TUGAS REVIEW JURNAL
JUDUL JURNAL : The Role of Servant Leadership on the relation between Ethical Climate Perseption and innovative work.
PENULIS JURNAL : Mustafa Kemal Topcu, Ali Gursoy, Poyraz Gurson
PEREVIEW JURNAL : NAMA : Beta Romadiyanti NIM : 15/390494/PMU/08770
Tujuan dari jurnal ini adalah untuk mencari peranan Servant Leadership untuk menciptakan ethical climate perseption dan innovative work. Jurnal ini memiliki 3 hipotesis yaitu :
1. Ada hubungan yang signifikan antara ethical climate perseption dengan kerja inovatif.
2. Ada hubungan yang signifikan antara ethical climate perseption dengan
servant leadership.
3. Ada hubungan yang signifikan antara kerja inovatif dengan servant leadership.
Dalam hal ini servant leadership berlaku sebagai mediatory variable. Sementara itu metode yang digunakan penulis adalah survey yang dilakukan pada 254 pekerja yang ada di rusia.
Dari hasil survey didapat bahwa jika yang digunakan adalah hubungan linear antar variabel maka hasil yang didapat adalah sesuai dengan hipotesis, akan tetapi ketika servant leadership digunakan sebagai mediatory variabel maka hasil yang didapat tidak signifikan, meskipun tetap ada kemungkinan servant leadership sebagai mediation role.
Dari jurnal ini, hal yang paling menarik dan menyita perhatian saya adalah tentang
pernyataan Greenleaf tersebut berarti servant leadership sangat mengutamakan kepentingan karyawan.
Pemimpin dalam menjalankan tugasnya tentu mengunakan teknik-teknik memimpin, adapun teknik memimpin (Ambar Teguh, 2008: 151) meliputi :
a) Teknik memberi perintah b) Teknik menegur
c) Teknik menghargai d) Teknik menerima saran e) Teknik memelihara identitas f) Teknik mengenalkan anggota baru g) Teknik menciptakan disiplin kelompok
Semua teknik diatas tentunya harus dikuasai oleh seorang pimpinan. Akan tetapi,
servant leadership sangat mengutamakan kepentingan karyawan, sehingga pasti dalam melaksanakan teknik-teknik diatas tetap yang didahulukan adalah asas melayani dan menghargai karyawan.
Setiap perusahaan tentu sangat perlu dalam menanamkan kerja inovatif terhadap karyawannya agar bisa tetap bertahan di tengah persaingan global sekarang ini. Untuk menanamkan kerja inovatif terhadap karyawan setiap perusahaan dapat memilih teknik ataupun pendekatan yang sesuai dengan tipe kepemimpinan yang digunakan oleh pimpinan perusahaan. Untuk pimpinan yang menggunakan
servant leadership, maka dalam menciptakan kerja inovatif karyawan berarti yang digunakan adalah pendekatan secara individu, yaitu melalui motivasi dan komunikasi terhadap karyawan. Adapun pendekatan motivasi yang ada diantaranya (Ambar Teguh, 2008: 164) adalah :
1. Pendekatan tradisional, pendekatan ini berasumsi (Miles, 1975: 35) bahwa:
a. Pada dasarnya bekerja itu tidak disenangi banyak orang
b. Hal yang mereka kerjakan adalah kurang penting dibandingkan dengan apa yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut.
Dengan berpedoman pada asumsi-asumsi diatas maka kebijakan pimpinan adalah sebagai berikut :
a. Bawahan perlu diawasi dan dikendalikan aktivitasnya
b. Bawahan harus diberi tugas-tugas yang rinci, bersifat pengulangan, operasional dan mudah dipahami
c. Prosedur kerja bawahan harus diberikan secara jelas dan dijalankan dengan adil tetapi ketat.
2. Pendekatan interaksionis, pendekatan ini berasumsi (Miles, 1975: 35) antara lain sebagai berikut :
a. Seseorang ingin dipandang sebagai orang yang berguna b. Orang ingin memiliki dan diakui sebagai individu
c. Adanya tuntutan pengakuan dipandang lebih penting daripada uang yang digunakan untuk memotivasi agar orang bekerja.
Berpijak pada asumsi tersebut maka kebijakan pemimpin adalah menyangkut :
a. Mengusahakan pemenuhan kebutuhan sosial bawahan agar merasa penting dan berguna dengan pelbagai kebebasan untuk membuat keputusan sendiri atas pekerjaannya.
b. Kesediaan memberikan informasi kepada bawahan serta bersedia mendengarkan keberatan-keberatan bawahan atas rencana-rencananya.
c. Pemberian kebebasan diri bagi bawahan untuk mendisiplinkan diri maupun mengendalikan diri atas aktivitas rutinnya.
3. Pendekatan Sumber Daya Manusia, asumsi pendekatan ini menurut Miles (1975: 35) adalah :
a. Bahwa bekerja itu pada dasarnya sesuatu yang menyenangkan, dan orang ingin pada suatu tujuan yang diangapnya bermanfaat.
b. Ada beberapa orang dapat bekerja dengan kreatif dan dapat mengendalikan diri maupun mendisiplinkan diri.
a. Menciptakan suatu lingkungan yang menyeluruh agar anggota organisasi dapat menyumbangkan kemampuan mereka.
b. Pemberian partisipasi penuh dalam rangka peningkatan pengendalian diri.
Tentunya tidak semua sektor perusahaan cocok dalam menggunakan servant leadership. Terutama untuk perusahaan yang mengutamakan keuntungan usaha. Hal ini bisa juga terlihat melalui hasil penelitian di jurnal ini yang menyatakan bahwa servant leadership tidak signifikan jika menjadi mediation role terhadap kerja inovatif dan persepsi suasana etis. Melalui penelitian di sektor pendidikan dan rumah sakit (e.g. Aslan dan Ozaka, 2011) didapat bahwa servant leadership
lebih bagus dilakukan di rumah sakit. Di dlam jurnal juga disebutkan bahwa salah satu keberlangsungan dalam performa dan aktifitas karyawan di rumah sakit (Taskiran, 2006: 170), capaian kompetisi mungkin dicapai dengan memelihara
human capital.
Mungkin ini juga terkait dengan prinsip kerja rumah sakit yaitu melayani konsumen dengan sebaik mungkin, sedangkan ujung tombak pelayanan rumah sakit adalah karyawan atau tenaga medis rumah sakit. Untuk melayani pasien dengan baik tentu pegawai harus dalam kondisi yang prima, sehingga di sektor ini asas mengayomi, melayani, dan memelihara karyawan sangat diperlukan. Hal tersebut juga yang pada akhirnya membuat servant leadership sangat cocok dilakukan di rumah sakit.
Referensi
Topcu, M.K., Gursoy, A., dan Gurson, P, 2015, The Role of Servant Leadership on the relation between Ethical Climate Perseption and innovative work, European Research Studies XVIII(1), Rusia.
Northouse, P.G., 2001, Leadership Theory and Practice Second Edition, Sage publication Inc, California.