Keberadaan bangsa Mongol di Baghdad menyisakan pilu yang berkepanjangan. Dunia Islam seperti menemukan masa akhirnya. Ibukota yang merupakan simbol pencapaian terbaik dalam sejarah panjang umat Islam kini terkoyak oleh serangan pasukan berkuda dari Asia Tengah. Kebakaran bukan hanya melanda bangunan fisik semata, namun ikut pula menghanguskan harapan serta cita-cita masyarakat Baghdad. Badai serangan bangsa Mongol menghempaskan kota ini hingga sampai pada titik nadirnya. Berbagai dampak negatif mulai datang setelah beberapa waktu setelah jatuhnya kota ini.
Merujuk pada penejelasan Peter Burke, perubahan sosial dapat dimaknai pula sebagai fase regresif (kemunduran) dari suatu kerajaan atau kepemerintahan. Seringkali faktor internal, seperti penaklukkan, memicu lahirnya perubahan sosial. Jatuhnya kekaisaran Romawi di tangan orang Barbar pada abad 3 M misalnya, merupakan contoh yang relevan. Hampir sama seperti kasus Baghdad, saat itu, sebelum didatangi pasukan Barbar, Romawi mengalami krisis yang tidak saja
terdapat di pemerintah pusat melainkan juga pemerintah daerah. Serangan Barbar menyebabkan jatuhnya pemerintahan pusat, berkurangnya peranan kota-kota dan meningkatnya kecenderungan untuk memberdayakan ekonomi dan politik lokal.108
1. Dampak Politik
Kejatuhan Baghdad merupakan momok menakutkan dalam sejarah Islam. Kisah-kisah kelam yang menyertainya bagaikan deretan panjang catatan hitam yang tidak terhitung. Langit-langit peradaban semakin pekat oleh ketakutan manusia. Perbaikan fisik dan mental kiranya tidak bisa diupayakan dalam waktu yang singkat. Kekeruhan bukan hanya membayangi kondisi masyarakat kota Baghdad melainkan dunia Islam pada umumnya.
Kondisi perpolitikan pasca serangan bangsa Mongol dengan cepat berubah. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, munculnya bangsa Mongol sebagai kekuatan baru benar-benar menjadi ancaman serius bagi negeri-negeri Islam lainnya. Serangkaian penaklukan yang telah dimulai sejak masa Jengis Khan hingga cucunya Hulagu Khan telah mengacaukan alunan ritme kepemimpinan kerajaan-kerajaan Islam. Puncaknya, pada 1258, ketika Baghdad ditaklukkan, kondisi perpolitikan Islam yang semula memang telah terpecah, menjadi kian terpisah disertai dengan ketakutan yang sangat.
Namun begitu, di balik setiap kejatuhan tentunya akan timbul suatu kebangkitan. Di tengah haru biru kengerian masyarakat Islam di belahan dunia Arab dan sekitarnya, muncul fenomena politik yang tergolong baru, utamanya
108
Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, Terj. Mestika Zed dkk, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011) hlm. 204 dan 207.
menyangkut siapa subyeknya. Kejatuhan Baghdad benar-benar menjadi bukti bahwa bangsa Mongol memiliki DNA untuk menjadi penguasa peradaban Islam serta pemimpin Muslim di dunia. Dikatakan demikian oleh karena terlepas dari kekejaman yang ditimbulkannya, mereka telah berhasil menghempaskan kekuatan-kekuatan bangsa yang sejak lama dikenal sebagai pengawal keberlangsungan peradaban Islam di kancah global.
Bangsa Arab menjadi bangsa pertama yang memimpin tumbuh kembang Islam. Mulai kelahiran Islam hingga berakhirnya Dinasti Umayyah menjadi momen sepak terjang bangsa Arab dalam perpolitikan Islam. Berganti pada berdiri dan berkembangnya Dinasti Abbasiyah menjadi pembuktian bangsa Persia dan Turki bahwa mereka juga memiliki potensi menjadi pemimpin atas seluruh dataran Islam. Baik Arab maupun Persia telah mampu menyihir dunia berkat kerja kerasnya membangun kemegahan Islam sehingga menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan dunia.109
2. Dampak Sosial
Kedatangan bangsa Mongol ke Baghdad merupakan petaka besar dalam sejarah Islam. Pembantaian-pembantaian yang terjadi menjadi pemandangan yang amat memilukan. Hampir di setiap jalan-jalan kota dipenuhi dengan mayat. Ibarat gerombolan serigala lapar, bangsa Mongol berlarian mengejar penduduk kota berbekal pedang dan senjata pembunuh lainnya. Jerit ketakutan mewarnai langit kota, saling sahut menyahut sungguh memilukan. Mereka yang mati bukan hanya karena terkena sayatan pedang atau hujaman panah, melainkan banyak pula yang
109
mati dengan cara lainnya, seperti ditenggelamkan. Banyak dari penduduk ada yang setelah ditangkap oleh pasukan Mongol kemudian digiring ke sungai Tigris lalu ditenggelamkan. Jumlah korban yang dicatat dalam sejarah sampai pada kisaran 800.000 orang. Laki-laki, wanita, dan anak-anak meregang nyawa di jalanan maupun di rumah. Pembakaran terjadi di mana-mana, sehingga membuat aktivitas kota lumpuh total. Begitu mengetahui kota ini telah porak poranda, barulah pembunuhan dihentikan. Pasukan Hulagu bersiap untuk melanjutkan ekspedisinya.110
Pembunuhan yang seakan tiada berujung itu ikut pula membawa dampak buruk bagi segi perekonomian kota ini. Baghdad selain dikenal sebagai ibukota umat Islam, sekaligus simbol peradaban Islam, juga diperkaya dengan sektor industrinya. Kota ini memiliki 400 buah kincir air, 4.000 pabrik gelas dan 30.000 kilang keramik. Selain itu, di kota ini juga berdiri industri barang-barang mewah (lux). Kota ini juga dipenuhi dengan aneka ragam pasar seperti pasar besi, pasar kayu jati, pasar keramik, pasar tekstil, dan sebagainya.
Selain itu, pemerintah kota Baghdad juga memberikan fasilitas-fasilitas yang memanjakan kafilah-kafilah dagang. Di jalan-jalan yang biasa dilalui para saudagar banyak dibangun sumur dan tempat istirahat. Pengamanan juga diperkuat untuk melindungi armada dagang dari para bajak laut. Upaya ini amat berguna dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri. Sungai Tigris dan Eufrat pun tidak ketinggalan, semakin diramaikan kapal-kapal dagang asing. Dengan begitu, bisa dikatakan, Baghdad merupakan salah satu pusat dari
110
J.J. Saunders, A History of Medieval Islam (t. tp: Taylor & Francis e-Library: 2002) hlm. 182-183.
perdagangan dunia.111 Serbuan bangsa Mongol membuat sektor pengiriman barang dari dan ke Baghdad menjadi lumpuh. Dengan tidak adanya aktivitas ini, dapat dipastikan kehidupan ekonomi masyarakat Baghdad telah hancur lebur. Pasar-pasar juga bisa dipastikan sepi, mengingat banyak orang yang menjadi korban. Langkanya sumber penghasilan ikut pula membawa masyarakat Dinasti Abbasiyah yang masih tersisa mengalami masa-masa ekonomi sulit yang berarti pula hilangnya kesejahteraan sosial.
Diakui oleh Philip D. Curtin, kejatuhan Baghdad membawa dampak yang buruk bagi perkembangan kota ini kedepannya. Posisi Baghdad yang merupakan jalur penting dalam peta perdagangan Cina-Mediterania kehilangan masa keemasannya. Bahkan, dalam perdagangan di Samudera Hindia, Dinasti Abbasiyah sebelumnya dikenal memiliki hubungan erat dalam aktivitas perdagangan maritim dengan Cina. Pasca serbuan bangsa Mongol, daerah-daerah di Irak dan Iran amat lambat dalam mengejar ketertinggalannya. Akibatnya posisi Baghdad sebagai titik penting jalur dagang kemudian diambil alih oleh daerah Muslim lainnya. Sebagai gantinya, dikenallah tiga pusat kekuatan dagang dunia yakni Eropa-India-Cina. Kiblat perdagangan Muslim dunia dengan kata lain digantikan salah satunya oleh India.112
3. Dampak Peradaban
Baghdad bukan hanya memiliki arti sebagai pusat pemerintahan Islam, melainkan juga adalah salah satu wajah peradaban Islam tertinggi. Baghdad merupakan Ctesiphon baru yang dikemas melalui peradaban Islam yang panjang.
111
A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 241-242.
112
Philip D. Curtin, Cross-cultural Trade in World History (Cambridge: Cambridge University Press, 2002) hlm. 91, 106-107 dan 121.
Ctesiphon merupakan ibukota Persia kuna yang amat terkenal sejak masa pra Islam. Perpindahan kekuasaan kerajaan Persia ke tangan umat Islam tidak lantas memudarkan pesona Persia yang dahulu kala menjadi penantang utama peradaban Yunani kuna.
J. J. Saunders mengungkapkan bahwa Baghdad merupakan kiblat kehidupan intelektual bangsa Arab. Kota ini tidak ubahnya rumah kuna kebudayaan (the ancient home of culture) sejak peradaban Sumeria kuna. Kota ini juga merupakan titik pertemuan kebudayaan Hellenis (Yunani) dengan Persia. Di kota ini hidup berbagai penganut kepercayaan dengan rukun. Beberapa kepercayaan yang tumbuh subur di Baghdad selain Islam antara lain Yahudi, Zoroaster, Nestorian, Monofisit, Kristen Ortodoks Yunani, Gnostik, Manichean, penganut pagan Harran dan sekte Mandaean.
Selain dikenal sebagai rumah besar lintas kepercayaan, Baghdad juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan yang terkemuka. Keberadaannya ditopang oleh kota setelit Basra dan Kufah yang kala itu dikenal sebagai pusat kajian filologi (studi naskah) Arab dan hukum Islam (fiqih). Adalah al-Ma’mun, khalifah Dinasti Abbasiyah yang membangun dan mengembangkan pusat riset besar Baitul Hikmah. Dalam komplek ini bukan hanya dapat ditemukan observatorium, melainkan dilengkapi pula dengan perpustakaan dan universitas. Manusia dari berbagai ras dan kepercayaan membanjiri Baghdad untuk melanjutkan studinya. Hal ini semakin menandaskan Baghdad sebagai kotanya para sarjana dan gelar ini terus disandangnya hingga kota ini luluh lantak oleh
serangan bangsa Mongol.113 Jatuhnya Baghdad merupakan pukulan telak bagi perkembangan peradaban Islam. Serangan yang bertubi-tubi disertai pembunuhan yang banyak dilakukan sudah barang tentu membuat aktivitas keilmuan lumpuh. Mandegnya roda intelektual di kota ini sudah tentu menjadi gangguan serta ancaman bagi keberlangsungan peradaban Islam. Banyak para sarjana dan guru-gurunya menemui ajal di bawah pedang bangsa Mongol.
Banyak buku-buku yang menjadi simbol kemajuan peradaban Islam kala itu dirusak. Sebagian yang lainnya dibuang di sungai Tigris. Pengetahuan-pengetahuan yang dipelihara dari masa ke masa, melalui catatan serta buku-buku yang tersimpan di Baitul Hikmah hilang selamanya. Benda-benda bersejarah dari peradaban Mesopotamia, Persia, dan Arab dijarah dan menghilang dari tempat penyimpanan. Apa yang dilakukan Mongol bukan hanya pembantaian, tetapi juga upaya menghapus Baghdad dari peta peradaban umat manusia.114
Bangunan-bangunan yang merupakan simbol kemegahan peradaban Islam pun tidak luput dari penghancuran. Baghdad yang menjadi pusat peradaban dunia abad ke-13 sebelumnya banyak dipenuhi oleh bangunan-bangunan indah dan megah. Di kota ini terdapat beberapa istana raja yang mengagumkan sekaligus menjadi ikon kemajuan peradaban pada masanya. Khlifah al-Mansur membangun istana di pusat kota bernama Qashr al-Zahab (istana emas) yang luasnya mencapai 160.000 hasta. Sedangkan masjid jami’ yang dibangun di depannya seluas 40.000 hasta persegi. Kota ini dikelilingi pagar bertembok kokoh yang kuat
113
J. J. Saunders, History of Medieval Islam, hlm. 191-192.
114
Azeem Beg Chugtai, Dastan, Drame, Mazamin (Lahore: Sang-e Mil, 1997) hlm. 7-13.
Bab Zaval-e Baghdad (The Fall of Baghdad), diterjemahkan oleh Azhar Abidi dalam The Annual
of Urdu Studies,vol.18, 2003hlm. 533-534. Diunduh dari http://www.urdustudies.com/pdf/18/47
lagi tinggi. Terdapat empat pintu masuk pada empat penjuru. Kota ini dilengkapi pula dengan taman-taman bunga, kolam pemandian, ribuan masjid dan tempat rekreasi.115
Serangan ini tentu amat merugikan dan dianggap sebagai kemunduran masa kejayaan Islam. Baghdad, di atas segala bentuk intrik politiknya, merupakan kota indah yang senantiasa dibanggakan sebagai wadah peradaban umat manusia. Penghancuran-penghancuran atas bangunan-bangunan megah Baghdad mengakibatkan kerugian tersendiri bagi umat Islam di belahan dunia manapun.
Serbuan Mongol ke penjuru negeri Muslim membawa dampak yang besar bagi perkembangan kelompok mereka sendiri. Datangnya bangsa Mongol ke wilayah-wilayah belahan Barat dan Timur Asia, selain didorong oleh nafsu invasi, juga dilatarbelakangi oleh semangat merubah nasib dan peruntungan.
Persentuhan budaya melalui perdagangan dengan saudagar Muslim dan Cina yang kebetulan berniaga atau lewat di daerah kekuasaan Mongol, iikut menggugah orang Mongol untuk mendapat status kemulyaan yang kemudian dihormati bangsa lain. Perjumpaan dengan pedagang, iring-iringan perjalanan kerajaan, maupun orang berstatus di luar kelompok mereka akan selalu memancing pemikiran mereka untuk setidaknya mengikuti unsur luar yang mereka anggap baik. Pola kehidupan padang rumput yang serba keras dan sulit mendorong mereka untuk mendapatkan sesuatu yang lebih untuk memenuhi kebutuhan mereka.
115
82 A. Kesimpulan
Keberadaan bangsa Mongol dalam lembaran sejarah Islam menempati posisi tersendiri. Kehadiran mereka kerapkali dianggap sebagai penghancur peradaban Islam dan penghukum para raja-raja maupun khalifah yang menjelang abad ke-13 tengah menikmati masa-masa kenikmatan di atas perpecahan politik di bawah kuasa Dinasti Abbasiyah. Barisan tempur mereka yang bersisikan penunggang berbusur menjadi momok menakutkan bagi setiap negeri-negeri Islam yang dilewatinya.
Sebagaimana telah diutarakan, ketika pasukan bangsa Mongol, terhitung sejak masa Jengis Khan, memasuki dunia Islam, keadaan umat Muslim telah mengalami perpecahan. Masing-masing amir atau kepala daerah membebaskan diri dari khalifah Baghdad, walaupun dalam praktiknya mereka masih mengakui kekuasaan khalifah Dinasti Abbasiyah secara simbolik yakni dengan pengiriman upeti bagi pemerintah pusat. Namun begitu, tidak ada upaya khalifah dan jajarannya untuk mempererat hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Masing-masing pihak mengurusi pemerintahanya sendiri-sendiri secara independen.
Terputusnya komunikasi antara Baghdad dengan daerah-daerah bawahannya ditengarai karena adanya masalah kronis dalam tubuh internal kepemerintahan Baghdad. Pertikaian yang terjadi antar golongan (Arab, Persia,
dan Turki) hampir selama perjalanan sejarah Dinasti Abbasiyah menjadi masalah yang ikut serta memperkecil wibawa pemerintah di mata para pemuka daerah. Belum lagi pertikaian lain yang dilatarbelakangi oleh visi keagamaan, seperi Sunni dan Syia’h yang juga mulai memengaruhi jalannya pemerintahan. Kompetisi yang membekukan dinamika kerajaan ini membawa efek buruk bagi Dinasti Abbasiyah. Di luar kota, daerah-daerah telah melepaskan diri dan di dalam kota pun masyarakat terbelah ke dalam beberapa faksi (kelompok) politik.
Kondisi perpolitikan yang tidak nyaman tersebut membawa dampak buruk bagi masyarakat luas. Kesejahteraan sosial yang sebelumnya dirasakan, perlahan mulai sulit dijumpai. Begitu pula dengan fungsi instansi-instansi lainnya, berangsur-angsur mangkir dari tugasnya sehingga sistem keamanan kerajaan menjadi longgar. Hal lain ditunjang dengan karakter masyarakat kota, sebagaimana yang disampaikan Ibn Khaldun, menyerahkan sepenuhnya keamanan kota kepada pemerintah. Di sisi lain pemerintah yang dipercayai untuk menangani masalah itu malah sibuk dengan agenda pribadinya, yakni saling berebut pengaruh di pusat.
Kondisi masyarakat yang abai terhadap sistem keamanan kota juga terlihat di Baghdad. Sebagaimana diketahui, Baghdad bukan saja merupakan pusat pemerintahan Islam melainkan juga pusat perdagangan dunia juga menjadi kiblat intelektual termuka seantero dunia Islam. Bisa dibayangkan, bagaimana tingginya tingkat kesibukan manusia di sana. Aktivitas niaga yang mereka lakukan dan kegiatan belajar mengajar membutuhkan ketenangan tersendiri. Untuk itu, sistem
keamanan kota yang memadai seyogyanya dibutuhkan untuk menunjang beragam aktivitas di kota metropolis ini. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.
Kondisi sosial masyarakat yang mengidap penyakit itu, diketahui oleh bangsa Mongol, yang pasca mangkatnya Jengis Khan, masih rajin melakukan ekspansi wilayah. Kemunculan mereka di panggung sejarah dilatarbelakangi oleh motif penguasaan wilayah sekaligus penegakkan kedaulatan. Setelah berhasil menundukkan sebagian besar Asia Tengah, mereka mulai meluaskan sayapnya ke wilayah barat, tempat dunia Muslim berada. Adalah Hulagu Khan, cucu Jengis Khan, yang melanjutkan ekspansinya hingga menghencurkan Baghdad, ibukota dinasti Abbasiyah pada 1258 M.
Akibat yang ditimbulkan dari serangan ini amatlah besar. Paling tidak dampak dari serangan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga; dampak politik, dampak sosial dan dampak peradaban. Di bidang politik, munculnya bangsa Mongol sebagai salah satu kekuatan yang diperhitungkan menemukan momentum puncaknya ketika berhasil menaklukkan Baghdad, sebagai simbol dari kedudukan tertinggi dari kepemimpinan Islam. Walaupun sebelumnya, langkah penaklukan negeri-negeri Muslim telah dilakukan oleh Jengis Khan, apa yang telah dilakukan Hulagu Khan terhadap Baghdad merupakan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Mongol. Sebagaimana diketahui, politik Islam sejak masa awalnya memunculkan Arab sebagai aktor intelektualnya, dilanjutkan oleh kompetitor lain, yakni bangsa Persia dan Turki. Walaupun Hulagu bukanlah seorang Muslim, namun para pemimpin besar Islam berikutnya banyak yang berdarah Mongol, Timur Lenk misalnya.
Dampak besar lainnya terjadi di wilayah sosial. Banyaknya korban yang jatuh di kota Baghdad menyebabkan hampir semua sektor kehidupan lumpuh total. Salah satu bencana yang paling dirasakan umat Islam adalah kehancuran sektor ekonomi. Baghdad merupakan salah satu pusat perdagangan dunia. Kedudukannya dalam jalur dagang Cina ke Mediterrania amat penting dalam peta perniagaan dunia. Bukan hanya di daratan namun juga di lautan. Hancurnya Baghdad menandai masa akhir kebesaran perdagangan Dinasti Abbasiyah yang dengan cepat diambil alih oleh kerajaan atau negeri Islam lainnya. Kemilau Baghdad sebagai berkumpulnya para pedagang dunia agaknya menemui saat-saat kritisnya.
Dampak besar lainnya adalah dampak peradaban. Sebagaimana dijelaskan, Baghdad merupakan kota peradaban dunia, bukan hanya sejak masa Islam tetapi sejak masa terdahulu, yakni Persia kuna. Di sanalah dua peradaban besar Hellenisme dan Persia bertemu lantas dikembangkan bersama-sama dalam payung Islam. Salah satu produk peradaban yang penting adalag ilmu pengetahuan. Baitul Hikmah merupakan bukti keseriusan Dinasti Abbasiyah dalam merawat dan mengembangkan sains dan ilmu pengetahuan. Tempat ini menjadi magnet penarik bagi para pelajar di seluruh belahan dunia untuk melanjutkan studi. Serangan pasukan Hulagu Khan nyatanya tidak sebatas pada pembantaian manusia, namun juga penghapusan peradaban, yakni dengan menghancurkan lembaga-lembaga pendidikan, observatorium, dan laboratorium. Belum lagi upayanya membakar dan meruntuhkan bangunan-bangunan simbol ketinggian peradaban seperti
masjid, istana, makam suci, dan taman kota mengakibatkan kemunduran besar dalam peradaban Islam.
B. Saran-Saran
Studi yang telah dilakukan penulis merupakan satu dari kajian-kajian yang telah terlebih dahulu mengupas sejarah bangsa Mongol. Tidak bisa dipungkiri, kendati mereka bukan berasal dari daerah penghasil wacana kebesaran Islam, seperti Arab dan Persia, bahkan identik dengan anggapan bangsa keras, bengis dan kejam, mereka memiliki kontribusi dalam kemajuan peradaban Islam. Berdirinya dinasti Ilkhan dan beberapa dinasti lain yang memiliki darah keturunan Mongol merupakan bukti sejarah yang tak terbantahkan.
Telaah yang telah penulis ketengahkan ini, memang belum lengkap menampilkan potret masa lalu Mongol secara lengkap dan dalam. Harapan penulis, semoga di masa depan, tulisan ini dapat mengilhami atau mendorong para sejarawan ataupun akademisi lintas disiplin ilmu untuk mengkaji bangsa Mongol secara lebih dinamis dan kaya.
87 Dauliyyah, tanpa tahun).
Al-Baladhuri , Ibn Jabir, Kitab Futuh Al-Buldan of al-Imam Abul ‘Abbas Ahmad ibn-Jabir al-Baladhuri Part IItransl. Francis Clark Murgotten(New York: Columbia University, 1924).
Sumber Sekunder
Ackermann, Marsha E. dkk, ed, Encyclopedia of World History; The Expanding World 600 c.e. to 1450, vol. II (New York: Facts On File, 2008).
Brockelmann, Carl L., History of The Islamic Peoples (London: Routledge & Kegan Paul, 1949).
Burke, Peter. Sejarah dan Teori Sosial, Terj. Mestika Zed dkk, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011).
Curtin, Philip D. Cross-cultural Trade in World History (Cambridge: Cambridge University Press, 2002).
Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah (Tangerang: Logos Wacana Ilmu, 1999).
Enan, M. A., Detik-Detik Menentukan dalam Sejarah Islam (Surabaya: Bina Ilmu, 1979).
Fouda, Farag, Kebenaran yang Hilang, Terj. Novriantoni (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina dan Dian Rakyat, 2008).
Gottschalk, Louis, Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto (Jakarta: UI Press, 2006).
Hamka, Sejarah Umat Islam jilid III (Bukittinggi: N. V. Nusantara, 1961).
Hasan, Hasan Ibrahim, Tarikh al-Islam al-Siyasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa al- Ijtima’i Juz 4 (Kairo, Maktabah an-Nahdhlatul Misriyyah, 1968).
Hitti, Phillip K., History of Arabs (Jakarta: Serambi, 2008). Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang, 1995) .
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam jilid I (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999).
Le Strange, Guy, Baghdad During The Abbasid Caliphate (Oxford, Clarendon Press, 1900).
Man, John, Jenghis Khan Legenda Sang Penakluk dari Mongolia (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2009).
Man, John, Kubilai Khan; Legenda Sang Penguasa Terbesar Dalam Sejarah
(Tangerang; Alvabet, 2010).
Marozzi, Justin, Timur Leng; Panglima Islam Penakluk Dunia (Bandung: Mizan, 2013).
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1 (Jakarta: UI Press, 1985).
Saepudin, Didin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007). Saunders, J. J., A History of Medieval Islam (t. tp: Taylor & Francis e-Library:
2002).
Spuler, Bertold, History of The Mongols (London: Routledge & Kegan Paul, 1972).
Syalabi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam jilid 3 (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1993).
SY, Ignatius Erik, Peranan Mongol terhadap Keruntuhan Kepangeran Rus Kiev tahun 1237 – 1240 (skripsi) (tidak diterbitkan, 2009).
Tim Penulis, Perang yang Mengubah Sejarah; buku pertama: dari pertempuran Megiddo (1457 SM) hingga Blenheim (1704) (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2013).
Tohir, Muhammad, Sejarah Islam Dari Andalus Sampai Indus (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981).
Turnbull, Stephen, Gengghis Khan and The Mongol Qonquest 1190-1400 (Great Britain: Osprey Publishing, 2003).
Vernandsky, George, The Mongol and Russia (New Haven: Yale University Press, 1953).
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006). Razak, Yusron, ed, Sosiologi Sebuah Pengantar; Tinjauan Pemikiran Sosiologi
Perspektif Islam (Ciputat: Laboratorium Sosiologi Agama, 2008)
On Line
Chugtai, Azeem Beg, Dastan, Drame, Mazamin (Lahore: Sang-e Mil, 1997) hlm. 7-13. Bab Zaval-e Baghdad (The Fall of Baghdad), diterjemahkan oleh Azhar Abidi dalam The Annual of Urdu Studies,vol.18, 2003 hlm. 533-534. Diunduh dari http://www.urdustudies.com/pdf/18/47AbegChughtai Baghdad.pdf. pada hari Jumat, 13 September 2013, pukul 2.18.
di Cosmo, Nicola, “Mongols and Merchants on The Black Sea Frontier in the Thirteenth and Fourteenth Centuries: Convergences and Conflicts” dalam
http://www.storia.unipd.it/PROFILI/MATERIALE/MATERIALIDIDAT TICI/1235484113174559878946449.pdf. diakses pada pukul 13.24 hari Kamis 15 Agustus 2013.
http://www.mongabay.com/history/mongolia/mongoliaorigins_of_the_mongols_e arly_development,_ca_220_bc-ad_1206.html diunduh pada tanggal 15 Juli 2013 pukul 09.47.
Tagghudai, Gulugjab, “General Concept in Mongol persona”, hlm.2, dari http:// webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:AH3OObJL8M8J:silve rhorde.viahistoria.com/GeneralConceptsInMongolPersona.pdf+&cd=1&h l=en&ct=clnk, diunduh pada tangal 14 Juli 2013, pukul 14.08.