• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

AIDA SRI RAHAYU NIM: 1112015000004

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKUTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Sukabumi Jawa Barat. SKRIPSI. Jakarta: Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan apa saja yang dilakukan oleh istri petani di sektor domestik dan publik dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat, dengan jumlah sampel sebanyak delapan istri petani. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Peneliti mengambil data dengan teknik wawancara dan studi dokumentasi. Pemilihan sampel dengan menggunakan non probality sampling dengan teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Hasil penelitian ini menunjukan peranan istri petani dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Bojonggenteng Sukabumi Jawa Barat, baik secara langsung maupun tidak langsung peran istri petani sangat kuat, semangat para istri bekerja sangat besar walaupun dengan penghasilan yang kecil para istri petani telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga dengan melakukan pekerjaan di sektor publik untuk membantu suami. Dengan bekerjanya istri secara otomatis peran nya menjadi ganda, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan sebagai istri yang bekerja.

(7)

Java. Skripsi. Jakarta: of Education Social Sciences the Faculty of Tarbiyah and Teaching State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016.

The research examines the role of the farmer’s wife on increasing the

household incomes. The purpose of this research is to find out the famer’s wife’s

roles in the domestic sector and in the public on increasting the household incomes of Bojonggenteng village, Sukabumi, West Java. This research was conducted in Bojonggenteng with a total sample of 8 famer’s wifes. The research methode is using qualitative methode. The researcher get the data by using the interview techniques and observation. The selection of the sample is using non-probality sampling by purposive sampling techique, which is sample determining techniqu with a certain consideration. The result of the research shows the roles

of the farmer’s wifes an increasing the household incomes in Bojonggenteng

either directly or indirectly, the voles of the farmer’s wifes are very strong. The wifes the enthusiasin on working are very strong, even though the incomes are pretty low. They have parcipated on increasing the household incomes by working in the public sector so they can help their husbands. Because of the that the roles of the wifes are doubled, the wifes as houswife and wifes as the working wifes.

(8)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Peranan Istri Petani Dalam

Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Di Desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat“.

Shalawat serta salam tidak lupa penulis panjatkan kepada pemimpin umat

Islam Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya menjadi umat yang

berakhlakul karimah, berpengetahuan dan berintelektual.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar Sarjana

Pendidikan S1 (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Konsentrasi Sosiologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan rasa syukur atas rahmat dan

karunia Allah SWT dan berbagai pihak yang telah memberikan bantuan moril

maupun material baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini hingga selesai. Untuk itu penulis menyampaikan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

2. Bapak Dr. Iwan Purwanto, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

(9)

bimbingan, petunjuk, serta motivasi untuk penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan IImu Pengetahuan (P.IPS) yang

telah memberikan ilmu pengetahuan serta pengalamannya kepada penulis,

sehingga penulis mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan

sangat berguna.

5. Seluruh Civitas Akademik dan Staf Administrasi Fakultas Ilmu Tarbiyah

dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6. Seluruh staf Perpustakaan Utama Perpustkaan Tarbiyah Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis

dalam mencari referensi yang terkait dengan skripsi ini.

7. Teristimewa kedua orangtuaku, Almarhumah Mamah Iis Kholisoh dan

Bapak Syaprudin. yang telah mencurahkan cinta, kasih sayang, do’a, kesabaran, semangat, nasihat, motivasi, pengorbanan baik dari segi moril,

maupun material kepada penulis tiada henti dan tiada lelah sampai pada

saat ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga mereka

diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah. Aamiin. Love you more dad and mom!

8. Bapak Dedi Sudirman selaku Kepala Desa Bojonggenteng, Kabupaten

Sukabumi Jawa Barat beserta Stafnya, yang telah mengizinkan dan

menerima penulis dengan baik untuk melakukan penelitian, sehingga

penulis memperoleh data-data yang dapat mendukung dalam penulis

skripsi ini.

9. Kakak dan Adik penulis tersayang, Azis Abduh Al-Muzahid, Ade Irma,

(10)

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga persahabat ini selalu

terjalin. Aaamiin yah Beeh..

11.Kalian Nita Chairunnisa, Sheila Muria Prihartini, Mega Dhaniswara Arifa,

Nurits Nadia Khafiyah, Ardhana Erviani, Fikri Kautsar Afdholi, Hanni

Khairunisa, Muhamad Fadilah, dan Ikhsan Tila Mahendra. Terima kasih

kalian yang selalu memberikan motivasi dan dukungan serta bantuan.

Semoga silahturrahmi kita terjalin hingga akhir hayat.

12.Fakhurrozi teman laki-laki yang selalu menawarkan dirinya untuk

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi maupun tugas sekolah dan

selalu memberikan semangat. Terima kasih Bee.

13.Sahabat seperjuangan “Laskar Skripsi Tujuh Bab”, Rika Widya Risyadi, Qq Presika Jati Putri, Nurul Pratiwi, dan Muhamad Rais Fauzi. Terima

kasih kalian selalu memberikan semangat, memotivasi dan bantuan kepada

penulis untuk menyelesaikan skripsi. Semoga kebersamaan ini selalu

terjalin. Aaamiin.

14.Winda Agnes, Febriani Ramadhana, Amar Rasyidillah, dan Amry Al

Mursalaat. Terima kasih untuk kalian atas semangat, dukungan dan

motivasi yang diberikan.

15.Silvy, dan Firda adik kosan yang selalu memberikan semangat tak henti,

motivasi dan dukungan. Makasih adek emessskuuu.

16.Dessy, Laelatul Sa’diyah, Wulan Permatsari, Dina Khairunnisa. Terima kasih telah menghadirkan canda tawa yang kalian hadirkan, semoga kita

selalu seperti ini.

17.Nurwinda Septiana, Anisa Rahayu Bahtiar. Terima kasih atas doa dan

motivasinya.

18.Teman-teman seperjuangan Pendidikan IPS angkatan 2012, Sosiologi-

(11)

yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kesalahan dan

kekurangan dalam penulisan. Oleh karena itu penulis sangat terbuka terhadap

kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

Atas do’a, bantuan, dan semangat yang sangat berharga. Penulis

mengucapkan terima kasih, semoga Allah senantiasa membalas kebaikan

kepada kalian. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan

mempunyai nilai yang beguna bagi pembacanya.

Wa’alalaikum sallam Wr.Wb

Jakarta, 28 November 2016

Aida Sri Rahayu

(12)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI... ii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI... iii iv ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... DAFTAR LAMPIRAN... xiv xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan... 1

B. C. D. E. F. Identifikasi Masalah... Pembatasan Masalah... Perumusan Masalah... Tujuan Penelitian... Manfaat Penelitian 6 6 6 6 7 BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL A. Deskripsi Teoritis ... 8

1. Peranan... 2. Motif Istri Bekerja... 3. Petani... 4. Pendapatan... 5. Teori Fungsionalisme Struktural... 8 16 19 20 21 B. Hasil Penelitian yang Relevan... 23

C. Kerangka Konseptual ... 29

BAB III METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 30

B. Populasi dan Sampel Penelitian... 31

C. Metode Penelitian dan Data yang Diinginkan... 32

(13)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Bojonggenteng... 42

B. Deskripsi Data ... 50

C. Hasil Wawancara... 51

D. Pembahasan ... 58

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 65

B. Saran... 65

DAFTAR PUSTAKA...

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 67

(14)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pemerintah Desa Bojonggenteng ... 43

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Tabel 3.1

Penelitian Yang Relevan...

Jadwal Penelitian ...

25

30

Tabel 3.2

Tabel 3.3

Tabel 3.4

Jenis dan Sumber data Penelitian...

Pedoman Wawancara ...

Pedoman Dokumentasi... 35

36

37

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Desa Bojoggenteng ... 47

Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Bojonggenteng ... 48

Tabel 4.3

Tabel 4.4

Tabel 4.5

Jumlah Usia Penduduk Desa Bojonggenteng ...

Jenis Mata Pencaharian Penduduk...

Profil Informan... 48

49

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara... 70

Lampiran 2 Transkip Wawancara... 72

Lampiran 3 Dokumentasi Penelitian... 88

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

Lampiran 8

Lampiran 9

Daftar Uji Referensi...

Surat Bimbingan Skripsi...

Surat Permohonan Izin Penelitian...

Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian...

Surat Keterangan Wawancara...

Biodata Penulis... 92

98

99

100

101

(17)

A.

Latar Belakang Masalah

Keluarga adalah tempat terpenting bagi seseorang karena merupakan

tempat pendidikan yang pertama kali, dan di dalam keluarga pula seseorang

paling banyak bergaul serta mengenal kehidupan.1 Keluarga pada umumnya

tersusun dari ikatan darah dan atau melalui perkawinan. Menurut Soerjono

Soekanto keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak nya yang belum

menikah, pada umumnya keluarga seperti ini disebut dengan keluarga batih.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan suatu keluarga terbentuk

melalui perkawinan, yaitu suatu ikatan lahir batin seorang laki-laki sebagai

suami dan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan untuk membentuk

keluarga yang utuh, bahagia dan kekal sejahtera.

Di masyarakat manapun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan

manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam

kehidupan individu.2 Seorang laki-laki sebagai ayah maupun seorang

perempuan sebagai ibu di dalam suatu keluarga memiliki kewajiban serta

tanggung jawab bersama untuk merawat dan menjaga keutuhan keluarga.

Untuk itu kedudukan ayah dan ibu di dalam keluarga memiliki hak yang

sama untuk ikut melakukan perlindungan, menciptakan kebahagiaan, dan

kesejahteraan keluarga. Adapun perbedaan antara suami dan istri di dalam

suatu keluarga dibedakan oleh faktor biologisnya.

Perbedaan secara biologis terbentuk pada akhirnya menghasilkan

perbedaan tugas di dalam keluarga. Wanita dainggap yang cenderung lebih

emosional atau lebih melihat segala sesuatu dari sudut perasaan dinilai

sangat sesuai dengan tugasnya untuk merawat, mengasuh, dan mendidik

1

Elly M. Setiadi, Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), Cet. 1, h. 880.

2

(18)

anak. Wanita memang dilahirkan dengan naluri keibuan yang sering disebut

dengan nurturing instinc, dengan naluri seorang istri disertai tanggung jawab untuk mengasuh anak.3

Dengan demikian, keberhasilan suatu keluarga dalam membentuk

suatu rumah tangga dan sejahtera tidak lepas dari peran seorang ibu yang

begitu besar. Baik dalam membimbing dan mendidik anak mendampingi

suami, membantu pekerjaan suami. Namun demikian kebanyakan dari

masyarakat masih menempatkan seorang ayah sebagai subjek, sebagai

kepala keluarga dan pencari nafkah. Sedangkan ibu lebih ditempatkan

sebagai objek yang dinomor duakan dengan kewajiban mengurus anak di

rumah.

Dengan melihat faktor biologis tentang kodrat perempuan, maka

dalam suatu keluarga peran perempuan cenderung hanya di area yang

sempit yaitu hanya di sektor domestik saja hanya berkutat di lingkungan

rumah, sedangkan peranan laki-laki yaitu di sektor publik adalah sesuatu

yang bersifat luar seperti bekerja mencari nafkah.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yakni mayoritas mata

pencaharian penduduknya dengan mengendalikan bercocok tanam.

Sebagaian besar pertanian Indonesia dikelola oleh masyarakat perdesaan.

Sama halnya dengan daerah Kabupaten Sukabumi, dalam struktur

perekonomian nya sektor pertanian masih menjadi sektor yang paling

dominan, selain itu sektor ini masih menyerap jumlah tenaga kerja yang

besar pula, karena masih banyak penduduk Sukabumi yang

menggantungkan hidupnya melalui usaha pertanian.4

Bagi mereka yang tinggal di pedesaan dan memiliki perekonomian

yang rendah peran ganda bukanlah sesuatu hal yang baru. Bagi perempuan

di desa bekerja merupakan hal yang sudah biasa, bahkan sejak anak usia

3Malik, “Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga di Desa

Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone”, Skripsi pada Universitas Hasanudin,

Makasar, 2012, h. 2. dipublikasikan.

4

(19)

muda mereka belajar bekerja dengan cara membantu orang tua dengan cara

membantu berdagang, berladang ke sawah, membantu menjaga warung,

membantu pekerjaan rumah. Para perempuan di desa khususnya bagi

keluarga miskin bekerja tidak harus di perkantoran yang mewah, mereka

tidak terlalu memperdulikan pekerjaan apa yang mereka kerjakan yang

terpenting adalah upah yang di terimanya. Sebagian dari mereka bekerja

sebagai buruh dengan gaji yang tidak terlalu besar seperti bekerja sebagai

buruh tani, buruh di perusahaan asing, buruh cuci, pembantu rumah tangga

yang upah nya kecil.

Kurangnya pendapatan keluarga memicu bagi para istri untuk turut

mendampingi suami mencari nafkah. Melalui bekerja sebagai petani di

ladang peran istri menjadi semakin penting, karena hal ini berarti para istri

harus bertanggungjawab dalam mengurus anak dan rumah tangga mereka

agar selalu tercukupi selama ditinggal suami bekerja diluar.

Dalam UU Perkawinan ditegaskan dalam Pasal 31 butir 1 dan 2,

Pasal 33, dan dalam Penjelasan Umum butir 4 yang berbunyi:5

Untuk itu suami-istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya, membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material.

Kemudian Pasal 31 yang terdiri dari tiga ayat, yaitu:

Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Suami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga.

Adanya ketentuan formal yuridis bahwa suami adalah kepala

keluarga dan istri ibu rumah tangga. Berarti, secara legal kedudukan suami

lebih penting dan lebih tinggi dari pada peran istri. Ini disebabkan karena

peran suami ditentukan berada di sektor publik, yang sekaligus berarti

bahwa yang menentukan status dan kedudukan keluarga adalah laki-laki.

Dalam hal menentukan peran istri sebagai ibu rumah tangga, berarti

bahwa tempat dan kewajiban istri adalah di sektor domestik. Artinya di

5

(20)

dalam rumah, sektor privat, tanpa mempunyai kedudukan formal di

masyarakat. Di dalam masyarakat, kedudukan resmi perempuan sebagai

istri.6

Masyarakat yang melangkah maju ke zaman baru seperti jaman

kita, antara lain mengalami masa emansipasi wanita, yaitu usaha

melepaskan diri dari peranan wanita yang terbatas dari sistem

kekerabatan untuk mendapatkan status baru, sesuai dengan jaman baru,

dalam keluarga dan dalam masyarakat besar. Perubahan pada sistem

perekonomian dalam masyarakat tersebut membawa perubahan pada

alokasi ekonomi keluarga. Dalam hal ini perempuan berubah karena

peranan perempuan dalam bidang ekonomi berubah pula.

Keterlibatan istri dalam dunia kerja dikarenakan banyak faktor,

mulai dari ekonomi, pendidikan, keadaan sosial hingga budaya. Partisipasi

wanita dalam dunia kerja banyak memberikan kontribusi yang besar

terhadap kesejahteraan keluarga, bahkan dapat mendorong kemajuan

ekonomi bangsa. Angka pekerja wanita di Indonesia mengalami pergerakan

yang signifikan. Jumlah wanita pekerja di Indonesia saat ini mencapai 54,44

persen dari total angkatan kerja wanita, ini di sampaikan oleh Dosen

Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Endang Sihprati, MA dalam

diskusi Economics Talk yang bertajuk “Wanita dan Kemiskinan”.7 Semua ini terindikasi dari beberapa faktor seperti meningkatnya kesempatan belajar

bagi wanita, keberhasilan program keluarga berencana, banyaknya tempat

penitipan anak dan kemajuan teknologi yang memungkinkan wanita dapat

mengerjakan masalah keluarga dan masalah pekerja sekaligus.

Berbeda dengan anggapan umum masyarakat, seorang wanita

dianggap tabuh atau menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita apabila

terlalu sering keluar rumah. Terlebih lagi apabila keluar rumah tanpa

memperhatikan alasan mengapa dan untuk apa perbuatan itu dilakukan.

6

Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan, h. 172.

7

(21)

Namun jika kita mau melihat dari fakta yang di lapangan sering kali kaum

wanita menjadi penyelamat perekonomian keluarga. Fakta ini terutama

dapat terlihat pada keluarga-keluarga yang perekonomian nya tergolong

rendah, banyak dari kaum perempuan yang ikut menjadi pencari nafkah

tambahan bagi keluarga. Pada keluarga yang tingkat perekonomiaannya

kurang atau prasejahtera peran perempuan tidak hanya dalam area pekerja

domestik tetapi juga area publik. Ini memungkinkan terjadi karena

penghasilan suami sebagai pencari nafkah utama tidak mencukupi

kebutuhan keluarga.

Perempuan ternyata memiliki peranan yang penting dalam

menyiasati serta mengatasi kemiskinan yang di alaminya. Salah satu bukti

nyata ada pada masyarakat desa Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi,

Jawa Barat mengenai peranan istri dalam upaya meningkatkan pendapatan

rumah tangga. Di desa Bojonggenteng tidak sedikit para istri yang bekerja

untuk membantu suami dalam meningkatkan pendapatan keluarga dan

membantu kesejahteraan keluarganya. Para istri ini bekerja sebagai buruh,

kebanyakan dari istri bekerja sebagai buruh tani, buruh cuci, pengasuh anak,

membuka warung sayuran, untuk membantu pekerjaan yang dilakukan

suami.

Berdasarkan preliminary research (penelitian awal) yang di lakukan, maka pandangan dan anggapan-anggapan yang memandang rendah

kedudukan dan peranan istri dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga

tidak berlaku di masyarakat desa Bojonggenteng. Pada keluarga pekerja,

istri bertugas mengurus pembagian hasil panen dengan pemilik lahan,

sedangkan pada keluarga pemilik lahan istri bertugas untuk menjual hasil

panen mereka.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti merasa perlu untuk

melakukan penelitian yang berkaitan dengan judul: “Peranan Istri Petani

(22)

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di atas. Maka

masalah-masalah yang terkait dengan hal tersebut dapat diidentifikasikan sebagai

berikut:

1. Meningkatnya jumlah perempuan (istri) yang bekerja.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi istri bekerja, meliputi pendapatan

keluarga yang rendah dan kebutuhan yang semakin meningkat.

3. Peranan istri di sektor publik dapat meningkatkan pendapatan rumah

tangga

4. Presentase tingkat istri bekerja di sektor publik tidak di iringi dengan

peningkatan penghasilan suami.

C.

Pembatasan Masalah

Mengingat keterbatasan penulis dalam penelitian ini dan luasnya

permasalahan yang hendak dibahas, serta untuk lebih terarahnya penelitian

ini, maka pembatasan masalah sebagai berikut: “Bagaimana peranan istri

petani dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di desa

Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat?”

D.

Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, agar tidak terjadi

perbedaan interpretasi dan pemahaman, maka masalah ini dirumuskan

sebagai berikut:

1. Bagaimana peranan istri petani di sektor publik dalam meningkatkan

pendapatan rumah tangga di desa Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi

Jawa Barat?

2. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi istri bekerja?

3. Apa saja motif istri bekerja?

4. Berapakah pendapatan istri petani?

E.

Tujuan Penelitian

Secara akademis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja

(23)

dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga di desa Bojonggenteng

Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Secara terapan penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui bentuk peranan istri yang bekerja di sektor publik, dalam

meningkatkan pendapatan rumah tangganya di Desa Bojonggenteng,

Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

F.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian bagi para

akademisi untuk mengkritisi hasil penelitian atau meneliti bagian yang bisa

lebih diteliti dari setting penelitian ini dan menjadi bahan acuan untuk

penelitian selanjutnya, dan diharapkan pihak terkait dapat meningkatkan

(24)

A.

Deskripsi Teoritik

1. Peranan

a. Definisi Peranan

Kata peran dan peranan dalam sosiologi sering dianggap

sama karena tidak ada pembatasan secara jelas antara peran dan

peranan hanya pada sudah atau tidaknya sebuah peran itu dijalankan.

Peranan adalah peran yang telah dapat dilaksanakan individu yang

bersangkutan sesuai dengan kedudukannya, sehingga untuk

mempermudah dalam pendefinisian kata peranan dalam penelitian

ini dianggap sama dengan kata peran.

Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai

dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan.

Perbedaan antara kedudukan dan peranan adalah untuk kepentingan

ilmu pengetahuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena yang

satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya tidak ada peranan

tanpa kedudukan.8

Peran adalah pola perilaku normatif yang diharapkan pada

status tertentu. Dengan kata lain, sebuah status memiliki peran yang

harus dijalani sesuai aturan (norm) yang berlaku.9

Dalam ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial peranan adalah

tingkah laku individu yang mementaskan suatu kedudukan

tertentu.10

8

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2002), Cet. 4, h.243.

9

M. Amin Nurdin, Mengerti Sosiologi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet. 1, h. 47.

10

(25)

Livinson dalam Soerjono Soekanto, peranan meliputi

norma-norma yang diungkapkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam

masyarakat. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang

dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi,

Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting

sebagai struktur sosial masyarakat. 11

Alvin L. Bertran dalam Soeleman B. Taneko menyatakan

peran adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari orang yang

memangku status atau kedudukan tertentu.12

Gross, Mason dan McEachern dalam David Berry

mendefinisikan peranan sebagai perangkat harapan-harapan yang

dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial

tertentu.13

Suatu peranan mencakup paling sedikit tiga hal berikut ini:14

1) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi

atau tempat seseorang dalam masyarakat.

2) Peranan merupakan suatu konsep perihal yang apa yang dapat

dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

3) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang

penting bagi struktur sosial.

Pentingnya peranan adalah karena ia mengatur perilaku

seseorang. Peranan menyebabkan seseorang pada batas-batas

tertentu dapat meramalkan perbuatan-perbuatan orang lain. Peranan

diatur oleh norma-norma yang berlaku. Peranan yang melekat pada

diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan

kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (yaitu social-position) merupakan unsur statis yang menunjukan pada fungsi,

11

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1990), h.221.

12

Soeleman B. Taneko, 1986, h. 220.

13

David Berry, Pokok-Pokok Pemikiran Dalam Sosiologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 99.

14

(26)

penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang

menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu

peranan.15

Di dalam peranan terdapat dua macam harapan, yaitu:16 1)

harapan-harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau

kewajiban-kewajiban dari pemegang peran, dan 2) harapan-harapajn

yang dimiliki oleh si pemegang peran terhadap masyarakat atau

terhadap orang-orang yang berhubungan dengannya dalam

menjalankan peranannya atau kewajiban-kewajibannya.

Peranan yang berhubungan pekerjaan, seseorang diharapkan

menjalankan kewajiban yang berhubungan dengan peranan yang di

pegangnya. Peranan didefinisikan sebagai seperangkat

harapan-harapan yang dikenal pada individu yang menempati kedudukan

sosial tertentu. Peranan ditentukan oleh norma-norma dalam

masyarakat di dalam pekerjaan kita, di dalam keluarga dan di dalam

peranan-peranan yang lain.17

Dari berbagai definisi yang telah dipaparkan di atas, dapat

ditarik kesimpulan bahwa peranan merupakan suatu aspek yang

dilandasi keinginan yang kuat dalam keikutsertaan dalam

mewujudkan harapan-harapan yang muncul sebagai bentuk

partisipasi dalam kedudukan sosial.

b. Teori Peran

Teori peran (role theory) merupakan penekanan sifat individual sebagai pelaku sosial yang mempelajari perilaku yang

sesuai dengan posisi yang ditempati di masyarakat. Peran (role)

adalah konsep sentral dari teori peran. Dengan demikian kajian

mengenai teori peran tidak lepas dari definisi peran dan berbagai

istilah perilaku di dalamnya.

15

Soeleman B. Taneko, 1986, h. 243.

16

David Berry, Pokok-Pokok Pemikiran Dalam Sosiologi, h. 101.

17

(27)

Peran mencerminkan posisi seseorang dalam sistem sosial

dengan hak dan kewajiban, kekuasaan dan tanggung jawab yang

meyertainya. Untuk dapat berinteraksi satu sama lain, orang-orang

memerlukan cara tertentu guna mengantisipasi perilaku orang lain.

Peran melakukan fungsi ini dalam sistem sosial.

Seseorang memiliki peran, baik dalam pekerjaan maupun di

luar. Masing-masing peran menghendaki perilaku yang

berbeda-beda. Dalam lingkungan pekerjaan itu sendiri seorang karyawan

mungkin memiliki labih dari satu peran, seorang karyawan bisa

berperan sebagai bawahan, penyedia, anggota serikat pekerja, dan

wakil dalam panitia keselamatan kerja.18

Teori peran (role theory) adalah teori yang merupakan perpaduan antara teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari

psikologi, teori peran berawal dari sosiologi dan antropologi. Dalam

ketiga ilmu tersebut, istilah “peran” diambil dari dunia teater. Dalam

teater, seorang aktor harus bermain sebagai tokoh tertentu dan dalam

posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berprilaku secara

tertentu. Posisi aktor dalam teater (sandiwara) itu kemudian

dianologikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat.

Sebagaimana halnya dalam teater, posisi orang dalam masyarakat

sama dengan posisi aktor dalam teater, yaitu bahwa perilaku yang

diharapkan daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu

berada dalam kaitan dengan adanya orang-orang lain yang

berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. Dari sudut pandang

inilah disusun teori-teori peran.19

18Lidya Agustina, “Pengaruh Konflik Peran, Ketidakjelasan Peran, dan Kelebihan Peran

terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Auditor”, Jurnal Akuntansi, Vol. 1, 2009, h.42.

19

(28)

Dalam teorinya Biddle & Thomas membagi peristilahan

dalam teori peran dalam 4 golongan, yaitu istilah-istilah yang

menyangkut:20

1) Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial.

2) Perilaku yang muncul dalam interaksi.

3) Kedudukan orang-orang dan perilaku.

4) Kaitan antara orang dan perilaku.

Linton dalam Cahyono, seorang antropolog, telah

mengembangkan teori peran. Teori peran menggambarkan interaksi

sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan

apa yang diterapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini,

harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun

individu untuk berprilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut

teori ini, seseorang yang mempenyui peran tertentu misalnya sebagai

dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya,

diharapkan agar seseorang tadi berprilaku sesuai dengan peran

tersebut ditentukan oleh peran sosialnya.21

Kemudian sosiolog yang bernama Elder membantu

memperluas penggunaan teori peran dengan menggunkan

pendekatan yang dinamakan “life course” yang artinya bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk

mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia

yang berlaku dalam masyarakat tertentu.

Dari berbagai deskripsi teori di atas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa seseorang memiliki peran masing-masing yang menghendaki

perilaku yang berbeda-beda. Peran merupakan perilaku yang

diharapkan dari seseorang berdasarkan fungsi sosialnya. Seseorang

dikatakan menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan

20

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, h. 234.

21

(29)

kewajiban yang merupakan bagaian tidak terpisah dari status yang

disandangnya.

c. Peranan Istri

Menurut teori gender, peran dan kedudukan yang terpenting

bagi perempuan dalam keluarga adalah sebagai istri dan ibu yang

mengatur jalannya rumah tangga serta memelihara anak. Tugas istri

di harapkan dapat memasak, menjahit, memelihara rumah, serta

melahirkan. Sehubungan dengan tugas ini idealnya tempat istri yakni

di rumah, istri berperan di sektor domestik.

Secara biologis (kodrat) kaum perempuan dengan organ

reproduksinya bisa hamil, melahirkan, dan menyusui dan kemudian

mempunyai peran gender sebagai perawat pengasuh, dan pendidik

anak.22

Peran perempuan dapat dilakukan dari perspektif posisi

mereka dalam berurusan dengan pekerjaan produktif tidak langsung

(domestik) dan pekerjaan produktif langsung (publik), yaitu sebagai

berikut:23

1) Peran tradisi menempatkan perempuan dalam fungsi reproduksi

(mengurus rumah tangga, melahirkan dan mengasuh anak, serta

mengayomi suami). Hidupnya 100% untuk keluarga. Pembagian

kerja sangat jelas, yaitu perempuan di rumah dan lelaki di luar

rumah.

2) Peran transisi mempolakan peran tradisi lebih utama dari peran

yang lain. Pembagain tugas mengikuti aspirasi gender, tetapi

eksistensi mempertahankan keharmonisan dan urusan rumah

tangga tetap tanggung jawab perempuan.

3) Dwiperan memposisikan perempuan dalam kehidupan dua dunia,

yaitu menempatkan peran domestik dan publik dalam posisi

22

M.Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: INSISTPress, 2008), h. 75.

23

(30)

sama penting. Dukungan moral suami pemicu ketegaran atau

sebaliknya keengganan suami akan memicu keresahan atau

bahkan menimbulkan konflik terbuka atau terpendam.

4) Peran egalitarian menyita waktu dan perhatian perempuan untuk

kegiatan di luar. Dukungan moral dan tingkat kepedulian lelaki

sangat hakiki untuk menghindari konflik kepentingan pemilahan

dan pendistribusian peranan. Jika tidak, yang terjadi adalah

masing-masing akan saling berargumentasi untuk mencari

pembenaran atau menumbuhkan ketidaknyamanan suasana

kehidupan berkeluarga.

5) Peran kontemporer adalah dampak pilihan perempuan untuk

mandiri dalam kesendirian. Jumlahnya belum banyak. Akan

tetapi benturan demi benturan dari dominasi lelaki atas

perempuan yang belum terlalu peduli pada kepentingan

perempuan mungkin akan meningkatkan populasinya.

Adanya anggapan dalam masyarakat bahwa kaum istri

bersifat memelihara, rajin, dan tidak cocok menjadi kepala rumah

tangga, maka akibatnya semua pekerjaan di bidang domestik

menjadi tanggung jawab kaum istri. Oleh karena itu beban kerja istri

yang berat dan alokasi waktu yang lama untuk menjaga kebersihan,

dan kerapian rumah tangga, mulai dari mengepel lantai, memasak,

merawat anak.24

Dalam pandangan islam, hubungan suami istri diibaratkan

sebagai pakaian antara yang satu bagi yang lain. Suami merupakan

pakaian bagi istri dan istri merupakan pakaian bagi suami. Laki-laki

merupakan kepala dan rumah merupakan pelabuhannya. Dalam

kehidupan modern, peran suami istri dalam gambaran di atas masih

dimungkinkan. Meskipun mereka memiliki mobilitas yang lebih

tinggi dibanding dengan kehidupan keluarga tradisional, keluarga

24

(31)

modern masih didasarkan pada pandangan romantis, maternal, dan

domestik. Cinta romantis adalah konsep yang menunjang prinsip

modernisme keteraturan, untuk tiap pria ada satu orang perempuan

yang menjadi pasangannya, demikian pula yang sebaliknya. Cinta

material dipandang sebagai perwujudan tugas seorang ibu dalam

mencintai dan merawat anak-anaknya. Persepsi cinta, romantis,

material, dan domestic dapat diartikan sebagai suatu kehidupan

keluarga yang dapat berada dalam satu nilai kebersamaan.

Dalam kehidupan pasca modern, tampaknya ada perbedaan,

kekhususan, dan ketidakberaturan yang mendasari kehidupan

keluarga mereka. Konsep tentang keluarga inti dengan satu bapak

yang bekerja mencari nafkah dan satu ibu yang yang mengayomi

anak-anak dirumah sudah sulit dipertahankan sebagai realitas

kehidupan. Keluarga pasca modern diwarnai dengan kehidupan

kedua orang tua yang sama-sama bekerja mencari nafkah di luar

rumah, akibatnya angka perceraian semakin tinggi, banyak keluarga

dengan satu orang tua saja sehingga anak-anak harus bertahan dan

berjuang di jalan.

Dalam hal menentukan peran istri sebagai ibu rumah tangga,

berarti bahwa tempat dan kewajiban istri adalah di sektor domestik.

Artinya pula, di dalam rumah, sektor privat, tanpa mempunyai

kedudukan formal di masyarakat. Di dalam masyarakat, kedudukan

resmi perempuan sebagai istri adalah istri suaminya. Semua keadaan

ini cenderung memperkuat stereotip seperti istri (wajib) menjadi ibu

yang bijak dan menyenangkan, pandai menjaga kehormatan

keluarga, harus memberikan ketenangan kepada suami, mampu

mengatur kehidupan berkeluarga, dan menciptkan suasana bahagia

dalam keluarga.

Kalaupun istri bekerja, istri tidak boleh melupakan tugasnya

(32)

diperlakukan sebagai pencari nafkah kedua (membantu suami).

Sebagai pekerja, istri mendapatkan imbalan yang lebih rendah dari

laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama nilainya. Perempuan

bekerja pun sering kali diperlakukan sebagai perempuan lajang

(meskipun telah kawin).25

Perempuan dengan kodratnya mempunyai potensi untuk

mengembangkan sifat-sifat yang diperlukan sesuai dengan

pilihannya tentang berkeluarga dan berkarya. Oleh karena itu,

kurang relevan untuk mempertentangkan antara karier dan keluarga.

Keduanya sebagai suatu pilihan membawa sebuah tanggung jawab.

Keduanya juga perlu di dukung oleh pengembangan diri lelaki dan

perempuan yang sesuai dengan tuntutan khusus keluarga dan

lingkungan kerja masing-masing. Konsekuensi konkret dari pilihan

ini ialah perempuan perlu memiliki sifat-sifat untuk lebih asertif.

Sementara laki-laki perlu menjadi lebih progresif dengan mau

mengembangkan sifat-sifat yang dapat mewujudkan aspirasi

bersama, yaitu agar suami dan istri menjadi “mitra sejajar”26

Dalam masyarakat modern tidak jarang terjadi kaum

perempuan berperan ganda, baik ia perempuan karier maupaun

sebagai ibu rumah tangga. Peran ganda kaum perempuan

memungkinkan timbulnya kondisi kritis dan situasi krisi dalam

kehidupan rumah tangga modern. Hubungan antara anggota keluarga

dapat terjadi diskomunitas komunikasi sehingga dapat mengganggu

perkembangan jiwa dan kepribadian anak-anaknya.

2. Motif Istri Bekerja

Ada beberapa hal yang menyebabkan istri berperan dalam

perekonomian keluarga, yaitu istri bekerja karena faktor ekonomi, di

samping itu untuk mensejahterakan keluarga, istri juga mendapatkan

25

Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan, (Jakarta:Buku Kompas, 2010), h. 172.

26

(33)

dukungan dari pihak suami karena gajinya tidak dapat mencukupi

kebutuhan keluarga, faktor budaya, dan faktor sosial.

Peningkatan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi karena:

pertama, adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang

sama pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan pria, serta makin

disadarinya perlunya kaum wanita ikut berpartisipasi dalam

pembangunan, kedua, adanya kemauan wanita untuk bermandiri dalam

bidang ekonomi yaitu berusaha membiayai kebutuhan hidupnya dan

mungkin juga kebutuhan hidup dari orang-orang yang menjadi

tanggungannya dengan penghasilan sendiri. Kemungkinan lain yang

menyebabkan peningkatan partisipasi wanita dalam angkatan kerja

adalah makin luasnya kesempatan kerja yang bisa menyerap pekerja

wanita, misalnya munculnya kerajinan tangan dan industri ringan.

Wanita mempunyai potensi dalam memberikan kontribusi

pendapatan rumah tangga, khususnya rumah tangga miskin. Dalam

rumah tangga miskin anggota rumah tangga wanita terjun ke pasar kerja

untuk menambah pendapatan rumah tangga yang dirasakan tidak cukup.

Pendapatan para pekerja wanita pada industri sandang mempunyai

kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan keluarga.

Kontribusi perempuan dapat dikatakan sebagai katup pengaman (savety valve) atau penopang bagi rumah tangga miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Wanita Indonesia terutama di pedesaan sebagai sumber daya

manusia cukup nyata partisipasinya khususnya dalam memenuhi fungsi

keluarga dan rumah tangga bersama pria. Beberapa hasil penelitian

menunjukkan peran serta wanita dalam berbagai industri di beberapa

daerah cukup besar dan menentu-kan, dengan pengelolaan usaha yang

bersifat mandiri.27

27Sugeng Heryanto, “Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga

(34)

Menurut Rozalinda dalam artikelnya menyebutkan bahwa

motif tingginya keterlibatan perempuan bekerja adalah:28

a. Kebutuhan Finansial

Kondisi ekonomi keluarga seringkali memaksa perempuan

untuk ikut bekerja untuk menambah penghasilan keluarga.

Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan

mendesak, membuat suami dan isteri harus bekerja untuk bisa

mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat

sang istri tidak mempunyai pilihan lain kecuali ikut mencari

pekerjaan di luar rumah.

b. Kebutuhan Sosial-Relasional

Perempuan memilih untuk bekerja karena mempunyai

kebutuhan sosial relasional yang tinggi. Tempat kerja mereka

sangat mencukupi kebutuhan mereka tersebut. Dalam diri mereka

tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial, akan adanya

identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul

dengan rekan-rekan di kantor menjadi agenda yang lebih

menyenangkan dari pada tinggal di rumah.

c. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Bekerja adalah salah jalan yang dapat digunakan oleh

manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan

berkarya, berkreasi, mencipta, mengekspresikan diri,

mengembangkan diri, membagikan ilmu dan pengalaman,

menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu serta

mendapatkan penghargaan, penerimaan, prestasi adalah

bagian dari proses penemuan dan pencapaian pemenuhan diri

melalui profesi atau pun karir. Ia merupakan suatu pilihan

yang banyak diambil oleh para perempuan di zaman sekarang

terutama dengan makin terbukanya kesempatan yang sama

28

(35)

pada perempuan untuk meraih jenjang karir yang tinggi.

3. Petani

Petani adalah orang yang menggantungkan hidupnya pada lahan

pertanian sebagai mata pencaharian utamanya. Secara garis besar

terdapat tiga jenis petani, yaitu petani pemilik lahan, petani pemilik yang

sekaligus juga penggarap, dan buruh tani. Secara umum, petani

bertempat tinggal dipedesaan dan sebagian besar di antaranya, terutama

yang tinggal di daerah-daerah.

Pengertian petani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi

farmer yang sebenernya sangat berbeda sekali dengan petani yang dalam arti peasent. Farmer adalah petani pengusaha, yang menjalankan usaha pertanian sebagai suatu perusahaan, sehingga untung rugi senantiasa

menjadi pertimbangan di dalam menjalankan usahanya dan

memproduksi hasil pertanian, menguasai lahan pertanian dengan

orientasi pasar. Preasent yaitu petani kecil sebagai produsen pertanian, menguasai lahan sempit dengan orientasi produk untuk mencukupi

kebutuhan keluarga, bersifat subsistem.

Pertanian sebagai kegiatan manusia dalam membuka lahan dan

menanaminya dengan berbagai jenis tanaman yang termasuk tanaman

semusim maupun tanaman tahunan dan tanaman pangan maupun

tanaman non-pangan serta digunakan untuk memelihara ternak maupun

ikan.29

Pertanian dapat mengandung dua arti yaitu: 1) dalam arti sempit

atau sehari-hari diartikan sebagai kegiatan bercocok tanam dan 2) dalam

arti luas diartikan sebagai kegiatan yang menyangkut proses produksi

menghasilkan bahan-bahan kebutuhan manusia yang dapat berasal dari

tumbuhan maupun hewan yang disertai dengan usaha untuk

memperbaharui, memperbanyak (reproduksi) dan mempertimbangkan

faktor ekonomis.30

29

Suratiyah, Ilmu Usahatani, (Jakarta: Penebar Swadaya, 2006), h. 23.

30

(36)

Menurut Benowidjojo pertanian adalah mengusahakan tanaman

dan hewan guna memenuhi kebutuhan pertanian, dalam arti luas

meliputi semua kegiatan usaha dalam reproduksi flora dan fauna yang dibedakan ke dalam beberapa sektor, yaitu pertanian rakyat, perkebunan,

perternakan, perikanan.31

Dalam penelitian ini petani yang dimaksud adalah orang yang

memilik lahan pertanian dan menggarap lahan tersebut sendiri maupun

dikerjakan kepada orang lain, dan buruh tani.

4. Pendapatan

Pendapatan adalah pengahasilan yang diterima oleh para anggota

masyarakat dalam waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor

produksi nasional.32

Pendapatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hasil

kerja (usaha), jadi dapat disimpulkan jumlah penghasilan yang diterima

oleh seorang sebagai balas jasa atas hasil.

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) pendapatan adalah seluruh

penghasilan yang diterima baik secara sektor formal maupun non formal

yang terhitung dalam jangka waktu tertentu. Biro Pusat Statistik merinci

pendapatan yaitu pendapatan berupa uang adalah segala hasil kerja atau

usahanya.33

Menurut Boserup Easter dalam Gunawan pendapatan rumah

tangga adalah jumlah pendapatan keseluruhan/riil dari seluruh anggota

rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama

maupun perseorangan dalam rumah tangga.

Sumber utama pendapatan bagi pekerja wanita adalah upah dan

tunjangan-tunjangan kesejahteraan lain yang diperoleh oleh pekerja.

31

M. Benowidjojo, Pembangunan Pertanian,(Surabaya: Opini Malang dan Usaha Tani, 1983), h. 48.

32

Soedyono, 1992, h.99.

33

(37)

Sebagaimana diketahui regulasi pemerintah untuk mengatur UMR tetapi

kondisi demikian tentunya akan sangat sulit diterapkan pada

industri-industri kecil atau menengah dimana jam kerja dalam sehari masih jauh

di bawah standar jam kerja. Upah dalam industri kecil dan menengah

semata.

Konsep rumah tangga menunjuk pada arti ekonomi dari satuan

keluarga, seperti bagaimana keluarga itu mengolah kegiatan ekonomi

keluarga, pembagian kerja dan fungsi, kemudian berapa jumlah

pendapatan yang diperoleh atau konsumsinya serta jenis produksi dan

jasa yang dihasilkan. Jika keluarga semakin besar, membuka

kesempatan bagi pencari pendapatan (income earner) akan memberikan kontribusinya terhadap pendapatan keluarga. Hasil penelitian

menunjukkan adanya korelasi positif menunjukan adanya korelasi

positif yang erat antara banyaknya pencari pendapatan dengan tingkat

pendapatan.

Kontribusi pendapatan dari satu jenis kegiatan terhadap total

pendapatan rumah tangga tergantung pada produktivitas faktor produksi

yang digunakan dari jenis kegiatan yang bersangkutan. Stabilitas

pendapatan rumah tangga cenderung dipengaruhi dominasi

sumber-sumber pendapat. Jenis-jenis pendapatan yang berasal dari luar sektor

pertanian umumnya tidak terkait dengan musim dan dapat dilakukan

setiap saat sepanjang tahun.34

5. Teori Fungsionalisme Struktural

Teori ini dikembangkan oleh Robert Merton dan Talcot Parson.

Teori ini sesungguhnya sangat sederhana, yakni bagaimana memandang

masyarakat sebagai sistem yang terdiri atas bagian yang berkaitan

(agama, pendidikan, struktur politik, sampai rumah tangga).

Masing-masing secara terus-menerus mencari keseimbangan (equilibrium) dan

34M.Th. Handayani, Ni Wayan Putu Artini, “Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga

(38)

harmoni. Adapun interelasi tejadi karena adanya konsensus. Pola yang

non-normatif dianggap akan melahirkan gejolak.35

Teori fungsionalisme struktural menyoroti bagaimana terjadinya

persoalan itu mengarah kepada pemikiran bagaimana gender

dipermasalahkan. Teori ini memandang bahwa masyarakat merupakan

suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang salin berkaitan.

Teori ini memang tidak secara langsung dan khusus menjelaskan

perbedaan laki-laki dan perempuan, tetapi akhirnya teori ini pun

berkesimpulan perlu adanya pimilihan peran antara laki-laki dan

perempuan dalam rangka terciptanya keteraturan sosial. Dengan

pemeliharaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat,

pimilihan peran antara suami dan istri dalam keluarga inti akan

melahirkan harmoni dan memberikan rasa tentang keduanya. Keluarga

merupakan bagian penting dalam masyarakat, harmoni dan ketenangan

dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Talcott Parson berpendapat bahwa sang suami mengembangkan

kariernya di luar rumah, istri bekerja di dalam rumah tangganya

merupakan pengaturan yang jelas yang kemungkinannya meniadakan

terjadinya persaingan antara suami-istri, karena persaingan suami-istri

akan merusak keserasian kehidupan perkawinan, oleh sebab itu teori ini

berpendapat bahwa perempuan harus tinggal dalam kehidupan rumah

tangga karena ini merupakan pengaturan yang paling baik dan berguna

bagi keuntungan masyarakat secara keseluruhan.36

35

M.Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, h. 32.

36 Pandu, Maria, ”Perempuan dan Pelestarian Nilai Budaya”

(39)

B.

Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian sejenis yang telah dilaksanakan dan dijadikan sebagai

bahan pertimbangan dalam penelitian ini antara lain adalah:

1. Juwita Deca Ryanne, yang telah melakukan penelitian dengan judul:

“Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Melalui Home Industri Batik di dusun Karangkulon Desa

Wukisari Imogiri Bantu” dengan hasil penelitian sebagai berikut:

kegiatan membatik yang dilakukan oleh ibu rumah tangga melalui

kelompok home industri batik mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, dilihat dari kegiatan ketika mereka berperan menjadi ibu

rumah tangga dan ketika berperan menjadi ibu rumah tangga yang

bekerja dalam kelompok home industri batik. Dengan menjalankan peran yang mereka lakukan, keadaan sosial ekonominya menjadi

meningkat, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari

dan mendapatkan nilai kebudayaan dalam kearifan lokal melalui

bentuk kerajian batik. Faktor penghambat yang mereka hadapi yaitu

delam bentuk pemasaran dikarenakan lokasi di desa berbukit sehingga

membutuhkan waktu yang lama.37

2. Anisa Sujarwati, yang telah melakukan penelitian dengan judul:

“Peran perempuan Dalam Perekonomian Rumah Tangga di Dusun Pantog Kulon, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo”. dengan hasil

penelitian sebagai berikut: Hasil dari penelitian tersebut terlihat

bahwa peran perempuan sangat kuat, semangat para perempuan

bekerja sangat besar walaupun dengan penghasilan yang kecil.

Perempuan pekerja gula merah dapat mengisi sektor-sektor penting

dalam keluarga, yaitu sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan

sosial. Upah yang minimum inilah yang dipergunakan para

perempuan untuk memenuhi sektor-sektor dalam mensejahterakan

37

Juwita Deca Ryanne, Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Melalui Home Industri Batik di dusun Karangkulon Desa Wukisari Imogiri Bantu,

(40)

keluarga mereka. Dengan bekerjanya perempuan secara otomatis

peran perempuan menjadi ganda, yaitu menjadi ibu rumah tangga

dan sebagai perempuan pekerja. Sisi sosiologis dalam penelitian ini

yaitu peran dan semangat bekerja para perempuan dalam

mensejahterakan keluarga mereka. Peran yang di mana para

perempuan secara otomatis mengabdi kepada keluarga dan peran

perempuan yang menghasilkan interaksi sosial kepada keluarga

ataupun masyarakat. Peran perempuan dalam keluarga tidak dapat

dipisahkan dengan msyarakat sekitar agar tercipta masyarakat yang

harmonis.38

3. Abdul Malik, yang telah melakukan penelitian dengan judul: “Peranan

Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga Di

Desa Tawaroe Kecamatan Dua Beccoe Kabupaten Bone”. dengan

hasil penelitian sebagai berikut: Hasil penelitian ini menunjukkan

peranan istri dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani

di Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, baik

secara langsung maupun tidak langsung istri petani di Desa ini

maksudnya 8 informan telah ikut ambil bagian dalam menambah

pendapatan keluarga dan bentuk peranan istri petani dalam

meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya di Desa ini banyak para

istri petani yang kemudian melakukan pekerjaan sampingan untuk

membantu suami.39

4. M.Th Handayani, Ni Wayan Putu Artini, dalam jurnal yang berjudul,

“Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Pembuat Makanan

Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga”. Dengan hasil penelitian

sebagai berikut: Hasil penelitian ini menunjukkan motivasi ibu rumah

tangga dalam menambah pendapatan keluarga, yaitu untuk mengisis

38

Anisa Sujarwati, Peran Perempuan Dalam Perekonomian Rumah Tangga Di Dusun Pantog Kulon, Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, (Yogyakarta: Skripsi Program Studi Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.)

39 Malik, “Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga di

Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone”, Skripsi pada Universitas Hasanudin,

(41)

waktu luang dengan kegiatan positif dan untuk mencari pengalaman.

Sebagaian besar ibu rumah tangga mengalami hambatan dalam

bekerja dan sebagain tidak mengalami hambatan, dan tidak dapat

membagi waktu untuk keluarga.40

5. Sugeng Haryanto, dalam jurnal yang berjudul, “Peran Aktif Wanita

Dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus

Pada Wanita Pemecah Batu Di Puncanganak Kecamatan Tugu

Trenggalek”. Dengan hasil penelitian sebagai berikut: pendapatan

yang diperoleh oleh pekerja wanita tersebut menurut mereka dirasakan

sudah cukup. Kontribusi pendapatan pekerja wanita terhadap

[image:41.595.118.511.136.683.2]

pedapatan suami cukup signifikansi.41

Tabel 2.1

Penelitian Yang Relevan

No Penelitian Relevan

1. Nama : Juwita Deca Ryanne

Judul : Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Meningkatkan

Kesejahteraan Keluarga Melalui Home Industri Batik Di

Dusun Karangkulon Desa Wukisari Imogiri Bantu.

Hasil : Kegiatan membatik yang dilakukan oleh ibu rumah tangga melalui kelompok home industri batik mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, dilihat dari kegiatan ketika mereka berperan menjadi ibu rumah tangga dan ketika berperan menjadi ibu rumah tangga yang bekerja dalam kelompok home industri batik. Dengan menjalankan peran yang mereka lakukan, keadaan sosial ekonominya menjadi meningkat, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan

40

M.Th Handayani, Ni Wayan Putu Artini, “Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga

Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga”, Jurnal Sosial Ekonomi Fakultas

Pertanian pada Universitas Udayana.

41Sugeng Haryanto, “Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan R

umah Tangga

Miskin: Studi Kasus Pada Wanita Pemecah Batu Di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek”,

(42)

hari dan mendapatkan nilai kebudayaan dalam kearifan lokal melalui bentuk kerajian batik. Faktor penghambat yang mereka hadapi yaitu delam bentuk pemasaran dikarenakan lokasi di desa berbukit sehingga membutuhkan waktu yang lama.

Persamaan : Persamaan penelitian Juwita Deca dengan skripsi penulis ialah sama-sama meneliti mengenai peran istri.

Perbedaan : Yang membedakan dengan skripsi penulis ialah: 1) Peranan istri terhadap kesejahteraan rumah tangga 2) Lokasi tempat penelitian penulis berbeda.

2 Nama : Anisa Sujarwati

Tahun : 2013

Judul : Peran Perempuan Dalam Perekonomian Rumah Tangga

Di Dusun Pantog Kulon, Kalibawang, Kulon Progo

Hasil : Hasil dari penelitian tersebut terlihat bahwa peran perempuan sangat kuat, semangat para perempuan bekerja sangat besar walaupun dengan penghasilan yang kecil. Perempuan pekerja gula merah dapat mengisi sektor-sektor penting dalam keluarga, yaitu sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan

sosial. Upah yang minimum inilah yang

(43)

ataupun masyarakat. Peran perempuan dalam keluarga tidak dapat dipisahkan dengan msyarakat sekitar agar tercipta masyarakat yang harmonis Persamaan : Persamaan penelitian Anisa Sujarwati dengan skripsi

penulis ialah sama-sama meneliti mengenai peran perempuan dalam hal perekonomian.

Perbedaan : Yang membedakan skripsi penulis ialah:

1) Lokasi penelitian yang dilakukan Anisa Sujarwati dilakukan di kota Jogyakarta.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Anisa Sujarwati lebih menekankan hasilnya kepada sektor dalam rumah tangga bukan pada hasil pendapatan istri. 3. Nama : Abdul Malik

Tahun : 2012

Judul : Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan

Kesejahteraan Rumah Tangga Di Desa Tawaroe

Kecamatan Dua Beccoe Kabupaten Bone.

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan peranan istri dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani di Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, baik secara langsung maupun tidak langsung istri petani di Desa ini maksudnya delapan informan telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga dan bentuk peranan istri petani dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya di Desa ini banyak para istri petani yang kemudian melakukan pekerjaan sampingan untuk membantu suami

Persamaan : Persamaan penelitian Abdul Malik dengan skripsi penulis ialah sama meneliti peranan istri petani. Perbedaan : Yang membedakan skripsi penulis ialah:

1) Lokasi yang diteliti oleh Abdul Malik dilakukan di Bone.

2) Variabel penelitian yang dilakukan oleh Abdul Karib yaitu dalam meningkatkan kesejahteraan

sedangkan penulis lebih terfokus kepada

(44)

4. Nama : M.Th Handayani

Judul : Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan motivasi ibu rumah tangga dalam menambah pendapatan keluarga, yaitu untuk mengisis waktu luang dengan kegiatan positif dan untuk mencari pengalaman. Sebagaian besar ibu rumah tangga mengalami hambatan dalam bekerja dan sebagain tidak mengalami hambatan, dan tidak dapat membagi waktu untuk keluarga.

Persamaan : Persamaan penelitian yang dilakukan oleh M.Th Handayani yaitu membahas tentang kontribusi dalam peningkatakan pendapatan rumah tangga.

perbedaan : Yang membedakan skripsi penulis ialah:

1) Penelitian yang dilakukan M.Th Handayani menggunakan metode penelitian kuantitatif sedangkan penulis menggunakan penelitian kualitatif.

2) Penelitian yang dilakukan oleh M.Th Handayani berfokus pada pendapatan pembuat makanan olahan.

5. Nama : Sugeng Haryanto

Tahun : 2008

Judul : Peran Aktif Wanita Dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus Wanita Pemecah Batu Di Puncanganak Kecamatan Tugu Trenggalek

Hasil : Dengan hasil penelitian sebagai berikut: pendapatan yang diperoleh oleh pekerja wanita

tersebut menurut mereka dirasakan sudah cukup.

Kontribusi pendapatan pekerja wanita terhadap

pedapatan suami cukup signifikansi.

(45)

perempuan dalam peningkatakan pendapatan rumah tangga.

perbedaan : Lokasi penelitian Sugeng dilakukan di Trenggalek

(46)

A.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di desa Bojonggenteng, Desa

Bojonggenteng merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan

Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Alasan peneliti

melakukan penelitian di tempat tersebut, karena responden sesuai dengan

kriteria penelitian bahwa banyak istri petani yang bekerja untuk memenuhi

kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga dilakukan penelitian ini dan ingin

mengetahui bagaimana peran istri petani dalam meningkatkan pendapatan

rumah tangga dalam hal ini bagaimana istri petani bekerja di sektor

domestik dan berperan di sektor publik dalam hal mencari nafkah tambahan

bagi keluarga.

Waktu penelitian dilaksanakan bertahap mulai dari kegiatan

pendahuluan, pelaksanaan, sampai kegiatan akhir penelitian. Peneliti

nantinya datang langsung ke lapangan dengan maksud untuk wawancara

serta studi dokumentasi terhadap objek yang diteliti. Penelitian ini

dilaksanakan dalam rentang waktu antara bulan Juli-Oktober 2016. Tetapi

batas waktu tersebut masih bersifat sementara, sehingga jika sewaktu-waktu

masih memerlukan data, penulis dapat mengunjungi lokasi penelitian.

[image:46.595.135.520.659.740.2]

Berikut ini jadwal kegiatan penelitian.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan

Juli Agust Sept Okt Nov Des

1. Penyusunan Proposal

(47)

2. Observasi Penelitian 3. Pengumpulan Data √

4. Analisis dan Pengolahan Data √ 5. Penyusunan Laporan 6. Bimbingan Akhir Skripsi

7. Sidang Skripsi

Sumber: Catatan Schadule Penelitian

B.

Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian sebagai sasaran

untuk mendapatkan dan mengumpulkan data.42 Populasi terdiri atas

sekumpulan objek yang menjadi pusat perhatian, yang dari padanya

terkandung informasi yang ingin diketahuinya. Dalam penelitian ini

yang menjadi populasi adalah seluruh istri dari petani di Desa

Bojonggenteng, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa

Barat tahun 2015.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan

karakteristik yang sama, sehingga betul-betul mewakili populasi.43

Menurut Suharsimi Arikunto sampel adalah sebagian atau wakil dari

42

P. Joko Subagjo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), Cet. 3, h.23

43

(48)

populasi yang diteliti.44 Sampel bersifat memberikan suatu gambaran

tentang populasi.

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian

ini adalah purposive sampling yakni teknik pemilihan informasi yang dilakukan serta di pilih berdasarkan pertimbangan tertentu, oleh karena

itu sampel di tentukan dengan purposive (sengaja) sehingga sampel

penelitian tidak perlu mewakili populasi, tetapi lebih kepada

kemampuan sampel (informan) untuk memberikan informasi selengkap

mungkin kepada peneliti.45 Berdasarkan atas kriteria yang di maksud

adalah delapan istri petani yang mempunyai peranan penting dalam

meningkatkan pendapatan rumah tangganya. Informan di pilih

berdasarkan pertimbangan tertentu yakni mereka yang dianggap

berkompeten untuk menjawab pertanyaan peneliti.

C.

Metode Penelitian dan Data yang Diinginkan

Pendekatan dan metode penelitian yang digunakan ini adalah metode

kualitatif. Hal ini di ambil karena dalam penelitian ini berusaha menelaah

fenomena sosial dalam suasana yang berlangsung secara wajar atau ilmiah,

bukan dalam kondisi terkendali atau laboratoris. Metode penelitian ini

dimunculkan karena adanya perubahan dalam memandang realita atau

kenyataan serta fenomena atau gejala sosial yang di pandang sebagai

sesuatu yang utuh tidak dapat dipisahkan dan penuh makna. Metode

kualitatif ini sering disebut sebagai penelitian naturalistic karena penelitian

nya dilakukan dalam kondisi yang alamiah (natural setting).46

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian

kualitatif adalah metode analisis deskriptif kualitataif, yaitu dengan

menentukan dan menafsirkan data yang ada, misal nya tentang situasi yang

dialami sehubungan dengan peranan istri petani dalam meningkatkan

44

Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, h. 104. 45

M. Djunaedi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodelogi Penilaian Kualitatif, h. 35.

46

(49)

pendapatan rumah tangga atau proses yang sedang terjadi, kecenderungan,

kelainan yang muncul, pertentangan, dan lain-lain.

Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan

adalah purposive sampling, dan purposive sampling. Seperti yang telah dipaparkan bahwa purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel

sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misal

nya orang tersebut yang di anggap paling tahu tentang apa yang kita harap

kan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan

peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang di teliti.47 Sedangkan

purposive sampling yakni teknik pemilihan informasi yang dilakukan serta dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu,

Gambar

Gambar 2.1 Gambar 4.1
Tabel 2.1 Penelitian Yang Relevan..........................................................
Tabel 2.1 Penelitian Yang Relevan
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah metode predictor- corrector, dimana kita pertama-tama memprediksikan solusi numerik dari suatu persamaan differensial

Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Menteri tersebut di atas, Limbah Non B3 yang dapat diimpor hanya berupa Sisa, Skrap atau Reja yang digunakan untuk bahan baku

Sebagai tambahan, untuk tujuan perpajakan, penghapusan dipercepat (accelerated depreciation )adalah sering diijinkan, beban biaya yang mana proporsinya besar dimana suatu

Melalui strategi pemasaran yang terintegrasi dengan bauran promosi, lembaga zakat dapat menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan tentang jasa yang ditawarkan

Peraturan Daerah Kota Tebing Tinggi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Tebing Tinggi sebagaimana telah diubah

Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan prodi Teknik Sipil S1 ke proyek Pembangunan Bendungan Logung Kabupaten Kudus dilaksanakan pada:2. Hari

[r]

Sebagian besar responden adalah ibu-ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan sedang tentang imunisasi dasar anak dan mempunyai pengalaman menjadi kader lebih dari 5 sampai dengan