• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERAKSI SIMBOL TORTOR NAMORA PULE DALAM UPACARA HORJA GODANG HAROAN BORU PADA MASYARAKAT ANGKOLA DI KOTA PADANGSIDIMPUAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "INTERAKSI SIMBOL TORTOR NAMORA PULE DALAM UPACARA HORJA GODANG HAROAN BORU PADA MASYARAKAT ANGKOLA DI KOTA PADANGSIDIMPUAN."

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

INTERAKSI SIMBOL TORTOR NAMORA PULE DALAM UPACARA

HORJA GODANG HAROAN BORU PADA MASYARAKAT

ANGKOLA DI KOTA PADANGSIDIMPUAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

SHEILA ROISYAH HTS

NIM. 2103340060

JURUSAN SENDRATASIK

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAK

SHEILA ROISYAH HTS, NIM 2103340060 Interaksi Simbol Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota Padangsidimpuan. Jurusan : Sendratasik Program Studi : Pendidikan Seni Tari. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan. 2015

Penelitian ini membahas tentang Tortor Namora Pule yang terdapat pada masyarakat Angkola di Kota Padangsidimpuan bertujuan untuk mengetahui struktur penyajian dan interaksi simbolnya.

Untuk membahas tujuan penelitian diatas, digunakan teori-teori yang berhubungan dengan topik penelitian, seperti pengertian Tortor, pengertian upacara, teori interaksi simbol, teori struktural dan teori sistem.

Waktu penelitian yang digunakan dalam membahas Interaksi Simbol Tortor

Namora Pule Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat

Angkola Di Kota Padangsidimpuan selama 2 bulan yaitu pada awal Desember sampai dengan Februari 2015. Tempat lokasi penelitian adalah daerah Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Populasi pada penelitian ini adalah 2 orang dari Lembaga Adat Kesenian Kota Padangsidimpuan, 2 pasang pengantin yang melakukan acara manortor, 5 orang pemain musik, 1 orang ketua adat setempat. Analisis data pada penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, struktur penyajian Tortor Namora Pule terdiri dari beberapa tahapan yaitu : Menuju Galanggang Panortoran, mengambil posisi, Makkobar, Manortor, Manogu, Manjalang, kembali ke Galanggang dan

Mardalan. Interaksi simbol yang terdapat pada Tortor Namora Pule tergambarkan

melalui sistem kekerabatan yang tertuang dalam keseluruhan Tortor yang ada pada Horja Godang Haroan Boru. Sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu mengikat antara keseluruhan Tortor terhadap Tortor Namora Pule. Keterikatan itu menyebabkan interaksi Tortor Namora Pule terhadap keseluruhan Tortor serta penonton. Interaksi simbol juga terlihat pada simbol gerak somba adat artinya menyembah, terjadi interaksi simbol yang memiliki makna sebagai bentuk penghormatan Namora Pule terhadap Raja, kedua orang tua dan penonton. Simbol

manartar dan mangido tua yang diartikan sebagai memberi dan menerima antara

mempelai pria dengan mempelai wanita. Pola lantai berhadapan antara kedua mempelai menunjukkan adanya interaksi yang erat antara Namora Pule. Musik iringan yang digunakan juga memiliki interaksi terhadap Namora pule, orang tua, kerabat dan penonton. Syair berisi tentang sejarah hidup, nasehat, harapan dan doa yang dituangkan kedalam syair onang-onang, syair-syair tersebut selalu ditujukan kepada Namora Pule.

(7)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, berkah dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penyusunan Skripsi berjudul “Interaksi Simbol Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota Padangsidimpuan” dapat diselesaikan dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Ibnu Hajar Damanik, M.Si selaku Rektor Universitas Negeri Medan.

2. Dr. Isda Pramuniati, M.Hum selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan.

3. Uyuni Widiastuti, M.Pd selaku Ketua Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan.

4. Nurwani S.S.T. M.Hum selaku Ketua Program Studi Pendidikan Tari Jurusan Sendratasik dan sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II Universitas Negeri Medan.

5. Dra. Tuti Rahayu, M.Si selaku Pembimbing Skripsi I.

6. Yusnizar Heniwaty, S.S.T, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademik 7. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Tari yang telah memberikan

(8)

iii

8. Terima Kasih kepada abang Sahala siregar Glr. Sutan Orang Kaya, dan Opung Ch. Sutan Tinggi Barani perkasa Alam yang telah banyak membantu penulis dengan penuh sabar.

9. Teristimewa kepada orang tua penulis Ibunda Rosni Siregar dan Ayahanda Syahrul Efendi Hts. Terima kasih atas bantuan moril, materil, do’a, dukungan, kesabaran dan perhatian yang tak henti-hentinya sehingga penulis mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Kakak tercinta Ery Silvana Siregar, S.STP dan adinda Sri Asyanti Koto yang selalu mendoakan dan membantu penulis.

10. dr. Rizky Ilham, terimakasih atas motivasi, support dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis.

11. Paul Silitonga, Wanda Maretha Piliang, S.H, Novi Handayani, Am.Keb, Ole, Ari Ridwan, Tuah Melati. Terima kasih atas kontribusi yang telah diberikan.

12. Sefrina, Jelita Fitri, Kak Dina atas semangat dan dukungan sehingga bersama-sama menyelesaikan pendidikan di Universitas Negeri Medan. 13. Desi Pelita Wati beserta seluruh teman Program Studi Pendidikan Tari

Angkatan 2010 yang selalu memberikan semangat kepada penulis.

Medan, Maret 2015 Penulis

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 7

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL .. 11

A. Landasan Teoritis ... 11

1. Pengertian Tortor ... 11

2. Pengertian Upacara ... 12

3. Teori Interaksi Simbol... 13

4. Teori Struktural ... 14

5. Teori sistem ... 15

B. Kerangka Konseptual ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 20

A. Metodologi Penelitian ... 20

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 20

1. Lokasi Penelitian ... 20

(10)

C. Populasi Dan Sampel ... 21

1. Populasi ... 21

2. Sampel ... 22

D. Teknik Pengumpulan Data ... 22

1. Observasi ... 22

2. Wawancara ... 23

3. Studi Kepustakaan ... 23

4. Dokumentasi ... 26

E. Teknik Analisis Data ... 27

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 29

A. Gambaran Umum Kota Padangsidimpuan ... 29

1. Letak Geografis Kota Padangsidimpuan ... 29

2. Keadaan Penduduk ... 32

3. Mata Pencaharian Dan Sumber Daya Alam ... 33

B. Sistem kekerabatan ... 34

C. Struktur Penyajian Tortor Namora Pule ... 38

D. Inrteraksi Simbol Tortor Namora Pule ... 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 62

1. Kesimpulan ... 62

2. Saran ... 63

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk, Kepadatan, Distribusi Penduduk Kota

Padangsidimpuan Menurut Kecamatan Tahun 2013 ... 32

Tabel 4.2. Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Dan Jenis Kelamin ... 34

Tabel 4.3. Sistem Kekerabatan Masyarakat Angkola ... 36

Tabel 4.4. Sktuktur Penyajian Tortor Namora Pule ... 40

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Bagan Kerangka Konseptual ... 19

Gambar 4.1. Peta Kota Padangsidimpuan ... 29

Gambar 4.2. Persentase Luas Daerah Menurut Kecamatan ... 31

Gambar 4.3. Pembagian Tortor menurut Sistem Kekerabatan Dalihan Na Tolu ... 37

Gambar 4.4. Somba Adat ... 54

Gambar 4.5. Manartar Dan Manyomba ... 55

(13)

1

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau. Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki kebudayaan-kebudayaan dan suku yang beraneka ragam. Dalam situs resmi Wikipedia juga tercatat 247 daftar suku bangsa yang hidup di Indonesia, serta masih banyak lagi suku yang belum terdaftar. Diperkirakan Indonesia memiliki ribuan suku yang tersebar dari sabang sampai merauke. Ribuan suku tersebut memiliki keanekaragaman budaya yang belum pernah tersorot dan diketahui khalayak ramai. Salah satu dari ribuan suku yang tersebar di Nusantara adalah suku Batak. Suku Batak adalah suku yang tersebar di wilayah provinsi Sumatera Utara. Suku batak juga terdiri dari beberapa macam suku diantaranya : Karo, Simalungun, Toba, Mandailing, Angkola dan lain sebagainya. (id.m.wikipedia. org/wiki/Indonesia).

Dalam Koentjaraningrat (2004:9) “Kebudayaan menurut hemat saya antara lain berarti : keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannnya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu,…”. Kebudayaan terikat pada ruang dan waktu, oleh karena itu kebudayaan senantiasa mengalami perubahan. Perubahan budaya itu merupakan proses adaptasi sesuai dengan keadaan lingkungan hidup manusia. Adaptasi yang dilakukan oleh kebudayaan dipengaruhi oleh kontaknya dengan kebudayaan lain pada masa lampau dan masa kini, sejarah tradisi, cara hidup dan cara-cara mengantisipasi

(14)

2

2

alam semesta. Dalam hal ini manusia menentukan sikap, cita-cita dan nilai-nilai sesuai dengan kebutuhannya dalam lingkungan tertentu dan pada waktu tertentu pula. Dalam proses adapatasi itu terciptalah nilai budaya, yaitu konsep-konsep mengenai apa yang dianggap bernilai, berharga, luhur dan mulia, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat. Melalui proses sosialisasi, setiap individu anggota masyarakat telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat, sehingga konsep-konsep itu berakar secara mendalam didalam jiwanya.

Pada dasarnya, masalah adat dan budaya tidak bisa lepas dari kehidupan manusia di dunia ini. Begitu juga dengan bangsa Indonesia, masyarakatnya sangat dikenal dengan adat dan budayanya. Jika kita perhatikan adat dan budaya yang berlaku pada masyarakat Indonesia, kita akan mengetahui bahwa jenisnya sangat beragam. Akan tetapi, tidak semua budaya tersebut dikenal oleh masyarakat Indonesia, hanya beberapa budaya saja yang populer di kalangan mayoritas penduduk Indonesia.

Suku Angkola atau batak Angkola adalah salah satu suku yang terbesar di wilayah Angkola Tapanuli Selatan. Suku ini berdiam dan tersebar di seluruh wilayah kabupaten Tapanuli Selatan dan daerah kota Padangsidimpuan, provinsi Sumatera Utara. Angkola adalah suatu kelompok masyarakat dari etnis Batak yang menduduki wilayah Angkola sejak berabad-abad yang lalu. Nama Angkola

diyakini berasal dari nama sebuah sungai “Batang Angkola” yang berada di

(15)

3

3

M) yang berasal dari India Selatan yang memasuki Angkola melalui daerah Padang Lawas.

Setiap suku memiliki adat dan kebudayaan masing-masing, tidak terkecuali pada masyarakat suku Angkola. Masyarakat suku Angkola memiliki adat dan kebudayaan tersendiri. Ch. Sutan (2012) mengatakan bahwa masyarakat Angkola memiliki berbagai macam seni budaya yang diwariskan oleh Nenek Moyang terdahulu, sebagai mana dikemukakannya bahwa :

“ Berbagai macam seni yang dapat kita warisi sampai sekarang ini : a. Seni suara yang disebut ende

b. Seni tari yang disebut tortor c. Seni musik yang disebut gondang

d. Seni ukir, lukis, pahat yang disebut gorga (seni rupa) e. Seni Sastra Bahasa yang disebut hata hapantunon f. Seni Olahraga yang disebut uti-utian

g. Seni Bela diri yang disebut partahanan”.

(16)

4

4

Tortor dalam kehidupan masyarakat Angkola pada dasarnya dilaksanakan

dalam konteks adat. Tortor diiringi oleh gondang dan onang-onang. Menurut pemahaman masyarakat Angkola Tortor tidak sama dengan tari. Sebab Tortor adalah suatu media utama yang memiliki nilai-nilai kekerabatan bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara adat. Tortor memiliki aturan-aturan tertentu dalam pelaksanaannya, sehingga tidak boleh sembarangan dalam manortor. Tortor pada masyarakat batak Angkola sendiri tidak memiliki kriteria penari khusus, serta teknik dan pakem yang cukup jelas. Setiap orang yang hadir dalam upacara adat dapat manortor dan diharapkan dapat mengambil bagian di dalamnya, diartikan sebagai bentuk penghargaan dan rasa persaudaraan yang erat (solkot) para tamu kepada tuan rumah atau kedua mempelai. Selain panortor ada pula yang disebut sebagai pangayapi. Pangayapi berada pada posisi belakang panortor. Tortor yang dilaksanakan dalam upacara adat perkawinan masyarakat Angkola memiliki struktur atau urutan susunan panortor, dalam arti ketika Horja sedang berlangsung tidak sembarangan dalam menyusun urutan panortor dan pangayapi. Urutan tersebut telah disusun sedemikian rupa sesuai dengan sistem kekerabatan

Dalihan Na Tolu.

Adat Dalihan Na Tolu pada masyarakat Angkola kota Padangsidimpuan sudah dikenal sejak berabad-abad lalu dan terus dilestarikan hingga sekarang. Semua tata cara kehidupan masyarakat Angkola telah diatur sedemikian rupa sehingga tidak dapat lepas dari sistem kekerabatan adat Dalihan Na Tolu. Adat

Dalihan Na Tolu begitu kental tercermin pada setiap kegiatan yang dilaksanakan

(17)

5

5

hukum adat, tata krama dan sopan santun, serta masalah pernikahan dan kematian (siriaon dan siluluton).

Pada upacara adat perkawinan Horja Godang Haroan Boru terdapat sebelas Tortor yang akan dilaksanakan. Jenis-jenis Tortor tersebut sangat beragam sesuai dengan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu. Diantara sebelas Tortor itu, ada yang disebut dengan Tortor Namora Pule. Tortor ini adalah Tortor yang dilaksanakan dalam acara inti upacara Horja Godang Haroan Boru. Tortor

Namora Pule di dilaksanakan secara berpasangan oleh pengantin itu sendiri.

Tortor ini juga dapat dilakukan oleh lebih dari satu pasang pengantin. Tortor ini

biasanya berlangsung kurang lebih selama 30 menit, diiringi dengan musik

onang-onang yang syairnya menceritakan tentang biografi kedua pengantin.

Syair tersebut dilantukan oleh paronang-onang, dengan menceritakan kehidupan mempelai khususnya mempelai pria sebagai pihak yang mengadakan acara mulai dari dalam kandungan, lahir kedunia, mengecam pendidikan, hingga perkawinan berlangsung.

Dalam penyajiannya sendiri Tortor Namora Pule ini dilaksanakan pada urutan kesepuluh, yaitu seusai Tortor Raja Panusuna Bulung. Ditandai dengan bunyi gondang boru na mora untuk mengiringi dan mengelu-elukan pengantin.

Bayo dohot Boru berjalan ke Galanggang Panortoran dengan langkah-langkah

(18)

6

6

tukang jeir menyerukan syair-syair yang berisikan harapan dan doa kepada Allah

agar kedua pengantin tersebut mendapat rezeki yang berkah, memperoleh mata pencaharian yang baik, memiliki keturunan yang banyak, dan menjadi tempat bertemunya sanak keluarga, kerabat dan handai tolan.

Berdasarkan fenomena tersebut, timbul permasalahan yang membutuhkan penelitian secara mendalam yang ingin penulis ketahui pada Tortor Namora Pule dalam perkawinan masyarakat Angkola di kota Padangsidimpuan. Penulis begitu sering menyaksikan upacara adat perkawinan yang berlangsung pada Masyarakat Angkola di Kota Padangsidimpuan. Penulis juga pernah ikut manortor dalam upacara Horja Godang Haroan Boru. Penelitian yang akan menjadi concern penulis dalam skripsi ini ialah interaksi simbol yang terdapat pada Tortor Namora

Pule dalam upacara Horja Godang Haroan Boru pada masyarakat Angkola di

kota Padangsidimpuan. Penulis ingin mengetahui interaksi yang ada pada Tortor

Namora Pule terhadap masyarakatnya dan terhadap sistem kekerabatan Dalihan

Na Tolu yang ada pada masyarakat Angkola di kota Padangsidimpuan. Dengan

demikian penulis mengangkat judul “Interaksi Simbol Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota

Padangsidimpuan” sebagai judul penelitian.

B. Identifikasi Masalah

Sesuai dengan judul skripsi ini Interaksi Simbol Tortor Namora Pule

dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru pada Masyarakat Angkola di Kota

(19)

7

7

menarik untuk diteliti. Ada beberapa hal yang penulis tentukan sebagai identifikasi masalah. Adapun identifikasi masalah tersebut sebagai berikut:

1. Bagaimana Keberadaan Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja

Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota

Padangsidimpuan?

2. Bagaimana Sejarah Munculnya Tortor Namora Pule Terhadap Masyarakat Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota Padangsidimpuan?

3. Bagaimana Struktur Penyajian Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja

Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota

Padangsidimpuan?

4. Bagaimana Interaksi Simbol Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja

Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota

Padangsidimpuan?

C. Pembatasan Masalah

(20)

8

8

1. Bagaimana Sruktur Penyajian Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja

Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota

Padangsidimpuan?

2. Bagaimana Interaksi Simbol Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja

Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota

Padangsidimpuan?

D. Rumusan Masalah

Menurut Ulber (2009:54) “Perumusan masalah adalah konteks penelitian yang mengarahkan pelaksanaan dan pencapaian tujuan penelitian”. Berdasarkan latar belakang di atas, rasanya sangat perlu meneliti dan mengkaji Interaksi Simbol Tortor Namora Pule dalam Upacara Adat Perkawinan Horja Godang

Haroan Boru pada masyarakat Angkola di kota Padangsidimpuan, dalam hal

pesta perkawinan Margondang. Karena dalam acara tersebut banyak kita dapati lambang-lambang yang kalau dilihat dengan mata kasar tidak berarti apa-apa, akan tetapi setelah dipelajari dan diteliti lebih lanjut, memiliki makna yang sangat dalam. Untuk itu perlu rasanya penulis untuk membuat rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

“Bagaimana Interaksi Simbol Tortor Namora Pule dalam Upacara Horja

(21)

9

9 E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini menggambarkan bagaimana jawaban atau

pertanyaan-pertanyaan penelitian yang dikemukakan akan memberikan informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan administratif, praktis atau teoritis yang sesuai deengan pertanyaan penelitian, maka tujuan rumusan masalah ini adalah:

1. Untuk Mengetahui Struktur Penyajian Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota Padangsidimpuan.

2. Untuk Mengetahui Interaksi Simbol Tortor Namora Pule Dalam Upacara Horja Godang Haroan Boru Pada Masyarakat Angkola Di Kota Padangsidimpuan.

F. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian tentu memliki manfaat baik bagi penulis maupun pembaca. Adapun manfaat penelitian ini dapat bermanfaat untuk :

1. Bagi penulis kiranya bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai interaksi simbol Tortor Namora Pule dalam upacara

Horja Godang Haroan Boru pada masyarakat Angkola di kota

Padangsidimpuan.

(22)

10

10

3. Mengenal kebudayaan masyarakat Angkola tentang Tortor Namora Pule dalam upacara Horja Godang Haroan Boru pada masyarakat Angkola di kota Padangsidimpuan.

4. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber acuan referensi bagi peneliti lainnya yang hendak meneliti lebih jauh.

(23)

62

62

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dilapangan berdasarkan uraian yang telah dijabarkan mulai dari latar belakang sampai kepada pembahasan. Penulis memperoleh beberapa kesimpulan diantaranya :

1. Masyarakat Angkola di Kota Padangsidimpuan masih menjunjung tinggi adat dan kebudayaannya. Terlihat dari banyaknya pesta Horja Godang yang terus dilaksanakan penduduk setempat. Kebudayaan masyarakat Angkola telah banyak mengalami perubahan baik dari segi gerakan Tortor, Busana dan aksesoris yang dipakai Namora Pule, serta aturan-aturan lama pada Horja Godang Haroan Boru yang dianggap menyalahi agama. Masyarakat Angkola di Kota Padangsidimpuan menjunjung tinggi Dalihan

Na Tolu dalam segala upacara adat. Unsur Dalihan Na Tolu pada

masyarakat Angkola di kota Padangsidimpuan adalah berawal dari

Kahanggi, Anak Boru dan Mora.

2. Tortor Namora Pule adalah tarian berpasangan yang dilaksanakan oleh

pengantin. Tortor ini termasuk kedalam jenis tarian upacara. Tortor

Namora Pule adalah satu-satunya Tortor yang memiliki pola lantai

berhadapan dan berdurasi selama kurang lebih tiga puluh menit. Tortor ini dilaksanakan setelah Tortor Raja Panusunan Bulung. Sebagai lambang bahwa Raja telah merestui dan mengizinkan acara tersebut terlaksana.

Tortor Namora Pule memiliki Somba Adat pada pembuka atau salam

(24)

63

63

pembuka namun tidak memiliki penutup. Setelah Tortor ini dilaksanakan, kedua mempelai selanjutnya manjalang atau meminta maaf kepada kedua orang tua dihadapan orang banyak. Setiap Tortor yang dilaksanakan dalam acara Horja Godang Haroan Boru ini memiliki hubungan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.

3. Gondang Dalihan Na Tolu adalah musik iringan yang digunakan dalam

pelaksanaan Tortor pada acara ini, termasuk musik iringan Tortor Namora

Pule sendiri. Nyanyian syair yang dilantunkan disebut onang-onang.

Onang-onang yang dilantukan adalah sejarah ompu parsadaan panortor.

Onang-onang dalam setiap Tortor selalu akan dikaitkan dengan Namora

Pule, gunanya agar para penonton dan masyarakat sekitar mengetahui

partuturon keluarga tersebut.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dijabarkan diatas, maka penulis dapat memberi beberapa saran, anatara lain sebagai berikut :

1. Disarankan kepada seluruh masyarakat Angkola di kota Padangsidimpuan untuk tetap konsisten dalam menjalankan dan mempertahankan adat istiadat yang ada.

(25)

64

64

pihak terkait terus menulis buku tentang Adat istiadat yang begitu minim ditemukan.

3. Instansi terkait maupun lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan dalam memelihara kesenian daerah perlu mengambil pembinaan pengembangan Tortor, serta menampilkan acara-acara yang berkaitan dengan kebudayaan Angkola, agar nilai-nilai budaya tidak luntur oleh budaya-budaya baru yang dikhawatirkan akan mengikis rasa persatuan dan kesatuan pada generasi muda.

4. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang adat kebudayaan masyarakat Angkola. 5. Perlu adanya pendokumentasian serta penelitian lebih lanjut tentang Tortor

(26)

65

65

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pertanahan Nasional Kota Padangsidimpuan Tahun 2013.

Badan Pusat Statistik Kota Padangsidimpuan. 2013. Padangsidimpuan Dalam Angka Tahun 2013.

Bungin Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma, dan Diskursus

Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media

Group.

Barani Ch. Sutan Tinggi. 2012. Happu-Bulang Costum Adat. Medan: Penerbit Mitra.

Barani Ch. Sutan Tinggi. 2012. Surat Tumbaga Holing. Medan: Penerbit Mitra. Barani Ch. Sutan Tinggi. 2013. Gondang Tor-tor Gordang Sambilan

Angkola-Sipirok Padang Lawas Mandailing. Medan: Penerbit Mitra.

Jenks Chris. 2013. Culture Study Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Setiawaty Debby. 2011. Interaksionisme Simbolik dalam Kajian Sejarah, Jurnal

Agastya.

Harian Dini. 2012. Makna Simbol Tor-tor Naposo Bulung Pada Masyarakat

Angkola.

Kusumastuti Eny. 2006. Laesan Sebuah Fenomena Kesenian Pesisir: Kajian

Interaksi Simbolik antara Pemain dan Penonton. : Harmonika Jurnal

Pengetahuan dan Pemikiran Seni.

Ningsih Inna Rustina. 2012, Konsep Diri Anggota “The Sexy” di Kota Bandung

(Studi Fenomenologis dengan Pendekatan Interaksi Simbolik tentang

Konsep Diri Wanita Sexy Dancer “The Sexy” di Kota Bandung).

Bandung: UNIKOM.

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama 2004.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Maulidyandari Monica. (2014), Interaksi Simbol Tari Sampayo Pada Masyarakat

(27)

66

66

Nurwani. 2012. Pengetahuan Seni Tari. Universitas Negeri Medan.

Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna Di Jakarta Sahumaliangna. 1993,

Horja Adat Istiadat Dalihan Na Tolu. Jakarta : PT Grafiti.

Hedwig Rinda. 2010. Teori Sistem. Jakarta : Universitas Bina Nusantara. Soeprapto Riyadi. 2002. Interaksionisme Simbolik. Malang : Averroes Press. Sumarsih Sri, B.A, et al. 1990. Upacara Tradisional Labuhan Kraton Yogyakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Silalahi Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung : Refika Aditama.

Simbolon Yohana Permatasari. 2014. Struktur Penyajian Gondang Haroan Boru

Pada Upacara Perkawinan Horja Godang Haroan Boru Masyarakat Mandailing Di Desa Portibi Julu Kecamatan Portibi Kabupaten Padang lawas Utara.

(http://rumahmakalah.blogspot.com/2010/01/teori-struktural-fungsional-emile.html?m=i ).

(http://fauziteater76.blogspot.com/2013/07/claude-levi-strauss-si-empu.html?m=I 2013).

Gambar

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk, Kepadatan, Distribusi Penduduk Kota
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Konseptual  ..................................................

Referensi

Dokumen terkait

menentukan lokasi dan waktu dalam pelaksanaan program pada musyawarah atau rapat; (2) partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan, wujud nyata dalam tahap ini dapat

“penunjuk”. Jenis-jenis deiksis yang penulis kaji ada empat yaitu deiksis persona, sosial, waktu dan tempat. Deiksis tersebut merupakan kata tertentu yang berada dalam

Hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa sikap, konsisten dan pengawasan responden dalam menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan tidak hanya dilakukan