• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN FORUM LEMBAGA KOMUNIKASI MASYARAKAT (FLKM) DALAM PROSES DISEMINASI INFORMASI PEMERINTAH TAHUN 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERAN FORUM LEMBAGA KOMUNIKASI MASYARAKAT (FLKM) DALAM PROSES DISEMINASI INFORMASI PEMERINTAH TAHUN 2016"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI

PERAN FORUM LEMBAGA KOMUNIKASI MASYARAKAT (FLKM) DALAM PROSES DISEMINASI INFORMASI PEMERINTAH

TAHUN 2016

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Strata 1 Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh

KRISTRI PRIYANTARA WIBOWO 20080530016

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan dan disahkan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada :

Hari : Selasa

Tanggal : 23 Agustus 2016

Tempat : Ruang Multimedia Ilmu Komunikasi.

SUSUNAN TIM PENGUJI Ketua

Aswad Ishak, S.IP., M.Si.

Penguji I Penguji II

Sovia Sitta Sari, S.IP., M.Si Zein Mufarrih Muktaf, S.IP., M.I.Kom

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana (S-1)

Tanggal 23 Agustus 2016

Haryadi Arief Nuur Rasyid, S.IP., M.Sc Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahawa skripsi yang saya buat ini benar-benar merupakan karya saya sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya-karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada perguruan tinggi manapun. Sepenjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya dan atau pendapat orang lain yang pernah ditulis atau disebutkan dalam daftar pustaka.

Selanjutnya apabila dikemudian hari terbukti terdapat duplikasi dan ada pihak lain yang merasa dirugikan dan menuntut maka saya akan bertanggung jawab dan menerima konsekwensi yang menyertainya.

Yogyakarta, Agustus 2016 Yang Menyatakan,

(4)

MOTTO

“Urip iku urup” ( Hidup itu Nyala )

“Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita.

Semakin besar manfaat yang kita berikan, tentu akan semakin baik bagi kita maupun orang lain, tetapi sekecil apapun manfaat yang kita berikan kepada orang lain jangan

(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN ِميِحهرلا ِنَم ْحهرلا ِ هَ ِمْسِب

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (QS: Al-’Alaq 1-5) Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? (QS: Ar-Rahman 13)

Alhamdulillahirobbil ‘alamin….

Segala Puji dan Syukur kupersembahkan kepadamu Ya Allah,

Terima Kasih atas ridha-Mu, Engkau telah memberikan aku kesempatan untuk belajar (Berpendidikan), memberikan aku umur yang panjang dan memberikan aku kenikmatan yang tiada henti-hentinya.Ya Allah yang Maha pengasih, tanpa-Mu hamba ini bukanlah siapa-siapa, hamba-Mu ini manusia yang lemah dan bukan apa-apa bagi-Mu, Ya Allah yang Maha penguasa Alam Semesta hamba-Mu tidak akan henti-hentinya memanjatkan Do’a, rasa syukur dan berterimakasih dengan segala hal yang Engkau berikan.

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, kupersembahkan karya kecilku ini untuk orang-orang yang kusayangi :

 Bapak Drs. Wido Murwadi dan Ibu Sukristiyah, S.Pd Bapak Supadi Partodikromo dan Ibu Parmi

“Maturnuwun sanget. Keteladanan, kesabaran, keihklasan cinta dan kasih sayangmu senantiasa

memberikan inspirasi bagiku. Memberikan kekuatan dalam hidupku. Memberikan semangat untuk

menjadi orang yang bermanfaat dalam kehidupanku. Maafkan kesombongan, dan kecuekanku selama

ini. Aku akan memperbaiki diri. Doakan selalu nggih… semoga Semua senantiasa Sehat dan berkah

(6)

 Istriku Siti Muslimah, A.Md. Keb dan Anakku M. Suluh Adibrata Al-mahri

“Maturnuwun sabar menemani pembuatan skripsi yang sekian lama. Maafkan aku, tdk bisa

menepati janjiku untuk lulus saat kandunganmu 4 bulan dulu. Begitu banyak hutangku padamu, trimakasih atas kasih sayangmu, engkau ikhlas menganggap semuanya lunas.  Aku yakin Tuhan tersenyum melihat perjuanganmu.”

“Suluh….Bapakmu Sarjana Le… hehe. Terimakasih kesabaranmu, keikhlasan dan

keceriaanmu yang selalu menciptakan energi-energi baru dalam kehidupanku. Perjuangan tak pernah selesai, terus bergerak dan memberi manfaat ya nak.. Maaf bapakmu blm bisa memberi teladan yang baik untukmu. Tapi bapak janji le…menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Semangat terus ya Le…..”

 Mas Eko, Mas Wiwid beserta keluarga

Maaf adikmu tidak bisa membanggakanmu. Engkau selalu menjadi arah pembimbing dalam kehidupanku. Maafkan begitu banyak dosa dan kesalahan adikmu. Kehidupan mas beserta keluarga, semoga selalu Sehat, Rukun, berkah manfaat, ya mas.. 

 Rekan-rekan Bagian Humas Setda, Rekan FLKM, especially to : Kangmas Marno, Mas Suryo

dan promotor-promotor pem-“Bully”ku di Salatiga, terimakasih tak terhingga. Apa yang telah panjenengan semuanya berikan. Semangat Sehat teruss….. Dan kebaikan penjenengan

Semoga senantiasa menjadi amal yang tak lekang ditelan waktu dan angkuhnya zaman.

 Untuk Semua pihak…terimakasih. Jangan pernah letih berjuang… dan Ayo Kita Berkarya

(7)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan HidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini dengan judul “Implementasi Peran Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (Flkm)Dalam Proses

Diseminasi Informasi Pemerintah Tahun 2016”.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan penulisan Skripsi ini tanpa mereka Skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Haryadi Arief Nuur Rasyid, S.IP., M.Sc selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas

Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Bapak Aswad Ishak, S.IP., M.Si selaku Dosen Pembimbing skripsi Bapak Zein Mufarrih, M.I.Kom, dan Bu Sovia Sitta Sari Selaku dosen penguji, beserta Seluruh Dosen, TU, dan Karyawan UMY, terimakasih buat segalanya.

3. Kepada teman-teman Humas Sekretariat daerah Kota Salatiga terimakasih telah memberikan kemudahan dalam pengambilan data-data yang penulis perlukan.

(8)

ABSTRAK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi

Konsentrasi Public Relations

Kristri Priyantara Wibowo : Implementasi Peran Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) dalam proses Diseminasi Informasi Pemerintah Kota Salatiga Tahun 2016

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui perencanaan program yang dilakukan Bagian Humas pemerintah yang berhubungan dengan penyelenggaraan kegiatan bersama dengan Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di Kota Salatiga (2) Mengetahui seberapa jauh Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di Kota Salatiga dapat berfungsi sebagai media penyebarluasan informasi dari pemerintah kepada masyarakat dan sebaliknya dari masyarakat kepada Pemerintah Kota Salatiga.

Subyek penelitian adalah Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Kota Salatiga dan Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) yang di dua wilayah kecamatan Pemerintah Kota Salatiga. Diseminasi informasi dari pemerintah kepada masyarakat luas merupakan hal yang harus mendapatkan prioritas

Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) merupakan jembatan perantara menerima informasi dari pemerintah Kota Salatiga dan mengkomunikasikan kepada masyarakat. Dengan sistem komunikasi yang harmonis, transparan, dan akuntabel, diharapkan kebijakan pembangunan pemerintah akan lebih “mendengarkan” kepentingan masyarakat dan berorientasi pada rakyat.

Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang berdasarkan perolehan permasalahan dari objek penelitian pada tahun 2014 hingga 2015. Pendekatan yang dilakukan dengan wawancara Bagian Humas Pemerintah Kota Salatiga dan FLKM/LKM Kota Salatiga dalam menyatukan persepsi antara pemerintah daerah dengan masyarakat, penyebarluasan informasi dan penyaluran aspirasi masyarakat.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah: Pertama perencanaan program humas pemerintah bersama Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di Kota Salatiga sudah berjalan baik; KeduaForum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di Kota Salatiga berfungsi dengan baik dan strategis sebagai media penyebarluasan informasi dari pemerintah kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada Pemerintah Kota Salatiga.

(9)

ABSTRACT Muhammadiyah University of Yogyakarta

Faculty of Political and Social Science Department of Communications Concentration of Public Relations Kristri Priyantara Wibowo:

The Role Implementation of the Communication Society Forum in Dissemination of Salatiga Local Government’s Information, the year 2016.

The purposes of this research are (1). To view about the Public Relation (PR) Division of Salatiga Local Goverment’s programm, related to gather activities with the Communication Society Forum in Salatiga; (2). To know further the relativism between the Communication Society Forum in Salatiga and the Public Relation (PR) Division of Salatiga Local Government in spreading information from top (Governmet) to down (society), or down to top.

The research subjects are the Public Relation (PR) Division of Salatiga Local Government and the Communication Society Forum in Salatiga, focussed only on two subdistricts. Dissemination from Government to the society is a must priority.

Through Communication Society Forum, Government has the brief way to spread information to society.With harmonic, transparent, and trustworthy communication system,governmental development policy will hopefully ‘listen’ the society interest or needs, and will be society oriented.

This research used qualitative descriptive method with study case approach based on problems appear on the year 2014 until 2015. The Public Relation (PR) Division of Salatiga Local Government approached the Communication Society Forum in Salatiga by interviewing to match the perception between local government and the society; to spread information; and to absorb society’s aspiration.

The conclusions of this research are: (1) The plan programs between the Public Relation (PR) Division of Salatiga Local Government and the Communication Society Forum in Salatiga go well so far. (2) The Communication Society Forum in Salatiga is well functioned, and it is strategicly used as the media for spreading information from government to society, and viceversa.

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………. i

HALAMAN PERSETUJUAN ……….. ii

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ……… iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ……… iv

ABSTRAK ……… v

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ……….. vii

KATA PENGANTAR ……….. viii

D. Manfaat Penelitian ….………...………….. 6

E. Kajian Teori ….………... 7

F. Metode Penelitian ……… .27

G. Sistematika Penulisan. ………. 38

BAB II PROFILE DAN GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Bagian Humas Setda Kota Salatiga,………. 40

B. Tugas Pokok dan Fungsi Bagian Humas ………. 42

1. Tugas Pokok dan Fungsi ………. 42

Bagian Hubungan Masyarakat 2. Tugas Pokok dan Fungsi ………. 43

(11)

3. Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sub Bagian …………. 43 Analisis Kemitraan Media

4. Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sub Bagian …………. 43 Protokol .

5. Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sub Bagian ...44 PPDE

C. Penerapan Tugas Pokok dan Fungsi ………... 44 Bagian Humas

D. Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat ……..………... 48 (FLKM)

BAB III SAJIAN DATA DAN ANALISIS

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian ……….61 B. Analisis Data Penelitian ……….71

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ………. 87

B. Saran-saran ………. 89

DAFTAR PUSTAKA ………. 92 LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Daftar pertanyaan Interview Guide dan hasil wawancara 2. Contoh bulletin GERTAK dari FLKM Argomulyo

3. Peraturan Walikota Salatiga nomor 49 tahun 2006 tentang Pedoman dasar Pembentukan LKM dan FLKM Kota Salatiga

4. Surat keputusan Walikota Salatiga tentang Tim penyelenggara kegiatan FLKM dan LKM 5. Foto-foto kegiatan

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Struktur Organisasi Humas Setda Kota Salatiga... 42

Gambar 2.Struktur organisasi LKM/FLKM……….. 50

Gambar 3. Alur hubungan kerjasama antar lembaga bidang informasi. 58

Gambar 4. Alur informasi LKM/FLKM……….. 59

Gambar 5. Alur Aspirasi LKM/FLKM... 60

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Keadaan FLKM Kecamatan Argomulyo... 37

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar pertanyaan Interview Guide dan hasil wawancara

Lampiran 2 Contoh bulletin GERTAK dari FLKM Argomulyo

Lampiran 3 Peraturan Walikota Salatiga nomor 49 tahun 2006 tentang Pedoman dasar Pembentukan LKM dan FLKM Kota Salatiga

Lampiran 4 Surat keputusan Walikota Salatiga tentang Tim penyelenggara kegiatan FLKM dan LKM

Lampiran 5 Foto-foto kegiatan

Lampiran 6 Guntingan Pers/kliping pemberitaan dari harian Jawa Pos Tanggal 17 Maret 2016

(14)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Reformasi birokrasi, selama sepuluh tahun terakhir ini

memperoleh perhatian yang demikian besar dari pemerintah. Dalam

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Panjang Nasional 2005- dise utka ahwa Pe a gu a

aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk

meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan untuk mewujudkan

tata pemerintahan yang baik, baik di pusat maupun di daerah agar

a pu e duku g ke erhasila pe a gu a di ida g lai ya.

Selanjutnya, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5

tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

2010-2014, Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan

ditempatkan menjadi prioritas pertama pembangunan. Peran birokrasi

yang begitu penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, disatu pihak

birokrasi menjadi pemegang kunci bagi kemajuan negara, tetapi dilain

pihak birokrasi juga menjadi obyek pembangunan yang perlu terus

diperbaiki sehingga mampu berfungsi menjalankan pemerintahan dengan

(15)

2

Humas Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan

reformasi birokrasi. Sebagai ujung tombak informasi, Humas pemerintah

harus mampu menjalankan perannya dengan baik. Dengan arus globalisasi

yang tak terbendung, isu-isu berhembus cepat, saling pengaruh dan

bertalian satu sama lain Keterbukaan akses informasi menjadi salah satu

dampak nyata dari pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.

Pegawai dan pemangku kepentingan, organisasi di sektor publik maupun

swasta semakin menyadari bahwa pengetahuan, strategi, kepemimpinan

dan teknologi di masa lalu yang statis tidak akan membawa banyak

keberhasilan di masa depan. Organisasi yang lambat melakukan perubahan

dan gagal beradaptasi dengan lingkungan baru akan sulit bertahan dalam

perubahan.

Kehumasan Lembaga Publik tengah memasuki era baru seiring telah

disahkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik. Kehadiran undang-undang ini telah memberikan jaminan

bagi publik untuk memperoleh informasi yang dibutuhkannya secara luas

berkenaan dengan lembaga publik. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008

ini mendefinisikan informasi publik sebagai informasi yang dihasilkan,

disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang

berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau

(16)

3

dengan undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 ini , serta informasi lain nya

yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Keterbukaan informasi publik merupakan langkah strategis dalam

mengawal dan mewujudkan tata kelola negara yang bersih, profesional dan

berwibawa, serta mengembangkan tatanan masyarakat informasi yang

sehat. Dengan demikian, humas tidak hanya berperan sebagai corong

lembaga semata, akan tetapi ia juga menjadi media komunikatif yang

menghubungkan lembaga dan masyarakat, sehingga menghasilkan

timbal-balik yang positif dan saling menguntungkan. Kebebasan memperoleh

informasi merupakan hal penting dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Undang-undang kebebasan informasi dan produk hokum ini menjamin

keterbukaan informasi serta transparansi (Frost, 2003:31)

Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk dapat

menerjemahkan dan menyatukan visi reformasi birokrasi dan keterbukaan

informasi publik. Dalam perjalanan pemerintahan, proses komunikasi 2 arah

ini tidak mudah dilaksanakanl. Banyak daerah yang kurang mampu

menangkap aspirasi masyarakat terbawah, sehingga implementasi proses

pembangunan tidak berjalan dengan maksimal. Humas pemerintah pun

hanya terkonsentrasi dengan metode top-down sehingga partisipasi

masyarakat kurdang dapat direngkuh. Masyarakat pun terkesan cuek,

(17)

4

Rendahnya implementasi ini tidak terlepas dari manajemen komunikasi

pemerintah yang belum menyesuaikan karakteristik komunikasi Negara

demokrasi. Selain itu, luncurnty kepercayaan public kepada penyelenggara

Negara juga menjadi salah satu penyebab utama. J.A. Heise (1985:20)

mngungkapkanpenurunan kepercayaan pemerintahan adalah konsekuensi

atas komunikasi yang kurang baik antara pemerintah dan masyarakat. Hal

ini merupakan masalah serius dalam pemerintahan. Dimana public merasa

bahwa lembaga pemerintahan tidak merealisasikan kegiatan sesuai struktur

politik demokrasi. Mereka tidak mendapat variasi informasi yang akurat dari

kegiatan pemerintahan. Sehingga partisipasi public menjadi sangat rendah.

Humas Pemerintah Kota Salatiga pun tidak luput dari usaha-usaha

perbaikan itu. Salatiga sebagai kota kecil yang hanya terdiri dari : 4

kecamatan dan 23 kelurahan, dituntut untuk mampu menjadi contoh dalam

hal pemberdayaan masyarakat. Untuk itu, Humas Pemerintah Kota Salatiga

berusaha melakukan terobosan berbagai cara, dengan menciptakan Forum

Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di tingkat kecamatan dan Lembaga

Komunikasi Masyarakat (LKM) di tingkat kelurahan. Lembaga Komunikasi

Masyarakat (LKM) dan Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM)

adalah organisasi yang dibentuk dengan tujuan sebagai media untuk

menyamakan persepsi antara pemerintah daerah dengan masyarakat,

penyebarluasan informasi dan penyaluran aspirasi masyarakat. Dengan

(18)

5

pembangunan. Fungsi yang strategis ini adalah modal awal bagi

keberhasilan pembangunan.

Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) yang baik adalah lembaga

yang mampu mengakomodasi informasi dari masyarakat dan pemerintah. Di

era reformasi saat ini, berbagai informasi mengenai pemerintah yang

berkembang di masyarakat terkesan simpang siur. Akibatnya mudah

menjadi isu yang sangat rawan bagi kenyamanan kehidupan di masyarakat.

Diharapkan Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) harus mampu

menjadi lembaga yang mumpuni dalam mengelola dan menyampaikan

informasi dari pemerintah, tanpa menghilangkan daya kritis terhadap

pemerintah itu sendiri. Dengan komunikasi dua arah, pemerintah dapat

mengetahui aspirasi masyarakat, sedangkan masyarakat sendiri akan

memperoleh informasi yang benar mengenai program-program

pembangunan bagi masyarakat dan lingkungannya. Fungsi inilah yang harus

disadari oleh lkm, sehingga keberadaan lembaga ini bukan hanya formalitas

(19)

6 C. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah perencanaan program serta implementasi komunikasi

pemerintah yang dilakukan Humas Pemerintah Kota Salatiga dan

penyelenggaraannya yang berhubungan dengan Forum Lembaga

Komunikasi Masyarakat (FLKM) Kota Salatiga ?

2. Seberapa jauh Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di Kota

Salatiga dapat berfungsi sebagai media penyebarluasan informasi dari

pemerintah kepada masyarakat dan sebaliknya dari masyarakat

kepada Pemerintah Kota Salatiga

D. TUJUAN PENELITIAN

1. Mengetahui perencanaan pogram yang dilakukan humas

pemerintahyang berhubungan dengan penyelenggaraan kegiatan

bersama dengan Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di

Kota Salatiga

2. Mengetahui Seberapa jauh Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat

(FLKM) di Kota Salatiga dapat berfungsi sebagai media penyebarluasan

informasi dari pemerintah kepada masyarakat dan sebaliknya dari

(20)

7 E. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmu khususnya

ilmu komunikasi dalam menjalankan metode komunkasi dua arah antara

pemerintah dan masyarakat, serta mendapatkan referensi aplikatif terkait

implementasi dan komunikasi humas pemerintah.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu menjadi rujukan pemerintah dalam

membuat metoda atau pola komunikasi dengan masyarakat, sehingga

pola yang terjadi 2 arah (bottom up dan top down) efektif dalam

menyampaikan informasi kebijakan dan program pemerintah demikian

pula dapat menyerap kebutuhan yang diperlukan masyarakat.

F. KAJIAN TEORI

1. Hubungan Masyarakat Pemerintah

1.1. Pengertian humas pemerintah

Eksistensi humas dalam suatu lembaga atau instansi pemerintah

merupakan suatu keharusan baik secara fungsional maupun

operasional. Kelengkapan ini dianggap sangat penting karena

falsafah negara yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat

seperti yang dikehendaki dalam sistem demokrasi Negara

Indonesia. Sebagai negara demokrasi, humas berfungsi melayani

(21)

8

Apabila tidak sesuai dengan aspirasi rakyat, maka rakyat berhak

secara cepat mengajukan kritik maupun saran. Sesuai dengan

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2011

tentang Pedoman Umum Tata Kelola Kehumasan di Lingkungan

Instansi Pemerintah menjelaskan bahwa, humas pemerintah

adalah lembaga humas atau praktisi humas yang melakukan fungsi

manajemen dalam bidang informasi dan komunikasi (persuasif,

efektif, dan efisien) untuk menciptakan hubungan yang harmonis

dengan publiknya melalui berbagai sarana kehumasan dalam

rangka menciptakan citra dan reputasi yang positif bagi instansi

pemerintah.

Di dunia pemerintahan, humas bertugas menjalankan

kegiatan kebijakan publik dan pelayanan public. Salah satu kegiatan

humas pemerintah dalam bidang kebijakan public adalah

memberikan berbagai informasi tentang kebijakan pemerintah

yang mengikat rakyat dan masyarakat .

Humas dapat merupakan suatu alat atau saluran untuk

memperlancar jalannya interaksi dan penyebaran informasi

mengenai publikasi pembangunan nasional melalui kerjasama

(22)

9

menggunakan media tradisional lainnya (wayang kulit atau wayang

golek dan lain sebagainya .

Menurut Rachmadi (1996:79) humas pemerintah

merupakan subsistem dari sistem penerangan secara keseluruhan

dan merupakan bagian dari kegiatan komunikasi sosial. Humas di

lembaga pemerintah lebih mengarahkan kegiatannya untuk

meraih kepercayaan dan dukungan nyata masyarakat dalam rangka

mensukseskan berbagai kebijakan pembangunan yang ditetapkan

oleh pemerintah nantinya. Selanjutnya di dalam Pedoman Umum

Tata Kelola Kehumasan di Lingkungan Instansi Pemerintah

(2011:9), dijelaskan mengenai visi dan misi humas pemerintah. Visi

humas pemerintah adalah terciptanya pengelolaan kehumasan

(kelembagaan, ketatalaksanaan, dan SDM) yang proporsional,

profesional, efektif, dan efisien dalam mendukung penerapan

prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik.

Misi humas pemerintah adalah:

1. Membangun citra dan reputasi positif pemerintah.

2. Membentuk, meningkatkan, dan memelihara opini positif publik.

3. Menampung dan mengolah aspirasi masyarakat.

4. Mencari, mengklasifikasi, mengklarifikasi, serta menganalisis

data dan informasi.

(23)

10 1.2. Tujuan Humas Pemerintah

Penerapan humas dalam lembaga pemerintahan digunakan untuk

menjembatani pemerintah agar dapat menyentuh langsung setiap

aspek yang terdapat di masyarakat. Hampir semua bagian

pemerintah mengandalkan orang-orang kehumasan untuk

mendekatkan diri kepada masyarakat. Hal tersebut tentunya tidak

lepas dari tujuan-tujuan humas pemerintah. Untuk mencapai

tujuan itu berbagai upaya dilakukan, diantaranya dengan

mengembangkan good will dan memperoleh opini publik yang

favorable, harmonis dengan berbagai lapisan publik serta kegiatan

kehumasan yang harus diarahkan kedalam dan keluar. Menurut

Cutlip (2011:466) terdapat tujuh tujuan dari humas pemerintah,

diantaranya:

a. Memberi informasi konstituen tentang aktivitas agen

pemerintah.

b. Memastikan kerja sama aktif dalam program pemerintah seperti

kepatuhan terhadap program aturan, kewajiban menggunakan

sabuk pengaman, atau mengenai aturan dilarang merokok.

c. Mendorong warga agar mendukung kebijakan dan program

(24)

11

keamanan lingkungan, kampanye penyadaran akan kesehatan

personal, bantuan untuk upaya pertolongan bencana.

d. Melayani sebagai advokat publik untuk administrator

pemerintah seperti menyampaikan opini publik kepada

pembuat keputusan, mengelola isu publik di dalam organisasi,

meningkatkan aksesibilitas publik ke pejabat administrasi.

e. Mengelola informasi internal seperti menyiapkan newsletter

organisasi, pengumuman elektronik, dan isi dari situs internet

organisasi untuk karyawan maupun masyarakat.

f. Menfasilitasi hubungan media seperti menjaga hubungan

dengan pers lokal, bertugas sebagai saluran untuk semua

pertanyaan media, memberi tahu pers tentang organisasi,

praktik, dan kebijakannya.

g. Membangun komunitas dan bangsa seperti menggunakan

kampanye kesehatan publik dengan dukungan pemerintah dan

program keamanan publik lainnya serta mempromosikan

(25)

12 1.3 Peran Humas Pemerintah

Ruslan dalam bukunya Etika Kehumasan Konsepsi dan Aplikasi

(2011:110-111) mengemukakan bahwa, peran humas pemerintah menyangkut

beberapa hal sebagai berikut :

1. Secara taktis (jangka pendek), humas instansi pemerintah berupaya

memberikan pesan-pesan atau informasi yang efektif kepada

masyarakat sebagai khalayak sasarannya. Kemampuan untuk

melaksanakan komunikasi yang efektif, memotivasi dan memiliki

pe garuh terhadap opi i pu lik se agai upaya e ya aka

persepsi de ga tujua da aksud dari i sta si atau le aga ya g

bersangkutan.

2. Secara strategis (jangka panjang), humas instansi pemerintah berperan

aktif dalam proses pengambilan keputusan (decision making process),

dalam memberikan sumbang saran, gagasan, dan ide yang kreatif serta

cemerlang untuk mensukseskan program kerja lembaga yang

bersangkutan, sehingga mampu menunjang keberhasilan

pembangunan nasional jangka panjang serta mendorong melalui kerja

sama dan mendapat dukungan dari masyarakat.

Di dalam Pedoman Umum Tata Kelola Kehumasan di Lingkungan

Instansi Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 yang dikeluarkan oleh

(26)

13

Republik Indonesia, disebutkan mengenai peran humas pemerintah

meliputi unsur-unsur berikut:

2.1 Komunikator

Humas pemerintah berperan membuka akses dan saluran komunikasi

dua arah, antara instansi pemerintah dan publiknya, baik secara

langsung maupun tidak langsung, melalui sarana kehumasan.

3. Fasilitator

Humas pemerintah berperan menyerap perkembangan situasi dan

aspirasi publik untuk dijadikan masukan bagi pimpinan instansi

pemerintah dalam pengambilan putusan.

4. Diseminator

Humas pemerintah berperan dalam pelayanan informasi terhadap

internal organisasi dan publiknya, baik langsung maupun tidak langsung,

mengenai kebijakan dan kegiatan masing-masing instansi pemerintah.

5. Katalisator

Humas pemerintah berperan dalam melakukan berbagai pendekatan

dan strategi guna mempengaruhi sikap dan pendapat publik untuk

menyelaraskan kepentingan pemerintah dengan publik.

6. Konselor, Advisor, dan Interprator

Humas pemerintah merupakan konsultan, penasihat, dan penerjemah

kebijakan pemerintah.

(27)

14

Humas pemerintah berperan sebagai salah satu instrumen strategis

pemimpin puncak penentu kebijakan.

1.4 Tugas Humas Pemerintah

Menurut Sam Black dalam Effendy (1999:37) humas pemerintah

diklasifikasikan menjadi dua yaitu humas pemerintah pusat dan humas

pemerintah daerah. Menurutnya kedua klasifikasi tersebut mempunyai

tugas yang sama, walaupun ruang lingkupnya berbeda. Tugas humas

pemerintah disini pertama menyebarkan informasi secara teratur

mengenai kebijaksanaan perencanaan dan hasil yang telah dicapai, kedua

menerangkan dan mendidik mengenai perundang-undangan,

peraturan-peraturan serta hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat.

Menurut Ruslan (1999:297) melalui seorang humas, pemerintah dapat

menyampaikan informasi atau menjelaskan hal-hal yang berhubungan

dengan kebijaksanaan dan tindakan tertentu serta aktivitas dalam

melaksanakan tugas dan kewajiban kepemerintahannya. Terdapat

beberapa hal untuk melaksanakan tugas utama humas:

1. Mengamati dan mempelajari tentang hasrat, keinginan dan aspirasi yang

terdapat dalam masyarakat (learning about public desires and aspiration).

2. Kegiatan memberikan nasihat atau saran untuk menanggapi dan

dilakukan oleh instansi atau lembaga pemerintah seperti yang dikehendaki

(28)

15

3. Kemampuan untuk mengusahakan terjadinya hubungan memuaskan

yang diperoleh antara hubungan publik dan aparat pemerintah (ensuring

satifactory contact between and government official).

4. Memberikan informasi tentang apa yang telah diupayakan oleh suatu

lembaga atau instansi pemerintahan yang bersangkutan (informing and

about what an agency is doing).

Selain itu humas pemerintah juga bertugas memberikan informasi dan

penjelasan kepada khalayak publik mengenai kebijakan, langkah ataupun

tindakan yang diambil oleh pemerintah, serta mengusahakan tumbuhnya

hubungan yang harmonis antara lembaga atau instansi dengan publiknya

dan memberikan pengertian kepada publiknya tentang apa yang

dikerjakan oleh instansi pemerintah dimana humas itu berada dan

berfungsi. Jadi, pada dasarnya tugas humas pemerintah menurut Dimock

dan Koenig dalam Ruslan (1999:298) yaitu :

1. Upaya memberikan penerangan atau informasi kepada masyarakat

tentang pelayanan masyarakat, kebijaksanaan serta tujuan apa dan

bagaimana yang akan dicapai oleh pemerintah dalam melaksanakan

program kerja tersebut.

2. Mampu untuk menanamkan keyakinan dan kepercayaan serta mengajak

masyarakat dalam partisipasinya atau ikut serta pelaksanaan program

pembangunan di berbagai bidang sosial, budaya, ekonomi, maupun politik

(29)

16

3. Kejujuran dalam pelayanan dan pengabdian dari aparatur pemerintah

yang bersangkutan perlu dipelihara atau dipertahankan dalam

melaksanakan tugas serta kewajibannya masing-masing.

1.5 Fungsi Humas Pemerintah

Fungsi utama humas adalah menumbuhkan dan mengembangkan

hubungan baik antara lembaga atau instansi dengan publiknya, baik

internal maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian,

menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan

iklim pendapat (opini public) yang menguntungkan. Ermery (1988:382)

e ye utka fu gsi hu as pe eri tah se agai to establish mutually

benefid throught acceptable communication relationship with its various

public . “e ara umum sasaran kegiatan humas swasta maupun pemerintah

adalah menciptakan opini publik yang menguntungkan perusahaan atau

lembaga pemerintah yang bersangkutan. Untuk mencapai tujuan atau

sasaran tersebut, perlu diupayakan hubungan yang harmonis antara

humas dan lingkungannya. Pendapat lain muncul dari Rachmadi (1994:22)

mengenai fungsi pokok humas pemerintah menyatakan bahwa fungsinya

mengatur lalu-lintas atau sirkulasi informasi internal dan eksternal dengan

memberikan informasi serta penjelasan seluas mungkin kepada publik

(30)

17

lembaga dan organisasinya, agar dapat dipahami sehingga memperoleh

public support dan public acceptance.

Senada dengan penjabaran fungsi pokok humas pemerintah oleh

Ra h adi aka e urut Rusla : dala uku ya Ma aje e

Hu as da Ma aje e Ko u ikasi , pada dasar ya fu gsi pokok hu as

pemerintah di Indonesia antara lain :

1. Mengamankan kebijaksanaan pemerintah.

2. Memberikan pelayanan dan penyebarluasan pesan atau informasi

mengenai kebijaksanaan ataupun program-program kerja secara nasional

kepada masyarakat.

3. Menjadi komunikator sekaligus sebagai mediator yang proaktif dalam

menjembatani kepentingan instansi pemerintah disatu pihak dan

menampung aspirasi serta memperhatikan keinginan-keinginan publiknya

di lain pihak.

4. Berperan serta dalam menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis

demi mengamankan stabilitas dan keamanan politik pembangunan

nasional, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

1.6 Aktivitas Humas Pemerintah

Me urut “u arto dala uku ya Hu as Pe eri taha da Ko u ikasi

Persuasif : -47) menerangkan bahwa dalam rangka pelaksanaan

tugas dan fungsi kehumasan, maka humas pemerintah perlu melakukan

(31)

18

1. Membina pengertian kepada publik terhadap kebijaksanaan

pemerintah. Dalam hal ini, publik yang menjadi sasaran terdiri dari:

a. Publik internal yaitu karyawan di lingkungan pemerintah itu sendiri.

b. Publik eksternal yaitu media massa, pejabat pemerintah, pemuka

pendapat (opinion leader), dan masyarakat sekitar yang menjadi publiknya.

2. Menyelenggarakan dokumentasi kegiatan pokok aparatur pemerintah,

khususnya yang berkenaan dengan pemberian pelayanan kepada

masyarakat dan yang telah direlease untuk publikasi.

3. Memonitor dan mengevaluasi tanggapan dan pendapat masyarakat.

4. Mengumpulkan data dan informasi yang datang dari berbagai sumber.

Masalah pengumpulan dan penyimpanan data serta informasi yang

menjadi perhatian semua orang. Tidak saja besarnya jumlah informasi,

tetapi juga terus menumpuknya informasi yang relevan serta diperlukan

oleh perorangan, badan atau instansi, media, kantor berita, lembaga

pendidikan dan perusahaan yang memerlukan data dan informasi.

5. Melakukan analisa terhadap permasalahan yang telah diklasifikasikan ke

dalam bidang-bidang permasalahan yang sesuai dengan bidang pekerjaan

humas yang bersangkutan, kemudian membuat kesimpulan terhadap

permasalahan tersebut. Hasil dari proses pengolahan ini dipergunakan

untuk memberikan gambaran atau informasi kepada pimpinan dan

(32)

19

6. Kegiatan humas merupakan penyampaian informasi yang mengandung

penjelasan-penjelasan atas fakta pendapat atau sikap yang akan

dikomunikasikan. Sifat informasi biasanya bermacam-macam, yaitu:

a. Rahasia atau tidak rahasia.

b. Nilai aktualitasnya bagi khalayak rendah atau tinggi.

c. Nilai kebutuhan khalayak yang luas atau terbatas.

7. Penyebaran informasi merupakan suatu proses kegiatan humas kepada

khalayak internal maupun eksternal. Informasi humas yang akan

disebarkan kepada masyarakat pada umumnya harus mengandung

jaminan akan validitas dan kredibilitas informasi yang dikomunikasikan.

Penyebaran informasi humas hendaknya disesuaikan dengan sasaran yang

hendak dicapai. Oleh karena itu penyebaran dapat ditinjau dari segi

pengelompokan sasaran yang bersifat vertikal, misalnya : kelompok

cendekiawan, kelompok pendidikan, dan sebagainya.

2. UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik

Keterbukaan informasi dapat dimaknai sebagai kondisi yang

memungkinkan sektor komunikasi untuk menyentuh hampir semua bidang

kehidupan masyarakat. Ketika keterbukaan informasi tersebut

disandingkan dengan konteks informasi dalam sektor publik,

pembahasannya akan mengerucut pada informasi yang dihasilkan dan

(33)

20

Landasan konstitusional mengenai keterbukaan informasi publik telah

tertulis dalam UUD 1945, yaitu Pasal 28 F yang berbunyi sebagai berikut:

“etiap ora g erhak u tuk erko u ikasi da e peroleh informasi

u tuk e ge a gka pri adi da li gku ga sosial ya... . “elai itu,

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah mengatur hak atas informasi

dalam Resolusi 59 Ayat 1 Tahun 1946 dan menegaskan kembali dalam

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB Pasal 19 yang menyatakan

bahwa hak atas informasi merupakan hak asasi dan hak konstitusional

sehingga wajib dilindungi oleh negara. Pentingnya keterbukaan informasi

dalam penyelenggaraan pemerintah dapat dijumpai dalam berbagai

macam aspek. Misalnya, pada aspek hubungan antara keterbukaan

informasi dan partisipasi masyarakat.

Pemaparan terkait hal tersebut pernah diungkapkan oleh Huntington dan

Nelson (1994:4) yaitu untuk memungkinkan partisipasi rakyat secara

efektif dibutuhkan dua syarat penting, salah satunya adalah adanya

kebebasan untuk memperoleh informasi, menyampaikan pendapat, dan

berorganisasi. Partisipasi masyarakat tersebut dapat berwujud kontrol

masyarakat terhadap kinerja pemerintah dan unit-unit kerjanya,

pengawalan proses pembuatan kebijakan, dan lain sebagainya. Selain

untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat, keterbukaan informasi

(34)

21

komitmen pemerintah dalam melaksanakan salah satu prinsip tata kelola

pemerintahan yang baik (good governance) yaitu transparansi.

Menurut buku Penerapan Prinsip-Prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik

yang dikeluarkan oleh Bappenas (2007), transparansi adalah suatu prinsip

yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk

memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, informasi

tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta

hasil-hasil yang dicapai oleh pemerintah.

Instrumen perundangan yang mengatur masalah keterbukaan informasi

publik di Indonesia adalah UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik. UU tersebut disahkan pada bulan April 2008 dan telah

resmi dijalankan pada bulan Mei 2010 serta terdiri dari 64 pasal. UU ini

merupakan salah satu upaya dalam perwujudan tata kelola pemerintahan

yang baik (good governance) dan konsep pemerintahan terbuka (open

government) di Indonesia. Hal tersebut dilakukan karena konsep

pemerintahan yang terbuka mensyaratkan beberapa jaminan hak publik,

salah satunya adalah hak publik untuk mendapatkan dan mengakses

informasi. Dengan hadirnya UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik, maka setiap badan publik wajib untuk melaksanakan

prinsip-prinsip keterbukaan informasi publik yang tertuang dalam UU

(35)

22

Merujuk pada Justive Initiative dalam (Warta Bakohumas, 2011), prinsip

keterbukaan informasi publik adalah standar internasional yang memuat

10 prinsip tentang akses informasi, yaitu:

1) Akses informasi merupakan hak setiap individu yang dijamin oleh

peraturan perundang-undangan.

2) Akses informasi merupakan kelaziman, sementara kerahasiaan

merupakan kekecualian.

3) Hak akses informasi berlaku terhadap semua badan publik.

4) Permintaan atas informasi harus dibuat cepat, sederhana, dan bebas

biaya.

5) Pejabat pengelola informasi dan dokumentasi wajib membantu

pemohon informasi dalam mengakses informasi.

6) Penolakan pemberian informasi harus dengan alasan yag dibenarkan.

7) Kepentingan publik harus diletakkan di atas kepentingan merahasiakan

informasi.

8) Setiap orang punya hak mengajukan permohonan banding atas

keputusan yang merugikannya.

9) Badan publik harus proaktif dalam memberikan informasi.

10) Hak memperoleh informasi harus dijamin oleh suatu badan publik.

UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik memuat 12

bab dan 64 pasal yang tidak hanya mengatur tentang hak publik atas

(36)

23

tersebut. Secara umum, UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik memuat beberapa pikiran pokok, seperti yang dijabarkan

oleh “u agiyo, dkk dala uku A otasi UU No. Tahu te ta g

Keter ukaa I for asi Pu lik , : -18) yaitu :

1) Setiap badan publik wajib menjamin keterbukaan informasi publik.

2) Setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh publik.

3) Informasi publik yang dikecualikan bersifat terbatas, ketat, dan tidak

mutlak atau permanen.

4) Setiap informasi publik dapat diperoleh dengan cepat, tepat waktu,

biaya ringan, dan cara sederhana.

5) Informasi publik bersifat proaktif.

6) Informasi publik harus bersifat utuh, akurat, dan dapat dipercaya.

7) Penyelesaian sengketa secara cepat, murah, kompeten, dan independen

8) Ancaman pidana bagi para penghambat informasi publik.

Informasi publik yang dimaksud dalam UU No. 14 Tahun 2008 tentang

Keterbukaan Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan,

dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan

dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau

penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya. Oleh

karenanya, UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik

banyak mengatur mengenai kewajiban, tugas, dan wewenang badan

(37)

24

Badan publik yang dimaksud antara lain yaitu lembaga eksekutif, lembaga

legislatif, lembaga yudikatif, serta badan-badan publik lain yang fungsi dan

tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan sebagian

atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi non

pemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah, dan sumbangan masyarakat. Semua badan publik tersebut

memiliki tiga kewajiban yang tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2008

tentang Keterbukaan Informasi Publik. Tiga kewajiban tersebut yaitu

pertama adalah informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara

berkala. Kedua, informasi yang wajib diumumkan secara sertamerta.

Terakhir, informasi yang wajib tersedia setiap saat.

3. Keterkaitan Humas dan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan

Informasi Publik

Bermula dari budaya kehidupan masyarakat yang tertutup serta

banyaknya penyelewengan yang terjadi di masyarakat hingga terbentuklah

culture of secrecy atau budaya ketertutupan, maka pada tanggal 30 April

2008 dibentuklah UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi

(38)

25

culture of secrecy dan menciptakan clean and good governance dalam

institusi kepemerintahan.

Pemerintah mengupayakan terciptanya undang-undang tersebut untuk

melindungi hak-hak publik terkait kebutuhan informasi. Sebelum adanya

UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, kebutuhan

informasi masyarakat sangat bergantung dengan kemurahan hati para

pejabat publik serta budaya dokumentasi masih tidak dianggap penting

untuk dijadikan sebagai bukti ataupun catatan dokumen. UU No. 14 Tahun

2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik kemudian merubah budaya

tertutup menjadi suatu budaya yang terbuka dan accountable,

e i i alisir „pe yelewe ga ‟ yang terjadi karena wilayah tertutup,

menghormati hak masyarakat untuk tahu sebagai bagian dari kontrol

publik, serta menempatkan pentingnya sistem informasi dan dokumentasi.

UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik merupakan

suatu kewajiban untuk setiap badan publik. Kewajiban dari badan publik

itu sendiri yaitu :

1. Menyediakan dan memberikan informasi publik.

2. Membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi

secara baik dan efisien.

3. Menetapkan peraturan mengenai standar prosedur operasional layanan

(39)

26

4. Menetapkan dan memutakhir secara berkala seluruh informasi publik

yang dikelola.

5. Menunjuk dan mengangkat PPID untuk melaksanakan tugas dan

tanggung jawab serta wewenangnya.

6. Menyediakan sarana dan prasarana layanan informasi publik termasuk

situs resmi.

7. Menetapkan standar biaya perolehan salinan informasi publik.

8. Menganggarkan pembiayaan secara memadai bagi layanan informasi

publik.

9. Memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan oleh pemohon.

10. Membuat dan mengumumkan laporan tentang layanan informasi

publik serta menyampaikan salinan laporan kepada komisi informasi.

11. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan layanan

informasi publik di Instansi badan publik tersebut.

Kewajiban yang dimiliki setiap badan publik tersebut diemban oleh

seorang humas karena humas merupakan suatu kebutuhan badan publik

untuk membangun dan menjaga reputasi. Selain itu, humas juga memiliki

tugas untuk melayani informasi atas dasar kesadaran etis dan bagian dari

strategi komunikasi kepada publiknya. Pada dasarnya UU No. 14 Tahun

2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik memiliki ketentuan sendiri

dalam menjalankan UU tersebut. Ketentuan tersebut yaitu adanya Pejabat

(40)

27

untuk melayani informasi sebagai kewajiban yang diatur oleh hukum. Pada

kesimpulannya antara humas dan PPID bisa saling melengkapi dan saling

mendukung dalam pelaksanaan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang

Keterbukaan Informasi Publik.

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif,

dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang berdasarkan

perolehan permasalahan dari objek penelitian pada tahun 2014 hingga

2015. Menurut Neuman (1997:20), definisi dari deskriptif itu sendiri yaitu

penelitian yang mengharuskan peneliti untuk mendefinisikan subjek

secara akurat. Penelitian deskriptif juga menitikberatkan pada kalimat

pertanyaan how dan who seperti bagaimana hal itu terjadi dan siapa saja

yang terlibat di dalamnya. Rakhmat (1998:25) menambahkan dalam

definisinya mengenai deskriptif yang diartikan sebagai lukisan dari variabel

demi variabel di dalam sebuah penelitian. Pada hakikatnya, penelitian

deskriptif yaitu mengumpulkan data secara univariat.

Menurut Kuncoro (2003:21) pengertian keseluruhan dari penelitian

deskriptif kualitatif adalah suatu penelitian yang berisi tentang pemaparan

(41)

28

pemaparan Strauss dan Corbin (1997), penelitian deskriptif kualitatif

merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan

yang tidak dapat dicapai dengan cara atau prosedur statistik. Dalam

penelitian ini data yang dikumpulkan tidak dalam bentuk angka, melainkan

dalam bentuk kata, kalimat, pernyataan, dan konsep. Tujuannya adalah

untuk menggambarkan secara terperinci dan relatif akurat dengan hasil

objek yang sedang diteliti. Oleh karena itu dalam penelitian ini

menggunakan suatu pendekatan studi kasus. Menurut Yin (2006:1) studi

kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pertanyaan penelitian

berkenaan dengan how atau why.

Pendekatan studi kasus pada penelitian yang dilakukan oleh

peneliti yaitu mengenai aktivitas komunikasi Humas Pemerintah Kota

Salatiga melalui FLKM/LKM Kota Salatiga dalam menyatukan persepsi

antara pemerintah daerah dengan masyarakat, penyebarluasan informasi

dan penyaluran aspirasi masyarakat.

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Humas Pemerintah Kota Salatiga dan

FLKM Kecamatan Argomulyo, Kecamatan Sidorejo dan Kecamatan

Sidomukti Kota Salatiga. Penelitian dilakukan dengan menggunakan

jangka waktu atau periode yaitu periode tahun 2014 sampai dengan tahun

2015 dengan waktu penelitian tanggal 11 November 2014 sampai dengan

(42)

29 3. Obyek Penelitian

Objek penelitian dalam hal ini adalah Humas Kota Salatiga dan Forum

Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) di Kecamatan Argomulyo,

Kecamatan Sidorejo dan Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga, karena

penelitian ini memfokuskan diri pada aktifitas Humas Pemerintah Kota dan

Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) sebagai media untuk

menyatukan persepsi antara pemerintah daerah dengan masyarakat,

penyebarluasan informasi dan penyaluran aspirasi masyarakat. Dengan

demikian, diharapkan akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam

pembangunan.

4. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Bungin (2001:129) teknik pengumpulan data adalah bagian

instrument pengumpulan data yang menentukan berhasil atau tidaknya

suatu penelitian. Senada dengan pernyataan di atas, Sugiyono (2005:3)

menambahkan bahwa penelitian yang menggunakan metode deskriptif

kualitatif yaitu pengumpulan data tidak dipadu oleh teori, namun

fakta-fakta yang ditemukan pada saat penelitian di lapangan.

Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan oleh

(43)

30 a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya.

Data tersebut yang kemudian dicatat dan diamati untuk pertama kalinya

oleh peneliti. Data primer berupa informasi-informasi penelitian yang

diperoleh secara langsung oleh peneliti ataupun dengan hasil observasi

penelitian di lapangan. Untuk teknik pengumpulan data pada data primer,

peneliti menggunakan metode sebagai berikut :

1) Wawancara Mendalam (Depth Interview)

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik

wawancara mendalam (depth interview) agar dapat mengetahui objek

penelitian secara lebih mendalam dan terperinci. Menurut Mulyana

(2001:180) teknik wawancara mendalam yaitu bentuk komunikasi antara

dua orang serta melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi

dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan

berdasarkan tujuan tertentu. Wawancara dilakukan peneliti agar

memperoleh informasi selengkap-lengkapnya dan akurat mengenai

aktivitas komunikasi Humas Pemerintah Kota Salatiga melalui Lembaga

Komunikasi Masyarakat (LKM) dan Forum Lembaga Komunikasi

Masyarakat (FLKM) dalam kaitannya sebagai media untuk menyatukan

persepsi antara pemerintah daerah dengan masyarakat, penyebarluasan

informasi dan penyaluran aspirasi masyarakat. Ada beberapa jenis teknik

(44)

31

dalam Moleong (2010:187) yaitu wawancara pembicaraan informal,

wawancara pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara dan

wawancara baku terbuka. Penelitian ini termasuk jenis wawancara

pendekatan karena menggunakan petunjuk umum wawancara dengan

kriteria informan, yaitu :

1. Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota salatiga

Adi Setiarso S.E

Informan adalah orang pertama yang bertanggung jawab secara penuh

terhadap kinerja kehumasan Pemerintah Kota Salatiga serta memiliki

jabatan tertinggi nomor satu dalam struktural Bagian Humas Pemerintah

Kota Salatiga yang secara otomatis segala kebijakan yang diambil akan

melalui pertimbangan dari Kepala Bagian Humas yang kemudian disetujui

oleh Sekretaris Daerah sebagai kepala SKPD.

2. Kepala Sub Bagian Protokol Humas Kota Salatiga

Ibu Rahmawati Utami, S.T

Informan adalah orang yang bertanggungjawab atas Sub Bagian Protokol

Humas Setda Kota Salatiga yang secara langsung bertanggung jawab pula

terhadap kinerja FLKM/LKM serta membantu Humas Kota Salatiga dalam

(45)

32

3. Kepala Sub Bagian Analisis dan Kemitraan Media

Ibu Tri Prawiati, ST

Informan adalah orang yang bertanggungjawab terhadap aktivitas Humas

Kota Salatiga khusus menangani publikasi melalui blog, twitter, maupun

facebook serta memproses suatu informasi dari Humas Kota Salatiga untuk

diolah menjadi suatu berita yang kemudian diinformasikan kepada publik

sebagai bentuk keterbukaan informasi publik.

4. Ketua FLKM kecamatan Argomulyo

H.Faroug S.Pd, SH. M.H

Informan adalah orang yang bertanggung jawab langsung terhadap segala

aktivitas dan kegiatan FLKM di Kecamatan Argomulyo termasuk

orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

5. Ketua FLKM Kecamatan Sidomukti

Drs. H. Ali Mawardi, M.Pd

Informan adalah orang yang bertanggung jawab langsung terhadap

segala aktivitas dan kegiatan FLKM di Kecamatan Sidomukti termasuk

(46)

33 6. Tokoh Masyarakat Kota Salatiga

a. Soemarno S.Ag, M.M

Yang bersangkutan merupakan tokoh masyarakat di wilayah Kelurahan

Salatiga Kecamatan Sidorejo.

b. Drs. H. Wido Murwadi, M.Pd

Yang bersangkutan merupakan tokoh masyarakat di wilayah Kelurahan

Tegalrejo Kecamatan Argomulyo

c. Djizno Zero 45

Yang bersangkutan merupakan tokoh masyarakat yang bertempat tinggal

di wilayah Kelurahan Mangunsari Kecamatan Sidomukti

d. Suroso Kuncoro, S.H.

yang bersangkutan merupakan mantak kepala kantor inkom, kabag hokum

dan camat di Sidomukti Salatiga.

Informan tersebut pada a, b, c, dan d merupakan penduduk atau tokoh

masyarakat Kota Salatiga yang menjadi publik eksternal dari Humas dan

FLKM/LKM. Masyarakat juga merupakan penerima informasi ataupun

manfaat dari adanya Lembaga Komunikasi Masyarakat (LKM) dan

Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) dalam kaitannya

sebagai media untuk menyatukan persepsi antara pemerintah daerah

dengan masyarakat, penyebarluasan informasi dan penyaluran aspirasi

(47)

34 2) Observasi

Peneliti menggunakan teknik observasi dalam mengumpulkan data

tentang keadaan ataupun kegiatan yang dilakukan oleh objek penelitian.

Teknik observasi yang dilakukan oleh peneliti senada dengan penjabaran

dari Rakhmat (1998:84) bahwa teknik observasi dimaksudkan agar dapat

menjelaskan secara terperinci tentang hal atau gejala yang terjadi dalam

objek penelitian. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini

dimaksudkan untuk melihat secara langsung seperti yang diutarakan oleh

Yin (2006:113) mengenai aktivitas komunikasi Humas Pemerintah Kota

Salatiga melalui Lembaga Komunikasi Masyarakat (LKM) dan Forum

Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) dalam kaitannya sebagai media

untuk menyatukan persepsi antara pemerintah daerah dengan

masyarakat, penyebarluasan informasi dan penyaluran aspirasi

masyarakat. periode 2014-2015.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literature-literatur

kepustakaan dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian.

1) Dokumen

Pengumpulan data dan teori yang relevan dalam penelitian ini

menggunakan bahan-bahan tertulis. Sumber bukti yang dijadikan fokus

pada pengumpulan data adalah surat-surat, memorandum, pengumuman

(48)

35

peristiwa tertulis, dokumen administratif, dokumen internal,

evaluasi-evaluasi resmi, kliping-kliping, dan artikel-artikel lain seperti yang

diutarakan oleh Yin (2006:101-102). Selain perihal di atas data dan teori

diperoleh dari buku, dan jurnal. Pengumpulan data berupa dokumen

dalam penelitian ini berhubungan dengan aktivitas komunikasi Humas

Pemerintah Kota Salatiga melalui Lembaga Komunikasi Masyarakat (LKM)

dan Forum Lembaga Komunikasi Masyarakat (FLKM) dalam kaitannya

sebagai media untuk menyatukan persepsi antara pemerintah daerah

dengan masyarakat, penyebarluasan informasi dan penyaluran aspirasi

masyarakat.

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah tahapan kelanjutan dari peneliti untuk

menganalisis data guna mencari, menata dan merumuskan kesimpulan

dari hasil wawancara, observasi, key informan, dokumentasi dan studi

kepustakaan. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini

adalah analisis data dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif.

Analisis ini lebih menekankan pada proses penyampaian, pengamatan

yang terpisah-pisah untuk dijadikan sebagai suatu rangkaian hubungan

atau generalisasi. Teknik analisis data diperoleh dengan meneliti secara

cermat dan faktual mengenai keadaan dan gejala yang terjadi di dalam

(49)

36

Bogdan dan Tylor dalam Moleong (2010:3) menyatakan bahwa metode

kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang

dapat diamati. Proses analisis data kualitatif dilakukan sejak data-data

diperoleh dengan meneliti seluruh data yang tersedia dari berbagai

sumber, sebagaimana yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu

wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dalam objek penelitian,

observasi hingga menganalisis dokumen yang telah dikumpulkan oleh

peneliti sebagai bahan dari objek penelitian. Pada saat melakukan

wawancara, peneliti melakukan analisis terhadap jawaban informan. Jika

jawaban yang dilontarkan oleh informan belum terasa cukup, maka

peneliti akan melanjutkan pertanyaan selanjutnya pada tahap tertentu

hingga memperoleh data yang cukup. Analisis akan dilakukan melalui

proses-proses yang telah disebutkan di atas secara terus menerus hingga

tuntas.

6. Uji Validitas Data

Uji validitas data dalam penelitian ini adalah menggunakan triangulasi.

Triangulasi data berusaha untuk mengecek kebenaran data yang telah

dikumpulkan dan berusaha untuk mengecek kebenaran data tertentu

dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Menurut Moleong

(2010:178) menyebutkan definisi triangulasi adalah teknik pemeriksaan

(50)

37

untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data

penelitian.

Triangulasi yang digunakan peneliti adalah triangulasi sumber data.

Menurut Patton dalam Bungin (2007:257) triangulasi dengan

menggunakan sumber data berarti membandingkan dan mengecek balik

derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan

cara yang berbeda dalam metode kualitatif. Waktu dan cara yang berbeda

tersebut yaitu :

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dan

membandingkan apa yang dikatakan oleh sumber secara pribadi.

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian

dengan apa yang dikatakan sumber sepanjang waktu.

d. Membandingkan keadaan dan perspektif seorang dengan berbagai

pendapat dan pendapat orang seperti rakyat biasa, orang yang

berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada atau orang

pemerintahan.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan isu suatu dokumen yang

berkaitan.

Pada penelitian ini hanya satu cara yang digunakan oleh peneliti untuk

mengukur keabsahan data yaitu dengan mengamati data hasil wawancara

(51)

38 G. Sistematika Penulisan

Guna mendapatkan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang

dilakukan, maka disusunlah sistematika penulisan yang berisi informasi

mengenai materi dan hal-hal yang dibahas dalam setiap bab.

Adapun sistematika penulisan penelitian adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metode penelitian,

dan sistematika penulisan.

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

Pada bab ini berisi tentang gambaran umum mengenai profil Humas Setda

kota Salatiga, sejarah, visi dan misi, serta struktur organisasi. Pada bab ini

juga membahas pula mengenai FLKM dan LKM serta penelitian-penelitian

terdahulu yang mengambil topik serupa dengan penelitian ini.

BAB III SAJIAN DATA DAN ANALISIS

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai proses dari aktivitas komunikasi

Humas Pemerintah Kota Salatiga melalui Lembaga Komunikasi

Masyarakat (LKM) dan Lembaga Komunikasi Masyarakat (LKM)

dalam kaitannya sebagai media untuk menyatukan persepsi antara

pemerintah daerah dengan masyarakat, penyebarluasan informasi dan

(52)

39

bahasan dari hasil penelitian serta analisis peneliti dengan dipadukan pada

hasil temuan data penelitian.

BAB IV PENUTUP

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan

(53)

40 BAB II

PROFIL DAN GAMBARAN UMUM

A.Bagian Humas Setda Kota Salatiga

Instansi Pemerintah Kota Salatiga terdiri atas 3 (tiga) jenis Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yaitu :

a. Badan

Badan dipimpin Kepala Badan membawahi Sekretaris dan Kepala Bidang (Kabid) melayani kebutuhan semua dinas/instansi, contoh Badan Perencanaan Daerah (Bappeda), Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan lain-lain.

b. Dinas

Dinas dipimpin seorang Kepala Dinas dibantu oleh seorang sebagai sekretaris dan beberapa Kepala Bidang. Apabila memang dirasa perlu dinas tersebut dapat membentuk Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD). Contoh dinas yang memiliki UPTD, misalnya Dinas Perhubungan, Komunikasi Kebudayaan dan Priwisata memiliki UPTD Parkir, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM memiliki UPTD Pasar, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga memiliki UPTD Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan, dan masih banyak lagi.

c. Sekretariat Daerah

Sekretariat Daerah yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Kota Salatiga terdiri atas Bagian-bagian sebagai berikut :

1) Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) 2) Bagian Perekonomian

3) Bagian Kesejahteraan (Kesra)

(54)

41

Sekretaris Daerah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh 3 (tiga) orang Asisten, yaitu :

a.Asisten 1 Bidang Pemerintahan

b.Asisten 2 Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesra c.Asisten 3 Bidang Administrasi

Masing-masing asisten sesuai dengan uraian tugas pokok dan fungsinya yang ditetapkan oleh walikota, mengkoordinasikan bagian-bagian yang terdapat di Sekretariat Daerah.

Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Salatiga merupakan salah satu bagian di Sekretariat Daerah, terdiri atas 3 (tiga) sub bagian, yang masing-masing dikepalai seorang Kasubag, sudah memiliki tugas pokok dan fungsi yang harus dilaksanakan sebagaimana tertulis pada Peraturan Walikota Tahun 2011 pasal 51, tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Pejabat disingkat Tupoksi.

Adapun 3 (tiga) Sub Bagian pada Hubungan Masyarakat (Humas) tersebut adalah sebagai berikut :

a. Sub Bagian Protokol

b. Sub Bagian Analisis dan Kemitraan Media

c. Sub Bagian Dokumentasi, Publikasi dan Pengelolaan Data Elektronik.

(55)

42

STRUKTUR ORGANISASI BAGIAN HUMAS SETDA KOTA SALATIGA

Gambar 1 Struktur Organisasi Bagian Humas

B. Tugas Pokok dan Fungsi Bagian Humas

Berpedoman pada Peraturan Walikota Salatiga Nomor 53 Tahun 2011 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Fungsi Sekretariat Daerah Kota Salatiga dalam Paragraf 4 dijelaskan mengenai tugas pokok dan fungsi humas baik secara umum maupun khusus per sub bagian.

Adapun tugas pokok dan fungsi yang dimaksudkan adalah :

1. Bagian Hubungan Masyarakat

(56)

43 a. Kepala Bagian Humas

Peraturan Walikota Pasal 50, ayat 3 mengatur tugas pokok dan fungsi Kepala Bagian (Kabag) Humas antara lain :

1) Menyusun program kerja Bagian Hubungan Masyarakat berdasarkan peraturan maupun program-program Pemerintah Daerah sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

2) Menyusun dan merumuskan kebijakan penyelenggaraan keprotokoleran, analisis dan kemitraan media, dokumentasi, publikasi dan pengelolaan data elektronik sesuai dengan kewenangan dan kebutuhan daerah;

b. Sub Bagian Analisis Kemitraan Media (AKM)

Tugas pokok dan fungsi Kepala Sub Bagian (Kasubag) Analisis Kemitraan Media (AKM) tertuang pada pasal 53, antara lain :

1) Mengumpulkan dan menyajikan data kegiatan dari Perangkat Daerah dan pihak terkait secara rutin dan berkala sebagai bahan pemberitaan di media cetak dan elektronik;

2) Melaksanakan peliputan foto dan video kegiatan Pemerintah Daerah dan pemerintahan daerah dengan perangkat daerah dan pihak terkait sebagai bahan pemberitaan kegiatan Pemerintah Daerah melalui media cetak dan elektronik;

c. Sub Bagian Protokol

Pasal 52 Peraturan Walikota Salatiga mengatur tugas pokok dan fungsi Ka. Subag Protokol antara lain sebagai berikut :

Gambar

Gambar 1 Struktur Organisasi Bagian Humas
Gambar 4 Susunan Organisasi FLKM
Gambar 5  Alur Hubungan Kerjasama Antar Lembaga  Dalam Bidang Informasi
Gambar 6 :  Alur Informasi LKM/FLKM
+4

Referensi

Dokumen terkait

Peran Humas Dalam Implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik di Badan Publik (Studi Kasus Pada Badan Pemeriksa Keuangan RI).

Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), maka Pemerintah Kota Balikpapan sebagai salah satu Badan Publik

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2010 tentang Pelaksanaah Undang-Undang Nomor L4 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara. Republik Indonesia

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Lembaran Negara Republik Indonesia

Peran Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Salatiga dalam Memfasilitasi Terlaksananya UU No.14 tahun 2008.. tentang Keterbukaan

Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana Implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik di Kabupaten

Alur Pelaksanaan SOP PPID di Lingkunagn KPU Mandailing Natal Untuk melaksanakan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, ketentuan pasal 39

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, setiap Badan Publik Wajib menyediakan, memberikan, dan atau