• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Dan Produksi Tiga Varietas Padi Gogo (Oryza sativa L.) Terhadap Perbandingan Pemberian Kascing Dan Pupuk Kimia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pertumbuhan Dan Produksi Tiga Varietas Padi Gogo (Oryza sativa L.) Terhadap Perbandingan Pemberian Kascing Dan Pupuk Kimia"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TIGA VARIETAS

PADI GOGO (Oryza sativa L.) TERHADAP PERBANDINGAN

PEMBERIAN KASCING DAN PUPUK KIMIA

ALLEN WIJAYA

070301024

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TIGA VARIETAS

PADI GOGO (Oryza sativa L.) TERHADAP PERBANDINGAN

PEMBERIAN KASCING DAN PUPUK KIMIA

SKRIPSI

Oleh :

ALLEN WIJAYA

070301024

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Skripsi : Pertumbuhan dan produksi tiga varietas padi gogo (Oryza sativa L.) terhadap perbandingan pemberian kascing dan pupuk kimia

Nama : Allen Wijaya

Nim : 070301024

Departemen : Agroekoteknologi

Program Studi : Agronomi

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hapsoh, MS Ir. Asil Barus, MS Ketua Anggota

Mengetahui,

Ir. T. Sabrina, MAgr. Sc. Ph.D Ketua Departemen Agroekoteknologi

(4)

ABSTRAK

ALLEN WIJAYA: Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Padi Gogo (Oryza sativa L.) Terhadap Perbandingan Pemberian Kascing dan

Pupuk Kimia. Dibimbing oleh Hapsoh dan Asil Barus.

Padi adalah makanan pokok sebagian besar penduduk dunia. Peningkatan produksi padi masih sangat tergantung pada penggunaan pupuk kimia. Penggunaan pupuk organik sangat diperlukan untuk menggantikan peran pupuk kimia, melestarikan lingkungan dan untuk pertanian yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di Desa Marindal Kecamatan Medan Johor, pada bulan September 2010 sampai Maret 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah varietas (V) yang terdiri atas : Situ Patenggang (V1), Situ Bagendit (V2) dan Limboto (V3). Faktor kedua adalah perbandingan kascing dan pupuk kimia (K) terdiri atas: Kascing 100% (K1), Kascing 75% + Pupuk Kimia 25% (K2), Kascing 50% + Pupuk Kimia 50% (K3), Kascing 25% + Pupuk Kimia 75% (K4) dan Pupuk Kimia 100% (K5).

Hasil yang diperoleh adalah varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2,4,6 dan 8 MST, jumlah anakan 4,6 dan 8 MST, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per rumpun, jumlah gabah berisi per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir. Selanjutnya varietas berpengaruh tidak nyata terhadap parameter produksi per rumpun dan produksi per hektar. Perbandingan kascing dengan pupuk kimia berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 2,4,6 dan 8 MST, jumlah anakan 6 dan 8 MST, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir. Selanjutnya berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah anakan 4 MST, panjang malai, jumlah gabah berisi per rumpun, produksi per rumpun dan produksi per hektar. Interaksi antara varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia hanya berpengaruh terhadap parameter jumlah gabah berisi per rumpun dan persentase jumlah gabah berisi per rumpun sedangkan berpengaruh tidak nyata terhadap pameter – parameter lainnya.

(5)

ABSTRACT

ALLEN WIJAYA: The Growth and Production of Three Varieties of Upland Rice to the Ratio of Vermicompost and Chemical Fertilizers. The study was conducted under the guidance of Hapsoh and Asil Barus.

Rice is the staple food of most of the world’s population. Increasing rice production is still very dependent on the use of chemical fertilizers. The use of organic fertilizer is needed to replace the role of chemical fertilizers, preserving the environment and for sustainable agriculture. The study was conducted in Desa Marindal, Kecamatan Medan Johor from September 2010 to March 2011. The research used a randomized block design with two factors. The first factor is varieties (V), which include Situ Patenggang (V1), Situ Bagendit (V2), and Limboto (V3). The second factor is the ratio of vermicompost and chemical fertilizers, which include : vermicompost 100% (K1), vermicompost 75% + chemical fertilizer 25% (K2), vermicompost 50% + chemical fertilizer 50% (K3), vermicompost 75% + chemical fertilizer 75% (K4) and chemical fertilizers 100% (K5).

The result obtained that varieties significantly affected the parameters of plant height 2, 4, 6, and 8 weeks after planting, the number of tillers are 4, 6 and 8 weeks after planting, the number of productive tillers, length of panicle, the number of grains per hill, number of grains contain per cluster, the percentage of grains contain per clump, and 1000 grain weight. Varieties did not significantly affect the parameters production per cluster, and the production per hectare. The ratio of vermicompost and chemical fertilizers significantly affected the parameters of plant height 2, 4, 6 and 8 weeks after planting, the number of tiller 6 and 8 weeks after planting, number of productive tillers, number of grains per hill, percentage of grains contain per clump, and 1000 grain weight. In addition, varieties did not significantly affect the parameters number of tillers 4 weeks after planting, length of panicle, number of grains contain per cluster, production per cluster, and production per hectare. The interaction between varieties and the ratio of vermicompost and chemical fertilizers only affect the parameters of grain content per hill and the percentage of grain contains per clump, whereas the interaction between the two have no significant effect on other parameters.

Keywords : Upland rice, Varieties, Vermicompost, Chemical fertilizers.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Medan pada tanggal 5 Januari 1989. Anak ke tiga dari tiga

bersaudara dari pasangan ayahanda Rivai Yamin dan ibunda Yuhibbah.

Pada tahun 2007 penulis menamatkan sekolahnya dari SMA Negeri 16

Medan dan lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara melalui jalur SPMB

dan memilih program studi Agronomi Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas

Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti kegiatan organisasi

HIMADITA (Himpunan Mahasiswa Budidaya Pertanian) dan pengajian Nahdatus

Syu’ban. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Bakrie

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Pertumbuhan dan Produksi Tiga

Varietas Padi Gogo (Oryza sativa L.) Terhadap Perbandingan Pemberian

Kascing Dan Pupuk Kimia“. Skripsi ini merupakan syarat untuk mendapat gelar

sarjana dari Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Kedua

orang tua, abang serta kakak ku tercinta yang telah memberikan semangat dan

dukungannya. Prof. Dr. Ir. Hapsoh MS dan Ir. Asil Barus, MS selaku komisi

pembimbing. Teman – teman yang telah banyak membantu menyelesaikan skripsi

ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, serta kepada dosen – dosen dan

pegawai di fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengharapkan kritik dan juga saran yang bersifat membangun

agar skripsi ini lebih baik dan dapat berguna bagi pihak yang membutuhkan.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Medan , Mei 2011

(8)
(9)

Jumlah Gabah Per Rumpun... ... 15

Jumlah Gabah Berisi per Rumpun... ... 15

Persentase Gabah Berisi per Rumpun... ... 15

Bobot 1000 Butir... ... 15

Produksi Gabah Kering per Rumpun... 15

Produksi Gabah Kering per Hektar... ... 16

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil... ... 17

Pembahasan... ... 29

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan………. ... 36

Saran……… ... 36

DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL

No Hal

1. Tinggi padi (cm) umur 2,4,6 dan 8 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk

kimia...18

2. Jumlah anakan padi (batang) umur 4,6 dan 8 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk

kimia... 20

3. Jumlah anakan produktif padi (batang) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 22

4. Panjang malai padi (cm) pada perlakuan varietas dan

perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 23

5. Jumlah gabah per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas

dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 24

6. Jumlah gabah berisi per rumpun padi (butir) pada perlakuan

varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 25

7. Persentase jumlah gabah berisi per rumpun padi (%) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk

kimia... 26

8. Bobot 1000 butir padi (g) pada perlakuan varietas dan

perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 27

9. Produksi per rumpun padi (g) pada perlakuan varietas dan

perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 28

10.Produksi per hektar padi (ton) pada perlakuan varietas dan

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Hal

1. Foto tanaman padi pada berbagai kombinasi perlakuan... ... 62

2. Foto lahan penelitian... ... 64

3. Foto hasil gabah kering pada dari berbagai kombinasi

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No Hal

1. a. Deskripsi padi varietas Situ Patenggang ... 39

b. Deskripsi padi varietas Situ Bagendit... 40

c. Deskripsi padi varietas Limboto... 41

2. Perhitungan Kebutuhan Pupuk... ... 42

3. Hasil analisis kandungn kascing...43

4. Data pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi padi (cm) umur 2 MST Pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... ... 44

5. Data pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi padi (cm) umur 4 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 45

6. Data pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi padi (cm) umur 6 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... 46

7. Data pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi padi (cm) umur 8 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... ... 47

8. Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah anakan padi (batang) umur 4 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... ... 48

9. Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah anakan padi (batang) umur 6 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 49

10.Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah anakan padi (batang) umur 8 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 50

11.Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah anakan produktif padi (Batang) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 51

(13)

13.Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah gabah per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas dan perbandingan

kascing dengan pupuk kimia ... 53

14.Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah gabah berisi per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 54

15.Data pengamatan dan analisis sidik ragam persentase jumlah gabah berisi per rumpun padi (%) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 55

16.Data pengamatan dan analisis sidik ragam bobot 1000 butir padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 56

17.Data pengamatan dan analisis sidik ragam produksi per rumpun padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 57

18.Data pengamatan dan analisis sidik ragam produksi per hektar padi (ton) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 58

19.Rangkuman pertumbuhan padi pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia ... 59

20.Rangkuman komponen produksi dan produksi padi pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia... . 60

21.Bagan penelitian...60

22.Jadwal pelaksanaan penelitian...61

23.Foto padi pada berbagai kombinasi perlakuan...62

24.Foto lahan penelitian... ..64

(14)

ABSTRAK

ALLEN WIJAYA: Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Padi Gogo (Oryza sativa L.) Terhadap Perbandingan Pemberian Kascing dan

Pupuk Kimia. Dibimbing oleh Hapsoh dan Asil Barus.

Padi adalah makanan pokok sebagian besar penduduk dunia. Peningkatan produksi padi masih sangat tergantung pada penggunaan pupuk kimia. Penggunaan pupuk organik sangat diperlukan untuk menggantikan peran pupuk kimia, melestarikan lingkungan dan untuk pertanian yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di Desa Marindal Kecamatan Medan Johor, pada bulan September 2010 sampai Maret 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah varietas (V) yang terdiri atas : Situ Patenggang (V1), Situ Bagendit (V2) dan Limboto (V3). Faktor kedua adalah perbandingan kascing dan pupuk kimia (K) terdiri atas: Kascing 100% (K1), Kascing 75% + Pupuk Kimia 25% (K2), Kascing 50% + Pupuk Kimia 50% (K3), Kascing 25% + Pupuk Kimia 75% (K4) dan Pupuk Kimia 100% (K5).

Hasil yang diperoleh adalah varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2,4,6 dan 8 MST, jumlah anakan 4,6 dan 8 MST, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per rumpun, jumlah gabah berisi per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir. Selanjutnya varietas berpengaruh tidak nyata terhadap parameter produksi per rumpun dan produksi per hektar. Perbandingan kascing dengan pupuk kimia berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 2,4,6 dan 8 MST, jumlah anakan 6 dan 8 MST, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir. Selanjutnya berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah anakan 4 MST, panjang malai, jumlah gabah berisi per rumpun, produksi per rumpun dan produksi per hektar. Interaksi antara varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia hanya berpengaruh terhadap parameter jumlah gabah berisi per rumpun dan persentase jumlah gabah berisi per rumpun sedangkan berpengaruh tidak nyata terhadap pameter – parameter lainnya.

(15)

ABSTRACT

ALLEN WIJAYA: The Growth and Production of Three Varieties of Upland Rice to the Ratio of Vermicompost and Chemical Fertilizers. The study was conducted under the guidance of Hapsoh and Asil Barus.

Rice is the staple food of most of the world’s population. Increasing rice production is still very dependent on the use of chemical fertilizers. The use of organic fertilizer is needed to replace the role of chemical fertilizers, preserving the environment and for sustainable agriculture. The study was conducted in Desa Marindal, Kecamatan Medan Johor from September 2010 to March 2011. The research used a randomized block design with two factors. The first factor is varieties (V), which include Situ Patenggang (V1), Situ Bagendit (V2), and Limboto (V3). The second factor is the ratio of vermicompost and chemical fertilizers, which include : vermicompost 100% (K1), vermicompost 75% + chemical fertilizer 25% (K2), vermicompost 50% + chemical fertilizer 50% (K3), vermicompost 75% + chemical fertilizer 75% (K4) and chemical fertilizers 100% (K5).

The result obtained that varieties significantly affected the parameters of plant height 2, 4, 6, and 8 weeks after planting, the number of tillers are 4, 6 and 8 weeks after planting, the number of productive tillers, length of panicle, the number of grains per hill, number of grains contain per cluster, the percentage of grains contain per clump, and 1000 grain weight. Varieties did not significantly affect the parameters production per cluster, and the production per hectare. The ratio of vermicompost and chemical fertilizers significantly affected the parameters of plant height 2, 4, 6 and 8 weeks after planting, the number of tiller 6 and 8 weeks after planting, number of productive tillers, number of grains per hill, percentage of grains contain per clump, and 1000 grain weight. In addition, varieties did not significantly affect the parameters number of tillers 4 weeks after planting, length of panicle, number of grains contain per cluster, production per cluster, and production per hectare. The interaction between varieties and the ratio of vermicompost and chemical fertilizers only affect the parameters of grain content per hill and the percentage of grain contains per clump, whereas the interaction between the two have no significant effect on other parameters.

Keywords : Upland rice, Varieties, Vermicompost, Chemical fertilizers.

(16)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Padi adalah tanaman yang paling banyak dibudidayakan, meliputi sekitar 143,5 juta hektar, dan 90% lebih berada dikawasan Asia. Luas areal padi di setiap negara sangat tergantung dari kebijaksanaan masing – masing pemerintah. Padi dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah dari yang bertopografi datar sampai miring, dan sampai 1500 m di atas permukaan laut (Noor, 1996).

Sebagai bahan makanan, nasi dan beberapa bahan makanan pokok lainnya merupakan sumber untuk mendapatkan karbohidrat dan lemak. Pencernaan karbohidrat di dalam tubuh akan menghasilkan energi. Dibandingkan dengan bahan makan lainnya, beras merupakan bahan makanan yang paling lengkap kandungan gizinya dan sangat tinggi kandungan karbohidrat, lemak dan proteinnya (Sugeng, 2001).

Hal ini menjadikan padi sebagai tanaman pangan yang terpenting di Indonesia dan menyebabkan kebutuhan terhadap padi terus bertambah. Produksi padi tahun 2009 sebesar 64,33 juta ton gabah kering giling, meningkatan sebanyak 4 juta ton (6,64%) dari tahun 2008. Produksi 2010 diperkirakan sebesar 64,9 juta ton gabah kering giling, yang menunjukkan peningkatan sebanyak 568,37 ribu ton (0,88%)

(17)

hemat benih, biaya tanam lebih rendah dan produksi lebih tinggi. Meskipun benih yang ditanam hanya satu namun akarnya lebih panjang dan anakan padi yang dihasilkan lebih banyak. Pupuk yang dianjurkan pada metoda SRI adalah pupuk organik karena selain memperbaiki struktur tanah, juga bisa mengikat air

Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, penurunan produktivitas lahan, terjadinya residu bahan kimia sehingga membahayakan kesehatan. Pupuk organik merupakan solusi untuk memberdayakan pertanian yang berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik diharapkan dapat menggantikan sebagian dari penggunaan pupuk kimia.

Kascing merupakan pupuk organik yang mengandung mikroba, fithohormon dan unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kascing mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya

dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah (Prasetyo, 2010)

Cacing tanah dapat memakan bahan organik sebesar ukuran badannya dalam waktu 24 jam. Cacing tanah mampu menguraikan sampah organik 2 sampai 5 kali lebih cepat daripada mikroorganisme pembusuk. Limbah bahan organik yang diuraikan bobot nya dapat menyusut 40-60%. Pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan menggunakan mikroorganisme cacing tanah inilah yang disebut kascing (Nick, 2010).

(18)

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo (Oryza sativa L.) terhadap perbandingan pemberian kascing dengan pupuk kimia.

Hipotesa Penelitian

Ada pengaruh perbandingan kascing dan pupuk kimia terhadap pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo (Oryza sativa L.) dan ada interaksi antara perbandingan kascing dan pupuk kimia dengan varietas padi gogo(Oryza sativa L.)

Kegunaan Penelitian

1. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menentukan perbandingan dosis kascing dan pupuk kimia yang tepat dalam budidaya padi gogo.

2. Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Padi

Menurut Aak (1990) klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Class : Monocotyledonae Ordo : Graminales

Famili : Graminae (Poaceae) Genus : Oryza

Species : Oryza sativa L.

Akar padi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian. Pertama, akar tunggang yaitu akar lembaga yang tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang. Kedua, akar serabut, akar ini tumbuh setelah 5-6 hari dari terbentuknya akar tunggang. Ketiga akar rambut yaitu merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang, merupakan saluran pada kulit akar yang berada diluar, dan ini penting dalam pengisian air serta zat-zat makanan. Kemudian akar tajuk yaitu akar yang tumbuh dari ruas batang terendah. Akar tajuk dibedakan menjadi akar tajuk dangkal dan dalam. Apabila kandungan udara dalam tanah rendah, maka akar tajuk dangkal mudah berkembang (Tjitrosoepomo, 2001).

Sumbu utama batang dibedakan dari titik tumbuh embrio, yang pada awalnya tertutup oleh koleoptil. Tinggi batang utama tergantung pada jumlah ruas dan panjangnya, tetapi kemungkinan lebih dipengaruhi oleh lingkungan, dalam

(20)

kondisi pertumbuhan yang sebanding yang lebih menentukan adalah karakteristik varietas. Varietas yang memiliki metode pematangan yang pendek umumnya memiliki ruas lebih sedikit dibandingkan dengan periode pematangan yang lama, tetapi tetap terdapat pengecualian. Jumlah ruas dapat bervariasi dari sekitar sepuluh sampai dua puluh (Girst, 1960).

Daun terdiri dari dua bagian yaitu, sarung yang membungkus batang dan lidah atau lamina. Daun berada pada suatu sumbu yang jumlahnya sama dengan ruasnya. Daun yang pertama merupakan selubung daun atau koleoptil. Daun kedua muncul melalui celah koleoptil itu, ukurannya lebih kecil dan tidak memiliki lidah daun. Daun yang lain sama, kecuali daun yang paling atas atau daun bendera yang sedikit berbeda (Girst, 1960).

Bunga padi merupakan bunga dioceus dan bakal buah berada diatasnya. Malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas. Bulir – bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku terakhir pada batang. Panjang malai tergantung varietas, kultur teknis dan lingkungan. Dari sumbu utama pada ruas buku yang terakhir inilah biasanya panjang malai diukur. Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 15 – 20 buah. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi rendemen tanaman (Aak, 1990).

(21)

buku pertama, dan juga membentuk perakaran sendiri. Anakan ketiga tumbuh pada buku pertama pada batang anakan kedua. Jumlah anakan maksimum dicapai pada umur 50-60 hari setelah tanam (Aak,1990).

Biji padi atau gabah terdiri dari dua penyusun utama yaitu 72-82% bagian yang dapat dimakan (kariopsis) dan 18-28% kulit gabah atau sekam. Kariopsis tersusun dari 1-2% perikarp, 4-6% aleuron dan testa, 2-3% lemma dan 89-94% endosperm (Haryadi,2006).

Syarat Tumbuh Padi Iklim

Pertumbuhan padi gogo sangat tergantung pada hujan, yang terdistribusi cukup untuk setiap fase pertumbuhan. Panjang pendeknya musim tanam sangat menentukan keberhasilan panen padi gogo. Selain jumlah hujan dan distribusinya, umur padi gogo juga berperan dalam menentukan kualitas hasil panen, makin pendek umur padi makin baik kualitasnya. Padi gogo yang berumur 90 – 135 hari sangat baik ditanam di Indonesia karena musim hujan di Indonesia pendek. Curah hujan rata – rata yang diperlukan 200 mm/bulan dengan suhu 22 – 27° C (Suprayono dan Setyono, 1997).

Pemakaian air yang optimal pada tanaman padi pada kondisi intensitas cahaya rendah adalah ± 150 mm/bulan dan pada intensitas cahaya tinggi ± 200 mm/bulan (Guslim, 2008)

Tanah

(22)

dan diperlukan air dalam jumlah cukup. Ketebalan lapisan atasnya antara 18 – 22 cm dengan pH 4 – 7 (www. Ngraho. com, 2010)

Padi gogo sebaiknya ditanam di tanah yang berhumus, struktur remah serta cukup mengandung air dan udara. Media yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah yang kasar, lapisan olah tanah sebaiknya berkisar antara 25 cm. Sebaiknya tanah tidak berbatu (www. BPP Teknologi. com, 2010).

Varietas

Tidak semua varietas padi cocok dibudidayakan secara organik. Padi hibrida kurang cocok ditanam secara organik karena diperoleh melalui proses pemuliaan laboratorium. Walaupun merupakan varietas unggul tahan hama dan penyakit tertentu, tetapi umumnya padi hibrida hanya dapat tumbuh dan berproduksi optimal bila disertai dengan aplikasi pupuk kimia dalam jumlah banyak. Tanpa pupuk kimia, padi tersebut tidak akan tumbuh subur dan berproduksi optimal. Varietas padi yang cocok ditanam secara organik hanyalah jenis atau varietas alami. Agar berproduksi optimal jenis padi ini tidak menuntut penggunaan pupuk kimia dalam jumlah besar (Andoko, 2006).

Pupuk Kascing

(23)

Jenis cacing yang sering digunakan untuk membuat kascing adalah

Lumbricus teristis, Lumbricus rubellus, Pherettima defringes dan Eisenia foetida.

Cara membuat kompos dengan bantuan cacing tanah ini disebut vermicomposting. Cacing tanah akan mengurai bahan kompos yang telah terdekomposisi oleh mikroorganisme. Keterlibatan dua jenis mikroorganisme ini dalam pengomposan menyebabkan cara kerjanya lebih cepat dan efisien. Hasil dari vermikompos ini disebut kascing. Kascing mengandung nitrogen, fosfor, mineral, hormon auksin, giberelin dan sitokinin serta beberapa enzim; seperti protease, lipase, selulase dan kitinase yang cukup tinggi. Dalam pengomposan, cacing tanah dapat memakan bahan organik sebanyak dua kali berat tubuhnya dalam waktu 24 jam, serta

membantu aerase dan mengaduk bahan melalui pergerakannya (Simamora dan Salundik, 2006).

Syarat – syarat yang diperlukan agar pertumbuhan cacing dapat berjalan baik adalah; pH media harus netral 6 – 7,2 agar mikroorganisme dalam

pencernaan cacing dapat hidup membantu pencernaan. Kelembaban media 15 – 30 % agar oksigen dapat masuk dan cacing dapat berespirasi. Suhu 15 - 25°C

(24)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di desa Marindal kecamatan Medan Johor dengan ketinggian 25 m di atas permukaan laut. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2010 sampai dengan bulan Maret 2011

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain benih padi gogo varietas Situ Patenggang (Lampiran 1.a), Situ Bagendit (Lampiran 1.b) dan Limboto (Lampiran 1.c), pupuk kimia (NPK) (Lampiran 2), pupuk kascing (Lampiran 3), pestisida organik (dippel wp dan nordox 56 wp), dan tanah top soil.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cangkul untuk mengolah lahan, polibeg, meteran untuk mengukur, timbangan, gembor untuk menyiram tanaman, pacak sampel, penggaris dan jaring untuk melindungi padi dari hama burung.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, yaitu :

Faktor I : varietas padi gogo (V) yang terdiri atas : V1 : Situ Patenggang

V2 : Situ Bagendit

(25)

Faktor II : pupuk kascing (K) dengan 5 taraf, yaitu : K1 : pupuk kascing 100% (8 ton/ha)

K2 : pupuk kascing 75% (6 ton/ha) + pupuk kimia 25% (50, 18.75, 25 kg/ha)

K3 : pupuk kascing 50% (4 ton/ha) + pupuk kimia 50% (100, 37.5, 50 kg/ha)

K4 : pupuk kascing 25% (2 ton/ha) + pupuk kimia 75% (150, 56.25, 75 kg/ha)

K5 : pupuk kimia 100% (200, 75, 100 kg/ha)

Sehigga diperoleh 15 kombinasi perlakuan, yaitu :

V1 K1 V2 K1 V3 K1

V1 K2 V2 K2 V3 K2

V1 K3 V2 K3 V3 K3

V1 K4 V2 K4 V3 K4

V1 K5 V2 K5 V3 K5

Jumlah ulangan : 3 ulangan Jumlah plot/blok : 15 plot Jumlah plot seluruhnya : 45 plot Panjang plot : 100 cm

Lebar plot : 100 cm

(26)

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :

Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk

Dimana:

Yijk : Data hasil pengamatan dari unit percobaan ke-i dengan perlakuan varietas taraf ke-j dan pemberian kascing pada taraf ke-k

µ : Nilai tengah ρi : Efek blok ke-i

αj : Efek perlakuan varietas ke-j βk : Efek pemberian kascing ke-k

(αβ)jk : Efek interaksi dari perlakuan varietas ke-j dan perlakuan pemberian kascing pada taraf ke-k

εijk : Efek error pada blok ke-i yang mendapat perlakuan varietas pada taraf ke-j dan perlakuan pemberian kascing pada taraf ke-k.

(27)

PELAKSANAAN PENELITIAN

Persiapan Lahan

Lahan penelitian terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa akar tanaman, kemudian diratakan dengan menggunakan cangkul

Persiapan Kascing

Bahan-bahan kascing yang terdiri atas campuran tandan kosong kelapa sawit, jerami padi dan rumput - rumputan (2 : 1: 1) dicacah dengan mesin pencacah (kapasitas 500 kg/jam). Bahan yang telah halus kemudian diletakkan dalam bak dan ditambah dengan kotoran lembu yang telah dicairkan dengan air dan molase. Bahan dicampur rata kemudian, dimasukkan cacing sebagai mikroorganisme dekomposer.

Pembuatan Blok

Setelah areal diratakan dibuat blok tanaman sebanyak 3 blok dengan jarak antar blok 50 cm ,setiap blok dibagi menjadi 15 plot, dengan jarak antar plot 30 cm dan ukuran 100 cm x 100 cm

Persiapan Media Tanam

(28)

Penanaman

Sebelum ditanam benih direndam di dalam air selama 60 menit. Kemudian ditanam dalam polibeg sebanyak satu benih per polibeg sedalam dua cm.

Penyulaman

penyulaman dilakukan jika ada benih yang tidak tumbuh, atau yang pertumbuhannya terganggu. Penyulaman dilakukan dengan menggunakan benih transplanting yang telah disiapkan sebelumnya, dan dilakukan pada 1 sampai 2 minggu setelah tanam.

Pemupukan

Pemupukan kascing dilakukan sebelum penanaman dengan cara dicampur di bagian atas media tanam dengan dosis sesuai perlakuan. Pupuk TSP dan KCL diberikan pada 2 MST dengan dosis sesuai perlakuan, sedangkan pupuk Urea diberikan dua kali yaitu pada 2 MST dan 8 MST, masing – masing setengah dari dosis perlakuan.

Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman

Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari dengan menggunakan gembor sampai kapasitas lapang atau disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Penyiangan

(29)

Pengendalian Hama Dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan pestisida organik (insektisida dan fungisida). Pengendalian penyakit pada tanaman dilakukan dengan menyemprotkan fungisida organik, sedangkan pengendalian serangan hama dilakukan dengan menyemprotkan insektisida organik. Penyemprotan dilakukan setiap satu minggu sekali dan di sesuaikan dengan kondisi tanaman di lapangan

Panen

Panen dilakukan ketika bulir padi sudah matang atau sudah mencapai stadium tua. Ciri morfologisnya yaitu daun berwarna kuning kecoklatan atau 33-36 hari setelah berbunga

Peubah Amatan

Tinggi Tanaman

Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur mulai dari pangkal batang yang berada di permukaan tanah sampai ujung daun yang tertinggi setelah diluruskan. Pengamatan dilakukan saat 2, 4, 6 dan 8 MST.

Jumlah Anakan per Tanaman

(30)

Jumlah Anakan Produktif per Tanaman

Jumlah anakan produktif dihitung dengan menghitung seluruh anakan yang menghasilkan malai. Jumlah anakan produktif dihitung setelah panen.

Panjang Malai per Tanaman

Panjang malai diukur dengan menggunakan penggaris setelah malai diluruskan, panjang malai diukur dari pangkal hingga ujung malai. Pengukuran dilakukan setelah panen.

Jumlah Gabah per Rumpun

Jumlah gabah per rumpun dihitung dengan menghitung seluruh jumlah

gabah pada rumpun padi. Jumlah gabah per rumpun dihitung setelah panen dari masing – masing sampel.

Jumlah Gabah Berisi per Rumpun

Jumlah gabah berisi per rumpun dihitung dengan menghitung hanya gabah yang berisi dari seluruh rumpun padi. Jumlah gabah berisi per rumpun dihitung setelah panen dari masing-masing sampel.

Persentase Gabah Berisi per Rumpun

Dihitung persentase gabah berisi per rumpun dengan rumus :

% gabah berisi per rumpun = X100%

(31)

Produksi Gabah Kering per Rumpun

Produksi per rumpun dihitung dengan menimbang keseluruhan dari hasil gabah berisi setelah pemanenan pada masing-masing tanaman sampel.

Produksi Gabah Kering per Hektar

(32)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa varietas menghasilkan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per rumpun, jumlah gabah berisi per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir. Selanjutnya varietas tidak berpengaruh nyata terhadap parameter produksi per rumpun dan produksi per hektar.

Perlakuan perbandingan kascing dengan pupuk kimia menghasilkan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah anakan 6 dan 8 minggu setelah tanam (MST), jumlah anakan produktif, jumlah gabah per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun, dan bobot 1000 butir. Tetapi tidak berpengaruh nyata pada parameter jumlah anakan 4 MST, panjang malai, jumlah gabah berisi per rumpun, produksi per rumpun dan produksi per hektar.

Interaksi antara varietas dan kascing berdasarkan hasil analisis sidik ragam hanya berpengaruh nyata pada parameter jumlah gabah berisi per rumpun dan persentase jumlah gabah berisi per rumpun. Sedangkan tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata pada parameter yang lainnya.

Tinggi Tanaman

Hasil analisis sidik ragam rataan tinggi tanaman (Lampiran 4 -7) memoerlihatkan bahwa varietas menghasilkan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman. Kascing berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 2,6 dan 8 MST

(33)

tetapi tidak berpengaruh nyata pada 4 MST. Sedangkan interaksi antara varietas dan kascing tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Rataan tinggi tanaman 2,4,6 dan 8 MST dapat di lihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tinggi padi (cm) umur 2,4,6 dan 8 MST pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%

(34)

tertinggi terdapat pada K2 yaitu 20,06 cm dan terendah pada K5 yaitu 16,96 cm. Sedangkan interaksi antara varietas dan perbandingan kascing yang menghasilkan tanaman tertinggi adalah perlakuan V1K3 yaitu 22,85 cm dan terendah pada perlakuan V2K4 yaitu 16,05 cm.

Rataan tinggi tanaman 4 MST, varietas V1 menghasilkan tanaman tertinggi yaitu 46,72 cm dan terendah pada V2 yaitu 39,84 cm. Perlakuan perbandingan kascing dengan pupuk kimia tertinggi terdapat pada K2 yaitu 47,67 cm dan terendah pada K1 yaitu 40,69 cm. Sedangkan interaksi antara varietas dan perbandingan kascing pada perlakuan V1K3 dan V2K2 menghasilkan tanaman tertinggi yaitu 50,46 cm dan terendah pada perlakuan V2K4 yaitu 32,65 cm.

Rataan tinggi tanaman 6 MST, varietas V1 menghasilkan tanaman tertinggi yaitu 59,68 cm dan terendah pada V2 yaitu 47,45 cm. Perlakuan perbandingan kascing dengan pupuk kimia tertinggi terdapat pada K5 yaitu 58,14 cm dan terendah pada perlakuan K1 yaitu 52,23 cm. Interaksi antara varietas dan kascing yang menghasilkan tanaman tertinggi adalah perlakuan V1K3 yaitu 62,21 cm dan terendah pada perlakuan V2K4 yaitu 42,33 cm.

(35)

Jumlah Anakan

Dari hasil pengamatan dan analisis sidik ragam (Lampiran 8- 10) dapat disimpulkan bahwa varietas menghasilkan pengaruh nyata pada parameter jumlah anakan. Kascing berpengaruh nyata pada parameter jumlah anakan 6 dan 8 (MST). Rataan jumlah anakan 4,6 dan 8 MST dapat dilihat pada Tabel 2.

(36)

Tabel 2 memperlihatkan pada rataan jumlah anakan 4 MST, varietas V2 menghasilkan jumlah anakan terbanyak yaitu 5,17 batang dan terendah pada V3 yaitu 3,63 batang. Perlakuan perbandingan kascing dengan jumlah anakan terbanyak terdapat pada K3 yaitu 5,17 batang dan terendah pada perlakuan K1 dan K5 yaitu 3,89 batang. Interaksi antara varietas dan kascing pada perlakuan V2K3 menghasilkan jumlah anakan terbanyak yaitu 7,17 batang dan yang terendah pada perlakuan V3K3 yaitu 3,17 batang.

Rataan jumlah anakan 6 MST, varietas V2 menghasilkan jumlah anakan terbanyak yaitu 17,60 batang dan yang terendah pada V3 yaitu 10,73 batang. Perlakuan kascing dengan jumlah anakan terbanyak terdapat pada K5 yaitu 15,06 batang dan yang terendah pada K1 yaitu 10,17 batang. Sedangkan interaksi antara varietas dan kascing yang menghasilkan jumlah anakan terbanyak adalah perlakuan V2K3 yaitu 21,83 batang dan yang terendah pada perlakuan V3K1 yaitu 8,33 batang.

Rataan jumlah anakan 8 MST, varietas V2 menghasilkan jumlah anakan terbanyak yaitu 21,9 batang dan yang terendah pada perlakuan V3 yaitu 11,07 batang. Perlakun kascing dengan jumlah anakan yang terbanyak terdapat pada K5 yaitu 17,28 batang dan yang terendah pada perlakuan K1 yaitu 10,17 batang. Interaksi antara varietas dan kascing pada perlakuan V2K3 menghasilkan jumlah anakan terbanyak yaitu 28 batang dan yang terendah pada perlakuan V1K1 yaitu 7,5 batang.

Jumlah Anakan Produktif

(37)

kascing dengan pupuk kimia menghasilkan pengaruh nyata terhadap parameter jumlah anakan produktif, sedangkan interaksi antara varietas dan kascing tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif. Rataan jumlah anakan produktif dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah anakan produktif padi (batang) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1(Situ Patenggang) 7,56 9,44 11,66 11,22 11,33 10,24 b V2 (Situ Bagendit) 12 17,22 20,44 18,55 19,61 17,56 a V3 (Limboto) 7,33 10,99 11,44 11,44 13,11 10,86 b

Rataan 8,96 c 12,55 b 14,51 a 13,74 ab 14,68 a Keterangan : * Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%

* (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Tabel 3 memperlihatkan bahwa varietas V2 menghasilkan jumlah anakan produktif terbanyak yaitu 17,56 batang dan yang terendah pada V1 yaitu 10,24 batang. Perlakuan perbandingan kascing dengan rataan jumlah anakan produktif terbanyak terdapat pada perlakuan K5 yaitu 14,68 batang dan yang terendah pada perlakuan K1 yaitu 8,96 batang. Interaksi antara varietas dan perbandingan kascing dengan rataan jumlah anakan produktif tertinggi dihasilkan perlakuan V2K3 yaitu 20,44 batang dan yang terendah dihasilkan perlakuan V3K1 yaitu 7,33 batang.

Panjang Malai

(38)

varietas dan kascing tidak berpengaruh nyata terhadap parameter panjang malai. Rataan panjang malai dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Panjang malai padi (cm) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 17,5 20,84 18,71 19,74 19,41 19,24 a V2 (Situ Bagendit) 18,39 17,24 17,14 18,02 17,35 17,63 b V3 (Limboto) 18,57 18,7 16,45 18,99 20,14 18,57 a

Rataan 18,15 18,93 17,43 18,92 18,97 Keterangan : * Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%

* (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa varietas V1 menghasilkan panjang malai tertinggi yaitu 19,24 cm dan yang terendah pada perlakuan V2 yaitu 17,63 cm. Perlakuan kascing dengan panjang malai yang tertinggi terdapat pada K5 yaitu 18,97 cm dan yang terendah pada perlakuan K3 yaitu 17,43 cm. Interaksi antara varietas dan kascing panjang malai tertinggi dihasilkan perlakuan V1K4 yaitu 20,84 cm dan yang terendah pada perlakuan V3K3 yaitu 16,45 cm.

Jumlah Gabah per Rumpun

(39)

Tabel 5. Jumlah gabah per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 634,88 1098,43 1132,66 744,83 1170,89 956,24 a V2 (Situ Bagendit) 790,39 1030,11 1485,44 1270,55 1129,39 1141,18 a V3 (Limboto) 673,55 968,89 1261,66 1254,05 1206,77 1072,99 a

Rataan 699,61 c 1032,48 b 1293,26 a 1089,65 b 1169,02 ab Keterangan : * Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%

* (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Tabel 5 memperlihatkan varietas V2 menghasilkan rataan jumlah gabah per rumpun tertinggi yaitu 1141,18 butir dan yang terendah dihasilkan V1 yaitu 956,24 butir. Perlakuan perbandingan kascing dengan rataan jumlah gabah per rumpun tertinggi dihasilkan K3 yaitu 1293,26 butir dan yang terendah dihsilkan perlakuan K1 yaitu 699,61 butir. Pada interaksi antara varietas dan perbandingan kascing rataan jumlah gabah tertinggi dihasilkan perlakuan V2K3 yaitu 1485,44 butir dan yang terendah pada perlakuan V1K1 yaitu 634,88 butir.

Jumlah Gabah Berisi per Rumpun

(40)

Tabel 6. Jumlah gabah berisi per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 422,44 fgh 751,43 a 691,77 ab 380,00 fgh 485,00 cdef 546,13 ab

V2 (Situ Bagendit) 532,16 cde 494,67 cdef 597,11 bc 571,44 bcd 561,72 bcde 551,42 a

V3 (Limboto) 448,33 defg 499,44 cdef 285,66 h 541,61 cde 294,66 h 413,94 bc

Rataan 467,64 581,85 524,85 497,68 447,13 Keterangan : * Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda nyata

menurut uji Duncan pada taraf 5%

* (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Dari Tabel 6 diketahui bahwa varietas V2 menghasilkan rataan jumlah gabah berisi tertinggi yaitu 551,42 butir dan yang terendah dihasilkan V3 yaitu 413,94 butir. Pada perlakuan perbandingan kascing, K2 menghasilkan rataan jumlah gabah berisi tertinggi yaitu 581,85 butir dan yang terendah terdapat pada K5 yaitu 447,13 butir. Sedangkan pada interaksi antara varietas dan kascing, rataan jumlah gabah berisi tertinggi dihasilkan perlakuan V1K2 yaitu 751,43 butir dan yang terendah pada perlakuan V3K5 yaitu 294,66 butir.

Persentase Jumlah Gabah Berisi per Rumpun

(41)

Tabel 7. Persentase jumlah gabah berisi per rumpun padi (%) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 69,77 a 68,34 a 62,20 a 37,00 cd 41,23 bcd 55,71 a V2 (Situ Bagendit) 67,77 a 46,83 bc 39,90 cd 43,97 bc 45,03 bc 48,70 ab

V3 (Limboto) 70,62 a 50,79 b 24,07 e 31,77 de 23,20 e 40,09 b Rataan 69,39 a 55,32 b 42,06 c 37,58 c 36,49 c Keterangan : * Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%

* (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Tabel 7. menunjukkan varietas V1 menghasilkan rataan persentase jumlah gabah berisi per rumpun tertinggi yaitu 55,71% dan yang terendah pada V3 yaitu 40,09%. Pada perlakuan perbandingan kascing, K1 menghasilkan rataan persentase jumlah gabah berisi tertinggi, yaitu 69,39% dan terendah pada K5, yaitu 36,49%. Sedangkan pada interaksi antara varietas dan perbandingan kascing rataan persentase jumlah gabah berisi tertinggi dihasilkan perlakuan V3K1, yaitu 70,62% dan terendah pada V3K5, yaitu 23,2%.

Bobot 1000 Butir

(42)

Tabel 8. Bobot 1000 butir padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 23,74 23,42 22,11 22,74 21,95 22,79 b V2 (Situ Bagendit) 24,01 22,09 21,26 20,45 20,61 21,69 b V3 (Limboto) 26,5 26,62 25,89 22,42 24,53 25,19 a

Rataan 24,75 a 24,04 ab 23,09 abc 21,87 c 22,37 bc Keterangan : * Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%

* (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Dari Tabel 8. diketahui bahwa varietas V3 menghasilkan rataan bobot 1000 butir tertinggi, yaitu 25,19 g dan terendah dihasilkan V2, yaitu 21,69 g. Pada perlakuan perbandingan kascing, K1 menghasilkan rataan bobot 1000 butir tertinggi yaitu 24,75 g dan terendah dihasilkan K4, yaitu 21,87 g. Pada interaksi antara varietas dan perbandingan kascing rataan bobot 1000 butir tertinggi dihasilkan perlakuan V3K2, yaitu 26,62 g dan terendah pada perlakuan V2K4, yaitu 20,45 g.

Produksi per Rumpun

(43)

Tabel 9. Produksi perumpun padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 10,07 17,51 15,85 8,94 10,61 12,60 V2 (Situ Bagendit) 12,80 11,10 12,05 11,84 11,42 11,84 V3 (Limboto) 12,08 13,45 7,44 9,33 10,24 10,51

Rataan 11,65 14,02 11,78 10,04 10,76 Keterangan * (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Dari Tabel 9. diketahui bahwa varietas V1 menghasilkan rataan produksi per rumpun tertinggi, yaitu 12,6 g dan terendah pada perlakuan V3, yaitu 10,51 g. Pada perlakuan perbandingan kascing, K2 menghasilkan rataan produksi per rumpun tertinggi, yaitu 14,02 g dan terendah pada perlakuan K4, yaitu 10,04 g. Interaksi antara varietas dan perbandingan kascing, rataan produksi per rumpun tertinggi dihasilkan perlakuan V1K2, yaitu 17,51 g dan yang terendah pada perlakuan V3K3, yaitu 7,44 g.

Produksi per Hektar

(44)

Tabel 10. Produksi per hektar padi (ton) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Varietas Kascing Rataan

K1 K2 K3 K4 K5

V1 (Situ Patenggang) 0,90 1,57 1,42 0,80 0,95 1,13 V2 (Situ Bagendit) 1,15 1,00 1,08 1,06 1,02 1,06 V3 (Limboto) 1,08 1,20 0,64 0,84 0,62 0,88

Rataan 1,04 1,26 1,05 0,90 0,86 Keterangan * (K1 = kascing 100%), (K2 = kascing 75% + Pupuk Kimia 25%),

(K3 = Kascing 50% + Pupuk Kimia 50%), (K4 = Kascing 25% + Pupuk Kimia 75%), (K5 = Pupuk Kimia 100%)

Dari Tabel 10. dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan varietas, V1 menghasilkan rataan produksi per hektar tertinggi, yaitu 1,13 ton dan terendah dihasilkan perlakuan V3, yaitu 0,88 ton. Pada perlakuan perbandingan kascing, K2 menghasilkan rataan produksi per hektar tertinggi yaitu 1,26 ton dan terendah pada K5 yaitu 0,86 ton. Sedangkan pada interaksi antara varietas dan perbandingan kascing, rataan produksi per hektar tertinggi dihasilkan perlakuan V1K2, yaitu 1,57 ton dan terendah dihasilkan perlakuan V3K5, yaitu 0,62 ton.

Pembahasan

Pertumbuhan beberapa varietas padi gogo pada perbandingan pemberian kascing dengan pupuk kimia

(45)

Varietas V2 (Situ Bagendit) selalu menghasilkan tanaman yang lebih rendah daripada perlakuan V1 (Situ Patenggang) dan V3 (limboto). Tetapi varietas V2 menghasilkan jumlah anakan yang jauh lebih banyak dibandingkan perlakuan V1 dan V3. Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah anakan produktif dan panjang malai juga menunjukan bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan padi. Perbedaaan pertumbuhan antar varietas padi gogo ini disebabkan oleh perbedaan karakter genetis yang dibawa oleh masing – masing varietas. Antara varietas yang satu dengan yang lainnya senantiasa terdapat perbedaan, walaupun perbedaan itu kecil. Perbedaan yang tampak antar varietas disebabkan oleh perbedaan dalam pembawaan atau sifat varietas (Siregar, 1981)

Peningkatan pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh kandungan dan ketersediaan unsur hara di dalam tanah, seperti nitrogen, phospor dan kalium. Nitrogen berguna untuk meningkatkan pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan tunas, fhosfor berguna untuk merangsang pertumbuhan akar dan pembentukan anakan (Siregar, 1981). Pada perlakuan K5 (pupuk kimia 100 %) secara keseluruhan pada setiap parameter menunjukkan peningkatan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan perlakuan K5 mengandung unsur hara yang lebih banyak dibandingkan perlakuan yang lainnya. Ketersediaan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih optimal. Pemberian pupuk ke dalam tanah akan meningkatkan kandungan unsur hara di dalam tanah yang akan diserap akar tanaman untuk pertumbuhannya (Hasibuan, 2010).

(46)

disebabkan komposisi perbandingan antara kascing dan pupuk kimia yang baik. Kandungan bahan organik pada kascing dapat memperbaiki sifat – sifat fisik dan kimia pada tanah. Kondisi struktur tanah menjadi lebih remah dan gembur, sehingga aerase dan drainase tanah lebih baik. Kondisi ini menyebabkan perakaran bekerja lebih optimal sehingga dapat menyerap unsur hara yang diberikan lewat pupuk kimia. Kompos atau bahan organik dapat memperbaiki produktivitas tanah secara fisik, kimia maupun biologi tanah. Secara fisik kompos bisa menggemburkan tanah, memperbaiki aerase dan drainase, meningkatkan pengikatan antar partikel dan kapasitas mengikat air sehingga dapat mencengah erosi dan longsor, mengurangi tercucinya nitrogen serta memperbaiki daya olah tanah (Simamora dan Salundik, 2006).

(47)

Komponen produksi dan produksi beberapa varietas padi gogo pada perbandingan pemberian kascing dengan pupuk kimia

Varietas menghasilkan pengaruh nyata pada parameter produksi, yaitu jumlah gabah per rumpun, jumlah gabah berisi per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir, sedangkan tidak berpengaruh nyata pada parameter produksi per rumpun dan produksi per hektar. Perlakuan kascing juga berpengaruh nyata pada parameter produksi padi gogo, yaitu pada parameter jumlah gabah per rumpun, persentase jumlah gabah berisi per rumpun dan bobot 1000 butir, sedangkan tidak berpengaruh nyata pada parameter jumlah gabah berisi per rumpun, produksi per rumpun dan produksi per hektar. Interaksi antara varietas dengan pebandingan kascing dan pupuk kimia hanya berpengaruh pada perlakuan jumlah gabah berisi per rumpun dan persentase jumlah gabah berisi per rumpun sedangkan tidak berpengaruh nyata pada parameter produksi yang lainnya.

(48)

anabolisme terdapat pula enzim yang dapat aktif membantu kedua proses tersebut. Bila enzim tidak ada maka proses metabolisme akan berlangsung lambat atau tidak dapat berlangsung sama sekali (Dwijoseputro, 1985). Kascing dan bahan organik lainnya mengandung berbagai macam hormon serta enzim yang sangat dibutuhkan tanaman untuk membantu terjadinya proses metabolisme di dalam tubuh tanaman. Kascing mengandung nitrogen, fhosfor, mineral, hormon auksin, giberelin dan sitokinin serta beberapa enzim seperti lipase, selulase, dan kitinase yang cukup tinggi (Simamora dan Salundik, 2006). Hormon yang terdapat pada kascing dapat bekerja optimal pada proses katabolisme, anabolisme dan transportasi zat yang dibutuhkan untuk fotosintesis, dimana zat ini bersumber dari pupuk kimia yang diberikan.

(49)

Translokasi zat yang lebih baik menyebabkan laju pengisian biji pada perlakuan K2 juga lebih baik.

Pada parameter persentase jumlah gabah berisi per hektar memperlihatkan bahwa perlakuan K1 (kascing 100 %) menghasilkan persentase jumlah gabah berisi per hektar yang terbesar yaitu 69,39. Jumlah kascing yang lebih banyak mengandung bahan organik yang lebih banyak pula. Bahan organik merupakan makanan bagi berbagai macam mikroorganisme tanah. Mikroorganisme tanah mampu menguraikan bahan organik sehingga mudah diserap tanaman dan memperlancar transportasi unsur hara dan air (Sari, 2011). Mikroorganisme mampu menguraikan bahan kimia yang sulit diserap menjadi mudah di serap oleh tanaman, hal ini akan meningkatkan produksi tanaman karena penyaluran air dan nutrisi ke permukaan daun berjalan lancar. Kascing sendiri juga memiliki kemampuan menyerap air yang baik, sehingga dapat menjaga kebutuhan air bagi tanaman.

Pada parameter bobot 1000 butir, berdasarkan hasil analisis sidik ragam perlakuan K1 menghasilkan bobot 1000 butir tertinggi yaitu 24,75. Hal ini menunjukkan bahwa mineral yang terkandung pada kascing cukup membantu untuk kegiatan fotosintesis pada daun. Fotosintesis di dalam daun memerlukan klorofil, terbentuknya klorofil di dalam daun didukung oleh adanya mineral yang terkandung dalam pupuk organik. Apabila ketersediaan klorofil cukup maka fotosintesis dapat berjalan lancar, pertumbuhan tanaman termasuk laju pengisian bulir juga akan berjalan baik.

(50)
(51)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Dalam budidaya padi gogo, tidak selamanya harus menggunakan pupuk kimia. Peranan pupuk kimia dapat digantikan dengan pupuk organik agar mendapat hasil yang lebih optimal.

2. Varietas yang terbaik adalah Situ Patenggang dan perbandingan antara kascing dan pupuk kimia yang paling sesuai adalah 75% kascing + 25% pupuk kimia (V1K2) dengan hasil gabah 1,57 ton/ha

Saran

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Aak, 1990. Budidaya Tanaman Padi. Kanisius, Jakarta

Andoko, A. 2006. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya, Jakarta Dwijoseputro. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta Girst, D. H. 1960. Rice. Longmans

Guslim. 2008. Agroklimatologi. USU Press, Medan Hanum, C. 2008. Ekologi Tanaman. USU Press, Medan

Haryadi. 2006. Teknologi Pengolahan Beras. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Hasibuan, B. E. 2010. Pupuk dan Pemupukan. USU Press, Medan

Teknologi MiG-6 Plus. Diakses tanggal 19 Agustus 2010

tahun 2009 dan angka ramalan tahun 2010). diakses tanggal 19 Agustus 2010

Bangun Irigasi Baru. Diakses tanggal 19 Agustus 2010

International Rice Research Institute. 1987. Weather And Rice. Los Banos Laguna, Philiphines

Mezuan, Handayani dan Inoriah. 2002. Penerapan Formulasi Pupuk Hayati Untuk Budidaya Padi Gogo. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia 4, (1)

Nick. 2010. Pupuk Kascing Mencegah Pencemaran. Dikutip dari Noor, M. 1996. Padi Lahan Marjinal. Penebar swadaya, Jakarta

(53)

Salisbury, F.B and Ross, C. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Penerbit ITB, Bandung Simamora, S dan Salundik. 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Agromedia,

Jakarta

Sinaga, S. 2010. Pemeliharaan Cacing Tanah dikutip dar Blogspot. Com. diakses tanggal 19 Agustus 2010

Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia. Swasta Hudaya, Jakarta Sugeng, H. R. 2001. Bercocok Tanam Padi. Aneka Ilmu, Semarang.

Suprayono dan Setyono, A. 1997. Mengatasi Permasalahan Budidaya Padi. Penebar Swadaya, Jakarta

Suprihatno, B dkk . 2010. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Kementrian Pertanian. Jakarta

Steel, R.G.D dan J.H. Torie.1995. Prinsip Dan Prosedur Statistik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Prasetyo, H. 2010. Pengaruh Dosis Pupuk Kascing Dan Hasil Tiga Varietas Bawang Merah. Dikutip dari tanggal 19 agustus 2010

(54)

Lampiran 1.a. Deskripsi Padi Varietas Situ Patenggang (Suprihatno, dkk. 2010)

Nama Seleksi : BP1153C – 9 - 12

Asal Persilangan : Kartuna / TB47H – MR - 10

Golongan : Cere

Umur Tanaman : 110 – 120 hari Bentuk Tanaman : Tegak

Tinggi Tanaman : 100 – 120 cm Anakan Produktif : 10 – 11 batang Warna Kaki : Ungu tua Warna Batang : Hijau tua Warna Telinga Daun : Kuning kotor Warna Lidah Daun : Ungu

Warna Daun : Hijau, tepi daun tua berkilau ungu

Muka Daun : Bagian atas kasar, bagian bawah permukaan halus Posisi Daun : Tegak

Daun Bendera : Menyusut 35° - 50° Bentuk Gabah : Agak gemuk Warna Gabah : Kuning kotor Kerontokan : Sedang Kerebahan : Tahan Tektur Nasi : Sedang Kadar Amilosa : 24% Indeks Glikemiks : 53,7 Bobot 1000 Butir : 27 gr Rata-rata Hasil : 4,6 ton / ha Potensi Hasil : 6 ton / ha Ketahanan Penyakit : Tahan blast

(55)

Lampiran 1.b. Deskripsi Padi Varietas Situ Bagendit (Suprihatno, dkk. 2010)

Nama Seleksi : S4325D – 1 – 2 – 3 - 1

Asal Persilangan : Batur / ² S2823 – 7D – 8 – 1 - A

Golongan : Cere

Umur Tanaman : 110 – 120 hari Bentuk Tanaman : Tegak

Tinggi Tanaman : 99 – 105 cm Anakan Produktif : 12 – 13 batang Warna Kaki : Hijau

Warna Batang : Hijau

Warna Telinga Daun : Tidak berwarna Warna Lidah Daun : Tidak berwarna Warna Daun : Hijau

Muka Daun : Kasar Posisi Daun : Tegak Daun Bendera : Tegak

Bentuk Gabah : Panjang ramping Warna Gabah : Kuning bersih Kerontokan : Sedang Kerebahan : Sedang Tektur Nasi : Pulen Kadar Amilosa : 22% Bobot 1000 Butir : 27,5 gr

Rata-rata Hasil : 4 ton / ha pada lahan kering 5,5 ton / ha pada lahan sawah Potensi Hasil : 6 ton / ha

Ketahanan Penyakit : Agak tahan terhadap blast

(56)

Lampiran 1.c. Deskripsi Padi Varietas Limboto (Suprihatno, dkk. 2010)

Nama Seleksi : TB47H – MR - 5

Asal Persilangan : Papah Aren / IR 36 / Dogo

Golongan : Cere

Umur Tanaman : 115 – 125 hari Bentuk Tanaman : Tegak

Tinggi Tanaman : 110 – 132 cm Anakan Produktif : 12 – 18 batang Warna Kaki : Hijau

Warna Batang : Hijau

Warna Telinga Daun : Tidak berwarna Warna Lidah Daun : Tidak berwarna Warna Daun : Hijau

Muka Daun : Kasar Posisi Daun : Tegak Daun Bendera : Mendatar Bentuk Gabah : Bulat besar

Warna Gabah : Kuning bergaris coklat Kerontokan : Sedang

Kerebahan : Tahan Tektur Nasi : Sedang Kadar Amilosa : 24 % Bobot 1000 Butir : 28 gr Rata-rata Hasil : 4,5 ton / ha Potensi Hasil : 6 ton / ha

Ketahanan Penyakit : Tahan terhadap blast daun dan blast leher Ketahanan Hama : Tahan terhadap lalat bibit

(57)

Lampiran 2. Perhitungan Kebutuhan Pupuk

Jumlah populasi = 10000 : jarak tanam = 10000 : (0,25 X 0,4 ) = 10000 : 0,1

= 100.000 tanaman

Kebutuhan Urea / tanamn = dosis / jumlah populasi = 200kg / 100000

= 2 g / tanaman (dosis 100%) Dosis urea 75% = 1,5 g / tanaman

Dosis urea 50% = 1 g / tanaman Dosis urea 25% = 0,5 g / tanaman

Kebutuhan TSP / tanaman = dosis / jumlah populasi = 75 kg / 10000

= 0,75 g / tanaman (dosis 100%) Dosis TSP 75% = 0, 5 g / tanaman

Dosis TSP 50% = 0,3 g / tanaman Dosis TSP 25% = 0,1 g / tanaman

Kebutuhan KCL / tanaman = dosis / jumlah populasi = 100 kg / 100000

= 1 gr / tanaman (dosis 100%) Dosis KCL 75% = 0,75 g / tanaman

Dosis KCL 50% = 0,50 g / tanaman Dosis KCL 25% = 0,25 g / tanaman Kebutuhan pupuk kascing = dosis / jumlah populasi

= 8 ton / 100000

= 80 g / tanaman (dosis 100%) Dosis 75% = 60 g / tanaman

(58)
(59)

Lampiran 4. Data pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi padi (cm) umur 2 minggu setelah tanam (MST) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)

Lampiran 11. Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah anakan produktif padi (batang) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(67)

Lampiran 12. Data pengamatan dan analisis sidik ragam panjang malai padi (cm) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(68)

Lampiran 13. Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah gabah per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas dan

perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(69)

Lampiran 14. Data pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah gabah berisi per rumpun padi (butir) pada perlakuan varietas

dan perbandingan kascing

Perlakuan Blok Total Rataan

(70)

Lampiran 15. Data pengamatan dan analisis sidik ragam persentase jumlah gabah berisi per rumpun padi (%) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(71)

Lampiran 16. Data pengamatan dan analisis sidik ragam bobot 1000 butir padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(72)

Lampiran 17. Data pengamatan dan analisis sidik ragam produksi per rumpun padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan

kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(73)

Lampiran 18. Data pengamatan dan analisis sidik ragam produksi per hektar padi (ton) pada perlakuan varietas dan perbandingan

kascing dengan pupuk kimia

Perlakuan Blok Total Rataan

(74)

Lampiran 19. Rangkuman pertumbuhan padi (tinggi tanaman dan jumlah Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata

(75)

Lampiran 20. Rangkuman komponen produksi dan produksi padi pada Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata

(76)
(77)

Lampiran 22: Jadwal pelaksanaan penelitian

Penyiraman Disesuaikan dengan kondisi di lapangan

Pengendalian hama dan

penyakit Disesuaikan dengan kondisi di lapangan Penyiangan Disesuaikan dengan kondisi di lapangan

(78)

Lampiran 23. Foto padi pada berbagai kombinasi perlakuan

V1K4 V2K4

Perbandingan jumlah anakan varietas V1 (Situ Patenggang) dengan V2 (Situ Bagendit)

V2K1 V3K4

(79)

V3K1 V3K3

V1K5 V2K2

(80)

Lampiran 24. Foto Lahan penelitian

(81)

Lampiran 25. Foto Hasil Gabah Kering Padi Dari Berbagai Kombinasi Perlakuan

Perbandingan jumlah gabah berisi antar perlakuan perbandingan kascing dengan pupuk kimia (K1 : K2)

Perbandingan jumlah gabah berisi antar perlakuan varietas (V2 : V3)

Gambar

Tabel 1. Tinggi padi (cm) umur 2,4,6 dan 8 MST pada perlakuan varietas dan                perbandingan kascing dengan pupuk kimia
Tabel 2. Jumlah anakan padi (batang) umur 4,6 dan 8 MST pada perlakuan                varietas dan perbandingan kascing dengan pupuk kimia
Tabel 4. Panjang malai padi (cm) pada perlakuan varietas dan perbandingan                kascing dengan pupuk kimia
Tabel 8. Bobot 1000 butir padi (g) pada perlakuan varietas dan perbandingan                kascing dengan pupuk kimia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengolahan daging ikan lele adalah salah satu upaya untuk mengubah image masyarakat terhadap ikan lele yaitu dengan mengolahnya menjadi rolade dengan penambahan

Namun, pelaksanaan perencanaan ( plan ) yang meliputi identi fi kasi risiko, prakuali fi kasi, dan seleksi pada prosedur SMT-KKK-26 masih membutuhkan perbaikan karena belum

dikarenakan gas buang yang keluar dari cerobong asap, yaitu 8,99 % untuk Ketel Uap Yoshimine H-2700 dan 9,46 % untuk Ketel Uap Yoshimine H-3500, hal ini sebenarnya dapat

Tabel 5 menunjukkan jumlah dan persentase biakan MBC hasil perlakuan induksi mutasi dengan EMS yang tetap tumbuh pada media seleksi yang mengandung asam fusarat 30, 45, dan 60

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian tentang pengembangan Kemampuan Penalaran Deduktif Matematis (KPDM) mahasiswa calon guru SD melalui Pembelajaran dengan

Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi ini didukung dengan pagu anggaran sebesar Rp38.089.333.390 pada akhir tahun 2015 terealisasi sebesar

Oleh karena itu menyadari betapa pentingnya memilih calon pegawai yang tepat, maka dirancang program aplikasi sistem pendukung keputusan untuk pemilihan. penerimaan pegawai

3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, serta 4. Menciptakan tata kelola keperintahan yang baik. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat