DAMPAK PERILAKU PERGAULAN BEBAS
4.1. Dampak Perilaku Pergaulan Bebas Dan Seks Bebas Menurut Informan Pelaku
Pergaulan bebas yang terjadi dikalangan mahasiswa sekarang sudah menjadi wabah yang setiap saat bisa melahirkan berbagai penyakit fisik dan sosial. Ada beberapa dampak dari perilaku seks bebas bagi mahasiswa. Dampak bukan berarti hanya melihat sisi negatifnya saja terhadap pelaku, melainkan juga melihat apa sisi positifnya yang berupa manfaat bagi pelaku. Berikut akan dijelaskan dampak seks bebas secara positif berupa manfaat bagi pelaku dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Menghilangkan Kejenuhan
Mahasiswa dalam aktivitasnya terkadang selalu mengalami kejenuhan di dalam kesehariannya. Tugas perkuliahan yang menumpuk dan sangat banyak, tekanan dari pacar, pihak pendidik maupun orangtua yang mempengaruhi emosional mahasiswa, dan juga permasalahan keluarga yang berkaitan dengan keuangan dan sebagainya. Tekanan-tekanan ini menimbulkan kejenuhan bagi pelaku selama studinya di perkuliahan. Dengan berbagai alasan-alasan terkadang bisa menimbulkan frustasi bagi pelaku untuk meneruskan perkuliahannya. Berikut wawancara dengan informan :
“bagi ku sangat berarti menjalani hidup seperti ini. Tiap hari ku jalani dengan nyaman menghilangkan stress di pikiranku ini. Awalnya sih hanya diajak teman akibat selalu saja ada permasalahan di dalam keluargaku, dosen, Pacar, dan tugas-tugas yang menumpuk. Stresslahhhh….capek juga. Setelah ikut dengan teman untuk clubbing ke
diskotik kurasakan hal yang baru gitu membuat hilang jenuh dan stress itu. (Wawancara dengan Informan BN, 2013).
Dari keterangan wawancara tersebut, dapat dimengerti bahwa pelaku memiliki permasalahan internal yang ada dalam dirinya berupa tekanan-tekanan selama ini, disebabkan oleh pacar, dosen, orangtua, dan sebagainya yang mengharuskan dirinya untuk keluar dari masalah yang dihadapinya. Namun, peluang untuk keluar dari masalah tersebut ternyata tidak bisa diselesaikan oleh dirinya sendiri sehingga bergantung kepada teman akrabnya yang mengajak dirinya untuk ikut ke pergaulan bebas. Setelah mengalami dan melihat langsung keadaan yang belum pernah di alaminya ternyata membawa manfaat bagi dirinya secara emosional menenangkan dirinya dari kejenuhan yang dialami.
b. Memperoleh banyak Teman
Pergaulan bebas yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa saat ini, juga membawa pengaruh besar terhadap hubungan pertemanan pelaku yang semakin meningkat jumlahnya. Pergaulan bebas secara tidak sadar mempengaruhi perkenalan pelaku kepada teman-teman baru yang sama sekali belum dikenal oleh pelaku. Teman baru tersebut mungkin berasal dari berbagai daerah-daerah lainnya, kota-kota lain, bahkan perkenalan pelaku terhadap teman barunya juga berlatar belakang yang berbeda-beda kehidupannya baik ekonomi, status, budaya, dan sebagainya membawa manfaat kepada pelaku untuk bertukar pendapat, pengalaman hidup. Selain itu juga, hubungan pertemanan yang semakin banyak akan membawa manfaat bagi pelaku apabila telah menyelesaikan perkuliahannya, dapat memperoleh informasi karier atau pekerjaan yang relatif lebih cepat dan diterima daripada yang fokus pada kuliah saja. Hubungan pertemanan yang semakin meningkat ini sangat banyak dampak positifnya sehingga membawa manfaat terhadap pelaku dalam aktivitasnya
dan sering disebut sebagai “mahasiswa gaul” saat ini. Berikut wawancara dengan informan yang dapat dijelaskan berikut ini:
“ikut dengan teman ke clubbing, drugs, dan seks bebas rasanya enak. Aku menyadari setelah aku kayak gini, banyak kawan-kawan baru yang ku kenal . asyikk aja kurasakan…sampe kadang-kadang kawan baru tu cerita pengalamannya dalam masalah, bahkan kesulitan ataupun masalah-masalah yang kualami bisa teratasi karena ada seperti solusi gitu. Pokoknya asyikkk deh…dengan pergaulan bebas seperti ini..” (Wawancara dengan Informan MN, 2013).
c. Tercukupinya Kebutuhan Jasmani dan Rohani
Pergaulan bebas juga membawa manfaat atau dampak positif kepada pelaku terutama dalam hal tercukupinya kebutuhan jasmani dan rohaninya. Kebutuhan jasmani ini berkaitan dengan pakaian, makanan, minuman, perhiasan, perlengkapan kuliah, dan sebagainya yang menunjang kehidupan mahasiswa yang kost di Kota Medan. Sedangkan kebutuhan rohani meliputi kebutuhan kenyamanan, perkenalan, nafsu seks, hiburan, dan sebagainya yang menunjang kehidupan atau aktivitas yang diinginkan oleh pelaku.
Faktor kebutuhan ini sangat penting bagi pelaku saat ini terutama mahasiswa yang kost di Kota Medan. Kita sadari memang biaya hidup (living cost) mahasiswa yang tinggal di Kota sangat berbeda dengan yang berada di kampung halaman atau di Desa. Selain itu juga, mahasiswa yang berada tinggal dengan orangtua juga berbeda dengan pengeluaran mahasiswa yang tinggal tidak bersama orangtua atau kost. Mulai dari sewa kontrakan (kost), biaya SPP, Biaya diktat perkuliahan, ongkos transport, biaya makan, dan kebutuhan lainnya
bagi anak kos tentu saja menjadikan nuansa perbedaan kebutuhan pengeluaran bagi mahasiswa yang berada dekat dengan orangtuanya.
Pengaruh kebutuhan ini berdampak pada orangtua yang membiayai kebutuhan anaknya di Kota Medan. Terkadang hal ini menjadi beban juga bagi orangtua disamping karena kebutuhan hidup yang semakin tinggi saat ini akibat harga-harga barang kebutuhan yang semakin meningkat, orangtua juga dihadapkan pada tanggungan biaya terhadap anak-anaknya yang kuliah di perguruan tinggi di Kota Medan. Akibatnya banyak orangtua yang memiliki penghasilan pas-pasan bahkan kurang untuk keluarganya, tidak mampu menunaikan kebutuhan atau keinginan anaknya yang berstatus mahasiswa di Kota Medan. Hal ini membuat mahasiswa yang tinggal kost di Kota Medan kurang menerima perhatian dan motivasi dari orangtua. Sejalan dengan hal tersebut, mahasiswa juga menjadi tertekan akibat biaya hidup ini yang merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan perkuliahannya.
Namun, tidak semua mahasiswa mengalami hal seperti ini dengan berlatarbelakang karena ekonomi. Sebagian juga mahasiswa mengalami nasib yang berbeda dengan teman-teman lainnya yang memang mampu dalam hal keuangan yang dimilikinya, tetapi tidak bisa mengatur keuangan yang ada kepada hal-hal yang positif yang membawa dampak pada manfaat kuliahnya. Mereka lebih mementingkan kepuasan batin dalam dirinya untuk memperoleh status yang boleh dibilang “gaul” terhadap teman-temannya. Berikut ini beberapa pengakuan informan melalui wawancara:
“Aku sebenarnya menyadari hal ini salah yang kulakukan. Tapi mau gimana lagi, semuanya sudah terlanjur. Aku tak bisa memenuhi biaya hidupku disini di Medan, orangtuaku susah dikampung. Aku gak mau menambah beban mereka di kampong untuk biaya kebutuhanku disini. Aku kasihan sama mereka. Terkadang kalo aku minta belanja di
kampung, aku menangis terlebih dulu itupun karena terpaksa harus menangis baru dikasi. Kalau tidak, aku mana dapat apa-apa. Lagian kami bersaudara banyak, adek-adekku yang masih sekolah juga banyak, kasian mereka. Jadinya ya aku seperti ini terus untuk menutupi kebutuhan ini, walaupun mereka tidak tahu keberadaan ku disini.” (wawancara dengan informan TN, 2013).
“Orangtua??biarin aja disitu. Mereka gak tau kok aku kayak gini. Habis mereka selalu sibuk sihh.., tak pernah mendatangi aku disini di Medan. Aku lebih banyak sendiri disini, bersyukur aku punya pacar saat ini, aku bisa mau apa saja, kalo minta uang sama orangtua memang berapapun ada dikirim, tapi itulah mereka gak ada waktu kadang melihat aku disini. Telpon aja yang sering. Jadi bagiku enak ajalah dengan keadaan seperti ini aku gak kesepian, puas aja.” (Wawancara dengan Informan VS, 2013).
Dari wawancara diatas, penulis melihat bahwa beragam kebutuhan yang diinginkan oleh mahasiswa kost di Kota Medan. Beberapa faktor penyebab mahasiswa terlibat dalam pergaulan bebas semuanya didasarkan pada manfaat atau dampak posisif bagi terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani pelaku.
Selain dampak positif dari pergaulan bebas yang dilakukan oleh mahasiswa kost di Kota Medan, tenyata ada juga dampak negatif yang diterima oleh pelaku yakni mahasiswa kos-kosan di Kota Medan. Berikut ini dampak negatif dari perilaku pergaulan bebas yang dihadapi oleh pelaku.
Berhubungan seks bebas dapat mengakibatkan kehamilan. Kehamilan yang terjadi akibat
seks bebas menjadi beban mental yang luar biasa. Kehamilan yang dianggap “Kecelakaan” ini mengakibatkan kesusahan dan malapetaka bagi pelaku bahkan keturunannya.
b. Penyebaran Penyakit
Penyakit kelamin akan menular melalui pasangan dan bahkan keturunannya.
Penyebarannya melalui seks bebas dengan bergonta-ganti pasangan. Hubungan seks satu kali saja dapat menularkan penyakit bila dilakukan dengan orang yang tertular salah satu penyakit kelamin. Salah satu virus yang bisa ditularkan melalui hubungan seks adalah virus HIV.
c. Menggugurkan Kandungan (aborsi)
Aborsi merupakan tindakan medis yang ilegal dan melanggar hukum. Aborsi mengakibatkan kemandulan bahkan kanker rahim. Menggugurkan kandungan dengan cara aborsi tidak aman, karena dapat mengakibatkan kematian. Banyak kehamilan yang terjadi akibat perilaku seks bebas yang merupakan kehamilan yang tidak diharapkan. Tindakan menggugurkan kandungan (aborsi) dengan tidak berdasarkan alasan medis jelas bertentangan dengan hukum yang berlaku. Dampak lain dari menggugurkan kandungan adalah akan mengganggu kesehatan seperti kerusakan pada rahim, kemandulan, dan lainnya.
d. Menimbulkan rasa ketagihan
Seks bebas akan mengundang rasa ketagihan bagi para pelakunya. Hal ini disebabkan karena orang tersebut mendapatkan kenikmatan untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Timbulnya rasa ketagihan karena ada kepuasan, perasaan bersalah, kekhawatiran terjangkit berbagai penyakit berhahaya dan kekhawatiran mengalami kehamilan.
e. Menciptakan kenangan buruk
Norma-norma yang berlaku di masyarakat menyatakan bahwa seks bebas merupakan perbuatan yang melanggar aturan. Apabila seseorang terbukti telah melakukan seks pranikah atau seks bebas maka secara moral pelaku dihantui rasa bersalah yang berlarut-larut. Keluarga besar pelaku pun turut menanggung malu sehingga menjadi beban mental yang berat.
f. Menimbulkan keresahan sosial
Keresahan sosial timbul karena selain mengakibatkan kehamilan juga bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya, ajaran agama dan kepatutan sosial. Jika terjadi guncangan sosial akibat pelanggaran etika dan moral, maka hal tersebut pasti menimbulkan keresahan sosial. Seks pada hakekatnya merupakan dorongan naluri alamiah tentang kepuasan syahwat. Sedangkan perilaku seks dapat diartikan sebagai suatu perbuatan untuk menyatakan cinta dan menyatukan kehidupan secara intim.
Ada pula yang mengatakan bahwa seks merupakan hadiah untuk memenuhi atau memuaskan hasrat birahi pihak lain. Akan tetapi sebagai manusia yang beragama, berbudaya, beradab dan bermoral, seks merupakan dorongan emosi cinta suci yang dibutuhkan dalam mencapai kepuasan nurani dan memantapkan kelangsungan keturunannya (E.B Surbakti 2009).
Pada masa remaja pengetahuan terhadap bahaya seks bebas sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis. Matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan Seksual. Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan.
Pandangan masyarakat tentang seks bebas dan norma sosial mengalami kemunduran, terlihat dari makin bertambahnya jumlah perilaku seks yang terjadi di kalangan mahasiswa. Hal tersebut memicu dampak-dampak seks bebas seperti PMS, HIV/AIDS dan aborsi.
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan para informan, berikut penuturannya:
“ banyak sih, seks bebas bisa menularkan HIV dan AIDS, trus yang paling jelas saya tidak bisa memberikan keperawanan saya buat suami saya. Seumur hidup pasti ada perasaan berdosa karna apa yang saya lakukan merupakan perbuatan yang dilarang agama. Tapi seandainya saya hamil sih gak masalah karna kalau gak hamil duluan mungkin saya gak akan nikah sama dia soalnya kami satu marga. (Wawancara dengan informan TN, 2011).
Banyak kehamilan yang terjadi akibat perilaku seks bebas tersebut yang merupakan kehamilan yang tidak diharapkan. Sehingga pelaku tersebut bingung akan kehamilan maka mereka lebih memilih untuk menggugurkan kehamilannya karena mereka belum siap untuk menjadi ayah maupun ibu dari bayi yang akan dilahirkannya itu.
“ paling-paling keenakan, kalo sekarang belum ada kurasa dampaknya, sebetulnya banyak kemungkinan kayak menyebabkan HIV dan AIDS tapi itu kalau ganti-ganti pasangan. Tapi kalo seandainya saya hamil trus pacar saya gak mau bertanggungjawab, gak ada pilihan lain kecuali dengan menggugurkannya, walau pun saya tahu itu bisa bikin mati. Tapi itu menjadi pilihan terakhir karna saya gak mau orang tahu atau keluarga tahu kalau saya sedang hamil. Selain itu mungkin kalau udah nikah kita agak malu menasehati anak-anak kita biar gak melakukan hal-hal negatif” (Wawancara dengan informan RD, 2013).
Hal yang sama juga dikatakan oleh informan lainnya, sebagai pelaku seks bebas, berikut ini:
“ ih…takut kalo dibilang bahaya seks bebas kayak AIDS”.Saya gak tau pasti bahayanya cuma yang saya rasakan sekarang berat badan saya semakin berkurang tapi saya tidak tahu pasti itu karna saya berhubungan badan sama dia atau karena stres mikiri semuanya” (Wawancara Dengan Informan KN, 2013).
“ setahu ku seks bebas bisa menyebabkan HIV dan AIDS. Kalau dipikir bahaya dari seks bebas ini banyak sekali, sekarang aja kalau pulang kampung saya selalu merasa jadi perhatian, ada perasaan kalau orangorang udah tahu kalau saya gak perawan, bikin gak nyaman, secara kawan satu kampung kayaknya ada yang tahu kalau saya sering tidur dengan pacar saya, trus waktu aku tidur di rumah pacarku dulu kayaknya ada orang yang lihat” (Wawancara dengan informan ST, 2013).
“ gak tau apa dampaknya kalo sekarang, yang ada ketagihan. Ngeri kalo dibilang bahayanya, makanya kalo berhubungan seks saya selalu waspada, misalnya mengingatkan pacar saya menggunakan alat kontrasepsi, biar aman” (Wawancara dengan informan VS, 2013).
Pola pikir dan perhitungan pria terhadap hubungan seks, cenderung tidak didasarkan pada penilaian baik buruknya pribadi dan perilaku pasangannya secara keseluruhan, atau jaminan kesetiaan hidup bersama dalam perspektif masa depan, melainkan diukur semata-mata karena selera tertarik dari segi fisik yang indah.
“ sejauh ini belum ada saya rasakan pengaruhnya. kalau sering ganti-ganti pasangan memang bisa menularkan HIV dan AIDS makanya harus pakai kondom sebelum berhubungan intim. Jujur kalau pacar saya hamil, saya akan suruh dia menggugurkannya karna saya belum siap menikah apalagi harus punya anak. Memang banyak efeknya sama dia tapi mau gimana lagi, saya belum siap”(Wawancara dengan informan AS, 2013).
Dari hasil wawancara tersebut maka peneliti menginterpretasikan bahwa dampak perilaku seks bebas yaitu mahasiswa pelaku seks bebas tersebut memandang seks bebas sebagai perilaku normal atau alami, permisif atau memaklumi perilaku seks bebas tersebut sehingga menganggap itu biasa. Mereka melakukan tindakan amoral namun menganggap perilaku tersebut tidak menyimpang sehingga menyebabkan disorientasi nilai atau nilai-nilai moral yang terabaikan. Padahal pertimbangan- pertimbangan moral semacam ini diperlukan agar keputusan-keputusan yang diambil tidak salah langkah dan akhirnya tersesat.
g. Menurunnya Prestasi Kuliah.
Untuk beberapa orang pelaku seks bebas mempengaruhi nilai mereka jika dilihat dari IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang rata-rata dibawah 3,00 walaupun bagi beberapa orang lainnya tidak banyak mempengaruhi. Hal ini disebabkan karena mereka memilih menghabiskan waktu luang dengan pacarnya dengan alokasi waktu yang berbeda-beda, ada yang satu jam, dua jam bahkan beberapa hari bersama yang tidak berkaitan dengan kampus bahkan bolos kuliah. Mereka hanya terfokus untuk bersama pacar dan hanya sedikit hasrat untuk memikirkan perkuliahannya lagi.
Pada umumnya mereka menjadi malas untuk kuliah karena mereka lebih memikirkan pacar sehingga keinginan untuk belajar menjadi keinginan yang sifatnya sekunder sementara
berduaan dengan pacar menjadi keinginan primer mereka. Realitas free sex dikalangan mahasiswa juga telah menodai fitrah mahasiswa sebagai agent of change and agent of control.