• Tidak ada hasil yang ditemukan

Serbuan Bangsa Mongol ke Kota Baghdad dan dampaknya terhadap keruntuhan Dinasti Abasiyah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Serbuan Bangsa Mongol ke Kota Baghdad dan dampaknya terhadap keruntuhan Dinasti Abasiyah"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Kepada Fakultas Adab dan Humaniora

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Humaniora (S. Hum)

Oleh:

NURSYAD NIM: 107022001534

JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)

i

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua Sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya yang asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang

berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 18 Agustus 2014

(5)

ii

Menginjak tahun 1258, dunia digemparkan oleh tragedi kejatuhan Baghdad, ibukota dinasti Abbasiyah. Kejadian tersebut dilatarbelakangi oleh banyak aspek antara lain adalah semakin parahnya intrik politik yang melibatkan pejabat istana dan ulama, penyakit yang menjangkit di beberapa bagian kota dan semakin mengecilnya peran ibukota ini akibat banyak daerah bawahan yang memerdekakan diri. Seakan menjadi penuntas bagi penderitaan itu, datanglah serbuan bangsa Mongol, di bawah pimpinan Hulagu Khan yang memporakporandakan ibukota.

Baghdad adalah sasaran Mongol berikutnya, setelah sebelumnya bangsa ini menundukkan beberapa daerah di Persia dan Irak. Kesuksesan menguasai ibukota ini tidak terlepas dari oknum Abbasiyah yang membelot ke pihak Mongol. Setelah mempelajari informasi tersebut, maka pasukan dipersiapkan untuk menerobos benteng kota. Tanpa berselang lama, pasukan dari Asia Timur in sudah memenuhi kota dan mulai menebarkan terror di setiap sudutnya. Suasana tentram yang semula menyelimuti kehidupan Bahdad seketika pecah dibuyarkan oleh derap kuda pasukan Mongol. Korban sudah banyak berjatuhan, namun pembunuhan massal masih terus berlangsung. Selain itu, di sana sini sudah terlihat penjarahan dan perampokan. Serbuan ini membawa perubahan pada kehidupan masyarakat Baghdad. Setidaknya ada empat dampak umum yang bisa dikemukakan; dampak politik, sosial, ekonomi dan peradaban.

(6)

iii

menyelesaikan sebuah karya yang sederhana ini. Peluh, penat, dan segala macam ujian diri

dapat penulis atasi guna menegakkan komitmen akademik seorang pencari ilmu, yakni

menulis sebuah karya sejarah (historiografi) ini. Kemudian Shalawat serta Salam tetap

tercurahkan kepada baginda yang mulia kita Nabi Muhammad SAW, yang telah

mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya agama islam dan nama Tuhan ( Allah SWT)

di muka bumi ini. Sehingga manusia dapat merasakan dampak kebaikan dan kontribusi

positif atas perjuangan Nabi besar Muhammad SAW.

Kemudian penulis sadar akan kekurangan dalam skripsi yang berjudul “Serbuan

Bangsa Mongol ke Kota Baghdad dan Dampaknya terhadap Keruntuhan Dinasti Abasiyah

ini tidak akan bias terselesaikan dengan mudah tanpa bantuan dari semua pihak, baik moril

maupun materil. Oleh karena itu penulis mengucapkn ribuan terimakasih yang

sedalam-dalamnya kepada:

1. Prof. Komarudin Hidayat, M.A, selaku rektor UIN Syarif Hidyatullah Jakarta.

2. Prof. Dr. Oman Fathurahman, M. Hum, selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora

UIN Syarif Hidyatullah Jakarta.

3. Drs. M. Ma’ruf Misbah, M.A dan Sholikatus Sa’diyah, M.Pd selaku Ketua dan

Sekertaris jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidyatullah Jakarta.

4. H. Nurhasan, M.A, selaku Dosen Pembimbing, yang memberikan kontribusi besar

dalam penyempurnaan penulis, dengan arahan, keritik dan saran, terutama kesediaan

waktunya dalam membimbing. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

(7)

iv

6. Kedua orang tua tercinta, Bpk. Kadung dan Ny. Tijah, yang telah mengasuh penulis

dari kecil hingga dewasa, Allahumma irham huma kamaa rabbayani saghiraa.

7. Penulis juga melayangkan ucapan terimakasih untuk sahabat-sahabat di Jurusan

Sejarah Kebudayan Islam, yaitu Johan Wahyudi, Andriyansah, Abdul Kholiq,

Nursobahk, Ridwan Syahidin dan Salahuddin Al-Ayyubi. Semoga di jurusan ini, kita

mendapat kearifan untuk memintal benang-benang pengabdian bagi keluarga,

lingkungan, dan negara.

Semoga semuah pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini,

mendapatkan balasn yang berlipat ganda dari Allah SWT. Kemudian juga penulis menyadari

bahwasanya skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis

mengarapkan keritik serta saran dari pembaca untuk lebih baiknya skripsi ini. Sebagai akhir

kata penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Jakarta, 18 Agustus 2014

(8)

v

ABSTRAK……… ii

KATA PENGANTAR………. iii

DAFTAR ISI ………. v

Bab I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ……… 4

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5

E. Metodologi Penelitian ... 6

F. Tinjauan Pustaka ... 10

G. Kerangka Teori ……… 11

H. Sistematika Penulisan ... 12

Bab II: ASAL USUL BANGSA MONGOL A. Kemunculan Bangsa Mongol ... 13

B. Kehidupan Bangsa Mongol ... 16

C. Struktur Sosial Bangsa Mongol ... 18

D. Konsolidasi Politik Bangsa Mongol ... 22

(9)

vi

Bab IV: SERBUAN HULAGU KHAN KE BAGHDAD

A. Masa Disintegrasi Baghdad ... 54

B. Menyerbu Baghdad ... 63

C. Dampak Serbuan Mongol ... 74

Bab V: PENUTUP

A. Kesimpulan ……… 82

B. Saran-Saran ……… 86

(10)

1 A. Latar Belakang

Pada tahun 1258, dunia dikejutkan dengan jatuhnya kota Baghdad. Kota

yang menjadi ibukota negeri-negeri Muslim ini hancur setelah sebelumnya didera

permasalahan-permasalahan yang tidak kunjung selesai. Selain menjadi ajang

intrik para pejabat dan ulama1, yang berujung pada tata kelola kota yang kurang

efektif, kota ini juga mengalami pelemahan kekuasaan akibat terpisah-pisahnya

negeri-negeri Islam yang menjadi bawahannya. Terlepas dari dua latar belakang

yang disebutkan itu, terdapat akibat lain yang menyebabkan kota ini menemui

masa suramnya, yakni serbuan bangsa Mongol.

Bangsa Mongol berasal dari suatu daerah di pegunungan Mongolia yang

membentang dari Asia Tengah sampai Siberia Utara, Tibet Selatan, Manchuria

Barat, dan Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang

dikaruniai dua putra kembar bernama Tatar dan Mongol. Kedua putra ini di

kemudian hari melahirkan dua suku bangsa yakni Mongol dan Tartar.2 Pendapat

lain dikemukakan oleh George Vernadsky yang mengatakan bahwa daerah bangsa

Mongol (Mongolia) terbentang hanya dari Manchuria hingga Hongaria.3 Nama

1

Carl Brockelmann, History of The Islamic Peoples (London: Lund Humphries, 1949) hlm. 148.

2

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada), hlm. 111.

3

George Vernandsky, The Mongol and Russia (New Haven: Yale University Press, 1953) hlm. 10. Lihat juga Ignatius Erik SY, Peranan Mongol terhadap Keruntuhan Kepangeran Rus

(11)

Tartar sebagaimana yang dikenal belakangan, merupakan turunan dari nama

leluhurnya, Tatar.

Bangsa Mongol tampil ke panggung dunia setelah dipimpin oleh Jengis

Khan. Dalam waktu 30 tahun, ia berupaya keras membangun pasukan tempur

yang besar yakni dengan cara menyatukan Mongol dengan suku bangsa lainnya.

Oleh karena buah karyanya ini, pada tahun 1206, ia mendapat gelar Jengis Khan

yang berarti Raja Yang Perkasa. Pasukan yang telah terbentuk dibagi dalam

beberapa kelompok besar maupun kecil, mulai dari berjumlah seribu, dua ratus,

sampai sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan.4

Saat merasa kondisi fisiknya kian lemah, Jengis Khan membagi wilayah

kuasanya menjadi empat bagian masing-masing kepada putranya, yakni Juchi,

Chagatai, Ogotai, dan Tuli. Juchi membawahi sebagian besar daerah sebagian

besar wilayah barat termasuk kawasan Rusia. Chagatai diserahi kekuasaan bagian

utara dan timur laut sungai Oxus, wilayah yang lebih dikenal sebagai

Transoxania. Ogotai dititahkan membawahi bagian timur. Yang membawahi

kawasan Khawarizm adalah Tuli Khan.5 Pada tahun 1256, ia berpulang dan

tahtanya diwariskan pada anaknya, Hulagu Khan.

Bani Abbas atau khilafah Dinasti Abbasiyah berdiri sebagai pengganti Bani

(Dinasti) Umayyah, yang sebelumnya merupakan pemimpin dunia Islam.

Dinamakan khilafah Dinasti Abbasiyah, oleh karena pendiri serta penguasa dinasti

4

Bertold Spuler, History of The Mongols (London: Routledge & Kegan Paul, 1972) hlm. 26.

5

(12)

ini merupakan keturunan al-Abbas, paman nabi Muhammad saw. Dinasti

Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin

Abdullah bin al-Abbas. Kekuasaannya berkisar dalam rentang waktu yang

panjang yakni dari tahun 750 sampai dengan 1258. Setelah melalui masa-masa

yang hebat dan penuh kejayaan, dinasti ini menghadapi ancaman serius yakni

pertikaian politik. Dinasti ini menjadi ajang berebut pengaruh orang Turki yang

bermazahab Sunni dan orang Persia yang beraliran Syiah.6 Oleh sebab

pergerseran politik inilah menyebabkan pemberontakan-pemberontakan rakyat di

ibukota. Keadaan ibukota menjadi semakin tidak terkendali keamanannya.7

Oleh sebab keadaan pemerintahan pusat yang tidak efektif menyebabkan

kontrol atas wilayah bawahan menjadi tidak tertib yang berujung pada terlepasnya

satu per satu wilayah Abbasiyah. Keadaan ini lebih dikenal sebagai masa

disintegrasi Abbasiyah. Hal ini terjadi karena khalifah tidak lagi cukup kuat

menertibkan lagi wilayah bawahannya.8 Jika dikaji lebih lajut, memang bukan

hanya disintegrasi kekuasaan yang membawa Dinasti Abbasiyah pada kejatuhan.

Badri Yatim menilai, setidaknya ada empat hal yang menyebabkan punahnya

pengaruh Dinasti Abbasiyah di dunia Islam yakni; 1) persaingan antarbangsa; 2)

kemerosotan ekonomi; 3) konflik keagamaan; 4) dan, ancaman dari luar.9

Faktor terakhir di atas, agaknya amat berkaitan dengan kehadiran tentara

Mongol di Baghdad. Kegersangan sosial yang telah sedemikian akut di wilayah

6

Philip K. Hitti, History of The Arabs, Terj. R. Cecep ukman H. dkk (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008) hlm. 591.

7

Philip J. Hitti, History of The Arabs, hlm. 594.

8

W. Montgomery Watt, Politik Islam dalam Lintasan Sejarah (Jakarta: P3M, 1988) hlm. 152.

9

(13)

kekuasaan Dinasti Abbasiyah, turut pula dirasakan oleh penduduk kota Baghdad.

Hulagu Khan melihat ini sebagai momentum penting untuk memperluas

wilayahnya. Sekitar tahun 1258, Hulagu memimpin sekitar 200.000 pasukan

Mongol untuk mengepung Baghdad.10 Tanpa menunggu waktu lama, ia berhasil

menguasai ibukota umat Islam tersebut. Peristiwa ini menandai akhir dari

kepemimpinan Dinasti Abbasiyah dalam dunia Islam. Bangsa Mongol semakin

menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang memiliki reputasi teratas dalam

peta kekuasaan dunia Islam. Dampak yang disebabkan dari serbuan ini amatlah

luas, hampir mencakup seluruh sendi kehidupan manusia. Kota yang sebelumnya

menyandang gelar sebagai ibukota dunia Muslim ini kala itu ibarat menemui hari

terakhirnya. Begitu Mongol pimpinan Hulagu Khan masuk ke dalam kota,

pembunuhan, penjarahan serta perusakan tempat-tempat umum menjadi

pemandangan yang terlihat di sana-sini. Paling tidak ada tiga dampak signifikan

dari penyerbuan orang Mongol ke kota ini yakni; politik, sosial, ekonomi dan

peradaban.

Skripsi ini akan membahas mengenai serbuan Mongol atas Baghdad beserta

dampaknya. Untuk itu judul dari skripsi ini adalah “Serbuan Bangsa Mongol Ke

Kota Baghdad dan Dampaknya Terhadap Keruntuhan Dinasti Abbasiyah”.

B. Identifikasi Malasah

Mongol mengadakan serangan ke Baghdad, ibukota Abbasiyah yang

menyebabkan dinasti tersebut mengalami kehancuran. Serbuan itu menyebabkan

10

(14)

dampak yang signifikan berupa kemunduran berbagai segi sektor kehidupan

manusia.

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dari uraian di atas, maka timbullah berbagai masalah yang perlu dijawab.

Mengingat keterbatasan ruang lingkup pembahasan, maka kami batasi dengan tiga

hal, yaitu:

- Kondisi dunia Islam sekitar abad 13.

- Penetrasi Bangsa Mongol ke negeri-negeri Islam.

- Serbuan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan ke Baghdad serta

dampaknya.

Dari pembatasan tersebut, dapat dirumuskan menjadi beberapa pertanyaan

sebagai berikut:

1. Faktor apa yang melatarbelakangi serbuan bangsa Mongol ke negeri-negeri

Islam?

2. Bagaimana kondisi sosial-politik Dinasti Abbasiyah menjelang serbuan

pasukan Mongol?

3. Apa dampak serbuan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan terhadap

Baghdad dan wilayah Dinasti Abbasiyah secara umum?

D. Tujuan dan Manfaat Studi

1. Tujuan Studi

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penulisan skripsi ini adalah:

(15)

b. Memahami secara mendalam ekspansi bangsa Mongol ke negeri-negeri

Islam.

c. Mengetahui secara komprehensif serbuan bangsa Mongol ke Baghdad yang

ditengarai sebagai punahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah di dunia Islam.

2. Manfaat Studi

a. Penulisan skripsi ini diharapkan berguna bagi pengembangan pengetahuan

dinamika sejarah bangsa Mongol kaitanya dengan Islam.

b. Menambah khazanah pengetahuan terkait hal ihwal bangsa Mongol dalam

rangka menghapus eksistensi Dinasti Abbasiyah di dunia Islam.

E. Metode Penelitian

Dalam penuliasan karya ilmiah skripsi ini, penulis menggunakan metode

deskriptif-analisis guna memaparkan temuan baru yang berkaitan dengan topik

yang diangkat. Selain itu, di bawah ini terdapat beberapa poin yang menjadi

instrumen penting dalam suatu penelitian, antara lain:

1. Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah sosial. Yakni dengan

meneliti pola kehidupan bangsa Mongol serta aktivitas hidupnya yang nomaden.

Kondisi alam yang liar dan keras, tempat mereka hidup, ditengarai menjadi hal

yang melatarbelakangi perpindahan mereka.

2. Sumber dan Jenis Data

Data ataupun sumber penelitian dapat dikategorikan menjadi dua; data

primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang merupakan acuan atau

(16)

data-data tersebut bisa berbentuk lisan maupun tulisan.11 Melihat obyek penelitian

yang memang telah terjadi pada abad 13, maka data primer yang paling

memungkinkan diakses adalah berbentuk tulisan.

Sedangkan data sekunder bentuknya sama seperti data primer. Namun, yang

membedakannya dengan data primer, adalah bahwa data sekunder tidak berasal

dari sekitar atau paling tidak berdekatan waktunya dengan peristiwa yang menjadi

obyek penelitian. Penelitian ini sepertinya tidak menitikberatkan pada

pengambilan sumber primer melalui wawancara.

Pengumpulan data dilakukan dengan studi/kajian pustaka (library research).

Studi/kajian pustaka dilakukan dengan menelusuri fakta sejarah secara tertulis,

kemudian mengumpulan dokumen, baik berupa tulisan sezaman atau

manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan peristiwa yang ditelaah. Guna mendapatkan

informasi yang valid dan otentik penulis menggunakan sumber primer yang

berasal dari dokumen sezaman. Salah satu dari sumber primer yang digunakan

adalah karya Ibnu Atsir berjudul al-Kamil di Tarikh Ibnu al-Atsir. Dalam karya

ini diceritakan mengenai serangan bangsa Mongol terhadap negeri-negeri Islam.

Di mana terdapat bangsa Mongol maka di situ terjadi pembunuhan.12 Selain itu,

penulis juga menggunakan sumber-sumber sekunder yang mempunyai relasi dan

relevansi dengan kajian materi pembahasan.

Sumber lain untuk melihat kondisi Baghdad abad pertengahan, penulis

merujuk kepada kitab Futuh al-Buldan karya Abul Abbas Ahmad bin Jabir

al-Baladhuri. Dalam hal ini penulis menggunakan kitab Futuh al-Buldan versi

11

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang, 1995).

12

(17)

terjemahan bahasa Inggris oleh Francis Clark Murgotten.13 Penulis mendapatkan

kedua sumber itu dari perpustakaan rekan penulis, Johan Wahyudi.

Sumber primer mengenai kehidupan bangsa Mongol memang masih sulit

ditemukan. Namun begitu terdapat sumber sekunder yang cukup otoritatif yakni

buku yang ditulis oleh John Man berjudul Jenghis Khan Legenda Sang Penakluk

dari Mongolia (2009). Walaupun buku ini lebih mengetengahkan kisah hidup

Jengis Khan, namun aspek kehidupan bangsa Mongol, terkait juga mengenai pola

hidup nomaden serta kegemarannya akan ekspansi ke negeri lain turut pula

disampaikan.

Sumber sekunder lainnya yang cukup informatif adalah berupa kitab

berjudul al-Muqaddimah yang ditulis oleh Ibn Khaldun. Penulis menggunakan

Muqaddimah berbahasa Indonesia terjemahan Ahmadie Thaha.14 Dalam buku ini,

peristiwa serangan bangsa Mongol ke Baghdad disinggung walaupun tidak secara

komprehensif.

Sedangkan untuk sumber lainnya, terutama untuk sumber sekunder, penulis

mendapatkannya lewat hasil penjelajahan di Perpustakaan Utama Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Selain itu, penulis juga mendapatkannya di

Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora. Beberapa sumber lainnya yang

didapat, juga berasal dari pribadi, dan dari teman penulis.

3. Analisa Data

13

Lebih lanjut lihat Ibn Jabir al-Baladhuri, Kitab Futuh aAl-Buldan of al-Imam Abul ‘Abbas

Ahmad ibn-Jabir al-Baladhuri Part II transl. Francis Clark Murgotten (New York: Columbia

University, 1924).

14

Lebih lanjut lihat, Ibn Khaldun, Muqaddimah; Abd al-Rahman bin Muhammad ibn

(18)

Data-data yang sudah terkumpul kemudian masuk pada tahap analisis untuk

mendapat sumber penelitian yang otentik dan otoritatif. Data tulisan diklasifikasi

untuk menentukan waktu penulisan dan isi dari dokumen tersebut.

Sumber-sumber yang telah dikumpulkan, kemudian diteliti keaslian dan

kesahihan informasinya melalui kritik ekstern dan intern. Kritiks ektern dilakukan

untuk memperoleh otentisitas atau keaslian data melalui pengamatan fisiknya.

Termasuk dalam pengamatan kritik eksternal, adalah mengetahui keaslian jenis

kertas, materai, tinta, gaya penulisan bahasanya dan seluruh aspek yang mencakup

bentuk fisiknya. Kritik internal berguna untuk mengungkap kebenaran informasi

atau kredibilitas isi dari dokumen atau arsip tersebut.15

Selanjutnya, fakta-fakta yang dikumpulkan masuk ke tahap eksplanasi

sejarah. Tahapan ini, memungkinkan sejarawan atau peneliti sejarah melakukan

interpretasi atas masalah yang diangkat, sehingga memungkinkan munculnya

dinamika baru terhadap suatu rekonstruksi peristiwa masa lalu. Analisa atas

masalah berdasarkan sumber yang didapat termasuk dalam tahap ini, sehingga

diharapkan dapat memperoleh penjelasan baru dalam suatu kajian historis.16

4. Penulisan (historiografi)

Setelah fese di atas, maka tiba pada tahap akhir berupa penulisan sejarah.

Historiografi sebagai terminal akhir dari perjalanan penelitian ini, diupayakan

dengan selalu mengedepankan aspek kronologis, sedangkan penyajiannya

15

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang, 1995) hlm. 99-100; lihat juga Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto (Jakarta: UI Press, 2006) hlm. 98-99 dan 112.

16

(19)

didasarkan pada tampilan tema-tema penting dari setiap perkembangan tema

terkait.17

Pemaparan akan ditengahkan dalam bab per bab dan diakhiri dengan

kesimpulan.

F. Tinjauan Pustaka

Banyak tulisan baik berbentuk buku, jurnal, dan karya akademisi lainnya

tentang sejarah Mongol maupun Dinasti Abbasiyah, bahkan ada pula yang

menyorot tentang seputar kejatuhan Baghdad. Tetapi, dari semua tulisan itu masih

terserak dan belum ada yang menyajikan secara komprehensif terkait hal apa saja

yang menyebabkan salah satu imperium terbesar dalam sejarah umat Islam itu

mundur dan hilang dari peradaban manusia. Dari penelusuran penulis, salah satu

buku yang menjelaskan tentang asal-usul bangsa Mongol adalah tulisan Hasan

Ibrahim Hasan berjudul Tarikh al-Islam al-Siyasi wa al-Diini wa- al-Tsaqaafi wa

al-Ijtima’i (1967). Dalam bab 4 yang berjudul Ghazwatul Mughul – Suqutu

Baghdad, dijelaskan perihal siapa bangsa Mongol dan penaklukannya atas

negeri-negeri Islam, sampai dengan serangannya atas Baghdad.

Di samping itu, Abdul Hadi Hairi menulis tesis berjudul Nasir al-Din Tusi:

His Supposed Political Role in Mongol Invasion of Baghdad (1968). Dalam

karyanya ini Hairi ingin membuktikan temuannya bahwa dalam serangan ke

Baghdad, Hulagu Khan banyak memperoleh informasi mengenai ibukota Dinasti

Abbasiyah itu dari seorang ulama terkenal masa itu yang bernama Nasir al-Din

Tusi. Ulama ini memiliki peran yang penting dalam keberhasilan Hulagu Khan

menduduki baghdad.

17

(20)

Azeem Beg Chugtai (1997), menulis kertas kerja berjudul The Fall of

Baghdad. Azeem memfokuskan perhatiannya pada momen ketika Baghdad

diserbu oleh barisan berkuda Mongol pimpinan Hulegu (Hulagu) Khan. Pada awal

pembahasannya, ia menyinggung kontak pertama bangsa Mongol, yang kala itu

dipimpin oleh Chengiz Khan (Jengis Khan) dengan Islam. Dari beberapa kajian

yang telah disebutkan, belum ada yang membahas secara komprehensif aspek

sosial, politik, maupun budaya yang melatarbelakangi kemunduran Dinasti

Abbasiyah.

G. Kerangka Teori

Sebagaimana disinggung di atas, penulisan skripsi ini bersandar pada

pemaparan sejarah bangsa Mongol terkait hubungannya dengan kejatuhan

Baghdad, dengan kaca mata sosial. Maka dari itu, untuk memberikan ulasan yang

kaya akan informasi sekaligus sebagai bentuk dinamika dalam penulisan sejarah,

maka diperlukan pula ilmu bantu dalam penjelasanya.

Dalam kesempatan ini, penulis akan mendukung pemaparan informasi

skripsi ini dengan mengetengahkan studi sosiologi, tepatnya mengenai perubahan

sosial yang terjadi di kota Baghdad setelah serangan Mongol. Sebagaimana

diketahui, serbuan itu membuat kota ini menjadi wilayah yang mengalami

kemunduran yang cukup parah. Diharapkan dengan penjelasan melalui sudut

pandang sosiologis, maka sejarah jatuhnya kota ini dapat terlihat secara lebih

jelas. Dalam salah satu definisi, perubahan sosial dapat dimaknai sebagai

berubahnya suatu sistem sosial dalam tiga hal, yakni perubahan pada struktur,

(21)

hendaknya terjadi pada seluruh aspek kehidupan. Perubahan yang hanya terjadi

pada satu fenomena saja, belum dapat dikatakan sebagai perubahan sosial.18

H. Sistematika Penulisan Bab I

Berisi tentang signifikansi tema yang diangkat, pembatasan dan perumusan

masalah, metodologi penelitian, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II

Membahas tentang asal-usul bangsa Mongol juga pola kehidupan sosialnya.

Bab III

Membahas tentang migrasi Mongol, baik ke dunia bagian timur maupun

barat. Selain itu akan dipaparkan pula motif bangsa Mongol memilih kehidupan

nomaden. Dalam bab ini juga diketengahkan penaklukan Mongol atas

peradaban-peradaban besar, khususnya di dunia Islam.

Bab IV

Membahas tentang dampak serbuan bangsa Mongol terhadap Baghdad.

Kehancuran yang ditimbulkan atas serbuan ini diklasifikasikan menjadi tiga

subbab, yakni kehancuran kota, kehancuran kemanusiaan, dan kehancuran Dinasti

Abbasiyah. Yang tak kalah penting adalah dampak dari serangan itu sendiri yang

diklasifikasikan menjadi tiga; dampak politik, sosial-ekonomi, dan peradaban.

Bab V

Berisi penutup yang terdiri atas kesimpulan, saran-saran, lampiran, dan

daftar pustaka.

18

Yusron Razak, ed, Sosiologi Sebuah Pengantar; Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif

(22)

13 A. Kemunculan Bangsa Mongol

Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang daerahnya

terbentang dari kawasan Asia Tengah hingga menyentuh Siberia Utara, Tibet

Selatan hingga ke Manchuria Barat, dan Turkistan Timur.19 Ada pula yang

berpendapan Bangsa Mongol tinggal di kawasan yang terbentang dari Manchuria

hingga Hongaria.20

Menurut suatu sumber arkeologis, nenek moyang bangsa Mongol

diperkirakan telah mendiami sebelah selatan gurun Gobi pada 100.000 sampai

200.000 tahun yang lalu. Tepatnya pada masa Zaman Batu Awal. Sekitar abad

pertama sebelum masehi, telah ada komunitas-komunitas manusia yang memiliki

kebudayaan perunggu. Kebudayaan perunggu merujuk pada penggunaan alat-alat

perunggu dalam pekerjaannya (bronze-working peoples). Memasuki abad ketiga

SM, orang-orang Mongol mulai membentuk aliansi kesukuan untuk mengancam

Cina. Mereka juga mulai menyebar ke pedalaman Asia sebagai pemburu di hutan

maupun suku nomad.

Terkait mengenai jejak prasejarah di kawasan Asia Tengah, Bertold Spuler

mengatakan bahwa setelah sekitar 200 SM, terjadi migrasi besar-besaran ke

wilayah timur yang dilakukan oleh orang Indo-Eropa yang kemudian menetap di

19

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 111.

20

George Vernandsky, The Mongol and Russia (New Haven: Yale University Press, 1953) hlm. 10. Lihat juga Ignatius Erik SY, Peranan Mongol terhadap Keruntuhan Kepangeran Rus

(23)

sana. Tempat yang semula menjadi lokasi berkumpulnya para pendatang

Indo-Eropa, menjadi bentuk awal dari gambaran populasi dan bentuk karakter yang

khas di kawasan Asia Tengah hingga hari ini. Daerah ini didiami oleh dua bangsa

yang hidup berdampingan yang memiliki beberapa ciri umum yang serupa, namun

berbeda dalam bahasanya. Kedua bangsa ini adalah Turk dan Mongol. Sejak

dimulainya era Kristen, aktivitas kedua bangsa ini telah banyak ditemukan dalam

sumber-sumber sejarah Cina. Mereka dikenal dengan serbuan-serbuannya yang

bertujuan mendapatkan jarahan, sampai ketika bangsa Cina berhasil membangun

tembok besar Cina (The Great Wall) untuk menghentikan aksi pengrusakan

mereka.21 Peneliti serta masyarakat luas dewasa ini, tentu amat sulit mendapatkan

sumber terpercaya mengenai peninggalan arkeologis bangsa Mongol. Menurut

Gulugjab Tagghudai, kelangkaan ini bukanlah tanpa sebab, melainkan bertalian

erat dengan historisitas bangsa Cina yang pernah menduduki daerah yang semula

didiami oleh bangsa Mongol. Pada beberapa abad yang lalu, bangsa Cina banyak

menghancurkan artefak yang dipelihara orang Mongol sejak masa Jengis Khan.

Bahkan, di beberapa wilayah Cina yang terdapat monumen atau suatu pertanda

yang menghormati Jangis Khan dihancurkan pula. Ironisnya, di seluruh dunia

sejarah Jengis Khan dan bangsa Cina selalu disebutkan sebagai suatu masa

keemasan peradaban Cina (glorious China).22

Seiring berjalannya waktu, bangsa Mongol mulai mendiami kawasan yang

sangat luas mulai dari semenanjung Korea di timur melewati bagian utara dataran

21

Bertold Spuler, The Muslim World, hlm.1.

22Gulugjab Tagghudai, “General Concept in Mongol persona”, hlm.2, dari

(24)

tinggi Cina sampai ke wilayah Kazakhstan. Mereka juga mendiami pegunungan

Pemir dan danau Balkash di sebelah barat. Nama Mongol sendiri kemudian baru

dikenal sebagai salah satu bangsa utama dari banyak sebaran orang yang berasal

dari Mongolia pada abad 8 SM yang memiliki karakter etnologis tertentu.23

Merujuk pada penjelasan Badri Yatim yang mengutip dari Ahmad Syalabi

yang menyebutkan bahwa nenek moyang orang Mongol bernama Alanja Khan

yang memiliki dua putra kembar bernama Mongol dan Tatar. Mongol memiliki

anak bernama Ilkhan yang di kemudian hari menjadi pemimpin bangsa Mongol.24

Sedangkan menurut Hasan Ibrahim Hasan, nama Mongol sendiri memiliki

kaitan historis dengan istilah Tatar. Namun begitu, Hasan lebih condong untuk

menggunakan istilah Tatar untuk menyebut bangsa Mongol. Tatar sendiri

memiliki makna “suatu tahun di mana terjadi beberapa pergantian masa”.

Pemaknaan ini tidak lain lahir dari dua kabilah Tatar yang menghubungkan diri

pada penggambaran Urkhun Turki yang terdapat pada masa abad 2 H (sekitar

abad 8 M). Pemaknaan yang sama juga ditujukan pada Mongol secara

keseluruhan maupun bagi kabilah sejenis.25

Ketika memasuki abad 13, serbuan pasukan Mongol ke barat di bawah

pimpinan Jengis Khan menyebabkan perkawinan silang antara kebudayaan dan

masyarakat di seluruh benua Asia. Walaupun pada kenyataannya, Jengis Khan

tidak menghilangkan Tatar sebagai suku, orang Mongolia keturunan Turk juga

dikenal dengan sebutan Tatar. Namun, bangsa Eropa menggunakan istilah ini

23

http://www.mongabay.com/history/mongolia/mongoliaorigins_of_the_mongols_early_de velopment,_ca_220_bc-ad_1206.html diunduh pada tanggal 15 Juli 2013 pukul 09.47.

24

Badri Yatim , Sejarah Peradaban Islam, hlm. 111.

25

Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam al-Siyasi wa al-Dini wa al-Tsaqofi wa al-Ijtima’i

(25)

tanpa melihat aspek perbedaannya dalam segi apapun. Bagi semua bangsa

pengembara dikategorikan sebagai orang barbar yang kasar yang menurut mereka

hanya menyebarkan ketakutan dan kebencian. Oleh karena itu, mereka mengeja

nama Tartar dari Tartarus yang merupakan neraka gelap dalam mitologi Yunani.

Dewasa ini, baik penyebutan Mongol maupun Tartar sering digunakan secara

bergantian.26

B. Kehidupan Bangsa Mongol

Bangsa Mongol banyak menghabiskan hidupnya dari stepa ke stepa. Mereka

hidup berdampingan dengan suku-suku nomad lain yang nantinya merupakan

leluhur dari orang Iran dan Turki. Suku-suku nomad ini memiliki kesamaan

bentuk dalam cara hidup maupun organisasi sosialnya. Stepa merupakan suatu

padang rumput luas, umumnya datar dan hanya diselingi sedikit pepohonan.

Keputusan mereka untuk menjalani kehidupan dengan cara berpindah-pindah

bukanlah tanpa sebab. Hal ini berhubungan dengan kondisi tanah Mongolia yang

keadaannya kurang subur dan diperparah dengan keadaan iklimnya yang ganas.

Menginjak musim dingin yang dapat berlangsung 6 bulan dalam setahun,

persediaan air menipis. Penyebab utamanya adalah karena sungai-sungai mengalir

ke kutub utara, yang tentu saja bisa berubah keadaannya menjadi es sehingga sulit

untuk digunakan.27

Ira M. Lapidus mengatakan bahwa daerah padang rumput yang gersang di

sebelah utara, tepatnya di sekitar Laut Kaspia, Laut Aral, dan Danau Balkh,

26

Justin Marozzi, Timur Leng; Panglima Islam Penakluk Dunia (Bandung: Mizan, 2013) hlm. 9.

27

(26)

banyak dihuni oleh warga pastoral yang berprofesi sebagai penggembala berbagai

binatang ternak seperti kuda, domba, biri-biri, dan unta.

Lebih jauh Lapidus menjelaskan bahwa, pola hidup masyarakat pastoral

yang nomaden memungkinkan mereka menjalin relasi dengan komunitas lain,

termasuk masyarakat pemukim. Kebiasaan ini telah terjadi selama berabad-abad

yang lampau. Lapidus mengetengahkan contoh bahwa meskipun peradaban Cina

dan Timur Tengah memiliki corak kedinastian dan pertanian, tidak menutup

kemungkinan adanya kelompok masyarakat pastoral yang sekedar mampir atau

berdiam selama beberapa waktu di kota maupun pedesaannya. Beberapa daerah,

di Cina maupun di Timur Tengah, yang memiliki kondisi geografis padang

rumput dan daerah beroase, malah banyak didiami kaum pastoral penggembala

yang memelihara kuda maupun biri-birinya di sekitar tempat itu. Di kemudian

hari, penduduk pastoral ini kemudian diorganisir menjadi suatu kumpulan

(konfederasi) kelompok-kelompok yang lebih besar. Warga pemukiman yang

telah terbiasa menjalin hubungan dengan masyarakat pastoral tersebar di wilayah

Transoxania, Khawarizm, Farghana, dan Kashgar serta di beberapa kota yang

termasuk dalam jalur dagang yang menghubungkan Cina, Timur Tengah, dan

Eropa.28 Menurut Hasan Ibrahim Hasan, bangsa Mongol mempunyai watak yang

kasar, suka berperang, dan tidak kenal takut sekalipun harus berhadapan dengan

kematian dalam mencapai keinginannya.29 Bangsa Mongol juga memiliki jiwa

militer yang kuat.30

28

Ira Lapidus, Sejarah Sosial, hlm. 638-639.

29

Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam, hlm. 132; lihat juga Badri Yatim, Sejarah

Peradaban Islam, hlm. 112.

30

(27)

C. Struktur Sosial Bangsa Mongol

Bangsa Mongol terbagi ke dalam dua kelompok besar yakni (1) suku

Mongol yang mendiami kawasan stepa dan (2) mereka yang bertempat tinggal di

dalam hutan. Suku Mongol yang tinggal di stepa, sebagaimana telah disinggung

sebelumnya, berprofesi sebagai penggembala sedangkan yang tinggal di hutan

umumnya menggantungkan hidup pada berburu dan menangkap ikan di sungai.

Kedua golongan ini menjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan.

Suku Mongol hutan memasok kebutuhan bulu bagi suku Mongol stepa yang

nantinya digunakan sebagai penghangat ketika musim dingin datang. Sedangkan

suku Mongol stepa ada pula yang membiasakan diri menempa besi menjadi

senjata yang selain digunakan sendiri juga didistribusikan ke suku Mongol hutan.

Masyarakat bangsa Mongol terbagi ke dalam sejumlah komunitas pengguna

bahasa Turki-Altaic serta membentuk suatu sistem sosial yang memiliki unsur

patrilineal (berhubungan dengan garis dari ayah). Warga padang rumput ini

kemudian membentuk satuan keluarga, klan, maupun konfederasi (gerombolan).

Klan sendiri berfungsi menjadi unit dasar pengumpul pajak, pengorganisasian

militer, penengah perselisihan, serta beragam kegiatan politik lainnya. Ketika

beberapa kelompok kecil didasarkan pada garis keturunan, maka suatu konsep

politik atau teritorial menginspirasi pembentukan beberapa peringkat organisasi

yang lebih tinggi.

Sistem patrineal ternyata memiliki pengaruh yang besar dalam dinamika

sosial bangsa Mongol. Menurut Ignatius Erik, sistem sosial masyarakat Mongol

(28)

dilakukan orang Mongol bersifat eksogami, yakni pernikahan dengan sesama

anggota suku dilarang, pernikahan baru bisa dilaksanakan dengan anggota suku

lain. Laki-laki diperbolehkan berisitri lebih dari satu (poligami). Pada praktiknya,

pola pernikahan seperti ini kerapkali menimbulkan pertikaian antarsuku, oleh

karena seringnya terjadi kasus penculikan istri.

Guna mencegah kasus tersebut, beberapa suku membuat perjanjian bersama

untuk menikahkan anak mereka. Setiap orang Mongol diajarkan tentang silsilah

suku serta relasi antarsuku sejak umur belia. Ilmu pengetahuan ini disakralkan

oleh orang Mongol dan wajib diwariskan secara turun-temurun. Persatuan suku

tidak hanya diikat melalui hubungan darah melainkan juga hubungan spiritual.

Bagi setiap suku, baik anggotanya masih ada atau telah mangkat, mulai nenek

moyang hingga keturunannya merupakan grup relijius yang independen (mandiri)

dan dianggap abadi keberadaannya. Pada wilayah keluarga, ikatan tersebut dapat

senantiasa dihidupkan melalui suatu ritual.31

Dalam pernikahan, binatang peliharaan seperti kuda, unta, kambing, dan

domba memiliki nilai tersendiri. Ketika seorang laki-laki menginginkan isteri,

maka ia menebusnya (sebagai mas kawin) dengan binatang atau hak

menggembala.32 Kepercayaan yang dianut oleh bangsa Mongol adalah

Syamanisme, yakni praktik menyembah bintang dan sujud ketika matahari

terbit.33

Baru ketika di bawah Jengis Khan berkuasa, agama Budha dan kepercayaan

Tibet Lama telah banyak dianut bangsa Mongol. Ketika jengis Khan mangkat,

31

Ignatius Erik, Peranan Mongol, hlm.14.

32

Justin Marozzi, Timur Leng, hlm. 25.

33

(29)

banyak pengikutnya yang kembali ke kepercayaan semula. 200 tahun kemudian,

agama Budha dan kepercayaan Tibet Lama diperkenalkan kembali berbarengan

dengan munculnya suatu kepercayaan neo-Syamanisme. Kepercayaan ini dianut

oleh bangsa Mongol hingga timbulnya komunisme di Cina pada abad 20 yang

menerapkan kebijakan anti-agama disertai pembunuhan besar-besaran para biksu

dan penghancuran rumah-rumah ibadah. Ketika bangsa Mongol masuk ke

negeri-negeri Islam, seperti Persia, banyak di antara mereka yang menjali Muslim.34

Pembagian strata sosial bangsa Mongol terdiri atas anggota ksatria Mongol

yang disebut bagatur atau sechen. Pemimpin dari golongan ksatria ini dinamakan

noyan.35 Kelompok orang kebanyakan atau penduduk biasa dinamakan karachu,

dan di bawahnya lagi adalah golongan budak. Ketika bangsa Mongol sudah mulai

berhubungan dengan Dinasti Jin dari Cina yang mengakui entitas (keberadaan)

Mongol sebagai suatu vassal atau negeri bawahan. Beberapa di antara noyan ada

yang diberi gelar mengikuti struktur pemerintahan Dinasti Jin, seperti taishi

(gubernur) dan wang (raja).36 Hubungan antara warga pastoral dan perkotaan ini

dapat terjalin dimulai ketika seorang khan Mongol, Ambaghi Khan, ditaklukan

oleh suku Tatar yang dibantu oleh pasukan Dinasti Jin. Dinasti Jin sendiri

memiliki agenda terselubung untuk mencegah persatuan suku-suku Mongol,

sehingga dalam upayanya itu ia bermitra dengan suku Tatar. Sematan khan

merupakan gelar yang disandang oleh seorang pemimpin suku Mongol.37

34Gulugjab Tagghudai, “General Concept in Mongol persona”, hlm. 6. 35

George Vernadsky, Mongol and Russia, hlm. 15; lihat juga Ignatius Erik, Peranan

Mongol, hlm.15.

36

George Vernadsky, Mongol and Russia, hlm. 15; lihat juga Ignatius Erik, Peranan

Mongol, hlm.15.

37

(30)

Dalam struktur sosial masyarakat Mongol, wanita dan pria memiliki

kedudukan yang sama. Hal ini bisa ditelisik dari tradisi penggembala nomaden

Mongol yang telah berurat akar selama berabad-abad yang memastikan

kemandirian yang sama baik pria maupun wanitanya. Menurut John Man, wanita

Mongol bahkan hingga saat ini, tidak hanya berdiam di rumah, memasak atau

menjahit baju, serta mengasuh anak, mereka juga mampu berburu dan

menggembala jika merasa perlu melakukannya. Dua pekerjaan terakhir, lazimnya

merupakan tugas kaum pria.38

Ira M. Lapidus mengungkapkan lebih jauh, bahwa antara masyarakat

penetap dan pastoral bukan hanya menjalin hubungan saling mengenal, melainkan

juga telah berkembang dalam relasi perniagaan, produksi, dan juga terlibat dalam

kafilah perdagangan. Seiring berjalannya waktu, warga pastoral sendiri telah

mulai terbiasa hidup seperti warga mukim, dengan membiasakan diri mencari

nafkah melalui pertanian. Kemudian, setelah merasa betah, mereka pun banyak

yang mulai menjadi petani tetap bahkan juga warga perkotaan. Terkadang, mereka

berada dalam jajaran menengah masyarakat, dengan menjadi penguasa serta tuan

tanah.39

Mekipun bangsa Mongol terkenal akan serbuannya yang menyejarah ke

hampir mencakup dua benua, pemimpin Mongol, Jengis Khan telah pandai

membaca situasi yang mengharuskan ia menetapkan suatu undang-undang yang

ditaati oleh seluruh orang Mongol, semata-mata diberlakukan untuk menciptakan

keteraturan. Undang-undang ini dinamakan yasa (alyasak, atau alyasah). Di

38

John Man, Kubilai Khan; Legenda Sang Penguasa Terbesar Dalam Sejarah (Tangerang; Alvabet, 2010) hlm. 11-12.

39

(31)

dalamnya termaktub peraturan yang antara lain menyebutkan bahwa wanita

mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam kemiliteran. Pasukan

perang dibagi ke dalam beberapa kelompok besar maupun kecil, berjumlah seribu,

dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang

komandan.40

D. Konsolidasi Politik Bangsa Mongol

Bangsa Mongol mencapai kemajuan sosial secara mencolok ketika dipimpin

oleh Yasugi Bahadur Khan (Yesugai), setelah sebelumnya hidup secara terpisah

dalam suku-suku kecil. Dengan tidak mengenal lelah, ia menyatukan 13 suku

Mongol di bawah komandonya.41 Yasugi merupakan keturunan dari keluarga

bangsawan tua dari suku Mangkhol. Spuler menyebut bahwa Yasugi merupakan

seorang komandan yang membawahi sepuluh orang dan banyak yang meyakini, ia

merupakan seorang pangeran yang independen. Kehidupannya dipenuhi dengan

pertarungan mempertahankan tanahnya serta kewibawaannya.42 Hal ini tentu

masih berkaitan dengan pola “penertiban” yang dilakukan oleh Dinasti Jin atas

suku-suku nomad. Menginjak tahun 1165, Yasugi mangkat. Ia meninggalkan

beberapa orang anak dan yang tertua bernama Temujin (Jengis Khan), saat itu

berusia 10 tahun. menurut adat Mongol, ia digadang-gadang menjadi pemimpin

Mongol masa depan. Namun, kenyataan belum berjalan sesuai dengan ketentuan

itu. Ia sepenuhnya menyadari bahwa dalam mempertahankan warisan leluhur,

maka ia membutuhkan banyak laskar yang siap membantunya.43

40

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 112.

41

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 112.

42

Bertold Spuler, The Muslim World, hlm. 2-3.

43

(32)

Jengis Khan dikenal sebagai jenderal perang Mongol yang ulung. Ia

mereorganisasi tata kemiliteran Mongol sedemikian rupa sehingga menjadi suatu

kekuatan yang ditakuti oleh lawan-lawannya. Kehidupan stepa yang serba keras,

dipadati dengan latihan berkuda dan berperang menempatkannya sebagai sosok

yang membawa fajar baru bagi bangsa Mongol. Dengan segera ia memugar

kembali kepercayaan kaumnya, lewat pembentukan tentara berkuda yang menjadi

kepanjangan tangannya meraih cita-cita sebagai seorang penguasa yang paling

disegani dalam sejarah.44

Setelah menaklukkan daerah-daerah Cina.45 Pandangan sang Khan kini

mengarah ke Barat. Lewat serangkaian pengaturan arus balik yang teratur,

pasukan berkuda sang Khan mulai merayap keluar dari daerah Cina dan memacu

kudanya ke barat. Beberapa mil di depannya, terdapat daerah Dinasti Khawarizm,

yang kala itu dipimpin oleh Muhammad II. Di masanya Khawarizm sedang

menikmati masa-masa keemasannya. Sejak masuknya wilayah Uighur pada

kekuasaan Jengis Khan pada 1207, Dinasti Khawarizm merupakan lawan terberat

pasukan Khan di samping kekaisaran Cina.46

Ketika mengetahui iring-iringan pasukan Jengis Khan akan menghampiri

negerinya, Muhammad II47, Syah Khawarizm, mengutus seorang utusan yang

membawa surat perdamaian kepada Jengis Khan. Isi surat tersebut adalah

keinginan khalifah Dinasti Abbasiyah untuk menjalin relasi perdagangan dengan

44

Ignatius Erik, Peranan Mongol, hlm.20-22.

45

Stephen Turnbull, Gengghis Khan, hlm. 14-15.

46

Bertold Spuler, The Muslim World, hlm. 8.

47

Sumber lain mengatakan namanya adalah Sultan Alauddin, sedangkan nama Muhammad sendiri menurut Bertold Spuler merupakan Muhammad II dan ada pula yang menyebutnya Alauddin Muhammad yang merupakan syah terbesar dinasti ini. Lihat Badri Yatim, Sejarah

(33)

Mongol. Sumber lain mengatakan bahwa, sebenarnya baik sang utusan maupun

Syah Khawarizm tidak mengetahui isi surat yang ternyata memang berasal dari

Baghdad itu. Sebenarnya, isinya adalah mempersilahkan Jengis Khan menyerang

Khawarizm, bahkan khalifah Baghdad akan membantu pasukan Mongol.

Semuanya kemudian berjalan baik, Khawarizm tidak jadi diserang hingga

suatu ketika pada tahun 1218, konflik antara keduanya pecah. Saat itu Syah

Khawarizm kedatangan tiga pedagang Muslim kaya yang mewakili Jangis Khan

untuk menyampaikan salam hangat kepada Khawarizm, yang dengan bahasa

diplomatik sedemikian halus merujuk pada maksud agar Khawarizm bersedia

menjadi vassal dari Mongol. Syah Khawarizm amat tersinggung dengan ucapan

itu. Segera setelahnya, ia membunuh duta-duta Mongol itu dan merampas

barang-barang karavannya. Pun dengan utusan kedua Mongol yang juga dibunuh, sama

sekali tidak ada rasa bersalah dari sang Syah, malahan hal ini dilakukan untuk

memenuhi kepuasannya.

Menanggapi kabar kematian utusannya, Jengis Khan menganggapnya

sebagai bentuk pelecehan. Tiada kata lain untuk membalasnya, selain

membumihanguskan Khawarizm. Pasukannya segera dibangunkan dan

digerakkan menuju Khawarizm. Sang Syah menempatkan pasukannya di

Samarkand, sedangkan ia memilih bertahan untuk memperkuat bentengnya.

Tentara Khawarizm porak poranda. Yang paling menakutkan adalah apa yang

dikisahkah Ibn al-Atsir dalam al-Kamil fi at-Tarikh-nya terkait pembunuhan yang

dilakukan oleh tentara sang Khan. Setiap tempat yang terdapat manusia, maka di

(34)

juga anak-anak.48 Kala itu, pertempuran melawan Syah diserahkan kapada anak

Jengis Khan, sedangkan sang Khan sendiri memilih menaklukkan Bukhara.

Pasukan Syah mundur hingga ke Balkh lalu ke Nisapur. Ketika Jengis Khan

berhasil menguasai Samarkand. Ia mengirim beberapa detasemen untuk mengejar

Syah Khawarizm. Kisah Syah Khawarizm berakhir dengan tragis, ia ditemukan

mati terbunuh di pulau kecil di Laut Kaspia pada tahun 1220.49 Manurut Badri

Yatim, gelombang kekuatan balasan Khawarizm sempat muncul dan menantang

pasukan Mongol. Kali ini Khawarizm langsung dipimpin oleh Jalaluddin, syah

baru yang juga anak Muhammad. Pertempuran pun segera pecah di Attock pada

tahun 1224. Ketika itu, pasukannya terdesak hebat, Jalaluddin segera melarikan

diri ke India, dari sana pasukan Mongol tetap bergerak hingga sampai di

Azerbaijan.50 Di negeri ini, kerusakan yang terlihat semakin parah. Menurut Ibn

al-Atsir selain mengadakan penghancuran, tentara Mongol juga melakukan

penjarahan harta benda.51

Orang-orang Khawarizm merupakan pemeluk Islam aliran Syiah. Setelah

merasa kedudukannya kuat, mereka mendirikan kerajaan baru, yakni kerajaan

Syah Khawarizm. Orang-orang Muslim Syiah Khawarizm ini kemudian berhasil

mengikat wilayah bagian barat Asia, dari sebelumnya terpecah-pecah menjadi

suatu kesatuan politik. Di sisi lain, para elite kerajaan belum mampu menciptakan

hal yang sama di ranah kehidupan beragama. Hal ini dikarenakan penggantian

Islam Syiah sebagai agama resmi kerajaan menggantikan Islam Sunni yang

48

Ibn al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh; Tarikh, hlm.1914.

49

Karl Brockelman, History of the Islamic, hlm. 240-241.

50

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 113.

51

(35)

menjadi agama resmi di era Turki Seljuk, belum semampunya dapat diterima oleh

semua kalangan. Belakangan masalah ini ternyata menjadi sumber kerapuhan

kerajaan Khawarizm. Umat Islam yang berada di bawahnya memiliki potensi

terkoyak oleh konflik agama.

Selanjutnya, para elite Khawarizm berupaya untuk terus memperlebar sayap

wilayahnya, kali ini pandangan ditujukan ke Baghdad. Namun, cita-cita ini

menemukan jalan terjal bahkan tidak terlaksana sama sekali, oleh karena beberapa

waktu kemudian segala elemen masyarakat kerajaan ini hancur lebur dipukul

serbuan bangsa Mongol.52

52

(36)

27 A.Migrasi Bangsa Mongol

Menginjak tahun 1227, Jengis Khan sudah tidak mampu lagi memacu

kudanya lebih cepat. Agaknya ketuaan telah beberapa tahun sebelumnya

menghantui dirinya. Tepatnya pada 18 Agustus 1227, ia mangkat dengan

meninggalkan istri, anak, keluarga, dan pengikutnya.

Ketika ia meninggal, kerajaan Mongol sudah sedemikian luas terbangun dan

tentu saja bayang-bayang akan tantangan mempertahankan eksistensinya dengan

cepat berhembus. Sudah tentu, mereka yang berhak mewarisi kerja kerasnya itu

adalah anak-anaknya. Jengis Khan dikaruniai empat anak. Kesatuan kerajaan bisa

saja tercerai berai akibat perebutan tahta. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada

bangsa Mongol. Undang-undang Mongol telah menetapkan bahwa anak termuda

diserahi tugas untuk mewarisi kepemimpinan dan menjaga tanah pihak ayahnya.

Dengan kata lain, tanah air atau tanah tumpah darah bangsa Mongol diwariskan

kepada putra termuda yang bernama Tuli.

Sedangkan untuk ketiga anaknya yang lain, Jagatai (Chagatai) mendapatkan

bagian utara dan sebelah timur laut Oxus. Daerah ini lebih dikenal dengan nama

Transoxania. Sedangkan untuk Ogedei diwariskan daerah bagian timur, dan untuk

yang anak tertua, Jochi, diserahi tugas mengurus sebagian besar daerah barat,

(37)

berpulang, kedudukannya digantikan anaknya.53 Semasa hidupnya, Jengis Khan

senantiasa memimpikan kerajaan besarnya berada dalam kesatuan terpusat.

Walaupun dihadapkan pada realitas wilayah yang amat luas, bukanlah dianggap

menjadi masalah utama. Ia tidak menyetujui konsep desentralisasi kekuasaan yang

berarti pula membagi wewenang kekuasaan pada penguasa-peguasa di bawahnya.

Hal tersebut dipahami betul oleh keempat anak Jengis Khan. Salah satu di antara

mereka harus ada yang menduduki Khan Agung tertinggi (Great Khan) yang

membawahi empat wilayah pembagian Mongol.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun 1229, diselenggarakan dewan

rakyat Mongol yang dikenal dengan nama Qurultay. Pertemuan para pemuka

Mongol itu menghasilkan keputusan bahwa Ogedei-lah yang didaulat menjadi

Khan Agung. Sosok Khan Agung ini diceritakan mewarisi kemampuan bertempur

ayahnya. Sikapnya terlihat tenang dan mencerminkan pemimpin yang tidak

gegabah memimpin kerajaan tinggalan ayahnya. Segera ia mengadakan beberapa

tindakan membangun birokrasinya dengan membuat ibukota baru di Qara Qum

(Karakum). Daerah ini dikenal sebagai gurun liar yang diupayakan sebagai

daerah subur tempat tumbuhnya buah-buahan dan sayur mayur yang nantinya

didistribusikan ke Mongolia dan China. Kota ini dikenal pula sebagai salah satu

titik jalur dagang dan memiliki potensi strategis menjalin relasi niaga di antara

India dan Asia Barat.54 Walaupun telah mendapat bagian-bagian, namun nafsu

untuk memperlebar sayap ekspansi belum juga surut di jiwa anak serta keturunan

Jengis Khan. Batu Khan, anak Jochi, setelah membentuk tentara yang kuat mulai

53

Bertold Spuler, The Muslim World, hlm. 10-11.

54

(38)

memberangkatkan pasukannya menyerbu Rusia, Polandia, Bulgaria, dan

Magyar/Hongaria (di Eropa Timur). Sesampainya di pintu gerbang Eropa tersebut

hasratnya tak kunjung padam, ia mengarahkan pandangan untuk menaklukkan

Konstantinopel. Namun begitu, agaknya ia harus memendam cita-citanya. Ia

mangkat sebelum pasukannya menyentuh kota itu.55

Salah satu episode perang yang menarik adalah ketika tentara berkuda

Mongol pimpinan Ogodei dihadang oleh kawanan kavaleri gajah

Turki-Khawarizm, sebagaimana yang diceritakan oleh Juvaini (Juwaini?):56

And when the path of combat was closed to them, and the two parties had become entangled on the chess board of war, and the valiant knights were no longer able to manoeuvre their horses upon the plain, they threw in their elephants; but the Mongols did not turn tail, on the contrary, with their King-checking arrows they liberated those who were held in check by the elephants until broke up the ranks of the infantry. When the elephants had received wounds ami were of no more use than the foot soldiers of chess, they turned back, tramping many people underneath their feet.

(ketika jejak pertempuran menghampiri mereka, pergerakan dua pasukan menjadi seperti perang di papan catur. Manuver berkuda prajurit Mongol tertahan dan hanya mengitari tanah datar, mereka memanahi gajah-gajah tersebut. Mongol tidak terpengaruh dengan mengekor pasukan musuhnya. Malahan, dibawah kendali raja mereka, serangan panah dialamatkan ke gajah sehingga menyebabkan kerusakan bagi infantri musuh. Pasukan gajah tersebut menghancurkan infantri catur. Pasukan bergajah berbalik menuju prajurit musuh dan mencederai banyak orang yang dilewati sang gajah).

Bagaikan menjalankan bidak catur, ketika mengetahui pergerakan pasukan

berkuda terhenti oleh dominasi pasukan gajah Khawarizm, alih-alih mengadakan

serangan mengekor, yakni melalui belakang, pasukan Mongol yang kala itu

dipimpin oleh Jochi, memilih menghujani pasukan gajah dengan panah. Ketika

55

Hamka, Sejarah Umat Islam jilid III (Bukittinggi: N. V. Nusantara, 1961), hlm. 24.

56

(39)

gajah-gajah panik, para pawangnya tidak bisa mengendalikannya dan sang gajah

berbalik menghancurkan infantri Khawarizm.

Setelah memperoleh kemenangan yang gilang gemilang di Khawarizm,

pasukan Mongol melanjutkan penaklukan atas seluruh Persia. Bukan hanya

kawasan landai, pasukan Mongol juga menghampiri dataran tinggi Mesopotamia

dan menghancurkan kekuatan-kekuatan yang menentangnya. Gruzia (Georgia)

pun ditundukkan dan Anatolia dihancurkan. Semua pemuka wilayah serta

rakyatnya menyatakan tunduk di depan Mongol. Tak berhenti sampai di situ.

Pintu gerbang Eropa pun didobrak, yakni ketika Rusia digempur, Polandia dijajah

dan Hongaria dibuat menderita. Iring-iringan Mongol pun sampai di pintu

gerbang Wina (Austria). Namun, kelanjutan penaklukan Eropa nyatanya belum

terpenuhi ketika Ogodei berpulang. Eropa pun mengelus dada tanda selamat dari

petaka pasukan Mongol. Sebagai bentuk pengakuan atas kehebatan Mongol

menyentuh Eropa, Paus Innocent IV memberi izin kepada Universitas Paris untuk

membuka program bahasa asing, yaitu Arab dan Tatar. Selain itu, Paus juga

mengirimkan duta-dutanya secara berkala ke istana Qara Qum, sehingga seorang

rahib dari ordo Frasiskan bisa mengikuti upacara penahbisan raja Mogol

(Mongulistan), Goyuk. Mogol atau Moghulistan merupakan pecahan dari keluarga

Chagatay.

Sepeninggal Ogedei, tampuk kepemimpinan sempat diserahkan kepada

istrinya yang bernama Toregene dan tak lama kemudian tahta tersebut diserahkan

kepada Guyuk. Sesuatu yang nantinya menimbulkan ketegangan di antara

(40)

ketidaksepakatannya dengan pengangkatan Guyuk.57 Sama seperti kakeknya, Batu

juga dikenal sebagai penakluk ulung. Golden Horde merujuk pada pengikut Jochi

yang berarti Gerombolan Emas.58

Sepeninggal putra tertua Jengis Khan, Jochi, pada 1227, wilayahnya

diwariskan kepada putra sulungnya, Orda. Daerah kekuasaannya yang meliputi

bagian barat sungai Irtish di Siberia, daerah yang paling jauh dari pusat

pemerintahan Khan Agung di Qara Qum. Menurut sejarawan Persia abad 13,

Juwaini, daerah ini disebut juga “sejauh daerah yang pernah diinjak oleh kaki

kuda Mongol”. Orda mendapat bagian Siberia barat dan koridor wilayah di antara

sungai Amu Darya dan Irtish yang dikenal sebagai “wilayah sayap timur ulus

Jochi”. Setelahnya, daerah ini dikenal sebagai tempat berdiamnya Gerombolan

Putih (White Horde) dan Gerombolan Biru (Blue Horde). Di kemudian hari,

wilayah tersebut jatuh ke tangan Batu yang langsung mengonsolidasikan

kekuasaannya di daerah barat-cabang paling barat dari kekaisaran Mongol. Kedua

gerombolan ini digabungkan menjadi suatu gerombolan baru bernama

Gerombolan Emas (Golden Horde) yang nantinya segera mengadakan ekspansi

wilayah. Menginjak tahun 1235, Batu memperoleh kesempatan pertamanya untuk

mewujudkan mimpinya. Ogedei menunjuknya sebagai komandan pasukan

Mongol sebesar 150.000 orang untuk menundukkan bangsa Bulgar di Sungai

Volga dan bangsa Kipchak. Bangsa Bulgar merupakan bangsa nomaden yang

kebanyakan dari mereka telah memeluk Islam dan mendirikan negara/kerajaan

dengan ibukotanya di Bulgar, terletak di pertemuan sungai Volga dan Kama.

57

Bertold Spuler, The Muslim World, hlm. 14.

58

(41)

Mereka hidup di tenda dan menggantungkan kehidupannya dengan beternak,

berdagang bulu binatang dan budak di pasar-pasar Ma wara’a al-nahr yang

nantinya ditukar dengan persenjataan dan barang manufaktur. Sedangkan bangsa

Kipchak merupakan konfederasi penggembala Turki yang kuat dan mendiami

wilayah stepa bagian sebelah utara laut Kaspia, membentang dari Siberia barat

hingga sungai Danube.

Ma wara’a al-nahr atau “tempat di balik sungai” dalam peta atlas modern

dimulai dari wilayah yang termasuk dalam bekas jajahan Uni Soviet yang

kemudian membentuk negara-negera merdeka di Asia Tengah mulai dari

Uzbekistan, Kazakhstan, Turkmenistan, Tajikistan terus membentang hingga

mencapai Xinjiang barat laut di China. Daerah ini dikenal pula dengan nama

Transoxiana yang di tengah-tengahnya terdapat lorong daratan selebar 500 Km

yang diapit dua sungai terbesar di Asia Tengah, Amu Darya dan Sir Darya, atau

nama klasiknya Oxus dan Jaxarte.59

Lewat serangkaian serangan sistemastis bangsa Bulgar dapat ditaklukkan

dan kotanya pun dihancurkan. Ketika pasukan sampai di wilayah Kipchak,

mereka sempat tertahan oleh gelombang aksi heroik pejuang Kipchak yang

langsung dikomandoi oleh pemimpinnya Bachman. Namun keadaan tersebut tidak

bertahan lama, tembok pertahanan kokoh yang digalang pasukan Kipchak berhasil

dijebol dan dengan cepat pasukannya ditundukkan. Batu melanjutkan serangannya

hingga mencapai sungai Ural pada tahun 1237, melintasi Rusia dan

menghancurkan kota-kota besar seperti Moskow dan Kiev, yakni dengan

59

(42)

mengadu domba para pangeran Rusia yang telah terpecah belah. Pasukan terus

berlanjut menaklukkan Polandia hingga Wina.60 Di kemudian hari Golden Horde

pimpinan Batu menjadi pasukan Mongol yang disegani baik di antara keluarga

maupun musuh-musuhnya.

Di bagian timur jauh, keturunan Jengis Khan lainnya pun sedang

mengusahakan suatu dominasi atas Cina. Dimulai dari Mongke, putra Tului, yang

mengusahakan kekuasaan atas negeri ini. Ambisinya terhenti dengan kematiannya

pada 6 September 1259. Cita-citanya diteruskan oleh adiknya Kubilai dan Aryg

Boge. Setelah melewati beberapa peperangan penting Kubilai berhasil merebut

tahta tertinggi Cina dan menjadi kaisar sekaligus mendirikan dinasti baru, yakni

dinasti Yuan. Pada perkembangannya, Yuan amat identik dengan tradisi dan

budaya Cina ketimbang Mongol.61

B. Konflik antar Khaniyah Mongol

Persatuan sejatinya sudah tidak melihat lagi pengedepanan hasrat pribadi.

Kekuasaan yang sedemikian luas, ditambah dengan banyaknya

bangsawan-bangsawan Mongol yang memiliki ambisi pribadi untuk selangkah lebih terdepan

dibanding saudaranya yang lain menyebabkan persatuan yang sebelumnya telah

berhasil diwujudkan kini mendapat ancaman keretakan. Pun ketika mengetahui

Goyuk, putra Ogedei akan ditunjuk menjadi Khan Agung menggantikan ayahnya,

hati Batu seakan tidak terima dan memutuskan untuk berseberangan dengan

saudara-saudaranya yang lain. Pada akhirnya kedua pangeran Mongol tersebut

60

Justin Marozzi, Timur Leng, hlm. 85-86.

61

(43)

harus merelakan jabatan Khan Agung yang ternyata ditetapkan kepada Mongke,

putra sulung Tului, yang juga masih mewarisi darah Jengis Khan.62

Jika pertikaian sudah melanda kalangan elitenya, maka dengan serta merta

ikut pula memecah belah kebersatuan bangsa Mongol. Pertikaian Batu dengan

pangeran Mongol tersebut, pertanda perpecahan ternyata akan berkepanjangan

dan merusak ikatan keluarga antara Jochi dan Tului di satu sisi dan antara Ogedei

dan Chagatay di sisi lainnya. Batu sendiri memiliki ambisi pribadi untuk

menduduki istana Qara Qum yang bermakna pula menjadi Khan Agung. Untuk

itu, hal ini pula yang mendorong Batu tidak meneruskan ekspansinya ke bagian

barat dan memilih kembali untuk menghadiri sidang Qurultay yang memiliki

agenda pemilihan khan baru, di mana permasalahan itu menghabiskan beberapa

tahun lamanya. Jika saja Ogedei mampu hidup lebih lama, maka dapat dipastikan

kekuasaan Mongol akan sampai pada tepi pantai Samudra Atlantik.

Selain untuk memastikan jabatan Khan Agung baginya, ia juga bermaksud

menetapkan kerajaan dan wilayahnya sendiri. Sejak tahun 1242 hingga 1254, ia

menyibukkan diri membangun ibukotanya, Sarai Lama, di tepi timur sungai

Akhtuba yang merupakan anak sungai Volga, kira-kira seratus kilometer barat

laut Astrakhan. Setelah kemenangan atas Rusia dan Eropa, hasil tersebut

kemudian diperuntukkan bagi dirinya seorang, yang berarti pula semakin luasnya

daerah kekuasaannya, dari yang sebelumnya hanya berada pada wilayah utara laut

Kaspia yang sederhana memanjang mencakup daerah barat daya Nizhniy,

Novgorod dan Voronezh di Rusia hingga Kiev di Ukraina serta ungai Prut di

62

(44)

perbatasan Rumania. Di timur, pengaruhnya terpancang meliputi Khawarizm dan

kota Urganch yang terkenal.63

Walaupun telah mendirikan pusat kekuasaannya sendiri, api pertikaian

antara Batu dan Guyuk belum juga padam. Menurut Brockelmann, Guyuk terlibat

perang terbuka dengan Batu di Balkan, sesaat setelah dirinya ditahbiskan menjadi

Khan Agung. Sekitar dua tahun berselang, Batu melancarkan serangan ke bagian

barat kekuasaan Guyuk. Kebetulan Guyuk berada tidak jauh dari iring-iringan

pasukan Batu. Didorong oleh api kemarahan yang membakar, Guyuk memacu

kudanya beserta pasukannya dan terlibat pertarungan dengan saudara sepupunya

itu. Pertempuran mencapai akhirnya ketika Batu berhasil membunuh Guyuk.64

Setelah Batu mangkat pada sekitar tahun 1255 atau 1258, tampuk khan

Golden Horde diberikan kepada Berke, adiknya. Sang Khan baru mendirikan kota

baru lainnya, Saray Baru, yang juga berada di tepi sungai Akhtuba di sebelah

timur Volgograd. Saray Baru dipilih menjadi ibukota baru ketika khan

Gerombolan Emas ini dijabat oleh Uzbek yang memerintah mulai tauh 1313

hingga 1341 yang juga menjadi puncak kegemilangan Golden Horde. Pada masa

itu, pasukan Golden Horde berhasil memukul mundur pasukan Mongol Chagatay

sekaligus memasukkan wilayah kekuasaan Chagatay ke dalam wilayah Golden

Emas. Di wilayah ini terhampar potensi niaga yang besar yakni adanya jalur

perdagangan yang menghubungkan Asia dengan Eropa. Sekitar tahun 1330, Ibn

Battuta sempat mengunjungi kota ini dan menemukan sebuah kota kosmopolitan

yang luar biasa dihuni oleh orang Mongol, Kipchak, Sirkassia, Rusia, dan Yunani,

63

Justin Marozzi, Timur Leng, hlm. 87.

64

(45)

masing-masing hidup di komunitasnya sendiri. Saat itu, di Saray Baru sudah

berdiri tiga belas gereja dan sejumlah masjid. Ibn Battuta mengatakan bahwa kota

ini merupakan “salah satu kota terbaik yang sangat luas, terletak di dataran yang

dipenuhi dengan warga yang menyelenggarakan pasar besar, jalannya pun terlihat

lebar.”

Sepeninggal Uzbek, tahta kerajaan diamanatkan kepada anaknya, Janibeg,

yang mulai berkuasa pada tahun 1337. Di masa pemerintahannnya, potensi

masyarakat dan daerahnya dilemahkan oleh serbuan Wabah Hitam yang

membunuh sekitar 80.000 orang hanya di daerah Crimea saja, dan belum di

daerah lainnya. Golden Horde pun berada di masa kemundurannya. Serangkaian

pertikaian antar bangsawan keturunan Batu menyebabkan keutuhan kerajaan

semakin tidak terkendali lalu kemudian terpecah menjadi wilayah-wilayah

merdeka yang saling bermusuhan.65

Konflik internal tidak saja melanda Gerombolan Emas, namun juga

menghancurleburkan persatuan keluarga Mongol Chagatay. Sekitar akhir abad ke

13, ketegangan serius mulai muncul di wilayah Chagatay. Saat itu, terjadi

perselisihan antara bangsawan Mongol yang memilih cara hidup menetap, baik di

kota maupun desa, sebagian besar berasal dari Ma wara’a al-nahr, mereka adalah

Mongol yang Muslim dengan saudara mereka yang mempraktikkan pola hidup

militer pengembara, mendiami wilayah timur dan yang masih menyembah

berhala. Bangsawan pengembara mencibir Mongol penetap sebagai bukan

Mongol sejati melainkan hanya peranakan. Sedangkan Mongol penetap

65

(46)

menganggap mereka yang masih hidup mengembara sebagai jete, perampok, atau

jat.

Semakin lama, pertikaian ini semakin sulit dilerai, malah semakin

menumbuhkan kebencian di antara kedua Mongol beda profesi ini. Ketegangan

semakin membesar dengan adanya penerapan sistem keistimewaan yang diberikan

kepada kaum militer oleh khan. Keistimewaan ini membebani masyarakat yang

hidup di bawah kemiskinan. Mereka dipaksa memberikan makanan, pakaian, dan

persenjataan bagi tentara.66

Pun di bagian Timur Jauh, kegemilangan yang dicapai oleh Kubilai,

ternyata mengundang api perselisihan dengan saudaranya seperjuangan dulu,

Aryq Boge. Sepeninggal Mongke, Aryg Boge ditengarai berambisi menjadi Khan

Agung menggantikan kakaknya. Hal tersebut diketahui oleh Kubilai yang juga

berhasrat menjadi Khan Agung. Jabatan ini tentu saja akan semakin meningkatkan

reputasinya sebagai salah satu penguasa dunia yang

Gambar

Gambar 1: Peta Kekuasaan Kekaisaran Mongol
Gambar 2: Para Keturunan Jenghis Khan
Gambar 3: Ilustrasi Pasukan Mongol
Gambar 5: Kehidupan padang rumput
+2

Referensi

Dokumen terkait