• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN

TESIS

OLEH :

ASTRI ESTER SILALAHI 127011005/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

ASTRI ESTER SILALAHI 127011005/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Telah Diuji Pada

Tanggal : 3 Februari 2015

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum

Anggota : 1. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum 3. Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum

(4)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda-tangan dibawah ini :

Nama : ASTRI ESTER SILALAHI

Nim : 127011005

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

JudulTesis : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR

YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan, 16 Februari 2015 Yang membuat pernyataan

(5)

ABSTRAK

Putusan serta merta yaitu putusan yang dapat dilaksanakan atau dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Pelaksanaan putusan serta merta harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya masalah baru akibat pelaksanaan putusan serta merta itu sendiri. Salah satu masalah yang terjadi akibat pelaksanaan putusan serta merta adalah sulit melakukan pemulihan kembali atas harta pailit yang telah dieksekusi apabila pailit dibatalkan Mahkamah Agung. Hal tersebut akan merugikan debitor dan mengganggu kelangsungan usaha debitor itu sendiri. Sebagai contoh kasus TPI dengan CCGL. Penelitian ini membahas beberapa permasalahan yaitu mengenai putusan serta merta dalam hukum kepailitan, perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan serta merta dalam hukum kepailitan, dan pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009.

Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kepustakaan yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.

Hukum kepailitan Indonesia mengenal adanya putusan serta merta , hal ini dapat dilihat dalam UUK terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang putusan serta merta tersebut. Pelaksanaan putusan serta merta harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam HIR/RBg, SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001. Ketentuan dalam UU Kepailitan dan ketetapan dalam SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001 mengenai pemberian uang jaminan yang nilai sama dengan objek/barang yang dieksekusi oleh pemohon eksekusi kepada pengadilan, merupakan ketentuan yang menjamin perlindungan hukum kepada si debitor apabila dikemudian hari pernyataan pailit dibatalkan. Kasus CCGL dengan TPI yang mendapat putusan akhir pailit TPI dibatalkan, menjadikan TPI mengajukan judicial review sebagai bentuk ketidakpuasan TPI terhadap kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas dan telah merugikan TPI. Permohonan provisi maupun permohonan pokok TPI ditolak oleh Hakim MK dengan pertimbangan bahwa MK tidak berwenang untuk melakukan pemberhentian kurator, MK hanya memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang bersifat abstrak bukan konkret seperti kasus TPI, dan MK berpendapat bahwa mengenai kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas, memiliki batasan-batasan yang diatur oleh UU kepailitan itu sendiri.

(6)

lebih jelas dan tegas dalam hal batasan-batasan kewenangan kurator guna menghindari penyalahgunaan wewenang kurator dalam melakukan tugasnya, dan pengaturan mengenai pertanggungjawaban kurator juga harus diperjelas agar dapat berjalan secara efektif, baik setelah kelalaian kurator terjadi atau tindakan kurator yang berpotensi menimbulkan kerugian atas harta pailit.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai salah satu

persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan di Universitas Sumatera

Utara Medan. Dalam memenuhi tugas inilah penulis menyusun dan memilih judul :

“Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta

Merta Dalam Kepailitan”. Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat

kekurangan didalam penulisan tesis ini, untuk itu dengan hati terbuka menerima saran

dan kritik dari semua pihak, agar dapat menjadi pedoman dimasa yang akan datang.

Dalam penulisan dan penyusunan tesis ini, penulis mendapat bimbingan dan

pengarahan serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan

ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tidak ternilai harganya

secara khusus kepada Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH, Mhum selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN serta Ibu T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum., masing-masing selaku anggota komisi pembimbing yang banyak memberi masukan dan bimbingan kepada penulis selama

dalam penulisan tesis ini dan kepada Bapak Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum., dan

Bapak Notaris Dr. Syahril Sofyan, SH, MKn selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan kritikan, saran serta masukan dalam penulisan tesis ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan

(8)

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K).

selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Runtung SH. M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

3. BapakProf. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.

4. Ibu T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, MHum., selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.

5. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Guru Besar dan Staf Pengajar dan juga para karyawan

Biro Administrasi pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas

Sumatera Utara Medan.

Secara khusus penulis menghaturkan terimakasih yang tak terhingga kepada

ayahanda P. Silalahi dan Ibunda R. Purba, yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik ananda dengan penuh kasih sayang dan segala doa serta semangat yang

telah diberikan kepada penulis selama ini. Tak lupa penulis ucapkan kepada kakak

dan abang penulis, Roy Gokma Silalahi, Dinna Handayani Purba, Pranto Sunandar Pardede, Anita Carolina Silalahi serta Keponakan penulis Alvaro Nathan Xaverio yang banyak memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini;

Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada rekan-rekan seperjuangan,

khususnya rekan-rekan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Felix

(9)

Riszka, Fella Eldyah, Sheila Aristyani, Nindya Sari Usman, Rachel Sheila dan

kawan-kawan satu angkatan lain yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu yang terus memberikan motivasi, semangat dan kerjasama dan diskusi,

membantu dan memberikan pemikiran kritik dan saran dari awal masuk di Magister

Kenotariatan Universitas Sumatera Utara sampai saat penulis selesai menyusun tesis

ini.

Penulis berharap semoga bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada

penulis, mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu

dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah.

Akhirnya, semoga tesis ini dapat berguna bagi diri penulis dan juga bagi semua pihak

khususnya yang berkaitan dengan bidang Kenotariatan.

Medan, Februari 2015

(10)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

ABSTRACT... iii

KATA PENGANTAR... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP... vii

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR ISTILAH... x

DAFTAR SINGKATAN... xiv

BAB I Pendahuluan ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Perumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Keaslian Penelitian... 11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 12

1. Kerangka Teori... 12

2. Konsepsi ... 19

G. Metode Penelitian... 21

1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 22

2. Sumber Data ... 23

3. Tenik Pengumpulan Data... 24

(11)

BAB II PUTUSAN SERTA MERTA DALAM HUKUM KEPAILITAN.... 26

A. Tinjauan Umum Tentang Putusan Serta Merta …….…………...…. 26

B. Pelaksanaan Putusan Serta Merta ...….… 38

C. Putusan Serta Merta Dalam Hukum Kepailitan ... 43

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR YANG TELAH DIJATUHI PUTUSAN SERTA MERTA DALAM HUKUM KEPAILITAN... 48

A. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Pengurusan Harta Pailit ... 48

B. Akibat Pernyataan Pailit Bagi Debitor ...………….. 61

C. Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Hukum Kepailitan ... 68

BAB IV PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PUTUSAN JUDICIAL REVIEW NOMOR 144/PUU-VII/2009 ... 77

A. Posisi Kasus ...……….… 77

B. Analisa Pertimbangan Hakim Mahkamah Konstitusi Terhadap Judicial Review... 83

BAB V Kesimpulan Dan Saran ………..….. 99

A. Kesimpulan ………... 99

B. Saran…....………... 101

(12)

DAFTAR ISTILAH

Abuse of power : penyalahgunaan wewenang

Actio Pauliana : hak yang diberikan undang-undang kepada setiap kreditor untuk menuntut pembatalan segala tindakan debitor yang tidak diwajibkan asal dapat dibuktikan bahwa pada saat tindakan itu dilakukan dapat merugikan kreditor.

Asas ultra petitum : dilarang mengabulkan sesuatu yang tidak diajukan dalam gugatan

A quo : ketentuan yang sama

Borgtocht : jaminan berbentuk orang

Business operation : operasi bisnis

Complicated : sangat rumit

Conceptus : suatu kegiatan atau proses berpikir

Conflict of interest : pertentangan kepentingan

Conservatoir beslag : sita terhadap harta benda milik tergugat

Daluwarsa : Lampau waktu

Debt Sale and Purchase : jual beli utang

Doctrinal : penelitian hukum normatif

Dubius : penafsiran mendua

Eksepsional : pengecualian yang sangat terbatas berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang

Erga omnes : putusan berlaku umum dan mengikat untuk semua kasus di seluruh Indonesia

Esensial : hal yang mendasar

Ethos : kredibilitas sumber atau pembicara di mata para pendengar/pembaca

(13)

Fakultatif : hakim tidak wajib mengabulkan akan tetapi dapat mengabulkan

Financial distress : kesulitan kondisi keuangan

Generalisasi : secara umum

Gugur : tidak mempunyai kekuatan lagi

Handscrift : surat tulisan tangan

Inkracht van gewijsde : berkekuatan hukum yang tetap

Imperatif : bersifat memerintah

Implementasi : penerapan

Independen : netral, tidak memihak salah satu

Instruksi : perintah

In natura : dalam bentuk fisik

Judicial Review : pengujian undang-undang

Justitiabelen : pencari keadilan

Liability Based on Fault : Prinsip Tanggung Jawab Karena Kesalahan

Library research : penelitian kepustakaan

Likuidasi : pemberesan terhadap harta debitor

Limitation of Liability : Prinsip Bertanggung Jawab Terbatas

Logos : penciptaan daya tarik rasional bagi para pendengar/pembaca

Non doctrinal : penelitian hukum empiris atau sosiologis

Omkering van bewijslast : pembuktian terbalik

Onrechtmatige daad : perbuatan melawan hukum

Pathos : penciptaan daya tarik emosional bagi para pendengar/pembaca

(14)

Petitum : gugatan

Problem : permasalahan

Prorate Parte : secara proporsional

Restitutie In Intergum : pemulihan pada keadaan seperti sediakala

Restriksi : pembatasan

Res judicita : belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap

Simple majority : suara terbanyak

Specimen : contoh

Stakeholder : pemangku kepentingan

Stability of interest : untuk memberikan keseimbangan dan keadilan terhadap para pihak

Strict Liability : Prinsip Tanggung Jawab Mutlak

Subordinated Bones : obligasi yang disubordinasi

Sumir : singkat, ringkas

Supplier : penyalur

UitVoerbaar Bij Voorraad :putusan serta merta

Universal : umum

Verifikasi : pemeriksaan tentang kebenaran laporan

Verstek : penjatuhan putusan atas perkara yang disengketakan, yang memberi wewenang kepada hakim menjatuhkan putusan tanpa hadirnya penggugat/tergugat

Verzet : upaya hukum perlawanan yang dapat digunakan oleh tergugat terhadap putusan verstek

Wanprestasi : tidak terlaksananya prestasi atau kewajiban

(15)

DAFTAR SINGKATAN

BHP : Balai Harta Peninggalan

CCGL : PT. Crown Capital Global Limited

DPR : Dewan Perwakilan Rakyat

HIR : Herzeine Inlandsch Reglement

Hlm. : Halaman

JKT.PST : Jakarta Pusat

Jo : Juncto

KUH PERDATA : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

MK : Mahkamah Konstitusi

No. : Nomor

PK : Peninjauan Kembali

PN : Pengadilan Niaga

PN. Niaga : Pengadilan Niaga

PP : Peraturan Pemerintah

RBg : Rechtsreglement voor de Buitengewesten

RI : Republik Indonesia

Rv : Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering

SEMA : Surat Edaran Mahkamah Agung

US$ : Mata uang dollar Amerika Serikat

UUK : Undang-Undang Kepailitan

(16)

ABSTRAK

Putusan serta merta yaitu putusan yang dapat dilaksanakan atau dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Pelaksanaan putusan serta merta harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya masalah baru akibat pelaksanaan putusan serta merta itu sendiri. Salah satu masalah yang terjadi akibat pelaksanaan putusan serta merta adalah sulit melakukan pemulihan kembali atas harta pailit yang telah dieksekusi apabila pailit dibatalkan Mahkamah Agung. Hal tersebut akan merugikan debitor dan mengganggu kelangsungan usaha debitor itu sendiri. Sebagai contoh kasus TPI dengan CCGL. Penelitian ini membahas beberapa permasalahan yaitu mengenai putusan serta merta dalam hukum kepailitan, perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan serta merta dalam hukum kepailitan, dan pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009.

Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kepustakaan yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.

Hukum kepailitan Indonesia mengenal adanya putusan serta merta , hal ini dapat dilihat dalam UUK terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang putusan serta merta tersebut. Pelaksanaan putusan serta merta harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam HIR/RBg, SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001. Ketentuan dalam UU Kepailitan dan ketetapan dalam SEMA No.3 Tahun 2000 dan SEMA No.4 Tahun 2001 mengenai pemberian uang jaminan yang nilai sama dengan objek/barang yang dieksekusi oleh pemohon eksekusi kepada pengadilan, merupakan ketentuan yang menjamin perlindungan hukum kepada si debitor apabila dikemudian hari pernyataan pailit dibatalkan. Kasus CCGL dengan TPI yang mendapat putusan akhir pailit TPI dibatalkan, menjadikan TPI mengajukan judicial review sebagai bentuk ketidakpuasan TPI terhadap kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas dan telah merugikan TPI. Permohonan provisi maupun permohonan pokok TPI ditolak oleh Hakim MK dengan pertimbangan bahwa MK tidak berwenang untuk melakukan pemberhentian kurator, MK hanya memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara yang bersifat abstrak bukan konkret seperti kasus TPI, dan MK berpendapat bahwa mengenai kewenangan kurator yang dianggap terlalu luas, memiliki batasan-batasan yang diatur oleh UU kepailitan itu sendiri.

(17)

lebih jelas dan tegas dalam hal batasan-batasan kewenangan kurator guna menghindari penyalahgunaan wewenang kurator dalam melakukan tugasnya, dan pengaturan mengenai pertanggungjawaban kurator juga harus diperjelas agar dapat berjalan secara efektif, baik setelah kelalaian kurator terjadi atau tindakan kurator yang berpotensi menimbulkan kerugian atas harta pailit.

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan perekonomian dan perdagangan serta pengaruh globalisasi yang

melanda dunia usaha dewasa ini, dan mengingat modal yang dimiliki oleh para

pengusaha pada umumnya sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari

berbagai sumber, baik dari bank, penanaman modal, penerbitan obligasi maupun cara

lain yang diperbolehkan, telah menimbulkan banyak permasalahan penyelesaian

utang piutang dalam masyarakat.1 Akibat dari perjanjian pinjam meminjam uang

tersebut, lahirlah suatu perikatan di antara para pihak, dengan adanya perikatan maka

masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban.2

Salah satu kewajiban dari debitor adalah mengembalikan utangnya sebagai

suatu prestasi yang harus dilakukan. Apabila kewajiban mengembalikan utang

tersebut berjalan lancar sesuai dengan perjanjian tentu tidak merupakan masalah.

Permasalahan akan timbul apabila debitor mengalami kesulitan untuk

1

Rahayu Hartini, Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia Dualisme Kewenangan Pengadilan Niaga dan Lembaga Arbitrase, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), hal. 69.

2

(19)

mengembalikan utangnya tersebut, dengan kata lain debitor berhenti membayar

utangnya.3

Apabila seorang debitor (si berhutang) dalam kesulitan keuangan untuk

membayar, tentu saja para kreditor akan berusaha menempuh berbagai cara untuk

menyelamatkan piutangnya, baik dengan cara mengajukan gugatan perdata kepada

debitor ke pengadilan dengan disertai sita jaminan atas harta si debitor atau

menempuh cara lain yaitu kreditor mengajukan permohonan ke pengadilan agar si

debitor dinyatakan pailit. Jika kreditor menempuh cara yang pertama yaitu melalui

gugatan perdata, maka hanya kepentingan kreditor/ si penggugat saja yang dicukupi

dengan harta si debitor yang disita dan kemudian dieksekusi pemenuhan piutang dari

kreditor, kreditor lain yang tidak melakukan gugatan tidak dilindungi

kepentingannya.4

Dalam hal debitor mempunyai banyak kreditor dan harta kekayaaan debitor

tidak cukup untuk membayar lunas semua utang kreditor, maka para kreditor akan

berlomba dengan segala cara, baik yang sesuai dengan prosedur hukum, untuk

mendapatkan pelunasan tagihan terlebih dahulu. Kreditor yang datang belakangan

sudah tidak dapat memperoleh pembayaran lagi karena harta debitor sudah habis

diambil oleh kreditor yang lebih dahulu. Hal ini sangat tidak adil dan merugikan baik

kreditor maupun debitor sendiri. Berdasarkan alasan tersebut, lahirlah lembaga

3 Ibid. 4

(20)

kepailitan yang mengatur tata cara yang adil mengenai pembayaran tagihan-tagihan

para kreditor, dengan berpedoman pada KUH Perdata Pasal 1131 sampai dengan

Pasal 1149 maupun pada ketentuan dalam Undang-Undang Kepailitan (selanjutnya

disebut dengan UUK) sendiri.5

Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitor tidak mampu melakukan

pembayaran terhadap utang dari para kreditornya. Keadaan tidak mampu membayar

lazimnya disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan (financial distress) dari usaha debitor yang telah mengalami kemunduran, sedangkan kepailitan merupakan

putusan pengadilan yang mengakibatkan sita umum atas seluruh kekayaan debitor

pailit, baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari. Pengurusan dan

pemberesan kepailitan dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas

dengan tujuan utama menggunakan hasil penjualan harta kekayaan tersebut untuk

membayar seluruh utang debitor pailit tersebut secara proporsional (prorate parte)

sesuai dengan struktur kreditor.6

Kepailitan menurut UUK adalah “Sita umum atas kekayaan debitor pailit yang

pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim

pengawas”.7

Secara sederhana, kepailitan dapat diartikan sebagai suatu penyitaan

semua aset debitor yang dimasukkan ke dalam permohonan pailit. Debitor pailit tidak

5

M. Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 68.

6

Ibid, hal. 1 7

(21)

serta merta kehilangan kemampuannya untuk melakukan tindakan hukum, akan tetapi

kehilangan untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang dimasukkan di dalam

kepailitan terhitung sejak pernyataan kepailitan itu.

Atas putusan pailit tersebut debitor memiliki hak untuk melakukan upaya

hukum yang merupakan langkah atau usaha yang diperlukan oleh pihak-pihak yang

berkepentingan untuk memperoleh keputusan yang adil berupa kasasi maupun

peninjauan kembali. Namun sesuai dengan putusan hukum kepailitan yang memiliki

daya Uit Voerbaar Bij Vooraad atau putusan serta merta, keputusan yang menyatakan debitor pailit harus tetap dilaksanakan terlebih dahulu meskipun putusan tersebut

belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Dalam prakteknya putusan serta merta yang dijalankan terlebih dahulu sebelum

putusan hakim tersebut mempunyai kekuatan hukum tetap, banyak menimbulkan

permasalahan. Permasalahan tersebut terjadi ketika putusan yang telah dilaksanakan

tersebut dilakukan upaya hukum oleh pihak yang dikalahkan atau pihak ketiga yang

merasa dirugikan, dan kemudian putusan tersebut dibatalkan oleh pengadilan yang

lebih tinggi atau Mahkamah Agung. Demikian akan terjadi kesulitan dalam

pemulihan pada keadaan seperti sediakala (restitutie in intergum) sebelum dilakukannya eksekusi.8

8

(22)

Mengenai pengaturan putusan serta merta telah diatur di dalam Pasal 180 ayat 1

Herzeine Inlandsch Reglement selanjutnya disebut HIR, Pasal 191 ayat 1

Rechtsreglement voor de Buitengewesten selanjutnya disebut RBg dan Pasal 54-57 Rv yang bunyinya sebagai berikut: 9

Pasal 180 ayat 1 HIR :

“Ketua pengadilan negeri dapat memerintahkan supaya keputusan itu dijalankan lebih dahulu walaupun ada perlawanan atau banding, jika ada akta otentik, suatu tulisan tangan yang menurut peraturan yang berlaku mempunyai kekuatan bukti, atau jika ada keputusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap sebelumnya yang menguntungkan penggugat dan ada hubungannya dengan gugatan yang bersangkutan, demikian juga jika ada tuntutan provisionil yang dikabulkan, dan dalam persengketaan hak milik”.

Pasal 191 ayat 1 RBg:

“Ketua pengadilan negeri dapat memerintahkan supaya keputusan itu dijalankan lebih dahulu walaupun ada perlawanan atau banding, jika ada akta otentik atau tulisan tangan yang menurut peraturan yang berlaku mempunyai kekuatan bukti atau jika ada putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap sebelumnya yang menguntungkan penggugat dan ada hubungannya dengan gugatan yang bersangkutan dan juga jika ada tuntutan provisionil yang

dikabulkan dan dalam persengeketaan hak mililk”.

Pengaturan mengenai putusan serta merta juga diatur di dalam Surat Edaran

Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil dan SEMA Nomor 4 Tahun 2001 tentang Permasalahan Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil.

9

(23)

Mengenai putusan serta merta pada perkara kepailitan diatur di dalam UUK terdapat

dalam Pasal 8 ayat 7 yaitu:

“Putusan atas permohonan pernyataan pailit sebagaimana dimaksud pada ayat 6

yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan dapat dilaksanakan terlebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut diajukan

suatu upaya hukum”.

Pelaksanaan putusan serta merta ini disebabkan pembentuk undang-undang

menginginkan agar putusan pernyataan pailit dapat secepatnya dilaksanakan.

Menyikapi hal tersebut Pasal 16 ayat 2 UUK mengatur bahwa “dalam hal putusan

pernyataan pailit dibatalkan sebagai akibat adanya Kasasi atau Peninjauan Kembali,

segala perbuatan yang telah dilakukan oleh Kurator sebelum atau pada tanggal

Kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan, tetap sah dan

mengikat Debitor”.10

Meskipun undang-undang telah mengatur bahwa perbuatan pengurusan atau

pemberesan Kurator tetap sah dan mengikat Debitor walau dilakukan upaya hukum,

hal ini terlihat bahwa upaya hukum yang dilakukan oleh debitor tidak memiliki

kepastian hukum serta debitor tidak dapat menyelamatkan harta pailit sehingga tidak

dapat dihindari kemungkinan terjadinya kerugian bagi kelangsungan usaha Debitor

setelah pembatalan putusan pernyataan pailit oleh Mahkamah Agung karena bisa saja

10

Disriani Latifah, Eksekusi Putusan Pailit,

(24)

yang berhasil dijual oleh Kurator tersebut adalah aset yang diperlukan untuk

kelangsungan usaha Debitor.11

Menurut pendapat Sutan Remy Sjahdeini, sebaiknya:

“Undang-undang menentukan bahwa yang boleh dilakukan Kurator terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit itu adalah tugas pengurusan dan pemberesan atas harta pailit kecuali melakukan penjualan harta tetap yang merupakan harta yang mutlak diperlukan bagi kegiatan usaha atau bisnis Debitor, yang tanpa dimilikinya lagi harta itu oleh Debitor maka tidak mungkin lagi bagi Debitor untuk dapat melanjutkan usaha atau bisnisnya seandainya

putusan pernyataan pailit itu dibatalkan”.12

Sehubungan dengan sifat keputusan hakim dalam, perkara kepailitan “dapat

dilaksanakan terlebih dahulu” atau Uit Voerbaar Bij Vooraad, maka layak kiranya

apabila para hakim yang memeriksa perkara kepailitan untuk bertindak hati-hati

dalam memutus perkara permohonan pailit, dan bagi Kurator yang didampingi oleh

hakim pengawas dapat langsung menjalankan fungsinya untuk melakukan

pengurusan dan pemberesan pailit pada waktu yang tepat dan sesuai dengan

ketentuan hukum yang berlaku.

Pemberlakuan putusan serta merta pada dasarnya sebagai alat untuk

mempercepat likuidasi terhadap harta-harta debitor untuk digunakan sebagai

pembayaran utang-utangnya. Putusan ini tetap akan dilaksanakan walaupun upaya

hukum telah diajukan oleh debitor terhadap putusan tingkat pertama, apabila ternyata

dalam tingkat kasasi debitor dinyatakan menang dan tidak pailit, maka akan

11

Ibid.

12

(25)

menimbulkan kesulitan dalam memulihkan keadaan harta kekayaan debitor

tersebut.13

Berbagai fenomena kepailitan yang sering terjadi menjadikan persoalan

kepailitan ini menjadi persoalan yang penting. Untuk meminimalisir terjadinya

permasalahan yang ditimbulkan oleh pelaksanaan putusan serta merta, hendaknya

majelis hakim yang memeriksa perkara kepailitan benar-benar memperhatikan

ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam peraturan-peraturan yang berlaku dalam

mengabulkan putusan serta merta. Salah satu kasus kepailitan PT. Cipta Televisi

Pendidikan Indonesia (TPI), kepailitan diajukan oleh PT. Crown Capital Global

Limited (CCGL). PT. Crown Capital Global Limited merupakan perusahaan asal

Inggris. Persidangan perkara No. 52/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst ini dilaksanakan

pertama kali pada tanggal 20 Oktober 2009.

Kasus bermula dari adanya utang antara TPI dengan CCGL sebesar US$53 juta.

Utang tersebut timbul dari perjanjian jual beli utang yang ditandatangani CCGL

dengan Fillago limited. Fillago sendiri merupakan pemilik dari Subordinated Bones

(obligasi yang disubordinasi) yang diterbitkan oleh TPI. Obligasi itu diterbitkan pada

tanggal 24 Desember 1996 dan jatuh tempo pada tanggal 24 Desember 2006. Pada 27

Desember 2004, Fillago mengalihkan kepemilikan obligasi itu pada Crown Capital

yang diperjanjikan dalam Debt Sale and Purchase. Ketika jatuh tempo pada 24 Desember 2006, TPI tidak juga melunasi utangnya. Dalam permohonannya, Crown

13

(26)

Capital menyebut Asian Venture Finance Limited selaku kreditur lain. TPI berutang

pada Asian Venture sebesar US$10,325 juta, belum termasuk denda dan bunga.14

Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada tanggal 14 Oktober 2009

menyatakan TPI pailit, yang berarti terbukti bahwa bukti utang yang diajukan oleh

CCGL adalah benar adanya dan TPI dinyatakan pailit dengan segala akibatnya. Salah

satunya adalah dilaksanakannya putusan serta merta oleh kurator yang telah ditunjuk

oleh hakim dalam amar putusan. Namun, pihak TPI kemudian mengajukan kasasi ke

Mahkamah Agung karena merasa keberatan atas keputusan pailit pada Pengadilan

Niaga.

Pada tanggal 15 Desember 2009, hakim pun memutuskan menolak untuk

mempailitkan TPI, yang berarti bahwa TPI tidak jadi pailit dan kedudukannya

sebagai debitor kembali seperti semula, akan tetapi sulit untuk memulihkan pada

keadaan semula. Permohonan pemohon yang ingin menguji Pasal 16 ayat 1, Pasal 16

ayat 2 dan Pasal 69 UUK terhadap Pasal 28D ayat 1 dan Pasal 28H ayat 4 UUD 1945,

kedudukan hukum si pemohon dan kewenangan MK sesuai dengan UUD maka MK

berwenang untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan permohonan pemohon.

Maka dari itu, pihak TPI mengajukan Judicial Review terhadap UUK terhadap Pasal 16 ayat 1, Pasal 16 ayat 2, dan Pasal 69 tentang wewenang kurator yang begitu luas

dalam hal pengurusan dan pemberesan harta pailit.

14

(27)

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian

lebih lanjut dan menyusunnya dalam tesis yang berjudul: Pelindungan Hukum

Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, adapun yang menjadi pokok permasalahan yang

ingin diteliti dalam tesis ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana putusan serta merta dalam hukum kepailitan?

2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi putusan

serta merta dalam hukum kepailitan?

3. Bagaimana pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan judicial review Nomor 144/PUU-VII/2009?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari latar belakang dan perumusan masalah tersebut di atas, maka

tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui putusan serta merta dalam hukum kepailitan

2. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap debitor yang telah dijatuhi

putusan serta merta dalam hukum kepailitan.

3. Untuk mengetahui pertimbangan Mahkamah Konstitusi terhadap putusan

(28)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis

maupun praktis, masing-masing sebagai berikut :

1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat teoritis yang berupa

sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum khususnya yang

berkaitan dengan hukum kepailitan dan pembahasan terhadap masalah ini akan

memberikan pemahaman dan pandangan yang baru mengenai kasus-kasus

kepailitan yang sering terjadi.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah pengetahuan

dibidang hukum khususnya hukum kepailitan tentang pelaksanaan dan

perlindungan hukum terhadap debitor yang dijatuhi putusan serta merta dalam

kepailitan.

E. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik

terhadap hasil penelitian yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan, khususnya

di lingkungan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan,

menunjukkan bahwa penelitian dengan judul ”Perlindungan Hukum Terhadap Debitor Yang Telah Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam Kepailitan” belum pernah

dilakukan baik dalam judul maupun permasalahan yang sama. Dari hasil pemeriksaan

(29)

1. Saudara Mangara Marpaung (NIM 117005063). Mahasiswa Magister Hukum

Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Kekuatan Mengikat

SEMA No 3 Tahun 2000 Tentang Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) Dan Provisionil Sebagai Hukum Acara Perdata Di Indonesia, dengan permasalahan yang diteliti adalah :

a) Bagaimana pelaksanaan putusan serta merta oleh Pengadilan Negeri

dengan keluarnya SEMA No 3 Tahun 2000?

b) Bagaimana kekuatan mengikat SEMA No 3 Tahun 2000 tentang putusan

serta merta dan provisionil dalam prespektif hukum acara perdata di

Indonesia?

2. Saudara Belinda (NIM 077011009). Mahasiswa Magister Kenotariatan

Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Akibat Hukum Putusan

Pernyataan Pailit Debitur Terhadap Kreditur Pemegang Hak Tanggungan”,

dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a) Bagaimana ketentuan hukum pelaksanaan kepailitan kreditur terhadap

debitur?

b) Bagaimana kedudukan kreditur pemegang hak tanggungan dalam

keputusan kepailitan?

c) Bagaimana akibat hukum kepailitan debitur terhadap kreditur pemegang

hak tanggungan dalam eksekusi hak tanggungan?

Permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam penelitian-penelitian tersebut

(30)

demikian penelitian ini adalah asli baik dari segi substansi maupun dari segi

permasalahan, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kerangka konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum di samping yang

lain-lain seperti asas dan standar, oleh karena itu kebutuhan untuk membentuk konsep

merupakan salah satu dari hal-hal yang dirasakan penting oleh hukum.15

Kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori,

tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan dan pegangan teoritis.16 Teori bisa dipergunakan untuk menjelaskan

fakta dan peristiwa hukum yang terjadi. Tugas teori hukum ialah memberikan suatu

analisis tentang pengertian hukum dan tentang pengertian-pengertian lain yang dalam

hubungan ini relevan, kemudian menjelaskan hubungan antara hukum dan logika dan

selanjutnya memberikan suatu filsafat ilmu dan suatu ajaran metode untuk praktek

hukum.17 Oleh karena itu, kegunaan teori hukum dalam penelitian adalah sebagai

pisau analisa pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam

masalah penelitian.18

Teori yang dipergunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah teori kepastian hukum dan perlindungan hukum digunakan sebagai teori

15

Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 397. 16

M. Solly Lubis, Filsafat dan Ilmu Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80. 17

B. Arief Sidarta, Meuwissen, Tentang Pengembangan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, dan Filsafat Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2007), hal. 31.

18

(31)

pendukung. Kepastian asal katanya pasti yang artinya tentu; sudah tetap; boleh tidak;

sesuatu hal yang sudah tentu.19 Dengan adanya hukum yang baik diharapkan tercipta

ketertiban dan kepastian hukum dalam masyarakat. Aturan tersebut berlaku untuk

semua pihak, sebagaimana yang dikemukakan oleh Budiono Kusumohanidjojo:

“Dalam keadaan tanpa patokan sukar bagi kita untuk membayangkan bahwa

kehidupan masyarakat bisa berlangsung tertib, damai, dan adil. Fungsi dari kepastian hukum adalah tidak lain untuk memberikan patokan bagi prilaku seperti itu. Konsekuensinya adalah hukum itu harus memiliki suatu kredibilitas dan kredibilitas itu hanya bisa dimiliki bila penyelenggaraan hukum mampu memperlihatkan suatu alur konsistensi. Penyelenggaraan hukum yang tidak konsisten tidak akan membuat masyarakat mau mengandalkannya sebagai perangkat kaedah yang mengatur kehidupan bersama.20

Pendapat lainnya mengenai kepastian hukum dapat ditemukan dalam buku M.

Yahya Harahap, yang menyatakan bahwa kepastian hukum dibutuhkan dalam

masyarakat demi terciptanya ketertiban dan keadilan. “Ketidakpastian hukum akan

menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat dan setiap anggota masyarakat

akan saling berbuat sesuka hati serta bertindak main hakim sendiri”.21

Sudikno

Mertokusumo mengartikan “kepastian hukum, merupakan perlindungan yustisiabel

terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat

memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu”.22

19

W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), hal. 847.

20

Budiono Kusumohanidjojo, Ketertiban Yang Adil Problem Filsafat Hukum, (Jakarta: Grasindo, 2006), hal. 150-151.

21

M. Yahya Harahap, Pembahasan, Permasalahan, dan Penerapan KUHAP, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal. 76.

22

(32)

Teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) perngertian yaitu pertama adanya

aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa saja yang

boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari

kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum

itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dilakukan oleh negara terhadap

individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang

melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang

satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.23

Sebagai negara hukum, Indonesia harus membuktikan dirinya telah menerapkan

secara nyata dari prinsip-prinsip negara hukum, yaitu kepastian hukum,

menjamin/melindungi hak asasi penduduk, dan peradilan bebas karena manusia

mempunyai kepentingan yaitu tuntutan perorangan/kompleks yang diharapkan dapat

dipenuhi sesuai yang diharapkan.24

Keinginan dari masyarakat dan para pencari keadilan (justitiabelen) menuntut agar penyelesaian perkara melalui pengadilan berjalan sesuai dengan asas peradilan

yang sederhana, cepat dan biaya ringan. Seiring dengan pesatnya laju pembangunan

dewasa ini dengan perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin

kompleks, maka tuntutan penyelesaian perkara melalui proses berperkara yang cepat,

sederhana dan biaya ringan tersebut sangatlah dibutuhkan. Tujuan dari kedua belah

pihak yang berperkara di Pengadilan Negeri adalah untuk mendapatkan kekuatan

23

Petter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana Pranda Media Group, 2008), hal. 158.

24

(33)

hukum yang tetap (inkracht van gewijsde), yaitu putusan yang tidak mungkin dilawan dengan upaya hukum verzet, banding, kasasi.25

Tujuan lainnnya ialah untuk menyelesaikan perkara akibat telah terjadinya

perbenturan kepentingan keperdataan antara individu. Namun praktik akhir-akhir ini

yang terjadi dengan diajukannya permohonan eksekusi oleh pihak yang menang

dalam perkara itu, yang biasanya memerlukan waktu yang cukup lama dan

bertahun-tahun. Hal ini sangat merugikan bagi para pencari keadilan, ditambah lagi dengan

masalah biaya-biaya perkara yang harus dikeluarkan selama proses perkara itu

berlangsung, serta belum lagi beban psikologis yang dialami oleh pihak-pihak yang berperkara itu.

Suatu putusan untuk memperoleh kekuatan hukum yang tetap diakui memang

sering harus menunggu waktu yang lama kadang-kadang sampai bertahun-tahun.

Maka dari itu, ada sebuah ketentuan yang merupakan penyimpangan dalam hal ini,

yaitu terdapat dalam Pasal 180 Ayat 1 HIR/Pasal 191 Ayat 1 RBg serta pasal 8 Ayat

7 UUK mengenai putusan yang pelaksanaannya dapat dijalankan terlebih dahulu,

meskipun ada banding dan kasasi. Dengan kata lain putusan itu dapat dilaksanakan

meskipun putusan itu belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Apabila terhadap putusan pailit tersebut dimintakan upaya hukum, maka

masalah hukum yang terjadi biasanya muncul apabila upaya hukum tersebut yang

diajukan oleh debitor dikabulkan oleh tingkat yang lebih tinggi/ Mahkamah Agung.

25

(34)

Dimana putusan tersebut dinyatakan debitor tidak pailit, yang menjadi permasalahan

sulitnya untuk memulihkan hak debitor pailit. Akan tetapi Mahkamah Agung

mengeluarkan instruksi dan beberapa Surat Edaran yang ditujukan kepada hakim

Pengadilan Negeri agar dalam menjatuhkan putusan serta merta perlu

dipertimbangkan dengan matang guna menghindari hal-hal yang mungkin akan

menimbulkan permasalahan baru.

Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 2000 Tentang

putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan putusan provisionil serta SEMA

Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Permasalahan putusan serta merta dan provisionil. SEMA

tersebut diterbitkan oleh Mahkamah Agung guna mengatur kembali penggunaan

putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan putusan provisionil yang dijatuhkan majelis hakim dalam menyelesaikan perkara di pengadilan. Dengan

dikeluarkannya SEMA tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak debitor.

Teori pendukung yaitu teori perlindungan hukum. Perlindungan hukum

merupakan konsep universal dari negara hukum. Perlindungan hukum diberikan

apabila terjadi pelanggaran maupun tindakan yang bertentangan dengan hukum yang

dilakukan oleh pemerintah, baik perbuatan penguasa yang melanggar undang-undang

maupun masyarakat yang harus diperhatikannya. Pengertian dalam kata perlindungan

hukum terdapat suatu usaha untuk memberikan hak-hak yang dilindungi sesuai

dengan kewajiban yang harus dilakukan.26

26

(35)

Perlindungan hukum terhadap rakyat terdapat 2 (dua) macam perlindungan

hukum yaitu:27

1. Perlindungan Hukum Preventif, yaitu kepada rakyat diberi kesempatan untuk

mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah

mendapatkan bentuk yang definitive. Perlindungan hukum preventif mencegah

terjadinya sengketa.

2. Perlindungan Hukum Represif, bertujuan menyelesaikan sengketa perlindungan

hukum preventif sangat besar artinya bagi pemerintah yang didasarkan

kebebasan bertindak karena dengannya adanya perlindungan hukum preventif,

pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang

didasarkan pada diskresi. Dengan pengertian demikian, penanganan

perlindungan hukum bagi rakyat oleh peradilan umum di Indonesia termasuk

perlindungan hukum represif.

Sesuai dengan fungsi hukum sebagai perlindungan kepentingan manusia, tujuan

pokok hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan

ketertiban dan keseimbangan sehingga fungsi hukum kepailitan pun tidak lagi

sekedar melindungi kepentingan kreditor, tetapi juga melindungi kepentingan debitor

dan berbagai pihak yang terkait.

Asas perlindungan hukum merupakan manifestasi kehendak masyarakat bahwa

peraturan hukum (norma hukum) seharusnya memberikan perlindungan bagi

kepentingan individu-individu dan masyarakat. Peraturan kepailitan atau UUK harus

27

(36)

menunjukkan kehendak untuk melindungi kepentigan debitor, kreditor dan

pihak-pihak yang terkait dengan suatu kepailitan.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 didasarkan pada beberapa asas, yaitu

sebagai berikut:28

1. Asas Keseimbangan

Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan

dari asas keseimbangan, yaitu di satu pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah

terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak

jujur, di lain pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya

penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad

baik.

2. Asas Kelangsungan Usaha

Dalam Undang-undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaan

debitor yang prospektif tetap dilangsungkan.

3. Asas Keadilan

Dalam kepailitan, asas keadilan mengandung pengertian bahwa ketentuan

mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan memenuhi rasa keadilan bagi para

pihak yang berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya

kesewenang-wenangan pihak penagih yang tidak memperdulikan kreditor lainnya.

28

(37)

4. Asas Integrasi

Asas integrasi dalam kepailitan mengandung pengertian bahwa sistem hukum

formal dan hukum materialnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem

hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.

2. Konsepsi

Konsepsi berasal dari bahasa Latin, conceptus yang memliki arti sebagai suatu kegiatan atau proses berpikir, daya berpikir khususnya penalaran dan pertimbangan.29

Konsepsi adalah suatu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai

usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut

dengan operational definition.30 Pentingnya definisi operational adalah untuk menghindari perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai.31

Bertitik tolak dari kerangka teori sebagaimana tersebut diatas, berikut disusun

kerangka konsepsi yang dapat dijadikan sebagai definisi operational, yaitu antara lain:

a. Perlindungan Hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan terhadap

subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif

maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis sebagai

29

Komaruddin dan Yooke Tjuparmah Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 122.

30

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia), hal. 34.

31

(38)

gambaran dari fungsi hukum yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan

suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaat dan kedamaian.32

b. Putusan Serta Merta adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan atau

dieksekusi terlebih dahulu meskipun putusan tersebut belum mempunyai

kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde).33

c. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang

pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan

hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang.34

d. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau

undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.35

e. Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjiannya atau

undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.36

f. Debitor Pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit oleh putusan

pengadilan.37

g. Utang adalah kewajiban yang dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata

uang Indonesia maupun dalam mata uang asing, baik secara langsung maupun

yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena

32

Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Badan Pembinaan Hukum Nasional, Pengkajian Hukum Tentang Perlindungan Hukum Bagi Upaya Menjamin Kerukunan Umat Beragama, www.bphn.go.id/data/documents/pkj-2011-11.pdf , (Jakarta, 2011), hal. 14, diakses tanggal 16 Desember 2014 pukul 20.16 WIB

33

Jono, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal 101. 34

Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 35

Lihat Pasal 1 butir 2 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 36

Lihat Pasal 1 butir 3 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 37

(39)

perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila

tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya

dari harta kekayaan debitor.38

G. Metode Penelitian

Menurut Sunaryati Hartono, metode penelitian adalah cara atau jalan atau

proses pemeriksaaan atau penyelidikan yang menggunakan penalaran dan teori-teori

yang logis-analitis (logika), berdasarkan dalil-dalil, rumus-rumus dan teori-teori suatu

ilmu (atau beberapa cabang ilmu) tertentu, untuk menguji kebenaran (atau

mengadakan verifikasi) suatu hipotesis atau teori tentang gejala-gejala atau peristiwa

alamiah, peristiwa sosial atau peristiwa hukum tertentu.39 Metode penelitian hukum

merupakan suatu cara yang teratur (sistematis) dalam melakukan sebuah penelitian.40

Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang

didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk

mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya,

kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum

tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas

permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala bersangkutan.41

38

Lihat Pasal 1 butir 6 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 39

Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung: Alumi, 1994), hal. 105.

40

Muhammad Abdulkadir, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 57.

41

(40)

Penelitian hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penelitian hukum

normatif (doctrinal) yang condong bersifat kualitatif dan penelitian hukum empiris atau sosiologis (non doctrinal) yang condong bersifat kuantitatif.42 Adapun metode penelitian yang dipergunakan dalam menjawab permasalahan yang timbul dalam tesis

ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif (yuridis normatif) atau disebut juga penelitian hukum yang digunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti

sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap

asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan

perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa

permasalahan yang dibahas.43

Sifat penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, maksudnya dari penelitian

ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan

yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh

akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan tentang

Perlindungan Hukum Terhadap Debitur Yang Dijatuhi Putusan Serta Merta Dalam

Kepailitan.

2. Sumber data

42

J. Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 2. 43

(41)

Sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang

terdiri dari bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder. Data

sekunder yang diteliti adalah sebagai berikut:

a) Bahan hukum primer, merupakan dokumen peraturan yang mengikat dan

ditetapkan oleh pihak yang berwenang44 yang terdiri dari:

1) RBg (Rechtsreglement voor de Buitengewesten) / HIR (Herziene Indlandsch Reglemen)

2) Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004

3) SEMA N0.3 Tahun 2000, tentang Putusan Serta Merta (Uit Voerbaar

Bij Vooraad) dan Provisionil

4) SEMA No. 4 Taun 2001, tentang permasalahan Putusan serta Merta

(Uit Voerbaar Bij Vooraad) dan Provisionil

b) Bahan hukum sekunder, merupakan bahan yang memberikan penjelasan

tentang bahan hukum primer meliputi buku-buku teks, kamus-kamus

hukum, jurna-jurnal hukum. Bahan hukum sekunder terutama adalah buku

teks karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum

dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang mempunyai klasifikasi

tinggi.45

44

Soedikno Mertokusumo, Op.cit, hal. 19. 45

(42)

c) Bahan hukum tertier, merupakan bahan hukum penunjang yang memberi

petunjuk dan penjelasan lebih mendalam terhadap bahan hukum sekunder

seperti kamus umum, kamus hukum, majalah dan jurnal ilmiah.46

3. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulam data ialah teknik atau cara yang dapat digunakan oleh

peneliti untuk mengumpulkan data. Metode atau teknik menunjuk suatu kata yang

abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihatkan

penggunaannya melalui angket, pengamatan, ujian, dokumen dan lainnya.47

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui

penelitian kepustakaan (library search) untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian terdahulu yang

berhubungan dengan objek telaahan penelitian ini. Jadi penelitian ini dilakukan

dengan batasan penggunaan studi dokumen atau bahan pustaka saja yaitu berupa data

sekunder.

4. Analisis Data

Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian.

Dalam penelitian ini data yang diperoleh akan diproses dan dimanfaatkan sedemikian

rupa sampai didapat suatu kesimpulan yang nantinya akan menjadi hasil akhir dari

penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

data yang bersifat kualitatif.

46

Soerjono Soekanto dan Sri Mumadji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 13.

47

(43)

Analisis kualitatif dilakukan terhadap paradigma hubungan dinamis antara

teori, konsep dan bahan hukum yang merupakan modifikasi yang tetap dari teori dan

konsep yang didasarkan pada bahan hukum yang dianalisis beraneka ragam, memiliki

sifat dasar yang berbeda satu dengan lainnya. Penarikan kesimpulan dilakukan

dengan menggunakan logika berfikir deduktif, yakni penyimpulan yang dilakukan

dimulai dari yang umum ke khusus.48

48

(44)

BAB II

PUTUSAN SERTA MERTA DALAM KEPAILITAN

A. Tinjauan Umum Tentang Putusan Serta Merta

Tujuan diadakannya suatu proses di muka pengadilan adalah untuk memperoleh

putusan hakim. Putusan hakim atau lazim disebut juga dengan istilah putusan

pengadilan merupakan sesuatu yang dapat diinginkan atau dinanti-nantikan oleh

pihak-pihak berperkara guna menyelesaikan sengketa diantara mereka dengan

sebaik-baiknya. Sebab dengan putusan hakim tersebut pihak-pihak yang bersengketa

mengharapkan adanya kepastian hukum dan keadilan dalam perkara yang mereka

hadapi.49

Suatu putusan dapat dilaksanakan apabila putusan tersebut telah mempunyai

kekuatan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde). Adapun yang dimaksud dengan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap itu adalah putusan hakim

yang tidak diajukan upaya hukum apapun baik banding, kasasi maupun peninjauan

kembali oleh pihak-pihak yang berperkara dalam tenggang waktu yang ditentukan

oleh peraturan perundang-undangan. Konsekuensi putusan yang telah mempunyai

kekuatan hukum yang tetap adalah sebagai berikut:50

1. Siapa pun tidak ada yang berhak dan berkuasa untuk mengubahnya,

49

Taufik Makarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata Cetakan I, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 124.

50

(45)

2. Yang dapat merubahnya, hanya terbatas pemberian grasi dalam perkara

pidana, dan melalui peninjauan kembali dalam perkara perdata,

3. Oleh karena itu, setiap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, wajib

dan mesti dilaksanakan baik secara sukarela atau dengan paksa melalui

eksekusi, dan pelaksanaan atas pemenuhan putusan itu tanpa menghiraukan

apakah putusan itu kejam atau tidak menyenangkan.

Adanya putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap

(inkracht van gewijsde) terhadap suatu perkara maka tujuan dari pencari keadilan telah terpenuhi. Hal ini karena melalui putusan pengadilan itu dapatlah diketahui hak

dan kewajiban dari masing-masing pihak yang berperkara, namun hal itu bukan

berarti tujuan akhir dari para pihak yang berperkara tersebut telah selesai terutama

bagi pihak yang menang, hal ini disebabkan pihak yang menang tidak mengharapkan

kemenangannya itu hanya di atas kertas belaka tetapi harus ada pelaksanaan dari

putusan tersebut.51

Suatu putusan untuk memperoleh kekuatan hukum yang tetap diakui memang

sering harus menunggu waktu yang lama kadang-kadang sampai bertahun-tahun.

Namun ada sebuah ketentuan yang merupakan penyimpangan dalam hal ini, yaitu

terdapat dalam Pasal 180 ayat 1 HIR/ Pasal 191 ayat 1 RBg yaitu ketentuan mengenai

putusan yang pelaksanaannya dapat dijalankan terlebih dahulu, meskipun ada

51

(46)

banding dan kasasi dengan kata lain putusan itu dapat dilaksanakan meskipun putusan

itu belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap, lembaga ini dikenal dengan Uit Voerbaar Bij Vooraad.

Hakim berwenang menjatuhkan putusan akhir yang mengandung amar,

memerintahkan supaya putusan yang dijatuhkan tersebut, dijalankan atau

dilaksanakan lebih dahulu:52

1. Meskipun putusan itu belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap (res judicita).

2. Bahkan meskipun terhadap putusan itu diajukan perlawanan atau banding.

Berdasarkan ketentuan yang digariskan Pasal 180 ayat 1 HIR, Pasal 191 ayat 1

RBg serta Pasal 54 Rv, memberi wewenang kepada hakim menjatuhkan putusan yang

berisi diktum: memerintahkan pelaksaanaan lebih dahulu putusan, meskipun belum

memperoleh kekuatan tetap adalah bersifat eksepsional. Penerapan Pasal 180 HIR

dimaksud, tidak bersifaf generalisasi, tetapi bersifat terbatas berdasarkan syarat-syarat

yang sangat khusus. Karakter yang memperbolehkan eksekusi atas putusan yang

berisi amar dapat dijalankan lebih dahulu sekalipun putusan tersebut belum

memperoleh kekuatan hukum yang tetap, merupakan ciri eksepsional yakni

pengecualian yang sangat terbatas berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan

undang-undang.53

52

M. Yahya Harahap, Op.cit, hal. 897. 53

(47)

Syarat-syarat dimaksud merupakan pembatasan (restriksi) kebolehan

menjatuhkan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad). Pelanggaran atas batas-batas yang digariskan syarat-syarat itu, mengakibatkan

putusan mengandung pelanggaran hukum atau melampaui batas wewenang yang

diberikan undang-undang kepada hakim, sehingga tindakan hakim itu dapat

dikategori tidak profesional (unprofessional conduct).

Penerapan Pasal 180 ayat 1 HIR dan Pasal 191 ayat 1 RBg bersifat fakultatif

bukan imperatif, hakim tidak wajib mengabulkan akan tetapi dapat mengabulkan.

Kewenangan hakim menjatuhkan putusan serta merta merupakan diskrioner, oleh

karena itu hakim harus berhati-hati dalam menjatuhkan putusan serta merta, sekalipun

persyaratan yang ditentukan dalam undang-undang secara formil telah terpenuhi,

karena apabila putusan serta merta sudah dieksekusi barang sudah diserahkan kepada

pemohon eksekusi kemudian ditingkat banding atau kasasi putusan Pengadilan

Negeri dibatalkan dan gugatan ditolak akan timbul masalah untuk mengembalikan

dalam keadaan semula obyek eksekusi.54

Dapat dilihat betapa besarnya risiko yang harus dihadapi pengadilan atas

pengabulan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu. Maka untuk memperkecil

risiko yang dimaksud, Mahkamah Agung telah mengeluarkan berbagai Surat Edaran

Mahkamah Agung (selanjutnya disebut SEMA) untuk dijadikan pedoman apabila

54

(48)

hakim hendak menjatuhkan putusan yang seperti itu. Secara kronologis telah

dikeluarkan berturut-turut sebagai berikut:55

1. SEMA Nomor 13 Tahun 1964 Tentang Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih

Dulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad).

SEMA Nomor 13 Tahun 1964 diterbitkan oleh Mahkamah Agung tanggal 10

Juli 1964 yang di dalamnya memuat mengenai penggunaan lembaga putusan serta

merta. Isi SEMA Nomor 13 Tahun 1964 adalah menyambung instruksi yang

diberikan Mahkamah Agung tanggal 13 Februari 1950 No.348 K/5216/M kepada

Pengadilan Negeri-Pengadilan Negeri agar jangan secara mudah memberi putusan

yang dapat dijalankan lebih dahulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad), walaupun tergugat mengajukan banding atau melakukan perlawanan. Instruksi ini dihubungkan dengan

nasehat dari Ketua Mahkamah Agung dalam beberapa pertemuan dengan para hakim,

agar putusan serta merta sedapat mungkin jangan diberikan, apabila terlanjur

diberikan jangan dilaksanakan. Oleh karena apabila terhadap putusan tersebut

dimintakan banding, maka:

a) Apabila suatu perkara dimintakan banding, maka perkara itu menjadi mentah

kembali,

b) Apabila putusan tersebut terlanjur dilaksanakan untuk kepentingan penggugat,

dan kemudian penggugat dikalahkan oleh Pengadilan Tinggi, maka akan

ditemui banyak kesulitan-kesulitan untuk mengembalikan dalam keadaan

semula.

55

(49)

Mengingat kenyataannya bahwa Instruksi Mahkamah Agung dan nasehat

Ketua Mahkamah Agung tanggal 13 Februari 1950 No.348 K/5216/M tersebut

kurang diindahkan, terbukti masih banyak Pengadilan Negeri-Pengadilan Negeri yang

memberikan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu bahkan melaksanakan

putusan-putusan tersebut walaupun terhadap putusan tersebut dimintakan banding.

Maka dari itu, Mahkamah Agung sekali lagi menginstruksikan agar sedapat mungkin

jangan memberikan putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu, atau apabila

benar-benar dipandang perlu memberikan putusan yang dapat dijalankan terlebih

dahulu, pelaksanaannya harus mendapat persetujuan lebih dahulu dari Mahkamah

Agung.

2. SEMA Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih

Dulu (Uit Voerbaar Bij Vooraad).

SEMA Nomor 5 Tahun 1969 diterbitkan oleh Mahkamah Agung tanggal 2

Juni 1969 yang isinya menegaskan kembali SEMA Nomor 13 Tahun 1964 terkait

pelaksanaan putusan serta merta yang harus mendapat persetujuan lebih dulu dari

Mahkamah Agung, yaitu:

a) Bahwa yang dimaksud dalam SEMA Nomor 13 Tahun 1964 adalah

permintaan persetujuan untuk melaksanakan putusan serta merta (Uit Voerbaar Bij Vooraad).

b) Apabila terhadap putusan serta merta tersebut diajukan permohonan

pemeriksaan tingkat banding, kemudian diajukan permintaan persetujuan

(50)

Tinggi yang bersangkutan untuk memeriksa, mempertimbangkan dan

memutus dapat atau tidaknya permintaan persetujuan pelaksanaan putusan

serta merta tersebut dikabulkan.

3. SEMA Nomor 3 Tahun 1971 Tentang Uit Voerbaar Bij Vooraad

SEMA Nomor 3 Tahun 1971 diterbitkan oleh Mahkamah Agung tanggal 17

Mei 1971 yang isinya merupakan lanjutan dari yang terdahulu, yang berisi

keprihatinan atas sikap para hakim yang tidak mengindahkan syarat-syarat yang

digariskan pasal 180 ayat 1 HIR, pasal 191 ayat 1 RBg dalam mengabulkan putusan

yang dapat dijalankan lebih dahulu, oleh karena itu SEMA ini mempertegas lagi

syarat-syarat itu untuk ditaati.56

4. SEMA Nomor 6 Tahun 1975 Tentang Uit Voerbaar Bij Vooraad

SEMA Nomor 6 Tahun 1975 diterbitkan oleh Mahkamah Agung pada tanggal

1 Desember 1975 yang isinya terdapat penggarisan yang lebih tegas, antara lain

sebagai berikut:57

a) Kewenangan menjatuhkan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu

berdasar pasal 180 ayat 1 HIR, pasal 191 ayat 1 RBg adalah bersifat

diskresioner, bukan imperatif sifatnya.

b) Oleh karena itu, para hakim tidak menjatuhkan putusan yang demikian

meskipun memenuhi syarat-syarat yang digariskan pasal-pasal dimaksud.

c) Dalam hal yang sangat eksepsional dapat dikabulkan dengan syarat:

56

M. Yahya Harahap, Op.cit, hal. 899. 57

(51)

1) Apabila ada conservatoir beslag yang harga barang yang disita tidak mencukupi menutup jumlah gugatan.

2) Meminta jaminan kepada pemohon eksekusi yang seimbang nilainya.

d) Pada saat diucapkan, putusan sudah selesai.

e) Dalam tempo 2 minggu setelah diucapkan salinan putusan dikirimkan

kepada Pengadilan Tinggi untuk meminta persetujuan eksekusi.

5. SEMA Nomor 3 Tahun 1978 Tentang Uit Voerbaar Bij Vooraad

SEMA Nomor 3 Tahun 1978 diterbitkan oleh Mahkamah Agung pada tanggal

1 April 1978 yang isinya mengingatkan kembali SEMA yang telah diterbitkan

sebelumnya, tetapi sekaligus juga berisi penegasan dan penjelasan, yang terpenting

diantaranya:58

a) Menegaskan kembali agar para hakim di seluruh Indonesia tidak

menjatuhkan putusan y

Referensi

Dokumen terkait

Adapun permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini tentang tuntutan yang dihadapi kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit, perlindungan hukum bagi kurator

PELAKSANAAN PENGAWASAN YANG DILAKUKAN OLEH HAKIM PENGAWAS TERHADAP KURATOR DALAM PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT DI WILAYAH PENGADILAN

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN

Tulisan yang berjudul ” Pelaksanaan Tanggung Jawab Balai Harta Peninggalan Semarang sebagai kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta kekayaan debitor

Adapun permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini tentang tuntutan yang dihadapi kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit, perlindungan hukum bagi kurator

Tulisan yang berjudul ”Pelaksanaan Tanggung Jawab Balai Harta Peninggalan Semarang sebagai kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta kekayaan debitor

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat

Kurator adalah pihak yang diberi tugas untuk melakukan pengurusan harta pailit, kurator merupakan lembaga yang diadakan oileh undang-undang untuk melakukan