• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh display toko dan dicount terhadap pembelian impulsif pada konsumen Toserba Selamat Cianjur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh display toko dan dicount terhadap pembelian impulsif pada konsumen Toserba Selamat Cianjur"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Nama : Moch Dani Nurdiansyah Tempat Tangal Lahir : Cianjur,3 Febuari 1990 Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Status : Belum Menikah

Alamat Asal : Perumahan rancabali No. 79 RT/RW 02/04 kel. Muka Cianjur, 43212

E-mail : [email protected] Telephone : (0263) 270909

085759403726 Kewarganegaraan : Indonesia

Hobi : Bermain game, Futsal, Tenis Meja, Bulu Tangkis,

PENDIDIKAN

 1995 - 2001 : SDN Salakopi 2 Cianjur  2001 - 2004 : SMP Negeri 1 Cianjur

 2004 - 2007 : SMA Negeri 1 Cilaku - Cianjur

 2008– sekarang : Mahasiswa tingkat akhir Universitas Komputer Indonesia

Hormat Saya,

(5)

The Influence Of Store Display And Discount

To Impulsive Buying On Cunsomers Toserba Selamat Cianjur

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Komputer Indonesia

Oleh :

MOCH DANI NURDIANSYAH

21208064

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(6)

vi

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat dan hidayah–Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan UsulanPenelitian

yang berjudul “PENGARUH DISPLAY TOKO DAN DISCOUNT TERHADAP

PEMBELIAN IMPLUSIF PADA KONSUMEN TOSERBA SELAMAT

CIANJUR”.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih untuk

kedua orangtua tersayang yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun

materil serta doa dan kasih sayang yang tulus dan bimbingannya yang begitu

besar untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Atas segala bantuan dan bimbingan

yang telah penulis terima, tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih dan

penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, selaku Rektor Universitas

Komputer Indonesia.

2. Bapak Dr. Dedi Sulistiyono, S., MT selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Komputer Indonesia.

3. Ibu Dr. Raeny Dwisanty, SE.,M.Si selaku Ketua Program studi

Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.

Ibu Dr. Raeny Dwisanty, SE.,M.Si.,selaku pembimbing yang telah

berkenan dan meluangkan waktunya memberikan perhatian, masukan,

arahan dan semangat dan keceriaan selama kuliah di UNIKOM, anda

(7)

vii

manajemen pemasaran, yang selalu memberi motivasi, perhatian, masukan

sehingga skripsi ini dapat berjalan lancar.

5. Oman Sukirman, SE., MM, selaku penguji II yang telah memberikan

arahan kepada penulis, sehingga penulis dapa tmenyelesaikan skripsi ini.

6. Windi Novianti, SE.MM, selaku koordinator siding skripsi.

7. Linna Ismawati, SE.,M.Si. selaku ketua panitia pelaksanaan tugas akhir.

8. Seluruh Staff Dosen Pengajar UNIKOM yang telah membekali penulis

dengan pengetahuan sertai lmu yang sangat berharga.

9. Teh Maya yang selalu memberikan dukungan, dengan segala kebaikannya.

10.Teh Hana yang juga selalu baik dan memberikan dukungan.

11.Bapak H. Ma’ mun selaku Direktur utamaToserba Selamat yang telah

memberikan konsiderasinya bagi saya untuk melakukan penelitian.

12.Bapak Jafar Numeri selaku Karyawan Toserba Selamat yang sudah

mengijinkan penulis melakukan penelitian.

13.Laporan ini penulis dedikasikan untuk ayah saya Dadang Sunandar atas

doanya saya dapat menyelesaikan laporan ini.

14.Nurjanah, mamaku yang paling kusayangi, terimakasih sudah memberi arti

(8)

viii

16.Maman Setiawan omku yang telah banyak memberikan bantuan materi

dan doa untuk pendidikan saya, memotivasi saya, dan memberikan nasehat

untuk membentuk pengembangan diri saya.

17.Asep Alfarizy omku yang banyak ikut andil dalam perkembangan saya

sejak kecil untuk menjadi panutan cita-cita saya.

18.Nina Nurlina tanteku yang selalu menjadi pembawa keceriaanku sejak

kecil sampai proses pendewasaan.

19.Yana Mulyana yang aku yakin paling tahu akan perjalanan skripsiku ini,

terimakasih atas segala dukungannya.

20.Lina Marlina tanteku yang ikut mendukungku. Terimakasih untuk

dukungannya.

21.Asri Ardiantika Putri, adik perempuanku. Terimakasih sudah menjadi

teman debat bahasa inggrisku, walaupun sedikit radikal tapi menambah

wawasan dalam percakapan bahasa inggrisku. "I shall be your opponent

!!!!"

22.Untuk keluarga saya yang lain saya ucapkan terimakasih atas

dukungannya.

23.Untuk sahabat-sahabatku yang lain, Niko, Ganisti, Citra, Jecky, Amzah,

(9)

ix

dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak

kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan,untuk itu kritik

dan saran yang membangun dari pembaca diharapkan demi kesempurnaan laporan

ini.

Bandung, 10 Febuari 2013

(10)

x

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

MOTTO ... iii

ABSTRACT ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN 1.1LatarBelakangMasalah ... 1

1.2Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 5

1.2.1Identifikasi Masalah ... 5

1.2.2Rumusan Masalah ... 7

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian ... 7

1.3.1Maksud Penelitian ... 7

1.3.2Tujuan Penelitian ... 8

1.4Kegunaan Penelitian... 8

(11)

xi

2.1.1.1 Pengertian Penataan (Display) ... 11

2.1.1.2 Macam-MacamDisplay ... 12

2.1.2Discount ... 15

2.1.2.1 Pengertian Discount ... 15

2.1.2.2 Jenis-Jenis Discount (Potongan Harga) ... 16

2.1.2.3 Pengukuran Discount ... 19

2.1.3Pembelian Impulsif ... 19

2.1.3.1 Pengertian Pembelian Impulsif ... 19

2.1.3.2 Tipe Pembelian Impulsif ... 21

2.1.3.3 Perspektif Dalam Pembelian Impulsif ... 22

2.1.3.4 Penyebab Terjadinya Impulsif ... 22

2.1.3.5 Pengukuran Pembelian Impulsif ... 23

2.1.4PenelitianTerdahulu ... 23

2.2 KerangkaPemikiran ... 28

2.2.1 Keterkaitan antaraDisplay Toko dengan Pembelian Impulsif.... 31

2.2.2KeterkaitanantaraDiscount dengan Pembelian Impulsif ... 32

2.3 Hipotesis ... 32

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 ObjekPenelitian ... 33

(12)

xii

3.2.3.1 Sumber Data ... 41

3.2.3.2 TeknikPenentuan Data ... 42

3.2.3.2.1 Populasi ... 42

3.2.3.2.2 Sampel ... 43

3.2.4 TeknikPengumpulan Data ... 44

3.2.4.1 UjiValiditas ... 45

3.2.4.2 UjiReliabilitas ... 48

3.2.5 RancanganAnalisisdanPerancanganHipotesis... 51

3.2.5.1 RancanganAnalisis ... 51

3.2.5.1.1 Analisis Deskriftif/Kualitatif ... 51

3.2.5.1.2 Analisis Verifikatif (Kuantitatif) ... 53

3.2.5.2 PengujianHipotesis ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 60

4.1.1 Sejarah Perusahaan ... 60

4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan ... 65

4.1.3 Deskripsi Jabatan... 66

4.2 Karakteristik Responden ... 69

(13)

xiii

Cianjur ... 87

4.2.1.3 Analisis Deskriptif Pembelian Impulsif Konsumen Di

Toserba Selamat Cianjur ... 93

4.2.2 Analisis Verifikatif ... 120

4.2.2.1Hasil Estimasi Model Regressi ... 120

4.2.2.2Pengaruh Store Display Terhadap Pembelian

Impulsif ... 125

4.2.2.3Pengaruh Discount Terhadap Pembelian Impulsif ... 128

4.2.2.4Pengaruh Store Display dan Discount Terhadap

Pembelian Impulsif ... 131

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 135

5.2 Saran ... 136

DAFTAR PUSTAKA ... 139

KUESIONER

LAMPIRAN-LAMPIRAN LAIN

(14)

139

FMCG Products In Jodhpur. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5(11), 1704-1710.

Ali, A.M, Heidarzadeh, K.H, & Khospanjeh, Mahsa (2011).The Effect of Situational and Individual Factors on Impulse Buying.World Applied Sciences Journal, 13(9), 2108-2117.

Andi Supangat. 2008. Statistika. Jakarta : KENCANA.

Astrid G Herabadi, Bas Verplanken, dan Ad van Knippenberg. (2009),

“Consumption experience of impulse buying in Indonesia:Emotional arousal and hedonistic considerations”, Asian Journal of Social Psychology, Vol. 12, pp. 20-31.

Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: Rosda Karya.

Buchari Alma. 2009. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung:Alfabeta.

Christina WidyaUtami. 2010. Manajemen Ritel (edisi 2). Jakarta:Salemba Empat. Fika, A.T., & Sumaryono. Pembelian Impulsif Ditinjau Dari Kontrol Diri Dan

Jenis Kelamin Pada Remaja. Jurnal Psikologi Proyeksi, 3(1), 46-57.

Masri Singarimbun. 2011. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Muhamad Naffi, 2004, TrenPerkembanganRitel, Pasar Tradisional akan Tergusur? (http://www.tempointeraktif.com). 15 April 2011.

M. Tohar. 2000. Membuka Usaha Kecil. Yogyakarta: Kanisius.

Minal, Shah, Guha, Sanjay dan Shrivastava Urvashi (2012), "Effect of emerging trends in retail sector on impulse buying behaviour-with reference to chhattisgarh region", International Journal Of Engineering and Management Sciences, Vol. 3(2) 2012: 142-145.

(15)

Rick Segel.2008. Retail Business Kit For Dummies.Florida: John Willey and Son

Schiffman, L., & Kanuk,L. 2004. Perilaku Konsumen. New Jersey: Prentice Hall Sugiyono. 2004. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : CV Alfabeta.

Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta.

Tendai, Mariri dan Crispen, Chipunza. (2009), “In-store environment and

impulsive buying”, African Journal of Marketing Management, Vol. 1(4) pp. 102-108.

Tirmizi, M.A. (2009). An Empirical Study of Consumer Impulse Buying Behaviour in Local Markets.European Journal of Scientific Research, Vol 28(4), 522-532.

Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen. Bogor : Ghalia Indonesia.

Umi Narimawati. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif : Teori dan Aplikasinya. Bandung : Fakultas Ekonomi UNIKOM.

Umi Narimawati. 2007. Riset Manajemen Sumber Daya Manusia : Aplikasi Contoh & Perhitungannya. Jakarta :Agung Media.

(16)

11 2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Display

2.1.1.1 Pengertian Penataan (Display)

Menurut M.Tohar (2000:49) display bertujuan untuk menarik calon

konsumen dan mendorong keinginan untuk membeli.

Menurut Buchari Alma (2009:189) pengertian display yaitu:

keinginan membeli sesuatu, yang tidak didorong oleh seseorang, tetapi

didorong oleh daya tarik, atau oleh penglihatanataupun oleh perasaan

lainnya.”

Menurut Willian J. Schultz yang dikutip dalam buku Buchari Alma

(2009:189) mendefinisikan display yaitu:

“usaha mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang

dan mendorong keinginan membeli melalui daya tarik penglihatan

langsung (direct visual appeal).

Menurut Mariri Tendai dan Chipunza Crispen dalam penelitiannya

In-Store Shopping Environment And Impulsive Buying (2009:104) mengemukakan

bahwa:

“display merupakan aspek yang sangat penting dalam bisnis ritel untuk

(17)

Dari beberapa pengertian diatas dapat didefinisikan bahwa display

merupakan usaha yang dilakukan untuk menata barang yang mengarahkan

pembeli agar tertarik untuk melihat dan membeli.

Memanjangkan barang di dalam toko dan etalase, mempunyai pengaruh

besar terhadap penjualan. Biasanya kita lihatsalah satu cara untuk menjual barang

ialah dengan membiarkan calon pembeli itu melihat, meraba, mencicipi,

mengendarai dan sebagainya.

Berhasilnya self-service menjual barang-barangnya tergantung dari

pelaksanaan display, seperti dapat dilihat di supermarket.

Tujuan display dapat digolongkan menjadi:

1. Untuk menarik perhatian (attention, interest) para pembeli. Hal ini

dilakukan menggunakan warna-warna, lampu-lampu dan sebagainya.

2. Untuk dapat menimbulkan keinginan memiliki barang-barang yang

dipamerkan di toko (attention, interest) kemudian para konsumen masuk ke

dalam toko dan melakukan pembelian (desire, action).

2.1.1.2 Macam-Macam Display

M.Tohar (2000:50) berpendapat bahwa menempatkan barang merupakan

hal yang penting terutama penempatan barang dalam windows display, interior

display, dan exterior display.

Rick Segel (2008) menyebutkan bahwa display dibagi menjadi 2 jenis,

(18)

Selanjutnya, menurut Buchari Alma (2009:189)display dibagimenjadi 3

macam yaitu:

1. Windows Display

Yaitu memjangkan barang-barang, gambar-gambar kartu harga,

simbol-simbol dan sebagainya di bagian toko yang disebut etalase. Dengan demikian

calon konsumen yang lewat di muka toko-toko diharapkan akan tertarik oleh

barang-barang tersebut dan ingin masuk ke dalam toko. Wajah toko akan berubah

jika windows display diganti. Fungsi windows display ini mempunyai beberapa

tujuan sebagai berikut:

a. Untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat.

b. Menyatakan kualitas yang baik, atau harga yang murah, sebagai ciri khas

dari toko tersebut.

c. Memancing perhatian terhadap barang-barang istimewa yang dijual toko.

d. Untuk menimbulkan impulse buying (dorongan seketika untuk membeli).

e. Agar menimbulkan daya tarik terhadap keseluruhan daya toko.

2. Interior Display

Yaitu memajangkan barang-barang, gambar-gambar, kartu-kartu harga,

poster-poster di dalam toko misalnya di lantai, di meja, di rak-rak dan sebagainya.

Interior display ini ada beberapa macam:

a. Merchandise Display

Barang-barang dagangan dipajangkan di dalam toko dan ada tiga bentuk

(19)

1) open display: barang-barang dipajangkan pada suatu tempat terbuka

sehingga dapat dihampiri dan dipegang, dilihat dan teliti oleh calon

pembeli tanpa bnatuan dari petugas-petugas penjualnya, misalnya self

display, insland display (barang disimpan di atas lantai yang di atur

bagus seperti pulau-pulau dan sebagainya).

2) closed display: barang-barang dipajangkan dalam suasana temapt

tertutup. Barang-barang tersebut tidak dapat dihampiri dan dipegang

atau diteliti oleh calon pembeli kecuali atas bantuan petugas. Jelas ini

bertujuan melindungi barang dari kerusakan, pencurian dan

sebagainya.

3) architecture display: memperlihatkan barang-barang dalam

penggunaanya misalnya di ruang tamu, meubel di kamar tidur, dapur

dengan perlengkapaanya, dan sebagainya. Cara ini dapat memperbesar

daya tarik karena barang-barang dipertunjukan secara realistis.

b. Store Sign and Decoration

Tanda-tanda, simbol-simbol, lambang-lambang, poster-poster,

gambar-gambar, bendera-bendera, semboyan-semboyan dan sebagainya disimpan

di atas meja atau digantung di dalam toko. Store design digunakan untuk

membimbing calon pembeli ke arah barang dagangan dan memberi

keterangan kepada mereka tentang kegunaan barang-baranng tersebut.

“decoration” pada umumnya digunakan dalam rangka peristiwa khusus

(20)

c. Dealer Display

Ini dilaksanakan oleh Wholesaler terdiri dari simbol-simbol

petunjuk-petunjuk tentang penggunaan produk, yang kesemuanya berasal dari

produsen. Dengan memperlihatkan kegunaan produk dalam gambar dan

petunjuk, maka display ini juga memberi peringatan kepada para petugas

penjualan agar mereka tidak memberikan keterangan yang tidak sesuai

dengan petunjuk yang ada dalam gambar tersebut.

3. Exterior Display

Ini dilaksanakan dengan memajangkan barang-barang diluar kota

misalnya, pada waktu mengadakan obral, pasar malam. Display ini mempunyai

beberapa fungsi antara lain:

a. Memperkenalkan suatu produk secara tepat dan ekonomis.

b. Membantu para produsen menyalurkan barang-barangnya dengan cepat

dan ekonomis.

c. Membantu mengkoordinasikan advertising dan merchandising.

d. Membangun hubungan yang baik dengan masyarakat misalnya pada hari

Raya, Ulang Tahun dan sebagainya.

2.1.2 Discount

2.1.2.1 Pengertian Discount

Dalam pemasaran, Discount (Potongan harga) merupakan alat promosi

yang dapat menarik perhatian konsumen untuk mendorong hasrat calon konsumen

guna membeli produk yang ditawarkan. Menurut Sutisna (2002:302): “Potongan

(21)

tertentu”. Sedangkan menurut Kotler dan AB. Susanto (2001:662): “Potongan

harga merupakan pengurangan harga dari daftar harga jenis lainnya”. Menurut

Fandy Tjiptono (2008:166): “Diskon merupakan potongan harga yang diberikan

oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari

pembeli yang menyenangkan bagi penjual”.

Sedangkan menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong (2006:317):

“Diskon yaitu pengurangan harga yang diberikan kepada konsumen untuk

pembayaran cepat atau atas promosi yang dilakukan oleh provider itu sendiri”.

Maka dari itu, dapat beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa

Discount (Potongan harga) merupakan kebijakan pengurangan harga yang

dilakukan pemasar yang diberikan kepada konsumen pada waktu-waktu tertentu

guna menarik perhatian dan merangsang hasrat konsumen untuk membeli produk

tertentu dengan sesegera mungkin. Contohnya pada sebuah department store

(tempat perbelanjaan) yang melakukan sebuah kebijakan pemberian discount

(potongan harga) guna untuk menarik perhatian konsumen dan berdampak pada

peningkatan penjualan pada Departement Store atau toko tersebut.

2.1.2.2 Jenis-Jenis Discount (Potongan Harga)

Berdasarkan Fandy Tjiptono (2008:166) terdapat empat bentuk diskon,

diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Diskon Kuantitas

Diskon kuantitas merupakan potongan harga yang diberikan guna

mendorong konsumen agar membeli dalam jumlah yang lebih banyak,

(22)

Diskon kuantitas terdiri atas dua jenis, yaitu :

a. Diskon kuantitas Kumulatif

Diskon kuantitas kumulatif diberikan kepada konsumen yang membeli

barang selama periode waktu tertentu, misalnya terus-menerus selama

satu tahun.

b. Diskon Kuantitas Non Kumulatif

Diskon kuantitas non kumulatif didasarkan pada pesanan pembelian

secara individual.Jadi hanya diberikan pada satu pembelian dan tidak

dikaitkan dengan pembelian-pembelian sebelum dan sesudahnya.

2. Diskon Musiman

Diskon musiman adalah potongan harga yang diberikan hanya pada

masa-masa tertentu saja. Diskon musiman digunakan untuk mendorong

konsumen agar membeli barang-barang yang sebenarnya baru akan

dibutuhkan beberapa waktu mendatang.

3. Diskon Kas (Cash discount)

Diskon kas merupakan potongan harga yang diberikan apabila pembeli

membayar tunai barang-barang yang dibelinya atau membayarnya dalam

jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian transaksi (termin

penjualan/ sales term).

4. Trade (Functional) Discount

Trade discount diberikan oleh produsen kepada para penyalur yang terlibat

dalam pendistribusian barang dan pelaksanaan fungsi-fungsi tertentu,

(23)

Selain empat macam diskon diatas, ada pula istilah harga obral (sale

price), yakni diskon sementara dari harga menurut daftar (list price).Tipe diskon

ini bertujuan mendorong pembelian dengan segera.

Potongan harga merupakan salah satu strategi untuk menembus pasar

persaingan. Apabila beberapa konsumen memiliki harga yang berbeda-beda, maka

perusahaan melakukan potongan harga secara random, konsumen lebih suka

membeli harga diskon, sedangkan konsumen yang mencari harga murah akan

membeli dengan harga yang paling rendah. Perusahaan akan melakukan potongan

harga secara periodik dengan menampilkan harga tinggi, kemudian secara

periodik dilakukan discount.

Berdasarkan Sutisna (2002:299) menjelaskan bahwa hal yang penting

dalam upaya pemasaran melalui promosi penjualan dilakukan dalam jangka

pendek.Promosi penjualan tidak dapat dilakukan secara terus menerus sepanjang

tahun, karena selain menimbulkan.kerugian bagi pemasar, juga konsumen tidak

akan lagi membedakan periode promosi penjualan dan hasilnya juga tidak akan

efektif. Dengan kata lain, tidak akan ada perbedaan respons konsumen baik

perusahaan mengadakan promosi penjualan atau tidak, jika kegiatan promosi

penjualan atau tidak, jika kegiatan promosi penjualan dilakukan terlalu sering.

Tingkat ambang batas (threshold level) merupakan batas konsumen

akanmempunyai respons terhadap suatu aktivitas tertentu. Treshold level yang

dibutuhkan untuk menarik perhatian konsumen semakin tinggi jika promosi

(24)

menarik perhatian konsumen dan mendorong konsumen untuk melakukan

pembelian.

Untuk dapat menarik perhatian konsumen, perusahaan harus menaikan

tingkat potongan harga agar mampu membangkitkan perhatian konsumen.Pada

prakteknya di Indonesia, potongan harga umumnya diberikan pada item-item

produk yang sudah out of date, atau item produk yang tidak laku.Pada

retailer-retailer, pemberian potongan harga ini bukan berasal dari retailer, tetapi berasal

dari penjual merk yang dijual di retailer tertentu.

2.1.2.3 Pengukuran Diskon

Menurut Sutisna (2002:300): “Potongan harga adalah pengurangan harga

produk dari harga normal dalam periode tertentu”, yang menjadidimensi diskon

adalah:

 Besarnya potongan harga

 Masa potongan harga.

 jenis produk yang mendapatkan potongan harga

2.1.3 Pembelian Impulsif

2.1.3.1 Pengertian Pembelian Impulsif

Menurut Fathur Rohman (2008:253) mendifinisikan impulsive buying

yaitu:

“pembelian yang tiba-tiba dan segera tanpa ada minat pembelian

(25)

Sedangkan Xueming Luo (2005:289) mendifinisikan pembelian impulsif

atau impulse buying adalah:

“pembelian saat itu juga yang tidak direncakan, berdasar pada tindakan

yang sangat kuatdan dorongan keras untuk langsung membeli suatu

barang.”

Menurut Paul T Mburu dalam (2010:41),mendefinisikan impulse buying

yaitu:

impulse buying adalah kebiasaan konsumen untuk membeli secara

spontan, tidak direncanakan, dan tergesa-gesa.”

Menurut Christina Widya Utami (2010:67) mengatakan bahwa

pembelian impulsif terjadi ketika konsumen tiba-tiba mengalami keinginan yang

kuat dan kukuh untuk membeli sesuatu secepatnya.

Dari pengertian diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pembelian

impulsif adalah tindakan membeli yang sebelumnya tidak diakui secara sadar

sebagai hasil dari suatu pertimbangan atau niat membeli yang terbentuk sebelum

memasuki toko.

Pembelian impulsif atau pembelian tidak terencana merupakan bentuk lain

dari pola pembelian konsumen. Sesuai dengan istilahnya, pembelian tersebut tidak

spesifik terencana.Pembelian impulsif terjadi ketika konsumen tiba-tiba

mengalami keinginan yang kuat dan kukuh untuk membeli sesuatu secepatnya.

Impuls untuk membeli merupakan hal yang secara hedonis kompleks, dan akan

menstimulasi konflik emosional. Pembelian impulsif juga cenderung dilakukan

(26)

Pembelian impulsif, seperti semua perilaku pembelian,umunya

dipengaruhi oleh sejumlah faktor pribadi, kronologis, lokasi dan budaya.

Faktor-faktor ini tidak hanya secara substansial berbeda antara konsumen yang satu

dengan yang lainnya, tetapi juga berubah-ubah untuk konsumen yang sama di

bawah situasi yang berbeda-beda.

2.1.3.2Tipe Pembelian Impulsif

Menurut Stern dalam London dan Bitta (1998:81)dalam buku Christina

Widya Utami(2010:68) menyatakan bahwa ada empat tipe pembelian impulsif

yaitu:

1. Impuls Murni (pure impulse)

Pengertian ini mengacu pada tindakan pembelian sesuatu karena alasan

menarik, biasanya ketika suatu pembelian terjadi karena loyalitas terhadap

merek atau perilaku pembelian yang telah biasa dilakukan. Contonhya:

membeli sekaleng asparagus bukannya membeli sekaleng macaroni seperti

biasanya.

2. Impuls Pengingat (reminder impulse)

Ketika konsumen membeli berdasarkan jenis impuls ini, hal ini dikarenakan

unit tersebut biasanya memang dibeli juga, tetapi tidak terjadi untuk

diantisipasi atau tercatat dalam daftar belanja. Contohnya: ketika sedang

menunggu antrean untuk membeli sampo di konter toko obat, konsumen

melihat merek aspirin pada rak dan ingat bahwa persediannya di rumah

akan habis, sehingga ingatan atas penglihatan pada produk tersebut memicu

(27)

3. Impuls Saran (suggestion impulse)

Suatu produk yang ditemui konsumen untuk pertama kali akan

menstimulasi keinginan untuk mencobanya. Contohnya: seorang ibu rumah

tangga yang secara tidak sengaja melihat produk penghilang bau tidak

sedap di suatu counter display, hal ini secara tidak langsung akan

merelasikan produk tersebut didasarkan atas pertimbangan tentang adanya

bau disebabkan karena aktifitas memasak di dalam rumah dan kemudian

membelinya.

4. Impuls Terencana (planned impulse)

Aspek perencanaan dalam perilaku ini menunjukan respon konsumen

terhadap beberapa insentif spesial untuk membeli unit yang tidak

diantisipasi.Impuls ini biasanya distimulasi oleh pengumuman penjualan

kupon, potongan kupon, atau penawaran menggiurkan lainnya.

2.1.3.3Perspektif Dalam Pembelian Impulsif

Menurut Christina Widya Utami 2010:68) terdapat tiga perspektif yang

digunakan untuk menjelaskan pembelian impulsif:

1. Karakteristik produk yang dibeli,

2. Karakteristik konsumen,

3. Karakteristik display tempat belanja.

2.1.3.4Penyebab Terjadinya Impulsif

Menurut Christina Widya Utami (2010:69) terdapat dua penyebab

(28)

1. Pengaruh stimulus di tempat belanja.

2. Pengaruh situasi.

Pembelian impulsif disebabkan oleh stimulus di tempat belanja untuk

mengingatkan konsumen akan apa yang harus dibeli atau karena pengaruh

display, promosi, dan usaha-usaha pemilik tempat belanja untuk menciptakan

kebutuhan baru. Pada kasus yang pertama, kebutuhan konsumen tidak nampak

sampai konsumen berada di tempat belanja dan dapat melihat alternatif-alternatif

yang akan di ambil dalam pengambilan keputusan pembelian terakhir. Hal ini

berkaitan dengan pembelian yang dikarenakan impuls pengingat. Pada kasus

kedua, konsumen tidak menyadari akan kebutuhannya sama sekali, semuanya

diciptakan oleh stimulus baru yang dikondisikan akan diinginkanoleh konsumen.

2.1.3.5Pengukuran Pembelian Impulsif

Indikator yang digunakan untuk mengukur pembelian impulsif menurut

Bas Verplanken et., al (2005:433) yaitu:

1. Cognitive: kurangnya perencanaan dan pertimbangan yang masuk kedalam

keputusan pembelian.

2. Affective: pendekatan afektifini dilihat darisegiperasaanseperti kegembiraan,

kurangnya kontrol, dan keinginan untukmembeli.

2.1.5 PenelitianTerdahulu

Untuk mendukung penelitian ini, maka penulis akan paparkan hasil

penelitian terdahulu yang ada kaitanya dengan judul penelitian yang penulis

(29)

Tabel 2.1 Special Reference To Noida City:2011) -penulis meneliti

2 variabel yang Muhammad Ali Tirmizi

(2009)

(30)

impulse buying Bas Verplanken, Astrid

G. Herabadi, udith A. Perry & David H. Silvera (2005) item scale

delevel-oped by lack of control, and the urgeto buy.

1Alireza Karbasivar and 2Hasti Yarahmadi has important role to encourage

(31)
(32)

masyarakat high

of Planned and Impulse Buying: used as a surrogate for retail search

1.Alireza Karbasivar and 2. Hasti Yarahmadi

(33)

2.2Kerangka Pemikiran

Display yaitukeinginan membeli sesuatu, yang tidak didorong oleh

seseorang, tapi didorong oleh daya tarik, atau oleh penglihatan ataupun oleh

perasaan lainnya (Buchari Alma 2009:189).

Dari pengertian diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa display

adalah usaha yang dilakukan untuk menata barang yang mengarahkan pembeli

agar tertarik. Strategi penataan atau display bertujuan untuk membantu

meningkatkan penjualan, terutama melalui pembelian tak terencana yang

dilakukan oleh konsumen.

Display dibagi menjadi 3 macam yaitu:

1. Windows display

Merupakan penataan barang dagangan di etalase toko.Seperti memjangkan

barang-barang, gambar-gambar kartu harga, simbol-simbol dan sebagainya

di bagian toko yang disebut etalase.

2. Interior display

Merupakan penataan barang dagangan yang ada didalam ruangan toko.

Pajangan yang berada di dalam toko mengenai ketepatan dekorasi,

kerapihan barang-barang yang di tata, kebersihan ruangan toko.Pajangan

tersebut biasanya diletakkan di lantai, di meja, dan di rak-rak.

3. Exterior display

Merupakan penataan barang dagangan yang letaknya di luar toko.Ini

(34)

waktu mengadakan obral, pasar malam, penjelasan tulisan dan mudah di

ingatnya papan nama.

Rick Segel (2008)menyebutkan bahwa display dibagi menjadi 2 jenis,

yaitu interior display, dan exterior display.

Dalam pemasaran, Discount (Potongan harga) merupakan alat promosi

yang dapat menarik perhatian konsumen untuk mendorong hasrat calon konsumen

guna membeli produk yang ditawarkan. Menurut Sutisna (2002:302): “Potongan

harga adalah pengurangan harga produk dari harga normal dalam periode

tertentu”. Sedangkan menurut Kotler dan AB. Susanto (2001:662): “Potongan

harga merupakan pengurangan harga dari daftar harga jenis lainnya”. Menurut

Fandy Tjiptono (2008:166): “Diskon merupakan potongan harga yang diberikan

oleh penjual kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari

pembeli yang menyenangkan bagi penjual”.

Menurut Sutisna (2002:300): “Potongan harga adalah pengurangan harga

produk dari harga normal dalam periode tertentu”, yang menjadidimensi diskon

adalah:

 Besarnya potongan harga

 Masa potongan harga.

 jenis produk yang mendapatkan potongan harga

Menurut Alireza Karbasivar and Hasti Yarahmadi (2011:180)window

(35)

Menurut Christina Widya Utami (2010:67)mengatakan bahwa pembelian

impulsif terjadi ketika konsumen tiba-tiba mengalami keinginan yang kuat dan

kukuh untuk membeli sesuatu secepatnya.

Dapat disimpulkan bahwa pembelian impulsif yaitu tindakan membeli

yang sebelumnya tidak diakui secara sadar sebagai hasil dari suatu pertimbangan

atau niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko.

Indikator yang digunakan untuk mengukur pembelian impulsif menurut

Bas Verplanken et., al (2005:433) yaitu:

1. Cognitive: kurangnya perencanaan dan pertimbangan yang masuk kedalam

keputusan pembelian.

2. Affective: sikap yang timbul dalam diri konsumen yang terjadi secara

spontan dan terdesak dalam melakukan pembelian.

Menurut Christina (2010:68) terdapat tiga perspektif yang digunakan

untuk menjelaskan pembelian impulsif yaitu, karakteristik yang dibeli,

karakteristik konsumen,dan karakteristik display tempat belanja. Karakteristik

display tempat belanja seperti display di dekat konter pembayaran dandisplay

pada ujung koridor terbukti menstimulasi terjdinya pembelian impulsif.

Sedangkan menurut Mariri Tendai (2009:104) aspek yang paling penting dalam

retail untuk mengerti kebiasaan konsumen yaitu display di toko. Strategi display

dapat mempengaruhi pembelian tak terencana konsumen.

Menurut pendapat Janakiraman et al (2006).Terdapat suatu pengaruh pada

penurunan harga yang dilakukan secara tiba-tiba, atau kita sebut sebagai diskon,

(36)

Alireza Karbasivar and Hasti Yarahmadi (2011:180)

Christina (2010:68)

Janakiraman et al (2006).

Gambar 2.1

Skema Kerangka Pemikiran

2.2.1 Keterkaitan Hubungan Display Terhadap Pembelian Implisif

Menurut Christina Widya Utami (2010:68) terdapat tiga perspektif yang

digunakan untuk menjelaskan pembelian impulsif yaitu, karakteristik yang dibeli,

karakteristik konsumen, dan karakteristik display tempat belanja. Karakteristik

display tempat belanja seperti display di dekat konter pembayaran dandisplay

pada ujung koridor terbukti menstimulasi terjdinya pembelian impulsif. Begitu

juga, parameter desain rak belanja, seperti ruang antar rak, tingginya rak, dan arah

menghadap rak, dapat mempengaruhi terjadinya perilaku pembelian impulsif. Discount (Potongan Harga)

 Besarnya potongan harga  Masa potongan harga.  Jenis produk yang

mendapatkan potongan harga

Sumber : Sutisna (2002:300) Penataan (display): 1. Windows display. 2. Interior display. 3. Exterior display

Buchari Alma (2009:189)

Impulse buying: 1. cognitive 2. affective.

(37)

Menurut Mariri Tendai (2009:104) aspek yang paling penting dalam retail

untuk mengerti kebiasaan konsumen yaitu display di toko. Strategi display dapat

mempengaruhi pembelian tak terencana konsumen.

2.2.2 Keterkaitan Discount Terhadap Pembelian Implisif

Menurut pendapat Janakiraman et al (2006).Terdapat suatu pengaruh

pada penurunan harga yang dilakukan secara tiba-tiba, atau kita sebut sebagai

diskon, mampu memicu pembelian impulsif.

2.3 Hipotesis

Menurut Sugiyono dalam bukunya Penelitian Bisnis (2008 : 221)

menyatakan bahwa:

“Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan

masalah penelitian.”

Hipotesis Utama:

Terdapat Pengaruh Display Toko Dan Discount Terhadap Pembelian

Impulsif Pada KonsumenToserba Selamat Cianjur.

Sub Hipotesis:

 Terdapat Pengaruh Display Terhadap Pembelian Impulsif Pada

KonsumenToserba Selamat Cianjur

 Terdapat Pengaruh Discount Terhadap Pembelian Impulsif Pada

(38)

33 3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian merupakan suatu permasalahan yang dijadikan sebagai

topik penulisan dalam rangka menyusun suatu laporan. Penelitian ini dilakukan

untuk memperoleh data–data yang berkaitan dengan objek penelitian tersebut

yang berjudul : “Pengaruh Display Toko DanDiscount Terhadap Pembelian

Impulsif Pada KonsumenToserba Konsumen."

Di dalam penelitian ini, penulis mengemukakan dua variabel yang akan

diteliti. Adapun variabel yang akan diteliti di dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel independent (variabel bebas), yaitu variabel yang menjadi sebab

terjadinya atau terpengaruhnya variabel dependent (variabel tidak bebas).

Variabel independent (variabel X1) dalam penelitian ini adalah

DisplayToko dan (variabel X2) Discount.

2. Variabel dependent (variabel tidak bebas), yaitu variabel yang dipengaruhi

oleh variabel independent. Variabel dependent (variabel Y) dalam

penelitian ini adalah Pembelian Impulsif.

Display Toko dan Discount merupakan faktor penyebab, sedangkan

pembelian impulsif faktor akibat. Objek penelitian ini dilakukan pada konsumen

(39)

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian menurut Umi Narimawati, (2008:127) merupakan cara

penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data untuk mencapai tujuan

tertentu.

Metode penelitian menurut Sugiyono (2009:2)pada dasarnya merupakan

cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis

deskriptif dan verifikatif, dengan pendekatan kuantitatif.

Metode Deskriptif menurut Sugiyono (2009:206) mendefinisikan:

“Penelitian yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara

mendeskripsikan atau menggambarkan datayang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku umum atau

generalisasi.”

Sedangkan metode verifikatif menurut Mashuri (2008:45) menyatakan

bahwa :

Metode Verifikatif yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan

untuk menguji suatu cara dengan benar atau tanpa perbaikan yang telah

dilaksanakan di tempat lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupan”.

Sedangkan menurut Mudjarad Kuncoro (2001:102) mendefinisikan

(40)

“Pendekatan ilmiah terhadap pengambilan keputusan manejerial dan

ekonomi dimana pendekatan ini terdiri atas perumusan masalah, mencari

solusi, menguji solusi, menganalisa hasil dan mengimplemasikan hasil.”

Data yang dibutuhkan adalah data yang sesuai dengan masalah-masalah

yang ada dan sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga data tersebut akan

dikumpulkan, dianalisis dan diproses lebih lanjut sesuai dengan teori-teori yang

telah dipelajari, jadi dari data tersebut akan ditarik kesimpulan.

3.2.1 Desain Penelitian

Dalam melakukan suatu penelitian sangat perlu dilakukan perencanaan

dan perancangan penelitian, agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan

baik dan sistematis.

Menurut Moh. Nazir (2003:84) desain penelitian adalah semua proses

yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.

Menurut Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2002:249) menyatakan

bahwa :

“Desain penelitian merupakan rancangan utama penelitian yang

menyatakan metode dan prosedur – prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam pemilihan, pengumpulan, dan analisis data.”

Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang digunakan

sebagai pedoman dalam melakukan proses penelitian. Desain penelitian akan

berguna bagi semua pihak yang terlibat dalam proses penelitian, karena langkah

(41)

Dari pemaparan di atas maka dapat dikatakan bahwa desain penelitian

merupakan semua proses penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam

melaksanakan penelitian mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan

penelitian yang dilakukan pada waktu tertentu.

Dalam penelitian ini, penulis menerapkan desain penelitian yang lebih

luas, yang mencangkup proses-proses berikut ini:

1. Sumber masalah

Peneliti menentukan masalah-masalah sebagai fenomena untuk dasar

penelitian.

2. Perumusan masalah

Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicari

jawabannya melalui pengumpulan data. Pada penelitian ini

masalah-masalah dirumuskan melalui suatu pertanyaan, yang akan diuji dengan

cara yang relevan dan penemuan yang relevan.

3. Konsep dan teori yang relevan dan penemuan yang relevan

Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis)

maka, peneliti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan

masalah dan berfikir.Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang

relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban

sementara terhadap masalah penelitian (hipotesis). Telaah teoritis

mempunyai tujuan untuk menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar

(42)

penelitian dengan menguji terpenuhinya kriteria pengetahuan yang

rasional.

4. Pengajuan hipotesis

Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan pada teori dan

didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada pembuktian

secaraempiris (faktual) maka jawaban itu disebut hipotesis. Hipotesis yang

dibuat pada penelitian ini adalah Pengaruh Display Toko dan Discount

terhadap Pembelian Impulsif.

5. Metode Penelitian

Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih metode yang

sesuai, pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat

ketelitian data yang diharapkan dan konsisten yang dikehendaki.

Sedangkan pertimbangan praktis adalah tersedianya dana, waktu, dan

kemudahan yang lain. Pada penelitian ini metode penelitian yang

digunakan adalah metode survey dengan teknik analisis data menggunakan

statistik deskriptif dan kuantitatif.

6. Menyusun instrument penelitian

Peneliti dapat menyusun instrument penelitian. Instrumen ini digunakan

sebagai alat pengumpul data. Pada penelitian ini untuk menguji adanya

hubungan dari Display Toko (Variabel Independen“X1”) dan Discount

(Variabel Independen “X2”) terhadap Pembelian Impulsif (Variabel dependen“Y”) digunakan korelasi Analisis Regresi Berganda, dan untuk

(43)

Discount (Variabel Independen “X2”) terhadap Pembelian Impulsif (Variabel dependen“Y”) digunakan koefisien determinasi.

7. Kesimpulan

Kesimpulan adalah langkah terakhir dari suatu periode penelitian yang

berupa jawaban terhadap rumusan masalah, dengan menekankan pada

pemecahan masalah berupa informasi mengenai solusi masalah yang

bermanfaat sebagai dasar untuk pembuatan keputusan.

Tabel 3.1

Unit Analisis Time Horizon

T-1 Descriptive Descriptive dan survey

Konsumen yang melakukan pembelian

di Surf Inc Bandung

Cross sectional

T-2 Descriptive Descriptive dan survey

Konsumen yang melakukan pembelian

di Surf IncBandung

Cross sectional

T-3 Descriptive Descriptive dan survey

Konsumen yang melakukan pembelian

di Surf Inc Bandung

Cross sectional

T-4 Descriptive &

Verifikatif

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator,

serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga

pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar sesuai

dengan judul penelitian mengenai pengaruh display toko dan Discount terhadap

pembelian impulsif, maka variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini

(44)

1. Variabel displaytokosebagai variabel independen pertama (X1).

2. Variabel Discount sebagai variabel independent kedua (X2).

3. Variabel pembelian Impulsif sebagai variabel dependent (Y).

Untuk lebih jelasnya rincian masing-masing variabel dapat dijelaskan

dalam Tabel 3.2 berikut ini:

Tabel 3.2

Operasionalisasi Variabel Penelitian

Variabel Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala Sumber

(45)

- Kejelasan

Discount(X2) Sutisna (2002:302): “Potongan harga

- jenis produk yang mendapatkan

- Perasaan berhati-hati sebelum membeli sesuatu.

- Perasaan keinginan membeli barang yang diinginkan.

- Pembelian spontan.

- Sikap merencanakan pembelian.

- Terbiasa membeli saat itu juga.

- Sering membeli tanpa berpikir.

- Tingkat perasaan berhati-hati sebelum membeli sesuatu. - Tingkat keinginan

membeli barang yang diinginkan.

- Tingkat Pembelian spontan.

- Tingkat perencanaan pembelian.

- Tingkat pembelian sesuatu yang - Tingkat kehati-hatian

dalam membeli sesuatu

- Tingkat Terbiasa membeli saat itu

- Perjuangan untuk meninggalkan barang yang menarik di toko.

- Tidak dapat menekan perasaan

menginginkan sesuatu.

- Tingkat Perjuangan untuk meninggalkan barang yang menarik di toko.

- Tingkat perasaan Tidak dapat menekan perasaan

(46)

- Perasaan bersalah

- Sulit untuk menawar.

- Keinginan membeli jika melihat barang baru.

- Sembrono dalam membeli sesuatu.

-Menyukai membeli barang bukan karena membutuhkan.

- Tingkat Perasaan bersalah setelah membeli.

- Tingkat kemudahan tertarik dengan barang di toko

- Tingkat Perasaan senang ketika hendak membeli sesuatu - Tingkat Perasaan

selalu tertarik melewati toko.

- Tingkat kesulitan untuk menawar. - Tingkat Keinginan

membeli jika melihat barang baru.

- Tingkat Sembrono dalam membeli sesuatu.

- Tingkat kesukaan membeli barang bukan karena membutuhkan.

3.2.3 Sumber Dan Teknik Penentuan Data

3.2.3.1 Sumber Data

Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini dibagi dalam dua jenis,

yaitu sebagai berikut:

1. Data Primer

Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek yang diteliti

baik dari pribadi (responden) maupun dari satu instansi yang mengolah

data untuk keperluan penelitian, seperti dengan cara melakukan

wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan

(47)

2. Data Sekunder

Merupakan data yang berfungsi sebagai pelengkap data primer. Data

sekunder dapat diperoleh dengan cara membaca, mempelajari, dan

memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku,

serta catatan-catatan kuliah yang menunjang penelitian ini.

3.2.3.2 Teknik Penentuan Data

3.2.3.2.1 Populasi

Populasi merupakan objek atau subjek yang memenuhi kriteria tertentu

yang telah ditentukan oleh peneliti. Menurut Sugiyono (2009:80) tentang

pengertian populasi yaitu:

“populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudia ditarik kesimpulan.”

Berdasarkan pengertian di atas, populasi merupakan obyek atau subyek

yang berada pada satu wilayah dan memenuhi syarat tertentu yang berkaitan

dengan masalah dalam penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh

konsumen yang berkunjung di Toserba Selamat Cianjur dalam waktu sebulanyaitu

sebanyak 9100.

3.2.3.2.2 Sampel

Untuk membuktikan kebenaran jawaban yang masih sementara (hipotesis),

maka peneliti melakukan pengumpulan data pada obyek tertentu. Karena obyek

dalam populasi terlalu luas maka peneliti menggunakan sampel yang diambil dari

(48)

2

Menurut Adi Supangat (2007:4) menyatakan bahwa:

“sampel adalah bagian dari populasi (contoh), untuk dijadkan sebagai

bahan penelaahan dengan harapan contoh yang diambil dari populasi

tersebut dapat mewakili (reprensentatitive) terhadap populasinya.”

Menurut Sugiyono (2009:116), sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik yang di ambil dalam

penelitian dilakukan dengan teknik accidental random sampling.

Adapun yang menjadi sampel yang digunakan untuk pengukuran

kuesioner adalah konsumen diToserba Selamat Cianjur. Sedangkan untuk

menentukan jumlah sampel (n)Husein Umar (2004:78) menentukan sampel

digunakan rumus sebagai berikut:

100

Jika penelitian menggunakan metode deskriptif, maka minimal tingkat

kesalahan dalam penentuan anggota sampel yang harus diambil adalah 10% dari

jumlah populasi yang diketahui. Peneliti menentukan tingkat kesalahan sebesar

10% Untuk menghindari dari pada kerusakan angket dan jumlah tidak kembalinya

angket, maka dibulatkan menjadi 100. Sehingga jumlah sampel yang diambil 100

(49)

3.2.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakna dalma penelitian ini adalah:

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung di perusahaan yang

menjadi objek penelitian. Data yang diperoleh merupakan data primer yang

diperoleh dengan cara:

a. Observasi (Pengamatan Langsung), yaitu dengan cara melakukan

pengamatan secara langkung dilokasi untuk memperoleh data yang

diperlukan.

b. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan

pertanyaan-pertanyaan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan

masalah yang di bahas.

c. Angket (Kuesioner)

Kuesioner merupakan teknik pengambilan data yang dilakukan dengan

cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

responden untuk menjawab, berupa daftar pertanyaan yang dibuat dengan

metode pertanyaan terstruktur (tertutup dan terbuka) kepada 100

responden tentang variabel displaytoko, Discount dan pembelian

impulsif.

2. Penelitian Kepustakaan (Library Reseacrh)

Penelitian kepustakaan dilakukan sebagai usaha guna memperoleh data yang

(50)

Data tersebut dapat diperoleh dari literatur, catatan kuliah serta tulisan lain

yang berhubungan dengan penelitian.

3.2.4.1 Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2009:173)valid berarti instrument tersebut dapat

digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.Jadi suatu penelitian

dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan

data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.

Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden terpilih maka harus

diadakan uji validitas terlebih dahulu pada butir-butir yang benar-benar mengukur

apa yang diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu alat ukur

maka alat ukur tersebut semakin mengenai pada sasarannya, atau semakin

menunjukkan apa yang seharusnya di ukur.

Pengujian validitas dilakukan dengan menghitung korelasi diantara

masing-masing pernyataan dengan skor total. Adapun rumus dari pada korelasi

pearson adalah sebagai berikut :

 

2 2

2

 

2

n XY- X Y

r=

X - X × Y - Y

 

Keterangan:

r = nilai koefesien korelasi pearson

X = Skor item pertanyaan

Y = Skor total item pertanyaan

(51)

Uji keberartian koefisien r dilakukan dengan uji t (taraf signifikansi 5%).

Rumus yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Dimana :

n = ukuran sampel

r = Koefisien Korelasi Pearson

Hasil Pengujian Validitas

Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang

dirancang dalam bentuk kuesioner benar-benar dapat menjalankan fungsinya.

Seperti telah dijelaskan pada metodologi penelitian bahwa untuk menguji valid

tidaknya suatu alat ukur digunakan pendekatan secara statistika, yaitu melalui

nilai koefisien korelasi skor butir pernyataan dengan skor totalnya. Apabila

koefisien korelasi butir pernyataan dengan skor total  0,30 maka pernyataan tersebut dinyatakan valid. Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan korelasi

(52)

Tabel 3.3

Hasil Uji Validitas Kuesioner Store Display

Butir Pertanyaan

Indeks

Validitas Nilai Kritis Keterangan

Item 1 0,350 0,30 Valid

Item 2 0,448 0,30 Valid

Item 3 0,397 0,30 Valid

Item 4 0,500 0,30 Valid

Item 5 0,432 0,30 Valid

Item 6 0,437 0,30 Valid

Item 7 0,406 0,30 Valid

Item 8 0,389 0,30 Valid

Item 9 0,384 0,30 Valid

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas Kuesioner Discount

Butir Pertanyaan

Indeks

Validitas Nilai Kritis Keterangan

Item 10 0,653 0,30 Valid

Item 11 0,621 0,30 Valid

Item 12 0,555 0,30 Valid

Tabel 3.5

Hasil Uji Validitas Kuesioner Pembelian Impulsif

Butir Pertanyaan

Indeks

Validitas Nilai Kritis Keterangan

Item 13 0,485 0,30 Valid

Item 14 0,437 0,30 Valid

Item 15 0,469 0,30 Valid

Item 16 0,383 0,30 Valid

Item 17 0,350 0,30 Valid

Item 18 0,386 0,30 Valid

(53)

Butir Pertanyaan

Indeks

Validitas Nilai Kritis Keterangan

Item 20 0,452 0,30 Valid

Item 21 0,490 0,30 Valid

Item 22 0,376 0,30 Valid

Item 23 0,349 0,30 Valid

Item 24 0,369 0,30 Valid

Item 25 0,441 0,30 Valid

Item 26 0,355 0,30 Valid

Item 27 0,537 0,30 Valid

Item 28 0,359 0,30 Valid

Item 29 0,437 0,30 Valid

Item 30 0,355 0,30 Valid

Item 31 0,361 0,30 Valid

Item 32 0,467 0,30 Valid

Pada ketiga tabel di atas dapat dilihat nilai koefisien korelasi setiap butir

pernyataan (indeks validitas) lebih besar dari nilai 0,30, hasil uji ini

mengindikasikan bahwa semua butir pertanyaan yang diajukan pada ketiga

variabel valid dan layak digunakan sebagai alat ukur untuk penelitian dan dapat

diikutsertakan pada analisis selanjutnya.

3.2.4.2 Uji Reliabilitas

Setelah melakukan pengujian validitas butir pertanyaan, maka langkah

selanjutnya adalah melakukan uji reliabilitas untuk menguji kehandalan atau

kepercayaan alat pengungkapan dari data.Dengan diperoleh nilai r dari uji

validitas yang menunjukkan hasil indeks korelasi yang menyatakan ada atau

tidaknya hubungan antara dua belahan instrumen.Dalam penelitian ini, metode

yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah Split Half Method (Spearman–Brown

(54)

memberikan tes pada sejumlah subyek dan kemudian hasil tes tersebut dibagi

menjadi dua bagian yang sama besar (berdasarkan pemilihan genap–ganjil). Cara

kerjanya adalah sebagai berikut :

a. Item dibagi dua secara acak (misalnya item ganjil/genap), kemudian

dikelompokkan dalam kelompok I dan kelompok II

b. Skor untuk masing–masing kelompok dijumlahkan sehingga terdapat skor

total untuk kelompok I dan kelompok II

c. Korelasikan skor total kelompok I dan skor total kelompok II

d. Hitung angka reliabilitas untuk keseluruhan item dengan menggunakan

rumus sebagai berikut :

Ґ1 =

Keterangan :

Ґ1 = reliabilitas internal seluruh item

Ґb = korelasi product moment antara belahan pertama dan belahan kedua

Keputuasan pengujian reliabilitas instrumen dengan menggunakan taraf

signifikan 5 % satu sisi adalah :

1. Jika thitung lebih dari atau sama dengan t0,05 dengan taraf signifikan 5 %

maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan

2. Jika thitung kurang dari t0,05dengan taraf signifikan 5% satu sisi maka

instrument dinyatakan tidak reliabel dan tidak dapat digunakan.

Hasil uji validitas dengan menggunakan program SPSS. 2Ґb

(55)

Sekumpulan butir pertanyaan dalam kuesioner dapat diterima jika

memiliki nilai koefisien reliabilitas lebih besar atau sama dengan 0,7.

Tabel 3.6

Standar Penilaian Koefisien Validitas dan Reliabilitas

Kriteria Reliability Validity

Good 0,80 0,50

Acceptable 0,70 0,30

Marginal 0,60 0,20

Poor 0,50 0,10

Sumber: Barker et al, 2002:70

Hasil Pengujian Reliabilitas

Selain valid, alat ukur juga harus memiliki keandalan atau reliabilitas,

suatu alat ukur dapat diandalkan jika alat ukur tersebut digunakan berulangkali

akan memberikan hasil yang relatif sama (tidak beberda jauh). Untuk melihat

andal tidaknya suatu alat ukur digunakan pendekatan secara statistika, yaitu

melalui koefisien reliabilitas. Apabila koefisien reliabilitas lebih besar dari 0.70

maka secara keseluruhan pernyataan dinyatakan andal (reliabel). Berdasarkan

hasil pengolahan menggunakan metode split-half diperoleh hasil uji reliabilitas

sebagai berikut:

Tabel 3.7

Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Penelitian

Kuesioner Koefisien

Reliabilitas Nilai kritis Keterangan

Store Display 0,793 0,70 reliabel

Discount 0,766 0,70 reliabel

(56)

Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner yang digunakan pada

ketiga variabel sudah andal karena memiliki koefisien reliabilitas lebih besar dari

0,70.

3.2.5 Rancangan Analisi dan Perancangan Hipotesis

3.2.5.1 Rancangan Analisis

3.2.5.1.1 Analisis Deskriftif/Kualitatif

Analisis Deskriptif/ kualitatif digunakan untuk menggambarkan tentang

ciri-ciri responden dan variabel penelitian, sedangkan analisis kuantitatif

digunakan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan uji statistik.

Analisis kualitatif digunakan dengan menyusun tabel frekuensi distribusi

untuk mengetahui apakah tingkat perolehan nilai (skor) variabel penelitian masuk

dalam kategori: sangat baik, baik, cukup, tidak baik, sangat tidak baik.

Selanjutnya untuk menetapkan peringkat dalam setiap variabel penelitian

dapat dilhat dari perbandingan antara skor aktual dengan skor ideal. Skor aktual

diperoleh melalui hasil perhitungan seluruh pendapat responden sesuai klasifikasi

bobot yang diberikan (1,2,3,4, dan 5). Sedangkan skor ideal diperoleh melalui

perolehan predisi nilai tertinggi dikalikan dengan jumlah kuesioner dikalikan

jumlah responden.

Keterangan:

a. Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah

diajukan.

(57)

b. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden

diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi.

Selanjutnya hasil perhitungan perbandingan antara skor aktual dengan skor

ideal dikontribusikan dengan tabel 3.8 sebagai berikut :

Tabel 3.8

Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal

No % Jumlah Skor Kriteria

1 20.00 - 36.00 Tidak Baik

2 36.01 - 52.00 Kurang Baik

3 52.01 - 68.00 Cukup

4 68.01 - 84.00 Baik

5 84.01 – 100 Sangat Baik

Sumber : Umi Narimawati (2007:84)

Berdasarkan pengkategorian tersebut, maka penulis dapat membuat

kategori masing-masing variabel sebagai berikut:

Tabel 3.9

Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal

Pengkategorian Display

No % Jumlah Skor Kriteria

1 20.00 - 36.00 Tidak Menarik

2 36.01 - 52.00 Kurang Menarik

3 52.01 - 68.00 Cukup Menarik

4 68.01 - 84.00 Menarik

(58)

Tabel 3.10

Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal

Pengkategorian Discount

No % Jumlah Skor Kriteria

1 20.00 -36.00 Rendah

2 36.01 -52.00 Sedang

3 52.01 -68.00 Cukup Tinggi

4 68.01 -84.00 Tinggi

5 84.01 – 100 Sangat Tinggi

Tabel 3.11

Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden Terhadap Skor Ideal

Pengkategorian Pembelian Impulsif

No % Jumlah Skor Kriteria

1 20.00 - 36.00 Tidak Impulsif

2 36.01 - 52.00 Kurang Impulsif

3 52.01 - 68.00 Cukup Impulsif

4 68.01 - 84.00 Impulsif

5 84.01 – 100 Sangat Impulsif

3.2.5.1.2 Analisis Verifikatif (Kuantitatif)

Data yang telah dikumpulkan melalui kuisioner akan diolah dengan

pendekatan kuantitatif. Oleh karena data yang didapat dari kuesioner merupakan

data ordinal, sedangkan untuk menganalisis data diperlukan data interval, maka

untuk memecahkan persoalan ini perlu ditingkatkan skala interval melalui “Methode of Successive Interval” (Hays, 1969:39). Dan selanjutnya dilakukan

(59)

1. Transformasi Data Ordinal Menjadi Interval

Adapun langkah-langkah untuk melakukan transformasi data ordinal

menjadi interval adalah sebagai berikut:

a) Ambil data ordinal hasil kuesioner

b) Setiap pertanyaan, dihitung proporsi jawaban untuk setiap kategori

jawaban dan hitung proporsi kumulatifnya

c) Menghitung nilai Z (tabel distribusi normal) untuk setiap proporsi

kumulaif. Untuk data n > 30 dianggap mendekati luas daerah dibawah

kurva normal.

d) Menghitung nilai densititas untuk setiap proporsi komulatif dengan

memasukan nilai Z pada rumus distribusi normal.

e) Menghitung nilai skala dengan rumus Method Successive Interval

Dimana:

Means of Interval = Rata-Rata Interval

Density at Lower Limit = Kepadatan batas bawah

Density at Upper Limit = Kepadatan atas bawah

Area Under Upper Limit = Daerah di bawah batas atas

Area Under Lower Limit = Daerah di bawah batas bawah

(60)

f) Menentukan nilai transformasi (nilai untuk skala interval) dengan

menggunakan rumus : Nilai Transformasi = Nilai Skala + Nilai Skala

Minimal + 1

Untuk mengetahui pengaruh antara variabel pengaruh Display Toko Dan

DiscountTerhadap Pembelian Impulsif, dalam hal ini adalah konsumenToserba

Selamat Cianjur digunakan analisis regresi Berganda (Multiple Regression).

2. Analisis Regresi

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisa pengaruh

beberapa variabel bebas atau independen variabel (X) terhadap satu variabel tidak

bebas atau dependen variabel (Y) secara bersama-sama.

Persamaan Regresi Linier Berganda adalah:

Dimana :

Y = variabel dependen

X1, X2 = variabel independen Α = konstanta

β 1, β 2 = koefisien masing-masing faktor

Dalam hubungan dengan penelitian ini, variabel independen adalah

DisplayToko (X1) dan Discount (X2), sedangkan variabel dependen adalah

Pembelian Impulsif (Y), sehingga persamaan regresi berganda estimasinya: Y = 0 + 1X1 + 2X2 …+nXn +

(61)

Dimana:

Y = Pembelian Impulsif

α = Konstanta dari persamaan regresi

β1 = Koefisien regresi dari variable X1, DisplayToko

β2= Koefisien regresi dari variable X2, Discount

X1= DisplayToko

X2= Discount

3. Analisis Korelasi

Menurut Sujana (1989:152), pengujian korelasi digunakan untuk

mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variabel x dan y, dengan

menggunakan pendekatan koefisien korelasi Pearson dengan rumus:

Dimana: -1 ≤ r ≤ +1

r = koefisien korelasi

x = displaytoko, discount

z = pembelian impulsif

n = jumlah responden

Ketentuan untuk melihat tingkat keeratan korelasi digunakan acuan pada

Tabel 3.12 dibawah ini.

∑ ∑ ∑

(62)

Tabel 3.12

Tingkat Keeratan Korelasi

0 – 0.20 Sangat rendah (hampir tidak hubungan) 0.21 – 0.40 Korelasi yang lemah

0.41 – 0.60 Korelasi sedang

0.61 – 0.80 Cukup tinggi

0.81 – 1 Korelasi tinggi

Sumber : Syahri Alhusin, 2003 : 157

4. Analisis Koefisien Determinasi

Persentase peranan semua variable bebas atas nilai variable bebas

ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi (R2).Semakin besar nilainya

maka menunjukkan bahwa persamaan regresi yang dihasilkan baik untuk

mengestimasi variable terikat. Hasil koefisien determinasi ini dapat dilihat dari

perhitungan dengan Microsoft/SPSS atau secara manual didapat dari R2 =

SSreg/SStot .

%

100

2

x

r

Kd

Dimana:

d : Koefisien determinasi

r : Koefisien Korelasi

3.2.5.2 Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini yang akan diuji adalah Pengaruh DisplayToko dan

Gambar

Tabel 2.1
Skema Kerangka PemikiranGambar 2.1
Tabel 3.1
gambar-gambar
+6

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Untuk mengetahui Display, Signage, dan In-store Media yang paling berpengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen di Luwes Kartasura..

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh display toko dan motivasi belanja hedonis terhadap pembelian impulsif pada konsumen The Oasis

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan untuk diolah, dianalisis, dan diinterpretasikan, sehingga dapat memperoleh

Uji ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu baik upaya pengadaan barang, pengelompokkan barang, dan penyusunan barang

Dari pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa display merupakan suatu alat untuk mengomunikasikan produk suatu perusahaan kepada konsumen agar konsumen

Uji ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu baik upaya pengadaan barang, pengelompokkan barang, dan penyusunan barang

1. Untuk manajemen Indomaret Lahat di Kota Lahat disarankan untuk dapat lebih mempertahankan dan meningkatkan program price discount, bonus pack dan in-store display