• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan Variasi Suhu Pengeringan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pembuatan Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan Variasi Suhu Pengeringan"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN LEMBARAN KATODA LiFe

0.7

Mn

0.2

Ni

0.1

PO

4

/C

DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN

SKRIPSI

MEILIA KRISANTI

110801015

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PEMBUATAN LEMBARAN KATODA LiFe

0.7

Mn

0.2

Ni

0.1

PO

4

/C

DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas akhir dan memenuhi syarat mencapai gelar

Sarjana Sains

MEILIA KRISANTI

1108011015

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERNYATAAN

PEMBUATAN LEMBARAN KATODA LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C DENGAN

VARIASI SUHU PENGERINGAN

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan-ringkasan masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Mei 2015

(4)

PENGHARGAAN

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah

memberikan rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelasikan tugas akhir.

Salawat beriring salam teruntuk Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi

teladan dalam menjalani kehidupan.

Tugas akhir ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar

sarjana pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Sumatera Utara. Untuk memenuhi persyaratan tersebut diatas penulis

mengerjakan tugas akhir dengan judul μ “Pembuatan Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C Dengan Variasi Suhu Pengeringan”. Yang

dilaksanakan di laboratorium Baterai Lithium Indonesia dan laboratorium material

Pusat Penelitian Fisika (P2F) LIPI Serpong, Tangerang Selatan sesuai dengan

waktu yang telah di tetapkan. Penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih

kepada:

1. Dr. Marhaposan Situmorang selaku Ketua Departemen Fisika Universitas

Sumatera Utara, Drs. Syahrul Humaidi, MSc. selaku Sekertaris Departemen

Fisika Universitas Sumatera Utara, dan seluruh staf pengajar beserta pegawai

administrasi di Departemen Fisika yang telah memberikan fasilitas kepada

penulis selama perkuliahan.

2. Awan Maghfirah S.Si.,M.Si selaku dosen pembimbing I, Dr. Ir Bambang

Prihandoko,M.T selaku dosen pembimbing II di LIPI, Prof. Dr. Eddy

Marlianto,M.Sc selaku ketua penguji, Drs. Aditia Warman,M.Si. selaku

sekretaris penguji, dan Prof. Dr. Zuriah Sitorus,MS selaku anggota penguji

yang telah memberikan kritik, saran, dan arahan kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.yang telah bersedia meluangkan waktu untuk

membimbing penulis dalam melakukan penelitian dan penyelesaian skripsi

ini.

3. Prof. Pardamean Sebayang, M.S, Slamet Priyono,M.Si dan seluruh staf

(5)

LIPI yang telah memberikan bimbingan, dorongan dan masukan kepada

penulis serta fasilitas kepada penulis selama penelitian.

4. Orangtua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan dukungan moral dan

spiritual kepada penulis.

5. Khairani Nasution, Shelly Maharani, Suci Purnama Sari, Kartika Sari, Yuni

Aulia Umi, Sri Rakhmawati, Leni Daulay dan seluruh mahasiswa Fisika

angkatan 2011 yang memberi dukungan dan bantuan.

6. Rekan-rekan kelompok baterai di Pusat Penelitian Fisika (P2F) LIPI Mas

Eddy, Kak Ali, Kak Resa yang selalu siap membantu saya di laboratorium

baterai.

Penulis berharap tulisan ini dapat memberi manfaat kepada pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang material katoda pada baterai lithium ion. Penulis mengharapkan kritik dan masukan yang membangun atas hasil penelitian ini sebagai

proses perkembangan ilmu pengetahuan.

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Persetujuan i

Pernyataan ii

Penghargaan iii

Abstrak v

Abstract vi

Daftar Isi vii

Daftar Tabel ix

Daftar Gambar x

Daftar Grafik xi

Daftar Lampiran xii

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 2

1.3. Tujuan Penelitian 3

1.4. Manfaat Penelitian 3

1.5. Batasan Masalah 3

1.6. Sistematika Penulisan 4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Baterai Lithium 5

2.2. Prinsip Kerja Baterai Lithium Ion 8

2.3. Bahan Elektroda 9

2.3.1. Material Katoda 9

2.4. Bahan Pembentuk Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C 12 2.4.1. Polyvinyl Difluoride (PVdF) 13 2.4.2. Zat Aditif Acetylene Black (AB) 14 2.4.3. Pelarut N,N DMAC ( Dimethyl-acetamide) 14 2.5. Karakterisasi Material Aktif dan Lembaran Katoda 15 2.5.1. X-Ray Diffraction (XRD) 15 2.5.2. Scanning ElectronMicroscope (SEM) 16

2.6. Karaterisasi Sel Baterai 16

2.6.1. Electrochemical Impedance Spectrometry (EIS) 16 2.6.2. Cyclic Voltammetry (CV) 17

2.6.3. Charge-Discharge 18

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 20

3.2. Peralatan dan Bahan Penelitian 20

3.2.1. Peralatan 20

(7)

3.2.1.2 Alat Karakterisasi 21

3.2.2. Bahan 22

3.3. Prosedur Penelitian 22

3.3.1. Diagram Alir Penelitian 23

3.3.2. Tahap Pembuatan Lembaran Katoda 24 3.3.3. Tahap Assembly Baterai Coin Cell 26

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisa XRD Material Aktif LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C 27 4.2. Hasil Pengujian Morfologi Sampel 29 4.3. Hasil dan Analisa Pengujian EIS 31 4.3.1. Sampel dengan Suhu Pengeringan 60oC 32 4.3.2. Sampel dengan Suhu Pengeringan 70oC 33 4.3.3. Sampel dengan Suhu Pengeringan 80oC 34 4.4. Hasil dan Analisa Pengujian Cyclic Voltammetry (CV) 35 4.4.1. Sampel dengan Suhu Pengeringan 60oC 36 4.4.2. Sampel dengan Suhu Pengeringan 70oC 37 4.4.3. Sampel dengan Suhu Pengeringan 80oC 38 4.5. Hasil dan Analisa Pengujian Charge-Discharge 39 4.5.1. Sampel dengan Suhu Pengeringan 60oC 39 4.5.2. Sampel dengan Suhu Pengeringan 70oC 40 4.5.3. Sampel dengan Suhu Pengeringan 80oC 42

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 44

5.2. Saran 44

DAFTAR PUSTAKA 45

(8)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman Tabel

Tabel 2.1. Karakteristik Elektrokimia Dari Beberapa Material Katoda 12

Tabel 2.2. Sifat umum Lithium Hexafluorophosphate 14 Tabel 2.3. Sifat umum Polyvinylidene Difluoride (PVdF) 16 Tabel 2.2. Sifat Fisik dan Kimia Acetylene Black (AB) 14 Tabel 2.5. Sifat umum N,N DMAC (N,N Dimethyl-acetamide ) 17 Tabel 3.1. Kode sampel variasi pemanasan. 25

Tabel 4.1. Material Aktif LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C 28

Tabel 4.2. Hasil pengukuran konduktifitas pada suhu 60oC 32

Tabel 4.3. Hasil pengukuran konduktifitas pada suhu 70oC 33

Tabel 4.4. Hasil pengukuran konduktifitas pada suhu 80oC 34

Tabel 4.5. Massa material aktif lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C 39

Tabel 4.6. Parameter Pengujian charge-discharge 40 sel baterai LiFe0.7Mn0.2Ni0.1Po4/C suhu 60oC

Tabel 4.7. Parameter Pengujian charge-discharge 41 sel baterai LiFe0.7Mn0.2Ni0.1Po4/C suhu 70oC

(9)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman Gambar

Gambar 2.1. Proses interkalasi pada baterai ion lithium saat 8

charge dan discharge

Gambar 2.2. Tiga model host dari bahan katoda dan anoda 9

Gambar 2.2. Fenomena konduktifitas ionik dan elektronik 10

pada material katoda

Gambar 2.4. Ikatan partikel komposit baterai lithium ion 13

Gambar 2.5. Voltamogram siklik reaksi reduksi-oksidasi 18

Gambar 3.1. Lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C 25

yang telah dikeringkan

Gambar 3.2. Ukuran sel baterai katoda 26

Gambar 3.3. Susunan baterai sekunder berbentuk coin cell 26 Gambar 4.1. Permukaan sampel lembaran katoda 30

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan perbesaran 1000 kali

(a) suhu pengeringan 60oC

(b) suhu pengeringan 70oC dan

(c) suhu pengeringan 80oC

Gambar 4.2. Grafik Cole-Cole plot untuk suhu pengeringan 60oC 32

Gambar 4.3. Grafik Cole-Cole plot untuk suhu pengeringan 70oC 33

Gambar 4.4. Grafik Cole-Cole plot untuk suhu pengeringan 80oC 34

Gambar 4.5. Grafik hubungan onduktifitas material katoda dengan variasi 35

suhu pengeringan.

Gambar 4.6. Kurva sel Li//LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan suhu 36

pengeringan 60oC

Gambar 4.7. Kurva sel Li//LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan suhu 37

(10)

Gambar 4.8. Kurva sel Li//LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan suhu 38

pengeringan 80oC

(11)

DAFTAR GRAFIK

Nomor Judul Halaman Grafik

Grafik 4.1. Hasil uji identifikasi material aktif katoda 27

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Judul Halaman

(13)

PEMBUATAN LEMBARAN KATODA LiFe

0.7

Mn

0.2

Ni

0.1

PO

4

/C

DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian pembuatan lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang akan digunakan sebagai katoda pada sel baterai lithium ion. Bahan yang dipergunakan adalah serbuk material aktif LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang berfungsi sebagai filler, sedangkan bahan polimer polyvynilidene flouride (PVdF) sebagai matrik, bahan aditif konduktif yaitu acetylene black dan pelarut DMAC dengan perbandingan komposisi 85 : 10 : 5. Teknik pembuatan menggunakan metoda

doctor blade. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan optimasi suhu pengeringan

dalam pembuatan lembaran katoda dengan melakukan variasi suhu pengeringan 60oC,70oC dan 80oC. Identifikasi fasa yang terbentuk dari serbuk material aktif katoda dilakukan dengan X-ray Diffraction (XRD). Struktur morfologi lembaran dengan SEM. Pengujian performa lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C sebagai sel katoda baterai lithium ion dibentuk dalam coin cell. Dari penelitian ini didapatkan konduktifitas tertinggi yang diukur dengan alat Electrochemical

Impedance Spectroscopy (EIS) adalah 3,1 x 10-5 S/cm dihasilkan dari suhu

pengeringan 80oC. Hasil uji cyclic voltammetry lembaran katoda memiliki siklus

reversible dengan memiliki kemampuan untuk proses oksidasi-reduksi. Pengujian

charge/discharge pada suhu pengeringan 80oC menunjukkan spesifik kapasitas

discharge sebesar 4,1 mAh/g. Sel baterai juga menunjukkan tegangan sel

mencapai 4,4 V.

(14)

PREPARATION OF LiFe

0.7

Mn

0.2

Ni

0.1

PO

4

/C CATHODE SHEETS

WITH VARIOUS OF DRYING TEMPERATURE

ABSTRACT

A research on the preparation of LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C cathode sheets wich will

be used as cathode of lithium-ion battery has been conducted. The starting

materials are active material powder of LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C as filler, whereas

the polymer material PVdF as matrix, conductive additives are acetylene black and DMAC solvent with composition ratio of 85 : 10 : 5. The samples were prepared by using doctor blade methode. Research has been done to get optimum drying temperature in the fabrication of cathode sheets by doing a variety of

drying temperature is 60oC, 70oC and 80oC. Identification phase from the active

material powder of cathode was done by X-ray Diffraction (XRD). Morphological structure sheet with SEM. Testing the performance of the cathode sheets

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C as cell lithium ion battery cathode formed in the coin cell.

The research showed that the LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C cathode sheets has a highest

conductivity was 3,1 x 10-5 S/cm on drying temperature of 80oC. The test results of

cyclic voltammetry cathode sheets have a reversible cycle with the ability for

oxidation-reduction process. Battery performance was analyzed by

charge/discharge capacity test. The drying temperature of 80°C showed discharge

specific capacity of LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C is 4,1 mAh/g. Battery cells also

showed a cell voltage reached 4.4 V.

(15)

PEMBUATAN LEMBARAN KATODA LiFe

0.7

Mn

0.2

Ni

0.1

PO

4

/C

DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian pembuatan lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang akan digunakan sebagai katoda pada sel baterai lithium ion. Bahan yang dipergunakan adalah serbuk material aktif LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang berfungsi sebagai filler, sedangkan bahan polimer polyvynilidene flouride (PVdF) sebagai matrik, bahan aditif konduktif yaitu acetylene black dan pelarut DMAC dengan perbandingan komposisi 85 : 10 : 5. Teknik pembuatan menggunakan metoda

doctor blade. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan optimasi suhu pengeringan

dalam pembuatan lembaran katoda dengan melakukan variasi suhu pengeringan 60oC,70oC dan 80oC. Identifikasi fasa yang terbentuk dari serbuk material aktif katoda dilakukan dengan X-ray Diffraction (XRD). Struktur morfologi lembaran dengan SEM. Pengujian performa lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C sebagai sel katoda baterai lithium ion dibentuk dalam coin cell. Dari penelitian ini didapatkan konduktifitas tertinggi yang diukur dengan alat Electrochemical

Impedance Spectroscopy (EIS) adalah 3,1 x 10-5 S/cm dihasilkan dari suhu

pengeringan 80oC. Hasil uji cyclic voltammetry lembaran katoda memiliki siklus

reversible dengan memiliki kemampuan untuk proses oksidasi-reduksi. Pengujian

charge/discharge pada suhu pengeringan 80oC menunjukkan spesifik kapasitas

discharge sebesar 4,1 mAh/g. Sel baterai juga menunjukkan tegangan sel

mencapai 4,4 V.

(16)

PREPARATION OF LiFe

0.7

Mn

0.2

Ni

0.1

PO

4

/C CATHODE SHEETS

WITH VARIOUS OF DRYING TEMPERATURE

ABSTRACT

A research on the preparation of LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C cathode sheets wich will

be used as cathode of lithium-ion battery has been conducted. The starting

materials are active material powder of LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C as filler, whereas

the polymer material PVdF as matrix, conductive additives are acetylene black and DMAC solvent with composition ratio of 85 : 10 : 5. The samples were prepared by using doctor blade methode. Research has been done to get optimum drying temperature in the fabrication of cathode sheets by doing a variety of

drying temperature is 60oC, 70oC and 80oC. Identification phase from the active

material powder of cathode was done by X-ray Diffraction (XRD). Morphological structure sheet with SEM. Testing the performance of the cathode sheets

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C as cell lithium ion battery cathode formed in the coin cell.

The research showed that the LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C cathode sheets has a highest

conductivity was 3,1 x 10-5 S/cm on drying temperature of 80oC. The test results of

cyclic voltammetry cathode sheets have a reversible cycle with the ability for

oxidation-reduction process. Battery performance was analyzed by

charge/discharge capacity test. The drying temperature of 80°C showed discharge

specific capacity of LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C is 4,1 mAh/g. Battery cells also

showed a cell voltage reached 4.4 V.

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebutuhan akan energi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan

kebutuhan manusia akan teknologi tersebut. Maka penelitian dan pengembangan

terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan sumber energi terus mengalami

perkembangan. Pengembangan energi terbarukan baik sebagai pembangkit listrik,

transportasi maupun perangkat elektronik membutuhkan perangkat penyimpanan

energi berkapasitas besar, ringan , bahan baku mudah diperoleh,ekonomis dan

ramah lingkungan.

Baterai lithium merupakan piranti penyimpanan energi yang saat ini

banyak menjadi bahan penelitian karena mempunyai kapasitas penyimpanan yang

optimal. Baterai lithium mempunyai optimasi pemakaian sampai 80 % dari

kemampuannya, ringan, tidak ada memory effect dan tahan lama. (Linden,2002). Pengaplikasian baterai lithium sekarang sering digunakan dalam perangkat

elektronik portabel, 57,4% pada ponsel, 31,5% pada komputer notebook dan 7,4%

pada kamera. Aplikasi baterai ion Li juga telah dikembangkan pada bidang

lainnya, termasuk kendaraan listrik hibrida, aplikasi ruang angkasa, kendaraan

militer dan lainnya ( Wu, 2011 ).

Pemilihan material katoda yang tepat sangat penting dalam pembuatan

lembaran katoda baterai lithium ion serta perlakuan yang khusus akan dihasilkan

baterai lithium dengan kapasitas tinggi, ramah lingkungan dan ekonomis. Baterai

lithium yang mudah ditemui saat ini memiliki bahan katoda dari LiCoO2 dan

LiMn2O4. LiCoO2 memiliki kapasitas tertinggi ( 275 mAh/g) ( Linden,2002).

Namun demikian, LiCoO2 tidak ramah lingkungan karena mengandung

logam berat, mudah menghasilkan gas O2 sehingga mudah terbakar. Hal ini tidak

memenuhi syarat untuk diaplikasikan pada kendaraan listrik. Material katoda

lainnya yang sedang banyak dilakukan penelitian salah satunya adalah senyawa

phosphate (LiMPO4). Contoh dari senyawa ini adalah LiFePO4. Alasan pemilihan

(18)

dibandingkan material katoda lain diantaranya seperti biaya pembuatan lebih

murah karena bahan pembentuknya mudah didapatkan dialam, tidak beracun,

kapasitas sedang (170 mAh/g), sangat reaktif, densitas energi yang tinggi, dan

ramah lingkungan ( Padhi, 2002 ). Namun material katoda LiFePO4 hanya

memiliki tegangan sel 3,5 V dan konduktifitas rendah yaitu 10-9 S/cm.Kelemahan

ini dapat diatasi dengan melakukan penambahan unsur lain. (Triwibowo,2011)

Senyawa phosphate lainnya adalah LiMnPO4 dan LiNiPO4.Material ini dilaporkan mampu menghasilkan voltase yang tinggi, yaitu masing-masing 4,1

dan 5 V, lebih tinggi dibandingkan LiFePO4 (3.5 V).(Sanusi, 2010). Berdasarkan

uraian diatas, dilakukan penelitian pembuatan lembaran katoda dengan variasi

suhu pengeringan. Pemilihan material katoda pada penelitian ini yaitu serbuk

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang merupakan paduan LiFePO4, LiMnPO4 dan

LiNiPO4. Material katoda dengan senyawa LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C berhasil

disintesa oleh Elma (2015) melalui metalurgi serbuk. Diharapkan menghasilkan

voltase yang cukup tinggi. Dengan tingginya voltase yang dihasilkan dapat

mengurangi jumlah baterai yang dibutuhkan. Dalam proses pembuatan lembaran

elektroda ada beberapa parameter yang harus diperhatikan seperti komposisi

bahan, viskositas slurry,lama pemanasan dan suhu pengeringan. Parameter-parameter ini yang mempengaruhi karakteristik lembaran elektroda.(Padhi,1997)

Dilakukan variasi suhu pengeringan diharapkan dapat diketahui suhu

optimal pada proses pembuatan lembaran dan melihat pengaruh suhu terhadap

kualitas lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C.Karakterisasi lembaran yang

digunakan dalam penelitian ini dengan alat SEM dan untuk mengetahui performa

lembaran LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C sebagai katoda baterai lithium ion dibentuk

dalam coin cell dengan anoda lithium metal dan LiPF6 sebagai elektrolit dan diuji dengan alat Electrochemical Impedance Spectrometry, cyclic voltammetry dan charge/discharge

1.2.Perumusan Masalah

Permasalahan penelitian ini adalah untuk mengefisiensikan jumlah baterai lithium

ion yang digunakan maka dilakukan pembuatan lembaran katoda dengan material

(19)

Sehingga nantinya dihasilkan lembaran katoda yang dapat meningkatkan

performa dari sel baterai lithium ion.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui dan menganalisis serbuk material aktif LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

sebagai bahan baku pembuatan lembaran katoda terhadap tegangan sel

baterai lithium ion.

2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh suhu pengeringan dalam

pembuatan lembaran katoda terhadap karakteristik morfologi lembaran

katoda.

3. Mengetahui dan menganalis performa elektrokimia sel baterai pada katoda

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan kurva Electrochemical Impedance Spectrometry, cyclic voltammetry dan charge-discharge.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap

pengembangan baterai lithium ion diantaranya :

1. Memberikan informasi ilmiah cara pembuatan lembaran katoda

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C.

2. Mendapatkan suhu pengeringan optimal pada pembuatan lembaran katoda

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C.

3. Memberikan informasi sebagai pengembangan pengetahuan pada

penelitian lanjutan khususnya bidang material energi terbarukan.

1.5. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Variasi suhu pengeringan lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yaitu

60oC,70oC dan 80oC.

2. Karakterisasi lembaran dilakukan pengujian dengan alat SEM dan uji

performa baterai coin cell dengan alat Electrochemical Impedance

(20)

1.6. Sistematika Penulisan

Laporan tugas akhir ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.

Bab 2 Tinjauan Pustaka

Bab ini membahas tentang landasan teori yang menjadi acuan untuk proses

pengembilan data, analisa data serta pembahasan.

Bab 3 Metodologi Penelitian

Bab ini membahas tentang rancangan penelitian, tempat dan waktu

penelitian, peralatan dan bahan penelitian, prosedur penelitian serta

diagram alir penelitian.

Bab 4 Hasil dan Pembahasan Penelitian

Bab ini membahas tentang data hasil penelitian dan analisa data yang

diperoleh dari penelitian.

Bab 5 Kesimpulan dan Saran

Bab ini menyajikan kesimpulan dari seluruh kegiatan dan hasil penelitian

dan berisi saran-saran yang diperlukan untuk pengembangan dan

penelitian lebih lanjut.

Daftar Pustaka

Berisi tentang literatur yang digunakan sebagai referensi dalam penulisan

(21)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Baterai Lithium

Baterai lithium merupakan salah satu jenis baterai sekunder (rechargeable

battery) yang dapat diisi ulang dan merupakan baterai yang ramah lingkungan

karena tidak mengandung bahan yang berbahaya seperti baterai-baterai yg

berkembang lebih dahulu yaitu baterai NI-Cd dan Ni-MH. Baterai ini memiliki

kelebihan dibandingkan baterai sekunder jenis lain, yaitu memiliki stabilitas

penyimpanan energi yang sangat baik ( daya tahan sampai 10 tahun atau lebih),

energi densitas tinggi, tidak ada memori efek dan berat yang relatif lebih ringan

dibandingkan dengan baterai jenis lain. Sehingga dengan berat yang sama energi

yang dihasilkan baterai lithium dua kali lipat dari baterai jenis lain. (Lawrence et al. 1992).

Jenis baterai ini pertama kali diperkenalkan oleh peneliti dari Exxon yang

bernama M. S. Whittingham yang melakukan penelitian dengan judul “Electrical

Energy Storage and Intercalation Chemistry” pada tahun 1970. Beliau

menjelaskan mengenai proses interkalasi pada baterai litium ion menggunakan

titanium (II) sulfide sebagai katoda dan logam litium sebagai anoda. Proses

interkalasi adalah proses perpindahan ion lithium dari anoda ke katoda dan

sebaliknya pada baterai lithium ion. Baterai lithium terdiri elektroda, elektrolit,

separator dan terminal/ current collector. Pembagian komponen sel baterai adalah :

1. Elektroda Negatif (Anoda)

Anoda merupakan elektroda negatif yang berkaitan dengan reaksi oksidasi

setengah sel yang melepaskan elektron ke dalam sirkuit eksternal. (Subhan,2011).

Anoda berfungsi sebagai tempat pengumpulan ion lithium serta merupakan

tempat bagi material aktif, dimana lembaran pada anoda biasanya berupa tembaga

(Cu foil). Material yang dapat dipakai sebagai anoda harus memiliki karakteristik antara lain memiliki kapasitas energi yang besar, memiliki profil kemampuan

(22)

pemakaian yang lama, mudah untuk di proses, aman dalam pemakaian (tidak

mengandung racun) dan harganya murah. Anoda yang dipilih dalam penelitian ini

adalah lithium metal. Lithium metal merupakan bahan anoda ideal untuk baterai

isi ulang karena kapasitas secara teoritis memiliki spesifik sangat tinggi 3.86

Ah/g, memiliki tegangan kerja rendah. Selain itu Keuntungan menggunakan

logam lithium sebagai anoda adalah pereduksi yang baik, sangat elektropositif,

stabilitas mekanik yang baik, dan mudah fabrikasi.( Wakihara.M et al. 1998).

2. Elektroda Positif ( Katoda)

Katoda merupakan elektroda positif, dimana terjadi reaksi setengah sel yaitu

reaksi reduksi yan menerima elektron dari sirkuit luar sehingga reaksi kimia

reduksi terjadi pada elektroda ini. (Subhan, 2011). Pada dasarnya katoda

merupakan elektroda yang fungsinya sama seperti anoda yaitu berfungsi sebagai

tempat pengumpulan ion lithium serta merupakan tempat bagi material aktif,

dimana lembaran pada katoda biasanya adalah aluminium (Al foil).

Beberapa karakteristik yang harus dipenuhi suatu material yang digunakan

sebagai katoda antara lain material tersebut terdiri dari ion yang mudah

melakukan reaksi reduksi dan oksidasi, memiliki konduktifitas yang tinggi seperti

logam,memiliki kapasitas energi yang tinggi, memiliki kestabilan yang tinggi

(tidak mudah berubah strukturnya atau terdegradasi baik saat pemakaian maupun

pengisian ulang), harganya murah dan ramah lingkungan. Material yang pertama

kali digunakan sebagai katoda adalah LiCoO2, kerapatan energi yang dimilikinya

sebesar 140 Ah/kg namun material ini sudah jarang di gunakan karena

kestabilannya rendah dan harga relatif mahal. Material lain yang saat ini sedang

dikembangkan peneliti sering digunakan sebagai katoda yaitu LiMPO4(M = Fe,

Mn, Ni dan Co ) (Subhan,2011).

3. Elektrolit

Elektrolit merupakan material yang bersifat penghantar ionik. Fungsi elektrolit

ialah sebagai media untuk mentransfer ion lithium antara katoda dan anoda. Ada

beragam jenis elektrolit seperti cair, padat, polimer dan komposit elektrolit.

Elektrolit yang banyak digunakan pada baterai lithium adalah elektrolit cair yang

(23)

penting dalam suatu elektrolit adalah interaksi antara elektrolit dan elektroda pada

baterai. Hubungan dua bahan ini akan mempengaruhi kinerja baterai secara

signifikan. (Fadhel, 2009).

Elektrolit yang dipilih dalam penelitian ini adalah LiPF6 (Lithium

hexafluorophosphate). Ini adalah bubuk kristal putih. Hal ini digunakan dalam

baterai sekunder komersial, sebuah aplikasi yang memanfaatkan kelarutan tinggi

dalam pelarut nonpolar.Memiliki densitas 1.5 g/cm3 dan titik leleh 200 oC (392 oF;

473 K).

4. Separator

Separator adalah material berpori yang terletak di antara anoda dan katoda dan

diaplikasikan sebagai penjamin faktor keamanan baterai. Karakteristik yang

penting untuk dijadikan separator pada baterai yaitu bersifat insulator, memiliki

hambatan listrik yang kecil, kestabilan mekanik (tidak mudah rusak), memiliki

sifat hambatan kimiawi untuk tidak mudah terdegradasi dengan elektrolit serta

memiliki ketebalan lapisan yang seragam atau sama diseluruh

permukaan.(Subhan, 2011)

Beberapa material yang dapat digunakan sebagai separator antara lain

polyolefins (PE dan PP), Polyvinylidene fluoride (PVDF), PTFE (teflon), PVC,

dan polyethylene oxide. Pada penelitian ini separator yang digunakan adalah

Polyethylene.Polyethylene memiliki sifat meleleh pada suhu diatas 120-130 oC.

Apabila panas yang dihasilkan didalam baterai melewati ambang batas,

polyethylene akan melelah dan menutup lubang pada separator, mengakibatkan

proses perpindahan lithium ion berhenti. (Patel et al.2003)

5. Current Collector

Alumunium foil pada lembaran katoda dan Cupper foil pada lembaran anoda digunakan sebagai current collector ( pengumpul arus ) pada baterai ion lithium. Alumunium adalah logam yang tahan korosi, konduktor yang cukup baik dan

memiliki densitas yang ringan sebesar 2,643 kg/m3. Sedangkan tembaga (Cu)

merupakan logam yang memiliki densitas 8,906 kg/m3 dan bersifat konduktor

(24)

Standart potensial pada Alumunium foil pada suhu 25 0C yaitu –1,66 V sedangkan pada Cupper foil sebesar sebesar 0,52 V(Linden,2002)

2.2. Prinsip Kerja Baterai Lithium Ion.

Dalam kondisi charge dan discharge baterai ion lithium bekerja menurut fenomena interkalasi, yaitu proses pelepasan ion lithium dari tempatnya di

struktur kristal suatu bahan elektroda dan penyisipan ion lithium pada tempat di

struktur kristal bahan elektroda yang lain ( Prihandoko, 2010 ).

Proses interkalasi pada baterai ion lithium saat charge dan discharge dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Proses interkalasi pada baterai ion lithium saat charge dan discharge (Nakanishi, 2014 ).

Selama proses charge baterai, terjadi pergerakan ion lithium dari elektroda positif (katoda) melalui seperator dan elektrolit ke elektroda negatif (anoda). Baterai

menyimpan energi selama proses ini (densitas energi). Selama discharge, ion lithium bergerak dari elektroda negatif (anoda) ke elektroda positif (katoda)

melalui seperator dan elektrolit, menghasilkan densitas daya pada baterai.

Dalam proses interkalasi elektron mengalir dalam arah yang sama dengan

ion di sekitar sirkuit luar. Pergerakan ion dan elektron adalah proses yang saling

berhubungan dan jika salah satu dari mereka berhenti maka yang lain juga

berhenti.Reaksi yang terjadi pada sistem baterai ion lithium merupakan reaksi

(25)

adalah reaksi penambahan elektron oleh suatu molekul atau atom sedangkan

reaksi oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron pada suatu molekul atau atom.

2.3. Bahan Elektroda

Pemilihan kombinasi material katoda dan anoda dilakukan sedemikian rupa

hingga didapatkan beda potensial yang tinggi. Pemilihan material elektroda

dengan kapasitas listrik yang besar sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan

sel baterai dengan power yang memadai. Mengingat elektron akan dilepaskan/ terima oleh elektroda saat pengoperasian baterai, maka material katoda dan anoda

juga harus bersifat elektron konduktif. Berbeda dengan material elektrolit yang

merupakan media transfer ion, material ini harus bersifat ion konduktif semata.

Sifat terakhir ini diperlukan agar tidak terjadi hubungan pendek antara katoda dan

anoda yang menyebabkan terbuangnya energi listrik yang tersimpan berupa panas.

Suatu material elektrokimia dapat berfungsi dengan baik sebagai elektroda

anoda maupun katoda bergantung pada pemilihan material yang akan menentukan

karakteristik perbedaan nilai tegangan kerja dari kedua material yang dipilih.

Untuk memperoleh perbedaan potensial yang besar maka material katoda harus

memiliki tegangan kerja yang besar dan material anoda harus memiliki tegangan

kerja yang kecil (~0). Keunggulan bahan anoda dan katoda terletak pada stabilitas

kristal dalam proses interkalasi. Pada umumnya bahan mempunyai tiga

kategori/model dalam melakukan interkalasi, yaitu interkalasi dalam satu dimensi,

dua dimensi dan tiga dimensi, seperti Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Tiga model host dari bahan katoda dan anoda (Munshi,1995)

2.3.1. Material Katoda

Dalam teknologi baterai lithium ion, tegangan sel dan kapasitasnya sangat

(26)

migrasi lithium. Untuk setiap berat material katoda, jumlah ion lithium yang

dilepaskan material katoda saat charge dan jumlah ion lithium yang kembali dalam waktu tertentu ke material katoda saat discharge menggambarkan densitas energi dan densitas power sel baterai. ( Triwibowo,2011)

Semakin banyak ion Lithium dipindahkan dari katoda ke anoda maka

semakin besar pula densitas energi sel baterai. Semakin banyak ion lithium yang

kembali ke katoda dari anoda setiap detiknya, maka semakin besar densitas

power-nya. Performa/rate capability sel baterai sangat bergantung pada kondisi transfer muatan/charge transfer. Mekanisme ini berkaitan erat dengan proses difusi dan konduktifitas elektronik dan ionik dari komponen pembentuk sel

baterai. Berbeda dengan material elektrolit yang semata-mata hanya memfasilitasi

ion lithium menyeberang dari katoda ke anoda dan sebaliknya, hingga harus

bersifat konduktif ionik saja. ( Triwibowo,2011)

Material katoda tidak saja harus bersifat konduktif ionik, namun juga

harus bersifat konduktif elektronik. Saat proses charge ion lithium akan dilepaskan dari kathoda ke anoda melalui elektrolit, dengan begitu katoda harus

bersifat konduktif ionik. Bersamaan dengan itu elektron akan dilepaskan melewati

rangkaian luar menuju anoda, ini berarti katoda juga harus bersifat konduktif

elektronik. Proses ini diilustrasikan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3. Fenomena konduktifitas ionik dan elektronik pada material katoda

( Park et al.2010 )

Beberapa karakteristik yang harus dipenuhi suatu material yang digunakan

(27)

1. Material tersebut terdiri dari ion yang mudah melakukan reaksi reduksi

dan oksidasi.

2. Memiliki konduktifitas yang tinggi seperti logam.

3. Memiliki kerapatan dan kapasitas energi yang tinggi.

4. Memiliki kestabilan yang tinggi (tidak mudah berubah strukturnya atau

terdegradasi baik saat pemakaian maupun pengisian ulang), harganya

murah dan ramah lingkungan. ( Ohzuku.T,1994)

Pada material katoda dikenal struktur NASICON (Na-Super Ionic

Conductive), Spinel dan Olivine. Pada struktur NASICON, Li-ion dapat

berinterkalasi dalam 2 arah, pada Spinel 3 arah, sementara pada struktur Olivine

Li-ion berinterkalasi dalam 1 arah.Bahan katoda konvensional mencakup senyawa

lapisan oksida LiMO2 (M adalah logam yang dapat berupa Co, Ni, Mn, dll),

senyawa spinel LiM2O4 (M = Mn, dll), dan senyawa olivine LiMPO4 (M = Fe,

Mn, Ni, Co,dll). Sebagian besar penelitian yang dilakukan berkisar pada

bahan-bahan dan turunannya. (Buchmann,2001)

Material katoda yang sedang banyak dilakukan penelitian salah satunya

adalah senyawa phosphate (LiMPO4). Contoh dari senyawa ini adalah LiFePO4. senyawa ini memiliki kestabilan yang baik pada temperature tinggi, relatif lebih

murah dibandingkan material katoda lainnya. Senyawa phosphate lainnya adalah LiMnPO4 dan LiNiPO4. Material ini dilaporkan mampu menghasilkan voltase

yang tinggi, yaitu masing-masing 4.1 dan 5 V , lebih tinggi dibandingkan

LiFePO4 (3.5 V), namun sayangnya memiliki kapasitas energi yg rendah.

(Padhi,1997).Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan konduktifitas

sekaligus memperbaiki performa baterai, termasuk didalamnya untuk mencapai

nilai teoritik kapasitas baterai. Cara yang umum dilakukan diantaranya adalah :

1. Memberikan lapisan karbon pada butir serbuk material katoda/carbon

coating. Dengan cara ini konduktifitas elektronik akan meningkat.

2. Doping dengan elemen hingga terbentuk defects dalam struktur kristal dimana lithium ion dapat dengan mudah berinterkalasi dalam jumlah yang

besar kedalam host material.

3. Pemilihan material matriks yang tepat sesuai dengan peruntukannya,

(28)

Karakteristik material katoda senyawa phosphate LiMPO4 (M = Fe, Mn, Ni dan

Co) dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Karakteristik Elektrokimia dari beberapa material katoda.

Katoda LiFePO4 LiMnPO4 LiNiPO4 LiCoPO4

Potential (V) 3,5 4 5,1 4,7

Specific capacity ( mAh/g)

169 160 140 170

Konduktifitas

( S/cm)

10-9 <10-10 10-14 10-9

Sumber : (Sanusi,2010)

Penelitian ini memadukan LiFePO4, LiMnPO4 dan LiNiPO4 yang telah

disintesis oleh Elma (2015) untuk menghasilkan voltase dan kapasitas energi yang

cukup tinggi. Campuran ini diharapkan merupakan salah satu calon kuat bahan

katoda baterai litium ion. Dengan tingginya voltase yang dihasilkan dapat

mengurangi jumlah baterai yang dibutuhkan.

2.4. Bahan Pembentuk Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

Sel baterai lithium ion yang dilakukan adalah solid polymer battery. Sel baterai ini dihasilkan dengan membuat komposit yang terdiri dari polimer sebagai matrix dan serbuk katoda sebagai filler. Material komposit merupakan gabungan dari dua material yang memiliki fasa yang berbeda menjadi sebuah material yang baru

dengan properties yang lebih baik dari keduanya. (Gibson, 1994)

Material komposit terdiri dari dua bagian utama yang saling menyatu

menjadi satu kesatuan yaitu :

1. Matriks, dapat berasal dari logam, keramik, atau polimer. Matriks

berfungsi sebagai pengikat dari penguat, melindungi penguat dari

kerusakan permukaan, dan juga memisahkan penguat yang satu dengan

yang lainnya. Matriks polimer yang digunakan harus bersifat penghantar

listrik, memiliki struktur dan senyawa yang stabil terhadap bahan elektroda

dan elektrolit. (Gibson, 1994)

(29)

yang terdapat dalam komposit. Dengan adanya penambahan penguat pada

material komposit maka sifat mekanis dari material komposit tersebut akan

meningkat. (Gibson, 1994).

Pada penelitian ini lembaran katoda terdiri dari serbuk LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

sebagai filler, AB sebagai zat aditif, PVdF sebagai matriks polimer, dan DMAC

sebagai pelarut.

2.4.1. Polyvinyl Diflouride (PVdF)

Binder adalah bagian penting dari formulasi elektroda pada baterai ion lithium

karena binder mempertahankan struktur fisik elektroda, tanpa binder elektroda akan berantakan. (Liu et al.2009). PVdF adalah polimer saat ini banyak digunakan oleh produsen baterai Li-ion sebagai bahan pengikat, terutama di katoda. PVdF

memiliki titik leleh 141oC. Pada suhu tinggi binder meggembungkan dalam

elektrolit melebihi ambang batas, kontak listrik antara material aktif dan anoda

akan hilang, maka pada saat itu kapasitas pun akan mengecil.

Fungsi kerja PVdF sebagai pengikat berperan penting dalam hal

membantu menjaga integritas elektroda, juga memberikan kontak intim antara

partikel aditif konduktif untuk meningkatkan konduktifitas elektronik dan

peningkatan antarmuka antara binder dan filler. Ikatan antara material aktif, PVdF dan AB dapat dilihat pada Gambar 2.4. PVdF membutuhkan NMP (N Methyl

2-pirolidon) atau DMAC sebagai pelarut kemudiam dicampur dengan bahan

penyimpanan lithium aktif seperti grafit, silikon, timah, LiCoO2, LiMn2O4 atau

LiFePO4 dan aditif konduktif seperti karbon nanofibers hitam atau karbon. (Liu et al.2009).

(30)

2.4.2. Zat aditif Acetylene Black (AB)

Penambahan carbon black pada polimer termoplastik seperti acetylene black dapat menciptakan sebuah material komposit yang memiliki kekuatan yang baik,

tetapi juga memiliki konduktifitas listrik yang baik. Jumlah karbon biasanya

digunakan adalah di bawah 10% berat dari total massa elektroda. (Liu et al. 2009). Penggunaan acetylene black didalam baterai memiliki beberapa keunggulan yaitu dari absorpsi yang tinggi dan bersifat konduktif sehingga

acetylene black digunakan untuk mempertahankan larutan elektrolit dalam banyak

baterai kering dan meningkatkan konduktivitas listrik dari elektroda baterai.

Karakteristik acetylene black dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Sifat Fisik dan Kimia Acetylene Black (AB) Parameter Nilai Ukuran partikel 0.042 µm Warna Hitam Densitas 1.75 g/cc Titik lebur 116 - 180 °C Modulus elastisitas 0.180 - 7.00 GPa Kristalisasi suhu 12.0 - 146 °C Sumber : (Liu et al. 2009)

2.4.3. Pelarut N,N DMAC (N,N Dimethyl-acetamide )

N-N Dimethylacetamide (DMAC) adalah pelarut yang kuat yang memiliki titik

didih tinggi,titik beku dan stabilitas yang baik. DMAC pada dasarnya netral,

pelarut dengan konstanta dielektrik yang tinggi. DMAC adalah pelarut yang

mudah menguap, bersifat racun dan dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan

mata.

Selain itu pelarut DMAC tidak reaktif dalam reaksi kimia dan juga

memiliki konstanta dielektrik yang tinggi, DMAC benar-benar larut dalam air,

eter, ester, keton, senyawa aromatik dan senyawa alifatik tidak jenuh. DMAC

memiliki kestabilan yang bagus, dan tidak akan mengalami degradasi dan

perubahan warna jika dipanaskan dibawah suhu 3500C.DMAC memiliki titik leleh

(31)

2.5. Karakterisasi Material Aktif dan Lembaran Katoda 2.5.1. X-Ray Diffraction (XRD)

Difraksi sinar – X digunakan untuk mengidentifikasi struktur kristal suatu padatan

dengan membandingkan nilai jarak d (bidang kristal) dan intensitas puncak

difraksi dengan data standar. Sinar- x merupakan radiasi elektromagnetik dengan

panjang gelombang sekitar 100 pm yang dihasilkan dari penembakan logam

dengan elektron berenergi tinggi. Melalui analisi XRD diketahui dimensi kisi (d =

jarak antar kisi) dalam struktur material. Sehingga dapat ditentukan apakah suatu

material mempunyai kerapatan yang tinggi atau tidak, dan difraksi sinar-x suatu

kristal. Hal ini dapat diketahui dari persamaan Bragg yaitu nilai sudut difraksi

yang berbanding terbalik dengan nilai jarak d (jarak antar kisi) dalam kristal.

Sesuai dengan persamaan Bragg :

n = βd sin (2.1) dengan : d = jarak antar kristal

= sudut pengukuran (sudut difraksi)

= panjang gelombang sinar-X

n = urutan sinar ( dalam bilangan bulat)

Prinsip dasar dari XRD adalah hamburan elektron yang mengenai

permukaan kristal. Bila sinar dilewatkan ke permukaan kristal, sebagian sinar

tersebut akan terhamburkan dan sebagian lagi akan di teruskan ke lapisan

berikutnya. Sinar yang dihamburkan akan berinterferensi,inilah yang digunakan

untuk menganalisis. (Nuffield, 1966)

Difraksi sinar-X hanya akan terjadi pada sudut tertentu sehingga suatu zat

akan mempunyai pola difraksi tertentu. Pengukuran kristalinitas relatif dapat

dilakukan dengan membandingkan jumlah tinggi puncak pada sudut-sudut

tertentu dengan jumlah tinggi puncak pada sampel standar.

Didalam kisi kristal, tempat kedudukan sederetan ion atau atom disebut

bidang kristal. Bidang kristal ini berfungsi sebagai cermin untuk merefleksikan

sinar-X yang datang. Posisi dan arah dari bidang kristal ini disebut indeks Miller.

Setiap kristal memiliki bidang kristal dengan posisi dan arah yang khas, sehingga

jika disinari dengan sinar-X pada analisis XRD akan memberikan difraktogram

(32)

Dari data XRD yang di peroleh, dilakukan identifikasi puncak-puncak

grafik XRD dengan cara mencocokkan puncak yang ada pada grafik tersebut

dengan database ICCD. Setelah itu, dilakukan refinement pada data XRD dengan

menggunakan metode Analisis Rietveld yang terdapat pada program RIETAN.

Melalui refinement tersebut, fase beserta struktur, space group,dan parameter kisi yang ada pada sampel yang diketahui.

2.5.2. Scanning ElectronMicroscope (SEM)

SEM dilakukan untuk melihat keterikatan serbuk,impurity dan porositas dari

komposit baterai.Analisa morfologi dari hasil perlakuan panas pada benda uji

harus dilakukan untuk melihat sejauh mana proses perekatan komposisi bahan

pada lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C. Analisa dilakukan dengan

menggunakan alat SEM ( Scanning Electron Microscope).

Prinsip kerja SEM adalah difraksi elektron, yaitu dengan cara

menembakkan permukaan benda dengan berkas elektron berenergi tinggi pada

permukaan sampel. Kemudian berkas elektron yang mengenai permukaan sampel

akan menghasilkan pantulan berupa berkas elektron sekunder yang memancarkan

kesegala arah. Berkas elektron sekunder yang memancar kesegala arah ini akan

tertangkap oleh detektor. Kemudian informasi dari detektor dilanjutkan ke

transducer yang berfungsi mengubah signal menjadi image. Image yang

tergambar diperoleh dari berkas elektron sekunder yang terpancar secara acak

sehingga dapat memberikan informasi morfologi permukaan. (Prihandoko, 2008)

2.6. Karakterisasi Sel Baterai

2.6.1. Electrochemical Impedance Spectrometry (EIS)

Pergerakan elektron dan ionik dalam baterai lithium dapat diamati secara

elektrokimia dengan menggunakan metode EIS (Electrochemical Impedance

Spectrometry). Impedansi elektrokimia biasa diukur dengan menggunakan sebuah

tegangan AC(U) pada sebuah sel elektrokimia dan mengukur arus listrik yang

melalui sel. Arus massa dalam elektrolit dipengaruhi oleh besaran frekuensi,

dimana kontrol kinetik sangat menonjol ketika frekuensi rendah.

(33)

Rtot, maka kita harus mendapatkan Z” (Z imajiner) = 0 dengan cara melakukan

ekstrapolasi membentuk setengah lingkaran. Impedansi menjelaskan ukuran

penolakan terhadap arus bolak balik. Impedansi memperluas konsep resistansi

listrik sirkuit AC. Dalam koordinat kartesius,maka

Z = R + jX (2.2)

Dimana bagian nyata dari impedansi adalah resistansi (R) dan bagian imajiner

reaktansi (X). Dalam satuan SI adalah ohm.Dari nilai Z = Rtot ini, kita dapat

menentukan konduktifitas bahan dengan menggunakan persamaan :

R = ρ (2.3)

dengan

R = Resistivitas bahan (ohm)

ρ = Hambatan jenis bahan (ohm.cm)

t = Tebal bahan (cm)

A = luas penampang bahan (cm2)

Dikarenakan σ = 1/ ρ , maka rumus persamaan menjadi μ

σ = = =

(2.4)

dengan μ σ = konduktifitas (Ω-1

.cm-1)

2.6.2. Voltametri Siklik

Voltametri siklik digunakan untuk mempelajari reaksi khususnya reaksi

elektrokimia seperti reaksi redoks. Prinsip dasarnya adalah melihat hubungan

antara potensial yang diberikan dan arus yang terukur. Karena sistem ini

melibatkan reaksi redoks di anoda dan katoda maka peristiwa reaksi di kedua

elektroda tersebut dimonitor pada besarnya arus yang timbul. Kegunaan

voltametri siklik adalah informasi kualitatif mengenai mekanisme reaksi dari

proses reduksi-oksidasi. Adanya kemungkinan reaksi lain saat reduksi-oksidasi

berlangsung dapat dilihat dari voltamogramnya. Perubahan pada voltamogram

siklik dapat disebabkan oleh persaingan reaksi kimia untuk produk hasil

elektrokimia, ini dapat dijadikan informasi mengenai jalan reaksi.Voltametri

(34)

potensial. Arus dapat dianggap sebagai respon sinyal terhadap potensial eksitasi.

Voltamogram yang dihasilkan merupakan kurva antara arus (pada sumbu Y )

versus potensial (sumbu X). Saat variasi potensial linear terhadap waktu, sumbu

horizontal dapat dianggap sebagi sumbu waktu, seperti yang diberikan Gambar

[image:34.595.192.430.187.375.2]

2.5

Gambar 2.5. Voltamogram siklik reaksi reduksi-oksidasi secara reversible. ( Wang, 2000)

2.6.3. Charge – Discharge

Pengujian sel baterai dilakukan dengan proses charging dan discharging. Untuk mendapatkan performa sebuah baterai maka diperlukan pengujian

charge/discharge sehingga didapatkan kapasitas pada sel baterai. Kapasitas

baterai adalah ukuran muatan yang disimpan suatu baterai, yang ditentukan oleh

masa aktif material didalamnya. Kapasitas menggambarkan sejumlah energi

maksimum yang dapat dikeluarkan dari sebuah baterai dengan kondisi tertentu.

Tetapi kemampuan penyimpanan baterai dapat berbeda dari kapsitas nominalnya,

diantaranya karena kapasitas baterai bergantung pada umur dan keadaan baterai,

parameter charging - discharging, dan temperatur. Kapasitas baterai ini sering dinyatakan dalam Ampare hours, ditentukan sebagai waktu dalam jam yang

dibutuhkan baterai untuk secara kontinu mengalirkan arus atau nilai discharge pada tegangan nominal baterai. Menentukan kapasitas baterai dengan

(35)

C = I x t (2.4)

Dimana

C = kapasitas baterai (Ah)

I = Kuat arus (Ampere) t = Waktu (hour)

Nilai charging, dalam ampere adalah sejumlah muatan yang diberikan pada baterai persatuan waktu. Sedangkan discharging, dalam ampere adalah sejumlah muatan yang digunakan kerangkaian luar (beban), yang diambil dari

baterai. Nilai charge-discharge ditentukan dengan mambagi kapasitas baterai (Ah) dengan jam yang dibutuhkan untuk charging-discharging baterai. Nilai

charging dan discharging berpengaruh terhadap nilai kapasitas baterai. Jika

baterai di discharge sangat cepat (arus discharge tinggi) , maka sejumlah energi yang digunakan oleh baterai menjadi berkurang sehingga kapasitas baterai

menjadi lebih rendah. Hal ini dikarenakan kebutuhan suatu materi/ komponen

untuk reaksi yang terjadi tidak mempunyai waktu yang cukup untuk bergerak

keposisi seharusnya. Hanya sejumlah reaktan yang diubah kebentuk lain, sehingga

energi yang tersedia menjadi berkurang. Jadi seharusnya arus discharge yang digunakan sekecil mungkin, sehingga energi yang digunakan kecil dan kapasitas

baterai menjadi lebih tinggi.(Triwibowo, 2011)

Kapasitas baterai dimaksudkan sebagai besarnya energi listrik yang dapat

dikeluarkan baterai pada waktu tertentu, kapasitas baterai tergantung pada jenis

aktif material yang digunakan dan kecepatan reaksi elektrokimia saat baterai

digunakan atau diisi. Luas kontak permukaan antar material aktif juga akan

(36)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5 Februari 2015 sampai 5 Mei 2015 di

Laboratorium Rekaya Material,Pusat Penelitian Fisika (PPF) Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong.

3.2. Peralatan dan Bahan Penelitian 3.2.1. Peralatan

Dalam penelitian ini peralatan yang digunakan terdiri dari dua bagian yaitu alat

proses dan alat karakterisasi.

3.2.1.1. Alat

1. Gelas ukur (1 buah)

Berfungsi sebagai wadah untuk sampel cairan yang akan ditimbang

2. Sepatula ( 3 buah)

Berfungsi untuk mengambil dan mengaduk bahan.

3. Pipet ukur ( 1 buah)

Berfungsi untuk mengambil bahan berupa cairan.

4. Cawan petri (4 buah)

Berfungsi sebagai wadah sampel bahan.

5. Timbangan digital ( 1 buah)

Berfungsi untuk mengukur massa dari bahan baku.

6. Magnetic stirrer ( 1 buah)

Berfungsi untukmenghomogenkan campuran bahan dengan pengadukan.

7. Hot plate HS 65 ( 1 buah )

Berfungsi untuk memanaskan campuran bahan sehingga mampu

mempercepat proses homogenisasi.

8. Mesin coating MSK-AFA-III ( 1 buah)

(37)

Berfungsi sebagai acuan mengukur ketebalan lembaran katoda.

10.Oven ( 1 buah)

Berfungsi untuk menyimpan lembaran katoda agar tidak terkontaminasi.

11.Jepitan ( 2 buah)

Berfungsi untuk menjepit bahan-bahan yang dibutuhkan.

12.Mesin kalendering

Berfungsi sebagai alat press lembaran agar permukaan material aktif lebih

padat

13.Glove box

Berfungsi untuk melindungi terjadi kontak kulit dari bahan baku yang

berbahaya.

14.MSK-110

Berfungsi untuk merekatkan penutupan koin dengan sempurna.

15.Casing Baterai

Berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan lembaran baterai

16.Alat-alat lain

Perlengkapan lain yang digunakan antara lain : penggaris, pisau, tissue,

sarung tangan, masker, spidol, kertas label,baki dan lain-lain.

3.2.1.2. Alat Karakterisasi 1. XRD (X-Ray Diffraction)

Berfungsi untuk mengetahui dan menganalisa struktur material aktif

katoda LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C.

2. SEM (Scanning ElectronMicroscope)

Berfungsi mengetahui struktur morfologi dari lembaran katoda

LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C.

3. EIS (Electrochemical Impedance Spectroscopy)

Berfungsi untuk mengukur konduktifitas lembar katoda

LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C.

4. CV (Cyclic Voltametry)

Berfungsi untuk mengetahui reaksi reduksi dan oksidasi (redoks) dari

(38)

5. Charge/Discharge

Berfungsi untuk mengetahui kapasitas dari baterai dengan lembaran

katoda LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C.

3.2.2. Bahan

1. Serbuk LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

Berfungsi sebagai material aktif (bahan katoda)

2. Serbuk Acetylene Black (AB)

Berfungsi sebagai bahan aditif konduktif

3. Serbuk Polyvinylidene difluoride (PVdF) Berfungsi sebagai polimer pengikat (binder)

4. Larutan N,N DMAC (N,N Dimethyl-acetamide ) Berfungsi sebagai pelarut bahan PVdF

5. Lembar Aluminium ( Al- foil)

Berfungsi sebagai lembaran yang digunakan untuk membuat katoda.

6. Lembaran Lithium metal

Berfungsi sebagai anoda pada baterai Lithium

7. Larutan Elektrolit LiPF6

Berfungsi sebagai elektrolit untuk menghantarkan ion Lithium dari anoda

ke katoda atau sebaliknya

8. Separator Polyethylene

Berfungsi sebagai material untuk mencegah agar tidak terjadi hubungan

singkat dan kontak antara anoda dan katoda.

3.3. Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini dilakukan beberapa tahap kegiatan atau pengerjaan yaitu

(39)

3.3.1. Diagram Alir Penelitian

Hot plate dengan T = 60oC , 300 rpm, t = 15 menit Dicampurkan PVdF dengan pelarut DMAC (6.3 ml)

Hot plate dengan T = 60oC , 300 rpm, t = 120 menit

Ditambahkan sedikit demi sedikit AB dan LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/Chingga homogen

Slurry LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

Sheet casting dengan metoda doctor blade

Karakterisasi Sel Baterai - Uji CD

- Uji CV - Uji EIS

Dicalendering Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

Al foil ; kecepatan coating 6;

ketebalan β00 m

Karakterisasi lembaran Uji SEM

Komposisi LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4 (3 gram) : PVdF : AB

(85 : 10 : 5)

Dikeringkan suhu 60oC

Assembly baterai coin cell (katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C, Anoda Lithium Metal, elektrolit LiPF6) di Glove Box

Dikeringkan suhu 70oC

Dikeringkan suhu 80oC

(40)

3.3.2. Tahap Pembuatan Lembaran Katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

Urutan kerja pada tahap ini adalah sebagai berikut :

1. Persiapan

Tahapan persiapan meliputi penyiapan semua bahan dan alat yang

digunakan. Bahan ditimbang dengan komposisi sebagai berikut :

Perbandingan LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C: AB : PVdF (85:10:5). Untuk 3

gram serbuk LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C ; 0,35 gram serbuk PVdF; 0.17 gram

AB dan 6.3 ml DMAC sebagai pelarut matriks. Setelah penimbangan

cawan dan beaker glass ditutup dengan plastic foil.

2. Pengadukan

Tahapan ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu :

1. Dipanaskan hot plate dan diatur dengan suhu 60oC dengan kecepatan putaran 300 rpm.

2. Diletakkan beaker glass yang berisi DMAC diatas hot plate dan magnetic bar diletakkan didalamnya. Kemudian dimasukkan serbuk

PVdF sampai jernih.

3. Dimasukkan serbuk AB sedikit demi sedikit hingga homogen.

4. Dimasukkan serbuk LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C sedikit demi sedikit

sampai homogen ± 120 menit hingga menjadi slurry.

3. Pencetakan lembaran / sheet casting

1. Dibersihkan doctor blade dengan menggunakan aceton. Diatur peresisi celah doctor bladedengan ketebalan β00 m dan kecepatan (± 6-7 ) 2. Diletakkan aluminium foil dengan ukuran 30 cm x 15 cm dan

dihidupkan tombol vakum pada Mesin coating MSK-AFA-III sambil

dibersihkan aluminium foil dengan aceton menggunakan tissue. Dituang slurry diatas lembaran aluminium foil dan dihidupan tombol run sambil diratakan.

3. Dikeringkan lembaran pada suhu 60oC,70 , dan 80oC pada oven

coating sampai slurry pada lembaran benar-benar kering. Kemudian

(41)

sempurna. Penyimpananan lembaran katoda di oven juga bertujuan untuk menjaga bahan tidak terkontaminasi dengan kelembaban udara

(bahan air), karena dapat menyebabkan bahan rusak.

Al foil

[image:41.595.175.449.147.288.2]

Slurry

Gambar 3.1. Lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang telah dikeringkan

Untuk mencegah kekeliruan dalam penyebutan sampel dengan beberapa

perlakuan, maka sampel diberi label/nama seperti dalam tabel 3.1

Tabel 3.1. Kode sampel variasi pemanasan.

Perlakuan Kode sampel

Pengeringan 60oC A

Pengeringan 70oC B

Pengeringan 80oC C

4. Proses calendering

Proses calendering dilakukan untuk dipress agar permukaan material aktif lebih padat. Disini proses calendering dilakukan dengan ketebalan mesin 0,44 mm.

5. Proses Cutting

Lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4 /C kemudian dipotong sesuai

(42)

1.55 c

m

Gambar 3.2. Ukuran sel baterai katoda

3.3.3. Tahap Assembly Baterai Coin Cell

Kemudian tahap pembuatan coin cell dengan persiapan casing coin cell lembaran katoda LiFe0.9Ni0.1PO4 /C, anoda litium metal, elektrolit LiPF6, dan separator.

Pembuatan coin cell dilakukan didalam glove box. Kemudian baterai coin cell disusun seperti Gambar 3.3. Ditutup casing anoda dan diletakkan baterai koin diatas alat MSK-110 untuk merekatkan penutupan koin dengan sempurna.Diukur

dengan multimeter untuk melihat tegangan awal. Dibiarkan minimal 16 jam

sebelum di uji dan dikeluarkan dari glove box.

[image:42.595.159.461.385.517.2]
(43)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisa XRD Material Aktif LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C

Analisa XRD (X-ray powder diffraction) berguna untuk karakterisasi struktur material. Berdasarkan hasil XRD dapat diketahui apakah material

LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C yang dibuat dari bahan yang dipilih telah terbentuk. Pada

hasil uji XRD yang ditunjukkan pada Grafik 4.1 terlihat bahwa fasa yang

terbentuk adalah fasa tunggal yakni LiFePO4. Hasil XRD menunjukkan struktur

kristal yang terbentuk adalah orthorombik (a ≠ b ≠ c ; α = = = λ0o

) dengan

parameter kisi a = 10.γ16 Ǻ , b = 6.01β Ǻ, c = 4.70γ7 Ǻ serta memiliki sudut yang sama α = = = λ0o

[image:43.595.138.482.377.638.2]

. Pada Grafik 4.1 menunjukkan hasil uji identifikasi sampel LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C.

Grafik 4.1. Hasil uji identifikasi material aktif katoda LiFe0.7Mn0.2Ni01PO4/C.

Sebagaimana terlihat ada 10 puncak yang terjadi dalam proses XRD.

Puncak –puncak tersebut merupakan representasi dari senyawa-senyawa yang

(44)

database.Terdapat 3 puncak terkuat dengan penambahan unsur Mn dan Ni terjadi

pergeseran kurva dan pelebaran kurva, dimana nilai dobsyaitu β.5β150 Ǻ, γ.00λ70 Ǻ, dan γ.48860 Ǻ berdasarkan nilai intensitas tertinggi sesuai dengan standard

ICDD (International Center for Diffraction Data) untuk LiFePO4 dengan PDF 4 nomor 01-080-6319 yaitu dref β.51λ74 Ǻ, γ.00γ40 Ǻ, dan γ.48γλ4 Ǻ. Mn dan Ni

yang telah didopan mengakibatkan struktur kristal yang dimiliki LiFePO4 semakin

kristalin. Hasil identifikasi puncak sampel diringkas pada Tabel 4.1 dan

[image:44.595.115.513.298.529.2]

menunjukkan bahwa Mn dan Ni telah berhasil diolah menjadi LiFePO4.

Tabel 4.1. Material Aktif LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C

No. 2 theta (o) dobs (Å) dref (Å) Fasa PDF 4 No. hkl

1. 17.15000 5.16700 5.16000 LiFePO4 01-080-6319 200

2. 20.69500 4.28860 4.27677 LiFePO4 01-080-6319 101

3. 22.68000 3.91700 3.91412 LiFePO4 01-080-6319 210

4. 25.51300 3.48860 3.48394 LiFePO4 01-080-6319 111

5. 29.65800 3.00970 3.00340 LiFePO4 01-080-6319 211

6. 35.57600 2.52150 2.51974 LiFePO4 01-080-6319 311

7. 36.45000 2.46320 2.45787 LiFePO4 01-080-6319 121

8. 39.73000 2.26700 2.26157 LiFePO4 01-080-6319 401

9. 52.51800 1.74110 1.74197 LiFePO4 01-080-6319 222

10. 61.62000 1.50390 1.50763 LiFePO4 01-080-6319 132

Dari hasil puncak-puncak yang terdeteksi hasil XRD menunjukkan dua

bidang dengan indeks Miller yang merupakan kelipatan dari indeks miller lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa struktur kristal LiFePO4 yang terbentuk teratur.Dari

sampel diatas,menunjukkan fasa yang sama yaitu LiFePO4 bukan

LiFe0.9Mn0.2Ni0.1PO4. Hal tersebut dapat terjadi karena pada umumnya

penambahan doping tidak akan merubah fasa hanya saja akan terjadi pergeseran

puncak jika dibandingkan dengan LiFePO4 yang tidak didoping dengan Mn dan

Ni. Pada dasarnya Mn dan Ni yang telah mendoping LiFePO4 terletak didalam

struktur fasa tersebut. Dengan basis Fe maka Mn dan Ni telah tersubstitusi

(45)

strukturnya sama sehingga fasanya tidak berubah.Berdasarkan Tabel 4.1.

menunjukkan bahwa nilai 2 dari hkl [111] sebesar 25.51300, hkl [211] sebesar

29.65800, dan hkl [311] sebesar 35.57600.Dapat disimpulkan bahwa dari data

LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C yang didapat ternyata hkl yang sama atau yang serumah

yaitu hkl dari [111], hkl [211], dan hkl dari [311]. Karena dari hkl ini terdapat

puncak yang paling tinggi dan yang paling tajam dari hkl yang muncul.

4.2. Hasil Pengujian Morfologi Sampel

Analisa SEM dilakukan pada lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C untuk

mengetahui struktur morfologi lembaran, distribusi partikel dan porositas.

Pengamatan morfologi pada permukaan sampel dilakukan dengan perbesaran

1000 kali menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy) merk Hitachi tipe SU3500 di Pusat Penelitian Fisika-LIPI. Sampel yang diamati adalah sampel

[image:45.595.203.431.399.752.2]

dengan variasi suhu pengeringan 60oC, 70oC dan 80oC yang dapat dilihat pada

Gambar 4.1.

(a)

(46)
[image:46.595.205.426.82.274.2]

(c)

Gambar 4.1. Permukaan sampel lembaran katoda LiFe0.7Mn0.2Ni0.1PO4/C dengan

perbesaran 1000 kali (a) suhu pengeringan 60oC (b) suhu pengeringan 70oC dan

(c) suhu pengeringan 80oC

Dari Gambar 4.1 hasil dari SEM dengan perbesaran 1000 kali, dapat

dilihat ukuran butir yang tidak beraturan dan poros-poros (pori pada lembaran

katoda berfungsi sebagai jalur interkalasi/deinterkalasi ion lithium) yang dimiliki

pada morfologi lembaran katoda. Dari ketiga variasi suhu pengeringan pada

gambar diatas dapat dibandingkan mengenai distribusi atau sebaran ukuran butir

dan poros yang dimiliki pada tiap-tiap sampel. Pada sampel dengan suhu

pengeringan 60oC dapat dilihat ketidakberaturan morfologi lembaran

katoda,adanya beberapa ukuran butir besar yang berdiri sendiri tetapi tidak

dominan dan tidak tersebar secara merata. Ukuran butir yang berbentuk besar

akan mempersempit luasan surface area. Selain itu terlihat pada sampel dengan suhu pengeringan 60oC memiliki sedikit poros disebabkabsuhu pengeringan 60oC

dengan waktu 15 menit yang sama maka ikatan antarmuka antara binder dan filler tidak optimal, dimana mengurangi fungsi kerja PVdF sebagai pengikat yang

berperan penting dalam hal membantu menjaga integritas elektroda, juga

memberikan kontak intim antara partikel aditif konduktif untuk meningkatkan

konduktifitas elektronik dan peningkatan ketahanan antarmuka.Pada sampel

dengan suhu pengeringan 70oC dapat dilihat terjadi hal yang sama dengan sampel

suhu pengeringan 60oC, yaitu memiliki morfologi yang tidakberaturan karena

(47)

merata,namun memiliki poros yang sedikit lebih banyak dari sampel dengan suhu

pengeringan 60oC. Pada sampel dengan suhu pengeringan 80oC dapat dilihat

memiliki ukuran butir yang besar yang berdiri sendiri, tetapi lebih sedikit dan

distribusi ukuran butir tersebar lebih merata dibandingkan sampel dengan suhu

pengeringan 60oC dan 70oC. Sehingga menambah luasan surface area yang lebih besar dan memiliki porositas yang begitu luas dan banyak dibandingkan pada

suhu pengeringan 60o C dan 70oC. Hal ini diartikan bahwa proses difusi ion

lithium antar elektroda lebih baik. Jika porositas tinggi maka akan memiliki

konduktifitas yang lebih tinggi pula, yang berarti akan lebih banyak area untuk

ion lithium mengalir.

Pada suhu pengeringan 80oC, bahan akan semakin cepat kering maka

partikel bahan semakin homogen, ikatan antarmuka antara binder dan filler lebih baik. Selain itu DMAC yang terkandung dalam bahan akan semakin cepat

menguap, sehingga dalam proses penguapan tersebut partikel-partikel bahan akan

bergerak dan menyebabkan ikatan antar penyusun menyatu. Hal ini

mempengaruhi struktur permukaan lembaran katoda.

4.3. Hasil dan Analisa Pengujian EIS

Pengukuran konduktifitas dilakukan dengan menggunakan metoda EIS

(Electrochemical Impedance Spectroscopy). Data yang didapat ditampilkan dalam

grafik cole-cole plot dimana sumbu x adalah tahanan real(Z’) dari lembar katoda, sedangkan sumbu y adalah nilai tahanan dalam bilangan imajiner (Z’’).

Dengan melihat profil EIS akan dapat dilihat apakah telah membentuk

kurva dengan baik. Hasil yang baik akan membentuk pola busur setengah

lingkaran (semicirle), dan jika dilihat pada hasil grafik cole-cole plot akan

menunjukkan pola kurva ideal berupa huruf ’S’ terbalik. Gambar 4.2, 4.3 dan 4.4 adalah grafik dari bahan uji dengan variasi suhu pengeringan.Untuk mendapatkan

nilai konduktifitas bahan dilakukan pengukuran Rtot ,maka harus mendapatkan Z’’= 0 dengan cara melakukan ekstrapolasi membentuk setengah lingkaran. Dari nilai Z’ = Rtot, maka akan didapatkan nilai resistansi bahan (Rb) dan nilai resistansi ion (Rion). Untuk dapat menentukan konduktifitas sampel dapat dihitung

(48)

4.3.1. Sampel dengan Suhu Pengeringan 60oC

Pengujian konduktifitas untuk sampel dengan suhu pengeringan 60oC diukur

dengan metode EIS. Hasil uji dan pengukuran konduktifitas sampel diperoleh

[image:48.595.172.455.170.418.2]

pada Gambar 4.2 dan Tabel 4.2.

Gambar 4.2. Grafik cole-cole plot untuk suhu pengeringan 60oC

Pada grafik suhu pengeringan 60oC karakteristik Rb nampak pada data

berfrekuensi rendah dan Rion teramati pada frekuensi tinggi .Profil garis lurus

warbug dengan sudut 45oC menunjukkan pola difusi ion telah terjadi. Profil garis

lurus warbug yang ditunjukkan oleh garis 45oC pada frekuensi rendah. Daerah setengah lingkaran Gambar 4.2 menunjukkan terjadinya proses perpindahan

ion-ion dan untuk daerah warbug menyatakan terjadinya proses perpindahan muatan pada bidang antarmuka. Dari hasil pengukuran konduktifitas diperoleh nilai

konduktifitas pada suhu pengeringan 60oC yaitu 1,4 x 10-5 S/cm.

Tabel 4.2. Hasil pengukuran konduktifitas pada suhu 60oC

t [cm] 8 x 10-3

A [cm2] 1,88

R [Ω] 288

(49)

4.3.2. Sampel dengan Suhu Pengeringan 70oC

[image:49.595.171.455.156.402.2]

Hasil pengujian EIS pada sampel dengan suhu pengeringan 70oC dapat lihat pada

Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Grafik cole-cole plot untuk suhu pengeringan 70oC

Pada grafik suhu pengeringan 70oC karakteristik Rb

Gambar

Gambar 2.1.  Proses interkalasi pada baterai ion lithium saat charge dan discharge
Gambar 2.2.  Tiga model host dari bahan katoda dan anoda (Munshi,1995)
Gambar 2.3.  Fenomena konduktifitas ionik dan elektronik pada material katoda
Tabel 2.1. Karakteristik Elektrokimia dari beberapa material katoda.
+7

Referensi

Dokumen terkait

X-Ray Diffraction (XRD) Scanning Electron Microscope (SEM). Pengujian EIS Pengujian

Penelitian dilakukan untuk mendapatkan optimasi suhu pengeringan dalam pembuatan lembaran katoda dengan melakukan variasi suhu pengeringan 60 o C,70 o C dan 80 o

Penelitian dilakukan untuk mendapatkan optimasi suhu pengeringan dalam pembuatan lembaran katoda dengan melakukan variasi suhu pengeringan 60 o C,70 o C dan 80 o

Penelitian dilakukan untuk mendapatkan suhu pengeringan yang optimum dalam pembuatan lembaran katoda dengan melakukan variasi suhu pengeringan 60 o C, 80 o C, 100 o

Beaker gelas dan gelas ukur pyrex Cawan Petri dan magnetic stirer.. Jangka Sorong dan Spatula

PENGARUH KETEBALAN KATODA LiFePO 4 TERHADAP VARIASI KOMPOSISI SERTA KETEBALAN ANODA MESOCARBON MICROBEAD (MCMB) PADA KAPASITAS BATERAI ION

Untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi pada lembaran anoda MCMB terhadap kapasitas baterai ion lithium pada masing–masing ketebalan lembaran katoda LiFePO.. terhadap

Dalam sisitem baterai sekunder lithium, material katoda memegang peranan penting dalam pencapaian kapasitas baterai.Material ini yang nantinya harus dapat melepaskan ion