PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN
TESIS
OLEH :
ASTRI ESTER SILALAHI 127011005/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
ASTRI ESTER SILALAHI 127011005/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Telah Diuji Pada
Tanggal : 3 Februari 2015
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum
Anggota : 1. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum 3. Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda-tangan dibawah ini :
Nama : ASTRI ESTER SILALAHI
Nim : 127011005
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
JudulTesis : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR
YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan, 16 Februari 2015 Yang membuat pernyataan
ABSTRAK
Putusan serta merta yaitu putusan yang dapat dilaksanakan atau dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Pelaksanaan putusan serta merta harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya masalah baru akibat pelaksanaan putusan serta merta itu sendiri. Salah satu masalah yang terjadi akibat pelaksanaan putusan serta merta adalah sulit melakukan pemulihan kembali atas harta pailit yang telah dieksekusi apabila pailit dibatalkan Mahkamah Agung. Hal tersebut akan merugikan debitor dan mengganggu kelangsungan usaha debitor itu sendiri. Sebagai contoh kasus TPI dengan CCGL. Penelitian ini membahas beberapa permasalahan yaitu mengenai putusan serta merta dalam hukum kepailitan, perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan serta merta dalam hukum kepailitan, dan pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kepustakaan yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.
Hukum kepailitan Indonesia mengenal adanya putusan serta merta , hal ini dapat dilihat dalam UUK terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang putusan serta merta tersebut. Pelaksanaan putusan serta merta harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam HIR/RBg, SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001. Ketentuan dalam UU Kepailitan dan ketetapan dalam SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001 mengenai pemberian uang jaminan yang nilai sama dengan objek/barang yang dieksekusi oleh pemohon eksekusi kepada pengadilan, merupakan ketentuan yang menjamin perlindungan hukum kepada si debitor apabila dikemudian hari pernyataan pailit dibatalkan. Kasus CCGL dengan TPI yang mendapat putusan akhir pailit TPI dibatalkan, menjadikan TPI mengajukan judicial review sebagai bentuk ketidakpuasan TPI terhadap kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas dan telah merugikan TPI. Permohonan provisi maupun permohonan pokok TPI ditolak oleh Hakim MK dengan pertimbangan bahwa MK tidak berwenang untuk melakukan pemberhentian kurator, MK hanya memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang bersifat abstrak bukan konkret seperti kasus TPI, dan MK berpendapat bahwa mengenai kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas, memiliki batasan-batasan yang diatur oleh UU kepailitan itu sendiri.
lebih jelas dan tegas dalam hal batasan-batasan kewenangan kurator guna menghindari penyalahgunaan wewenang kurator dalam melakukan tugasnya, dan pengaturan mengenai pertanggungjawaban kurator juga harus diperjelas agar dapat berjalan secara efektif, baik setelah kelalaian kurator terjadi atau tindakan kurator yang berpotensi menimbulkan kerugian atas harta pailit.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai salah satu
persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan di Universitas Sumatera
Utara Medan. Dalam memenuhi tugas inilah penulis menyusun dan memilih judul :
“Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta
Merta Dalam Kepailitan”. Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat
kekurangan didalam penulisan tesis ini, untuk itu dengan hati terbuka menerima saran
dan kritik dari semua pihak, agar dapat menjadi pedoman dimasa yang akan datang.
Dalam penulisan dan penyusunan tesis ini, penulis mendapat bimbingan dan
pengarahan serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tidak ternilai harganya
secara khusus kepada Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH, Mhum selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN serta Ibu T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum., masing-masing selaku anggota komisi pembimbing yang banyak memberi masukan dan bimbingan kepada penulis selama
dalam penulisan tesis ini dan kepada Bapak Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum., dan
Bapak Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan kritikan, saran serta masukan dalam penulisan tesis ini.
Selanjutnya ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K).
selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung SH. M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
3. BapakProf. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.
4. Ibu T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum., selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.
5. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Guru Besar dan Staf Pengajar dan juga para karyawan
Biro Administrasi pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas
Sumatera Utara Medan.
Secara khusus penulis menghaturkan terimakasih yang tak terhingga kepada
ayahanda P. Silalahi dan Ibunda R. Purba, yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik ananda dengan penuh kasih sayang dan segala doa serta semangat yang
telah diberikan kepada penulis selama ini. Tak lupa penulis ucapkan kepada kakak
dan abang penulis, Roy Gokma Silalahi, Dinna Handayani Purba, Pranto Sunandar Pardede, Anita Carolina Silalahi serta Keponakan penulis Alvaro Nathan Xaverio yang banyak memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini;
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada rekan-rekan seperjuangan,
khususnya rekan-rekan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Felix
Riszka, Fella Eldyah, Sheila Aristyani, Nindya Sari Usman, Rachel Sheila dan
kawan-kawan satu angkatan lain yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang terus memberikan motivasi, semangat dan kerjasama dan diskusi,
membantu dan memberikan pemikiran kritik dan saran dari awal masuk di Magister
Kenotariatan Universitas Sumatera Utara sampai saat penulis selesai menyusun tesis
ini.
Penulis berharap semoga bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada
penulis, mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu
dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah.
Akhirnya, semoga tesis ini dapat berguna bagi diri penulis dan juga bagi semua pihak
khususnya yang berkaitan dengan bidang Kenotariatan.
Medan, Februari 2015
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
ABSTRACT... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP... vii
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR ISTILAH... x
DAFTAR SINGKATAN... xiv
BAB I Pendahuluan ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Keaslian Penelitian... 11
F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 12
1. Kerangka Teori... 12
2. Konsepsi ... 19
G. Metode Penelitian... 21
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 22
2. Sumber Data ... 23
3. Tenik Pengumpulan Data... 24
BAB II PUTUSAN SERTA MERTA DALAM HUKUM KEPAILITAN.... 26
A. Tinjauan Umum Tentang Putusan Serta Merta …….…………...…. 26
B. Pelaksanaan Putusan Serta Merta ...….… 38
C. Putusan Serta Merta Dalam Hukum Kepailitan ... 43
BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM HUKUM KEPAILITAN... 48
A. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Pengurusan Harta Pailit ... 48
B. Akibat Pernyataan Pailit Bagi Debitor ...………….. 61
C. Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Hukum Kepailitan ... 68
BAB IV PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PUTUSAN JUDICIAL REVIEW NOMOR 144/PUU-VII/2009 ... 77
A. Posisi Kasus ...……….… 77
B. Analisa Pertimbangan Hakim Mahkamah Konstitusi Terhadap Judicial Review... 83
BAB V Kesimpulan Dan Saran ………..….. 99
A. Kesimpulan ………... 99
B. Saran…....………... 101
DAFTAR ISTILAH
Abuse of power : penyalahgunaan wewenang
Actio Pauliana : hak yang diberikan undang-undang kepada setiap kreditor untuk menuntut pembatalan segala tindakan debitor yang tidak diwajibkan asal dapat dibuktikan bahwa pada saat tindakan itu dilakukan dapat merugikan kreditor.
Asas ultra petitum : dilarang mengabulkan sesuatu yang tidak diajukan dalam gugatan
A quo : ketentuan yang sama
Borgtocht : jaminan berbentuk orang
Business operation : operasi bisnis
Complicated : sangat rumit
Conceptus : suatu kegiatan atau proses berpikir
Conflict of interest : pertentangan kepentingan
Conservatoir beslag : sita terhadap harta benda milik tergugat
Daluwarsa : Lampau waktu
Debt Sale and Purchase : jual beli utang
Doctrinal : penelitian hukum normatif
Dubius : penafsiran mendua
Eksepsional : pengecualian yang sangat terbatas berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang
Erga omnes : putusan berlaku umum dan mengikat untuk semua kasus di seluruh Indonesia
Esensial : hal yang mendasar
Ethos : kredibilitas sumber atau pembicara di mata para pendengar/pembaca
Fakultatif : hakim tidak wajib mengabulkan akan tetapi dapat mengabulkan
Financial distress : kesulitan kondisi keuangan
Generalisasi : secara umum
Gugur : tidak mempunyai kekuatan lagi
Handscrift : surat tulisan tangan
Inkracht van gewijsde : berkekuatan hukum yang tetap
Imperatif : bersifat memerintah
Implementasi : penerapan
Independen : netral, tidak memihak salah satu
Instruksi : perintah
In natura : dalam bentuk fisik
Judicial Review : pengujian undang-undang
Justitiabelen : pencari keadilan
Liability Based on Fault : Prinsip Tanggung Jawab Karena Kesalahan
Library research : penelitian kepustakaan
Likuidasi : pemberesan terhadap harta debitor
Limitation of Liability : Prinsip Bertanggung Jawab Terbatas
Logos : penciptaan daya tarik rasional bagi para pendengar/pembaca
Non doctrinal : penelitian hukum empiris atau sosiologis
Omkering van bewijslast : pembuktian terbalik
Onrechtmatige daad : perbuatan melawan hukum
Pathos : penciptaan daya tarik emosional bagi para pendengar/pembaca
Petitum : gugatan
Problem : permasalahan
Prorate Parte : secara proporsional
Restitutie In Intergum : pemulihan pada keadaan seperti sediakala
Restriksi : pembatasan
Res judicita : belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap
Simple majority : suara terbanyak
Specimen : contoh
Stakeholder : pemangku kepentingan
Stability of interest : untuk memberikan keseimbangan dan keadilan terhadap para pihak
Strict Liability : Prinsip Tanggung Jawab Mutlak
Subordinated Bones : obligasi yang disubordinasi
Sumir : singkat, ringkas
Supplier : penyalur
UitVoerbaar Bij Voorraad :putusan serta merta
Universal : umum
Verifikasi : pemeriksaan tentang kebenaran laporan
Verstek : penjatuhan putusan atas perkara yang disengketakan, yang memberi wewenang kepada hakim menjatuhkan putusan tanpa hadirnya penggugat/tergugat
Verzet : upaya hukum perlawanan yang dapat digunakan oleh tergugat terhadap putusan verstek
Wanprestasi : tidak terlaksananya prestasi atau kewajiban
DAFTAR SINGKATAN
BHP : Balai Harta Peninggalan
CCGL : PT. Crown Capital Global Limited
DPR : Dewan Perwakilan Rakyat
HIR : Herzeine Inlandsch Reglement
Hlm. : Halaman
JKT.PST : Jakarta Pusat
Jo : Juncto
KUH PERDATA : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
MK : Mahkamah Konstitusi
No. : Nomor
PK : Peninjauan Kembali
PN : Pengadilan Niaga
PN. Niaga : Pengadilan Niaga
PP : Peraturan Pemerintah
RBg : Rechtsreglement voor de Buitengewesten
RI : Republik Indonesia
Rv : Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering
SEMA : Surat Edaran Mahkamah Agung
US$ : Mata uang dollar Amerika Serikat
UUK : Undang-Undang Kepailitan
ABSTRAK
Putusan serta merta yaitu putusan yang dapat dilaksanakan atau dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Pelaksanaan putusan serta merta harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya masalah baru akibat pelaksanaan putusan serta merta itu sendiri. Salah satu masalah yang terjadi akibat pelaksanaan putusan serta merta adalah sulit melakukan pemulihan kembali atas harta pailit yang telah dieksekusi apabila pailit dibatalkan Mahkamah Agung. Hal tersebut akan merugikan debitor dan mengganggu kelangsungan usaha debitor itu sendiri. Sebagai contoh kasus TPI dengan CCGL. Penelitian ini membahas beberapa permasalahan yaitu mengenai putusan serta merta dalam hukum kepailitan, perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan serta merta dalam hukum kepailitan, dan pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kepustakaan yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.
Hukum kepailitan Indonesia mengenal adanya putusan serta merta , hal ini dapat dilihat dalam UUK terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang putusan serta merta tersebut. Pelaksanaan putusan serta merta harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam HIR/RBg, SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001. Ketentuan dalam UU Kepailitan dan ketetapan dalam SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001 mengenai pemberian uang jaminan yang nilai sama dengan objek/barang yang dieksekusi oleh pemohon eksekusi kepada pengadilan, merupakan ketentuan yang menjamin perlindungan hukum kepada si debitor apabila dikemudian hari pernyataan pailit dibatalkan. Kasus CCGL dengan TPI yang mendapat putusan akhir pailit TPI dibatalkan, menjadikan TPI mengajukan judicial review sebagai bentuk ketidakpuasan TPI terhadap kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas dan telah merugikan TPI. Permohonan provisi maupun permohonan pokok TPI ditolak oleh Hakim MK dengan pertimbangan bahwa MK tidak berwenang untuk melakukan pemberhentian kurator, MK hanya memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang bersifat abstrak bukan konkret seperti kasus TPI, dan MK berpendapat bahwa mengenai kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas, memiliki batasan-batasan yang diatur oleh UU kepailitan itu sendiri.
lebih jelas dan tegas dalam hal batasan-batasan kewenangan kurator guna menghindari penyalahgunaan wewenang kurator dalam melakukan tugasnya, dan pengaturan mengenai pertanggungjawaban kurator juga harus diperjelas agar dapat berjalan secara efektif, baik setelah kelalaian kurator terjadi atau tindakan kurator yang berpotensi menimbulkan kerugian atas harta pailit.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan perekonomian dan perdagangan serta pengaruh globalisasi yang
melanda dunia usaha dewasa ini, dan mengingat modal yang dimiliki oleh para
pengusaha pada umumnya sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari
berbagai sumber, baik dari bank, penanaman modal, penerbitan obligasi maupun cara
lain yang diperbolehkan, telah menimbulkan banyak permasalahan penyelesaian
utang piutang dalam masyarakat.1 Akibat dari perjanjian pinjam meminjam uang
tersebut, lahirlah suatu perikatan di antara para pihak, dengan adanya perikatan maka
masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban.2
Salah satu kewajiban dari debitor adalah mengembalikan utangnya sebagai
suatu prestasi yang harus dilakukan. Apabila kewajiban mengembalikan utang
tersebut berjalan lancar sesuai dengan perjanjian tentu tidak merupakan masalah.
Permasalahan akan timbul apabila debitor mengalami kesulitan untuk
1
Rahayu Hartini, Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia Dualisme Kewenangan Pengadilan Niaga dan Lembaga Arbitrase, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), hal. 69.
2
mengembalikan utangnya tersebut, dengan kata lain debitor berhenti membayar
utangnya.3
Apabila seorang debitor (si berhutang) dalam kesulitan keuangan untuk
membayar, tentu saja para kreditor akan berusaha menempuh berbagai cara untuk
menyelamatkan piutangnya, baik dengan cara mengajukan gugatan perdata kepada
debitor ke pengadilan dengan disertai sita jaminan atas harta si debitor atau
menempuh cara lain yaitu kreditor mengajukan permohonan ke pengadilan agar si
debitor dinyatakan pailit. Jika kreditor menempuh cara yang pertama yaitu melalui
gugatan perdata, maka hanya kepentingan kreditor/ si penggugat saja yang dicukupi
dengan harta si debitor yang disita dan kemudian dieksekusi pemenuhan piutang dari
kreditor, kreditor lain yang tidak melakukan gugatan tidak dilindungi
kepentingannya.4
Dalam hal debitor mempunyai banyak kreditor dan harta kekayaaan debitor
tidak cukup untuk membayar lunas semua utang kreditor, maka para kreditor akan
berlomba dengan segala cara, baik yang sesuai dengan prosedur hukum, untuk
mendapatkan pelunasan tagihan terlebih dahulu. Kreditor yang datang belakangan
sudah tidak dapat memperoleh pembayaran lagi karena harta debitor sudah habis
diambil oleh kreditor yang lebih dahulu. Hal ini sangat tidak adil dan merugikan baik
kreditor maupun debitor sendiri. Berdasarkan alasan tersebut, lahirlah lembaga
3 Ibid. 4
kepailitan yang mengatur tata cara yang adil mengenai pembayaran tagihan-tagihan
para kreditor, dengan berpedoman pada KUH Perdata Pasal 1131 sampai dengan
Pasal 1149 maupun pada ketentuan dalam Undang-Undang Kepailitan (selanjutnya
disebut dengan UUK) sendiri.5
Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitor tidak mampu melakukan
pembayaran terhadap utang dari para kreditornya. Keadaan tidak mampu membayar
lazimnya disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan (financial distress) dari usaha debitor yang telah mengalami kemunduran, sedangkan kepailitan merupakan
putusan pengadilan yang mengakibatkan sita umum atas seluruh kekayaan debitor
pailit, baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari. Pengurusan dan
pemberesan kepailitan dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas
dengan tujuan utama menggunakan hasil penjualan harta kekayaan tersebut untuk
membayar seluruh utang debitor pailit tersebut secara proporsional (prorate parte)
sesuai dengan struktur kreditor.6
Kepailitan menurut UUK adalah “Sita umum atas kekayaan debitor pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim
pengawas”.7
Secara sederhana, kepailitan dapat diartikan sebagai suatu penyitaan
semua aset debitor yang dimasukkan ke dalam permohonan pailit. Debitor pailit tidak
5
M. Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 68.
6
Ibid, hal. 1 7
serta merta kehilangan kemampuannya untuk melakukan tindakan hukum, akan tetapi
kehilangan untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang dimasukkan di dalam
kepailitan terhitung sejak pernyataan kepailitan itu.
Atas putusan pailit tersebut debitor memiliki hak untuk melakukan upaya
hukum yang merupakan langkah atau usaha yang diperlukan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan untuk memperoleh keputusan yang adil berupa kasasi maupun
peninjauan kembali. Namun sesuai dengan putusan hukum kepailitan yang memiliki
daya Uit Voerbaar Bij Vooraad atau putusan serta merta, keputusan yang menyatakan debitor pailit harus tetap dilaksanakan terlebih dahulu meskipun putusan tersebut
belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
Dalam prakteknya putusan serta merta yang dijalankan terlebih dahulu sebelum
putusan hakim tersebut mempunyai kekuatan hukum tetap, banyak menimbulkan
permasalahan. Permasalahan tersebut terjadi ketika putusan yang telah dilaksanakan
tersebut dilakukan upaya hukum oleh pihak yang dikalahkan atau pihak ketiga yang
merasa dirugikan, dan kemudian putusan tersebut dibatalkan oleh pengadilan yang
lebih tinggi atau Mahkamah Agung. Demikian akan terjadi kesulitan dalam
pemulihan pada keadaan seperti sediakala (restitutie in intergum) sebelum dilakukannya eksekusi.8
8
Mengenai pengaturan putusan serta merta telah diatur di dalam Pasal 180 ayat 1
Herzeine Inlandsch Reglement selanjutnya disebut HIR, Pasal 191 ayat 1
Rechtsreglement voor de Buitengewesten selanjutnya disebut RBg dan Pasal 54-57 Rv yang bunyinya sebagai berikut: 9
Pasal 180 ayat 1 HIR :
“Ketua pengadilan negeri dapat memerintahkan supaya keputusan itu dijalankan lebih dahulu walaupun ada perlawanan atau banding, jika ada akta otentik, suatu tulisan tangan yang menurut peraturan yang berlaku mempunyai kekuatan bukti, atau jika ada keputusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap sebelumnya yang menguntungkan penggugat dan ada hubungannya dengan gugatan yang bersangkutan, demikian juga jika ada tuntutan provisionil yang dikabulkan, dan dalam persengketaan hak milik”.
Pasal 191 ayat 1 RBg:
“Ketua pengadilan negeri dapat memerintahkan supaya keputusan itu dijalankan lebih dahulu walaupun ada perlawanan atau banding, jika ada akta otentik atau tulisan tangan yang menurut peraturan yang berlaku mempunyai kekuatan bukti atau jika ada putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap sebelumnya yang menguntungkan penggugat dan ada hubungannya dengan gugatan yang bersangkutan dan juga jika ada tuntutan provisionil yang
dikabulkan dan dalam persengeketaan hak mililk”.
Pengaturan mengenai putusan serta merta juga diatur di dalam Surat Edaran
Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil dan SEMA Nomor 4 Tahun 2001 tentang Permasalahan Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil.
9
Mengenai putusan serta merta pada perkara kepailitan diatur di dalam UUK terdapat
dalam Pasal 8 ayat 7 yaitu:
“Putusan atas permohonan pernyataan pailit sebagaimana dimaksud pada ayat 6
yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan dapat dilaksanakan terlebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut diajukan
suatu upaya hukum”.
Pelaksanaan putusan serta merta ini disebabkan pembentuk undang-undang
menginginkan agar putusan pernyataan pailit dapat secepatnya dilaksanakan.
Menyikapi hal tersebut Pasal 16 ayat 2 UUK mengatur bahwa “dalam hal putusan
pernyataan pailit dibatalkan sebagai akibat adanya Kasasi atau Peninjauan Kembali,
segala perbuatan yang telah dilakukan oleh Kurator sebelum atau pada tanggal
Kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan, tetap sah dan
mengikat Debitor”.10
Meskipun undang-undang telah mengatur bahwa perbuatan pengurusan atau
pemberesan Kurator tetap sah dan mengikat Debitor walau dilakukan upaya hukum,
hal ini terlihat bahwa upaya hukum yang dilakukan oleh debitor tidak memiliki
kepastian hukum serta debitor tidak dapat menyelamatkan harta pailit sehingga tidak
dapat dihindari kemungkinan terjadinya kerugian bagi kelangsungan usaha Debitor
setelah pembatalan putusan pernyataan pailit oleh Mahkamah Agung karena bisa saja
10
Disriani Latifah, Eksekusi Putusan Pailit,
yang berhasil dijual oleh Kurator tersebut adalah aset yang diperlukan untuk
kelangsungan usaha Debitor.11
Menurut pendapat Sutan Remy Sjahdeini, sebaiknya:
“Undang-undang menentukan bahwa yang boleh dilakukan Kurator terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit itu adalah tugas pengurusan dan pemberesan atas harta pailit kecuali melakukan penjualan harta tetap yang merupakan harta yang mutlak diperlukan bagi kegiatan usaha atau bisnis Debitor, yang tanpa dimilikinya lagi harta itu oleh Debitor maka tidak mungkin lagi bagi Debitor untuk dapat melanjutkan usaha atau bisnisnya seandainya
putusan pernyataan pailit itu dibatalkan”.12
Sehubungan dengan sifat keputusan hakim dalam, perkara kepailitan “dapat
dilaksanakan terlebih dahulu” atau Uit Voerbaar Bij Vooraad, maka layak kiranya
apabila para hakim yang memeriksa perkara kepailitan untuk bertindak hati-hati
dalam memutus perkara permohonan pailit, dan bagi Kurator yang didampingi oleh
hakim pengawas dapat langsung menjalankan fungsinya untuk melakukan
pengurusan dan pemberesan pailit pada waktu yang tepat dan sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku.
Pemberlakuan putusan serta merta pada dasarnya sebagai alat untuk
mempercepat likuidasi terhadap harta-harta debitor untuk digunakan sebagai
pembayaran utang-utangnya. Putusan ini tetap akan dilaksanakan walaupun upaya
hukum telah diajukan oleh debitor terhadap putusan tingkat pertama, apabila ternyata
dalam tingkat kasasi debitor dinyatakan menang dan tidak pailit, maka akan
11
Ibid.
12
menimbulkan kesulitan dalam memulihkan keadaan harta kekayaan debitor
tersebut.13
Berbagai fenomena kepailitan yang sering terjadi menjadikan persoalan
kepailitan ini menjadi persoalan yang penting. Untuk meminimalisir terjadinya
permasalahan yang ditimbulkan oleh pelaksanaan putusan serta merta, hendaknya
majelis hakim yang memeriksa perkara kepailitan benar-benar memperhatikan
ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam peraturan-peraturan yang berlaku dalam
mengabulkan putusan serta merta. Salah satu kasus kepailitan PT. Cipta Televisi
Pendidikan Indonesia (TPI), kepailitan diajukan oleh PT. Crown Capital Global
Limited (CCGL). PT. Crown Capital Global Limited merupakan perusahaan asal
Inggris. Persidangan perkara No. 52/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst ini dilaksanakan
pertama kali pada tanggal 20 Oktober 2009.
Kasus bermula dari adanya utang antara TPI dengan CCGL sebesar US$53 juta.
Utang tersebut timbul dari perjanjian jual beli utang yang ditandatangani CCGL
dengan Fillago limited. Fillago sendiri merupakan pemilik dari Subordinated Bones
(obligasi yang disubordinasi) yang diterbitkan oleh TPI. Obligasi itu diterbitkan pada
tanggal 24 Desember 1996 dan jatuh tempo pada tanggal 24 Desember 2006. Pada 27
Desember 2004, Fillago mengalihkan kepemilikan obligasi itu pada Crown Capital
yang diperjanjikan dalam Debt Sale and Purchase. Ketika jatuh tempo pada 24 Desember 2006, TPI tidak juga melunasi utangnya. Dalam permohonannya, Crown
13
Capital menyebut Asian Venture Finance Limited selaku kreditur lain. TPI berutang
pada Asian Venture sebesar US$10,325 juta, belum termasuk denda dan bunga.14
Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada tanggal 14 Oktober 2009
menyatakan TPI pailit, yang berarti terbukti bahwa bukti utang yang diajukan oleh
CCGL adalah benar adanya dan TPI dinyatakan pailit dengan segala akibatnya. Salah
satunya adalah dilaksanakannya putusan serta merta oleh kurator yang telah ditunjuk
oleh hakim dalam amar putusan. Namun, pihak TPI kemudian mengajukan kasasi ke
Mahkamah Agung karena merasa keberatan atas keputusan pailit pada Pengadilan
Niaga.
Pada tanggal 15 Desember 2009, hakim pun memutuskan menolak untuk
mempailitkan TPI, yang berarti bahwa TPI tidak jadi pailit dan kedudukannya
sebagai debitor kembali seperti semula, akan tetapi sulit untuk memulihkan pada
keadaan semula. Permohonan pemohon yang ingin menguji Pasal 16 ayat 1, Pasal 16
ayat 2 dan Pasal 69 UUK terhadap Pasal 28D ayat 1 dan Pasal 28H ayat 4 UUD 1945,
kedudukan hukum si pemohon dan kewenangan MK sesuai dengan UUD maka MK
berwenang untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan permohonan pemohon.
Maka dari itu, pihak TPI mengajukan Judicial Review terhadap UUK terhadap Pasal 16 ayat 1, Pasal 16 ayat 2, dan Pasal 69 tentang wewenang kurator yang begitu luas
dalam hal pengurusan dan pemberesan harta pailit.
14
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut dan menyusunnya dalam tesis yang berjudul: Pelindungan Hukum
Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, adapun yang menjadi pokok permasalahan yang
ingin diteliti dalam tesis ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana putusan serta merta dalam hukum kepailitan?
2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan
serta merta dalam hukum kepailitan?
3. Bagaimana pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari latar belakang dan perumusan masalah tersebut di atas, maka
tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui putusan serta merta dalam hukum kepailitan
2. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi
putusan serta merta dalam hukum kepailitan.
3. Untuk mengetahui pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis
maupun praktis, masing-masing sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat teoritis yang berupa
sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum khususnya yang
berkaitan dengan hukum kepailitan dan pembahasan terhadap masalah ini akan
memberikan pemahaman dan pandangan yang baru mengenai kasus-kasus
kepailitan yang sering terjadi.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah pengetahuan
dibidang hukum khususnya hukum kepailitan tentang pelaksanaan dan
perlindungan hukum terhadap debitor yang dijatuhi putusan serta merta dalam
kepailitan.
E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik
terhadap hasil penelitian yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan, khususnya
di lingkungan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan,
menunjukkan bahwa penelitian dengan judul ”Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan” belum pernah
dilakukan baik dalam judul maupun permasalahan yang sama. Dari hasil pemeriksaan
1. Saudara Mangara Marpaung (NIM 117005063). Mahasiswa Magister Hukum
Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Kekuatan Mengikat
SEMA No 3 Tahun 2000 Tentang Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) Dan Provisionil Sebagai Hukum Acara Perdata Di Indonesia, dengan permasalahan yang diteliti adalah :
a) Bagaimana pelaksanaan putusan serta merta oleh Pengadilan Negeri
dengan keluarnya SEMA No 3 Tahun 2000?
b) Bagaimana kekuatan mengikat SEMA No 3 Tahun 2000 tentang putusan
serta merta dan provisionil dalam prespektif hukum acara perdata di
Indonesia?
2. Saudara Belinda (NIM 077011009). Mahasiswa Magister Kenotariatan
Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Akibat Hukum Putusan
Pernyataan Pailit Debitur Terhadap Kreditur Pemegang Hak Tanggungan”,
dengan permasalahan yang diteliti adalah:
a) Bagaimana ketentuan hukum pelaksanaan kepailitan kreditur terhadap
debitur?
b) Bagaimana kedudukan kreditur pemegang hak tanggungan dalam
keputusan kepailitan?
c) Bagaimana akibat hukum kepailitan debitur terhadap kreditur pemegang
hak tanggungan dalam eksekusi hak tanggungan?
Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam penelitian-penelitian tersebut
demikian penelitian ini adalah asli baik dari segi substansi maupun dari segi
permasalahan, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Kerangka konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum di samping yang
lain-lain seperti asas dan standar, oleh karena itu kebutuhan untuk membentuk konsep
merupakan salah satu dari hal-hal yang dirasakan penting oleh hukum.15
Kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori,
tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan dan pegangan teoritis.16 Teori bisa dipergunakan untuk menjelaskan
fakta dan peristiwa hukum yang terjadi. Tugas teori hukum ialah memberikan suatu
analisis tentang pengertian hukum dan tentang pengertian-pengertian lain yang dalam
hubungan ini relevan, kemudian menjelaskan hubungan antara hukum dan logika dan
selanjutnya memberikan suatu filsafat ilmu dan suatu ajaran metode untuk praktek
hukum.17 Oleh karena itu, kegunaan teori hukum dalam penelitian adalah sebagai
pisau analisa pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam
masalah penelitian.18
Teori yang dipergunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah teori kepastian hukum dan perlindungan hukum digunakan sebagai teori
15
Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 397. 16
M. Solly Lubis, Filsafat dan Ilmu Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80. 17
B. Arief Sidarta, Meuwissen, Tentang Pengembangan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, dan Filsafat Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2007), hal. 31.
18
pendukung. Kepastian asal katanya pasti yang artinya tentu; sudah tetap; boleh tidak;
sesuatu hal yang sudah tentu.19 Dengan adanya hukum yang baik diharapkan tercipta
ketertiban dan kepastian hukum dalam masyarakat. Aturan tersebut berlaku untuk
semua pihak, sebagaimana yang dikemukakan oleh Budiono Kusumohanidjojo:
“Dalam keadaan tanpa patokan sukar bagi kita untuk membayangkan bahwa
kehidupan masyarakat bisa berlangsung tertib, damai, dan adil. Fungsi dari kepastian hukum adalah tidak lain untuk memberikan patokan bagi prilaku seperti itu. Konsekuensinya adalah hukum itu harus memiliki suatu kredibilitas dan kredibilitas itu hanya bisa dimiliki bila penyelenggaraan hukum mampu memperlihatkan suatu alur konsistensi. Penyelenggaraan hukum yang tidak konsisten tidak akan membuat masyarakat mau mengandalkannya sebagai perangkat kaedah yang mengatur kehidupan bersama.20
Pendapat lainnya mengenai kepastian hukum dapat ditemukan dalam buku M.
Yahya Harahap, yang menyatakan bahwa kepastian hukum dibutuhkan dalam
masyarakat demi terciptanya ketertiban dan keadilan. “Ketidakpastian hukum akan
menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat dan setiap anggota masyarakat
akan saling berbuat sesuka hati serta bertindak main hakim sendiri”.21
Sudikno
Mertokusumo mengartikan “kepastian hukum, merupakan perlindungan yustisiabel
terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat
memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu”.22
19
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), hal. 847.
20
Budiono Kusumohanidjojo, Ketertiban Yang Adil Problem Filsafat Hukum, (Jakarta: Grasindo, 2006), hal. 150-151.
21
M. Yahya Harahap, Pembahasan, Permasalahan, dan Penerapan KUHAP, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal. 76.
22
Teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) perngertian yaitu pertama adanya
aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa saja yang
boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari
kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum
itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dilakukan oleh negara terhadap
individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang
melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang
satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.23
Sebagai negara hukum, Indonesia harus membuktikan dirinya telah menerapkan
secara nyata dari prinsip-prinsip negara hukum, yaitu kepastian hukum,
menjamin/melindungi hak asasi penduduk, dan peradilan bebas karena manusia
mempunyai kepentingan yaitu tuntutan perorangan/kompleks yang diharapkan dapat
dipenuhi sesuai yang diharapkan.24
Keinginan dari masyarakat dan para pencari keadilan (justitiabelen) menuntut agar penyelesaian perkara melalui pengadilan berjalan sesuai dengan asas peradilan
yang sederhana, cepat dan biaya ringan. Seiring dengan pesatnya laju pembangunan
dewasa ini dengan perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin
kompleks, maka tuntutan penyelesaian perkara melalui proses berperkara yang cepat,
sederhana dan biaya ringan tersebut sangatlah dibutuhkan. Tujuan dari kedua belah
pihak yang berperkara di Pengadilan Negeri adalah untuk mendapatkan kekuatan
23
Petter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana Pranda Media Group, 2008), hal. 158.
24
hukum yang tetap (inkracht van gewijsde), yaitu putusan yang tidak mungkin dilawan dengan upaya hukum verzet, banding, kasasi.25
Tujuan lainnnya ialah untuk menyelesaikan perkara akibat telah terjadinya
perbenturan kepentingan keperdataan antara individu. Namun praktik akhir-akhir ini
yang terjadi dengan diajukannya permohonan eksekusi oleh pihak yang menang
dalam perkara itu, yang biasanya memerlukan waktu yang cukup lama dan
bertahun-tahun. Hal ini sangat merugikan bagi para pencari keadilan, ditambah lagi dengan
masalah biaya-biaya perkara yang harus dikeluarkan selama proses perkara itu
berlangsung, serta belum lagi beban psikologis yang dialami oleh pihak-pihak yang berperkara itu.
Suatu putusan untuk memperoleh kekuatan hukum yang tetap diakui memang
sering harus menunggu waktu yang lama kadang-kadang sampai bertahun-tahun.
Maka dari itu, ada sebuah ketentuan yang merupakan penyimpangan dalam hal ini,
yaitu terdapat dalam Pasal 180 Ayat 1 HIR/Pasal 191 Ayat 1 RBg serta pasal 8 Ayat
7 UUK mengenai putusan yang pelaksanaannya dapat dijalankan terlebih dahulu,
meskipun ada banding dan kasasi. Dengan kata lain putusan itu dapat dilaksanakan
meskipun putusan itu belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
Apabila terhadap putusan pailit tersebut dimintakan upaya hukum, maka
masalah hukum yang terjadi biasanya muncul apabila upaya hukum tersebut yang
diajukan oleh debitor dikabulkan oleh tingkat yang lebih tinggi/ Mahkamah Agung.
25
Dimana putusan tersebut dinyatakan debitor tidak pailit, yang menjadi permasalahan
sulitnya untuk memulihkan hak debitor pailit. Akan tetapi Mahkamah Agung
mengeluarkan instruksi dan beberapa Surat Edaran yang ditujukan kepada hakim
Pengadilan Negeri agar dalam menjatuhkan putusan serta merta perlu
dipertimbangkan dengan matang guna menghindari hal-hal yang mungkin akan
menimbulkan permasalahan baru.
Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 2000 Tentang
putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan putusan provisionil serta SEMA
Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Permasalahan putusan serta merta dan provisionil. SEMA
tersebut diterbitkan oleh Mahkamah Agung guna mengatur kembali penggunaan
putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan putusan provisionil yang dijatuhkan majelis hakim dalam menyelesaikan perkara di pengadilan. Dengan
dikeluarkannya SEMA tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak debitor.
Teori pendukung yaitu teori perlindungan hukum. Perlindungan hukum
merupakan konsep universal dari negara hukum. Perlindungan hukum diberikan
apabila terjadi pelanggaran maupun tindakan yang bertentangan dengan hukum yang
dilakukan oleh pemerintah, baik perbuatan penguasa yang melanggar undang-undang
maupun masyarakat yang harus diperhatikannya. Pengertian dalam kata perlindungan
hukum terdapat suatu usaha untuk memberikan hak-hak yang dilindungi sesuai
dengan kewajiban yang harus dilakukan.26
26
Perlindungan hukum terhadap rakyat terdapat 2 (dua) macam perlindungan
hukum yaitu:27
1. Perlindungan Hukum Preventif, yaitu kepada rakyat diberi kesempatan untuk
mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah
mendapatkan bentuk yang definitive. Perlindungan hukum preventif mencegah
terjadinya sengketa.
2. Perlindungan Hukum Represif, bertujuan menyelesaikan sengketa perlindungan
hukum preventif sangat besar artinya bagi pemerintah yang didasarkan
kebebasan bertindak karena dengannya adanya perlindungan hukum preventif,
pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang
didasarkan pada diskresi. Dengan pengertian demikian, penanganan
perlindungan hukum bagi rakyat oleh peradilan umum di Indonesia termasuk
perlindungan hukum represif.
Sesuai dengan fungsi hukum sebagai perlindungan kepentingan manusia, tujuan
pokok hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan
ketertiban dan keseimbangan sehingga fungsi hukum kepailitan pun tidak lagi
sekedar melindungi kepentingan kreditor, tetapi juga melindungi kepentingan debitor
dan berbagai pihak yang terkait.
Asas perlindungan hukum merupakan manifestasi kehendak masyarakat bahwa
peraturan hukum (norma hukum) seharusnya memberikan perlindungan bagi
kepentingan individu-individu dan masyarakat. Peraturan kepailitan atau UUK harus
27
menunjukkan kehendak untuk melindungi kepentigan debitor, kreditor dan
pihak-pihak yang terkait dengan suatu kepailitan.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 didasarkan pada beberapa asas, yaitu
sebagai berikut:28
1. Asas Keseimbangan
Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan
dari asas keseimbangan, yaitu di satu pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah
terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak
jujur, di lain pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya
penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad
baik.
2. Asas Kelangsungan Usaha
Dalam Undang-undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaan
debitor yang prospektif tetap dilangsungkan.
3. Asas Keadilan
Dalam kepailitan, asas keadilan mengandung pengertian bahwa ketentuan
mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan memenuhi rasa keadilan bagi para
pihak yang berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya
kesewenang-wenangan pihak penagih yang tidak memperdulikan kreditor lainnya.
28
4. Asas Integrasi
Asas integrasi dalam kepailitan mengandung pengertian bahwa sistem hukum
formal dan hukum materialnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem
hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.
2. Konsepsi
Konsepsi berasal dari bahasa Latin, conceptus yang memliki arti sebagai suatu kegiatan atau proses berpikir, daya berpikir khususnya penalaran dan pertimbangan.29
Konsepsi adalah suatu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai
usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut
dengan operational definition.30 Pentingnya definisi operational adalah untuk menghindari perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai.31
Bertitik tolak dari kerangka teori sebagaimana tersebut diatas, berikut disusun
kerangka konsepsi yang dapat dijadikan sebagai definisi operational, yaitu antara lain:
a. Perlindungan Hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan terhadap
subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif
maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis sebagai
29
Komaruddin dan Yooke Tjuparmah Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 122.
30
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia), hal. 34.
31
gambaran dari fungsi hukum yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan
suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaat dan kedamaian.32
b. Putusan Serta Merta adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan atau
dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai
kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde).33
c. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan
hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang.34
d. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau
undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.35
e. Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjiannya atau
undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.36
f. Debitor Pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit oleh putusan
pengadilan.37
g. Utang adalah kewajiban yang dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata
uang Indonesia maupun dalam mata uang asing, baik secara langsung maupun
yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena
32
Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Badan Pembinaan Hukum Nasional, Pengkajian Hukum Tentang Perlindungan Hukum Bagi Upaya Menjamin Kerukunan Umat Beragama, www.bphn.go.id/data/documents/pkj-2011-11.pdf , (Jakarta, 2011), hal. 14, diakses tanggal 16 Desember 2014 pukul 20.16 WIB
33
Jono, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal 101. 34
Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 35
Lihat Pasal 1 butir 2 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 36
Lihat Pasal 1 butir 3 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 37
perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila
tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya
dari harta kekayaan debitor.38
G. Metode Penelitian
Menurut Sunaryati Hartono, metode penelitian adalah cara atau jalan atau
proses pemeriksaaan atau penyelidikan yang menggunakan penalaran dan teori-teori
yang logis-analitis (logika), berdasarkan dalil-dalil, rumus-rumus dan teori-teori suatu
ilmu (atau beberapa cabang ilmu) tertentu, untuk menguji kebenaran (atau
mengadakan verifikasi) suatu hipotesis atau teori tentang gejala-gejala atau peristiwa
alamiah, peristiwa sosial atau peristiwa hukum tertentu.39 Metode penelitian hukum
merupakan suatu cara yang teratur (sistematis) dalam melakukan sebuah penelitian.40
Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang
didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk
mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya,
kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum
tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas
permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala bersangkutan.41
38
Lihat Pasal 1 butir 6 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 39
Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung: Alumi, 1994), hal. 105.
40
Muhammad Abdulkadir, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 57.
41
Penelitian hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penelitian hukum
normatif (doctrinal) yang condong bersifat kualitatif dan penelitian hukum empiris atau sosiologis (non doctrinal) yang condong bersifat kuantitatif.42 Adapun metode penelitian yang dipergunakan dalam menjawab permasalahan yang timbul dalam tesis
ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif (yuridis normatif) atau disebut juga penelitian hukum yang digunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti
sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap
asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan
perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa
permasalahan yang dibahas.43
Sifat penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, maksudnya dari penelitian
ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan
yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh
akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan tentang
Perlindungan Hukum Terhadap Debitur Yang Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam
Kepailitan.
2. Sumber data
42
J. Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 2. 43
Sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang
terdiri dari bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder. Data
sekunder yang diteliti adalah sebagai berikut:
a) Bahan hukum primer, merupakan dokumen peraturan yang mengikat dan
ditetapkan oleh pihak yang berwenang44 yang terdiri dari:
1) RBg (Rechtsreglement voor de Buitengewesten) / HIR (Herziene Indlandsch Reglemen)
2) Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004
3) SEMA N0.3 Tahun 2000, tentang Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar
Bij Vooraad) dan Provisionil
4) SEMA No. 4 Taun 2001, tentang permasalahan Putusan serta Merta
(Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil
b) Bahan hukum sekunder, merupakan bahan yang memberikan penjelasan
tentang bahan hukum primer meliputi buku-buku teks, kamus-kamus
hukum, jurna-jurnal hukum. Bahan hukum sekunder terutama adalah buku
teks karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum
dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang mempunyai klasifikasi
tinggi.45
44
Soedikno Mertokusumo, Op.cit, hal. 19. 45
c) Bahan hukum tertier, merupakan bahan hukum penunjang yang memberi
petunjuk dan penjelasan lebih mendalam terhadap bahan hukum sekunder
seperti kamus umum, kamus hukum, majalah dan jurnal ilmiah.46
3. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulam data ialah teknik atau cara yang dapat digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan data. Metode atau teknik menunjuk suatu kata yang
abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihatkan
penggunaannya melalui angket, pengamatan, ujian, dokumen dan lainnya.47
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui
penelitian kepustakaan (library search) untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian terdahulu yang
berhubungan dengan objek telaahan penelitian ini. Jadi penelitian ini dilakukan
dengan batasan penggunaan studi dokumen atau bahan pustaka saja yaitu berupa data
sekunder.
4. Analisis Data
Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian.
Dalam penelitian ini data yang diperoleh akan diproses dan dimanfaatkan sedemikian
rupa sampai didapat suatu kesimpulan yang nantinya akan menjadi hasil akhir dari
penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
data yang bersifat kualitatif.
46
Soerjono Soekanto dan Sri Mumadji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 13.
47
Analisis kualitatif dilakukan terhadap paradigma hubungan dinamis antara
teori, konsep dan bahan hukum yang merupakan modifikasi yang tetap dari teori dan
konsep yang didasarkan pada bahan hukum yang dianalisis beraneka ragam, memiliki
sifat dasar yang berbeda satu dengan lainnya. Penarikan kesimpulan dilakukan
dengan menggunakan logika berfikir deduktif, yakni penyimpulan yang dilakukan
dimulai dari yang umum ke khusus.48
48
BAB II
PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN
A. Tinjauan Umum Tentang Putusan Serta Merta
Tujuan diadakannya suatu proses di muka pengadilan adalah untuk memperoleh
putusan hakim. Putusan hakim atau lazim disebut juga dengan istilah putusan
pengadilan merupakan sesuatu yang dapat diinginkan atau dinanti-nantikan oleh
pihak-pihak berperkara guna menyelesaikan sengketa diantara mereka dengan
sebaik-baiknya. Sebab dengan putusan hakim tersebut pihak-pihak yang bersengketa
mengharapkan adanya kepastian hukum dan keadilan dalam perkara yang mereka
hadapi.49
Suatu putusan dapat dilaksanakan apabila putusan tersebut telah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde). Adapun yang dimaksud dengan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap itu adalah putusan hakim
yang tidak diajukan upaya hukum apapun baik banding, kasasi maupun peninjauan
kembali oleh pihak-pihak yang berperkara dalam tenggang waktu yang ditentukan
oleh peraturan perundang-undangan. Konsekuensi putusan yang telah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap adalah sebagai berikut:50
1. Siapa pun tidak ada yang berhak dan berkuasa untuk mengubahnya,
49
Taufik Makarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata Cetakan I, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 124.
50
2. Yang dapat merubahnya, hanya terbatas pemberian grasi dalam perkara
pidana, dan melalui peninjauan kembali dalam perkara perdata,
3. Oleh karena itu, setiap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, wajib
dan mesti dilaksanakan baik secara sukarela atau dengan paksa melalui
eksekusi, dan pelaksanaan atas pemenuhan putusan itu tanpa menghiraukan
apakah putusan itu kejam atau tidak menyenangkan.
Adanya putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap
(inkracht van gewijsde) terhadap suatu perkara maka tujuan dari pencari keadilan telah terpenuhi. Hal ini karena melalui putusan pengadilan itu dapatlah diketahui hak
dan kewajiban dari masing-masing pihak yang berperkara, namun hal itu bukan
berarti tujuan akhir dari para pihak yang berperkara tersebut telah selesai terutama
bagi pihak yang menang, hal ini disebabkan pihak yang menang tidak mengharapkan
kemenangannya itu hanya di atas kertas belaka tetapi harus ada pelaksanaan dari
putusan tersebut.51
Suatu putusan untuk memperoleh kekuatan hukum yang tetap diakui memang
sering harus menunggu waktu yang lama kadang-kadang sampai bertahun-tahun.
Namun ada sebuah ketentuan yang merupakan penyimpangan dalam hal ini, yaitu
terdapat dalam Pasal 180 ayat 1 HIR/ Pasal 191 ayat 1 RBg yaitu ketentuan mengenai
putusan yang pelaksanaannya dapat dijalankan terlebih dahulu, meskipun ada
51
banding dan kasasi dengan kata lain putusan itu dapat dilaksanakan meskipun putusan
itu belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap, lembaga ini dikenal dengan Uit Voerbaar Bij Vooraad.
Hakim berwenang menjatuhkan putusan akhir yang mengandung amar,
memerintahkan supaya putusan yang dijatuhkan tersebut, dijalankan atau
dilaksanakan lebih dahulu:52
1. Meskipun putusan itu belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap (res judicita).
2. Bahkan meskipun terhadap putusan itu diajukan perlawanan atau banding.
Berdasarkan ketentuan yang digariskan Pasal 180 ayat 1 HIR, Pasal 191 ayat 1
RBg serta Pasal 54 Rv, memberi wewenang kepada hakim menjatuhkan putusan yang
berisi diktum: memerintahkan pelaksaanaan lebih dahulu putusan, meskipun belum
memperoleh kekuatan tetap adalah bersifat eksepsional. Penerapan Pasal 180 HIR
dimaksud, tidak bersifaf generalisasi, tetapi bersifat terbatas berdasarkan syarat-syarat
yang sangat khusus. Karakter yang memperbolehkan eksekusi atas putusan yang
berisi amar dapat dijalankan lebih dahulu sekalipun putusan tersebut belum
memperoleh kekuatan hukum yang tetap, merupakan ciri eksepsional yakni
pengecualian yang sangat terbatas berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan
undang-undang.53
52
M. Yahya Harahap, Op.cit, hal. 897. 53
Syarat-syarat dimaksud merupakan pembatasan (restriksi) kebolehan
menjatuhkan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad). Pelanggaran atas batas-batas yang digariskan syarat-syarat itu, mengakibatkan
putusan mengandung pelanggaran hukum atau melampaui batas wewenang yang
diberikan undang-undang kepada hakim, sehingga tindakan hakim itu dapat
dikategori tidak profesional (unprofessional conduct).
Penerapan Pasal 180 ayat 1 HIR dan Pasal 191 ayat 1 RBg bersifat fakultatif
bukan imperatif, hakim tidak wajib mengabulkan akan tetapi dapat mengabulkan.
Kewenangan hakim menjatuhkan putusan serta merta merupakan diskrioner, oleh
karena itu hakim harus berhati-hati dalam menjatuhkan putusan serta merta, sekalipun
persyaratan yang ditentukan dalam undang-undang secara formil telah terpenuhi,
karena apabila putusan serta merta sudah dieksekusi barang sudah diserahkan kepada
pemohon eksekusi kemudian ditingkat banding atau kasasi putusan Pengadilan
Negeri dibatalkan dan gugatan ditolak akan timbul masalah untuk mengembalikan
dalam keadaan semula obyek eksekusi.54
Dapat dilihat betapa besarnya risiko yang harus dihadapi pengadilan atas
pengabulan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu. Maka untuk memperkecil
risiko yang dimaksud, Mahkamah Agung telah mengeluarkan berbagai Surat Edaran
Mahkamah Agung (selanjutnya disebut SEMA) untuk dijadikan pedoman apabila
54
hakim hendak menjatuhkan putusan yang seperti itu. Secara kronologis telah
dikeluarkan berturut-turut sebagai berikut:55
1. SEMA Nomor 13 Tahun 1964 Tentang Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih
Dulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad).
SEMA Nomor 13 Tahun 1964 diterbitkan oleh Mahkamah Agung tanggal 10
Juli 1964 yang di dalamnya memuat mengenai penggunaan lembaga putusan serta
merta. Isi SEMA Nomor 13 Tahun 1964 adalah menyambung instruksi yang
diberikan Mahkamah Agung tanggal 13 Februari 1950 No.348 K/5216/M kepada
Pengadilan Negeri-Pengadilan Negeri agar jangan secara mudah memberi putusan
yang dapat dijalankan lebih dahulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad), walaupun tergugat mengajukan banding atau melakukan perlawanan. Instruksi ini dihubungkan dengan
nasehat dari Ketua Mahkamah Agung dalam beberapa pertemuan dengan para hakim,
agar putusan serta merta sedapat mungkin jangan diberikan, apabila terlanjur
diberikan jangan dilaksanakan. Oleh karena apabila terhadap putusan tersebut
dimintakan banding, maka:
a) Apabila suatu perkara dimintakan banding, maka perkara itu menjadi mentah
kembali,
b) Apabila putusan tersebut terlanjur dilaksanakan untuk kepentingan penggugat,
dan kemudian penggugat dikalahkan oleh Pengadilan Tinggi, maka akan
ditemui banyak kesulitan-kesulitan untuk mengembalikan dalam keadaan
semula.
55
Mengingat kenyataannya bahwa Instruksi Mahkamah Agung dan nasehat
Ketua Mahkamah Agung tanggal 13 Februari 1950 No.348 K/5216/M tersebut
kurang diindahkan, terbukti masih banyak Pengadilan Negeri-Pengadilan Negeri yang
memberikan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu bahkan melaksanakan
putusan-putusan tersebut walaupun terhadap putusan tersebut dimintakan banding.
Maka dari itu, Mahkamah Agung sekali lagi menginstruksikan agar sedapat mungkin
jangan memberikan putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu, atau apabila
benar-benar dipandang perlu memberikan putusan yang dapat dijalankan terlebih
dahulu, pelaksanaannya harus mendapat persetujuan lebih dahulu dari Mahkamah
Agung.
2. SEMA Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih
Dulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad).
SEMA Nomor 5 Tahun 1969 diterbitkan oleh Mahkamah Agung tanggal 2
Juni 1969 yang isinya menegaskan kembali SEMA Nomor 13 Tahun 1964 terkait
pelaksanaan putusan serta merta yang harus mendapat persetujuan lebih dulu dari
Mahkamah Agung, yaitu:
a) Bahwa yang dimaksud dalam SEMA Nomor 13 Tahun 1964 adalah
permintaan persetujuan untuk melaksanakan putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad).
b) Apabila terhadap putusan serta merta tersebut diajukan permohonan
pemeriksaan tingkat banding, kemudian diajukan permintaan persetujuan
Tinggi yang bersangkutan untuk memeriksa, mempertimbangkan dan
memutus dapat atau tidaknya permintaan persetujuan pelaksanaan putusan
serta merta tersebut dikabulkan.
3. SEMA Nomor 3 Tahun 1971 Tentang Uit Voerbaar Bij Vooraad
SEMA Nomor 3 Tahun 1971 diterbitkan oleh Mahkamah Agung tanggal 17
Mei 1971 yang isinya merupakan lanjutan dari yang terdahulu, yang berisi
keprihatinan atas sikap para hakim yang tidak mengindahkan syarat-syarat yang
digariskan pasal 180 ayat 1 HIR, pasal 191 ayat 1 RBg dalam mengabulkan putusan
yang dapat dijalankan lebih dahulu, oleh karena itu SEMA ini mempertegas lagi
syarat-syarat itu untuk ditaati.56
4. SEMA Nomor 6 Tahun 1975 Tentang Uit Voerbaar Bij Vooraad
SEMA Nomor 6 Tahun 1975 diterbitkan oleh Mahkamah Agung pada tanggal
1 Desember 1975 yang isinya terdapat penggarisan yang lebih tegas, antara lain
sebagai berikut:57
a) Kewenangan menjatuhkan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu
berdasar pasal 180 ayat 1 HIR, pasal 191 ayat 1 RBg adalah bersifat
diskresioner, bukan imperatif sifatnya.
b) Oleh karena itu, para hakim tidak menjatuhkan putusan yang demikian
meskipun memenuhi syarat-syarat yang digariskan pasal-pasal dimaksud.
c) Dalam hal yang sangat eksepsional dapat dikabulkan dengan syarat:
56
M. Yahya Harahap, Op.cit, hal. 899. 57
1) Apabila ada conservatoir beslag yang harga barang yang disita tidak mencukupi menutup jumlah gugatan.
2) Meminta jaminan kepada pemohon eksekusi yang seimbang nilainya.
d) Pada saat diucapkan, putusan sudah selesai.
e) Dalam tempo 2 minggu setelah diucapkan salinan putusan dikirimkan
kepada Pengadilan Tinggi untuk meminta persetujuan eksekusi.
5. SEMA Nomor 3 Tahun 1978 Tentang Uit Voerbaar Bij Vooraad
SEMA Nomor 3 Tahun 1978 diterbitkan oleh Mahkamah Agung pada tanggal
1 April 1978 yang isinya mengingatkan kembali SEMA yang telah diterbitkan
sebelumnya, tetapi sekaligus juga berisi penegasan dan penjelasan, yang terpenting
diantaranya:58
a) Menegaskan kembali agar para hakim di seluruh Indonesia tidak
menjatuhkan putusan y