Daftar Pustaka
Alamsyah, A. A., (2008). Rekayasa lalu Vintas, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang
Bowoputro. Hend1., Arifin. M. Zainul., dkk. 2014. Kajian Arus Jenuh Pada Simpang Bersinyal Di Kota Malang Bagian Selatan. Vol. 8, No.2, Teknik Sipil. Universitas Brawijaya. Jawa Timur.
Chand, Subhash., Gupta, J, Neelam., Kumar, Nimesh. Analysis of Saturation Flow at Signalized Intersections in Urban Area. Civil Engineering. Deaprtment NIT Hamirpur. New Delh1.
D, Hobbs, F., 1995. Z Perencanaan dan Teknik Valu lihtas, GadjahMada University Press, Yogyakarta.
Direktorat Jenderal Bina Marga., 1997. Manual Katasitas Jalan Indonesia (MKJId1997. Departeman Pekerjaan Umum. Jakarta.
Direktorat Jendral Perhubungan Darat., 1999. Pedoman Perencanaan dan Pengoterasian Valu Vintas di Wilayah Perkotaan. Dirjen Bina Marga, Jakarta.
Dhebys., dkk. 2016. Penggunaan Vissim Model Pada Jalur Lalu Lintas Empat Ruas. Vol. 7, No. 1, Jurnal Teknologi Informasi. Universitas Politeknik Negeri Malang.
Khisty Jotin, C. kent Lall, B., 2005. Dasar-Dasar Permodelan Transportasi, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Planung Transport Verkehr AG., 2007. Vissim 5.0 User Manual. Planung Transport Verkehr AG PTV, Germany.
Putranto, S, Leksmono., 2013. Rekayasa Lalu Lintas Edisi 2, Penerbit Indeks, Jakarta.
Putri Haryanti, N. Irawan Zudhy, M. 2015. Mikrosimulasi Mixed Traffic Pada Simpang Bersinyal Dengan Perangkat Lunak Vissim. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Masykur., Anggraini. Renni., Caisarina. Irin., 2014. Analisis Arus Jenuh Dasar Pada Simpang Bersinyal Berlengan Empat Dengan Lalu Lintas Campuran Di Kota Banda Aceh. Vol. 3, No. 3., Teknik Sipil. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Bagan Alir Penelitian
Dalam penyelesaian studi ini maka studi penelitian ini dapat dibagi ke
dalam beberapa tahapan/langkah seperti flow chart sebagai berikut:
Mulai
Tahap Pengumpulan
A
b. Data Sekunder : Data jumlah penduduk kota Medan yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik a. Data Primer:
Geometrik jalan Waktu siklus sinyal
lalu lintas
Panjang antrian
lapangan
Volume lalu lintas dan jenis kenderaan
Perumusan Masalah
Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian A
Tahap analisis data:
menurut pedoman MKJI 1997 dengan menggunakan metode Time Slice
Tahap Simulasi Lalu Lintas Menggunakan Software VISSIM
Kesimpulan dan Saran
3.2. Studi Lalu Lintas
Studi ini dimulai dengan melakukan pengumpulan bahan literatur dan
data-data sekunder yang berkaitan dengan penelitian yang akan
dilakukan.Program kerja yang akan dilakukan dalam menyelesaikan penelitian
ini, dijelaskan sebagai berikut ini:
3.2.1. Waktu Penelitian
Survei dilakukan pada jam sibuk (teak hour) selama 3 hari dalam seminggu dengan pengambilan hari untuk masing-masing simpang ditentukan
oleh hari apa saja yang dianggap sibuk menurut kenyataan yang ada.
Pelaksanaan survei dan pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali dalam 1
hari, yaitu pada pagi hari pukul 08.00 – 09.00 WIB, siang hari pukul 12.00 –
13.00 WIB dan sore hari pukul 17.30 – 18.30 WIB.
Pengambilan hari untuk simpang Karya Wisata, diambil yaitu hari senin,
selasa dan hari jum’at. Ketiga hari ini dipilih untuk mewakili hari dalam 1
minggu. Untuk simpang HDTI pengambilan hari diambil pada hari senin,
jum’at dan sabtu. Ketiga hari ini dianggap adalah hari mulai kerja dan hari akhir
pekan.
3.2.2. Lokasi Penelitian
Studi ini mengambil lokasi survei pada simpang Karya Wisata dan
simpang HDTI (Hotel Danau Toba Internasional), yang merupakan suatu
persimpangan berlengan tiga dan berlengan empat. Simpang Karya Wisata
yaitu simpang yang terdapat diantara jalan A.H Nasution – jalan Karya Wisata.
Simpang Karya Wisata ini merupakan simpang yang menghubungkan
kota. Simpang HDTI yaitu simpang yang terdapat diantara jalan Imam Bonjol –
jalan Zainul Arifin – jalan Palang Merah. Simpang HDTI ini adalah
persimpangan yang berada di tengah kota yang banyak terdapat perkantoran.
(lihat Gambar 3.1 dan 3.2).
Gambar 3.2 Lokasi Survey Simpang Karya Wisata
Sumber: www.google.earth.com (2016d
Gambar 3.3 Lokasi Survey Simpang HDTI (Hotel Danau Toba Internasional)
Penelitian ini dilakukan di kedua simpang yang terlihat pada gambar 3.2
dan 3.3 dengan pengambilan data sebanyak 3 kali dalam satu hari dan di lakukan
selama 3 hari.
Pemilihan lokasi persimpangan Karya Wisata dengan pertimbangan yaitu
lokasi tersebut memiliki volume lalu lintas yang tinggi karena simpang tersebut
merupakan akses menuju jalan ringroad yang terdapat banyak pertokoan sehingga
banyak kenderaan dari jalan AH.Nasution yang melewati jalan tersebut.
Pemilihan lokasi persimpangan HDTI dengan pertimbangan yaitu lokasi
tersebut mempunyai volume lalu lintas yang tidak terlalu tinggi, sehingga tidak
sering terjadinya kemacetan lalu lintas. Lokasi ini terdapat di tengah kota yang
diawasi cctv dan polisi, sehingga pengguna jalan dapat tertib dan tidak melanggar
lampu lalu lintas.
3.3. Rencana Penelitian
3.3.1 Perancangan dan Pelaksanaan Survei Pendahuluan
Pada metode time slice data diambil selama pelaksanaan survei dan
dibagi per satuan interval waktu untuk mendapatkan kondisi lalu lintas yang
terjadi.
Untuk memperkuat hasil penelitian maka dilakukan pelaksanaan survei
lapangan untuk memperoleh volume lalu lintas yang terjadi pada simpang
tersebut. Pelaksanaan survei dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai arus
Survei pendahuluan dilakukan dengan mengambil data geometrik
simpang yaitu lebar pendekat lengan (WA), lebar masuk (WENTRY), lebar keluar
(WEXIT) dan lebar lajur belok kiri (WLTOR). Pelaksanaan pengukuran data
geometrik simpang dilakukan pada malam hari ketika arus lalu lintas mulai sepi
untuk menghindari terganggunya arus lalu lintas.
3.3.2 Perancangan dan Pelaksanaan Survei Penelitian
Pelaksanaan survei dilakukan dengan metode time slice. Pada proses analisis arus jenuh interval dengan metode time slice, membagi data lalu lintas pada setiap waktu hijau kondisi jenuh per satuan waktu (misalnya per selang
waktu 6 detik) dan diambil rata-rata arus jenuh yang bebas dari pengaruh
kehilangan waktu (lost time). Pelaksanaan survei ini akan memperoleh data primer dan data sekunder yang diperlukan dalan penelitian..
Data primer diperoleh dengan cara melakukan survei langsung terhadap
simpang yang akan diteliti guna menyelesaikan maupun mencapai tujuan yang
akan dipakai untuk melakukan analisa dan pengolahan data.
Data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Data sekunder yang
diperlukan dalam penelitian ini meliputi data peta simpang dan jumlah penduduk
kota Medan. Data ini diperlukan untuk mengetahui kondisi masing-masing
simpang serta diperlukan untuk fungsi yang lain.
3.3.2.1. Penyiapan Alat, Surveyor dan Bahan Survei
Selama pelaksanaan survey diperlukan ±12 orang surveyor dan 2 orang
pengawas penelitian. Surveyor akan dibagi dalam beberapa kelompok untuk
orang surveyor yang mempunya tugasnya masing-masing. Pada setiap kaki
simpang, terdapat 3 surveyor yang bertugas yaitu 1 orang untuk menjaga kamera,
dan 2 orang yang bertugas untuk mengukur dan mencatat panjang antrian
kenderaan yang terjadi.
Setelah surveyor lengkap maka disiapkan peralatan yang akan digunakan
selama peneliitian berlangsung. Penyiapan alat diperlukan untuk mendapatkan
data primer maupun data sekunder. Adapun alat dan bahan yang perlu disiapkan
yaitu:
1. Kamera atau Handycam, digunakan untuk merekam arus lalu lintas yang
terjadi pada masing-masing simpang tersebut
2. Tripot, digunakan untuk tempat berdirinya kamera ataupun handycam.
3. Alat ukur panjang, digunakan untuk mendapatkan data geometrik simpang
dan untuk mengukur panjang antrian yang terjadi.
4. Alat tulis menulis atau formulir data, digunakan untuk mecatat data yang
akan diperoleh.
3.3.3. Pengambilan Data
Pengambilan data dengan cara mengambil rekaman video menggunakan
alat yang tersedia. Data yang diperoleh ditulis didalam format pengumpulan data
yang telah dibuat agar mudah untuk mengetahui data apa saja yang diperlukan
untuk penelitian tersebut.
Berdasarkan cara memperolehnya, data yang dibutuhkan dalam
3.3.3.1. Data Primer
Pengambilan data dilakukan meng
dan handycam. Alat perekam tersebut akan dihidupkan ketika dimulai
pengamatan dilakukan. Perletakan alat diletakkan di median jalan sehingga dapat
menjangkau setiap kaki simpang
Gambar 3.4
Gambar 3.
Pengambilan data dilakukan menggunakan alat perekam yaitu kamera
dan handycam. Alat perekam tersebut akan dihidupkan ketika dimulai
pengamatan dilakukan. Perletakan alat diletakkan di median jalan sehingga dapat
kaki simpang yang akan diteliti (lihat Gambar 3.3 dan 3.4
Skema Letak Alat Bantu pada simpang Karya Wisata
Gambar 3.5 Skema Letak Alat Bantu pada simpang HDTI
Letak HandyCam
dan handycam. Alat perekam tersebut akan dihidupkan ketika dimulai
pengamatan dilakukan. Perletakan alat diletakkan di median jalan sehingga dapat
yang akan diteliti (lihat Gambar 3.3 dan 3.4).
Skema Letak Alat Bantu pada simpang Karya Wisata
Skema Letak Alat Bantu pada simpang HDTI
Data primer diperoleh dari alat perekam yang dipasang, kemudian hasil
rekaman di putar kembali untuk menghitung volume arus lalu lintas yang terjadi
selama waktu pelaksanaan survei.
Pengambilan data panjang antrian kenderaan yang terjadi dilakukan
selama lampu merah menyala sampai lampu merah habis. Panjang antrian
kenderaan diukur dari garis penyebrangan (zebracross) sampai kenderaan yang terakhir datang selama lampu merah menyala.
Dengan menggunakan stopwatch, lamanya sinyal dicatat dengan pertama
sekali melakukan waktu merah, hijau dan kuning. Pengambilan data siklus lampu
lalu lintas dilakukan sebanyak tiga kali berturut-turu dalam waktu yang berbeda.
Dalam hal ini dilakukan pada saat pagi dan sore tujuannya untuk mengetahui
apakah ada perubahan lama waktu sinyal pada waktu tertentu.
Data panjang antrian lapangan dan data untuk analisa arus jenuh
dikumpulkan dalam formulir pengumpulan data. Formulir pengumpulan data
Contoh formulir pengumpulan data:
Formulir Arus Jenuh
SIKLUS Jumlah Arus (kend/jam)
INTERVAL (detik) KB KR SM
3.3.3.2. Data Sekunder
Data yang diperlukan pada penelitian ini adalah gambaran/sketsa jalan
yang akan disurvei serta data banyaknya penduduk kota Medan. Selain itu, data
yang diperlukan juga merupakan peta lokasi penelitian yang diperoleh dari
googlemats, google earth, maupun dari komputer mat source.
3.3.4. Analisa Data
Setelah dilakukan survei di lapangan, maka diperoleh data yaitu data
volume kenderaan, waktu siklus lalu lintas dan jenis kenderaan. Data tersebut
dikumpulkan dan diolah kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan
yang sesuai dengan kondisi aktual yang ada dilokasi survei. Data volume
kenderaan terbagi atas 3 jenis kenderaan, yaitu kenderaan ringan (LV), kenderaan
berat (HV), dan sepeda motor (MC).
Tahapan analisis data yang dilakukan adalah:
3.3.4.1. Analisa Arus Jenuh
Data yang diperoleh dari hasil survei menggunakan kamera dan
handycam adalah waktu siklus lalu lintas dan data arus lalu lintas. Data volume
kenderaan yang diperoleh dari hasil survei di lapangan, dilakukan analisa arus
jenuh menggunakan metode MJKI 1997. Nilai arus jenuh dihitung terhadap
masing-masing kaki simpang.
Setelah dilakukan analisa nilai arus jenuh tersebut diperoleh, maka akan
disajikan dalam bentuk diagram arus jenuh untuk melihat hubungan antara waktu
siklus dan banyaknya kenderaan yang melewati simpang tersebut. Pada diagram
ini akan terlihat perbedaan pergerakkan kenderaan yang terjadi pada setiap
Diagram arus jenuh pergerakan kenderaan digambarkan melalui grafik
perbandingan antara waktu siklus lalu lintas (detik) di sumbu x dengan banyaknya
kenderaan yang lewat (smp) di sumbu y. Data waktu siklus lalu lintas diperoleh
dari akumulasi masing-masing sinyal lalu intas selama waktu pelaksanaan survei,
sedangkan banyaknya kenderaan diperoleh dari akumulasi jumlah kenderaan yang
melewati simpang tersebut.
Setiap kaki simpang yang akan diteliti digambarkan melalui diagram arus
jenuh untuk menunjukkan pola pergerakan lalu lintas yang terjadi pada
masing-masing kaki simpang dimana setiaap pola pergerakan akan memperlihatkan
informasi keadaan lalu lintas di simpang tersebut dan mengetahui kapasitas yang
mampu di tampung oleh simpang tersebut.
Penggambaran diagram arus jenuh dilakukan untuk masing-masing
simpang yang ada dan berdasarkan masing-masing fase yang terjadi pada
persimpangan tersebut. Pada satu diagram arus jenuh adalah data yang diperoleh
dari satu siklus lampu lalu lintas yang terjadi pada masing-masing kaki simpang.
3.3.4.2. Analisa Nilai Arus Jenuh Berdasarkan Metode Time Slice
Analisa nilai arus jenuh berdasarkan metode time slice ini dilakukan dengan cara mengambil data arus jenuh yang paling maksimum dari
masing-masing kaki simpang selama berlangsungnya survei kemudian membagi dalam
satuan waktu (misalnya 6 detik). Dari data tersebut dapat digambarkan diagram
arus jenuh berdasarkan setiap selang waktu 6 detik.
Data untuk membuat metode time slice diperoleh dari hasil rekaman yang telah ada dan dicacah berdasarkan perencanaan yang ada, misalnya per 6 detik.
selang waktu yang telah ditentukan. Kemudian dapat digambarkan diagram time slice dan diambil rata-rata arus yang terjadi pada setiap kaki simpang. Dengan menggunakan diagram time slice, maka dapat diperoleh jumlah maksimum kenderaan yang terjadi dan pada detik ke- berapa yang terjadi nilai arus jenuh
maksimum.
3.3.4.3. Analisa Nilai Panjang Antrian
Analisa panjang antrian dilakukan berdasarkan metode MKJI 1997. Data
panjang antian diolah menggunakan rumus-rumus yang ada. Analisa panjang
antrian dilakukan untuk mengetahui panjang antrian yang terjadi di lapangan
sesuai atau tidaknya menurut MKJI 1997.
Setelah dilakukan pengolahan panjang antian dengan metode time slice, dilakukan mikrosimulasi menggunakan software VISSIM untuk mendapatkan panjang antrian yang terjadi berdasarkan software VISSIM kemudian diketahui perbandingan panjang antrian kenderaan yang terjadi di lapangan dan yang terjadi
pada software VISSIM.
3.3.5. Simulasi program VISSIM
Simulasi menggunakan software VISSIM memiliki kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan keadaan yang terjadi di lapangan. Pada software
ini ada parameter yang dapat disesuaikan dengan keadaan lapangan yaitu lebar
jalan, jumlah lajur, sinyal lalu lintas, jumlah kenderaan dan jenis kenderaan.
pada kenyataannya di lapangan kenderaan yang melewati simpang tersebut tidak
beraturan atau tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Kenyataan lapangan yang tidak sesuai dengan software VISSIM contohnya yaitu banyaknya lajur yang ada pada suatu ruas jalan, yang seharusnya dua atau
tiga dapat menjadi lebih dari yang seharusnya. Kenyataan lain yang tidak sesuai
yaitu penggunaan sinyal lalu lintas, banyak kenderaan yang menerobos sinyal lalu
lintas sehingga menyebabkan kemacetan juga. Pada kenyataan ini tidak dapat di
atur pada software VISSIM, karena software VISSIM hanya menjalankan simulasi dengan keadaan yang teratur dan tertib lalu lintas.
Simulasi menggunakan software ini, dapat dilihat perubahan dan perbedaan yang terjadi ketika pada simpang tersebut tertib lalu lintas. Setelah
dijalankan simulasi berdasarkan data yang ada di lapangan kemudian simulasi
juga dapat dilakukan kembali dengan mengubah beberapa parameter yang ada,
misalnya parameter sinyal lalu lintas, lebar jalan, dan lainnya sehingga didapatkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Geometrik Persimpangan
a. Simpang Karya Wisata
Data geometik pada simpang Karya Wisata dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Geometrik Simpang Karya Wisata
Data pendekat setiap kaki simpang yang dipakai adalah lebar efektif (We).
Pada simpang bersinyal ini, semua pendekat menggunakan type
Terlindung (P), dimana:
1. Pada pendekat A dan C WLTOR < 2m dalam hal ini kenderaan LTOR
tidak dapat mendahului antrian kenderaan lainnya selama sinyal
merah.
b. Simpang HDTI (Hotel Danau Toba Internasional)
Data geometik pada simpang Karya Wisata dapat dilihat pada gambar 4.2.
Kaki simpang Jl. Karya Wisata
Kaki Simpang Jl. Ah.Nasution
Barat Kaki
Simpang Jl. Ah.Nasution
Timur
Gambar 4.2 Geometrik Simpang Hotel Danau Toba Internasional (HDTI)
4.2. Waktu Sinyal dan Fase Pergerakan
Pada simpang Karya Wisata ini, menggunakan pengaturan 3 (tiga) fase.
Fase pergerakan pada simpang ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Fase 1 kenderaan keluar dari arah Asrama Haji Menuju Simpang Pos:
Fase 2 kenderaan keluar dari arah Jl.Karya Wisata:
Fase 3 kenderaan keluar dari arah Jl.Ah.Nasution:
Gambar 4.3 Diagram Fase Waktu Siklus Simpang Karya Wisata
35 detik
3 3
75 detik 3
40 detik 3
Waktu siklus = 150detik
Kaki simpang Jlm Imam Bonjol
Kaki Simpang JL. Palang Merah Kaki
Simpang Jl. Zainul Arifin
Pada simpang Hotel Danau Toba International (HDTI) ini, menggunakan
pengaturan 3 (tiga) fase. Fase pergerakan pada simpang ini dapat digambarkan
sebagai berikut:
Fase 1 kenderaan keluar dari arah Jl.Imam Bonjol:
Fase 2 kenderaan keluar dari arah Jl.Zainul Arifin:
Fase 3 kenderaan keluar dari arah Jl.Palang Merah dan dari arah Jl.Zainul Arifin,
fase 3 terjadi setelah lampu hijau pada fase 2 hidup selama 25 detik:
Gambar 4.4 Diagram Fase Waktu Siklus Simpang Karya Wisata
4.3 Arus Jenuh Dasar (So)
Arus jenuh dasar (So) dihitung berdasarkan masing-masing kaki simpang
yang diteliti. Berdasarkan MKJI 1997, nilai arus jenuh dasar pada simpang Karya
Wisata tidak memenuhi formulasi arus jenuh dasar yang telah ditetapkan. Arus
jenuh dasar masing-masing kaki simpang dapat dilihat pada tabel 4.1.
90 detik 3
40 detik 3
40 detik 3
40 detik 3
25 detik
Tabel 4.1 Arus jenuh dasar (So) kaki simpang
Nama Simpang Kode Simpang Lebar Efektif Lengan (We) (meter)
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
4.4 Analisa Arus Jenuh Simpang
4.4.1 Simpang Karya Wisata
Analisa arus jenuh dilakukan menggunakan metode Time Slice dengan periode hitungan interval per 5 detik jam hijau. Perhitungan jumlah kenderaan
dilakukan selama fase berlangsung yaitu sinyal merah menuju hijau, dan sinyal
hijau menuju merah.
Tabel 4.2 Arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Karya Wisata
SIKLUS 15 Jumlah Arus (kend/jam) Jumlah Arus (SMP/jam)
Total Arus Jenuh (Interval) INTERVAL
Tabel 4.3 Arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Ah. Nasution Barat
SIKLUS 6 Jumlah Arus (kend/jam) Jumlah Arus (SMP/jam)
Total Arus Jenuh (Interval) INTERVAL
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Tabel 4.4 Arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur
SIKLUS 3 Jumlah Arus (kend/jam) Jumlah Arus (SMP/jam)
Total Arus Jenuh (Interval) INTERVAL
Arus jenuh maksimum pada simpang Karya Wisata terjadi pada sore hari.
Arus jenuh maksimum yang terjadi pada setiap kaki simpang Karya Wisata
berbeda-beda, pada tabel 4.2 arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Karya Wisata
terjadi pada siklus lalu lintas ke-15 hari jum’at sore. Kaki simpang Jl. Ah.
Nasution Barat pada tabel 4.3 arus jenuh maksimum terjadi pada siklus ke-6 hari
jum’at sore. Pada tabel 4.4 arus jenuh maksimum yang terjadi pada kaki simpang
Jl. Ah. Nasution Timur terjadi pada siklus ke-3 hari selasa sore.
Dalam hasil analisa menggunakan metode time slice, maka diperoleh nilai arus jenuh yang terjadi pada masing-masing kaki simpang bersinyal. Analisa arus
jenuh dengan metode time slice dihitung berdasarkan waktu siklus lalu lintas yang terjadi dilapangan dan perhitungan jumlah arus yang keluar dari mulut simpang
dilakukan selama waktu hijau menyala. Hubungan antara arus jenuh dan periode
hijau dapat dijelaskan berdasarkan grafik model arus jenuh dasar dari
masing-masing kaki simpang.
Gambar 4.6 Grafik model arus jenuh dasar kaki simpang Jl. Ah. Nasution Barat
Gambar 4.7 Grafik model arus jenuh dasar kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur
Berdasarkan grafik hubungan antara arus jenuh dan periode hijau pada
gambar 4.5, gambar 4.6 dan gambar 4.7 terdapat nilai smp kenderaan yang lewat
pada periode akhir hijau dan selama periode merah. Hal ini menyebabkan grafik
model arus jenuh pada simpang Karya Wisata tidak sesuai dengan model arus
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan adanya nilai smp kenderaan
yang terjadi selama fase merah, yaitu perilaku pengguna jalan yang tidak
mengikuti peraturan lalu lintas. Pada fase merah ini, sebagian besar kenderaan
yang melanggar lalu lintas adalah ssepeda motor.
4.4.2 Simpang Hotel Danau Toba Internasional (HDTI)
Analisa arus jenuh dilakukan menggunakan metode Time Slice dengan periode hitungan interval per 5 detik jam hijau. Perhitungan jumlah kenderaan
dilakukan selama fase berlangsung yaitu sinyal merah menuju hijau, dan sinyal
hijau menuju merah. Nilai arus jenuh menggunakan metode Time Slice ini, dijelaskan pada tabel 4.3 dan gambar 4.5.
Tabel 4.5 Arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Imam Bonjol
SIKLUS 3 Jumlah Arus (kend/jam) Jumlah Arus (SMP/jam)
Total Arus Jenuh (Interval) INTERVAL
Tabel 4.6 Arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Palang Merah
SIKLUS 16 Jumlah Arus (kend/jam) Jumlah Arus (SMP/jam)
Total Arus Jenuh (Interval) INTERVAL
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Tabel 4.7 Arus jenuh maksimum kaki simpang Jl. Zainul Arifin
SIKLUS 13 Jumlah Arus (kend/jam) Jumlah Arus (SMP/jam)
Total Arus Jenuh (Interval) INTERVAL
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Arus jenuh maksimum yang terjadi pada simpang HDTI berbeda untuk
masing-masing kaki simpang. Arus jenuh maksimum pada tabel 4.5 kaki simpang
Jl. Imam Bonjol terjadi pada siklus ke-3 hari jum’at sore. Kaki simpang Jl. Palang
pagi, sedangkan pada tabel 4.7 kaki simpang Jl. Zainul Arifin arus jenuh
maksimum terjadi pada siklus ke-13 hari senin siang.
Dalam hasil analisa menggunakan metode time slice, maka diperoleh nilai arus jenuh yang terjadi pada masing-masing kaki simpang bersinyal. Analisa arus
jenuh dengan metode time slice dihitung berdasarkan waktu siklus lalu lintas yang terjadi dilapangan dan perhitungan jumlah arus yang keluar dari mulut simpang
dilakukan selama waktu hijau menyala. Hubungan antara arus jenuh dan periode
hijau dapat dijelaskan berdasarkan grafik model arus jenuh dasar dari
masing-masing kaki simpang.
Gambar 4.9 Grafik model arus jenuh dasar kaki simpang Jl. Palang Merah
Gambar 4.10 Grafik model arus jenuh dasar kaki simpang Jl. Zainul Arifin
prilaku pengendara berdasarkan peraturan lalu lintas yang ada sehingga
didapatkan nilai yang konstan selama jam hijau berlangsung.
Simpang HDTI terletak didaerah perkotaan dan tetap ada polisi yang
mengatur simpang ini, sehingga pengguna jalan lebih menaati rambu lalu lintas.
Hal ini yang menyebabkan pada saat fase sinyal lalu lintas merah, tidak ada
kenderaan yang melewati rambu-rambu lalu lintas.
4.4.3 Hasil Survey Arus Jenuh Lapangan
Bersdasarkan survey yang telah dilakukan pada simpang Karya Wisata dan
simpang HDTI, hasil analisa dijelaskan pada tabel 4.4 dan tabel 4.5. Hasil
rata-rata arus jenuh simpang didapatkan berdasarkan perhitungan analisa arus jenuh
Tabel 4.8 Tabulasi rata-rata arus jenuh simpang Karya Wisata
Waktu Kode Simpang Total Arus Jenuh (SMP/Jam) Arus Jenuh Rata-Rata (SMP/Jam) Selasa Jl. Ah. Nasution Barat 1828
Jum'at Jl. Ah. Nasution Barat 2226
Sore
Senin Jl. Ah. Nasution Barat 2766
2774 Selasa Jl. Ah. Nasution Barat 2676
Jum'at Jl. Ah. Nasution Barat 2880 Selasa Jl. Ah. Nasution Timur 8256
Jum'at Jl. Ah. Nasution Timur 6176
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Berdasarkan tabel 4.2 dilihat nilai arus jenuh rata-rata maksimum terdapat
pada kaki simpang dari arah Asrama Haji menuju Simpang Pos (Jl. Ah. Nasution
Timur) dengan nilai arus jenuh 7025 SMP/Jam sedangkan nilai minimum arus
jenuh terdapat pada simpang keluar dari arah Karya Wisata dengan nilai arus
Tabel 4.9 Tabulasi rata-rata arus jenuh simpang HDTI
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Berdasarkan tabel 4.5 nilai arus jenuh maksimum yang terjadi pada
simpang ini terdapat pada kaki simpang dengan Jl. Imam Bonjol dengan nilai arus
jenuh rata- rata 7427 SMP/Jam yang terjadi pada sore hari. Nilai arus jenuh
minimum pada kaki simpang Jl. Palang Merah dengan nilai arus jenuh rata-rata
Menurut arus jenuh dasar MKJI 1997, nilai arus jenuh pada 6 kaki
simpang yang dianalisa, hanya ada 1 kaki simpang yang tidak memenuhi arus
jenuh standar MKJI 1997 yaitu kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur. Banyak
faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya nilai arus jenuh pada simpang ini
tidak sesuai dengan MKJI 1997, yaitu waktu siklus lalu lintas yang tidak
memenuhi, lebar efektif simpang dan perilaku pengguna jalan.
Kedua simpang ini sebagian besar kenderaan yang keluar dari mulut
simpang adalah sepeda motor. Tingkat pengguna sepeda motor yang tinggi juga
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kemacetan di kedua simpang
tersebut.
Gambar 4.11 Arus Jenuh Simpang Karya Wisata
Arus Jenuh Maksimum=2227 SMP/Jam So=2250 SMP/Jam
Arus Jenuh Maksimum=2774 SMP/Jam
So=5508 SMP/Jam Arus Jenuh
Maksimum=7025 SMP/Jam
So=4188 SMP/Jam
Gambar 4.12 Arus Jenuh Simpang Hotel Danau Toba Internasional
4.5 Panhang Antrian Lapangan
4.5.1 Pendahuluan
Panjang antrian adalah jumlah rata-rata antrian (smp) pada awal sinyal
hijau (NQ) dihitung sebagai jumlah smp yang tersisa dari fase hijau sebelumnya
(NQ1) ditambah jumlah smp yang datang selama fase merah (NQ2) (MKJI, 1997).
Secara singkat panjang antrian adalah nilai panjang antrian kenderaan
yang dihitung dari awal mulai lampu merah menyala sampai lampu hijau menyala
dengan satuan (meter).
4.5.2 Hasil Survey Panjang Antrian
Panjang antrian yang terjadi pada simpang Karya Wisata dan HDTI
diperooleh dari Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016) menggunakan
alat ukur meter. Hasil panjang antrian di tabulasi pada tabel 5.1 dan tabel 5.2.
Arus Jenuh Maksimum=7427 SMP/Jam So=7980 SMP/Jam
Arus Jenuh Maksimum=3855 SMP/Jam
So=4860 SMP/Jam Arus Jenuh
Maksimum=3349 SMP/Jam
So=5880 SMP/Jam
Panjang antrian pada simpang Karya Wisata yang paling maksimum
terjadi pada hari selasa sore, sedangkan pada simpang HDTI terjadi pada hari
jum’at pagi. Nilai maksimum dari masing-masing kaki simpang ini akan
digunakan dalam pemodelan simulasi VISSIM.
Tabel 4.10 Panjang Antrian pada Simpang Karya Wisata
Jl. Karya Wisata Jl. Ah. Nasution Barat Jl. Ah. Nasution Timur Waktu
Penelitian Panjang Antrian (meter)
Waktu
Penelitian Panjang Antrian (meter)
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Panjang antrian pada tabel 4.10 adalah panjang antrian maksimum yang
selasa sore hari. Nilai maksimum panjang antrian adalah 308,2 m yang terjadi
pada kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur, sedangkan nilai minimum panjang
antrian adalah 15,9 m pada kaki simpang Jl. Karya Wisata.
Tabel 4.11 Panjang Antrian pada Simpang HDTI
Jl. Imam Bonjol Jl. Palang Merah Jl. Zainul Arifin Waktu
Sumber: Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Panjang antrian pada tabel 4.11 adalah panjang antrian yang terjadi pada
simpang HDTI. Panjang antrian tersebut terjadi pada hari jum’at sore hari. Nilai
sedangkan nilai minimum panjang antrian adalah 23,7 m pada kaki simpang Jl.
Zainul Arifin.
4.6 Panhang Antrian Vissim
Panjang antrian kenderaan pada software vissim diperoleh dari hasil simulasi volume kenderaan maksimum yang terjadi dari masing-masing kaki
simpang. Simulasi yang dilakukan pada software vissim bertujuan untuk mengetahui selisih atau perbedaan yang terjadi dengan panjang antrian di
lapangan.
4.6.1 Volume Kenderaan
Simulasi Vissim dilakukan dengan mengambil data jumlah kenderaan paling maksimum yang terjadi pada masing-masing simpang. Akumulasi jumlah
kenderaan yang melewati kedua simpang tersebut dapat dilihat pada tabel 4.12.
Tabel 4.12 Volume Kenderaan Selama Survei Simpang Karya Wisata
Waktu
Penelitian Lokasi
Jumlah Kenderaan
Senin Jumlah Kenderaan Selasa Jumlah Kenderaan Jum'at
KB KR SM KB KR SM KB KR SM
Tabel 4.13 Volume Kenderaan Selama Survei Simpang HDTI
Waktu
Penelitian Lokasi
Jumlah Kenderaan
Senin Jumlah Kenderaan Jum'at Jumlah Kenderaan Sabtu K
Sumber:Pengamatan Langsung di Lapangan (Mei, 2016)
Jumlah kenderaan maksimum yang melewati simpang Karya Wisata
terjadi pada hari selasa sore dengan nilai 5347 SMP/Jam. Jumlah kenderaan
maksimum yang melewati simpang HDTI terjadi pada hari jum’at sore dengan
nilai 5073 SMP/Jam. Kedua nilai ini akan digunakan dalam penginputan data
jumlah kenderaaan pada software Vissim.
4.6.2 Simulasi Vissim
Dengan menggunnakan software vissim diinput jumlah kenderaan maksimum yang terjadi pada masing-masing simpang. Jumlah kenderaan
dikelompokkan berdasarkan jenis kenderaan, yaitu kenderaan berat (HGV),
kenderaan ringan (car) dan sepeda motor (bike).
1. Menginput background 2. Membuat jaringan jalan (
3. Menentukan jenis kendaraan
4. Menginput kecepatan kendaraan
5. Menginput komposisi kendaraan
6. Menentukan rute perjalanan
7. Menginput jumlah kendaraan
8. Mengatur sinyal lalu lintas
Siklus lalu lintas yang digunakan dalam menjalankan simulasi adalah siklus
yang terdapat pada masing
kenderaan maksimum.
4.13 background
Membuat jaringan jalan (links) Menentukan jenis kendaraan
Menginput kecepatan kendaraan
Menginput komposisi kendaraan (vehicle comtosition) Menentukan rute perjalanan (vehicle routes)
Menginput jumlah kendaraan
yal lalu lintas
Siklus lalu lintas yang digunakan dalam menjalankan simulasi adalah siklus
yang terdapat pada masing-masing kaki simpang yang mempunyai jumlah
kenderaan maksimum.
4.13 Sinyal Lalu Lintas Simpang Karya Wisata
Siklus lalu lintas yang digunakan dalam menjalankan simulasi adalah siklus
masing kaki simpang yang mempunyai jumlah
Gambar
9. Menempatkan sinyal lalu lintas
10. Menjalankan simulasi
Setelah semua data yang diperlukan diinput, maka langkah selanjutnya
menjalankan simulasi.
Gambar
Gambar 4.14 Sinyal Lalu Lintas Simpang HDTI
Menempatkan sinyal lalu lintas
Menjalankan simulasi
Setelah semua data yang diperlukan diinput, maka langkah selanjutnya
menjalankan simulasi.
Gambar 4.15 Simulasi Simpang Karya Wisata as Simpang HDTI
Setelah semua data yang diperlukan diinput, maka langkah selanjutnya
4.6.3 Hasil Panjang Antrian Menggunakan
Setelah menjalankan simulasi, maka dihasilkan panjang antrian yang baru
berdasarkan output yang ada.
dan tabel 4.14.
Tabel 4.1
No Simulasi Interval Waktu
1 15 0-3600
2 15 0-3600
3 15 0-3600
Sumber: Software Vissim
Gambar 4.16 Simulasi Simpang HDTI
ng Antrian Menggunakan Software Vissim
Setelah menjalankan simulasi, maka dihasilkan panjang antrian yang baru
berdasarkan output yang ada. Output panjang antrian dapat dilihat pada tabel 4.13
Tabel 4.14 Output Panjang Antrian Simpang Karya Wisata
Interval
Waktu Antrian Lokasi
Panjang 3600 Kaki Simpang Jl.Karya
Wisata 43,14 112,81
Setelah menjalankan simulasi, maka dihasilkan panjang antrian yang baru
ian dapat dilihat pada tabel 4.13
Gambar 4.17 Grafik Panjang Antrian Simpang Karya Wisata
Dari gambar 4.17 dapat dilihat perbandingan antara rata-rata panjang
antrian, panjang antrian maksimum dan antrian kenderaan yang berhenti. Pada
tabel 4.13 panjang antrian maksimum berdasarkan simulasi pada simpang Karya
Wisata diperoleh 344,34 m dan minimum adalah 85,25 m. Berdasarkan survey
dilapangan panjang antrian maksimum diperoleh 308,2 m dan panjang antrian
minimum 15,9 m.
Tabel 4.15 Output Panjang Antrian Simpang HDTI
No Simulasi Interval Waktu Antrian Lokasi
Panjang Sumber: Software Vissim (Juni, 2016)
0
Gambar 5.6 Grafik Panjang Antrian Simpang HDTI
Dari gambar 5.6 dapat dilihat perbandingan antara rata-rata panjang
antrian, panjang antrian maksimum dan antrian kenderaan yang berhenti. Pada
tabel 5.4 panjang antrian maksimum berdasarkan simulasi pada simpang HDTI
diperoleh 152,89 m dan minimum adalah 111,19 m. Berdasarkan survey
dilapangan panjang antrian maksimum diperoleh 175,6 m dan panjang antrian
minimum 23,7 m.
Pada tabel 5.3 dan tabel 5.4 output panjang antrian yang dihasilkan dari
software Vissim lebih besar dibandingkan dari pengamaatan langsung dilapangan. Hal ini disebabkan karena pada simulasi ini kenderaan yang dijalankan sesuai
dengan peraturan yang ada dan kenderaan sepeda motor pada saat berhenti dalam
1 lane yang sejajar.
Perilaku kenderaaan yang dijalaankan dalam simulasi dapat diatur dari
driver behaviour. Driver behaviour pada software ini ada 2 model, yaitu
Jl. Imam Bonjol Jl. Palang Merah Jl. Zainul Arifin
wiedemann 74 dan wiedemann 99. Model simulasi wiedemann 74 digunakan untuk jalan perkotaan yang dibatasi oleh median jalan maupun badan jalan,
sedangkan model wiedemann 99 digunakan untuk jalan bebas hambatan atau jalan tol. Jadi, pada simulasi ini digunakan model wiedemann 74 karena lokasi yang disimulasi merupakan jalan yang dibatasi kanan dan kiri.
Perbedaan antara keadaan lapangan dengan simulasi vissim:
a. Keadaan lapangan
Kendaraan yang berhenti tidak beraturan
Sepeda motor berhenti tidak sesuai dengan line yang tersedia
Kenderaan banyak yang berhenti di garis penyebrangan (zebra cross) b. Software Vissim
Kendaraan yang disimulasi berdasarkan peraturan yang tertib Sepeda motor berhenti masing-masing sejajar 1 baris
Kenderaan berhenti dibelakang garis penyebrangan (zebra cross)
Beberapa perbedaan ini menjadi salah satu penyebab mengapa hasil akhir panjang
antrian di lapangan berbeda dengan panjang antrian output software vissim.
4.7 Perbedaan Panhang Antrian Lapangan dan Panhang Antrian pada
Software Vissim
Tabel 4.16 Perbedaan Panjang Antrian Lapangan dan Vissim
No Nama Kaki Simpang
Panjang Antrian Lapangan Panjang Antrian Vissim
Maksimum Minimum Maksimum Minimum
1 Kaki Simpang
Jl.Karya Wisata 104,2 15,4 112,81 43,14
2 Jl. Ah. Nasution Kaki Simpang Barat
89,9 17,2 85,25 35,33
3 Jl. Ah. Nasution Kaki Simpang Timur
308,2 138,7 344,34 264,27
4 Kaki Simpang
Jl. Imam Bonjol 175,6 72,3 152,89 52,92
5 Kaki Simpang Jl. Palang Merah
110,6 45,3 111,19 27,86
6 Kaki Simpang
Jl. Zainul Arifin 125,5 23,7 145,85 55,80
Sumber: Hasil Analisa Panjang Antrian (Juni, 2016)
Panjang antrian di lapangan dan pada software vissim terjadi perbedaan atau selisih nilai yang berbeda, baik dalam nilai minimum maupun nilai
maksimum. Hal ini disebabkan beberapa perbedaan kelebihan dan kekurangan
BAB V
Kesimpulan dan Saran
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa mengenai arus jenuh dan panjang antrian pada
simpang Karya Wisata dan simpang HDTI, diperoleh data antara lain:
1. Berdasarkan MKJI 1997, diperoleh arus jenuh dasar simpang sebagai berikut:
Kaki simpang Jl. Karya Wisata: 2250 SMP/Jam Kaki simpang Jl. Ah. Nasution Barat: 5508 SMP/Jam
Kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur: 4188 SMP/Jam Kaki simpang Jl. Imam Bonjol: 7980 SMP/Jam
Kaki simpang Jl. Palang Merah: 4860 SMP/Jam
Kaki simpang Jl. Zainul Arifin: 5880 SMP/Jam
2. Menggunakan metode time slice, diperoleh rata-rata arus jenuh maksimum yang terjadi sebagai berikut:
Kaki simpang Jl. Karya Wisata: 2227 SMP/Jam pada sore hari
Kaki simpang Jl. Ah. Nasution Barat: 2774 SMP/Jam pada sore hari
Kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur: 7025 SMP/Jam pada sore hari Kaki simpang Jl. Imam Bonjol: 7427 SMP/Jam pada sore hari
Kaki simpang Jl. Palang Merah: 3855 SMP/Jam pada pagi hari Kaki simpang Jl. Zainul Arifin: 3349 SMP/Jam pada siang hari
3. Dari 6 kaki simpang yang diteliti, hanya kaki simpang Jl. Ah. Nasution Timur
yang melewati sarus jenuh standar MKJI 1997. Sehingga dapat disimpulkan
karena perilaku pengguna jalan yang suka menerobos rambu-rambu lalu
lintas.
4. Dari hasil survei diperoleh jumlah kenderaan maksimum yang keluar dari
kaki simpang sebagai berikut:
Simpang Karya Wisata, hari selasa: a. Pagi: 3759 Kenderaan
b. Siang: 3744 Kenderaan
c. Sore: 5347 Kenderaan
Simpang HDTI, hari jum’at:
a. Pagi: 4937 Kenderaan
b. Siang: 4790 kenderaan
c. Sore: 5075 Kenderaan
5. Dari hasil survei diperoleh panjang antrian lapangan sebagai berikut:
Jl. Karya Wisata:
Maksimum: 104,2 m
Minimum: 15,4 m
Jl. Ah. Nasution Barat:
Maksimum: 89,9 m
Minimum: 17,2 m
Jl. Ah. Nasution Timur:
Maksimum: 308,2 m
Minimum: 138,7 m
Jl. Imam Bonjol:
Minimum: 72,3 m
Jl. Palang Merah:
Maksimum: 110,6 m
Minimum: 45,3 m
Jl. Zainul Arifin:
Maksimum: 125,5 m
Minimum: 23,7 m
6. Berdasarkan simulasi menggunakan software Vissim diperoleh panjang antrian sebagai berikut:
Jl. Karya Wisata:
Maksimum: 112,81 m
Minimum: 43,14 m
Jl. Ah. Nasution Barat:
Maksimum: 85,25 m
Minimum: 35,33 m
Jl. Ah. Nasution Timur: Maksimum: 344,34 m
Minimum: 264,27 m
Jl. Imam Bonjol:
Maksimum: 152,89 m
Minimum: 52,92 m
Jl. Palang Merah:
Maksimum: 111,19 m
Jl. Zainul Arifin:
Maksimum: 145,85 m
Minimum: 55,80 m
V.2 Saran
Perlunya penertiban terhadap pengguna jalan agar mematuhi rambu-rambu
lalu lintas yang ada sehingga mengurangi kemacetan. Banyaknya pengguna jalan
yang menerobos rambu-rambu yang menimbulkan pengaruh kecepatan dan
hambatan terhadap kenderaan yang akan lewat ketika diberi lampu hijau sehingga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Persimpangan
Persimpangan jalan adalah daerah umum dimana dua jalan atau lebih bergabung atau bersimpangan, termasuk jalan dan fasilitas tepi jalan untuk pergerakan lalu lintas di dalamnya. Persimpangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua sistem jalan. Perancangan persimpangan harus dengan mempertimbangkan efisiensi, keselamatan, kecepatan, biaya operasi dan kapasitas (AASHTO, 2001) .
2.1.1 Jenis-henis persimpangan
Menurut Khisty. 2003 secara umum terdapat dua jenis persimpangan, yaitu:
1. Persimpangan sebidang
Persimpangan sebidang (intersection at grade) adalah persimpangan dimana dua jalan raya atau lebih bergabung, dengan tiap jalan raya mengarah keluar dari sebeuah persimpangan dan membentuk bagian darinya (kaki tersimtangan).
2. Persimpangan interchange
Persimpangan interchange adalah persimpangan yang digunakan ketika volume lalu lintas tinggi, sehingga memungkinkan untuk menggunakan lalur lalu lintas yang dipisahkan.
2. 2. Simpang Bersinyal
untuk menghindari terjadinya konflik
merupakan salah satu cara untuk mengatur lalu lintas di suatu simpang agar menciptaakan sistem pererakan dan hak berjalan ssecara bergantian dan teratur, sehingga dapat meningkatkan kapasitas simpang dalam melayani arus lalu lintas yang efektif dan mengurangi tingkat kecelakaan dan tundaan lalu lintas yang efektif dan murah dibandingkan pengaturan manual.
Tujuan lampu
Untuk meningkatkan keamanan sistem secara keseluruhan
Untuk mengurangi waktu temp
sehingga meningkatkan kapasitas
Untuk menyeimbangkan kualitas pelayanan di seluruh aliran lalu lintas
Gambar 2.1 Konflik
Terdapat beberapa jenis pergerakan arus lalu lint
menggunakan ruang persimpangan dapat meinmbulkan beberapa titik konflik, yaitu:
untuk menghindari terjadinya konflik-konflik lalu lintas. Sistem lalu lintas merupakan salah satu cara untuk mengatur lalu lintas di suatu simpang agar menciptaakan sistem pererakan dan hak berjalan ssecara bergantian dan teratur, sehingga dapat meningkatkan kapasitas simpang dalam melayani arus lalu lintas efektif dan mengurangi tingkat kecelakaan dan tundaan lalu lintas yang efektif dan murah dibandingkan pengaturan manual.
Tujuan lampu lalu lintas menurut Khisty 2003 adalah: Untuk meningkatkan keamanan sistem secara keseluruhan
Untuk mengurangi waktu tempuh rata-rata di sebuah persimpangan, sehingga meningkatkan kapasitas
Untuk menyeimbangkan kualitas pelayanan di seluruh aliran lalu lintas
Konflik-konflik utama dan kedua pada simpang bersinyal Terdapat beberapa jenis pergerakan arus lalu lintas pada gambar 2.1 yang menggunakan ruang persimpangan dapat meinmbulkan beberapa titik
Sistem lalu lintas merupakan salah satu cara untuk mengatur lalu lintas di suatu simpang agar menciptaakan sistem pererakan dan hak berjalan ssecara bergantian dan teratur, sehingga dapat meningkatkan kapasitas simpang dalam melayani arus lalu lintas efektif dan mengurangi tingkat kecelakaan dan tundaan lalu lintas yang
rata di sebuah persimpangan,
Untuk menyeimbangkan kualitas pelayanan di seluruh aliran lalu lintas
a. Konflik bersilang (crossing) b. Konflik memisah (diverging) c. Konflik bergabung (merging) d. Konflik menjalin (weaving)
Semakin banyak titik konflik yang terjadi di suatu persimpangan menyebabkan semakin berkurangnya kapasitas persimpangan tersebut dan kan meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Jumlah dan jenis konflik pada ruang persimpangan akan sangat bergantung pada (Ofyar, 2008):
Jumlah lengan persimpangan
Jumlah lajur setiap persimpangan
Arah pergerakan arus lalu lintas dari setiap lengan persimpangan
(belok kiri, lurus dan belok kanan)
Pengaturan pergerakan arus lalu lintas (fase)
Gambar 2.2 Urutan waktu pada pengaturan sinnyal dengan dua fase
Pada urutan waktu pengaturaan sinyal diatas, akan terjadi waktu kuning (intergreen) yaitu periode waktu yang terjadi pada sinyal lampu hijau menuju sinyal lampu merah. Tujuan dari periode antar hijau (IG = kuning + merah semua) diantara dua fase yang berurutan adalah:
1. Memperingatkan lalu lintas yang sedang bergerak bahwa fase sudah berakhir.
2.3. Waktu Siklus Simpang Bersinyal
a. Waktu Siklus
Waktu siklus merupakan waktu untuk urutan lengkap dari indikasi sinyal antara dua saat permulaaan hijau yang berurutan didalam pendekatan yang sama (MKJI, 1997).
Menurut Direktorat Jendral Perhubungan Darat Tahun 1999 penetapan waktu siklus simpang bersinyal yaitu:
a. Waktu siklus minimal
Cmin = (2.1)
Dimana:
Cmin = waktu siklus minimal, detik L = (∑wha – 1), detik
wha = waktu hijau antara, detik IFR = ∑yi, maksimum
yi = qi/si
qi = besarnya arus pada arah i, SMP/jam si = arus jenuh untul arah i, SMP/jam
b. Waktu siklus optimal (Co)
Co = , (detik) (2.2) c. Batasan panjang waktu siklus
pada persimpangan yang cukup besar, panjang waktu siklus dapat mencapai 180 detik, hal ini biasanya dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas persimpangan secara keseluruhan.
Tabel 2.1: Panjang siklus simpang bersinyal yang disarankan Jumlah Phase Panjang waktu siklus yang disarankan
2 40 – 80
3 50 – 100
4 80 – 130
Sumber: Direktorat Jendral Perhubungan Darat.1999
Waktu siklus harus lebih besar dari nilai yang ditentukan berdasarkan rumus (2.1). Apabila waktu siklus lebih kecil dari nilai ini maka akan terjadinya lewat jenuh pada simpang tersebut. Waktu siklus yang terlalu panjang dapat mengakibatkan meningkatnya tundaan rata-rata.
b. Waktu Hihau
Kinerja suatu simpang bersinyal dipengaruhi terhadap pembagian waktu hijau daripada terhadap panjangnya waktu siklus. Rumus perhitungan waktu hijau:
g = ( − ) ( ) (2.3)
Dimana:
C = waktu siklus sinyal (detik)
LTI = jumlah waktu hilang persiklus (detik) FR = arus dibagi dengan arus jenuh (Q/S)
FRcrit = nilai FR tertinggi dari semua pendekatan yang berangkat pada
2.4 Kemacetan
Kemacetan lalu lintas adalah situasi dimana arus lalu lintas melebihi kapasitas jalan tersebut yang mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati atau melebihi 0 km/jam sehingga menyebabkan terjadinya antrian kendaraan (MKJI, 1997). Kemacetan akan meningkat apabila arus kendaraan besar sehingga kendaraan saling berdekatan satu sama lain. Beberapa penyebab kemacetan lalu lintas adalah (Dheby.dkk, 2016):
- arus kendaraan meningkat melebihi dari kapasitas jalan
- terjadi kecelakaan yang menyebabkan terjadinya ganggua kelancaran arus lalu lintas
- terdapat bangunan liar di pinggir jalan yang mengakibatkan lebar jalan menjadi sempit
- pemakai jalan yang tidak mematuhi aturan lalu lintas - adanya parkir liar di sepanjang jalan
2.5. Kapasitas
Kapasitas adalah maksimum laju aliran berkelanjutan di mana kendaraan atau orang cukup dapat diharapkan untuk melintasi titik atau segmen seragam jalur atau jalan selama jangka waktu yang ditentukan berdasarkan diberikan jalan, geometrik, lalu lintas, lingkungan, dan kontrol kondisi; biasanya dinyatakan sebagai kendaraan per jam, mobil penumpang per jam, atau orang per jam (Highway Capacity Manual, 2000).
2.5.1 Kapasitas Dasar Simpang
Kapasitas persimpangan adalah arus lalu lintas maksimum yang dapat dipertahankan (tetap) pada suatu bagian jalan dalam kondisi tertentu (MKJI, 1997).
Kapasitas dasar simpang dinyatakan denagn rumus (MKJI, 1997):
C = S × g/c (2.4)
di mana:
C = Kapasitas (smp/jam)
S = Arus Jenuh, yaitu arus berangkat rata-rata dari antrian dalam pendekat selama sinyal hijau (smp/jam hijau = smp per-jam hijau)
g = Waktu hijau (det).
c = Waktu siklus, yaitu selang waktu untuk urutan perubahan sinyal yang lengkap (yaitu antara dua awal hijau yang berurutan pada fase yang sama)
Untuk mengetahui kapasitas simpang harus diketahui terlebih dahulu waktu sinyal dari simpang tersebut.
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (1999) kapasitas dasar simpang ditetapkan sebagai berikut :
Tabel 2.2: Kapasitas dasar persimpangan
Tipe Persimpangan Kapasitas Dasar (smp/ham)
322 2700
342 2900
324 atau 344 3200
422 2900
424 atau 444 3400
Sumber: Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1999
Tabel 2.3: Tipe persimpangan 3 kaki
Tipe
Persimpangan Julah Lahur Jalan Utama Median Jumlah Lahur Jalan Minor
322 1 N 1
324 2 N 1
324M 2 Y 1
344 2 N 2
324M 2 Y 2
Sumber: Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1999
Tabel 2.4: Tipe persimpangan 4 kaki
Tipe
Persimpangan Julah Lahur Jalan Utama Median Jumlah Lahur Jalan Minor
422 1 N 1
424 2 N 1
424M 2 Y 1
444 2 N 2
424M 2 Y 2
Sumber: Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1999
Arus lalu-lintas (Q) untuk setiap gerakan (belok-kiri QLT, lurus QST dan belok-kanan QRT) dikonversidari kendaraan per-jam menjadi satuan mobil penumpang (smp) per-jam dengan menggunakanekivalen kendaraan penumpang (emp) untuk masing-masing pendekat terlindung dan terlawan:
Tabel 2.5 Emp Untuk Jalan Tipe Terlindung dan Terlawan
Sumber: MKJI 1997
2.6. Arus Jenuh
tertentu (smp/waktu hijau) yang merupakan fungsi dari lebar efektif lengan persimpangan (Ofyar, 2008).
Menurut Direktorat Jendral Perhubungan Darat Tahun 1999 arus jenuh adalah jumlah maksimum kenderaan yang dapat melalui mulut persimpangan persatuan hijau. Peninjauan arus lalulintas pada kondisi jenuh bertujuan untuk melihat gambaran jumlah kendaraan tiap jam tiap lajur jika waktu hijau efektif (effective green time) yang tersedia selama satu jam penuh dan diusahakan agar arus kendaraan tak pernah berhenti.
Arus jenuh dasar dapat dijelaskan melalui gambar 2.3 menunjukkan keadaan yang terjadi bila suatu antrian kenderaan yang tertahan oleh lampu merah dan kemudian mendapat hak jalan oleh lampu hijau. Kenderaan akan terus keluar melewati arus jenuh ini sampai lampu hijau habis dan laju kenderaan akan terus menurun sampai mencapai nol pada lampu merah (Hoobs, 1995).
Gambar 2.3 Model Dasar untuk Arus Jenuh
So = 600 x We (2.5)
Arus jenuh dapat dihitung berdasarkan rumus yang dikembangkan oleh
Indonesia Highway Catacity Manual:
= (SMP/jam hijau) (2.6)
Dimana:
So = arus jenuh dasar Fcs = faktor ukuran kota FSF = faktor gesekan samping
FG = faktor kelandaian
FP = faktor kenderaan parkir
FRT = faktor kenderaan belok kanan
FLT = faktor kenderaan belok kiri
Arus lalu lintas jenuh sangat dipengaruhi oleh komposisi lalu lintas dan oleh waktu, pada periode-periode puncak yang kurang ramai, arus lalu lintas mungkin 5% kurang dari pada periode puncak (Hobbs, 1995).
Menurut Direktorat Jendral Perhubungan Darat Tahun 1999 ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi besarnya arus jenuh, yaitu:
a. Tanjakan ataupun penurunan pada kaki persimpangan. b. Komposisi lalu lintas
c. Jarak lokasi tempat parkir dan garis henti.
e. Radius tikungan.
Akibat gangguan yang mempengaruhi arus jenuh, maka mengakibatkan terlambat start dan akan menghalangi pergerakan kenderaan yang lain. Gangguan ini akan meningkatkan waktu hilang pada awal waktu hijau yang secara nyata akan mengurangi kapasitas dari lengan persimpangan tersebut (Masykur.dkk, 2014).
Waktu hijau efektif adalah tampilan waktu hijau dikurang kehilangan waktu diawal ditambah tambahan waktu diakhir (MKJI, 1997). Maka besarnya waktu hijau efektif adalah:
Waktu Hihau Efektif = Tampilan waktu hihau – Kehilangan awal +
Tambahan akhir
Menurut MKJI 1997 besarnya arus jenuh juga dipengaruhi oleh faktor-faktor, seperti :
Tabel 2.6 Faktor ukuran kota
Penduduk Kota (Juta Jiwa) Faktor Koreksi Ukuran Kota
> 3.0 1.05
1.0 – 3.0 1.00
0.5 – 1.0 0.94
0.1 – 0.5 0.88
< 0.1 0.82
Tabel 2.7 Faktor Hambatan Samping
Sumber: MKJI 1997
Tabel 2.8 Kelas Hambatan Samping Untuk Jalan Perkotaan
Sumber: MKJI 1997
2.7 Metode Time Slice
Gambar 2.4 Arus jenuh yang diamati per selang waktu 6 detik
Pada gambar 2.4 arus jenuh dianggap tetap selama waktu hijau. Meskipun demikian dalam kenyataannya, arus berangkat mulai dari 0 pada awal waktu hijau dan mencapai nilai puncaknya setelah 10-15 detik. Nilai ini akan menurun sedikit sampai akhir waktu hijau arus berangkat terus berlangsung selama waktu kuning dan merah-semua hingga turun menjadi 0, yang biasanya terjadi 5 – 10 detik setelah awal sinyal merah (MKJI, 1997).
2.8 Panhang Antrian
Panjang antrian adalah jumlah rata-rata antrian (smp) pada awal sinyal hijau (NQ) dihitung sebagai jumlah smp yang tersisa dari fase hijau sebelumnya (NQ1) ditambah jumlah smp yang datang selama fase merah (NQ2) (MKJI, 1997).
NQ = NQ1 + NQ2 (2.7)
Dengan
= 0,25 ( − 1) + ( , ) (2.8)
Jika; DS > 0,5 selain dari itu NQ1 = 0
= (2.9)
NQ1 = jumlah smp yang tertinggal dari fase hijau sebelumnya
NQ2 = jumlah smp yang datang selama fase merah
DS = derajat kejenuhan GR = rasio hijau
c = waktu siklus (det)
C = kapasitas (smp/jam) = arus jenuh kali rasio hijau (S x GR) Q = arus lalu-lintas pada pendekat tersebut (smp/det)
Panjang antrian (QL) diperoleh dari perkalian (NQ) dengan luas rata-rata yang dipergunakan per smp (20m2) dan pembagian dengan lebar masuk (MKJI, 1997).
= (2.10)
2.9 Program VISSIM (Vissual Simulation)
Vissim adalah perangkat lunak mikroskopik yang berfungsi untuk mensimulasi model lalu lintas perkotaan dan operasi angkutan umum. Program ini dapat menganalisis lalu lintas dan perpindahan dengan batasan pemodelan seperti geometrik jalur, komposisi kenderaan, sinyal lalu lintas, stot line, perilaku pengemudi dan lain-lain, sehingga menjadi suatu alat yang berguna untuk mengevaluasi berbagai alternatif berdasarkan rekayasa transportasi sebagai langkah-langkah pengambilan keputusan yang lebih efektif dan efisien dalam suatukegiatan perencanaan termasuk simulasi dalam pengembangan model (User Manual VISSIM 5.0, 2007).
tahun 1992 oleh salah satu perusahaan IT di negara Jerman (Siemens, 2012 dalam Dheby.dkk, 2016). VISSIM berasal dari kata VerkehrStadten – Simulationsmodel
(dalam bahasa Jerman) yang artinya model simulasi lalulintas kota.
Vissim dapat mensimulasikan kondisi operasional unik yang terdapat dalam sistem transportasi. Pengguna dapat memasukkan data-data untuk dianalisis sesuai keinginan pengguna. Perhitungan-perhitungan keefektifan yang beragam bisa dimasukkan pada software Vissim, pada umumnya antara lain tundaan, kecepatan, antrian, waktu tempuh dan berhenti. Vissim telah digunakan untuk menganalisis jaringan-jaringan dari segala jenis ukuran jarak persimpangan individual hingga keseluruhan daerah metropolitan (Dheby.dkk, 2016).
Parameter input data yang perlu dimasukkan pada program mikrosimulasi
VISSIM 8.0 yaitu:
a. Parameter yang tetap:
User treferences
Vinks
Statistic vehicle routing decisions
Vehicle comtositions
Vehicle intut
Signal control
b. Parameter bebas:
Lebar geometrik jalan
Background
Vehicle tyte
Vehicle behaviour
Vehicle Behaviour yang ada pada vissim yaitu Wiedemann 74 model dan Wiedemann 99 model. Wiedemann 74 adalah model yang dipakai untuk simulasi jalan perkotaan dan jalan arteri. Wiedemann 74 biasanya digunakan untuk simulasi jalan dengan kecepatan rata-rata kenderaan 48-58 km/Jam. Widemann 94 adalah model yang dipakai untuk simulasi jalan bebas hambatan/jalan tol biasanya dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam.
Setelah menginput parameter input maka akan dihasilkan parameter output seperti:
a. Panjang antrian (queue) b. Tundaan (delay)
c. Pemodelan simulasi simpang
d. Video hasil simulasi yang dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan
2.9.1 Tahapan Pemodelan Simulasi
Menurut Putri, N.H. dan Irawan (2015) dalam melakukan simulasi mikroskopik dengan menggunakan VISSIM, terdapat beberapa parameter yang perlu ditentukan dan diinput agar model simulasi dapat berjalan. Secara singkat, parameter yang perlu diatur untuk menjalankan model simulasi pada simpang bersinyal adalah sebagai berikut:
Menginput background digunakan untuk mempermudah pembuatan simulasi secara offline dengan cara input screenshot peta lokasi yang dibutuhkan. Peta lokasi diperoleh dari google earth atau pun google mats.
Gambar 2.5 Menginput Background Lokasi Simulasi
2. Membuat jaringan jalan (links)
Pada tahap ini yaitu menggambarkan jaringan jalan sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan, dengan mengatur lebar dan jumlah lajur yang ada.
3. Menentukan jenis kendaraan
Pada tahap ini dilakukan penentuan jenis kenderaan berdasarkan data pengelompokan jenis kenderaan yang lewat pada persimpangan tersebut, yaitu kenderaan ringan (LV), kenderaan berat (HV), sepeda motor (MC), dan kenderaan tidak bermotor (UM).
4. Menginput kecepatan kendaraan
Kecepatan kenderaan ditentukan berdasarkan asumsi ketika awal pergerakan kenderaan yang terjadi setelah nyala lampu hijau. Asumsi kenderaan ditentukan yaitu 10 – 20 km/jam.
5. Menginput komposisi kendaraan (vehicle comtosition)
Komposisi kenderaaan adalah tahapan untuk menginput komposisi kenderaan berdasarkan jenis kenderaan yang telah ditentukan. Jumlah kenderaan yang ada dari masing-masing jenis kenderaan diinput pada kolom RelFlow. Pada komposisi kenderaan ini dapat juga diinput jumlah pejalan kaki yang melewati zebra cross.
6. Menentukan rute perjalanan (vehicle routes)
Penentuan rute perjalanan berfungsi untuk mengatur arah perjalanan kederaan yang akan lewat. Pengaturan rute perjalanan ini dibuat berdasarkan apa yang terjadi di lapangan.
Gambar 2.8 Menentukan Rute Perjalanan
7. Menginput jumlah kendaraan
Menginput jumlah kenderaan yaitu menginput data volume kenderaan yang terjadi yang telah diperoleh dari hasil survey. Data kenderaan yang diinput berdasarkan masing-masing kaki simpang.
8. Mengatur sinyal lalu lintas
Pengaturan sinyal lalu lintas dengan tujuan untuk mengatur kenderaan yang lewat pada suatu simpang. Sinyal lalu lintas dapat diatur melalui signal control kemudian pilih signal controllers. Menu Edit Signal Control digunakan untuk membuat pengaturan sinyal lalu lintas.
Gambar 2.10 Mengatur Sinyal Lalu Lintas
9. Menempatkan sinyal lalu lintas
10. Menjalankan simulasi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Disetiap kota besar khususnya kota Medan mempunyai permasalahan
transportasi yang perlu pemecahan secara dini pula, namun pada umumnya masih
dalam skala kecil dan pemecahannya tidak memerlukan biaya besar dan waktu
lama. Dengan demikian, peranan perencanaan dan pemodelan transportasi dalam
merencanakan pembangunan sistem prasarana transportasi, pengembangan
wilayah, dan lain-lainnya menjadi semakin terlihat nyata (Ofyar Z Tamin, 2008).
Sistem pergerakan lalu lintas khususnya di Medan masih belum baik
sehingga masih menyebabkan kemacetan, aliran lalu lintas tergolong campuran
(mixed trafficd bahkan didominasi oleh kendaraan roda dua. Pergerakan arus lalu
lintas tidak mengikuti aliran perlajur (lane indiscitlined. Faktanya, prilaku
pengemudi untuk melakukan tindakan perpindahan antar lajur (lane changingd
atau mendahului tipe kendaraan lain (overtakingd sangat sering terjadi baik oleh
pengguna roda dua ataupun mobil.
Simpang dibangun dengan tujuan untuk mengurangi potensi konflik
(safety) dan konsentrasi arus (breakdown). Simpang memiliki peranan penting
untuk menyalurkan pergerakan lalu lintas dari berbagai pertemuan arus
pergerakan. Simpang bersinyal digunakan untuk menghindari konflik-konflik
yang terjadi pada setiap simpang dan memisahkan pergerakan lalu lintas mana
Penggunaan sinyal dengan lampu tiga-warna (hijau, kuning, merah)
diterapkan untuk memisahkan lintasan dari gerakan-gerakan lalu-lintas yang
sating bertentangan dalam dimensi waktu. Hal ini adalah keperluan yang mutlak
bagi gerakan-gerakan lalu-lintas yang datang dari jalan jalan yang saling
berpotongan. Sinyal-sinyal dapat juga digunakan untuk memisahkan gerakan
membelok dari lintas lurus melawan, atau untuk memisahkan gerakan
lalu-lintas membelok dari pejalan-kaki yang menyeberang (MKJI, 1997).
Kapasitas simpang dipengaruhi oleh waktu hijau, waktu siklus dan arus
jenuh. Berdasarkan analisa dalam beberapa hari, pada simpang karya wisata
sering terjadi konflik simpang yang dipengaruhi karena banyaknya kenderaan
yang lewat dan waktu hijau yang telah diatur tidak cukup untuk mengatur
kenderaan Konflik pada persimpangan ini juga dipengaruhi adanya sekolah yang
berada didaerah persimpangan tersebut.
Pada simpang HDTI (Hotel Danau Toba Internasional) volume kenderaan
yang melalui persimpangan tersebut sangat tinggi, tetapi pada persimpangan ini
tidak mengakibatkan kemacetan. Tinjauan arus jenuh dilakukan untuk mengetahui
seberapa besar kapasitas simpang yang dapat ditampung oleh simpang tersebut
dan melihat perbedaan nilai arus jenuh terhadap simpang yang jenuh dan tidak
jenuh.
Arus jenuh menurut MKJI 1997 adalah besarnya keberangkatan antrian
didalam suatu pendekatan selama kondisi yang ditentukan (smp/jam hijau). Arus
jenuh terjadi akibat banyaknya kenderaan yang melewati suatu persimpangan
sehingga terjadi kemacetan dan panjang antrian. Arus jenuh juga dapat
Panjang antrian adalah banyaknya kenderaan yang berada pada simpang
tiap jalur saat nyala satu siklus lampu merah (meter). Panjang antrian di hitung
berdasarkan panjang dari kenderaanyang datang dan berhenti pada saat lampu
merah sampai pada saat siklus lampu merah habis.
Arus jenuh dan panjang antrian terjadi pada saat jam puncak pada setiap
harinya. Volume lalu lintas yang terjadi pada saat jam puncak digunakan sebagai
pedoman untuk merencanakan suatu tindakan untuk mengurangi penyebab
terjadinya arus jenuh dan panjang antrian.
Pemodelan dan simulasi sistem transportasi kini semakin diminati karena
kemudahannya dalam proses pergantian berbagai skenario dengan tetap melihat
potensi yang dapat diimplementasikan di lapangan. VISSIM termasuk dalam
perangkat lunak dengan kategori mikroskopik yang memiliki keunggulan yaitu
dapat memodelkan berbagai jenis kendaraan termasuk sepeda motor dan
kendaraan tidak bermotor.
1.2. Perumusan Masalah
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya arus jenuh dan panjang
antrian?
2. Bagaimana pengaruh perilaku pengguna jalan dengan grafik arus jenuh
dasar?
3. Bagaimana pengaruh konflik yang terjadi di persimpangan terhadap
1.3. Tuhuan Penelitian
Adapun tujuan dan penelitian ini adalah untuk menganalisa arus jenuh dan
panjang antrian sesuai MKJI 1997 dan membandingkan nilai panjang antrian
keadaan lapangan dengan hasil yang didapat pada simulasi menggunakan VISSIM.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi instansi terkait
untuk mengurangi permasalahan transportasi yang terjadi, sehingga dapat
mengurangi tingkat kemacetan dan meningkatkan kenyamanan pengguna jalan
tersebut.
1.5. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti memberi batasan, yaitu ;
1. Analisa yang dilakukan hanya fokus terhadap arus jenuh dan panjang
antrian pada persimpangan berlengan empat yaitu simpang HDTI (Hotel
Danau Toba Internasional) dan persimpangan berlengan tiga yaitu
simpang Karya Wisata.
2. Waktu penelitian dilaksanakan pada jam sibuk yaitu pagi hari pukul
08.00-09.00 WIB, siang hari pukul 12.00-13.00 WIB dan sore hari pukul
17.30-18.30 WIB.
3. Penelitian ini dilakukan selama 3 hari untuk masing-masing simpang.
Untuk simpang HDTI dipilih pada hari senin, jum’at dan sabtu, sedangkan
untuk simpang Karya Wisata dipilih hari senin, selasa, dan jum,at.
4. Mikrosimulasi simpang menggunakan software PTV Vissim 8.00-02