Program Pohon Asuh dan Pohon Adop sebagai Solusi Permasalahan Global Warming

33  11 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PROGRAM POHON ASUH DAN POHON ADOP SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN GLOBAL WARMING

BIDANG KEGIATAN: PKM-GT

Diusulkan oleh:

Ketua : I Putu Arimbawa P E14070015 Angkatan 2007 Anggota : Syampadzi Nurroh E44050515 Angkatan 2005 R. Rodlyan Ghufrona E44052421 Angkatan 2005

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul Kegiatan : Program Pohon Asuh Dan Pohon Adop Sebagai Solusi Permasalahan Global Warming.

2. Bidang Kegiatan : PKM-GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap : I Putu Arimbawa Pande

b. NIM : E14070015

c. Jurusan/Mayor : Manajemen Hutan

d. Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor

e. Alamat Rumah : Jalan Raya Babakan Raya Gg. Bara 4 No.107 Kel. Bubulak, Kec. Bogor Barat, Bogor 16115 f. No. Telp / HP : (0251) 8410290 / 08561916796

g. Email : rrg_ghina@yahoo.co.id

4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang

5. Dosen Pendamping

a. Nama Lengkap : Handian Purwawangsa, S.Hut., M.Si.

b. NIP : 132 324 395

a. Alamat Rumah : Perumahan Alam Sinar Sari Jl. Anggrek No. 27 Dramaga, Bogor.

c. No. Telp / HP : 081310570318

Bogor, 24 Maret 2010 Menyetujui

Wakil Dekan Fakultas Kehutanan Ketua Pelaksana Kegiatan

(Prof. Dr. Ir. Fauzi Febrianto, MS) (I Putu Arimbawa P)

NIP. 19630209 198903 1 002 NIM. E14070015

Wakil Rektor Bidang Akademik Dosen Pendamping

dan Kemahasiswaan

(Prof. Dr. Ir. H. Yonny Koesmaryono, MS) (Handian Purwawangsa,SHut,.MSi)

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan artikel ilmiah ini.

Karya tulis dengan judul “Program Pohon Asuh Dan Pohon Adop Sebagai

Solusi Permasalahan Global Warming” ini diangkat sebagai bentuk keniscayaan

terhadap hutan tropis Indonesia yang menjadi salah satu faktor yang dapat

menurunkan kosentrasi dan penyerapan emisi CO2. Karya tulis ini menjelaskan

Karya tulis ini memiliki tujuan untuk membuat konsep pelestarian dan perbaikan

kualitas hutan tropis dengan program pohon asuh dan pohon adop. Mengenai

potensi hutan tropis dalam mencegah peningkatan pencairan es di dunia, serta

kandungan karbon yang dimiliki oleh Indonesia yang terbesar di dunia dalam

pencegahan peningkatan konsentrasi emisi CO2 yang menjadi penyebab

pemanasan global. Program penanaman menjadi solusi dalam penyerapan emisi

CO2. Salah satu program penanaman membuat monumen tanaman dengan konsep

pohon adop dan pohon asuh yang bekerja sama dengan masyarakat sekitar hutan.

Dengan demikian, akan terwujud fungsi ekologis, ekonomi dan sosial dalam

masyarakat dan berkontribusi dalam penyerapan karbon dunia. Penulis juga

mencoba memberikan alternatif solusi untuk permasalahan tersebut.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan usulan penelitian ini. Saran dan kritik yang bersifat membangun

dan memperbaiki sangat penulis harapkan.

Bogor, Maret 2010

(4)

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ……… i

KATA PENGANTAR ……… ii

2.1 Hutan tropis sebagai cadangan karbon dunia……… 3

2.2 Global Warming (Pemanasan Global) ………. 3

2.3 Gas Rumah Kaca ……….. 4

2.4 Karbondioksida ……… 5

2.5 Upaya-upaya yang Telah Dilakukan dalam Mengatasi Gas Rumah Kaca ………. 5

2.6 Pohon asuh dan pohon adop berbasis pemberdayaan masyarakat .. ………... 7

2.7 Kecepatan pencairan es di berbagai benua………..………….. 7

BAB III METODE PENULISAN ...………... 9

3.1 Pengumpulan Data dan Informasi ………. 9

3.2 Pengolahan Data dan Informasi ……… 9

3.3 Analisis dan Sintesis ………. 9

BAB IV ANALIS DAN SINTESIS ………... 10

4.1 Analisis pengaruh peningkatan emisi CO2 di udara di dunia terhadap peningkatan pencairan es di berbagai benua………... 10

4.2 Analisis pengaruh hutan tropis dalam menurunkan emisi CO2.. 11

4.3 Program penanaman pohon adop berbasis pemberdayaan….. Masyarakat……….…. 11

4.4 Program penanaman pohon asuh berbasis pemberdayaan masyarakat………. 12

4.5 Program Penanaman Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Monumen Tanaman dalam Bentuk Pohon Adop dan Pohon Asuh ……… 13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………... 15

(5)

iv

5.2 Saran ………. 15

DAFTAR PUSTAKA ………. 16

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ………... 17

LAMPIRAN ………... 21

DAFTAR TABEL No. Halaman 1. Persentasi cadangan karbon di hutan tropika di dunia……… 3

2. Strategi pengurangan efek dari emisi CO2 di atmosfer atau strategi untuk membantu pencegahan perubahan iklim ………... 6

3. Data kecepatan pencairan es di benua Amerika………..…….. 7

4. Emisi CO2 yang dihasilkan oleh beberapa jenis bahan bakar ………. 11

(6)

v

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Pengaruh gas rumah kaca terhadap total radiasi atmosfer …………. 4

(7)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Sifat gas rumah kaca ……….... 22

2. Data kecepatan pencairan es di benua Amerika …...……….... 23

3. Data kecepatan pencairan es di benua Oceania…...……….. 23

4. Data kecepatan pencairan es di benua Asia…...……… 23

5. Data kecepatan pencairan es di benua Eropa…...……….. 24

(8)

vii

RINGKASAN

PROGRAM POHON ASUH DAN POHON ADOP SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN GLOBAL WARMING

I Putu Arimbawa P , R Rodlyan Ghufrona, dan Syampadzi Nurroh

Pemanasan global diakibatkan oleh aktifitas manusia dalam berbagai aspek

kehidupan, Banyaknya emisi CO2 yang dihasilkan oleh negara maju maupun

negara berkembang dapat mengakibatkan pemanasan global. Gas CO2

mempunyai presentase yang terbesar dalam kontribusi pemanasan global yaitu

sebesar 55% dan selebihnya 6% (NO2), 15% (CH4) dan 24% (CFCs) (Murdiyarso

et al. 1994). Konsentrasi CO2 telah diukur secara kontinyu sejak tahun 1950-an.

Pada tahun 1960, rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer adalah 316 ppm dan

memasuki tahun 1990, nilai tersebut mencapai sekitar 600 ppm (Koesmaryono

1999). Indonesia sebagai negara terbesar yang memiliki potensi untuk mencegah

laju percepatan pemanasan global dengan adanya hutan tropis, karena Indonesia

memiliki cadangan karbon terbesar di dunia sebesar 53,1 persen yang terdapat

pada hutan tropika.

Karya tulis ini memiliki tujuan untuk untuk membuat konsep pelestarian

dan perbaikan kualitas hutan tropis dengan program pohon asuh dan pohon adop.

Menganalisis menganalisis potensi hutan tropis Indonesia sebagai program

penanaman berbasis pemberdayaan masyarakat berupa pohon asuh dan pohon

adop dalam mencegah dan menurunkan resiko/akibat dari pemanasan global di

dunia. Program ini secara langsung atau tidak langsung akan meningkatkan

kesejahteraan masyarakat dengan pengelolaan hutan tropis secara lestari baik

dalam segi ekonomi, ekologis maupun sosial.

Data dan informasi yang mendukung penulisan dikumpulkan dengan

melakukan penelusuran pustaka, pencarian sumber-sumber yang relevan dan

pencarian data melalui internet, yang kemudian diolah dengan menggunakan

suatu metode analisis deskriptif berdasarkan data sekunder lalu dituangkan dalam

(9)

viii Peningkatan Emisi CO2 yang menyebabkan pemanasan global secara fakta

telah terjadi dengan peningkatan suhu udara menyebabkan kecepatan pencairan es

di belahan dunia meningkat. Data pencairan es di berbagai benua di dunia terdapat

pada lampiran. Data tersebut menjadi indikator bahwa pemanasan global dengan

meningkatnya Emisi CO2 di dunia, data terbesar pencairan es di Antartic penisula

mencair seluas 8000 km2 hingga tahun 2000 dan Sub-antartic sebesar 65% daerah

tersebut sampai tahun 1990. Kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer yaitu dari

285±5 ppmv menjadi 366 ppmv atau sekitar 28 persen. Hal ini membawa masalah

pada pemanasan global dan dapat mempengaruhi ekosistem, kenaikan permukaan

laut, percepatan pencairan es di kutub, perubahan sistem iklim global dan

sebagainya (Boer 2000).

Hutan memiliki tegakan pohon, Jumlah karbon yang diserap oleh sebuah

pohon yang sedang tumbuh tergantung dari spesies, iklim, dan tanah serta umur

pohon, hutan yang sedang tumbuh membentuk sekitar 10 ton karbon per hektar

per tahun (Foley 1993). Dalam melangsungkan hidupnya, pohon melakukan

proses fotosintesis di siang hari untuk memperoleh cadangan makanan.

Melalui proses tersebut, pohon menyerap CO2 di udara sehingga jumlah

CO2 di udara berkurang dan berubah menjadi penambahan O2 (oksigen).

Penyerapan CO2 dalam proses fotosintesis menyebabkan pengurangan emisi CO2

sebagai gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Daya serap vegetasi

terhadap gas CO2 antara pohon dengan semak belukar dan padang rumput berbeda

jauh pohon dapat menyerap 1.599 (kg/ha.hari) sedangkan semak belukar 150

(kg/ha.hari) dan padang rumput sebesar 32,88 (kg/ha.hari).

Meningkatnya laju pencairan es di dunia menjadi nilai penting bagi negara

di dunia, indikasi dari periode kehidupan manusia memerlukan hutan yang akan

masuk ke dalam periode manusia mendambakan hutan. Kondisi alam menjadi

tidak mendukung dalam kehidupan manusia sehingga menjaga kelestarian hutan

tropis dan meningkatkan penanaman pohon di daerah tropis.

Jasa lingkungan menjadi strategi sisi penawaran dalam menanggulangi

(10)

ix dunia sudah pada tahap manusia memerlukan hutan, bukan lagi hutan

membutuhkan manusia untuk dikelola manfaat hutannya (Suhendang 2002).

Komitmen untuk mengurangi emisi gas pada Rio Earth Summit dan

Protokol Kyoto, kedua komitmen itu gagal dipenuhi. Protokol Kyoto, sebagai

perluasan kesepakatan Earth Summit 1992 di Rio de Janeiro, mencatat komitmen

negara-negara industri, untuk sampai tahun 2012 mengurangi emisi gas kaca

sedikitnya 5% di bawah emisi pada tahun 1990 (Koesoemawiria 2009). Menurut

Tim Flanner 2010 dalam Koesoemawiria 2010 Konferensi iklim di Copenhagen

adalah upaya diplomasi selama bertahun-tahun menentukan masa depan dunia.

Program pengembangan pembangunan hutan berbasis pemberdayaan

masyarakat dengan pola pohon asuh dan pohon adop. Perbedaan pohon asuh dan

pohon adop terletak pada pohon yang akan ditanam dan pohon yang telah tumbuh

menjadi kepemilikan bersama selama periode tertentu, penawaran kerjasama

bersama masyarakat sekitar hutan akan pemeliharaan dan kelestarian hutan dan

pengembangan pembangunan hutan memiliki strategi sisi penawaran (suplly side)

dalam pengembangan suatu jasa lingkungan yang diupayakan melalui investasi

modal untuk kegiatan-kegiatan produksi yang berorientasi keluar (Saefulhakim et

all 2009). Hal ini menjadi nilai penting untuk penawaran kepada negara maju di

dunia dalam konfrensi iklim dunia, karena keunggulan program ini melibatkan

masyarakat secara langsung sehingga mendapatkan perkembangan pohon yang

terpelihara baik secara kualitas maupun kuantitas pohonnya.

Program ini melibatkan berbagai pihak dalam mewujudkannya. Negara

maju yang mengeluarkan emisi CO2 tinggi berperan sebagai donator (jasa

lingkungan), masyarakat desa hutan dalam kelembagaan LMDH (Lembaga

Masyarakat Desa Hutan) sebagai inisiator/pelaksana dan pemerintah menjadi

fasilitator. Pengembangan program ini memberikan kontribusi secara ekologi,

ekonomi, dan sosial untuk semua pihak. Kontribusi dalam penyerapan karbon

dunia sebagai fungsi ekologi yang mempengaruhi iklim global dengan data

jumlah pohon yang akurat bagi pihak yang mendanai yaitu negara maju,

sedangkan fungsi sosial dan ekonomi meningkatkan penyerapan tenaga kerja bagi

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis

terbesar di dunia. Hutan tropis menjadi sebuah masalah politik atas berbagai

alasan. Hutan ini dapat memuat 50-90% keanekaragaman spesies, hutan yang

menjadi hunian berjuta-juta penduduk asli, suku, dan penduduk tradisional yang

menggantungkan nafkah pada hutan serta sumber keanekaragaman kebudayaan.

Perubahan iklim global dapat ditanggulangi dengan menyimpan karbon

sebesar-besarnya tetapi hutan tropis rusak jauh lebih cepat dengan hutan di wilayah iklim

sedang (Riyanto 2004)

Pemanasan global diakibatkan oleh aktifitas manusia dalam berbagai

aspek kehidupan. Banyaknya emisi CO2 yang dihasilkan oleh negara maju

maupun negara berkembang dapat mengakibatkan pemanasan global. Gas CO2

mempunyai presentase yang terbesar dalam kontribusi pemanasan global yaitu

sebesar 55% dan selebihnya 6% (NO2), 15% (CH4) dan 24% (CFCs) (Murdiyarso

et al. 1994). Konsentrasi CO2 telah diukur secara kontinyu sejak tahun 1950-an.

Pada tahun 1960, rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer adalah 316 ppm dan

memasuki tahun 1990, nilai tersebut mencapai sekitar 600 ppm (Koesmaryono

1999).

Negara maju maupun negara berkembang yang mengeluarkan emisi

memiliki tanggung jawab atas banyaknya emisi CO2 di atmosfer yang menjadi gas

rumah kaca penyebab pemanasan global (global warming) karena aktifitas aspek

kehidupan seperti bidang industri, kendaraan bermotor, dan lain sebagainya yang

menghasilkan CO2 yang bila tidak terpakai dalam proses fotosintesis akan

menjadi gas rumah kaca. Akibatnya suhu udara meningkat berimplikasi terhadap

pencairan es di berbagai benua, data pencairan es tersebut sudah terbukti dengan

meningkatnya konsentrasi emisi CO2, sehingga hutan tropis di Indonesia menjadi

(12)

2

Selain menjaga kelestarian hutan tropis perlu dilakukan program

penanaman yang melibatkan negara-negara dalam kerjasama dalam penanaman

dan pemeliharaan pohon diberbagai wilayah di dunia. Karena perannya yang

universal, untuk menjaga dan melestarikan hutan tropis tidak hanya menjadi

tanggung jawab negara yang mempunyai hutan, tetapi menjadi tanggungjawab

universal.

Salah satu Program yang dapat di lakukan dalam rangka menjaga dan

memperbaiki kualitas paru-paru dunia (hutan tropis) adalah melakukan

penanaman pohon dengan konsep pohon adop dan pohon asuh, dengan

melibatkan masyarakat sekitar hutan. Dengan demikian, akan terwujud kolaborasi

dalam menjaga dan memperbaiki kualitas hutan tropis.

Pohon asuh adalah konsep menanam pohon, dimana orang tua asuh

memberikan donasi dengan jumlah uang tertentu untuk biaya menanam dan

memelihara pohon tersebut sampai jangka waktu tertentu. Sedangkan pohon adop

adalah seorang donatur pohon asuh menyumbangkan sejumlah dana untuk

memelihara pohon yang sudah ada, dimana pohon tersebut akan dijaga dan tidak

akan ditebang dalam jangka waktu tertentu. Pihak yang akan menjaga pohon milik

donatur adalah masyarakat sekitar hutan, sehingga bisa mendapatkan manfaat

ekonomi dari pohon/hutan, tanpa harus merusaknya.

Dengan program pohon asuh dan pohon adop tersebut, di harapkan dapat

tertanam pohon baru dan pohon yang sudah ada dapat terpelihara dengan baik.

Donatur untuk kedua program tersebut, bisa melibatkan masyarakat dari negara

maju yang merupakan penyumbang emisi terbesar dan cenderung memiliki

tingkat ekonomi yang lebih tinggi. Dengan demikian terjadi kerjasama yang

saling menguntungkan antara negara maju dan negara berkembang.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Karya tulis ini memiliki tujuan untuk membuat konsep pelestarian dan

(13)

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1 Hutan Tropis Sebagai Cadangan Karbon

Hutan tropis menjadi sebuah masalah politik atas berbagai alasan. Hutan ini

dapat memuat 50-90% keanekaragaman spesies, hutan yang menjadi hunian

berjuta-juta penduduk asli, suku, dan penduduk tradisional yang menggantungkan

nafkah pada hutan serta sumber keanekaragaman kebudayaan. Perubahan iklim

global dapat ditanggulangi dengan menyimpan karbon sebesar-besarnya tetapi

hutan tropis rusak jauh lebih cepat dengan hutan di wilayah iklim sedang (Riyanto

2004). Gerald Foley (1993) menyatakan bahwa tidak satu pun dari proses

pembalakan kayu yang menyarankan bahwa hilangnya hutan-hutan tropik bukan

merupakan tragedi dunia, baik dalam hal hilangnya kekayaan biologi maupun

salah satu penyerap depresi primer bagi karbon.

Indonesia memiliki potensi untuk mengurangi laju tersebut karena memiliki

hutan tropis terbesar di dunia. Sumberdaya alam ini menjadi potensial untuk

meningkatkan daya saing bangsa. Berikut ini (tabel 1) Persentasi Cadangan

Karbon di Hutan Tropika yang tersebar di dunia.

Tabel.1 Persentasi Cadangan Karbon di Hutan Tropika Di Dunia

No Tropical area Percent area Zink Carbon (Gigatriliun)

1 Indonesia 53.1 44.5

2 South East Asia 16.2 13.8

3 Other area 30.7 25.7

Total Tropical area 100 83.8

Sumber : Maria Stracked (2004)

2.2 Global Warming (Pemanasan Global)

Pemanasan global diakibatkan efek rumah kaca. Menurut Dahlan (1992),

penyebab langsung pemanasan global yaitu meningkatnya jumlah dan ragam

(14)

4

air conditioner (AC), heater (pemanas ruangan), dan populasi manusia yang terus

bertambah. Penyebab tidak langsung yang mengakibatkan pemanasan global yaitu

meningkatnya gas rumah kaca. Gas rumah kaca terdiri atas CO2 (40%), CFC

(25%), CH4 (20%), O3 (10%), dan N2O (5%).

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi

lingkungan bio-geofisik seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut,

perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya

flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dan sebagainya.

Dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat yaitu gangguan terhadap fungsi

kawasan pesisir dan kota pantai; gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana

seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara; gangguan terhadap permukiman

penduduk; pengurangan produktivitas lahan pertanian; peningkatan resiko kanker

dan wabah penyakit, dan sebagainya.

2.3 Gas Rumah Kaca

Efek rumah kaca (green house effect) merupakan suatu fenomena yang

timbul akibat aktifitas berbagai gas yang terdapat dalam atmosfer. Gas-gas yang

ada di atmosfer berfungsi sebagai media untuk meneruskan radiasi dan irradiasi

sinar matahari ke luar atmosfer. Gas rumah kaca terdiri dari CO2, CH4, CFCs, dan

N2O. Peningkatan jumlah gas-gas rumah kaca diakibatkan oleh kegiatan manusia.

Pengaruh tekanan terhadap radiasi atmosfer dari gas-gas rumah kaca dapat dilihat

pada Gambar 1 (Murdiyarso et al. 1994).

(15)

5

Tanpa adanya gas rumah kaca di atmosfer, maka suhu udara di bumi pada

malam hari dapat jatuh hingga -1840C. Oleh karena itu, gas rumah kaca sangat

penting bagi kelangsungan hidup. Konsentrasi dari gas rumah kaca, terutama CO2

meningkat sangat tajam pada era industri. Selama periode 1985-1998 terjadi

kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer yaitu dari 285±5 ppmv menjadi 366 ppmv

atau sekitar 28%. Hal ini membawa masalah pada pemanasan global dan dapat

mempengaruhi ekosistem, kenaikan permukaan laut, perubahan sistem iklim

global dan sebagainya (Boer 2000).

Perubahan iklim yang meliputi kenaikan suhu udara dan curah hujan akan

terjadi akibat menguatnya efek rumah kaca karena makin bertambahnya CO2 di

atmosfer. Dengan kecenderungan penggunaan energi tersebut maka diduga pada

tahun 2005 kadar CO2 udara akan mencapai 315 ppm atau dua kali lipat dari tahun

1992 (Rozari et al. 1992).

Perubahan penggunaan lahan adalah salah satu penyebab perubahan iklim

global yang sangat penting. Pengurangan jumlah tanaman berpengaruh terhadap

bumi dalam penyerapan dan pemantulan radiasi matahari dan kemampuan

ekosistem lingkungan dalam mereaksikan karbon di atmosfer. Perubahan iklim

secara global pada akhirnya berpengaruh terhadap ekosistem di permukaan bumi.

Pengaruh tersebut yaitu perubahan suhu dan ketersediaan air, peningkatan jumlah

karbon yang disebabkan oleh kenaikan konsentrasi CO2, produksi karbon dalam

tanah atau respirasi (Murdiyarso et al. 1994).

2.4 Karbondioksida (CO2)

Tekanan radiasi yang besar disebabkan oleh aktivitas manusia dan alam.

Peningkatan CO2 dimulai sejak era industrialisasi, dimana CO2 meningkat dari

280 ppmv sampai 356 ppmv. Peningkatan CO2 merupakan salah satu sebab

penambahan gas rumah kaca dengan kekuatan radiasi yang disumbangkan sebesar

1.56 Wm-2. Pada dekade 1980-1989 peningkatan CO2 di atmosfer sekitar 1.5

ppmv atau 3.2 milyar ton karbon per tahun sebagai hasil dari aktivitas manusia

atau sebanding dengan 50% dari seluruh emisi yang disumbangkan manusia

(16)

6

2.5 Upaya-upaya yang telah Dilakukan dalam Mengatasi Gas Rumah Kaca

Upaya-upaya yang telah diprogramkan baik oleh pemerintah, perusahaan,

dan masyarakat, baik dalam maupun luar negeri, dalam mengatasi gas rumah kaca

penyebab pemanasan global antara lain:

1. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan

2. Perdagangan karbon, seperti pada Protokol Kyoto dan Melalui Protokol

Kyoto, negara-negara maju dimungkinkan untuk memenuhi target

pengurangan emisi gas rumah kaca melalui tiga mekanisme fleksibel yang

ditetapkan yaitu:

Clean Development Mechanism (CDM) yaitu mekanisme penurunan emisi

gas rumah kaca dapat dilakukan melalui kerja sama negara maju dengan

negara berkembang

Emission Trading (ET) yaitu mekanisme penurunan emisi gas umah kaca

yang dilakukan melalui kerjasama diantara sesama negara maju dengan

menjual penurunan emisinya, hal ini berlaku untuk negara-negara dalam

transisi ekonomi

Beberapa strategi untuk pencegahan pemanasan global yang dapat

dilakukan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 2 Strategi pengurangan efek dari emisi CO2 di atmosfer atau strategi untuk

membantu pencegahan perubahan iklim Strategi Peningkatan untuk

pemulihan Reduksi emisi CO2 Peningkatan pilihan

Melindungi lahan subur Sumber energi terbarui Memantau lingkungan dan panas

Manajemen peningkatan kualitas air

Penghutanan kembali Memperbaiki data peningkatan iklim dan aplikasinya

Menerapkan agroteknologi

Konservasi energi Informasi dan

pendidikan umum Kebijakan penggunaan

lahan pesisir

Belum ada Alih teknologi

(17)

7

2.6 Pohon Asuh dan Pohon Adop Berbasis pemberdayaan Masyarakat

Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat adalah sistem pengelolaan

sumberdaya hutan dengan pola kolaborasi yang bersinergi dengan masyarakat

desa hutan atau para pihak yang berkepentingan dalam upaya mencapai

keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan yang optimal dan

peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) yang bersifat fleksibel,

partisipatif dan akomodatif (Cifor 2007).

Pohon asuh adalah konsep menanam pohon, dimana orang tua asuh

memberikan donasi dengan jumlah uang tertentu untuk biaya menanam dan

memelihara pohon tersebut sampai jangka waktu tertentu. Sedangkan pohon adop

adalah seorang donatur pohon asuh menyumbangkan sejumlah dana untuk

memelihara pohon yang sudah ada, dimana pohon tersebut akan dijaga dan tidak

akan ditebang dalam jangka waktu tertentu. Pihak yang akan menjaga pohon milik

donatur adalah masyarakat sekitar hutan, sehingga bisa mendapatkan manfaat

ekonomi dari pohon/hutan, tanpa harus merusaknya.

PHBM dilaksanakan dengan prinsip diantaranya perencanaan partisipatif

dan fleksibel sesuai dengan karakteristik wilayah; Keterbukaan, kebersamaan,

saling memahami dan pembelajaran bersama; Bersinergi dan terintegrasi dengan

program–program pemerintah daerah; Pendekatan dan kerjasama kelembagaan

dengan hak dan kewajiban yang jelas; Peningkatan kesejahteraan masyarakat desa

hutan; Pemberdayaan masyarakat desa hutan secara berkesinambungan;

2.7 Kecepatan Pencairan Es Di Berbagai Benua

Point View Global Warming adalah meningkatnya kecepatan pencairan es

di berbagai benua di dunia, pencairan es ini menjadi implikasi dari pemanasan

global. Indikasi dari pencairan es merupakan adanya peningkatan suhu udara,

sehingga pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi

lingkungan bio-geofisik seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut,

perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim. Data

(18)

8

(tabel 4) akibat pemanasan global terhadap percepatan pencairan es pada benua

Amerika .

Tabel 3 Data Kecepatan Pencairan Es Di Benua Amerika

No Nama Lokasi Kecepatan pencairan

1 Artic sea ice Artic ocean Telah menciut 6 %sejak 1978, dan 40% dalam waktu kurang dari 30 tahun

2 Greenland ice

sheet Greenland Menipis lebih dari per tahun sejak 1993

3 Columbia glacier Alaska, united states

Telah berkurang 13 kilometer sejak 1982. Pada 1999 percepatan meningkat dari 25 meter/hari menjadi 35 meter/hari

4 Portage Glacier Alaska

Berkurang 3 km antara 1990-1996, dibandingkan dengan hanya 0.5 Km pada abad 19. Percepatan pencairan meningkat 10 kali lipat.

5 Wolverine Gl Alaska Berkurang 7 meter antara 1989-1995

6 Gulkana Glc Alaska Berkurang 5 meter antara 1989-1995

7 Bering Glacier Alaska

Area depan hilang 130 km2 sejak 1990. Berkurang hingga 180 meter selama 50 tahun terakhir dan menipis 20-25% di

Bagian dasar mencair 1,2 km. per tahun antara 1992-1996. Es menipis dengan kecepatan 3,5 m per tahun.

10 Marr Ice

Secara keseluruhan, sudah mencair seluas 8000 km2 hingga tahun 2000 ( sama dengan luas bagian Delaware).

13 Wordie Ice Shelf Antartic Peninsula

15 Wilkins Ice Shelf Antartic Peninsula

Mencair 1100 km2 pada awal Maret 1999. Batas es mundur 35 km dari jarak sebelumnya.

16 Heard Island Sub-antartic

Berkurang sebanyak 65% antara 1947 dan 1990.

(19)

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Analisis Pengaruh Peningkatan Emisi CO2 di Dunia terhadap Peningkatan Pencairan Es di Berbagai Benua

Peningkatan Emisi CO2 yang menyebabkan pemanasan global secara fakta

telah terjadi dengan peningkatan suhu udara menyebabkan kecepatan pencairan es

di belahan dunia meningkat. Data pencairan es di berbagai benua di dunia terdapat

pada lampiran. Data tersebut menjadi indikator bahwa pemanasan global dengan

meningkatnya Emisi CO2 di dunia, data terbesar pencairan es di Antartic penisula

mencair seluas 8000 km2 hingga tahun 2000 dan Sub-antartic sebesar 65% daerah

tersebut sampai tahun 1990. Kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer yaitu dari

285±5 ppmv menjadi 366 ppmv atau sekitar 28%. Hal ini membawa masalah pada

pemanasan global dan dapat mempengaruhi ekosistem, kenaikan permukaan laut,

percepatan pencairan es di kutub, perubahan sistem iklim global dan sebagainya

(Boer 2000). Meningkatnya karbondioksida yang dihasilkan dari aktivitas

manusia berupa penggunaan bahan bakar pada kendaraan, industri dan

sebagainya. Karbondioksida yang dihasilkan pembakaran sesuai tipe bahan bakar

menurut Departement of Environment, Food and Rural Affairs dapat dilihat pada

Tabel 4.

Tabel 4 Emisi CO2 yang dihasilkan oleh beberapa jenis bahan bakar

No Jenis Bahan Bakar Emisi CO2 Satuan

1 Bensin 2,33 kg/Liter

2 Solar 2,64 kg/Liter

3 Batu Bara 2,96 kg/Liter

4 Gas (LPG) 2,06 kg/m3

Sumber : DEFRA (2001)

Sebagian besar kendaraan bermotor yang digunakan di seluruh dunia

berbahan bakar bensin, lalu berikutnya berbahan bahan bakar solar. Bensin

menghasilkan emisi CO2 yaitu 2,33 kg per liternya, sedangkan solar menghasilkan

(20)

11

4.2 Analisis Pengaruh Hutan Tropis dalam Menurunkan Emisi CO2

Perubahan iklim global dapat ditanggulangi dengan menyimpan karbon

sebesar-besarnya tetapi hutan tropis rusak jauh lebih cepat dengan hutan di

wilayah iklim sedang (Riyanto 2004). Indonesia memiliki potensi untuk

mengurangi laju tersebut karena memiliki hutan tropis terbesar di dunia dan

kelestarian hutan tropis harus terjaga. Sumberdaya alam ini menjadi potensial

untuk meningkatkan daya saing bangsa. Maria (2004) menyatakan presentasi

cadangan karbon yang tersebar di hutan tropis sebesar 53,1% ada di Indonesia.

Hutan memiliki tegakan pohon, jumlah karbon yang diserap oleh sebuah pohon

yang sedang tumbuh tergantung dari spesies, iklim, dan tanah serta umur pohon,

hutan yang sedang tumbuh membentuk sekitar 10 ton karbon per hektar per tahun

(Foley 1993). Dalam melangsungkan hidupnya, pohon melakukan proses

fotosintesis di siang hari untuk memperoleh cadangan makanan.

Melalui proses tersebut, pohon menyerap CO2 di udara sehingga jumlah

CO2 di udara berkurang dan berubah menjadi penambahan O2 (oksigen).

Penyerapan CO2 dalam proses fotosintesis menyebabkan pengurangan emisi CO2

sebagai gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Daya serap vegetasi

terhadap gas CO2 dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Daya serap vegetasi terhadap gas CO2

No Tipe Penutupan Daya serap

(kg/ha.hari)

4.3 Program Penanaman Pohon Adop Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Meningkatnya laju pencairan es di dunia menjadi ancaman bagi negara di

dunia, indikasi dari kondisi alam menjadi tidak mendukung dalam kehidupan

manusia sehingga menjaga kelestarian hutan tropis dan meningkatkan penanaman

pohon di daerah tropis. Kondisi tersebut disebabkan dari laju penurunan luas

(21)

12

kerusakan akan semakin meningkat akibat aktivitas penebangan liar,

penyelundupan kayu, konversi hutan tanpa izin dan kebakaran hutan.

Dalam menjaga kelestarian hutan tropis perlu meningkatkan partisipasi

masyarakat di sekitar hutan dalam mengelola hutan. Program penanaman pohon

adop berbasis pemberdayaan masyarakat salah satu bentuk partisipasi masyarakat

dalam mengelola hutan. Konsep pohon adop terletak pada tegakan pohon yang

sudah tumbuh baik pada tingkat pancang, tiang maupun pohon.

Program penanaman pohon adop dapat dilakukan pada lahan milik

maupun lahan negara. Pada prinsipnya bahwa program pembangunan hutan dalam

bentuk pohon adop yang menjadi pemilikan bersama dalam periode tertentu yang

berdasarkan asas manfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi. Masyarakat sekitar

hutan mendapatkan kompensasi berupa finansial selama periode tertentu dalam

pemeliharaan dan pengawasan pohon tersebut.

4.4 Program Penanaman Pohon Asuh Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Program reboisasi, penghijauan, dan gerakan rehabilitasi lahan dan hutan

(GRLK). Upaya ini telah dilakukantapi masih belum memuaskan. Kegiatan ini

disambut baik akan tetapi kegiatan program tersebut berdifat top down dan

pendanaan terlambat (Wirakartakusumah 2005). Pengembangan program

penanaman pohon asuh merupakan salah satu bentuk tindak lanjut dari Program

tersebut yang secara langsung melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam

memelihara dan mengelola pengembangan penanaman pohon asuh.

Konsep pohon asuh terletak pada pohon yang akan ditanam melibatkan

masyarakat sekitar hutan dalam memelihara pohon tersebut sebagai pohon

kepemilikan bersama sampai masa periode tertentu berdasarkan asas manfaat

secara ekologi, sosial dan ekonomi. Dengan demikian perkembangan pohon yang

terpelihara baik secara kualitas maupun kuantitas pohonnya, disamping

masyarakat sekitar hutan mendapatkan kompensasi finasial secara langsung ketika

tanaman telah di tanam selama masa periode tertentu. Prioritas pengembangan

penanaman pohon asuh pada lahan kritis karena jumlah lahan kritis di Indonesia

(22)

13

kritis yang besar, data luasan seluruh provinsi terdapat di lampiran. Luas lahan

yang tegolong agak kritis di Indonesia yaitu 47.610.080,86 ha, luas lahan yang

tergolong kritis yaitu 23.306.233,01 ha, dan luas lahan yang tergolong sangat

kritis yaitu 6.890.566,91 ha, sehingga luasan total lahan kritis seluruh Indonesia

ialah 77.806.880,78 ha.

Dalam pengembangannya dilakukan pemilihan jenis pohon yang berfungsi

sebagai perbaikan hidroorologi antara lain: Trembesi (Samanea saman) yang

direkomendasikan oleh Presiden Indonesia sebanyak satu juta bibit di seluruh

Indonesia, puspa (Schima noranhae), sono kembang (Pterocarpus indicus), Balsa

(Ochroma bicolor), Beringin (Ficus benyamina), Mindi (Melia azedarach) serta

Kesambi (Schleichera oleosa). Sedangkan yang berfungsi sebagai kayu bakar

antara lain: Lamtorogung (Leucaena leucocephala), Akasia (Acacia

auriculiformis), Kaliandra (Caliandra calothyrus), Gamal (Gliricidea maculate),

Jabon (Anthocephalus cadamba), Johar (Cassia siamea) serta yang berfungsi

sebagai penghasil buah-buahan antara lain: Duwet (Eugenia cuminia), Durian

(Durio Zibenthinus), Nangka (Arthocarpus integra), Kemiri (Aleurites

moluccana), Jambu air (Eugenia aquatic), bamboo (Giganthochloa sp), Kapuk

rindu (Ceiba pentandra), Melinjo (Gnetum gnemon).

Penanaman di lahan kritis akan mengatasi berbagai masalah sekaligus

yaitu masalah penyerapan emisi CO2 dan masalah perbaikan lahan kritis sehingga

mengurangi jumlah lahan kritis yang ada.

4.5 Program Pohon Asuh dan Pohon Adop sebagai Solusi Dari Konferensi Iklim Dunia dalam Permasalahan Global Warming

Saat ini telah terjadi pergeseran bentuk interaksi manusia dengan hutan

yang bersifat melingkar. Pergesaran interaksi tersebut saat ini telah pada periode

kehidupan manusia memerlukan hutan yang akan memasuki periode kehidupan

manusia mendambakan hutan (Suhendang 2002). Meningkatnya laju pencairan es

dan peningkatan suhu global 2o C di dunia menjadi nilai penting bagi negara di

dunia. Peristiwa tersebut menjadi indikasi dari periode kehidupan manusia

(23)

14

hutan. Sehingga jasa lingkungan menjadi strategi sisi penawaran dalam

menanggulangi global warming.

Komitmen untuk mengurangi emisi gas pada Rio Earth Summit dan

Protokol Kyoto, kedua komitmen itu gagal dipenuhi. Protokol Kyoto, sebagai

perluasan kesepakatan Earth Summit 1992 di Rio de Janeiro, mencatat komitmen

negara-negara industri, untuk sampai tahun 2012 mengurangi emisi gas kaca

sedikitnya 5% di bawah emisi pada tahun 1990 (Koesoemawiria 2009). Menurut

Tim Flanner 2010 dalam Koesoemawiria 2010 Konferensi iklim di Copenhagen

adalah upaya diplomasi selama bertahun-tahun menentukan masa depan dunia.

Program pengembangan pembangunan hutan berbasis pemberdayaan

masyarakat dengan pola pohon asuh dan pohon adop. Perbedaan pohon asuh dan

pohon adop terletak pada pohon yang akan ditanam dan pohon yang telah tumbuh

menjadi kepemilikan bersama selama periode tertentu, penawaran kerjasama

bersama masyarakat sekitar hutan akan pemeliharaan dan kelestarian hutan dan

pengembangan pembangunan hutan memiliki strategi sisi penawaran (suplly side)

dalam pengembangan suatu jasa lingkungan yang diupayakan melalui investasi

modal untuk kegiatan-kegiatan produksi yang berorientasi keluar (Saefulhakim et

all 2009). Hal ini menjadi nilai penting untuk penawaran kepada negara maju di

dunia dalam konfrensi iklim dunia, karena keunggulan program ini melibatkan

masyarakat secara langsung sehingga mendapatkan perkembangan pohon yang

terpelihara baik secara kualitas maupun kuantitas pohonnya.

Program ini melibatkan berbagai pihak dalam mewujudkannya. Negara

maju yang mengeluarkan emisi CO2 tinggi berperan sebagai donator (jasa

lingkungan), masyarakat desa hutan dalam kelembagaan LMDH (Lembaga

Masyarakat Desa Hutan) sebagai inisiator/pelaksana dan pemerintah menjadi

fasilitator. Pengembangan program ini memberikan kontribusi secara ekologi,

ekonomi, dan sosial untuk semua pihak. Kontribusi dalam penyerapan karbon

dunia sebagai fungsi ekologi yang mempengaruhi iklim global dengan data

jumlah pohon yang akurat bagi pihak yang mendanai yaitu negara maju,

sedangkan fungsi sosial meningkatkan penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat

(24)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis dan sintesis yang dipaparkan dalam karya tulis ini, maka

dapat disimpulkan beberapa hal berikut:

1. Peningkatan kecepatan pencairan es di berbagai benua di dunia menjadi

indikasi bahwa kosentrasi emisi CO2 semakin meningkat. Pemanasan global

akan terus meningkat jika salah satu penyokong hutan tropis di dunia yang

berfungsi sebagai pengendalian iklim dunia melalui penyerapan dan

penyimpanan karbon.

2. Indonesia memiliki strategi sisi penawaran (suplly side) dengan sumber daya

alam berupa hutan tropis, strategi ini dalam pengembangan suatu jasa

lingkungan.

3. Jasa lingkungan menjadi strategi sisi penawaran dalam menanggulangi global

warming, program pengembangan pembangunan hutan berbasis

pemberdayaan masyarakat dengan pola pohon asuh dan pohon adop menjadi

konsep pelestarian dan perbaikan kualitas hutan tropis yang berkontribusi

dalam penyerapan karbon dunia sebagai fungsi ekologi yang mempengaruhi

iklim global dengan data jumlah sebaran pohon yang akurat bagi negara maju,

sedangkan fungsi sosial dan ekonomi meningkatkan penyerapan tenaga kerja

bagi masyarakat sekitar dan pendapatan masyarakat.

5.2 Saran

Seiring dengan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap

permasalahan pemanasan global, maka nilai jual Indonesia akan semakin

meningkat jika hutan tropis terjaga kelestariannya. Untuk mensukseskan program

ini, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak seperti, Departemen Kehutanan,

Departemen Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan Daerah, dan pemerintah.

Adanya peraturan hukum yang mengikat juga diperlukan agar pelaksanaan

(25)

16

DAFTAR PUSTAKA

[CIFOR] Center for International Forestry Research. 2007. Pengelolaan hutan bersama masyarakat. http://www. Cifor.cgiar.org/lpf/docs/lpf_flayer. Pdf

Boer R. 2000. Indonesian Greenhouse Gas Inventory in LULUCF Sector. Round Table Discussion GHG Inventory in LULUCF Sector, 25 May 2000. Biotrop.

Dahlan EN. 1992. Hutan Kota untuk Pengelolaan Lingkungan Hidup di

Perkotaan. Jakarta: APHI.

[DEFRA] Department of Environment, Food and Rurals Affairs. 2001. Convertion. http://www.natenergy.org.uk/convert.htm [25 Maret 2009].

Foley, G. 1993. Pemanasan Global (Siapakah yang Merasa Panas?). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Joshua, R.W. 2005. Agenda New World Order. Jakarta: Aethera.

Kellog WW and Robert SR. 1982. Climate Change and Society. Colorado, USA: Westview Press.

Koesmaryono Y. 1999. Tanggap fotosintesis terhadap lingkungan. Pedoman Penelitian Dosen-dosen Perguruan Tinggi Negeri Bagian Barat dalam Bidang

Agroklimatologi. Bogor: Jurusan Geofisika dan Meteorologi, Institut Pertanian

Bogor.

Koesoemawiria. 2009. Menjajaki kesepakatan baru Konferensi Iklim Kopenhagen. http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4972084,00.html [10 Maret 2010]

Mudiyarso D, Hairian K, Noordwijk MV. 1994. Modelling and measuring soil organic maker dynamics and greenhouse gas emissions after forest conversions. ASB-Indonesia Report number 1. Bogor.

Permana H. 2006. Penentuan luasan optimal jalur hijau sebagai penyerap gas CO2

(Studi kasus di Jalan Tol Jagorawi, Ruas Ciawi-TMII) [Skripsi]. Bogor: Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Riyanto, B. 2004. Hukum Kehutanan Dan Sumber Daya Alam. Bogor: LPH KL

Saefulhakim, S., Rustiadi, E, dan Panuju, D. R. 2009. Perencanaan dan

Pengembangan Wilayah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia .

Suhendang E. 2002. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan

Stracked, M. 2004. Peatlands and climate change internasional peat society 223pp and wetland internasional indonesia proggramme. Indonesia: WIIP

Yuliani F. 2004. Emisi CO2 dari bidang industri dan transportasi di Kabupaten

(26)

17

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT HIDUP KETUA PELAKSANA

Nama lengkap : I Putu Arimbawa P Tempat, tanggal lahir : Pempatan, 21 Mei 1988 Jenis kelamin : Laki - Laki

Agama : Hindu

Alamat : Jalan Ceres No 4 RT/RW 4 Blok O Komplek IPB II Sindang Barang

Telp/HP : 081805343728

Fakultas/Departemen : Kehutanan / Manajemen Hutan

Mayor/Minor : Manajemen Hutan / Supporting Course NIM : E14070015

Riwayat Pendidikan

1995 – 2001 SD Negeri 8 Pempatan

2001 – 2004 SLTP Negeri 2 Rendang

2004 – 2007 SMA Negeri 1 Semarapura

2007 – sekarang Mayor Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Pengalaman Organisasi dan Kegiatan

2000 – 2001 Peringkat I Kelas di SLTP Negeri 2 Rendang

2002 – 2003 Ketua OSIS SLTP Negeri 2 Rendang

2003 – 2004 Lomba – Lomba di Tingkat SLTP 2005 – 2006 Peserta Olimpiade Biologi di SMA

2010 – sekarang Anggota Pengurus Divisi Informasi dan Komunikasi Forest Management Student Club

(Himpunan Profesi Manajemen Hutan)

Prestasi dalam Bidang Karya Ilmiah

(27)

18

RIWAYAT HIDUP ANGGOTA PELAKSANA I

Nama lengkap : Syampadzi Nurroh

Tempat, tanggal lahir : Bandung, 17 November 1986 Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Jalan Soewandana No. 43 Dramaga Pasar Kecamatan Dramaga, Bogor 16680

Telp/HP : 085723512796

Fakultas / Departemen : Kehutanan / Manajemen Hutan

Mayor / Minor : Manajemen Hutan / Agronomi dan Holtikultura NIM : E14050515

Riwayat Pendidikan

1992 – 1993 TK Dharma Kartini Cimahi Bandung 1993 – 1999 SD Negeri 3 Cimindi Bandung

1999 – 2002 SLTPK BPK Penabur Cimahi Bandung

2002 – 2005 SMA Negeri 1 Cibeber Cianjur

2005 – sekarang Mayor Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Pengalaman Organisasi dan Kegiatan

2002 – 2003 Anggota Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 1 Cibeber Cianjur

2003 – 2004 Ketua Umum Botanical Garden SMA Negeri 1 Cibeber 2005 – 2006 Staf Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) TPB - IPB 2007 – sekarang Pengurus International Forestry Student Association

(IFSA) LC IPB

2007 – 2008 Ketua Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Forest Management Student Club

(Himpunan Profesi Manajemen Hutan)

2009 - 2010 Staf Infokom Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan

Prestasi dalam Bidang Karya Ilmiah

• Finalis Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial di tingkat IPB (2008).

• Finalis Musabaqah Karya Tulis Al-Quran di Tingkat IPB (2009) • Penerima Penghargaan PKMAI (Artikel Ilmiah) DIKTI 2009

(28)

19

RIWAYAT HIDUP ANGGOTA PELAKSANA II

Nama lengkap : R. Rodlyan Ghufrona Tempat, tanggal lahir : Bogor, 13 Mei 1987 Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Raya Cifor M500 Bubulak Rt 02 Rw 07, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Bogor 16115

2005 – sekarang Mayor Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Pengalaman Organisasi dan Kegiatan

1999 – 2001 Bendahara Umum Bina Ksatria Cita (BKC) Dojo Bushido 2000 – 2001 Pengurus OSIS Seksi Bidang IV SLTP Negeri 4 Bogor 2000 – 2001 Pengurus Karya Ilmiah Remaja (KIR) SLTPN 4 Bogor 2002 – 2003 Anggota Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 1 Bogor

2002 – 2003 Tim Perencana Dana Usaha DKM SMA Negeri 1 Bogor

2003 – 2004 Tim Pelaksana Dana Usaha DKM SMA Negeri 1 Bogor 2006 – 2008 Anggota Sopran Paduan Suara Fakultas Kehutanan IPB 2007 – 2008 Ketua Divisi Paduan Suara Komunitas Seni Budaya

Masyarakat Roempoet (KSBMR) Fakultas Kehutanan IPB 2008 – 2009 Pelatih Divisi Degung Komunitas Seni Budaya

Masyarakat Roempoet (KSBMR) Fakultas Kehutanan IPB

Prestasi dalam Bidang Karya Ilmiah

• Sepuluh Besar Finalis Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial di tingkat IPB (2008)

(29)

21

(30)

22

Lampiran 1 Sifat gas rumah kaca

Sumber: Dahlan (2009)

Lampiran 2 Data kecepatan pencairan es di benua Amerika

No Nama Lokasi Kecepatan pencairan

1 Artic sea ice Artic ocean Telah menciut 6 %sejak 1978, dan 40% dalam waktu kurang dari 30 tahun

2 Greenland ice

sheet Greenland Menipis lebih dari per tahun sejak 1993

3 Columbia glacier Alaska, united states

Telah berkurang 13 kilometer sejak 1982. Pada 1999 percepatan meningkat dari 25 meter/hari menjadi 35 meter/hari

4 Portage Glacier Alaska

Berkurang 3 km antara 1990-1996, dibandingkan dengan hanya 0.5 Km pada abad 19. Percepatan pencairan meningkat 10 kali lipat.

5 Wolverine Gl Alaska Berkurang 7 meter anatara 1989-1995

6 Gulkana Glc Alaska Berkurang 5 meter antara 1989-1995

7 Bering Glacier Alaska

Area depan hilang 130 km2 sejak 1990. Berkurang hingga 180 meter selama 50 tahun terakhir dan menipis 20-25% di

Bagian dasar mencair 1,2 km. per tahun anrata 1992-1996. Es menipis dengan

Secara keseluruhan, sudah mencair seluas 8000 km2 hingga tahun 2000 ( sama dengan luas bagian Delaware).

12 Larsen A and Prince Gustav

Antartic

Peninsula Sudah mencair seluruhnya tahun 1995.

(31)

23

Ice Shalver

13 Wordie Ice Shelf Antartic Peninsula

15 Wilkins Ice Shelf Antartic Peninsula

Mencair 1100 km2 pada awal Maret 1999. Batas es mundur 35 km dari jarak sebelumnya.

16 Heard Island Sub-antartic

Berkurang sebanyak 65% antara 1947 dan 1990.

17 Upsala Glacier Argentina

Mundur 60 meter per tahun selama 60 tahun terakhir, dengan percepatan yang meningkat

Sumber: Joshua (2005)

Lampiran 3 Data Kecepatan Pencairan Es Di Benua Oceania

No Nama Lokasi Kecepatan pencairan

1 New Zealand pertengahan sejak pertengahan abad 19.

2 Tasman Glacier New

Zealand

Mencair 3 km sejak 1971, batas depan mundur 1,5 km sejak tahun 1982. Menipis rata 200 m 1971-1982. Gunung-gunung es mulai runtuh sejak tahun 1991.

Sumber: Joshua (2005)

Lampiran 4 Data Kecepatan Pencairan Es Di Asia

No Nama Lokasi Kecepatan pencairan

(32)

24

22 Gangotri Glacier Himalayas, India

Rata-rata kemunduran batas es 30 m per tahun, disbanding 18 m per tahun pada 1935-1990, dan hanya 7 m per tahun pada 1842-1935.

23 Pindari Glacier Himalayas, India

Batas es mundur rata-rata 135 m per tahun.

24 Himalayan

Glaciers Nepal

Batas es mundur 100 m selama periode 15 tahun terahir.

Antara 1950-1980-an, 73% mencair, 15% bertambah, dan 12% stabil.

27 Tien Shan

Mountains Central Asia

22% volume es glacial mencair dalam 40 tahun terakhir

Sumber: Joshua (2005)

Lampiran 5 Data Kecepatan Pencairan Es Di Benua Eropa

No Nama Lokasi Kecepatan pencairan

28 Caucasus es berkurang 50% sejak 1850.

30 Alps Austria

Survey 1997 menunjukan 74 lapisan es menciut, 17 stabil, dan hanya 12 bertambah. Sebuah glacier, bernama Hochjochferner, telah menciut 32 meter.

31 Alps Switzerland

Selama periode 150 tahun, area lapisan es di timur Switzerland hilang 40% dan setengah hari volumenya.

32 Gruben Glacier Alps, Switzerland

Telah menciut sejak pertengahan, dan percepatan mencair meningkat sejak 1980.

33 Fee Glacier Alps,

Switzerland Menciut 51 meter dalam setahun

34 Rhone Glacier Alps, Switzerland

Telah mencair setengahnya dalam 100 tahun terakhir

35 Spanish Glacier Spain 14 dari 27 glacier sudah habis mencair sejak 1980

36 Mt. Kenya Kenya Sudah mencair sekitar 92% sejak akhir

1800-an

37 Mt. Kilimanjaro Tanzania Sudah mencair sekitar 73% sejak akhir 1800-an

38 Speka Glacier Uganda

(33)

Figur

Tabel.1 Persentasi Cadangan Karbon di Hutan Tropika Di Dunia
Tabel 1 Persentasi Cadangan Karbon di Hutan Tropika Di Dunia . View in document p.13
Gambar 1  Pengaruh gas rumah kaca terhadap total radiasi atmosfer.
Gambar 1 Pengaruh gas rumah kaca terhadap total radiasi atmosfer . View in document p.14
Tabel  2  Strategi pengurangan efek dari emisi CO2 di atmosfer atau strategi untuk membantu pencegahan perubahan iklim
Tabel 2 Strategi pengurangan efek dari emisi CO2 di atmosfer atau strategi untuk membantu pencegahan perubahan iklim . View in document p.16
Tabel  3   Data Kecepatan Pencairan Es Di Benua Amerika
Tabel 3 Data Kecepatan Pencairan Es Di Benua Amerika . View in document p.18
Tabel 4  Emisi CO2 yang dihasilkan oleh beberapa jenis bahan bakar
Tabel 4 Emisi CO2 yang dihasilkan oleh beberapa jenis bahan bakar . View in document p.19
Tabel 5  Daya serap vegetasi terhadap gas CO2
Tabel 5 Daya serap vegetasi terhadap gas CO2 . View in document p.20

Referensi

Memperbarui...