• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis human capital buruh jahit pada industri konfeksi (Suatu studi perbandingan antara industri besar dan industri sedang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis human capital buruh jahit pada industri konfeksi (Suatu studi perbandingan antara industri besar dan industri sedang)"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS

HUMAN CAPITAL

BURUH JAHIT

PADA INDUSTRI KONFEKSI

(SUATU STUDI PERBANDINGAN ANTARA INDUSTRI SEDANG

DAN INDUSTRI BESAR)

Oleh:

RIZKY OKTARINA COSTA

A14301012

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

RIZKY OKTARINA COSTA. Analisis Human Capital Buruh Pada Industri

Konfeksi (Suatu Studi Perbandingan: Industri Sedang dan Industri Besar), Pembimbing: EKA INTAN KUMALA PUTRI

Konsep sumberdaya manusia saat ini mengacu kepada kepada potensi yang dimiliki manusia dan dapat ditingkatkan melalui pendidikan, peningkatan kesehatan dan migrasi. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia pada dasarnya merupakan faktor kunci keberhasilan pembangunan nasional. Studi ini menitikberatkan pada industri konfeksi. Tahun 2000, hanya 4.4 persen jumlah tenaga kerja di Indonesi merupakan lulusan perguruan tinggi dan meningkat menjadi 4.8 persen ditahun 2003. Artinya, lebih dari 95 persen tenaga kerja di Indonesia bukan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan berkualitas. Rendahnya tingkat pendidikan berimplikasi pada tingkat upah dan tingkat produktivitas. Semakin tinggi kualitas yang dimiliki tenaga kerja, maka semakin tinggi tingkat produktivitasnya yang nantinya akan meningkatkan produktivitas perusahaan dan produktivitas nasional.

Tujua n yang ingin dicapai pada studi ini adalah: 1) Mengidentifikasi karakteristik buruh pada industri konfeksi. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas buruh pada masing- masing industri konfeksi. 3) Menganalisis Human Capital dalam meningkatkan produktivitas buruh konfeksi dan membandingkan Human Capital buruh pada industri sedang dengan industri besar.

Studi ini melibatkan 32 orang responden pada industri sedang serta 40 orang responden pada industri besar. Pengambilan sampel dilakukan secara Multiple Stage Sampling. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan metode statistika deskriptif untuk menggambarkan karakteristik buruh dan statistika inferensia untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas buruh, yaitu dengan menggunakan model regresi linier berganda dengan metode pendugaan kuadrat terkecil biasa (OLS/ Ordinary Least Square). Alat yang digunakan untuk mengolah data yang diperoleh adalah SPSS 12 for Windows dengan Enter Method dan Microsoft Exel.

Pada industri sedang rata-rata jenis kelamin adalah laki- laki dan industri besar adalah perempuan. Umur rata-rata buruh pada industri sedang adalah 25.937 tahun dan pada industri besar adalah 18.625 tahun. Lama pendidikan formal buruh pada industri sedang adalah setara dengan kelas 2 SLTP sedangkan pada industri besar setara dengan kelas 1 SLTP. Pengalaman kerja rata-rata pada industri sedang adalah selama 5,569 tahun dan industri besar selama 1.173 tahun. Alokasi waktu bekerja rata-rata pada industri sedang adalah 3588 jam per tahun dan 2496 jam per tahun pada industri besar. Pendapatan rata-rata buruh pada industri sedang adalah Rp. 10.406.250 per tahun dan pada industri besar adalah Rp. 7.537.200 per tahun sehingga pendapatan buruh pada industri sedang lebih besar dari pada buruh pada industri besar. Jumlah tanggungan buruh pada industri sedang adalah 1,156 orang dan pada industri besar adalah 0.125 orang. Biaya pelatihan pada industri sedang rata-rata adalah Rp. 180.468 dan pada industri besar sebasar Rp. 102.750.

(3)

peubah bebasnya. VIF= 1.169-4.654 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikoliniaritas pada model. Model yang diperoleh adalah P = 5526.541 – 417.799 JK + 23.292 UM + 9.025 PEND + 21.870 PENG – 1.158 ALO + 0.000 PENDP – 180.317 TANGG + 519.470 STA – 45.696 CAR – 0.003 BIAYPLT + 473.396 LAMPLT.

Pada industri besar, peubah yang berpengaruh positif terhadap produktivitas adalah lama pendidikan formal, pengalaman kerja, jumlah tanggungan, spesifikasi kerja, status pekerjaan dan biaya pelatihan. Dari peubah-peubah terseb ut, alokasi waktu bekerja pada á = 99%, pengalaman kerja pada á = 95%, lama pendidikan formal pada á = 85% dan spesifikasi kerja pada á = 80% berpengaruh nyata terhadap produktivitas buruh. R2 = 58.5%, sebanyak 58.5 persen variasi produktivitas buruh jahit oleh peubah bebasnya. VIF= 1.066-2.305 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikoliniaritas pada model. Model yang diperoleh adalah P = 1281.520 – 0.589 UM + 2.830 PEND + 5.676 PENG – 0.069 ALO + 3.988 TANGG + 8.508 SPE – 0.484 STA – 16.510 CAR + 0.000 BIAYPLT

NPV merupakan nilai dari pelatihan dapat meningkatkan nilai sekarang dari arus penghasilan seumur hidup dengan menggunakan beberapa tingkat suku bunga. Pada berbagai tingkat suku bunga yang dianalisis menunjukkan bahwa, NPV industri besar lebih besar dari pada NPV industri sedang. Hal ini terjadi karena tingkat upah yang diterima buruh dan tingkat produktivitas buruh masing-masing industri berbeda.

Analisis Net B/C dilakukan untuk menyatakan apakah latihan menjahit yang dilakukan buruh layak atau tidak dan apakah dapat mempengaruhi tingkat produktivitas buruh sehingga keputusan untuk mengikuti pelatihan tersebut adalah tepat atau tidak. Pada tingkat suku bunga 12 persen dan 17 persen, pelatihan yang diikti buruh layak dilaksanakan dan memepengaruhi produktivitas pada masing-masing industri. Menggunakana tingkat suku bunga 18 persen pada industri sedang dan 89 persen pada industri besar, pelatihan sudah tidak layak lagi dikuti karena Net B/C yang diperoleh < 1.

Analisis terhadap tingkat internal dari pelatihan yang dilakukan adalah untuk mengetahui bahwa pelatihan yang dilakukan buruh menguntungkan atau tidak. Dengan menggunakan tingkat suku bunga 12 persen dan 17 persen, pelatihan menjahit yang dilakukan layak dan dapat menguntungkan buruh. Lebih mengunt ungkan.

(4)

ANALISIS

HUMAN CAPITAL

BURUH JAHIT

PADA INDUSTRI KONFEKSI

(SUATU STUDI PERBANDINGAN ANTARA

INDUSTRI SEDANG DAN INDUSTRI BESAR

)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

RIZKY OKTARINA COSTA

(A14301012)

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Judul : Analisis Human Capital Buruh Jahit Pada Industri

Konfeksi (Suatu Studi Perbandingan antara Industri

Besar dan Industri Sedang)

Nama : Rizky Oktarina Costa

NRP : A 14301012

Menyetujui

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri. MS

NIP 131.918.659

Mengetahui

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham. M. Agr

NIP 130.422.698

(6)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI

BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH

DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN

TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

BOGOR, FEBRUARI 2006

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 24 Oktober

1983 dari ayah (Alm) Kosfi Syafrisno dan ibu Dra. Sastra Ermita Hamid, sebagai

anak pertama dari empat bersaudara. Penulis memulai pendidikannya pada TK

Aisyah I, Muara Panas, pada tahun 1988. Tahun 1995 penulis lulus dari SDN 01

Muara Panas, Solok. Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan studi di MTsN Koto

Baru, Solok. Selanjutnya lulus dari SMUN 01 Bukit Sundi, Solok pada tahun

2001. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Insitut Pertanian

Bogor, Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya melalui jalur USMI

(Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama di IPB, penulis aktif terlibat diberbagai kepanitiaan di kampus dan

di external penulis aktif pada HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Bogor.

Penulis dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Umum Bidang Keperempuanan Tahun

2005-2006 dan sebagai Sekretaris Umum KOHATI (Korps HMI-Wati) Cabang

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

karunia-Nya yang tidak terhingga sehingga kita masih diberikan kesempatan

untuk mengabdi pada-Nya dalam mendapatkan ridho-Nya. Shalawat dan salam

saya haturkan kepada junjungan dan suri tauladan kita Rasullullah SAW yang

telah berjuang keras untuk memberikan pencerahan pada umat manusia.

Human Capital merupakan hal yang sangat penting dalam peningkatan

produktivitas tenaga kerja. Human Capital berhubungan dengan pendidikan dan

latihan, migrasi penduduk untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak,

tingkat konsumsi pangan dan gizi serta tingkat kesehatan yang dimiliki setiap

sumberdaya manusia. Untuk itu diperlukan kerja keras dari berbagai pihak dalam

peningkatan human capital ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam pembuatan laporan penelitian ini. Semoga laporan penelitian ini

bermanfaat.

Bogor, Februari 2006

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS, selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian

skripsi ini.

2. Prof. Sjafri Mangkuprawira dan Adi Hadianto, SP, selaku dosen-dosen

penguji

3. Ayahanda (Alm) Prof. Kadirun Yahya dan Ibunda Herlina atas

bimbingannya

4. Keluarga tercinta, papa (Alm) Kosfi Syafrisno, mama Dra. Sastra Ermita

Hamid, (Alm) Hj. Nurkalat, Redho Apraldo Costa, Resti Rahmi Khairati

Costa dan Reynaldho Revilla Costa

5. Keluarga Besar H. Abdul Hamid Daud, terutama Mak Dang Muchlis

Hamid, SE, MBA, Mak Unyiang Helfi Hamid, Mak Ngah (Alm) Abrar

Hamid, Mak Etek Azwar Hamid dan Mak Uncu Drs. Asnawi Hamid

6. Bapak Indra, Bapak Zainal, Bapak Jhon dan Uda Irwan selaku pemilik

perusahaan serta Aa Sudrajat dan Teguh F. S atas bantuannya selama

penelitian yang penulis lakukan.

7. Teman-teman HMI Cabang Bogor dan KOHATI, Ba Jay, Ummi, Apit,

Risti, Achi, Eko Bule, Ba Day, Hendra Rambe, Eka Yee, Febria Carolina

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...i

DAFTAR TABEL...iii

DAFTAR GAMBAR...iv

DAFTAR LAMPIRAN...vi

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... .1

1.2. Perumusan Masalah...3

1.3. Tujuan Penelitian...6

1.4. Kegunaan Penelitian...6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumberdaya Manusia ...7

2.2. Teori Human Capital...10

2.2.1. Pendidikan dan Pelatihan...11

2.2.2. Pangan, Gizi dan Kesehatan...17

2.3. Produktivitas Tenaga Kerja ...17

2.4. Industri Besar dan Industri Sedang ...21

2.5. Penelitian Terdahulu ...24

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis...27

3.1.1. Regresi Linear Berganda ...27

3.1.2. Analisa Kelayakan Human Capital...30

3.2. Kerangka Operasional...31

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...36

4.2 Jenis dan Sumber Data ...36

4.3 Metode Pengambilan Sampel...36

4.4 Metode Analisis Data ...37

4.5 Asumsi dan Hipotesis...39

4.6 Definisi Operasional...41

(11)

ANALISIS

HUMAN CAPITAL

BURUH JAHIT

PADA INDUSTRI KONFEKSI

(SUATU STUDI PERBANDINGAN ANTARA INDUSTRI SEDANG

DAN INDUSTRI BESAR)

Oleh:

RIZKY OKTARINA COSTA

A14301012

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

RINGKASAN

RIZKY OKTARINA COSTA. Analisis Human Capital Buruh Pada Industri

Konfeksi (Suatu Studi Perbandingan: Industri Sedang dan Industri Besar), Pembimbing: EKA INTAN KUMALA PUTRI

Konsep sumberdaya manusia saat ini mengacu kepada kepada potensi yang dimiliki manusia dan dapat ditingkatkan melalui pendidikan, peningkatan kesehatan dan migrasi. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia pada dasarnya merupakan faktor kunci keberhasilan pembangunan nasional. Studi ini menitikberatkan pada industri konfeksi. Tahun 2000, hanya 4.4 persen jumlah tenaga kerja di Indonesi merupakan lulusan perguruan tinggi dan meningkat menjadi 4.8 persen ditahun 2003. Artinya, lebih dari 95 persen tenaga kerja di Indonesia bukan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan berkualitas. Rendahnya tingkat pendidikan berimplikasi pada tingkat upah dan tingkat produktivitas. Semakin tinggi kualitas yang dimiliki tenaga kerja, maka semakin tinggi tingkat produktivitasnya yang nantinya akan meningkatkan produktivitas perusahaan dan produktivitas nasional.

Tujua n yang ingin dicapai pada studi ini adalah: 1) Mengidentifikasi karakteristik buruh pada industri konfeksi. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas buruh pada masing- masing industri konfeksi. 3) Menganalisis Human Capital dalam meningkatkan produktivitas buruh konfeksi dan membandingkan Human Capital buruh pada industri sedang dengan industri besar.

Studi ini melibatkan 32 orang responden pada industri sedang serta 40 orang responden pada industri besar. Pengambilan sampel dilakukan secara Multiple Stage Sampling. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan metode statistika deskriptif untuk menggambarkan karakteristik buruh dan statistika inferensia untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas buruh, yaitu dengan menggunakan model regresi linier berganda dengan metode pendugaan kuadrat terkecil biasa (OLS/ Ordinary Least Square). Alat yang digunakan untuk mengolah data yang diperoleh adalah SPSS 12 for Windows dengan Enter Method dan Microsoft Exel.

Pada industri sedang rata-rata jenis kelamin adalah laki- laki dan industri besar adalah perempuan. Umur rata-rata buruh pada industri sedang adalah 25.937 tahun dan pada industri besar adalah 18.625 tahun. Lama pendidikan formal buruh pada industri sedang adalah setara dengan kelas 2 SLTP sedangkan pada industri besar setara dengan kelas 1 SLTP. Pengalaman kerja rata-rata pada industri sedang adalah selama 5,569 tahun dan industri besar selama 1.173 tahun. Alokasi waktu bekerja rata-rata pada industri sedang adalah 3588 jam per tahun dan 2496 jam per tahun pada industri besar. Pendapatan rata-rata buruh pada industri sedang adalah Rp. 10.406.250 per tahun dan pada industri besar adalah Rp. 7.537.200 per tahun sehingga pendapatan buruh pada industri sedang lebih besar dari pada buruh pada industri besar. Jumlah tanggungan buruh pada industri sedang adalah 1,156 orang dan pada industri besar adalah 0.125 orang. Biaya pelatihan pada industri sedang rata-rata adalah Rp. 180.468 dan pada industri besar sebasar Rp. 102.750.

(13)

peubah bebasnya. VIF= 1.169-4.654 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikoliniaritas pada model. Model yang diperoleh adalah P = 5526.541 – 417.799 JK + 23.292 UM + 9.025 PEND + 21.870 PENG – 1.158 ALO + 0.000 PENDP – 180.317 TANGG + 519.470 STA – 45.696 CAR – 0.003 BIAYPLT + 473.396 LAMPLT.

Pada industri besar, peubah yang berpengaruh positif terhadap produktivitas adalah lama pendidikan formal, pengalaman kerja, jumlah tanggungan, spesifikasi kerja, status pekerjaan dan biaya pelatihan. Dari peubah-peubah terseb ut, alokasi waktu bekerja pada á = 99%, pengalaman kerja pada á = 95%, lama pendidikan formal pada á = 85% dan spesifikasi kerja pada á = 80% berpengaruh nyata terhadap produktivitas buruh. R2 = 58.5%, sebanyak 58.5 persen variasi produktivitas buruh jahit oleh peubah bebasnya. VIF= 1.066-2.305 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikoliniaritas pada model. Model yang diperoleh adalah P = 1281.520 – 0.589 UM + 2.830 PEND + 5.676 PENG – 0.069 ALO + 3.988 TANGG + 8.508 SPE – 0.484 STA – 16.510 CAR + 0.000 BIAYPLT

NPV merupakan nilai dari pelatihan dapat meningkatkan nilai sekarang dari arus penghasilan seumur hidup dengan menggunakan beberapa tingkat suku bunga. Pada berbagai tingkat suku bunga yang dianalisis menunjukkan bahwa, NPV industri besar lebih besar dari pada NPV industri sedang. Hal ini terjadi karena tingkat upah yang diterima buruh dan tingkat produktivitas buruh masing-masing industri berbeda.

Analisis Net B/C dilakukan untuk menyatakan apakah latihan menjahit yang dilakukan buruh layak atau tidak dan apakah dapat mempengaruhi tingkat produktivitas buruh sehingga keputusan untuk mengikuti pelatihan tersebut adalah tepat atau tidak. Pada tingkat suku bunga 12 persen dan 17 persen, pelatihan yang diikti buruh layak dilaksanakan dan memepengaruhi produktivitas pada masing-masing industri. Menggunakana tingkat suku bunga 18 persen pada industri sedang dan 89 persen pada industri besar, pelatihan sudah tidak layak lagi dikuti karena Net B/C yang diperoleh < 1.

Analisis terhadap tingkat internal dari pelatihan yang dilakukan adalah untuk mengetahui bahwa pelatihan yang dilakukan buruh menguntungkan atau tidak. Dengan menggunakan tingkat suku bunga 12 persen dan 17 persen, pelatihan menjahit yang dilakukan layak dan dapat menguntungkan buruh. Lebih mengunt ungkan.

(14)

ANALISIS

HUMAN CAPITAL

BURUH JAHIT

PADA INDUSTRI KONFEKSI

(SUATU STUDI PERBANDINGAN ANTARA

INDUSTRI SEDANG DAN INDUSTRI BESAR

)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

RIZKY OKTARINA COSTA

(A14301012)

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(15)

Judul : Analisis Human Capital Buruh Jahit Pada Industri

Konfeksi (Suatu Studi Perbandingan antara Industri

Besar dan Industri Sedang)

Nama : Rizky Oktarina Costa

NRP : A 14301012

Menyetujui

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri. MS

NIP 131.918.659

Mengetahui

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham. M. Agr

NIP 130.422.698

(16)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI

BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH

DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN

TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

BOGOR, FEBRUARI 2006

(17)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 24 Oktober

1983 dari ayah (Alm) Kosfi Syafrisno dan ibu Dra. Sastra Ermita Hamid, sebagai

anak pertama dari empat bersaudara. Penulis memulai pendidikannya pada TK

Aisyah I, Muara Panas, pada tahun 1988. Tahun 1995 penulis lulus dari SDN 01

Muara Panas, Solok. Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan studi di MTsN Koto

Baru, Solok. Selanjutnya lulus dari SMUN 01 Bukit Sundi, Solok pada tahun

2001. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Insitut Pertanian

Bogor, Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya melalui jalur USMI

(Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama di IPB, penulis aktif terlibat diberbagai kepanitiaan di kampus dan

di external penulis aktif pada HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Bogor.

Penulis dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Umum Bidang Keperempuanan Tahun

2005-2006 dan sebagai Sekretaris Umum KOHATI (Korps HMI-Wati) Cabang

(18)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

karunia-Nya yang tidak terhingga sehingga kita masih diberikan kesempatan

untuk mengabdi pada-Nya dalam mendapatkan ridho-Nya. Shalawat dan salam

saya haturkan kepada junjungan dan suri tauladan kita Rasullullah SAW yang

telah berjuang keras untuk memberikan pencerahan pada umat manusia.

Human Capital merupakan hal yang sangat penting dalam peningkatan

produktivitas tenaga kerja. Human Capital berhubungan dengan pendidikan dan

latihan, migrasi penduduk untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak,

tingkat konsumsi pangan dan gizi serta tingkat kesehatan yang dimiliki setiap

sumberdaya manusia. Untuk itu diperlukan kerja keras dari berbagai pihak dalam

peningkatan human capital ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam pembuatan laporan penelitian ini. Semoga laporan penelitian ini

bermanfaat.

Bogor, Februari 2006

(19)

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS, selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian

skripsi ini.

2. Prof. Sjafri Mangkuprawira dan Adi Hadianto, SP, selaku dosen-dosen

penguji

3. Ayahanda (Alm) Prof. Kadirun Yahya dan Ibunda Herlina atas

bimbingannya

4. Keluarga tercinta, papa (Alm) Kosfi Syafrisno, mama Dra. Sastra Ermita

Hamid, (Alm) Hj. Nurkalat, Redho Apraldo Costa, Resti Rahmi Khairati

Costa dan Reynaldho Revilla Costa

5. Keluarga Besar H. Abdul Hamid Daud, terutama Mak Dang Muchlis

Hamid, SE, MBA, Mak Unyiang Helfi Hamid, Mak Ngah (Alm) Abrar

Hamid, Mak Etek Azwar Hamid dan Mak Uncu Drs. Asnawi Hamid

6. Bapak Indra, Bapak Zainal, Bapak Jhon dan Uda Irwan selaku pemilik

perusahaan serta Aa Sudrajat dan Teguh F. S atas bantuannya selama

penelitian yang penulis lakukan.

7. Teman-teman HMI Cabang Bogor dan KOHATI, Ba Jay, Ummi, Apit,

Risti, Achi, Eko Bule, Ba Day, Hendra Rambe, Eka Yee, Febria Carolina

(20)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...i

DAFTAR TABEL...iii

DAFTAR GAMBAR...iv

DAFTAR LAMPIRAN...vi

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... .1

1.2. Perumusan Masalah...3

1.3. Tujuan Penelitian...6

1.4. Kegunaan Penelitian...6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumberdaya Manusia ...7

2.2. Teori Human Capital...10

2.2.1. Pendidikan dan Pelatihan...11

2.2.2. Pangan, Gizi dan Kesehatan...17

2.3. Produktivitas Tenaga Kerja ...17

2.4. Industri Besar dan Industri Sedang ...21

2.5. Penelitian Terdahulu ...24

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis...27

3.1.1. Regresi Linear Berganda ...27

3.1.2. Analisa Kelayakan Human Capital...30

3.2. Kerangka Operasional...31

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...36

4.2 Jenis dan Sumber Data ...36

4.3 Metode Pengambilan Sampel...36

4.4 Metode Analisis Data ...37

4.5 Asumsi dan Hipotesis...39

4.6 Definisi Operasional...41

(21)

5.1.2. Industri Besar ...50

5.2. Karakteristik Umum Buruh Jahit Industri Konfeksi 5.2.1. Industri Sedang...53

5.2.2. Industri Besar ...54

5.3. Karakteristik Umum Responden Industri Konfeksi 5.3.1. Industri Sedang...55

5.3.2. Industri Besar ...66

5.4. Karakteristik Pelatihan Menjahit yang Dilakukan Buruh Jahit 5.4.1. Industri Sedang...76

5.4.2. Industri Besar ...77

VI. PRODUKTIVITAS BURUH INDUSTRI KONFEKSI 6.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Buruh Jahit Pada Industri Sedang...78

6.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Buruh Jahit Pada Industri Besar...90

6.3. Perbandingan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Buruh Jahit Pada Industri Sedang dan Industri Besar...100

VII. ANALISIS HUMAN CAPITAL 7.1. Human Capital Buruh Jahit ... 103

7.2. Net Pre sent Value... 104

7.3. Net Benefit Cost Ratio ...107

7.4. Internal Rate of Return ...109

7.5. Perbandingan Analisis Human Capital Buruh Jahit Industri Sedang dan Industri Besar ... 111

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan...114

7.2. Saran... 116

(22)

DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

1. Sasaran Pengembangan Ekspor Industri Kecil Menengah Pakaian Jadi Tahun 2003-2004...3

2. Tenaga Kerja, Angkatan Kerja , Bukan Angkatan Kerja (Jutaan Orang) Tahun 1999-2003...9

3. Struktur Angkatan Kerja menurut Pendidikan (Jutaan Orang) Tahun 1999-2003 ...15

4. Perbandingan Indeks Penegembangan Sumberdaya Manusia Indonesia Dengan Beberapa Negara Dunia Tahun 2001-2002...16

5. Perbandingan 4 Perusahaan Pada Industri Sedang di Jakarta Tahun 2005...45

6. Contoh Orderan Pada Perusahaan Asa Konfeksi Dengan Merk ‘S’ Fashion Tahun 2005...49

7. Analisis Regresi Linier Berganda Pada Industri Sedang Tahun 2005 ...79

8. Analisis Regresi Linier Berganda Pada Industri Besar Tahun 2005...91

9. Perbandingan Analisis Human Capital Buruh Jahit Pada Industri Sedang dan

Industri Besar ... 111

(23)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Diagram Alir Kerangka Penelitian...35

2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada Industri Sedang

Tahun 2005...55

3. Distribusi Responden Berdasarkan Umur (Tahun) pada Industri Sedang Tahun 2005...56

4. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Pendidikan Formal (Tahun)

pada Industri Sedang Tahun 2005 ...57

5. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja ( Tahun) pada

Industri Sedang Tahun 2005 ...58

6. Distribusi Responden Berdasarkan Alokasi Waktu Bekerja (Jam per Hari) pada Industri Sedang Tahun 2005...59

7. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan (Rp per Bulan)

pada Industri Sedang Tahun 2005 ...60

8. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan (Orang) pada

Industri Sedang Tahun 2005 ...62

9. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan pada Industri Sedang Tahun 2005...63

10. Distribusi Responden Berdasarkan Cara Mendapatkan Pekerjaan pada Industri Sedang Tahun 2005 ...64

11. Distribusi Responden Berdasarkan Biaya Pelatihan (Rupiah) pada Industri Sedang Tahun 2005...65

12. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Pelatihan (Bulan) pada Industri Sedang Tahun 2005...65

13. Distribusi Responden Berdasarkan Umur (Tahun) pada Industri Besar

Tahun 2005...67

14. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Pendidikan Formal (Tahun)

pada Industri Besar Tahun 2005...68

15. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja (Tahun) pada

(24)

16. Distribusi Responden Berdasarkan Alokasi Waktu Bekerja (Jam per Hari) pada Industri Besar Tahun 2005...70

17. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan (Rp per Tahun) pada

Industri Besar Tahun 2005...71

18. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan (Orang) pada

Industri Besar Tahun 2005 ...72

19. Distribusi Responden Berdasarkan Spesifikasi Kerja pada Industri

Besar Tahun 2005...73

20. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan pada Industri Besar Tahun 2005...74

21. Distribusi Responden Berdasarkan Cara Mendapatkan Pekerjaan pada

Industri Besar Tahun 2005 ...75

(25)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Ouput Analisis Regresi Linier Berganda Pada Industri Sedang Tahun 2005 ...1

2. Ouput Analisis Regresi Linier Berganda Pada Industri Besar Tahun 2005 ...2

3. Ouput Analisis Regresi Linier Berganda pada Industri Besar Ditransformasi Tahun 2005...3

4. Ouput Analisis Human Capital Industri Sedang Tahun 2005 ...4

(26)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini konsep tentang sumberdaya manusia semakin berkembang.

Konsep ini mengacu kepada potensi yang dimiliki manusia dan dapat ditingkatkan

melalui pendidikan, baik secara formal maupun non-formal serta peningkatan

kesehatan dan migrasi. Pengembangan sumberdaya manusia adalah upaya untuk

meningkatkan produktivitas nasional melalui peningkatan produktivitas tenaga

kerja yang berimplikasi terhadap peningkatan produktivitas perusahaan yang

nantinya akan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja itu sendiri. Peningkatan

kualitas sumberdaya manusia pada dasarnya merupakan faktor kunci keberhasilan

pembangunan nasional.

Sektor industri merupakan sektor utama penunjang perekonomian

Indonesia. Sektor ini merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan

Pendapatan Domestik Bruto Indonesia tahun 2001 terutama industri pengolahan

sebanyak 26.11 persen (BPS, 2001). Pada tahun 2001 diperkirakan jumlah

perusahaan pada industri besar dan sedang di Indonesia mencapai 22.648

perusahaan (0.88 persen dari keseluruhan jumlah perusahaan) atau secara neto

bertambah 474 perusahaan dari tahun 2000, demikian juga pada penyerapan

tenaga kerja diperkirakan mencapai 4.466.646 orang.

Studi ini menitikberatkan pada industri pakaian jadi atau industri konfeksi.

Pada tahun 1998 terdapat 1.764 perusahaan dan menyerap 348.805 orang tenaga

(27)

2.214 perusahaan dan menyerap tenaga kerja sebanyak 436.256 orang. Begitu

halnya pada tahun 2000 jumlah perusahaan meningkat menjadi 2.258 perusahaan

dengan tenaga kerja sebanyak 484.844 orang. Di tahun 2001 terjadi penurunan

jumlah perusahaan sebanyak 135 perusahaan menjadi 2.123 perusahaan, tetapi

menyerap tenaga kerja lebih besar, yaitu sebanyak 497.816 orang. Pada tahun

2002 terjadi peningkatan jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja, yaitu

sebanyak 2.127 perusahaan dan 498.799 orang tenaga kerja. (BPS, 2002). Dari

data diatas terlihat penyerapan tenaga kerja yang terus meningkat setiap tahun,

walaupun terjadi penurunan jumlah perusahaan.

Jenis produk yang mudah tumbuh dan berkembang yang merupakan

produk andalan untuk komoditi ekspor dan pasaran lokal adalah pakaian jadi pria

dan wanita, jeans, baju santai, pakaian dalam, baju tidur dan busana muslim serta

jaket, tas dan sepatu cukup dominan permintaanya dari negara-negara Asia, Timur

Tengah dan Eropa serta pasar lokal sendiri. Sedangkan produk assesoris rumah

tangga berupa sarung bantal, bed cover, taplak meja, pakaian anak-anak dan

selimut kebanyakan untuk pasar lokal antara lain untuk Tanah Abang, Jatinegara

dan Blok M serta pulau-pulau di luar Jawa.

Pada Tabel 1, terlihat bahwa laju pertumbuhan nilai tambah bagi

pengembangan ekspor industri kecil menengah pakaian jadi pertahun adalah 8.66

persen, begitu juga dengan laju pertumbuhan tenaga kerja sebesar 5 persen per

tahun. Selain itu terlihat bahwa laju pertumbuhan unit usaha mencapai 3 persen

per tahun yang merupakan lahan subur bagi penyerapan tenaga kerja.

Laju pertumbuhan tenaga kerja yang cukup besar tidak diikuti dengan

(28)

pendidikan, keterampilan dan tingkat kesehatan yang dimiliki tenaga kerja yang

berimplikasi terhadap tingkat pendapatan tenaga kerja.

Tabel 1. Sasaran Pengembangan Ekspor Industri Kecil Menengah Pakaian Jadi Indonesia Tahun 2003-2004.

Sasaran

No Uraian Posisi 2002 2003 2004

Laju

Pertumbuhan

per Tahun (%)

1 Nilai Ekspor (US$. juta) 1.039 1.184,46 1.362,13 14.50 % 2 Nilai Tambah (Rp. Juta) 2.666.930 2.927.811 3.127.038 8.66 % 3 Nilai Produksi(Rp. Juta) 7.656. 219 8.268. 537 8.930.507 8.46 % 4 Unit Usaha (Unit) 108.252 111.500 114.850 3.00 % 5 Tenaga Kerja (Orang) 765.580 803.860 844.050 5.00 % Sumber: Rencana Induk Pengembangan Industri Menengah Kecil 2003-2004, Deperindag , 2002

1.2. Perumusan Masalah

Umumnya permasalahan yang dihadapi hampir semua pengusaha pada

industri sedang dan besar adalah kualitas tenaga kerja yang digunakan. Tenaga

kerja yang digunakan bukan tenaga kerja yang terdidik, terlatih, dan terampil.

Tenaga kerja yang terdidik, terlatih dan terampil identik dengan tenaga kerja

dengan tingkat pendidika n yang tinggi dan pelatihan yang diikutinya. Menurut

BPS (2000) hanya sekitar 4.4 persen dari keseluruhan tenaga kerja di Indonesia

yang merupakan lulusan perguruan tinggi dan perlu disikapi dengan

pengembangan sumberdaya manusia untuk menciptakan tenaga kerja Indonesia

yang berkualitas, sedangkan menurut data BPS tahun 2003 terjadi peningkatan

jumlah tenaga kerja lulusan perguruan tinggi, yaitu menjadi 4.8 persen dari total

(29)

lulusan perguruan tinggi tersebut. Hal ini akan menimbulkan masalah baru dalam

ketenagakerjaan.

Dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang tinggi, akan

meningkatkan tingkat upah, kapasitas diri dan produktivitas. Hal ini dipicu dari

saling bersinerginya antara kapasitas diri, produktivitas, skill, dan tingkat upah

yang berimpikasi kuat pada tingkat pendapatan dan kesejahteraan tenaga kerja.

Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat

pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang

berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak

berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut adalah akibat keterampilan teknis

yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang diikutinya.

Di Amerika Serikat seseorang yang berpendidikan doktor penghasilan

rata-rata per tahun sebesar US $ 55 juta, master sebesar US $ 40 juta, dan sarjana

sebesar US $ 33 juta . Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya

berpanghasilan rata-rata US $ 19 juta per tahun. (Nurkolis, 19991). Menurut data

BPS Desember tahun 2002 rata-rata upah nominal perbulan buruh dibawah

mandor pada industri pakaian jadi adalah Rp 640 ribu. Untuk industri besar adalah

sebanyak Rp 598 ribu dan pada industri menengah Rp 323 ribu dan untuk daerah

Jabotabek adalah Rp 983 ribu.

Penelitian yang dilakukan Mathias (2004) tentang tingkat upah dan

produktivitas tenaga kerja propinsi DKI Jakarta rata-rata per bulan menunjukkan

bahwa pendapatan tertinggi adalah pekerja laki-laki sebesar Rp 2. 273 juta dengan

tingkat pendidilan tertinggi universitas atau D.IV dan perempuan dengan tingkat

(30)

adalah perempuan dengan tingkat pendidikan lebih rendah dari sekolah menengah

sebesar Rp. 461.2 ribu da n laki-laki dengan tingkat pendidikan yang sama sebesar

Rp. 636.9 ribu. Dari penelitian tersebut, terlihat jelas bagaimana perbedaan tingkat

upah yang cukup mencolok antara tenaga kerja dengan pendidikan tinggi dan

tenaga kerja dengan pendidikan rendah.

Simanjuntak (1998) menyatakan bahwa kualitas dan kemampuan tenaga

kerja dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja,

mental, dan kemampuan fisik tenaga kerja tersebut. Hal ini merupakan investasi

jangka panjang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi dan tingkat

konsumsi tinggi. Investasi yang demikian merupakan human capital yang dapat

memperbaiki kualitas keahlian tenaga kerja itu sendiri. Terdapat beberapa

aktivitas mayoritas yang dapat meningkatkan kualitas keahlian tenaga kerja, yaitu:

pengetahuan yang didapat dari pendidikan formal, memperbaiki keahlian melalui

pengalaman kerja dan pelatihan khusus.

Kualitas tenaga kerja yang ditampakkan melalui etos kerja, motivasi kerja

dan keterampilan yang dimilikinya berkorelasi positif dengan produktivitas tenaga

kerja dan berimplikasi kuat terhadap tingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan

tenaga kerja itu sendiri. Semakin tinggi kualitas yang dimiliki tenaga kerja, maka

semakin tinggi tingkat produktivitasnya yang nantinya akan meningkatkan

produktivitas perusahaan dan produktivitas nasional.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat dirumuskan beberapa masalah:

1. Bagaimana karakteristik buruh pada industri konfeksi

(31)

2. Bagaimana faktor -faktor yang mempengaruhi produktivitas buruh pada

industri konfeksi

3. Bagaimana Human Capital dalam meningkatkan produktivitas buruh pada

industri konfeksi dan bagaimana Human Capital buruh pada industri

konfe ksi

1.3. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini berdasarkan pada latar belakang dan

perumusan masalah, yaitu:

1. Mengidentifikasi karakteristik buruh pada industri konfeksi.

2. Menganalisis faktor -faktor yang mempengaruhi produktivitas buruh pada

masing-masing industri konfeksi

3. Menganalisis Human Capital dalam meningkatkan produktivitas buruh

konfeksi dan membandingkan Human Capital buruh pada industri sedang

dengan industri besar.

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi:

1. Sebagai sarana bagi peneliti dalam meningkatkan kemampuan analisa

dalam Ekonomi Sumberdaya Manusia pada Industri Konfeksi.

2. Sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

3. Sebagai masukan bagi perusahaan konfeksi untuk meningkatkan

(32)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumberdaya Manusia

Menurut Simanjuntak (1998) sumberdaya manusia (human resource)

memiliki dua pengertian. Pertama, sumberdaya manusia merupakan usaha kerja

atau jasa yang dapat diberikan dalam proses produksi yang mencerminkan

kualitas usaha yang diberikan oleh seseorang dalam batas waktu tertentu untuk

menghasilkan barang dan jasa. Kedua, menyangkut kemampuan bekerja dalam

memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja berarti mampu

melakukan kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis yang menghasilkan barang

dan jasa untuk kepentingan masyarakat. Kedua pengertian diatas mengandung

aspek kuantitas dalam arti jumlah penduduk yang mampu bekerja dan aspek

kualitas dalam arti jasa kerja yang tersedia dan diberikan dalam proses produksi,

dengan kata lain sumberdaya manusia merupakan faktor produksi selain tanah dan

modal fisik.

Menurut Simamora dalam Zusana (2000) sumberdaya manusia merupakan

sumberdaya yang paling penting bagi organisasi. Hal ini terjadi karena

sumberdaya manusia mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi serta

sumberdaya manusia juga merupakan pengeluaran pokok perusahaan dalam

menjalankan bisnis. Sumberdaya manusia merancang dan memproduksi barang

dan jasa, mengawasi kualitasnya, memasarkan produk, mengalokasikan

sumberdaya finansial dan menentukan seluruh tujuan dan strategi organisasi,

sehingga sumberdaya manusia perlu dikembangkan. Pengembangan sumberdaya

(33)

kerja, sehingga dapat mengurangi dan menghapus pengangguran dan dapat

meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Tenaga kerja adalah penduduk yang telah bekerja, sedang bekerja, mencari

kerja dan melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.

Batas umur minimum di Indonesia dapat disebut tenaga kerja pada mulanya

adalah 10 tahun tanpa batasan maksimum karena Indonesia belum mempunyai

jaminan sosial nasional dan atas pertimbangan meningkatnya kegiatan pendidikan

maka usia minimum untuk menjadi tenaga kerja adalah 15 tahun berdasarkan UU

No. 25 tahun 1997 tentang ketenagakerjaan. Tenaga kerja atau manpower terdiri

dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah pekerja,

penganggur dan pencari pekerjaan. Menurut BPS (2001) , angkatan kerja adalah

penduduk usia kerja (15 tahun keatas) yang bekerja atau mempunyai pekerjaan

namun sementara tidak bekerja dan yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang

disebut bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang bersekolah,

mengurus rumah tangga dan penerima pendapatan. Angkatan kerja dapat dibagi

menjadi tiga golongan yaitu; menganggur, yaitu orang yang sama sekali tidak

bekerja (open unemployed) dan berusaha mencari pekerjaan; setengah

menganggur (under-employed), yaitu mereka yang kurang dimanfaatkan dalam

bekerja (under-utilized) dilihat dari jumlah jam bekerja, produktivitas kerja dan

pendapatan; bekerja penuh atau yang cukup dimanfaatkan. (Simanjuntak, 1998).

Menurut Hauser dalam Mumu (1992), angkatan kerja dapat dikelompokkan

dalam lima kategori, yaitu:

a. Unemployed : Angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan selama

(34)

b. Low Hour : Bila seorang bekerja kurang dari 35 jam per minggu

c. Low Income (individu) : Seseorang mencurahkan waktunya untuk bekerja

sama atau lebih besar dengan 35 jam per minggu, tetapi pendapatannya

tidak cukup untuk menghidupi satu orang anggota keluarga

d. Low Income (household) : Seseorang mencurahkan waktunya untuk

bekerja sama atau lebih besar dengan 35 jam per minggu, tetapi

pendapatannya tidak cukup untuk menghidupi anggota keluarga

e. Adequately utilized : Seseorang mencurahkan waktunya untuk bekerja 35

jam per minggu dengan pendapatan yang mencukupi untuk menghidupi

[image:34.612.131.511.410.545.2]

anggota keluarga

Tabel 2. Tenaga Kerja, Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja di Indonesia Tahun 1999-2003

Uraian 1999 2000 2001 2002 2003

Tenaga Kerja (Juta Orang) 141.0 141.1 144.0 148.7 152.7 Angkatan Kerja (AK-Juta Orang)) 94.5 95.6 98.8 100.7 100.4 AK terhadap Penduduk Usia Kerja (%) 67.76 67.76 68.60 67.76 65.72 Bekerja (Juta Orang) 88.8 89.9 90.8 91.6 90.8 Bekerja terhadap Angkatan Kerja (%) 93.92 93.92 91.90 90.94 90.50 Bukan Angkatan Kerja (Juta Orang) 46.2 45.5 45.2 47.9 52.4 Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia, 2001, 2002, 2003

Dari Tabel 2, terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja di

Indonesia, demikian pula dengan jumlah angkatan kerja, walaupun terjadi

penurunan pada tahun 2003 sebesar 2.04 persen. Jumlah penduduk yang bekerja

(35)

meningkatkan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja untuk meningkatkan

produktivitas kerja.

2.2. Teori Human Capital

Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital

investment) yang menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), telah ada

sejak jaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen (1875) dan para teoritisi

klasik lainnya sebelum abad ke-19 yang menekankan pentingnya investasi

keterampilan manusia. Schultz (1961) dan Deninson (1962) kemudian

memperlihatkan bahwa pembangunan sektor pendidikan dengan sumberdaya

manusia sebagai fokus intinya telah memberikan kontribusi langsung terhadap

pertumbuhan ekonomi suatu negara, melalui peningkatan keterampilan dan

kemampuan produksi dari tenaga kerja. Penemuan dan cara pandang ini telah

mendorong ketertarikan sejumlah ahli untuk meneliti mengenai nilai ekonomi dari

pendidikan (Nurulpaik, 2005).

Human capital merupakan stock dari kemampuan dan pengetahuan

produktif yang terdapat pada masyarakat. Alfred Marshal pernah berkata “the

most valuable of all capital is tha t invested in human beings” (Becker, 1975).

Dalam hal ini human capital merupakan investasi jangka panjang pada

pengembangan sumberdaya manusia untuk meningkatkan produktivitas.

Pentingnya human capital adalah pengetahuan yang ada pada sumberdaya

manusia merupakan basis penggerak dalam peningkatan produktivitas. Menurut

Simanjuntak (1998) human capital dapat diterapkan dalam hal pendidikan dan

(36)

Menurut Olgaard dalam Ananta dan Djadjanegara (1986) terdapat tiga

jenis perubahan kualitas human capital, yaitu:

a. Efek Tahunan. Efek ini berarti bahwa semua tenaga kerja mempunyai kualitas

human capital yang lebih tinggi seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini dapat

terjadi karena peningkatan kesehatan dan lingkungan.

b. Efek Kohor. Tenaga kerja dengan usia yang lebih muda (kohor muda) kualitas

human capital yang dimilikinya lebih baik karena perbaikan fasilitas pelayanan

pendidikan.

c. Efek Usia. Peningkatan usia dapat meningkatkan kualitas human capital dalam

usia yang relatif muda, sedangkan pada usia yang lebih tua akan menurunkan

kualitas human capital

2.2.1. Pendidikan dan Latihan

Pendidikan dan latihan merupakan usaha dalam pengembangan

sumberdaya manusia, terutama aspek kemampuan intelektual dan kepribadiannya

(Notoatmojo dalam Zusana, 2000). Upaya meningkatkan pendidikan dan

pelatihan merupakan karakteristik dari investasi sumberdaya manusia yang

membutuhkan opportunity cost yang tidak sedikit.

Dalam Dictionary of Education, pengertian pendidikan adalah:

a. Proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk

tingkah laku lainnya dalam masyarakat dimana dia hidup.

b. Proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang

(37)

atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan

individu yang optimum.

Tilaar dalam Bahri (2001) menyatakan bahwa pendidikan merupakan alat

yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.

Pendidikan yang berkualitas bukan saja pendidikan yang meningkatkan kualitas

intelejensi akademik tetapi juga meliputi berbagai aspek kehidupan lainnya.

Selain itu pendidikan merupakan suatu proses pemberdayaan untuk

mengungkapkan potensi yang ada pada manusia sebagai individu, yang

selanjutnya dapat memberikan sumbangan kebudayaan pada masyarakat lokal,

bangsa dan masyarakat global. Dengan demikian fungsi pendidikan tidak hanya

untuk menggali potensi yang ada pada manusia tetapi juga mengontrol potensi

tersebut agar dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat (Raharto,

dalam Bahri 2001). Semakin tinggi tingkat pendidikan tenaga kerja semakin tinggi

tingkat produktivitasnya dan semakin tinggi tingkat pendapatan, tetapi tingginya

tingkat pendapatan ini tidak hanya dipengaruhi ole h faktor tenaga kerja saja, tetapi

juga tergantung pada faktor lain seperti: lingkungan eksternal, lingkungan internal

dan sebagainya. Pendidikan dan pelatihan juga merupakan sebuah indikator untuk

mengukur tingkat kemiskinan.

Combs dalam Latif (1990) mengklasifikasikan pendidikan kedalam tiga

bagian, yaitu:

a. Pendidikan Informal, yaitu: proses pendidikan yang diperoleh seseorang

dari pengalaman sehari-hari dengan sadar, pada umumnya tidak teratur

dan tidak sistimatik, sejak seorang lahir sampai kemudian meninggal,

(38)

b. Pendidikan Formal, yaitu: pendidikan disekolah yang teratur, sistimatis,

mempunyai jenjang dan dibagi dalam waktu tertentu dari Taman

Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi

c. Pendidikan Nonformal, yaitu: semua bentuk pendidikan yang

diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan berencana di luar

kegiatan persekolahan.

Pelatihan adalah bagian dari pendidikan. Menurut Becker (1975) pelatihan

terdiri dari General Training dan Specific Tra ining dengan tujuan untuk

meningkatkan produktivitas yang tercermin dalam tingkat pendapatan. Latihan

dapat diartikan sebagai proses pendidikan dalam jangka pendek yang ditujukan

pada tenaga kerja bukan manajer. Pelatihan merupakan kunci untuk menggali

potensi tenaga kerja yang tersimpan.

Menurut Moelyono (1990) tujuan dilaksanakan latihan adalah:

a. Peningkatan produktivitas

Kegiatan latihan dan pengembangan tidak saja bermanfaat bagi tenaga

kerja baru, tetapi juga pada buruh yang sudah lama bekerja. Hal ini dapat

meningkatkan prestasi kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan

produktivitas.

b. Peningkatan kualitas

Program pelatihan dapat membantu tenaga kerja dalam memperbaiki hasil

yang lebih tinggi kualitasnya, dapat juga mengurangi kesalahan dalam

bekerja.

(39)

Ketika terjadi permasalahan dalam jumlah tenaga kerja yang bekerja atau

pergantian tenaga kerja secara mendadak, maka perusahaan akan dapat

mencari penggantinya dengan lebih mudah karena adanya program latihan

d. Memperbaiki etika kerja

Iklim kerja biasanya mudah diperbaiki apabila program pelatihan dapat

dilaksanakan. Reaksi-reaksi positif akan tumbuh dari program pelatihan

yang terencana dengan baik yang pada gilirannya akan membentuk etika

kerja yang lebih baik.

e. Kompensasi tidak langsung

Pelatihan bagi tenaga kerja merupakan bagian balas jasa tehadap

pekerjaanya. Mereka mengharapkan perusahaan membayar biaya program

pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mereka.

f. Kesehatan dan keselamatan

Latihan yang tepat akan mencegah kecelakaan dan menciptakan

lingkungan kerja yang segar dan dapat mengarahkan sikap mental tenaga

kerja yang stabil

g. Mencegah keausan

Mengadakan pelatihan yang berkesinambungan perlu agar tenaga kerja

dapat tetap menguasai bidangnya masing-masing yang dapat mendorong

menciptakan kreatifitas baru para buruh dalam berproduksi sehingga

membantu dalam pencegahan keausan pengetahuan dan keterampilan.

h. Pengembangan pribadi

Kegiatan latihan sebenarnya meningkatkan proses nilai tambah dan

(40)

tambah pribadi karena berbagai pengalaman yang diperoleh selama

[image:40.612.137.512.183.359.2]

mengikuti pelatihan.

Tabel 3. Struktur Angkatan Kerja Menurut Pendidikan (Jutaan Orang) di Indonesia Tahun 1999-2003

Pendidikan 1999 2000 2001 2002 2003

Tidak Bersekolah 7,603 7,129 6,995 6,849 5,066 Belum Lulus SD 16,107 14,633 15,591 15,245 12,589

SD 34,102 35,508 35,724 36,959 37,169

SLTP 14,035 15,364 16,851 17,490 20,570 SLTA Umum 11,571 13,378 11,489 12,212 14,156 SLTA Kejuruan 6,559 4,854 7,259 7,121 6,137 Diploma I/II/III 2,009 2,144 2,238 2,216 1,933 Universitas 2,366 2,294 2,669 2,686 2,698 Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia, 2001, 2002, 2003

Tabel 3, menunjukkan trend penurunan jumlah tenaga kerja yang tidak

lulus SD dan peningkatan tingkat pendidikan yang dimiliki tenaga kerja , tetapi

peningkatan ini tidak cukup menggembirakan karena 62 persen tenaga kerja di

Indonesia hanya lulusan SD dan bahkan tidak lulus sama sekali. Tenaga kerja

lulusan Perguruan Tinggi hanya berkisar 4.8 persen dari total tenaga kerja di

Indonesia

Kualitas Pendidikan di Indonesia dapat diketahui dari Human

Development Index. Pada Tabel 4, terdapat peningkatan HDI (indeks

pengembangan sumberdaya manusia) Indonesia pada tahun 2002, yaitu menjadi

0.692 dari 0.682 dari tahun 2001. Demikian juga dengan peringkat HDI Indonesia

(41)
[image:41.612.132.509.127.259.2]

Tabel 4. Perbandingan Indeks Penegembangan Sumberdaya Manusia Indonesia Dengan Beberapa Negara Dunia Tahun 2001-2002

Indices Indonesia World Developing

Countries

South Asia

East Asia & The Pacific

HDI Value, 2002 0.692 0.729 0.663 0.584 0.740

HDI Rank, 2002 (177

Countries) 111 - - - - HDI Value, 2001 0.682 0.722 0.655 0.582 0.722

HDI Rank, 2001 (175

Countries) 112 - - - -

Sumber: Laporan UNDP, 2001-2002 2)

Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan-perbaikan dalam berbagai

bidang yang mempengaruhi tingkat HDI terutama bidang pendidikan, walaupun

tidak terjadi peningkatan secara drastis dan lebih tinggi lagi. Ini membutuhkan

pemikiran yang lebih mendalam dan konsep yang matang untuk meningkatakan

kualitas pendidikan di Indonesia.

2.2.2. Pangan, Gizi dan Kesehatan

Manusia dalam pembangunan berkelanjutan adalah sebagai subjek dan

sebagai objek. Sebagai subjek manusia harus mampu memberikan potensi terbaik

yang ada pada dirinya. Sedangkan sebagai objek, pembangunan bertujuan untuk

meningkatkan kesejahteraan manusia itu sendiri.

Kualitas manusia merupakan faktor utama dalam peningkatan

kesejahteraan. Kualitas sumberdaya manus ia bersifat statis dan dinamis. Kualitas

statis ini meliputi kemampuan dalam melaksanakan kegiatan fisik atau mental

secara optimal untuk menghindari gangguan dan penyakit. Sedangkan kualitas

bersifat dinamis adalah kemampuan untuk meningkatkan taraf ekonomi, sosial

(42)

) http://hdrc.undp.org.in/APRI/hds/hdfct/indonsia.htm, 18 Mei 2005

Salah satu faktor penentu dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia

adalah pangan dan gizi. Pangan merupakan basic needs untuk memenuhi

kebutuhan manusia agar tetap melaksanakan kegiatannya yang secara langsung

dapat mempengaruhi tingkat produktivitasnya. Demikian pula dengan kualitas

yang dimiliki oleh pangan, juga harus lebih diperhatikan. Dengan kualitas pangan

yang baik dan peningkatan gizi masyarakat Indonesia diharapkan mampu

meningkatkan produktivitas kerja yang nantinya akan meningkatkan pendapatan

dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

2.3. Produktivitas Tenaga Kerja

Produktivitas merupakan istilah mencakup bidang yang luas dan menarik.

Hingga saat ini belum ada definisi yang tepat tentang produktivitas. Menurut

Mathis dan Jakson dalam Manubowo (2003), menyebutkan bahwa sistem

manajemen produktivitas berusaha mendefinisikan, mendorong, mengukur,

mengevaluasi, meningkatkan dan memberi penghargaan terhadap produktivitas

karyawannya.

Filosofi dari produktivitas adalah keinginan dan usaha manusia untuk

meningkatkan mutu hidup dan penghidupannya. Secara umum produktivitas

diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan

sebenarnya. Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam

memproduksi barang dan jasa. Produktivitas mengutarakan cara pemanfaatan

sumberdaya secara baik dalam proses produksi (Sinungan dalam Tutuhatunewa,

1998). Dalam Koehler’s Dictionary for Accountants (1983) produktivitas

(43)

menggunakan satu atau lebih faktor produksi. Pendefinisian tentang produktivitas

sekarang ini tidak hanya mengacu pada proses produksi fisik saja tetapi lebih

menenekan pada aspek sumberdaya manusia yang mengacu pada motivasi

terhadap peningkatan taraf hidup.

Peningkatan produktivitas sifatnya sangat spesifik. Usaha peningkatan

produktivitas tergantung pada setiap perusahaan dan setiap usaha yang dilakukan

tidak bisa diterapkan begitu saja pada perusahaan lain. Usaha peningkatan

produktivitas dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu pemanfatan tenaga manusia

secara maksimal dan pengefektifan pengelolaan kerja. Sumberdaya manusia

merupakan unsur penting dalam proses peningkatan produktivitas, karena

teknologi yang digunakan dalam proses produksi merupakan hasil karya manusia.

Produktivitas tenaga kerja merupakan tingkat kemampuan tenaga kerja

dalam menghasilkan produk. Perubahan kualitas tenaga kerja adalah perubahan

produktivitas pekerja dalam jumlah tenaga kerja yang tidak berubah dan

perubahan produktivitas yang terjadi karena perubahan jumlah satuan tenaga kerja

tidak disebut sebagai perubahan kualitas tenaga kerja (Ananta dan Djadjanegara,

1986). Selain itu dalam teori ekonomi, produktivitas merupakan suatu pengukuran

output yang merupakan pengukuran relatif (output terhadap input atau faktor

produksi). Produktivitas tenaga kerja mengacu pada kemampuan tenaga kerja

untuk menghasilkan output.

Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang

dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu (Simanjuntak, 1998).

(44)

keterampilan, kurangnya sarana -sarana penunjang, rendahnya tingkat kesehatan

dan gizi, salah penempatan posisi kerja, rendahnya tingkat upah dan sebagainya.

Menurut Soeprihanto dalam Manubowo (2003), faktor-faktor yang

mempengaruhi produktivitas tenaga kerja adalah: bakat, pendidikan dan latihan,

nutrisi, lingkungan dan fasilitas, iklim kerja, motivasi dan kemauan, hubungan

industrial, teknologi, manajemen, kesempatan berprestasi, investasi, perijinan,

moneter dan distribusi. Sedangkan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap

produktivitas tenaga kerja adalah pengetahuan, keterampilan, abilitas, sikap dan

perilaku karyawan (Bernadin dan Russel, 1993). Menurut Ananta dan

Djadjanegara (1986) terdapat empat faktor yang mempengaruhi produktivitas.

a. Perubahan jumlah tenaga kerja

b. Perubahan jumlah jam kerja

c. Pergeseran fungsi produksi

d. Perubahan kondisi pasar

Pada abad ke 18, Adam Smith telah mengemukakan arti efisiensi dan

spesialisasi yang pada hakikatnya merupakan faktor terpenting dala m peletakan

dasar produktivitas dapat pula diartikan sebagai ukuran tingkat efisiensi dan

efektivitas dari sumberdaya yang digunakan dalam proses produksi dengan

membandingkan jumlah yang dihasilkan dengan setiap atau seluruh

sumber-sumber masukan yang dig unakan (Aroef dalam Tutuhatunewa, 1998). Efisiensi

adalah penghematan penggunaan sumber-sumber dalam kegiatan produksi atau

organisasi. Efektivitas merupakan pencapaian keluaran atau target.

Produktivitas =

kan SumberMasu umber

enggunaanS EfisiensiP

nTugas sPelaksana Efektivita

(45)

Produktivitas =

kan SumberMasu umber

enggunaanS EfisiensiP

n kanKeluara sMenghasil

Efektivita

Menurut Ravianto dalam Tutuhatunewa (1998), peningkatan produktivitas

dapat dilihat dari tiga cara, yaitu:

a. Jumlah produksi meningkat dengan menggunakan sumberdaya yang sama

b. Jumlah produksi yang sama atau meningkat dengan menggunakan

sumberdaya yang lebih sedikit

c. Jumlah produksi meningkat jauh lebih besar dengan menggunakan

sumberdaya yang relatif sedikit

Melalui pendekatan sistem, Simanjuntak (1998) menyatakan bahwa

faktor -faktor yang berpengaruh terhadap tingkat produktivitas tenaga kerja adalah:

a. Kualitas dan kemampuan tenaga kerja, yang dapat dipengaruhi oleh

pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja, sikap mental dan kondisi

fisik tenaga kerja

b. Sarana pendukung tenaga kerja, mencakup lingkungan kerja dan

kesejahteraan tenaga kerja. Lingkungan kerja meliputi keselamatan dan

kesehatan kerja, sarana produksi dan teknologi, sedangkan kesejahteraan

tenaga kerja tercermin pada tingkat upah dan jaminan sosial

c. Supra sarana, yang meliputi kebijakan pemerintah, Hubungan Industrial

Pancasila dan kemampuan dalam mencapai kerja yang optimal.

Ross (1977) mengemukakan 9 faktor atau dorongan yang perlu

diperhatikan dalam usaha peningkatan produktivitas, yaitu:

a. Kerja yang bersifat menantang, kreatif, menarik dan memberikan

(46)

b. Partisipasi dalam mengambil keputusan yang berpengaruh terhadap

individu

c. Kompensasi yang dikaitkan dengan produktivitas

d. Komunikasi dan saluran komando yang sederhana

e. Pengawasan yang kompeten

f. Pengakuan terhadap prestasi

g. Kesempatan untuk pengembangan diri

h. Kesempata n untuk memimpin

i. Pola atau tipe organisasi yang lebih fleksibel

2.4. Industri Besar dan Industri Sedang

Industrialisasi merupakan sebagian dari kegiatan pembagunan dunia.

Lahirnya industrialisasi didorong laju perkembanagn evolusi budaya yang pesat

yang secara timbal balik menghasilkan berbagai teknologi baru, yang kemudian

dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan. Sektor Industri merupakan sektor

utama penunjang perekonomian Indonesia. Sektor ini merupakan penyumbang

terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia tahun 1999 (BPS, 2001). Peranan

sektor Industri Pengolahan mencapai 25,8 persen dari pembentukan PDB pada

tahun 1999 dan 26,11 persen pada tahun 2001, sedangkan sektor pertanian 19,4

persen tahun 1999 dan 16,39 persen tahun 2001. Terlihat penurunan yang cukup

tinggi pada sektor pertanian dalam pembentukan PDB Indonesia.

BPS membagi Industri pengolahan menjadi empat kelompok berdasarkan

jumlah tenaga kerja yang terlibat didalamnya tanpa memperhatikan penggunaan

teknologi dan jumlah modal yang ditanamkan. Keempat kelompok tersebut yaitu,

(47)

a. Industri Besar adalah perusahaan yang mempekerjakan 100 orang atau

lebih jumlah tenaga kerja.

b. Industri Sedang adalah perusahaan yang mempekerjakan 20-99 orang

tenaga kerja.

c. Industri Kecil adalah perusahaan yang mempekerjakan 5-19 orang tenaga

kerja.

d. Industri Rumah Tangga adalah perusahaan yang mempekerjakan 1-4 orang

tenaga kerja.

Sesuai dengan Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI), ruang

lingkup industri kecil sebagaimana halnya dengan industri besar dan menengah

terdiri atas 10 sektor lapangan usaha (BPS, 2001) yaitu:

a. Pertanian dan petenakan, kehutanan, perkebunan dan perikanan

b. Pertambangan dan Penggalian

c. Industri Pengolahan, listrik, gas dan air

d. Bangunan/kontruksi

e. Perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel

f. Angkutan/ penggudangan dan komunikasi

g. Keuangan, asuransi, usaha sewa banguna, tanah dan jasa perusahaan

h. Jasa kemasyarakatan, sosial dan dan perorangan

i. Kegiatan yang belum jelas batasnya

BPS Indonesia membagi Industri Pengolahan menjadi 9 bagian dengan

kode masing-masing:

a. Industri makanan, minuman dan tembakau (3.1)

(48)

c. Industri kayu dan barang-barang dari kayu termasuk perabot rumah tangga (3.3)

d.Industri kertas dan barang-barang dari kertas, percetakan dan penerbitan (3.4)

e.Industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia, minyak bumi, batu bara,

karet dan plastik (3.5)

f. Industri barang galian bukan logam, kecuali minyak bumi dan batu bara (3.6)

g. Industri logam dasar (3.7)

h. Industri barang dari logam, mesin dan peralatannya (3.8)

i. Industri pengolahan lainnya (3.9)

Pada industri tekstil, pakaian jadi dan kulit termasuk kedalamnya industri

konfeksi. Jenis produk yang mudah tumbuh dan berkembang yang merupakan

produk andalan untuk komoditi ekpor dan pasaran lokal seperti pakaian jadi pria

dan wanita, blue jeans, baju santai, pakaian dalam, baju tidur dan busana muslim

cukup dominan permintaanya dari negara-negara Asia, Timur Tengah dan Eropa

serta pasaran lokal sendiri. Sedangkan produk assesoris rumah tangga berupa

sarung bantal, bed cover, taplak meja, pakaian anak- anak dan selimut kebanyakan

untuk pasaran lokal antara lain untuk Tanah Abang dan Jatinegara serta

pulau-pulau di luar Jawa.

2.5. Penelitian Terdahulu

Studi Bank Dunia tahun 1980 mengenai 83 negara sedang berkembang

menunjukan bahwa di 10 negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan riil

tertinggi dari GNP perkapita antara tahun 1960 dan 1977, adalah negara yang

tingkat melek huruf pada tahun 1960 rata-rata 16 persen lebih tinggi daripada

negara-negara lain. Juga telah digambarkan bahwa investasi dalam bidang

(49)

penghasilannya. Kebanyakan bukti berasal dari pertanian. Kajian antara petani

yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan di negara-negara berpendapatan

rendah menunjukkan, ketika masukan-masukan seperti pupuk dan bibit unggul

tersedia untuk teknik-teknik usaha tani yang lebih baik, hasil tahunan seorang

petani yang berpendidikan selama empat tahun rata-rata 13 persen lebih tinggi

daripada seorang petani yang tidak berpendidikan. Meskipun masukan ini kurang,

penghasilan para petani yang berpendidikan tetap lebih tinggi 8 persen (World

Development Report, 1980).

Penelitian yang dilakukan Sulaeman (1996) tentang faktor-faktor yang

mempengaruhi kesempatan kerja dan pendapatan pekerja pada industri kecil tas

kulit di desa Bojong Rangkas menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh nyata

dalam penyerapan tenaga kerja adalah pesanan, upah, produksi dompet

perminggu. Permintaan tenaga kerja oleh pengusaha ditentukan oleh berapa

banyak produksi yang dihasilkan oleh pengrajin. Perlu atau tidaknya pengusaha

menambah pekerja yang berhubungan dengan proses produksi adalah perhitungan

yang dilakukan pengusaha atas tambahan pekerja dibandingkan dengan biaya

marjinal atau upah pekerja, apakah masih menguntungkan apa tidak apabila

melakukan penambahan tenaga kerja. Faktor-faktor yang berpangaruh terhadap

tingkat pendapatan pekerja adalah pengalaman kerja dan kemampuan bekerja

sesuai dengan keahlian. Sedangkan untuk pekerja perempuan, tingkat pendapatan

dipengaruhi oleh tingkat umur.

Hasil penelitian yang dilakukan Tutuhanewu (1998) mengenai analisis

faktor -faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja di industri sepatu

(50)

kelamin pada taraf kepercayaan 80 persen, jumlah tanggungan keluarga, umur,

tingkat pendapatan, dan alokasi waktu kerja pada taraf kepercayaan 95 persen.

Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negatif terhadap tingkat produktivitas

tenaga kerja. Sedangkan tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan pengeluaran

rata-rata tidak berpengaruh nyata.

Dalam penelitian yang dila kukan Santoso (2001) terhadap faktor -faktor

yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja pada undustri kecil tahu, diketahui

bahwa variabel yang berpengaruh adalah umur yang berpengaruh nyata pada taraf

kepercayaan 95 persen, jumlah tanggungan keluarga pada taraf kepercayaan 90

persen dan upah pada taraf kepecayaan 99 persen. Sedangkan variabel yang tidak

berpengaruh nyata adalah tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan jumlah

pengeluaran rata-rata perbulan.

Kurnia (2003) melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang

mempengaruhi produktivitas kerja pemetik teh pada PT. Perkebunan Nusantara

VII Kebun Papandayan, terdapat enam variabel yang berpengaruh secara

signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen yaitu, jenis kelamin, status keja,

pendapatan, pengeluaran kelurga, hubungan dengan sesama pemetik dan

pengalaman kerja. Sedangkan variabel yang tidah berpengaruh adalah umur,

tingkat pendidikan formal, pendapatan dari luar usaha pemetikan teh, jarak

tempuh, hubungan atasan dan jumlah tanggungan keluarga.

Penelitian yang dilakukan Mathias (2004) tentang tingkat upah dan

produktivitas tenaga kerja propinsi DKI Jakarta rata-rata per bulan menunjukkan

bahwa pendapatan tertinggi adalah pekerja laki-laki sebesar Rp 2,273 juta dengan

(51)

pendidikan yang sama mencapai Rp. 2,097 juta. Penerimaan pendapatan terendah

adalah perempuan dengan tingkat pendidikan lebih rendah dari sekolah menengah

sebesar Rp. 461,2 ribu dan laki-laki dengan tingkat pendidikan yang sama sebesar

Rp. 636,9 ribu. Dari penelitian tersebut, terlihat jelas bagaimana perbedaan tingkat

upah yang cukup mencolok antara tenaga kerja dengan pendidikan tinggi dan

(52)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Teoritis

3.1.1. Regresi Linier Berganda

Persamaaan Regresi merupakan persamaan matematika yang

memungkinkan untuk meramalkan nilai suatu peubah tak bebas dari

nilai-nilai satu atau lebih peubah bebas (Walpole, 1982). Analisis regresi merupakan

salah satu alat analisis yang menjelaskan tentang akibat dan besarnya akibat yang

ditimbulkan oleh peubah bebas terhadap peubah tak bebas (Sudarmanto, 2005)

Biasanya peubah tak bebas dilambangkan dengan huruf Y dan peubah

bebas dengan huruf X. Hubungan antara peubah tak bebas dengan peubah bebas

saling berhubungan secara linear disebut garis regresi linear yang dapat dituliskan

dalam bentuk:

= á + bx

dimana á menyatakan intersep atau berpotongan dengan sumbu tegak, dan b

adalah kemiringan atau gradiennya. Lambang digunakan untuk membedakan

nilai ramalan yang dihasilakan garis regresi dan nilai y yang sesungguhnya untuk

nilai x tertentu.

Regresi berganda merupakan peramalan peubah tak bebas Y dengan

beberapa peubah bebas X1, X2,...X dan dapat dituliskan sebagai berikut:

(53)

Metode yang digunakan merupakan metode pendugaan kuadrat terkecil biasa

(OLS/ Ordinary Least Square), dengan asumsi-asumsi:

a. Nilai rata-rata pengganggu sama dengan nol, yaitu E(åi) = 0, untuk setiap i.

dimana i = 1,2,3….,k.

b. Varian (åi) = E(åi2) = ä2 , sama untuk semua kesalahan pengganggu

(asumsi homoskedasitas).

c. Tidak ada autokorelasi antara kesalahan pengganggu, berarti Cov (åi, åj) =

0, untuk i j.

d. Peubah bebas X1,X2,…..,Xk konstan dalam sampling yang berulang dan

bebas dari kesalahan pengganggu åi, E(Xi åi) = 0.

e. Tidak ada kolinearitas ganda (multikolineraritas) yang berarti tidak ada

hubungan linear yang nyata antara peubah-peubah bebas.

Uji hipotesis yang digunakan adalah uji– t dan uji-f. Uji-t bertujuan untuk

mengetahui peubah bebas mana yang berpengaruh nyata terhadap peubah tak

bebas pada berbagai tingkat á . Uji-f digunakan menguji apakah keseluruhan

model dapat digunakan untuk menduga hubungan antar peubah bebas dan peubah

tak bebasnya.

Untuk mengetahui apakah peubah bebas yang digunakan pada model

berpengaruh atau tidak terhadap peubah yang dijelaskan, maka dilakukan uji

hipotesa bagi koefisien regresi secara serentak. Dalam hal ini digunakan uji F,

yaitu:

hitung

F =

k n ratSisa JumlahKuad

k gresi ratTengah

JumlahKuad

(54)

Gambar

Tabel 1. Sasaran Pengembangan Ekspor Industri Kecil Menengah Pakaian Jadi Indonesia Tahun 2003-2004
Tabel 2. Tenaga Kerja, Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja di Indonesia Tahun 1999-2003
Tabel 3. Struktur Angkatan Kerja Menurut Pendidikan (Jutaan Orang) di Indonesia Tahun 1999-2003
Tabel 4. Perbandingan Indeks Penegembangan Sumberdaya Manusia Indonesia Dengan Beberapa Negara Dunia Tahun 2001-2002
+7

Referensi

Dokumen terkait