ANALISIS PENERAPAN ACTMTY-BASEl[) COSTING
DALAM PRODUKSI PROGRAM ACARA TELEVISI
(Study Kasus Pada PT. Televisi Transformasi Indonesia)
SKRIPSI
•
Oleh:
Silky Ionian
NIM: 104,082002631 1 hterlH; ,-, .. -.,,,_,,_,.; __ ,,;f
;''"'
•
ァャEZNセᄋYNセセNZセZZZZZZZU_@
\rJ,. Indnk : ",., ... , ... ,.,,"' ..
?
..
|NエNZZセZセ@
..
-JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
ANALISIS PENERAPAN
activityセbasejiI@COSTING
DALAM PRODUKSI PROGRAM ACARA TJ<:LEVISI: STUDY
KASUS P ADA PT. TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Sebagai Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
Pembimbing I
Oleh:
SILKY IONIAN
NIM:l04082002631
Dibawah Bimbingan
Dr. Khomsiah, SE. Ak.,
MM
JURUSAN AKUNTANSI
.,MM
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERJ SYARJF HIDAYATULLAH
Hari ini Kamis Tanggal 11 Bulan Desember Tahun Dua Ribu Delapan telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Silky Ionian NIM: 104082002631 denganjudul Skripsi "ANAL/SIS PENERAPAN ACTIVITY-BASED COSTING DALAM PRODUKSI PROGRAM ACARA TELEVISI (.YTUDY KASUS PADA PT TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA". Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka slcripsi ini sudal1 dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatnllah Jakarta.
-Ami in, SE. Ak., M.Si Penguji I
Jakarta, 11 Desember 2008
Tim Penguji Ujian Komprehensilf
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS Penguji Ahli
Harl ini Jumat Tanggal 26 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Sembilan telah dilakukan Ujian Skripsi atas nama Silky Ionian NIM: 104082002631 dengan judul Skripsi
"ANAL/SIS PENERAPAN ACTIVITY-BASED COSTING DALAM
PRODUKS/ PROGRAM ACARA TELEV/SI (STUDY KASUS PADA PT TELEV/S/ TRANSFORMASI INDONESIA". Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi clan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri SyarifHidayatullah Jakarta.
Tim Penguji Ujian Skripsi
Dr. Khomsiah, SE. Ak., MM Penguji I
セ@
Dr. Wiwik Utami, SE. Ak., M.Si Penguji Ahli
Jakarta, 26 J uni 2009
DAFTAR
RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Na.ma
Tempat, Tanggal Lahir Jen.is Ke Jamin
Agama
Alam at
Telepon/HP
Riwayat Pendidikan 1998
1998-2001 2001-2004 2004-2009
: Silky Ionian
: Jakarta, 5 Januari 1987 : Laki-Laki
: Islam
: Komplek Al vita, V /8, Sawah Lama Ciputat-Tangerang
: 021-7421486/08567226660
: SDN Pondok Pinang
o
1 Jakana. : SLTPN 2 Pemalang, Jawa Tengah : SMUN 29 JakartaABSTRACT
This research compares the activity-based costing method and the costing method of PT. Televisi Transformasi Indonesia, to calculate cost of good mamifacture (COGM) related corporate operational profit. This research use descriptive approach. The data is gotten by doing check the document that related with this research, participant observation, and interview the production staff. The resulting data was compared to literature.
Activity-based costing application, giving pretty good impact to increase effectiVeness and internal resource purpose efficiency that related with production process. Although, in a flash, in profit counting that resulting by activity-based costing method becomes smaller as compared to method which utilized by PT. televisi Transformasi jndonesia, but in fact its cost range comprises with resource purpose that originally unenclosed deep production cost counting that utilized by PT. Televisi Transformasi Indonesia. Accumulation furthermore its
profit decrease reach 1,6%. On the contrary,
if
cost post that unenclosed inproduction cost counting is inserted into production cost counting that utilized by PT. Televisi Transformasi Indonesia, obviously real operational profit that is reached by PT. Televisi Transformasi Indonesia's method will be much smaller as compared to activity-based costing method.
ABSTRAK
Penelitian ini membandingkan tentang penggunaan metode biaya berdasarkan aktivitas (ABC) dengan metode biaya yang digunakan oleh PT. Televisi Transformasi Indonesia, dalam memperhitungkan harga pokok produksi terkait laba operasi perusahaan. Penelitian ini menggunakm1 analisis deskriptif. Data diperoleh melalui penelitian doklmlen-dokumen yang terkait dengan penelitian ini, observasi partisipan, serta wawancara karyawan bagian produksi. Hasil data tersebut kemudian dibandingkan dengan literatur yang ada.
Pel1etapan metode biaya betdaSatkan aktivitas (ABC), membetikati dampak yang sangat baik dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya internal dalam kaitam1ya dengan proses. produksi. Walaupun, secara sekilas dalam penghitungannya laba yang diliasilkan oleh metode ABC menjadi lebih kecil dibandingkan dengan metode yang digunakan PT. Televisi Transformasi Indonesia, namun pada kenyataannya cakupan biayanya termasuk dengan penggunam1 sumber daya yang semula tidak dimasukkan dalam penghitungan biaya produksi yang digunakan oleh PT. Televisi Transformasi Indonesia. Lagipula akumulasi penurunan labanya hanya mencapai 1,6%. Sebalikuya, bila pos-pos biaya yang tidak dinlasukkan dalam penghitungan biaya produksi dimasukkan ke dalmn penghltungan biaya produksi yang digunakan PT. Televisi Transformasi Indonesia, ten1.unya laba operasi nyata yang diraih akan menjadi jauh lebih kecil dibandingkm1 dengan metode ABC.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji syukur tercurah kepada Allah SWT, Ttilian Penguasa
Aliiiii Semesta, yang melimpahkan segala rahmat, hidayah, dan ilmu pengetahuan yang melimpah kepada penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tidak lupa dipanjatkan kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah menngantarkan umat Islam menuju era yang beradab, terang-benderang, serta terbebas dari era jahiliyah.Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat dalam 111eraih gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Ilnm Sosial, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatnllah, Jakarta. Pertama kali, penulis menghatnrkan syukur Alhamdulillah atas izin Allah SWT, skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktnnya. Tidak lupa, atas dorongan doa dan morilnya penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada:
1. Alm. Papa Arif yang telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga kepada ananda, serta atas segala dorongan doa, moril dan materilnya, jerib payah Papa niscaya akan terkemmg selalu di ingatan ananda. Mama Tanti yang telah bersnsah payah :membimbing ananda dengan sangat luar biasa, menjadi seorang single parent yang sangat tegar, serta memberikan kenyamanan dan rasa_tentram di hati. Karya ini ananda persembahkan kepada kalian berdua, orang tua yang memberikan pelajaran hidup yang sangat luar biasa kepada penulis.
2. lbu Dr. Khomsiah, SE. Ak., MM selaku Dosen Pembimbing I yat1g senantiasa membimbing dengan sabar di tengah kes.ibukan beliau selama penyusunan skripsi ini berlangsm1g, salam hotmat serta mohon maaf sebesar-besarnya apabila telah merepotkan selama ini.
4. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilnm Sosial UIN SyarifHidayatullah Jakarta.
5. Bapak Afif Sulfa, SE. Ak., M.Si. selaku Ketua .Jurusan Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Seluruh Dosen FEIS UlN Syarif Hidayatullab Jakarta, yang telab sudi berbagi ilnm yang benl!anfaat kepada penulis selama penulis mengenyam pendidikan di FEIS UlN SyarifHidayaitullab Jakarta.
7. Suryani Puspa Dewi, walau dia tidak berperan sama sekali dalam pembuatan skripsi ini, namun dialab tujuan hidup penulis. Kenangan penulis akan dirinya, ll1e111buat pertulis tel1llotivasi untuk ll1engalahkan pencapaiannya.
8. Uli, sahabat karib penulis yang terkasih, dorongan motivasi yang engkau beri tidak akan terlupa di ingatan. Ini janji penulis untuk mencanturnkan nama engkau di skripsi ini, tapi maaf, janji penulis untuk mengundang di acara wisuda penulis tidak dapat terlaksana.
9. Sababat terdrtta di kelas Aktmtansi A 2004, di n1ana telah menjalani pabit manis kehidupan bersama selama menjadi bagian keluarga besar Akuntansi A 2004. Mo hon mail tidak ll1enyebutkan nama, namun kalian pun tabu yang dimaksud penulis.
10. Para Lapukers, terima kasih atas kenangan yang terjadi di antara kita Tentunya akan menjadi sebuab kisab klasik yang tidak akan terlupa, serta menarik untuk diceritakan kepada anak-cucu kita kelak. Setelah ini eutab kapan lagi kita akan berkumpul seperti <lulu lagi, bermain stage one hingga badan letih terkulai, atau tindih-tirtdihan sampai baclan terasa hampir remuk, tapi yang pasti penulis akan merindukan masa-masa itu. 11. Tell1an-teman senasib clan seperjuangan dalam ーエセュ「オ。エ。ョ@ skripsi hingga
12. Bendors yang telah mempekerjakan penulis dari tahun 2006 hingga April 2009. Atas bantuannya penulis dapat rrieriibiayai keluarga dan kuliah penulis sendiri hingga selesai sepeninggal
Alm.
Papa tercinta. 13. Semua staff budgeting lantai 9 Trruis Tv, dan khususl1ya Mas RisanMoses, yang sangat membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Pada akhimya penulis menyadari sepenulmya bahwa tiada foil yang sempuma di dunia ini, termasuk penulisan skripsi ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis demi rl1erl1berikan rl1iU1faat yang lebih baik dikemudian hari.
Jakarta, 26 Juni 2009
DAFTARISI
Hal am an
LEMBAR PENGESAHAN... i
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG KOMPREHENSIF... ii
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SKRIPSI... iii
DAFTARRIWAYATHIDUP... iv
ABSTRACT ... ,... v
ABSTRAK... vi
KATA PENGANTAR... vii
DAFT AR ISL... x
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xv
BABI PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan... 1
B. Perumusan Masalah... 6
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 7
BAB Il KERANGKA TEORITIS A. Konsep Activity Based Costing... 9
I. Definisi Activity Based Costing... 9
2. Manfaat dan Keunggulan Sistem ABC... 11
3. Dasar-Dasar Penerapan Sistem ABC... 14
4. Perancangan Sistem ABC... 16
5. Pedoman Pengurangan Biaya Cara ABC... 21
B. Klasifikasi Biaya Produk... 26
1. Biaya Manufaktur... 26
2. Behan Komersial... 26
C. Proses Prodnksi Acara Televisi... 27
1. Tabap Pra Produksi... ... 27
2. Tabap Prodnksi... 29
3. Tabap Pasca Produksi... 34
D. Elemen Biaya Produksi Acara Televisi... 35
1. Film dan Laboratorium... 35
2. Pengerjaan Optik... 36
3. Biaya Naskab dan Papan Cerita... 36
4. Staff Produksi... 37
5. Animasi... 37
6. Rekam Suara... 37
7. Artis dan Nara Sumber... 38
8. Kru Kamera, Suara, dan Produksi... ... 3 8 9. Latar... 38
10. Pemotongan dan Pengeditan... 38
11. Musik... 39
12. Sewa Alat... 39
13. Pembelian dan Perawatan... 39
14. Perjalanan dan Biaya Hidup... 39
15. PersediaanUmum... 40
16. Pajak Penghasilan dan Asuransi... 40
17. Honor Pekerja... 40
18. Biaya Overhead... 40
19. Biaya Lain-Lain... 41
E. Kerangka Pemikiran... 41
B. Objek Penelitian... 43
C. V ariabel dan Definisi Operasional V ariabel... 44
D. Teknik Pengumpulan Data... 45
E. Metocle Analisis Data... 46
BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Perusahaan... 48
1. Organisasi. ... ... .... .... .... .... ... .. ... ... 48
2. Proses Produksi Program Acara Televisi... 49
3. Jadwal Syuting dan Jadwal Tayang Program Acara... 63
4. Pengakuan Biaya... 64
5. Pendapatan Perusahaan... 79
B. Perhitungan Laba Perusahaan... 81
C. Penerapan Sistem ABC... 82
1. Identifikasi dan Definisi Aktivitas clan Pul Aktivitas... 83
2. Telusuri Biaya Overhead Ke Aktivitas dan Objek Biaya. 107 3. Membebankan Biaya Ke Pul Biaya Aktivitas... 112
4. Menghitung Tarif Aktivitas... 115
5. Memebebankan Biaya Ke Objek Biaya... ... 116
6. Menyiapkan Laporan Manajemen... 122
D. Perbanclingan Sistem ABC clan Sistem Perusahaan... 125
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan... 129
B. Implikasi dan Saran... 130
1. lmplikasi... 130
2. Keterbatasan... ... 130
3. Saran... 131
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
4.1 : Jadwal Tayarig Pfogi'afu Acara Televisi 63
4.2 : Jumlah Program yang Telah Diproduksi 64
4.3 : Biaya Host Selama Bulan Juni 2008 66
4.4 : Biaya Research/Survey Selama Bulan Juni 2008 67
4.5 : Biaya Make-Up and Hair Set Juni 2008 68
4.6 : Biaya Wardrobe Juni 2008 68
4.7 : Biaya Property Juni 2008 69
4.8 : Biaya Setting Juni 2008 70
4.9 : Biaya Editing Juni 2008 73
4.10 : Biaya Tapes Juni 2008 73
4.11 : Biaya Sewa Genset Juni 2008 77
4.12 : Daftar Honor Karyawan Trans Tv 78
4.13 : Pengakuan Biaya Langsung Perusahaan Juni 2008 79
4.14 : Daftar Rate Card 80
4.15 : Total Pendapatan Juni 2008 81
4.16 : Total Laba Juni 2008 82
4.17 : Pu! Biaya Aktivitas Trans Tv 107
4.18 : Biaya Overhead Juni 2008 109
4.19 : Persentase Distribusi Aktivitas 113
4.20 : Distribusi Biaya Overhead Ke Aktivitas 114
4.21 : Perhitungan Tarif Aktivitas Juni 2008 116
4.22 : Perhitungan Biaya Overhead Juni 2008 119
4.23 : Perhitungan Biaya Overhead Juni 200 (Lanjutan) 120
4.24 : Perhitw1gan Total Biaya Sistem ABC 121
DAFTAR
GAMBAR
Garn bar
2.1
2.2
4.1
4.2
: Model Dasar Activity Based Costing
: TV Rating dan TV Share
: Proses Produksi Program Acara Televisi Trans Tv
: Model Sistem ABC di Trans Tv
Halaman
14
15 50
Lampiran
1
2
3
4 5 6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
DAFTAR LAMPIRAN
Penjelasan
: Perhitungan Biaya Perusahaan
: Perhitungan Biaya ABC
: Perhitungan Net Profit ABC (ADJ)
: Perhitungan Net Profit ABC (ADJ Plus)
: Perhitungan Net Profit ABC (Ceriwis)
: Perhitungan Net Profit ABC (Dorcer Show)
: Perhitungan Net Profit ABC (Extravaganza)
: Perhitungan Net Profit ABC (Insert Siang)
: Perhitungan Net Profit ABC (Nglenong Nyok)
: Budget Costing Trans Tv (ADJ)
: Budget Costing Trans Tv (ADJ Plus)
: Budget Costing Trans Tv (Ceriwis)
: Budget Costing Trans Tv (Dorce Show)
: Budget Costing Trans Tv (Extravaganza)
: Budget Costing Trans Tv (Insert Siang)
: Budget Costing Trans Tv (Nglenong Nyok)
BABI
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang セ・イュ。ウ。ャ。ィ。ョ@
Saat ini dunia hiburan yang berbasis audio-visual sangat digemari
oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya kalangan masyarakat
kelas menengah ke bawah saja, namnn kelas menengah ke atas pnn ikut
"melirik" dunia hiburan mass-media ini sebagai altematif hiburan yang
tergolong murah dan praktis bisa dijadikan sebagai sarana hiburan yang
efektif dan efisien nntuk sekedar bersantai dan mefopas lelah, berkurnpul
dengan keluarga besar, ataupnn hanya sekedar mencari :informasi saja.
Bisnis hiburan seperti ini di Indonesia sedang mengalami peningkatan
yang cukup signifikan. Sebagian orang, dalam kasus :ini adalah stasiun-staisnn
televisi, memandang peningkatan dalam ha! ini sebagai suatu segmentasi
pasar yang sangat potensial nntuk dikembangkan, sebagai momentum awal
kebangkitan hiburan pertelevisian di Indonesia yang sempat terpuruk satu
dekade yang lalu karena ditinggal oleh penontonnya.
Perkembangan dunia bisnis hiburan pertelevisian yang pesat telah
memacu stasinn-stasinn televisi di Indonesia berlomba-lomba nntuk
meningkatkan kualitas dari serangkaian program-program ac:ara yang
diproduksinya, tentnnya agar dapat besaing dengan para kompetitor lain yang
perusahaan-perusahaan komersial pada ummnnya, yaitu mendapatkan laba
dari basil produksinya tersebut.
Perusahaan yang bergerak pada jasa penyiaran televisi secara
operasionalnya tidaklah jauh berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang
bergerak pada bidang jasa lainnya, karena sesuai d1engan karalcteristiknya,
bahwa perusahaan jasa produk yang dibasilkan untuk: konsumennya bersifat
produk-produk "kasat mata" (prinsip ketidakberwujudan), dan basil
produknya banya bisa dinikmati pada saat penayangart acara itu saja (prinsip
keter!enyapan). Maksudnya di sini adalah produk yang dihasilkan banya bisa
dinikmati sesaat saja, tidak bisa dijamah ataupun dimiJiki, karena yang dijual
pada perusahaan-perusahaan jasa pada umumnya banyalah sebuah kepuasan
ataupun sekedar untuk hiburan semata bagi para konsumennya.
Menurut Baksin (2006:40): "Di Indonesia ke:cenderungan karalcter
televisi sebagai entitas bisnis sangat mewamai tampilan, khususnya pada
televisi swasta. Dalam operasionalnya, televisi swasta banyak mencerminkan
prinsip-prinsip kapitalisme untuk mendorong perputaran roda ekonomi."
Televisi dalam konteks ini menjadi sarana bagi pe:njualan produk oleb
produsen yaitu dengan melakukan proses reproduksi1 melalui iklan yang
ditayangkan. lklan merupakan sumber pendapatan utama bagi televisi swasta
untuk memproduksi program-program yang mengisi air time-nya. Namun
dengan beralibi tmtuk mendapatkan laba yang besar, pemsahaan penyiaran
buah bibir di kalangan masyarakat. Demi mendapatkan laba yang besar pula
terkadang perusahaan penyiaran televisi seakan "mienutup mata" dengan
norma-norma dan hukum yang berlaku di masyarakat.
Oleh karena itu, setiap stasiun-stasiun televisi sangat mengandalkan
para produsernya untuk membuat tayangan-tayangan yang berkualitas dan
tentunya mendapatkan laba yang besar pula. Seorang produser yang baik
dalam membuat suatu program acara akan jeli dalam pengalokasian budgeting
yang tersedia untuk "kelangsllllgan hidup atau going concern" acara yang
diproduksinya. Menurut Effendy (2002:45): "Agar dapat menyusun anggaran
(budget), Anda harus mengenali dengan baik semua elemen-elemen yang
terdapat dalam produksi film Anda." Elemen-elernen yang dimaksudkan
tentunya terkait dengan elemen-elemen biaya (seperti sewa alat syuting, honor
host acara dan kru produksi, dsb) ataupun elemen-elemen non-biaya (seperti
pemilihan karakter peran, jadwal syuting dsb) yang mungkin mllllcul dalam
proses pembuatan produksi film ataupun produksi program acara televisi,
yang tentunya elemen-elemen tersebut akan dikelola sedemikian rupa agar
memberikan nilai .tambah (value-added) atas program acara televisi yang akan
diproduksi.
Saat
ini,
cara pembebanan biaya produksi yang dilakukan oleh PTTelevisi Transformasi Indonesia bisa dibilang cenderung cukup aneh dan
keliru. PT Televisi Transformasi Indonesia mengklasifikasikan antara biaya
produksi program acara televisi maupun tidak, dikategorikan sebagai biaya tidak langsung, dan pembebanannya pun tidak dimasukkan ke dalam biaya produksi. Selain itu juga, ada biaya-biaya lai1111ya yang seharusnya dikategorikan sebagai biaya produksi namun tidak dimasukkan sebagai biaya produksi. Hal ini mengakibatkan biaya produksi yang cliakui oleh perusahaan bukanlah biaya nyata yang seharusnya terjacli. Oleh karena itu, diperlukan proses klasifikasi ulang untuk mensesuaikan pos-pos biaya dengan kategori biaya yang seharusnya.
Prinsip-prinsip Activity Based Costing (selanjutnya akan cliiulis ABC) sangat diperlukari dalam penentuan セゥ。ケ。L@ mengingat segala sesuatu yang berkaitan dengan produksi apapun di dunia ini tidak te:rlepas dengan hal-hal yang bemama biaya (cost). Dengan adanya penggmiaan ABC ini diharapkan para produser dapat mengelola keseimbangan clan kesinambungan antara
budget del'.gan cost, agar penggunaannya tidak berlebihan ataupun kekurangan (efisien), serta penggunaan budget tersebut dapat mencapai tujuan dan tepat guna ( efektif).
dimana aktivitas itu terjadi, memfasilitasi keselarasan tujuan, rnenyoroti
pernicu usaha, mendukung perbaikan berka!a, dan rnempercanggih sistern
pendukung pengambilan keputusan."
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dalam beroperasi maupun
berproduksi untuk mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan hai:apan
perusahaan perlu adanya suatu usaha pengendalian dan pengelolaan biaya
seefektif dan seefisien mungkin. Hal ini dikarenakan bahwa faktor biaya
merupakan faktor yang penting dalam mernpengarubi kinerja perusahaan
secara keseluruhan.
Seperti yang telah dikernukakan di atas, tujua!l dari stasiun-stasiun
televisi membuat program-program ac!ll"a adala11 untuk memperoleh laba yang
sebesar-besarnya. Laba yang dinlaksud adalah laba dari pernasangan iklan
disela-sela program acara ataupun dari sponsor. Esensinya adalah dengan
membandingkan antara jumlah pendapatan yang diterima dari penayangan
iklan di ウ・ャセMウ・ャ。@ program acara dengan berapa besar cost yang dikeluarkan dalarn membuat suatu program acara. Peran ABC di sini sangatlah besar
dalarn mengendalikan dan mengelola biaya untuk menjadi lebih efektif dan
efisien.
Senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Carter dan Usry
(2004:496) bahwa: "Tidak seperti akuntansi biaya tradisional yang hanya
menelusuri biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung ke
setiap unit output, tetapi ABC mengakui bahwa bai1yak biaya-biaya lain yang
aktivitas yang diperlukan nntuk memproduksi output." Jadi dengan demikian,
aktivitas-aktivitas yang kurang mengnntnngkan dapat terdeteksi sedini
mnngkin, yang tentnnya sesegera mnngkin melakukan pengambilan
keputusan yang tepat dan cepat nntuk melakukan pemlbenahan ataupnn juga
dapat mengeliminasi aktivitas-aktivitas yang kurang mengnntnngkan tersebut.
Dan lagi-lagi hal ini berpengaruh pada pengukuran laba yang akan diterima oleh perusahaan.
Oleh karena pentingnya penerapan prinsip-prinsip ABC pada
pembuatan budgeting oleh produser dalam pembuatan program-program acara
televisi yang berkualitas dan mengnntnngkan, penulis tertarik nntuk memilih
judul: "Analisis Penerapan Activity Based Costing Dalam Produksi
Program Acara Televisi: Study Kasus Pada PT T•elevisi Transformasi
Indonesia."
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, masalah-masalah yang akan dikemukakan
oleh penulis sebagai dasar bahan penelitian adalah sebagai berikut:
I. Bagaimanakah cara perhitnngan harga pokok produksi program acara
televisi yang diterapkan oleh PT Televisi Transformasi Indonesia?
2. Berapa besarkah harga pokok program acara televiisi jika menggunakan
pendekatan activity-based costing?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah
disebutkan diatas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui cara perhitungan harga pokok produksi program acara
televisi yang diterapkan oleh PT Televisi Transformasi Indonesia.
2. Untuk mengetahui cara perhitungan harga pokok produksi program acara
televisi jika menggunakan sistem ABC.
3. Untuk mengetahui pengaruh penerapan sistem ABC terhadap pengukuran
laba operasi perusahaan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Bagi penulis memberikan manfaat berupa syarat untrue memperoleh gelar
Saijana Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakaita, dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di
dunia pendidikan ke dunia kerja yang sesungguhnya, serta memahami
proses produksi program acara televisi dengan kinerja produsemya.
2. Bagi Perusahaan
Memberikan kontribusi praktis untuk PT Televisi Transformasi Indonesia
dalam analisa pembuatan budgeting dan pelaksanaannya oleh produser
3. Bagi Pihak Lain
BABil
KERANGKA TEORITIS
A. Konsep Activity Based Costing
1. Definisi Activity Based Costing
Ada berbagai definisi yang menjelaskan tentang sistem ABC itu
sendiri, ini dikarenakan konsep dari sistem ABC yang cenderung baru
sehingga kemllllgkinan lllltuk terns berkembang terbuka lebar. Di
antaranya adalah:
Menurut Morse dkk. (1991), dalam jumal Nurhayati (2004:2),
memberikan definisi mengenai ABC, sebagai:
"Sistem pengalokasian dan pengalokasian kembaU biaya ke objek biaya
dengan berdasarkan aktivitas yang menyebabkan biaya. Sistem ABC ini
didasarkan pada pemikiran bahwa aktivitas penyebab biaya dan biaya
aktivitas harus dialokasian ke .objek biaya dengan dasar aktivitas
biayatersebut dikonsumsikan. Sistem ABC ini menelusuri biaya ke produk
sebagai dasar aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk
tersebut.
"
Sedangkan Garrison (1991), dalam jurnal Nurhayati (2004:2),
mempllllyai pendapat sendiri mengenai sistem ABC:
"Sistem ABC sebagai suatu metode kalkulasi bilwa yang menciptakan
suatu kelompok biaya untuk setiap kejadian atau transaksi (aktivitas)
dalam suatu organisasi yang berlaku sebagai pemacu biaya. Biaya
overhead kemudian dialokasikan ke produk danjasa dengan dasar jumlah
dari kejadian at au transaksi produk at au jasa yang dihasilkan tersebut.
"
"ABC sebagai suatu sistem yang mengakui bahwa pelaksanaan aktivitas menimbulkan konsumsi sumber daya yang dicatat sebagai biaya, atau dengan kata lain bahwa ABC tersebut adalah merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang berbasis pada transalrsi. Sistem biaya ABC itu sendiri adalah mengalokasikan oiaya ke transaksi dari aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi, dan kemudian mengalokasikan biaya tersebut secara tepat ke produk sesuai dengcm pemakaian aktivitas setiap produk. "
Mulyadi (2001 :34) memberikan defmisi mengenai sistem ABC
sebagai: ·
"Sistem ini merupakan salah satu wujud pelepasan akuntansi manajemen dari dominasi akuntansi keuangan. Sisf,em ini dirancang atas dasar landasan pikiran bahwa cost object memerlukan aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. "
Sedangkan Carter dan Usry (2004:496) mendefmisikan sistem
ABC sebagai berik.ut:
"ABC sebagai suatu sistem pehitungan biaya di mana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebihfaktor yang tidqk berkaitan dengan volume (non-volume-related factor)."
Dari teori-teori di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem
ABC merupakan suatu sistem kalkulasi biaya dimana penelusurannya
tidak hanya se.kedar membebankan biaya bahan baku langsung dan biaya
tenaga kerja Jangsung ke setiap unit produksi, tetapi juga melakukan penelusuran menggunakan aktivitas yang terlibat dalam suatu produksi,
dan kemudian mengalokasikan biaya tersebut ke produk sesuai dengan
pemakaian aktivitas setiap produk. Aktivitas-aktivitas ini digunakan
dari penggunaan alokasi biaya dengan mudahnya dapat ditelusuri.
Aktivitas-aktivitas yang terjadi tidak terlepas dari asumsi bahwa setiap
aktivitas yang terlibat dalam suatu produksi akan menimbulkan suatu
pemicu biaya (cost-driver), diinana pemicu biaya ini harus diperhatikan
pula karena mengandung uusur kemelekatan dalam perancangan suatu
sistem perhitungan biaya berdasarkan sistem ABC.
2. Manfaat Dan Keunggulan Sistem ABC
Manfaat sistem biaya activity-based costing (ABC) bagi pihak
manajemen perusahaau menurut Forbest (1996:337) adalah:
a. Membantu l\:lembuat Keputusan Strategis
Informasi yang lebih akurat dan objektif menyediakan membantu
peningkatan pembuatan keputusan strategis untuk:
l) Strategi penentuan harga
2) Manajemen lini produk
3) Keputusan membuat atau membeli
4) Rasionalisasi produk
5) Keputusan menyewa atau memiliki
b. Penempatan Informasi Pemicu Kerja Ke Aktivitas
Pemicu kerja merupakan suatu pengukurim yang menghasilkan
aktivitas dan memulai proses menkonsumsi sumber daya dengan aktivitas yang terlbat. ABC menggunakan pemicu kei:ia untuk
menetapkan pengkonsumsian sumber daya ke aktivitas dan aktivitas
ke produk ataujasa.
c. Efektivitas Operasional
Mengetahui bagaimana pekerjaan berjalan demgan analisis aktivitas
yang hati-hati membantu ari::a kerja mant'\iemen fungsional dalam
peningkatan efektivitas operasional sebagai:
1) Memprioritaskan usaha peningkatan
2) Mengidentifikasi pekerjaan menambah nilai lawan tidak
menambah nilai
3) Proses pendesainan ulang
4) Menampilkan ukuran
5) Penyusunan kembali arus kerja
d. Sasaran Informasi
ABC menginformasikan area kerja ftmgsional manajer tentang area
kerja mereka dengan menyediakan objektif dan informasi tepat waktu
pada:
1) Proses
2) Pemicu kerja
3) Aktivitas
4) Produk
5) Liniproduk
8) Penampilan stafkaryawan
e. Kesatuan Aktivitas Ke Dalam Proses Bisnis "End to End"
Menghitung keseluruhan kegiatan produksi berdasarkan aktivitas
dengan mengacu pada biaya yang mempengaruhi per departemen
yang terlibat dalam proses produksi tersebut menjadi kesatuan
aktivitas. ·
f. Mengatur Aktivitas Menjadi Area Kerja Fuugsioual
Menyediakan informasi perbandingan dimana pada saat masalah
timbul manajemen dapat fokus ke sumber masalahnya dengan
berupaya unmk mengeliminasikan campur tangan dengan segera.
Berikut adalah beberapa keunggulan dari sistem ABC dalam
peuentuan biaya produksi:
a. Biaya produk yang lebih realistik.
b. Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk.
c. Sistem biaya ABC mengakui bahwa aktivitaslah yang menyebabkan
biaya bukanlah produk, dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas.
d. Sistem biaya ABC memfokuskan perhatian pada sifat riil dari
ー・イゥセ。ォオ@ biaya dan membantu dalam mengurangi biaya dan
mengidentifikasikan aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap
produk.
e. Sistem biaya ABC mengakui kompleksitas dari diveritas produksi
dari pemacu biaya tersebut adalah berbasis transaksi dari pada
berbasis volume produk.
f. Sistem biaya ABC memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan
dari biaya produk variabel jangka panja:ng yang relevan terhadap
pengambilan keputusan strategik.
g. Sistem biaya ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya ke proses,
pelanggan, area tanggungjawab manajerial, dan juga biaya produk.
3. Dasar-Dasar Penerapan Sistem ABC
Dalam sistem biaya ABC menurnt Nurhayati (2004:5), produk
diartikan sebagai barang atau jasa· yang bernsaha dijual oleh pernsahaan,
produk tersebut dihasilkan melalui aktivitas pemsahaan dan aktivitas
inilah yang mengkonsumsi sumber daya. Biaya yang tidak dapat
didistribusikan secara langsung pada produk
a:kan
dibebankan padaaktivitas · yang menyebabkan biaya tersebut timbul. Biaya untuk tiap
aktivitas ini kemudian dibebankan pada produk yang bersangkutan.
[image:30.535.58.466.141.557.2]Hubungan untuk mengalokasikan biaya ke produk dinyatakan dalam
gambar berikut:
Gambar2.1.
Dasar-dasar sistem ABC ini mencakup biaya produksi tidak langsWlg (overhead), aktivitas, tujuan biaya, dan pemacu biaya, se1ia tanpa mengkesampingan kelompok biaya yang tei:jadi.
Sedangkan menurut Mulyadi (2001 :34) melniliki pendapat sendiri tentang model dasar sistem ABC, dimana dia mengatakan bahwa: "Sistem
ABC ini dirancang atas dasar landasan pikiran bahwa cost object
memerlukan aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Berdasarkan landasan pikiran ini dibangWl keyakinan dasar baru bahwa biaya ada penyebabnya, dan penyebab biaya dapat dikelola." Berikut adalah bagan model dasar ABC menurut Mulyadi (2001 :35):
[image:31.545.67.509.195.696.2]Pengelolaan aktivitas merupakan pengelolaau terhadap aktivitas-penambah dan bukan-penambah nilai dalam menghasilkan cost object dengan mengkonsumsi SW11ber daya
Gambar2.2.
Dari gambar di atas, terlihat bahwa Mulyadi mencoba untuk
menjelaskan bahwa dalam melayani kebutuhan pellanggannya, perusahaan
akan melakukan pengelolaan aktivitas-aktivitas yang tentunya menambah
nilai dalam menghasilkan cost object dengan mengkonsumsi sumber daya
yang ada. Dengan melihat kecenderungan ini, perusahaan tentunya tidak
akan melakukan aktivitas-aktivitas bukan penambah nilai bagi konsumen.
Untuk melaksanakan ha! itu perusahaan akan senantiasa melakukan
perbaikan-perbaikan terhadap aktivitas-aktivitas untuk menghasilkan
produk atau jasa yang lebih baik, yang nantinya akan diserahkan kepada
pelanggan.
Menurut Garrison dan Noreen (2003:317) dasar-dasar pembebanan
biaya dalam sistem ABC adalah sebagai berikut:
a. Biaya produksi dan non-produksi dibebankan ke produk
b. Beberapa biaya produksi tidak dimasukkan ke 'biaya produk
c. Ada sejumlah pul biaya overhead, setiap pul dialokasikan ke produk
dan 'objek perhitungan biaya (costing) lainnya dengan mengunakan
ukuran aktivitas masing-masing yang khusus
d. Basis alokasi biasanya berbeda dengan basis alokasi dalam sistem
akuntansi.biaya tradisional
e. Tarif overhead atau tarif aktivitas disesuailkan dengan kapasitas
4. Perancangan Sistem ABC
Berikut adalah tahapan perancangan sistem ABC menumt
Garrison dan Noreen (2003:322-332):
a. Mengidentifikasikan dan Mendefinisikam1 Aktivitas dan Pnl
Aktivitas
Menurut pendapat mereka langkah utania yang pertama dalam
menerapkan sistem ABC adalah mengidentifikasikan aktivitas yang
akan menjadi dasar sistem tersebut. Namun ada beberapa masalah
yang akan ditimbulkannya, karena aktivitas-aktivitas perusahaan bila
dirunut sampai ke aktivitas dasarnya tentu akan diperoleh catatan
aktivitas yang sangat panjang, dan ha! ini dapat dipastikan akan
memakan· biaya yang tidak sedikit untuk menerapkan sistem ABC
yang melibatkan sejumlah besar aktivitas perusahaan.
Pada tahap ini diperlukan pengamb:ilan keputusan untuk
mengidentifikasi aktivitas-aktivitas dalam tingkat yang sesuai
menjadi pusat-pusat aktivitas yang terpisah.
Menurut Garrison dan Noreen (2003:451) terdapat lima
tingkat umum aktivitas, di mana masing-masing tingkat aktivitas
dibagi-bagi lagi menjadi pusat aktivitas tertentu, yaitu:
1) Aktivitas Tingkat Unit
Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi, artinya biaya
2) Aktivitas Tingkat Batch
Aktivitas ini dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan unit yang ada dalam batch tersebut. Biaya pada tingkat batch lebih tergantung pada jumlah. batch yang diproses dan bukannya pada jumlah unit produksi, jumlah unit yang dijual atau ukuran volume yang
iain.
3) Aktivitas Tingkat Produk
Berkaitan deugan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau bempa unit yang diproduksi atau dijual.
4) Aktivitas Tingkat Pelanggan
Berkaitan dengan pelanggan khusus dan meliputi aktivitas yang tidak terpaku pada produk tertentu.
5) Aktivitas Pemeliharaan Organisasi
Aktivitas ini dilakukan tanpa mempeihatikan pelanggan mana yang dilayani, barang apa yang diproduksi, berapa batch yang dij alaukan, atau berapa unit yang dibuat.
dua faktor yang perlu dipertimbangkan ketika memilih pemicu biaya,
yaitu:
1) Kemudahan pencarian data yang berkaitan dengan pemicu biaya.
2) Kadar yang terhadapnya pemicu biaya mengukur konsumsi
aktual oleh produk aktivitas yang terlihat.
b. Bila Muugkin, Telusuri Biaya Overhead Secara Langsung Ke
Aktivitas dan Objek Biaya ·
Pada tahap ini dalam menerapkan sistem ABC secara langsung
menelusuri sejauh mungkin berbagai biaya ov\セイィ・。、@ ke objek biaya.
Hal ini dilakukan untuk melihat tingkat efeklivi.tas dan efisiensi biaya
overhead tersebut dalam membentuk suatu produk yang berkualitas.
c. Membebankan Biaya Ke Pul Kas Biaya Aktivitas
Sebagian besar biaya overhead diklasifikasikan dalam sistem
akuntansi dasar perusahaan berdasarkan departemen di mana biaya
tersebut terjadi. Dalam situasi seperti itu, biaya departemen tersebut
dibagi dengan beberapa pu1 biaya aktivitas menggunakan proses
alokasi yang disebut alokasi tahap pertama. Alokasi tahap pertama
dalam sistem ABC adalah proses pembebanan biaya ke pu1 kas biaya
aktivitas.
d. Menghitung Tarif Aktivitas
Tarif aktivitas ini digunakan untuk pembebanan biaya overhead ke
dan untulc melayani pelanggan pada saat ini. Tarif aktivitas dihitung
dengan membagi total biaya untulc masing-masing ak:tivitas dengan
total ak:tivitasnya.
e. Membebankan Biaya Ke Objek Biaya D1mgan Menggunakan
Tarif Aktivitas dan Ukuran Aktivitas
Langkah kelima dalam penerapan ABC disebut alokasi tahap kedua.
Dalam alokasi tahap kedua ini, tarif aktivitas digunakan untulc
membebankan biaya produk dim pelanggan.
f. Menyiapkan Laporan Manajemen
Pada tahap ini, manajemen menyiapkan laporan manajemen sebagai
basil pertanggungjawaban atas proses ak:tivitas-ak:tivitas di dalan1
sistem ABC. Dalam laporan manajemen ini terdapat kombinasi biaya
dalam membentulc sebuah produk, dan tentunya dikurangkan dari
basil penjualan untulc mendapatkan laba yang diperoleh dari produk
tersebut.
5. Pedoman Pengurangan Biaya Cara ABC
Menurut Forbest (1996:317-320), ada lima pedoman dasar untulc
mengurangkan biaya dengan cara ABC:
a. Mengurangi Waktu atau Usaha yanir. Dibutuhkan Untuk
Menjalankan Sebuah Aktivitas
Elemen kunci dari peningkatan adalah mengurm1gi wak:tu atau usaha
yang dibutuhkan untulc menjalankan sebuah aktivitas. Pengurangan
b. Mengeliminasi Aktivitas yang Tidak Dipel!'lukan
Ada beberapa ak:tivitas yang dikandidatkan untuk dieliminasi karena
ak:tivitas-ak:tivitas tersebut tidak berharga bagi pelanggan atau tidak
esensial dalarn operasional perusahaan.
c. Memilih Aktivitas Berbiaya Rendah
Para pendesain produk dan proses seringkali mempunyai pilihan
diantara ak:tivitas bersaing. Kecenderungan terhadap penawaran
dalarn mengurangi biaya dengan pengarnbilan ak:tivitas berbiaya
rendah.
d. Membagi Aktivitas Bila Diperlukan
Hal ini ditujukan untuk pelanggan yang memiliki kebutuhan unik,
karena jika pelanggan yang memiliki kebutuhan unik tersebut,
diperlukan melakukan ak:tivitas spesifik sesuai dengan keinginan
pelanggan tersebut. Narnun, jika pelanggannya memiliki kebutuhan
yang sarna, maka sangat mubazir jika tidak melayani kebutuhan
tersebut dengan ak:tivitas yang sama.
e. Memperbaiki Sumber Daya yang Tidak DipE,rlukan
Dalarn analisis final, biaya dapat dikurangi hanya jika sumber daya
dieliminasi atau diperbaiki. Sumber daya dapat diperbaiki dengan
cara pertumbuhan bisnis pengetatan biaya, mengalihkan sumber daya
ke iiktivitas lainnya, atau menghapus sumber daya tersebut dalarn
6. Profitabilitas
Setiap ·perusahaan yang didirikan di muka bumi ini memiliki satu
tujuan yang sama, yaitu mengerahkan sumber daya yang ada di
perusahaan sedemikian rupa sehingga terjadi perputaran modal dalam
perusahaan secara menguntungkan.
P.ada dasarnya profitabilitas adalah suatu daya dan upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan profit (laba). Sedangkan
cara sederhana dalam mengukur tingkat laba yang dapat diterima oleh
perusahaan itu adalah dengan membandingkan antara pendapatan yang
diterima oleh perusahaan dengan biaya-biaya (cost) yang dibutuhkan
untuk membuat suatu produk.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati (2004:13), untuk
melihat tingkat profitabilitas dalam efektifitas penggunaan ABC
digunakanlah ratio keuntungan kotor karena yang diukur adalah biaya
produksi.
Rasio keuntungan kotor menyatakan presen1ase ratio keuntuugan
kotor terhadap hasil penjualan produk. Keuntungan kotor ini didapat dari
hasil penjualan dikurangi dengiiu harga pokok produksi. Infonnasi
keuntungan kotor dapat berupa laba atau rugi bruto tiap produk yang
diperlukan, untuk mengetahui kontribusi tiap order dalam pengeluaran
7. Sistem Tradisional Versus Sistem ABC
a. Sistem Biaya Tradisional
Menurut ·Brimson (1991:7) sistem akuntansi berdasarkan biaya
tradisional didesain untuk zaman dahulu ketika tenaga kerja langsung
dan bahan baku langsung merupakan faktor utama dalam produksi,
teknologi stabil, aktivitas overhead mendukung proses produksi, dan
hanya memproduksi dalam va:tietas terbatas.
Sedangkan menurut Ga:tisson dan Noreen (2003:340)
mengatakan bahwa metode akuntansi biaya tradisional rentan
terhadap beberapa kelemahan yang dapat mengakibatka:n biaya untuk
pembuataii keputusan terdistqrsi. Maksudnya di sini adalah dengan
metode tradisional ini, produk menjadi terbeba:ni oleh
bermacam-macam biaya, termasuk biaya-biaya yang tidak menambah nilai
produk (non-value added), sehingga dapat mcnyebabkan kesalahan
dalapi pembuatan kebutusan karena biaya agak sulit untuk ditelusuri.
Kembali pada Brimson (1991:7), menurutnya sistem
akunta:nsi biaya tradisional tidak menyediakan informasi yang
memada:i untuk mengidentifikasikan penyebab biaya. Dalam situasi
dima:na biaya dinilai ma:najemen terlalu tinggii, manajer cenderung
mengandalkan pemotongan biaya overhead antar departemen untuk
mengendalikan pemborosan terhadap kele11gaha:n informasi yang
tepat. Sehingga ketika laba menurun ataupun hila:ng, maka
pinggang" dengan cara yang sa1ah dan maksud yang salah.
Pendekatan umum yang biasanya diambil, yaitu:
I) Pengurangan secara menyeluruh dalarn anggaran di semua
departemen
2) Pembekuan pada kenaikan gaji
3) Pembekuan pada aktivitas overhead
4) Pensiun dini
5) Pembekuan pada pelatihan dan perjalanan yang tidak esensial
6) Pembekuan pada penerimaan karyawan
7) Pembekuan pada investasi
b. Perbedaan Sistem Biaya Dengan Sistem ABC
Menurut Carter dan Usry (2004:500) mengatakan bahwa perbedaan
umum antara sistem ABC dan sistem tradisional adalah homogenitas
dari biaya dalam satu tempat penampungan biaya. ABC
mengharuskan perhitungan tempat penampungan biaya suatu
aktivitas, maupun identifikasi suatu pemicu biaya. Sehingga akan
berakibat lebih banyak kehati-hatian dalam membentuk tempat
penampungan biaya dalam sistem ABC dibandingkan dengan sistem
biaya tradisional yang hanya menelusuri biaya bahan baku langsung
dan biaya·tenaga kerja ャ。ョァウセァ@ ke setiap unit output.
Perbedaan lainnya menurut Carter dan Usry (2004:500)
perhitungan satu tahap, dan penggunaan sistem dua tahap pada sistem
tradisional hanya apabila jika departemen atau pusat biaya lain dibuat.
B. Klasifikasi Biaya Produk
Pengklasiftkasian biaya diperlukan untuk memudahkan perhitungan
atas data-data biaya berdasarkan pencatatan klasifikasi biaya yang seharusnya.
Karena penelitian ini hanya menelusuri biaya ke dalam produk, maka
klasifikasi yang akan digunakan adalah klasifikasi biaya produk. Menurut
Carter dan Usry (2004:40), klasifikasi biaya dalam hubimgannya dengan
produk dibagi menjadi dua e!emen biaya, yaitu:
1. Biaya Manufaktur
Biaya manufaktur ini menurut Carter dan Usry (2004:40), disebut
juga biaya prqduksi atau biaya pabrik, di mana terdapat 3 elemen biaya
yang membentuknya, yaitu:
a. Bahan Baku Langsung
Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang membentuk
bagian integral dari produk jadi dan dimasukkan secara eksplisit
dalam perhitungan biaya produk.
b. Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang melakukan konversi
bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebank:an
c. Overhead Pabrik
Overhead pahrik terdiri atas semua hiaya rnanufaktur yang tidak
dapat ditelusuri secara langsung ke output tertentu. Overhead pahrik
ini dihagi menjadi 2 elemen hiaya, yaitu:
1) Bahan Baku Tidak Langsung
Bahan haku tidak langsung adalah hahan haku yang diperlukan
lintuk penyelesaian suatu produk tetapi tidak diklasifikasikan sehagai hahan haku langsung karena hahan haku tersehut tidak
menjadi hagian dari produk.
2) Tenaga Kerja Tidak Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga ォエセイェ。@ yang tidak dapat
ditelusuri langsung ke konstruksi atau komposisi dari produkjadi.
2. Behan Komersial
Sedangkan menurut Carter dan Usry (2004:43), terdiri dari 2
klasifikasi hesar, yaitu:
a. Behan Pemasaran
Behan pemasaran mulai dari titik di mana hiaya manufaktur herakhir,
yaitu ketika proses manufaktur selesai dan produk dalam kondisi siap
dijuiil.
h. Behan Administrasi
Behan admninistrasi termasuk hehan yang terjadi dalam mengarahkan
C. Proses Produksi Acara Televisi
Pada proses produksi acara televisi ini dibagi menjadi tlga tahapan menurut Herbert Zettl (1992:477-484), yaitu:
1. Tahap P.ra Produksi
Dalam tahap ini menurut Herbert Zettl merupakan tahap komunikasi dan koordinasi dalam proses produksi. Maksudnya di sini
adalah produser harus menetapkan segmentasi pasar apakah yang dituju
untuk memasarkan acara televisi .yang
akan
di produksi, koordinasikanberbagai elemen produksi secara maksimal untuk membuat sebuah
program yang bermanfaat.
Mengidentlfikasikan orang-orang yang secara langsung ataupun
tldak langsung terlibat dalam rencana produksi clan membuat komunikasi
yang lancar di antara unit-unit produksi tersebut. Komunikasi yang la.near
memungkinkan produser dapat mengkoordinasikan elemen-eleme11
produksi secara efisien dan dapat dipercaya, yaitu:
a. Merencanakan Tim
Tim produksi diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: "above-the-line"
dan "below-the-line." Tim produksi above-the-line termasuk
orang-orang yang sebagian besar turut serta dalam aktivitas 11011-teknis dan
tidak mengoperasikan peralatan, seperti pe11ulis 11askah, sutradara
(director), pe11ata gerak (art director), pemanclu bakat (talent), dan
PF':->1p1 -·' . ,.1,.,
'<'·r·
P,t. "<A l\N UTAMtlj!'l C" ,,\
· '"' 0 fl1HfD Jl.\fl'.AJc;;TA
digaji oleh stasiun televisi itu sendiri. Hanya jaringan yang besar atau
perusahaan produk:si independen yang secara reguler mempekerjakan
para pekerja paruh waktu ke dalam tim above-the-line.
Sedangkan tim below-the-line secara umum terdiri dari
orang-orang yang mengoperasikaa peralatan atau mengawasi berbagai
aktivitas. Diantaranya adalah pengawas studio, penata teknis
(technical directors!TDs), operator kamera, teknisi audio, penata
cahaya (lighting directors/LDs), manajer lapaugan, editor videotape,
operator C.G, operator VTR, dan lain sebagainya.
b. Peralatan Produksi
Walaupun untuk menjadi seorang produser yang haik tidak
dihutuhkan seorang yang ahli elektronik:, エセエ。ーゥ@ diperlukan juga
pengetahuan tentang peralatan produksi utama dan cara
mengoperasikannya. Meninjau ulang kebutuhart awal dan melihat tipe
produksi apa yang dipilih, tentu saja, yang ーQセイ。ャ。エ。ョ@ paling efisien
dan paling dibutuhkan yang sehenarnya digunakan atau yang
termasuk · dalam budget. Koµsultasikan dengan staff teknisi yang
membutuhkan peralatan tersebut atau tugas produksi lainnya.
c. Tim Produksi
Agar merekrut dan mengkoordinasikaa tim produk:si dengan baik,
proquser hams mengetahui posisi yang tepat dan pertanggungjawaban
dari setiap thn produksi above-the-line dan below-the-line, serta
Produser tidak harus melakukan semua hal yang berkaitan dengan
produksi seorang diri, belajarlah untuk mempercayai kemampuan dari
tiin yang dibentuk dan bagaimana membuat mereka bekerjasama
dengan efisiensi yang maksiinum.
d. Jadwal
Menjadwalkan secara hati-hati rencana para personal yang terlibat,
peralatan, dan studio, atau perihal produksi lainnya. Penjadwalan akan terasa lebih sulit dibandingkan dengan ekspektasi awal dan
seorang produser yang baik harus lebih sabar menyikapinya, serta
mempersiapkan waktu yang lebih fleksibel untuk
mengkompromi-kannya.
e. Faktor Produksi Lainnya
Kebanyakan produksi terkait dengan fasilitas dan orang yang terlibat,
biasanya, tidak ada hubungannya dengan stasiun atau perusahaan
produksi. Elemen-elemen produksi inilah yang membutuhkan
perhatian yang lebih. Seperti ijin peliputan, mengontak artis untuk
hadir dalam acara yang diproduksi, tempat penginapan apabila
melakukan syuting di lapangan, dan lain sebagainya.
2. Tahap Produksi
Setelah tahap pra-produksi selesai, saatnya untuk memulai proses
produksi yang sebenarnya. Dalan1 proses ini tennasuk banyak fase yang
tumpang tindih, dan terkadang terlihat tidak terkeudali. Dalam talmp ini
terdapat beberapa prinsip tahapan produksi:
a. Metode Produksi dan Ruang Lingkup
Walaupun metode dasar prodi.Jksi telah ditetapkan - sebagai contoh,
menggunakan multikamera atau kamera tunggal di dalarn studio
-kembali pada proses yang dibutuhkan dan eek apakah metode yang dipilih, tentu saja, metode yang paling efisien. Tetapkan dalarn
pikitan bahwa studio memerlukan kont:rol yang optimal dan
disituasikan pada pernilihan lokasi yang sesuai dengan biaya yang
relatif rendah.
b. p・ュ。ョ、セ@ Bakat (Talent)
Terutama pada acara televisi yang rutin, seperti acara herita atau
wawancara, pemandu bakat merupakan bagian pegawai tetap stasiun
televisi. Tetapi apabila produser mempekerjakan pemandu bakat
untuk tujuan tertentu, harus dirundingkan dengan agensi pencari
bakat dan/atau sutradara dari acara yang diproduksi. Jika tidak
diperlukan untuk mempekerjakan agensi pencari bakat, maka
produser bisa menyeleksi sendiri pemain yang diinginkan. Tetapi
keputusan akhimya untuk para pemain yang akan tampil dalarn acara
televisi berada pada sutradara, bukan di timgan produser. Jika
produser perlu untuk mempekerjakan tim produksi
above-the-line
kual.ifikasi yang bagus dan mengikat kontrak sesnai dengan regnlasi
yang berlaku.
c. Personil Below-The-Line
Kecuali produser independen, tim below-the-line dipeke1jakan oleh
manajer prodnksi dari stastiun yang terkait. Dalam ha! ini, produser tidak mempunyai kuasa untuk menolaknya. Apapun alasannya
produser harus bekerjasama dengan tim above-the-line yang dipilih.
d. Pembahasan Produksi Awai
Sebelum pertimbangan akhir below-the-line, produser harus
mengadakan pembahasan produksi untuk pe1tama kalinya. Dalam
rapat ini produser mempresentasikan tujuan acara atau serial acara
dan mendiskusikan bagaimana ide-ide dapat direalisasikan secara
baik dalam acara televisi. Berikut adalali tugas-tugas spesifik yang
harus diperhatikan selama pembaliasan prodnksi:
1) Untuk penulis naskali: lengkapi naskali tepat waktu
2) Untuk penata gerak: persiapkan desain tepat waktu
3) Untuk sutradara: rincikan seluruh fasilitas teknis tepat waktu dan
persiapkan pemain.
4) Untuk manajer produksi: jadwalkan pelatihan dan waktu tayang,
fasilitas studio, km lapangan, dan fasilitas pasca-produksi.
5) Untuk pengawas teknisi: Tugas penata teknis dan studio atau km
6) Untuk semua: memperhitungkan budget secara tepat untuk
semua beban yang terkait.
Setelah rapat selesai, seluruh orang produksi harns menjebatani
komunikasi (seperti memakai handy talky) dan saling berkomunikasi
satu sama lain untuk memenuhi tugas yang diberi dengan tepar
waktu.
e. Pembahasan Naskah
Setelah naskah selesai dibuat, produser harns mendiskusikan naskah
tersebut ke penulisnya untuk mengetahui maksud dan tujuan
nask;ahnya tersebut. Setelah itu bahas pula ke selmuh anggota
produksi agar sutradara dapat mengkomunikasikan konsep produksi
yang cocok dan media yang dibutuhkan.
f. Penjadwalan Akhir
Seperti yang ditekankan sebelumnya, bahwa penjadwalan adalah
salah satu ha! yang esensial untuk aktivitas pra-produksi dan aktivitas
produksi. Waiau semua ha! telah dijadwalkan secara baik, eek
kembali penjadwalan demi kelancaran proses produksi.
g. Permohonan Fasilitas
Daftar permohonan fasilitas semua bagian peralatan, dan terkadang
semua properti, dibutuhkan da!am sebuah produksi. Pihak-pihak yang
terkait bertanggungjawab Ulltuk memenuhi berbagai permohonan
terkadang pennohonan fasilitas ini diambil etlih oleh produser atau
sutradara; sedangkan pada operasional berskala besar, kendali diam bi!
alih oleh mauajer produksi.
h. Mencatat Informasi
Sebagai seorang produser di sebuah stasiun te!evisi, butuh pennintaan
ke departemen yang terkait dengan seluruh infonnasi yang
dibutuhkan, seperti judul acara, tanggal penayangan, dan waktu
pem1yangan terbaik untuk acara yang akan diproduksi.
i. Publisitas dan Promosi
Acara terbaik sekalipun tidak berharga jika tidak ada satu orang pun
tahu tentang acara tersebut. Selama pra-produksi, bertemu dengan
departemen publikasi dan promosi dan menginformasikan kepada
mereka tentang kelanjutan produksi. Pekerjaan publisitas terbentur
pada gap antara potensial penonton dengan penonton yang
sebenarnya.
j. Pelatihan dan Pertunjukan
Setelah produser melakukan pekerjaannya dengan baik, tugas
selanjutnya akan diambil alih oleh produser. Sutradara akan
memimpin pelatihan yang dibutuhkan dan EFP atau studio produksi.
Berusaha untuk sedekat mungkin dengan sutrac!ara, jika ada usulan mengenai acara, produser bisa mendikte komentamya dan
sebenarnya, usahakan untuk tidak turut cmnpur dengan apa yang
sutradara lakukan, kecuali sutradara melakukan kesalahan besar.
3. Tahap Pasca Produksi
Setelah acara selesai diproduksi, produser juga harus mengisi
laporan; membayar tagihan atas ptoduksi. Untuk J,ebih lengkapnya pasca
produksi dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Editing Pasca Produksi
Beberapa produser merasa bahwa mereka harus mengawasi secara
seksama atas keseluruhan editing video dan aktivitas penjernihan
suara, sementara yang lainnya melimpahkan beberapa tanggungjawab
ke sutradara. Dalmn beberapa kasus, produser harus mengecek sekali
lagi beberapa ha! berikut:
1) Tersedianya fasilitas editor, serta video clan audio pasca-produksi.
2) Memperhatikan pengeditan dan mendiskusikannya dengan
sutradara dan editor.
3) Estimasikan bi a ya untuk editing. 4) Publisitas.
5) Jika produksinya untuk perusahaan atau organisasi
non-penyiaran, atur tanggal pertemuan untuk mendiskusikan progrmn
acara .dengan klien.
6) Tetap membuka kritik dan saran, clan mendengarkan secara
b. Timbal Balilc dan Evaluasi
Timbal balik di sini adalah memberikan semacam kesempatan kepada
penonton untuk memberikan kritik dan saran melalui media tertentu
yang telah ditunjuk (seperti nomor telepon, alamat surat, fax, email,
dsb), agar para penonton ikut senang karena mierasa pendapat mereka
didengar. Pada akhimya, evaluasi kinerja dari proses produksi yang
telah dilakukan. Untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan
kualitas dari acara yang telah diproduksi.
c. Menyimpan Rekaman
Yang terakhir harus dilakukan adalah menyimpan rekaman atas acara
yang telah diproduksi dengan baik, pastikan bahwa selurnh rekaman
final tersimpan secara Jengkap. Setidakuya, harus terkandung: (1) proposal :program, (2) jadwal produksi, (3) permohonan fasilitas, ( 4)
daftar personil
above-the-line
danbelow-the-line,
(
6) daftar pemnndubakat, (7) berbagai izin terkait, dan (8) naskah syuting.
D. Elemen Biaya Produksi Acara Televisi
Berikut adalah elemen-elemen biaya dasar menurut Bobker clan
Marinis (1973:86-103) dalam pembuatan
budget
yang penggunarumya hampirmirip untuk semua tipe produksi acara televisi:
1. Film dan Lab.oratorium
mentah dan pencetakan akhir dan pencetakan ulang dari film yang sudah jadi - harus di\:antumkan dalam budget. Biaya laboiratorium dari film yang
sudah jadi ditentukan oleh durasi film dan meliputi berbagai macam
kegiatan pencetakan.
2. Pengerjaan Optik
Selama produksi berjalan, banyak berbagai macam pengerjaan
optik yang berbeda mungkin terlibat, termasuk penc:etakan optikal kembali
dari adegan, spesial efek, distorsi warna, pembesaran layar, dim fotografi
judul optik. Walaupun produser yang telah berpengalaman melalcukan
dengar pendapat dengan departemen yang ·bersangkutan tentang
pengerjaan optik, sangat sulit mengantisipasi secara akurat seluruh efek
optik yang dibutuhkan. Bijak bila ketika memperkirakan budget soal ini
untuk membuat pencadangan untuk biaya yang tidak terduga (sebaiknya
menambahkan 2 sampai 3 pesen dari total budget untuk pekerjaan optik).
3. Biaya Naskah dan Papan Cerita
Semua biaya yang berkaitan secara langsung untuk penelitian dan
penulisan naskah harus dicantumkan dalam budget. Ini te1masuk honor
penulis, biaya· perjalanan, penelitian, penulisan, rum kertas, serta semua
biaya lain yang terjadi dan termasuk waktu ketika naskah telah disetujui.
Sebagai tambahan, jika sebuah papan cerita dibutuhkan, semua biaya yang
terjadi selama pembuatan dipersiapkan - termasuk honor artis, biaya
4. Staff Produksi
Hal ini biasanya termasuk dalam biaya ー・ォゥセイェ。@ langsung dari grup
manajemen - . produser, eksekutif produser dan/atau asisten produser,
sutradara, asisten sutradara, unit manajer - dan seluruh personil produksi
non-teknis lainnya, seperti sekertaris produksi, pembawa naskah,
pengawas lalu lintas dan perjalanan, dan relasi pubiik. Budget disini harus
diperhitungkan seakurat mungkin dari jam kerja orang-orang tersebut akan
ikut serta dalam proses produksi, termasuk pra produksi dan pasca
produksi.
5. Animasi
Semenjak proses animasi menjadi semaldn
rumi
clan mahal,esensinya kalau hal ini cliperkirakan clengan memberi perhatian lebih.
Estimasi hams termasuk semua biaya, tennasuk pekerja clan bahan-bahan
yang terlibat, untuk sketsa animasi clan papan ke1ja, clan biaya lahmya clari
keseluruhan animasi. Penggambaran estimasi ini juga harus termasuk
biaya clari juclul film animasi.
6. Rekam Suara
Pacla bagian ini termasuk seluruh biaya yang berkaitan langsung
pacla perekanian suara, clengan J?engecualian ongkos buruh yang acla
selama procluksi, dimana tertutupi pada bagian kru kamera clan suara.
Biaya rekam suara cliperkirakan di sini termasuk pembelian bahan mentah
musik, dan rekam suara lainnya; dan biaya waktu transfer dari pita
remanan asli ke pita lainnya untuk pengeditan.
7. Artis dan Nara Somber
Biaya artis dan nara somber yang terkait dengan produksi acara
harus dimasukkan dalam budget. (Perjanjian mengacu pada pembayaran
secara residu untuk iklan harus tercatat pada terlampir pada budget).
8. Kru Kamera, Suara, dan Produksi
Pada item ini termasuk semua biaya pekerjja yang terkait selama
procluksi yang sebenarnya. Di antara personil termasuk pengarah fotografi,
kameramen (ticlak cligunakan pacla kebanyakan film clokumenter), asisten
kameramen, pencampur suara, orang yang merekmn, dan boomer man.
Juga clicantum,kan biaya seluruh teknisi (kru procluksi) yang bekerja pada
acara - tukang listrik, grips, prop men, supir, desainer kostum, pengawas
kostum, pendandan artis, dan lainnya. Ini tidak temasuk biaya pekerja
pacla penclesain dan pembuat latar - ada pada bagian latar.
9. Latar
Semua biaya yang terkiat clengan pendesainan clan pembuatan latar
harus clicantumkan dalam budget. Termasuk biaya untuk sewa studio
ditambah honor clan biaya pekerja langsung yang menclesain latar, tukang
cat, tukang lcayu dan pembuat latar, dan propertyman yang menghias latar.
10. Pemotongan dan Pengeditan
pekerja langsung untulc orang yang mengedit clan asistennya, clan biaya
selnruh bahan yang cligunakan clalam proses pengedlitan.
11.Musik
Pada item ini termasuk selnruh biaya yang terkait untulc musik
acara, dengan pengecualian biaya sewa untulc studio rekaman, dimana
sudah tercantum pada perekaman suara. Termasuk diantaranya honor
komposer, honor pengopi clan penata musik, honor pemain musik, dan
honor perpustakaan dan royalti.
12. Sewa Alat
Semua biaya dari sewa alat yang digunakan selama produksi acara
harus dicantumkan pada budget. Estimasi ini harus termasuk semua alat
yang terkait clengan pembuatan acara yang sebenamya.
13. Pembelian dan Perawatan
Ini mencakup untulc semua kategori yimg berkaitan clengan
pembelian dan perawatan selama proses produksi, pra produksi maupun
pasca produksi. Semua ha! yimg terkait dengim
item
ini harus tercimtumdalam budget.
14. Perjalanan dan Biaya Hidup
Semua biaya perjalanan dan kendaraan, tem1asuk pembeliim dim
penyewaan kendaraan, harus tercimtum pada kategori ini. Sebagai
tambahan, be*aitan dengim peraturan serikat pek<:rja dan prosedur yang
15.Persediaan Umum
Kategori ini terrnasuk kertas surat, pensil, dan hal-hal kecil lainnya tetapi sangat dibutuhkan. Formula yang bagus untuk memperkirakan biaya persediaan umum adalah dengan menambahkan 4 persen dari total biaya langsung.
16. Pajak Penghasilan dan Asuransi
Sepuluh persen dari toal biaya langsung biasanya adalah jurnlah yang bagus untuk disediakan ketika memperkirakan biaya dari pajak penghasilan (sesuai hukum yang berlaku) dan asur:msi produksi. Sebagai tambahan, produser harus mengadakan asuransi untuk melindungi kesehatan dari narasumber, artis, kompensasi ーHセォ・イェ。@ (sesuai dengan hukum yang berlaku), dan "asuransi negatif," yang melindungi produser dari kecelakaan peralatan. "Asuransi negatif' adalah perjanjian kepada asuransi untnk melindungi kerusakan atau kehilangan selama produksi.
17. Honor Pekerja
Semua pekerja mendapatkan honorarium yang pasti dalam jurnlah yang tetap, berdasarkan gaji, untuk dana pensiun dan biaya tunjangan. Seluruh biaya yang terkait dengan honor pekerja ini harus tercantum dalam
budget.
18. Biaya Overhead
19. Biaya Lain-Lain
Kategori ini termasuk biaya minor (kontinjensi, konsumsi,
perbaikan kecil, dan lainnya) dan biaya umum untuk mengakomodasi kesalahan dan takdir dari Tuhan.
E. Kerangka Pemikiran
Kemampuan seorang produser dalam membuat budget sangatlah
dibutuhkan dalam membuat sebuah program acara. Prinsip-prinsip ABC
sangat dibutuhkan untuk penentuan biaya yang dibuat menjadi lebih efektif
dan efisien. Namun, perusahaan yang akan dijadikan objek penelitian belum
menerapkan prinsip-prinsip ABC. Hal ini terlihat dari penentuan harga
pokoknya (baik harga pokok produksi maupun harga pokok penjualannya),
bila di re-class, akan menunjukan bal1wa terjadinya salah persepsi dalam
penentuan direct dan indirect cost-nya, sehingga alokasi dalam penggunaan
sumber daya yang ada akan sulit diukur. Tingkat efektivitas dan efisiensi
penggunaan sumber daya bila dikaitkan dengan laba yang diterima
perusahaan tentunya akan sulit diukur pula.
Asumsikan bila tingkat pendapatan perusahaan melalui banyaknya
iklan ataupun sponsor, yang menjadi sumber pemasukan utama dari
perusahaan-perusahaan televisi pada umunmya, aclalah sama, maka bila
dikalkulasikan mungkin tingkat perbanclingan laba akan terjadi perbedaan
yang cukup signifikan antara sistem biaya tradisional yang digunakan PT
bahan bairn langsung dan biaya tenaga langsung ke setiap unit output), dengan
sistem biaya menggunakan sistem