Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)
ARIS SUYITNO
1110051000185
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar sarjana strata 1 (satu) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil
jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 30 April 2014
i
Seiring dengan perkembangan zaman saat ini sudah banyak media elektronik yang semakin maju dan berkembang. Sekarang untuk mendapatkan informasi berita, hiburan dan pendidikan dapat dengan mudah diterima melalui televisi, radio dan internet. Televisi sebagai media penyampai media informasi yang mampu menyajikan segala bentuk pesan audio (suara) sekaligus visual (gambar) dianggap menjadi media yang efektif dalam menyampaikan berbagai pesan. Program keagamaan menjadi prioritas di seluruh stasiun televisi, namun seperti yang kita ketahui format yang digunakan untuk program keagamaan di televisi hampir memiliki format yang sama, sehingga membuat bosan khalayak. Di sinilah peran kreatif dari setiap stasiun televisi sangat dibutuhkan untuk membuat produksi program keagamaan yang penuh inovasi dan menarik.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini betujuan untuk menjawab pertanyaan berikut ini.
Pertama, bagaimana format acara program Inspirasi Iman di TVRI? Kedua, bagaimana proses produksi program Inspirasi Iman di TVRI? Ketiga, apa sajakah kendala yang dihadapi dalam proses produksi Inspirasi Iman di TVRI?
Penelitian ini menggunakan teori SOP (Standar Operation Procedure), pada proses produksi siaran, hal ini melalui tiga tahap, yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Pra produksi merupakan tahap yang harus dipersiapkan sebelum tayangan atau siaran tersebut ingin mulai diproduksi. Pada tahap produksi, seluruh kegiatan yang berhubungan dengan tayangan atau siaran tersebut sudah mulai diproduksi, baik itu live ataupun tapping. Tahap terakhir yaitu pra produksi, yakni mengedit ataupun membuat acara tersebut mana yang layak untuk ditayangkan.
Metode yang digunakan penulis untuk mencari data yang diperlukan adalah metode deskriptif analisis melalui pendekatan kualitatif, yaitu dengan menerangkan, memberikan gambaran, dan mengklasifikasikan serta menginterpretasikan data yang terkumpul dan selanjutnya disimpulkan atas permasalahan yang berkaitan dengan program yang diteliti. Dalam hal ini peneliti melakukan observasi lapangan, wawancara, telaah teks rekaman program dan dokumentasi di TVRI secara langsung.
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Tuhan yang semesta alam tiada kata yang
pantas diucapakan selain kata syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan nikmat sehat,
rejeki, dan sebagainya. Shalawat serta salam teriring kepada baginda Rasulullah SAW yang
memiliki banyak jasa kepada umat manusia, beserta para keluarga dan sahabatnya. Akhirnya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang judul “Analisis Produksi Program Inspirasi
Iman di TVRI”
Akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan, bukan hanya karena kerja keras penulis, namun
banyak pihak yang terut serta membantu di dalamnya. Baik itu dukungan materil, maupun non
materil. Sebab itu, sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada
beliau semua atas bantuannya. Terutama kepada:
1. Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Dr.
Suparto. M.Ed, M.A, selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Drs. Jumroni, M. Si, selaku
Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan, dan Dr. H. Sunandar, M.A selaku
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.
2. Rachmat Baihaki, MA selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Umi
Musyarofah, M.A selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sekaligus
Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan skripsi.
3. Dr. H. Sunandar, M.A selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah berkenan
meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan dan inspirasinya sehingga penulis
iii
Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan pelayanan terhadap buku-buku
untuk digunakan dalam penulisan skripsi ini.
6. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Kasbi dan Ibunda Surani. Terima kasih atas
pengorbanan, dorongan semangat dan membiayai kuliah hingga usai, serta do’a yang
terus dipanjatkan untuk penulis. Serta dukungan moril, materil dan juga tenaga serta do’a
dari kakakku Mustopo dan Sri Aningsih.
7. Teruntuk khusus kepada tim program Inspirasi Iman terutama Pak Hudaya dan sang
inspirator Ust. Felix, serta Ibu Sri yang meluangkan sedikit waktunya untuk penulis
dalam rangka menyelesaikan skripsi penulis.
8. Sahabat-sahabat tercinta, Raden, Yuni, Memey, dan Fitri yang selalu memberikan do’a,
semangat, dan dukungannya kepada penulis.
9. Seluruh teman-teman KPI F angkatan 2010, Yanti, Nurul, Della, Susi, Maria, Mutt, Iis,
Kahfi, Rendy, Yusra, Sendy, Fahmi, Zia, dan Sonny yang tak henti-hentinya memberikan
do’a dan semangat untuk terselesainya skripsi ini.
10.Rekan-rekan kerja Men’s Wear Seibu Grand Indonesia, Juni, Nala, Chechi, Ipul, Adit,
Niko, Yogi, dan Vivi yang telah memberikan do’a dan dukungannya kepada penulis.
11.Supervisor saya di PT. Hidiri Indonesia Cemerlang, Mas Hendro yang selalu memberikan
toleransi, kemudahan, serta kelancaran penulis dalam melaksanakan penulisan skripsi ini.
iv
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan yang
diberikan dan mohon maaf atas segala kekhilafan yang terjadi selama ini. Harapan penulis
semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi teman-teman mahasiswa
Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan khususnya bagi penulis
sendiri. Amin.
Jakarta, 30 April 2014
v
ABSTRAK ……….
KATA PENGANTAR ……… ii
DAFTAR ISI ………. v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………. 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah ……….. 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………..……… 7
D. Tinjauan Pustaka ………. 8
E. Metodologi Penelitian ………. 9
F. Sistematika Penulisan ……….. 14
BAB II LANDASAN TEORI A. Analisis Produksi ……… 16
B. Pengertian Program ……… 17
C. Format Program Televisi ………. 21
D. Pengertian Produksi Program Televisi ………. 25
BAB III GAMBARAN UMUM TELEVISI REPUBLIK INDONESIA (TVRI) A. Sejarah Berdirinya Televisi Republik Indonesia (TVRI) ………. 31
vi
C. Struktur Lembaga Penyiaran Publik TVRI ………. 36
D. Program-program TVRI ………. 39
E. Profil Acara Inspirasi Iman ………. 41
F. Gambaran Warna Putih Creative House....……… 43
BAB IV ANALISIS DATA A. Format Acara Inspirasi Iman ……… 45
B. Produksi Program Inspirasi Iman ………. 49
1. Pra Produksi Program Inspirasi Iman ………. 49
2. Produksi Program Inspirasi Iman ………... 51
3. Pasca Produksi Inspirasi Iman ……… 56
C. Kendala yang dihadapai dalam Produksi Inspirasi Iman ………. 59
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ………. 61
B. Saran ……… 65
DAFTAR PUSTAKA……… 66
LAMPIRAN……….. 68
1
Dewasa ini, teknologi berkembang semakin baik dari waktu ke waktu. Arus
informasipun semakin cepat berkembang. Informasi dapat diperoleh dengan mudah sesuai
dengan apa yang diinginkan ataupun yang dibutuhkan, kapanpun dan dimanapun. Semua
itu tidak lepas dari konstribusi teknologi. Membaca koran menjadi tidak biasa dengan
adanya koran online. Kitapun dapat mendengarkan radio ataupun menonton televisi hanya
dari telfon genggam. Salah satu hasil dari perkembangan teknologi yang berkembang
begitu cepat adalah televisi yang menjadi salah satu media massa yang banyak diakses oleh
khalayak samapai saat ini.
Televisi sebagai media penyampai media informasi yang mampu menyajikan segala
bentuk pesan audio (suara) sekaligus visual (gambar) dianggap menjadi media yang efektif
dalam menyampaikan berbagai pesan. Sebagai salah satu salauran penyampaian pesan yang
bersifat massa, televisi mampu menyebarkan informasi secara luas, serempak, serta pada
yang bersifat heterogen. Televisi dengan segala kelebihannya mampu menyaring khalayak
dan mmeberikan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat yang
2
Televisi adalah salah satu media komunikasi dan informasi yang merupakan hasil
dari perkembangan teknologi, yang saat ini sangat populer. Hampir setiap rumah di dunia
memiliki media ini. Televisi atau di sebut juga dengan TV merupakan sebuah alat
penangkap siaran bergamabar.
Televisi merupakan paduan audio dari segi penyiarannya (broadcast) dan video dari
segi gambar bergeraknya (moving images). Para pemirsa menangkap siaran televisi karena
ada prinsip-prinsip radio yang mentransmisikannya dan melihat gambar-gambar yang
bergerak dan hidup. Ada unsur-unsur film yang memvisualisasikannya dari paduan audio
dan video. Istilah televisi terdiri dari kata “tele” yang berarti jauh dan “visi” (vision) yang
berarti penglihatan dengan asumsi televise jauhnya ditransmisikan dengan penglihatannya
diwujudkan dengan prinsip-prinsip kamera sehingga menjadi gambar baik dalam bentuk
gambar hidup atau bergerak maupun gambar diam (still ficture).1
Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa televisi sudah menjadi agama masyarakat
industri, ini artinya bahwa masyarakat sekarang sudah belajar hidup dari televisi.2 Selain itu
menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial dan politik; televisi menjadi jendela
kecil untuk menyaksikan berbagai informasi yang jauh dari jangkauan alat indera kita.3
Berbagai jenis dan bentuk teknologi komunikasi yang ada, siaran televisi
merupakan media yang sangat ampuh dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat
secara serempak. Siaran TV juga mempunyai daya jangkau yang luas dan mampu
meniadakan batas wilayah geografis, sistem sosial, politik, dan budaya masyarakat pemirsa.
Selain itu mempunyai potensi untuk penetrasi dalam mempengaruhi sikap, kreativitas,
motivasi, pandangan, gaya hidup, dan orientasi masyarakat. Bahkan tidak kalah pentingnya
siaran televisi juga memiliki potensi untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan atau
pembelajaran. Artinya, siaran TV merupakan salah satu bentuk sumber belajar dan
pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Secara umum televisi kita terdiri atas televisi generalis dan televisi spesialis.
Televisi generalis menyajikan program atau acara yang beragam, mulai dari sinetron,
musik, film, acara amak-anak, hingga berita. Untuk televisi nasional, yang termasuk dalam
kategori televisi generalis adalah RCTI, SCTV, Indosiar, Antv, Trans7, termasuk TVRI.
Televisi spesialis menitikberatkan pada program tertentu. Metro TV, dan TV One adalah
TV khusus yang cenderung menspesialisasikan diri pada program berita.4
3
Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya 2008), ed revisi, h. 224
4
4
Begitu pula dengan inforamsi ritual keagamaan, sudah saatnya umat islam
Indonesia mulai memikirkan pola dan strategi dakwah Islamiyyah di masa dewasa ini,
dimana perkembangan arus informasi sudah sedemikian pesat, oleh karenanya pola
dakwahpun harus melibatkan beberapa teori komunikasi yang mendasari pembentukan
globalisasi saat ini. Di setiap stasiun televisi hampir semua memliki program Islam, tetapi
semua program yang dipakai hampir sama, yaitu dengan format ceramah.
DR. Marwah Daud mengomentari, era sekarang dan massa depan sering disebut era
reformasi, penyebabnya adalah bahwa sekarang ini reformasi telah menjadi „komoditi”
terpenting. Jika dalam masyarakat agraris tanah merupakan kekuatan sumber utama, maka
dalam masyarakat pasca industri, informasi yang memegang kendali kekuasaan. Siapa yang
memiliki ninformasi dialah yang dianggap bisa memegang komoditi kehidupan.5
Dakwah merupakan kekuatan moral yang mampu menggerakan perubahan sosial
serta menawarkan satu alternatif dalam membangun dinamika masa depan umat, dengan
menempuh cara dan strategi yang lentur, kreatif, dan bijak. Dakwah bukan lagi merupakan
cara yang kaku, statis, dan penuh uraian dogmatis kaidah agama, tanpa menghilangkan
unsur hiburan. Masyarakat saat ini senang dengan dakwah secara kontemporer, modern,
dinamis tanpa menghilangkan unsur dakwah kultural, seperti melalui media elektronik
khususnya televisi.
5
Di era komunikasi masa pada masa ini, dakwah tidak cukup disampaikan hanya
melalui lisan, mimbar-mimbar di masjid, di mushalla, majelis ta’lim, atau di tempat
lainnya, karena hanya dapat dinikmati oleh khalayak (mad’u) yang terbatas. Keefektifan
dan tercapainya tujuan dakwah, sehingga dakwah dapat diterima oleh mad’u dalam jumlah
yang besar, untuk itu dakwah memerlukan media lainnya, salah satunya adalah media
televisi yang merupakan media yang dinikmati oleh khalayak banyak pada zaman
sekarang.6
Sesuai dengan ciri khas sistem komunikasi massa islam, bahwa media massa
merupakan alat (media dakwah) menyebarkan atau menyampaikan informasi kepada
pendegar, pemirsa, atau pembaca tentang perintah dan larangan Allah SWT (Al-Qur’an dan
Hadits Nabi). Oleh karena itu, media massa, khususnya televisi kini menjadi media yang
strategis untuk menyebarluaskan pesan-pesan dakwah. Karena di zaman modern sekarang
ini masyarakat sering belajar hidup dari televisi.
TVRI yang merupakan televisi penyiaran publik dan merupakan televisi pertama di
Indonesia yang memberikan berbagai macam informasi, edukasi, dan hiburan. Ia juga tak
kalah dengan televisi swasta lainnya. TVRI terus berinovasi dan memberikan variasi dalam
membuat tayangan acara yang memberikan edukasi. Acara keagamaan di stasiun TVRI
mendapat sambutan yang positif dan sekaligus mempunyai daya tarik sendiri bagi pemirsa
di rumah. Untuk menjadikan acara keagamaan suatu acara yang bagus, menarik, berisi, dan
6
6
tidak membosankan, stasiun televisi harus mencoba kemasan atau konsep baru sebaik
mungkin tanpa meninggalkan inti dari penyampaian pesan agama itu. Sehingga program
keagamaan mempunyai tempat tersendiri di hadapan pemirsa yang menunutun kepada pola
tingkah laku yang positif setelah menonton tayangan agama Islam.
Salah satu program keagamaan di TVRI yang memberikan konsep baru dalam
pengemasan acaranya adalah program acara Insiprasi Iman. Inspirasi Iman merupakan
program acara dakwah yang bekerjasama antara pihak TVRI dengan creative house yaitu
Warna Putih. Acara ini sendiri muncul pertama kali dicetuskan oleh pihak Warna Putih itu
sendiri. Acara ini menggabungkan antara konsep talk show dengan hiburan musik
bernuansa islami. Inspirasi Iman merupakan acara yang sangat positif dan memberikan
inspiratif bagi para penontonnya, selain ini dipandu oleh pembawa acara sekaligus sebagai
inspirator yaitu Ust Felix Y. Siauw, selain itu ada Okky Setiana Dewi yang merupakan
pembawa acara pula dalam acara tersebut. Acara Inspirasi Iman ini memberikan suguhan
yang berbeda dari tayangan lainnya. Inspirasi iman merupakan program Variety Show
bergenre Religi Islami. Acara ini dikemas secara ringan dengan menampilkan dialog dari
para Bintang Tamu yang dapat menjadi inspirasi dan hikmah bagi pemirsa. Juga menjadi
tontonan yang menghibur dengan penampilan Band dan Artis-artis penyanyi lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian ini agar lebih terarah dan tidak meluas maka peneliti membuat batasan
yang akan diteliti, yaitu peneliti hanya berfokus pada proses produksi program Insiprasi
Iman di TVRI yang meliputi pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Jadi, peneliti tidak
meneliti mengenai pengemasan atau framing tayangan tersebut dan tidak membahas
pengaruh ataupun respon khalayak. Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan
masalah dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana format acara pada produksi program acara Insiprasi Iman di TVRI?
2. Bagaimana produksi program acara Insiprasi Iman di TVRI?
3. Apa sajakah kendala dalam produksi program acara Insiprasi Iman di TVRI?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas makan tujuan penelitian ini, yaitu:
1. Mengetahui format acara yang digunakan dalam program Insiprasi Iman di
TVRI.
2. Mengetahui proses program Insiprasi Iman mulai dari pra produksi, produksi,
sampai dengan pasca produksi.
3. Mengetahui kendala apa sajakah yang dihadapi dalam memproduksi program
8
Manfaat Penelitian:
1. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan berguna untuk memperdalam tentang proses produksi
pada suatu acara program di televisi. Serta menjadi referensi bagi pengembang Ilmu
Komunikasi jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Manfaat Praktis
Di harapkan dapat menjadikan perkembangan tentang penelitian ilmu komunikasi
terutama di bidang media masa elektronik televisi. Serta sebagai dasar bahan untuk
studi-studi selanjutnya di media massa elektronik (televisi). Penelitian ini juga dapat menjadi
masukan untuk produksi program siaran acara di TVRI.
D. Tinjauan Pustaka
Agus Isnaen, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jurusan KPI 2006 membahas
mengenai Analisis Program Acara Kick Andy di Metro TV. Persamaannya adalah
sama-sama membahas mengenai proses produksi. Perbedaannya adalah pada skripsi ini pada
program yang diajikan bersifat talk show.
Freaz Basafi Abbas, mahasiswa jurusan KPI angkatan 2007 ini membahas
skripsi ini membahas mengenai strategi komunikasi dan media elektronik yang berbeda.
Sedangkan persamaannya adalah sama-sama menggunkan teori konstruksi media.
Desri Lestrai, jurusan KPI angkatan 2008, mengangkat judul skripsi mengenai
Analisis Program Acara Dari Hati ke Hati Bersama Mamah Dedeh. Persamaan dari
penelitian ini adalah sama-sama meneliti tahap-tahap produksi dari sebuah acara ataupun
program. Perbedaannya adalah pada skripsi ini proses produksinya bersifat live.
E. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian
Penelitian yang menggunakan metedologi kualitatif berasal dari pendekatan
interpretatif atau subjektif. Pendekatan interpretatif ini mempunyai dua varian, yakni kritis
dan konstruktivis.7 Adapun penelitian ini berangkat dari pendekatan kritis sebagaimana
analisis framing pada umumnya. Dengan metodologi kualitatif yang lebih menekankan
pada persoalan kedalam (kualitas) data bukan pada banyaknya (kuantitas) data.
Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif, bertujuan untuk menggambarkan,
meringkaskan berbagai kondisi, berbaga situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial
yang ada di masyarakat, yang menjadi objek penelitian dan berupaya menarik realitas itu ke
permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda atau gambaran fenomena
7
10
tertentu. Sehingga penelitian ini bersifat mendalam karena kedalaman data yang menjadi
pertimbangannya serta menusuk sasaran penelitian.8
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu pelaksanaan pada tanggal 28 Februari sampai dengan tanggal 28 April 2014.
Tempat penelitian adalah stasiun TVRI, bagian produksi program Inspirasi Iman.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah tim produksi TVRI. Sedangkan yang menjadi
objek dalam penelitian ini adalah produksi program Inspirasi Iman di TVRI.
4. Sumber Penelitian
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari sumber
subjek yaitu pengurus atau tim produksi TVRI secara individual atau kelompok. Metode
yang digunakan untuk mendapatkan data primer dengan menggunakan metode survei atau
metode observasi.
8
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber-sumber data pendukung dalam penelitian
yang didapat oleh peneliti secara tidak langsung. Data sekunder atau sumber data
pendukung tersebut dapat berupa bukti atau dokumen yang dirahasiakan dan tidak
dirahasiakan oleh pihak TVRI.
5. Tahap Penelitian
a. Teknik Pengumpulan Data
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan olehpeneliti dalam
mengumpulkan data agar penelitiannya lebih baik hasilnya dalam arti lebih cermat,
lengkap, dan sistematik sehingga mudah untuk diolah. Adapun yang menjadi instrumen
penelitian adalah:
1) Observasi Participant
Melakukan pengamatan langsung untuk memperoleh data yang diperlukan.9
Penulis terjun langsung ke tempat yang diteliti yaitu lokasi taping dan tempat
editing produksi program Inspirasi Iman di TVRI.
9
12
2) Wawancara
Wawancara adalah teknik penelitian yang paling sosiologis sifatnya. Karena
bentuknya berasal dari interaksi verbal antara peneliti dan responden.10 Penulis
berawal menanyakan beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan atau
terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dengan menggali keterangan
lebih lanjut, dan kemudian langsung dijawab oleh informan dengan bebas
terbuka untuk memperoleh data yang dibutuhkan mengenai produksi program
acara Inspirasi Iman di TVRI.
3) Dokumentasi
Mengumpulkan dokumen berupa data tertulis yang mengandung keterangan
dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual.11
Dokumen yang dikumpulkan berupa data-data yang sudah ada pada TVRI dan
diambil oleh peneliti untuk melengkapi data yang sudah didapat sebelumnya
yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Dokumen yang dikumpulkan
oleh peneliti berupa sejarah TVRI, struktur TVRI, program acara, format acara
Inspirasi Iman, rekaman dan data lainnya yang dapat mendukung penelitian.
10
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1989), cet ke-19, h. 136 11
a. Teknik Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, temuan diolah ke dalam proses tahapan
konstruksi sosial media massa. Di dalam proses tahapan konstruksi media
massa akan ditemukan didalamnya proses produksi mulai dari pra produksi,
produksi hingga pasca produksi. Hal ini nanti akan berguna agar proses
produksi siaran acara Inspirasi Iman dapat berjalan dengan benar. Dalam
melakukan pengolahan data, penulis mencoba menyederhanakan dan
mengolah data, maka data yang ada dimasukkan ke dalam bentuk tabel,
bagan, roda jam siar, dan foto-foto.
b. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif (Bogdan dan Biklen, 1982) yang dikutip dari
buku Metodologi Penelitian Kualitatif karangan Meleong adalah upaya yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya,
mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang
dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain.12
Analisis menurut Patton (1980:268), adalah proses mengatur urutan
data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian
12
14
dasar.13 Dan dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif,
yaitu teknik yang hanya memaparkan situasi atau peristiwa.Teknik ini tidak
mencari atau menjelaskan suatu hubungan, tidak menguji hipotesis atau
membuat prediksi.14 Tujuan dari analisis deskriptif ini adalah untuk:
a) Memaparkan informasi yang aktual secara terperinci yang
melukiskan gejala yang ada.
b) Mengidentifikasi masalah atau menjelaskan kondisi dan
praktek-praktek yang berlaku.
c) Membuat perbandingan atau evaluasi
F. Sistematika Penulisan
Penelitian ini agsar lebih terarah dan sistematis, maka penulis akan membagi
pokok-pokok pembahsan ke dalam lima bab, yaitu sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN berisi tentang latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian, tinjaun pustaka, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORI berisi pembahasan tentang Dakwah dan Televisi, yang terdiri dari pengertian dakwah, subjek dan objek, serta
13
Ibid, h. 280
14
membahas tentang pengertian televisi dan sejarah perkembangannya,
pengertian format program televisi, dan pengertian produksi program
televisi.
BAB III GAMBARAN UMUM TELEVISI REPUBLIK INDNOESIA (TVRI) mencakup gambaran umum TVRI, visi dan misi, gambaran umum program-program di TVRI, serta gambaran acara Inspirasi
Iman.
BAB IV ANALISIS PRODUKSI PROGRAM INSPIRASI IMAN
perencanaan produksi Inspirasi Iman, yang berisi: penemuan ide,
materi produksi, kerabat kerja produksi, biaya produksi, dan lokasi
pengambilan gambar; proses produksi Inspirasi Iman, yang berisi;
proses pengambilan gambar, dan sarana dan prasarana yang
digunakan dalam proses produksi; Proses Pasca Produksi; Analisis
Acara Inspirasi Iman dan Kendala dalam Proses Produksi acara
Inspirasi Iman.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN berisi kesimpulan dari data-data yang telah diolah dan saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
16 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Analisis Produksi
Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan
bagian itu sendiri serta hubungan antara bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat
dan pemahaman arti keseluruhan.1
Analisis sepadan dengan kata analisys, yang membuat atau menganalisa
perancangan alur, sehingga menjadi mudah dan gamblang untuk dibuat maupun dibaca,
dapat berarti juga analisa, pemisahan, pemeriksaan yang teliti.2
Sedangkan menurut Masduki, produksi siaran merupakan keterampilan memadukan
wawasan, kreativitas, dan kemampuan mengoperasikan peralatan produksi, karena produksi
adalah kawasan kunci dalam aktivitas di radio siaran.3
Produksi siaran merupakan kegiatan penyelenggaraan siaran, yaitu rangkaian mata
acara dalam bentuk audio atau visual yang ditransmisikan dalam bentuk sinyal suara
melalui udara maupun melalui kabel yang dapat diterima oleh pesawat penerima (radio) di
1
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesis, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005) ed. 3, cet. ke-3, h. 43
2
John. M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1990), h. 28 3
rumah-rumah. Karenanya proses penyiaran merupakan proses yang panjang tetapi
memerlukan waktu yang relatif singkat.4
Dalam proses produksi dibutuhkan sebuah tim, dimana sebuah tim produksi harus
mampu bekerjasama dengan satu tujuan mewujudkan suatu ide menjadi acara yang
berkualitas. Kerjasama ini harus berkesinambungan dari mulai pra produksi, produksi
acara, pasca produksi, hingga sebuah acara disiarkan, tim tersebut harus menjalankan tugas
dan fungsinya masing-masing dalam koridor perencanaan yang telah disusun.5
B. Pengertian Program
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Departmen Pendidikan Kebudayaan
(1988). Program adalah seperti pertunjukan siaran, pagelaran, dan sebagainya.6
Menurut P.C.S Sutisno dalam buku Pedoman Praktos Penulisan Skenario Televisi
Video (1993), mendefinisikan program televisi ialah bahan yang telah disusun dalam satu
format sajian dengan unsur video yang ditunjang unsur audio yang secara teknis memenuhi
persyaratan layak siar serta telah memenuhi standar estetik dan artistik yang berlaku.7
Menurutnya lagi, bahwa stasiun televisi dalam membuat suatu program terdiri dari
para artis pendukung acara dan para kerabat kerja. Ide merupaka sebuah inti pesan yang
4
Tommy Suprapto, Berkarier di Bidang Broadcasting, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2006), h. 10 5
Fred Wibowo, Teknik Produksi Program Televisi, (Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2007), cet. ke-1, h.29
6
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 1989), cet. ke-1 h. 702 7
18
akan disampaikan kepada khalayak, dituangkan menjadi suatu naskah yang disesuaikan
dengan format siaran yang akan dibuat, kemudian diproduksi hingga menjadi suatu paket
program siaran. Paket program siaran yang akan dibuat, kemudian diproduksi hingga
menjadi satu paket program siaran. Paket program siaran itulah yang kemudian ditayangkan
melalui stasiun penyiaran televisi dan disebarluaskan ke seluruh pelosok melalui jaringan
satelit komunikasi, stasiun penghubung, dan pemancar. Akhirnya paket program acara ini
dapat didengar dan dilihat oleh pemirsadi rumah.8
Setiap program televisi memiliki sasaran yang jelas dan tujuan yang akan dicapai.
Ada lima parameter yang harus diperhitungkan dalam menyusun program siaran televisi,
yaitu:
1. Landasan filosofis yang mendasari tujuan semua program.
2. Strategi penyusunan program sebagai pola umum tujuan program.
3. Sasaran program.
4. Pola produksi yang menyangkut garis besar isi program.
5. Karakter institusi dan manajemen sumber program untuk mencapai usaha yang
optimum.9
Landasan filosofis yang menyangkut segala macam program ialah Pancasila dan
perlu bersifat luwes dalam rangka mengantisipasi pengalaman dan teknologi baru, serta
inovasi yang terjadi sewaktu-waktu. Dengan demikian penyusunan program akan efektif
dalam rangka landasan dasar, namun tetap sesuai dengan setiap situasi.
Pola strategi penyusunan program lebih menyangkut ke pola pencapaian tujuan
program secara umum. Suatu rancangan induk untuk mencapai tujuan program perlu
disusun. Berkaitan dengan keluaran dari siaran yang sifatnya informatif maka strateginya
adalah bagaimana menyentuh sadaran program sehingga tanpa disadari dapat mengarah kea
rah pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan. Dalam hal ini ada tiga variabel yang
perlu diperhatikan yaitu:
1. Memotivasi dan merangsang kesadaran sasaran program.
2. Mengarahkan kesadaran tersebyr kea rah garis pengembangan keseluruhan.
3. Mengendalikan pengembangan untuk menyesuaikan dengan kondisi objektif.10
Variabel pertama dan kedua berkaitan dengan konsep pendidikan. Variabel ketiga
lebih berkaitan dengan konsep budaya. Ketiga variabel tersebut dapat dirumuskan menjadi
satu supra konsep yaitu cultural educative. Jadi, strategi penyusunan program secara
menyeluruh didasarkan pada supra konsep cultural educative. Untuk itu diperluka
penyesuaian karakter yang cocok dengan persyaratan media itu sendiri. Dalam hal ini
10
20
sasaran dapat menggunakan penglihatan dan pendengaran sebagai jembatan untuk
menemukan hal-hal disenanginya.
Penyiaran suatu program tentu mempunyai strata sasarannya, termasuk adat dan
kebiasaannya. Kategorinya ialah sasaran umum dan sasaran strategis. Semua program
siaran sifatnya terbuka karena memang tak mungkin memproduksi program yang dapat
memuaskan semua orang. Untuk itu, kepada sasaran program ini diharapkan ada kelompok
inti yang kemudia menyebarkan informasi yang diperoleh dari program.
Karakteristik program dipolakan oleh sifat waktu dan sasaran. Setiap program
memiliki karakter waktunya sendiri, yaitu penempatan atau pengalokasian waktu siaran.
Ada waktu prima, sub prima, dan frekuensi waktu serta biaya waktu. Tempat sebuah
program dalam siaran dapat dilihat dari dua segi, yaitu dari sisi programatik dan sisi
penonton atau sasaran program. Sisi pertama berkaitan dengan kesesuaian alokasi program
dalam jadwal siaran, sisi kedua berhubungan dengan aspek geokultural program tersebar
diseluruh negeri dengan tradisi yang berlainan.
Sasaran program dipengaruhi oleh komposisi usia, jenis kelamin, profesi, tingkat
pendidikan, dan presepsi. Selain itu, penyusunan program harus ditinjau dari siklus waktu
secara vertikan dan horizontal. Siklus waktu vertical ialah berhubungan dari satu program
ke program berikutnya dalam sequence (tata rangkai) yang diatur secara konsisten dan
memperhitungkan urutan rangkaian setiap harinya, bobot siarn, dan kejenuhan kondisi dari
komposisi program.11
Dengan kata lain, pemograman berarti merencanakan siaran dengan mengacu
kepada Hukum Penyiaran (Broadcast Law) standar program dan dengan cepat menaggapi
perubahan sosial, gaya hidup, dan kebutuhan penonton.12
C. Format Program Televisi
Format acara televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara
televisi yang akan menjadi landasan kreativitas dan desain produksi yang akan terbagi
dalam berbagai kriteria utama yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara
tersebut.13
Berbagai macam format program berdasarkan jumlah penampilan dan alokasi waktu
adalah sebagai berikut:14
1. Format Program Sederhana
Secara umum bercirikan digunakanannya seorang atau lebih penyaji atau presenter
untuk menyampaikan isi pesan. Format ini mempunyai beberapa format program,
yaitu:
Naratama, Menjadi Sutradara Televisi, (Jakarta: Grasindo, 2006), Cet. ke-1, h. 63 14
22
a. Format Talk/Ceramah
Wujud sajian format ini didahului pengumman/pengantar singkat oleh
penyiar nama acara, topik pembicaraan, dan pembicara. Kemudian tampil
penceramah menyampaikan isi pesannya.
b. Format Video On Sound
Menampilkan sajian visual diiringi audio seperti narasi, dialog, soundeffect,
dan musik.
c. Format Program Diskusi
Format program diskusi paling cocok untuk mengenengahkan permasalahan
yang mengandung pro dan kontra atau persoalan yang memiliki alternatif
pemecahan dengan pembicara yang langsung berlkaitan terhadap masalah
tersebut atau pakarnya.
d. Format Program Wawancara
Format ini masih dalam kategori sederhana dari aspek produksi, namun
memiliki faktor kesukaran yang tinggi. Maksudnya adalah kemampuan
pewawancara/interviewer sebagai wakil penonton dalam menggali, mengejar,
membujuk, dan mengarahkan secara halus sehingga narasumber bersedia
e. Format Program Permainan
Format ini dapat didayagunakan agar sasaran program dapat memiliki
keterampilan tertentu, memiliki informasi, pengembangan perbendaharaan,
konsep, dan keterampilan yang disajikan.
f. Format Program Dokumenter
Program dokumenter menyajikan segala sesuatu dan peristiwa apa adanya.
Format ini menjadi lebih menarik bila tidak hanya merekam seperti adanya
melainkan dilengkapi juga dengan rekaman peristiwa kejadian di masa lalu.
Format dokumenter dapat dibedakan menjadi:
1. Dokumenter Berita
Program yang mengambil kejadian mutakhir.
2. Dokumenter Historis
Format yang memerlukan penelitian besar. Sehubungan dengan itu, pita
pidato proklamasi, potongan film tentang KMB, atau peristiwa Pemakaman
Pahlawan Revolusi merupakan bahan-bahan yang perlu dipelihara
sebaik-baiknya sebab di masa mendatang mungkin diperlukan oleh banyak pihak
dalam rangka memproduksi program dokumenter historis.
3. Dokumenter Biografi
Format ini biasa digunakan untuk merekam sejarah/cerita kehidupan prbadi.
24
4. Dokumentar Musikal
Format ini biasa digunakan untuk merekam tokoh musik atau sejarah alat
musik asli.
2. Format Program Kompleks
a. Format Program Feature
Format ini hanya membahas satu topik/pokok bahasan sehingga dapat dikatakan
sebagai program tayangan khas.
b. Format Majalah
Format ini umumnya sama dengan majalah. Bedanya, format majalah program
televisi berupa sajian audio-visual. Program magazine mirip dengan program
feature. Perbedaannya, kalau program feature satu pokok permasalahan yang
disoroti dari berbagai aspek dan disajikan lewat berbagai format. Sementara
program magazine bukan menyoroti satu pokok permasalahan saja, melainkan
membahas satu bidang kehidupan, seperti wanita, film, pendidikan, dan musik
yang ditampilkan dalam rubrik-rubrik tetap dan disajikan lewat berbagai
format.15
c. Format Program Drama
1. Format program boneka, drama menggunkan boneka sungguhan seperti si
unyil, atau si komo. Sesuai denga perkembangan teknologi, drama boneka
15
kemudian menampilkan tokoh kartun yang merupakan permainan animasi,
contoh drama boneka animasi Scooby Doo, Doraemon, dan serial
tokph-tokoh rekaan seperti robot yang beraneka ragam.
2. Drama televisi, drama ini sering disebut sinetron (sinema elektornik).
Berbagai jenis siaran tersebut bukanlah suatu yang mutlak harus ada semuanya.
Acara-acara tersebut sangat bergantung dari kepentingan masing-masing stasiun penyiaran
televisi yang bersangkutan. Pada umumnya sebagian besar dari contoh jenis program di
atas tersebut acara-acara yang disiarkan oleh stasiun penyiaran televisi.
D. Pengertian Produksi Program Televisi
Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang
maupun jasa. Produksi sebuah program video dan televisi dimulai dari ide atau gagasasan
yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah naskah. Naskah merupakan sebuah landasan
yang diperlukan untuk membuat sebuah program video dan televisi apapun bentuknya.
Berpikir tentang produksi program televisi bagi seorang produser profesional,
berarti mengembangkan gagasan bagaimana materi produksi itu, selian menghibur, dapat
menjadu suatu sajian yang bernilai dan memiliki makna. Apa yang disebut nilai akan tetapi
apabila sebuah produksi acara bertolak dari suatu visi.16
16
26
Sebuah produser profesional, ketika merencanakan sebuah produksi program
televisi akan dihadapkan pada lima hal sekaligus yang memerlukan pemikiran mendalam,
yaitu materi produksi, sarana produksi (equipement), biaya produksi (financial), organisasi
pelaksanaan produksi, dan tahapan pelaksanaan produksi.17
Tahapan pelaksanaan produksi suatu produksi program televisi yang melibatkan
banyak peralatan, orang, dan dengan sendirinya biaya yang besar, selain memerlukan suatu
organisasi yang rapih juga perlu suatu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien.
Tahapan produksi terdiri fari tiga bagian di televisi yang lazim disebut Standar Operation
Procedure (SOP), seperti berikut:
1. Pra Produksi (ide, perencanaan, dan pelaksanaan)
2. Produksi (pelaksanaan)
3. Pasca Produksi (penyelesaian dan penayangan)
1. Pra Produksi
Pada tahap ini merupakan proses dari seluruh kegiatan yang akan datang, atau juga
disebut sebagai tahap perencanaan. Perencanaan adalah fungsi manajemen yang paling
pokok dan paling luas meliputi perkiraan dan perhitungan mengenai kegiatan yang akan
dilaksanakan pada waktu yang akan datang mengikuti suatu urutan tertentu.
17
Tahap ini sangat penting sebab jika tahap ini dilaksanakan dengan rinci dan baik,
sebagian pekerjaan dari produksi yang direncanakan sudah selesai. Tahap pra produksi
meliputi tiga bagian, sebagai berikut:18
a) Penemuan Ide
Tahap ini dimulai ketika produser menemukan idea tau gagasan, membuat riset dan
menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah
sesudah riset.
b) Perencanaan
Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja, penyempurnaan naskah, pemilihan
narasumber, lokasi, dan crew. Selain estimasi biaya, penyediaan biaya dan rencana alokasi
merupakan bagian dari perencanaan yang perlu dibuat secara hati-hati dan teliti.
c) Persiapan
Tahap ini meliputi pemberesan semuan kontrak, perizinan, dan surat menyurat.
Latihan para kru dan pembuat setting, meneliti, dan melengkapi peralatan yang diperlukan.
Semua persiapan ini paling baik diselesaikan jangka waktu kerja yang sudah ditetapkan.
Kunci keberhasilan produksi program televisi sangat ditentukan oleh kesiapan tahap
perencanaan dan persiapan itu. Orang yang begitu poercaya pada kemampuan teknis
18
28
mengabaikan hal-hal yang sifatniya pemikiran di luar kertas. Dalam produksi program
televisi hal itu dapat berakibat kegagalan.19
2. Produksi
Tahap produksi adalah seluruh seluruh kegiatan pengambilan gambar baik di studio
maupun di luar studio. Proses ini disebut juga dengan tapping. Sesudah perencanaan dan
persiapan selesai dilakukan, pelaksanaan produksi dimulai. Sutradara bekerjasama dengan
para artis dan crew mencoba mewujudkan apa yang direncanakan dalam kertas dan tulisan
(shooting script) menjadi susunan gambar yang dapat bercerita.20
Dalam pelaksanaan produksi ini, sutradara menentukan jenis shoot yang akan
diambil dalam adegan (scene). Biasanya sutradara mempersiapkan suatu daftar shoot (shoot
list) dari setiap adegan. Semua shoot yang dibuat akan dicatat oleh bagian pencatatan
dengan mencatat kode waktu (time code) dengan nomor pada pita. Nomor itu berputar
keitika kamera dihidupkan dan terekam dalam gambar. Catatan kode waktu ini nanti akan
berguna pada proses editing.
Biasanya gambar hasil shooting dikontrol setiap malam di akhir shooting hari itu
untuk mengetahui apakah hasil pengambilan gambar baik atau tidak. Apabila tidak, maka
adegan itu perlu diulang untuk pengambilan gambarnya. Semua adegan di dalam naskah
19
Fred Wibowo, Dasar-dasar Produksi Program Televisi, (Yogyakarta, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Cet. Ke-1, h. 20
20
telah selesai diambil, maka hasil gambar asli (original material / row footage) dibuat
catatannya (logging) untuk kemudian masuk dalam proses post production yaitu editing.
3. Pasca Produksi
Pada tahap terakhir atau tahap post production, dimaksudkan merupakan tahap
penyelesaian atau tahap penyempurnaan dari bahan baik yang berupa pita auditif maupun
pita audio visual. Demikian pula untuk televisi apakah digunakan satu atau lebih
kameranya.
Tahap penyelesaian meliputi:
a. Melakukan editing baik suara maupun gambar.
b. Pengisiang grafik pemangku gelar atau berupa insert visualisasinya.
c. Pengisian narasi.
d. Pengisian sound efek dan ilustrasi.
e. Melakukan evaluasi terhadap hasil produksinya, tetapi dapat pula masih
diberikan beberapa catatan, misalnya, masalah ilustrasi, sound efek, editing
gambar, dan sebagainya, sehingga masih masih harus dilakukan perbaikan.
Menciptakan tayangan program yang unik dan menarik perhatian khalayak,
langkah-langkah yang telah dijelaskan di atas menjadi sesuatu yang sangat penting, karena
30
4. Evaluasi Produksi
Evaluasi di sini mempunyai dua maksud. Maksud yang pertama adalah evaluasi
program yang bertujuan untuk menilai sebarapa jauh program-program ini bisa dianggap
baik menurut sasaran. Kedua adalah evaluasi instruksional. Dibicarakan mengenai
kemampuan dan kelemahan program, tetapi yang diutamakan adalah audiens dalam
memahami isi program instruksional yang diselenggrakan.21 Mengenai penelitian terhadap
respond an khalayak, maka pokok-pokok yang dinilai atau dievaluasikan adalah:
1) Bagaimana sifat respon itu, lunak, menyenagkan, atau berupa kritik.
2) Apakah respon itu menguntungkan atau tidak, disampaikan secara resmi atau tidak.
3) Apakah respon itu menunjukan bahwa publik atau khalayak menaruh perhatian atau
masalah yang dikemukakan dalam pesan.
Adapun evaluasi mengenai berhasil atau tidaknya suatu pesan yang telah
dilancarkan oleh suatu organisasi instansi adalah dengan mengadakan Reader Interest Study
dan Readibility Test. Kemungkinan lain untuk mengukur efektifitas suatu pesan adalah
dengan Audience Research seta Programme Analysist Test.
21
31
A. Sejarah Berdirinya Televisi Republik Indonesia (TVRI)
Pada tahun 1961, pemerintah Indonesia memutuskan untuk memasukkan proyek
media massa televisi ke dalam proyek pembangunan Asian Games IV di bawah koordinasi
urusan proyek Asian Games IV. Pada 25 Juli 1961, Menteri Penerangan mengeluarkan SK
Menpen No. 20/SK/M/1961 tentang Pembentukkan Panitia Persiapan (P2T).
Pada 23 Oktober 1961, Presiden Soekarno yang sedang berada di Wina
mengirimkan teleks kepada Menpen Maladi untuk segera menyiapkan proyek televisi (saat
itu waktu persiapan hanya tinggal 10 bulan) dengan jadwal sebagai berikut:1
1. Membangun studio di eks AKPEN di Senayan (TVRI sekarang).
2. Membangun dua pemancar: 100 watt dan 10 Kw dengan tower 80 meter.
3. Mempersiapkan software (program dan tenaga).
Pada tahun 1962 dimulai persiapan-persiapan dalam melaksanakan pembukaan
stasiun TV di Indonesia yang pertama, dalam waktu 1 tahun untuk menyelesaikan tugas,
dari kedua belah pihak para ahli, baik dari asing maupun dari pihak luar negeri bekerja
untuk memasang alat-alat da persiapan siaran luar untuk menayangkan Asian Games secara
1
32
langsung pada tanggal 24 Agustus 1962 di stadion olahraga Gelora Bung Karno yang baru
saja dibangun.2
Pada tanggal 17 Agustus 1962, TVRI mulai mengadakan siaran percobaan dengan
acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia XVII dari halaman Istana Merdeka Jakarta,
dengan pemancar cadanagna berkekuatan 100 watt.
Pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan acara siaran
langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno, dan
ketika tanggal 20 Oktober 1963, dikeluarkan Keppres No. 215/1963 dengan pembentukan
Yayasan TVRI dengan Pemimpin Umum Presiden RI, bahwa tujuan TVRI adalah menjadi
alat hubungan masyarakat (mass communication media) dalam pembangunan
mental/spiritual dan fisik bangsa dan Negara Indonesia serta pembentukkan manusia
sosialis Indonesia pada khususnya.3 Pada tahun 1964 mulailah dirintis pembangunan
Stasiun Penyiaran Daerah dimulai dengan TVRI Stasiun Yogyakarta, yang secara
berturut-turut diikuti dengan Stasiun Medan, Surabaya, Ujung Pandang (Makassar), Manado,
Denpasar, dan Balikpapan (bantuan Pertamina).
Stasiun TVRI milik pemerintah mempunyai tujuan yang bersifat idiil, berbeda
dengan tujuan stasiun swasta yaitu bersifat materil/profit.4 Televisi Republik Indonesia
2
Direktorat Televisi Departement Penerangan, TVRI 1962-1972, (Jakarta), Cet. Ke-1, h. 29 3
Onong Uchjana Effendi, Televisi Siaran dan Praktik, (Bandung: mandar Maju, 1993), Cet. Ke-1, h. 54-55
4
(TVRI) adalah stasiun televisi pertama di Indonesia, yang mengudara sejak tahun 1962 di
Jakarta dan Starvision Plus pada tanggal 23 Agustus 1962. Siaran perdananya menyangkan
Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 dari Istana Negara
Jakarta. Siarannya ini masih berupa hitam putih. TVRI kemudian meliputi Asian Games
yang diselenggarakan di Jakarta dan di Jakarta Timur di Sentul pada tanggal 24 Agustus
1962 sejak Capcom di Jepang pada tahun 1979 dan di Jakarta Indonesia pada sejak 1983.
Dahulu TVRI pernah menayangkan iklan dalam satu tayangan khusus yang dengan
judul acara Mana Suka Siaran Niaga (sehari dua kali). Pada tahun 80-an dan 90-an TVRI
tidak diperbolehkan menayangnkan iklan yang iklannya hanya di Jakarta Timur, dan
akhirnya TVRI kembali menyangkan iklan. Status TVRI saat ini Lembaga Penyiaran
Publik. Sebagian biaya operasional TVRI masih ditanggung oleh negara. TVRI
memonopoli siaran televisi di Indonesia sebelum tahun 1989 ketika didirikan televisi
swasta pertama RCTI di Jakarta, dan SCTV pada tahun 1990 di Surabaya.
Dengan perubahan status TVRI dari perusahaan jawatan ke TV Publik sesuai
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang UU Penyiaran, maka TVRI diberi massa
transisi selama 3 tahun dengan mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2002
dimana TVRI berbentuk PERSERO atau PT.
Melalui PERSERO ini pemerintah mengharapkan Direksi TVRI dapat melakukan
34
keuangan. Sehubungan dengan itu Direksi TVRI tengah melakukan konsolidasi, melalui
restrukturisasi, pembenahan di bidang Marketing dan Programming, mengingat sikap
mental karyawan dan hampir semua acara TVRI masih mengacu pada status perjan yang
kurang memiliki nilai jual. Restrukturisasi bukan berarti adanya pengurangan sumber daya
manusia atau penambahan modal, karena semua itu harus memenuhi kualifikasi yang
diperlukan.
Khusus mengenai karyawan, Direksi TVRI melalui restrukturisasi akan diketahui
jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan, berdasarkan kemampuan masing-masing
individu karyawan untuk mengisi fungsi-fungsi yang ada dalam struktur organisasi sesuai
keahlian dan profesi masing-masing, dengan kualifikasi yang jelas. Melalui restrukturisasi
tersebut akan diketahui apakah untuk mengisi fungsi tersebut di atas dapat diketahui, dan
apakah perlu dicari tenaga profesional dari luar atau dapat memanfaatkan sumber daya
TVRI yang tersedia.
Bentuk PERSERO selama massa transisi ini, TVRI benar-benar diuji untuk belajar
mandiri dengan menggali dana dari berbagai sumber antara lain dalam bentuk kerjasama
dengan pihak luar baik swasta maupun BUMN serta meningkatkan profesionalisme
karyawan. Adanya massa transisi selama 3 tahun ini, diharapkan TVRI dapat memenuhi
kriteria yang disyaratkan oleh undang-undang penyiaran yaitu sebagai TV publik dengan
tanggal 20 Mei 2003 yang lalu, TVRI mengoperasikan kembali seluruh pemancar stasiun
relay TVRI sebanyak 395 buah, yang tersebar di seluruh Indonesia.
B. Visi dan Misi
1. Visi
Terwujudnya TVRI sebagai media utama penggerak pemersatu bangsa. Adapun
maksud dari Visi adalah bahwa TVRI di masa depan menjadi aktor utama penyiaran
dalam menyediakan dan mengisi ruang publik, serta berperan dalam merekatkan
dan mempersatukan semua elemen bangsa
2. Misi
Misi TVRI sebagain televisi pemerintah Republik Indonesia antara lain:
1. Menyelenggarakan siaran yang menghibur, mendidik, informatif secara netral,
berimbang, sehat, dan beretika untuk membangun budaya bangsa dan mengembangkan
persamaan dalam keberagaman
2. Menyelenggarakan layanan siaran multiplatfrom yang berkualitas dan berdaya saing
3. Menyelenggarakan tata kelola lembaga yang modern, transparan dan akuntabel
4. Menyelenggarakan pengembangan dan usaha yang sejalan dengan tugas pelayanan
36
5. Menyelenggarakan pengelolaan sumber daya proaktif dan andal guna meningkatkan
pelayanan publik dan kesejahteraan pegawai.
C. Strukutur Lembaga Penyiaran Publik TVRI
Struktur perusahaan penyiaran publik TVRI, terdiri dari:5
1. Dewan Pengawas
Dewan pengawas mempunyai tugas menetapkan kebijakan umum, rencana induk,
kebijakan penyiaran, rencana kerja, dan sumber daya, serta mengawasi pelaksanaan
kebijakan tersebut sesuai dengan arah dan tujuan penyiaran; Mengawasi
pelaksanaan rencana kerja dan anggaran serta independensi dan netralitas siaran;
Melakukan uji kelayakan dan kepatutan secara terbuka terhadap calon anggota
dewan direksi; Mengangkat dan memberhentikan dewan direksi; Menetapkan salah
seorang anggota dewan direksi sebagai direktur utama; Melaporkan pelaksanaan
tugasnya kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR
RI).
2. Dewan Direksi
Dewan direksi mempunyai tugas melaksanakan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh
dewan pengawas yang meliputi kebijakan umum, rencana induk, kebijakan
penyiaran, rencana kerja, dan anggaran tahunan, serta kebijakan pengembangan
5
kelembagaan dan sumber daya; Memimpin dan mengelola TVRI sesuai dengan
tujuan dan senantiasa berusaha meningkatkan daya guna dan hasil guna;
Menetapkan ketentuan teknis pelaksanaan operasional lembaga dan operasional
penyiaran; Mengadakan dan memelihara pembukaan serta administrasi sesuai
peraturan yang berlaku; Menyiapkan laporan tahunan dan laporan berkala;
Membuat laporan keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku; Mewakili lembaga di dalam dan di luar pengadilan;
Menjalin kerjasama dengan lembaga lain baik di dalam maupun di luar negeri.
3. Direktur Utama
Tugasnya ialah menjabarkan visi, misi, kebijakan umum, kebijakan penyiaran,
kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya yang telah ditetapkan oleh
Dewan Pengawas dalam rencana induk dan rencana kerja dan anggaran tahunan.
4. Direktur Program dan Berita
Bertugas sebagai melaksanan visi, misi, kebijakan umum, kebijakan penyiaran,
kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya di bidang program,
produksi, siaran berita, dan non berita serta pendokumentasian.
5. Direktur Keuangan
Direktur Keuangan bertugas melaksanakan visi, misi, kebijakan umum, kebijakan
penyiaran, kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya di bidang
38
6. Direktur Teknik
Tugasnya ialah melaksanakan visi, misi, kebijakan umum, kebijakan penyiaran,
kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya di bidang teknik, meliputi
teknik produksi, teknik penyiaran, teknik informatika, dan teknik media
konvergensi.
7. Direktur Umum
Tugasnya ialah melaksanakan visi, misi, kebijakan umum, kebijakan penyiaran,
kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya di bidang umum, asset,
sumber daya manusia, kelembagaan, organisasi, dan ketatalaksanaan.
8. Direktur Pengembagan dan Usaha
Tugasnya ialah melaksanakan visi, misi, kebijakan umum, kebijakan penyiaran,
kebijakan pengembangan kelembagaan dan sumber daya di bidang pengembangan
dan usaha.
9. TVRI Pusat
TVRI Pusat dikelola langsung oleh Dewan Direksi sesuai dengan bidang tugas
masing-masing. Dalam melaksanakan tugas, Dewan Direksi dibantu oleh General
Manager yang setara dengan Kepala Bidang/Bagian dan Kepala Seksi/Subbagian.
10.TVRI Stasiun Daerah
Merupakan satuan kerja TVRI Pusat sekaligus sebagai kekuatan pendukung dalam
11.Satuan Pengawasan Intern
Dipimpin oleh seorang kepala yang pelaksanaan dan tugasnya dikoordinasikan
langsung Direktur Utama.
12.Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Dipimpin oleh seorang kepala yang pelaksanaan dan tugasnya dikoordinasikan
langsung Direktur Utama.
13.Pusat Penelitian dan Pengembangan
Dipimpin oleh seorang kepala yang pelaksanaan dan tugasnya dikoordinasikan
langsung Direktur Utama.
14.Perwakilan Luar Negeri
Penunjukan Perwakilan Luar Negeri dilakukan atas dasar kebutuhan Lembaga
Penyiaran Publik TVRI, dengan prinsip kehati-hatian, efektif, dan efisien.
Penunjukan Perwakilan Luar Negeri dan Dewan Direksi atas persetujuan Dewan
Pengawas dan dikoordinasikan dengan Departemen Luar Negeri RI.
15.Lembaga Penyiaran Publik Lokal yang berafiliasi dengan TVRI. Proses afiliasi
lembaga penyiaran publik lokal dengan TVRI diatur dalam perjanjian kerjasama
setelah mendapat persetujuan Dewan Pengawas.
D. Program-program TVRI
Televisi merupakan salah satu bentuk medium massa, tapi kemampuannya untuk
40
juga bertanggung jawab atas dampak yang diciptakannya atas publiknya. Dampak itu
bukan hanya hal-hal kecil, tetapi juga merubah gaya hidup atau life style.
Televisi sebagai lembaga penyiaran publik yakni harus memberikan konsep
pendidikan menyeluruh (General Education) artinya TVRI memberikan tayangan-tayangan
yang memberikan pendidikan untuk khalayak, agar dapat menikmati siaran TVRI baik
pendidikan, berita, maupun hiburan. TVRI sendiri mempunyai strategi dalam menyangkan
program-program untuk pemirsa, yaitu mencari dan memberikan sesuatu yang berbeda
untuki pemirsa dengan memberikan informasi tentang budaya Indonesia dan persatuan
Indonesia agar masyarakat Indonesia dapat menjalin persatuan kesatuan bangsa Indonesia.
Acara-acara di TVRI sudah memiliki beberapa acara unggulan yang ditayangkan
untuk para pemirsanya, yang bersifat informasi, hiburan sampai pendidikan, antara lain:
a. Acara Pendidikan yaitu acara yang memberikan suatu pendidikan yang bermanfaat
bagi khalayak untuk itu TVRI memberikan acara yang sesuai dengan pendidikan
Indonesia seperti: acara pelajaran Indonesia, acara pelajaran matematika, serta acara
pelajaran Bahasa Inggris.
b. Acara Keagamaan, acara yang mengandung unsur-unsur agama dimana acara ini
cenderung mengajak tausyiah dari agama yang dianutnya. Seperti: DAI Hikmah
Pagi, Untukmu Ibu Indonesia, Agama Budha, dan acara acara agama yang ada di
c. Acara Olahraga dan Musik. Selain itu TVRI dalam menyajikan acara juga ada acara
hiburan agar khalayak tidak jenuh dalam meyaksikan program-program TVRI.
d. Acara Berita. Acara berita merupakan acara yang menjadikan TVRI sebagai televisi
penyiaran publik sebab TVRI stasiun televisi pertama yang memberikan informasi
sekitar suasana Indonesia. Acara berita TVRI seperti: Dunia Dalam Berita, Warta
Nusantara, Warta Pemilu, dan sebagainya.
Dengan tetap mempertahankan predikatnya sebagai televisi publik, maka
diharapkan TVRI benar-benar berfungsi mengakomodasikan kepentingan masyarakat
Indonesia dan memberdayakan mereka. Salah satunya memberikan tayangan-tayangan
televisi yang memiliki nilai edukasi.
E. Gambaran Acara Inspirasi Iman
Insiprasi Iman tayang perdana di TVRI sekitar bulan Oktober 2012. Acara ini hadir
setiap hari Kamis jam 23.00 – 00.30 WIB. Inspirasi Iman dipandu oleh Felix Siauw dan
Okky Setiana Dewi, serta Co-Host seorang komedian yaitu Jarwo Kwat. Hadirnya acara ini
ide awalnya adalah dari seseorang dari pihak Warna Putih, dimana ia ingin menjadikan
sosok Felix yang inspiratif ingin dijadikan sebagai seorang host ataupun dalam inspirator.
Tapi menurutnya ia perlu seorang pendamping dari kalangan entertainer juga, maka dari itu
dipilihlah Okky Setiana Dewi seorang entertainer yang religius yang menurutnya pantas
42
diambil dari dunia komedian yaitu Jarwo Kwat. Jarwo dinilai cukup dapat beradaptasi dan
berbaur dengan siapa saja begitupun di acara ini. Ia yakin meskipun dari komedi, Jarwo
dapat memberikan celotehan-celotehan yang tidak keluar dari jalur dan format acara ini.
Program ini akan dimulai dengan Lagu Opening dilanjutkan dengan Untaian
Inspirasi dari Felix Siauw sebagai inspirator sekaligus Host Utama. Di setiap episodenya
akan menghadirkan dialog dengan minimal 2 orang Bintang Tamu, 1 orang artis/selebriti
dan 1 orang Tokoh (Ulama/ Motivastor/ Pengusaha/Pejabat, dll.) dan dipandu oleh 2 orang
Host yaitu Okky Setiana Dewi dan Jarwo Kwat.
Inspirasi Iman mencoba menghadirkan topik-topik yang menarik dengan menggali
berbagai pengalaman inspiratif dari para Bintang Tamu sehingga menjadi inspirasi bagi
para penontonnya. Selain itu acara ini juga didukung oleh performance hiburan lagu dari
Grup Musik dan artis Bintang Tamu. Dengan mengambil setting panggung Talk Show
bernuansa Islami, dihadiri audience dari jamaah majelis Ta'lim dan komunitas fans Bintang
Tamu, serta didukung adanya panggung hiburan bagi band musik dan penyanyi.
Inspirasi Iman yang di dalamnya terdapat berbagai jenis program mulai dari talk
show bernuansa islami, panggung musik hiburan yang didukung oleh grup band dan
bintang tamu artis lainnya, serta ada pula kuis interaktif yang diadakan oleh Inspirasi Iman.
Maka tak heran meskipun di dalamnya begitu banyak interaksi ataupun wawancara yang
menjadi lebih beragam, lebih hidup, dan lebih memberikan inspirasi bagi para penontonnya
dengan menggabungkan hiburan seru serta talk show islami sehingga membuat para
penontonnya tidak cepat jenuh dan dapat mengambil pelajaran dari acara ini.
F. Gambaran Warna Putih Creative House
Warna Putih Creative House merupakan sebuah wadah kreatifitas dari pelaku seni
yang sudah lama berkecimpung di dunia broadcasting untuk menuangkan ide kreatifnya
yang divisualisasikan dalam bentuk program on air maupun off air. Warna Putih Creative
House mengkhususkan produknya di genre Religi Islam. Tim yang tergabung dalam Warna
Putih Creative House merupakan sekumpulan individu yang mempunyai “warna”
kreatifitas berbeda-beda tetapi bersatu dalam nuansa religi Islam.
Visi dan Misi Warna Putih Creative House, adalah:
1) Membuat Program Syiar Islam yang kreatif dan digemari masyarakat.
2) Menjadikan Seni Kreatifitas sebagai Media Dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai
luhur dalam Al Qur’an seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.
3) Membumikan pemahaman Islam yang dikemas melalui program acara agar dapat
mudah dicerna dan diterima oleh lapisan masyarakat yang menjadi target.
4) Menginspirasi milyaran orang untuk berubah lebih baik melalui program-program
44
Beberapa hal yang dilakukan oleh Warna Putih Creative House adalah:
1. Program Design
Mendesain format dan konsep program TV untuk kemudian diproduksi
bekerjasama dengan stasiun televisi (Broadcaster).
2. Supervisi Content & Creative
Mensupervisi aspek content dan kreatif Program TV, Movie ataupun kegiatan
off air yang bergenre religi islami yang diproduksi oleh satsiun TV, Production
House, maupun Event Organizer.
3. Produce Canning Program
Memproduksi Program Televisi bekerjasama dengan Production House untuk
kemudian ditayangkan di stasiun Televisi.
4. Creative Ala Carte
Menyediakan produk kreatif berupa ide Ccerita dan skenario (sinetron dan
45 A. Format Acara Inspirasi Iman
Berhasil atau tidaknya sebuiah program televisi adalah ditentukan dengan
desain/konsep program itu sendiri. Tidak mudah untuk menarik perhatian khalayak untuk
menyaksikan sebuah program keagamaan, hal ini disebabkan karena image yang melekat di
masyarakat bahwa program keagamaan atau program religi seperti kuliah subuh, ceramah,
tausiah, dan lain sebagainya yang berunsurkan agama tidak menarik dan dinilai
membosankan. Maka dari itu dalam mendesain program acara Inspirasi Iman di TVRI
proses yang dilaluinya pun tidak mudah. Dengan desain yang sederhana, program Inspirasi
Iman tampil berbeda dengan dengan program religi lainnya.
Program acara Inspirasi Iman yang ditayangkan di TVRI, acara tersebut masuk ke
dalam program Variety Show Islami. Variety Show merupakan format acara televisi yang
mengkombinasikan berbagai format lainnya seperti talk show, magazine show, game show,
nmusic concert, dan drama.1
Inspirasi Iman adalah program Variety Show bergenre Religi Islami yang dikemas
secara ringan dengan menampilkan dialog dari para Bintang Tamu yang dapat menjadi
1