• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFISIENSI PELAYANAN RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH BALUNG TAHUN 2015 MELALUI PENDEKATAN BARBER-JOHNSON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS EFISIENSI PELAYANAN RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH BALUNG TAHUN 2015 MELALUI PENDEKATAN BARBER-JOHNSON"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Ahmad Halif Mardian
  • Pengajar:
    • Abu Khoiri, S.KM., M.Kes
    • Christyana Sandra, S.KM., M.Kes
  • Sekolah: Universitas Jember
  • Mata Pelajaran: Kesehatan Masyarakat
  • Topik: Analisis Efisiensi Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Balung Tahun 2015 Melalui Pendekatan Barber-Johnson
  • Tipe: skripsi
  • Tahun: 2016
  • Kota: Jember

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya efisiensi dalam pelayanan kesehatan, khususnya di Rumah Sakit Daerah Balung. Penekanan diberikan pada bagaimana pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Efisiensi pelayanan menjadi kunci untuk memastikan pemanfaatan sumber daya yang optimal di rumah sakit, terutama dalam konteks persaingan di era globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi pelayanan rawat inap berdasarkan pendekatan Barber-Johnson, yang mengukur efektivitas penggunaan tempat tidur dan sumber daya lainnya.

1.1 Latar Belakang

Latar belakang penelitian ini menggarisbawahi pentingnya efisiensi pelayanan kesehatan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi kesehatan diharapkan mampu memberikan pelayanan yang efektif dan efisien. Dalam konteks ini, efisiensi pelayanan rawat inap menjadi fokus utama, mengingat peran vitalnya dalam sistem kesehatan. Penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi di Rumah Sakit Daerah Balung, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana menganalisis efisiensi pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Daerah Balung tahun 2015 menggunakan pendekatan Barber-Johnson. Pertanyaan ini penting untuk memahami sejauh mana rumah sakit mampu menggunakan sumber daya yang ada secara optimal, serta untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam pelayanan.

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Daerah Balung tahun 2015 melalui pendekatan Barber-Johnson. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi indikator efisiensi seperti BOR, LOS, TOI, dan BTO, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi pelayanan.

1.4 Manfaat

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang administrasi dan kebijakan kesehatan, khususnya dalam evaluasi efisiensi pelayanan rawat inap. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember dan Rumah Sakit Daerah Balung dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka ini membahas berbagai konsep dan teori yang relevan dengan penelitian ini, termasuk definisi rumah sakit, efisiensi pelayanan, dan teori Barber-Johnson. Pemahaman yang mendalam mengenai teori-teori ini penting untuk mendasari analisis yang dilakukan dalam penelitian. Selain itu, bagian ini juga menjelaskan bagaimana indikator-indikator efisiensi dapat digunakan untuk menilai kinerja rumah sakit secara keseluruhan.

2.1 Rumah Sakit

Definisi rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penjelasan mengenai fungsi rumah sakit dan pentingnya manajemen yang baik dalam pelayanan kesehatan juga diuraikan di sini.

2.2 Efisiensi Pelayanan Rawat Inap

Efisiensi pelayanan rawat inap diukur berdasarkan pemanfaatan tempat tidur dan sumber daya lainnya. Penjelasan mengenai berbagai indikator efisiensi seperti BOR, LOS, TOI, dan BTO serta bagaimana indikator-indikator ini saling berhubungan dalam menilai kinerja rumah sakit. Pentingnya efisiensi dalam konteks pelayanan kesehatan yang berkualitas juga ditekankan.

2.3 Teori Barber-Johnson

Teori Barber-Johnson dijelaskan sebagai metode untuk menilai efisiensi pelayanan rawat inap melalui grafik yang menggambarkan hubungan antara berbagai indikator efisiensi. Penjelasan mengenai konsep dasar, makna grafik, dan bagaimana teori ini dapat diterapkan dalam evaluasi kinerja rumah sakit. Kelebihan dan kekurangan pendekatan ini dibandingkan dengan metode lain juga dibahas.

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan (mixed methods) dengan desain sequential explanatory. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap kuantitatif dan kualitatif. Tahap pertama mengumpulkan data melalui studi dokumentasi dan observasi, sementara tahap kedua melibatkan wawancara mendalam untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pelayanan.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode gabungan yang mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan data yang lebih kaya dan mendalam mengenai efisiensi pelayanan rawat inap. Pada tahap kuantitatif, data dikumpulkan melalui pengukuran indikator efisiensi, sementara tahap kualitatif melibatkan wawancara dengan tenaga medis dan administrasi rumah sakit.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Daerah Balung, Kabupaten Jember, selama tahun 2015. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengevaluasi efisiensi pelayanan rawat inap di rumah sakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi pelayanan yang ada dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi.

3.3 Penelitian Tahap I

Tahap pertama penelitian ini berfokus pada pengumpulan data kuantitatif melalui studi dokumentasi dan observasi. Data yang dikumpulkan mencakup indikator-indikator efisiensi seperti BOR, LOS, TOI, dan BTO. Analisis data dilakukan untuk menilai sejauh mana rumah sakit memenuhi standar efisiensi yang ditetapkan.

3.4 Penelitian Tahap II

Pada tahap kedua, penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan informan yang relevan, termasuk tenaga medis dan pihak administrasi rumah sakit. Tujuannya adalah untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mencapai efisiensi pelayanan. Data yang diperoleh dari wawancara ini akan melengkapi data kuantitatif yang telah dikumpulkan sebelumnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada ruang rawat inap di RSD Balung yang memenuhi kriteria efisiensi berdasarkan analisis grafik Barber-Johnson. Pembahasan ini merinci faktor-faktor yang mempengaruhi capaian efisiensi, termasuk jumlah tenaga medis, promosi, dan infrastruktur rumah sakit. Rekomendasi untuk perbaikan juga disampaikan berdasarkan analisis yang dilakukan.

4.1 Hasil

Hasil analisis menunjukkan bahwa semua ruang rawat inap di RSD Balung berada di luar daerah efisiensi. Grafik Barber-Johnson mengindikasikan bahwa kombinasi indikator BOR, LOS, TOI, dan BTO tidak memenuhi standar ideal yang ditetapkan. Data ini menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terhadap manajemen dan penggunaan sumber daya di rumah sakit.

4.2 Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian mengidentifikasi beberapa faktor penyebab rendahnya efisiensi, termasuk kekurangan tenaga medis, promosi yang tidak memadai, dan fasilitas yang kurang mendukung. Rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi pelayanan rawat inap juga disajikan, seperti peningkatan promosi layanan dan perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit.

V. PENUTUP

Bagian penutup ini menyajikan kesimpulan dari penelitian dan saran untuk perbaikan pelayanan rawat inap di RSD Balung. Kesimpulan menegaskan pentingnya efisiensi dalam pelayanan kesehatan dan perlunya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kinerja rumah sakit. Saran juga diberikan untuk penelitian lanjutan yang dapat memperdalam analisis efisiensi di rumah sakit lain.

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa efisiensi pelayanan rawat inap di RSD Balung masih jauh dari harapan. Semua ruang rawat inap tidak memenuhi kriteria efisiensi yang ditetapkan oleh Barber-Johnson. Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan dalam manajemen dan penggunaan sumber daya.

5.2 Saran

Saran yang diberikan mencakup peningkatan jumlah tenaga medis, perbaikan fasilitas, dan peningkatan promosi layanan untuk menarik lebih banyak pasien. Selain itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi efisiensi pelayanan di rumah sakit.

Gambar

Tabel 4.4 Indikator Efisiensi Pelayanan Rawat Inap Ruang Obstetri & Ginekologi
Grafik Barber-Johnson bermanfaat untuk mengadakan perbandingan atau
Grafik Barber-Johnson
Grafik Barber-Johnson
+6

Referensi

Dokumen terkait

Indah Sari : Gambaran Penilaian Efisiensi Pelayanan Rawat Inap Berdasarkan Grafik Barber-Johnson Di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2003-2007, 2009.. USU Repository

Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Diploma (Amd.RMIK) Program Studi DIII

Karakteristik Kelas Perawatan Menurut Bangsal Rawat Inap ... Hari Perawatan Masing-Masing Kelas

Berdasarkan hasil pengamatan diatas peneliti tertarik untuk mengamati penyebab rendahnya penggunaan tempat tidur tersebut yang ditinjau menurut kelas perawatan sebagai

Rekam medis adalah rekaman atau catatan mengenai siapa,apa,mengapa,bilamana, dan bagaimana pelayanan yang diberikan kepada pasien selama masa perawatan yang memuat

Komponen yang terlibat dalam proses penerimaan pasien ranap dari rajal adalah SDM yaitu dokter poli rajal, perawat rajal, perawat ranap, asisten perawat ranap, petugas

Pasien merasa puas dengan perawat dan dokter yang terampil dalam memberikan pelayanan kepada pasien.. Pasien merasa puas dengan pengobatan yang diberikan dokter

Pada atribut Dokter dan perawat memberikan informasi yang jelas (a11) dan atribut Dokter dan perawat mampu menjawab pertanyaan yang diajukan pasien (a12)