• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi orang tua terhadap kualitas pendidikan SD islam terpadu Nida El-adabi parunpanjang bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Persepsi orang tua terhadap kualitas pendidikan SD islam terpadu Nida El-adabi parunpanjang bogor"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

Siti Latifah, Persepsi Orang tua Terhadap Kualitas Pendidikan SD Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang Bogor, Jurusan Kependidikan Islam program studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta 2011.

Mendapatkan pendidikan yang berkualitas merupakan hak setiap anak, akan tetapi dalam mencapai harapan itu orang tualah yang menentukan pilihan. Karena untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas sekarang ini bukanlah barang murah, orang tua harus mengeluarkan biaya pendidikan yang cukup besar untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena tidak sedikit sekolah yang memiliki kualitas pendidikannya baik menetapkan biaya pendidikan yang mahal. Oleh karena itu hal ini sangat mempengaruhi pola pikir orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anaknya.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan yang ada di SD Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang Bogor.

Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif kualitatif yaitu berusaha untuk menyajikan fakta-fakta atau kenyataan yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dengan cara menanyakan langsung ke beberapa orang tua siswa SD Islam Terpadu Nida El-Adabi dilengkapi pula dengan penjelasan dari pihak sekolah.

Kemudian hasil penelitian disajikan dengan cara analisis kualitatif, untuk mengolah data yang diperoleh dari wawancara orang tua siswa dengan hasil wawancara pihak sekolah yang disertai dengan bukti dokumentasi.

Berdasarkan pengolahan dan analisis data diperoleh hasil bahwa berdasarkan persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan SD Islam Terpadu Nida El-Adabi yaitu cukup baik. Hal itu dinyatakan oleh beberapa orang tua siswa bahwa kualitas input, proses dan output SD Islam Terpadu Nida El-Adabi sudah cukup baik dan memuaskan. Meskipun diakui masih adanya kekurangan yang dirasakan siswa atau orang tua siswa khususnya sarana penunjang kegiatan belajar di kelas.

Kesimpulannya persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan SD Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang Bogor sudah cukup baik.

Saran yang disampaikan orang tua dan digunakan dalam skripsi ini yaitu pengadaan sarana dan prasarana sekolah.

(2)

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP KUALITAS

PENDIDIKAN SD ISLAM TERPADU NIDA EL-ADABI

PARUNGPANJANG BOGOR

SKRIPSI

Disusun Oleh:

Siti Latifah 106018200786

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

PENDIDIKAN SD ISLAM TERPADU NIDA EL-ADABI

PARUNGPANJANG BOGOR

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

Siti Latifah 106018200786

dibawah bimbingan

Drs.H. Mudjahid Ak, M.Sc NIP 19470714 196510 1 001

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

(4)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “Persepsi Orang tua Terhadap Kualitas Pendidikan

SDIT Nida El-Adabi Parungpanjang-Bogor,” telah diujikan pada sidang munaqosah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada hari kamis, tanggal 05 Mei 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) program strata satu (S1) pada jurusan KI-Manajemen Pendidikan.

Jakarta, 05 Mei 2011

Panitia Ujian Munaqosah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan KI-MP) Tanggal Tanda Tangan

Ketua

Rusdy Zakaria.M.Ed, M.Phil

NIP.19560530 198503 1 002

Sekretaris

Drs.H. Mua’rif SAM, M.Pd

NIP. 19650717 199403 1 005

Penguji I

Prof.Dr.Abudin Nata, MA

NIP. 19540802 198503 1 002

Penguji II

Fauzan, MA

NIP. 19761107 200701 1 013

Mengetahui

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof.Dede Rosyada, MA

(5)
(6)
(7)

i

Siti Latifah, Persepsi Orang tua Terhadap Kualitas Pendidikan SD Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang Bogor, Jurusan Kependidikan Islam program studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta 2011.

Mendapatkan pendidikan yang berkualitas merupakan hak setiap anak, akan tetapi dalam mencapai harapan itu orang tualah yang menentukan pilihan. Karena untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas sekarang ini bukanlah barang murah, orang tua harus mengeluarkan biaya pendidikan yang cukup besar untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena tidak sedikit sekolah yang memiliki kualitas pendidikannya baik menetapkan biaya pendidikan yang mahal. Oleh karena itu hal ini sangat mempengaruhi pola pikir orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anaknya.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan yang ada di SD Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang Bogor.

Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif kualitatif yaitu berusaha untuk menyajikan fakta-fakta atau kenyataan yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dengan cara menanyakan langsung ke beberapa orang tua siswa SD Islam Terpadu Nida El-Adabi dilengkapi pula dengan penjelasan dari pihak sekolah.

Kemudian hasil penelitian disajikan dengan cara analisis kualitatif, untuk mengolah data yang diperoleh dari wawancara orang tua siswa dengan hasil wawancara pihak sekolah yang disertai dengan bukti dokumentasi.

Berdasarkan pengolahan dan analisis data diperoleh hasil bahwa berdasarkan persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan SD Islam Terpadu Nida El-Adabi yaitu cukup baik. Hal itu dinyatakan oleh beberapa orang tua siswa bahwa kualitas input, proses dan output SD Islam Terpadu Nida El-Adabi sudah cukup baik dan memuaskan. Meskipun diakui masih adanya kekurangan yang dirasakan siswa atau orang tua siswa khususnya sarana penunjang kegiatan belajar di kelas.

Kesimpulannya persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan SD Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang Bogor sudah cukup baik.

Saran yang disampaikan orang tua dan digunakan dalam skripsi ini yaitu pengadaan sarana dan prasarana sekolah.

(8)

ii

Kata Pengantar

Alhamdulillahirobbil „Alamiin, atas rahmat yang tidak terhingga, atas segala nikmat yang telah diberikan dengan tiada hentinya, dan atas izin-Nya untuk meneguk segala kenikmatan, dan atas izin-Nya pula akhirnya dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan kecerahan bagi kehidupan manusia.

Rasa terima kasih yang tidak terhingga dan yang mendalam penulis haturkan atas bantuan, bimbingan, serta dorongan kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Bapak Prof.Dr. Dede Rosyada, MA.

2. Ketua jurusan Kependidikan Islam sekaligus dosen pembimbing akademik kami Bapak Drs. Rusydi Zakaria, M.Ed, M.Phil, serta ketua prodi Manajemen Pendidikan Bapak Drs. Mua’rif SAM, M.Pd.

3. Bapak Drs. Mudjahid AK, M.Sc yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama penulis menyelesaikan tugas akhir skripsi ini.

4. Untuk kedua orang tua ku mama dan abah,yang tidak putus-putusnya

mendo’akan ananda, memberikan dukungan baik moril maupun materiil

untuk lebih maju dan berkarya lagi.

5. Terkhusus untuk my old sister “teh Eroh” terima kasih atas segala dukungannya terutama dukungan baik sarana bagi penulis maupun materiil yang tidak bisa di jumlah berapa banyaknya. Dan umumnya untuk seluruh keluarga dan saudara-saudaraku terimakasih atas do’anya.

6. Untuk kepala sekolah, TU, Dewan guru dan para orang tua SDIT NIDA EL-ADABI terima kasih atas sambutan positifnya kepada penulis, bantuan dan partisipasinya dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

(9)

iii mimpi, get our dreams!

9. Untuk sahabat-sahabat ku “VV, Reta, Uly, I’ah” terima kasih atas semangat yang kalian berikan untuk penulis dalam penyusunan skripsi ini semoga kita menjadi orang-orang yang sukses.Amiiiin

10.Untuk photo copy “Diaz” pesanggrahan terima kasih banyak atas

pelayanannya semoga usaha kalian dapat terus maju. Amiiiin

11.Untuk teman-teman ku di ikatan remaja mesjid Al-Makmur terima kasih atas dukungan dan do’anya.

Hanya Allah AWT yang mampu membalas budi baik saudara semua.

Jakarta 04 April 2011

(10)

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

1. Identifikasi Masalah ... 4

2. Pembatasan Masalah ... 4

3. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Sistematika Penelitian ... 5

BAB II PERSEPSI TENTANG PENDIDIKAN YANG BERMUTU A. Persepsi ... 7

1. Pengertian Persepsi ... 7

2. Faktor-faktor Persepsi ... 10

B. Kualitas Pendidikan ... 12

1. Pengertian Kualitas Pendidikan ... 12

2. Dasar-dasar Program Mutu/Kualitas Pendidikan ... 16

3. Prinsip-prinsip Kualitas/Mutu Pendidikan ... 17

4. Faktor-faktor Kualitas/Mutu Pendidikan ... 20

5. Ciri-ciri Sekolah Dasar yang Berkualitas ... 23

(11)

v

C. Teknik Pengumpulan Data ... 39 D. Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum SDIT Nida El-Adabi ... 43 B. Persepsi Orang Tua tentang Kualitas Pendidikan ... 48

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 64 B. Saran-saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67

(12)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pelanggan tentang kualitas

Tabel 2: Jadwal penelitian Tabel 3: Kisi-kisi wawancara

Tabel 4: Keadaan sarana dan prasarana Tabel 5: Keadaan guru

Tabel 6: Keadaan siswa Tabel 7: Peralatan sekolah

(13)
(14)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Hasil Wawancara orang tua siswa Lampiran 2: Hasil wawancara kepala sekolah Lampiran 3: Hasil wawancara guru

Lamipran 4: Hasil wawancara kepala Tata usaha Lampiran 5: Keadaan sarana dan Prasarana Lampiran 6: Keadaan guru

Lampiran 7: Keadaan staf dan karyawan Lampiran 8: Keadaan siswa

Lampiran 9: Keadaan peralatan sekolah Lampiran 10: Tata tertib sekolah

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dan penting dalam pelaksanaan pembangunan suatu negara. Hal itu terlihat dari usaha pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang ke depannya diharapkan muncul generasi-generasi yang berkualitas. Sebagaimana dituangkan dalam tujuan dan fungsi pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 No.20 tahun 2003 yang berbunyi:

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung

jawab”.1

1

(16)

2

Tujuan dari undang-undang pendidikan diatas sejalan dengan hadist Nabi Muhammad saw yang menggambarkan variasi muatan materi bidang pendidikan dibawah ini dapat diberi makna sebagai pengakuan Islam terhadap adanya variasi keragaman potensi yang dimiliki peserta didik :

“Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberi nama baik mendidik sopan santun serta mengeajari menulis, berenang, memanah, member makan dengan baik dan mengkawinkannya jika anak telah mencapai dewasa.”2

Hakikat pendidikan menurut Ngalim Purwanto dalam bukunya “Ilmu Teoritis dan Praktis” berpendapat bahwa pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak untuk memimpin perkembangan rohaniyah ke arah kedewasaan.3

Selanjutnya dalam buku Pengantar Dasar-dasar Pendidikan pengertian pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta keterampilan-keterampilan).4

Dari dua definisi yang dikatakan oleh para ahli pendidikan tersebut, maka jalan yang terbaik dalam mencapai kedewasaan anak adalah dengan melakukan proses pendidikan baik di lembaga formal, non formal maupun informal. Meskipun pada dasarnya masyarakat lebih mempercayakan proses pendidikan tersebut ke lembaga pendidikan formal yaitu sekolah.

2

H. Ahmad Syar’i, M.Pd, Filsafat Pendidikan Islam, 2001, pustaka Firdaus, Jakarta. Cet-2. H. 47

3

Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosydakarya, 1985), Edisi ke-1, h. 11

4

(17)

Kebutuhan masyarakat akan suatu pendidikan baik formal, informal maupun non formal akan semakin meningkat, karena untuk sekarang ini tidak hanya sekedar kemampuan saja yang dapat diandalkan akan tetapi dari segi akademik pun menjadi pertimbangan.

Pendidikan sekarang ini menjadi tema pembicaraan yang sedang hangat dibicarakan di tengah masyarakat. Isu-isu pendidikan yang berkembang antara lain adalah mulai dari biaya pendidikan, kualitas pendidikan, evaluasi pendidikan, dan perubahan kurikulum, dll.

Berangkat dari beberapa isu-isu di atas, ada beberapa hal menjadi dasar yang mempengaruhi pola pemikiran para orang tua dalam memasukkan anak-anak mereka ke dalam sebuah lembaga pendidikan yaitu sekolah. Banyak para orangtua di masyarakat mengupayakan anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan yang layak dan berkualitas, meskipun dengan berbagai konsekwensi yang harus dihadapi. Tidak sedikit para orang tua menyekolahkkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan bermutu tinggi, akan tetapi mereka harus mengeluarkan biaya pendidikan yang mahal. Tidak sedikit pula para orang tua menyekolahkan anak mereka ke lembaga yang pendidikan biasa-biasa saja dengan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk pendidikan anak mereka, asalkan anak mereka dapat memperoleh pendidikan formal yang layak.

Kedua kenyataan di atas merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri, karena semua itu merupakan pilihan para orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka, agar anak-anak mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan.

(18)

4

“ajarilah anak-anakmu sekalian karena sesungguhnya mereka diciptakan

untuk masanya bukan di masamu (orang tua)”.5

Begitupun fenomena yang terjadi di tengah masyarakat khususnya yang ada di desa Kabasiran Parungpanjang Bogor. Banyak Sekolah Dasar bermunculan yang melakukan berbagai penawaran dalam rangka untuk menarik perhatian para orang tua. Ada sekolah yang menawarkan biaya pendidikan yang terjangkau bahkan sampai dengan menggratiskan uang pangkal sekolah. Adapula sekolah yang lebih mengutamakan kualitas pendidikan baik intrakurikuler maupun kegiatan ekstrakurikuler, meskipun dengan pembelajaran yang relativ mahal dibandingkan dengan sekolah dasar lainnya. Semua itu dilakukan untuk menarik perhatian para orang tua yang ingin anak mereka mendapatkan pendidikan layak untuk bekalnya kemudian.

Jika melihat kondisi ekonomi sekarang di desa Kabasiran, secara tidak langsung layaknya para orang tua akan memilih sekolah yang biaya pendidikannya terjangkau. Kualitas pendidikan menjadi prioritas yang kedua dalam pertimbangan orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Bagi sekolah yang menawarkan pendidikan berkualitas tetapi mahal mungkin akan kalah dalam persaingan ini.

Akan tetapi lain halnya dengan kondisi yang dialami oleh SDIT Nida El-Adabi, meskipun sekolah ini baru beberapa tahun berdiri dan baru meluluskan 2 angkatan. Akan tetapi sekolah ini sudah memiliki nama di mata masyarakat desa Kabasiran khususnya dan masyarakat Parungpanjang umumnya. Salah satu contohnya saja dari segi prestasi yang pernah diraih yaitu menjuarai lomba OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten dan bahkan menjadi perwakilan Kabupaten ke tingkat Provinsi.6

55

H. Ahmad Syar’I M.Pd, Filsafat Pendidikan Islam … h. 48

6

(19)

SD Islam Terpadu Nida El-Adabi merupakan salah satu sekolah yang menetapkan biaya pendidikan yang relativ tinggi jika dibadingkan dengan SD-SD umum lainnya. Akan tetapi sekolah ini tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah umum lainnya yang biayanya lebih rendah dari SD Islam Terpadu Nida-El-Adabi.

Hal ini akan menjadi sesuatu yang berbeda mengingat latar belakang pendapatan masyarakat khususnya Kecamatan Parungpanjang, yakni menengah kebawah. Akan tetapi mereka tidak ragu untuk menyekolahkan anak mereka ke sekolah ini. Tidak lain semua ini adalah merupakan usaha dari SD Islam Terpadu Nida El-Adabi dalam memasarkan produknya kepada masyarakat Parungpanjag, sehingga masyarakat merasa yakin untuk menyekolahkan anaknya di SD Islam Terpadu Nida El-Adabi. Hal ini karena masyarakat sudah menganggap pendidikan sebagai nilai investasi masa depan, sehingga membuat masyarakat desa Kabasiran lebih menjadi lebih cerdas.

Sejauh ini masih saja ada orang tua siswa yang merasa kurang dengan hasil yang diperoleh anaka mereka dibandingkan dengan apa yang sudah dikeluarkan. Akan tetapi banyak masyarakat luar (bukan orang tua siswa) yang menganggap kualitas pendidikan yang ada di SDIT Nida El-Adabi sudah baik. Berarti ada ketidak seimbangan persepsi antara orang tua siswa dengan masyarakat luar. Dari latar belakang dan kenyataan yang terjadi dimasyarakat maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Persepsi Orang tua Terhadap Kualitas Pendidikan SDIT Nida El-Adabi Parungpanjang-Bogor”.

B.Identifikasi Masalah

1. Bagaimana Strategi pemasaran yang dilakukan oleh SDIT Nida El-Adabi. 2. Bagaimana persepsi orangtua terhadap kualitas pendidikan yang ada di

SDIT Nida El-Adabi .

(20)

6

4. Apakah latar belakang ekonomi orang tua siswa dapat mempengaruhi kualitas pendidikan yang dimiliki oleh SDIT Nida El-Adabi.

C.Pembatasan Masalah

Agar tidak meluasnya pembahasan maka berdasarkan identifikasi masalah di atas penulis akan membatasi masalah pada persepsi orang tua terhadap kualitas pendidikan dengan latar belakang ekonomi orang tua siswa SDIT Nida El-Adabi Parungpanjang- Bogor.

D.Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana persepsi orang tua terhadap kualitas pendidikan di SDIT Nida El-Adabi Parungpanjang - Bogor.

E.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai persepsi orang tua tentang

kualitas pendidikan Sekolah Dasar Islam Terpadu Nida El-Adabi Parungpanjang-Bogor.

Adapun hasil penelitian tentang persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan SDIT Nida El-Adabi ini diharapkan dapat memberikan sejumlah manfaat kegunaan antara lain:

1. Penelitian ini diharapkan dapatkan memperkaya khasanah kepustakaan pendidikan, dan menjadi masukkan orang tua khususnya mengenai kualitas pendidikan Sekolah Dasar yang ada di Desa Kabasiran serta menjadi bahan masukkan bagi mereka yang berminat untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini dengan hasil penelitian lain.

(21)

D. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini penulis susun dalam bentuk lima bab dan tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab pembahasan dengan sistematika penulisan:

Bab I Pendahuluan, yang didalamnya meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, manafaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II Persepsi Tentang Pendidikan Yang Berkualitas, yang didalamnya membahas tentang pengertian Persepsi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi, pengertian kualitas pendidikan, dasar-dasar program kualitas/mutu pendidikan, factor-faktor yang mempengaruhi kualitas/mutu pendidikan. ciri-ciri sekolah yang berkualitas/bermutu, upaya dalam meningkatkan kualitas/mutu pendidikan.

Bab III Metodologi Penelitian yang didalamnya meliputi, waktu dan tempat penelitian, metode penelitian jenis data dan penentuan sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

Bab IV Hasil Penelitian, pada bab ini akan membahas tentang gambaran tentang profil SDIT Nida El-Adabi, dan persepsi orang tua tentang kualitas pendidikan yang ada di SDIT Nida El-Adabi.

(22)

8

BAB II

PERSEPSI TENTANG PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS

A. Persepsi

1. Pengertian Persepsi

Dalam kamus lengkap Psikologi “persepsi diartikan sebagai proses mengetahui

atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera”.1

Menurut Irwanto, dkk, dalam bukunya Psikologi Umum, bahwa “persepsi

adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di dalam otak”.2

Sementara itu Kata “persepsi dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.”3

1

James P. Chaplin, kamus lengkap Psikologi (Jakarta, PT. Raja Grafindo, 2006), Ed. I hal. 358

2

Irwanto, dkk, Psikologi Umum, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 37

3

(23)

Sedangkan Menurut Bimo Walgito bahwa persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi.4

Selanjutnya Sarlito W. Sarwono, “persepsi adalah kemampuan untuk membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan, dan sebagainya itu disebut

sebagai kemampuan untuk mengorganisasikan pengamatan.”5

Lebih jauh Jalaluddin Rakhmat menyatakan bahwa “persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh

dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.”6

Alisuf Sabri, dalam bukunya Psikologi umum dan Perkembangan, bahwa “persepsi adalah proses dimana individu dapat mengenali objektif dengan menggunakan alat-alat indera.”7

Sedangkan menurut Abdul Rahman shaleh dan Muhbib Abdul Wahab dalam bukunya Psikologi suatu pengantar dalam perspektif Islam ”persepsi merupakan proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari disekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri.8

Selanjutnya Rita L. Atkinson, dkk mengartikan persepsi dalam bukunya Pengantar Psikologi (yang tela diterjemahkan) adalah “bagaimana kita

4

Bimo Walgito, Pengantar Psikolgi Umum, (Yogyakarta:ANDI, 2004), Ed. Ke-4, h. 87-88

5

Sarlito W. Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996), cet. ke-7, h. 39

6

Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004), ed. Revisi, cet. ke-2, h. 51

7

M. Alisuf Sabri, Psikologi umum dan Perkembangan, (Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya, 1993), h.45

8

(24)

10

mengintegrasikan sensasi ke dalam percept itu untuk mengenali dunia (percept adalah hasil dari proses perceptual.”9

Kemudian menurut Abrahah H. maslow dalam bukunya Motivation and Personality menerjemahkan persepsi sebagai berikut:

“stereotyping is a concept that can apply not only to the social psychology of prejudice, but also to the basic process of perceiving, perceiving may be something other than the absorption or registration of the intrinsic nature of the real event. It is more often classifying, ticketing, or labeling of the experience rather than an examination of it, and ought therefore to be called

by a name other than true perceiving.”10

Persepsi juga sesungguhnya telah dijelaskan dalam Al-qur’an , dalam bahasa

Al-Qur’an beberapa proses dan fungsi persepsi dimulai dari proses penciptaan.

Dalam QS. Al-mukminun ayat 12-14 disebutkan proses penciptaan manusia dilengkapi dengan penciptaan fungsi-fungsi pendengaran dan penglihatan.

12

13

14

Dalam ayat ini tidak disebutkan telinga dan mata, tetapi sebuah fungsi. Kedua fungsi vital bagi manusia dan disebutkan selalu dalam keadaan berpasangan. Beberapa ayat lain juga mengungkapkan hal yang sama, antara lain:11

9

Rita L. Atkinson, dkk, Pengantar Psikologi, (Interaksara) ed.I, jil. I, h. 276-277

10

Abrahahm H. Maslow, Motivation and Personality, (New york:Longman, 1970), third edition, h. 198

11

(25)

1. Persepsi penginderaan fisik/non fisik (Fushilat:53)

53

2. Isytiflaf, pengetahuan peristiwa yang berada jauh dari jangkauan (QS. Yusuf:94)

94

3. Kasyf

Dari beberapa definisi tentang persepsi di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa persepsi adalah suatu proses penerimaan tanggapan yang dilakukan oleh beberapa fungsi penginderaan manusia (mata dan telinga) sehingga dari proses tersebut dapat berfungsi sebagai jalan untuk mengenali suatu objek.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Sementara itu menurut Bimo Walgito, Faktor-faktor yang berperan dalam persepsi sebagai berikut:12

1. Objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.

2. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf, alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima

12

(26)

12

reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran . sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.

3. Perhatian, untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.

Selain itu menurut Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi, antara lain:13

a. Perhatian yang selektif

Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali rangsang dari lingkungannya. Meskipun demikian ia tidak harus menanggapi semua rangsangan yang diterima, untuk itu individunya memusatkan perhatiannya pada rangsang-rangsang tertentu saja.

b. Ciri-ciri rangsang

Rangsang yang bergerak diantara rangsang yang diam akan lebih menarik perhatian.

c. Nilai dan kebutuhan individu

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari golongan ekonomi rendah melihat koin lebih besar dari pada anak-anak orang kaya.

d. Pengalaman dahulu

Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsi dunianya.

Dalam ruang lingkup pembahasan ini tentang persepsi terhadap kualitas pendidikan, berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pelanggan berdasarkan waktu sebelum, pada saat, dan sesudah membeli suatu produk, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1

13

(27)

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pelanggan tentang kualitas14

Tabel 1

Sebelum membeli produk Saat membeli produk Sesudah membeli produk

Image (citra) dan nama merek

Jika dianalogikan tabel diatas dalam dunia pendidikan, bahwasanya faktor yang mempengaruhi persepsi pelanggan (orang tua) tentang memandang kualitas suatu adalah dikategorikan ke dalam tiga aspek ini yaitu faktor sebelum membeli, biasanya orang tua akan mencari sekolah yang memang pencitraan namanya baik, sebelumnya sudah merasakan hasil dari pembelajaran, masukan dari orang lain, tempat atau fasilitas sekolah tersebut, transparan dalam hal prestasi siswanya kepada masyarakat dan tentunya biaya yang akan ditawarkan.

Kemudian faktor yang mempengaruhi kedua yaitu pada saat menggunakan jasa pendidikan biasanya para orang tua akan mempersepsikan kualitas suatu pendidikan yaitu dengan melihat kinerja para tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, keluhan selama dalam kegiatan belajar mengajar, keadaan sesungguhnya di lapangan, tanggap terhadap kesalahan dan langsung

14

(28)

14

memperbaikinya, program kegiatan yang mendukung siswa, dan konsisten dalam pembiayaan.

Dalam faktor yang terakhir yaitu ketika sudah menggunakan jasa pendidkan sekolah, orang tua akan menilai suatu sekolah berkualitas ketika harapan yang diinginkan sesuai dengan tujuan, menerima masukan dari masyarakat, menunjukkan performan melalui prestasi siswa dan tentunya diterima di masyarakat.

B. KUALITAS PENDIDIKAN

1. Pengertian Kualitas Pendidikan

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata kualitas/mutu berarti ukuran baik buruknya suatu benda, kadar, taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan dan sebagainya).15

Selanjutnya kata mutu dalam buku Sudarwan Danim, mengandung makna derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang maupun jasa.16Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu bukanlah benda magis atau sesuatu yang rumit. Mutu didasarkan pada akal sehat.17

Dalam bukunya Dorothe Wahyu Ariani, mutu adalah keseluruhan ciri atau karakteristik produk atau jasa dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Suatu produk atau jasa dikatakan bermutu mempunyai nilai subyektifitas yang tinggi antara satu konsumen dengan konsumen lain atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mutu produk atau jasa itu akan dapat diwujudkan bila orientasi seluruh kegiatan perusahaan atau organisasi tersebut berorientasi pada kepuasan pelanggan (custumer satisfaction).18

15

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, … h. 467

16

Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Menuju Organisasi Sekolah Efektif, (Jakarta:Bumi Aksara, 2008), cet.3, h. 53

17

Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip perumusan dan tata langkah penerapan, 2007, (Yogyakarta:Pustaka Belajar), cet.4, hal. 75

18

(29)

Ditambahkan kembali dalam bukunya M. Nur Nasution: 2005 tentang Manajemen Mutu terpadu mengartikan mutu ke dalam beberapa elemen sebagai berikut:19

a. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. b. Kualitas mencakup produk, tenaga kerja, proses, dan lingkungan

c. Kualitas merupakan saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang.

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada masukan maupun keluaran (hasilnya). Artinya mutu pendidikan mengacu pada input (siswa, tenaga pendidik, pembiayaan, kebijakan progarm) yang kemudian diproses dalam kegiatan belajar mengajar untuk mendapatkan output yang baik.

Kualitas atau mutu pada umumnya adalah gambaran dan karakteristik menyuluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat.

Pengertian kualitas atau mutu dapat dilihat juga dari konsep secara absolute dan relativ (Edward dan Sallis, 1993). Dalam konsep absolut sesuatu (barang) disebut berkualitas bila memenuhi standar tinggi atau sempurna. Artinya, barang tersebut sudah tidak ada yang melebihi. Bila diterapkan dalam dunia pendidikan konsep kualitas absolut ini bersifat elitis karena hanya sedikit lembaga pendidikan yang mampu menawarkan kualitas tertinggi kepada peserta didik dan hanya sedikit siswa yang akan mampu membayarnya. Sedangkan, dalam konsep relativ, kualitas berarti memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sesuai dengan tujuan (fit for their purpose). Edwad dan Sallis (1993) dalam Nurkolis, mengemukakan kualitas dalam konsep relativ berhubungan dengan produsen, maka kualitas berarti sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pelanggan.

Dalam konteks pendidikan, kualitas yang dimaksudkan adalah dalam konsep relativ, terutama berhubungan dengan kepuasan pelanggan. pelanggan

19

(30)

16

pendidikan aa dua aspek, yaitu palanggan internal dan eksternal (Nurkholis, 1997). Pendidikan berkualitas apabila:

a) Pelanggan internal (kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah) berkembang baik fisik maupun psikis. Secara fisik antara lain mendapatkan imbalan finansial. Sedangkan secara psikis adalah bila mereka diberi kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan, bakat dan kreatifitasnya.

b) Pelanggan eksternal:

1. Eksternal primer (para siswa): menjadi pembelajaran sepanjang hayat, komunikator yang baik dalam bahasa nasional maupun internasional, punya keterampilan teknologi untuk lapangan kerja dan kehidupan sehari-hari, integritas pribadi, pemecahan masalah dan penciptaan pengetahuan, menjadi warga Negara yang bertanggungjawab (Phillip Hallinger, 1998, dalam Nurkholis). Para siswa menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab akan hidupnya.

2. Eksternal sekunder (orang tua, para pemimpin pemerintah dan perusahaan); para lulusan dapat memenuhi harapan orang tua, pemerintah dan pemimpin perusahaan dalam hal menjalankan tugas-tugas dan pekerjaan yang diberikan.

3. Eksternal tersier (pasar kerja dan masyarakat luas); para lulusan memiliki kompetensi dalam dunia kerja dan dalam pengembangan masyarakat sehingga mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

Berbicara mengenai pelanggan ada beberapa unsur penting dalam kualitas yang ditetapkan pelanggan, yaitu sebagai berikut.

 Pelanggan harus merupakan prioritas utama organisasi

 Pelanggan yang dapat diandalkan merupakan pelanggan yang paling

penting, yaitu pelanggan yang membeli berkali-kali.

 Kepuasan pelanggan dijamin dengan menghasilkan produk berkualitas

(31)

Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa suatu lembaga dapat dikatakan bermutu apabila lembaga tersebut mampu memenuhi harapan-harapan pelanggannya. Dalam hal ini yang termasuk ke dalam kategori pelanggan khususnya lembaga pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh greenwood sebagai berikut:20

1. Siswa-siswa yang memperoleh pelajaran.

2. Orang tua siswa yang membayar baik langsung maupun tidak langsung untuk biaya pendidikan anak-anaknya.

3. Pendidikan lanjut atau institusi pendidikan tempat siswa melanjutkan studi.

4. Para pemakai tenaga kerja yang perlu untuk merekrut staf terampil, memiliki keahlian dan berpendidikan sesuai dengan kebutuhan.

5. Negara yang memerlukan pegawai terdidik dengan baik.

Seperti dikutif dalam bukunya Abdul Rahman Shaleh (2006:250) bahwa salah satu faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak merata adalah peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini pada umunya lebih banyak bersifat dukungan input (dana), bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas).21

2. Dasar-Dasar Program Mutu Pendidikan

Dasar-dasar program Mutu Pendidikan antara lain:

1. Komitmen pada perubahan, pemeimpin atau kelompok yang ingin menerapkan program mutu harus memiliki komitmen atau tekad untuk berubah.

2. Pemahaman yang jelas tentang kondis yang ada, banyak kegagalan dalam melaksanakan perubahan karena melakukan sesuatu sebelum sesuatu itu jelas.

20

Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan…, h. 270

21

(32)

18

3. Mempunyai visi yang jelas terhadap masa depan, hendaknya perubahan yang akan dilakukan berdasarkan visi tentang perkembangan, tantangan, kebutuhan, masalah, dan peluang yang akan dihadapi pada masa yang akan datang .

4. Mempunyai rencana yang jelas, mengacu pada visi, sebuah tim menyusun rencana dengan jelas. Rencana menjadi pegangan dalam proses pelaksanaan program mutu.22

3. Prinsip-Prinsip Mutu/Kualitas

Di bawah ini 14 perkara yang menggambarkan apa yang dibutuhkan sebuah kegiatan bisnis untuk mengembangkan budaya mutu yang dikembangkan oleh Dr. W. Edward Deming, antara lain: 23

1. Menciptakan konsistensi tujuan. Menciptakan konsistensi tujuan untuk memperbaiki layanan dan siswa, dimaksudkan untuk menjadikan sekolah sebagai sekolah yang kompetitif dan berkelas dunia.

2. Mengadopsi mutu total. Pendidikan berada dalam lingkungan yang benar-benar kompetitif dan hal tersebut dipandang sebagai salah satu alasan mengapa Amerika kalah dalam kompetitifnya.

3. Mengurangi kebutuhan pengujian. Mengurangi kebutuhan pengujian dan inpeksi yang berbasis produksi massal dilakukan dengan membangun mutu dalam layanan pendidikan.

4. Menilai bisnis sekolah dengan cara baru. Nilailah bisnis sekolah dengan meminimalkan biaya total pendidikan. Pandanglah sekolah sebagai pemasok siswa dan kelas satu sampai kelas-kelas selanjutnya. Bekerjasama dengan para orang tua siswa dan berbagai lembaga untuk memperbaiki mutu siswa menjadi bagian sistem.

22

Nana Syaodih Sukamadinata dkk, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah

Menengah:konsep,prinsip, dan instrumen, (Bandung: Refika Aditama, 2006), cet. Ke-6, h. 8-9

23

Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip perumusan dan tata

(33)

5. Memperbaiki mutu dan produktivitas serta mengurangi biaya. Memperbaiki mutu dan produktivitas, sehingga mengurangi biaya, dengan melembagakan proses “rencanakan/periksa/ubah”.

6. Belajar sepanjang hayat. Mutu diawali dan diakhiri dengan latihan. Bila anda mengharapkan orang mengubah cara bekerja mereka, anda mesti memberi mereka perangkat yang diperlukan untuk mengubah proses kerja mereka. Pelatihan memberikan perangkat yang dibutuhkan untuk memperbaiki proses kerja.

7. Kepemimpinan dalam pendidikan. Merupakan tanggung jawab manajemen untuk memberikan arahan. Para manajer dalam pendidikan mesti mengembangkan visi dan misi untuk wilayah, sekolah atau jurusannya. Visi dan misi harus diketahui dan didukung oleh para guru, staf, siswa, orang tua dan komunitas.

8. Mengeliminasi rasa takut. Lenyapkanlah bekerja karena dorongan rasa takut dari wilayah, sekolah atau jurusan, maka setiap orang akan bekerja secara efektif untuk perbaikan sekolah.

9. Mengeliminasi hambatan keberhasilan. Manajemen bertanggung jawab untuk menghilangkan hambatan yang menghalangi orang mencapai keberhasilan dalam menjalankan pekerjaannya.

10.Menciptakan budaya mutu. Ciptakanlah budaya mutu jangan biarkan gerakan menjadi bergantung pada seseorang atau sekelompok orang. 11.Perbaikan proses. Tidak ada proses yang pernah sempurna;karena itu,

carilah cara terbaik, proses terbaik, terapkan tanpa pandang bulu.

12.Membantu siswa berhasil. Hilangkanlah rintangan yang merampok hak siswa, guru atau administrator untuk memiliki rasa bangga pada hasil karyanya.

(34)

20

14.Tanggung jawab. Biarkanlah setiap orang di sekolah untuk bekerja menyelesaikan transformasi mutu. Transformasi merupakan tugas setiap orang.

Selanjutnya dalam buku Nana Syaodih tentang pengendalian Mutu, ada beberapa prinsip yag perlu dipegang dalam menerapkan program mutu pendidikan diantaranya sebagai berikut:24

a. Peningkatan mutu pendidikan menuntut kepemimpinan professional dalam bidang pendidikan.

b. Kesulitan yang dihadapi para professional pendidikan adalah ketidak mampuan mereka dalam menghadapi “kegagalan sistem” yang mencegah mereka dari pengembangan atau penerapan cara atau proses baru untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada.

c. Peningkatan mutu pendidikan harus melakukan loncatan-loncatan. d. Uang bukan kunci utama dalam usaha peningkatan mutu. Mutu

pendidikan dapat diperbaiki jika administrator, guru, staf, pengawas, dan pimpinan kantor Diknas mengembangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan, team work, kerja sama, akuntabilitas, dan rekognisi. e. Kunci utama peningkatan mutu pendidikan adalah komitmen pada

perubahan.

f. Banyak professional di bidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan keahlian dalam menyiapkan para siswa memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar kerja yang bersifat global.

g. Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dipakai secara langsung dalam pendidikan, tetapi membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan.

h. Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah sistem pengukuran.

24

(35)

i. Masyarakat dan manajemen pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan menggunakan “program singkat”, peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutan tidak dengan program-program singkat.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pendidikan

Dalam bukunya prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, dkk tentang pengendalian mutu pendidikan bahwa:

Mutu pendidikan atau mutu sekolah tertuju pada mutu lulusan. Merupakan sesuatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses pendidikan yang bermutu pula. Merupakan sesuatu yang mustahil pula,terjadi pendidikan yang bermutu jika tidak didukung oleh faktor-faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu pula. Proses pendidikan yang bermutu harus didukung oleh personalia, seperti administrator, guru, konselor, dan tata usaha yang bermutu dan professional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas, media, serta sumber belajar yang memadai, baik mutu maupun jumlahnya, dan biaya yang mencukupi, manajemen yang tepat, serta lingkungan yang mendukung. Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen, pelaksana, dan kegiatan pendidikan, atau disebut sebagai mutu total atau “total quality”.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam mencapai suatu kualitas pendidikan tidak cukup dengan hanya satu atau dua komponen saja yang ditingkatakan kualitasnya akan tetapi peningkatan tersebut harus dilakukan secara keseluruhan, karena satu komponen pendidikan dengan komponen pendidikan yang lain saling berkaitan, sehingga jika ada dari salah satu komponen tersebut diabaikan maka akan berpengaruh terhadap hasil dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Oleh karena itu faktor-faktor yang terlibat dalam pengembangan mutu pendidikan secara sistemik dapat dilihat pada gambar berikut.25

25

Nana Syaodih Sukmadinata, dkk, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah (Konsep,

(36)

22

Gambar 1

Peta komponen pendidikan sebagai sistem

Dalam tataran input salah satu yang termasuk ke dalam bagian instrumental input adalah biaya atau pembiayaan pendidikan. Biaya pendidikan merupakan salah satu komponen masukan instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (disekolah). Biaya (cost) dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang

(37)

berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan dengan uang).

Biaya pendidikan di tingkat sekolah berasal dari tiga sumber yaitu pemerintah (termasuk dari hibah dan pinjaman luar negeri), keluarga siswa (baik disalurkan melalui sekolah maupun dibelanjakan sendiri), dan masyarakat (selain keluarga siswa).26

Lebih lanjut mengenai sumber pendanaan pendidikan ini dijelaskan dalam UU SISDIKNAS pasal 47 ayat 2 yaitu pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mengerahkan sumber daya yang ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.27

Dalam implikasi diterapkannya manajemen pendidikan berbasis sekolah, adalah pemberian wewenang kepada sekolah untuk mengelola dana sendiri. Sekolah diberi kewenangan untuk mencari dana dan menggunakannya dengan prinsip akuntabilitas dan transparansi. Strategi yang digunakan untuk mengatasi pembiayaan pendidikan dalam menyukseskan manajemen pendidikan berbasis sekolah, dapat dilakukan dengan meminta bantuan komite sekolah.

Disamping komite sekolah, kepala sekolah melakukan pendekatan yang bersifat khusus kepada warga masyarakat yang memiliki kemampuan dalam memberikan dana. Walaupun pekerjaan mencari dana tidaklah mudah, namun beberapa sekolah dalam usahanya telah menerima bantuan dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.

Oleh karenanya, setiap sekolah sebaiknya melakukan pendekatan kepada warga masyarakat tertentu yang dianggap dapat memberikan bantuan terhadap sekolah. Bagaimanapun, dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan,

26

Dedi Supriadi, Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), cet. Ke-2, h. 3 dan 26

27

(38)

24

sekolah tidak bisa tidak harus mencari warga masyarakat yang mau memberikan bantuan.28

5. Ciri-ciri Sekolah Dasar yang berkualitas

Merujuk pada pendapat Edward Sallis (1993), sekolah yang bermutu becirikan sebagai berikut.29

1. Sekolah berfokus pada pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal. Pada sekolah yang bermutu, totalitas perilaku staf, tenaga akademik, dan pemimpin melakukan tugas pokok untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Menurut Edward Sallis (1993) pelanggan jasa umumnya dan sekolah khususnya adalah semua pihak yang memerlukan, terlibat di dalam, dan berkepentingan terhadap jasa pendidikan itu. Pelanggan sekolah terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, pelanggan primer, adalah siswa atau pihak-pihak yang menerima jasa pendidikan secara langsung. Kedua, pelanggan sekunder, adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap mutu jasa pendidikan. Seperti, orang tua siswa, instansi atau penyandang dana beasiswa, pemeritah yang menanggung biaya pendidikan yang bersangkutan, tenaga akademik dan tenaga administrasi sekolah. Selanjutnya ketiga, pelanggan tersier, adalah pelanggan yang terkait langsung dengan pelayanan jasa pendidikan, tetapi berkepentingan terhadap mutu jasa layanan kependidikan itu karena mereka memanfaatkan hasil jasa layanan. Seperti, masyarakat, dunia usaha dan pemerintah.

28

Amiruddin Siahaan dkk, Manajemen Berbasis Sekolah, (Ciputat, Quantum Teaching, 2006), cet. Ke-1, h. 115-119

29

(39)

2. Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul, dalam makna ada komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.

3. Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya

4. Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik ditingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administrasi.

5. Sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrument untuk berbuat benar pada peristiwa atau kejadian berikutnya. 6. Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai

kualitas, baik perencanaan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

7. Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi, dan tanggung jawabnya.

8. Sekolah mendorong orang yang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas, dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.

9. Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kearah kerja secara vertikal dan horizontal.

10.Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.

11.Sekolah memandang dan menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.

12.Sekolah memandang kualitas sebagai jalan integral dari budaya kerja.

13.Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan.

(40)

26

inklusif elemen-elemen sekolah efektif, yang dikategorikan menjadi input, proses, dan output. 30

Perangkat/karakteristik peningkatan mutu pendidikan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Input: kebijakan mutu dan harapan. Sumber daya (kesediaan masyarakat), berorientasi siswa, manajemen (pembagian tugas, tugas perencanaan, kendali mutu,dll).

2. Proses: pembelajaran yang berorientasi (learning to know, learning to do, learning, to be, learning to live together), kepemimpinan yang kuat/demokratis (kemampuan manajerial, kemampuan memobilisasi, memiliki otonomi luas), lingkungan (aman, nyaman, manusiawi), pengelolaan tenaga yang efektif (perencanaan, pengembangan, penilaian, imbalan jasa), memiliki budaya mutu (kerjasama, merasa memiliki, mau berubah, mau meningkatkan diri, terbuka), tim kerja (kompak, cerdas, dinamis), partisipasi masyarakat tinggi, memiliki akuntanilitas (laporan prestasi, respon/tanggapan masyarakat).

3. Output: prestasi akademik (NEM, STTB, taraf serap, lomba karya ilmiah, lomba keagamaan), prestasi non akademik (olah raga, kerapian/ketertiban, kepramukaan, kebersihan, toleransi, ketulusan, kesenian, disiplin, kerajinan, solidaritas, silaturahmi, dll).

Selanjutnya ditambahkan dalam buku MBS yang dibuat oleh Departemen Pendidikan bahwa karakteristik dari sekolah efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah sebagai berikut:31

1. Output yang diharapkan

Sekolah memiliki output yang diharapkan. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic achivement) dan output prestasi non akademik ( non-academic achivement).

30

Abdul Rahman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa…hal. 252-254

31

(41)

2. Proses

Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut:

a. Proses Belajar Mengajar yang Efektifivitasnya Tinggi b. Kepemimpinan Sekolah yang Kuat

c. Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib d. Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif e. Sekolah Meiliki Budaya Mutu

f. Sekolah Meiliki “Teamwork” yang Kompak, Cerdas, dn Dinamis

g. Sekolah Memiliki Kewenangan (Kemandirian)

h. Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat i.Sekolah memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen.

j. Sekolah Memiliki Kemauan Untuk Berubah (psikologis dan pisik) k. Sekolah melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan l. Sekolah responsive dan antisipatif terhadap kebutuhan

m. Memiliki komunikasi yang baik n. Sekolah memiliki akuntabilitas

o. Manajemen lingkungan hidup sekolah yang bagus p. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas 3. Input Pendidikan

a. Memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas b. sumberdaya tersedia dan siap

c. Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi d. Memiliki harapan prestasi yang tinggi e. Fokus pada pelanggan (khususnya) f. Input manajemen

6. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

(42)

28

Secara kuantitatif, kinerja pendidikan nasional dapat diukur dari angka partisipasi terhadap pendidikan dengan fokus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pada tingkat SD sebagai penggal pertama pendidikan dasar, angka partisipasi kasar (APK), yaitu ratio antara jumlah seluruh siswa dengan kelompok umur 7-12 tahun dilaporkan telah mencapai 110%; sedangkan angka partsipasi murni yaitu ratio antara jumlah siswa usia 12 tahun dengan kelompok umur 7-12 sebesar 95%. Angka ini menunjukkan bahwa secara nasioal wajib belajar pada tingkat SD hampir tuntas. Namun jumlah 5% anak –anak usia 7-12 tahun yang belum bersekolah terdiri atas anak-anak keluarga kurang beruntung (miskin, terpencil, cacat) yang jauh lebih sulit dibandingkan kelompok anak-anak yang saat ini telah berada di sekolah, meskipun jumlah 5% anak-anak yang belum terjangkau pendidikan kelihatannya kecil saja, akan tetapi sesungguhnya populasi mereka sekitar 1,2 juta orang. Meskipun lazimnya APK itulah yang menjadi ukuran (kuantitatif) keberasilan wajib belajar, khusus untuk tingkat SD, APM (Angka Partisipasi Murni) seharusnya digunakan sebagai indikator keberhasilan apabila program ini benar-benar ingin tuntas.

Selain APM (Angka Partisipasi Murni) yang menjadi indikator yang bersifat kuantitatif, upaya penekanan angka putus sekolah dan tinggal kelas harus menjadi prioritas juga. Karena jika masalah yang satu itu tetap dibiarkan, maka hal itu secara langsung akan menghambat laju pendidikan untuk selanjutnya dan yang akan merugi adalah Negara sendiri.

Jika dilihat dari segi mutu/kualitas, pendidikan SD di Indonesia umumnya masih bermutu rendah. Bila dilihat dari segi NEM (Nilai Ebtanas Murni) atau sekarang yang lebih dikenal dengan UASBN (Ulangan Akhir Sekolah Berstandar Nasional) sebagai salah satu indikator mutu yang sejauh ini paling tangible dan datanya tersedia, hanya sekitar 10% SD yang tergolong bermutu baik. Mutu juga menunjuk pada efisiensi eksternal, yaitu sejauh manakah hasil belajar siswa di sekolah relevan dengan tuntutan belajar pada jenjang pendidikan selanjutnya dan dengan kebutuhan hidupnya sebagai anggota masyarakat.

(43)

fasilitas belajar lainnya. Usaha-usaha intensif yang dilakukan sejauh ini telah berhasil meningkatkan APK SLTP + SMP hingga mencapai 70%.32

Selanjutnya untuk mencapai mutu dalam pendidikan, berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan sekolah dalam menjaga maupun meningkatkan kualitasnya (Sallis, 1993:48-49), antara lain:33

a. Rumuskan tujuan yang konstan untuk perbaikan dalam produk dan layanan.

b. Gunakan filosofi baru! Sebuah sekolah tidak akan mampu berkompetisi jika terus menerima dan memaafkan keterlambatan, kesalahan, atau melahirkan hasil yang tidak tepat.

c. Berhentilah menggunakan pengawasan publik untuk mencapai kualitas! Pengawas publik yang dilakukan unit inspeksi tidak menjamin kualitas. d. Tingkatkan kualitas palayanan dan produk layanan

e. Lakukan on the job training! Pelatihan merupakan salah satu yang paling penting untuk peningkatan kualitas.

f. Tugas manajemen adalah memimpin bukan mengawasi, pemimpin harus mampu berperan untuk mendorong kemajuan dalam proses pelaksanaan pekerjaan agar menghasilkan layanan produk terbaik.

g. Hindari rasa takut, yakni bahwa produktivitas pegawai juga dipengaruhi oleh perasaan rasa aman bekerja di tempat dia bekerja.

h. Atasi berbagai kendala hubungan antara unit atau departemen, karena mereka yang ada dalam unit tersebut memerlukan kerja sama sebagai sebuah tim.

i. Kurangi slogan, nasihat, target dan permintaan untuk peningkatan produktivitas baru tanpa ada pengarahan pada para pegawai tentang metode-metode baru untuk menghasilkan pekerjaan yang baik.

32

Dedi Supriadi, Membangun Bangsa Melalui Pendidikan, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2005), cet. II, h. 95-97

33

(44)

30

j. Kurangi standarisasi pekerjaan dengan indikator angka numeric, karena standarisasi numeris atau kuantitas sering kali akan mengurangi kualitas. k. Hilangkan berbagai kendala yang akan mengurangi kebanggaan pegawai

terhadap pekerjaan,

l. Lembagakan pendidikan dan pelatihan pegawai yang dapat meningkatkan semangat kerja pegawai dan peningkatan kualitas dengan dirinya sendiri.

m. Posisikan setiap orang dalam institusi untuk bekerja dan melaksanakan transformasi.

Oleh karena itu pentingnya peranan pemimpin dalam memberikan pengarahan kepada bawahannya, tidak lain untuk mencapai tujuan dan harapan yang telah dirancang oleh organisasi dan menjadi impian para warga sekolah lainnya. Karena tidak ada lagi pigur yang patut di contoh dalam sebuah organisasi kecuali pemimpinnya sendiri.

Keberhasilan suatu sekolah dari tingkat kualitasnya, tidak terlepas dari kepiawaian seorang kepala sekolah yang menerapkan tipe kepemimpinan dilembaganya. Karena penelitian tentang efektifitas sekolah menegaskan pentingnya apa yang terjadi diruang kelas, dan kepemimpinan pendidikan dipandang sebagai upaya memberikan sebuah kultur pengajaran dan pembelajaran yang kondusif. Kepemimpinan pendidikan juga akan menjadi sentral bagi negosiasi tentang apa yang bisa dinilai dalam kurikulum dan apa yang dipandang baik dalam metode pengajaran.

Kepala sekolah yang efektif tidak hanya menghabiskan waktunya untuk melakukan control internal secara eksplisit, seperti memonitor pengajaran, tapi harus lebih menekankan pada penetapan tujuan dan mekanisme consensus tujuan untuk mengarahkan perhatian para guru terhadap output organisasi (Goldring dan Pasternak, 1994,hal. 251) dalam terjemahan buku Tony Bush dan Marianne Coleman.34

34

Tony Bush dan Marianne Coleman, Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan

(45)

Pemberian otonomi kepada kepala sekolah, sebagai konsekuensi otonomi sekolah, mengharuskan kepala sekolah meningkatkan kemampua intelegensi manajerialnya. Intelegensi manajerial adalah kecerdasan memimpin dan terampil mengelola organisasi, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada atau yang tersedia, sehingga dengan seluruh perangkat yang dimiliki organisasi menciptakan sinerji, diarahkan untuk menuju kepada pencapaian tujuan organisasi secara maksimal.

Intelegensia manajerial oleh Kydd, Crawford, dan Riches (2004:11-13) diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Mencipta

 Memiliki gagasan bagus

 Menemukan pemecahan orisinal bagi masalah yang bersifat umum.

 Mengantisipasi konsekuensi pengambilan keputusan dan tindakan

 Menerapkan pemikiran

 Menggunakan imajinasi dan intuisi

2. Merencanakan

 Mengaitkan kebutuhan masa kini dengan masa yang akan dating

 Mengenali apa yang penting dan apa yang semata mendesak

 Mengatasi tren masa depan

 Menganalisis

3. Mengorganisasikan

 Membuat tuntutan yang adil

(46)

32

 Berada di depan bilamana perlu

 Tetap tenang dalam situasi yang sulit

 Mengetahui kapan pekerjaan selesai

4. Berkomunikasi

 Memahami orang

 Mendengarkan

 Menjelaskan

 Komunikasi tertulis

 Menggugah sesama untuk berbicara

 Taktis

 Bersikap toleran terhadap kekeliruan sesama

 Berterima kasih dan memberikan dorongan

 Memastikan setiap orang menerima informasi

 Memanfaatkan teknologi informasi

5. Memotivasi

 Mengilhami sesama

 Menyuguhkan tantangan yang realistis

 Membantu sesama untuk menetapkan tujuan dan target

 Membantu sesama untuk menghargai sumbangsih dan prestasi mereka sendiri

(47)

 Membandingkan hasil dengan niat

 Menilai diri sendiri

 Mengevaluasi pekerjaan sesama

 Meralat kekeliruan di mana perlu

Berbagai kemampuan di atas adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar bagi kepala sekolah dalam konteks kepemimpinan masa depan yang menerapkan manajemen pendidikan berbasis sekolah. Beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai Negara dalam konteks manajemen pendidikan, menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan dan tujuan sekolah ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Kekuasaan dan wewenang ini terkait dengan tanggung jawab kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas sekolah yang dipimpinnya.

Beberapa studi yang dilakukan di Indonesia sebagaimana yang disurvei oleh Achmady dan Supriadi (1996) dalam Jalal dan Supriadi (2001:287-288) menunjukkan bahwa:

1. Ciri-ciri kehidupan sekolah yang mutunya baik dan mutunya kurang baik di sekolah dasar banyak berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah.

2. Survey puluhan SMU menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang mutunya baik dan memiliki preferensi yang tinggi dimasyarakat memiliki cirri-ciri yang berbeda dengan sekolah-sekolah yang mutunya biasa dalam hal gairah belajar siswa, motivasi guru, hasil belajar, dan iklim sekolah secara keseluruhan. Ciri-ciri tersebut diatribusikan oleh kepemimpinan kepala sekolah,

3. Penempatan kepala SMK yang dipilih secara ketat melalui prosedur yang standar menghasilkan perubahan yang semakin meningkat.

(48)

34

sekolah. Kepemimpinan mempunyai fungsi sebagai pengarah, pengendali sekaligus melakukan control terhadap pelaksanaan seluruh rencana yang telah, sedang dan akan dilaksanakan. Kepala sekolah dalam hal ini, menjadi penanggung jawab utama untuk mencapai tujuan pendidikan persekolahan.35

Oleh karena itu pentingnya suatu lembaga atau organisasi ditangani oleh orang yang memang memiliki kemampuan dalam bidangnya. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

Dengan demikian, pemimpin pendidikan:

 Memberikan kesempatan kepada anggota untuk berpartisipasi dalam

proses perubahan guna merefleksikan praktek dan mengembangkan pemahaman personal tentang sifat dan implikasi perubahan terhadap diri mereka;

 Mendorong mereka yang terlibat dalam implementasi perbaikan untuk membentuk kelompok-kelompok sosial dan membangun tradisi saling mendukung selama proses perubahan;

 Membuka peluang feedback bagi semua pihak yang terlibat dalam

perubahan; dan

 Harus sensitif terhadap outcomes proses pengembangan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi feedback yang dibutuhkan, kemudian menindak lanjutinya dengan melibatkan beberapa pihak dalam mendiskusikan ide-ide dan prakteknya (Duignan dan Macpherson, 1992, hal. 84) dalam buku Tony Bush dan Marianne Coleman.

35

(49)

Seorang pemimpin pendidikan yang menerapkan program mutu pada lembaga pendidikannya, dibutuhkan prinsip-prinsip yang dijadikan tuntunan baginya agar tidak melenceng dengan komitmen yang telah dibuat.

Berikut merupakan prinsip-prinsip yang diberlakukan bagi kepemimpinan bermutu antara lain:36

1. Dalam kepemimpinan mutu, seseorang mengukur keberhasilannya dari keberhasilan orang-orang (semua anggota) dalam organisasi.

2. Tanggung jawab berbagi. Semua unsur dalam organisasi sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas. Tugas majelis sekolah, pengawas, dan administrator memberikan fokus serta pengarahan terhadap sekolah semua anggota organisasi sekolah memiliki visi tentang masa depan yang sama, memahami program mutu dan tugas-tugasnya. Setiap anggota disorong untuk terbuka, kreatif, dan inovatif sehingga memungkinkan mencapai visi dalam sistem yang luas.

3. Perbaikan mutu berkelanjutan. Unsur-unsur pimpinan mendorong guru dan staf untuk mencapai tujuan akhir oraganisasi yaitu penyempurnaan yang berkelanjuran.

4. Dalam piramid kepemimpinan mutu, majelis sekolah, pengawas, dan adaministrator harus menyediakan bahan serta alat-alat (resources) yang dibutuhkan guru dan staf. Dengan demikian, tidak ada lagi kekuasaan mutlak dalam kepemimpinan itu.

5. Peran guru dan staf. Semua orang dalam piramid kepemimpinan mutu adalah pemimpin. Untuk mencapai mutu visi mutu dalam pendidikan, guru harus menanamkan visi ini kepada siswa. Siswa harus mempunyai visi dan kemampuan untuk berbuat secara kreatif dan inovatif untuk mencapai visi tersebut.

6. Sebagai pemimpin mutu, tiap orang bertanggung jawab menghilangkan hambatan yang mencegah performansi yang tinggi.

36

Prof.Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, dkk, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah

(50)

36

7. Tiap orang ingin menjadi orang yang unggul. Tantangan utama untuk pendidikan bermutu adalah menghilangkan hambatan-hambatan organisasional yang menghambat orang untuk berhasil.

Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas pula dari peran guru, karena guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran. Guru yang profesional akan menghasilkan murid yang bermutu, dan murid yang bemutu akan mampu mengangkat pendidikan bermutu pula.

Oleh karena itu dibutuhkan figur guru masa depan yang akan diidamkan oleh banyak pihak, diantaranya:37

1. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas.

2. Innovator, artinya memiliki kemampuan untuk melakukan pembaharuan yang berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, sistem dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya.

3. Motivator, artinya guru masa depan mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya.

4. Capable, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecapakapan, dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif.

5. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri dan menularkan kemampuan dan keterampilan anak didiknya dan untuk semua orang.

Jadi guru masa depan adalah guru yang menjadi fasilitator; pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan sekolah);

37

(51)

Selain itu juga guru masa depan secara efektif menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerjasama, serta memupuk kemampuan otodidak anak didik, memberi reward ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk menghargai orang lain, baik pendapat maupun prestasinya.

Menurut zuhairi, dkk (1994) dalam melaksanakan pendidikan islam, peranan pendidik sangat penting, karena dia yang bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang berilmu pengetahuan yang bertugas sebagai pendidik.

Hal inidisebutkan pada surat Al-Mujadallah (58) ayat 11 :

“Allah akan meninggikan orang yang beriman diantara kamu dan

orang-orang berilmu pengetahuan beberapa derajat …”38

38H. Ahmad Syar’I M.Pd, Filsafat Pendidikan Islam, 2001, pustaka Firdaus, Jakarta.Cet

(52)

38

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini akan dilakukan selama satu bulan, yaitu bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011. Adapun sekolah yang akan dijadikan penelitian ini Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nida El-Adabi desa Kabasiran-Parungpanjang-Bogor.

Berikut jadwal penelitian, yaitu:

No Jenis Kegiatan Oktober November Desember Januari Februari Maret

1 Penyusunan proposal 2 Penyusunan

instrumen penelitian dan revisi instrumen penelitian

3 Pengumpulan data 4 Pengolahan dan

analisis data penelitian

Gambar

Tabel 1:  Faktor-faktor  yang mempengaruhi persepsi pelanggan tentang
Gambar 1: Peta komponen pendidikan sebagai system .....................................
Sebelum membeli produk Tabel 1 Saat membeli produk
Gambar 1 Peta komponen pendidikan sebagai sistem
+2

Referensi

Dokumen terkait