PENGEMBANGAN TERPADU PEMANFAATAN
RUANG KEPULAUAN TANAKEKE
BERBASIS DAYA DUKUNG
ABDUL RAUF
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul:
PENGEMBANGAN TERPADU PEMANFAATAN RUANG KEPULAUAN
TANAKEKE BERBASIS DAYA DUKUNG
adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal dari atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, Januari 2008
ABDUL RAUF. Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulauan Tanakeke
Berbasis Daya Dukung. Dibimbing Oleh DETRIECH G. BENGEN,
ROKHMIN DAHURI, SARWONO HARDJOWIGENO, SUGENG BUDIHARSONO
dan AWAL SUBANDAR.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suatu pola pemanfaatan ruang yang
komprehensif dalam pengembangan Kepulauan Tanakeke. Untuk mencapai tujuan
tersebut, maka dilakukan kajian yang meliputi: mengidentifikasi potensi dan kondisi
sumberdaya kawasan Kepulauan Tanakeke, mengevaluasi kesesuaian dan daya dukung
lahan serta kelayakan secara ekonomi bagi berbagai peruntukan yang berpotensi untuk
dikembangkan, menentukan prioritas penggunaan lahan, menentukan alokasi
pemanfaatan ruang yang optimal bagi berbagai peruntukan lahan dan menyusun arahan
dan strategi kebijakan pemanfaatan ruang di kawasan Kepulauan Tanakeke.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Analisis Potensi
dan Kondisi, Analisis Spasial (
keruangan
) dengan pendekatan GIS, Analisis Kesesuaian
dan Daya Dukung Lahan, Analisis Prioritas dengan Pendekatan MCDM, Analisis
Partisipasi, Analisis produktivitas lahan, Analisis Optimasi, Analisis Finansial (kelayakan
ekonomi), Analisis Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Kepulauan Tanakeke dengan
pendekatan SWOT.
Hasil evaluasi kesesuaian lahan bahwa secara spasial pengembangan Kepulauan
Tanakeke diarahkan untuk pengembangan sumberdaya perikanan dan pariwisata.
Sumberdaya perikanan meliputi perikanan budidaya diarahkan pengembangannya di
Pulau Tanakeke dan Lantangpeo dan perikanan tangkap di Pulau Bauluang dan
Satangnga. Sedangkan pariwisata yang meliputi wisata pantai dan bahari diarahkan
pengembangannya di Pulau Dayang-dayangan, Satangnga dan Bauluang dan wisata
mangrove di Pulau Tanakeke, Lantangpeo dan Bauluang.
Hasil analisis kelayakan usaha pada pengembangan perikanan budidaya dan
perikanan tangkap masih dalam batas kategori layak yaitu dengan nilai R/C (1,20-2,85)
dan Pay Back Periode (0,13-3,2 tahun), sedangkan hasil analisis prioritas pengembangan
berbagai peruntukan lahan di Kepulauan Tanakeke berturut-turut budidaya rumput laut
(0,91), perikanan tangkap (0,88), KJA (0,80), wisata pantai (0,74), wisata bahari (0,71),
konservasi (0,66) dan permukiman (0,62).
Strategi dan kebijakan pengelolaan Kepulauan Tanakeke secara umum diarahkan
untuk pengembangan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia, meningkatkan
partisipasi masyarakat, membangun sarana dan prasarana pendukung, peningkatan
kesadaran hukum dan etos kerja masyarakat serta peningkatan koordinasi antar sektor
dalam membangun Kepulauan Tanakeke ke arah yang lebih baik di masa yang akan
datang.
ABDUL RAUF. Integrated Development of Tanakeke Archipelago Land Utilzation
Based on Caryying Capacity. Supervised by DETRIECH
G.
BENGEN,
ROKHMIN DAHURI, SARWONO HARDJOWIGENO, SUGENG BUDIHARSONO
and AWAL SUBANDAR.
This research aims to develop a comprehensive spatial planning pattern in
Tanakeke Archipelago development. The scope of research, includes : identifying
potency and condition of the resources at the Tanakeke Archipelago, evaluating
sustainability and land carrying capacity, as well as economical feasibility for various
utilizations which have potency to be developed, determining priority of land use,
determining allocation of optimal land use for various land use and compile guidelines
and policy strategy of spatial exploitation in the Tanakeke Archipelago.
The analytical methods used in this research consisted of analysis of potency and
condition, spatial analysis with GIS approach, analysis of land suitabilty and carrying
capacity, priority analysis with the MCDM approach, participation analysis, productivity
analysis, optimalization analysis, financial analysis, and finally policy and strategy
analysis of management of Tanakeke Archipelago with the SWOT approach.
The result of land suitability evaluation indicates that, spatially, the development
of Tanakeke Archipelago should be directed to fisheries and tourism development. The
fisheries resources include mariculture that can be develoved at Tanakeke and
Lantangpeo islands, and fishing at Bauluang and Satangnga Islands. Meanwhile, tourism
development consists of marine and coastal tourisms that can be developed at
Dayang-dayangan, Satangnga, and Bauluang Islands, and ecotourism of mangrove at Tanakeke,
Lantangpeo and Bauluang islands.
It has been disclosed from the feasibility analysis that mariculture and fishing are
feasible, with the values of R/C ranges from 1,2 – 2,85 and paybeck Period 0,13 – 3,2
(years). Meanwhile, the result of priority analysis for various land utilization in the
Tanakeke Islands are, in descending values, as follow; seaweed culture (0.91), fishing
(0.88), cage culture (0.80), coastal tourism (0.74), marine tourism (0.71), conservation
(0,66) and settlement (0,62).
The strategy and policy of Tanakeke Archipelago management, generally, should
be directed to development of human resources, enhancement of public participation,
development of supporting infrastructure, improvement of legal awerenes and work
ethics, and also improvement of inter-sectoral coordination.
© Hak Cipta milik IPB, Tahun 2008
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1.
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber :
a.
Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik
atau tinjauan suatu masalah
b.
Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
PENGEMBANGAN TERPADU PEMANFAATAN
RUANG KEPULAUAN TANAKEKE
BERBASIS DAYA DUKUNG
ABDUL RAUF
Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Nama
:
Abdul Rauf
NIM :
P31600028
Disetujui :
Komisi Pembimbing,
Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA
K e t u a
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Dr.Ir. Sugeng Budiharsono
A n g g o t a A n g g o t a
Prof. Dr. Ir. Sarwono Hardjowigeno, M.Sc Dr. Ir. Awal Subandar, M.Sc
A n g g o t a A n g g o t a
Diketahui,
Ketua Departemen Manajemen Dekan Sekolah Pascasarjana,
Sumberdaya Perairan,
Dr. Ir. Sulistiono, M.S Prof. Dr. Ir. Khairil A Notodiputro, M.S
Penulis dilahirkan di Kabupaten Sidrap, Propinsi Sulawesi Selatan, pada tanggal
05 September 1967 sebagai anak kedua dari pasangan Drs. H. Muhammad Toaha Laili
dan ibu Hj. Saripa Tjalli. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Pemanfaatan
Sumberdaya Perairan (PSP), Fakultas Perikanan, Universitas Muslim Indonesia (UMI)
Makassar, lulus pada Tahun 1992. Pada Tahun 1998, penulis diterima di Program Studi
Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (SPL) pada Program Pascasarjana IPB dan
menamatkannya pada Tahun 2000 dengan gelar
Magister Sains
. Kesempatan untuk
melanjutkan ke program doktor pada program studi dan perguruan tinggi yang sama
diperoleh pada Tahun 2001. Beasiswa pendidikan Sekolah Pascasarjana diperoleh dari
Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi, Departemen Pendidikan nasional (BPPS Dikti).
Penulis bekerja sebagai dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar sejak Tahun 1993 sampai sekarang
dengan Jabatan Fungsional/golongan sebagai Lektor / IIId. Selain sebagai staf pengajar,
penulis juga menyempatkan diri bekerja sebagai konsultan pada berbagai kegiatan yang
terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil.
Selama mengikuti program S3, penulis telah mengikuti berbagai kegiatan
seminar dan pelatihan yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan
lautan serta pulau-pulau kecil, baik dalam kapasitas sebagai peserta maupun sebagai
penyaji. Penulis juga mendapat berbagai hibah penelitian dari Direktorat Jenderal
Perguruan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional seperti Hibah Bersaing, Penelitian
Dasar & Penelitian Fundamental. Disamping itu penulis juga banyak membantu
kegiatan-kegiatan proyek pesisir di Departemen Kelautan dan Perikanan, Bappenas,
KLH maupun Departemen PU serta BRR Aceh-Nias.
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian
yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2003 ini adalah Pulau-pulau Kecil, dengan judul
Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulauan Tanakeke Berbasis
Daya Dukung.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Dietriech G Bengen,
DEA selaku Ketua Komisi Pembimbing, Bapak Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS,
Bapak Prof. Dr. Ir. Sarwono Hardjowigeno, M.Sc, Bapak Dr. Ir. Sugeng Budiharsono
dan Bapak Dr. Ir. Awal Subandar, M.Sc masing-masing sebagai anggota komisi
pembimbing, atas segala bimbingan, arahan maupun saran selama penulis melakukan
penelitian dan penulisan karya ilmiah ini. Disamping itu, terima kasih juga penulis
sampaikan kepada Pimpinan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dan
Pimpinan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI atas kesempatan tugas belajar
jenjang S2 dan S3 di Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih juga penulis
sampaikan kepada Pimpinan BPPS DIKTI, Yayasan SUPERSEMAR, Yayasan
DAMANDIRI, Bupati Kabupaten Sid-Rap dan Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan atas
bantuan beasiswa dan biaya penelitian yang telah diberikan kepada penulis.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayahanda Drs.H. Muh Toaha
dan bunda Hj. St Syaripa, serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya,
terkhusus kepada Istri Ny Andi Suhartini Rauf dan anak tercinta Andi Muhammad
Ilham Rauf, Andi Dewi Syafrida Rauf dan Andi Nurul Hikmah Rauf atas dukungan
moril, pengertian, kesabaran, doa dan kasih sayangnya serta kesetiaannya selama
mengikuti pendidikan ke jenjang S2 dan S3 di Institut Pertanian Bogor.
Kepada teman-teman mahasiswa SPL Program Doktor khususnya angkatan IV
dan dari program studi lain serta rekan-rekan atau pihak lain yang telah membantu yang
tidak dapat saya sebutkan satu persatu, juga tak lupa kami ucapkan terima kasih.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya dan
memperkayah khasanah ilmu pengetahuan kita, khususnya yang berkaitan dengan
pengembangan pulau-pulau kecil dan umumnya pengelolaan sumberdaya pesisir
dan lautan, Amin.
Bogor, Januari 2008
Wassalam,
Latar Belakang
Kepulauan Tanakeke merupakan gugusan pulau-pulau kecil secara fisik
memiliki sumberdaya alam daratan sangat terbatas, tetapi dikaruniai sumberdaya
kelautan yang melimpah. Kepulauan ini merupakan bagian daerah Kabupaten
Takalar yang strategis untuk dikembangkan dengan basis kegiatan ekonomi pada
pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (
environmental services
)
kelautan, yang tentunya dengan memperhatikan aspek kelestariannya.
Masalah terbesar saat ini adalah bahwa kepulauan tersebut pada umumnya
belum dikelola dengan baik dan benar, padahal menghadapi tekanan berat baik
dari proses alam maupun aktivitas manusia. Untuk itu diperlukan perencanaan
yang matang dan sistematis untuk mengelola pulau-pulau kecil tersebut, dengan
selalu berpedoman kepada konsep pembangunan berkelanjutan.
Akibat pertambahan jumlah penduduk yang sangat cepat, maka
peningkatan pemanfaatan sumberdaya alam telah mengakibatkan perubahan pola
penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung dan kesesuaian
lahannya. Disamping itu, sering terjadi pemanfaatan kawasan yang seharusnya
merupakan kawasan lindung digunakan sebagai lokasi kegiatan yang tidak bersifat
kegiatan perlindungan, sehingga terjadi perubahan fungsi dan tatanan lingkungan.
Atas dasar itulah, maka pendekatan pola pemanfaatan ruang yang
komprehensif dalam pembangunan Kepulauan Tanakeke yang berkelanjutan
mutlak diperlukan. Karena itu, dalam penggunaan sumberdaya diperlukan suatu
pengaturan alokasi pemanfaatan ruang berdasarkan potensi yang dimiliki. Jika
pulau-pulau kecil ini berhasil dikembangkan secara optimal dan berkelanjutan,
maka bukan saja akan merupakan pusat pertumbuhan baru yang signifikan, tetapi
sekaligus akan mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah pulau-pulau
kecil dengan daratan utama.
dengan kaidah-kaidah pemanfaatan ruang yang optimal dan berkelanjutan, dan
sekaligus memberikan masukan dan arahan sebagai bahan pertimbangan bagi
pembuat keputusan dalam rangka menyusun strategi yang tepat dan benar untuk
mengembangkan pulau-pulau kecil ini di masa yang akan datang.
Identifikasi dan Perumusan Masalah
Kepulauan Tanakeke merupakan salah satu kepulauan di Selat Makassar,
yang memiliki sumberdaya alam yang masih tergolong alami yang ditandai
dengan hutan mangrove yang cukup luas (
±
20 km
2) atau 42,76 % dari luas
daratan Kepulauan Tanakeke dan kondisi terumbu karang masih tergolong
kategori sedang sampai baik (penutupannya berkisar antara 35 – 70 %) yang
merupakan ciri khas dari kepulauan tersebut. Pada saat ini keadaan tersebut mulai
terancam akan mengalami kerusakan dengan munculnya berbagai aktivitas
eksploitasi. Indikasi kerusakan adalah berkurangnya luas hutan mangrove akibat
alih fungsi menjadi lahan pertambakan, rusaknya terumbu karang akibat
penangkapan ikan dengan bahan peledak dan bahan kimia beracun serta
penambangan batu karang untuk bahan bangunan adalah faktor utama terjadinya
kerusakan lingkungan di wilayah tersebut yang berakibat kepada terjadinya abrasi
pantai atau pengikisan pulau (Ukkas, 2001).
Kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan semakin dipercepat
dengan tidak optimalnya pengawasan dari pemerintah dan atau instansi terkait,
seperti aparat kepolisian, untuk menangkap dan menindak oknum yang
melakukan penrusakan lingkungan tersebut.
Permasalahan lain yang ditemui di Kepulauan Tanakeke adalah
rendahnya infrastruktur dan alat transportasi serta informasi. Seperti pada
umumnya wilayah kepulauan, masyarakat Kepulauan Tanakeke kesulitan
dalam mengakses informasi, lembaga atau instansi pemerintah, serta jarak yang
relatif jauh dengan pusat pemerintahan merupakan hambatan dalam melakukan
pembangunan di wilayah ini.
penduduk sekitarnya telah menghasilkan dampak negatif terhadap kelestarian
sumberdaya alam dan lingkungan, seperti terjadinya degradasi fisik (
abrasi
) di
ekosistem wilayah pesisir tersebut. Salah satu faktor yang menyebabkan
terjadinya kerusakan ekosistem ini adalah akibat kemiskinan yang menimpa
masyarakat Kepulauan Tanakeke pada umumnya, disamping itu Pemerintah
Kabupaten Takalar yang merupakan institusi yang paling bertanggungjawab
terhadap pembangunan Kepulauan Tanakeke terkesan kurang memperhatikan
pembangunan di wilayah tersebut dan lebih terkonsentrasi pada wilayah
daratan.
Apabila kondisi ini tidak segera diperbaiki maka keberlanjutan
sumberdaya wilayah Kepulauan Tanakeke akan terus menurun bahkan mungkin
akan musnah. Di lain pihak pemerintah/masyarakat membutuhkan pertumbuhan
ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat petani dan nelayan dan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai konsekwensi otonomi daerah. Tentunya
pemanfaatan yang dimaksud menempatkan kepentingan ekonomi tanpa merusak
fungsi ekologi ekosistem yang ada.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan pokok yang perlu dikaji
dalam penelitian ini adalah:
(1)
Belum adanya data dan informasi yang akurat mengenai potensi sumberdaya
alam yang ada di Kepulauan Tanakeke, sehingga sulit menentukan potensi
apa yang bisa dikembangkan di wilayah ini.
(2)
Belum adanya data dan informasi mengenai tingkat kesesuaian dan daya
dukung terhadap peruntukan lahan yang ada saat ini, sehingga pemanfaatan
yang dilakukan masyarakat belum optimal.
(3)
Belum adanya skala prioritas penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang
kawasan Kepulauan Tanakeke, sehingga sulit menentukan komoditi apa yang
diunggulkan di kawasan ini.
Tujuan Penelitian :
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suatu pola pemanfaatan ruang
yang komprehensif dalam pengembangan pulau-pulau kecil, khususnya pada
wilayah Kepulauan Tanakeke. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka
telah dilakukan kajian spesifik terhadap beberapa hal dalam penelitian ini,
antara lain:
(1)
Mengidentifikasi potensi dan kondisi sumberdaya kawasan Kepulauan
Tanakeke
(2)
Mengevaluasi kesesuaian dan daya dukung lahan serta kelayakan ekonomi
bagi berbagai peruntukan yang berpotensi dikembangkan di Kepulauan
Tanakeke.
(3)
Menentukan prioritas penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang kawasan
Kepulauan Tanakeke.
(4)
Menentukan alokasi pemanfaatan ruang yang optimal bagi berbagai
peruntukan lahan di Kepulauan Tanakeke.
(5)
Menyusun arahan dan strategi kebijakan pemanfaatan ruang di kawasan
Kepulauan Tanakeke
Manfaat Penelitian
(1)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah
Kabupaten Takalar, bagi proses perencanaan dan pengambil kebijakan dalam
pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam pulau-pulau kecil yang
optimal dan berkelanjutan.
(2)
Hasil penelitian ini diharapkan sangat berguna dalam dunia usaha untuk
menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan tujuan investasi.
(3)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan
bagi masyarakat dalam mengembangkan aktivitasnya sehingga dapat
meningkatkan taraf hidupnya.
Kerangka Pemikiran
Karakterisitik pulau-pulau kecil yang unik dan pada umumnya rentan dan
peka terhadap berbagai macam tekanan manusia maupun tekanan alam, maka
dalam pemanfaatannya harus lebih hati-hati. Agar penggunaannya dapat
berkelanjutan maka secara garis besar eksosistem pulau-pulau kecil itu harus bisa
dipilah menjadi tiga mintakat yaitu 1) mintakat preservasi; 2) mintakat konservasi
dan 3) mintakat pemanfaatan (Dahuri
et al,
1995). Untuk itu perlu dilakukan
penataan ruang terhadap ekosistem pulau-pulau kecil tersebut. Mintakat 1 dan 2
menurut UU N0. 26/2007 tentang penataan ruang disebut sebagai kawasan
lindung sedangkan mintakat 3 sebagai kawasan budidaya.
Pemanfaatan ekosistem pulau-pulau kecil serta sumberdaya alam yang
terkandung di dalamnya sangat rentan terhadap kerusakan, sehingga keterlibatan
semua pihak yang memiliki ketergantungan terhadap ekosistem ini perlu
diperhatikan. Masyarakat kecil terutama yang harus mendapat perhatian dan
keterlibatan mereka serta semua
stakeholder
yang lain sudah harus dimulai dari
tahap perencanaan. Pada Gambar 1, masyarakat sudah harus dilibatkan paling
tidak pada tahapan penentuan kelayakan biogeofisik.
Sebelum menempatkan kegiatan pembangunan yang secara ekologis
sesuai untuk pulau-pulau kecil maka perlu diidentifikasikan terlebih dulu
kelayakan biogeofisik pulau tersebut sehingga dapat ditentukan kesesuaian
penggunaan setiap lokasi dari pulau kecil tersebut. Dengan demikian kita dapat
membuat peta alokasi pemanfaatan ruang untuk kawasan pulau-pulau kecil.
Karakteristik Biogeofisik & Sosial Ekonomi Wilayah Pulau-Pulau Kecil Persyaratan Biogeofisik & Sosial
Ekonomi Kegiatan Pembangunan
Kondisi Awal Pulau_Pulau Kecil
Kelayakan Biogeofisik & Sosial Ekonomi
Pemanfaatan SD Pulau-Pulau Kecil Secara Berkelanjutan
Aspirasi Masyarakat Lokal/Nasional Daya Pulih/ Daya
Lenting
Daya Dukung/Daya Tampung
Tata Ruang Wilayah Pulau-Pulau Kecil
Gambar 1
Proses formulasi perencanaan dan pemanfaatan ekosistem
pulau-pulau kecil secara berkelanjutan (Modifikasi dari Dahuri
et al
,
1995).
Kerangka pikir pengembangan terpadu pulau-pulau kecil berbasis
pemanfaatan ruang didasarkan pada potensi sumberdaya alam, kesesuaian lahan
dan daya dukung lingkungan perairan, secara skematik disajikan pada Gambar 2.
RTRW
Kabupaten belum
terintegrasi
Kepulauan Tanakeke
Isu dan
Permasalahan
Potensi
Sumberdaya Alam
Belum ada
penataan ruang
Pemanfatan tidak
terkendali
Degradasi
Lingkungan
Kesesuaian Lahan
Kawasan Lindung
Kawasan Budidaya
Daya Dukung
Alokasi Pemanfaatan Ruang
(Lingkungan, Sosial, Ekonomi
Arahan dan Strategi Kebijakan
Alokasi Pemanfaatan Ruang yang
Optimal dan Berkelanjutan
Gambar 2
Kerangka pemikiran penelitian
Pulau-pulau Kecil
Batasan Pulau-pulau Kecil
Meskipun belum ada kesepakatan tentang definisi pulau dan pulau-pulau
kecil baik di tingkat nasional maupun dunia, namun terdapat kesepakatan umum
bahwa yang dimaksud dengan pulau adalah massa daratan yang seluruhnya
dikelilingi oleh air dan tetap berada di atas permukaan air saat pasang tertinggi,
sedangkan pulau kecil adalah pulau yang berukuran kecil yang secara ekologis
terpisah dari pulau induknya (
mainland
) dan memiliki batas yang pasti, terisolasi
dari habitat lain, sehingga mempunyai sifat insular (Dahuri, 1998).
Menurut Peraturan Presiden RI No 78 Tahun 2005 tentang pulau-pulau
terluar, bahwa pulau kecil adalah
pulau dengan luas area kurang atau sama dengan
2000 km
2. Bila batasan pulau kecil didasarkan pada pemanfaatan sosial ekonomi
dan demografi, maka pemanfaatan pulau kecil dengan ukuran kurang dari 2000
km
2hendaknya berbasis pada konservasi. Dengan berpijak pada basis konservasi
maka hanya sekitar 50% dari luas area pulau kecil yang dimaksud dapat
dimanfaatkan bagi berbagai peruntukan sosial, ekonomi dan demografi
(UNESCO, 1991). Untuk pulau sangat kecil dipakai ukuran luas maksimum 1000
km
2dengan lebar kurang dari 3 km (Hehanusa, 1994 ; Falkland, 1995
dalam
Tresnadi, 1998).
Pulau - pulau kecil atau gugusan pulau - pulau kecil didefinisikan sebagai
kumpulan pulau - pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi
ekologis, ekonomi, sosial dan budaya, baik secara individual maupun secara
sinergis dapat meningkatkan skala ekonomi dari pengelolaan sumberdayanya
Karakteristik Pulau-pulau Kecil
Secara umum pulau kecil memiliki karakteristik biogeofisik sebagai
berikut (Bengen, 2002) :
-
Terpisah dari habitat pulau induk (
mainland island
), sehingga bersifat
insular.
-
Memiliki sumberdaya air tawar yang terbatas baik air permukaan maupun
air tanah, dengan daerah tangkapan airnya relatif kecil sehingga sebagian
besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut.
-
Peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat
kegiatan manusia, misalnya badai dan gelombang besar serta pencemaran.
-
Memiliki sejumlah spesies endemik yang bernilai ekologis tinggi
-
Area perairan lebih luas dari area daratannya dan relatif terisolasi dari
daratan utamanya (benua atau pulau besar).
-
Tidak mempunyai
hinterland
yang jauh dari pantai
Fairbridge (1968,
dalam
Adrianto, 2005) memberikan definisi bahwa
pulau adalah wilayah daratan laut (
ocean basins
) yang memiliki karakteristik
berbeda dengan daratan kontinen. Terkait dengan definisi ini kemudian Salm
(1984,
dalam
Adrianto, 2005) membagi dua karakteristik pulau yaitu pulau-pulau
oseanik dan kontinental, dimana keduanya memiliki karakteristik yang berbeda
baik ditinjau dari ukurannya maupun stabilitas penggunaannya (Tabel 1).
Potensi dan Kendala Pengembangan Pulau-pulau Kecil
Tabel 1. Karakteristik Pulau Oseanik, Pulau Kontinental dan Daratan Kontinen
Karakteristik
Pulau Oseanik
Pulau Daratan
Benua
Geografis - Jauh oleh benua
- Dikelilingi oleh
laut luas
- Area daratan kecil
- Suhu udara stabil
- Iklim sering
berbeda dengan pulau besar terdekat
- Dekat dari benua
- Dikelilingi
sebagian oleh laut yang sempit
- Area daratan besar
- Suhu agak
bervariasi
- Iklim mirip benua
terdekat
- Area daratan
sangat besar
- Suhu udara
bervariasi
- Iklim musiman
Geologi - Umumnya karang
atau vulkanik
- Sedikit mineral
penting
- Tanahnya
porous/permeabel
- Sedimen atau
metamorfosis
- Beberapa mineral
penting
- Beragam tanahnya
- Sedimen atau
metamorfosis
- Beberapa mineral
penting
- Beragam
tanahnya
Biologi - Keanekaragaman
hayati rendah
- Pergantian species
tinggi
- Tinggi pemijahan
massal hewan laut bertulang
belakang
- Keanekaragaman
hayati sedang
- Pergantian species
rendah
- Sering pemijahan
massal hewan laut bertulang belakang - Keanekaragaman hayati tinggi - Pergantian species biasanya rendah
- Sedikit pemijahan
massal hewan laut bertulang belakang
Ekonomi - Sumberdaya
daratan terbatas (sempit)
- Sumberdaya laut
lebih penting
- Jauh dari pasar
- Sumberdaya
daratan agak luas
- Sumberdaya laut
lebih penting
- Lebih dekat pasar
- Sumberdaya
daratan luas
- Sumberdaya laut
sering tidak penting - Pasar relatif
mudah
Sumber : Salm (1984, dalam Adrianto (2005).
Sumberdaya ikan di kawasan pulau-pulau kecil terkenal sangat tinggi, hal
ini didukung oleh ekosistem yang kompleks dan sangat beragam. Perairan karang
merupakan ekosistem yang subur yang banyak dihuni oleh beranekaragam
sumberdaya hayati. Selain itu ekosistem terumbu karang dengan keunikan dan
keindahannya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata bahari.
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem utama pulau-pulau kecil yang
sangat berperan bagi sumberdaya ikan di kawasan tersebut dan sekitarnya maupun
bagi masyarakat sekitarnya. Ekosistem mangrove berfungsi sebagai tempat
mencari makan bagi ikan, tempat memijah, tempat berkembang biak dan sebagai
tempat memelihara anak. Ekosistem mangrove juga dapat berfungsi sebagai
penahan abrasi yang disebabkan oleh gelombang dan arus, selain itu ekosistem ini
juga secara ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, bahan baku untuk
membuat arang, pulp dan bahan untuk konstruksi.
Sumberdaya rumput laut banyak dijumpai di pulau-pulau kecil, hal ini
disebabkan karena kebanyakan wilayah pesisir dikawasan ini mempunyai perairan
yang subur dan dangkal serta mempunyai ombak yang relatif kecil. Rumput laut
merupakan sumberdaya alam yang mempunyai nilai komersial yang tinggi
disamping sumberdaya perikanan. Sumberdaya ini banyak dibudidayakan oleh
penduduk sekitar sebagai mata pencaharian mereka.
Potensi jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pulau-pulau kecil,
seperti pariwisata pantai, bahari dan perhubungan laut, merupakan potensi yang
dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat sekitar
maupun pendapatan nasional. Dengan keanekaragaman dan keindahan yang
terdapat di pulau-pulau kecil tersebut merupakan daya tarik tersendiri di dalam
pengembangan pariwisata.
Disamping potensi-potensi sebagaimana diuraikan, pengembangan
pulau-pulau kecil terkendala oleh karakteristiknya, antara lain:
(1)
Ukuran yang kecil dan terisolasi, sehingga penyediaan prasarana dan sarana
menjadi sangat mahal, dan sumberdaya manusia yang handal jadi langka.
(2)
Kesukaran atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi yang
transportasi turut menghambat pembangunan hampir semua pulau-pulau
kecil di dunia (Brookfield, 1990; Hein, 1990; Dahuri, 1998)
(3)
Ketersediaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan, seperti air tawar,
vegetasi, tanah, ekosistem pesisir dan satwa liar, pada akhirnya akan
menentukan daya dukung suatu sistem pulau kecil dan menopang kehidupan
manusia penghuni dan segenap kegiatan pembangunan.
(4)
Produktivitas sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di
setiap unit ruang (lokasi) di dalam pulau dan yang terdapat di sekitar pulau
(seperti ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) saling terkait satu
sama lain secara erat (McElroy et, al, 1990; Dahuri, 1998).
Berdasarkan beberapa kendala tersebut, bukan berarti pulau-pulau kecil
tidak dapat dibangun atau dikembangkan, melainkan pola pembangunannya harus
mengikuti kaidah-kaidah ekologis, khususnya adalah bahwa tingkat pembangunan
secara keseluruhan tidak boleh melebihi daya dukung (
carrying capacity
) suatu
pulau, dampak negatif pembangunan hendaknya ditekan seminimal mungkin
sesuai dengan kemampuan ekosistem pulau. Selain itu, setiap kegiatan
pembangunan yang akan dikembangkan di suatu pulau kecil seyogyanya
memenuhi skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan serta sesuai dengan
budaya lokal.
Kesesuaian dan Daya Dukung Lahan
sebagai Dasar Penentuan Peruntukan Lahan
Kesesuaian Lahan
Dalam proses penentuan pola pemanfaatan ruang, menentukan lokasi yang
secara biogeofisik sesuai adalah faktor penting yang dapat menjamin
kelangsungan kegiatan pada lokasi yang ditentukan. Penempatan kegiatan
pembangunan di lokasi yang sesuai, tidak saja mencegah kerusakan lingkungan
tetapi juga menjamin keberhasilan ekonomi kegiatan tersebut.
kelayakan biogeofisik dilakukan dengan cara mendefinisikan persyaratan
biogeofisik setiap kegiatan, kemudian dipetakan (dibandingkan dengan
karakteristik biogeofisik wilayah pesisir itu sendiri). Dengan cara ini kemudian
ditentukan kesesuaian penggunaan setiap unit (lokasi) peruntukan di wilayah
pesisir dan laut.
Penentuan kelayakan biogeofisik ini dapat dilakukan dengan
menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) seperti Arc View
(Kapetsy
et a
l, 1987). Informasi dasar biasanya dalam bentuk peta tematik, yang
diperlukan untuk menyusun kelayakan biogeofisik ini tidak saja meliputi
karakteristik daratan dan hidrometeorologi seperti kelerengan, tutupan lahan,
peruntukan lahan, dan lain-lain tetapi juga oseanografi dan biologi perairan pesisir
dan laut seperti pasang surut, arus, kedalaman, ekosistem mangrove, lamun,
terumbu karang dan lain-lain.
Berdasarkan fungsinya, ruang dapat dikelompokkan menjadi kawasan
Iindung dan budidaya yang masing-masing memiliki persyaratan biogeofisik.
Kawasan Iindung merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati yang
tinggi, yang tidak boleh digunakan untuk kegiatan manusia kecuali penelitian
ilmiah atau seremoni keagamaan/budaya oleh masyarakat lokal dan harus dapat
diterima dan didukung oleh masyarakat lokal. Sedangkan kawasan budidaya dapat
dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan sesuai dengan kemampuan lahannya
(Dacles
et al.,
2000).
Aktifitas budidaya di pulau kecil dapat dikategorikan kedalam budidaya
pantai dan laut. Untuk budidaya laut (bahari) FAO (2003) menyajikan kriteria
kesesuaian untuk budidaya rumput laut (Tabel 2). Sedangkan budidaya laut
dengan keramba jaring apung untuk beberapa jenis ikan seperti kerapu dan
bandeng, kriteria kesesuaiannya dilaporkan oleh Fisheries Western Australia
(1998) yang disajikan pada Tabel 3. Demikian juga pemilihan lokasi bagi
pembesaran ikan dalam keramba jaring apung dikemukakan oleh Imanto
et al
.
(1995); Ahmad
et al
. (1995); Beveridge (1996); Ismail
et al
. (2001) tentang nilai
ideal untuk kualitas perairan, disajikan pada Tabel 4.
Tabel 2
Kriteria kesesuaian budidaya rumput laut
Parameter Kriteria
Geomorfologis Bagian atas zona sub-litoral, daerah
karang dengan dasar berpasir-berbatu, Arus sedang
Salinitas 30-35 ppt, tidak terpengaruh sumber air
tawar
Suhu 25-30 °C
Gelombang Tidak ada
Biologis Dasar putih dan ditumbuhi sedikit
rumput laut alami
Kedalaman pada saat surut 0.5-1.0 m
Sumber : FAO (2003)
Tabel 3
Kriteria kesesuaian budidaya laut (keramba jaring apung)
Parameter Kriteria
Geomorfologis Berpasir dengan sedikit lamun
Dasar batu kapur yang ditumbuhi alga
Kedalaman > 7 meter : Finfish
> 4meter : lainnya
Arus 0.05 m/detik and 0.5 meter/detik
Minimum 0.1 meter/detik selama 3 hari berturut-turut
Biologis Minimum berjarak 1 km dari habitat penting
Gelombang < 1 meter
Navigasi Bebas dari jalur tansportasi laut
Interaksi dengan aktifitas lain Bebas dari area penangkapan, penyelaman
Sumber : Fisheries Western Australia (1998)
Tabel 4
Nilai ideal parameter kualitas perairan pemilihan lokasi budi daya laut
(keramba jaring apung)
Parameter Kualitas Perairan
Nilai Ideal
Kedalaman (Meter) 7 – 25
Kecerahan (Meter) > 3
Salinitas (‰) > 30
Oksigen terlarut (Mg/l) > 7
pH > 7
Suhu air (oC ) 26 – 32
Arus air (m/menit) 4 – 8
Tanah dasar berpasir
Daya Dukung Lahan
Daya dukung didefinisikan sebagai intensitas penggunaan maksimum
terhadap sumberdaya alam yang berlangsung secara terus menerus tanpa merusak
alam (Pearce dan Kirk, 1986).
Soerianegara (1978) menyatakan untuk mengetahui daya dukung lahan
atau lingkungan harus diperhitungkan semua potensi yang ada di wilayah yang
bersangkutan dan faktor kendala apa saja yang mempengaruhi potensi tersebut
dalam jangka panjang. Tanda-tanda dilampauinya daya dukung lingkungan adalah
adanya kerusakan lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa untuk populasi
manusia batasan daya dukung adalah jumlah individu yang dapat didukung oleh
suatu satuan luas sumberdaya dan lingkungan dalam keadaan sejahtera.
Scones (1993) membagi daya dukung lingkungan menjadi dua yakni, daya
dukung ekologis dan daya dukung ekonomis. Daya dukung ekologis adalah
jumlah maksimum hewan-hewan pada suatu lahan yang dapat didukung tanpa
mengakibatkan kematian karena faktor kepadatan, serta tidak terjadi kerusakan
lingkungan secara permanen (
irreversible
). Hal ini ditentukan oleh faktor-faktor
lingkungan. Daya dukung ekonomi adalah tingkat produksi (skala usaha) yang
memberikan keuntungan maksimum dan ditentukan oleh tujuan usaha secara
ekonomi. Dalam hal ini digunakan paremeter-parameter kelayakan usaha secara
ekonomi.
Dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam di
pulau-pulau kecil, faktor daya dukung lahan/lingkungan merupakan faktor yang harus
dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam
dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila dikelola dengan tetap
memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungannya.
Kelestarian, keberadaan atau optimisasi manfaat dari suatu sumberdaya
alam dan lingkungan merupakan salah satu persyaratan dilakukannya penilaian
daya dukung (
carrying capacity)
. Tujuan utama dari penilaian ini adalah untuk
mempertahankan atau melestarikan potensi sumberdaya alam dari areal tersebut
pada batas-batas penggunaan yang diperkenangkan atau yang dimungkinkan.
Daya dukung tidak hanya dilakukan dalam penilaian aspek fisik dan
ekologisnya saja akan tetapi juga dapat digunakan dalam memperkirakan nilai
daya dukung dari aspek sosial. Dalam bidang penataan suatu kawasan,
contoh-contoh yang umum digunakan untuk perhitungan daya dukung sosial ini misalnya
penilaian terhadap terjadinya perubahan sosial dari masyarakat.
Nilai yang dihasilkan dari perhitungan atau pendekatan daya dukung dari
sumberdaya alam dan lingkungan adalah penting untuk menentukan
bentuk-bentuk pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut terutama dalam tujuan menjaga,
mengendalikan, dan juga melestarikan lingkungan. Penilaian yang sistematik
terhadap sumberdaya alam dan lingkungan yang menjadi dasar dari kehidupan
manusia dan mahluk hidup lainnya dilakukan terutama untuk mengetahui
potensinya. Dengan pendekatan ini maka akan dapat diketahui kapasitas dari suatu
kawasan atau ekosistem yang dinilai, yang selanjutnya akan dapat merupakan
ukuran dan/atau nilai pendugaan terhadap kualitas sumberdaya alam dan
lingkungan.
Menurut Tivy (1972), diketahui ada tiga pendekatan yang dilakukan
dalam menduga daya dukung, yaitu : (1) faktor pembatas dan evaluasi dampak
(
limiting factors and evaluation impacts
), (2) keawetan dan kerusakan areal (
site
deterioration and durability
), dan (3) kepuasan pemakai (
user satisfaction
).
Mengacu pada batasan-batasan konsep pulau-pulau kecil dan daya dukung
tersebut di atas, maka ada beberapa daya dukung yang perlu diperhatikan beserta
kriteria-kriterianya dalam rangka pembangunan pulau-pulau kecil yang
berkelanjutan. Daya dukung tersebut antara lain :
(a)
Daya Dukung Ekologis
maupun kegiatan yang diakomodasikan di dalamnya, sebelum terjadi suatu
penurunan dalam kualitas ekologis kawasan atau ekosistem tersebut. Kawasan
yang menjadi perhatian utama dalam penilaian daya dukung ekologis ini adalah
jenis kawasan atau ekosistem yang tidak dapat pulih, seperti berbagai ekosistem
lahan basah (
wetland
), antara lain rawa.
Pengertian ekosistem, yang digunakan sebagai dasar dari penilaian daya
dukung ini, dinyatakan sebagai suatu sistem (tatanan) kesatuan secara utuh antara
semua unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Odum (1971)
menyatakan bahwa ekosistem adalah suatu sistem dalam alam yang mengandung
mahluk hidup dan lingkungannya yang terdiri dari zat-zat yang tak hidup dan
saling mempengaruhi, dan diantara keduanya terjadi pertukaran zat atau energi
yang diperlukan dalam dan untuk mempertahankan kehidupannya.
Kondisi ekosistem ini harus dipertahankan, walaupun secara alamiah
kondisi ini tidak statik, karena setiap biota yang ada dan hidup di dalamnya akan
menjadi tua dan mati dan selanjutnya akan digantikan oleh biota lainnya. Namun
bila ada gangguan yang melampaui batas pemulihan dari ekosistem ini, maka
proses pemulihannya akan memakan waktu yang sangat panjang (dapat berpuluh
tahun dan bahkan beribu tahun). Lama waktu pemulihan suatu ekosistem
tergantung dari : (1) kondisi atau tingkat kerapuhan ekosistem tersebut),
(2) lamanya terjadi gangguan, dan (3) frekwensi terjadinya gangguan ini
(misalnya terjadi berulang-ulang).
Tingkat kerapuhan suatu ekosistem sangat tergantung pada kondisi
parameter yang yang mendukung di dalamya seperti keberadaan vegetasi dan
satwa, kondisi topografi, tanah, iklim dan juga keterlibatan manusia di dalamnya.
Selain itu, terdapat perbedaan dalam tingkat kerapuhan masing-masing ekosistem,
seperti ekosistem kawasan estuari cenderung lebih sensitif dan rawan terhadap
gangguan dibandingkan dengan hutan lainnya.
vandalisme lainnya. Walaupun demikian, menurut Godin dan Leonard (1977)
dalam
Pigram (1983), penerapan teknologi pencegah dampak negatif terhadap
lingkungan dapat meningkatkan daya dukung ekologis atau dapat mencegah
penurunan kualitas ekosistem atau lingkungan pada suatu tempat.
(b)
Daya Dukung Fisik
Daya dukung fisik suatu kawasan atau areal merupakan jumlah
makasimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam
kawasan atau areal tersebut tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan
kualitas kawasan tersebut secara fisik (Pigram, 1983). Kawasan yang telah
melampaui kondisi daya dukungnya secara fisik, antara lain dapat dilihat dari
tingginya tingkat erosi, pencemaran lingkungan terutama udara dan air
sungai/permukaan, banyaknya sampah kota, suhu kota yang meningkat, konflik
sosial yang terjadi pada masyarakat karena terbatasnya fasilitas umum seperti
pada tempat-tempat rekreasi. Dari contoh yang dikemukakan ini, dapat dilihat
bahwa terlampauinya daya dukung fisik suatu kawasan akan berdampak (negatif)
tidak saja terhadap aspek fisiknya tetapi juga terhadap aspek-aspek lainnya yaitu
aspek-aspek sosial, ekonomi, dan juga ekologis.
(c)
Daya Dukung Ekonomi
Daya dukung ekonomi adalah tingkat produksi (skala usaha) yang
memberikan keuntungan maksimum dan ditentukan oleh tujuan usaha secara
ekonomi. Dalam hal ini digunakan paremter - parameter kelayakan usaha secara
ekonomi.
(d)
Daya Dukung Sosial
Konsep daya dukung sosial pada suatu kawasan merupakan gambaran dari
presepsi seseorang dalam menggunakan ruang pada waktu yang bersamaan, atau
presepsi pemakai kawasan terhadap kehadiran orang lain secara bersama dalam
memanfaatkan suatu area tertentu.
dalam kondisi yang telah melampaui batas daya dukung ini akan menimbulkan
penurunan dalam tingkat dan kualitas pengalaman atau kepuasan pengguna
(pemakai) pada kawasan tersebut (Pigram, 1983). Terganggunya pola, tatanan
atau sistem kehidupan dan sosial budaya manusia (indvidu, kelompok) pemakai
ruang tersebut, yang dapat dinyatakan sebagai ruang sosialnya, juga merupakan
gambaran telah terlampauinya batas daya dukung sosial ruang tersebut.
Disamping dampak yang terjadi yang mengganggu kenyamanan atau kepuasan
pemakai kawasan/ruang ini, dampak negatif lanjutan lainnya dapat terjadi
misalnya menurunnya spesies biota di suatu kawasan.
Kawasan pulau-pulau kecil sangat rentan secara ekologis. Selain itu
wilayah ini memiliki keterkaitan ekologis, sosial ekonomi dan sosial budaya
dengan ekosistem di sekitarnya. Dengan alokasi ruang yang didasarkan pada daya
dukung ekologis, jaringan sosial budaya antara masyarakat dan integrasi kegiatan
social ekonomi yang sudah berlangsung selama ini, akan memberikan pilihan
investasi yang tepat. Alokasi pemanfaatan ruang dengan pendekatan ekosistem
harus menjadi instrumen kebijakan utama untuk menjaga keamanan dan
keselamatan sosial budaya dan ekologis dalam pengelolaan pulau-pulau kecil
(Dahuri, 1998).
Ekosistem pulau-pulau kecil sangat rentang terhadap kerusakan, karena itu
pemerintah melakukan pembatasan kegiatan yang sudah terbukti menimbulkan
dampak negatif yang luas, baik secara ekologis maupun sosial. Pemerintah hanya
mengijinkan pengelolaan pulau-pulau kecil untuk konservasi, budidaya
(mariculture)
, ekowisata, serta usaha penangkapan ikan dan industri perikanan
yang lestari. Dalam usaha pemanfaatan pulau-pulau kecil ini oleh pengusaha dari
luar pulau, pemerintah menjadi fasilitator pelibatan masyarakat dalam berbagai
bentuk, seperti akses berusaha bagi penduduk lokal, kemitraan usaha dan
penyertaan modal.
tersebut. Demikian juga jika menggunakan air tawar (biasanya merupakan faktor
pembatas terpenting dalam suatu ekosistem pulau-pulau kecil), maka laju
penggunaannya tidak boleh melebihi kemampuan pulau tersebut untuk
menghasilkan air tawar dalam kurun waktu tertentu, (iii) Jika membuang limbah
ke lingkungan pulau, maka jumlah limbah (bukan limbah B
3, tetapi jenis limbah
yang
biodegradable
) tidak melebihi kapasitas asimilasi lingkungan pulau tersebut,
dan (iv) jika memodifikasi bentang alam (
landscape
) suatu pulau (seperti
penambangan pasir dan reklamasi) atau melakukan kegiatan konstruksi di
lingkungan pulau, khususnya di tepi pantai, seperti membangun dermaga (
jetty
)
dan hotel, maka harus sesuai dengan pola hidrodinamika setempat dan
proses-proses alami lainnya.
Pembangunan pulau-pulau kecil dan sumberdaya alamnya yang
berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila setiap kegiatan pembangunan
ditempatkan pada lokasi-lokasi yang sesuai secara biofisik di wilayah yang
bersangkutan.
Implementasi yang berhasil dari setiap kerangka pengelolaan
pulau-pulau kecil akan bergantung pada apakah kerangka tersebut dirancang
berdasarkan pada kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial budaya yang ada serta
susunan kelembagaan dari wilayah tersebut (Dahuri, 1991)
Pentingnya Alokasi Pemanfaatan Ruang
bagi Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Secara Berkelanjutan
Konsep dan Pengertian Alokasi Pemanfaatan Ruang
Menurut Undang-undang No. 26 Tahun 2007, ruang adalah wadah yang
meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi
sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup,
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Sedangkan alokasi
pemanfaatan ruang (pola ruang) adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu
wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budi daya.
struktural menggambarkan keterikatan fungsi lokasi yang terbagi dalam berbagai
kegiatan. Perencanaan pola pemanfaatan ruang dilakukan melalui proses dan
prosedur penyusunan serta penetapan rencana alokasi pemanfaatan ruang
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta mengikat semua
pihak (Darwanto, 2000).
Rencana pola pemanfaatan ruang berbentuk alokasi peruntukan ruang di
suatu wilayah perencanaan. Bentuk alokasi pemanfaatan ruang pada dasarnya
dapat berupa alokasi letak, luas dan atribut lain (misalnya jenis dan intensitas
kegiatan) yang direncanakan dapat tercapai pada akhir priode perencanaan
(Darwanto, 2000)
Menurut Sugandhy (1999), dalam pembangunan berkelanjutan
berwawasan lingkungan, perlu dikembangkan pola pemanfaatan ruang yang
menyerasikan tata guna lahan, air, serta sumberdaya alam lainnya dalam satu
kesatuan tatanan lingkungan yang harmonis dan dinamis serta ditunjang oleh
pengelolaan perkembangan kependudukan yang serasi. Alokasi pemanfaatan
ruang perlu dikelola berdasarkan pola terpadu melalui pendekatan wilayah dengan
memperhatikan sifat lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial
budaya.
Menurut Hardjowigeno dan Nasution (1990), pendekatan perencanaan
alokasi pemanfaatan ruang melalui perencanaan tata guna lahan dapat dilakukan
dengan cara penilaian terhadap lahan dan komponen-komponennya, seperti tanah,
iklim dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan manusia yang selalu berubah
menurut waktu dan ruang.
Konsep perencanaan tata guna lahan harus mempertimbangkan aspek
kebutuhan masyarakat, kemampuan teknis, tenaga kerja serta modal yang dapat
menjadi kontribusi bagi masyarakat. Suatu tata guna lahan yang terencana harus
dapat diimplementasikan/ditetapkan, dapat diterima oleh masyarakat setempat,
dan sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup atau tingkat pendapatan masyarakat
(Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).
fungsional tertentu. Kedua, proses pengadaan atau ketersediaan fisik yang
menjawab kebutuhan akan ruang bagi aktivitas seperti untuk tempat untuk
bekerja, tempat tinggal, transportasi dan komunikasi. Ketiga, dalam proses
pengadaan dan pengalokasian pemanfaatan ruang ini, kaitan antara bagian-bagian
permukaan bumi, tempat berbagai aktivitas dilakukan, dengan bagian atas ruang
(angkasa) serta kebagian dalam yang mengandung berbagai sumberdaya perlu
dilihat dalam wawasan yang integratif.
Alokasi Pemanfaatan Ruang Pulau-Pulau Kecil
Tujuan alokasi pemanfaatan ruang pada pulau-pulau kecil menurut DKP
(2001), secara garis besar dapat dirumuskan sebagai berikut : (i) Mewujudkan
pola pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil yang serasi, selaras dan seimbang
dalam pengembangan kehidupan manusia serta mengatur hubungan antara
berbagai kegiatan dan fungsi ruang guna tercapainya tata ruang yang berkualitas,
(ii) Sebagai pedoman pemanfataan ruang di dalam mengelola kawasan yang
berpotensi untuk dikembangkan sebagai alat pegendali dari hal-hal yang dapat
merusak ekosistem pulau-pulau kecil, (iii) Mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya di kawasan pulau-pulau kecil yang berpotensi untuk dikembangkan di
dalam memacu pertumbuhan ekonomi serta secara signifikan dapat meningkatkan
kesejahteraan rakyat, dan (iv) Meningkatkan mutu lingkungan pulau-pulau kecil
secara menyeluruh, termasuk nilai-nilai kenyamanan dan keindahannya.
Dalam perencanaan alokasi pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil dengan
ukuran kurang atau sama dengan 2000 km
2pemanfaatannya dibatasi hanya untuk
kegiatan-kegiatan seperti konservasi, budidaya laut, kepariwisataan, usaha
penangkapan ikan dan industri perikanan, pertanian organik, dan peternakan skala
rumah tangga, industri non ekstraktif, penelitian dan pendidikan, industri
manufaktur dan pengolahannya. Sedangkan ukuran pulau-pulau kecil di atas 2000
km
2dan lebih kecil atau sama dengan 10.000 km
2dapat direncanakan untuk
kegiatan lain seperti perkapalan, industri perikanan, pergudangan, pusat logistik,
dan pariwisata (DKP, 2002).
pendapatan dan keberlanjutan. Pendekatan partisipatif berarti melibatkan
masyarakat secara luas di dalam proses perencanaan, pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Keterlibatan masyarakat dapat dimulai sejak
munculnya ide atau gagasan pengelolaan, penyusunan, perencanaan, pemanfaatan
dan pengendalian pemanfaatan. Implementasi model ini baru dikatagorikan
terealisasi apabila memenuhi 4 syarat (Hikam, 1999
dalam
DKP, 2001), yakni :
(a)
Setiap orang harus mempunyai hak untuk mendapatkan informasi dan
memiliki akses menuju informasi yang lengkap.
(b)
Struktur komunikasi dalam masyarakat harus terjadi dalam dua arah, dialog
dan keinginan berkomunikasi dapat dilakukan dengan bebas.
(c)
Terjadinya partisipasi aktif dalam setiap pembentukan keputusan.
(d)
Adanya akses pada kekuasaan di dalam menyalurkan informasi.
Tujuan pengelolaan alokasi pemanfaatan ruang di wilayah pulau-pulau
kecil dapat tercapai dengan melalui perencanaan pola pemanfaatan ruang yang
didalamnya meliputi upaya-upaya :
(a)
Menemukenali kebutuhan dan urgensi akan adanya upaya perbaikan
pengelolaan pemanfaatan ruang kawasan pulau-pulau kecil
(b)
Mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan meliputi data fisik dan
sosial sehingga dapat memberikan gambaran karakteristik kawasan pesisir
tersebut.
(c)
Mempersiapkan model dan mekanisme pelibatan masyarakat dalam
penetapan alokasi pemanfaatan ruang di kawasan pulau-pulau kecil.
(d)
Menentukan prioritas pemecahan masalah.
(e)
Melakukan
feasibility
terhadap kemungkinan pembangunan ekonomi yang
baru.
(f)
Mempertimbangkan batas-batas pengelolaan kawasan.
(g)
Melakukan identifikasi
stakeholder
yang terkait, analisa dan kajian terhadap
kapasitas kelembagaan serta membangun mekanisme koordinasi antar badan
stakeholders
.
fungsi kawasan dan dikembangkan secara sektoral maupun lintas sektoral.
Perangkat insentif tersebut bertujuan memberikan ransangan terhadap kegiatan
yang menunjang fungsi kawasan pulau-pulau kecil dan sesuai/seiring dengan
tujuan penataan ruang yang dijabarkan dalam rencana tata ruang. Sedangkan
perangkat disinsentif adalah yang bertujuan membatasi pertumbuhan dan
mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang atau yang
bersifat merusak atau mengganggu kelestarian lingkungan kawasan pulau-pulau
kecil.
Masalah-masalah yang sering muncul dalam pengembangan pemanfaatan
ruang pulau-pulau kecil secara umum disebabkan oleh tekanan penduduk
dan tuntutan perkembangan ekonomi, tidak konsistennya peraturan serta
ketidakserasian sektoral (Gambar 3).
Gambar 3
Skema Permasalahan Pengembangan Pulau-Pulau Kecil
(Modifikasi dari Rusli, 1998)
Konflik Budidaya & Fungsi Lindung
Konflik Antar Jenis Budidaya
Konservasi Terabaikan Konflik Perikanan Tangkap
& Fungsi Lindung
- Tekanan Penduduk
- Tuntutan Pertumbuhan Ekonomi - Ketidak Serasian Sektoral
- Ketidak Konsistenan Peraturan dan Perundang-undangan
Penegakan Hukum
Pola Perencanaan Tata Ruang
Akomodasi Sektoral
Partisipasi Masyarakat
[image:34.595.74.526.349.744.2]Salah satu indikator keberhasilan pola pemanfatan ruang pulau-pulau kecil
adalah apabila kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan, terutama masyarakat
di kawasan pulau-pulau kecil, yang selama ini umumnya masih prasejahtera.
Kerena itu pendekatan yang dapat dikembangkan mencakup dua hal, yakni
pengaturan pemanfaatan ruang yang adil serta adanya mitra kerja yang saling
mendukung.
Partisipasi Masyarakat dalam Alokasi Pemanfaatan Ruang
Menurut Kartasasmita (1996), untuk menyusun rencana dan program
alokasi pemanfaatan ruang, kesadaran masyarakat perlu digugah dan prakarsa
serta partisipasinya perlu didorong dan dikembangkan. Pemahaman mengenai
perlunya pengaturan pemanfaatan ruang merupakan hal yang penting bagi
masyarakat dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang.
Instrumen untuk aktualisasi peran partisipasi masyarakat dalam
pembangunan daerah telah dikembangkan dengan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 9 Tahun 1982 yang disebut sistem perencanaan bawah-atas
(
bottom-up top-down planning
). Upaya meningkatkan peran serta masyarakat
dibutuhkan dalam pembangunan agar dapat memberikan hasil yang optimal.
Partisipasi masyarakat dalam perencanaan secara teknis berlangsung berdasarkan
pertimbangan sasaran dan tujuan. Sasaran dimaksud meliputi pertukaran
informasi, membangun pendidikan dukungan dalam mengambil keputusan serta
input yang mewakili, sedangkan tujuan yang dimaksud meliputi pembenahan
administratif dan kepentingan umum.
Menurut Cressey (1987), partisipasi dipengaruhi oleh faktor-faktor :
konteks sosial ekonomi atau pemasaran, teknologi dan produktivitas, serta
organisasi sosial dan kelembagaan. Selanjutnya komponen penting dalam
partisipasi meliputi : waktu dan tahapan, isi kegiatan dan konstruksi proses
termasuk di dalamnya aktor yang terlibat.
Konsep pemberdayaan masyarakat lokal melalui kegiatan ekonomi
sehingga dapat dialokasikan secara optimal ke dalam berbagai kegiatan sosio
ekonomi masyarakat. Upaya ini pada dasarnya ditujukan untuk mendorong dan
memperlancar proses transformasi penduduk lokal yang terpencil dari sistem
tradisional-terisolir ke sistem yang lebih maju agar mampu berinteraksi dan saling
memperkuat dengan wilayah lainnya yang lebih luas.
Konsep pemberdayaan masyarakat lokal merupakan konsep alternatif yang
pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengambilan keputusan suatu
kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumber pribadinya, langsung
(melalui partisipasi), demokratis, dan pembelajaran sosial melalui pengalaman
langsung. Melalui konsep ini, penduduk lokal dalam konteks pembangunan
berkelanjutan tidak dijadikan obyek dalam berbagai proyek pembangunan, tetapi
mereka adalah subjek dari pembangunannya sendiri. Dalam konteks kebijakan
regional yang dinamis, sasaran pemberdayaan masyarakat lokal akan lebih cepat
dicapai dengan melakukan pengaturan terhadap alokasi pemanfaatan ruang.
Optimasi Alokasi Pemanfaatan Ruang Pulau-pulau Kecil dengan
Pendekatan Program Linear
Program linear pertama dikembangkan oleh Dantzig (1947). Tujuan
penggunaan program linear adalah untuk menemukan beberapa kombinasi
alternatif pemecahan masalah. Kemudian dipilih kombinasi yang terbaik, dalam
rangka menyusun strategi alokasi sumberdaya yang terbatas untuk mencapai
tujuan yang diinginkan secara optimal. Alokasi optimal adalah memaksimumkan
atau meminimumkan tujuan dengan adanya kendala (Budiharsono, 2005).
Menurut Budiharsono (2005), ada tiga unsur yang harus dipenuhi dalam
model program linear agar dapat dirumuskan secara matematis, yaitu: (i) adanya
fungsi tujuan, (ii) adanya kendala; dan (iii) bahwa nilai peubah keputusan harus
positif atau disebut dengan syarat non-negatif.
masing-masing variabel sedemikian rupa sehingga nilai fungsi tujuan atau obyektif
(objective function)
yang linier menjadi optimum (maksimum atau minimum)
dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan input yang ada. Pembatasan ini
harus dinyatakan dalam pertidaksamaan-pertidaksamaan linier
(linier
inequalities).
Pada tahapan operasional, Chuvieco (1993) mengatakan bahwa program
linear (
linear programming
) adalah teknik matematis yang telah dipakai sejak
akhir 1950 dalam cakupan masalah perencanaan yang luas. Meskipun penerapan
utamanya ditujukan untuk perencanaan dan manajemen bisnis, juga telah luas
diterapkan pada masalah yang berkaitan dengan aspek spasial.
Dengan melihat definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
program linier merupakan alat dengan metode matematis yang memiliki
kemampuan untuk memperoleh alokasi yang optimal dari sumberdaya yang
terbatas (
limited resources
) untuk mencapai tujuan (
objective
) yang diinginkan,
baik itu memaksimumkan keuntungan (profit) maupun meminimumkan biaya. Hal
ini dapat dicapai dengan memenuhi semua pembatasan atau persyaratan pada saat
yang bersamaan. Dengan demikian aplikasi program linier dapat membantu
pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan dan tindakannya secara
terukur dan sistematis.
Ada empat kondisi utama yang diperlukan dalam penerapan program
linier, yaitu (Mulyono 1999; Taha 1996): (i) sumberdaya yang terbatas, (ii) fungsi
tujuan, (iii) linieritas, dan (iv) keseragaman.
Sumberdaya yang terbatas merupakan alasan utama mengapa diperlukan
mensyaratkan bahwa barang atau jasa (sumberdaya) yang diproduksi/obyek
optimalisasi harus seragam.
Melihat kasus yang dihadapi dalam upaya optimalisasi pemanfaatan ruang
Kepulauan Tanakeke, diperkirakan keempat kondisi utama yang diperlukan
sebagaimana disebutkan di atas telah terpenuhi. Oleh karena itu, permasalahan
pengalokasian pemanfaatan ruang wilayah Kepulauan Tanakeke secara optimal,
layak diselesaikan atau dipecahkan dengan menggunakan program linier sebagai
bagian dari riset operasi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Taha (1996) bahwa
program linier merupakan alat riset operasi yang paling efektif dalam
memecahkan persoalan optimasi.
Integrasi Sistem Informasi Geografis dan Program Linier
Teknologi program linier dan Sistem Informasi Geografis (SIG) telah
terbukti banyak digunakan sebagai alat (
tools
) yang diterapkan pada perencanaan
pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Masing-masing
teknologi memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. Oleh karena
itu integrasi keduanya merupakan suatu kemajuan dalam ilmu pengetahuan,
khususnya dalam hal perencanaan pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya
manusia. Keduanya saling melengkapi untuk mendapatkan suatu konsep
pengelolaan yang lebih komprehensif dan terpadu.
Banyak contoh penerapan integrasi teknologi ini, diantaranya oleh
Campbell et al. (1992); Chuvieco (1993); Guerra dan Lewis (2002).
mengintegrasikan program linier dan SIG untuk perencanaan alokasi pemanfaatan
lahan untuk sektor pertanian di Antigua. Tujuannya adalah untuk menentukan
tanaman apa yang paling layak diusahakan dan luas lahan untuk mendapatkan
hasil yang optimal.
memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai data dasar sumberdaya
alam (SDA). Sedangkan program linier digunakan untuk mengkombinasikan data
SDA dengan informasi ketersediaan tenaga kerja, ramalan pasar, teknologi, dan
informasi biaya yang digunakan untuk mengestimasi potensi ekonomi dari sektor
pertanian tersebut.
Tahapan-tahapan yang dilakukan oleh Campbell tersebut di atas tidak jauh
berbeda dengan yang dilakukan oleh Chuvieco. Chuvieco sendiri
mengintegrasikan penggunaan program linier dan SIG untuk pemodelan
pemanfaatan lahan. Tujuan perencanaan yang dilakukan Chuvieco adalah
optimalisasi pemanfaatan lahan guna meminimkan pengangguran di daerah
pedesaan. Di sini Chuviecho melakukan tiga pendekatan:
-
SIG digunakan untuk menyatukan data bagi alternatif pemanfaatan lahan
yang luas.
-
Data digunakan sebagai input dari model program linier yang menentukan
pola pemanfaatan lahan secara optimal, seperti diukur melalui fungsi
obyektif terpilih dan tergantung pada semua hambatan yang diperlukan.
-
SIG dipakai untuk menghimpun pertimbangan spasial dari kriteria
penerapan lainnya bagi penyempitan solusi optimal program linier menjadi
anjuran pemanfaatan lahan yang lebih rinci.
Sementara itu, Guerra dan Lewis (2002) juga telah berhasil
memanfaatkan metode
linear programming
dengan teknik analisis spasial
sebagai proses untuk menemukan solusi ruang yang optimal. Analisis dilakukan
guna menentukan lokasi yang optimal sebagai habitat dari spesies margasatwa.
Metodologi yang digunakan juga hampir sama, yaitu program linier digunakan
untuk optimasi setelah sebelumnya ditemukan kriteria spasial dan model
matematik liniernya. Selanjutnya SIG digunakan untuk memetakan solusi
optimal dari program linier dengan lokasi-lokasi tertentu yang sesuai dengan
kesesuaian lahannya.
optimalisasi ekonomi pada pemanfaatan sumberdaya. Hasilnya adalah sebuah
alternatif pemecahan untuk menemukan lahan yang sesuai, mengoptimalkan
penggunanya dan sekaligus dapat memetakan lokasi-lokasi yang spesifik berikut
luasannya. Dengan demikian, keluaran dari metode ini dapat menjadi sebuah
arahan konkrit dalam alokasi pemanfaatan sumberdaya.
Analisis Prioritas dengan
Multi Criteria Decision Making
(MCDM)
Analisa
multi criteria decision making
(MCDM) telah banyak digunakan,
dikembangkan dan dapat diakomodasikan bagi berbagai kriteria yang dihadapi,
dalam pengambilan keputusan tanpa perlu melakukan konversi ke unit
pengukuran dan proses normalisasi. Sebagai contoh struktur
Analytical Hierarky
Proses
(AHP) adalah bagian dari MCDM (Gibbon
et
al
, 1996), dimana bobot
suatu alternatif dengan kriteria yang harus diambil, disusun berdasarkan matrik.
Bidang analisis multi kriteria memerlukan sejumlah pendekatan dengan
menghitung banyak kriteria untuk membentuk struktur dan mendukung proses
pengambilan keputusan. Beberapa
sofware
yang dirancang untuk mendukung
analisis ini, salah satu diantaranya adalah
simple multi attribute rating technigues
(SMART).
Teknik MCDM adalah suatu teknik yang cukup potensial untuk digunakan,
karena bertujuan dalam mengakomodasi proses seleksi yang melibatkan beragam
kriteria (
multi criteria
) dalam pemilihan alternatif (Gumbriech, 1996).
Teknik MCDM lebih luas penerapannya bila dikombinasikan dengan SIG.
Penerimaan teknik tersebut pada beberapa bidang ditentukan oleh beberapa faktor,
diantaranya:
-
Teknik MCDM memiliki kemampuan dalam menangani jenis data yang
bervariasi (kuantitatif, kualitatif dan data campuran) dan pengukuran yang
intangible.
-
Teknik MCDM dapat mengakomodasi perbedaan yang diinginkan dalam
penentuan kriteria ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.
-
Teknik MCDM tidak membutuhkan penentuan nilai ambang seperti pada
operasi
overlay
sehingga kehilangan informasi yang dihasilkan tidak
terjadi akibat penurunan skala dari
variable
continue
pada skala nominal.
-
Prosedur analisis atau agregasi dalam teknik MCDM relatif sederhana dan
staright forward
(Jansen and Rietveld 1990; Carter 1991; Jankowski 1994)
dalam
(Subandar, 1999).
Beberapa penelitian yang telah menggunakan analisis MCDM dengan
teknik SMART dan VISA dalam menentukan skala prioritas dalam peruntukan
lahan, antara lain; (1) penentuan skala prioritas pada kegiatan perikanan (tambak,
rumput laut dan KJA) di Pulau Tanakeke yang menghasilkan kegiatan budidaya
rumput laut sebagai prioritas utama (Jamil, 2004), (2) penentuan skala prioritas
lokasi sentra pengumpulan hasil tambak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
dengan mengambil 5 lokasi (desa/kelurahan) yaitu Wanasari, Brebes, Bulakamba,
Losari dan Tanjung yang menghasilkan lokasi Wanasari sebagai prioritas utama
(Hakim, 2004), (3) penentuan sakala prioritas pengembangan usaha tambak udang
dengan mengambil 5 lokasi (kecamatan) yaitu Bengkalis, Bantan, Tebing Tinggi,
Bukit Batu dan Rupat, yang menghasilkan lokasi lokasi Kecamatan Bengkalis
sebagai prioritas utama (Fadhlan, 2003), dan (4) penentuan skala prioritas
pengembangan budidaya tambak di Kota Dumai dengan menggunakan 6 desa
pilihan yaitu Bansal Aceh, Lubuh Gaung, Tanjung Penyebal, Basilan Baru, Batu
Teritip dan Pelintang dimana prioritas utama yaitu Basilan Baru (Prianto, 2003).
Semua penelitian tersebut menggunakan tiga aspek yang merupakan dasar
penentuan skala prioritas yaitu ekologi, ekonomi dan sosial budaya.
Konsep Pembangunan Berkelanjutan
Dasar teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konsep
pembangunan berkelanjutan (
sustainable development
) yang dirumuskan oleh
World Commission on Environmental and Development
(WCED, 1987), yaitu
konsep pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal untuk memenuhi
Menurut Serageldin (1996) yang diacu
dalam
Bengen (2003)
pembangunan yang berkelanjutan memiliki tiga pilar utama yaitu pilar ekonomi,
ekologi dan sosial.
Pilar ekonomi
, menekankan pada perolehan pendapatan
(kesejahteraan masyarakat) yang berbasis penggunaan sumberdaya yang efisien.
Pilar ekologi
, menekankan pada pentingnya perlindungan keanekaragaman
hayati yang akan memberikan kontribusi pada keseimbangan ekosistem; dan
Pilar sosial,
menekankan pada pemeliharaan (terjaganya) kestabilan sistem sosial
budaya yang berlaku di dalam masyarakat.
Secara ekologis, ada tiga persyaratan yang dapat menjamin tercapainya
pembangunan berkelanjutan di pulau-pulau kecil, yaitu (1) keharmonisan spasial,
(2) kapasitas asimilasi (daya dukung lingkungan), dan (3) pemanfaatan
berkelanjutan (sesuai daya dukung lingkungannya). Keharmonisan spasial
(
spacial suitability
) mensyaratkan bahwa dalam suatu wilayah pembangunan
pulau-pulau kecil, hendaknya ditata dan diatur agar tidak seluruhnya
diperuntukkan bagi zona pemanfaatan, tetapi juga dialokasikan untuk zona
preservasi dan konservasi (Bengen, 2003).
Dalam mengalokasikan pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil agar tetap
optimal dan berkelanjutan maka suatu kegiatan pembangunan harus ditempatkan
pada kawasan yang secara biofisik sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang
dimaksud, oleh karena itu diperlukan suatu analisis kesesuaian dan daya dukung
lahan bagi setiap peruntukan di kawasan pulau-pulau kecil (Bengen, 2002).
Dari aspek sosial-ekonomi-budaya, konsep pembangunan berkelanjutan
mensyaratkan bahwa manfaat (keuntungan) yang diperoleh dari kegiatan
Menurut Retraubun (2000), arah kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil
secara berkelanjutan dapat dicapai melalui tiga pendekatan, yaitu pendekatan hak,