Nama : Moch Dani Nurdiansyah Tempat Tangal Lahir : Cianjur,3 Febuari 1990 Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Alamat Asal : Perumahan rancabali No. 79 RT/RW 02/04 kel. Muka Cianjur, 43212
E-mail : [email protected] Telephone : (0263) 270909
085759403726 Kewarganegaraan : Indonesia
Hobi : Bermain game, Futsal, Tenis Meja, Bulu Tangkis,
PENDIDIKAN
1995 - 2001 : SDN Salakopi 2 Cianjur 2001 - 2004 : SMP Negeri 1 Cianjur
2004 - 2007 : SMA Negeri 1 Cilaku - Cianjur
2008– sekarang : Mahasiswa tingkat akhir Universitas Komputer Indonesia
Hormat Saya,
The Influence Of Store Display And Discount
To Impulsive Buying On Cunsomers Toserba Selamat Cianjur
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Komputer Indonesia
Oleh :
MOCH DANI NURDIANSYAH
21208064
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
vi
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah–Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan UsulanPenelitian
yang berjudul “PENGARUH DISPLAY TOKO DAN DISCOUNT TERHADAP
PEMBELIAN IMPLUSIF PADA KONSUMEN TOSERBA SELAMAT
CIANJUR”.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih untuk
kedua orangtua tersayang yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun
materil serta doa dan kasih sayang yang tulus dan bimbingannya yang begitu
besar untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Atas segala bantuan dan bimbingan
yang telah penulis terima, tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, selaku Rektor Universitas
Komputer Indonesia.
2. Bapak Dr. Dedi Sulistiyono, S., MT selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Komputer Indonesia.
3. Ibu Dr. Raeny Dwisanty, SE.,M.Si selaku Ketua Program studi
Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
Ibu Dr. Raeny Dwisanty, SE.,M.Si.,selaku pembimbing yang telah
berkenan dan meluangkan waktunya memberikan perhatian, masukan,
arahan dan semangat dan keceriaan selama kuliah di UNIKOM, anda
vii
manajemen pemasaran, yang selalu memberi motivasi, perhatian, masukan
sehingga skripsi ini dapat berjalan lancar.
5. Oman Sukirman, SE., MM, selaku penguji II yang telah memberikan
arahan kepada penulis, sehingga penulis dapa tmenyelesaikan skripsi ini.
6. Windi Novianti, SE.MM, selaku koordinator siding skripsi.
7. Linna Ismawati, SE.,M.Si. selaku ketua panitia pelaksanaan tugas akhir.
8. Seluruh Staff Dosen Pengajar UNIKOM yang telah membekali penulis
dengan pengetahuan sertai lmu yang sangat berharga.
9. Teh Maya yang selalu memberikan dukungan, dengan segala kebaikannya.
10.Teh Hana yang juga selalu baik dan memberikan dukungan.
11.Bapak H. Ma’ mun selaku Direktur utamaToserba Selamat yang telah
memberikan konsiderasinya bagi saya untuk melakukan penelitian.
12.Bapak Jafar Numeri selaku Karyawan Toserba Selamat yang sudah
mengijinkan penulis melakukan penelitian.
13.Laporan ini penulis dedikasikan untuk ayah saya Dadang Sunandar atas
doanya saya dapat menyelesaikan laporan ini.
14.Nurjanah, mamaku yang paling kusayangi, terimakasih sudah memberi arti
viii
16.Maman Setiawan omku yang telah banyak memberikan bantuan materi
dan doa untuk pendidikan saya, memotivasi saya, dan memberikan nasehat
untuk membentuk pengembangan diri saya.
17.Asep Alfarizy omku yang banyak ikut andil dalam perkembangan saya
sejak kecil untuk menjadi panutan cita-cita saya.
18.Nina Nurlina tanteku yang selalu menjadi pembawa keceriaanku sejak
kecil sampai proses pendewasaan.
19.Yana Mulyana yang aku yakin paling tahu akan perjalanan skripsiku ini,
terimakasih atas segala dukungannya.
20.Lina Marlina tanteku yang ikut mendukungku. Terimakasih untuk
dukungannya.
21.Asri Ardiantika Putri, adik perempuanku. Terimakasih sudah menjadi
teman debat bahasa inggrisku, walaupun sedikit radikal tapi menambah
wawasan dalam percakapan bahasa inggrisku. "I shall be your opponent
!!!!"
22.Untuk keluarga saya yang lain saya ucapkan terimakasih atas
dukungannya.
23.Untuk sahabat-sahabatku yang lain, Niko, Ganisti, Citra, Jecky, Amzah,
ix
dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak
kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan,untuk itu kritik
dan saran yang membangun dari pembaca diharapkan demi kesempurnaan laporan
ini.
Bandung, 10 Febuari 2013
x
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
MOTTO ... iii
ABSTRACT ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xx
BAB I PENDAHULUAN 1.1LatarBelakangMasalah ... 1
1.2Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 5
1.2.1Identifikasi Masalah ... 5
1.2.2Rumusan Masalah ... 7
1.3Maksud dan Tujuan Penelitian ... 7
1.3.1Maksud Penelitian ... 7
1.3.2Tujuan Penelitian ... 8
1.4Kegunaan Penelitian... 8
xi
2.1.1.1 Pengertian Penataan (Display) ... 11
2.1.1.2 Macam-MacamDisplay ... 12
2.1.2Discount ... 15
2.1.2.1 Pengertian Discount ... 15
2.1.2.2 Jenis-Jenis Discount (Potongan Harga) ... 16
2.1.2.3 Pengukuran Discount ... 19
2.1.3Pembelian Impulsif ... 19
2.1.3.1 Pengertian Pembelian Impulsif ... 19
2.1.3.2 Tipe Pembelian Impulsif ... 21
2.1.3.3 Perspektif Dalam Pembelian Impulsif ... 22
2.1.3.4 Penyebab Terjadinya Impulsif ... 22
2.1.3.5 Pengukuran Pembelian Impulsif ... 23
2.1.4PenelitianTerdahulu ... 23
2.2 KerangkaPemikiran ... 28
2.2.1 Keterkaitan antaraDisplay Toko dengan Pembelian Impulsif.... 31
2.2.2KeterkaitanantaraDiscount dengan Pembelian Impulsif ... 32
2.3 Hipotesis ... 32
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 ObjekPenelitian ... 33
xii
3.2.3.1 Sumber Data ... 41
3.2.3.2 TeknikPenentuan Data ... 42
3.2.3.2.1 Populasi ... 42
3.2.3.2.2 Sampel ... 43
3.2.4 TeknikPengumpulan Data ... 44
3.2.4.1 UjiValiditas ... 45
3.2.4.2 UjiReliabilitas ... 48
3.2.5 RancanganAnalisisdanPerancanganHipotesis... 51
3.2.5.1 RancanganAnalisis ... 51
3.2.5.1.1 Analisis Deskriftif/Kualitatif ... 51
3.2.5.1.2 Analisis Verifikatif (Kuantitatif) ... 53
3.2.5.2 PengujianHipotesis ... 57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 60
4.1.1 Sejarah Perusahaan ... 60
4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan ... 65
4.1.3 Deskripsi Jabatan... 66
4.2 Karakteristik Responden ... 69
xiii
Cianjur ... 87
4.2.1.3 Analisis Deskriptif Pembelian Impulsif Konsumen Di
Toserba Selamat Cianjur ... 93
4.2.2 Analisis Verifikatif ... 120
4.2.2.1Hasil Estimasi Model Regressi ... 120
4.2.2.2Pengaruh Store Display Terhadap Pembelian
Impulsif ... 125
4.2.2.3Pengaruh Discount Terhadap Pembelian Impulsif ... 128
4.2.2.4Pengaruh Store Display dan Discount Terhadap
Pembelian Impulsif ... 131
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ... 135
5.2 Saran ... 136
DAFTAR PUSTAKA ... 139
KUESIONER
LAMPIRAN-LAMPIRAN LAIN
139
FMCG Products In Jodhpur. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5(11), 1704-1710.
Ali, A.M, Heidarzadeh, K.H, & Khospanjeh, Mahsa (2011).The Effect of Situational and Individual Factors on Impulse Buying.World Applied Sciences Journal, 13(9), 2108-2117.
Andi Supangat. 2008. Statistika. Jakarta : KENCANA.
Astrid G Herabadi, Bas Verplanken, dan Ad van Knippenberg. (2009),
“Consumption experience of impulse buying in Indonesia:Emotional arousal and hedonistic considerations”, Asian Journal of Social Psychology, Vol. 12, pp. 20-31.
Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: Rosda Karya.
Buchari Alma. 2009. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung:Alfabeta.
Christina WidyaUtami. 2010. Manajemen Ritel (edisi 2). Jakarta:Salemba Empat. Fika, A.T., & Sumaryono. Pembelian Impulsif Ditinjau Dari Kontrol Diri Dan
Jenis Kelamin Pada Remaja. Jurnal Psikologi Proyeksi, 3(1), 46-57.
Masri Singarimbun. 2011. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.
Muhamad Naffi, 2004, TrenPerkembanganRitel, Pasar Tradisional akan Tergusur? (http://www.tempointeraktif.com). 15 April 2011.
M. Tohar. 2000. Membuka Usaha Kecil. Yogyakarta: Kanisius.
Minal, Shah, Guha, Sanjay dan Shrivastava Urvashi (2012), "Effect of emerging trends in retail sector on impulse buying behaviour-with reference to chhattisgarh region", International Journal Of Engineering and Management Sciences, Vol. 3(2) 2012: 142-145.
Rick Segel.2008. Retail Business Kit For Dummies.Florida: John Willey and Son
Schiffman, L., & Kanuk,L. 2004. Perilaku Konsumen. New Jersey: Prentice Hall Sugiyono. 2004. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : CV Alfabeta.
Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta.
Tendai, Mariri dan Crispen, Chipunza. (2009), “In-store environment and
impulsive buying”, African Journal of Marketing Management, Vol. 1(4) pp. 102-108.
Tirmizi, M.A. (2009). An Empirical Study of Consumer Impulse Buying Behaviour in Local Markets.European Journal of Scientific Research, Vol 28(4), 522-532.
Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen. Bogor : Ghalia Indonesia.
Umi Narimawati. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif : Teori dan Aplikasinya. Bandung : Fakultas Ekonomi UNIKOM.
Umi Narimawati. 2007. Riset Manajemen Sumber Daya Manusia : Aplikasi Contoh & Perhitungannya. Jakarta :Agung Media.
11 2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Display
2.1.1.1 Pengertian Penataan (Display)
Menurut M.Tohar (2000:49) display bertujuan untuk menarik calon
konsumen dan mendorong keinginan untuk membeli.
Menurut Buchari Alma (2009:189) pengertian display yaitu:
“keinginan membeli sesuatu, yang tidak didorong oleh seseorang, tetapi
didorong oleh daya tarik, atau oleh penglihatanataupun oleh perasaan
lainnya.”
Menurut Willian J. Schultz yang dikutip dalam buku Buchari Alma
(2009:189) mendefinisikan display yaitu:
“usaha mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang
dan mendorong keinginan membeli melalui daya tarik penglihatan
langsung (direct visual appeal)”.
Menurut Mariri Tendai dan Chipunza Crispen dalam penelitiannya
In-Store Shopping Environment And Impulsive Buying (2009:104) mengemukakan
bahwa:
“display merupakan aspek yang sangat penting dalam bisnis ritel untuk
Dari beberapa pengertian diatas dapat didefinisikan bahwa display
merupakan usaha yang dilakukan untuk menata barang yang mengarahkan
pembeli agar tertarik untuk melihat dan membeli.
Memanjangkan barang di dalam toko dan etalase, mempunyai pengaruh
besar terhadap penjualan. Biasanya kita lihatsalah satu cara untuk menjual barang
ialah dengan membiarkan calon pembeli itu melihat, meraba, mencicipi,
mengendarai dan sebagainya.
Berhasilnya self-service menjual barang-barangnya tergantung dari
pelaksanaan display, seperti dapat dilihat di supermarket.
Tujuan display dapat digolongkan menjadi:
1. Untuk menarik perhatian (attention, interest) para pembeli. Hal ini
dilakukan menggunakan warna-warna, lampu-lampu dan sebagainya.
2. Untuk dapat menimbulkan keinginan memiliki barang-barang yang
dipamerkan di toko (attention, interest) kemudian para konsumen masuk ke
dalam toko dan melakukan pembelian (desire, action).
2.1.1.2 Macam-Macam Display
M.Tohar (2000:50) berpendapat bahwa menempatkan barang merupakan
hal yang penting terutama penempatan barang dalam windows display, interior
display, dan exterior display.
Rick Segel (2008) menyebutkan bahwa display dibagi menjadi 2 jenis,
Selanjutnya, menurut Buchari Alma (2009:189)display dibagimenjadi 3
macam yaitu:
1. Windows Display
Yaitu memjangkan barang-barang, gambar-gambar kartu harga,
simbol-simbol dan sebagainya di bagian toko yang disebut etalase. Dengan demikian
calon konsumen yang lewat di muka toko-toko diharapkan akan tertarik oleh
barang-barang tersebut dan ingin masuk ke dalam toko. Wajah toko akan berubah
jika windows display diganti. Fungsi windows display ini mempunyai beberapa
tujuan sebagai berikut:
a. Untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat.
b. Menyatakan kualitas yang baik, atau harga yang murah, sebagai ciri khas
dari toko tersebut.
c. Memancing perhatian terhadap barang-barang istimewa yang dijual toko.
d. Untuk menimbulkan impulse buying (dorongan seketika untuk membeli).
e. Agar menimbulkan daya tarik terhadap keseluruhan daya toko.
2. Interior Display
Yaitu memajangkan barang-barang, gambar-gambar, kartu-kartu harga,
poster-poster di dalam toko misalnya di lantai, di meja, di rak-rak dan sebagainya.
Interior display ini ada beberapa macam:
a. Merchandise Display
Barang-barang dagangan dipajangkan di dalam toko dan ada tiga bentuk
1) open display: barang-barang dipajangkan pada suatu tempat terbuka
sehingga dapat dihampiri dan dipegang, dilihat dan teliti oleh calon
pembeli tanpa bnatuan dari petugas-petugas penjualnya, misalnya self
display, insland display (barang disimpan di atas lantai yang di atur
bagus seperti pulau-pulau dan sebagainya).
2) closed display: barang-barang dipajangkan dalam suasana temapt
tertutup. Barang-barang tersebut tidak dapat dihampiri dan dipegang
atau diteliti oleh calon pembeli kecuali atas bantuan petugas. Jelas ini
bertujuan melindungi barang dari kerusakan, pencurian dan
sebagainya.
3) architecture display: memperlihatkan barang-barang dalam
penggunaanya misalnya di ruang tamu, meubel di kamar tidur, dapur
dengan perlengkapaanya, dan sebagainya. Cara ini dapat memperbesar
daya tarik karena barang-barang dipertunjukan secara realistis.
b. Store Sign and Decoration
Tanda-tanda, simbol-simbol, lambang-lambang, poster-poster,
gambar-gambar, bendera-bendera, semboyan-semboyan dan sebagainya disimpan
di atas meja atau digantung di dalam toko. Store design digunakan untuk
membimbing calon pembeli ke arah barang dagangan dan memberi
keterangan kepada mereka tentang kegunaan barang-baranng tersebut.
“decoration” pada umumnya digunakan dalam rangka peristiwa khusus
c. Dealer Display
Ini dilaksanakan oleh Wholesaler terdiri dari simbol-simbol
petunjuk-petunjuk tentang penggunaan produk, yang kesemuanya berasal dari
produsen. Dengan memperlihatkan kegunaan produk dalam gambar dan
petunjuk, maka display ini juga memberi peringatan kepada para petugas
penjualan agar mereka tidak memberikan keterangan yang tidak sesuai
dengan petunjuk yang ada dalam gambar tersebut.
3. Exterior Display
Ini dilaksanakan dengan memajangkan barang-barang diluar kota
misalnya, pada waktu mengadakan obral, pasar malam. Display ini mempunyai
beberapa fungsi antara lain:
a. Memperkenalkan suatu produk secara tepat dan ekonomis.
b. Membantu para produsen menyalurkan barang-barangnya dengan cepat
dan ekonomis.
c. Membantu mengkoordinasikan advertising dan merchandising.
d. Membangun hubungan yang baik dengan masyarakat misalnya pada hari
Raya, Ulang Tahun dan sebagainya.
2.1.2 Discount
2.1.2.1 Pengertian Discount
Dalam pemasaran, Discount (Potongan harga) merupakan alat promosi
yang dapat menarik perhatian konsumen untuk mendorong hasrat calon konsumen
guna membeli produk yang ditawarkan. Menurut Sutisna (2002:302): “Potongan
tertentu”. Sedangkan menurut Kotler dan AB. Susanto (2001:662): “Potongan
harga merupakan pengurangan harga dari daftar harga jenis lainnya”. Menurut
Fandy Tjiptono (2008:166): “Diskon merupakan potongan harga yang diberikan
oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari
pembeli yang menyenangkan bagi penjual”.
Sedangkan menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong (2006:317):
“Diskon yaitu pengurangan harga yang diberikan kepada konsumen untuk
pembayaran cepat atau atas promosi yang dilakukan oleh provider itu sendiri”.
Maka dari itu, dapat beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa
Discount (Potongan harga) merupakan kebijakan pengurangan harga yang
dilakukan pemasar yang diberikan kepada konsumen pada waktu-waktu tertentu
guna menarik perhatian dan merangsang hasrat konsumen untuk membeli produk
tertentu dengan sesegera mungkin. Contohnya pada sebuah department store
(tempat perbelanjaan) yang melakukan sebuah kebijakan pemberian discount
(potongan harga) guna untuk menarik perhatian konsumen dan berdampak pada
peningkatan penjualan pada Departement Store atau toko tersebut.
2.1.2.2 Jenis-Jenis Discount (Potongan Harga)
Berdasarkan Fandy Tjiptono (2008:166) terdapat empat bentuk diskon,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Diskon Kuantitas
Diskon kuantitas merupakan potongan harga yang diberikan guna
mendorong konsumen agar membeli dalam jumlah yang lebih banyak,
Diskon kuantitas terdiri atas dua jenis, yaitu :
a. Diskon kuantitas Kumulatif
Diskon kuantitas kumulatif diberikan kepada konsumen yang membeli
barang selama periode waktu tertentu, misalnya terus-menerus selama
satu tahun.
b. Diskon Kuantitas Non Kumulatif
Diskon kuantitas non kumulatif didasarkan pada pesanan pembelian
secara individual.Jadi hanya diberikan pada satu pembelian dan tidak
dikaitkan dengan pembelian-pembelian sebelum dan sesudahnya.
2. Diskon Musiman
Diskon musiman adalah potongan harga yang diberikan hanya pada
masa-masa tertentu saja. Diskon musiman digunakan untuk mendorong
konsumen agar membeli barang-barang yang sebenarnya baru akan
dibutuhkan beberapa waktu mendatang.
3. Diskon Kas (Cash discount)
Diskon kas merupakan potongan harga yang diberikan apabila pembeli
membayar tunai barang-barang yang dibelinya atau membayarnya dalam
jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian transaksi (termin
penjualan/ sales term).
4. Trade (Functional) Discount
Trade discount diberikan oleh produsen kepada para penyalur yang terlibat
dalam pendistribusian barang dan pelaksanaan fungsi-fungsi tertentu,
Selain empat macam diskon diatas, ada pula istilah harga obral (sale
price), yakni diskon sementara dari harga menurut daftar (list price).Tipe diskon
ini bertujuan mendorong pembelian dengan segera.
Potongan harga merupakan salah satu strategi untuk menembus pasar
persaingan. Apabila beberapa konsumen memiliki harga yang berbeda-beda, maka
perusahaan melakukan potongan harga secara random, konsumen lebih suka
membeli harga diskon, sedangkan konsumen yang mencari harga murah akan
membeli dengan harga yang paling rendah. Perusahaan akan melakukan potongan
harga secara periodik dengan menampilkan harga tinggi, kemudian secara
periodik dilakukan discount.
Berdasarkan Sutisna (2002:299) menjelaskan bahwa hal yang penting
dalam upaya pemasaran melalui promosi penjualan dilakukan dalam jangka
pendek.Promosi penjualan tidak dapat dilakukan secara terus menerus sepanjang
tahun, karena selain menimbulkan.kerugian bagi pemasar, juga konsumen tidak
akan lagi membedakan periode promosi penjualan dan hasilnya juga tidak akan
efektif. Dengan kata lain, tidak akan ada perbedaan respons konsumen baik
perusahaan mengadakan promosi penjualan atau tidak, jika kegiatan promosi
penjualan atau tidak, jika kegiatan promosi penjualan dilakukan terlalu sering.
Tingkat ambang batas (threshold level) merupakan batas konsumen
akanmempunyai respons terhadap suatu aktivitas tertentu. Treshold level yang
dibutuhkan untuk menarik perhatian konsumen semakin tinggi jika promosi
menarik perhatian konsumen dan mendorong konsumen untuk melakukan
pembelian.
Untuk dapat menarik perhatian konsumen, perusahaan harus menaikan
tingkat potongan harga agar mampu membangkitkan perhatian konsumen.Pada
prakteknya di Indonesia, potongan harga umumnya diberikan pada item-item
produk yang sudah out of date, atau item produk yang tidak laku.Pada
retailer-retailer, pemberian potongan harga ini bukan berasal dari retailer, tetapi berasal
dari penjual merk yang dijual di retailer tertentu.
2.1.2.3 Pengukuran Diskon
Menurut Sutisna (2002:300): “Potongan harga adalah pengurangan harga
produk dari harga normal dalam periode tertentu”, yang menjadidimensi diskon
adalah:
Besarnya potongan harga
Masa potongan harga.
jenis produk yang mendapatkan potongan harga
2.1.3 Pembelian Impulsif
2.1.3.1 Pengertian Pembelian Impulsif
Menurut Fathur Rohman (2008:253) mendifinisikan impulsive buying
yaitu:
“pembelian yang tiba-tiba dan segera tanpa ada minat pembelian
Sedangkan Xueming Luo (2005:289) mendifinisikan pembelian impulsif
atau impulse buying adalah:
“pembelian saat itu juga yang tidak direncakan, berdasar pada tindakan
yang sangat kuatdan dorongan keras untuk langsung membeli suatu
barang.”
Menurut Paul T Mburu dalam (2010:41),mendefinisikan impulse buying
yaitu:
“impulse buying adalah kebiasaan konsumen untuk membeli secara
spontan, tidak direncanakan, dan tergesa-gesa.”
Menurut Christina Widya Utami (2010:67) mengatakan bahwa
pembelian impulsif terjadi ketika konsumen tiba-tiba mengalami keinginan yang
kuat dan kukuh untuk membeli sesuatu secepatnya.
Dari pengertian diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pembelian
impulsif adalah tindakan membeli yang sebelumnya tidak diakui secara sadar
sebagai hasil dari suatu pertimbangan atau niat membeli yang terbentuk sebelum
memasuki toko.
Pembelian impulsif atau pembelian tidak terencana merupakan bentuk lain
dari pola pembelian konsumen. Sesuai dengan istilahnya, pembelian tersebut tidak
spesifik terencana.Pembelian impulsif terjadi ketika konsumen tiba-tiba
mengalami keinginan yang kuat dan kukuh untuk membeli sesuatu secepatnya.
Impuls untuk membeli merupakan hal yang secara hedonis kompleks, dan akan
menstimulasi konflik emosional. Pembelian impulsif juga cenderung dilakukan
Pembelian impulsif, seperti semua perilaku pembelian,umunya
dipengaruhi oleh sejumlah faktor pribadi, kronologis, lokasi dan budaya.
Faktor-faktor ini tidak hanya secara substansial berbeda antara konsumen yang satu
dengan yang lainnya, tetapi juga berubah-ubah untuk konsumen yang sama di
bawah situasi yang berbeda-beda.
2.1.3.2Tipe Pembelian Impulsif
Menurut Stern dalam London dan Bitta (1998:81)dalam buku Christina
Widya Utami(2010:68) menyatakan bahwa ada empat tipe pembelian impulsif
yaitu:
1. Impuls Murni (pure impulse)
Pengertian ini mengacu pada tindakan pembelian sesuatu karena alasan
menarik, biasanya ketika suatu pembelian terjadi karena loyalitas terhadap
merek atau perilaku pembelian yang telah biasa dilakukan. Contonhya:
membeli sekaleng asparagus bukannya membeli sekaleng macaroni seperti
biasanya.
2. Impuls Pengingat (reminder impulse)
Ketika konsumen membeli berdasarkan jenis impuls ini, hal ini dikarenakan
unit tersebut biasanya memang dibeli juga, tetapi tidak terjadi untuk
diantisipasi atau tercatat dalam daftar belanja. Contohnya: ketika sedang
menunggu antrean untuk membeli sampo di konter toko obat, konsumen
melihat merek aspirin pada rak dan ingat bahwa persediannya di rumah
akan habis, sehingga ingatan atas penglihatan pada produk tersebut memicu
3. Impuls Saran (suggestion impulse)
Suatu produk yang ditemui konsumen untuk pertama kali akan
menstimulasi keinginan untuk mencobanya. Contohnya: seorang ibu rumah
tangga yang secara tidak sengaja melihat produk penghilang bau tidak
sedap di suatu counter display, hal ini secara tidak langsung akan
merelasikan produk tersebut didasarkan atas pertimbangan tentang adanya
bau disebabkan karena aktifitas memasak di dalam rumah dan kemudian
membelinya.
4. Impuls Terencana (planned impulse)
Aspek perencanaan dalam perilaku ini menunjukan respon konsumen
terhadap beberapa insentif spesial untuk membeli unit yang tidak
diantisipasi.Impuls ini biasanya distimulasi oleh pengumuman penjualan
kupon, potongan kupon, atau penawaran menggiurkan lainnya.
2.1.3.3Perspektif Dalam Pembelian Impulsif
Menurut Christina Widya Utami 2010:68) terdapat tiga perspektif yang
digunakan untuk menjelaskan pembelian impulsif:
1. Karakteristik produk yang dibeli,
2. Karakteristik konsumen,
3. Karakteristik display tempat belanja.
2.1.3.4Penyebab Terjadinya Impulsif
Menurut Christina Widya Utami (2010:69) terdapat dua penyebab
1. Pengaruh stimulus di tempat belanja.
2. Pengaruh situasi.
Pembelian impulsif disebabkan oleh stimulus di tempat belanja untuk
mengingatkan konsumen akan apa yang harus dibeli atau karena pengaruh
display, promosi, dan usaha-usaha pemilik tempat belanja untuk menciptakan
kebutuhan baru. Pada kasus yang pertama, kebutuhan konsumen tidak nampak
sampai konsumen berada di tempat belanja dan dapat melihat alternatif-alternatif
yang akan di ambil dalam pengambilan keputusan pembelian terakhir. Hal ini
berkaitan dengan pembelian yang dikarenakan impuls pengingat. Pada kasus
kedua, konsumen tidak menyadari akan kebutuhannya sama sekali, semuanya
diciptakan oleh stimulus baru yang dikondisikan akan diinginkanoleh konsumen.
2.1.3.5Pengukuran Pembelian Impulsif
Indikator yang digunakan untuk mengukur pembelian impulsif menurut
Bas Verplanken et., al (2005:433) yaitu:
1. Cognitive: kurangnya perencanaan dan pertimbangan yang masuk kedalam
keputusan pembelian.
2. Affective: pendekatan afektifini dilihat darisegiperasaanseperti kegembiraan,
kurangnya kontrol, dan keinginan untukmembeli.
2.1.5 PenelitianTerdahulu
Untuk mendukung penelitian ini, maka penulis akan paparkan hasil
penelitian terdahulu yang ada kaitanya dengan judul penelitian yang penulis
Tabel 2.1 Special Reference To Noida City:2011) -penulis meneliti
2 variabel yang Muhammad Ali Tirmizi
(2009)
impulse buying Bas Verplanken, Astrid
G. Herabadi, udith A. Perry & David H. Silvera (2005) item scale
delevel-oped by lack of control, and the urgeto buy.
1Alireza Karbasivar and 2Hasti Yarahmadi has important role to encourage
masyarakat high
of Planned and Impulse Buying: used as a surrogate for retail search
1.Alireza Karbasivar and 2. Hasti Yarahmadi
2.2Kerangka Pemikiran
Display yaitukeinginan membeli sesuatu, yang tidak didorong oleh
seseorang, tapi didorong oleh daya tarik, atau oleh penglihatan ataupun oleh
perasaan lainnya (Buchari Alma 2009:189).
Dari pengertian diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa display
adalah usaha yang dilakukan untuk menata barang yang mengarahkan pembeli
agar tertarik. Strategi penataan atau display bertujuan untuk membantu
meningkatkan penjualan, terutama melalui pembelian tak terencana yang
dilakukan oleh konsumen.
Display dibagi menjadi 3 macam yaitu:
1. Windows display
Merupakan penataan barang dagangan di etalase toko.Seperti memjangkan
barang-barang, gambar-gambar kartu harga, simbol-simbol dan sebagainya
di bagian toko yang disebut etalase.
2. Interior display
Merupakan penataan barang dagangan yang ada didalam ruangan toko.
Pajangan yang berada di dalam toko mengenai ketepatan dekorasi,
kerapihan barang-barang yang di tata, kebersihan ruangan toko.Pajangan
tersebut biasanya diletakkan di lantai, di meja, dan di rak-rak.
3. Exterior display
Merupakan penataan barang dagangan yang letaknya di luar toko.Ini
waktu mengadakan obral, pasar malam, penjelasan tulisan dan mudah di
ingatnya papan nama.
Rick Segel (2008)menyebutkan bahwa display dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu interior display, dan exterior display.
Dalam pemasaran, Discount (Potongan harga) merupakan alat promosi
yang dapat menarik perhatian konsumen untuk mendorong hasrat calon konsumen
guna membeli produk yang ditawarkan. Menurut Sutisna (2002:302): “Potongan
harga adalah pengurangan harga produk dari harga normal dalam periode
tertentu”. Sedangkan menurut Kotler dan AB. Susanto (2001:662): “Potongan
harga merupakan pengurangan harga dari daftar harga jenis lainnya”. Menurut
Fandy Tjiptono (2008:166): “Diskon merupakan potongan harga yang diberikan
oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari
pembeli yang menyenangkan bagi penjual”.
Menurut Sutisna (2002:300): “Potongan harga adalah pengurangan harga
produk dari harga normal dalam periode tertentu”, yang menjadidimensi diskon
adalah:
Besarnya potongan harga
Masa potongan harga.
jenis produk yang mendapatkan potongan harga
Menurut Alireza Karbasivar and Hasti Yarahmadi (2011:180)window
Menurut Christina Widya Utami (2010:67)mengatakan bahwa pembelian
impulsif terjadi ketika konsumen tiba-tiba mengalami keinginan yang kuat dan
kukuh untuk membeli sesuatu secepatnya.
Dapat disimpulkan bahwa pembelian impulsif yaitu tindakan membeli
yang sebelumnya tidak diakui secara sadar sebagai hasil dari suatu pertimbangan
atau niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko.
Indikator yang digunakan untuk mengukur pembelian impulsif menurut
Bas Verplanken et., al (2005:433) yaitu:
1. Cognitive: kurangnya perencanaan dan pertimbangan yang masuk kedalam
keputusan pembelian.
2. Affective: sikap yang timbul dalam diri konsumen yang terjadi secara
spontan dan terdesak dalam melakukan pembelian.
Menurut Christina (2010:68) terdapat tiga perspektif yang digunakan
untuk menjelaskan pembelian impulsif yaitu, karakteristik yang dibeli,
karakteristik konsumen,dan karakteristik display tempat belanja. Karakteristik
display tempat belanja seperti display di dekat konter pembayaran dandisplay
pada ujung koridor terbukti menstimulasi terjdinya pembelian impulsif.
Sedangkan menurut Mariri Tendai (2009:104) aspek yang paling penting dalam
retail untuk mengerti kebiasaan konsumen yaitu display di toko. Strategi display
dapat mempengaruhi pembelian tak terencana konsumen.
Menurut pendapat Janakiraman et al (2006).Terdapat suatu pengaruh pada
penurunan harga yang dilakukan secara tiba-tiba, atau kita sebut sebagai diskon,
Alireza Karbasivar and Hasti Yarahmadi (2011:180)
Christina (2010:68)
Janakiraman et al (2006).
Gambar 2.1
Skema Kerangka Pemikiran
2.2.1 Keterkaitan Hubungan Display Terhadap Pembelian Implisif
Menurut Christina Widya Utami (2010:68) terdapat tiga perspektif yang
digunakan untuk menjelaskan pembelian impulsif yaitu, karakteristik yang dibeli,
karakteristik konsumen, dan karakteristik display tempat belanja. Karakteristik
display tempat belanja seperti display di dekat konter pembayaran dandisplay
pada ujung koridor terbukti menstimulasi terjdinya pembelian impulsif. Begitu
juga, parameter desain rak belanja, seperti ruang antar rak, tingginya rak, dan arah
menghadap rak, dapat mempengaruhi terjadinya perilaku pembelian impulsif. Discount (Potongan Harga)
Besarnya potongan harga Masa potongan harga. Jenis produk yang
mendapatkan potongan harga
Sumber : Sutisna (2002:300) Penataan (display): 1. Windows display. 2. Interior display. 3. Exterior display
Buchari Alma (2009:189)
Impulse buying: 1. cognitive 2. affective.
Menurut Mariri Tendai (2009:104) aspek yang paling penting dalam retail
untuk mengerti kebiasaan konsumen yaitu display di toko. Strategi display dapat
mempengaruhi pembelian tak terencana konsumen.
2.2.2 Keterkaitan Discount Terhadap Pembelian Implisif
Menurut pendapat Janakiraman et al (2006).Terdapat suatu pengaruh
pada penurunan harga yang dilakukan secara tiba-tiba, atau kita sebut sebagai
diskon, mampu memicu pembelian impulsif.
2.3 Hipotesis
Menurut Sugiyono dalam bukunya Penelitian Bisnis (2008 : 221)
menyatakan bahwa:
“Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian.”
Hipotesis Utama:
Terdapat Pengaruh Display Toko Dan Discount Terhadap Pembelian
Impulsif Pada KonsumenToserba Selamat Cianjur.
Sub Hipotesis:
Terdapat Pengaruh Display Terhadap Pembelian Impulsif Pada
KonsumenToserba Selamat Cianjur
Terdapat Pengaruh Discount Terhadap Pembelian Impulsif Pada
33 3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan suatu permasalahan yang dijadikan sebagai
topik penulisan dalam rangka menyusun suatu laporan. Penelitian ini dilakukan
untuk memperoleh data–data yang berkaitan dengan objek penelitian tersebut
yang berjudul : “Pengaruh Display Toko DanDiscount Terhadap Pembelian
Impulsif Pada KonsumenToserba Konsumen."
Di dalam penelitian ini, penulis mengemukakan dua variabel yang akan
diteliti. Adapun variabel yang akan diteliti di dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel independent (variabel bebas), yaitu variabel yang menjadi sebab
terjadinya atau terpengaruhnya variabel dependent (variabel tidak bebas).
Variabel independent (variabel X1) dalam penelitian ini adalah
DisplayToko dan (variabel X2) Discount.
2. Variabel dependent (variabel tidak bebas), yaitu variabel yang dipengaruhi
oleh variabel independent. Variabel dependent (variabel Y) dalam
penelitian ini adalah Pembelian Impulsif.
Display Toko dan Discount merupakan faktor penyebab, sedangkan
pembelian impulsif faktor akibat. Objek penelitian ini dilakukan pada konsumen
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian menurut Umi Narimawati, (2008:127) merupakan cara
penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data untuk mencapai tujuan
tertentu.
Metode penelitian menurut Sugiyono (2009:2)pada dasarnya merupakan
cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis
deskriptif dan verifikatif, dengan pendekatan kuantitatif.
Metode Deskriptif menurut Sugiyono (2009:206) mendefinisikan:
“Penelitian yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan datayang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku umum atau
generalisasi.”
Sedangkan metode verifikatif menurut Mashuri (2008:45) menyatakan
bahwa :
”Metode Verifikatif yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan
untuk menguji suatu cara dengan benar atau tanpa perbaikan yang telah
dilaksanakan di tempat lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupan”.
Sedangkan menurut Mudjarad Kuncoro (2001:102) mendefinisikan
“Pendekatan ilmiah terhadap pengambilan keputusan manejerial dan
ekonomi dimana pendekatan ini terdiri atas perumusan masalah, mencari
solusi, menguji solusi, menganalisa hasil dan mengimplemasikan hasil.”
Data yang dibutuhkan adalah data yang sesuai dengan masalah-masalah
yang ada dan sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga data tersebut akan
dikumpulkan, dianalisis dan diproses lebih lanjut sesuai dengan teori-teori yang
telah dipelajari, jadi dari data tersebut akan ditarik kesimpulan.
3.2.1 Desain Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian sangat perlu dilakukan perencanaan
dan perancangan penelitian, agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan
baik dan sistematis.
Menurut Moh. Nazir (2003:84) desain penelitian adalah semua proses
yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.
Menurut Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2002:249) menyatakan
bahwa :
“Desain penelitian merupakan rancangan utama penelitian yang
menyatakan metode dan prosedur – prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam pemilihan, pengumpulan, dan analisis data.”
Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang digunakan
sebagai pedoman dalam melakukan proses penelitian. Desain penelitian akan
berguna bagi semua pihak yang terlibat dalam proses penelitian, karena langkah
Dari pemaparan di atas maka dapat dikatakan bahwa desain penelitian
merupakan semua proses penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam
melaksanakan penelitian mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan
penelitian yang dilakukan pada waktu tertentu.
Dalam penelitian ini, penulis menerapkan desain penelitian yang lebih
luas, yang mencangkup proses-proses berikut ini:
1. Sumber masalah
Peneliti menentukan masalah-masalah sebagai fenomena untuk dasar
penelitian.
2. Perumusan masalah
Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicari
jawabannya melalui pengumpulan data. Pada penelitian ini
masalah-masalah dirumuskan melalui suatu pertanyaan, yang akan diuji dengan
cara yang relevan dan penemuan yang relevan.
3. Konsep dan teori yang relevan dan penemuan yang relevan
Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis)
maka, peneliti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan
masalah dan berfikir.Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang
relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban
sementara terhadap masalah penelitian (hipotesis). Telaah teoritis
mempunyai tujuan untuk menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar
penelitian dengan menguji terpenuhinya kriteria pengetahuan yang
rasional.
4. Pengajuan hipotesis
Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan pada teori dan
didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada pembuktian
secaraempiris (faktual) maka jawaban itu disebut hipotesis. Hipotesis yang
dibuat pada penelitian ini adalah Pengaruh Display Toko dan Discount
terhadap Pembelian Impulsif.
5. Metode Penelitian
Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih metode yang
sesuai, pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat
ketelitian data yang diharapkan dan konsisten yang dikehendaki.
Sedangkan pertimbangan praktis adalah tersedianya dana, waktu, dan
kemudahan yang lain. Pada penelitian ini metode penelitian yang
digunakan adalah metode survey dengan teknik analisis data menggunakan
statistik deskriptif dan kuantitatif.
6. Menyusun instrument penelitian
Peneliti dapat menyusun instrument penelitian. Instrumen ini digunakan
sebagai alat pengumpul data. Pada penelitian ini untuk menguji adanya
hubungan dari Display Toko (Variabel Independen“X1”) dan Discount
(Variabel Independen “X2”) terhadap Pembelian Impulsif (Variabel dependen“Y”) digunakan korelasi Analisis Regresi Berganda, dan untuk
Discount (Variabel Independen “X2”) terhadap Pembelian Impulsif (Variabel dependen“Y”) digunakan koefisien determinasi.
7. Kesimpulan
Kesimpulan adalah langkah terakhir dari suatu periode penelitian yang
berupa jawaban terhadap rumusan masalah, dengan menekankan pada
pemecahan masalah berupa informasi mengenai solusi masalah yang
bermanfaat sebagai dasar untuk pembuatan keputusan.
Tabel 3.1
Unit Analisis Time Horizon
T-1 Descriptive Descriptive dan survey
Konsumen yang melakukan pembelian
di Surf Inc Bandung
Cross sectional
T-2 Descriptive Descriptive dan survey
Konsumen yang melakukan pembelian
di Surf IncBandung
Cross sectional
T-3 Descriptive Descriptive dan survey
Konsumen yang melakukan pembelian
di Surf Inc Bandung
Cross sectional
T-4 Descriptive &
Verifikatif
3.2.2 Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator,
serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga
pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar sesuai
dengan judul penelitian mengenai pengaruh display toko dan Discount terhadap
pembelian impulsif, maka variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini
1. Variabel displaytokosebagai variabel independen pertama (X1).
2. Variabel Discount sebagai variabel independent kedua (X2).
3. Variabel pembelian Impulsif sebagai variabel dependent (Y).
Untuk lebih jelasnya rincian masing-masing variabel dapat dijelaskan
dalam Tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala Sumber
- Kejelasan
Discount(X2) Sutisna (2002:302): “Potongan harga
- jenis produk yang mendapatkan
- Perasaan berhati-hati sebelum membeli sesuatu.
- Perasaan keinginan membeli barang yang diinginkan.
- Pembelian spontan.
- Sikap merencanakan pembelian.
- Terbiasa membeli saat itu juga.
- Sering membeli tanpa berpikir.
- Tingkat perasaan berhati-hati sebelum membeli sesuatu. - Tingkat keinginan
membeli barang yang diinginkan.
- Tingkat Pembelian spontan.
- Tingkat perencanaan pembelian.
- Tingkat pembelian sesuatu yang - Tingkat kehati-hatian
dalam membeli sesuatu
- Tingkat Terbiasa membeli saat itu
- Perjuangan untuk meninggalkan barang yang menarik di toko.
- Tidak dapat menekan perasaan
menginginkan sesuatu.
- Tingkat Perjuangan untuk meninggalkan barang yang menarik di toko.
- Tingkat perasaan Tidak dapat menekan perasaan
- Perasaan bersalah
- Sulit untuk menawar.
- Keinginan membeli jika melihat barang baru.
- Sembrono dalam membeli sesuatu.
-Menyukai membeli barang bukan karena membutuhkan.
- Tingkat Perasaan bersalah setelah membeli.
- Tingkat kemudahan tertarik dengan barang di toko
- Tingkat Perasaan senang ketika hendak membeli sesuatu - Tingkat Perasaan
selalu tertarik melewati toko.
- Tingkat kesulitan untuk menawar. - Tingkat Keinginan
membeli jika melihat barang baru.
- Tingkat Sembrono dalam membeli sesuatu.
- Tingkat kesukaan membeli barang bukan karena membutuhkan.
3.2.3 Sumber Dan Teknik Penentuan Data
3.2.3.1 Sumber Data
Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini dibagi dalam dua jenis,
yaitu sebagai berikut:
1. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek yang diteliti
baik dari pribadi (responden) maupun dari satu instansi yang mengolah
data untuk keperluan penelitian, seperti dengan cara melakukan
wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan
2. Data Sekunder
Merupakan data yang berfungsi sebagai pelengkap data primer. Data
sekunder dapat diperoleh dengan cara membaca, mempelajari, dan
memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku,
serta catatan-catatan kuliah yang menunjang penelitian ini.
3.2.3.2 Teknik Penentuan Data
3.2.3.2.1 Populasi
Populasi merupakan objek atau subjek yang memenuhi kriteria tertentu
yang telah ditentukan oleh peneliti. Menurut Sugiyono (2009:80) tentang
pengertian populasi yaitu:
“populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudia ditarik kesimpulan.”
Berdasarkan pengertian di atas, populasi merupakan obyek atau subyek
yang berada pada satu wilayah dan memenuhi syarat tertentu yang berkaitan
dengan masalah dalam penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh
konsumen yang berkunjung di Toserba Selamat Cianjur dalam waktu sebulanyaitu
sebanyak 9100.
3.2.3.2.2 Sampel
Untuk membuktikan kebenaran jawaban yang masih sementara (hipotesis),
maka peneliti melakukan pengumpulan data pada obyek tertentu. Karena obyek
dalam populasi terlalu luas maka peneliti menggunakan sampel yang diambil dari
2
Menurut Adi Supangat (2007:4) menyatakan bahwa:
“sampel adalah bagian dari populasi (contoh), untuk dijadkan sebagai
bahan penelaahan dengan harapan contoh yang diambil dari populasi
tersebut dapat mewakili (reprensentatitive) terhadap populasinya.”
Menurut Sugiyono (2009:116), sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik yang di ambil dalam
penelitian dilakukan dengan teknik accidental random sampling.
Adapun yang menjadi sampel yang digunakan untuk pengukuran
kuesioner adalah konsumen diToserba Selamat Cianjur. Sedangkan untuk
menentukan jumlah sampel (n)Husein Umar (2004:78) menentukan sampel
digunakan rumus sebagai berikut:
100
Jika penelitian menggunakan metode deskriptif, maka minimal tingkat
kesalahan dalam penentuan anggota sampel yang harus diambil adalah 10% dari
jumlah populasi yang diketahui. Peneliti menentukan tingkat kesalahan sebesar
10% Untuk menghindari dari pada kerusakan angket dan jumlah tidak kembalinya
angket, maka dibulatkan menjadi 100. Sehingga jumlah sampel yang diambil 100
3.2.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakna dalma penelitian ini adalah:
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung di perusahaan yang
menjadi objek penelitian. Data yang diperoleh merupakan data primer yang
diperoleh dengan cara:
a. Observasi (Pengamatan Langsung), yaitu dengan cara melakukan
pengamatan secara langkung dilokasi untuk memperoleh data yang
diperlukan.
b. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan
masalah yang di bahas.
c. Angket (Kuesioner)
Kuesioner merupakan teknik pengambilan data yang dilakukan dengan
cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk menjawab, berupa daftar pertanyaan yang dibuat dengan
metode pertanyaan terstruktur (tertutup dan terbuka) kepada 100
responden tentang variabel displaytoko, Discount dan pembelian
impulsif.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Reseacrh)
Penelitian kepustakaan dilakukan sebagai usaha guna memperoleh data yang
Data tersebut dapat diperoleh dari literatur, catatan kuliah serta tulisan lain
yang berhubungan dengan penelitian.
3.2.4.1 Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2009:173)valid berarti instrument tersebut dapat
digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.Jadi suatu penelitian
dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan
data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.
Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden terpilih maka harus
diadakan uji validitas terlebih dahulu pada butir-butir yang benar-benar mengukur
apa yang diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu alat ukur
maka alat ukur tersebut semakin mengenai pada sasarannya, atau semakin
menunjukkan apa yang seharusnya di ukur.
Pengujian validitas dilakukan dengan menghitung korelasi diantara
masing-masing pernyataan dengan skor total. Adapun rumus dari pada korelasi
pearson adalah sebagai berikut :
2 2
2
2
n XY- X Y
r=
X - X × Y - Y
Keterangan:
r = nilai koefesien korelasi pearson
X = Skor item pertanyaan
Y = Skor total item pertanyaan
Uji keberartian koefisien r dilakukan dengan uji t (taraf signifikansi 5%).
Rumus yang dilakukan adalah sebagai berikut :
√
√
Dimana :
n = ukuran sampel
r = Koefisien Korelasi Pearson
Hasil Pengujian Validitas
Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang
dirancang dalam bentuk kuesioner benar-benar dapat menjalankan fungsinya.
Seperti telah dijelaskan pada metodologi penelitian bahwa untuk menguji valid
tidaknya suatu alat ukur digunakan pendekatan secara statistika, yaitu melalui
nilai koefisien korelasi skor butir pernyataan dengan skor totalnya. Apabila
koefisien korelasi butir pernyataan dengan skor total 0,30 maka pernyataan tersebut dinyatakan valid. Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan korelasi
Tabel 3.3
Hasil Uji Validitas Kuesioner Store Display
Butir Pertanyaan
Indeks
Validitas Nilai Kritis Keterangan
Item 1 0,350 0,30 Valid
Item 2 0,448 0,30 Valid
Item 3 0,397 0,30 Valid
Item 4 0,500 0,30 Valid
Item 5 0,432 0,30 Valid
Item 6 0,437 0,30 Valid
Item 7 0,406 0,30 Valid
Item 8 0,389 0,30 Valid
Item 9 0,384 0,30 Valid
Tabel 3.4
Hasil Uji Validitas Kuesioner Discount
Butir Pertanyaan
Indeks
Validitas Nilai Kritis Keterangan
Item 10 0,653 0,30 Valid
Item 11 0,621 0,30 Valid
Item 12 0,555 0,30 Valid
Tabel 3.5
Hasil Uji Validitas Kuesioner Pembelian Impulsif
Butir Pertanyaan
Indeks
Validitas Nilai Kritis Keterangan
Item 13 0,485 0,30 Valid
Item 14 0,437 0,30 Valid
Item 15 0,469 0,30 Valid
Item 16 0,383 0,30 Valid
Item 17 0,350 0,30 Valid
Item 18 0,386 0,30 Valid
Butir Pertanyaan
Indeks
Validitas Nilai Kritis Keterangan
Item 20 0,452 0,30 Valid
Item 21 0,490 0,30 Valid
Item 22 0,376 0,30 Valid
Item 23 0,349 0,30 Valid
Item 24 0,369 0,30 Valid
Item 25 0,441 0,30 Valid
Item 26 0,355 0,30 Valid
Item 27 0,537 0,30 Valid
Item 28 0,359 0,30 Valid
Item 29 0,437 0,30 Valid
Item 30 0,355 0,30 Valid
Item 31 0,361 0,30 Valid
Item 32 0,467 0,30 Valid
Pada ketiga tabel di atas dapat dilihat nilai koefisien korelasi setiap butir
pernyataan (indeks validitas) lebih besar dari nilai 0,30, hasil uji ini
mengindikasikan bahwa semua butir pertanyaan yang diajukan pada ketiga
variabel valid dan layak digunakan sebagai alat ukur untuk penelitian dan dapat
diikutsertakan pada analisis selanjutnya.
3.2.4.2 Uji Reliabilitas
Setelah melakukan pengujian validitas butir pertanyaan, maka langkah
selanjutnya adalah melakukan uji reliabilitas untuk menguji kehandalan atau
kepercayaan alat pengungkapan dari data.Dengan diperoleh nilai r dari uji
validitas yang menunjukkan hasil indeks korelasi yang menyatakan ada atau
tidaknya hubungan antara dua belahan instrumen.Dalam penelitian ini, metode
yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah Split Half Method (Spearman–Brown
memberikan tes pada sejumlah subyek dan kemudian hasil tes tersebut dibagi
menjadi dua bagian yang sama besar (berdasarkan pemilihan genap–ganjil). Cara
kerjanya adalah sebagai berikut :
a. Item dibagi dua secara acak (misalnya item ganjil/genap), kemudian
dikelompokkan dalam kelompok I dan kelompok II
b. Skor untuk masing–masing kelompok dijumlahkan sehingga terdapat skor
total untuk kelompok I dan kelompok II
c. Korelasikan skor total kelompok I dan skor total kelompok II
d. Hitung angka reliabilitas untuk keseluruhan item dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Ґ1 =
Keterangan :
Ґ1 = reliabilitas internal seluruh item
Ґb = korelasi product moment antara belahan pertama dan belahan kedua
Keputuasan pengujian reliabilitas instrumen dengan menggunakan taraf
signifikan 5 % satu sisi adalah :
1. Jika thitung lebih dari atau sama dengan t0,05 dengan taraf signifikan 5 %
maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan
2. Jika thitung kurang dari t0,05dengan taraf signifikan 5% satu sisi maka
instrument dinyatakan tidak reliabel dan tidak dapat digunakan.
Hasil uji validitas dengan menggunakan program SPSS. 2Ґb
Sekumpulan butir pertanyaan dalam kuesioner dapat diterima jika
memiliki nilai koefisien reliabilitas lebih besar atau sama dengan 0,7.
Tabel 3.6
Standar Penilaian Koefisien Validitas dan Reliabilitas
Kriteria Reliability Validity
Good 0,80 0,50
Acceptable 0,70 0,30
Marginal 0,60 0,20
Poor 0,50 0,10
Sumber: Barker et al, 2002:70
Hasil Pengujian Reliabilitas
Selain valid, alat ukur juga harus memiliki keandalan atau reliabilitas,
suatu alat ukur dapat diandalkan jika alat ukur tersebut digunakan berulangkali
akan memberikan hasil yang relatif sama (tidak beberda jauh). Untuk melihat
andal tidaknya suatu alat ukur digunakan pendekatan secara statistika, yaitu
melalui koefisien reliabilitas. Apabila koefisien reliabilitas lebih besar dari 0.70
maka secara keseluruhan pernyataan dinyatakan andal (reliabel). Berdasarkan
hasil pengolahan menggunakan metode split-half diperoleh hasil uji reliabilitas
sebagai berikut:
Tabel 3.7
Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Penelitian
Kuesioner Koefisien
Reliabilitas Nilai kritis Keterangan
Store Display 0,793 0,70 reliabel
Discount 0,766 0,70 reliabel
Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner yang digunakan pada
ketiga variabel sudah andal karena memiliki koefisien reliabilitas lebih besar dari
0,70.
3.2.5 Rancangan Analisi dan Perancangan Hipotesis
3.2.5.1 Rancangan Analisis
3.2.5.1.1 Analisis Deskriftif/Kualitatif
Analisis Deskriptif/ kualitatif digunakan untuk menggambarkan tentang
ciri-ciri responden dan variabel penelitian, sedangkan analisis kuantitatif
digunakan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan uji statistik.
Analisis kualitatif digunakan dengan menyusun tabel frekuensi distribusi
untuk mengetahui apakah tingkat perolehan nilai (skor) variabel penelitian masuk
dalam kategori: sangat baik, baik, cukup, tidak baik, sangat tidak baik.
Selanjutnya untuk menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian
dapat dilhat dari perbandingan antara skor aktual dengan skor ideal. Skor aktual
diperoleh melalui hasil perhitungan seluruh pendapat responden sesuai klasifikasi
bobot yang diberikan (1,2,3,4, dan 5). Sedangkan skor ideal diperoleh melalui
perolehan predisi nilai tertinggi dikalikan dengan jumlah kuesioner dikalikan
jumlah responden.
Keterangan:
a. Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah
diajukan.
b. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden
diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi.
Selanjutnya hasil perhitungan perbandingan antara skor aktual dengan skor
ideal dikontribusikan dengan tabel 3.8 sebagai berikut :
Tabel 3.8
Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal
No % Jumlah Skor Kriteria
1 20.00 - 36.00 Tidak Baik
2 36.01 - 52.00 Kurang Baik
3 52.01 - 68.00 Cukup
4 68.01 - 84.00 Baik
5 84.01 – 100 Sangat Baik
Sumber : Umi Narimawati (2007:84)
Berdasarkan pengkategorian tersebut, maka penulis dapat membuat
kategori masing-masing variabel sebagai berikut:
Tabel 3.9
Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal
Pengkategorian Display
No % Jumlah Skor Kriteria
1 20.00 - 36.00 Tidak Menarik
2 36.01 - 52.00 Kurang Menarik
3 52.01 - 68.00 Cukup Menarik
4 68.01 - 84.00 Menarik
Tabel 3.10
Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal
Pengkategorian Discount
No % Jumlah Skor Kriteria
1 20.00 -36.00 Rendah
2 36.01 -52.00 Sedang
3 52.01 -68.00 Cukup Tinggi
4 68.01 -84.00 Tinggi
5 84.01 – 100 Sangat Tinggi
Tabel 3.11
Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal
Pengkategorian Pembelian Impulsif
No % Jumlah Skor Kriteria
1 20.00 - 36.00 Tidak Impulsif
2 36.01 - 52.00 Kurang Impulsif
3 52.01 - 68.00 Cukup Impulsif
4 68.01 - 84.00 Impulsif
5 84.01 – 100 Sangat Impulsif
3.2.5.1.2 Analisis Verifikatif (Kuantitatif)
Data yang telah dikumpulkan melalui kuisioner akan diolah dengan
pendekatan kuantitatif. Oleh karena data yang didapat dari kuesioner merupakan
data ordinal, sedangkan untuk menganalisis data diperlukan data interval, maka
untuk memecahkan persoalan ini perlu ditingkatkan skala interval melalui “Methode of Successive Interval” (Hays, 1969:39). Dan selanjutnya dilakukan
1. Transformasi Data Ordinal Menjadi Interval
Adapun langkah-langkah untuk melakukan transformasi data ordinal
menjadi interval adalah sebagai berikut:
a) Ambil data ordinal hasil kuesioner
b) Setiap pertanyaan, dihitung proporsi jawaban untuk setiap kategori
jawaban dan hitung proporsi kumulatifnya
c) Menghitung nilai Z (tabel distribusi normal) untuk setiap proporsi
kumulaif. Untuk data n > 30 dianggap mendekati luas daerah dibawah
kurva normal.
d) Menghitung nilai densititas untuk setiap proporsi komulatif dengan
memasukan nilai Z pada rumus distribusi normal.
e) Menghitung nilai skala dengan rumus Method Successive Interval
Dimana:
Means of Interval = Rata-Rata Interval
Density at Lower Limit = Kepadatan batas bawah
Density at Upper Limit = Kepadatan atas bawah
Area Under Upper Limit = Daerah di bawah batas atas
Area Under Lower Limit = Daerah di bawah batas bawah
f) Menentukan nilai transformasi (nilai untuk skala interval) dengan
menggunakan rumus : Nilai Transformasi = Nilai Skala + Nilai Skala
Minimal + 1
Untuk mengetahui pengaruh antara variabel pengaruh Display Toko Dan
DiscountTerhadap Pembelian Impulsif, dalam hal ini adalah konsumenToserba
Selamat Cianjur digunakan analisis regresi Berganda (Multiple Regression).
2. Analisis Regresi
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisa pengaruh
beberapa variabel bebas atau independen variabel (X) terhadap satu variabel tidak
bebas atau dependen variabel (Y) secara bersama-sama.
Persamaan Regresi Linier Berganda adalah:
Dimana :
Y = variabel dependen
X1, X2 = variabel independen Α = konstanta
β 1, β 2 = koefisien masing-masing faktor
Dalam hubungan dengan penelitian ini, variabel independen adalah
DisplayToko (X1) dan Discount (X2), sedangkan variabel dependen adalah
Pembelian Impulsif (Y), sehingga persamaan regresi berganda estimasinya: Y = 0 + 1X1 + 2X2 …+nXn +
Dimana:
Y = Pembelian Impulsif
α = Konstanta dari persamaan regresi
β1 = Koefisien regresi dari variable X1, DisplayToko
β2= Koefisien regresi dari variable X2, Discount
X1= DisplayToko
X2= Discount
3. Analisis Korelasi
Menurut Sujana (1989:152), pengujian korelasi digunakan untuk
mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variabel x dan y, dengan
menggunakan pendekatan koefisien korelasi Pearson dengan rumus:
Dimana: -1 ≤ r ≤ +1
r = koefisien korelasi
x = displaytoko, discount
z = pembelian impulsif
n = jumlah responden
Ketentuan untuk melihat tingkat keeratan korelasi digunakan acuan pada
Tabel 3.12 dibawah ini.
∑ ∑ ∑
Tabel 3.12
Tingkat Keeratan Korelasi
0 – 0.20 Sangat rendah (hampir tidak hubungan) 0.21 – 0.40 Korelasi yang lemah
0.41 – 0.60 Korelasi sedang
0.61 – 0.80 Cukup tinggi
0.81 – 1 Korelasi tinggi
Sumber : Syahri Alhusin, 2003 : 157
4. Analisis Koefisien Determinasi
Persentase peranan semua variable bebas atas nilai variable bebas
ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi (R2).Semakin besar nilainya
maka menunjukkan bahwa persamaan regresi yang dihasilkan baik untuk
mengestimasi variable terikat. Hasil koefisien determinasi ini dapat dilihat dari
perhitungan dengan Microsoft/SPSS atau secara manual didapat dari R2 =
SSreg/SStot .
%
100
2
x
r
Kd
Dimana:
d : Koefisien determinasi
r : Koefisien Korelasi
3.2.5.2 Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini yang akan diuji adalah Pengaruh DisplayToko dan