Persatuan sejatinya sudah tidak melihat lagi pengedepanan hasrat pribadi. Kekuasaan yang sedemikian luas, ditambah dengan banyaknya bangsawan-bangsawan Mongol yang memiliki ambisi pribadi untuk selangkah lebih terdepan dibanding saudaranya yang lain menyebabkan persatuan yang sebelumnya telah berhasil diwujudkan kini mendapat ancaman keretakan. Pun ketika mengetahui Goyuk, putra Ogedei akan ditunjuk menjadi Khan Agung menggantikan ayahnya, hati Batu seakan tidak terima dan memutuskan untuk berseberangan dengan saudara-saudaranya yang lain. Pada akhirnya kedua pangeran Mongol tersebut
60
Justin Marozzi, Timur Leng, hlm. 85-86.
61
harus merelakan jabatan Khan Agung yang ternyata ditetapkan kepada Mongke, putra sulung Tului, yang juga masih mewarisi darah Jengis Khan.62
Jika pertikaian sudah melanda kalangan elitenya, maka dengan serta merta ikut pula memecah belah kebersatuan bangsa Mongol. Pertikaian Batu dengan pangeran Mongol tersebut, pertanda perpecahan ternyata akan berkepanjangan dan merusak ikatan keluarga antara Jochi dan Tului di satu sisi dan antara Ogedei dan Chagatay di sisi lainnya. Batu sendiri memiliki ambisi pribadi untuk menduduki istana Qara Qum yang bermakna pula menjadi Khan Agung. Untuk itu, hal ini pula yang mendorong Batu tidak meneruskan ekspansinya ke bagian barat dan memilih kembali untuk menghadiri sidang Qurultay yang memiliki agenda pemilihan khan baru, di mana permasalahan itu menghabiskan beberapa tahun lamanya. Jika saja Ogedei mampu hidup lebih lama, maka dapat dipastikan kekuasaan Mongol akan sampai pada tepi pantai Samudra Atlantik.
Selain untuk memastikan jabatan Khan Agung baginya, ia juga bermaksud menetapkan kerajaan dan wilayahnya sendiri. Sejak tahun 1242 hingga 1254, ia menyibukkan diri membangun ibukotanya, Sarai Lama, di tepi timur sungai Akhtuba yang merupakan anak sungai Volga, kira-kira seratus kilometer barat laut Astrakhan. Setelah kemenangan atas Rusia dan Eropa, hasil tersebut kemudian diperuntukkan bagi dirinya seorang, yang berarti pula semakin luasnya daerah kekuasaannya, dari yang sebelumnya hanya berada pada wilayah utara laut Kaspia yang sederhana memanjang mencakup daerah barat daya Nizhniy, Novgorod dan Voronezh di Rusia hingga Kiev di Ukraina serta ungai Prut di
62
perbatasan Rumania. Di timur, pengaruhnya terpancang meliputi Khawarizm dan kota Urganch yang terkenal.63
Walaupun telah mendirikan pusat kekuasaannya sendiri, api pertikaian antara Batu dan Guyuk belum juga padam. Menurut Brockelmann, Guyuk terlibat perang terbuka dengan Batu di Balkan, sesaat setelah dirinya ditahbiskan menjadi Khan Agung. Sekitar dua tahun berselang, Batu melancarkan serangan ke bagian barat kekuasaan Guyuk. Kebetulan Guyuk berada tidak jauh dari iring-iringan pasukan Batu. Didorong oleh api kemarahan yang membakar, Guyuk memacu kudanya beserta pasukannya dan terlibat pertarungan dengan saudara sepupunya itu. Pertempuran mencapai akhirnya ketika Batu berhasil membunuh Guyuk.64
Setelah Batu mangkat pada sekitar tahun 1255 atau 1258, tampuk khan Golden Horde diberikan kepada Berke, adiknya. Sang Khan baru mendirikan kota baru lainnya, Saray Baru, yang juga berada di tepi sungai Akhtuba di sebelah timur Volgograd. Saray Baru dipilih menjadi ibukota baru ketika khan Gerombolan Emas ini dijabat oleh Uzbek yang memerintah mulai tauh 1313 hingga 1341 yang juga menjadi puncak kegemilangan Golden Horde. Pada masa itu, pasukan Golden Horde berhasil memukul mundur pasukan Mongol Chagatay sekaligus memasukkan wilayah kekuasaan Chagatay ke dalam wilayah Golden Emas. Di wilayah ini terhampar potensi niaga yang besar yakni adanya jalur perdagangan yang menghubungkan Asia dengan Eropa. Sekitar tahun 1330, Ibn Battuta sempat mengunjungi kota ini dan menemukan sebuah kota kosmopolitan yang luar biasa dihuni oleh orang Mongol, Kipchak, Sirkassia, Rusia, dan Yunani,
63
Justin Marozzi, Timur Leng, hlm. 87.
64
masing-masing hidup di komunitasnya sendiri. Saat itu, di Saray Baru sudah berdiri tiga belas gereja dan sejumlah masjid. Ibn Battuta mengatakan bahwa kota ini merupakan “salah satu kota terbaik yang sangat luas, terletak di dataran yang dipenuhi dengan warga yang menyelenggarakan pasar besar, jalannya pun terlihat lebar.”
Sepeninggal Uzbek, tahta kerajaan diamanatkan kepada anaknya, Janibeg, yang mulai berkuasa pada tahun 1337. Di masa pemerintahannnya, potensi masyarakat dan daerahnya dilemahkan oleh serbuan Wabah Hitam yang membunuh sekitar 80.000 orang hanya di daerah Crimea saja, dan belum di daerah lainnya. Golden Horde pun berada di masa kemundurannya. Serangkaian pertikaian antar bangsawan keturunan Batu menyebabkan keutuhan kerajaan semakin tidak terkendali lalu kemudian terpecah menjadi wilayah-wilayah merdeka yang saling bermusuhan.65
Konflik internal tidak saja melanda Gerombolan Emas, namun juga menghancurleburkan persatuan keluarga Mongol Chagatay. Sekitar akhir abad ke 13, ketegangan serius mulai muncul di wilayah Chagatay. Saat itu, terjadi perselisihan antara bangsawan Mongol yang memilih cara hidup menetap, baik di kota maupun desa, sebagian besar berasal dari Ma wara’a al-nahr, mereka adalah Mongol yang Muslim dengan saudara mereka yang mempraktikkan pola hidup militer pengembara, mendiami wilayah timur dan yang masih menyembah berhala. Bangsawan pengembara mencibir Mongol penetap sebagai bukan Mongol sejati melainkan hanya peranakan. Sedangkan Mongol penetap
65
menganggap mereka yang masih hidup mengembara sebagai jete, perampok, atau
jat.
Semakin lama, pertikaian ini semakin sulit dilerai, malah semakin menumbuhkan kebencian di antara kedua Mongol beda profesi ini. Ketegangan semakin membesar dengan adanya penerapan sistem keistimewaan yang diberikan kepada kaum militer oleh khan. Keistimewaan ini membebani masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan. Mereka dipaksa memberikan makanan, pakaian, dan persenjataan bagi tentara.66
Pun di bagian Timur Jauh, kegemilangan yang dicapai oleh Kubilai, ternyata mengundang api perselisihan dengan saudaranya seperjuangan dulu, Aryq Boge. Sepeninggal Mongke, Aryg Boge ditengarai berambisi menjadi Khan Agung menggantikan kakaknya. Hal tersebut diketahui oleh Kubilai yang juga berhasrat menjadi Khan Agung. Jabatan ini tentu saja akan semakin meningkatkan reputasinya sebagai salah satu penguasa dunia yang berpengaruh. Selain menjadi kaisar atas Cina, negeri yang memiliki peradaban teragung dan tersohor di balahan dunia manapun, posisi Khan Agung akan semakin menahbiskan dirinya sebagai satu-satunya penguasa tertinggi bagi seluruh orang Mongol, bangsa yang dikenal sejarah memiliki reputasi menakutkan sepanjang sejarah umat manusia.
Dikatakan demikian mengingat Mongol merupakan bangsa yang tak pandang bulu menghancurkan lawannya, membunuh, merampok dan hanya menjadikan hal itu sebagai keharusan. Setelah melakukan hal itu, mereka tidak memiliki cita-cita untuk membangun wilayah taklukkan itu kembali. Baru pada
66
keturunan Mongol berikutnya yang telah berakulturasi dengan budaya lain sadar akan pembangunan peradaban. Pada akhirnya, Kubilai berhasil memenangkan perburuan gelar dan menjadi Khan Agung selanjutnya.67
Di balik pertikaian-pertikaian yang terjadi antar pemuka Mongol ini, terdapat benang merah yang dapat ditarik, yakni bangsa Mongol menjadi penguasa terbesar di seluruh dunia. Kendati sebelumnya lebih banyak mempraktikkan pola hidup pastoral atau nomaden, beberapa dari mereka mulai tersadar bahwa untuk melanggengkan nama serta kerja keras yang mereka lakukan selama ini maka membangun suatu peradaban merupakan langkah yang harus diwujudkan selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan berbagai ibukota yang menjadi sentral kekuasaan.
Batu membangun Saray Lama, Kubilai Khan meenjadi penguasa Cina dan menandai kelahiran dinasti baru yakni Yuan. Di masa-masa setelahnya, kekuatan bangsa pastoral yang bukan saja berasal dari suku Mongol pun mampu membuat peradaban. Negeri-negeri Asia Tengah mulai disanjung karena keindahannya ketika Timur Leng bertahta di Samarkand, bahkan bangunan gaya Timuriyah (yakni dengan atap menyerupai kubah dan didominasi oleh warna biru) menjadi inspirasi pembangunan istana Kremlin Russia.68 Belum lagi tentang pasukan Turki Seljuk yang menjadi momok menakutkan bagi kerajaan Byzantium. Kekalahan pasukan Salib, pada serentetan Perang Salib juga terjadi ketika tidak mampu menandingi manuver tajam pasukan Seljuk. Bahkan dalam pertempuran Manzikert yang terjadi tahun 1071, Turki Seljuk berhasil mengalahkan
67
Bertold Spuler, The Muslim World, hlm. 22.
68
Byzantium.69 Perebutan Konstantinopel pada 1453, oleh Muhammad II, Sultan Turki Usmani, menjadi pembuktian bahwa bangsa stepa memiliki formula jitu sebagai penguasa dunia.70
Selain Mongol, saudara mereka, bangsa Turki juga sebelumnya menjalani hidup sebagai bangsa berkuda yang mendiami kawasan Asia Tengah. Belakangan ketika mereka telah semakin berkembang karena ditempa pengalaman, mereka kerapkali bersitegang dan saling berebut pengaruh. Ikatan persaudaraan ketika di padang rumput dahulu, agaknya semakin memudar oleh karena agenda politik masing-masing.
Kendati kerap terjadi silang pendapat dan tak jarang berakhir dengan perang saudara, Mongol telah membuktikan diri sebagai bangsa besar yang sejarahnya mampu menandingi penguasa besar lainnya dalam sejarah manusia, seperti Alexander Agung, Napoleon Bonaparte, Frederick The Great atau Harun al-Rasyid. Hanya saja perbincangan mengenai Mongol kerapkali lebih dikedepankan hanya seputar kesadisan serta “piramida manusia” yang kerap dibuatnya ketika menaklukkan suatu kota.
Seakan tak mau kalah dengan saudara-saudaranya yang dikenang sejarah sebagai penakluk besar, Hulagu Khan memiliki ambisi pula untuk menjadi khan yang memiliki jalannya sendiri. Sematan Mongol dalam dirinya serta pasukan berkudanya belakangan lebih dikenal dengan Tatar. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, sebutan Tatar kerapkali digunakan secara bergantian
69
Tim Penulis, Perang yang Mengubah Sejarah; Buku Pertama: dari Pertempuran
Megiddo (1457 SM) hingga Blenheim (1704) (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2013) hlm.
135.
70
dengan Mongol. Hulagu mengukir sejarahnya sendiri sebagai penakluk kekhilafahan Baghdad yang juga memiliki peradaban besar, tak kalah dengan Cina.