PELAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS
TEKNOLOGI INFORMASI
Oleh: A. Ridwan Siregar Departemen Ilmu Perpustakaan
Universitas Sumatera Utara
Makalah disampaikan pada
PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENGEMBANGAN BUDAYA BACA
Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi
PELAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
A. Ridwan Siregar
Departemen Ilmu Perpustakaan, Universitas Sumatera Utara [email protected]
Pendahuluan
Perpustakaan menggunakan teknologi untuk memperbaiki efisiensi ketika menyediakan
pelayanan bagi pengguna. Peran untuk mengumpulkan bahan perpustakaan menjadi suatu hal yang
kritikal karena perubahan pola penggunaan perpustakaan. Berdasarkan data dari Association of
Research Libraries menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan berkelanjutan penurunan pertanyaan
rujukan pada perpustakaan. Sebaliknya, banyak institusi perpustakaan mengalami peningkatan
dalam penggunaan jarak jauh (remote use) sumber daya perpustakaan (Contreas, 2004).
Belajar dari harapan, pilihan, dan kepuasan pengguna perpustakaan mengindikasikan bahwa
ekspektasi pengguna adalah peningkatan akses web terhadap sumber daya dalam bentuk teks
penuh. Pengguna memilih menggunakan sumber daya informasi dan pengetahuan dari tempat
tinggal atau tempat kerja mereka dan menginginkan mereka dapat bekerja mandiri. Kepuasan
terhadap pelayanan perpustakaan, sebagian tergantung pada kemampuan perpustakaan untuk
mengakomodasikan harapan dan prefrensi pengguna tersebut. Selain menyediakan lebih banyak
sumber daya elektronik, perpustakaan juga mengembangkan pelayanan rujukan berbasis web yang
komprehensif.
Teknologi Informasi dan Komunikasi
Revolusi di bidang komputer dan komunikasi telah mentransformasikan sinonim komputer
menjadi teknologi informasi (TI) atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Perkembangan pesat
di bidang TI membawa perubahan revolusioner dalam hal pemerosesan, penyimpanan,
penyebar-luasan dan pendistribusian informasi dan menjadi ramuan utama yang membawa perubahan besar
terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kemudahan berkomunikasi beserta Internet
menjadikan perubahan paradigma dalam penggunaan informasi dari basis need to know menjadi
informasi available when and where you need it.
Teknologi publikasi digital dan jaringan global telah mendorong pertumbuhan perpustakaan
digital dalam berbagai variasi. Sepuluh tahun yang lalu kata Lorcan Dempsey (2006) kita
menyaksikan konvergensi web yang bisa dibaca oleh manusia dan peningkatan ketersambungan
(connectivity). Sekarang, kita melihat aplikasi komunikasi dan ketersambungan gelombang
elektromagnetik (broadband) yang meluas dan merambat ke seluruh pelosok bumi. Dunia semakin
maupun belajar. Kita membuat karya, membagi-pakainya, dan menggunakan konten dan pelayanan
digital.
Implikasi TI pada Perpustakaan
Implikasi TI pada perpustakaan dan unit-unit informasi meliputi antara lain: tempat
penyimpanan (storage), kecepatan, kemudahan penggunaan, jumlah besar informasi, kemampuan
bekerjasama secara harmonis (interoperability), dan integrasi. Teknologi tempat penyimpanan
berkapasitas besar memungkinkan kita untuk menyimpan lebih banyak informasi dalam bentuk
digital. Perkembangan teknologi perangkat lunak dan jaringan menawarkan kemudahan dalam
penggunaan bahan perpustakaan.
Kelipatan atau pertumbuhan pesat jumlah informasi yang dihasilkan mendorong kita untuk
mengalihkan ruang penyimpanan dari rak dan lantai perpustakaan yang mahal ke ruang di dalam
disk komputer yang lebih murah. Kemampuan dua sistem atau lebih bekerjasama secara harmonis
memberikan kemudahan dalam pertukaran informasi di antara berbagai sistem yang ada dalam
jaringan global. Pengintegrasian berbagai pelayanan dari berbagai aplikasi dan lokasi dapat dilakukan
dengan dukungan sistem berbasis TI. Sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dapat
dintegrasikan dengan aplikasi terkait lainnya dari SIM institusi induknya.
Keunggulan Pelayanan Berbasis Web
Terdapat sejumlah keuntungan pelayanan perpustakaan berbasis web di antaranya adalah:
kemampuan kerjasama sistem, penyelimutan (encapsulation), ketersediaan (availability), deksripsi
diri (self-description), modular, kesederhanaan, dan kemampuan sistem untuk dikembangkan (high
scalability) (Fremantle, 2002). Sistem berbasis web memiliki kemampuan bekerjasama dengan
sistem lain karena memiliki standardisasi yang sama.
Teknologi pada Perpustakaan
Penggunaan TI pada perpustakaan dan unit-unit informasi dapat dikelompokkan ke dalam
tujuh kategori yaitu: pengambilan informasi, tempat penyimpanan, identifikasi, pangkalan data,
automasi perpustakaan, open source, dan jaringan. Pengambilan informasi (information capture)
mencakup penggunaan peralatan komputer seperti papan tombol, pemindai (scanner), kamera
digital, dan peralatan bergerak (mobile). Teknologi penyimpanan meliputi antara lain komputer PC,
penggerak disk, CD/DVD, pen drives, portable HD, dan blue ray disk. Teknologi indentifikasi termasuk
Penggunaan teknologi pangkalan data (database) mencakup antara lain pangkalan data
buku, artikel, laporan, agregator, penerbit, institutional repository (IR), dan perpustakaan digital.
Perangkat lunak perpustakaan digital termasuk DSpace, Fedora, Eprints, Greenstone, Acado dan
sebagainya. Perangkat lunak automasi perpustakaan termasuk Libsys, WinISIS, GenISIS, WebLIS,
Librarian Suite, PALMS, TLMS Liberty, ALICE, dan sebagainya. Perangkat lunak open source termasuk
KOHA, New Gen Lib, Senayan, dan sebagainya. Teknologi jaringan termasuk client-server, P2P (peer
to peer), dan Internet.
Library 2.0
Library 2.0 (L2) adalah suatu transformasi cara pelayanan perpustakaan disampaikan kepada
pengguna. L2 menyediakan perangkat baru untuk membuat ruang perpustakaan baik perpustakaan
maya (virtual) maupun fisik menjadi lebih interaktif, kolaboratif, dan digerakkan oleh kebutuhan
pengguna. L2 mendorong interaksi sosial kolaboratif dua arah antara staf perpustakaan dan
pelanggan perpustakaan. L2 memerlukan partisipasi dan umpan balik pengguna dalam
pengembangan dan pemeliharaan pelayanan perpustakaan. Ungkapan Library 2.0 dikemukan
Michael Case pada blognya, LibraryCrunch, pada tahun 2005, walaupun konsep kolektif yang
membentuk Li rary 2.0 telah ada sebelumnya. Istilah tersebut merupakan spin-off We 2.0 yang
dikemukakan oleh O'Reilly Media (LIS Wiki, 2011).
Gagasan dasar L2 adalah untuk menjadikan pelayanan lebih sesuai selera (personalize), lebih
interaktif, lebih berbasis web, dan digerakkan oleh kebutuhan komunitas. Dalam suatu lingkungan
komunikasi yang sangat berbeda, perlu disediakan pelayanan yang lebih sesuai dengan selera
pengguna, dan menjadikan pustakawan lebih kompeten. Dengan L2 pelayanan perpustakaan secara
konstan diremajakan dan dievaluasi ulang menjadi yang terbaik bagi pengguna. Komponen L2
meliputi antara lain RSS, Blog, Wiki, podcasting, instant messaging, SMS, MMS, dan jejaring sosial.
RSS (really simple syndication) adalah suatu keluarga format web feed untuk
mempublikasikan konten yang sering diperbaharui (updated) secara teratur seperti entri blog,
headline berita, dan podcasts. Suatu doku e ‘SS ya g dise ut feed , we feed atau ha el'
berisikan suatu ringkasan konten dari suatu situs web terkait atau dalam bentuk teks penuh. RSS
memungkinkan seseorang bergabung dan mengikuti perkembangan informasi dari suatu situs web
dalam program tertentu atau ditampilkan melalui suatu proses penyaringan (Wikipedia, 2011).
Blog atau WEBLOG adalah suatu situs web yang berisikan entri bertanggal dengan susunan
kronologis terbalik (paling baru yang pertama) tentang topik tertentu (Answer.com, 2011). Satu
dan link ke situs web lain, dan imej yang disumbangkan oleh seseorang atau kelompok orang.
Adakalanya fasilitas pencarian juga terdapat pada blog (Wikipedia, 2011).
Wiki berasal dari kata Hawaii yang berarti tergesa-gesa atau cepat. Wiki adalah sebuah situs
web kolaboratif di mana kontennya dapat diedit oleh seseorang yang memiliki akses terhadap situs
tersebut. Wiki juga adalah suatu aplikasi web yang memungkinkan pengguna menambah konten,
seperti yang dapat dilakukan pada forum Internet, dan juga merujuk pada perangkat lunak
kolaboratif yang digunakan untuk mengembangkan situs web tersebut. (Wikipedia, 2011).
Podcast adalah sebuah kata yang memiliki kesamaan arti dengan I Pod dari Apple dan
penyiaran (broadcasting). Podcast merupakan suatu metode pempublikasian berkas ke Internet, dan
memungkinkan pengguna melanggan pada suatu feed atau saluran dan menerima berkas baru
secara otomatis dengan berlangganan, biasanya tanpa biaya (Wikipedia, 2011).
Pelayanan jejaring sosial menggunakan perangkat lunak untuk membangun jaringan sosial
online untuk komunitas masyarakat yang ingin berbagi-pakai minat dan aktifitas atau yang berminat
dalam eksplorasi minat dan aktifitas orang lain. Biasanya pelayanan jenis ini berbasis web dan
menyediakan berbagai cara bagi pengguna untuk berinteraksi seperti obrolan (chatting), pengiriman
pesan, e-mail, video, berbagi-pakai berkas, blogging, diskusi kelompok, dan sebagainya.
Perubahan Pradigma
Perkembangan TI telah mengubah paradigma di lingkungan perpustakaan dan unit-unit
informasi. Beberapa paradigma tersebut adalah perubahan: dari perpustakaan tradisional ke
perpustakaan digital, dari cetakan pada kertas ke informasi digital, dari katalog kartu ke Web OPAC,
dari rantai ke tag RFID, dari jurnal cetak ke jurnal online atau elektronik, dari kepemilikan ke akses,
dari akses di perpustakaan ke akses jauh dan desktop, dari fotokopi ke kopi digital, DDS disediakan
melalui e-mail sebagai pengganti pos atau faksimil, dari perpustakaan berdiri sendiri (stand alone) ke
jejaring informasi, dan dari perpustakaan fisik ke perpustakaan maya.
Pustakawan dan TI
Mengapa pustakawan harus merangkul teknologi. Profesional informasi mengadopsi
teknologi seperti komputasi, jaringan, Internet, data digital dan sebagainya, dan beradaptasi dengan
peru aha li gku ga kare a fokus uta a ereka adalah pe ggu a da pe e uha ke utuha informasi pengguna. Evolusi jejaring praktik pembelajaran dan penelitian melintasi disiplin dan
institusi merupakan sesuatu yang harus diketahui oleh pustakawan. Perpustakaan harus memahami
bagaimana yang terbaik untuk berkembang bersama perubahan, dan memerlukan bukti sebagai
Sikap Pengguna
Sikap pengguna dapat dibagi ke dalam dua kategori utama yaitu pengguna sebagai pencari
informasi yang cerdik teknologi dan pengguna yang tidak tahu teknologi . Dalam dunia berjejaring
datar di mana data dan konten mengalir lebih bebas, kemungkinan yang terjadi di perpustakaan
adalah desakan ke arah lingkungan pengguna jejaring (Dempsey, 2006). Di sisi lain, sikap pengguna
pencari informasi bisa berbeda didasarkan pada kompetensi mereka masing-masing.
Peran Pustakawan
Secara tradisional, pustakawan terbiasa untuk memilih, mencari, mengumpulkan,
mengorganisasikan, memelihara dan menjaga sumber daya perpustakaan. Pada era digital peran
pustakawan berubah menjadi negosiator, navigator, fasilitator, edukator, entreprenir, dan penyaring
informasi. Sebagai negosiator pustakawan dituntut memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi
kebutuhan pengguna. Sebagai navigator pustakawan harus memiliki kemampuan untuk menelusuri
lautan informasi dalam semua format. Pustakawan juga berperan sebagai fasilitator informasi dan
infrastruktur informasi. Sebagai edukator, pustakawan harus akrab dengan informasi dalam berbagai
format dan mampu melatih pengguna kapan saja diperlukan. Sebagai entreprenir berarti
pustakawan memiliki kemampuan untuk memasarkan pelayanan perpustakaan. Pustakawan juga
dituntut untuk bertindak sebagai penyaring informasi (information filter) dengan kemampuan untuk
menyediakan informasi yang benar, pada waktu yang tepat kepada orang yang tepat dari sumber
daya yang tepat.
Tantangan dan Peluang
Tantangan dan peluang dalam manajemen sumber daya adalah penyediaan informasi dari
berbagai sumber daya yang berbeda-beda (cetak, elektronik dan online), penggunaan sumber daya,
dan evaluasi penggunaan dan pengukuran dampak penggunaan sumber daya tersebut.
Perpustakaan juga harus menyediakan informasi tentang open access resources dan mendidik
pengguna tentang sumber daya tersebut. Tantangan lainnya adalah membangun repositori institusi
(IR). Selain itu, perpustakaan harus menyediakan kesatuan tanpa klim (seamless integration) semua
pangkalan data sumber daya elektronik dan online yang berbeda-beda. Pengetahuan yang memadai
tentang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) juga diperlukan agar perpustakaan terhindar dari klaim
atas kemungkinan penyalah-gunaan sumber daya tersebut.
Terdapat sejumlah tantangan dan peluang berkaitan dengan open access (OA). Literatur OA
(peer review), pendapatan, cetak, preservasi, prestise, peningkatan karir, pengindeksan, dan
dukungan pelayanan berkaitan dengan literatur ilmiah konvensional. Walaupun OA fokus pada
literatur di mana pengarangnya memberikan karyanya kepada dunia tanpa mengharapkan
pembayaran, tetapi literatur OA tidak gratis untuk diproduksi atau dipublikasikan (Suber, 2004).
Perpustakaan juga ditantang untuk mengembangkan repositori institusi. Repositori institusi
(IR) adalah suatu konsep kontemporer yang mengumpulkan dan membuat tersedia bagi pengguna
sebanyak mungkin dokumen yang dihasilkan oleh institusi. IR adalah satu jenis pangkalan data
sumber daya informasi digital, yang dapat diakses melalui Internet atau intranet. IR adalah versi
elektronik dokumen seperti makalah, buku, tesis, data set, program komputer, visualisasi, simulasi,
publikasi multimedia, arsip administratif, buku terbitan, bagian depan jurnal, dataset bibiliografis,
citra, berkas audio, berkas video, obyek pembelajaran, dan halaman web (Donohue, 2010). IR selain
berfungsi memberikan pelayanan OA bagi masyarakat luas, juga berfungsi untuk memelihara aset
institusi dan mensentralisasikan manajemen karya atau produk institusi. Untuk mendorong
pertumbuhan IR dan OA, Webometrics sejak tahun melakukan pemeringkatan IR yang didasarkan
pada indikator web (size, visibility, rich files dan scholar) untuk mengukur visibilitas global dan
dampak dari repositori tersebut (Ranking Web of World Repositories, 2011).
Kesimpulan
Perkembangan pesat dan luar biasa di bidang teknologi informasi dan komunikasi
mentransformasikan cara penanganan informasi dan kebiasaan pencarian informasi baik oleh
pustakawan maupun pengguna. Berkaitan dengan luasnya cakupan penggunaan TI di lingkungan
perpustakaan dan ekspektasi pengguna terhadap pelayanan berbasis TI, menuntut manajemen
perpustakaan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang TI.
Keterampilan lunak (soft skills) di bidang TI merupakan salah satu kompetensi utama yang harus
dimiliki oleh pustakawan saat ini. Oleh karena itu, sangat diperlukan program berkelanjutan
pelatihan professional informasi untuk pustakawan dan pelatihan literasi informasi bagi pengguna
perpustakaan. Pelatihan akan mempengaruhi persepsi, sikap dan opini tentang informasi yang
disajikan.
Rujukan
Answer.com (2011). ReferenceAnswers. <http://www.answers.com/topic/blog> (12/9/2011).
Contreas, Paula, Linda Klimczyk, and Laura K. Probst (2004). Expansion of Web-Based Library
Services in Large Research Libraries: A Penn State Case Study.
Dempsey, Lorcan (2006). The (Digital) Library Environment: Ten Years After. Ariadne, issue 46,
February 2006. < http://www.ariadne.ac.uk/issue46/dempsey/intro.html> (12/9/2011).
Donohue, Tim (Editor) (2010). DSPACE: EndUserFaq. <https://wiki.duraspace.org/display/
DSPACE/EndUserFaq> (12/9/2011).
Fremantle, Paul, Sanjiva Weerawarana, and Rania Khalaf (2002). Examining the emerging field of
Web Services and how it is integrated into existing enterprise infrastructures.
Communications of ACM, 2002, 45(10), 77-82. < http://cacm.acm.org/magazines/
2002/10/20752-enterprise-services/fulltext> (13/92011).
LIS Wiki (2011). <http://liswiki.org/wiki/Library_2.0> (12/9/2011).
Ranking Web of World Repositories (2011). <http://repositories.webometrics.info/ about.html>
(13/9/2011).
Suber, Peter (2004). A very brief introduction to open access. <http://www.earlham.edu/
~peters/fos/brief.htm> (12/9/2011).
Wikipedia (2011). <en.wikipedia.org/wiki/Blogs>. (12/9/2011).
Wikipedia (2011). <en.wikipedia.org/wiki/Podcast>. (12/9/2011).
Wikipedia (2011). <en.wikipedia.org/wiki/RS>. (12/9/2011).