BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peristiwa gempa dan tsunami dahsyat dengan kekuatan gempa mencapai lebih kurang sembilan skala Richter yang melanda provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan terjadi bertepatan dengan tanggal 24 Desember 2014 silam masih terbayang dengan jelas bagi siapa saja yang telah berani berjuang untuk mempertahankan hidupnya pada saat air bah yang sangat dahsyat menerjang kota Banda Aceh dan beberapa kabupaten disekitarnya. Kabupaten Meulaboeh adalah kabupaten paling parah yang terkena dampak dari peritiwa tsunami 10 tahun silam, hanya ada sekitar tiga kecamatan yang tersisa dari sebelas kecamatan yang ada disana hal ini disebabkan karena pusat gempa yang menyebabkan timbulnya tsunami berada tidak jauh dari dari kabupaten Meulaboeh. Bencana tsunami yang melanda provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 10 tahun silam tidak hanya dirasakan oleh rakyat Aceh dan Medan saja, namun ada kurang lebih dari sepuluh negara tetangga yang berada di dekat provinsi Aceh juga ikut merasakan goncangan gempa dan terkena dampak dari tsunami. India, Thailand, Maladawi, Srilanka, dan beberapa negara tetangga juga ikut merasakan langsung bagaimana peristiwa gempa yang terjadi pada tanggal 24 Desember, sepuluh tahun silam dan turut menerima kiriman air bah tsunami dari Aceh.
Peristiwa gempa dan tsunami tersebut tidak hanya meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi para penyintas yang selamat dari bencana, akan tetapi juga ikut menghancurkan ribuan infrastuktur yang lama telah dibangun didaerah tersebut. Kerugian yang diperoleh dari bencana tsunami 10 tahun silam diperkirakan mencapai milyaran rupiah, dan ada lebih dari 300.000 jiwa yang ikut menjadi korban pada saat tsunami melanda di Aceh (jumlah ini belum lagi ditambah dengan korban jiwa dari negara tetangga yang ikut terkena tsunami).
orangtuanya lalu menjadi yatim piatu, ada juga seorang istri yang kehilangan suaminya lalu menjadi janda begitu pula sebaliknya seorang suami yang kehilangan istrinya lalu menjadi duda, orangtua kehilangan beberapa anaknya bahkan ada juga yang kehilangan semua anggota keluarganya dan tidak sedikit pula ada satu keluarga utuh yang semuanya ikut menjadi korban dari peristiwa dahsyat tersebut. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kondisi seperti itu, namun semua yang terjadi pasti ada hikmahnya dan itu sudah menjadi takdir yang tidak dapat dielak lagi bagi setiap jiwa yang mempercayai bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Penciptanya. Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dicegah oleh siapapun dan itu akan terjadi pada setiap makhluk hidup yang bernyawa. Menurut Papalia, dkk, 2001, kematian pasangan memiliki nilai perubahan kehidupan yang paling tinggi dibandingkan peristiwa-peristiwa lain dalam kehidupan individu selaku pihak yang ditinggalkan. Biasanya kehilangan yang paling sulit adalah kehilangan akibat kematian pasangan hidup. Menurut Hurlock, 1980, kematian pada usia dewasa lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita. Oleh karena itu, hidup menjanda merupakan masalah utama bagi wanita (dalam Zulfiana, 2013).
Menurut Santrock, 2002, terjadinya kematian pada pasangan tidak mudah diterima oleh individu baik wanit maupun pria. Akan tetapi bila hal ini terjadi pada wanita, mereka akan lebih mampu menyesuaikan diri karena wanita lebih banyak bertanggung jawab atas kehidupan emosional dalam kehidupan suami istri dan memiliki lebih banyak teman, lebih dekat dengan saudara, serta berpengalaman dalam mengatasi diri mereka sendiri secara psikologis. Namun tidak jarang masih ada diantara para janda yang kehilangan suaminya merasa terpuruk dalam duka cita mendalam, kesulitan keuangan, merasa kesepian, merasakan gangguan fisik, dan mengalami gangguan psikologis (Zulfiana, 2013).
Pada wanita, status janda sebenarnya adalah sebuah tantangan emosional yang paling berat yang harus mereka terima karena di dunia ini tidak akan ada seorang wanita yang ingin merencanakan jalan hidupnya untuk menjadi janda baik itu karena kematian suaminya ataupun karena harus bercerai dengan pasangan hidupnya. Dalam Zulfiana, 2013 (Papalia, dkk, 2001) menyatakan bahwa wanita janda memiliki tingkat peningkatan depresi, setidaknya selama lima tahun pertama setelah kematian.
Biasanya wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan menjadi single mother pada awalnya akan mengalami beberapa tahapan, yaitu : tahap pertama disebut Shock and disbelief, tahap kedua disebut Preoccupation with the memory of the death person dan tahap ketiga disebut Resolution (dalam Aprilia, 2013).
diatasi dengan baik oleh ibu-ibu mereka yang telah menjanda, bukan tidak mungkin dapat menimbulkan krisis identitas pada anak-anak mereka.
Selain itu, menurut Papalia, dkk., 2001, wanita yang menjadi janda juga mengalami permasalahan ekonomi terutama jika saat menikah ia tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan dari suami. Ketika tiba-tiba ia kehilangan suami yang selama ini menopang perekonomian keluarga, para janda pun tidak memiliki pemasukan tetap. Akibatnya, wanita-wanita yang menjadi janda sering dihadapkan pada kesulitan ekonomi (Zulfiana, 2013).
Masalah lain yang juga akan dihadapi oleh wanita yang menjadi janda adalah masalah seksual. Menurut Pangkahila, 2010) mengatakan bahwa kehilangan pasangan dapat menjadi hambatan psikis bagi mereka yang berstatus janda, sehingga dorongan seksual lenyap. Namun seiring dengan perjalanan waktu, setelah mereka mampu menyesuaikan diri dan menerima kenyataan, beban psikis itu perlahan-lahan akan hilang sehingga dorongan seksual mereka akan kembali seperti semula. Tidak adanya tempat untuk penyaluran seksual ini seringkali dapat menimbulkan masalah baru bagi para wanita yang hidup menjanda. Akan tetapi, kebutuhan seks bukan alasan yang utama yang mendorong seorang janda untuk menikah. Mereka menganggap kebutuhan akan hal itu dapat disalurkan lewat kegiatan lain. Dan bagaimana pemenuhannya tergantung kultur sosial dari masing-masing individu (dalam Zulfiana, 2013)
Namun seiring dengan perjalanan waktu masih ada beberapa pandangan negatif tentang seorang wanita yang menjadi janda teurtama dikalangan kelas ekonomi menengah kebawah, dimana mereka biasanya belum dapat menerima kehadiran wanita janda tersebut. Dalam Zulfiana, 2013 masyarakat cenderung menghakimi dan memberi label buruk serta kejam kepada para janda tanpa pernah mau melihat berbagai faktor penyebab atau kondisi perempuan menjanda. Stigma negatif orang terhadap status janda memang tak bisa dihindari. Sebenarnya, stigma janda yang tidak baik lebih banyak beredar di kalangan istri atau perempuan yang takut suaminya direbut atau digoda. Amarah itu muncul karena janda menjadi bahan omongan atau pergunjingan tetangga.
diantaranya untuk mendapatkan cinta, pemenuhan kebutuhan biologis, faktor kebutuhan ekonomi/keuangan, kebutuhan untuk berbagi (sharing emotion). Namun demikian, keputusan untuk menikah lagi ini bukan tanpa resiko karena untuk menikah kembali ini tentunya harus dibarengi dengan keberanian individu yang bersangkutan untuk menghadapi konsekuensi. Banyak masalah yang akan dihadapi terutama jika wanita janda menikah pada pria yang sebelumnya juga sudah pernah berkeluarga dan sudah memiliki anak dari istri pertamanya (dalam Zulfiana, 2013).
Selain itu ada juga beberapa wanita dengan status janda yang disandangnya setelah tsunami lebih memilih untuk untuk tidak menikah kembali. Mereka lebih memilih untuk tidak menikah kembali dengan alasan-alasan tertentu. Seperti karena adanya keberadaan anak. keberadaan anak-anaknya. Pada umumnya anak akan menjadi alasan terkuat bagi seorang janda untuk bertahan sendiri dalam keadaan yang penuh dengan tekanan dan stress. Adanya keinginan yang kuat didalam diri mereka untuk dapat memberikan yang terbaik bagi masa depan anak-anaknya, dan hal ini dapat memberikan kekuatan baru tersendiri bagi seorang janda. Karena bagaimanapun beratnya tekanan yang dirasakan dan dialami oleh seorang janda, tidak akan dapat memengaruhi tekad mereka dalam mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Bagi mereka, anak-anak adalah alasan terkuat mereka untuk tetap bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun. Mereka dapat menjadi tegar dengan berbagai pandangan negatif dan buruk dari orang lain terhadap dirinya dan minimnya penerimaan dari lingkungan sosial berkat anak-anak yang selalu ada untuk memberikan kekuatan pada janda ini. Dalam Solichtun, 2008, resiliensi merupakan sebuah atribut penting yang menjadi perpaduan antara kemampuan-kemampuan dan karakteristik-karakteristik yang berinteraksi secara dinamis untuk memberikan ketegaran individu dalam menghadapi segala tantangan dalam kehidupan secara sukses.
diiringi oleh munculnya problem psikologis jangka panjang yang dapat menghilangkan kesejahteraan hidup wanita tersebut (dalam Solichatun, 2008)
Berdasarkan paparan diatas peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana resiliensi seorang janda pasca tsunami yang lebih memilih untuk tetap sendiri menghidupi dan membesarkan anak-anak mereka setelah kejadian tsunami 24 Desember 2014 yang telah terjadi pada 10 tahun silam.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana resiliensi pada janda pasca tsunami. C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana resiliensi pada janda pasca tsunami.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan nantinya dapat menambah dan memperluas data empiris ilmu psikologi perkembangan dewasa, psikologi konseling, khususnya mengenai resiliensi pada janda pasca tsunami.
Manfaat praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam menentukan arah kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh terkait dengan janda pasca tsunami Kota Banda Aceh.