• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN ANTARA KUALITAS TIDUR LANSIA JALANAN DENGAN LANSIA PANTI WERDHA GRIYA ASIH LAWANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN ANTARA KUALITAS TIDUR LANSIA JALANAN DENGAN LANSIA PANTI WERDHA GRIYA ASIH LAWANG"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN ANTARA KUALITAS TIDUR LANSIA JALANAN

DENGAN LANSIA PANTI WERDHA GRIYA ASIH LAWANG

SKRIPSI

Oleh:

RADIAH

NIM. 201010420311207

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

(2)
(3)

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Radiah

NIM : 201010420311207

Program Studi : Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES UMM

Judul Skripsi : Perbandingan Kualitas Tidur Antara Lansia Jalanan Dengan Lansia Panti Werdha

Griya Asih Lawang

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya

sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai

tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya

bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Malang, 1 Februari 2015 Yang Membuat Pernyataan,

Radiah

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ... i

Lembar Persetujuan ... ii

Lembar Pengesahan ... iii

Surat Pernyataan Keaslian Penulisan ... iv

Motto ... v

Lembar Persembahan ... vi

Kata Pengantar ... ix

Abstract ... xi

Intisari ... xii

Daftar Isi ... xiii

Daftar Tabel ...xvi

Daftar Gambar ... xvii

Daftar Lampiran ... xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan ... 5

1.3.1 Tujuan Umum ... 5

1.3.2 Tujuan Khusus ... 5

1.4 Manfaat ... 6

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti ... 6

1.4.2 Manfaat Bagi Instansi Pendidikan ... 6

1.4.3 Manfaat Bagi Instansi Kesehatan ... 6

1.4.4 Manfaat Bagi Keperawatan ... 6

1.5 Keaslian penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Lansia ... 9

2.1.1 Pengertian Lansia ... 9

(5)

2.1.3 Proses Menua ...10

2.1.4 Teori Menua ...11

2.1.5 Karakteristik Lansia ...14

2.1.6 Tipe Lansia ...14

2.1.7 Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia ...16

2.1.8 Tugas Perkembangan Lansia ...23

2.1.9 Masalah Kesehatan Lansia ...23

2.2 Lansia Jalanan ...24

2.3 Konsep Kualitas Tidur ...25

2.3.1 Pengertian Tidur ...25

2.3.2 Tahapan Tidur ...26

2.3.3 Fisiologi Tidur ...27

2.3.4 Siklus Tidur ...29

2.3.5 Kebutuhan Tidur Manusia ...29

2.3.6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tidur ...30

2.3.7 Gangguan Tidur Pada Lansia ...31

2.3.8 Tanda-Tanda Kualitas Tidur Buruk ...33

2.3.9 Pengukuran Kualitas Tidur ...33

2.3.10 Penatalaksaan Gangguan Tidur ...35

2.4 Panti Jompo ...39

2.4.1 Pengertian Panti Jompo ...39

2.4.2 Tujuan Didirikan Panti Jompo ...40

2.4.3 Fungsi Panti Jompo ...41

2.4.4 Jenis-Jenis Panti Jompo ...41

2.4.5 Keuntungan Dan Kerugian Tinggal Di Panti Jompo ...42

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL ...44

3.1 Kerangka Konseptual ...44

(6)

BAB IV METODE PENELITIAN ...46

4.1 Desain Penelitian ...46

4.2 Kerangka Kerja Penelitian ...46

4.3 Populasi, Sampel dan sampling Penelitian ...48

4.3.1 Populasi ...48

4.3.2 Sampel ...48

4.3.3 Sampling ...48

4.4 Kriteria Sampel Penelitian ...48

4.4.1 Inklusi ...48

4.4.2 Eksklusi ...49

4.5 Definisi Operasional ...49

4.6 Tempat Dan Waktu Penelitian ...50

4.7 Instrumen Penelitian ...50

4.8 Prosedur Pengumpulan Data ...52

4.9 Pengolahan Data dan Analisa Data ...53

4.10 Etika Penelitian ...56

BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA ...58

5.1 Karakteristik Subyek Responden ...58

5.2 Hasil Analisa Data ...60

BAB VI PEMBAHASAN ...64

6.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil. ...64

6.2 Keterbatasan Peneliti ...70

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ...71

7.1 Kesimpulan ...71

7.2 Saran ...71

DAFTAR PUSTAKA ...72

(7)

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1 Kebutuhan Tidur Manusia ...29

4.1 Definisi Operasional ...49

5.1 Prosentase Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ...57

5.2 Rata-rata Responden Berdasarkan Usia ...58

5.3 Rata-Rata Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Tinggal ...59

5.4 Kualitas Tidur Lansia jalanan ...59

5.5 Kualitas Tidur Lansia Panti ...60

5.6 Rata-Rata Kualitas Tidur Lansia Jalanan dan Panti ...60

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian ...44

4.1 Kerangka Kerja Penelitian ...46

5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Tinggal ...58

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Permohonan Menjadi Responden ...76

Lampiran 2 Persetujuan Menjadi Responden ...77

Lampiran 3 Kuesioner PSQI ...78

Lampiran 4 Data Umum Responden ...80

Lampiran 5 Tujuh Komponen PSQI ...81

Lampiran 6 Hasil PSQI ...85

Lampiran 7 Uji Chi Square ...91

Lampiran 8 Surat ijin Penelitian ...93

Lampiran 9 Surat Penelitian Griya Asih Lawang ...94

Lampiran 10 Lembar Bimbingan Skripsi 1 ...95

Lampiran 11 Lembar Bimbingan Skripsi 2 ...96

Lampiran 12 Dokumentasi ...97

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, H. Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakatra: Salemba Medika.

_____________. 2009. Metode Penelitian Keperawatan Dan Tekhnik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika

Amir, Nurmiati. 2007. Gangguan Tidur Pada Usia Lanjut: Diagnosis Dan Penatalaksanaan. Cermin Dunia Kedokteran No. 157.

Anderson. E.T., & McFarlane J. 2006. Buku Ajar keperawatan Komunitas Teori dan Praktek. Edisi Ketiga. Jakarta: EGC

Arikunto, Suharsimi. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Asmadi. 2006. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC

Azizah, Lilik M. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Badan Pusat Statistik. 2010. Jawa Timur Dalam Angka. Jawa Timur: BPS

Buysse D.j., Reynolds C.F., Monk T.H., Berman S.R & Kupfer D.J. 1988. The Pittsburgh Sleep Quality Index: A New Instrument for Psychiatric Practice and Research. Psychiatri Research, 28, 193-213. http://www.xa.ying.com (Diakses 2 Juni 2015).

Darmojo, Boedhi. 2006. Kesejahteraan Lansia dan Masalah Lansia Panti Jompo. Jakarta: Rineka Cipta.

Erliana, Erma. 2009. Perbedaan Tingkat Insomnia Lansia Sebelum Dan Sesudah Latihan Relaksasi Otot Progresif di Santang. Skripsi. Universitas Diponegoro Semarang. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/upload/2009. (Diakses 22 februari 2015)

Eser, khorsid, Cinar. 2007. Sleep Quality of Older Adults in Nursing Home in Turkey: Enhancing the Quality of Sleep Improves Quality of Life. Journal of Gerontological Nursing.

Galea, Mellisa. 2008. Subjective sleep quality in elderly: relationship to anxiety, depressed

mood, sleep beliefs, quality of life, and hypnotic use

http://vuir.vu.edu.au/1520/1/Galea.pdf. (Diakses 19 oktober 2015).

Galimi, R. 2010. Insomnia in the elderly, an update and future challenges. http://www.sigg.it/public/doc/pdf. (Diakses 3 Maret 2015).

Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

Haines, C. 2005. Sleep disorder : sleep and depression. The National Sleep Foundation Journal. http://www.webmed.com..December2005.American Academy of Family Physicians. (Diakses 20 Agustus 2015).

(11)

Hastono, P. Sutanto. 2007. Analisis Data Kesehatan. Jakarta: Fakultas Kesehatan

Hidayat. 2008. Kebutuhan Tidur Manusia Sesuai Tingkat Perkembangan. Jakarta: Salemba Medika ______. 2006.Kualitas Tidur. Jakarta: Salemba Medika

Hurlock, L.N. 2006. Panti Jompo Rumah Singgah Lanjut Usia. Jurnal Gerontik. 12 (1)

Irwina. 2013. Factor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kualitas Tidur yang Buruk pada Lansia Wonojati.Skripsi. Universitas Jember.

Irfayani. 2012. Perawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika

Kartika. 2012. Pengaruh Senam Lansia Terhadap Kualitas Tidur Lansia di Desa Layangan. Skripsi.Universitas Diponegoro Semarang.

Kawada, Tomoyuki. 2011. Noise and Health-Sleep Disturbances in Adults. J Occup Health 2011; 53:413-416. http://joh.sanei.or.jp/pdf/E53/E53_6_01.pdf (Diakses 12 Agustus 2015) Kementerian Coordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 2011. Lansia Perlu Perhatian.

http://www.menkokesra.co.id (3 Februari 2015).

Kozier, Barbara. 2008. Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. New Jersey: Berman Audrey.

Maas, L. Meridian 2011. Asuahan Keperawatan Geriatric: Diagnosis NANDA, Kriteria Hasil NOC, Intervensi NIC. Jakarta: EGC.

Mangoenprasodjo & Hidayati. 2005. Masalah-Masalah kesehatan Lansia dan Perawatannya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Maryam, R.S., Ekasari M. F., Rosidawati., Jubaedi A., dan Batubara I. 2008. Mengenal Lanjut Usia dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.

_______.2010.Asuhan Keperawatan Pada lansia. Jakarta: Salemba Medika

Muhatjidin . 2012. Kebutuhan Dasar Manusia. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Graha Ilmu

Mutakhir.dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gerontik, Gangguan Tidur pada Lansia. Jakarta: Salemba Medika

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nugroho. 2008. Perawatan Lanjut Usia. Jakarta: EGC

Nurhidayah, Lukman, dan Rakhmawati. 2007. Hubungan antara Karakteristik Lingkungan Rumah dengan Kejadian Tuberculosis (tb) pada Anak di Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang. Artikel Kesehatan. http://resources.unpad.ac.id (Diakses 12 Agustus 2015).

Nursalam, 2013. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

_______, 2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Istrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

(12)

Prayitno, A. 2006. Gangguan Pola Tidur pada Kelompok Usia Lanjut dan Penatalaksanaannya. Jurnal Kedokteran Trisakti 21 (1).

Roland, Ngang. 2011. Sleep Disturbance Among Elderly People in Nursing Home: Human Aging and Elderly Services.

Sagala, V. 2011. Kualitas Tidur dan Factor-Faktor Gangguan Tidur. http://www.repository.usu.ac.id. (Diakses 10 Mei 2015).

Saryono & Widianti, A.T. 2010. Catatan Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

Sastroasmoro & Ismael. 2008. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto.

Saudah. 2013. Kebutuhan Istirahat dan Tidur Lansia. http://www.repository.uin.ac.id (Diakses 2 januari 2016)

Simonson, Bergeron, Crecelius,Maguire, Osterwell,Spivack, Stwalley, dan Zee. 2007. Improving sleep management in elderly: a guide to the management of insomnia in long term care:

Clinical care and aging 2007:15 (1-16).

http://www.annalsoflongtermcare.com/attachments/SuppFinalV2.pdf. (Diakses 20 Oktober 2015)

Siregar. 2011. Insomnia Dapat Menyerang Segala Usia. Yogyakarta: Nuha Medika

Smyth, Carole. 2012. The Pittsburgh Sleep Quality Index. The Harford Institute Of Geriatric Nursing. New York University.

Stanley, Mickey & Beare, P.G. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.

Stockslager, Jaime. 2008. Asuhan Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC

Siswohardjono. 2007. Pengaruh Lingkungan Panti Jompo Terhadap Status Mental Lansia. Jurnal Keperawatan Gerontik. 2 (1).

Sugiyono. 2011. Statistik dan Penelitian. Bandung: ALFABET

Sumedi, Wahyudi & Kuswati. 2010. Pengaruh Senam Lansia Terhadap Penurunan Skala Insomnia pada Lansia di Panti Werdha Dewanata Cilacap. Jurnal Keperawatan Soedirman, 5 (1).

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fenomena baru yang muncul di dunia seiring dengan keberhasilan

pembangunan adalah populasi lansia yang meningkat (Nugroho, 2008:1).

Peningkatan populasi lansia tersebut merupakan dampak dari adanya peningkatan

usia harapan hidup penduduk. Peningkatan usia harapan hidup terjadi di Negara maju

maupun di Negara berkembang, termasuk Indonesia (Prayitno, 2006). Penuaan

merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara

terus-menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan

anatomis, fisologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi

dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Nugroho, 2008:12).

Indonesia merupakan Negara yang menduduki peringkat keempat jumlah

lansia terbanyak di dunia setelah China, India, dan Amerika. Sugiri Syarief,

mengatakan bahwa pada sensus penduduk tahun 2010 didapatkan data jumlah lansia

yang meningkat secara signifikan. Jika pada tahun 1970-an, jumlah lansia hanya

sekitar dua persen dari keseluruhan penduduk, saat ini sudah mencapai hampir 10

persen dari jumlah keseluruhan penduduk (Kementerian Koordinator Bidang

Kesejahteraan Rakyat, 2011). Survey badan statistic (BPS) tahun 2010, didapatkan

data bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia sebesar 23,1 juta jiwa atau 9,77 %

dari total penduduk. Prediksi jumlah lansia ini akan meningkat menjadi 28,1 juta jiwa

(14)

2

Jumlah lansia terendah di jawa timur atau terkecil di Jawa Timur yaitu Kota

Mojokerto dengan jumlah 11.919, dan lansia di Kabupaten Jember berjumlah

128.425, sedangkan Kabupaten Malang memiliki jumlah lansia terbanyak. Jumlah

lansia di Kabupaten Malang adalah 289.604 jiwa dan 14% dari jumlah penduduk

lansia di Kota Malang adalah lansia yang terlantar (BPS Jawa timur, 2010).

Lansia yang terlantar adalah lansia yang tidak memiliki tempat tinggal

menetap dan hidup di jalanan, serta mencari nafkah di jalanan. Hidup di jalanan

tentunya tidak mudah dihadapi oleh seseorang, baik bagi orang yang masih sehat

fisiknya, maupun bagi orang yang sudah mengalami penurunan secara fisik seperti

lansia. Lansia yang tinggal di jalanan sering mengalami masalah dan gangguan

kesehatan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan tidur dan

masalah kesehatan lainnya. Masalah kesehatan lansia akan diperparah dengan adanya

dampak dari proses penuaan yang terjadi pada lansia. Keluhan-keluhan seputar

masalah kesehatan seperti tidur merupakan masalah umum yang terjadi di

masyarakat luas, khususnya pada lansia (Roland, 2011).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di kota Malang. Hasil

wawancara singkat yang dilakukan peneliti terhadap 10 lansia jalanan yang berusia

lebih dari 55 tahun yang tinggal di beberapa tempat yaitu di stasiun kota baru,

terminal Landung sari, terminal Arjosari dan pasar Merjosari Malang, didapatkan

bahwa 6 dari 10 lansia mengeluhkan seringkali terbangun di malam hari dan merasa

kesulitan untuk kembali tidur. Lansia juga mengeluhkan terbangun karena ingin

buang air kecil, terbangun karena merasakan lingkungan terlalu dingin, serta

seringkali merasa mengantuk di siang hari. Empat lansia lainnya menyatakan bahwa

(15)

3

dan tidak merasakan kantuk berlebihan di siang hari. Bahkan beberapa lansia

menyatakan lebih nyaman dan lebih memilih tinggal di jalanan walaupun mereka

memiliki rumah dan keluarga.

Kozier (2008) menyatakan bahwa factor-faktor yang dapat mempengaruhi

tidur adalah factor usia, lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress psikologis, alcohol,

dan stimulan, diet, merokok, motivasi, sakit, dan medikasi. Potter & Perry (2005) juga

menyatakan bahwa factor yang mempengaruhi tidur, pola tidur yang biasa dan

mengantuk yang berlebihan pada siang hari, fisiologis dan latihanserta asupan

makanan dan kalori.

Perubahan lingkungan tempat tinggal yang baru misalnya lansia yang baru

pindah ke panti Werdha Griya Asih Lawang dapat memicu terjadinya gangguan tidur

pada lansia, karena lansia yang baru tinggal di panti jompo Al-ishlah masih dalam

tahap adaptasi dengan lingkungan yang baru. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan

oleh peneliti terhadap 6 lansia yang berusia lebih dari 60 tahun yang tinggal di panti

Werdha Griya Asih Lawang di dapatkan bahwa 4 dari 6 lansia mengeluhkan susah

tidur saat malam hari, dan sering terbangun karena ingin buang air kecil. Lansia juga

mengeluhkan sering merasa ngantuk di siang hari. Dua lansia lainnya menyatakan

tidak ada keluhan tentang masalah tidur, lansia juga menyatakan bahwa tidur nyenyak

dimalam hari.

Jumlah lansia yang banyak di Indonesia haruslah ditangani secara keseluruhan

dengan memperhatikan kebutuhan lansia. Kebutuhan fisiologis dasar manusia,

termasuk kebutuhan lansia yang harus dipenuhi, yaitu hygiene, nutrisi, kenyamanan,

(16)

4

2005). Erliana (2009) menambahkan bahwa kebutuhan dasar yang sering kali tidak

disadari peranannya adalah kebutuhan tidur dan istirahat.

Tidur adalah keadaan saat terjadinya proses pemulihan bagi tubuh dan otak

serta sangat penting terhadap pencapaian kesehatan yang optimal (Maas, 2011).

Kebutuhan tidur termasuk dalam kebutuhan fisiologis. Kebutuhan tidur merupakan

kebutuhan primer yang menjadi syarat dasar bagi kelangsungan hidup manusia

(Asmadi, 2006). Pada masa neonates, kebutuhan untuk tidur sekitar 18 jam,

berkurang menjadi 13 jam pada usia satu tahun, Sembilan jam pada usia 12 tahun,

delapan jam pada usia 20 tahun, tujuh jam pada usia 40 tahun, enam jam setengah

pada usia 60 tahun, dan enam jam pada usia 80 tahun (Amir, 2007).

Tidur dipercaya bermanfaat dalam pemulihan fisiologis dan psikologis

individu. Tidur nyenyak bermanfaat dalam memelihara fungsi jantung (Potter &

Perry, 2005). Gangguan tidur yang terjadi pada lansia tentu akan mempengaruhi

kualitas tidur lansia. Sumedi, dkk (2010), mengungkapkan bahwa kualitas tidur malam

hari pada lansia mengalami penurunan menjadi sekitar 70-80% dari usia dewasa.

Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut

tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu, dan apatis,

kehitaman disekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih,

perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk

merupakan tanda dan gejala kurang tidur (Hidayat,2006).

Lansia yang hidup dengan lingkungan yang tidak aman dan nyaman membuat

lansia tidak leluasa dalam melakukan kegiatan sehari-hari maupun dalam keadaan

istirahat dan tidur. Uraian yang dijelaskan tersebut, memberikan inspirasi pada

(17)

5

yang tinggal di jalanan dengan lansia yang tinggal di panti Werdha Griya Asih

Lawang.

1.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

sebagai berikut: “Apakah ada perbedaan antara kualitas tidur lansia jalanan dengan

lansia Panti Werdha Griya Asih Lawang?

1.2 Tujuan penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kualitas

tidur lansia jalanan dengan lansia Panti Werdha Griya Asih Lawang.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi kualitas tidur lansia yang tinggal di jalanan

2. Mengidentifikasi kualitas tidur lansia yang tinggal di Panti Werdha Griya Asih Lawang

3. Menganalisis perbandingan kualitas tidur lansia jalanan dengan lansia panti Panti Werdha Griya Asih Lawang.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti adalah menambah pengetahuan dan wawasan mengenai

kualitas tidur lansia jalanan dan kualitas tidur lansia panti jompo.

1.4.2. Manfaat Bagi Instansi Pendidikan

Manfaat yang bisa diperoleh bagi instansi pendidikan adalah sebagai

(18)

6

melakukan intervensi pada keperawatan gerontik. Pengetahuan akan kualitas tidur

lansia dapat memberikan masukan intervensi yang tepat dalam pencegahan gangguan

tidur yang terjadi pada lansia. Instansi pendidikan juga dapat mengembangkan

keilmuannya secara mendalam terkait dengan kualitas tidur lansia.

1.4.3. Manfaat Bagi Instansi Kesehatan

Manfaat yang bisa diperoleh bagi instansi kesehatan adalah data dan hasil

yang diperoleh dapat dijadikan sumber informs dan masukan untuk optimalisasi

program pencegahan dan penanganan gangguan tidur pada lansia. Data yang

didapatkan di masyarakat terkait dengan kualitas tidur lansia dapat dijadikan masukan

pada instansi kesehatan setempat bahwa kebutuhan tidur pada lansia juga penting

untuk dipenuhi selain kebutuhan dasar lainnya.

1.4.4 Manfaat bagi Keperawatan

Manfaat penelitian ini bagi keperawatan yaitu hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberikan peningkatan terhadap kualitas asuhan keperawatan khususnya

pada keperawatan gerontik. Peran perawat gerontik dalam penatalaksanaan kualitas

tidur yang buruk pada lansia dapat lebih optimal dengan mengetahui faktor-faktor

apa saja yang mempengaruhi kualitas tidur yang buruk pada lansia. Hal ini menjadi

penting bagi lansia, karena kualitas tidur yang baik dapat menunjang dalam

peningkatan kualitas hidup lansia.

1.5. Keaslian Penelitian 1. Penelitian

Penelitian terdahulu terkait dengan kualitas tidur adalah penelitian yang di

lakukuan oleh Irwina angelia (2013) dengan judul faktorfaktor yang berhubungan

(19)

7

kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode penelitian non eksperimen

dengan rancangan korelasi. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain

analitik korelasional (correlational study) dengan pendekatan cross sectional. Hasil

penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa factor yang berhubungan

dengan kualitas tidur yang buruk diantaranya lingkungan, gaya hidup, dan sakit.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah

pada variable independen. Variable independen pada penelitian tersebut adalah

factor-faktor yang berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk, sedangkan variable

independen dari penelitian peneliti adalah lansia jalanan dan panti jompo. Persamaan

dengan penelitian yang akan dilakukan adalah variable dependennya yaitu kualitas

tidur.

2. Penelitian

Penelitian Kartika (2012) meneliti tentang pengaruh senam lansia terhadap

kualitas tidur pada lansia di Desa Layangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten

Semarang. sampel dalam penelitian ini lansia di desa layangan, metode pengambilan

sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara sample random sampling. Instrument

penelitian yang digunakan adalah menggunakan kuesioner kualitas tidur modifikasi

dari Pittsburgh Sleep Quality Indexs (PSQI). PSQI digunakan untuk mengukur

kualitas tidur lansia. Hasil dari penelitian ini ada pengaruh senam lansia terhadap

kualitas tidur pada lansia di Desa Layangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten

Semarang dengan nilai t hitung sebesar 2,157 sedangkan nilai p-volue sebesar 0,040

(α=0.05).

Perbedaan yang dilakukan Kartika dengan penelitian yang akan dilakukan

(20)

8

tersebut adalah senam lansia, sedangkan variable independent dari peneliti adalah

lansia jalanan dan panti jompo. Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH LATIHAN SENAM YOGA TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANJUT USIA (LANSIA)..

Saya menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul “ Pengaruh Latihan Senam Yoga Terhadap Kualitas Tidur pada Lanjut Usia (Lansia) ” adalah hasil dari pekerjaan saya

Tabulasi Silang Hubungan Kualitas Tidur dengan Fungsi Kognitif pada Orang Lanjut Usia di Panti Werdha Griya Usia Lanjut St.. Yosef

Menurut data penelitian yang didapat, jumlah lansia perempuan yang memiliki kualitas tidur buruk lebih banyak dibandingkan dengan jumlah lansia laki-laki, hal ini

Gambaran kualitas tidur pada lansia yang masih kurang baik dimana banyak yang masih mengalami kesulitan dalam tidur yaitu tentang tidak bisa tidur dalam waktu

Kualitas tidur yang tidak baik akan memudahkan lansia mengalami kekambuhan penyakit hipertensi, hal tersebut dikarenakan kualitas tidur yang buruk akan berdampak

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 5937 HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN KEMANDIRIAN PADA LANSIA DI GRIYA LANSIA HUSNUL KHATIMAH Dinda Dewi Kirana1*, Nungki Marlian Yuliadarwati2 ,

Bagi Tempat Penelitian Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa kualitas tidur lansia sebagian besar buruk, kualitas tidur lansia yang buruk dapat disebabkan karena