• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab 3 ok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "bab 3 ok"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

30 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan studi eksploratif yaitu suatu penelitian yang

bertujuan untuk mengungkap secara luas dan mendalam tentang sebab-sebab dan

hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu, serta mengungkapkan

karakteristik apa saja yang ada dalam variabel penelitian. Metode kualitatif

menekankan kekuatan narasi untuk dapat mengungkapkan kompleksitas,

memahami kedalaman makna dan interpretasi terhadap keutuhan fenomena yang

diteliti (Poerwandari, 2001).

Dalam penelitian ini peneliti menggali informasi tentang komunikasi

seksual, yaitu komunikasi pada pasangan suami isteri berkaitan dengan perilaku

seksual dalam kehidupan perkawinan pasangan tersebut. Mengacu pada pendapat

McCubbin dan Dahl (1985) tentang komunikasi sebagai suatu proses tukar

menukar perasaan, keinginan, kebutuhan, dan pendapat, maka komunikasi seksual

yang digali dalam penelitian ini adalah komunikasi tentang perilaku seksual.

Perilaku seksual pada pasangan suami isteri meliputi frekuensi hubungan suami

isteri, kemampuan untuk orgasme, variasi dalam teknik hubungan suami isteri

(intercourse) dan tercapainya kepuasan dalam melakukan hubungan suami isteri

(Masters, Johnson, dan Kolodmy, 1992) .

(2)

31 3.2. Alat Pengumpul Data

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dalam hal ini wawancara

mendalam (depth interview) yang digunakan untuk menggali secara mendalam

komunikasi seksual suami isteri pada tiga kelompok pasangan suami isteri, yaitu

pasangan yang berada pada tahap menikah (perkawinan tanpa anak), pasangan

dari keluarga dengan anak usia prasekolah, dan pasangan dari keluarga dengan

anak remaja.

Wawancara mendalam (depth interview) dalam penelitian ini

menggunakan wawancara semi terstruktur dengan open-ended questions

(pertanyaan terbuka). Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang sifatnya luas,

sering hanya berupa topik dan memberi kebebasan bagi responden untuk

menentukan jumlah serta jenis informasi yang diberikan (Stewart dan Cash,

1982). Menurut Kerlinger (1986) keuntungan dari pertanyaan terbuka adalah lebih

fleksibel, interviewer dapat melakukan probing jika terjadi kesalahpahaman,

mendorong kerjasama dan membangun raport serta memungkinkan diperolehnya

informasi yang mendalam mengenai intensi-intensi , belief dan sikap subyek.

Wawancara mendalam (depth interview) tentang komunikasi seksual

suami isteri mengacu pada konsep perilaku seksual dalam perkawinan Masters,

Johnson, dan Kolodmy (1992) yaitu berkaitan dengan frekuensi dalam hubungan

suami isteri (intercourse), kemampuan melakukan orgasme, variasi dalam

teknik intercourse dan kepuasan yang dicapai dari hubungan suami isteri

(intercourse).

(3)

32 3.3 Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah pasangan suami isteri usia dewasa

awal dan awal dewasa madya. Subyek yang dibagi dalam tiga kelompok

pasangan suami isteri berdasarkan usia perkawinan, yaitu pasangan yang berada

pada tahap menikah (perkawinan tanpa anak), pasangan dari keluarga dengan

anak usia prasekolah, dan pasangan dari keluarga dengan anak remaja. Adapun

jumlah subyek penelitian (responden) adalah 6 orang dari tiga kelompok pasangan

suami istri berdasarkan usia perkawinan, yang terdiri dari 3 orang suami dan 3

orang istri.

3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian mengambil lokasi di Kotamadya Bandung dan

Kabupaten Bandung.

Tabel 3.1

Jadwal Kegiatan Penelitian

Waktu Kegiatan

April 2009 Penyusunan proposal penelitian Mei - Juni 2009 Pembuatan alat ukur penelitian Juni – Juli 2009 Pendataan subyek penelitian Agustus 2009 Pengambilan data penelitian

Oktober - Nopember 2009 Pengolahan dan analisis data penelitian Nopember 2009 Penyusunan laporan penelitian

3.5. Metode Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan analisis fenomenologis interpretatif dengan

tujuan mengeksplorasi secara detail respon subyek penelitian terhadap fenomena

yang dikaji dalam penelitian (Murray dan Chamberlin, 1999). Fenomena

(4)

33 kemungkinan, akan didapat fenomena baru yang belum mempunyai kajian

literatur.

Fenomena yang dikaji dalam penelitian ini adalah komunikasi pada tiga

pasangan suami isteri yang berbeda dalam dalam tahap perkembangan keluarga

berkaitan dengan frekuensi hubungan suami isteri, kemampuan untuk orgasme,

variasi dalam teknik hubungan suami isteri (intercourse) dan tercapainya

kepuasan dalam melakukan hubungan suami isteri.

Referensi

Dokumen terkait

Kesehatan perilaku seksual suami, isteri, atau suami-isteri; akan mewarnai kualitas hidup mereka, akan mewarnai kebahagiaan hidup mereka; artinya suami, isteri,

Berdasarkan uraian tersebut, bahwa latar belakang kehidupan keluarga pasangan suami istri dapat mempengaruhi penyesuaian perkawinan yang terjadi pada pasangan antar etnis Jawa

Untuk tujuan penyusunan kategori atau tipe-tipe kualitas perkawinan pasangan suami isteri Yogyakarta tersebut, dibutuhkan suatu alat ukur kualitas perkawinan yang

engungkapkan bahwa kondisi kehidupan rumah tangga p ikasi pasangan dalam keluarga sebanyak 65,71% kurang dengan hal tersebut, maka peranan komunikasi dalam tara suami isteri

Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Semarang melaksanakan peran dalam memberikan bimbingan kepada pasangan suami isteri. Bimbingan

Dalam setiap kesulitan tersebut pada hakikatnya Suami-Isteri diuji sampai sejauh mana pasangan tersebut sanggup menyikapi dan memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan rumah

Demikianlah seharusnya hubungan antara suami isteri dalam rumah tangga, namun kadang-kadang pasangan suami isteri sibuk dengan pekerjaannya sehingga dalam kehidupan rumah

Mengingat pentingya keterbukaan komunikasi dalam menjaga hubungan dan kualitas perkawinan dengan kehidupan perkawinan jarak jauh disarankan pada pasangan suami istri untuk