisida. Sebagai mulsa, limbah sagu dapat memper-baiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah.

(5)

©

Hak cipta milik Muhammad Syakir, tahun 2005

Hak cipta dilindungi

Dilarang mengulip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Perlanian

Bogor sebagian atau seluruhnya dalam behtuk apa pun, baik celalc, fo/akop;,

(6)

Nama Mahasiswa : Muhammad Syakir

NomorPokok : A.I56010131

Program Studi : Agronomi

Oisetujui:

Komisi Pembimbing

Prof. Or.lr. H.M.H. intoro O"oefrie MA r Ketua

Dr. Jr. Herdhata Agusta Anggota

Ketua Program Studi

Or.lr. Satriyas lIyas. MS

Tanggal ujian: 1 Maret 2005

Dr. Ir. H. Pasril Wahid, APU

Anggota

i>si'6l!4lllah Pascasarjana

(7)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpah-kan ralunat dan petunjuk-Nya sehingga dapat menyelesaikan penelitian dengan judul "Potensi Limbah Sagu sebagai Amelioran dan Herbisida Nabati pada Tana-man Lada Perdu". Hasil penelitian ini dituangkan dalam bentuk karya ilmiah berupa disertasi yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Dok-tor pada Sekolah Pascasmjana di Institut Pertanian Bogar.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan tersebut merupakan bimbingan dan bantuan yang tulus ikblas dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada :

1. Prof. Dr. Ir. H. M. H. Bintoro Djoefrie, MAgr selaku ketua komisi pem-bimbing,

Dr.

Ir. Herdhata Agusta dan Dr. Ir. H. Pasril Wahid, APU seba-gai anggota komisi pembimbing atas araban, bimbingan dan saran sejak rencana penelitian hingga penulisan karya ilmiah ini.

2. Pimpinan beserta staf Institut Pertanian Bogor yang telah berkenan untuk menerima penulis sebagai mahasiswa program Doktor.

3. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Per-tanian, yang telah menugaskan penulis untuk melanjutkan pendidikan. 4. Pimpinan beserta staf Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat yang telah memberikan izin bagi penulis untuk melanjutkan pendidikan.

5. Pimpinan Proyek PAATP yang telah memberikan bantuan beasiswa sela-rna rnengikuti pendidikan program Doktor di Institut Pertanian Bogor. 6. Pengelola kebun lada perdu di Kebun Perrobaan Fakultas Pertanian IPB,

para laboran pada beberapa laboratoriurn di lingkungan IPB dan Lahora-toriurn Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

7. Istri,

anak-anak

tercinta beserta keluarga besar penulis yang telah mem-berikan motivasi untuk dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik. 8. Rekan-rekan rnahasiswa Sekolah Pasca.saIjana khususnya Program Studi
(8)

9. Semua pihak yang telah banyak membantu dan mendukung penulis

sela-ma mengikuti pendidikan di IPB yang tidak

dapat

penulis sebutkan satu

persatu

Semoga bimbingan dan bantuan dari semua pihak mendapatkan nHai

iba-dab yang diterima oleh Allah SWT. Amin.

Bogor, Maret 2005

(9)

RlWAYAT HIDUP

Penulis labir di Watampone. Sulawesi Selatan

pada

tanggal 17 November

1958, putra keempat dari pasangan suami isteri H. Andi Husain (Aim.) dan Ibu Hj. Andi Matahari.

Penulis menyelesaikan pendidikan Seknlah Dasar Negeri 12 pada tahun 1970 di Watampone, Sekolab Menengah Pertama Negeri I pada tahun 1973 di Watampone, dan pada tahun 1976 menyelesaikan pendidikan Sekolab Menengab Atas Negeri 1 di Watampone. Tabun 1977 penulis melanjutkan pendidikan di

Universitas Hasanudin Makassar, dan memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

tahun 1983. Penulis memperoleh gelar Magister Sains pada tahun 1990 di Fakul-tas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sejak tabun 2001 memulai pendidikan

S3 di Sekolab Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Agro-nomi.

Penulis pada tanggal 14 November 1989 menikab dengan Ir. Luluk Suci Marhaeni MS dan telab dikaruniai dua orang putra, Andi Ratna Karlika Mabarani (14 tahun) dan Andi Alunad Thoriq Pratama(9 tahun).

(10)

PRAKATA ... Vlll

DAFTAR lSI... XI

DAFTAR TABEL ... X111

DAFTARGAMBAR ... XIX

PENDAHULUAN ... I Latar Belakang ... I

Tujuan Penelitian ...

3

Hipotesis ...

3

TINJAUAN PUSTAKA ... 5

Lada Perdu ... 5

Sagu dan Limbah Sagu ... ... 7

Dekomposisi Bahan Organik ... 8

Pengendalian Gulma ... ... ... 14

PENGARUH W AKTU PENGOMPOSAN DAN LIMBAH SAGU TERHADAP KANDUNGAN HARA, ASAM FENOLAT DAN LIGNIN ... 18

Pendahuluan ... ... ... 18

Bahan dan Metode ... ... ... ... 19

Hasil dan Pembahasan ... ... ... ... ... ... 20

Kesimpulan ... ... ... ... ... 29

PENGARUH LIMBAH SAGU SEBAGAI AMELIORAN DAN HERBISlDA NABATI PADA TANAMAN LADAPERDU MUDA ... 30

Pendahuluan ... ... ... 30

Bahan dao Metode ... ... ... 31

Hasil dan Pembahasan ... ... 33

Kesimpulan ... ... ... ... ... 50

PENGARUH LIMBAH SAGU SEBAGAI AMELIORAN DAN HERBISlDA NABATI PADA TANAMAN LADA PERDU PRODUKTIF ... 51

Pendah.uluan ... 51

Bahan dan Metode ... ... ... ... 52

(11)

xii

Kesimpulan ... 81

PENGARUH LIMBAH SAGU DAN CARA PENGENDALIAN GULMA TERHADAP PERTUMBUHAN LADA PERDU ... 83

Pendahuluan ... 83

Bahan dan Metode ... 84

Hasil dan Pembahasan ... 87

Kesimpulan ... 119

PENGARUH LIMBAH SAGU TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA. 120 Pendahuluan ... 120

Bahan dan Metode ... 121

Hasil dan Pembahasan ... 123

Kesimpulan ... 153

PEMBAHASAN UMUM ... 154

KESIMPULAN DAN SARAN ... 163

Kesimpulan ... 163

Saran ... 163

DAFTARPUSTAKA ... 164

(12)

No.

Halaman

reks

1. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap suhu kompos ... 21

2. Pengaruh interasksi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap nisbah CIN kompos ... 22

3. Pengaruh interaksi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sa-gu terhadap pH kompos ... 24

4. Pengaruh interaksi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sa-gu terhadap kandungan hara, asam fenolat dan lignin ... 26 5. Kandungan senyawa asam-asam fenola! pada berbagai tingkat

dekomposisi dengan komposisi limbah sagu 100% ... 27 6. Pengaruh kornbinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahan jumlah cahang primer lada perdu... 34 7. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahan jumlah cabang sekunder lada perdu 34

8. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu

terhadap pertamhabanjumlah daun lada perdu ... 36 9. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahan luas daun lada perdu ... 38 10. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap paI]jangcahangraimer lada perdu... 39

11. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap volmne akar lada perdu... 41

12. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap bnbnt keringtanmnan lada perdu ... 42

13. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

(13)

14. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap bobot total gulma, bobot gulma daun lebar dan

xiv

hohot gulma daun sempit ... 45

15. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap asam fenolat dan WlSlJ(" ham tanah ... ... 47

16. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahan jumlah daun lada perdu... 56

17. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahan panjang cabang primer lada perdu ... 59

18. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahanjumlah cabang sekunder lada perdu... 60

19. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap pertambahan jumlah cabang tersier lada perdu ... 61

20. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap komponen generatif lada perdu ...

63

21. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap jumlah tandan pada cahaog sekunder lada perdu... 66

22. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap total bobot kering gulma daun lebar dan daun

sempit ... 68 23. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu'terhadap total hobot kering gulma ... 69

24. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu terhadap NJD gulma daun lebar dan daun sempit... 72 25. Analisis terhadap kadar atsiri dan piperin di akhir penelitian ... 73 26. Hasil analisis terhadap kandungan asam fenolat dan hara tanah

d· akh· 1 Ir pene Iban...

74

27. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu

terhadap kandungan C-mikroorganisme. C-respirasi dan

nisbah CIN tanah di akhir penelitian ... 76 28. Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sago terhadap sifat fisik tanah (bulk density. porositas, air

(14)

29. Pengaruh limbah sagu dan cam pengendalian gulma terhadap

pertambahan jumlah daun ... 88

30. Pengaruh limbah sagu dan cam pengendalian gulma terhadap

pertambahan panjang eahang primer ... 90 31. Pengaruh limbah sagu dan cam pengendalian gulma terbadap

jumlah cahang primer ... 92 32. Pengaruh limbah sagu dan eara pengendalian gulma terhadap

pertambahanjumlah cabang sekunder... 94

33. Pengaruh limbah sagu dan cara pengendalian gulma terhadap

jumlah tandan buah ... 97

34. Pengaruh cara penyiangan gulma danjenis limbah sagu terhadap

panjang tandan buah, jumlah biji per tandan, dan bobot kering

buah... 99 35. Pengaruh cam penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terhadap

nilai rata-rata NJD gulma daun lebar dan daun sempit di pertanaman

lada perdu .... ... ... ... I 02

36. Pengarub cam penyiangan gulma

dan

jenis limbah sagu terhadap

kerapatan gulmalm2 di pertanaman lada perdu ... 104

37. Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terhadap

bobot kering gulma di pertanaman lada perdu ... 106

38. Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu

terha-dap persentase penutupan gulma di pertanaman lada perdu ... 108

39. Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terbadap

kandungan asam fenolat, atsiri dan piperin ... 110

40. Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terbadap

nisbah CIN dan sifat kimia tanah ... 112 41. Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terhadap

sifat fisik

tanah ...

114

42. Pengaruh cam penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terhadap

C-mikroorganisme dan C-respirasi tanah ... 117

43. Pengaruh

waktu

dekomposisi dan komposisi limbah sagu
(15)

XVI

44. Pengaruh waktu dekomposisi

dan

komposisi limbah sago

terha-dap jumlah daun B. a/ala (Aubl) DC ... 125

45. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbab sagu

terha-dapjumlahcabang B. a/ala (Aubl) DC ... 127 46. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap bobot segar dan bobot kering B. a/ala (Aubl) DC ...•... 129 47. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap panjang akar dan tingkat kematian B.a/ala (Aubl) DC

pada

12 MSP ... 131

48. Pengaruh

waktu

dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap pertambahan tinggi gulma M micranlha

HBK ...

133

49. Pengaruh

waktu

dekomposisi

dan komposisi limbah sagu

terha-dap jumlah daun M micranlha HBK ... 135

50. Pengaruh

waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu

terha-dap jumlah cabang M micranlha HBK ... 137

51. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu

terha-dap bobot segar dan kering M micrantha HBK ... 138 52. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap panjang akar

dan

tingkat kematian

M

micrantha

HBK pada

12 MSP ... 140

53. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap pertambahan tinggi A. compressus (Sw.) Beauv ... 141 54. Pengaruh waktu dekomposisi

dan

komposisi limbah

sagu

terha-dapjumlahanakanA. compressus(Sw.) Beauv ... 143 55. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dapjumlah daunA. compressus(Sw.) Beauv ... 144

56. Pengaruh

waktu

dekomposisi

dan komposisi limbah

sagu

terha-dap bobot keringA. compressus(Sw.) Beauv ... 145

57. Pengaruh

waktu

dekomposisi dan komposisi limbah sagu

terha-dap tinggi

0.

nodosa (KWlth) Dandy ... 147

58. Pengaruh

waktu

dekomposisi dan komposisi limbah sagu

(16)

59. Pengaruh

waktu

dekomposisi

dan komposisi lirnbah sagu

terha-dapjumlah buku O. nodosa(Kun1h) Dandy ... 149

60. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu

terha-dap bobot kering

0.

nodosa (Kun1h) Dandy ... 150 61. Pengaruh dekomposisi dan kombinasi limbah sagu terhadap

ke-matian gulma A.

compressur

(Sw.) Beauv dan

0.

nodosa

(Kunth)

Dandy ... 152

62. Pengaruh

waktu

dekomposisi

dan komposisi limbah

sagu

terha-dap kandungan fenola! dalatn tanah ...•....•.•••..•...••...•... 153

No.

Lampiran

1

Pengaruh kombinasi

waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu, pasir kerikil serta tanpa bahan organik terhadap subu ta-nah pada kedalatnan Scm bulan September 2003 - Maret 2004

Halaman

pada percobaan 2... 172

2

Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi

dan komposisi lirnbah

sagu, pasir kerikil serta tanpa bahan organik terbadap kelemba-ban tanah pada kedalaman Scm bulan September 2003 - Maret

pada percobaan 2... 173 3

Pengaruh kombinasi

waktu

dekomposisi

dan

komposisi limbah

sagu serta tanpa bahan organik terbadap subu tanah pada keda-laman Scm bulan September 2003 - Maret 2004 pada

percoba-an 3... ... 174

4

Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi dan komposisi limbah

sagu serta tanpa bahan organik terhadap kelembaban tanah pa-da kepa-dalaman Scm bulan September 2003 - Maret papa-da

perco-baan3... 175

5

Pengaruh kombinasi waktu dekomposisi

dan komposisi limbah

sagu terbadap Nilai Jumlah Dominasi Gulma (NJD) gulma 2

BSP percobaan 3... 176 6 Pengaruh cara penyiangan gulma dan jeDis limbah sagu

terba-dap Nilai Jumlah Dominasi Gulma (NJD) gulma 2 BSP

(17)

7 Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu terha-dap Nilai Jumlah Dominasi Gulma (NJD) gulma 4 BSP

perco-XVIII

baan 4... 178

8 Pengaruh cara penyiangan gulma dan jenis limbah sagu

terha-dap Nilai Jumlah Dominasi Gulma (NJD) gulma 6 BSP

perco-baan

4...

179

9 Pengaruh cam penyiangan gulma dan jenis limbah sagu

terha-dap Nil.i Jumlab Dominasi Gulm. (NJD) gulm. 8 BSP

perco-baan 4... 180

10 Pengukuran iklim mikro pertanaman lada perdu dari 21

Sep-tember 2003 sampai 20 Maret 2004 . ... ... ... 181

11 Metode anal isis yang digunakan dalam percobaan ... 182 12 Kriteria sifat kimia, fisik dan biologi tanah ... 183 13 Rata-rata kadar asam fenolat dan lignin pada mulsa limbah sagu.. 184

14 Rata-rata jumlah asarn fenolat

dan

lignin pada mulsa limbah
(18)

No. Halaman

Teks

I. Bagan alir tahapan penelitian... ... 4

2. Kandungan total mikroorganisme 100% limbah sagu pada

ber-bagai waktu dekomposisi... ... 28

3. Kandungan total fungi 100% limbah sagu pada berbagai waletu

dekomposisi ... __ .. ... 28 4. Kandungan karbon mikroorganisme 100% limbah sagu pada

ber-bagai waktu dekomposisi ... ... ... 28 5. Pola hubungan serangan penyakit busuk daun (P. capsid (L»

tanaman lada perdu umur 4 tabun dan kadar asam fenolat dalam

tanah ... 77 6. Pola hubungan serangan penyakit busuk daun (P. capsici (L»

tanaman lada perdu umur 3 tahun dan kadar asam fenolat dalam

tanah ... 118

7. Hubungan antara kandungan asarn fenolat terhadap tingkat

sera-ngan penyakit busuk daun (P. capsici (L» ... 157

8. Hubungan antara kandungan asam fenolat terhadap hobot kering

gulma ... 159

No.

Lampiran

I. Keragaan pertumbuhan lada perdu muda dan produktif serta

Halaman

proses pengemposan ... 186 2. Keragaan gulma pada perlak.uan 100% limbah sagu, 25 %

limbah sagu dan tanpa bahan organik... 187 3. Keragaan gulma daun lebar (B. a/ala (Aubl) DC dan M

micrantha HBK) dan gulma daun sempit (0. nodosa (Kunth)

(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakaog

Tanaman lada (Piper nigrum Linn.) merupakan salah satu komoditas eks-por andalan Indonesia Tanarnan lada berperan dalam perekonomian nasional se-bagai sumber penghasil devisa, penyedia lapangan kelja serta bahan baku dalam industri makanan, obat-<Jbatan dan kosmetika Sebanyak 80"10 total lada yang di-hasilkan ditujukan uotuk pasar ekspor. Selama periode 1992-1998 Indonesia me-rupakan negara pengekspor lada terbesar rata-rata mencapai 27,62% dari ekspor

lada dunia (143 557 ton/tahun) sehingga membawa peran pentiog dalam menentu-kan pasar lad. dunia (Djoefrie

e/ aJ.

2000). Pada tabun 2002, volume dan nil.i ekspor I.da Indonesi. mencapai US$ 89,197 juta (Deptan 2003).

Dalam dekade terakhir, persaingan harga lada di pasar dunia sangat tajam akibat ketidakseimbangan antara produksi dan pennintaan. Salah satu upaya uotuk mempertahankan lada sebagai komoditas ekspor non migas andalan nasional pada masa mendatang adalah perlunya dukungan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi budidaya sehingga diperoleh produk yang memiliki daya saing tinggi.

Dalam usaha mendapatkan lada dengan daya saing yang tinggi antara lain dapat dilakukan dengan melalui peningkatan produktivitas dan perbaikan mutu, serta mendapatkan altematif cara budidaya yang memiliki keunggulan dalam menekan biaya produksi.

(20)

Menurut Wahid el al. (1999) lada perdu tergolong tanaman yang rakus hac., yailu 600 g NPKMgltanamanitahun, sehingga diperlukan pupuk sebanyak 3,6 tonlhaltahun. Lada perdu memiliki sistem perakaran yang dangkal dan sekitar 80% perakarannya tersebar pada kedalaman 0-40 em sehingga rentan terhadap kekeringan, kekurangan bars., tluktuasi suhu dan kelembaban tanah serta gulma. Hasanah et aI. (1992) melaporkan bahwa pada pertanaman Iada, tindakan peme-liharaan yang menyerap banyak tenaga kerja adalah pengendalian gulma.

Penggunaan bahan organik sebagai mulsa dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisik dan hiologi tanah. menekan fluktuasi suhu dan kelembaban tanah serta menekan perkembangan gulma. Penggunaan mulsa serasah dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas lada perdu serta meningkatkan efisiensi pemberian pupuk (Wahid el al. 1999). Penggunaan mulsa jerami dapat meningkatkan keter-sediaan air tanah, menekan suhu taoah dan meningkatkan pertumbuhan lada perdu (Syakir et al. 2000). Salah satu lim bah tanaman yang memiliki potensi cukup besar adalah limbah tanarnan sagu.

Pemanfaatan tanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.) amat beragam, antara lain sebagai bahan industri dan makanan. Sagu merupakan salah satu sumber devisa negara yang potensial. Luasnya pemanfaatan sagu disebabkan oleh ke-gunaan dan kelebihannya yang lebih beragam dibanding tanaman penghasil karbohidrat lainnya. Sagu merupakan komoditas yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan dikembangkan.

Luas

areal tanaman sagu di Indonesia sekitar 1.280.000 ha

atau

51,3% dati luas areal sagu dunia, yang dapat menghasilkan pati sagu sebesar 4-5 juta ton (Budianto 2(03). Pengolahan batang sagu menjadi pati

sagu

hanya 16-28% (Djoefiie 1999). Hasil ikutan dari pengolaban sagu berup. kulil batang dan ampas sekitar 72% merupakan limbah yang belurn termanfaatkan dan dapat menimbul-kan pencemaran. Beberapa penelitian telah dilakukan dalam usaha pemanfaatan limbah sago. seperti peneiitian berupa pengolahan ampas sagu untuk pakan temak dan ikan.
(21)

kan-3

dungan polifenol. Asam-asam fenolat dapat bersifat racun bagi tanarnan sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman (Salisbury dan Ross 1995). Berdasarkan sifat fisik dan senyawa yang terkandung di dalam 11mbah sagu, perlu dite-liti potensi limbah sagu sebagai bahan amelioran dan pengendalian guima.

Tujuan

1. Mengetahui tingkat dekomposisi beberapa kombinasi limbah sagu dan kompos terhadap kandungan harn., asam fenolat dan lignin.

2. MemperoJeb komposisi kompos yang tepat sebagai aktivator untuk memperce-pat proses dekomposisi limbah sagu.

3. Menguji pengaruh beberapa komhinasi limbah sagu dengan kompos pada ber-bagai waktu dekomposisi terhadap pertumbuban, basil, kualitas lada hitam ser-ta sifat biologi, kimia dan fisika ser-tanah.

4. Menguji pengaruh kombinasi limbah sagu dengan kompos pada berbagai

wak-tu dekomposisi terhadap pengendalian gulma

5. Memperoleh carn pemberian limbah sagu dan earn penyiangan yang tepat da-lam pengendalian gulma.

Hipotesis

1. Tingkat dekomposisi dan kombinasi limbah sagu dengan kompos berpengaruh terhadap kandungan hara, asam fenolat dan lignin.

2. Penggunaan kompos sebagai aktivator akan mempercepat proses dekomposisi limbah sagu.

3. Lama proses dekomposisi dan kombinasi antara limbah sagu dengan kompos berpengaruh terhadap pertumbuban, basil kualitas lada hitam serta sifat biologi, kimia dan fisika tanah.

4. Kombinasi antara limbah sagu dan kompos pada berbagai tingkat dekomposisi akan berpengaruh terhadap potensi limbah sagu dalam pengendalian gulma. 5. Carn pemberian limbah sagu dan earn penyiangan berpengaruh dalam

(22)

Untuk menguji hipotesis yang dirumuskan maka dilakukan berbagai percobaan seperti disajikan pada Gambar I.

Potensi Jimbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabati

Tingkal: dekomposisi dan ragam

kombinasi limbah sagu

Limbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabati pada lada perdu muds (umur 1 tahun)

Limbah sagu dan tara penyiangan gulma

pada lada perdu umur 3 tabun

-Limbah sagu terhadap perturnbuhan gulma

,

Mendapatkan waktu dan komposisi limbah sagu dengan kompos sebagai amelioran, herbisida, dan fungisida nabati

Komposisi hara, asam fenolat dan

mikroorganisme

kompos

Limbah sagu sebagai amelioran dan herbisida nabal:i pacta !ada perdu produktif(umur4 tabun)

Pertumbuhan dan produksi lada perdu, Gulma dominan, Kematian gulma.. dan

Tingkat serangan penyakit

1\

1\

y,

Gulmadominan

セv@

(daun sempit dan daun lebar) [image:22.598.83.496.104.765.2]
(23)

T1NJAUAN PUSTAKA

Lad. Perdu

Lada (P. nigrum Linn) tennasuk genus Piper, famili Piperaceae, ordo

Piperales. sub klas Dicotiledoneae. Batangnya mempunyai karakter antara mono-cotiledoneae dan dicoliledoneae, hal ini terlihat dari jaringan pembuluh

pengang-kut yang terletak pada lingkaran yang teratur yang umumnya terdapat pada sub-klas monocotiledoneae. Secara morfologi lada tergolong tanaman dimorfik yang

memiliki dua bagian utama yaitu sulur panjat dan cabang buah. Sulur panjat me-miliki akar lekat pada buku-buku ruasnya, sedangkan cabang buah tidak memiliki akar lekat. Cabang buah memiliki potensi untuk membentuk buah sementara sulur

panjat tidak berpotensi uotuk membentuk buah. Sulur panjat tumbuh vertikal ke

alas dan cabang buah tumbuh horizontal (Wahid 1996). Kedua jenis sulur tersebut memiliki sifat fisiologis yang berbeda Cabang buah bersifat positif fototrop, yang

artinya tumbub pada keadaan cukup cabaya, sedangkan sulur panjat bersifat ne-gatif fototrop, yang berarti turnbub baik dalam keadaan kurang cabaya (Wabid 1996).

Tanaman lada termasuk dalam kelompok tanaman lindung (scyophit). Pa-da habitat aslinya laPa-da tumbuh pada ketinggian 700 m dari permukaan air laut.

Beberapa varietas seperti Lampung Daun Lebar, Kucing dan Bengkayang telah terbiasa ditanam di tempat terbuka dan cukup toleran terhadap cahaya penuh. Hal ini mendorong Wabid (1996) mernberikan istilab tanaman lindung fakultatif pada tanaman lada

Selama ini di Indonesia, lada dikembangkan dari tanaman yang berasal

dari sulur panjat sehingga tanamannya hams menggunakan tiang panjat, akan tetapi pada dekade terakhir ini ketersediaan tiang panjat mati yang tahan lama semakin sulit dan mabal. Menurut Syakir (1996) un!uk pengadaan tiang panjat mati, petani memerlukan modal yang cukup besar yaitu sekitar 60%

dari

total biaya usahatani. Selain tiang panjat mati, tiang panjat hidup dapat digunakan, tetapi produktivitas ladanya menjadi lebih rendah akibat kompetisi hara dan rendahnya intensitas cahaya karena tingkat naungan dari pohon penegak hidup.
(24)

me-merlukan liang panjat, berproduksi

lebih awal,

yaitu panen pada umur 2 tabun,

pemeliharaan lebih mudah, serta memiliki peluang diusahakan secara tumpangsari

(multiple cropping) dan tanaman sela (inter cropping) diantara tanaman-tanaman

lainnya seperti kelapa (Syakir 2002).

Lada perdu diperoleh dengan perbanyakan vegetatif dari stek cabang buah

yang memiliki sistem percabangan sympodial

dan

tumbuh mendatar berbentuk

perdu. Menurut Syakir et 01. (1994) stek cahang buah dapat diperbanyak dari stek

cabang sekunder, meskipun relatif lebih sulit membentuk perakaran, sistem tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan

bahan

tanaman

dan

pada umur

lebih lanjut dapat menyamai stek cabang bertapak.

Meskipun dapat tumbuh sampai ketinggian 2000 m dari pennukaan laut

(dpl), menurut Dhalimi et 01. (1996) sebaiknya tanaman lada dibudidayakan di

daerah dengan ketinggian :::; 500 m dpl. Curah hujan yang sesuai untuk lada antara

2.000-3.000 mm1tahun dengan rata-rata 2.300 mmltahun. Rosman et 01. (1996)

menyatakan bahwa pertumbuhan lada akan terhambat bila eurah hujan knrang dari

2.000

mmltahun dan diiringi oleh kekeringan periodik. Tanaman lada

menghen-daki 150-210 hari hujan/tahun dengan rata-rata 177 hari hujan/tahun, dan tidak

terdapat bulan-bulan kering dengan curah hujan kurang dari 60 mmlbulan.

Suhu yang cocok untuk tanaman lada antara 20-34°C. Kisaran suhu terbaik

antara 23-32°C dengan suhu rata-rata siang hari 29°C. Kisaran tersebut sebaiknya

21_27°C pada pagi hari, 26-32°C pada siang hari, dan 24-30°C pada sore hari.

Su-hu tanah yang baik untuk tanaman lada berkisar antara 25-30°C pada kedalaman

10 em. Subu tanah optimal untuk pertumbuhan akar sekitar 26-28°C. Derajat

kelembaban yang diinginkan lada antara 50-90% dengan kisaran optimum

60-80% (Rosman et al. 1996).

Lada adalah tanaman yang adaptif terhadap naungan. Wahid et 01. (1999) mengemukakan bahwa untuk tumbuh baik lada membutuhkan intensitas cahaya

50-75%. Menurut Syakir (1994) pertumbuhan lada pada naungan 44% terbambat

karena kekurangan energi matahari. Peningkatan intensitas radiasi cahaya

mening-katkan indeks pertumbuhan dan laju tumbuh tanaman dengan basil terbaik adalah

(25)

7

Sagu dan Limbah Sagu

Sagu merupakan tanaman penghasil karbohidrat non biji yang banyak

di-konsumsi penduduk kawasan timur Indonesia yaitu Maluku

dan

Irian Jaya. Sagu

berpotensi untuk dikembangkan, karena hampir seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bahan industri, maupun pakan temak,

na-mun hanya sekitar 16-28 %

dari

total

kandungannya yang tennanfaatkan. Menurut

Rasyad (1992) rendemen pohon sagu menjadi pati sagu sebesar 29%, selebihnya sebagai sisa berupa ampas sagu (efa). Sebagian besar bagian tanaman berupa kulit

dan ampas sagu terbuang sebagai Iimbah yang apabila dibiarkan akan menyebab-kan pencemaran (kerusamenyebab-kan lingkungan).

Apabila pengusahaan sagu tidak sepenuhnya tergantung kepada a1am yaitu dengan melakukan penjarangan hutan sagu dengan jarak 7 m X 7 m

sampai

10m X 10 m, dan diasurnsikan satu pohon dapat menghasilkan 300 kg pati, maka da-lam satu hektar diperoleh 30-60 ton pati sago, dan limbah yang dihasilkan sekitar 900 kg perpohon (Djoefrie 2003). Limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai

amelioran

dan

herbisida nabati.

Sagu dapat tumbuh baik pada ketinggian" 700 m dpl dengan jenis tanah

yang dikehendaki adalah

tanah

yang banyak mengandung mineral, berlumpur atau

laban kering yang kadang dipegarubi air pasang surnt, mengandung baban organik

tinggi dan bereaksi

sedikit

masam

Pengolahan pati sagu dilakukan dengan menyaring endapan yang

terben-tuk dalam proses perendaman. Ampas berupa e1a

akan

mengambang di

air.

Asam

fenolat dalam sagu mempengaruhi wama sagu melaLui oksidasi fenol dalam pati

oleh ion-ion yang terkandung dalam air yang digunakan (Azudin et ai., 1992). Limbah sagu merupakan ampas empelur sagu yang telah diambil patinya.

Limbah tersebut merupakan

salah

satu altematif pengganti sumher

bahan

organik.

Limbah sagu selama ini dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, pakan

temak, industri pangan, industri kimia, industri farmasi

dan

media tanam (Enie

1992).

Penambahan bahan organik ampas sagu akan meningkatkan pH tanah, C/N

ratio, P tersedia, jurnlah basa, KTK tanah, serta menurunkan AI-dd. Selain unsur

(26)

HasH penelitian Prasetyo (1996) menunjukkan bahwa asam-asam fenolat meng-hambat pertumbuhan tanaman padi pada kadar yang retatif rendah yaitu 0.52 mMll asam ferulat, 0,61 mMn asam p-kumarat, dan 0,73 mMll asam p-hi-droksibenzoat. Pada konsentrasi 0,01-0,1 mM asam fenolat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Menurut Djoefrie dan Sudarman (1996) limbah sagu selain banyak mengandung unsur hara yang bennanfaat bagi tanaman juga mengandung asam fenolat yangjustru akan mernatikan tanaman bila dijadikan media tanam.

Dekomposisi Bahan Organik

Bahan organik adalah semua fraksi bukan mineral yang ditemukan sebagai komponen penyusun tanah. Bahan organik biasanya merupakan timbunan dari sisa-sisa tumbuhan, hewan dan jasad renik yang sebagian atau seluruhnya telah mengalami perombakan oleh jasad renik taoab.

Bahan organik yang telab terdekomposisi berpengaruh terhadap hampir semua sifat kimia, biologi dan fisik tanah kecuali tekstur tanah. Bahan organik da-pat memperbaiki struktur tanah, sehingga cenderung lebih kompak dan kapasitas tanah menyimpan air lebih besar, meningkatkan granulasi, menekan plastisitas dan memperlambat waktu pemadatan tanah. Terbentuknya agregat akan mengu-rangi aliran pennukaan dan memperkuat daya pegang tanah sehingga erosi akan berkurang, akar tanarnan menembus lebih dalam dan lebih mampu menyerap hara dan air lebih banyak .

Peranan bahan organik yang terpenting yaitu kemampuannya dalam me-nambah kesuburan tanah. Penarnbahan bahan organik tersebut akan meningkatkan KTK. Nilai KTK yang tinggi penting memegang pupuk anorganik yang diberikan dan meningkatkan daya sangga tanah sehingga tanaman dapat terhindar dari kon-disi buruk, seperti kemasaman tanah dan keracunan harn. Brady (1990) menyata-kan bahwa bahan organik merupamenyata-kan sumber utama unsur hara N, P dan S. Pe-ningkatan ketersediaan P tanah disebabkan senyawa organik dapat membentuk khelat dengan kation-kation logam berat seperti Al dan Fe.

(27)

9

Selain dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, temyata bahan

organik juga merupakan sumber energi bagi mikroorganisme tanah. Penambahan

bahan organik dengan nisbah CIN tioggi mendorong pertumbuhan jasad renik dan menggunakan beberapa unsur harn sehingga terlihat tanaman kekurangan unsur

ham sementara. Menurut Brady (1990) organisme mempengaruhi pembentukan

tanah melalui sumbangan bahan organik.

Dekomposisi merupakan upaya pengolahan limbah yang sekaligus men-dapatkan bahan-bahan kompos yang dapat menyuburkan tanab. Metode tersebut mempunyai prinsip dasar menurunkan atau mendegradasikan bahan organik

men-jadi bahan anorganik dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme seperti

bak-teri, fungi. aktinomycetes dan protozoa. Keberhasilan dalam dekomposisi sangat

tergantung pada laju dekomposisi.

Proses dekomposisi bahan organik dapat dibagi menjadi tiga proses utama,

yaitu pelapukan secara fisik, kimia, dan hiologi. Dekomposisi dipengaruhi oleh jenis dan populasi mikroorganisme. sedangkan kelembaban, ham, aerasi dan suhu

merupakan faktor yang mempengaruhi mikroorganisme.

(28)

menghasil-kan banyak

gas

H2S. Kondisi aerobik gas tersebut dengan cepat dioksidasi lehih lanjut menjadi 8042-,

Asam nukleat, lecithin dan fitin merupakan senyawa organik kaya P. Ketersediaan C dan N menyebabkan bakteri dan fungi berkemarnpuan mem-bongkar lecithin dan asam nukleat serta membebaskan P sebagai P043-yang larut

dalam 60 hari. Dalam proses tersebut biasanya tidak semua P dibebaskan sebagai P043-, sejumlah tertentu diasimilasikan oleh mikroorganisme untuk sintesis

bahan

selnya yang baru (Polprasert 1990)_

Bahan organik yang telah mencapai tingkat dekomposisi matang, proses perombakan telab berakhir dan bahan tersebut dinamakan kompos. Perbedaan antara biomassa tanaman yang belurn terdekomposisi secara sempurna dengan kompos yaitu pada kondisi fisiknya. Bahan yang belum terdekomposisi secara sempurna mempunyai ciri-ciri, yaitu warna hitam gelap, serta terasa kasar, padat dan memiliki nisbah CIN yang tinggi, sedangkan kompos yang matang lebih halus, berstruktur remah. berwarna kecoklatan dan mempunyai nisbah e/N yang

rendah (Polprasert 1990).

Nisbah

elN

bahan organik merupakan faktor penting dalam dekomposisi. Transfonnasi sisa organik menjadi pupuk organik merupakan proses mikro-biologi, dan mikroorganisme membutuhkan nisbah CIN lebih besar dari 30. Menurut Mindawati el al. (1998) nisbah

elN

kompos bemilai 10-20, sedangkan di Jepang kurang dari 35. Hal ini menunjukkan bahwa nisbah CIN di atas 35 masih perlu didekomposisi. Kelembaban optimal dekomposisi aerobik berkisar 50-60%.

Pengomposan beIjalan baik apabiJa subu sesuai dengan subu optimal

pertumbuhan mikroorganisme perombak. PacIa subu 5SOC kecepatan dekomposisi

mencapai tingkat optimal. Proses dekomposisi dimulai dengan sohu mesofilik (25-45'C) yang kemudian diikuti suhu termofilik (50-65'C). Setelah fase tersebut selesai, hampir semua senyawa organik telab stabil. Hal tersebut menyebabkan subu turun kembali menjadi mesofilik dan akhimya sarna dengan subu ling-kungan. Mikroorganisme perombak pada pennuJaan pengomposan sedikit, maka pengomposan akan belja1an larnban_ Hal tersebut berhubungan erat dengan waktu

(29)

II

Pada tahap awal pengomposan, waktu tumpukan bahan organik belum pa-nas, mesofilik terdapat di bagian dalarn maupun luar tumpukan. Segera setelah

proses pengomposan mulai aktif. subu kompos meningkat terutama di bagian

dalam. Hal tersebut terjadi karena kegiatan mesofilik yang menimbulkan panas. Tumpukan bahan organik berfungsi sebagai isolator yang mencegah panas me-rambat keluar tumpukan. Semakin lama subu di dalam tumpukan semakin panas (diatas 45'C), sebingga jasad renik mesofilik bergerak ke lingkungan yang lebih nyaman, yaitu di bagian tepi rumpukan kompos. Suhu kompos yang meningkat akan merangsang berkembangbiaknya jasad renik tennofilik yang menggantikan fungsi mesofilik untuk merombak tumpukan bahan organik. Mesofilik akan mun-cui dalamjumlah besar dan aktif kembali jika subu dalam tumpukan kompos telah turun sampai di bawah 40°C.

Limbah sagu tidak dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik

karena nisbah C/N dan asarn-asam fenolik yang tinggi, oleh karena itu

agar

dapat digunakan sebagai pupuk barus didekomposisikan lebih dabulu. Dekomposisi senyawa organik seperti limbah

sagu

dapat dilakukan secara aerob atall anaerob.

Dekomposisi aerobik akan merombak bahan organik menjadi humus de-ngan bantuan oksigen. Proses tersehut diikuti dede-ngan pelepasan energi eksotenn dalam jumlah yang besar sepanjang proses oksidasi C menjadi C02. jasad renik seperti fungi dan bakteri rnesofilik bekerja pada suhu 30-35°C di awal dan akhir dekornposisi. bakteri tersebut bekerja memperkecil ukuran bahan, sehingga luas pennukaan menjadi lebih besar. Setelah suhu diatas 50°C, maka yang bekerja adalah bakteri tennofilik, tetapi aktifitas bakteri tersebut relatif rendah. Kedlla jasad renik tersebut melakukan pencernaan secara kimiawi dengan bantuan enzim, sehingga

bahan

organik terlarut dan terurai menjadi unsur

yang

dapat diserap oleh jasad renik tersebut.

Akhir proses dekomposisi akan menghasilkan

CO"NH4, NO,', H,PO,",

SO,", H2

0, hara

dan humus yang mengandung unsur seperti Co, Mg, Fe, Cn, Mn,
(30)

me-rombak asam lemak menjadi metan, amoniak, C02. ィゥ、イッァ・セ@ hara dan humus

seperti dekomposisi aerob.

Menurut Djoefrie (1999) limbah ampas sagu (ela) dapat digunakan sebagai pupuk organik dan

baban

bagi media tumbuh tanaman. Ampas sagu (ela) yang masih segar tidak dapat digunakan sebagai pupuk organik karena nisbah elNoya

sangat tinggi. Baban ela yang akan digunakan sebagai pupuk organik, maka ela tersebut harus didekomposisikan lebih dahulu. Lama proses dekomposisi sekitar 4-6 bulan, tetapi bila dalam pendekomposisian ela tersebut dicarnpur dengan tanah di tempat pembuangan, maka masa dekomposisi dapat dipercepat menjadi dua bulan. Selanjutnya Djoefrie dan Sudarman (1996) menyatakan dekomposisi ela dapat dipercepat dengan pemberian kotoran sapi.

Dekomposisi bahan organik secara anaerob akan menghasilkan beberapa senyawa antara lain adalah metan, H2S, etilen, asam butirat, asam fonnat, asam laktat dan asam-asam organik lainnya seperti asam-asam fenolat. Sebagaian besar asam-asam tersebut bersifat racun bagi tanaman (Tsusuki

dan

Kondo 19%).

Kornposisi bahan organik berkaitan erat dengan jenis asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Stevenson (1994) mengemukakan bahwa dari proses degradasi lignin dihasilkan asam-asam fenolat, sedangkan dari selulosa dan hemiselilosa dihasilkan asam-asam karboksilat

(31)

13

fungsional yang mengandung oksigen seperti -{:=D, -OH, dan COOH merupakan tapak yang reaktif dalam pengikatan kation (Stevenson 1994).

Tan (1993) dan Situmorang (1999) mengemukakan bahwa asam-asam

fenolat di dalam

tanah

dapat bersifat racun

bagi

tanaman (fitotoksik) sehingga

mengganggu pertumbuhan tanaman. Usaba pengurangan asam-asam organik (de-rivat asam fenolat) pada laban kering yang banyak mengandung AI dan Fe ada1ab

dengan pemberian bahan organik atau sisa-sisa tanaman yang mengandung asam

fenolal. Hal ini dilakukan karena secara umum reaksi kimia yang terjadi terutama

pada

tapak reaktif

gugus fungsional asam-asam organik hasil dekomposisi. baik di

tanah

gambot maupun

tanah

mineral relatif sarna Pengikatan logam oleh bahan

organik di dalam

tanah

dapat digambarkan sebagai berikut:

oセcMoᆳ

I

o

CH,

II

II

7

0

c-o "'-...

.----0-C-CH,-C "'-...

o

セ@ I ______ M "'-... 0

______ C-CH,-C-O O-C=D

o

Bahan organik

Logam Baban organik

Dalam hal pengikatanlpengkelatan unsur beracun bagi tanaman seperti Al dan Fe

dapat digambarkan sebagai berikut :

____ (COOH)n

R

+

A I

---... (OH)m

n.,(HOOC)______.. ..---cOO-AI(OHh ____________ rMcooセ@

m.,(OH) 0 ---AI(OH)

Pemberian bahan organik ke dalam

tanah

yang kemudian menghasilkan

a-sam-asam fenolat diharapkan aktivitas unsur beracun (AI, Fe dan Mn) dapat

diku-rangi. Delivat senyawa asam-asam fenolal banyak terdapat dalam twnbuhan,

te-rutama dalam kayu keras dan kuHt tumbuhan berkayu. Senyawa tersebut

mempu-nyai sifal-sifal fungisida hingga melindungi pohon dari serangan mikroorganisme.

(32)

dengan cara memberikan limbah sagu ke pertanaman sebagai mulsa. Tadano el aJ.

(1992) menyatakan bahwa asam-asam fenolat mempunyai pengaruh langsung ter-hadap proses biokimia dan fisiologi tanaman setta penyediaan hara di dalam ta-nab.

Menurut Prasetyo (1996) pengaruh penting yang disebabkan oleh bahan-bahan fitotoksik basil pelapukan bahan-bahan organik adalah terjadinya perubahan-bahan per-meabilitas sel tanaman sehingga asam-asam amino dan bahan lain mengalir ke lu-ar sel, nekrosis pada sel aklu-ar, menghambat dan menunda perkecambahan, meng-hambat pertumbuhan akar, pertumbuhan tanaman kerdil, mengganggu serapan

ha-rn..

klorosis, layu dan mematikan tanaman.

Pengendalian Gulma

Dalam bidang pertanian dan perkebunan, gulma merupakan masalah yang penting dalam peningkatan efisiensi dan produktivitas. Penurunan basil beberapa tanarnan pangan akibat persaingan dengan gulma sampai sekitar 60%, antara lain penurunan produksi padi sawah berkisar 15-42%, padi gogo 36-97%, jagung 16-82%, kedelai 18-69%, kacang tanah 20·50%, kacang hijau 32% dan ubi kayu 6-62% (8angun 1990).

Gulma mutlak perlu dikendalikan, terutama pada penanaman dengan sis-tern budidaya monokultur dan penanaman dalam larikan!baris seperti pada tana-man perkebunan. Sistem budidaya tersebut memberi peluang yang besar bagi tim-bulnya gulma yang turut menikmati sarana masukan (air, harn., sinar matahari, dan pupuk), sejak berada

di

persemaian sampai saat tanaman menghasilkan (Kunta-hartono 1990

dan

Hasanuddin et al. 2001).
(33)

15

Herbisida diklasifikasikan atas beberapa jenis, yaitu herbisida kontak (se-lektif dan non se(se-lektif), herbisida yang dapat ditranslokasikan dan herbisida resi-dual. Herbisida selektif yaitu suatu herbisida yang reaksinya sangat spesifik, digu-nakan untuk gulma yang spesifik tanpa menyebabkan kerusakan pada tumbuhan sekitarnya. Herbisida non selektif adalah senyawa kimia yang dapat mematikan setiap jenis gulma Herbisida yang dapat ditranslokasikan yaitu herbisida yang hi-la diaplikasikan pada daun, akan terserap kedalam tanaman, lalu bergerak ke ba-gian tanaman lain, termasuk ke akar. Herbisida residual yaitu herbisida yang dia-plikasikan pada tanab selama beberapa minggu.

Pemakaian herbisida sintetik yang berlebihan dapat merusak lingkungan. Dalam usaba mencegab kerusakan lingkungan dari baban-baban kimia yang ber-bahaya, maka dicoba pembuatan bahan sediaan alami. Bahan-bahan alami seperti limbah sagt4 baik. secara langsung maupun tidak langsung menghasilkan

metabo-lit sekunder yang mempunyai

aktivitas beragam,

antara lain sebagai herbisida.

Pembuatan sediaan herbisida dari campuran bahan alami merupakan suatu alter-natif yang cukup potensial. Degradasi dari baban alami akan lebih cepat diban-dingkan dengan senyawa-senyawa sintetik, selain itu dapat mencegah kontaminasi air tanah. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut:, para peneliti mencoba menggu-nakan bahan alarni sebagai pengganti bahan-bahan sintetik. Senyawa-senyawa kimia yang berasal dari aJam. terutama nabati mempunyai peluang yang cukup besar untuk menggantikan produk sintetik. karena senyawa dari bahan alarn me-ngalami degradasi lebih cepat dibandingkan dengan baban sintetik (Lydon and Duke 1990).
(34)

uotuk menekan rumput-rumputan (tanaman herdaun sempit), anggrek-anggrekan dan legume.

Fenol berikut turunannya merupakan senyawa kimia yang banyak diman-faatkan sebagai insektisida, herbisida rnaupun fungisida. F enol sebagai herbisida yang sangat tinggi toksisitasnya, bersifat nonselektif dan bekerja seeara efektif pada suhu tinggi. Herbisida tumnan fenol merupakan herbisida organik dan se-bagian besar adalah herbisida yang bersifat kontak. Herbisida yang mengandung fenol dapat ditranslokasikan di daJam tumbuhan dan digunakan sebagai herbisida pra dan pasea tumbuh yang selektif (Oudejans 1991).

Menurut Suradikusumah (1996) sifat menarik dari fenol yailu mampu me-ngikat protein sehingga beberapa enzim dapat dihambat. Oudejans (1991) menya-takan herbisida tumnan fenol dalam dosis rendah merupakan racun oksidasi di dalam sel yang mencegah pembentukan ATP. Herbisida yang merupakan derivat dari senyawa fenol apabila disemprotkan akan bereaksi dengan membran sel tum-buhan yang terkena semprotan. sehingga membran sel tersebut larut dan rusak (Oudejans 1991). Akibatnya warna daun berubah menjadi coklat. Herbisida fenol biasa dipakai pada pertanaman sereal, polong-polongan dan komoditas lainnya untuk mengendalikan gulma herdaun lebar.

Turunan dari senyawa asam henzoat yang mempunyai aktifitas paling ting-gi dalam menekan pertunasan biji Ar/ipJex /riaguJaris (L) adalah asam sinapat dan asam p-hidroksi henzoat. Asam fenolat yang mempunyai aktivitas tinggi adalah asam ferulat, asam p-kumarat, vanilat, dan asam siringat. Golongan rnonoterpen yang memiliki aktifitas tertinggi adalah sineol 1,8, kemudian menthol, thimol, borneol dan pulegon. Menurut Poser el aJ. (1996), senyawa pulegon dalam mi-nyak Hesperozygis ringens (Benth) (sekitar 79,2%) mempunyai efek allelopati yang cukup tinggi.

(35)

17

Daun dan batang gamal mengandung polifenol 1,6% dengan kandungan total fenol sekitar 3-5%

dan

flavanol 1-3%. Ekstrak air dari daull kering maupun

basah mempunyai efek allelopati karena adanya asam fenolat. Efek tersebut tidak

bertahan lama, sehingga dapat dieliminasi dengan pemakaian mulsa gamal

seti-daknya satu minggu sebelum penanaman (Hanum dan Maesen 1997).

8agian tanaman yang telah digunakan oleh petani UDtuk menekan pertum-buhan gulma antara lain dauD, dengan cara claun ditebarkan diatas lahan sebagai mulsa. Herbisida

renolat

diabsorbsi dengan cepat oleh bagian tanaman yang ter-kena. Herbisida fenolat, secara biokimia bekerja dengan carn memutus reaksi
(36)

ASAM FENOLAT DAN LIGNIN

Pendahuluan

Limhah sagu merupakan ampas empelur sagu yang telah diarnhil patinya. Limbah tersebut merupakan altematif pengganti sumber bahan organik. Limbah sagu selama ini dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, pakan ternak,

,

industri pangan, industri kimia, industri fannasi dan media tanam (Enie 1992). Penambahan bahan organik ampas sagu akan meningkatkan pH taoah, nisbah

elN,

P tersedia, jumlah basa, KTK tanah serta menurunkan AI-dd. Menu-rut Leksana (2000), limbah sagu yang dimanfaatkan sebagai media tanam tidak dapat langsung digunakan karena banyak mengandung selulosa dengan nisbah

CIN tinggi. Limbah sagu perlu didekomposisi terlebih dahulu sebeJum digunakan sebagai media taoam.

Dekomposisi limbah sagu dapat dilakukan dengan cara aerob maupun anaerob. Dekomposisi aerob mengubah bahan organik secara mikrobiologi men-jadi humus dengan bantuan oksigen. Secara anaerob penguraian bahan organik teIjadi pada kondisi kurang oksigen yang akan menghasilkan beberapa senyawa dan gas antara lain gas metan, hidrogen sulfida, etilen, asam asetat, asam butirat, asam laktat dan asam-asam fenolat diantaranya asam femlat, asam p-kumarat dan asam p-hidroksibenzoat. Pembentukan asam-asam fenolat dari bahan organik tersebut merupakan proses biodegradasi.

(37)

19

Bahan organik dengan nishah CIN yang tinggi dapat diturunkan dengan menam· bahkan aktivator sehingga dapat mempercepat proses dekomposisi bahan organik tersebut. Percobaan ini bertujuan uotuk mengetahui tingkat dekomposisi pada ragam kombinasi limbah sagu dengan kompos terhadap kandungan hara, asam

fenolal dan lignin.

Bahan dan Metode

Waktu dan tempat. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan IPS, Cikabayan Dannaga, Bogor dan di laboratorium Jurusan Tanah serta Laborato-riurn Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Ohat. Pelaksanaan percobaan

dimu-lai dari bulan April 2003 sampai September 2004.

Metode penelitian. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancang-an Acak Kelompok yRancang-ang disusun secara faktorial, terdiri alas dua faktor.

Faktor 1. Waktu dekomposisi (W)

Wo

セ@ 0 bulan (kontrol) WI = I bulan

W2 = 2 bulan

Faktor 2. Limbab sagu (L)

Ll = 100 % limbah sagu segar

L2 = 75 % limbah sagu segar + 25 % kompos L3 = 50 % limbah sagu segar

+

50 % kompos

L4 = 25 % limbah sagu segar + 75 % kompos

Kombinasi perlakuan dari waktu pengomposan dan limbah sagu terdiri atas 12 kombinasi perlakuan. masing-masing diulang tiga kali. Model rancangan adalah sebagai berikut :

Yijk = 11 + kセ@ + W1+ Lj + (WL)ij+ Sijk

Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan kelompok ke-k yang memperoleh taraf ke-i dari

faktor waktu dekomposer dan taraf ke-j dari faktor limbah sagu 11 = Nilai rata-rata umum

Kk = Pengaruh kelompok ke-k

(38)

(WLii) = Pengaruh interaksi エ。イ。ヲォ・セQ@ faktor waktu dekomposisi dan taraf

ke-j faklor limbah sagu

£iJk = Pengaruh galat percobaan pada kelompok ke-k yang memperoleh

tarafke-i waktu dckomposisi dan tarafke-j fa.ktor limbah sagu Percobaan diasumsikan memiliki galat timbul secara aeak. menyebar nor-mal dan saling bebas. Dari hasil pengamatan berbagai peubah dilakukan

pengola-han data statistika dengan analisis ragam (Uji F). Jika terdapat perbedaan nyata pada uji F dilakukan uji lanjut dengan Uji Wilayah Berganda Duncan pada taraf

5%.

Pelaksanaan Percobaan. Sistem pengomposan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sislcm pcngomposan unucrubik. Kompos scbagai aktivator

bcrsumbcr daTi sisa-sisa daun Lal1uman hasil dckomposisi anacrob di 13alai Pcnc-litian Tanaman Rempah dan Dbat

Campuran limbah sagu dan kompos sesuai perlakuan dilakukan pada lubang pengomposan yang berukuran 2 m x 1,5 m x 1 m. Perlakuan dekomposisi tersebut ditempatkan pada tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Perlakuan waktu dekomposisi 0 minggu sebagai kontrol tidak dilakukan proses dekomposisi. Limhah tersebut digunakan dalam hentuk masih segar.

Pengamatan. Pengamatan terhadap percobaan terdiri atas:

1. Analisis limbah sagu dan kompos untuk mengetahui sifat kimia dan biologi yang dilakukan sebelum dan sesudah percobaan. Adapun komponen yang di-analisis mencakup kandungan N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, Mn, fenolat, nisbah

CIN, lignin, total fungi, total mikroorganisme, dan karbon mikroorganisme.,

2. Pengukuran suhu dan pH dari campuran Iimbah sagu dan kompos dilakukan satu kali seminggu selama pengomposan.

HasH dan Pembahasan Suhu kompos

(39)

" 21

Tabel I. Pengaruh waktu dekomposisi

dan

komposisi limbah sagu terhadap suhu kompos

Perlakuan minggu

ke-2 3 4 5 6 7 8

---°C _______________________________________ Waktu

WO 34,75

WI 39,17. 39,25. 38,33 37,49

W2 40,33 39,66 38,83 38.35 37,58b 37,92b 36,58 35,25

Komposisi

LI 40,33 40,00 39,33 39.07 39,00a 39,50. 38,66 35,89 L2 41,00 40,00 39,33 39.00 39,17. 39,00.b 37,83 36,33 L3 40,33 39,33 39,00 38.00 37,50b 38,17bc 37,33 35,9 L4 39,67 39,33 37,67 37.33 37,83ab 37,67c 36,50 35,11

lnteraksi

WOLI 34,00

WOL2 34,67

WOLJ 35,33

WOL4 35,00

WILl 39,33 39,67 39.33 38.33

WIL2 40,00 39,33 38.33 38.00

WIL3 38,33 39,00 38.00 37.33

WIL4 39,00 39,00 37.67 36.33

W2LI 40,33 40,00 39,33 39.07 38,67 39,33 38,00 35,33 W2L2 41,00 40,00 39,33 39.00 38,33 38,67 37,33 36,33 W2LJ 40,33 39,33 39,00 38.00 36,67 37,33 36,67 35,33 W2L4 39,67 39,33 37,67 37.33 36,67 36,33 35,33 34,00

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf sarna pada kolom yang sarna menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji Duncan tarafS%

suhu kompos yang tinggi pada awat pengomposan disebabkan masih

ba-nyaknya senyawa yang mudah dirombak seperti gula sederhana (fruktosa,

gluko-sa), pati, dan protein. Peningkatan suhu menunjukkan adanya aktivitas

mikroor-ganisme. Semakin banyak kandungan limbah sagu dari bahan yang digunakan

menghasilkan subu yang tinggi dan waktu pengomposan yang lebih lama.

Mikro-organisme yang sudah ada dalam bahan organik memiliki kemampuan untuk

me-rombak senyawa-senyawa sederhana yang terdapat pada limbah sagu. Aktivitas

perombakan oleh mikroorganisme menghasilkan panas. Polprasert (1990) dan

Chanehampee

e/ al.

(1999) melaporkan subu maksim.1 yang dieapai pada

pe-ngomposan sampah organik terjadi pada minggu pertarna dan kedua. Leksana

(2000) melaporkan suhu tertinggi pada pengomposan limbah sagu dengan

bebe-rapa aktivator terjadi pada minggu ke dua dan ke tiga waktu pengomposan. Hasil

[image:39.591.91.497.121.473.2]
(40)

limbah sagu dengan tanpa diberi aktivator sekalipun suhu kompos tetap ュ・ョゥョァセ@

kat. Pemberian aktivator kotoran sapi meningkatkan suhu kompos limbah sagu mencapai 30,62°C. Menurut Kirschbaum (1995), tingkat dekomposisi bahan

Of-ganik akan lebih dipacu oleh peningkatan suhu. Nisbah

elN

kompos

Nisbah CIN suatu bahan organik memberikan gambaran tentang mudah

ti-daknya bahan tersebut didegradasi, tingkat kematangan dan mobilisasi nitrogen yang dikandungnya. Nisbah CIN oyata dipengaruhi oleh waktu dekomposisi, nis-bah CIN menurun dengan semakin lamanya waktu dekomposisi (TabeI2). HaLter-

,

sehut menunjukkan bahwa mikroorganisme mampu melakukan proses

perornbak-an seeara baik terhadap limbah sagu.

Tabel 2. Pengaruh interaksi waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu terhadap nisbah CIN

Perlakuan minggu

ke-°

2 4 6 8

WOLI 76,50.

WOL2 61,07b

WOLl 46,67cd

WOL4 29,00f

WILl 79,70. 74,00. 61,00b

WI L2 59,70b 58,00b 49,00c

Will 49,27c 46,66c 36,67e

WI L4 35,47de 31,66e 20,671'

W2L I 76,35. 71,20. 61,00b 60,80b 46,67de

W2L2 62,57b 60,83b 49,00c 48,33c 41,33e

W2Ll 48,06c 44,30c 38,17d 36,90d 28,331'

W2L4 36,00d 34,53d 29,66e 26,031' 16,00g

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurul uji Duncan taraf 5%

(41)

23

L3 (50% limbah sagu

+

50% kompos) dan L4 (25% limbah sagu + 75% kompos) pada berbagai waktu dekomposisi.

Penurunan nisbah CIN terjadi mulai minggu ke-2 hingga minggu ke-8 pada semua perlakuan. Kombinasi perlakuan menggunakan kompos dengan waktu dekomposisi 1-2 bulan mampu memacu aktivitas mikroorganisme dan memperce-pat proses dekomposisi dengan penurunan nisbah CIN mencapai

kigaran

16,00 -49,00 (Tabel 2). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurisamunandar

et at.

(1999), bahwa penurunan nisbah ampas sagu dari 279,37 menjadi 31,24 terjadi dalam waktu 12 minggu pengomposan dengan mengguna-kao aktivator dari kotoran sapi.

Nisbah karbon nitrogen bahan organik merupakan faktor yang sangat pen-ting dalam percepatan proses pengomposan. Transfonnasi bahan organik untuk pupuk yang melibatkan mikroorganisme sangat bergantung pada kadar karbon dan nitrogen yang terdapat di dalam bahan yang akan didekomposisikan. Nisbah kar-bon nitrogen optimal untuk proses pengomposan yaitu antara 30-40, tetapi proses pengomposan dapat berlangsung baik jika nisbah karbon nitrogen antara 2')-35 (Mindawati el al. 1998).

Semakin banyak persentase limbah sagu, penurunan CIN yang terjadi tidak secepat pada perlakuan yang banyak mengandung kompos. Nisbah CIN kompos yang rendah mengandung banyak populasi mikroorganisme sehingga mendorong dekomposisi secara intensif. Hal ini ditunjukkan pada perlakuan yang mengan-dung kompos 75% (L4), nisbah CIN mencapai optimal pada akhir pengomposan sebesar 16.

(42)

Derajat kemasaman (pH) kompos

Tingkat kemasaman (pH) sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan

mi-kroorganisme dekomposer. Pada lahap awal proses pengomposan, pH bahan

korn-pos biasanya sedikit masam yang disehabkan oleh adanya pembentukan asam-asam organik selama tahap awal pengomposan sehingga pH lebih rendah. Serna-kin lanjut proses dekomposisi bahan kompos, maka pH kompos meningkat men-dekati netral. Hal ini terlihat dari pH kompos yang meningkat dari 5,05 pada awal pengornposan rnenjadi 6,85 di akhir pengornposan (rninggu ke-8) (Tabel 3).

Perlakuan waktu pengomposan dan limbah ampas sagu serta interaksinya nyata berpengaruh terhadap pH kompos pada minggu pertama dan pada minggu ke-5 sampai dengan minggu ke-8 (akhir pengomposan), tetapi tidak berpengaruh nyata pada minggu ke-2, 3 dan 4 waktu pengomposan.

Tabel 3. Pengaruh interaksi waktu dekomposisi dan komposisi Iimbah sagu terhadap pH kornpos

Perlakuan

WOLI WOL2 WOLJ WOL4

2

minggu ォ・セ@

3 4 5 6 7 8

5,07g 5,42f

5,88e 6,1;"'::d

WiLl 5,04c 6,06a 6,32. 6,07d

WI L2 5,75b 6,15a 6,55. 6,3 I c

WILJ 6,16.b 6,45. 6,73a 6,51b

WI L4 6,28a 6,59a 6,80a 6,75a

W2Ll 5,05c 6.26a 6,67a 6,67a 6,46a 6,07a 6,30a 6,20cd

W2L2 5,60b 6,20. 6,43. 6,24. 6,49. 6,28. 6,3 I. 6,33c W2L3 6,04. 6,26. 6,49. 6,25. 6,43. 6,52. 6,60a 6,60b

W2L4 6,35a 6,42a 6,45a 6,42a 6,50a 6,59a 6,66a 6,85a

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf sarna pada kolom yang sarna menunjukkan tidak berbeda nyata rnenurut uji Duncan taraf 5%

Pada minggu pertama kombinasi perlakuan yang mengandung limbah sagu 75-100% rnemiliki pH yang rendab yaitu 5,05-5,60. Rendahnya pH tersebut kare-na Iimbah sagu sebagai bahan utama pada perlakuan W2Ll (100% limbah sagu, 1 bulan dekomposisi) dan W2L2 (75% limbah sagu + 25% kompos. 2 bulan 、・ォッュセ@

posisi) memiliki pH yang rendah, selama proses dekomposisi terjadi peningkatan pH.

(43)

25

menyebabkan ionisasi hidrogen mula-mula

dan

gugus hidroksil pada bahan orga-nik yang kemudian diikuti hidrogen dari gugus fenol dan digantikan oleh Ca, Mg, dan kation lainnya (Ririhena 1996). Menurut Van el al. (1996), terjadinya

pening-katan pH tanah karena pemberian sisa-sisa tanaman berhubungan dengan

penam-" K ' N ' M penam-"

bahan kation-kation yang berasal dari material tanaman sepertl: • a. g dan Ca2+.

Kandungan hara, 8sam fenolat dan lignin

Pengaruh waktu pengomposan, komposisi limbah sagu, serta interaksi ke-duanya berpengaruh nyata terhadap kandungan hara, lignin, dan fenolat total. De-komposisi Iimbah sagu selama 2 bulan (W2) menghasilkan nitrogen lebih tinggi yaitu 1,08% dibanding tanpa dekomposisi. Peningkatan nitrogen dalarn kompos limbah sagu selama dekomposisi 2 bulan sebesar 21,29%. Selama proses pengom-posan terjadi mineralisasi unsur-unsur hara, sehingga hara makro menjadi teriepas dan tersedia.

Kandungan fosfor tidak nyata dipengaruhi oleh waktu dekomposisi, kom-posisi Iimbah ampas sagu dan interaksi antara waktu dekomkom-posisi dengan limbah sagu sampai 2 bulan dekomposisi. Kandungan kalium tidak nyata dipengaruhi oleh waktu dekomposisi, tetapi kalium nyata dipengaruhi oleh komposisi limbah sagu dengan kompos. Interaksi antara waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu dengan kompos nyata mempengaruhi kandungan magnesium pada akhir dekomposisi. Kandungan magnesium paling tinggi pada perlakuan kombinasi ditunjukkan oleh perlakuan W2LI (100% limbah sagu, 2 bulan dekomposisi) sebesar 0,96%, dan perlakuan W2L2 (75% limbah sagu

+

25% kompos) sebesar 0,95% (Tabel 4). Semakin tinggi komposisi Iimbah sagu dalam kompos, maka akan menghasilkan magnesium lebih tinggi.
(44)

Tabel 4. Pengaruh interaksi waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu terhadap kandungan hara, asam fenolat dan lignin

k。ョ、オョセョ@ hara, asam fenolat dan lignin kompos

Perlakuan N P K Ca Mg Asam Lignin

Fenolat HセセュI@ ---0/0-- ---- ---

ppm---Waktu

WO 0,85b 0,16. 1,29a 1,14a 0,83b 14,39c 127,12. WI 0,98.b 0,16a 1,30. 1,153 0,93. 16,97b 122,25b W2 1,08a 0,17a 1,31. 1,17a 0,94a 19,12. 116,95c Komposisi

LI O,99a 0,15a 1,24c 1,07a 0,93a 22,89. 144,76.

L2 1,00a 0,16a 1,27bc 1,10. 0,91.b 19,73b 120,00b

LJ 0,92a 0,16a 1,31_b 1,lla 0,89bc 14,21c 1 14,3Yc

L4 0,95a 0,17a 1,36. 1,20_ 0,86c 10,48d 109,33d

Interaksi

WOLI 0,96a 0,\6a 1,24a 1,03a 0,943 21,57bc 150,50_ WOL2 0,98a 0,15_ 1,26a 1,08a 0,85b 17,93d I 24,OOc WOLJ O,70a 0,163 1,29a 1,12. 0,79c 9,87g 118,67cd WOL4 0,72. 0,17a 1,36. 1,I4a 0,74d 8,20h 115,33de WiLl 0,97a 0,153 1,24a 1,08a 0,91a 22,83.b 145,00.b WIL2 0,97a 0,16a 1,29a 1,12a 0,93a 20,13c 121,00cd Will 0,98. 0,17a 1,32. 1,20a 0,94a 15,l3e 115,33de WIL4 0,99a 0,17. 1,35a 1,22a 0,94a 9,8g 107,67f W2L1 1,04a 0,153 1,25. 1,12a O,96a 24,27a 138,79b W2L2 1,05a 0,19a 1,27a 1,12a 0,95a 21,13c 115,00de W2Ll 1,07a 0,17a 1,34a 1,21a 0,94a 17,63d 109,00ef W2L4

Gambar

Gambar 1. Bagan Alir Tahapan Penelitian
Tabel I. Pengaruh waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu terhadap suhu
Tabel 4. Pengaruh interaksi waktu dekomposisi dan komposisi limbah sagu
Gambar 2. Kandungan total mikroorganisme 100% lirnbah sagu pada
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bobot badan ayam silangan Pelung X Kampung (PK) pada umur 12 minggu nyata lebih besar dibandingkan dengan ayam Kampung

Laajentaminen sekä yhdistäminen liittyivät pääsääntöisesti siihen, että tulosten pohjalta ymmärretään paremmin verkkokaupan arvolupauksen, asiakkaiden kokeman riskin

Dalam tabel periodik tidak hanya terkandung lambang unsur, tetapi juga menggambarkan sifat fisik dan kimia dari unsur tersebut sehingga chiper- teks yang dihasilkan tidak hanya

SMDC juga dilakukan pada pasien dengan penyakit kronik, yang pernah diteliti di California tahun 2002, yang memberikan laporan bahwa terdapat peningkatan

Penggunaan yang tercantum dalam Lembaran Data Keselamatan Bahan ini tidak mewakili kesepakatan pada kualitas bahan / campuran atau penggunaan yang tercantum sesuai dalam kontrak.

Untuk mengetahui dan melakukan analisa terhadap Putusan Majelis Komisi KPPU yang menyatakan bahwa 12 Perusahaan Terlapor telah melanggar Pasal 11 Undang Nomor 5 Tahun 1999

dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang