UN
A
FAKULT
NIVERSIT
i
SKRIP
Oleh ALMUDDA
1211210
TAS KEP
TAS SUM
2014
PSI
: ATSIR 055
PERAWA
MATERA
4
ATAN
UTARA
iii PRAKATA
Puji beserta syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas rahmat dan hidayahNya, sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan” dapat diselesaikan. Skripsi ini ditulis terkait dengan persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini :
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah memfasilitasi terlaksananya pendidikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan.
2. Erniyati, S.Kp., MNS Selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
3. Ns. Rosina Tarigan, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB selaku pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.
4. Ns. Cholina T. Siregar, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB selaku penguji 1 yang telah memberikan masukan, arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat untuk perbaikan penelitian ini.
5. Ns. Ikram, S.Kep., M.Kep selaku penguji 2 yang telah memberikan masukan, arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat untuk perbaikan penelitian ini.
6. Seluruh dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara beserta staf yang telah membantu selama proses pendidikan.
7. Direktur RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di RSUP H. Adam Malik Medan.
iv
9. Teristimewa sekali buat ayah dan bunda tercinta, kakanda beserta keluarga besar yang senantiasa memberikan semangat dorongan secara materil, moral serta spiritual selama penulis mengikuti pendidikan Sarjana Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
10.Rekan-rekan Mahasiswa Ekstensi Keperawatan angkatan 2012 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bantuan, motivasi, partisipasi dan saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
11.Seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian penelitian ini.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini dimasa yang akan datang dan bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis khususnya. Semoga segala bantuan, kebaikan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat berkah, rahmat dan hidayah dari ALLAH SWT, Amin.
Medan, Januari 2014
v
A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 6 C. Pertanyaan Penelitian ... D. Tujuan Penelitian ...
6 6 1. Tujuan Umum ... 6 2. Tujuan Khusus... 7 E. Manfaat Penelitian... 7 BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Anatomi Pernapasan... 1. Saluran Napas Bagian Atas... 2. Saluran Napas Bagian Bawah... B. Fisiologi Pernapasan ... 1. Mekanisme Pernapasan... 4. Komplikasi pada penderita TB... 5. Tanda dan Gejala... 6. Patofisiologi... 7. Pengobatan TB... D. Tehnik Napas Dalam dan Batuk Efektif...
1. Tehnik Napas Dalam... BAB 3 KERANGKA KONSEP
vi BAB 4 METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian... 34
B. Populasi Penelitian... C. Tempat Penelitian... 37
D. Waktu Penelitian... 37
E. Etika Penelitian... 38
F. Alat Pengumpul Data... 39
G. Prosedur Pengumpulan Data ... 40 H. Analisa Data... BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
vii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat izin survei awal dari Fakultas Keperawatan universitas Sumatera Utara.
2. Surat persetujuan izin survei awal dari Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik
3. Surat izin persetujuan etik penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4. Surat persetujuan komisi etik tentang pelaksanaan penelitian biang kesehatan.
5. Surat izin pengambilan data dario Fakultas Keperawatan universitas Sumatera Utara.
6. Surat pernyataan telah melakukan penelitian dari Rumah Sakit Umum Pusat H. adam malik.
7. Standat Operational Prosedur napas dalam dan batuk efektif dari Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik.
8. Lembar penjelasan kepada responden penelitian 9. Lembar persetujuan menjadi responden
10.Format pengkajian kerakteristik responden 11.Kadwal tentatif penelitian
viii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Anatomi pernapasan manusia 10 Gambar 2.2 Pergerakan diafragma saat pernapasan diafragma 26 Gambar 2.3 Mekanisme Pursed Lips Breathing (PLB) 27
ix
DAFTAR SKEMA
Halaman Skema 3.1 Kerangka konseptual penelitian efektifitas pengeluaran
sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
30
Skema 4.1 Kerangka kerja penelitian efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
x
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional... 32 Tabel 5.1 Tabel Distribusi Frekuensi Data Demografi
Responden di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam
Malik Medan ………... 46
Tabel 5.2 Tabel pengukuran volume sekret pre dan post test pada kelompok intervensi ………. 50 Tabel 5.3 Tabel pengukuran volume sekret pre dan post test
xi
THE BACHELOR OF NURSING PROGRAM, NURSING FACULTY OF NORTH SUMATERA UNIVERSITY
Thesis, January 2014 Almuddatsir
THE EFFECTIVENESS disposal of secretions by coughing and breathing awareness, effective in tuberculosis patients in a general hospital center x + 61 pages + 4 tables + 2 charts + 4 pictures + 16 appendixes
ABSTRACT
The classic symptoms of active TB chronic infection is cough greenish sputum, fever, sweats at night and weight loss. The phenomenon of the entry of germs of tuberculosis will infect the lower respiratory tract and can lead to a productive cough and blood. The decrease of cilia work function caused accumulation of secret in the respiratory tract causing a nursing diagnosis of ineffective airway clearance due to the accumulation of secretion. The survey conducted at the General Hospital Center of H. Adam Malik obtained data, the number of patients who suffered tuberculosis in 2011 as many as 847 patients, 936 patients in 2012, and 132 patients in 2013 to 14th May 2013. The experimental research aims to determine the extent of the effectiveness of effusion secretions by technique of deep breathing and effective coughing in tuberculosis patients at the General Hospital H. Adam Malik. Thirty patients met the criterion were taken as the samples. The characteristics of respondents are age, sex and vital signs measurements are made as a confounding variable. Bivariate analysis using a dependent samples t-test showed a significant effect of exercise effective cough and deep breath to the secretions effusion in the intervention group (p value = 0.000) whereas in the control group (p value 0.076). The research results indicate there is effect of effective cough exercise and deep breathing technique in effusion of secretions on TB patients with disorders of airway clearance. For nurses need to conduct this exercise scheduled and integrated for all TB patients are treated in hospital.
KEY WORD : Effective coughing exercise and deep breath technique, TB, respiratory tract and secretion volume.
xii
PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Skripsi, Januari 2014 Almuddatsir
EFEKTIFITAS PENGELUARAN SEKRET DENGAN TEHNIK NAPAS DALAM DAN BATUK EFEKTIF PADA PASIEN TB DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT H. ADAM MALIK MEDAN
x + 61 hal + 4 tabel + 2 skema + 4 gambar + 16 lampiran ABSTRAK
Gejala klasik infeksi TB aktif batuk kronis dengan dahak berwarna kehijauan, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. Fenomena yang terjadi masuknya kuman tuberkulosis maka akan menginfeksi saluran nafas bawah dan dapat menimbulkan terjadinya batuk produktif dan darah. Terjadinya penurunkan fungsi kerja silia mengakibatkan penumpukan sekret pada saluran pernafasan sehingga menimbulkan diagnosa keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. Survei yang dilakukan pada Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik didapatkan data, jumlah pasien yang menderita penyakit TB sebanyak 847 pasien ditahun 2011, 936 pasien ditahun 2012, dan 132 pasien ditahun 2013 sampai dengan tanggal 14 Mei 2013. Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Tiga puluh pasien sesuai dengan kriteria diambil sebagai sampel.. Karakteristik responden yaitu umur, jenis kelamin dan pengukuran tanda-tanda vital yang dijadikan sebagai variable perancu. Analisa bivariat dengan menggunakan dependent samples t-test menunjukkan pengaruh yang signifikan latihan batuk efektif dan napas dalam terhadap pengeluaran sekret pada kelompok intervensi (p value 0,000) sedangkan pada kelompok kontrol (p value 0,076). Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh latihan batuk efektif dan napas dalam terhadap pengeluaran sekret pada pasien TB dengan gangguan bersihan jalan napas. Untuk perawat perlu melakukan latihan ini secara terjadwal dan terpadu untuk semua pasien TB yang dirawat di ruang inap.
xi
THE BACHELOR OF NURSING PROGRAM, NURSING FACULTY OF NORTH SUMATERA UNIVERSITY
Thesis, January 2014 Almuddatsir
THE EFFECTIVENESS disposal of secretions by coughing and breathing awareness, effective in tuberculosis patients in a general hospital center x + 61 pages + 4 tables + 2 charts + 4 pictures + 16 appendixes
ABSTRACT
The classic symptoms of active TB chronic infection is cough greenish sputum, fever, sweats at night and weight loss. The phenomenon of the entry of germs of tuberculosis will infect the lower respiratory tract and can lead to a productive cough and blood. The decrease of cilia work function caused accumulation of secret in the respiratory tract causing a nursing diagnosis of ineffective airway clearance due to the accumulation of secretion. The survey conducted at the General Hospital Center of H. Adam Malik obtained data, the number of patients who suffered tuberculosis in 2011 as many as 847 patients, 936 patients in 2012, and 132 patients in 2013 to 14th May 2013. The experimental research aims to determine the extent of the effectiveness of effusion secretions by technique of deep breathing and effective coughing in tuberculosis patients at the General Hospital H. Adam Malik. Thirty patients met the criterion were taken as the samples. The characteristics of respondents are age, sex and vital signs measurements are made as a confounding variable. Bivariate analysis using a dependent samples t-test showed a significant effect of exercise effective cough and deep breath to the secretions effusion in the intervention group (p value = 0.000) whereas in the control group (p value 0.076). The research results indicate there is effect of effective cough exercise and deep breathing technique in effusion of secretions on TB patients with disorders of airway clearance. For nurses need to conduct this exercise scheduled and integrated for all TB patients are treated in hospital.
KEY WORD : Effective coughing exercise and deep breath technique, TB, respiratory tract and secretion volume.
xii
PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Skripsi, Januari 2014 Almuddatsir
EFEKTIFITAS PENGELUARAN SEKRET DENGAN TEHNIK NAPAS DALAM DAN BATUK EFEKTIF PADA PASIEN TB DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT H. ADAM MALIK MEDAN
x + 61 hal + 4 tabel + 2 skema + 4 gambar + 16 lampiran ABSTRAK
Gejala klasik infeksi TB aktif batuk kronis dengan dahak berwarna kehijauan, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. Fenomena yang terjadi masuknya kuman tuberkulosis maka akan menginfeksi saluran nafas bawah dan dapat menimbulkan terjadinya batuk produktif dan darah. Terjadinya penurunkan fungsi kerja silia mengakibatkan penumpukan sekret pada saluran pernafasan sehingga menimbulkan diagnosa keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. Survei yang dilakukan pada Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik didapatkan data, jumlah pasien yang menderita penyakit TB sebanyak 847 pasien ditahun 2011, 936 pasien ditahun 2012, dan 132 pasien ditahun 2013 sampai dengan tanggal 14 Mei 2013. Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Tiga puluh pasien sesuai dengan kriteria diambil sebagai sampel.. Karakteristik responden yaitu umur, jenis kelamin dan pengukuran tanda-tanda vital yang dijadikan sebagai variable perancu. Analisa bivariat dengan menggunakan dependent samples t-test menunjukkan pengaruh yang signifikan latihan batuk efektif dan napas dalam terhadap pengeluaran sekret pada kelompok intervensi (p value 0,000) sedangkan pada kelompok kontrol (p value 0,076). Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh latihan batuk efektif dan napas dalam terhadap pengeluaran sekret pada pasien TB dengan gangguan bersihan jalan napas. Untuk perawat perlu melakukan latihan ini secara terjadwal dan terpadu untuk semua pasien TB yang dirawat di ruang inap.
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan yang baik atau kesejahteraan sangat diinginkan oleh setiap orang. Tak ada satupun orang yang menginginkan dirinya mengalami sakit, apalagi ketika orang tersebut berperan penting dalam melakukan suatu kegiatan. Potter & Perry (2005), mengatakan sehat adalah suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk mempertahankan keadaan kesehatannya.
Keperawatan berperan penting dalam menjaga mutu pelayanan di Rumah Sakit karena perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di Rumah Sakit. Jumlahnya yang dominan (55-56%) serta merupakan profesi yang memberikan pelayanan yang konstan dan terus menerus 24 jam kepada pasien setiap hari (Aditama, 2003). Rumah Sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang bersifat dasar spesialistik dan subspesialistik serta memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Rumah Sakit tidak hanya memberikan pelayanan rawat inap dengan fasilitas diagnostik dan terapeutik (Husni, 2001 dalam Saragih, 2007).
dapat menimbulkan terjadinya batuk produktif dan darah. Disini akan menurunkan fungsi kerja silia dan mengakibatkan penumpukan sekret pada saluran pernafasan sehingga menimbulkan diagnosa keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. Dengan batuk efektif penderita tuberkulosis paru tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengeluarkan sekret. Untuk mendapatkan sekret yang baik terdapat metode khusus untuk mengeluarkan sekret yaitu dengan cara batuk efektif. Sekret yang diambil adalah sekret yang benar-benar keluar dari saluran pernafasan.
Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan sekret secara maksimal. Batuk efektif dan napas dalam merupakan tehnik batuk yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi, yang bertujuan : merangsang terbukanya system kolateral, meningkatkan distribusi ventilasi, meningkatkan volume paru, memfasilitasi pembersihan saluran napas (jenkins, 1996). Batuk yang tidak efektif menyebabkan : kolaps saluran napas, ruptur dinding alveoli dan pneumothoraks ( Batuk efektif, 2013).
pernapasan sehingga bernapas lebih efektif dan mengurangi kerja pernapasan. Dengan batuk efektif penderita tuberkulosis paru tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengeluarkan sekret (Batuk efektif, 2013).
Tuberkulosis, MTB, atau TB (singkatan dari basil tuberkel) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh berbagai strain mikrobakteri, TBC biasanya
mycobacterium. Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian lain tubuh. Hal ini menyebar melalui udara ketika orang yang memiliki batuk infeksi TB aktif bersin, atau menyebarkan cairan pernapasan melalui udara. Sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala dan laten, tapi sekitar satu dari sepuluh infeksi laten pada akhirnya berkembang menjadi penyakit aktif yang jika tidak diobati dapat membunuh lebih dari 50% dari mereka yang terinfeksi. Gejala klasik infeksi TB aktif batuk kronis dengan dahak berwarna kehijauan, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan (Wikipedia, 2010).
TB merupakan salah satu masalah kesehatan penting di Indonesia. Selain itu, Indonesia menduduki peringkat ke-3 negara dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia setelah India dan China. Jumlah pasien TB di Indonesia adalah sekitar 5,8 % dari total jumlah pasien TB dunia. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB baru dengan kematian sekitar 91.000 orang. Angka prevalensi TB di Indonesia pada tahun 2009 adalah 100 per 100.000 penduduk dan TB terjadi pada lebih dari 70% usia produktif (Depkes RI, 2010).
Laporan WHO tentang angka kejadian TBC evaluasi selama 3 tahun dari 2008,2009,2010 menunjukkan bahwa kejadian TBC Indonesia mencapai 189 per 100.000 penduduk. Secara global, angka kejadian kasus kejadian TBC 128 per 100.000 penduduk. Data ini menunjukkan bahwa kasus TBC berada di sekitar kita. ( Syam, 2012 ).
Menurut Erlina, kematian akibat tuberkulosis umumnya karena kegagalan pengobatan. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya pengertian mengenai tuberkulosis, faktor ekonomi, pengobatan yang tidak teratur, adanya penyakit penyerta, serta kebiasaan merokok dan gizi penderitanya. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, karena dahulu penderita tuberkulosis harus meminum 4 jenis obat setiap hari selama 6 bulan. Biaya pengobatan tuberkulosis yang cukup besar, menyebabkan penderita nekat berhenti minum obat setelah 2-3 bulan. Biasanya selama masa ini, gejala tuberkulosis memang berkurang, badan tidak lagi kurus, meski sebenarnya kuman tuberkulosis hanya tertidur sementara waktu. Putus pengobatan bukan tanpa risiko. Kuman yang luar biasa penyebab tuberkulosis ini akan bangun lagi dan menjadi lebih ganas. Sering kali penderita tuberkulosis yang putus obat, datang kembali dengan gejala yang lebih berat beberapa bulan kemudian. Bahkan sampai tidak lagi dapat diatasi dengan pengobatan standar karena kuman menjadi kebal (Tuberkulosis, 2013).
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan suatu masalah : efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
C. Pertanyaan Penelitian
Apakah pasien TB dapat mengeluarkan sekret dengan metode tehnik napas dalam dan batuk efektif ?
D.Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
2. Tujuan Khusus
b. Melihat dan mengukur jumlah sekret pada kelompok intervensi dan kontrol pasien TB setelah dilakukan tehnik napas dalam dan batuk efektif.
c. Membandingkan jumlah sekret pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan tehnik napas dlam dan batuk efektif.
E. Manfaat Penelitian
1. Pendidikan Keperawatan
Sebagai penambah wawasan dalam pengembangan ilmu keperawatan khususnya dalam mata kuliah Konsep Dasar Manusia agar mahasiswa keperawatan dapat melakukan tehnik napas dalam dan batuk efektif dengan benar sehingga efektif dalam mengeluarkan sekret.
2. Penelitian Keperawatan
3. Pelayanan Keperawatan
9
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan dipaparkan teori konsep yang terkait dengan masalah yang nantinya akan digunakan sebagai bahan rujukan saat dilakukan pembahasan. Konsep terkait meliputi : anatomi pernapasan, fisiologi pernapasan, konsep
tuberculosis, dan landasan teori tehnik napas dalam dan batuk efektif. A. Anatomi Pernapasan
Paru-paru adalah salah satu organ sistem pernapasan yang berada di dalam kantong yang dibentuk oleh pleura parietalis dan pleura viseralis. Kedua paru-paru sangat lunak, elastis, sifatnya ringan terapung di dalam air, dan berada dalam rongga thorak.
1. Saluran Napas Bagian Atas
Saluran pernapasan bagian atas mulai dari hidung menuju sinus, faring, tonsil dan adenoid, laring dan trakea. Rongga hidung memiliki
vaskularisasi yang tinggi pada silia membran mukosa hidung. Sel-sel goblet mengeluarkan mucus untuk melapisi permukaan mukosa hidung. Melalui hidung udara masuk dan keluar paru disaring, dilembabkan dan dihangatkan.
Saluran Udara Konduktif
Trakhea berbentuk pipa terbentuk oleh otot polos menyerupai cincin sepertiga lingkaran pada kartilago. Cincin kartilago mencegah kolap
trakhea yang menjembatani antara laring dan bronkus. Trakhea
merupakan perpanjangan dari laring pada ketinggian tulang vertebrae torakal ke-7 yang bercabang menjadi dua bronkus. Ujung cabang trakhea
disebut carina. Trakhea bersifat sangat flexible, berotot, dan memiliki panjang 12 cm dengan cincin kartilago berbentuk huruf C (Somantri, 2008).
Saluran Respiratorius Terminal
Alveoli merupakan kantong udara yang berukuran sangat kecil, dan merupakan akhir dari bronchiolus respiratorius sehingga memungkinkan pertukaran O2 dan CO2. Seluruh dari unit alveoli (zona respirasi) terdiri atas bronchiolus respiratorius, duktus alveolus, dan alveolar sacs
(kantong alveoli). Fungsi utama dari unit alveolus adalah pertukaran O2 dan CO2 diantara kapiler pulmoner dan alveoli (Somantri, 2008).
Tulang dada (sternum) berfungsi melindungi paru-paru, jantung, dan pembuluh darah besar. Bagian luar rongga dada terdiri atas 12 pasang tulang iga (costae). Bagian atas dada pada daerah leher terdapat dua otot tambahan inspirasi yaitu otot scaleneus dan sternocleidomastoid. Diafragma terletak dibawah rongga dada. Diafragma berbentuk seperti kubah pada keadaan relaksasi. Pengaturan saraf diafragma (Nervus Phrenicus) terletak pada susunan saraf spinal pada tingkat C3, sehingga jika terjadi kecelakaan pada saraf C3 akan menyebabkan gangguan ventilasi.
dada dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah daripada tekanan atmosfer sehingga mencegah kolaps paru-paru.
Paru-paru mempunyai dua sumber suplai darah yaitu arteri bronkialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronkial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. Arteri bronkialis berasal dari aorta torakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus. Vena bronkialis akan mengalirkan darah menuju vena pulmonalis. Arteri pulmonalis berasal dari ventrikel kanan yang mengalirkan darah vena ke paru-paru dimana darah tersebut mengambil bagian dalam pertukaran gas. Jalinan kapiler paru-paru yang halus mengitari dan menutupi alveolus merupakan kontak yang diperlukan untuk pertukaran gas alveolus dan darah.
B. Fisiologi Pernapasan 1. Mekanisme Pernapasan
dan trakea. Inspirasi terjadi selama sepertiga siklus pernapasan, selebihnya ekspirasi. Fase ekspirasi normal membutuhkan energi. Energi yang dibutuhkan pada fase ekspirasi pasif sangat rendah (Rosina, 2008).
2. Pengaturan Pernapasan
Menurut (Syaifuddin, 2009) pengaturan pernapasan manusia yaitu : a. Kontrol saraf pada waktu bernapas
Pernapasan spontan ditimbulkan oleh ransangan ritmis neuron motoris yang mempersarafi otot pernapasan otak. Ransangan ini secara keseluruhan tergantung pada impuls-impuls saraf. Pernapasan berhenti bila medula spinalis dipotong melintang di atas nervus prenikus. Terdapat dua mekanisme saraf yang terpisah dalam mengatur pernapasan yaitu bertanggung jawab untuk volunter yang terdapat pada korteks serebri melalui impuls neuron motoris melalui traktus kortikospionalis dan yang lain untuk kontrol otomatis terletak dalam pons varolii dan medula oblongata, neuron motoris pernapasan dan ini terletak pada bagian lateral dan ventral medula spinalis.
b. Pusat-pusat medula oblongata
c. Pengaruh pons dan vagus
Ransangan ritmis neuron pusat pernapasan adalah spontan, tetapi diubah oleh pusat-pusat pons dan aferens nervus dari reseptor-reseptor dalam paru-paru. Bila batang otak ditranseksi (dipotong) pada bagian inferior pons dan nervus vagus dibiarkan utuh, pernapasan reguler akan terus berlangsung. Peranan fisiologis daerah pernapasan dan pons tidak pasti, tetapi yang jelas membuat ransang ritmis dari neuron medula oblongata.
d. Pengaturan irama
C. Konsep Tuberkulosis
1. Pengertian TB Paru
Tuberkulosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated hypersensitivity). Penyakit biasanya terletak di paru, tetapi dapat mengenai organ lain. Dengan tidak adanya pengobatan yang efektif untuk penyakit yang aktif, biasa terjadi perjalanan penyakit yang kronik, dan berakhir dengan kematian (Harrison, 1999).
2. Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberculosis ini, menyebabkan kerusakan terutama
pada paru, menimbulkan gangguan berupa batuk, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian. Saat ini tuberkulosis merupakan penyakit menular penyebab kematian utama di Indonesia.
3. Cara penularan
Droplet keluar dalam jarak dekat dari mulut, dan sesudah itu basilus yang ada tetap berada di udara untuk waktu yang lama. Infeksi pada pejamu yang rentan terjadi bila terhirup sedikit basilus ini (Harrison, 1999).
4. Komplikasi pada Penderita TB
Setelah terjadi infeksi melalui saluran napas, di dalam gelembung paru (alveoli) berlangsung reaksi peradangan setempat dengan timbulnya benjolan-benjolan kecil (tuberkel). Sering kali sistem-tangkas tubuh yang sehat dapat memberantas basil dengan cara menyelubunginya dengan jaringan pengikat. Infeksi primer ini lazimnya menjadi abses “terselubung” (incapsulated) dan berlangsung tanpa gejala hanya jarang disertai batuk dan napas berbunyi.
Pada orang-orang dengan sistem-imun lemah (anak-anak, manula, penderita AIDS) dapat timbul radang paru hebat. Basil TBC memperbanyak diri di dalam makrofag dan benjolan-benjolan bergabung menjadi infiltrat yang akhirnya menimbulkan rongga (caverna) di paru-paru. Bila kemudian terjadi hubungan antara paru-paru dan cabang
Infeksi dapat pula menyebar melalui darah dan limfe ke organ lain seperti :
a. Saluran Pencernaan (Intestinal tuberculosis). Tuberculous peritonitis
yang menimbulkan ascites merupakan TBC lambung kedua yang paling umum.
b. Ginjal dan juga bagian-bagian dari sistem urogenital (penyebab kemandulan pada wanita).
c. Susunan saraf pusat, yang menyebabkan radang selaput otak (tuberculous meningitis) pada anak-anak.
d. Kerangka tubuh, mengakibatkan osteomyelitis.
Disamping ini juga organ lain dapat terkena infeksi, yaitu kulit (lupus vulgaris), mata, pericardium jantung (pericarditis), kelenjar adrenal (menyebabkan Addison’s disease) dan simpul-simpul limfe. Di organ terinfeksi itu timbul abses bernanah atau pertumbuhan liar dari jaringan pengikat yang selalu disertai dengan pembesaran simpul limfe. Tanpa pengobatan akhirnya dapat terjadi kerusakan hebat yang berakhir fatal.
5. Tanda dan Gejala
saat kondisi tubuh seseorang melemah, bakteri tersebut dapat berkembang biak.
Gejala penyakit tuberkulosis TBC paru umum adalah batuk
6. Patofisiologi
Basil Tuberkulosis Droplet Nukleat
Air borne infection
Implantasi kuman terjadi pada respiratori bronkial atau alveoli
Fokus primer Pasca primer
Kompleks primer Kompleks primer yang sembuh
Sembuh pada sebagian besar Reaktivitas kuman leukositosis
Tuberkulosis primer Reinfeksi endogen
Gejala respiratorik Tuberkulosis pasca primer Penurunan kerja silia pada saluran napas
Batuk rejan Gejala sistemik
Penumpukan sekret
Gangguan bersihan jalan napas
Terjadi robekan ankurisna Gangguan pemenuhan arteri pulmonalis kebutuhan istirahat
Hemoptoe Terjadinya penyebaran
(lesi yang meluas, limfogen, hematogen)
Fisik Psikologis Terjadinya proses infeksi
Perdarahan perfusi Kecemasan Mempengaruhi pusat Hipermetabolisme Pengaturan panas
Mual, muntah Hipertermi
Stesol Epinefrin Anoreksia
Gangguan bersihan Nadi meningkat Gangguan istirahat jalan nafas
Payah jantung 7. Pengobatan TB
selayaknya untuk menghindarkan infeksi tetes dari penderita ke orang lain. Salah satu cara adalah batuk dan bersin sambil menutup mulut/hidung dengan sapu tangan atau kertas tissue untuk kemudian didesinfeksi dengan lysol atau dibakar. Bila penderita berbicara, jangan terlampau dekat dengan lawan bicaranya. Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan.
D. Tehnik Napas Dalam dan Batuk Efektif
Diagnosis keperawatan : Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Ketidak efektifan bersihan jalan napas adalah suatu keadaan ketika individu mengalami suatu ancaman nyata atau potensial pada status pernapasan karena ketidakmampuannya untuk batuk secara efektif. Diagnosis ini ditegakkan jika terdapat tanda mayor berupa ketidak mampuan untuk batuk atau kurangnya batuk, atau ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret dari jalan napas. Tanda minor yang mungkin ditemukan untuk menegakkan diagnosis ini adalah bunyi napas abnormal, stridor, dan perubahan frekuensi, irama dan kedalaman napas (Tamsuri, 2008).
dijalan napas, sekret di bronki dan eksudat di alveoli. Ketiga, fisiologis : Disfungsi neuromuskular, hiperplasia dinding bronkial, PPOK, infeksi, asma, jalan napas alergik (trauma).
Pembersihan jalan napas yang efektif dibuktikan oleh pencegahan aspirasi; status pernapasan : Kepatenan Jalan Napas; dan status pernapasan : ventilasi tidak terganggu. Menunjukkan kepatenan jalan napas dapat dibuktikan oleh indikator gangguan (gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada gangguan): kemudahan bernapas, frekuensi dan irama pernapasan, pergerakan sputum keluar dari jalan napas, pergerakan sumbatan keluar dari jalan napas. Contoh lain pasien akan : batuk efektif, mengeluarkan sekret secara efektif, mempunyai jalan napas yang paten, pada pemeriksaan auskultasi memiliki suara napas yang jernih, mempunyai irama dan frekuensi pernapasan dalam rentang normal, mempunyai funngsi paru dalam batas normal, mampu meneskripsikan rencana untuk perawatan di rumah (Wilkinson, 2011).
1. Tehnik Napas Dalam
yaitu bentuk latihan nafas yang terdiri atas pernapasan abdominal (diafragma) dan purs lips breathing.
Prosedur : atur posisi yang nyaman, flexikan lutut klien untuk merelaksasikan otot abdominal, letakkan 1 atau 2 tangan pada abdomen tepat dibawah tulang iga, tarik napas dalam melalui hidung jaga mulut tetap tertutup, hitung sampai 3 selama inspirasi, hembuskan udara lewat bibir seperti meniup (purs lips breathing) secara perlahan.
Pernapasan diafragma
Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah. Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk. Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi. Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui mulut (purs lips breathing),
selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan
protusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selam inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah. Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi.
penggunaan pergerakan difragma lebih baik daripada menggunakan otot asesoris pernapasan. Dengan demikian dapat mengurangi beban kerja saat bernapas (Rosina, 2008).
Gambar 2.2
Pergerakan Diafragma Saat Pernapasan Diafragma
Pursed lips breathing (PLB)
Gambar 2.3
Mekanisme Pursed Lips Breathing 2. Batuk efektif
Yaitu latihan batuk untuk mengeluarkan sekret.
Tujuan : Untuk mengeluarkan sekret pada saluran napas.
Prosedur : Tarik napas dalam lewat hidung dan tahan napas dalam beberapa detik. Batuk 2 kali, pada saat batuk tekan dada dengan bantal, tampung sekret pada sputum pot. Hindari penggunaan waktu yang lama selama batuk karena dapat menyebabkan hipoksia.
Gambar 2.4
Huff Coughing
adalah tehnik mengontrol batuk yang dapat digunakan pada pasien menderita penyakit paru-paru seperti COPD/ PPOK, emphysema atau cystic fibrosis, postsurgical deep coughing.
Tujuan : Untuk menyiapkan paru-paru dan saluran napas dari teknik batuk huff, keluarkan semua udara dari dalam paru-paru dan saluran nafas. Mulai dengan bernapas pelan.
Prosedur : Ambil napas secara perlahan, akhiri dengan mengeluarkan nafas secara perlahan selama 3-4 detik. Tarik napas secara diafragma, lakukan secara pelan dan nyaman, jangan sampai overventilasi paru-paru. Setelah menarik napas secara perlahan, tahan napas selama 3 detik, ini untuk mengontrol napas dan memepersiapkan melakukan batuk huff secara efektif. Angkat dagu agak keatas, dan gunakan otot perut untuk melakukan pengeluaran napas cepat sebanyak 3 kali dengan saluran napas dan mulut terbuka, keluarkan dengan bunyi ha, ha, ha atau huff, huff, huff. Tindakan ini membantu epiglotis terbuka dan mempermudah pengeluaran
Postural deep coughing
Step 1
Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, jangan berbaring dengan lutut agak ditekukkan. Pegang/ tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua tangan dengan normal.
Step 2
Bernapaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung. Keluarkan napas dengan penuh melalui mulut, ulangi untuk yang kedua kalinya. Untuk ketiga kalinya, ambil napas secara pelan dan dalam melalui hidung, penuhi paru-paru sampai terasa sepenuh mungkin.
Step 3
30
defenisi operasional yang digunakan dalam penelitian. A. Kerangka Konseptual
Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan gejala gangguan respiratori yang dirasakan oleh pasien yaitu batuk disertai produksi sekret yang berlebihan mengakibatkan gangguan bersihan jalan napas. Nursing Outcome Clasification adalah bersihan jalan napas.
Skema 3.1 : Kerangka konseptual penelitian efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Independen Dependen
Keterangan :
: Diteliti : Ada hubungan diteliti
Paien TB
dilakukan tehnik napas dalam dan batuk efektif
Pengeluaran sekret
Kerangka konsep dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keefektifan pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif. Langkah awal yang dilakukan peneliti adalah mengkaji gejala yang mungkin timbul pada sistem respirasi pasien dengan penyakit TB. Untuk data awal dilakukannya tindakan yaitu dengan wawancara dan pemeriksaan sistem respirasi. Data yang diperoleh akan dianalisa untuk dilakukannya tindakan keperawatan salah satunya tehnik napas dalam dan batuk efektif dengan kriteria data utama adanya batuk disertai sekret yang berlebih. Hasil yang diharapkan dengan dilakukannya tindakan keperawatan tersebut yaitu adanya sekret yang keluar. B. Hipotesa Penelitian
Berdasarkan rumusan tujuan dan masalah penelitian, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
C. Defenisi Operasional
Tabel 3.1 : Defenisi operasional variabel penelitian
Dalam penelitian ini variabel yang akan diteliti sebagai berikut
No Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1
(diafragma) dan purs lips breathing.
4 Bersihan
jalan napas lancar/ efektif
Post test:
Pengeluaran sekret yang diukur sesudah dilakukan prosedur tehnik napas dalam dan batuk efektif.
Jalan napas paten dengan bunyi napas bersih/ jelas, Pola napas dan frekuensi napas normal, tidak ada gangguan berupa sekret.
Observasi Pola napas normal/ terganggu
34 BAB 4
METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen (true experimental design) pre test – post test control group design. Peneliti ingin melihat efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif dengan variabel yang diteliti yaitu jumlah volume sekret yang dikeluarkan oleh pasien TB paru.
Skema 4.1 : Kerangka kerja penelitian efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Keterangan :
01 = pengukuran volume sekret maksimal sebelum diberikan perlakuan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada kelompok intervensi. A = perlakuan dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif.
01’= pengukuran volume sekret setelah diberikan perlakuan
A 01’
01
tehnik napas dalam dan batuk efektif pada kelompok intervensi. 02 = pengukuran volume sekret sebelum diberikan perlakuan tehnik napas
dalam dan batuk efektif pada kelompok kontrol.
02’= pengukuran volume sekret sesudah dijelaskan tentang prosedur tehnik napas dalam dan batuk efektif pada kelompok kontrol.
B. Populasi dan sampel 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010). Populasi penelitian ini adalah semua pasien TB yang dirawat di ruang RA3 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan pada waktu dilakukannya penelitian. Jumlah pasien TB terhitung dari 1 januari hingga 15 mei 2013 sebanyak 157 orang.
2. Sampel
pengambilannya diberikan nomor urut tertentu maka disebut sebagai
systematic random sampling ( Hidayat, 2011).
Sampel yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria inklusi (kriteria yang layak diteliti) dan kriteria eksklusi (kriteria yang tidak layak diteliti) yang telah ditetapkan sebagai subjek penelitian. Kriteria inklusi sampel adalah pasien TB paru dengan kesadaran Compos mentis, hemodinamik stabil: tekanan darah 110/60 s.d 140/90 mmHg , frekuensi nafas 16-30 x/menit, denyut nadi 60-100 x/menit, mau diwawancarai. Kriteria eklusi adalah pasien TB paru dengan kondisi batuk berdarah dan pasien pasca operasi.
Menurut Sugiyono (2006) penelitian yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s/d 20 orang. Perhitungan jumlah sampel minimal dihitung berdasarkan uji hipotesis beda rata-rata berpasangan dengan derajat kemaknaan 5%, kekuatan uji 80% dan uji hipotesis dua sisi, didapatkan besar sampel sebagai berikut (Hidayat, 2011).
Z21-α/2.
σ
2 n = ___________ d2Keterangan :
n : besar sampel minimum
Z21-α/2 : nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu
σ
2d : kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi
Berdasarkan pernyataan diatas peneliti mengambil jumlah sampel sebanyak 30 pasien. Selama pelaksanaan penelitian tidak ada responden yang drop out.
C. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap RA3 Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan dengan alasan pusat rujukan beberapa provinsi yang ada di Pulau Sumatera, Rumah Sakit ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan sampel yang memadai sesuai kriteria penelitian dan juga merupakan Rumah Sakit pendidikan sehingga merupakan tempat yang mendukung untuk melakukan penelitian.
D. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai September minggu pertama – Oktober minggu keempat 2013.
E. Etika Penelitian
1. Self Determinan
Sebelum penelitian dilaksanakan, pasien yang menjadi subjek penelitian diberikan informasi. Informasi yang diberikan meliputi manfaat intervensi, rencana dan tujuan penelitian. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis dengan pasien. Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan dalam menentukan hak dan kesediaannya untuk terlibat dalam penelitian ini secara sukarela dengan menandatangani “Informed concent”
yang disediakan (lampiran 9). Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka diperbolehkan untuk mengundurkan diri.
2. Privacy
Peneliti tetap menjaga kerahasiaan semua informasi yang telah diberikan oleh pasien sebagai responden dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian.
3. Anonymity
Peneliti tidak mencantumkan nama responden, dan diganti dengan nomor kode.
4. Confidentially
Peneliti menjaga kerahasiaan identitas pasien dan informasi yang diberikannya. Semua catatan atau data responden akan dimusnahkan setelah proses penelitian berakhir.
5. Protection form discomfort
menimbulkan kerugian, baik secara psikologis maupun sosial. Jika ternyata menimbulkan respon psikologis yang berat akan di rujuk ke ahli terkait. Berusaha memenuhi kebutuhan pasien, menerima masukan dan memepertahankan sikap empati, membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas, tepat waktu, menciptakan suasana santai sehingga pasien merasa nyaman selama penelitian. Namun selama penelitian tidak ada respon/ efek negatif yang terjadi.
6. Semua pasien diberitahukan kepada dokter yang bertanggung jawab
Peneliti berkomunikasi dengan dokter yang bertanggung jawab merawat pasien untuk menyampaikan maksud penelitian, dengan tujuan pemberitahuan melakukan perlakuan penelitian terhadap pasien.
F. Alat Pengumpulan Data
Pengumpul data primer pada penelitian ini yaitu: Sputum Pot. Sputum pot adalah instrumen untuk mengukur banyaknya sputum yang dikeluarkan oleh pasien dengan satuan hasil pengukuran adalah mili liter yang dituangkan dalam format isian (Lampiran 10). Selain itu peneliti juga menggunakan Spuit dan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mengumpulkan data dari responden.
G. Prosedur Pengumpulan Data
2. Setelah mendapatkan ijin (lampiran 6) dari pihak RSUP. H. Adam Malik peneliti mengadakan pertemuan dan kontrak kerja dengan penanggung jawab ruang rawat inap dan tenaga perawat.
3. Mengidentifikasi pasien sesuai kriteria inklusi, bekerjasama dengan dokter dan perawat yang berada di ruang rawat inap tersebut.
4. Bagi yang bersedia, pasien menandatangani persetujuan (lampiran 9) terlebih dahulu menjelaskan prosedur tindakan kepada pasien. Kemudian membuat kontrak untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif. 5. Biodata karakteristik pasien (lampiran 10) dikumpulkan dan volume sekret
juga dikumpul sebagai tolok ukur evaluasi hasil pengaruh dari latihan napas dalam dan batuk efektif.
6. Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dimulai dengan memperkenalkan, mensosialisasikan, dan mempraktekkan latihan napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB. Intervensi disesuaikan dengan kondisi patologis pasien dan hasil kolaborasi dengan dokter penanggung jawab. Pasien dan keluarga mendapatkan penjelasan dari peneliti tentang manfaat latihan napas dalam dan batuk efektif yang akan diimplementasikan.
7. Pasien diberikan pedoman latihan napas dalam dan batuk efektif dengan gambar dan penjelasannya (lampiran 14).
9. Setelah pasien dapat melakukannya dengan benar, pasien dianjurkan melakukan sendiri dan pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan toleransi pasien dan memperhatikan kondisi respirasi pasien.
10. Pengukuran jumlah sekret dilakukan dua kali. Pertama kali diukur sebelum intervensi. Selanjutnya pengukuran kedua dilakukan setelah intervensi dan pengukuran pertama dilakukan. Pengukuran pertama dan kedua dilakukan oleh peneliti.
11. Dianjurkan kepada pasien bila mengalami kondisi hemodinamik tidak stabil saat latihan: HR bertambah 20x/menit; RR <16x/menit atau >30x/menit; maka latihan dihentikan. Apabila ada keluhan sulit bernapas atau keluhan lainnya latihan juga dihentikan.
H. Analisa Data 1. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
a. Editing, dilakukan untuk memeriksa ulang kelengkapan data dan kejelasan semua data dari hasil pengukuran yang diperoleh dari responden.
dalam satu buku (codebook) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel.
c. Cleaning data, data yang telah dimasukkan diperiksa kembali, untuk memastikan bahwa data telah bersih dari kesalahan. Baik kesalahan dalam pengkodean maupun dalam membaca kode sehingga data siap untuk dianalisis.
d. Entry data, adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan membuat tabel kontigensi. Paket program komputer digunakan untuk mempermudah dan membantu peng-entry dari kesalahan-kesalahan pengisian sekaligus untuk dianalisis lebih lanjut.
2. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan tahap sebagai berikut: a. Analisis Univariat
Analisa ini akan digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel yang diukur dalam penelitian, yaitu rata-rata hitung (mean) dan simpangan baku (standar deviasi) volume sekret pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
b. Analisis Bivariat
batuk efektif. Uji hipotesis dilakukan dengan dependen samples t-test/ uji paired samples t test. Uji ini untuk mengetahui perbedaan volume sekret pre dan post pada kelompok intervensi dan perbedaan volume sekret pre dan post pada kelompok kontrol.
Bersihan jalan napas pasien dilakukan dengan mengobservasi dengan tanda-tanda pasien tidak kesulitan saat bernapas, bunyi napas kembali normal. Pada analisis bivariat dilakukan uji homogenitas atau uji kesetaraan untuk membandingkan karakteristik volume sekret pretest dan volume sekret postest yang dinilai telah memiliki kesamaan varian (homogen) atau tidak, sehingga dilakukan uji kesetaraan. Apabila pada uji kesetaraan menunjukkan nilai p > 0,05 berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua volume sehingga dikatakan kelompok tersebut sebanding atau sama.
Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 30 orang maka dilihat hasil uji Shapiro-Wilk. diperoleh hasil nilai kemaknaan untuk volume
pretest kelompok intervensi adalah 0,03 p < 0,05. Untuk volume postest
44
dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Berdasarkan data yang didapat jumlah pasien TB yang memenuhi kriteria inklusi selama masa penelitian bulan September – Oktober 2013 adalah 30 orang. Dari 30 orang pasien, 15 pasien dijadikan sebagai kelompok intervensi yaitu kelompok yang dilakukan tindakan batuk efektif dan napas dalam dan 15 pasien dijadikan sebagai kelompok kontrol yaitu kelompok yang tidak dilakukan tindakan batuk efektif. Kedua kelompok dilakukan pengukuran volume sekret dan hasilnya dibandingkan. Berikut ini akan ditampilkan data-data hasil penelitian.
A. Hasil Penelitian 1. Analisis Univariat
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Data Demografi
Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol
Frekuensi (n) % Frekuensi (n) %
Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki pada kelompok intervensi berjumlah 10 orang dengan persentase 66,7% dan responden yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 5 orang dengan persentase 33,3%. Sementara itu responden yang berjenis kelamin laki-laki pada kelompok kontrol berjumlah 8 orang dengan persentase 53,3% dan responden yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 7 orang dengan persentase 46,7%.
– 60 tahun. Responden kelompok kontrol yang berjumlah 15 orang (yang tidak dilakukan latihan batuk efektif dan napas dalam) rata-rata 4,47 atau berumur 25-40 tahun dengan standar deviasi 0,990 dan median 5,00 atau 41-60 tahun (95% CI : 3,92 – 5,02 ). Umur termuda adalah 19 tahun dan umur tertua 70 tahun. Dari hasil estimasi interval 95 % diyakini bahwa rata-rata umur responden yang tidak dilakukan latihan batuk efektif dan napas dalam adalah antara 25 tahun – 60 tahun.
Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa dari 15 orang responden kelompok intervensi rata-rata tekanan darah 1,67 dengan standar deviasi 0,816 dan median 1,00 (95% CI: 1,21 – 2,12). Tekanan darah yang paling tinggi berada pada hipertensi o1 sebanyak 3 orang. Dari hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa rata-rata tekanan darah responden TB paru yang dilakukan intervensi berada pada tahapan normal dan pra hipertensi. Responden kelompok kontrol yang berjumlah 15 orang (yang tidak dilakukan latihan tehnik napas dalam dan batuk efektif) rata-rata memiliki tekanan darah 1,40 dengan standar deviasi 0,507 dan median 1,00 (95% CI: 1,12 – 1,68). Tekanan darah yang paling tinggi berada pada pra hipertensi sebanyak 6 orang. Dari hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa rata-rata tekanan darah responden TB paru yang tidak dilakukan intervensi adalah normal dan pra hipertensi.
masing-masing kelompok 1,00 dengan berada pada tahapan denyut nadi yang normal 60 – 100 x/i.
Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa dari 15 orang responden kelompok intervensi memiliki rata-rata pernapasan yang normal terlihat dari nilai mean 1,40 dengan standar deviasi 0,507 dan median 1,00 (95% CI : 1,12 – 1,68). Dari hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa rata-rata pernapasan normal 16-24 x/i sebanyak 9 orang dan sesak napas >16 & >24 sebanyak 6 orang. Pada kelompok kontrol yang terdiri dari 15 orang responden memiliki rata-rata pernapasan yang abnormal/ sesak napas terlihat dari nilai mean 1,53 dengan standar deviasi 0,516 dan median 2,00 (95% CI : 1,25 – 1,82). Dari hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa rata-rata pernapasan normal 16-24 x/i sebanyak 7 orang dan sesak napas >16 & > 24 sebanyak 8 orang.
Berdasarkan pengkajian tanda-tanda vital pada pengukuran nyeri kelompok intervensi lebih banyak didapatkan merasakan nyeri saat dilakukan pengkajian dibandingkan kelompok kontrol. Tabel diatas menunjukkan pada kelompok intervensi 8 orang 53,3% merasakan nyeri dan 7 orang 46,7% tidak merasakan nyeri sedangkan pada kelompok kontrol 3 orang 20% merasakan nyeri dan 12 orang 80% tidak merasakan nyeri. 2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat memaparkan hasil volume sekret kelompok intervensi pre test dan post test tindakan latihan batuk efektif dan napas dalam dan kelompok kontrol pre test dan post test.
a. Analisis volume sekret pre test dan post test batuk efektif dan napas dalam pada kelompok intervensi.
Tabel 5.2 : Pengukuran volume sekret pre dan post test pada kelompok intervensi
Kelompok Intervensi N Mean SD SE p Value Vol. pre test (mL) 15 3,33 1,718 0,444
0,000 Vol. post test (mL) 15 5,13 1,922 0,496
b. Analisis volume sekret pre test dan post test batuk efektif dan napas dalam pada kelompok kontrol.
Tabel 5.3 : Pengukuran volume sekret pre dan post test pada kelompok kontrol
Kelompok Kontrol N Mean SD SE p Value Vol. pre test (mL) 15 3,47 1,642 0,424
0,076 Vol. post test (mL) 15 4,13 1,885 0,487
Rata – rata skor volume sekret pre test pada kelompok kontrol adalah 3,47 % dengan standar deviasi 1,642. Sesudah dilakukan latihan batuk efektif dan napas dalam rata – rata skor volume sekret 4,13 % dengan standar deviasi 1,885. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,076 berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara volume pre
dan post intervensi latihan batuk efektif dan napas dalam. B. Pembahasan
1. Analisis univariat a. Jenis Kelamin
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 12 orang. Responden yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak mengeluarkan sekret dibanding perempuan hal ini menurut asumsi peneliti laki-laki lebih aktif. Bila dilakukan edukasi tentang tehnik napas dalam dan batuk efektif, laki-laki lebih kooperatif. Jumlah responden pada penelitian Nugroho (2011), berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang dan perempuan 6 orang. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Yana (2008), 25 orang berjenis kelamin laki-laki dan tidak memasukkan responden dengan jenis kelamin perempuan. Dapat dikatakan bahwa kebanyakan penyakit TB menyerang orang dengan jenis kelamin laki-laki.
b. Umur
sedikit mempengaruhi untuk seseorang dapat mengeluarkan sekret lebih banyak dari sebelumnya. Hal ini peneliti dapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan yaitu sekitar 66,7 % responden mampu mengeluarkan sekret lebih banyak dari sebelumnya, dan hanya 16,6 % responden tidak mampu mengeluarkan sekret lebih dari sebelumnya.
Seiring dengan pertambahan umur pada pasien TB terdapat penurunan fungsi paru. Tuberkulosis ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberculosis
ini, menyebabkan kerusakan terutama pada paru, menimbulkan gangguan berupa batuk, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian (Harrison, 1999). Kondisi ini akan memperberat keadaan progresifitas TB pada usia lanjut, sehingga pada usia diatas 60 tahun manifestasi kesakitan semakin dirasakan. Berbagai gejala dan gangguan pada sistem pernapasan muncul dan perlu penanganan pengobatan, hal inilah yang membawa pasien datang ke fasilitas kesehatan dan biasanya sudah berada pada tahap TB kronis.
c. Tanda-tanda vital
pada kelompok intervensi rata-rata merasakan nyeri dan pada kelompok kontrol rata tidak merasakan nyeri. Akan tetapi rata-rata responden yang mengalami penurunan jumlah sekret dari sebelumnya yaitu yang tidak mengalami nyeri di bagian dada, menurut asumsi peneliti pasien kurang kooperatif saat mengeluarkan sekret.
Dapat disimpulkan bahwa pada pemeriksaan tanda-tanda vital responden tidak terdapat permasalahan yang signifikan. Pada pemeriksaan nyeri terdapat perbedaan diantara kelompok intervensi dan kontrol, kemungkinan hal ini dikarenakan responden dilakukan tindakan batuk efektif.
2. Analisis bivariat
a. Pengeluaran sekret sebelum dan setelah diberikan batuk efektif dan napas dalam.
pada pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan nafas di Instalasi Rehabilitasi Medik RS Baptis Kediri.
Hasil yang peneliti dapatkan jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya ternyata tehnik napas dalam dan batuk efektif ini efektif dalam pengeluaran sekret pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan napas.
3. Keterbatasan penelitian a. Waktu penelitian
Oleh karena waktu penelitian yang dilakukan terbatas yaitu selama 2 bulan dimulai dari September 2013 – oktober 2013 maka tidak dapat menilai secara maksimal perbedaan volume sekret yang dikeluarkan responden kelompok intervensi dan volume sekret yang dikeluarkan responden kelompok kontrol. Demikian juga tidak dapat menjelaskan sejauh mana pengaruh konsumsi antibiotik terhadap jumlah volume yang dikeluarkan oleh responden.
b. Penetapan dan pengumpulan sampel
Pada awal rancangan penelitian sampai dengan dilaksanakannya penelitian jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 30 responden. Akan tetapi dalam pengumpulan sampel peneliti mengalami kesulitan dikarenakan lamanya rawatan responden. Sehingga tidak dapat dikontrol lamanya rawatan responden yang dijadikan sampel.
c. Pengawasan latihan
Peneliti tidak dapat memantau latihan yang dilakukan oleh pasien secara rutin, untuk memastikan kebenaran dari frekuensi cara dan melakukan latihan.
4. Implikasi dalam keperawatan
58
dirumuskan, selanjutnya dikemukakan saran praktis yang berhubungan dengan masalah penelitian.
A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: Pengeluaran sekret oleh responden dengan kelompok intervensi dan kontrol pada saat pre test tidak terdapat perbedaan volume yang signifikan. Batuk efektif penting untuk menghilangkan gangguan pernapasan dan menjaga paru – paru agar tetap bersih. Batuk efektif dapat di berikan pada pasien dengan cara diberikan posisi yang sesuai agar pengeluaran dahak dapat lancar.
B. SARAN
1. Pelayanan Keperawatan
Dengan mengacu kepada hasil penelitian ini, perawat di instalasi Rindu A khususnya ruang RA3 diharapkan agar membentuk jadwal yang terstruktur untuk melakukan latihan batuk efektif dan napas dalam bagi pasien TB paru. Perawat dapat menentukan jadwal latihan satu atau dua kali secara kontinu dan berkelanjutan sesuai dengan pengkajian dan pemantauan selama rawatan.
2. Pendidikan Keperawatan
Bagi mahasiswa saat melakukan praktik klinik di rumah sakit khususnya tindakan tehnik napas dalam dan batuk efektif diharapakan dapat melakukan pengembangan dan modifikasi dengan cara menganjurkan pasien untuk minum air hangat sebelum tindakan dan bisa juga dilakukan vibrasi pada bagian punggung pasien.
3. Peneliti yang akan datang
Meninjau kepada hasil penelitian yang didapatkan, sebaiknya untuk penelitian selanjutnya direncanakan penambahan waktu latihan lebih dari satu minggu sehingga didapatkan hasil yang lebih signifikan supaya mendapatkan jumlah responden yang mencukupi sehingga hasil penelitian lebih representative. Disamping itu menggunakan instrument yang sudah valid dalam pengukuran sekret agar hasil yang didapatkan akurat.
pernapasan secara keseluruhan. Serta dilakukan photo thoraks sebelum dan sesudah perlakuan kepada responden.
Penelitian ini belum meneliti tentang pengaruh paparan asap rokok dari lingkungan sekitar (perokok pasif) terhadap responden, yang dinyatakan memberikan dampak buruk bagi pasien TB. Untuk penelitian yang akan datang perlu dimasukkan sebagai salah satu variable yang diteliti, apakah ada pengaruh asap rokok terhadap penurunan fungsi pernapasan sehingga terjadinya penumpukan sekret maupun pergerakan rongga dada atau bagaimana interaksinya dengan variabel yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, T.Y. (2003). Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Edisi kedua. Jakarta : Universitas indonesia UI-Press.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.
Batuk Efektif. http://www.docstoc.com/docs/80497137/BATUK-EFEKTIF,
diperoleh 30 April 2013.
Brunner’s & Suddarth. (2008). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Depkes RI, (2010). Prevalensi TB di Indonesia.
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/857-pengendalian-tb-di-indonesia-mendekati-target-mdg.pdf , diperoleh April 2010.
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2011). Metode Penelitian Keperawatan dan teknik analisis data. Jakarta : Salemba Medika.
Notoatmodjo, soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nugroho, Yosef Agung. (2011). Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Dahak Pada Pasien Dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Di Instalasi Rehabilitas Medik Rumah Sakit Baptis Kediri
httppuslit2.petra.ac.idejournalindex.phpstikesarticledownload1862118384
diperoleh 10 Januari 2014.
Potter, P.A & Perry, A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep Proses dan praktek Volume I Edisi 4. Jakarta : EGC.
Pranowo, Wahyu C. (2010). Efektifitas Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Sputum Untuk Penemuan BTA Pada Pasien TB Paru di Ruang Rawat Inap Rumah
Sakit Mardi Rahayu Kudus
httpeprints.undip.ac.id104761artikel.pdf C Wahyu Pranowo – 2010
diperoleh 04 April 2013.
Rasyid Lubis, Harun. (2008). Hipertensi dan Ginjal. Medan : USU Press.
Rosina Tarigan. (2008). Pengaruh Latihan Otot Pernafasan Terhadap Ekspansi Dada dan Paru Pada Pasien PPOK di R.S. H. Adam Malik Medan.
Setiadi. (2007). Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Somantri, Irman. (2008). Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta.
Syaifuddin. (2009). Anatomi Tubuh Manusia untuk mahasiswa keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba medika.
Syaifuddin. (2009). Fisiologi Tubuh Manusia untuk mahasiswa keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.
Syam, Ari F. (2012). Penyakit tuberkulosis ada disekitar kita.
http://health.kompas.com/read/2012/03/27/10500486/Penyakit.Tuberkulosis .Ada.di.Sekitar.Kita ,diperoleh 04 April 2013.
Tamsuri, Anas. (2008). Klien Gangguan Pernapasan : Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta : EGC.
Tuberkulosis, (2013). Tuberculosis.org, diperoleh 30 April 2013.
Wikipedia Indonesia, (2010). Tuberkulosis Paru. http://en.wikipedia.org/wiki/Tuberculosis , diperoleh April 2010.
Wilkinson, judith M. Nancy R. Ahern. (2011). Buku Saku Keperawatan : Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC. Alih bahasa Esty Wahyuningsih. Edisi 9. Jakarta : EGC.
Yana, Agustus. (2008). Hubungan Teknik Batuk Efektif dengan Pengeluaran Sputum Pada Pasien Tuberkulosis Paru Akut di Wilayah Kerja Puskesmas
Jungkat Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak.
LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN PENELITIAN Saya Almuddatsir adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan USU Medan, yang sedang melakukan penelitian dengan judul “Efektifitas pengeluaran sekret dengan tehnik napas dalam dan batuk efektif pada pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan”. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan Tugas Akhir Pendidikan Sarjana Keperawatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengeluaran dahak dengan cara menarik napas dalam dan batuk yang benar. Pada pasien TB (tuberculosis) di ruang rawat inap RA3 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Penelitian ini juga dapat memberikan manfaat kepada saudara berupa bersihan jalan napas.
dianjurkan melakukannya sendiri dan pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan toleransi saudara dan memperhatikan kondisi pernapasan saudara. Tindakan ini dilakukan sebanyak 2 kali. Pertama kali diukur sebelum saudara diberitahukan bagaimana cara napas dalam dan batuk yang benar. Selanjutnya pengukuran kedua dilakukan setelah saudara diberitahukan prosedur tindakan tersebut. Hasil ukur akan saya catat dilembar pengkajian.
Saya mengharapkan kesediaan saudara untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Partisipasi saudara bersifat sukarela dan saudara berhak untuk menolak menjadi responden tanpa sanksi apapun. Saya akan menjamin kerahasiaan identitas maupun pendapat yang saudara berikan, dan informasi yang didapat hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian ini saja.
Demikian lembar penjelasan ini saya buat, atas partisipasinya saya ucapkan terima kasih.
Medan, 2013 Peneliti
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Judul Penelitian :
Efektifitas Pengeluaran Sekret Dengan Tehnik Napas Dalam Dan Batuk Efektif Pada Pasien TB di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Peneliti : Almuddatsir NIM : 121121055
---
Saya yang bernama Almuddatsir Nim 121121055 adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara jalur B. Saat ini saya sedang melakukan penelitian, penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir Pendidikan Sarjana Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Untuk keperluan tersebut dan agar tercapainya tujuan dari penelitian ini, yaitu mengatasi masalah dalam pengeluaran sekret. Saya selaku peneliti mengharapkan partisipasi saudara sebagai responden dalam penelitian ini. Saya akan menjamin kerahasiaan identitas saudara sebagai responden dalam penelitian ini dan sebagai bukti shahih dalam penelitian.
Partisipasi saudara dalam penelitian ini bersifat sukarela. Apabila saudara tidak menginginkan menjadi responden dalam penelitian saya, saudara berhak menolak dan tidak ikut serta dalam penelitian ini. Apabila saudara bersedia menjadi responden dalam penelitian saya, maka saudara dipersilahkan menandatangani formulir di bawah ini.
Terimakasih atas partisipasi ibu/ bapak untuk penelitian ini.
Tanggal : No Kode Responden :