PERGAULAN BEBAS
(Studi Etnografis Perilaku Mahasiswa Kos-kosan di Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar
Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi
Oleh:
Helbra Marni Pardosi
070905048
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas limpahan berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah membukakan hati dan pikiran hingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Betapa besarnya karunia yang Tuhan Yesus Kristus telah berikan kepada penulis untuk mengadakan penelitian serta menyusunnya ke dalam sebuah skripsi yang berjudul “PERGAULAN BEBAS (Studi Etnografis Perilaku Mahasiswa Kos-kosan di Kelurahan Titi Rante,Kecamatan Medan Baru,Kota Medan)”. Karya ini saya persembahkan kepada bapak, ibu dan saudara-saudara saya yang tidak pernah mengenal lelah dalam memberikan dukungan materi dan yang terutama dukungan moril yang luar biasa besar selama penelitian dan penulisan dilakukan.
Penulis juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini.namun penulis telah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mempersembahkannya dan semoga bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Keberhasilan yang dicapai oleh penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini tidak terlepas dari semua pihak yang senantiasa ikhlas membantu memberikan bimbingan, dukungan, dorongan yang tak henti-hentinya demi kelancaran dalam pembuatan skripsi ini.
Dan dengan segala hormat penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu DTM & H MSc. (CTM) SpA (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Badaruddin Rangkuti, MSi., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik
4. Dra. Sabariah Bangun,M.Soc.Sc, selaku Pembimbing Utama sekaligus Dosen Penasehat Akademik yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis dan memmberikan ilmu yang sangat berguna dalam penyusunan skiripsi ini.
5. Demikian juga Drs. Yance, M.Si, atas bantuannya dan dukungan yang luar biasa besar selama proses perkuliahan dan penulisan skripsi penulis.
6. Segenap Dosen Antropologi Sosial dan Staf Departemen Antropologi Sosial FISIP USU yang telah memberikan wejangan maupun khasanah pengetahuan tentang keilmuan Antropologi Sosial yang bermanfaat untuk menjadi bahan masukan skripsi ini.
7. Seluruh informan yang dengan tulus-ikhlas menerima keadaan penulis di tengah-tengah mereka dalam memberikan informasi yang membantu terselesaikannya skripsi ini.
8. Keluarga penulis, Ibu tercinta dan tersayang Rumiana Lubis yang memberikan dukungan baik itu berupa dukungan materiil maupn moril yang luar biasa besarnya. 9. Seluruh saudara- saudara (Bang Bandar, Kakak Lia, Bang Rido, Bang Setor, Bang
David dan Eda-eda tersayang Eda Vany, Eda Paskah, Eda Ranto) yang juga tiada henti-hentinya memberikan doa, dukungan dan juga motivasi kepada penulis.
10.Seluruh informan yang tulus-ikhlas menerima keadaan penulis di tengah-tengah mereka dalam memberikan informasi yang membantu terselesaikannya skripsi ini. 11.Teman-teman Antropologi Sosial FISIP USU dari berbagai angkatan terutama untuk
Dalam penyusunan skripsi ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai kesempurnaan. Namun, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, semua itu dikarenakan oleh adanya keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis akan menerima dengan hati dan pikiran terbuka atas segala kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Selanjutnya penulis berharap agar karya ini dapat berguna dan bermanfaat bagi peningkatan ilmu pengetahuan sosial terutama pada disiplin ilmu Antropologi Sosial.
Medan, 15 April 2014
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i
ABSTRAK ... ii
UCAPAN TERIMAKASIH ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Masalah dan Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tinjauan Pustaka ... 8
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 17
1.5 Metode Penelitian ... 17
BAB II GAMBARAN UMUM ... 19
2.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 19
2.2 Keadaan Penduduk ... 21
2.3 Keadaan Ekonomi ... 21
2.5 Profil Informan Pelaku ... 24
2.6 Profil Informan Masyarakat ... 28
BAB III PROSES PERILAKU PERGAULAN BEBAS ... 30
3.1 Dinamika Perkembangan Perilaku Manusia ... 30
3.2 Proses Tahap Awal Perilaku ... 35
3.3 Tempat yang digunakan ... 37
3.4 Faktor yang Mempengaruhi ... 40
3.5 Pandangan Informan Pelaku terhadap Pergaulan Bebas ... 47
3.6 Ciri-ciri Pelaku Pergaulan Bebas ... 53
3.7 Pandangan Tentang Hubungan Seks Bebas dalam Pacaran ... 59
BAB IV DAMPAK PERILAKU PERGAULAN BEBAS ... 61
4.1 Dampak Terhadap Informan Pelaku ... 61
4.2 Dampak Terhadap Lingkungan Sekitar ... 69
4.3 Pandangan Pelaku Terhadap Dampak Virginitas ... 70
4.4 Sikap Masyarakat Terhadap Pelaku Pergaulan Bebas ... 72
4.5 Sikap Teman Terhadap Pelaku Pergaulan Bebas ... 74
BAB V PENUTUP ... 76
5.1 Kesimpulan ... 76
5.2 Saran ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 114
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1……… 14
Tabel 2.1……… 21
Tabel 2.2……… 22
Tabel 2.3……… 22
Tabel 2.4……… 24
Tabel 3.1……… 32
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1………58
ABSTRAK
Pardosi, Helbra Marni. “Pergaulan Bebas (Studi Etnografi Tentang Perilaku
Mahasiswa Kos di Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan”. 82
Halaman + 5 Lampiran + 15 Tabel
Tulisan ini menjelaskan tentang proses dan dampak pergaulan bebas di kalangan mahasiswa kost yaitu permasalahan perilaku mahasiswa yang terlibat dalam pergaulan bebas. Proses tersebut dimulai dari berbagai latar belakang atau faktor-faktor penyebab bagi mahasiswa dan juga melihat sejauh mana sikap masyarakat dan teman lainnya terhadap pelaku.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif untuk melihat bagaimana pergaulan bebas di kalangan mahasiswa kost. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan observasi partisipasi dengan mengamati perilaku yang dilakukan oleh pelaku. Wawancara mendalam dan sambil lalu digunakan terhadap para informan yaitu pelaku dan masyarakat. Data yang terkumpul akan dianalisa secara kualitatif.
dari semakin banyaknya pertemanan, memiliki perhatian, dan terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani pelaku. Dampak negatif juga terlihat dalam bahaya yang akan ditimbulkan berupa penyakit HIV, bahaya putus kuliah atau drop out, dan gaya hidup hedonism mempengaruhi perilaku mahasiswa berubah.
ABSTRAK
Pardosi, Helbra Marni. “Pergaulan Bebas (Studi Etnografi Tentang Perilaku
Mahasiswa Kos di Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan”. 82
Halaman + 5 Lampiran + 15 Tabel
Tulisan ini menjelaskan tentang proses dan dampak pergaulan bebas di kalangan mahasiswa kost yaitu permasalahan perilaku mahasiswa yang terlibat dalam pergaulan bebas. Proses tersebut dimulai dari berbagai latar belakang atau faktor-faktor penyebab bagi mahasiswa dan juga melihat sejauh mana sikap masyarakat dan teman lainnya terhadap pelaku.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif untuk melihat bagaimana pergaulan bebas di kalangan mahasiswa kost. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan observasi partisipasi dengan mengamati perilaku yang dilakukan oleh pelaku. Wawancara mendalam dan sambil lalu digunakan terhadap para informan yaitu pelaku dan masyarakat. Data yang terkumpul akan dianalisa secara kualitatif.
dari semakin banyaknya pertemanan, memiliki perhatian, dan terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani pelaku. Dampak negatif juga terlihat dalam bahaya yang akan ditimbulkan berupa penyakit HIV, bahaya putus kuliah atau drop out, dan gaya hidup hedonism mempengaruhi perilaku mahasiswa berubah.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya dalam rangka untuk dapat bertahan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang selalu dianugerahi akal dan pikiran tentu memahami lingkungan sosialnya untuk dapat berperilaku dan berinteraksi dengan masyarakat. Dalam mencapai hal tersebut, tentu saja dibutuhkan sebuah wadah yang berperan dalam membina dan mendidik generasi muda agar mampu memahami perkembangan kebudayaan dan pemahaman lingkungan sosial melalui proses dan peranan pendidikan. Peranan pendidikan sebagai sebuah wadah membangun karakter bangsa yang tangguh, inovatif, dan berbudi luhur sebagaimana diungkapkan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) adalah merupakan sebuah harapan dan cita-cita segenap masyarakat di Indonesia.
dari tahun ke tahun. Termasuk juga masalah korupsi di beberapa instansi pemerintahan yang mana sudah merupakan hal yang tidak asing lagi terjadi di Negara yang kita cintai ini.
Hal tersebut pada dewasa ini merupakan sebuah permasalahan yang sangat kompleks yang mempengaruhi perilaku-perilaku bangsa. Apabila hal ini tidak dilakukan sebuah perubahan positif yang sangat penting, maka dikhawatirkan akan terjadi sebuah bencana moral yang sangat banyak. Fakta lain dari merosotnya nilai-nilai moral bangsa dapat kita lihat dari perilaku menyimpang generasi muda saat sekarang ini. Generasi muda sebagai ujung tombak pembangunan bangsa yang madani, seharusnya dapat berperan dalam menghadapi perubahan zaman yang menyangkut dengan kebudayaan yang selalu dinamis. Generasi muda diharapkan dapat mengatasi permasalahan lingkungan sosial dimana dia berada, dan juga dapat menjadi sebuah patron yang baik, suri teladan, berbudi pekerti luhur, dan menegakkan keadilan hukum bagi segenap masyarakat. Namun untuk saat ini apa yang dicita-citakan tersebut tidak terlaksana dengan baik. Kalangan mahasiswa contohnya saat ini mengalami degradasi moral yang sangat drastis. Mahasiswa sebagai agent of change yang kita ketahui merupakan peran vital mahasiswa di masyarakat tidak mampu menciptakan perubahan yang berarti bagi masyarakat. Bahkan yang terjadi adalah munculnya perilaku-perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, Narkoba, dan kriminalitas lainnya yang banyak dilakukan oleh kalangan mahasiswa. Dari fakta ini menunjukkan bahwa peran pendidikan sebagai character building terlihat sangat sulit untuk ditegakkan. Sulitnya penegakan tersebut tidak lain karena semakin rendahnya kesadaran semua masyarakat dalam pembinaan karakter dan perilaku yang inovatif, kreatif, dan patriotisme pada generasi muda saat ini.
memang lebih terbuka lebar. Mahasiswa banyak yang memilih menjadi anak kos disebabkan oleh jarak yang begitu jauh antara keberadaan rumah tempat tinggalnya dengan universitas/kampus tempat dia menempuh pendidikan.ada juga faktor keinginan untuk mandiri, rasa ingin bebas tanpa terikat dengan keluarga di rumahnya membuat mahasiswa memutuskan untuk hidup menjadi anak kos. Kebanyakan mahasiswa yang menjadi anak kos ini berasal dari luar kota dan luar daerah. Hal itulah yang membuat keberadaan anak kos semakin menjamur, terutama pada kawasan disekitar universitas/kampus. Pada kawasan di lingkungan universitas ini lah banyak dijumpai tempat-tempat kos seperti rumah yang disewakan atau dikontrakkan, kamar-kamar kos dan ada juga keluarga yang menyisakan sebagian dari ruang rumahnya untuk disewakan pada anak kos. Mahasiswa pun memiliki banyak pilihan untuk menempati tempat kos sesuai keinginan dan kemampuan ekonomi mereka.
Alasan penulis memilih untuk melakukan penelitian terhadap pergaulan bebas dikalangan mahasiswa yang tingggal di kos-kosan karena anak kos yang hidup terpisah dengan keluarganya cenderung lebih bebas dan tidak terikat dengan pengawasan orang tua serta keluarga. Hal ini yang membuat pergaulan bebas marak terjadi dikalangan anak kos, terutama mahasiswa sehingga pergaulan bebas merupakan kebiasaan dan wajar bagi mereka. Kebudayaan dalam pergaulan sehari-hari antara manusia menunjukkan perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya, sebagai pola-pola tindakan dari manusia.
Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan perilaku yang negatif seperti seks bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini diadaptasi dari budaya barat dimana orang bebas untuk melakukan hal-hal diatas tanpa takut menyalahi norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbeda dengan budaya Timur yang menganggap semua itu adalah hal tabu sehingga sering kali kita mendengar ungkapan “jauhi pergaulan bebas”.
Kebanyakan Mahasiswa yang memilih untuk bertempat tinggal atau menyewa kamar atau rumah di daerah kelurahan titi rante berdekatan dengan kampus dan lebih mudah dijangkau. Alasan pemilihan tempat kos bagi kebanyakan orang disekitar wilayah kampus adalah karena masalah biaya, ongkos dan jarak. Jarak yang dekat antara tempat kampus dengan kampus tentu menghemat biaya dan hemat ongkos transportasi. Ada juga mahasiswa yang tinggal di kos-kosan karena tempat tinggalnya yang sangat berjauhan dari kampus sehingga mengharuskan mereka untuk tinggal di kos-kosan. Dalam hal ini orang tua mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada anak-anaknya yang menginginkan untuk tinggal di tempat kos, akan tetapi sering kepercayaan yang diberikan oleh orang tua tersebut telah disalahgunakan oleh mereka (mahasiswa).
Namun bagi mahasiswa yang asalnya dari luar kota atau kampung yang memilih tinggal di tempat kos cenderung lebih mudah terpengaruh dengan gaya hidup masyarakat kota, misalnya saja dari cara berpakaian orang kota yang cenderung mengenakan busana-busana seksi dan memiliki alat-alat tekhnologi canggih dan modern sehingga membuat kebiasaannya pun ikut berubah termasuk pola pikir mahasiswa tersebut. Dalam kesehari-hariannya mahasiswa yang tinggal di kos, setelah selesai kuliah dari kampus mereka tidak langsung pulang ke rumah melainkan mereka pergi menyempatkan diri untuk bergabung bersama teman-temannya di suatu tempat seperti nongkrong di kantin dan diluar kampus misalnya di mall, café-café dan lain-lain. mereka bisa tertawa bersama hingga larut malam. Mereka justru lebih senang menghabiskan waktunya untuk berkumpul-kumpul di kos temannya sendiri. Hal ini yang sering peneliti perhatikan kesehari-harian anak kos yang ada di padang bulan.
dan ini sudah menjadi hal biasa bagi mereka khususnya mahasiswa lokal atau mahasiswa asal kota itu sendiri. Sehingga mahasiwa yang dari desa terpengaruh akan hal-hal itu dan melakukannya tahap demi tahap sampai terbiasa dengan hal tersebut. Karena sudah terbiasa dengan hal –hal tersebut sehingga mereka menganggap pergaulan bebas adalah sudah wajar. Pergaulan bebas menjadi identitas pergaulan yang dianggap modern dikalangan mereka.
Perilaku seks bebas adalah salah satu bentuk pergaulan bebas dewasa ini di kalangan mahasiswa. Seks bebas merupakan hubungan seksual atau seksual antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan tanpa adanya pernikahan yang sah. Seks bebas merupakan sebuah aib dan masalah besar karena bagi keluarga atau masyarakat merupakan perilaku menyimpang dan bertentangan dengan aturan normatif maupun harapan-harapan lingkungan sosial yang bersangkutan. Namun perilaku tersebut cenderung disukai oleh sebagian anak-anak muda khususnya dalam penelitian ini adalah mahasiswa di kelurahan titi rante padahal mahasiswa tersebut merupakan generasi intelektual yang seharusnya berperilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang baik.
Faktor- faktor yang memicu atau yang menyebabkan timbulnya pergaulan bebas “seks bebas” yaitu sebagai berikut :
• Faktor kurangnya perhatian dari orang tua, dimana orang tua tidak memiliki waktu
yang banyak untuk memperhatikan anaknya dirumah karena mungkin lebih mementingkan kesibukan dan pekerjaannya daripada keluarga.
• Faktor dari kaum muda itu sendiri,yaitu Orang muda cenderung menganggap bahwa
• Faktor kesadaran atau kedewasaan, dalam hal ini bukan karena msalah umur yang
kurang,namun orang muda pada umumnya cenderung belum memiliki modal yang cukup dalam mempertimbangkan, memutuskan dalam melakukan segala sesuatu, misalnya pengalaman belum cukup, kedewasaan belum penuh, pertimbangan belum matang, kurang menyadari akan bahaya, cenderung meremehkan hal-hal yang sebenarnya penting, belum dapat menghayati akibat maupun efek dari tindakan yang salah, sehingga terjebak dalam langkah yang berbahaya. Dan satu lagi ditambah lagi dengan melakukan ajang coba-coba dan ikut-ikutan melakukan sesuatu yang baru termasuk buat kaum muda yang sama sekali belum pernah merasakan dan mengalami tindakan-tindakan bebas tersebut.
• Dorongan nafsu seks, artinya makna hubungan pacaran pelaku seks lebih mengarah
ke orientasi seks bukan kearah pengenalan .
• Kurang taat terhadap ajaran agama (faktor keyakinan), artinya faktor terpenting dalam
membekali orang muda menjalani hidup. Orang muda yang imannya tidak handal, memiliki kecenderungan untuk tidak berjalan dalam jalan Tuhan, termasuk tidak berdoa untuk pergaulan mereka. Sebaliknya yang imannya handal dan berjalan dalam jalan Tuhan, jelas akan menuai dalam damai sejahtera.
• Tekanan dari pasangan • Terpengaruh teman
• Lemahnya kontrol sosial baik teman satu kos, maupun masyarakat sekitar dimana
teman pelaku, pemilk kos serta masyarakat sekitar bersikap permisif terhadap perilaku pelaku seks bebas, kebebasan ruang untuk penyaluran hasrat.
• Dan yang terakhir adalah akses pornografi yang sangat mudah dan orientasi materi
juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pelaku melakukan seks bebas.1
1
Dampak Semakin tingginya pergaulan bebas di era industrialisasi yang sudah mengglobal serta arus modernisasi sangat berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas dengan lain jenis, baik di perkotaan maupun di pedesaan, ada sebagian mereka beranggapan, kalau tidak bergaul dengan lawan jenis maka di nilai ketinggalan zaman. Inilah merupakan salah satu dampak pergaulan bebas itu sendiri.
Lingkungan merupakan situasi atau kondisi interaksi sosial dan sosiokultural yang secara potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama atau kesadaran beragama individu. Karena dari sinilah kepribadian individu dapat terbentuk, dan mahasiswa dapat menentukan mana lingkungan yang baik sebagai tempat bergaul atau bersosialisasi dengan masyarakat, sehingga mahasiswa mempunyai pegangan agar tidak terbawa arus kedalam pergaulan bebas (Abu Ahmadi, 1979 : 122 )
Antropologi fisik adalah bagian dari antropologi yang memusatkan perhatiannya kepada manusia sebagai organism biologis, ada salah satu yang menjadi perhatiannya ialah evolusi manusia. Bidang lain dari antropologi fisik adalah studi tentang variasi umat manusia. Meskipun kita semua adalah anggota dari satu jenis, secara menyolok atau tidak kita ini berbeda. Kita tidak hanya berbeda dalam hal yang tampak, seperti warna kulit atau bentuk hidung kita, akan tetapi mengenai faktor-faktor biokimia seperti golongan darah dan kepekaan terhadap penyakit tertentu. Ahli antropologi fisik modern menggunakan pengetahuan genetika dan biokimia untuk memperoleh pengertian yang lebih lengkap tentang variasi umat manusia dan cara orang menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang beraneka ragam. Perilaku menyimpang seks bisa dikatakan sebagai penyakit (Abin Syamsudin, 2003 : 35-36).
secara tepat mengakui penyakit sebagai gangguan dalam fungsi normal individu, termasuk keadaan organisma sebagai sistem biologi dan penyesuaian personal maupun sosialnya, model tersebut hanya menangani aspek sosial dan budaya dari kondisi tersebut. Menurut Parson, Penyakit adalah suatu bentuk tingkah laku menyimpang yang memberi jalan yang bersanksi sosial dan dilembagakan, untuk membebaskan diri dari tuntutan-tuntutan dan stres dalam kehidupan sehari-hari. Sesudah mendapat pengesahan akan haknya untuk menjalankan peran sakit misalnya dalam masyarakat barat, biasanya dokter menerimanya sebagai pasien (Abu Ahmadi, 1979 : 204)
Untuk itulah penelitian ini sangat penting dilakukan terutama melihat proses perilaku seks bebas sebagai sebuah bentuk pergaulan bebas masa kini terutama dikalangan mahasiswa. Penelitian ini diharapkan akan membawa pengaruh besar terhadap strategi kebijakan Pemerintah dalam membangun karakter bangsa sebagaimana yang dicita-citakan oleh manusia Indonesia. Peran generasi muda dalam pembangunan sebagai agent of change, sangat diperlukan. Sehingga arah kebijakan yang dicita-citakan oleh segenap pihak masyarakat selama ini diupayakan lebih terarah dan mencapai tujuan yang telah diharapkan. Pemerintah diharapkan akan dapat menetapkan program-program berkesinambungan dalam menekan atau antisipasi proses pergaulan bebas di tengah-tengah mahasiswa yang merupakan pelopor pembangunan karakter bangsa yang berwibawa, beretika, dan bermoral.
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tinjauan Pustaka
Teori Perilaku dan Jenis Perilaku
Perilaku manusia tidak dapat lepas dari adanya individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berperilaku manusia didorong oleh motif tertentu sehingga manusia itu berperilaku. Dalam hal ini ada beberapa teori, diantara teori-teori tersebut dapat dikemukakan:
1. Teori insting
Teori ini dikemukakan oleh Mc. Dougal sebagai pelopor dari psikologi sosial yang menerbitkan buku psikologi sosial pertama kali. Menurutnya, perilaku itu disebakan oleh insting. Mc. Dougal mengajukan suatu daftar insting, insting merupakan suatu innate, perilaku bawaan dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman.
2. Teori dorongan (drive theory)
Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan.
3. Teori insentif
Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku organisme itu disebabkan karena adanya insentif-insentif. Dengan insentiv akan mendorong organisme berbuat atau berperilaku.
4. Teori atribusi
Teori ini menjelaskan tentang sebab-sebab prilaku seseorang. 5. Teori kognitif
Apabila seseorang harus memilih perilaku mana yang harus dilakukan, maka yang bersangkutan akan memilih alternatif karena akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya.
Adanya ketidaksamaan antara sikap dan perilaku, sudah diketahui oleh para pakar sejak lama. Hartshorne and May (1928) misalnya, menemukan bahwa kecurangan dalam hubungan dalam situasi tertentu(mencontek ulangan) belum tentu berkorelasi dengan kecurangan dalam situasi yang lain(misalnya, berbohong kepada teman di luar kelas). Penelitian yang dilakukan oleh bagian psikologi sosial, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dikalangan sejumlah ibu dan balita di Jakarta, menunjukan bahwa sikap mereka terhadap pengobatan dengan oralit bagi anak-anak mereka yang menderita muntah berat adalah positif. Akan tetapi, pada saat kejadian yang sesungguhnya mereka akan menggunakan pengobatan tradisional (Sarwono dkk, 1989 dan 1990). Karena banyak penelitian membuktikan bahwa sikap tidak meramalkan perilaku, pendapat bahwa psikologi tidak perlu digunakan konsep sikap (sebagai faktor internal atau laten) tetapi langsung saja teliti perilakunya (pernyataan Wicker, 1969 dalam buku Sarlito Wirawan)
Hubungan dengan hasil penelitian yang kontradiktif(Warner dan Defleur) mengemukakan tiga postulat, untuk mengidentifikasi tiga pandangan umum mengenai hubungan sikap dan perilaku, yaitu:
1. Postulat konsistensi
Postulat konsistensi mengatakan bahwa sikap verbal merupakan petunjuk yang cukup akurat untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan seseorang bila ia dihadapkan pada suat objek sikap.
2. Postulat Variasi independent
Postulat Variasi independent menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa sikap dan perilaku berhubungan secara konsisten.
Postulat konsistensi tergantung menyatakan bahwa hubungan sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu.
Tampaknya postulat terakhir ini adalah postulat yang paling masuk akal dan paling berguna menjelaskan hubungan sikap dengan perilaku.
Didalam buku karangan Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, dalam buku Pengantar Umum Psikologi
Proses pembentukan dan perubahan sikap
Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui 4 macam cara: 1. Adopsi
Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap.
2. Diferensiasi
Dengan berkembangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya.
3. Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tertentu sehingga akhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
4. Trauma
Pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan.
Perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama adal sudut pandang kemanusiaa daripad
Dalam
dengan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain. Berikut ini beberapa definisi dari perilaku menyimpang yang dijelaskan oleh beberapa ahli
1. Menurut
oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal ya
2. Menurut
tindakan yang menyimpang dari menimbulkan usaha dari yang berwenang dalam perilaku menyimpang tersebut.
3. Menurut
Penyimpangan terhadap
(deviation), sedangkan pelaku atau
(deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapa
Ciri-ciri
Menurut
1. Penyimpangan harus dapat didefinisika
bisa
2. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif, ada kalanya penyimpangan bisa diterima Adapun pembunuhan dan perampokan merupakan penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat.
3. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Semua orang pernah melakukan perilaku menyimpang, akan tetapi pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif karena perbedaannya hanya pada Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderu orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi denga
4. Penyimpangan terhada
peraturan yang telah menjadi cenderung banyak dilanggar.
5. Terdapat
menentang merupakan bentuk penyimpanga
6. Penyimpangan sosial bersifat
selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemikiran
Penyebab Terjadi Penyimpangan
Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor
yang dibawa sejak lahir).
2. Faktor
tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tida
Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang
1. Ketidaksanggupan menyera
sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota
2. Proses
karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentan merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan karena proses menyimpang. Misalnya, seorang anak yang melakukan tindakan kejahatan setelah melihat tentang tindakan kriminal. Demikian halnya karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk
(white collar
crime) yakni para koruptor kelas kakap yang merugikan ua Berawal dari kecurangan-kecurangan kecil semasa bekerja di kantor/mengelola uang negara, lama kelamaan makin berani dan menggunakan berbagai strategi yang sangat rapi dan tidak mengundang kecurigaan karena tertutup oleh penampilan sesaat.
3. Ketegangan antara kebudayaan da
menghindari beban pajak listrik yang tinggi. Hal ini merupakan bentuk pemberontakan/perlawanan yang tersembunyi.
4.
kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
5. Akibat proses
massa menampilka menyebabkan anak secara tidak sengaja menganggap bahwa perilaku menyimpang tersebut sesuatu yang wajar. Hal inilah yang dikatakan sebagai pros kebudayaan yang menyimpang, sehingga terjadi proses kebudayaan menyimpang pada diri anak dan anak mengangga merupakan sesuatu yang wajar/biasa dan boleh dilakukan.
Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang
Bentuk-bentuk perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.
• Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1. Penyimpangan bersifat positif. Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif ter-hadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur ini biasanya diterima masyarakat karena sesuai perkembangan zaman. Misalnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan wanita karier. 2. Penyimpangan bersifat negatif. Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan
sosial yang dilanggar. Pelanggaran terhadap kaidah susila dan adat istiadat pada umumnya dinilai lebih berat dari pada pelanggaran terhadap tata cara dan sopan santun. Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut:
a. Penyimpangan primer (primary deviation). Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Seseorang yang melakukan penyimpangan primer masih diterima di masyarakat karena hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang tersebut. Misalnya, siswa yang terlambat, pengemudi yang sesekali melanggar peraturan lalu lintas, dan orang yang terlambat membayar pajak.
b. Penyimpangan sekunder (secondary deviation). Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk, serta seseorang yang melakukan tindakan pemerkosaan. Tindakan penyimpangan tersebut cukup meresahkan masyarakat dan mereka biasanya di cap masyarakat sebagai “pencuri”, “pemabuk”, "penodong", dan "pemerkosa". Julukan itu makin melekat pada si pelaku setelah ia ditangkap polisi dan diganjar dengan hukuman.
• Bentuk penyimpangan berdasarkan pelakunya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut :
a. Penyimpangan Individual (Individual Deviation)
Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut.
1. Pembandel yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.
2. Pembangkang yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak taat pada peringatan orang-orang.
3. Pelanggar yaitu penyimpangan yang terjadi karena melanggar norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat.
4. Perusuh atau penjahat yaitu penyimpangan yang terjadi karena mengabaikan norma-norma umum, sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya.
5. Munafik yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak menepati janji, berkata bohong, mengkhianati kepercayaan, dan berlagak membela.
b. Penyimpangan Kelompok (Group Deviation)
Penyimpangan kelompok adalah tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok yang bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya, sekelompok orang menyelundupkan narkotika atau obat-obatan terlarang lainnya.
c. Penyimpangan Campuran (Combined Deviation)
Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme
Pada saat mahasiswa harus berjuang mendewasakan pikiran, mahasiswa juga dihadapkan pada berbagai godaan yang menarik dan menggiurkan sehingga bisa menyimpang dari idealisme hakiki manusia. Melalui buku bertajuk Dari Demonstrasi hingga Seks Bebas Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme, Nurani Soyomukti menggambarkan kehidupan dari mahasiswa dengan melihat gaya hidup mereka. Nurani mencoba merangkai kata dalam buku ini dari catatan-catatan yang dibuat sejak kuliah disebuah kampus negeri di Jawa Timur yang menurutnya merupakan catatan sentimental. Nurani menggunakan gaya penulisan yang cenderung resmi seperti layaknya penulisan skripsi, Nurani menilai bahwa mahasiswa cenderung memasuki perguruan tinggi dengan berbagai macam obsesi. Mereka antara lain, ingin memperoleh pembekalan untuk mencari pekerjaan. Dengan menjadi mahasiswa, mereka setidaknya juga bisa mengalami perubahan gaya hidup (Meutia, 2007: 40).
Dari pendapat Nurani Soyomukti diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa pada zaman sekarang cenderung ingin mengalami perubahan gaya hidup walaupun mereka sadar bahwa itu sudah melanggar norma-norma. Obsesi yang terbentuk ketika mereka masuk yang ke dunia pendidikan di era kapitalisme dan hedonisme jelas mengarahkan diri mereka ke pergaulan yang sifatnya sudah sangat bebas.
Sejalan dengan peradaban kita masa kini, menjadikan perkembangan pola piker juga terus mengalami perkembangan demi pemenuhan kebutuhan mereka, yang sangat kuat dipengaruhi oleh interaksi yang kita lakukan dalam masyarakat. Membentuk kampung perkotaan,dalam pengertian yang dikemukakan Murray adanya ”kampung perkotaan menjadi tempat tinggal masyarakat kelas bawah” terbentuk melalui system regresi etnik. Gaya hidup khas kampung berkembang, sejalan dengan integrasi yang kompleks kegiatan- kegiatan sektor ekonomi formal, informal, dan sektor subsistem (Murray, J. Allison, 1995 : 211)
Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik diri manusia dengan proses belajar (Koentjaraningrat, 1980: 193). Adanya perilaku manusia merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan dari lingkungannya. Menurut W.I Thomas perilaku manusia tersebut mempunyai klarifikasi sosiologis antara lain :
1. Keinginan memperoleh pengalaman baru 2. Keinginan untuk mendapat respon 3. Keinginan akan pengakuan
Manusia adalah mahkluk seksual. Seksualitas diartikan sebagai perbedaan antara laki– laki dan perempuan baik secara fisik, psikologi dan dalam istilah-istilah perilaku :
a. Aktifitas, perasaan dan sikap yang dihubungkan dengan reproduksi b. Bagaimana laki-laki dan perempuan berinterkasi dalam berpasangan.
rangsangan. Bila dilihat dari bentuk respon terhadap perilaku tersebut, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yakni perilaku tidak tampak/terselubung (covert behavior) dan perilaku yang tampak (overt behavior). Perilaku yang tidak tampak ialah berpikir, tanggapan, sikap, emosi, pengetahuan, dan lain lain. Perilaku yang tampak antara lain berjalan, berbicara, berpakaian dan lain sebagainya (Meutia, 2007 : 38).
Faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah keturunan yang berarti sebagai pembawaan atau heredity dan lingkungan yang berarti segala apa yang berpengaruh pada diri individu untuk berperilaku, lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan atau kehidupan seseorang. Setelah memasuki masa remaja, setiap manusia baik pria maupun wanita merasakan adanya suatu dorongan seksual (nafsu birahi). Dorongan seksual ialah perasaan erotis terhadap lawan jenis dengan tujuan akhir melakukan hubungan seksual (bersetubuh). Pada awalnya dorongan seksual muncul karena pengaruh hormon, tetapi kemudian ada faktor lain yang mempengaruhi dorongan seksual yaitu faktor psikis, rangsangan seksual dari luar dan pengalaman seksual sebelumnya (bercumbu, berciuman, dan sebagainya) disertai faktor coba-coba dan ingin tahu yang akhirnya keterusan dan terjerumus dalam seks bebas. Hubungan seks bebas adalah perbuatan zina karena dilakukan antara kaum pria dan wanita yang tidak terikat oleh perkawinan yang sah. Biasanya perzinaan ini dilakukan oleh mereka yang mendambakan kebebasan seks atau istilahnya free seks
(Asfriyati, 2005 : 76-77).
(saling menempelkan alat kelamin tanpa penetrasi), kemudian berlanjut pada hubungan seksual (Sarwono, 1988 : 22).
Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaiatan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan perkara hubungan intim anatara laki-laki dengan perempuan. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku seksual dapat beraneka ragam seperti :
1. Berkencan
2. Berpegangan tangan 3. Mencium pipi 4. Berpelukan 5. Mencium bibir
6. Memegang buah dada diatas baju 7. Memegang buah dada dibalik baju 8. Memegang alat kelamin
9. Melakukan senggama.2
Menurut Gunarsa (1995), mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku seks bebas:
1. Waktu, dengan adanya waktu luang yang tidak bermanfaat maka lebih mudah menimbulkan adanya pergaulan bebas, dalam arti remaja mementingkan hidup bersenang-senang, bermalas-malasan, suka berkumpul sampai larut malam yang akan membawa remaja pada pergaulan bebas.
2
2. Kurangnya pelaksanaan dalam menjalankan agama secara konsekuen.
3. Kurangnya pengawasan terhadap remaja. Remaja beranggapan bahwa orang tua terlalu ketat sehingga tidak memberikan kebebasan.
4. Kurangnya pemahaman moral dalam pergaulan remaja bahkan dimasyarakat. 5. Pengaruh norma budaya dari luar. Para remaja menelan begitu saja apa yang
dilihatnya dari budaya barat.3
Tingkah laku seksual tersebut sudah merupakan hal yang tabu dan tingkah laku seksualitas tersebut sudah merajai para remaja baik dikalangan mahasiswa maupun anak kos-kosan. Remaja berasal dari kata latin Adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah tersebut mempunyai arti yang luas yang mencakup kematangan mental, emosional dan fisik. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena remaja tidak termasuk golongan anak-anak tapi tidak termasuk golongan dewasa. Seperti yang dikemukakan oleh calon bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak (Robert. P. Masland. 2000 : 136)
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12-15 tahun yaitu masa remaja awal, 15-18 tahun yaitu masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun adalah masa remaja akhir. Dimana pada usia remaja ini, mereka pada posisi transisi yang selalu ingin melakukan apapun yang mereka inginkan. (Gunarsa, 1993) menyatakan ciri-ciri masa remaja yang seiring terlihat yaitu :
1. Kegelisahan, keadaan yang tidak tenang menguasai diri remaja. Mereka dikuasi oleh perasaan gelisah karena keinginan yang banyak tidak terpenuhi.
3
2. Pertentangan, hal ini dapat terjadi karena keinginan melepaskan diri secara mutlak dari keluarga belum disertai kesanggupan untuk berdiri sendiri, tanpa memperoleh lagi bantuan dari keluarga terutama dalam hal keuangan.
3. Keinginan menjelajah kedalam sekitar pada remaja yang lebih luas. Penyaluran keinginan ini membuat para remaja melakukan interaksi dengan remaja lainnya dan masyarakat yang bukan hanya di lingkungan dekat rumah, tetapi yang lebih luas lagi.
4. Menghayal dan berfantasi. Khayalan dan fantasi pada remaja umumnya berkisar mengenai prestasi dan kehebatan. Remaja sering berkhayal dan berfantasi sebagai seorang jagoan di tengah masyarakat seperti yang sering dilihatnya di film-film pada remaja pria. Para remaja puteri, mereka sering berkhayal dan berfantasi tentang kebahagian hidupnya, dan sebagainya.
5. Aktifitas berkelompok, kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kerumitan hidupnya dengan cara berkumpul bersama teman-temannya melakukan kegiatan bersama, baik itu kegiatan yang positif maupun yang negatif. Adapun contoh kegiatan negatif berupa kebut-kebutan dengan kendaraan bermotor, terlibat penggunaan narkotika, dan sebagainya. Kegiatan positif berupa perkumpulan olahraga, kesenian,keagamaan dan sebagainya4
1.3.1 Pengertian Pergaulan Bebas
Pergaulan bebas berasal dari dua kata yang berdiri sendiri, yaitu pergaulan dan bebas. “Pergaulan” berasal dari kata dasar “gaul” yang berarti “hidup berteman (bersahabat)”. “Pergaulan” diartikan: “1) hal bergaul; 2) kehidupan bermasyarakat”. Sedangkan “bebas” berarti 1) lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu dan sebagainya, sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat dan sebagainya dengan leluasa); 2) lepas dari (kewajiban,
4
tuntutan, perasaan takut dan sebagainya); 3) tidak dikenakan (pajak, hukuman dan sebagainya); 4) tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan dan sebagainya; 5) merdeka (tidak dijajah, diperintah atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuatan asing). Jadi, pergaulan bebas adalah berteman tanpa batas, baik dalam berbicara dan berperilaku dan sebagainya (Asfriyati, 1999: 106).
Pergaulan bebas terjadi karena ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan diri juga minimnya kontrol sosial masyarakat terhadap pergaulan muda-mudi. Selain itu juga disebabkan dangkalnya pemahaman akan arti cinta itu sendiri. Cinta yang dapat diartikan kenikmatan jiwa, sebenarnya tidak hanya terbatas pada cinta erotis, yang mendatangkan nafsu seks, tetapi mempunyai makna yang lebih luas. Misalnya cinta orang tua kepada anak, cinta makhluk kepada Tuhannya, cinta Tuhan kepada makhluk-Nya, cinta kepada sahabat, cinta kepada saudara, cinta ilmu, cinta pekerjaan, cinta seorang guru kepada murid, cinta seorang murid kepada guru, cinta suami pada istrinya dan bentuk cinta lainnya (Asfriyati, 1999: 124-125).
memberitahukan perilaku-perilaku seksual yang begitu beresiko tersebut dapat membuat para remaja menghindarinya5
Beberapa hasil penelitian menunjukan data yang mencengangkan, di berbagai kota (baik kota besar atau kecil) menunjukan eskalasi perubahan tingkah laku seksualitas remaja. Synovate Research tahun 2004 melakukan survey tentang perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan dengan jumlah responden 450 orang dengan kisaran usia 15-24 tahun. Hasil penelitian menunjukan sekitar 65% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan dan juga 35% sisanya dari film porno. Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja mendapatkan informasi tentang seks dari orang tuannya. Pengalaman berhubungan seks dimulai sejak usia 16 -18 tahun sebanyak 44%, sementara 16% melakukan hubungan seks pada usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan (LSCK) pada tahun 2002 melakukan survey tentang virginitas mahasiswi di Yogyakarta. Lembaga ini melaporkan telah melakukan
survei terhadap 1.660 responden mahasiswi dari 16 perguruan tinggi di Yogyakarta, antara Juli
1999 sampai Juli 2002. Hasil survey tersebut menyatakan bahwa 97,5 persen dari responden
mengaku telah kehilangan virginitasnya. Sementara itu, dalam Kongres Nasional I Asosiasi
Seksologi Indonesia (Konas I ASI) di Denpasar Juli 2002, Hudi Winarso dari Laboratorium
Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya juga mengemukakan penelitian
serupa. Dari angket yang disebarkan pada bulan April 2002 terhadap 180 mahasiswa perguruan
tinggi negeri di Surabaya, berusia 19 hingga 23 tahun, ternyata 40 persen mahasiswa pria telah
melakukan hubungan seks pra nikah.
.
6
Data dari BKKBN menunjukan pola perilaku seks mahasiswa di daerah Jawa tengah berikut data-datanya.
5
http;//duniabaca.com/pengertian-pendidikan-seks-dan-manfaatnya.html(diakses 10 juni 2012) 6
T abel 1. 1
Base Line Survey Perilaku Sex Mahasiswa
Pilar-PKBI Jawa T engah pada April 2000
Responden: Pria 64 dan Wanit a 63
No Aktifitas Pacaran Jumlah Persen
1
Berpegangan tangan, mengusap rambut
Merangkul, memeluk
Cium pipi, kening
Cium bibir
Cium leher
Meraba daerah sensitif: Payudara
Petting
Usia berapa pertama kali Intercouse
5
Base Line Survey di atas menunjukkan bahwa persentase yang menunjukkan perilaku seks bebas di antara mahasiswa mengenai poin sexual inttercourse memang yang terendah. Namun, itu juga menunjukkan bahwa dengan angka persentase yang demikian dengan perbandingan jumlah sampel yang diambil sudah dapat disimpulkan bahwa akibat pergaulan yang semakin bebas membuat perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa sudah sangat mengarah ke kehidupan seks di luar nikah sudah biasa. Pada beberapa informan yang diwawancarai oleh penulis sendiri, yang merupakan hal sexual intercourse sendiri sudah merupakan hal yang biasa yang mereka lakukan.
penularan penyakit seks menular (HIV-AIDS, sifilis,dll) akan memicu permasalahan lainnya. Data dari Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) memperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sampai Maret 2008 mencapai 200 ribu, terbanyak di kota-kota besar. Data ini merupakan data yang nampak saja, sebagaiamana fenomena gunung es para penderita HIV-AIDS mungkin jumlahnya jauh lebih banyak, apalagi ditunjang dengan meningkatnya perilaku seks bebas di kalangan pelajar dan mahasiswa.
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kehidupan mahasiswa khususnya anak kos-kosan yang mengalami pergaulan bebas.
1.4 Manfaat Penelitian
Dalam ranah akademis penulis harapkan penelitian ini dapat berguna bagi mahasiswa dan staf pengajar untuk menambah kekhasan dan keilmuwan di bidang antropologi.
Secara praktis manfaatnya yaitu berguna bagi masyarakat sedangkan secara umum adalah sebagai salah satu informasi tentang pergaulan bebas yang sedang popular di era globalisasi. Begitu juga halnya kepada Pemerintah dapat membawa manfaat terutama strategi kebijakan dalam penanggulangan masalah pergaulan bebas di kalangan remaja dan mahasiswa.
1.5.Metode Penelitian
1.6 Tipe Penelitian
Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mengharuskan peneliti menggambarkan secara terperinci tentang latar belakang individu para mahasiswa khususnya di kos–kos an Padang Bulan Medan. Dengan tahapan penelitian pra lapangan,pekerjaan lapangan, analisis data dan diakhiri dengan tahap penulisan laporan penelitian (Moleong, 2007 : 128).
Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang saya pakai dengan metode studi etnografis dengan menggunakan Life History.
1.7 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data disini dilakukan dengan dua kelompok yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari lapangan, sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari buku, jurnal, artikel, studi kepustakaan,dll. Dan data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam.
a. Observasi
Dalam studi ini, hal-hal yang di observasi antara lain :
1. Penelitian pada awalnya melihat para mahasiswa kos-kosan sebagai informan penelitian.
2. Peneliti juga akan mengamati tindakan-tindakan mahasiswa yang terlibat dalam pergaulan bebas.
b. Wawancara Mendalam
Wawancara dilakukan guna mencari informasi yang selengkap-lengkapnya dari informan. Proses wawancara dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dan peneliti harus menciptakan situasi yang kondusif agar informan dapat memberikan informasi dan pengalaman-pengalaman secara terbuka. Informan yang akan peneliti wawancarai terdiri dari :
- Informan biasa adalah, para mahasiswa yang mengetahui masalah pergaulan bebas yang sering terjadi pada mahasiswa yang mengakibatkan terjadinya hubungan seks pra nikah maupun masyarakat biasa seperti pemilik café.
- Informan kunci yaitu, mahasiswa-mahasiswa yang mengalami pergaulan bebas sehingga melakukan hubungan seks pra nikah. Informan kunci dalam penelitian ini akan ditujukan pada mahasiswa kos-kosan di padang bulan medan yang mengetahui secara mendalam tentang pergaulan bebas. disekitar lingkungan kos- kosan mahasiswa tersebut.
- Life History adalah keterangan mengenai apa yang dialami oleh individu tertentu sebagai warga dari suatu masyarakat yang sedang menjadi objek penelitian, yaitu pencatatan mengenai data pengalaman hidup individu mahasiswa yang melakukan pergaulan bebas sampai sebagai pelaku seks bebas di Padang Bulan Medan, yaitu dengan menceritakan sejarah hidup individu mulai dari masa kecil sampai dewasa. Life history ini dilakukan dengan melakukan interaksi dengan mahasiswa sehingga mendapatkan informan yang lebih akurat mengenai seluk beluk kehidupan individu mahasiwa.
Data Sekunder :
BAB 2
GAMBARAN UMUM
2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
2.1.1 Keadaan Geografis Kelurahan Titi Rante Kecamatan Medan Baru
Kelurahan Titi Rante yang menjadi lokasi penelitian berada dibawah wewenang Kecamatan Medan Baru, yang merupakan salah satu dari 21 kecamatan di kota Medan, Propinsi Sumatera Utara. Kelurahan Titi Rante berada di kawasan Padang Bulan, Medan yang berdekatan dengan Universitas Sumatera Utara. Kedekatan ini menyebabkan Kelurahan Titi Rante menjadi wilayah tempat tinggal (sementara) bagi mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas Sumatera Utara. Selain itu Kelurahan Titi Rante termasuk dalam lingkup kehidupan kota yang kompleks dengan beragam bentuk kehidupan dan suku yang berdiam di wilayah tersebut. Keberagaman bentuk kehidupan dan suku tersebut menjadi aspek yang menarik dalam penelitian ini.
2.1.2 Batas Wilayah Kelurahan Titi Rantai
Luas Kelurahan Titi Rante adalah 106 Ha dan terbagi menjadi 10 lingkungan yang tersebar, adapun batas wilayah Kelurahan Titi Rante, adalah :
Utara : Kelurahan Padang Bulan
Selatan : Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang Barat : Kelurahan PB. Selayang II Kecamatan Medan Selayang Timur : Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia
2.2 Keadaan Penduduk Kecamatan Medan Baru
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kelurahan Titi Rante, jumlah penduduk yang tersebar di 10 lingkungan adalah 12.008 Jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 5.346 Jiwa dan perempuan sebanyak 6.662 Jiwa. Perbandingan antara data kependudukan Kelurahan tahun 2011 dan 2008 menunjukkan berkurangnya jumlah penduduk Kelurahan Titi Rante.
Kecamatan Medan Baru mempunyai jumlah penduduk sebesar 43.822 jiwa dengan kepadatan penduduk adalah 7.571 jiwa/km² yang terdapat di 6 kelurahan yakni Babura, Padang Bulan, Darat, Merdeka, Titi Rante dan Petisah Hulu. Untuk lebih lengkapnya sebagaimana tabel sebagai berikut:
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin dirinci menurut Kelurahan di kecamatan Medan Baru Tahun 2012
No Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Titi Rante 4152 4834 8986
2 Padang Bulan 4264 4649 8913
3 Merdeka 3621 3762 7383
4 Darat 1660 1445 3105
5 Babura 3881 4460 8341
6 Petisah Hulu 3050 4042 7092
Jumlah 20.629 23.193 43.822
Sumber : Badan Pusat Statistik 2012
kelurahan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah kelurahan Darat dengan jumlah penduduk sebanyak 3105 jiwa. Jumlah laki-laki dengan jumlah perempuan dapat dilihat bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari pada jumlah laki-laki. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jumlah perempuan mendominasi di kecamatan Medan Baru.
2.3 Keadaan Perekonomian Kecamatan Medan Baru
Perekonomian di kecamatan Medan Baru cukup lancar. Setiap barang-barang yang di butuhkan dengan mudah dapat dijumpai di pasar di kecamatan Medan Baru. Sejumlah pasar, mall dan pertokoan yang belum ramai mendukung kegiatan perekonomian di kecamatan Medan Baru. Di kecamatan Medan Baru terdapat 12 swalayan, 1 mall/plaza, 109 toko dan 2 pasar. Kecamatan Medan Baru memiliki beberapa fasilitas pariwisata diantaranya hotel, karoke dan bilyar. Untuk lebih sebagaimana dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 2.2. Jumlah Hotel, Bioskop, Night club/Karoke dan Bilyard menurut Kelurahan di
kecamatan Medan BaruTahun 2012
No Kelurahan Hotel Bioskop Night Club Karaoke
1 Titi Rante 0 0 0 0
2 Padang Bulan 0 0 0 0
3 Merdeka 1 0 0 1
4 Darat 2 0 1 0
5 Babura 4 0 1 3
6 Petisah Hulu 2 0 1 2
Jumlah 9 0 3 6
2.4 Keadaan Sosial Budaya Kecamatan Medan Baru
Penduduk kecamatan Medan Baru merupakan masyarakat yang terdiri dari berbagai agama yakni agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu dan Budha. Kehidupan keagamaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa semakin berkembang sehingga terbina hidup rukun diantara sesama umat beragama. Kerukunan antar umat beragama tersebut menjadikan penduduk merasa bersatu dan tetap memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa. Adapun komposisi mengenai tempat ibadah umat beragama di Kecamatan Medan Baru adalah Mesjid, Gereja, Langgar dan kelenteng. Untuk lebih lengkapnya penulis membuat tabel sebagai berikut:
Tabel 2.3. Jumlah Sarana Ibadah Menurut Kelurahan di kecamatan Medan Baru Tahun 2012
No Kelurahan Mesjid Langgar Gereja Kelenteng Jumlah
1 Titi Rante 3 1 6 0 10
2 Padang Bulan 2 4 3 0 9
3 Merdeka 3 2 2 0 7
4 Darat 1 1 0 0 2
5 Babura 3 3 3 0 9
6 Petisah Hulu 2 4 4 2 12
Sumber : Badan Pusat Statistik 2012
Di bidang pendidikan, wilayah kecamatan Medan Baru merupakan kawasan pendidikan. Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, masyarakat dan sekolah.
Wilayah kecamatan Medan Baru merupakan kawasan pemukiman mahasiswa karena terdapat beberapa Perguruan Tinggi yang sudah dikenal secara Nasional seperti Universitas Sumatera Utara, Universitas Dharma Agung serta beberapa akademi lainnya. Dibawah ini dapat dilihat tabel mengenai tingkat pendidikan di kecamatan Medan Baru:
Tabel 2.4 Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta di kecamatan Medan Baru tahun 2012 Tingkat Pendidikan Sekolah (Unit)
No Tingkat Sekolah Jumlah
1 TK 15
2 SD Negeri 14
3 SD Swasta 12
4 SLTP Negeri 1
5 SLTP Swasta 10
5 SMA Negeri 1
6 SMA Swasta 28
Jumlah 83
Sumber : Badan Pusat Statistik 2012
diberikan kepada generasi penerus dapat berjalan dengan lancar di mulai dari pendidikan dasar (TK dan SD), Menengah (SLTP dan SLTA) sampai pada pendidikan tingkat mahasiswa (Perguruan Tinggi). Sedangkan dalam bidang kesehatan di wilayah Kecamatan Medan Baru terdapat 4 Unit Rumah Sakit dan I Unit Puskesmas, 10 BPU dan 1 BKIA.
2.5. Profil Informan Pelaku Pergaulan Bebas
2.5.1 TN (Pr, 21 tahun)
TN merupakan seorang perempuan yang berusia 21 tahun. TN tinggal atau kost di kelurahan Titi Rantai kecamatan Medan Baru. TN merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara. TN merupakan mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Medan AMIK MBP dan saat ini sudah berhenti karena mendapat surat DO (Drop Out) dari kampus. TN lahir dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tua TN bekerja sebagai petani di Langkat. TN diberi uang saku Rp 1.500.000, setiap bulan.
TN merupakan seorang perempuan yang manis, berkulit sawo matang dan bermata bulat. Cukup sulit awalnya untuk melakukan pendekatan dan berdialog dengan salah satu informan ini. Pribadinya tertutup apalagi saat ditanyakan mengenai hal seputar perilaku seks bebas. Setelah dilakukan langkah-langkah persuasif dan menekankan bahwa segala informasi dari data yang didapatkan akan dirahasiakan latarbelakangnya, barulah kemudian gadis ini membuka diri dan bersedia menjadi informan penelitian.
2.5.2 VS ( Pr, 23 tahun)
VS merupakan seorang perempuan yang berusia 23 tahun. VS tinggal atau kost di kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru. VS merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara. VS merupakan mahasiswa di salah satu Universitas Swasta Medicom di Medan dan saat ini telah menyelesaikan studinya namun pergaulan bebas sangat digemarinya. Saat ini VS masih belum bekerja tetap. VS lahir dari ekonomi keluarga yang kurang mampu. Ayah VS bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Pendapatan orang tua VS tidak menetap karena gaji yang diterima ayah VS kadang keluar kadang tidak. VS jarang diberi uang saku oleh orang tuanya, kadang 3 bulan sekali hanya diberikan Rp 1.000.000,00. VS lebih sering diberi uang oleh pacarnya yang tinggal di Perbaungan.
2.5.3. RD (Pr, 19 tahun)
RD merupakan seorang perempuan yang berusia 19 tahun. RD ini lahir di Tarutung pada tanggal 12 juni 1988. RD tinggal atau kost Kelurahan Titi Rantai kecamatan Medan Baru. RD merupakan mahasiswa di salah satu universitas negeri di medan Fakultas Sastra dan saat ini berada pada semester sepuluh. RD memiliki hubungan pertemanan dekat dengan TN yang sama-sama saling berkenalan melalui media facebook. Semasa hidup, ayah RD merupakan pegawai negeri sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga. RD di beri uang saku oleh orang tuanya Rp 500.000,00 per bulan.
RD merupakan gadis yang terkesan pendiam dan tertutup namun karena RD merupakan teman peneliti sehingga dia cukup terbuka. RD mulai melakukan seks bebas ketika ia kuliah pada semester 5. Kos yang ditempati RD sekarang termasuk kos yang bebas karena laki-laki bisa keluar masuk kapan saja. dia juga pernah mengajak pacarnya menginap jika kakak RD tidak di kos.
2.5.4 ST (Pr, 21 tahun)
ST merupakan seorang perempuan yang berusia 21 tahun. ST ini lahir di Tarutung pada tanggal 15 April 1993. ST tinggal atau kost di kelurahan Titi Rante kecamatan Medan Baru. ST merupakan mahasiswa di salah satu universitas negeri di Medan fakultas Ekonomi dan saat ini berada pada semester enam. Kedua orang tua ST bekerja sebagai petani. Setiap bulannya ST diberi uang saku oleh orang tuanya sebesar Rp 700.000,00.
dengan pasangan yang berbeda. Dia melakukan seks bebas awalnya karena dirayu oleh pacarnya. Namun setelah keperawanannya hilang, dia semakin sering berhubungan intim dengan setiap pacarnya karena menganggap tidak ada hal yang penting untuk di jaga. Mereka melakukan hubungan seks tanpa harus takut ketahuan ibu kos.
2.5.5 KN (Pr, 21 tahun)
KN merupakan seorang perempuan berusia 21 tahun. HL ini lahir di Tarutung pada tanggal 23 Juni 1993. KN tinggal di kelurahan Titi Rantai kecamatan Medan Baru. KN adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. KN mendapat kiriman uang belanja sebesar Rp 1.000.000,00 per bulan. Saat ini KN semester dua di salah satu universitas swasta di Medan. Informan yang satu ini merupakan seorang gadis yang ramah namun awalnya cukup sulit melakukan pendekatan dan berdialog. Namun setelah di tekankan bahwa segala informasi yang didapatkan akan di rahasiakan latar belakangnya, barulah informan ini membuka diri dan bersedia menjadi informan penelitian. Ketika dilakukan wawancara, akhirnya terungkap bahwa informan melakukan hubungan seks pertama kali ketika ia kuliah pada semester 1.
2.5.6 AS (Lk, 21 tahun)
AS merupakan seorang laki-laki yang berusia 21 tahun. AS ini lahir di Rantau Prapat pada tanggal 7 pebruari 1990. AS tinggal atau kos di kelurahan Titi Rante kecamatan Medan Baru. AS merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ayah AS bekerja sebagai petani sedangkan ibunya seorang pedagang. AS mendapat uang bulanan dari orang tuanya Rp 1000.000,00 setiap bulannya. AS merupakan mahasiswa di salah satu
membuat peneliti tidak sulit untuk menggali informasi namun dengan syarat utama adalah jangan sampai di bocorkan segala hal yang diperoleh kepada keluarga besarnya. AS pertama kali melakukan hubungan seks sejak kuliah pada semester 1 di Medan. Sering mengakses media berbau porno yang menayangkan hubungan seks menjadi faktor pendorong bagi AS untuk melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Selain itu AS juga terlibat dalam perilaku pergaulan bebas lainnya yaitu clubbing dan minum-minuman keras.
2.6. Profil Informan Masyarakat Setempat
2.6.1 Ginting (Lk, 45 tahun )
Ginting merupakan seorang laki-laki yang berusia 45 tahun. Ginting ini lahir di Medan pada tanggal 20 Februari 1969. Ginting menganut agama Kristen Protestan dan beretnis Karo. Ginting tinggal di kecamatan Medan Baru bersama istri dan 3 orang anaknya. Ginting tinggal di daerah ini sejak lahir hingga ia menikah. Ginting berprofesi sebagai guru dan dia juga mempunyai beberapa becak yang ia sewakan kepada orang untuk menambah pendapatan sedangkan istrinya sebagai ibu rumah tangga.
2.6.2. D M (Pr, 32 tahun)
swasta di kota Medan, terkadang berangkat pagi dan pulang sore. Dia membuka warung di depan rumahnya untuk membantu suami, karena penghasilan suami yang kurang memadai.
2.6.3. Ra (Pr, 48 tahun)
Ra merupakan seorang perempuan yang berusia 48 tahun. Ra ini lahir di Aekkanopan pada tanggal 12 April 1966. Beliau menganut agama Kristen Protestan dan beretnis Batak Mandailing. Ra merupakan penduduk yang tinggal di Kelurahan Titi Rante, kecamatan Medan Baru bersama suami dan 5 orang anaknya sejak 18 tahun yang lalu. Ra bersama suaminya berprofesi sebagai pedagang. Setiap hari beliau dan suaminya bekerja, sementara anak anaknya sekolah. Dia hanya memiliki waktu luang berkumpul dengan keluarga setiap hari sabtu dan minggu. Setiap hari minggu beliau dan keluarganya berangkat ke gereja bersama-sama. Ra dan suaminya selalu memperhatikan perkembangan anak-anaknya karena pasangan ini tidak ingin anak-anaknya terpengaruh dengan lingkungan. Mereka membuat anaknya sibuk dengan sekolah dan les agar anak tidak terlalu banyak bermain.
2.6.4 S L ( Lk, 54 tahun)
BAB 3
PROSES PERILAKU PERGAULAN BEBAS
3.1. Dinamika Perkembangan Perilaku Manusia
Dinamika perkembangan manusia saat ini seiring sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan memberikan keleluasan bagi semua orang untuk mengakses berbagai sumber informasi termasuk para mahasiswa.
Problematika yang dihadapi mahasiswa semakin beragam dalam berbagai aspek. Bukan hanya Mahasiswa saja, bahkan para pelajar juga melakukan perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat yaitu terlibat dalam kenakalan. Kenakalan remaja bukan lagi sebatas bolos sekolah atau melakukan pelanggaran terhadap peraturan sekolah, namun sudah merambah ke arah tindak perilaku kriminal, kekerasan, penggunaan Narkotika, dan bahkan pergaulan bebas. Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan belum stabil. Selain itu, masa remaja adalah masa yang rawan oleh pengaruh-pengaruh negatif, seperti narkoba, kriminal, dan kejahatan seks.
dapat menyalurkan energi seksualnya pada aktivitas atau peran yang lebih bisa diterima. Pada fase remaja pertengahan berdasarkan literatur barat perilaku dan pengalaman seksual sudah menjadi kelaziman. Dari waktu-kewaktu mereka makin dini melakukan aktivitas seksual (rata-rata telah melakukan pada usia 16 tahun). Baru pada masa remaja akhir mereka mulai ada perhatian terhadap rasa kasih sayang sesama manusia, moral, etika, agama, dan mereka mulai memikirkan masalah-masalah dunia. Jelasnya citra tubuh, minat berkencan, dan perilaku seksual pada remaja sangat dipengaruhi oleh perubahan pada masa pubertas, yaitu suatu periode dimana kematangan fisik dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja.
Jika ditinjau dari sisi perkembangan, minat remaja terhadap perilaku seks menurut Hurlock (1980:226) didorong oleh meningkatnya keingintahuan remaja tentang seks. Remaja mencari berbagai macam informasi yang terkait dengan seks melalui bacaan, teman sebaya, atau mengadakan percobaan dengan melakukan masturbasi, bercumbu, atau bersenggama.
Berbagai temuan dari hasil penelitian yang dipaparkan pada pembahasan sebelumnya memberikan gambaran tentang perubahan pola perilaku seks remaja pada saat ini. Terkait dengan hal tersebut Hurlock (1980:229) memberikan gambaran di dunia barat bahwa terjadi perubahan pola heteroseksualitas yang baru di kalangan remaja, sebagai contoh ciuman pada saat kencan pertama saat ini sudah dianggap biasa, padahal di masa lalu hal ini bisa merusak hubungan laki-laki dan perempuan yang baru mulai kenal.
dilakukan dengan rasa cinta. Menurut para remaja saat ini, hubungan seksual yang dilakukan dengan kasih sayang lebih diterima daripada bercumbu hanya sekedar melepas nafsu.
Dalam Teori kepribadian psikoanalisis yang berkembang dari gagasan-gagasan Sigmund Freud ahli antropologi psikologi dipaparkan jelas perkembangan perilaku manusia. Konsep utama tentang kepribadian menurut Freud terdiri dari tiga sistem utama, yaitu : id, ego, dan superego. Secara kasar, id mewakili impuls liar, superego suara hati nurani, dan ego pemikiran rasional memamparkan struktur kepribadian menurut Freud sebagai berikut.
Tabel 3.1. Struktur Kepribadian Menurut Sigmund Freud
ID EGO SUPEREGO
Dikembangkan dari id untuk berurusan dengan dunia luar. Memperoleh energi dari Id. Boot tahu dunia batin dan realitas objektif
Berkembang dari ego untuk memutuskan sebagai lengan
moral kepribadian. Diinternalisasi mewakili
nilai-nilai orangtua. Dibagi ke dalam hati nurani (yang menghukum "salah" perilaku) dan ego ideal (yang ganjaran "benar" perilaku). Seperti id, tidak membedakan antara
Mengikuti prinsip kenyataan dan beroperasi oleh proses sekunder.
ID EGO SUPEREGO antara fantasi dan kenyataan sehingga untuk memenuhi kebutuhan organisme. Harus mengkoordinasikan tuntutan id, superego, dan dunia luar. Bertujuan secara keseluruhan untuk mempertahankan hidup dan melihat bahwa spesies ini direproduksi.
dan untuk melihat orang itu mematuhi striktur moral. hingga bisa dipenuhi tanpa harus memunculkan konflik dengan superego atau dengan dunia di luar diri.
Menghambat pemuasan instintif.
Bersifat Non-rasional
Bersifat rasional Bersifat non-rasional
Sumber : Pustaka, (Abin Syamsyudin 2003: 36)
1. oral (0-18 bulan)
2. anal (18 bulan - 3 1 / 2 tahun) 3. tahap phalik (3 1 / 2 tahun - 6 tahun) 4. latency (6 tahun - pubertas)
5. genital (pubertas - dewasa)
Dari Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku dan kepribadian dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia selalu berkembang seiring bertambahnya usia. Dan ini juga dipengaruhi dari keadaan lingkungan sosial dimana individu tersebut berada. Seperti misalnya seorang anak yang melakukan salah satu tindakan pada tabel diatas itu merupakan efek dari faktor persuasi yang terlibat pergaulan bebas.
3.2. Proses Tahap Awal Mahasiswa Melakukan Pergaulan Bebas
Sesuai karakteristik perkembangan seksual, mahasiswa umumnya mengembangkan perilaku seksual dalam bentuk relasi heteroseksual atau pacaran. Terbentuknya relasi heteroseksual pada mahasiswa dipengaruhi oleh tugas perkembangannya yaitu remaja mulai membentuk hubungan baru dengan lawan jenis (Pangkahila dalam Soetjiningsih, 2004). Perkembangan psikoseksual mahasiswa dan remaja mempengaruhi manusia untuk bergaul dengan bebas. Salah satu awal dari pergaulan bebas ini ternyata berawal dari hubungan pacaran dengan pasangan dan mengakibatkan terjadinya hubungan seks bebas dan timbulnya perilaku-perilaku lainnya seperti Narkoba, kehidupan malam, PSK, serta Perjudian dan mabuk-mabukan.
“Saya melakukan hubungan seks pertama kali dengan pacar waktu SMA,
waktu itu di sekolah ketika jam istirahat. Awalnya memang ada perasaan
takut tapi karna rayuan pacar akhirnya saya gak bisa nolak. Sekarang saya
sudah putus dengan pacar pertama saya dan sekarang lagi jalan sama
pacarku yang ada disini di Medan” (Wawancara dengan informan KN,
2013)
Hal serupa juga dikatakan informan berikut yaitu:
“Saya pertama kali berhubungan seks waktu SMA berlanjut sampaikuliah.
Pertama melakukan ada perasaan takut dan sedih karena perawan saya
hilang tapi lama kelamaan perasaan itu gak ada lagi karena banyak juga
saya liat teman-teman saya yang udah gak perawan, dipikiri kalipun gak
kan balek lagi keperawanan itu kan. Tapi sampai sekarang gak ada yang
tahu kalau saya udah pernah berhubungan intim. Kalau sekarang setelah
kuliah saya semakin sering melakukannya karena saya sudah kost jadi tidak
takut lagi”
(Wawancara dengan informan TN, 2013).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh informan lainnya, berikut ini:
“ Saya melakukan hubungan seks pertama kali ketika masih SMA.
Kebetulan waktu SMA saya kost jadi yang mengawasi kurang walaupun ada
ibu kost namun ibu kost kasi izin membawa kawan cowok asalkan jangan
nginapsampai malam, di situ lah kami melakukannya pertama kali”
(Wawancara dengan informan ST, 2013).