Review Empiris Jurnal-Jurnal Manajemen Aset dan Liabilitas
Bert Kramer dan Ton van Welie (2001). An Asset Liability Management Model for Housing Association. Journal of Property Investment and Finance, Vol.19 No.6, pp.453-471.
Dari model simulasi Monte Carlo ini, dapat
memperkirakan keuntungan dan akun kerugian (risiko) di masa depan, neraca, dan laporan arus kas. Selain itu, model ini bisa digunakan untuk memilih pilihan yang
Rifki Ismal (2010). Assessment of Liquidity Management in Islamic Banking Industry. International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, Vol.3 No.2, pp.147-167.
Bank Islam di Indonesia berdiri di antara tingkatan berhasil, baik, dan
3
Amit Kumar Meena dan Joydip Dhar (2014). An Empirical Analysis and Comparative Study of Liquidity Ratios and Asset-Liability
Management of Bank Operating in India. International Journal of Social, Humam Science and Engineering, Vol.8 No.1
Semua bank di India memiliki posisi likuiditas jangka pendek yang sangat baik. Bank-bank tersebut membelanjakan liabilitas jangka pendeknya dengan aset jangka panjang.
Pembahasan dan Kesimpulan :
Manajemen aset dan liabilitas merupakan suatu usaha untuk mengoptimalkan struktur neraca bank sedemikian rupa agar diperoleh laba maksimal
sekaligus membatasi risiko menjadi sekecil mungkin. Dalam setiap manajemen dan mengambil keputusan, pasti ada yang namanya risiko, termasuk manajemen aset dan liabilitas atau biasa disingkat ALMA. Risiko-risiko tersebut ada enam jenis jika dalam dunia perbankan, yaitu financing risk, liquidity risk, pricing risk, foreign risk, GAP risk, dan contingent risk.
Salah satu jurnal yang sudah di-review dalam tabel membahas tentang model ALMA untuk asosiasi perumahan. Model yang dimaksud ialah model simulasi Monte Carlo. Model ini digunakan untuk bisa menilai risiko yang terlibat dalam menerapkan strategi khusus. Model simulasi Monte Carlo ini juga memungkinkan untuk memperhitungkan probabilitas, kuantitas risiko, dan saling ketergantungan antara variabel yang berbeda, serta mengindikasikan pengembalian dan risiko yang berkaitan dengan strategi khusus tersebut maupun pilihan jangka pinjaman baru secara eksplisit.
Gambar 1
Dalam model ALMA (Monte Carlo) yang digunakan asosiasi perumahan, terdapat tiga modul yang digunakan sebelum menganalisis risiko. Tiga
modul tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Economic module; membuat atau menghasilkan skenario-skenario ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan menggunakan vector autoregressive time-series model of order one karena datanya diestimasikan dengan historical time-series untuk variabel-variabel ekonomi yang
dipakai. Contohnya seperti inflasi harga konsumen, tingkat bunga pada kas, dan sebagainya.
2. Real estate module; simulasi pengembangan masing-masing tempat tinggal/rumah secara individual di masa depan. Misalnya skenario atau informasi karakteristik tempat tinggal/rumah. Dari skenario ekonomi yang sudah dihasilkan sebelumnya akan mengisi indeks yang relevan untuk tingkat sewa, biaya-biaya, dan harga.
3. Treasury module; simulasi pinjaman untuk mengatasi portofolio utang. Modul ini berhubungan dengan dua modul sebelumnya untuk mengisi ramalan pengembangan portofolio utang. Seluruh pinjaman secara eksplisit dijadikan model guna menyukseskan modul ini.
menyeluruh. Sehingga dapat memperkirakan keuntungan dan kerugian (risiko) di masa depan, neraca, dan laporan arus kas. Selain itu, bisa digunakan untuk memilih pilihan yang strategis, menjadi alat komunikasi dan alat pendukung negosiasi antara pekerja, pengawas, dan penyewa.
Pada jurnal kedua membahas tentang penilaian manajemen likuiditas pada industri bank Islam di Indonesia. Dengan mengambil tiga sampel bank Islam di Indonesia, yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Syariah Mega Indonesia, peneliti menyimpulkan bahwa bank-bank tersebut adalah perantara keuangan yang sehat. Hal itu bisa dilihat dari performa indikator bank-bank Islam, yakni di antaranya total aset, pembiayaan, dan simpanan. Meskipun menjadi perantara keuangan yang sehat, namun jumlah keseluruhan bank Islam di Indonesia masih termasuk sedikit karena adanya beberapa masalah. Salah satunya adalah tentang rapuhnya industri bank Islam terhadap isu makro ekonomi.
Kesimpulan yang bisa didapat dari jurnal kedua adalah bank Islam di Indonesia berdiri di antara tingkatan berhasil, baik, dan memuaskan jika dilihat dari sisi aset, sisi liabilitas, dan kebijakan LRM (Liquidity Risk Management) bank tersebut. Namun hasilnya lebih menunjukkan pada arah tingkatan “baik”. Secara keseluruhan, mereka sudah sukses dalam mengelola manajemen likuiditas yang kuat dengan meningkatkan indeks nilai yang baik. Ketiga bank yang menjadi sampel penelitian menerapkan manajemen likuiditas jangka pendek dengan tujuan meningkatkan jangka pendek. Sementara pencairan laba dan berkelanjutan untuk manajemen likuiditas jangka panjang dengan potensi laba yang tinggi namun tidak pasti dan tidak
menjamin kelanjutannya. Indeks penilaian yang menunjukkan “baik” itu belum mencapai praktik bank Islam yang ideal untuk manajemen likuiditas
dan mengembangkan sektor yang nyata. Beberapa perbaikan perlu diambil untuk mengarahkan pencapaian manajemen likuiditas menjadi ideal.
Jurnal ketiga atau terakhir mengenai analisis empiris dan studi perbandingan rasio likuiditas dan ALMA pada operasi bank di India. Sampel yang digunakan dalam penelitian ada tiga bank dari masing-masing kategori bank. Kategori bank yang dimaksud ialah bank nasional, bank privat, dan bank luar negeri. CANARA BANK pada kategori bank nasional memiliki quick ratio yang sangat tinggi dan dalam tiga tahun meningkat secara signifikan. Penyebabnya adalah maturitas aset dalam satu tahun sehingga total quick assets yang bertambah menghasilkan peningkatan pada quick ratio.
Selanjutnya pada GAP di antara RSA dan RSL menunjukkan hasil yang positif 1-29 hari. Hal itu menjelaskan bahwa semua bank yang dijadikan sampel penelitian tidak mengambil risiko terhadap likuiditas jangka pendek mereka. Namun pada maturitas GAP di antara RSA dan RSL menunjukkan hasil yang sebaliknya, yaitu negatif di hampir semua bank dari enam bulan hingga satu tahun. Jadi, bisa disimpulkan juga bank-bank tersebut sangat baik dalam mempertahankan likuiditas jangka pendek yang tidak perlu melakukannya dalam jangka panjang.
Terakhir, kesimpulan secara menyeluruh dari jurnal ketiga adalah semua bank di India memiliki posisi likuiditas jangka pendek yang sangat baik. Bank-bank tersebut membelanjakan liabilitas jangka pendeknya dengan aset jangka panjang. Dari penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa struktur likuiditas bank di India adalah stabil namun total kas yang mereka pertahankan bisa menimbulkan masalah dalam jangka panjang seperti memperburuk keuntungan mereka. Lalu praktik ALMA pun benar-benar tergantung pada manajemen bank dan mereka bisa mendesain struktur ALMA yang sesuai dan dianggap lebih komprehensif. Namun tidak bisa mengelak kenyataan kalau semua bank mengikuti gaya yang sama.
Nama : Sri Setyorini Kelas : 2EB88 NPM : 26215673