Pengaruh Waktu Penyimpanan Sampel Air Sungai Deli Terhadap Kadar Kromium Heksavalen (Cr6+)

43 

Teks penuh

(1)

PENGARUH WAKTU PENYIMPANAN SAMPEL AIR SUNGAI

DELI TERHADAP KADAR KROMIUM HEKSAVALEN (Cr

6+

)

KARYA ILMIAH

OLEH

NENA FITRI YANI

072401044

DEPARTEMEN KIMIA

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KIMIA ANALIS

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH WAKTU PENYIMPANAN SAMPEL AIR SUNGAI

DELI TERHADAP KADAR KROMIUM HEKSAVALEN (Cr

6+

)

KARYA ILMIAH

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Memperoleh Ahli

Madya

NENA FITRI YANI

072401044

DEPARTEMEN KIMIA

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KIMIA ANALIS

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : PENGARUH WAKTU PENYIMPANAN SAMPEL

AIR SUNGAI DELI TERHADAP KADAR KROMIUM HEKSAVALEN (Cr6+)

Kategori : KARYA ILMIAH

Nama : NENA FITRI YANI

Nim : 072401044

Program Studi : DIPLOMA III KIMIA ANALIS

Departemen : KIMIA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

(FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Disetujui di

Medan, Mei 2010

Diketahui

Departemen Kimia FMIPA USU Pembimbing

Ketua,

Dr. Rumondang Bulan, MS Dra. Sudestry Manik, M.Si

(4)

PERNYATAAN

PENGARUH WAKTU PENYIMPANAN SAMPEL AIR SUNGAI DELI

TERHADAP KADAR KROMIUM HEKSAVALEN (Cr6+)

KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa tugas akhir ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dari ringkasan masing-masing yang disebutkan sumbernya.

Medan, Mei 2010

NENA FITRI YANI

(5)

PENGHARGAAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.

Karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mendapatkan ijazah ahli madya pada program Diploma III Kimia Analis di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis banyak mendapatkan dukungan dan bimbingan baik secara moril maupun materil, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ayahanda Ali Sunar dan ibunda Yarnany tercinta yang telah memberikan dukungan dan doanya kepada penulis untuk menyelesaikan kuliah khususnya dalam penulisan karya ilmiah ini.

2. Bapak Prof. Dr. Eddy Marlianto, M. Sc selaku Dekan FMIPA USU

3. Ibu Dra. Sudestry manik M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan karya ilmiah ini.

4. Segenap Pemimpin dan Pegawai Laboratorium BLHDASU yang telah

memberikan fasilitas kepada penulis untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan sebagai bahan dasar penulisan karya ilmiah ini.

5. Ibu Dr. Rumondang Bulan, MS selaku ketua jurusan Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara.

6. Buat ketiga sauadara perempuan penulis, Erni, Dina dan Fitri serta seluruh keluarga terimakasih untuk dukungan dan semangat yang diberikan.

7. Teman-teman satu PKL, Titin dan Dian yang selalu membantu penulis saat penulisan karya ilmiah ini.

8. Teman-teman penulis, Titin, Naja, Aldi, sofi, lela, kiki dan Rima yang telah memberikan dukungan, serta masukan dalam penulisan karya ilmiah ini. Serta sahabat penulis, Mita yang selalu mendukung dan memberi semangat kepada penulis.

9. Buat seluruh teman-teman KIMIA ANALIS khususnya stambuk 07 yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu tetap semangat dan berjuang.

(6)

ABSTRAK

(7)

DEPOSITORY TIME INFLUENCE OF SAMPLE THE DELI RIVER TO CHROMIUM HEXAVALENT (Cr6+) RATE

ABSTRACT

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

PERSETUJUAN ii

PERNYATAAN iii

PENGHARGAAN iv

ABSTRAK v

ABSTRACT vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL ix

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Permasalahan 2

1.3. Tujuan 3

1.4. Manfaat 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4

2.1. Sungai dan Fungsinya 4

2.2. Air 6

2.2.1. Sifat Umum Air 6

2.2.2. Sumber-Sumber Air 8

2.3. Pencemaran Air 9

2.3.1. Kualitas Air 9

2.3.2. Syarat-Syarat Air Minum 10

(9)

2.5. Logam Kromium 13

2.5.1. Sifat-Sifat Logam Kromium 14

2.5.2. Kegunaan Logam Kromium 15

2.5.3. kromium dalam Lingkungan 17

2.6. Spektrofotometer 18

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 20

3.1. Alat 20

3.2. Bahan 20

3.3. Prosedur Analisa 20

3.3.1. Penyiapan Sampel 20

3.3.2. Penyiapan Reagent 21

3.3.3. Penentuan Kadar Kromium heksavalen (Cr6+) 21

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 23

4.1. Data Percobaan 23

4.2. Pembahasan 23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 25

5.1. Kesimpulan 26

5.2. Saran 26

DAFTAR PUSTAKA 28

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.5. Kebutuhan Cr/hari Berdasarkan Umur 16

(11)

ABSTRAK

(12)

DEPOSITORY TIME INFLUENCE OF SAMPLE THE DELI RIVER TO CHROMIUM HEXAVALENT (Cr6+) RATE

ABSTRACT

(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Laboratorium lingkungan BLHDASU (Badan Lingkungan Hidup Daerah Sumatera

Utara) merupakan salah satu lembaga yang bergerak dibidang pengendalian dampak

lingkungan. Hal ini berisi tentang pelaksanaan pengujian parameter kimia, fisika, dan

biologi dalam menduku ng pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan paraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Pada proses pelaksanaan pengujian sampel terhadap parameter-paramter kimia, fisika,

maupun biologi tidak semua sampel tersebut berada dalam keadaan baru. Hal ini sangat

mempengaruhi kadar dari parameter yang ingin diujikan. Setiap parameter memiliki batas

ambang penyimpanan sampel atau yang lebih dikenal dengan sebutan Holding Times.

Pada karya ilmiah ini, parameter yang digunakan adalah Kromium heksavalen (Cr6+).

Kromium heksavalen (Cr6+) memiliki batas ambang penyimpanan sampel selama 24 jam

dan harus ditempatkan pada suhu 4oC.

Sebagian besar masyarakat kita, menggunakan sungai sebagai sumber air untuk dapat

memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan

untuk hidup orang banyak, bahkan oleh semua mahluk hidup. Oleh karena itu sumber

daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia

(14)

memungkinkan terkandung logam-logam berat seperti Na, Ca, Mg, Cr, dan Fe, (Effendi,

2003)

Analisa Kromium heksavalen (Cr6+ ) dilakukan untuk mengetahui apakah sampel

dalam hal ini air Sungai Deli memilki kadar Kromium heksavalen (Cr6+) melebihi batas

ambang. Effendi (1989, hal 178) menyatakan bahwa kadar Kromium maksimum yang

diperkenankan bagi kepentingan air minum adalah 0,05 mg/liter.

Berdasarkan sifat-sifat kimianya logam Kromium dalam persenyawaannya

mempunyai bilangan oksidasi +2, +3 dan +6. Namun yang lebih bersifat toksik adalah

Kromium heksavalen (Cr6+). Jika kadar Kromium yang masuk kedalam tubuh manusia

melebihi batas yang ditentukan maka akan menyebabkan kerusakan pada sistem

pencernaan serta pada sistem pernapasan.(Palar, 2008)

Oleh karena itu Kromium heksavalent (Cr6+) merupakan salah satu parameter kimia

yang penting dalam analisa kualitas air. Dan BLHDASU merupakan salah satu wadah

pemerintah untuk melakukan ini, guna pengendalian dampak lingkungan.

1.2. Permasalahan

a. Apakah pada air Sungai Deli terkandung logam Kromium heksavalen (Cr6+)?

b. Apakah ada pengaruh waktu penyimpanan sample terhadap kadar Kromium

heksavalen (Cr6+) pada air Sungai Deli?

1.3. Tujuan

- Untuk mengetahui kadar Kromium heksavalen (Cr6+) yang terkandung dalam air

(15)

1.4. Manfaat

a. Meningkatkan wawasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bagi penulis terutama

dalam bidang Kimia Analis.

b. Mengetahui apakah ada pengaruh waktu penyimpanan sampel terhadap kadar

(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sungai dan Fungsinya

Di Indonesia sungai dapat dijumpai disetiap tempat dengan kelasnya

masing-masing. Pada masa lampau sungai dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan sehari-hari,

baik transportasi, mandi, mencuci dan sebagainya bahkan untuk wilayah tertentu sungai

dapat dimanfaatkan untuk menunjang makan dan minum.

Sungai sebagai sumber air, sangat penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan

masyarakat dan sebagai sarana penunjang utama dalam meningkatkan pembangunan

nasional. Sebagai sarana transportasi yang relatif aman untuk menghubungkan wilayah

satu dengan lainnya.

Pemerintah memperhatikan manfaatnya sungai yang tidak kecil dalam kehidupan,

maka untuk pelestariannya dipandang perlu melakukan pengaturan mengenai sungai yang

meliputi perlindungan, pengembangan, penggunaan dan pengendalian sungai dari segala

bentuk pencemaran yang berakibat rusaknya dan tidak berfungsinya kembali sungai yang

tidak sesuai dengan kualitas sebenarnya.

Dengan dikeluarkannya peraturan Pemerintah Nomor : 35 Tahun 1991 tentang

sungai, sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor : 11 Tahun 1974 tentang pengairan,

sehingga dapat digunakan sebagai pegangan dalam pengelolaan, pengusahaan,

(17)

Didalam peraturan Pemerintah Nomor : 35 Tahun 1991, telah tersurat pengertian

sungai yaitu tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari

mata air sampai suara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya

oleh garis sempadan. Garis sempada sungai adalah garis batas luar pengamanan sungai.

Garis sempadan ini dalam bentuk bertanggul dengan ketentuan batas lebar

sekurang-kurangnya 5 meter yang terletak disebelah luar sepanjang kaki tanggul.

Sungai sebagai sumber air yang merupakan salah satu sumber daya alam berfungsi

serbaguna bagi kehidupan dan penghidupan mahluk hidup. Air merupakan segalanya

dalam kehidupan ini yang fungsinya tidak dapat digantikan dengan zat atau benda

lainnya, namun dapat pula sebaliknya, apabila air tidak dijaga nilainya akan sangat

membahayakan dalam kehidupan ini. Maka sungai sebagaimana dimaksudkan harus

selalu berada pada kondisi dengan cara :

1. Dilindungi dan dijaga kelestariannya

2. Ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya

3. Dikendalikan daya rusaknya terhadap lingkungan

Air atau sungai dapat merupakan sumber malapetaka apabila tidak dijaga, baik dari

segi manfaatnya maupun pengamanannya. Misalnya dengan tercemarnya air oleh zat-zat

kimia selain mematikan kehidupan yang ada disekitarnya juga merusak

(18)

2.2. Air

Air merupakan salah satu dari ketiga komponen yang membentuk bumi (zat padat,

air dan atmosfer). Bumi dilingkupi air sebanyak 70% sedangkan sisanya (30%) berupa

daratan (dilihat dari permukaan bumi). Udara mengandung zat cair (uap air) sebanyak

15% dai tekanan atmosfer. (Gabriel,2001)

Saat ini masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air

yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air

untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Kegiatan industri, domestik, dan

kegiatan lain berdampak negatif terhadap sumber daya air, antara lain menyebabkan

penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan dan bahaya

bagi semua mahluk hidup yang bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu

diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air secara seksama. (Effendi,

2003)

2.2.1. Sifat Umum Air

Menurut Gabriel (2001, hal 87) air memilki sifat umum fisik dan kimia

1. Sifat fisik

- Titik beku 0oC

- Massa jenis es (0oC) 0,92 gr/cm

- Massa jenis air (0oC) 1,00 gr/cm3

- Panas lebur 80 kal /gr

(19)

- Panas penguapan 540 kal/gr

- Temperatur kritis 347oC

- Tekanan kritis 217 atm

- Konduktivitas listrik spesifik (25oC) 1x10-17/ohm-cm

- Konstanta dielektrikum (25oC)

Perlu diketahui bahwa air laut mempunyai titik beku (-1,9oC); massa jenis air tawar

sebesar pada 4oC, sedangkan air laut (kadar garam 35%) mempunyai massa jenis tersebar

pada (-3,5oC).

2. Sifat kimia

Baik air laut, air hujan, maupun air tanah/air tawar mengandung mineral.

Macam-macam mineral yang terkandung dalam air tawar bervariasi tergantung struktur tanah

dimana air itu diambil. Sebagai contoh mineral yang terkandung dalam air itu bukan

melalui suatu reaksi kimia melainkan terlarut.

Sifat kimia yang lain yaitu konduktifitas listrik pada air paling sedikit 1000 kali lebih

besar daripada cairan non metalik pada suhu ruangan.

- Air dapat terurai oleh pengaruh arus listrik

- Merupakan pelarut yang baik

- Air dapat bereaksi dengan basa kuat dan asam kuat

- Air bereaksi dengan berbagai substansi memebentuk senyawa padat dimana air

(20)

2.2.2. Sumber-Sumber Air

Secara garis besar, dapat dikatakan air bersumber dari :

1. Laut ; Air Laut

Air yang dijumpai didalam alam berupa air laut sebanyak 80%, sedangkan

sisanya berupa air tanah/daratan, es, salju dan hujan. Air laut menentukan iklim

dan kehidupan di bumi. Kadar dan komponen unsur di dalam air laut ditentukan

sejumlah reaksi kimia fisika dan biokimia yang terjadi di samudera.

2. Udara; Air Hujan

Air hujan dapat menyebabkan karat dan korosif terhadap logam karena

mengandung NH3.

3. Darat; Air Tanah

Air tanah disebut pula air tawar karena tidak terasa asin. Berdasarkan

lokasi air maka air tanah dibagi dalam 2 bagian yaitu air permukaan tanah (sungai,

rawa-rawa, danau, waduk) dan air jauh dari permukaan tanah yaitu air yang

tersimpan didalam lapisan tanah (sumur gali, sumur bor). (Gabriel, 2001)

2.3. Pencemaran Air

Dalam pasal 1 Peraturan pemerintah Nomor : 20 tahun 1990 Tentang

Pengendalian Pencemaran Air, bahwa yang dimaksud dengan pencemaran air adalah

masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain

kedalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu

(21)

2.3.1. Kualitas Air

Berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.82 tahun 2001 tentang

Pengolahan Kualitas Air dan pengendalian Pencemaran Air menerapkan kriteria kualitas

air yang dapat diterima untuk serangkaian kategori penggunaan adalah:

1. Kelas satu : air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku minum,

dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air ysng sama dengan

kegunaan tersebut.

2. Kelas dua : air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana /sarana

rekreasi air untuk mengairi pertanaman, dan atau untuk peruntukan lain yang

mempersyaraatkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

3. Kelas tiga : air yang peruntukannya dapat digunkan untuk pembudidayaan

ikan tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau untuk peruntukan

lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

4. Kelas empat : air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi

pertanaman, dan atau untuk peruntukan lain yang memepersyaratkan mutu air

yang sama dengan kegunaan tersebut.

2.3.2. Syarat-Syarat Air minum

Air siap minum/air minum ialah air yang sudah terpenuhi syarat fisik, kimia,

(22)

LKM meliputi sejumlah zat kimia, kekeruhan dan bakteri coliform yang

diperkenankan dalam batas-batas aman. Lebih jelas lagi, bahwa air siap minum/air

minum yang berkualitas harus terpenuhi syarat sebagai berikut :

1. Harus jernih, transparan dan tidak bewarna

2. Tidak dicamari bahan organik maupun bahan anorganik

3. Tidak berbau, tidak berasa, kesan enak bila diminmu

4. Mengandung mineral yang cukup sesuai dengan standart

5. Bebas kuman/LKM coliform dalam batas aman. (Gabriel, 2001)

2.4. Pencemaran Logam

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terpisah dari benda-benda yang bersifat

logam. Logam dapat kita gunakan sebagai perlengkapan rumah tangga dan juga sebagai

bahan baku berbagai jenis industri. Penggunaan logam sebagai bahan baku industri guna

memenuhi kebutuhan manusia akan mempengaruhi kesehatan manusia melalui dua jalur,

yaitu :

1. Kegiatan industri akan menambah polutan logam dalam lingkungan air, tanah,

udara dan makanan.

2. Perubahan biokimia logam sebagai bahan baku berbagai jenis industri bisa

mempengaruhi kesehatan manusia.

Pesatnya pembangunan dan penggunaan berbagai bahan baku logam bisa berdampak

(23)

kerugian dan meresahkan masyarakat yang tinggal disekitar daerah perindustrian maupun

masyarakat pengguna produk industri tersebut. Hal ini terjadi karena sangat besarnya

risiko terpapar logam berat maupun logam transisi yang bersifat toksik dalam dosis atau

konsentrasi tertentu.

Pencemaran logam berat cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya proses

industrialisasi. Pencemaran logam berat dalam lingkungan (perairan, tanah, udara) bisa

menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Menurut Widowati dkk (2008 hal 2) logam berat dibagi kedalam 2 jenis yaitu :

1. Logam berat esensial ; yakni logam dalam jumlah tertentu yang sangat dibutuhkan

oleh organisme. Dalam jumlah yang berlebihan, logam tersebut bisa menimbulkan

efek toksik. Contohnya adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain sebagainya.

2. Logam berat tidak esensial ; yakni logam yang keberadaannya dalam tubuh

manusia masih belum diketahui manfaatnya, bahkan bersifat toksik seperti Hg, Cr,

Cd, Pb dan lain sebagainya.

Logam berat dapat menimbulkan efek gangguan terhadap kesehatan manusia. Efek

toksik dari logam berat mampu menghalangi kerja enzim sehingga mengganggu

metabolisme tubuh, menyebabkan alergi, bersifat mutagen, teratogen, ataupun

karsinogen.

Tingkat toksisitas logam berat terhadap manusia, mulai dari yang paling toksik,

(24)

Pencemaran logam dapat terjadi di tanah, udara, dan perairan. Pada perairan

pencemaran logam dapat terjadi karena adanya kegiatan industri, kegiatan domestik ,

maupun sumber alami dari batuan akhirnya sampai ke sungai/laut dan selanjutnya

mencemari manusia melalui ikan, air minum, atau air sumber irigasi lahan pertanian

sehingga tanaman sebagai sumber pangan manusia tercemar oleh logam.

Menurut Palar (2008, hal 37) ada banyak faktor yang memepengaruhi daya racun dari

logam-logam berat yang terlarut dalam badan perairan yaitu :

1. Bentuk logam dalam air. Apakah logam-logam tersebut berada dalam bentuk

senyawa organik atau senyawa anorganik. Selanjutnya persenyawaan ini dibagi

lagi, apakah berupa senyawa-senyawa organik dan senyawa-senyawa anorganik

yang tidak dapat larut. Selanjutnya senyawa-senyawa organik yang dapat larut

dalam badan perairan akan dapat diserap dengan mudah oleh biota perairan.

2. Keberadaan logam-logam lain. Adanya logam-logam lain dalam badan perairan

dapat menyebabkan logam-logam tertentu menjadi sinergentis ataukah sebaliknya,

menjadi antagonis bila telah membentuk suatu ikatan. Untuk logam berat yang

bersifat sinergentis, apbila bertemu dengan pasangannya dan membentuk suatu

persenyawaan dapat berubah fungsi menjadi racun yang sangat berbahaya.

3. Fisiologis dari biota (organisme)nya. Proses fisiologis turut mempengaruhi

peningkatan kandungan logam berat dalam badan perairan.

4. Kondisi biota. Kondisi dari biota-biota berkaitan dengan fase-fase kehidupan yang

(25)

Karena itu pencemaran logam berat dalam lingkungan (perairan, tanah, udara) perlu

diperhatikan secara serius mengingat bahaya yang ditimbulkan terhadap kesehatan

manusia maupun bagi kesetimbangan lingkungan hidup.

2.5. Logam Kromium

Kata Kromium berasal dari bahasa Yunani (chroma) yang berarti warna. Dalam

bahan kimia, Kromium dilambangkan dengan Cr dan pertama kali ditemukan oleh

Vagueline pada tahun 1797.

Kromium merupakan salah satu dari logam berat. Logam berat sebenarnya masih

termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam lain.

Perbedaanya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berkaitan dan

atau masuk kedalam tubuh organisme hidup.

Logam Kromium murni tidak pernah ditemukan di alam. Logam ini ditemukan

dalam bentuk persenyawaan padat atau mineral dengan unsur-unsur lain. Sebagai bahan

mineral Kromium paling banyak ditemukan dalam bentuk “Kromit”.

Kromium termasuk unsur yang jarang ditemukan pada perairan alami. Kerak bumi

mengandung Kromium sekitar 100 mg/kg. Kromium yang ditemukan diperairan adalah

Kromium trivalen (Cr3+) dan Kromium heksavalent (Cr6+), namun pada perairan yang

memiliki pH lebih dari 5, Kromium trivalen tidak ditemukan. Apabila masuk keperairan,

(26)

2.5.1. Sifat-Sifat Logam Kromium

- Logam berat dengan berat atom 51, 996 g/mol

- Logam bewarna abu-abu

- Tahan terhadap oksidasi pada suhu tinggi

- Mengkilat

- Keras

- Titik cair 1,857oC

- Titik didih 2,672oC

- Bersifat paramagnetic (sedikit tertarik oleh magnet).

2.5.2. Kegunaan Logam Kromium

1. Bidang industri

Kromium digunakan untuk tiga industri dasar, yaitu :

a. Industri metalurgi

b. Industri bahan kimia

c. Industri bahan penahan panas

Berikut berbagai kegunaan Kromium

a. Bidang metalurgi untuk mencegah korosi, mengkilatkan logam, antara

lain sebagai bahan komponen alloy, anodized Aluminium,

chromeplating, dan wood treatment.

b. Sebagai pewarna, pencelup, dan cat. Dalam bidang idustri kimia,

(27)

karena Kromium mengandung komponen warna merah, kuning,

orange, dan hijau.

c. Sebagai katalisator.

d. Garam-garam Kromium untuk menyamakan kulit.

e. Potassium Dikromat sebagai chemical reagent untuk mencuci alat

gelas laboratorium.

f. Sebagai anti korosi pada aat pengeboran sumur berlumpur.

2. Bidang kesehatan

Kromium digunakan sebagai bahan pembuatan alat ortopedi, sebagai radio

isotop dalam bentuk 51Cr yang dapat menghasilkan sinar gamma untuk

penanadaan sel-sel darah merah, serta sebagai penjinak sel tumor tertentu.

3. Sebagai mikroelemen tubuh

Kromium trivalen (Cr3+) merupakan mikronutrien bagi tubuh, yaitu untuk

metabolisme hormon insulin dan pengaturan kadar glukosa darah.

Diperkirakan kebutuhan Kromium untuk manusia adalah sebesar 1µ g/hari

dan hanya 1-3% Cr3+ yang diabsorpsi.

Kebutuhan Kromium pada manusia dapat dilihat pada table dibawah ini

Tabel 2.5 Kebutuhan Cr/hari berdasarkan umur (Widowati dkk, 2008)

No Usia Kebutuhan Cr/hari (µg)

1 0 – 6 bulan 0,2

2 7 – 12 bulan 5,5

(28)

4 4 – 8 tahun 15

5 9 – 13 tahun 21 – 25

6 14 – 50 tahun 24 – 35

7 Wanita hamil 29 – 30

8 Ibu menyusui 44 – 45

2.5.3. Kromium Dalam Lingkungan

Logam Kromium yang masuk ke dalam lingkungan dapat datang dari

bermacam-macam sumber. Tetapi pada umumnya yaitu berasal dari

kegiatan-kegiatan perindustrian, kegiatan-kegiatan rumah tangga dan dari pembakaran serta

mobilisasi bahan-bahan bakar.

Dalam badan perairan Kromium dapat masuk melalui dua cara, yaitu

secara alamiah dan non alamiah. Masuknya Kromium secara alamiah dapat

disebabkan oleh beberapa faktor fisika, seperti erosi yang terjadi pada batuan

mineral. Masukan Kromium yang terjadi secara nonalamiah lebih merupakan

dampak atau efek dari aktivitas yang dilakukan manusia. Sumber-sumber

Kromium yang berkaitan dengan aktivitas manusia dapat berupa limbah atau

buangan industri sampai buangan rumah tangga.

Dalam badan perairan, terjadi bermacam-macam proses kimia, mulai dari

proses pengkompleksan pada reaksi redoks. Reksi ini dapat mengakibatkan

(29)

perairan. Proses kimiawi yang berlangsung juga adapat mengakibatkan

terjadinya peristiwa reduksi dari senyawa-senyawa Kromium heksavalen

(Cr6+) yang sangat beracun menjadi Kromium trivalen (Cr3+) yang kurang

beracun. Hal ini dapat terjadi di badan perairan yang bersifat asam.

(Widowati,W dkk dan Palar, 2008)

2.6. Spektrofotometer

Sudah lama ahli kimia menggunakan warna sebagai suatu pembantu dalam

mengidentifikasi zat kimia. Sebuah spektrofotometer adalah suatu instrument

untuk mengukur transmitans atau absorban suatu sample sebagai fungsi panjang

gelombang, pengukuran terhadap sederatan sampel pada suatu panjang gelombang

tunggal dapat pula dilakukan.

Kompenen yang penting sekali dari suatu spektrofotometer yaitu

1. Sumber

Sumber yang biasa digunakan adalah sebuah lampu pijar dengan kawat

rambut terbuat dari wolfram. Dibawah keluaran kira-kira 350 nm, keluarana

lampu wolfram itu tak memadai untuk spektrofotometer dan haruslah

digunakan sumber yang berbeda. Paling lazim adalah lampu tabung discas

(discharge tube) Hidrogen atau (deuterium).

2. Monokromator

Ini adalah piranti optis untuk mengisolasi suatu berkas radiasi dari suatu

(30)

tinggi dengan panjang gelombang yang diinginkan. Komponen dari sebuah

monokromator adalah suatu sistem celah dan suatu unsur dispersif. Radiasi

dari sumber difokuskan ke celah masuk. Kemudian disejajarkan oleh sebuah

lensa sehingga suatu berkas sejajar jatuh ke unsur pendispersi, yang berupa

prisma atau kisi difraksi, dengan cara memutar prisma atau kisi itu secara

mekanis, aneka porsi spektrum yang dihasilkan oleh unsur dispersi dipusatkan

pada celah keluar, dari situ, lewat jalan optis lebih jauh, porsi-porsi itu

menjumpai sampel.

3. Sel

Kebanyakan wadah sampel adalah sel yaitu untuk menaruh cairan kedalam

berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energi radiasi

dalam daerah spektral yang diamati. Sel bila ditaruh dalam posisinya, itu

menjadi bagian dari lintasan optis dalam spektrofotometer, dan sifat-sifat

optisnya menjadi penting.

4. Detektor

Dalam sebuah detektor untuk suatu spektrofotometer, diinginkan kepekaan

yang tinggi dalam daerah spektral, respon yang linier terhadap daya radiasi,

waktu respon yang cepat dan kestabilan tinggi. Detektor berperan memberikan

(31)

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat

- Pipet volum

- Bola karet

- Kuvet 10 ml

- Tissue

- Spektrofotometer portable DR/2010

- Medicool

3.2. Bahan

- Sampel air Sungai Deli

- Chroma ver 3 reagent powder pillow

3.3. Prosedur Percobaan

3.3.1. penyediaan sample

Sampel yang akan dianalisa berupa air sungai. Sampel tersebut diambil langsung

(32)

sampai botol tersebut berisi penuh kemudian botol diangkat, ditutup dengan rapat. Setelah

sample diambil, langsung dianalisa di laboratorium BLHDASU. Batas penyimpanan

selama 24 jam.

3.3.2. Persiapan Reagent

Reagent yang dipakai pada penentuan kadar Kromium heksavalen(Cr6+) adalah

dalam bentuk sachet yang langsung di beli oleh laboratorium BLHDASU.

3.3.3.Penentuan Kadar Cromium Hexavalent (Cr6+)

- Hidupkan alat spektrofotometer portable DR/2010 dengan cara

menghubungkannya ke sumber arus.

- Masukkan nomor program untuk analisa Cr6+ yaitu tekan 90 kemudian enter (pada

layar akan menunjukkan panjang gelombang 540 nm)

- Atur panjang gelombang sampai menunjukkan angka 540 nm (pada layar akan

menunjukkan mg/l Cr6+)

- Masukkan 10 ml sampel kedalam kuvet 10ml

- Tambahkan satu sachet reagent chroma ver 3 lalu putar-putar kuvet untuk

mengaduk

- Tekan shift timer pada alat spetrofotometer portable DR/2010 (reaksi akan

dimulai selama 5 menit)

- Isi kuvet lain dengan sampel sebanyak 10 ml sebagai blanko

- Ketika reaksi selesai, alat akan berbunyi dan pada layar akan menunjukkan mg/l

(33)

- Tekan zero pada alat, dan pada layar akan menunjukkan “zeroing” kemudian 0,00

mg/l Cr6+

- Masukkan sampel yang telah dipreparasi tadi kedalam alat, lalu tutup.

- Tekan read pada alat dan layar akan menunjukkan “reading”

(34)

BAB 4

DATA DAN PEMABAHASAN

4.1. Data Percobaan

Kadar Kromium heksavalen (Cr6+) pada air sungai deli ditunjukkan pada table 4.1.

Tabel 4.1 Data hasil analisa Sampel Air Sungai Deli untuk menentukan pengaruh waktu

penyimpanan sampel terhadap kadar Kromium heksavalen (Cr6+)

No Tanggal analisa Kadar Cr6+ (mg/l)

1 01-02-2010 0,02

2 02-02-2010 0,01

3 03-020-2010 0,005

(35)

4.2. Pembahasan

Dari data yang diperoleh yaitu menunjukkan adanya pengaruh waktu

penyimpanan terhadap kadar Kromium heksavalen (Cr6+). Pada hari pertama yaitu

dimana sampel yang telah diambil langsung dinalisa menunjukkan kandungan Kromium

heksavalen (Cr6+) 0,02 mg/l, pada hari kedua dimana batas maksimum

penyimpanan/pengawetan sampel telah lewat dan menunjukkan penurunan kadar

Kromium heksavalen (Cr6+) yaitu menjadi 0,01 mg/l dan pada hari ke tiga dan keempat

waktu analisa kadar Kromium heksavalen (Cr6+) makin berkurang yaitu 0,005 mg/l dan 0

mg/l.

Perubahan yang terjadi biasanya dikarenakan adanya gangguan-gangguan yang dapat

timbul selama penyimpanan dan pengangkutan sehingga dapat berubah sifat dari keadaan

asli sampel (sampel menjadi tidak representative), adalah sebagai berikut :

1. Gas O2 dan CO2 dapat diserap air sampel atau dapat lenyap dari air sampel ke

udara.

2. Zat tersuspensi dan koloidal dapat memebentuk flok-flok sendiri dan mengendap,

hingga terdapat sampel yang berbeda dengan keadaan asli, paling sedikit lumpur

tersebut harus dijadikan suspensi lagi secara merata sebelum analisa, dengan

mengocokan botol simpanan, sedangkan zat dan cairan yang ringan (lumpur,

lemak, minyak dan seterusnya) dapat mengapung pada permukaan sampel.

3. Beberapa zat pelarut dapat dioksidasi oleh oksigen terlarut hingga senyawanya

(36)

4. Lumut, ganggang dan jamur dapat tumbuh dalam sample yang tidak disimpan

pada tempat gelap dan dingin. (Alaert, 1984)

Selain hal-hal diatas, kemungkinan penurunan kadar Kromium heksavalen Cr6+ dapat

juga disebabkan oleh:

1. Terdapatnya sidik jari, kotoran padat yang melakat pada kuvet yang digunakan

sehingga dapat menyerap radiasi dari sinar yang dihasilkan.

2. Keadaan kuvet yang kurang baik, seperti retak ataupun buram. Ini juga dapat

(37)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari analisa kadar Kromium heksavalen (Cr6+) yang dilakukan terhadap air Sungai

Deli, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

a. Pada air Sungai Deli terkandung logam Kromium heksavalen (Cr6+) sebesar 0,02

mg/l. data ini menunjukkan bahwa air Sungai Deli telah memenuhi baku mutu air

minum sesuai dengan Meskes RI No. 01/Birhukmas/I/1975. Dimana kadar

maksimum yang diperbolehkan untuk Kromium yaitu 0,05 mg/l.

b. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa terdapat pengaruh lamanya waktu

penyimpanan sampel terhadap kadar Kromium heksavalen (Cr6+) yaitu analisa

hari pertama kadar Kromium heksavalen (Cr6+) = 0,02 mg/l dan pada hari kedua

(batas maksimum penyimpanan/pengawetan sampel telah lewat) kadar Kromium

heksavalen (Cr6+) menjadi 0,01 mg/l.

5.2. Saran

BLHDASU merupakan instansi pemerintah yang mempunyai tugas pokok dalam

melaksanakan pengendalian dampak lingkungan hidup. Dimana dalam pelaksanaannya

(38)

penyimpanan/pengawetan sampel. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh data yang lebih

akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penentuan uji kelayakan sampel. Akhirnya

dapat mencemari lingkungan dan juga merugikan masyarakat.

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts, G & Sri Sumestri,S. 1984. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Penerbit Usaha

Nasional

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan

Perairan. Yokyakarta: Penerbit Kansius

Gabriel, J.F. 2001. Fisika Lingkungan. Ceatakan Pertama. Jakarta. Penerbit Hipokrates

Palar, H. 2008. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Cetakan Keempat. Jakarta:

Rineka Cipta

Ryadi, S. 1984. Pencemaran Air Dasar-Dasar dan Pokok-Pokok Penanggulangannya.

Surabaya: Penerbit Karya Anda

Subagyo, J.K. 1999. Hukum Lingkungan Masalah dan Penanggulangannya. Cetakan

Kedua. Jakarta: Rineka Cipta

Underwood, A.L & Day, R.A. 1998. Analisa kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Jakarta:

Penerbit Erlangga

Widowati, W. dkk. 2008. Efek Toksik Logam Pencegahan dan Penanggulangan

(40)

Lampiran 1. Baku Mutu Air Minum menurut Meskes RI No. 01/Birhukmas/I/1975

No Unsur-Unsur Satuan

Syarat-Syarat

sebagai KMnO4

Karbon oksida

sebagai CO2 agresif

Kesadahan

Kalsium sebagai Ca

(41)
(42)

Lampiran 2. Required Container, Preservation, Techniques and Holding Times

Parameter No./Name Container2 Preservation3,4 Maximum

Holding Time5

Table 1A-Bacterial

Test

1-4. Coliform,fecal

and total

5. Fecal stertococci

Table B-inorganic

and amenable to

chlorination

P,PFTE or quartz

P,G

>12,06 g ascorbic acid6

(43)

Figur

Tabel 4.1 Data hasil analisa Sampel Air Sungai Deli untuk menentukan pengaruh waktu
Tabel 4 1 Data hasil analisa Sampel Air Sungai Deli untuk menentukan pengaruh waktu . View in document p.34
Table 1A-Bacterial

Table 1A.

Bacterial . View in document p.42

Referensi

Memperbarui...