• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dago Aged Village Tema Serenity

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dago Aged Village Tema Serenity"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Sein Sein Hasni Fauziah

Umur : 21 Tahun

Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 07 Oktober 1993’ Kebangsaan : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Jln. Mengger Hilir No.58 RT.03 RW.04

Ds. Sukapura, Kec. Dayeuhkolot, Kab. Bandung, Jawa Barat No. Telepon / HP : 087722062131

E-mail : [email protected]

Menerangkan dengan sebenarnya:

RIWAYAT PENDIDIKAN

1. Tamatan : SD Negeri Babakan Tanjung, 1999-2005, Berijasah 2. Tamatan : SMP Negeri 2 Dayeuhkolot, 2005-2008, Berijasah 3. Tamatan : SMA Negeri 1 Dayeuhkolot, 2008-2011, Berijasah

Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenarnya:

Saya yang bersangkutan,

(2)
(3)
(4)
(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Jumlah penduduk di Indonesia menurut berita resmi statistik no. 26 /

V / 3 Juni 2002 menyatakan bahwa berdasarkan hasil pencacahan Sensus

Penduduk 2000, jumlah penduduk Indonesia pada tanggal 30 Juni 2000

adalah 206 264 595 orang. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia

per tahun selama periode 1990-2000 adalah sebesar 1,49 persen. Angka ini

jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata laju pertumbuhan

penduduk dekade sebelumnya, 1980-1990 yang mencapai 1,97 persen per

tahun. Faktor yang berpengaruh dalam penurunan laju pertumbuhan

penduduk selama periode 1990-2000 adalah menurunnya tingkat kelahiran

dan juga tingkat kematian.

Penduduk Indonesia masih tergolong penduduk muda. Ini terlihat dari

persentase penduduk pada kelompok umur muda (0-14 tahun) sebesar 30,43

persen, sementara kelompok umur tua (65 tahun atau lebih) sebesar 4,54.

persen. Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan keadaan pada tahun 1980 dan

1990.

Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia termasuk terbesar keempat

setelah China, India dan Jepang (U.S. Census Bureau, International Data

Base, 2009). Indonesia merupakan negara yang memasuki era penduduk

berstruktur lanjut usia (Aging Structured population) karena jumlah penduduk

yang berusia 60 tahun keatas sekitar 7,18% (Menkokesra, 2008, 12/4/08).

Menurut UU No.4 tahun 1965 pasal 1 seorang dapat dinyatakan

sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai

umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri

untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.

UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia bahwa lansia adalah

(6)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

Dengan semakin bertambahnya usia seseorang, maka partisipasi

sosialnya semakin berkurang dan cakupannya juga menyempit. Dimana

terdapat tingkat penurunan yang cepat dalam hal keanggotaan dan kegiatan

sosial atau organisasi masyarakat setelah usia enam puluh tahun, atau bagi

pria setelah pensiun. Sosialisasi lanjut usia mengalami kemunduran setelah

terjadinya pemutusan hubungan kerja atau tibanya saat pensiun.

Teman-teman sekerja yang asalnya menjadi curahan segala masalah sudah tidak

dapat dijumpai setiap hari. Lebih-lebih lagi ketika teman sebaya/sekampung

sudah lebih dahulu meninggalkannya. Sosialisasi yang dapat dilakukan

adalah dengan keluarga dan masyarakat yang relatif berusia muda.

Seiring berjalannya waktu, dimana modernisasi membawa sejumlah

perubahan baik positif maupun negatif terhadap masyarakat. Salah satu

dampak positif modernisasi adalah berkembangnya ilmu pengetahuan dan

teknologi yang menjadikan tingkat kehidupan yang lebih baik, sedangkan

dampak negatif modernisasi adalah tumbuhnya sikap individualistik. Maka

dari itu menyebabkan masyarakat merasa tidak membutuhkan orang lain Tabel 1.1 Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2000

(7)

dalam beraktivitas, padahal manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang

tidak bisa hidup sendiri. Sehingga masyarakat cenderung bersaing mengejar

tujuan pribadi. Hal ini menyebabkan waktu dan pikiran yang tersita.

Ketika sikap ini dibawa kerumah, masing-masing individu akan lebih

fokus kepada keluarga inti. Sehingga bagian keluarga yang sudah mulai

menua kurang mendapat perhatian dan perawatan dari anak cucu mereka.

Keluarga yang tidak mampu merawat akhirnya menempatkan manula mereka

di Panti Werdha. Tentunya hal ini membuat para manula merasa tersisihkan

ketika harus ditempatkan ke tempat dengan bangunan dan fasilitas seadanya

tersebut. Terkadang, bangunan dan fasilitas yang seadanya itu membuat

para manula merasa tidak nyaman dan tidak betah dan seringkali karena tidak

ada pilihan para manula merasa terpaksa dan tidak senang yang kemudian

dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Kini argumen itu sudah berubah, banyak kaum werdha dan keluarga

yang dengan sadar sendiri menginginkan ditempatkan di Panti Werdha untuk

menjalani hidup lebih baik lagi, kini Panti Werdha tidak lagi reot dan kumuh,

sudah ada fasilitas perawatan yang baik dan lengkap. Tersedia juga cek rutin

kesehatan, kebutuhan pangan dan nutrisi para kaum werdha teratur dengan

baik. Tersedia kegiatan dan aktivitas untuk menjaga kekuatan motorik dan

kognitif para kaum werdha yang berupa hiburan, permainan-permainan,

olahraga, dan keterampilan. Di panti werdha para kaum werdha dapat

bersosialisasi dengan sebayanya yang mungkin tidak bisa diperoleh bila

tinggal di rumah keluarga. Dengan itu mereka tidak merasa kesepian lagi

yang disebabkan oleh sibuknya anak karena pekerjaannya serta keluarga

kecilnya.

Namun ada hal yang terlupakan, yaitu kebutuhan akan memori, atau

mengenang masa lalu. Secara psikologis bagi kaum werdha hal ini penting

karena masa lalu mereka adalah hal yang membawa mereka sampai pada

masa sekarang dan akan terus diingat sampai kapanpun. Oleh karena itu,

dari memori inilah konsep homey ini akan muncul, sehingga rumah tidak akan

menjadi sekedar tempat tinggal, melainkan merupakan sebuah tempat yang

(8)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

lokasi yang berada di Dago Atas Kota Bandung yang masih sejuk,

mempunyai view yang baik dan menarik, aksesbilitas yang mudah dijangkau

baik dari warga lokal Kota Bandung ataupun dari luar kota dapat diakses

melalui jalan tol yang keluar di Pasteur yang merupakan salah satu pusat kota

serta memiliki kelengkapan kota yang baik ini menjadikan penulis merancang

Dago Aged Village untuk menengah keatas.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

1.2.1 Maksud

Maksud dari perancangan ini adalah:

- Merancang fasilitas bagi kaum werdha yang bersifat manusiawi

sesuai kebutuhan dan memberikan kemandirian.

1.2.2 Tujuan

Tujuan dari perancangan ini adalah:

- Merancang Panti Werdha yang dapat memberikan hidup bahagia

dalam masa tua.

1.3 MASALAH PERANCANGAN

- Bagaimana merancang tata ruang sesuai kebutuhan Panti Werdha.

- Bagaimana mengolah sirkulasi yang jelas dan aman.

1.4 PENDEKATAN PERANCANGAN

Perencanaan Panti Werdha di Kota Bandung akan dilakukan

pendekatan perancangan :

1. Studi lapanganterhadap lahan proyek mencakup kondisi sekitar lahan,

studi lingkungan fisik, bangunan dan suasana yang ada di sekitar tapak.

2. Studi banding tentang Panti Werdha atau proyek sejenis.

3. Studi literatur mengenai Panti Werdha dan karakteristik lansia.

1.5 RUANG LINGKUP DAN BATASAN

1.5.1 Ruang Lingkup

(9)

- Tidak mensyaratkan agama.

- Pasangan suami istri.

1.5.2 Batasan

Batasan yang menjadi konstrain dalam rancangan :

- Fasilitas diperuntukan bagi menengah keatas.

- Fasilitas diperuntukan bagi yang sehat jiwa.

1.6 KERANGKA BERPIKIR

Kriteria-Kriteria Perancangan:

 Standar-standar fasilitas kaum werdha

 Pola Sirkulasi

 Program Ruang

Studi Literatur:

 Arsitektur perilaku

 Standar arsitektur bagi kaum difabel

 Tipologi arsitektur

 Tematik

Studi Empiris:

 Pengamatan Langsung & Wawancara

 Studi Banding

 Studi Lapangan

PERMASALAHAN

DAGO AGED VILLAGE

(10)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

1.7 SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan dari perancangan Dago Aged Village ini adalah sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Pada Bab I, memuat latar belakang, maksud, tujuan, masalah perancangan,

pendekatan perancangan, lingkup dan batasan, kerangka berpikir dalam

Panti Werdha di Kota Bandung dan sistematika penulisan laporan tugas akhir.

BAB II. DESKRIPSI PROYEK DAN ANALISIS

Pada Bab II, memuat penjelasan mengenai proyek secara umum, program

kegiatan, kebutuhan .

BAB III. ELABORASI TEMA

Pada Bab III, memuat tentang pengertian tema, hubungan tema dengan

rancangan proyek yang dikerjakan yaitu menyangkut fungsi dan bentuknya

(interpretasi tema)

BAB IV. ANALISA

Pada Bab IV, memuat tentang data, analisa tapak dan guidelines.

BAB V. KONSEP RANCANGAN

Pada Bab V, memuat konsep perencanaan

BAB VI. HASIL RANCANGAN

(11)

BAB II

STUDI BANDING DAN LITERATUR

2.1 PENGERTIAN ISTILAH

Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang karena usianya

mengalami perubahan biologis, fisis, kejiwaan, dan sosial (UU No.23 Tahun

1992 tentang kesehatan). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

(2005,826) : Arti dari kata panti werdha adalah rumah tempat mengurus dan

merawat orang jompo.

Pembagian umur yang dijadikan patokan oleh WHO mengenai usia

lanjut adalah :

1. Usia lanjut (elderly), antara 60 sampai dengan 74 tahun.

2. Tua (old), antara 75 sampai 90 tahun.

3. Sangat tua (very old), diatas 90 tahun.

Di Indonesia, pengertian tentang lanjut usia diatur dalam keputusan

Menteri Sosial Republik Indonesia yaitu lanjut usia adalah seseorang yang

telah mencapai usia 60 tahun keatas.

2.2 PENGGOLONGAN DAN KONDISI LANSIA

Dilihat dari usia dan aktivitasnya, lansia dapat dibagi menjadi tiga

golongan yaitu:

dari tanggung

jawab tradisional

akan pekerjaan

dan keluarga,

(12)

berpendidikan,

aktif dalam hal

politik.

 Membutuhkan fitur-fitur spesial

pada

lingkungan fisik

seiring dengan

masalah-masalah

kesehatan yang

berkembang

pada diri

mereka.

 Membutuhkan fitur-fitur spesial

pada

lingkungan fisik

seiring dengan

masalah-masalah

kesehatan yang

berkembang

pada orang lain.  Pasif

(pergerakan

terbatas).  Memiliki

kebutuhan lebih

untuk

perawatan

(13)

Tipikal

kegiatan

 Inisiatif pribadi.  Kegiatan sosial.

kesehatan dan

kemakmuran.

kesehatan dan

kemakmuran.

 Terbatas

(inisiatif orang

lain).

 Berkelompok  Menetap  Sosial.  Therapeutic.

Semakin meningkat usia seseorang, terjadi perubahan fisik, mental,

dan psikologis. Secara biologis, gejala-gejalanya antara lain adalah

melambatnya proses berpikir, berkurangnya daya ingat, kurangnya

kegairahan, perubahan pola tidur fungsi-fungsi tubuh tidak dapat lagi

berfungsi dengan baik, dan pergeseran libido, yang berarti akan

membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan berbagai aktivitas. Hal

ini menyebabkan lansia akan membutuhkan perhatian ekstra dari

orang-orang disekitarnya. Peningkatan ini juga diiringin dengan perubahan

psikologis dan sosiologis dimana kualitas hidup mereka semakin menurun,

terjadi penurunan kapasitas mental, perubahan peran sosial, kepikunan

(dementia), depresi, belum lagi manifestasi komplek dari depresi.

Gejala-gejala ini akan terjadi secara progresif dan dimulai pada usia 40 tahun.

Namun yang termasuk kedalam kategori usia lanjut adalah usia 60 tahun

keatas.

2.3 STUDI LITERATUR PANTI WERDHA

2.3.1 Program Kegiatan

Berdasarkan studi dan pengamatan penulis dapat disimpilkan

bahwa program kegiatan dalam konteks panti werdha yang dapat

memfasilitasi kaum werdha adalah seperti berikut:

(14)

Kaum Werdha

1. Kegiatan Bersama (makan, pembinaan keterampilan)

Menyediakan ruangan bersama yang nyaman dan aman bagi kaum werdha.

2. Kegiatan Pribadi (mandi, mencuci pakaian bagi yang

masih sehat, tidur, menonton televisi, mengobrol

dengan sesama kaum werdha, ibadah)

Memberikan fasilitas bagi kaum werdha yang bersifat manusiawi sesuai kebutuhan dengan mempertimbangkan usia dan memberikan kemandirian.

Pengurus

1. Kegiatan pelayanan bagi lansia secara tidak

langsung (administrasi kantor, staff kantor)

Menyediakan ruangan yang nyaman, aman, dan strategis.

2. Kegiatan pelayanan bagi lansia secara langsung

(perawat dan pekerja tidak tetap seperti dokter,

pimpinan panti, psikolog, juru masak, cuci dan setrika)

Memberikan ruangan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Pengunjung

1. Pengunjung atau atau tamu bagi kaum werdha

Menyediakan ruang tamu bersama untuk pengunjung yang hanya menjenguk sebentar, menyediakan kamar untuk pengunjung yang jauh agar bisa menginap.

2.Pengunjung kantor (berurusan dengan administrasi,

perizinan, dll)

Dapat menggunakan ruangan pengurus langsung tanpa harus memberikan ruangan khusus lagi.

(15)

2.3.2 Standar Fasilitas Bagi Kaum Werdha Pada Bangunan Umum

Studi literatur yang diangkat sebagai acuan perancangan

gedung bagi kaum werdha menggunakan prinsip pendekatan

Universal Design.

Gambar diatas merupakan alat bantu untuk para manula yang

sudah mulai tidak sanggup berjalan sendiri, dengan standar dimensi

yang ada kita dapat memberikan ruang gerak minimum untuk

mereka.

Gambar diatas yang diberi warna berbeda merupakan standar

dimensi jalur sirkulasi yang dirasa cukup bagiak untuk digunakan. Sumber : Universal Design

(16)

Gambar diatas yang diberi warna berbeda merupakan standar

dimensi pintu yang dirasa cukup baik jika dibandingkan dengan

gambar lainnya.

(17)
(18)

Gambar diatas yang diberi warna berbeda merupakan standar

dimensi ruang dan peletakan pintu yang dirasa baik, agar tidak

mendapatkan ruang dan dimensi pintu yang diperlukan sesuai

kebutuhan, dengan kata lain tidak membuang-buang ruang kosong.

Gambar diatas yang diberi warna berbeda merupakan standar

dimensi untuk pintu dikamar tidur yang dirasa cukup baik, karena

pintu itu mempunyai sebagian material kaca yang dapat dijangkau

oleh jarak pandang manusia baik manusia normal atau pun kaum

difabel.

(19)

Gambar diatas yang diberi warna berbeda merupakan standar

dimensi untuk peletakan urinoar. Urinoar yang dapat digunakan oleh

(20)

Gambar diatas merupakan dimensi penempatan wastafel dan

peletakan pengering tangan yang sebetulnya dapat digunakan oleh

manusia normal pada umumnya dan oleh kaum difabel.

Untuk lebih lengkapnya mengenai standar fasilitas bagi kaum

difabel yang digunakan pada bangunan Panti Werdha dapat dilihat

pada lampiran.

2.3.3 Studi Fungsi Sejenis Berdasarkan Internet

A. Mornington Centre / Lyons

Location: Mornington, Victoria, Australia

Sebuah bangunan kontes paradigma konvensional

sebuah panti werdha. Melalui pengaturan ruang dan lingkungan normalisasi itu bergeser dari model perawatan medis-centric ke

salah satu tempat keluarga dan pengasuh bekerja dengan staf

untuk memberikan perawatan kepada penghuni.

Kamar dimana orang tinggal terdapat jendela dimana

orang dapat duduk dan menikmati pemandangan. Ini memiliki

jendela openable besar untuk mendapatkan cahaya disiang hari

dan udara segar yang sangat baik untuk kesehatan para lansia.

Sistem kulit bangunan ini dibalut oleh lapisan 'papan'

(21)

B. Tatanan Ruang

Bentuk tatanan ruang disesuaikan dengan kaum werdha,

diantaranya peletakan ruang-ruang yang saling berdekatan

mempermudah aksesbilitas kaum werdha itu sendiri. Bentukan

dindingnya pun seolah menerapkan arsitektur bioklimatik yang

dapat menghasilkan sirkulasi penghawaan silang yang baik. Arah

pencapaian ruang juga cukup tegas dan memiliki akses langsung.

C. Bentuk Masa Bangunan

Bentuk masa bangunan merupakan bentuk linier yang

mengalami subtraktif dan adiktif yang sederhana. Pada bagian

subtraktif dan adiktifnya diberikan bukaan-bukaan pada sudut

yang menegaskan keberadaan bidang-bidang dalam ruang. Gambar 2.1 Rencana Lantai Dasar

Sumber : http://www.archdaily.com/93191/mornington-centre-lyons/

Gambar 2.2 Fasade Mornington Centre

(22)

D. Aksesbilitas Interior

Bentuk sirkulasi dibuat tidak begitu tegas untuk

menghindari kesan formal dan kebosanan. Tetapi selalu terdapat

railling sebagai batas atau jalur keamanan untuk para kaum

werdha.

2.4 STUDI BANDING FUNGSI SEJENIS

2.4.1 Panti Werdha Pemerintah

Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 1, Jakarta Timur

merupakan panti sosial yang dikelola oleh Pemerintah Jakarta yang

memberikan pelayanan sosial bagi lanjut usia terlantar agar dapat

hidup secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat, yang melipiuti

perawatan, perlindungan dan pembinaan fisik, spiritual, sosial dan

psikologis.

A. Lokasi

Gambar 2.4 Foto Udara Lokasi Tapak Sumber : maps.google.com

Gambar 2.3 Suasana Aksesbilitas dan Koridor

(23)

B. Fasilitas Panti Werdha - Lobby

- Ruang Konsultasi

- Ruang Bacaan

- Wisma

- Wisma VIP

- Taman

- Lapangan Olahraga

- Koperasi

- Pos Jaga

- Klinik

- Dapur

C. Gambar Keadaan Eksisting

2.4.2 Panti Werdha Swasta (menengah kebawah)

Panti Werdha BSD berada di Komplek BSD Griya Loka, Sektor

1.6, Jl. Kubis Blok A3/10, Serpong, Kota Tangerang Selatan

(Tangsel). Awal mula panti ini berdiri dari rasa sosial yang tinggi

muncul pada Mohamad Sholeh, Pimpinan Pondok Lansia. Tempat Gambar 2.5 Foto Keadaan Eksisting

(24)

Panti Werdha ini merupakan rumah sewa yang beralih fungsi

menjadi tempat sosial. “Maksud dan tujuan panti, Pondok Lansia

adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap lansia, khususnya

terlantar”, pungkasnya. A. Lokasi

B. Fasilitas Panti Werdha - Kamar Tidur

- Dapur - Teras

C. Gambar Keadaan Eksisting

Gambar 2.6 Foto Udara Lokasi Tapak Sumber : maps.google.com

(25)

2.4.3 Panti Werdha Swasta (menengah keatas)

Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” dimiliki dan dikelola oleh Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan, diprakarsai oleh Ibu Hj.

Siti Hartinah Soeharto dan diresmikan oleh Bapak Soeharto tanggal

14 Maret 1984, merupakan sebuah institusi yang bergerak dibidang

pelayanan kesejahteraan khusus kepada generasi lanjut usia.

A. Lokasi

B. Fasilitas Panti Werdha

1. Hunian

- Wisma Aster 18 kamar VIP - Wisma Bungur 25 kamar - Wisma Cempaka 26 kamar - Wisma Dahlia 8 kamar

2. Klinik Werdha

- Wisma Wijaya Kusuma - 3 kamar VIP

- 15 tempat tidur bangsal rawat inap - Pelayanan 24 jam

3. Penunjang Pelayanan Lansia

- Wisma Soka - Wisma Mawar - Wisma Kamboja - Wisma Kenanga

(26)

4. Fasilitas lain

- Ruang pemeriksaan kesehatan

C. Gambar Keadaan Eksisting

2.4.4 Beberapa Poin Utama Hasil Studi Banding

No Kategori Panti

Gambar 2.9 Foto Keadaan Eksisting Sumber : Data Pribadi

(27)

2 Koridor Tidak

(28)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

BAB III

DESKRIPSI PROYEK DAN ELABORASI TEMA

3.1 DATA UMUM PROYEK

Lokasi : Jalan Dago, Coblong, Jawa Barat

Wilayah : Bandung Utara

Peruntukan (land-use) : Jasa dan Perumahan

Perencanaan fungsi : Panti Werdha

Pemilik Proyek : Swasta

Sumber Dana : Yayasan

PETA BANDUNG

U

(29)

 Luas Lahan : + 29700 m2 / + 2,97 Ha

 Peraturan GSB : 10 m

 Peraturan KDB : 30 %

 Peraturan KLB :1,4

Potensi tapak:

- Lokasi berada di pusat kota terletak pada jalur utama.

- Keindahan pemandangan (bentang alam).

- Udara yang sejuk.

- Aksesbilitas mudah dijangkau.

- Kelengkapan kawasan.

- Vegetasi.

U

Jl. Ir. H. Djuanda TAPAK

+ 29700 m2 /

2,97 Ha

(30)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

Kelemahan tapak:

- Jalur menuju tapak pada pertigaan antara jalan Dago, Jalan Ir.

H. Djuanda, dan jalan Dago Bengkok sering terjadi kemacetan.

- Harga tanah.

- Vegetasi.

- Kontur.

- Ancaman bencana alam.

- Cuaca yang tidak menentu.

Pada umumnya, karakter lingkungan yang dibutuhkan bagi fungsi

Panti Werdha ialah:

- Lingkungan yang tidak terlalu padat.

- Lokasi yang berada dipusat kota dan terletak pada jalur utama.

- Lingkungan dengan udara yang sejuk.

- Keindahan pemandangan (bentang alam).

- Memiliki kelengkapan kawasan.

- Aksesbilitas yang mudah dijangkau.

NO KELOMPOK

UMUR LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

1 0-4 13.292 18.894 32.186

(31)

10 45-49 117.290 108.595 225.885

JUMLAH 1.246.122 1.209.395 2.455.517

Tabel sensus penduduk tahun 2010 diatas bahwa jumlah penduduk

untuk usia lanjut (60 tahun keatas) terbilang cukup banyak, maka

dibutuhkan wadah yang bisa memfasilitasinya. Dilihat dari pertimbangan

tabel tersebut dengan karakter lingkungan yang dibutuhkan bagi fungsi

Panti Werdha, Kota Bandung berpotensi untuk mendirikan Panti Werdha.

Di Kota Bandung terdapat dua jenis Panti Werdha yaitu Panti Werda yang

dikelola oleh pemerintah dan Panti Werdha yang dikelola oleh swasta. Sumber : BPS Kota Bandung (Proyeksi Sensus Penduduk 2010)

Panti Werdha di Bandung

Pemerintah Swasta

(32)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

Panti Jompo Budi Istri Jl. Lodaya No.2 Panti Budi Pertiwi

Jl. Sancang No.2

Panti Jompo Muhamadiyah Jl. Gedebage selatan 14-A Panti Jompo Senjarawi

Jl. Jeruk 7

Yayasan Laswi Jl. Caringin Lumbung II

Rencana Site Jl. Dago

: Panti Werdha yang dikelola Pemerintah : Panti Werdha yang dikelola Swasta : Rencana tapak

Gambar 3.3 Pemetaan Lokasi Aktivitas Panti Werdha Kawasan Bandung

Batasan-batasan: - Utara : Sungai

Cikapundung, Kab. Bandung - Timur : Jalan Dago - Selatan: Jalan Sekunder,

RW.03 Kel. Dago

- Barat : Curug Dago

U

(33)

Kawasan lokasi tapak berada di Kawasan Bandung Utara yang

merupakan daerah resapan air yang tinggi. Untuk kemiringan kontur pada

lokasi tapak sendiri adalah 1o-2o maka termasuk kedalam kategori tanah

landai. Menurut diagram diatas terdapat lima lokasi Panti Werdha di

Bandung diantaranya satu Panti Werdha yang dikelola oleh pemerintah

yang tentunya alokasi dana dari pemerintah, sedangkan empat lainnya

merupakan Panti Werdha yang dikelola oleh swasta dan alokasi dana dari

pemerintah serta masyarakat. Pada akhirnya akan membutuhkan Panti

Werdha yang Mandiri dan dengan mempertimbangkan lokasi dan karakter

lingkungan akan menjadikan Panti Werdha yang HIGH CLASS. Maka dipilihlah lokasi ini sebagai lahan rancangan karena faktor-faktor tersebut.

Batasan Bagian Selatan Batasan Bagian Barat Gambar 3.4 Batasan-Batasan Tapak

Sumber : Data Pribadi

(34)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

Lokasi tapak yang diambil dirasa cukup strategis dan sesuai dengan

karakter lingkungan yang dibutuhkan bagi Panti Werdha.

3.2 STUDI KEBUTUHAN RUANG

1. Fasilitas Panti Werdha

A. Kelompok Hunian

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

Pengelola 12 m

2 2 orang 2 unit 24 m2

Jumlah 3493,5 m2

Sirkulasi 30% 1048,05 m2

Luasan keseluruhan 4541,55 m2

(35)

B. Kelompok Penunjang

- Unit Kesehatan

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

Luasan keseluruhan 169,6 m2

- Unit Keterampilan

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

kerajinan 60 m

2 40 orang 1 unit 60 m2

3 Gudang - 16 m2 - 1 unit - 16 m2 Tabel 3.3 Studi Kebutuhan Ruang Kelompok Penunjang Unit Kesehatan

(36)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

- 30 m2 - 1 unit - 30 m2

4 Ruang latihan 200 m2 80 orang 1 unit 200 m2

Jumlah 366 m2

Sirkulasi 30% 109,8 m2

Luasan keseluruhan 475,8 m2

- Unit Sosial

konsultasi 12 m

2 2 orang 1 unit 12 m2

9 Jacuzzi 42 m2 10 orang 2 unit 84 m2

Jumlah 948 m2

Sirkulasi 30% 284,4 m2

Luasan keseluruhan 1232,4 m2

(37)

C. Kelompok Pelayanan

- Unit Pengelola

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

unit

Jumlah

Luas

1 Ruang

pimpinan 16 m

2 2 orang 1 unit 16 m2

2 Ruang kantor

pengelola 48 m

2 4 orang 3 unit 144 m2

3 Ruang rapat 72 m2 20 orang 2 unit 144 m2

4 Ruang

informasi 12 m

2 3 orang 1 unit 12 m2

5 Lobby 20 m2 1 unit 30 m2

6 Loker

karyawan 30 m

2 20 orang 1 unit 30 m2

7 Lavatory 4 m2 1 orang 2 unit 16 m2

8 Ruang tamu 12 m2 1 unit 12 m2

Jumlah 384 m2

Sirkulasi 30% 115,2 m2

Luasan keseluruhan 499,2 m2

(38)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

kursi roda, dll)

100 m2 1 unit 100 m2

Sirkulasi 30% 109,05 m2

Luasan keseluruhan 472,55 m2

(39)

D. Ruang Luar

Jumlah 1911.1 m2

Perkerasan luar 50%

Luasan keseluruhan 955.55 m2

Jadi total luas bangunan secara keseluruhan dihitung dari besaran

ruang tiap unit adalah sebagai berikut:

A. Kelompok Hunian 4541,55 m2

B. Kelompok Penunjang 1877,8 m2

C. Kelompok Pelayanan 971,75 m2

D. Ruang Luar 955,55 m2

Total secara keseluruhan 8346,65 m2

Tabel 3.8 Studi Kebutuhan Ruang Kelompok Ruang Luar

(40)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

2. Pola Aktivitas

- Kaum Werdha

- Pengurus

- Pengunjung

- Kendaraan

Gambar 3.6 Diagram Pola Aktivitas Kaum Werdha

Sumber : Analisis

Gambar 3.7 Diagram Pola Aktivitas Pengurus

Sumber : Analisis

Gambar 3.8 Diagram Pola Aktivitas Pengunjung

Sumber : Analisis

Gambar 3.9 Diagram Pola Aktivitas Kendaraan

(41)

3. Pemintakatan

Dasar pertimbangan pengelompokan dibagi menjadi tiga yaitu ruang

publik, semi-privat, dan privat. Kelompok ruang publik bersifat umum

dan mudah diakses pengunjung. Kelompok ruang semi-privat bersifat

lebih privasi dan hanya orang yang berkepentingan yang akan diijinkan

masuk. Kelompok privat memiliki tingkat privasi yang tinggi, hanya

orang yang memiliki ijin dari pengelola yang dapat mengakses

kedalamnya. Adapun pengelompokan berdasarkan tingkat privasi,

kebisingan dan fasilitas dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Dari pemintakatan dan elaborasi tema pada akhirnya akan

menghasilkan organisasi ruang, diantaranya sebagai berikut:

Gambar 3.10 Diagram Pengelompokan Ruang Berdasarkan Tingkat Privasi, Kebisingan, dan Fasilitas

Sumber : Analisis

- Keamanan pintu

masuk

- Keamanan gerak/

mobilitas

- Ergonomi

- Suhu/temperatur

- Kelembaban

- Sinar matahari

- Bunga/tanaman

Gambar 3.11 Diagram Elaborasi Tema

(42)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

4. Diagram Matriks Kedekatan Ruang

Gambar 3.12 Organisasi Ruang

Gambar 3.14 Kedekatan Ruang Kelompok Penunjang

Sumber : Analisis

Gambar 3.13 Kedekatan Ruang Kelompok Hunian

(43)

3.3 Tema

Berangkat dari masalah yang ada di Indonesia dimana negara

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbesar

keempat setelah China, India, dan Jepang (U.S.Census Bureau,

International Data Base, 2009). Seiring berjalannya waktu, dimana

modernisasi membawa sejumlah perubahan baik positif maupun negatif

terhadap masyarakat. Salah satu dampak positif modernisasi adalah

berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadikan tingkat

kehidupan menjadi lebih baik, sedangkan dampak negatif modernisasi

adalah tumbuhnya sikap individualistik. Pada akhirnya para manula kurang

mendapatkan perhatian dan merasakan kesepian serta tidak adanya teman

sebaya untuk bersosialisasi. Di Indonesia memiliki cukup banyak Panti

Werdha, namun kebanyakan dari itu Panti Werdha yang ada di negara kita

fasilitasnya terbatas dan kumuh. Maka yang dibutuhkan adalah sebuah Gambar 3.15 Kedekatan Ruang Kelompok Pelayanan

Sumber : Analisis

Gambar 3.16 Kedekatan Ruang Kelompok Luar

(44)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

rancangan Panti Werdha yang memberikan hidup bahagia dalam masa tua

dengan fasilitas yang bersifat manusiawi sesuai kebutuhan dan memberikan

kemandirian.

Tema yang diangkat dalam perancangan Tugas Akhir ini adalah

Serenity” sebagai tawaran desain bagi kaum werdha.

Serenity adalah ketenangan dan ketentraman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi tenang adalah ridak gelisah, tidak rusuh, tidak

kacau, tidak ribut, aman, dan tentram (perasaan hati, keadaan). Sedangkan

definisi tentram menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah aman dan

damai.

Sesuai dengan tema diatas, perancangan Panti Werdha yang

menghadirkan konsep serenity sebagai tawaran desain untuk kaum werdha

dalam bentuk:

a) Fasilitas bagi kaum werdha yang bersifat manusiawi sesuai

kebutuhan dan memberikan kemandirian.

b) Dimensi ruang yang aman dan nyaman bagi kaum werdha/difabel.

Sedemikian rupa akan menggunakan prinsip-prinsip desain yang

ramah terhadap pengguna difabel dengan standar – standar “Universal

Design” dan standar – standar “Pekerjaan Umum” dalam proses

perancangan.

Rumah sebagaimana sebuah hunian, sehubungan dengan tema

serenity dapat dideskripsikan dalam beberapa aspek penilaian. Gagasan Gambar 3.17 Gambaran Permasalahan

(45)

awal dari tema serenity adalah serene, dimana serene terdiri dari empat

makna yaitu tenang, hening, terang, dan tentram.

Untuk makna tenang dan hening muncul dari beberapa elemen yaitu

tanaman atau bunga-bunga, suara percikan air, dan suara burung. Untuk

makna terang diangkat dari masalah yang ada di Panti Werdha yang menjadi

bahan studi banding dan studi lapangan, dimana kebanyakan Panti Werdha

untuk ruangan-ruangan tempat beristirahat para manula memiliki tingkat

kelembaban yang tinggi dan kurangnya mendapatkan pencahayaan alami.

Untuk tentram sendiri muncul oleh lingkungan. Pada akhirnya ketenangan

dan ketentraman itu akan muncul dengan sendirinya (serenity).

Indera Yang

Berpengaruh

Elemen

Therapeutic Cara Sumber Rujukan

Penglihatan air Air yang berbentuk

kolam, jalur, bergerak.

Septana Bagus

Pribadi, S.T., M.T.

Burung Taman burung untuk

kesehatan mata yang

diperoleh dari

gerakan-gerakan

burung.

www.SuaraBurung

s.com

bunga Pemandangan taman

dan kebun bunga. Putri Arifa Malik SERENE

(46)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

Pendengaran Suara air Air yang dibuat kolam

dan disertakan air

mengurangi rasa

stress dan untuk

sebagai aroma terapi.

Dr. Bach

Perasa air Unsur air yang

diletakan di sekitar

bangunan akan

mendinginkan udara/

angin yang masuk ke

keterampilan motorik

dan mengurangi

depresi.

www.SuaraBurung

(47)

BAB IV

DATA DAN ANALISIS

4.1 ANALISIS KAWASAN

4.1.1 Kesesuaian Kawasan dengan yang sudah ada di Kota Bandung

Pemilihan lahan mempertimbangakan banyak hal salah satu yang

paling utama adalah mempertimbangkan lokasi yang masih sejuk dengan

view yang baik dan menarik serta aksesbilitas yang mudah dijangkau.

Kota Bandung sendiri merupakan tempat destinasi atau tempat wisata,

banyak memiliki tempat wisata yang menyuguhkan keindahan

pemandangan (bentang alam) & udara yang sejuk. Maka pada akhirnya

dengan mempertimbangkan hal tersebut pilihan lokasi adalah mengarah

ke Kawasan Bandung Utara.

Gambar 4.1 Foto Udara Peta Kota Bandung

Sumber : maps.google.com

(48)

4.1.2 Kesesuaian Kawasan dengan Aturan yang ada

Menurut perda RTRW kota bandung Bandung Utara terletak pada

Zona IB adalah zona yang didominasi oleh kawasan hutan negara, rawan

kebencanaan skala menengah sampai tinggi, serta indeks konservasi tinggi.

Secara prinsip tidak diperkenankan dilakukan penambahan luas kawasan

terbangun kecuali dinyatakan masih layak dari penilaian daya dukung dan

daya tampung lingkungan, atau hanya diperkenankan yang bersifat renovasi

vertikal atau bangunan khusus yang berfungsi sebagai penunjang kehutanan

dengan kajian sebelumnya. Zona IA bersifat pedesaan, dengan kondisi lahan

eksisting masih pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Zona IB bersifat

perkotaan, dengan kondisi lahan eksisting berupa permukiman perkotaan,

terutama di wilayah Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Lembang Kota. Pada

Zona IB, masih ditoleransi adanya bangunan rumah tinggal.

Gambar 4.2 Peta Rencana Struktur Ruang Kota Bandung

(49)

4.2 ANALISIS TAPAK

Gambar 4.3 Rencana Pola Ruang Kota Bandung

Sumber : Pemerintah Kota Bandung

Gambar 4.4 Peta Kontur dan Site

Sumber : Pemerintah Kota Bandung

(50)

Aksesbilitas

Aksesbilitas menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan

umum ataupun pribadi. Namun untuk mencapai lokasi jika menggunakan

kendaraan umum hanya bisa sampai pertigaan jalan antara jalan Ir. H.

Djuanda, jalan Dago Bengkok, dan jalan Dago karena jalur angkutan

umum hanya ada melewati jalan Ir. H. Djuanda dan jalan Dago Bengkok.

Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh melalui rute: Bandung – Simpang

Dago – lokasi sejauh + 3 Km. Jika rute dari Jakarta adalah Jakarta –

Cipularang – Keluar di Tol Pasteur – Simpang Dago – lokasi + 3 Km.

Kemiringan Kontur dan Kecuraman

Ketingggian dan kecuraman kontur terbagi menjadi beberapa kategori.

Dari hasil pengamatan terdapat terdapat kemiringan kontur dengan

sudut 1o-2o. Semakin mengarah ke arah utara maka permukaan dari

tanah juga semakin landai.

Pada Gambar di samping warna

yang berwarna gelap

menunjukan bahwa ketinggian

konturnya lebih tinggi dari pada

yang berwarna terang.

Gambar 4.5

Peta Ketinggian Kontur

Pada Gambar di samping warna

gelap menandakan kecuraman

yang belipat yaitu perbedaan

ketinggian 200 cm. Namun untuk

yang lain rata-rata 60 cm – 10

cm.

Gambar 4.6

Peta Kecuraman Kontur

U

(51)

Hidrologi dan Vegetasi

Hidrologi aliran air yang terdapat di kawasan seluruhnya mengalir

menuju sungai yang berada disebelah utara site. Karena aliran air selalu

mengarah dari daerah lebih tinggi ke daerah yang lebih rendah.

Kebisingan dan Orientasi

Kebisingan yang ada didalam kawasan berasal dari jalan raya yang

berada pada bagian timur site nantinya akan dijadikan parkir untuk mobil

dan kendaraan yang lainnya, juga berasal dari kawasan Curug Dago

yang berada pada bagian barat site nantinya akan dijadikan botanical

garden dan tempat untuk bersosialisasi. Dalam orientasi tapak

perpotongan antar aksis dapat dijadikan sebagai pertimbangan terhadap

dimana berkumpulnya aktivitas.

Vegetasi yang sering ditemui

dikawasan ini merupakan pohon

peneduh. Untuk sisi bagian barat

mempunyai macam-macam

tumbuhan peneduh yang sudah

tua. Sedangkan pada lokasi

tapaknya sendiri sebagian besar

terdapat tanaman konsumsi.

Gambar 4.7

Peta Vegetasi Eksisting

: Tanaman peneduh : Tanaman konsumsi

U

U

(52)

Cahaya Matahari

Orientasi Kawasan terhadap adalah mengarah keutara. Sehingga tidak

mempengaruhi bukaan yang nantinya akan banyak mengarah keutara

dan keselatan karena sisi negatif dari cahaya matahari terhadap arsitektur

tropis adalah dari sisi barat dan timur.

4.3 ANALISIS LINGKUNGAN

Lahan

Tanah yang ada disekitar kawasan yang dipilih cukup stabil dan cukup

landai. Selain itu juga tanahnya cukup padat dan merupakan bagian dari

tanah gembur yang sangat cocok untuk dimanfaatkan menjadi tempat

bercocok tanam.

Aktivitas Masyarakat

Akivitas Masyarakat yang ada dikawasan secara keseluruhan masih

mengandalkan sektor perkebunan untuk dapat membiayai hidup. Selain

itu terlihat juga kualitas SDM yang kurang dan sebagian masih dibawah

standar.

Kondisi Sekitar

Kondisi sekitar adalah merupakan Kawasan Bandung Utarayang

berfungsi melindungi kelestarian lingkungan hidup. Sehingga banyak

SITE

(53)

terdiri dari Pohon-Pohon pada Kawasan Bandung Utara yang harus tetap

dipertahankan.

Fasilitas Eksisiting

Kawasan tidak memiliki fasilitas pendukung. Untuk itu perlunya fasilitas

pendukung yang baik, aman, nyaman dan rapi. Perencanaanya didapat

dengan cara membangun yang baru.

4.4 PROGRAM RUANG

Kebutuhan ruang yang dibutuhkan dalam perancangan kawasan.

Pembagian menurut derajat kepentingannya dan indikator pengguna

terhadap setiap ruang yang ada. Ruang yang dibutuhkan meliputi kebutuhan

dari bangunan utama, kelompok hunian, kelompok penunjang, kelompok

pelayanan, dan ruang luar. Luas area adalah 29700 m2 dan KDB di kawasan

(54)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

BAB V

KONSEP PERANCANGAN

5.1 KONSEP DASAR

Konsep dasar perancangan dari Dago Aged Village adalah bagaimana menghadirkan rancangan bagi Kaum Werdha yang

menciptakan rasa tenang, hening, tentram, dan terang. Ini dapat dirasakan

oleh hati, lingkup fisik, dan lingkup sosial yang berasal dari lingkungan yang

alami maupun diciptakan oleh manula itu sendiri. Menciptakan Panti

Werdha yang aman dan nyaman, pada akhirnya para manula pun akan ikut

serta merawat dan bekerja sama untuk berkebun . Dan munculnya peduli

sosial dengan lingkungan sekitar.

Rasa tenang, tentram, aman, dan nyaman pada akhirnya akan muncul

oleh beberapa unsur elemen theurapeutic. Elemen theurapeutic itu sendiri

diantaranya elemen air, tanaman, material bangunan & lansekap, dan

hewan dan/ binatang peliharaan.

ELEMEN

sejuknya BENINGNYA

DAMPAKNYA:

- Suara daun yang tertiup angin memberikan efek psikologis yang menenangkan. - Mawar dapat menghilangkan ketegangan,

depresi, kesedihan, dan kelelahan mental. - Melati dapat meningkatkan semangat,

meredakan ketegangan, kelelahan, depresi, dan kekhawatiran.

- Krisan bermanfaat untuk mengatasi stres, alergi, dan kecemasan berlebihan karena aromanya bersifat menenangkan.

Gambar 5.1 Analisis Elemen Theurapeutic

(55)

5.2 RENCANA TAPAK

5.2.1 Konsep Pencapaian

Pada rancangan Panti Werdha yang mengutamakan

kenyamanan dan keamanan ini konsep aksesibilitas dibedakan

menjadi dua yaitu pencapaian oleh pedestrian dan kendaraan. Hal ini

dilakukan untuk mencegah terjadinya cross-circulation. Entrance

pejalan kaki dan kendaraan tidak akan saling memotong agar

kenyamanan dan keamanan tetap terjaga dengan baik. Selain itu

pada area dalamnya sehubungan dengan tidak adanya kendaraan

yang masuk maka hanya untuk pejalan kaki dan orang yang

bersepeda saja, tidak lupa memikirkan jarak lelah orang untuk berjalan

maka setiap jarak < 15 meter selalu ada area untuk beristirahat.

5.2.2 Sirkulasi dan Parkir

Sirkulasi pengunjung diarahkan untuk menuju kearah bagunan

utama yaitu pengelola yang terdapat drop off, sepanjang perjalanan

dari entrance menuju drop off disuguhi oleh pemandangan taman

disebelah kanan dan terdapat median jalan berupa kolam air mancur.

Setelah memasuki bangunan pengelola, pengunjung disuguhi oleh

ruang terbuka dan terdapat gedung serbaguna yang bisa dipakai

untuk berbagai macam acara. Kawasan ini bersumbu pada taman

burung yang berupa sangkar burung yang cukup besar. Untuk menuju

unit-unit huniannya pun tidak terlalu jauh, serta setiap jarak <15m

terdapat area berhenti untuk beristirahat.

Gambar 5.2 Alur Pencapaian Dari Luar Tapak Ke Dalam Bangunan

(56)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

5.2.3 Pemintakatan (Zoning)

Dasar pertimbangan pengelompokan Zona dibagi menjadi tiga

yaitu kelompok ruang publik, semi-privat, dan privat. Kelompok ruang

publik yaitu area parkir yang bersifat umum dan mudah diakses

pengunjung yaitu ruang terbuka. Kelompok ruang semi-privet yaitu

berupa fasilitas-fasilitas kawasan yang bersifat lebih privasi dan hanya

orang yang berkepentingan yang akan diijinkan masuk. Kelompok

privat yaitu unit hunian yang memiliki tingkat privasi yang tinggi, hanya

orang yang memiliki ijin dari pengelola yang dapat mengakses

kedalamnya.

Area Parkir Fasilitas

Hunian

Gambar 5.4 Pemintakatan atau Zoning

Sumber : Data Pribadi Gambar 5.3 Alur Sirkulasi dan Parkir

(57)

5.2.4 Gubahan Massa

Konsep gubahan massa bangunan bahwa orientasi massa

bangunan sepenuhnya tidak mengarah ke Barat ataupun Timur

secara langsung. Selain itu juga adanya keterikatan untuk dapat

mengarahkan pergerakan sirkulasi dari para penghuni itu sendiri

melalui sirkulasi antar bangunan.

.

5.2.5 Utilitas

Untuk sistem utilitas suplai air bersih menggunakan air dari

PDAM kota Bandung dan air sumur. Setelah itu ditampung pada Gambar 5.5 Konsep Gubahan Masa Bangunan

Sumber : Data Pribadi

Gambar 5.6 Utilitas Air Bersih dan Listrik

(58)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013 reservoir dan di pompa ke watertank lalu dialirkan menggunakan

bantuan gravitasi agar meminimumkan penggunaan energi listrik.

Sistem utilitas air kotor melalui filter treatment untuk dinetralkan

limbahnya sebelum sampai ke septic tank dan dibuang ke riol kota

supaya tidak terlalu mencemari saluran riol kota.

5.2.6 Maintenance

- Material batu alam yang digunakan pada perkerasan dipelihara

dan dibersihkan setiap seminggu sekali untuk meminimalisir

tingkat kelicinan.

- Kolam-kolam yang ada dipelihara dengan cara dikuras setiap

seminggu sekali agar tetap bersih dan terawat dengan baik.

- Taman burung dipelihara dan dibersihkan setiap seminggu sekali

tanpa melupakan kesehatan-kesehatan hewannya pun

didatangkan dokter untuk mengecek kesehatan setiap seminggu

sekali.

- Untuk pembuangan limbah klinik terdapat insenerator didalam

kawasan, selain itu terdapat tiga jenis tempat pembuangan

sampah diantaranya sampah kering, basah, dan medis.

Sedangkan untuk pembuangan popok yang digunakan oleh kaum

werdha dapat dibuang pada tempat sampah basah.

- Untuk menjaga dan merawat tanaman-tanaman yang ada

dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari. Dan

dilakukan pemupukan setiap dua minggu sekali.

5.3 KONSEP BANGUNAN

5.3.1 Bentuk Bangunan dan Material

Bentuk Bangunan menggunakan bentukan-bentukan geometri

yang sederhana. Selain itu juga material yang digunakan adalah

berasal dari material yang ada dialam. Tujuannya adalah manusia

akan semakin bergantung dari alam karena kebergantungan terhadap

alam itulah manusia akhirnya akan secara maksimal menjaga alam

(59)

Selain itu juga gunanya untuk mempermudah proses maintenance pada bangunan-bangunan yang ada didalam kawasan.

5.3.2 Entrance dan Bukaan

Bukaan pada bangunan dibuat sangat responsif untuk iklim di

Indonesia sendiri yang merupakan iklim tropis karena penempatannya

menghadap utara & selatan dan/ tidak menghadap barat & timur

secara langsung.

Cahaya Matahari dapat masuk kedalam bangunan dengan baik

pada pagi, siang, ataupun sore hari karena tampak muka bangunan

yang menghadap utara dan selatan dan/ tidak menghadap barat &

timur secara langsung.

Sirkulasi Udara pada bangunan tidak terdapat ventilasi udara

yang bisa bebas masuk karena penggunaan jendela-jendela yang

hanya bisa dibuka manual.

5.3.3 Dimensi

Makin tinggi plafond makin nyaman penghawaan dalam ruang (udara panas naik ke atas). Tetapi ruangan yang terlalu tinggi juga

Gambar 5.7 Bangunan yang Respon Terhadap Iklim Tropis

(60)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013 tidak baik maka tinggi ruangan dibatasi oleh psikologi manusia yang

memakai ruangan. Ruang-ruang yang menampung aktivitas

berkapasitas besar yang dibuat berskala megah.

5.3.4 Ergonomis

Penataan kamar mandi tidak lepas dari prinsip ergonomis. Toilet,

tempat mandi, wastafel, juga perlengkapan untuk segala kegiatan

yang berlangsung telah diperhitungkan, tanpa melupakan keperluan

Kaum Werdha dimana terdapat railing-railling untuk memberikan

kemudahan mereka sehingga kenyamanan dan kemudahan dalam

berkegiatan dapat tercapai.

3 m

Gambar 5.8 Interior

Sumber : Data Pribadi

- Nyaman terhadap aksesbilitas,

dimana jarak jalan terjangkau.

- Meja dan kursi yang relatif

rendah dapat lebih mencairkan

suasana karena wajah lebih

terlihat dan terasa kurang

(61)

5.3.5 Sirkulasi

Sirkulasi ruang yang digunakan cukup baik dapat dilihat dari

denah, tidak adanya ruang dalam ruang dan setiap ruangnya

mendapat udara dan cahaya masing-masing sehingga respon

bangunan terhadap iklim tropis sudah diterapkan pada denah.

5.3.6 Sistem Struktur

Sistem struktur yang digunakan pada setiap perbedaan kontur

adalah menggunakan dinding penahan tanah atau Retaining Wall. Sedangkan untuk struktur bangunan lainnya menggunakan struktur

rigid frame. Untuk pondasi pada bangunan utama menggunakan

pondasi telapak sedangkan bangunan-bangunan hunian

mmenggunakan pondasi batu kali. Sedangkan untuk atap, sebagian

menggunakan berbagai model atap tradisional yaitu atap miring, atap

pelana dan untuk keagamaan menggunakan atap perisai. Gambar 5.9 Sirkulasi Ruang

(62)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

5.3.7 Utilitas

Untuk sistem utilitas suplai air bersih menggunakan air dari

PDAM kota Bandung dan air sumur. Setelah itu ditampung pada

reservoir dan di pompa ke watertank lalu dialirkan menggunakan

bantuan gravitasi agar meminimumkan penggunaan energi listrik. Gambar 5.10 Potongan Struktur Bangunan Hunian

Sumber : Data Pribadi

Skema Air Kotor Skema Air Bersih

Gambar 5.11 Ilustrasi Utilitas Bangunan

Sumber : Data Pribadi

Watertank

Riol Kota

Septic Tank

Filter Treatment

(63)

Sistem utilitas air kotor melalui filter treatment untuk dinetralkan

limbahnya sebelum sampai ke septic tank dan dibuang ke riol kota

supaya tidak terlalu mencemari saluran riol kota.

5.3.8 Tabel Kebutuhan Ruang

Berikut ini adalah kebutuhan Program Ruang yang baru dari hasil

analisis dan survey sebagai bentuk perancangan.

KELOMPOK HUNIAN

Pengelola 25,5 m

2 2 orang 2 unit 51 m2

Jumlah 2490, 5 m2

Sirkulasi 30% 747,15 m2

Luasan keseluruhan 3237,65 m2

KELOMPOK PENUNJANG (KESEHATAN)

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

unit

Jumlah

(64)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013

Luasan keseluruhan 169,6 m2

KELOMPOK PENUNJANG (KETERAMPILAN)

(65)

7 Ruang kerja 12 m2 3 orang 1 unit 12 m2

Luasan keseluruhan 169,6 m2

KELOMPOK PENUNJANG (SOSIAL)

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

konsultasi 12 m

2 2 orang 1 unit 12 m2

9 Jacuzzi 42 m2 10 orang 2 unit 84 m2

Jumlah 948 m2

Sirkulasi 30% 284,4 m2

Luasan keseluruhan 1232,4 m2

KELOMPOK PELAYANAN (PENGELOLA)

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

unit

Jumlah

(66)

SEIN SEIN HASNI FAUZIAH | 104.11.013 1 Ruang

pimpinan 16 m

2 2 orang 1 unit 16 m2

2 Ruang kantor

pengelola 48 m

2 4 orang 3 unit 144 m2

3 Ruang rapat 72 m2 20 orang 2 unit 144 m2

4 Ruang

informasi 12 m

2 3 orang 1 unit 12 m2

Luasan keseluruhan 499,2 m2

KELOMPOK PELAYANAN (SERVIS)

(67)

8 Gudang (alat

pembersih,

kursi roda, dll)

100 m2 1 unit 100 m2

Sirkulasi 30% 109,05 m2

Luasan keseluruhan 472,55 m2

KELOMPOK RUANG LUAR

No Nama Ruang Luas (m2) Kapasitas Jumlah

Jumlah 1911.1 m2

Perkerasan luar 50%

Luasan keseluruhan 955.55 m2

Total Luas Lantai Dasar Keseluruhan 7042,75m2

Sirkulasi 20% 1408,55m2

TOTAL 8451,3 m2

(68)

BAB VI

HASIL RANCANGAN

6.1 PETA SITUASI

Peta situasi akan menggambarkan keseluruhan tapak yang berlokasi

di jalan Dago Bandung, merupakan bagian dari perancangan proyek Dago

Aged Village sebuah rancangan bagi Kaum Werdha.

Gambar 6.1 Block Plan Tapak Dago Aged Village

(69)

6.2 GAMBAR PERANCANGAN

6.2.1 Site Plan

6.2.2 Denah

Site Plan

Gambar 6.2 Site Plan Dago Aged Village

(70)

6.2.3 Tampak

Gambar 6.3 Denah Hunian Tipe 1-4 dan Hunian Keluarga

Sumber : Data Pribadi

Tampak Depan Hunain Tipe 1

(71)

Tampak Samping Kanan Hunain Tipe 1

Tampak Samping Kiri Hunain Tipe 1

Tampak Depan Hunain Tipe 2

Tampak Belakang Hunain Tipe 2

Tampak Samping Kanan Hunain Tipe 2

Tampak Samping Kiri Hunain Tipe 2

Tampak Depan Hunain Tipe 3

(72)

Tampak Samping Kanan Hunain Tipe 3

Tampak Samping Kiri Hunain Tipe 3

Tampak Depan Hunain Tipe 4

Tampak Belakang Hunain Tipe 4

Tampak Samping Kanan Hunain Tipe 4

Tampak Samping Kiri Hunain Tipe 4

(73)

Tampak Belakang Hunain Keluarga

Tampak Samping Kanan Hunain Keluarga

Tampak Samping Kiri Hunain Keluarga

Gambar 6.4 Tampak Hunian Tipe 1-4 dan Hunian Keluarga

(74)

6.2.4 Potongan

Gambar 6.5 Potongan Hunian Tipe 1-4 dan Hunian Keluarga

(75)

6.2.5 Perspektif Suasana

Gambar 6.6 Perspektif Mata Burung

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.7 Suasana Entrance

(76)

Gambar 6.8 Suasana Entrance

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.9 Suasana Drop off

(77)

Gambar 6.10 Suasana Eksterior Gedung Serba Guna

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.11 Suasana Plaza Taman Burung

(78)

Gambar 6.12 Suasana Taman Bermain & Area Senam Outdoor

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.13 Suasana Pedestrian Antar Hunian

(79)

Gambar 6.14 Suasana Kamar Hunian Tipe 2

Sumber : Data Pribadi

(80)

Gambar 6.16 Suasana Pantry

(81)

6.3 MAKET PRESENTASI

Gambar 6.17 Foto Maket Dago Aged Village 1

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.18 Foto Maket Dago Aged Village 2

(82)

Gambar 6.19 Foto Maket Dago Aged Village 3

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.20 Foto Maket Dago Aged Village 4

Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.21 Foto Maket Dago Aged Village 5

(83)

Tema

SERENITY

LAPORAN PERANCANGAN

AR38313S-STUDIO TUGAS AKHIR

SEMESTER VIII TAHUN 2014/2015

Sebagai Persyaratan untuk memperoleh

Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Oleh :

Sein Sein Hasni Fauziah

1.04.11.013

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

(84)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Maksud dan Tujuan ... 4

1.3 Masalah Perancangan ... 4

1.4 Pendekatan Perancangan ... 4

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan ... 4

1.6 Kerangka Berpikir ... 5

1.7 Sistematika Laporan ... 6

BAB 2 STUDI BANDING DAN LITERATUR ... 2.1 Pengertian Istilah ... 7

2.2 Penggolongan dan Studi Lansia ... 7

2.3 Studi Literatur Panti Werdha ... 9

2.3.1 Program Kegiatan ... 9

2.3.2 Standar Fasilitas Bagi Kaum Werdha Pada Bangunan Umum ... 11

(85)

2.4 Studi Banding Fungsi Sejenis ... 18

2.4.1 Panti Werdha Pemerintah ... 18

2.4.2 Panti Werdha Swasta (Menengah Kebawah) ... 19

2.4.3 Panti Werdha Swasta (Menengah Keatas) ... 21

2.4.4 Beberapa Poin Utama Hasil Studi Banding ... 22

BAB 3 DESKRIPSI PROYEK DAN TEMA ... 3.1 Data Umum Proyek ... 24

3.2 Studi Kebutuhan Ruang ... 30

3.3 Tema ... 39

BAB 4 DATA DAN ANALISA ... 4.1 Analisis Kawasan ... 43

4.1.1 Kesesuaian Kawasan dengan yang Sudah Ada Di Kota Bandung 43 4.1.2 Kesesuaian Kawasan dengan Aturan Yang Ada ... 44

4.2 Analisis Tapak ... 45

4.3 Analisis Lingkungan ... 48

4.4 Program Ruang ... 49

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN ... 5.1 Konsep Dasar ... 50

5.2 Rencana Tapak ... 51

5.2.1 Konsep Pencapaian ... 51

5.2.2 Sirkulasi dan Parkir ... 51

5.2.3 Pemintakatan (Zoning) ... 52

5.2.4 Gubahan Massa ... 53

5.2.5 Utilitas ... 53

5.2.6 Maintenance ... 54

(86)

5.3.1 Bentuk Bangunan dan Material ... 54

5.3.2 Entrance dan Bukaan ... 55

5.3.3 Dimensi ... 55

5.3.4 Ergonomis ... 56

5.3.5 Sirkulasi ... 57

5.3.6 Sistem Struktur ... 57

5.3.7 Utilitas ... 58

5.3.8 Tabel Kebutuhan Ruang ... 59

BAB 6 HASIL RANCANGAN ... 6.1 Peta Situasi ... 64

6.2 Gambar Perancangan ... 65

6.2.1 Siteplan ... 65

6.2.2 Denah ... 65

6.2.3 Tampak ... 66

6.2.4 Potongan ... 70

6.2.5 Perspektif Suasana ... 71

6.3 Maket Presentasi ... 77

DAFTAR PUSTAKA ...

(87)

Chaidir, editor, Wibi Hardani Cet. 1. Jakarta: Erlangga, 2002

Neufert, Ernest. 1992. Data Arsitek Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Joseph de Chiara

dan john Callender.1992

Ching, Francis D.K. Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan. Jakarta: Penerbit

Erlangga, 2000.

(88)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, karena hanya dengan rahmat dan

karunia-Nya, saya sebagai penulis dapat menyelesaikan proyek tugas akhir yang diberi

judul “Dago Aged Village”.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah mendapatkan banyak bantuan

dari berbagai pihak, baik dari segi materi, semangat maupun masukan-masukan

yang sangat membangun. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada :

1. Rektor Universitas Komputer Indonesia, Dr. Ir. Eddy Soeryanto

Soegoto, M.Sc.

2. Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Prof. Dr. Ir. H. Denny

Kurniadie, Ir., M.Sc.

3. Ketua Program Studi Teknik Arsitektur, Dr. Salmon Priaji Martana.

4. Dosen pembimbing, Dhini Dewiyanti Tantarto, Ir., M.T. yang telah

meluangkan waktunya guna membimbing, memberi pengarahan dan

masukan kepada penulis dengan penuh perhatian.

5. Seluruh Dosen-Dosen Penguji.

6. Kedua orang tua serta kakak dan adik tercinta yang selalu memberikan

doa, dukungan dan semangat penulis serta memberikan dukungan

moril dan materil, serta motivasi kepada penulis dalam penyusunan

proyek tugas akhir ini.

7. Rilwanul Rizal, Endri Gustiawan, dan Ilham Widya Putra yang telah

membantu dan memberikan motivasi serta semangat kepada penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Meunik Septia Dewi,Yulianti Maryam, Nadia Yuzan Rifqi, Hana Shofa

Aulia dan teman Arsitektur angkatan 2011 Unikom, dan

teman-teman diluar kampus Unikom yang telah memberikan dukungan dan

perhatian kepada penulis.

Dengan penuh rasa terima kasih penulis berharap semoga segala

(89)

dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca atau penulis yang lain

dimasa yang akan datang.

Bandung, 30 Juli 2015

Gambar

Tabel 3.1 Proyeksi Sensus Penduduk 2010
Tabel sensus penduduk tahun 2010 diatas bahwa jumlah penduduk
Gambar 3.3 Pemetaan Lokasi Aktivitas Panti Werdha Kawasan Bandung
Gambar 3.4 Batasan-Batasan Tapak
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ketahanan dan kebahagiaan bangunan rumah tangga dapat terwujud pada pasangan difabel laki-laki yang menikah dengan perempuan non difabel.Sementara pasangan difabel perempuan

BARANG:MILIK DAERAHPRqVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA BERUPA TANAH; BANGUNAN DAN BARANG INVENTARIS PADA PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDr MULIA 3

wellbeing yang terjadi pada diri subjek ketika tingga1 di panti werdha. sehingga subjek dapat me1a1ui tahap perkembangannya

Mesin produksi yang digunakan di PT Asahan Crumb Rubber dapat dilihat. pada

personal hygiene pada lansia yang ada di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata dan Beringin, maka pengambilan sampel di Panti Sosial Tresna Werdha Ilomata disesuaikan atau

Pada penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel bergantung dan variabel bebas.Data yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran A.Variabel bergantung

Dalam perancangan panti Terapi dan Rehabilitasi Kanker ini menggunakan struktur payung karena bentukan bangunan yang digunakan adalah bentukan yang mengambil analogi dari

Hasil dari analisa uji tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 5.5 Tabel 5.5 Analisa Uji Normalitas Data Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 1 tahun 2022 n : 22 Hasil P Value