• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Perbanyakan Tanaman Strawberi (Fragaria anan Duch) Secara In Vitro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Perbanyakan Tanaman Strawberi (Fragaria anan Duch) Secara In Vitro"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)
(90)
(91)
(92)
(93)
(94)
(95)
(96)
(97)
(98)
(99)
(100)
(101)
(102)
(103)

STtIDI PERBANYAKAN TANAMAN STRAWBERI

(Fragaria ananassa

Duch) SECARA

IN

VZTRO

OLEH

AGCJSTIANSYAH

PROGRAM PASCASAKJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(104)

ABSTRAK

AGUSTIANSYAH. Studi Perbanyakan Tanaman Strawberi (Fragaria ananassa

Duch) Secara In vitro. (Di bawah bimbingan AGUS PURWITO DAN G.A.

WATTIMENA).

-

Salah satu kendala dalam pengembangan tanaman strawberi di Indonesia adalah terbatasnya ketersediaan bibit. Selama ini para petanilpengusaha strawberi

mengimpor bibit dalam bentuk bibit frigo, dimana bibit yang berupa fiigo tersebut

akan menurun produktivitasnya dari tahun ketahun.

Teknik kultur jaringan tanaman diyakini mampu memecahkan kendala dalam ha1 perbanyakan bibit tanaman. Dengan teknik kultur jaringan produksi bibit dapat dilakukan tanpa tergantung musim, jumlah yang dihasilkan cukup banyak dalam waktu relatif singkat serta bibit yang dihasilkan lebih sehat.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dilakukan dari bulan

Nopember 200 1 sampai dengan bulan Juni 2002.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zat pengatur tumbuh tanaman yang optimum untuk multiplikasi tunas adventif dan perakaran, konsentrasi hara dan sukrosa media MS untuk multiplikasi tunas, bahan pemadat media, dan teknik aklimatisasi plantlet yang baik.

Hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah (1). konsentrasi BA 0,5 uM adalah konsentrasi yang optimum untuk perbanyakan tunas strawberi

pada kultivar Doriet sedangkan BA 1 uM

+

IAA 0,2 uM adalah konsentrasi

terbaik untuk kultivar Yael, (2) media tumbuh yang terdiri dari 1,5x MS

+

sukrosa 20 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas kultivar Yael. Pada kultivar

Doriet media tumbuh yang terdiri dari 2xMS + sukrosa 30 g/l dapat meningkatkan

(105)

ABSTRACT

AGUSTIANSYAH. Studi on Micropropagation of Strawberry. (Supervised by AGUS PURWITO and G.A. WATTIMENA).

-

One of problems of developing strawberry in Indonesia is limitation on amount of seed. We have to solve these problems with researching technically of seed technology. Tissue culture is a technology that could solve the problems of amount of seed. This technology already has done in so many countries and so many variation of plant.

This experiment have done in Biotechnology Laboratory, Department of Agronomy, Bogor Institute of Agriculture, during November 2001 until June 2002.

The objectives of this research is to optimize several factors such as plant growth regulators, strength of MS medium, sucrose, and type of agar on micropropagation of strawberry.

(106)

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis saya yang berjudul:

-

"STUD1 PERBANYAKAN TANAMAN STRAWBERI (Fragaria ananassa Duch) SECARA IN VITRO"

merupakan gagasan atau hasil penelitian saya sendiri, dengan pembimbingan komisi pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain.

Semua data dan informasi yang digunakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, 3 1 Oktober 2002

(107)

STUD1 PERBANYAKAN TANAMAN STRAWBERI

(Fragaria ananassa

Duch.)

S ECARA

IN

VITRO

AGUSTIANSYAM

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Sains pada

Program Studi Agronomi

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(108)

Judul Tesis : Studi Perbanyakan Tanaman Strawberi

(E+'ruguria unun Duch) Secara In vilro

Nama Mahasiswa : Agustiansyah

-

Nomor Pokok : 99749

Program Studi : Agronomi

Menyetuj ui,

1. Kolnisi pembimbing

Dr. Ir. &us Purwito, MSc. Ketua

Dr.

Ketua Program Studi Agrono~n

Ir. Hajrial Aswidinnoor, MSc.

Prof. Dr. Ir. G.A. Wattimena, MSc Anggota

Mengetahui,

Program Pascasarj an la IPB

MSc.

(109)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjungkarang pada tanggal 4 Agustus 1972 dari

-

ayah Muhammad Saleh Nur dan ibu Kemala Sumbai. Jenjang pendidikan penulis

berturut-turut adalah sekolah dasar di SDN I Langkapura, Bandar Lampung (lulus

tahun 1985), sekolah lanjutan tingkat pertama di SMP Negeri 2 Tanjungkarang

(lulus tahun 1988), sekolah lanjutan tingkat atas di SMA Negeri 5 Tanjungkarang

(lulus tahun 199 1). Pada tahun 1996 penulis memperoleh gelar sarjana pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila).

Pada tahun 1996-2000 penulis bekerja sebagai staf penelitian dan pengembangan PT. Intidaya Agrolestari (Inagro) di Bogor. Pada Februari 2000 penulis menjadi mahasiswa Program Studi Agronomi, Program Pascasrajana IPB.

(110)

PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Illahi Rabbi, dengan rahmat hidayah-Nya, tulisan -

ini dapat penulis selesaikan. Tesis yang berjudul 'Studi Perbanyakan Tanaman

Strawberi (Fragaria ananassa Duch) Secara In Vitro' ini disusun sebagai kelengkapan tugas akhir pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Dr. Ir. Agus Purwito, MSc dan Prof. Dr. Ir. G.A. Wattimena, MSc atas

bimbingan, arahan, dan saran-sarannya selama penulis melakukan percobaan dan pembuatan tulisan ini.

2. Dr. Ir. Nurul Khumaida, MSi selaku penguji diluar komisi pembimbing atas

kritik dan sarannya untuk perbaikan tulisan ini.

3. Isteri dan anak tersayang yang telah mendampingi dan memberikan dorongan

semangat selama kuliah dan menyelesaikan tesis ini.

4. Asnawati, S.Hut, MSi, Ir. Dwi Hapsoro, MSc, Ir. Yusnita, MSc, Ir. Dini Dinarty, MSi, dan Ir. Bambang Purwanto atas semua diskusi, saran , dan bantuanya.

5. Keluarga Besar Ayahanda Muhammad Saleh Nur di Lampung dan Keluarga Ayahanda Muhammad Muslih BA di Ciamis atas segala bantuan dan doanya.

6. Teman-teman di Laboratorium Bioteknologi Tanaman (Mas Didi, Mas Arief,

(111)

7. Rekan-rekan angkatan 1999 dan 2000 (Pepi, Zuraida, Pak Bakhtiar, Endah, Will y) Program Studi Agonomi Program Pascasarjana IPB.

8. Seinua pihak yang telah andil dalam pelaksanaan penelitian ini.

-

Akhirnya, penulis berdoa semoga tulisan ini bermanfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, 3 1 Oktober 2002

(112)

DAFTAR IS1

...

DAFTAR IS1 .

...

DAFTAR TABEL

...

DAFTAR GAMBAR

...

PENDAHULUAN

Latar Belakang

...

Tuj uan

...

...

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Strawberi

...

...

Sejarah Perkembangan Strawberi

...

Kultur Jaringan Strawberi

PENGARUH BENZILADENIN DAN ASAM INDOL ASETAT TERHADAP PERBANYAKAN TUNAS STRAWBERI

(Fragaria ananassa Duh) SECARA IN WTRO

...

...

Abstrak

...

Pendahuluan

Bahan dan Metode

...

Hasil dan Pembahasan

...

Kesimpulan

...

PENGARUH KONSENTRASI HARA MEDIA DAN SUKROSA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI

...

(Fragaria anatzassa Duh) SECARA IN VITRO

...

Abstrak

...

Pendahuluan

...

Bahan dan Metode

Hasil dan Pembahasan

...

...

Kesimpulan

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMADAT MEDIA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI

...

(Fragaria atzanassa Duh) SECARA IN V7TRO

...

Abstrak

Pendahuluan

...

...

Bahan dan Metode

...

Hasil dan Pembahasan

...

Kesimpulan

...

V l l l
(113)

PENGARUH IBA. NAA. DAN

IAA

TERHADAP PENGAKARAN STEK MIKRO STRAWBERI (Fragaria ananassa Duh)

...

SECARA IN WTRO

Abstrak

...

Pendahuluan

...

...

Bahan dan Metode

-

...

Hasil dan Pembahasan

...

Kesimpulan

PENGARUH JENIS MEDIA AKLIMATISASI TERHADAP DAYA HIDUP BIBIT STRAWBEFU (Fragaria ananassa Duch) HASIL

...

KULTUR JARINGAN

...

Abstrak

Pendahuluan

...

...

Bahan dan Metode

...

Hasil dan Pembahasan

...

Kesimpulan

PEMBAHASAN UMUM

...

...

KESIMPULAN DAN SARAN
(114)

DAFTAR TABEL Teks

No Hal

-.

1. 16 Spesies penting strawberi, ploidi, penyebarannya

di dunia

...

10

2. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi umur

7 MST

...

18

3. Pengaruh BA dan IAA terhadap tinggi tunas strawberi umur

7 MST

...

19

4. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi yang

dapat diaklimatisasi umur 7 MST

...

20

5. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas total,

persentase tunas berakar, dan terbentuknya kalus

...

2 1

6. Pengaruh media dan sukrosa terhadap jumlah tunas

strawberi 7 MST

...

29

7. Pengaruh media dan sukrosa terhadap tinggi tunas strawberi

7 MST

...

32

8. Pengaruh media dan sukrosa terhadap jumlah tunas

...

strawberi yang dapat diaklimatisasi 34

9. Pengaruh konsentrasi media dan sukrosa terhadap jumlah

...

total tunas, persentase tunas berakar, dan kalus 35

10. Pengardl jenis dan konsentrasi pemadat media terhadap

jumlah tunas strawberi 7 MST

...

40 1 1 . Pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat media terhadap

tinggi tunas strawberi 7 MST

...

4 1

12. Pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat medium terhadap

jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi

...

42

13. Pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat medium terhadap

jumlah total tunas, jumlah tunas berakar, dan persentase

(115)

14. Pengaruh IBA, NAA, dan IAA terhadap tinggi tunas

...

15. Pengaruh IBA, NAA, dan IAA terhadap jumlah akar

..

. ... . . .

..

. .. .

.

. . . .. . .. .

.

.

16. Pengaruh IBA, NAA, dan IAA terhadap panjang akar

...

..

...

.

...

....

.

. .. . .. . ... .

-~

17. Pengaruh JBA, NAA, dan IAA terhadap jumlah daun

...

1 8. Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap tinggi

tanaman strawberi

...

19, Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap panjang

akar strawberi

...

...

...

20. Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap jumlah

akar strawberi

...

2 1. Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap jumlah

(116)

DAFTAR GAMBAR Teks

- No. Hal

1. Kemungkinan terjadinya strawberi hibrida alami hexaploid dan pentaploid 8

2. Kemungkinan terjadinya strawberi hibrida alami enneaploid dan dekaploid 9

5. Penampilan strawberi kultivar Doriet dan Yael pada BA 1 pM dan

BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM , dan MSO

...

22 4. Penampilan strawberi pada BA 5 pM dan 10 pM

...

23 5. Hubungan antara peningkatan konsentrasi sukrosa dan jumlah tunas

.

. . . .

3 0 6. Penampilan strawberi kultivar Yael pada media 1 ,5xMS dengan

konsentrasi sukrosa 20g/l, 30g/l, 40g/l,dan 50gA

...

3 1

7. Hubungan antara peningkatan konsentrasi sukrosa dan tinggi tunas..

. .

. .

. .

33

8. Penampilan strawberi pada berbagai jenis bahan pemadat media

. . .

. .

. .

. 4 1

9. Penampilan strawberi setelah diperlakukan dengan IBA, NAA, dan IAA

5 pM dan 10 pM

...

.

...

... ... ..

...

..

.

....

...

.. .

. .

...

. .

.

. . . .

.

. .

.

. . .

.

.

. .

.

.

5 1

10. Penampilan strawberi pada keempat jenis media aklimatisasi ... 60

(117)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tanaman strawberi merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Daya pikat tanaman ini terletak pada buahnya yang benvarna merah mencolok dengan bentuk yang mungil, menarik, serta rasanya yang manis segar. Akan tetapi tanaman ini belum begitu banyak dibudidayakan

di Indonesia.

Di Indonesia strawberi disebut juga arben. Strawberi di Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya hanya dapat dibudidayakan di daerah dataran tinggi (> 800 m dpl) oleh karena itu penanamannya masih dalam skala kecil, sedangkan di negara beriklim sedang dan subtropik strawberi sudah lama dibudidayakan secara besar-besaran (Sukumalanandana dan Verheij, 1997 ).

Nilai gizi buah strawberi cukup tinggi, dimana setiap 100 g buah memiliki kandungan energi, protein, vitamin, lemak, dan unsur-unsur esensial lainnya Bagian yang dapat dimakan dari buah strawberi mencapai 96% (Herrera, 1999). Kandungan vitamin C buah strawberi lebih tinggi dibandingkan jeruk dan lemon (Bhat dan Dhar, 2000). Buah strawberi umumnya dikonsumsi sebagai buah segar sebagai makanan penutup atau diolah menjadi selai strawberi (Herrera, 1999).

(118)

strawberi selalu terinfeksi virus dan penyakit yang disebabkan mikoplasma.

Terdapat 54 virus, dan 8 mikoplasma yang selalu menginfeksi strawberi.

Di Indonesia, para pengusaha strawberi ulnumnya mengimpor bibit dalam

bentuk.frigo. Frigo adalah bibit berupa stolon yang diambil dari pembibitan pada bulan Desember atau Januari dimana tanaman mulai memasuki masa dormansi dan akar telah terisi cadangan makanan. Daun dan tangkai dibuang, tanaman

dibungkus dengan plastik dan disimpan dalam kotak karton yang diletakkan pada

suhu -22'~ selama hampir 9 bulan (Voth dan Bringhurst, 1990). Bibit frigo

yang diimpor menghasilkan produksi yang baik pada tahun pertama, tetapi produksi menurun dari tahun ke tahun. Oleh karena itu impor frigo harus

dilakukan tiap tahun untuk mempertahankan produksi dan kualitas buah

(Gunawan, 1995).

Teknik kultur jaringan telah terbukti dalam mengatasi kendala dalam ha1 pembibitan tanaman. Dengan teknik ini diharapkan kendala dalam pembibitan tanaman strawberi dapat diatasi karena teknik kultur jaringan memiliki beberapa

keunggulan.

Menurut Boxus ( 1 999), teknik kultur jaringan telah digunakan secara luas untuk perbanyakan cepat tanaman strawberi. Namun di Indonesia, perbanyakan strawberi secara in vitro belum banyak dilakukan padahal potensi dan prospek pengembangan strawberi di indonesia cukup bagus. Dijelaskan juga dengan teknik ini dapat dilakukan eliminasi terhadap virus yang menginfeksi bibit strawberi.

Beberapa aspek penting yang menentukan keberhasilan dalam

(119)

tanaman baik untuk multiplikasi tunas maupun pengakaran tunas, media yang digunakan, pemadat media, dan teknik aklimatisasi dalam ha1 ini media

aklimatisasi yang digunakan.

-

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mendapatkan metode perbanyakan tanaman strawberi secara rn vltro. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan 5 buah percobaan yang masing-masing tujuannya untuk mendapatkan zat pengatur tumbuh tanaman terbaik untuk multiplikasi dan pengakaran tunas, konsentrasi

(120)

11. TINJAlJAN PUSTAKA

Botani Tanaman Strawberi

Strawberi diklasifikasikan secara taksonomi seperti di bawah:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermathophyta

Kelas : Angiospermae

Subkelas : Dicotyledoneae

Ordo : Rosales

Famili : Rosaceae

Genus : l~~rugurru

Spesies : l*iuguriu x ununussu Duch.

Di Indonesia tanaman ini senng juga disebut juga arben

(Sukumalanandana dan Verheij, 1999). Tanaman ini batang utamanya sangat pendek. Daun-daun terbentuk pada buku dan di ketiak setiap daun terdapat pucuk aksilar. Internode sangat pendek sehingga jarak daun yang satu dengan

yang lain sangat kecil dan memberi penampakan seperti rumpun tanpa batang. Batang utama dan daun yang tersusun rapat ini disebut crown. Ukuran crowrz

berbeda-beda menurut umur, tingkat perkembangan tanaman, kultivar, dan kondisi lingkungan pertumbuhan (Childers, 1980; Gunawan, 1995). Strawberi

merupakan tema tahunanlherbaceous tahunan Wereniul) yang menjalar

(Sukumalanandana danverheij, 1999; Herrera, 1999).

Daun strawberi merupakan daun majemuk beranak daun tiga, tangkai

daun panjangnya 1 3 - 1,7 cm, berbulu halus, anak daunnya berukuran 1,8-7 cm x

(121)

pinggiran anak daun bergerigi, dan lembaran bagian bawah daun benvarna hijau

(Sukumalandana dan Verheij, 1999). Dalam masa pertumbuhan vegetatif,

meristem apikal membentuk daun baru setiap 8-12 hari pada temperatur rata-rata

22". Daun dapat bertahan 1-3 bulan dan kemudian kering. Pada daun strawberi

terdapat stomata yang jumlahnya banyak sekali yaitu inencapai 300-400 stomata

per mm' sehingga mengakibatkan daun banyak kehilangan air melalui transpirasi (Childers, 1980 ; Gunawan, 1995).

Akar strawberi dewasa pada umurnnya mempunyai 20-35 akar primer,

tetapi ada juga jenis yang mempunyai 100 akar primer. Akar primer dapat bertahan lebih dari satu tahun, tetapi pada umumnya 1 tahun. Akar-akar baru

yang menggantikan akar primer ini tumbuh dari ruas yang paling dekat dengan akar primer. Hal ini dapat mengurangi kontak akar dengan tanah pada tanaman-

tanaman tua. Akar-akar tanaman dewasa mencapai panjang 1 meter, tetapi 90%

dari akar-akarnya berkumpul pada lapisan atas tanah pada kedalaman sekitar 15 cm. Pada tanah-tanah dengan drainase yang baik, 50% dari akar berkumpul di

kedalaman antara 15-45 cm (Childers, 1980; m w a r d el ul. 1991; Gunawan, 1995).

Pucuk-pucuk aksilar dapat berkembang menjadi stolon (runner), crown, cabang, atau tetap dengan pucuk dominan. Arah perkembangan pucuk aksilar ini

ditentukan oleh potensi genetiknya dan faktor lingkungan. Pada umumnya bila tanaman diberi hari panjang (penyinaran lebih dari 14 jam) maka akan terbentuk

(122)

stolon terdapat ruas-ruas. Ruas-ruas dari stolon ini dapat mencapai belasan sentimeter. Pada ruas terdapat pucuk aksilar yang dilindungi oleh bractae. Anakan akan membentuk akar pada ssat pucuk inembentuk daun trifoliate. Akar

dari anakan akan membentuk akar cabang setelah mencapai 2-5 cm (Edward et

ul. 1991).

Bunga tanaman strawberi mempunyai 5 sepal, 5 petal, 20-35 stamen, dan

ratusan pistil yang menempel pada receptacle dengan pola melingkar. Bunga

tersusun dalam influoresen yang terletak di ujung tanaman. Pada kondisi

pertumbuhan yang cocok, crown cabang yang timbul dari ketiak daun terakhir akan membentuk bunga pada ujungnya sehingga timbul kesan dua inflourescen

dalam satu tanaman. Inflouresen tersusun dari tangkai utama dan tangka~ cabang.

Diujung tangkai utama terdapat bunga yang disebut bunga primer. Bunga primer

ini mendominasi perkembangan bunga. Tangkai sekunder terbentuk di bawah bunga primer dan dilindungi oleh sepasang bractae. Diujung tangkai sekunder terdapat bunga sekunder. Pada tangkai sekunder terdapat cabang tertier dengan

bunga tertier, dan seterusnya. Setiap percabangan disertai sepasang bractae pada pangkalnya(Childers, 1980; Ednvard et u/ .I99 1 ; Gunawan, 1 955;

Sukumalanandanan dan Verheij, 1999).

Normalnya, inflouresen mempunyai satu bunga primer, dua sekunder,

empat tertier, delapan kuartener, dan kuiner. Akan tetapi, bila kondisi tidak menguntungkan maka primordia bunga berubah menjadi primordia daun sehingga sebagai gantinya bunga pada inflouresen akan terbentuk daun. Bunga

(123)

untuk menyerbuki ovule (bakal biji). Stigma yang siap menerima tepung sari

akan terasa kasar dan lengket. Keadaan represif ini bertahan selama beberapa hari. Penyerbukan dapat terjadi dengan bantuan angin, dengan gaya berat, atau serangga. Lebah madu juga dapat membantu meningkatkan produksi strawberi (Childers, 1980; Gunawan, 1995)

Buah strawberi benvarna merah yang biasa dikenal adalah buah semua

yang sebenarnya merupakan receptacle yang membesar. Buah sejatinya yang berasal dari ovul yang telah diserbuki berkembang menjadi buah yang kering dengan biji yang keras. Struktur buah keras ini disebut achene. Buah-buah sejati

berukuran kecil dan menempel pada receptacle yang membesar. Ukuran

strawberi ditentukan oleh jumlah buah achene yang terbentuk, sedangkan jumlah buah achene yang terbentuk ditentukan oleh pistil dan keefektifan penyerbukan. Buah primer mempunyai jumlah pistil terbanyak, yaitu mencapai lebih dari 400 buah. Jumlah pistil pada bunga sekunder antara 200-300 buah, sedangkan pada bunga tertier 50-150 buah. Oleh karena itulah, ukuran buah paling besar adalah buah yang berasal dari bunga primer kemudian disusul oleh bunga sekunder,

tertier, kuartener, dan kuiner. Pembesaran buah dari receptacle dirangsang oleh achene yang terbentuk. Penyerbukan yang tidak merata dapat menyebabkan bentuk buah menjadi kurang sempurna (Childers, 1980; Gunawan, 1995).

Menurut Bhatt dan Dhar (2000), Gunawan (1995), Hartmann et al.

(1997), Sukumalanandana d a ~ ~ Verheij (1999), tanaman strawberi dapat

diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan anakan dari stolon (runner)

dan sedikit yang diperbanyak dari biji hanya untuk keperluan persilangan

(124)

aksilar, tumbuh horizontal sepanjang tanah dan membentuk tanaman baru dengan satu mata tunas. Perbanyakan dengan stolon menghasilkan sedikit anakan dan belum terjamian bebas penyakit bawaan.

Sejarah Perkembangan Strawberi

Strawberi yang dibudidayakan sekarang dengan nama ilmiah Fragaria x

ananassa Duchesne adalah kultivar strawberi modern dengan tingkat ploidi

Oktoploid (2n = 8x = 56). Kultivar strawberi modem ini merupakan hasil

persilangan antara 2 spesies strawberi oktoploid Amerika yaitu Fragaria virginia

L., berasal dari Amerika Utara dan Fragaria chiloensis Duch., berasal dari pantai

barat Amerika Selatan (Bringhurst, 1990). Disamping itu ditemukan juga spesies

strawberi hibrida alami, dengan kemungkinan kejadian seperti Gambar ldan 2.

F. chilounsis (Reduced gamate)

2A2A92B2B' Heksaploid

AvAA1BB'

F. vesca (Unreduced)

Av

F.chiloensis (Reduced gamate)

<

2A2A12B2B'

Pentaploid 2AvAA'BB1

F. vesca (Reduced)

2Av

[image:124.564.73.482.0.800.2]
(125)

1.: clzzloenszs (unreduced gunw/e)

2A2A'2B2B' Enneaploid

A,2A2A'2B2B1

1.: vescu (Reduced)

2A,

atau

Pentaploid Hibrida (Unreu'uced)

A\AAIBB' Enneaploid

A,2A2A12B2B'

E

chzloensls (Reduced)

2A2A12B2B'

Hexaploid hi brida ( (lnreduced)

2A,AA'BB Dekaploid

2A,2A2A'2B2B1

t.'.

clzrloensw (Reduced)

2A,AA'BB1

atau

Pentaploid hibrida ((inreduced)

A\AA9BB'

Dekaploid

2A,.2A2A12B2B'

Pentaploid hibrida ((Jnreduced)

[image:125.568.82.465.75.791.2]
(126)

Menurut Hancock (1 990), terdapat 16 spesies penting dari genus Fragaria.

Spesies-spesies tersebut menyebar di seluruh dunia, tetapi tetuanya, F. chiloensis

dan F. virginia hanya ada di Amerika Serikat, Kanada, dan Chili. Spesies, tingkat ploidi, serta lokasi penyebaran strawberi disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. 16 Spesies penting strawberi, ploidi, dan penyebarannya di dunia

No 1 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

1 5

16 Ploidi 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x 4x 4x 5x 6x 8x 8x 8x 8x Spesies

F . vesca

F.viridis Duch

F. nilgerrensis Schlect

F . daltoniana J. Gay F. nubicola Lindl F. iinumae Makino

F . yesoensis Hara

F. nipponica lindl

F . orietalis Losink F. moupinensis (French.) F. bringhurstii

F. ~noschata Duch F . chiloensis(L.) Duch

F . virginiana Duch

F.iturupensis Staudt F x ananassa Duch

Lokasi

Amerika utara, Asia Utara, Eropa. Eropa dan Asia Timur

Asia Tenggara Himalaya Himalaya Jepang Jepang Himalaya Asia Utara China Selatan California

Eropa Tengah dan Utara

Pantai Pasifik, Amerika Utara, Chile

America Utara, dan Tengah Jepang

(127)

Kultur Jaringan Strawberi

Perbanyakan mikro tanaman strawberi sudah sejak lama dilakukan.

Selain perbanyakan mikro, teknik kultur jaringan pada strawberi juga telah dilakukan untuk keperluan pemuliaan tanaman, seperti preservasi plasma nutfah,

produksi tanaman haplooktoploid clan polihaploid, kultur embrio, kultur ovule, atau enzbryo rescue dari persilangan intespeslfzk dan intergenerik (Boxus et ul.

1984).

Meristem merupakan bagian tanaman yang paling sering digunakan

sebagai eksplan (Boxus et ul. 1984; Boxus, 1999; Torres, 1989; Karyanto et ul.

1999). Sedangkan Miller dan Chandler (1990) menggunakan kotiledon dari

tanaman dewasa, Sorvari et u1. (1993) menggunakan pucuk tanainan, Bhatt dan

Dhar (2000) menggunakan potongan buku dari stolon sebagai eksplan. Yoshino dan Hashimoto (1975) dalam George dan Sherrington (1984) sering menggunakan kultur meristem yang dikombinaskan dengan perlakuan panas untuk mendapatkan tanaman strawberi yang bebas virus.

Meristem yang berasal dari tanaman muda lebih baik dibandingkan

dengan meristem yang berasal dari tanaman tua. Jika meristern diambil dari tanaman yang disimpan pada cold storuge, persentase meristem yang terinfeksi penyakit cukup tinggi ( Boxus, 1984).

Pada kultur jaringan strawberi hampir semua peneliti menggunakan

garam mineral Murashige & Skoog (MS) sebagai media tanam yang diperkaya

dengan sukrosa 30 g/l (Boxus, 1984; Miller dan Chandler, 1990; Sorvari et ul.

(128)

Lee dan de Fossard (1975) dalam George dan Sherrington (1984) mendapatkan

tunas aksilar strawberi tumbuh paling baik pada media Fossard et a/. (1974).

Kultur in vitro strawberi tumbuh dengan baik pada media yang

mengandung zat pengatur tumbuh tanaman tidak terlalu tinggi. Boxus el a/.

(1984) dan Boxus (1999) menyimpulkan konsentrasi sitokinin (BA) yang baik

untuk proliferasi tunas adventif berkisar 0,25-2,5 pM. Torres (1999)

mendapatkan konsentrasi BA 1 mgll untuk merangsang keluarnya tunas aksilar.

Karyanto et u1. (1999) mendapatkan konsentrasi BA 1 pM untuk mendapatkan

jumlah tunas tertinggi pada kultur m vltro strawberi. Sedangkan Bhatt dan Dharr

(2000) pada kultur in vrtro strawberi liar mendapatkan konsentrasi BA 4 pM

(129)

PENGARUH BENZILADENIN DAN ASAM INDOLASETAT TERHADAP PERBANYAKAN TUNAS ADVENTIF STRAWBERI (Fragaria ananassa

Duch.)

SECARA IN VITRO

Abstrak

Tujuan percobaan ini adalah ( 1 ) untuk mengetahui pengaruh BA dan

koinbinasi BA dan IAA dalam merangsang perbanyakan tunas strawberi secara in

vitro, dan ( 2 ) mengetahui konsentrasi BA, dan kombinasi BA dan IAA yang dapat menghasilkan tunas terbanyak dan berkualitas. Percobaan ini menggunakan rancangan faktorial dalam rancangan lingkungan acak lengkap. Faktor pertama adalah konsentrasi BA 0; 0,5; 1 ; 2,5; 5 ; 10 pM dengan dan tanpa penambahan

IAA 0,2 pM. Faktor kedua adalah kultivar tanaman yaitu Yael dan Doriet. Hasil

penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) konsentrasi BA 0,5pM dan I pM

+

IAA

0,2 pM adalah konsentrasi yang optimum untuk perbanyakan tunas strawberi pada kultivar Doriet dan Yael. (2) Semakin tinggi konsentrasi BA dengan dan

tanpa penambahan IAA 0,2 pM akan menurunkan jurnlah tunas, tinggi tunas, dan

jumlah plantlet yang dapat diaklimtisasi.

PENDAHULUAN

Strawberi merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki

kepadatan populasi cukup tinggi untuk penanaman tiap hektarnya. Boxus,

Damiano, and Brasseur ( 1984) mengemukakan di California populasi tanaman

adalah 100.000/ha. Di Belgia, Perancis, dan Italia populasi per hektar adalah

30.000-40.000 tanaman. Sedangkan di Indonesia, menurut Gunawan ( 1995)

(130)

Ketersediaan bibit saat ini masih inenjadi kendala dalam usaha budidaya

strawberi di Indonesia mengingat besarnya kebutuhan bibit tanaman per hektar. Menurut Gunawan (1995), para pengusaha strawberi di Indonesia harus

mengimpor bibit dalam bentuk Jrigo dimana bibit impor ini menghasilkan

produksi yang baik pada tahun pertama tetapi menurun pada tahun-tahun

berikutnya.

Teknik kultur jaringan tanaman dapat ditawarkan untuk mengatasi kendala bibit strawberi di Indonesia mengingat teknologi ini telah terbukti

mampu menghasilkan bibit dalam jumlah besar, seragam, bebas penyakit, dan dalam waktu relatif singkat.

Boxus ( 1984; 1999) menyatakan bahwa perbanyakan mikro tanaman

strawberi telah di~wnakan secara has. Teknik ini sangat bermanfaat untuk

tanaman yang diperbanyak secara vegetatif seperti strawberi karena pada tanaman yang diperbanyak secara vegetatif selalu terinfeksi oleh virus dan

mikoplasma.

Pada perbanyakan mikro tanaman, peran zat pengatur tumbuh tanaman

(ZPT) sangat besar. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakn ZPT adalah jenis, konsentrasi, dan periode pengkulturannya. Namun demikian menurut Pierik (1 987), penentuan jenis dan konsentrasi zat pengatur turnbuh yang terbaik

pada media untuk merangsang perbanyakan tunas suatu tanaman sulit dilakukan karena tergantung dari tipe eksplan dan spesies tanaman.

Peningkatan jumlah tunas adventif dengan menggunakan sitokinin saja sudah efektif tetapi jumlah tunas akan lebih optimum jika sitokinin

(131)

Jadi kehadiran auksin di sini diharapkan berguna untuk memperbaiki

pertumbuhan kultur (George dan Sherringto, 1 984).

Strawberi umumnya sangat responsif terhadap Benziladnin (BA) (Styer

dan Chin, 1983; Kartha et a/. 1980). James dan Newton (1977) dulum Boxus

(1984) menyimpulkan bahwa konsentrasi BA dari 0,25 pM sampai 2,5 pM yang

dikombinasikan dengan IAA dari 0,25 pM sampai 1,O pM sangat cocok untuk

merangsang munculnya tunas adventif pada strawberi. Sedangkan Boxus (1 976),

Navatel (1979), Damaino (1980) dului?~ BOXUS (1984) mendapatkan BA 4,4 pM

dapat mempercepat munculnya tunas aksilar. Penelitian terakhir, Karyanto et ul.

( 1999) mendapatkn pada medium MS plus 1 pM BA rata-rata jumlah tunas 15,2. Percobaan ini bertujuan mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang optimum untuk perbanyakan tunas adventif strawberi kultivar Yael dan

Doriet dan melihat pengaruh peningkatan konsentrasi Benziladenin terhadap kultur In v ~ t r o strawberi.

BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu percobaan

Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan

Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB. Dimulai dari bulan Desember 2001

(132)

Bahan dan alat

Eksplan yang dipergunakan adalah kultur in vitro strawberi kultivar

Doriet dan Yael koleksi Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya

Pertanian IPB. Alkohol, BAP, IAA, Swallow globe, gula, dan bahan kimia

komponen media MS. Alat yang dipergunakan pada percoban ini adalah

laminar, autoklaf, dan peralatan tanam kultur jaringan lainnya.

Rancangan percobaan

Percobaan ini dilakukan secara faktorial dalam rancangan lingkungan acak lengkap terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah kultivar tanaman,

yaitu kultivar Yael dan kultivar Doriet. Faktor kedua adalah zat pengatur tumbuh

Benziladenian (BA) terdiri dari 6 taraf yaitu 0; 0,5pM; 1 pM; 2,5pM; 5uM; lOpM

dengan dan tanpa penambahan Indol Acetic Acid (IAA) 0,2 pM. Kedua Faktor

tersebut menghasilkan 24 perlakuan. Tiap perlakuan terdiri dari 10 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragarnnya. Selanjutnya perlakuan

yang berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati dibedakan dengan uji

lanjut DMRT taraf 5%.

Pelaksanan Percobaan

Bahan tanaman yang akan digunakan diperbanyak terlebih dahulu pada media MS yang diperkaya dengan BA 0,5 mgll dan IAA 0,01 mgll. Selargutnya setelah kultur in vitro tersebut berumur satu bulan kultur siap diperlakukan.

(133)

Setiap botol percobaan diisi 2 eksplan

.

Botol-botol kultur yang telah berisi stek mikro tersebut diinkubasi di dalam ruang kultur pada suhu 16' C dibawah penyinaran lampu.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan 7 minggu setelah tanam (MST). Peubah-peubah yang

diamati adalah sebagai berikut:

1. Jumlah tunas per eksplan. Peubah jumlah tunas ini diukur dengan

menghitung jumlah tunas yang tumbuh normalldaun telah membuka sempurna.

2. Tinggi tanaman. Peubah ini diukur dengan membentangkan daun strawberi

diatas penggaris. Diukur dari pangkal daun sampai ujung daun tertinggi.

3. Jumlah tanaman yang dapat diaklimatisasi. Kriteria tanaman yang dapat

diaklimatisasi adalah tanaman yang memiliki daun 5-6 buah dengan tinggi

minimal 2 centimeter dan telah berakar.

4. Persentase kultur berakar. 5. Kultur berkalusltidak.

6. Foto kultur sebagai alat bantu visual.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Jumlah tunas

Jumlah tunas dipengaruhi oleh interaksi antara konsentrasi Benziladenin dan kultivar ( Tabel lampiran 1). Selanjutnya berdasarkan analisis lanjut semua perlakuan berbeda nyata dengan kontrol. Rata-rata tertinggi jumlah tunas pada

(134)

kultivar Doriet terjadi pada perlakuan BA 1pM (14,O) dan pada kultivar Yael

pada perlakuan BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM yaitu 13,l. Peningkatan konsentrasi

BA diatas 2,5 pM dengan dan tanpa penambahan IAA akan menurunkan jurnlah

tunas.

Tabel 2. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi urnur 7 MST.

1. BA 0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM

4. BA 5 pM

5. BA 10 pM

6. BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM

7. B A 1 p M + I A A 0 , 2 p M

8. BA 2,5 pM

+

IAA 0,2 pM

Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

11,7 b-c 12,3 b-c 1 1,3 b-c 9 c-e 6,7 e 13,l cd 10,5 b-c 7,5 ed

Kultivar

DMRT 5%.

Doriet

9. BA 5 pM

+

IAA 0,2 pM

10.BA 10 pM

+

IAA 0,2 pM

1 1. MSO (kontrol)

2. Tinggi tunas

Yael

Tinggi tunas strawberi dipengaruhi oleh interaksi antara kultivar dan Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji

13,2 ba 10,l b-c

3,4 f

konsentrasi Benziladenin (Tabel lampiran 2). Hasil analisis lebih lanjut

10,s b-c 10,2 b-c 4,l f

menunjukkan bahwa antarperlakuan memiliki perbedaan yang nyata. Pada kultivar Doriet rata-rata tertinggi tinggi tunas didapat pada kontrol(3,65 cm) dan

[image:134.564.78.481.41.790.2]
(135)

Tabel 3. Pengaruh BA dan IAA terhadap tinggi tunas (cm) strawberi umur 7 MST

I

Kultivar

I

1. BA 0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM 4. BA 5 pM 5. BA 10 pM

6. BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM

7. B A 1 p M + I A A 0 , 2 p M

8. BA 2,5 pM

+

IAA 0,2 pM

9. BA 5 pM + IAA 0,2 pM

10.BA 10 pM

+

IAA 0,2 pM

Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

3,04 dc 2,48 d-f 1,53 hi 0,97 kj 0,67 k 2,63 de 2,27 g-f 1,69 hi 2,03 g-f

1,46 I

4,35 ba 4,69 a 2,59 d-f 1,82 g-i 0,83 kj 3,74 bc 3,03 dc 2,05 g-f

1,03 j 0,s kj

Doriet Yael

DMRT 5%. 1 1. MSO (kontrol)

3. Jumlah tunas dapat diaklimatisasi

Pada percobaan ini sebagian tunas berakar dan dapat diaklimatisasi. Pada Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji

3,65 bc

Tabel 4 disajikan bahwa rata-rata tertinggi jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi 3,52 c

didapat pada perlakuan BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM baik pada kultivar Yael [image:135.564.44.507.43.793.2]
(136)

Tabel 4. Pengaruh BA dan IAA terhadap jurnlah tunas strawberi yang dapat diaklimatisasi umur 7 MST

4. Persentase tanaman berakar dan kondisi kalus Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

1. BA0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM 4. BA 5 pM 5. BA 10 pM

6. BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM

7. BA 1 p M + I A A 0 , 2 p M

8. BA 2,5 pM

+

IAA 0,2 pM

9. BA 5 pM

+

IAA 0,2 pM

10.BA 10 pM

+

IAA 0,2 pM

1 1. MSO (kontrol)

Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa pada kultivar Yael dan Doriet dengan

semakin tinggi konsentrasi BA tanpa penambahan IAA akan menurunkan

persentase tanaman yang berakar sedangkan pada penambahan IAA dapat

meningkatkan persentase tanaman yang berakar. Sebaliknya semakin sedikit atau tidak adanya tanaman yang berakar akan meningkatkan kalus yang terbentuk.

Kultivar Doriet

2,4

+

0,5 1,3

+

0,4 1,l

+

0,3

0 0 2,9 f 1,l 2,5

+

1,0 1,3

+

0,5 1,3

+

0,6

0 1,6

+

0,5

Yael

2,7

+

0,8 2,l

+

0,7 1,5 If: 0,7

0 0 4,1 f 1,1 2,8

+

0,9 2,3

+

0,6 [image:136.564.75.493.56.795.2]
(137)

Menurut George dm

S m o n

(1984),

difbensiasi

seluler

dan

oqpmgenesis

pada

kultur

jouingoln

dikonttol oleh

interaksi antam

auksin

dan

s i t o k Selain itu, prhmbuhan

dan

mrfogenesis juga d i t e n t h

obh

jenis

auksin dan sitokinin yang d i i

T~~

y m g dihasilkan pembaan

ini

nmenunjukkan

p a q d m yang tihk

n o d

(lebih

banyak h h s )

dan

bwama

pucat

(vitrr3Rasi) padti kommtmi BA yang tinggi y d u pada perlrmkuan BA 5 JAM

dm

10 phi (Gatdm 4)

.

Menurut Ziv (1986) adanya

keti-rmalan

morfologi dan

fisiologi tamman yang d h l t w k a n seem in v i ~ o dhtmmya Ilrtalah gejala

sukulen berlebihan, b b y a

d k b i dengrrn

bentuk

a b n o d

Penyebab

utma

v h i f b s i

addah

terldu

tingginya

kelembaban dalam botol

kultur, konsmtrasi

ham, konsentrasi

ZPT,dan &ya intensitas cahaya.
(138)

(McComb

dan

Benaet, 1982 daZam

Yusnita

1990). Sedangkan

Piriek

(1987), pengaruh

sitokinh pada

kultur

jaringan

tergantung pada tipe kdm

dm

jenis Mtim yang

diguaakaxl.

Eksplan yang memproduksi

sito-

endogen

dalam jumlah cukup,

sudah

dapat men@& multiplikasi tunas tanpa

palam- sitoldnin eksogen.

G a m h 3. Pemnpilan strawbwi

U i v a r

Doriet

@T)

pada

BA 1

pM

dan

Wivar

Yael

(YL)

pada BA 0,5

+

LAA

0,2pM,

serta

Iron~rol

Wiwrr Doriet

@M) dan Yael

(YtO)

lmrur 7 MST

belum

mmpu m e n g b h t

pembmukm

k a b

tmmm

pada

komabasi

BA

thggi

sebhgga k d u

yang d j h a s b

masih

banyak dan tunas yang d i h a s b
(139)

Tabel 5. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah total tunas, persentase tunas berakar dan terbentuknya kalus

Perlakuan

Y1= Kultivar Yael , Dt = Kultivar Doriet

1. BA 0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM 4. BA 5 pM 5. BA 10 pM

6. BA 0,5 pM

+

IAA 0,2 pM

7. BA 1 pM

+

IAA 0 , 2 pM

8. BA 2,5 pM

+

IAA 0,2 pM

9. BA 5 pM + IAA 0,2 pM

1 O.BA 10 pM

+

IAA 0,2 pM

1 1. MSO (kontrol)

Tanpa pemberian zat pengatur tumbuh tanaman ternyata eksplan mengalami multipliksasi tunas, walaupun jumlah tunasnya lebih rendah dibandingkan perlakuan dengan pemberian zat pengatur tumbuh tanaman. Akan

tetapi tanpa pemberian zat pengatur tumbuh tanaman eksplan ~nenghasilkan tinggi tunas, panjang akar, dan jumlah tunas dapat diaklimatisasi lebih tinggi.

Hal ini terjadi pada kultivar Yael dan Doriet. Hasil penelitian ini juga

mendapatkan perlakuan BA 0,5 pM (Doriet) dan 1 pM + IAA 0,2 pM (Yael)

memberikan jumlah tunas tertinggi (Gambar 3). Hasil ini sejalan dcngan

penelitian (Boxus, 1999; Karyanto et al. 1999; Bhatt dan Dhar, 2000) tetapi

berbeda dengan hasil penelitian (Boxus et al. 1984; Miller, 1990; Torres, 1989). Adanya perbedaan ini diduga disebabkan oleh perbedaan kultivar yang digunakan. Perbedn genotipe eksplan dapat mempengaruhi kematnpuan eksplan

Jumlah total tunas

Ket :

+

= agak banyak,

++

= banyak,

+++

= banyak sekali,

-

= tidak ada kalus
(140)

KESIMPULAN

1. Konsentrasi BA 0,5 pM adalah konsentrasi yang optimum untuk

perbanyakan tunas strawberi pada kultivar Doriet sedangkan BA I pM

+

IAA 0,2 pM adalah konsentrasi terbaik untuk kultivar Yael.

(141)

PENGARUH KONSENTRASI HARA MEDIA DAN SUKROSA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI

(Fragaria ananassa Duch.) SECARA IN VITRO

Abstrak

Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi hara dan sukrosa pada media MS terhadap multiplikasi tunas adventif strawberi secara

in vitro. Percobaan dilakukan dalam rancanga acak lengkap yang terdiri dari 32 kombinasi perlakuan. Konsentasi hara MS yang dicoba adalah O,SxMS, IxMS, 1,Sx MS, dan 2x MS dengan konsentrasi sukrosa 20 g/l, 30 g/l, 40 g/l, dan 50 gll.

Kultivar strawberi yang digunakan adalah Yael dan Doriet. Penelitian

menyimpulkan (I) Secara umum peningkatan konsentrasi hara medium dasar dapat meningkatkan jumlah tunas, tinggi tunas, tunas yang dapat diaklimatisasi,

dan persentase tunas berakar, (2) Penurunan dan peningkatan konsentrasi gula

akan menurunkan peubah-peubah yang diamati, (3) media tumbuh yang terdiri

-

dari 1,SxMS yang ditambah sukrosa 20 g/l dapat meningkatkan jurnlah tunas dan

tunas yang dapat diaklimtiasai untuk kultivar Yael Pada kultivar Doriet media

tumbuh yang terdiri dari 2xMS yang ditambah sukrosa 30 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas.

PENDAHULUAN

Keberhasilan perbanyakan tanaman menggunakan teknik kultur jaringan sangat tergantung pada media yang digunakan. Media kultur jaringan tanaman

menyediakan unsur hara makro dan mikro serta karbohidrat yang pada umurnnya berupa gula untuk menggantikan karbon yang biasanya didapat dari atmosfer

(142)

Unsur hara yang diberikan dalam media kultur jaringan berupa garam-

garam anorganik yang terbagi dalam unsur hara makro dan unsur hara mikro.

Unsur hara makro meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S, sedangkan unsur hara mikro

meliputi Fe, Mn, Zn, B, Cu , dan Mo. Selain itu, untuk memperbaiki

pertumbuhan dan morfogenesis kultur tanaman secara in vitro ditambahkan

sejumlah kecil senyawa organik seperti vitamin, asam amino, dan beberapa

senyawa penting lainnya (George dan Sherrington, 1984).

Selain unsur hara, karbohidrat juga berperan penting dalam keberhasilan kul tur jaringan tanaman. Dalam kultur jaringan gula sebagai sumber karbohidrat.

Menurut George dan Sherrington (1984), keberadaan gula berfungsi sebagai sumber energi pengganti karbon yang biasa didapat tanaman dari atmosfer

melalui fotosintesis, sedangkan Pierik (1987) menjelaskan bahwa gula berpengaruh pada potensial osmotik media. Hasil penelitian bahwa dalam media

Murashige dan Skoog (MS) setengah dari potensial osmotiknya disebabkan oleh gula (George dan Sherrington, 1984). Sukrosa merupakan sumber karbohidrat terbaik diikuti glukosa, maltosa, dan rafinosa. Sedangkan fruktosa, galaktosa,

(143)

BAHAN DAN METODE\

Tempat dan waktu percobaan

Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB. Dimulai dari bulan

Desember 200 1 sampai dengan Juni 2002.

Bahan dan alat

Eksplan yang dipergunakan adalah kultur in vitro strawberi kultivar

Doriet dan Yael koleksi Laboratorium Bioteknologi Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian IPB. Alkohol, BAP, IAA, Swallow Globe, gula, dan bahan kimia

komponen media MS. Alat yang dipergunakan pada percoban ini adalah laminar, autoklaf, dan peralatan tanam kultur janngan lainnya.

Rancangan percobaan

Percobaan ini dilakukan secara faktorial dalam rancangan lingkungan

acak lengkap terdin dari 3 faktor. Faktor pertama adalah kultivar tanaman,

yaitu kultivar Yael dan kultivar Doriet. Faktor kedua adalah modifikasi

komposisi nutrisi media Murashige dan Skoog (MS) yaitu 0,SxMS; 1,5xMS,

1 xMS; 2xMS. Faktor ketiga adalah gula dengan konsentrasi 20 d l , 30 gll, 30 gll, dan 50

dl.

Data yang diperoleh dianalisis sidik ragamnya. Selanjutnya perlakuan yang berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati dibedakan dengan uji

(144)

Pelaksanan Percobaan

Bahan tanaman yang akan digunakan diperbanyak terlebih dahulu pada

media MS yang diperkaya dengan BA 0,s mgll dan L4A 0,01 mgll. Selanjutnya

setelah kultur in vitro tersebut berumur satu bulan kultur siap diperlakukan. Kultur in vitro (eksplan) yang berupa tunas adventif tersebut dipotong dengan ukuran kurang lebih 1 centimeter. Tiap eksplan terdiri dari 2-3 mata tunas,

ditanam pada masing-masing perlakuan yang diperkaya dengan BA lpM

+

IAA

0,2 pM. Setiap botol percobaan diisi 2 eksplan. Botol-botol kultur yang telah

berisi stek mikro tersebut dinkubasi di dalam ruang kultur pada suhu 16' C

dibawah penyinaran lampu.

Pengamatan

Peubah-peubah yang diamati adalah :

1. Jumlah tunas per eksplan. Peubah jumlah tunas ini diukur dengan

menghitung jumlah tunas yang tumbuh normall daun telah membuka

sempurna.

2. Tinggi tanaman. Peubah ini diukur dengan membentangkan daun strawberi diatas penggaris. Diukur dari pangkal daun sampai ujung daun tertinggi.

3. Jumlah tanaman yang dapat diaklimatisasi. Kriteria tanaman yang dapat

diaklimatisasi adalah tanaman yang memiliki daun 5-6 buah dengan tinggi

minimal 2 centimeter dan telah berakar.

4. Persentase kultur berakar

5. Kultur berkalusltidak.

(145)

Beberapa

peneliti menyimpub

hhwa

k o ~ l ~ e n t d

hara

dm

sukrosa

berperan penting

dalorm

pmtumbuhan kultur. Bonnier

dan

Tuy (1997)

men-

hhm k u h r in v i m lily

akan

berkurang

j

d

tunas,

pertumbuhan bulb,

vigor,

dm

pematw

tumbuh

kecambah jika

dikuhkan

p a d a m e d i a ' / r M S + 9 0 g / l S ~ s a S&n&nKumar,Sood,Palni,danGupta

(1999) menyimpulkan pada

in

vifro

Gladiolus

h y b r i h ,

pertumbuhan

dan

proMhsi tmm

kbih

ihkpadamediadengm konse,rrtrasi h s a t i n g g i .

Gambtrr 6. Peno~pilan strawberi (kuitivar Yml) pada media

MS

dengm

ko-i

sukmsa 20

gll

(I), 30 (2), 40

glt

(3),

clan

50 g ( 4 )

,

(146)

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Jumlah tunas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnlah tunas dipengaruhi sangat

nyata oleh perlakuan dan juga terdapat interaksi yang sangat nyata dari ketiga

faktor yang dicoba (Tabel lampiran 3). Pada kultivar Yael rata-rata tunas

tertinggi adalah 20,s didapat pada perlakuan 1,5xMS+20g/l sukrosa. Sedangkan

pada kultivar Doriet rata-rata tunas tertinggi adalah 28,2 didapat pada perlakuan 2xMS+30 g/l sukrosa

Tabel 6. Pengaruh media dan sukrosa terhadap jumlah tunas strawberi umur 7

MST.

1

Kuadratik tn tn

No 1 2 3 4 1 Media dasar 9 10 11 12 13 14 15 16 Kultivar MS 0,s 20 30 40 5 0 Linier Kuadratik Yael 13,2 f-j 13,O e-j 9,6 j-1 13,4 e-j tn Sukrosa(g/l) 20 30 40 50 Linier

Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji DMRT 5%.

1,5 2 Doriet 19,O b-h 24,4 a-c 13,2 e-j 1 5,4d-I tn 15,s d-j 17,s c-h 10,4 i-1 7,4 kl tn tn 22,O a-d 26,6 ab 16,O d-I 16,O d-I tn tn 2 0 30 40 50 Linier Kuadratik 20 3 0 40 50 Linier Kuadratik 20,s a-e 20,O a-f 19,6 a-g 12,6 h-k tn tn 17,s c-h 19,2 b-h 14,O d-j 9,8 i-1 tn tn 18,4 b-h 12,4 g-k

[image:146.574.96.500.113.772.2]
(147)

2. Tinggi tunas

Pada Tabel lampiran 4 dapat dilihat bahwa tinggi tunas dipengaruhi oleh perlakuan (media dan sukrosa) dan tidak terdapat interaksi dari ketiga faktor yang dicoba. Pada kultivar Yael tinggi tunas rata- rata adalah 2,62 cm dan kultivar

Doriet adalah 2,24 cm. Sementara untuk tanaman kontrol Yael dan Doriet memiliki rata-rata tinggi tunas masing-masing 3,54 cm dan 3,7 cm. Akan tetapi pada percobaan ini didapati juga bahwa semakin tinggi konsentrasi hara dan

sukrosa, daun tanaman menjadi lebih lebar

.

Purwito (1999) menyimpulkan pada

tanaman kentang yang dikulturkan pada media MS dengan dua kali konsentrasi

unsur makro yang ditambah 60 g/l sukrosa dapat meningkatkan vigor tanaman

akan tetapi tanaman akan menjadi lebih pendek, jumlah daun menjadi lebih

sedikit, diameter menjadi lebih sempit, dan sistem percabangan menjadi lebih banyak. Sementara Hapsoro (1999) yang bekerja dengan tanaman vanili

(148)

Tabel 7. Pengaruh media dan sukrosa terhadap tinggi tunas strawberi umur 7 MST.

3. Jumlah tunas dapat diaklimatisasi

Pada Tabel 8 dapat kita lihat bahwa konsentrasi media dasar akan

mempengaruhi jumlah tanaman yang dapat diaklimatisasi. Dari data dapat kita lihat bahwa semakin tinggi konsentrasi hara media dasar jumlah tunas aklimatisasi akan meningkat. Dari keempat jenis media tersebut, media dengan

perlakuan 2 x MS memiliki rata-rata jumlah tunas aklimatiasi lebih baik yaitu 2,7

tunas walaupun jumlah ini lebih rendah dibandingkan media kontrol. Hal ini

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

berarti tidak berbeda pada uji DMRT 5%.

Kultivar Yael 1,48 e-j 1,30h-k 0,86 k 1,38 f-k tn tn 1,60 d-j 2,40 b-d 2,62 b 1,66 d-i tn tn 1,36 g-k 1,36 g-k 2,56 bc 2,54 bc tn tn 1,18 I-k 1,48 e-j 2,04 b-h 2,06 b-g tn tn

yzng sama pada kolom

Doriet 0,96 jk 1,211-k 0,96 jk 1,46 e-j tn tn 2,06 b-g 2,24 b-e 1,98 b-h 1,68 d-j tn tn 1,72 C-I 1,62 d-I 2,06 b-g 2,26 b-e tn tn 1,42 f-k 1,28 h-k 2,12 f-f 2,14 b-f tn tn yang sama Media MS 0,5 1 195 2

Keterangan: angka yang

[image:148.570.88.505.88.537.2]
(149)

terjadi pada kultivar Yael. Pada kultivar Doriet, rata-rata jumlah tunas aklim

tertinggi diperoleh pada perlakuan 1 %X MS yaitu 2,6 tunas. Pada percobaan ini jumlah tunas aklimatisasi dipengaruhi oleh kultivar dan konsentrasi media dasar.

Pada percobaan ini konsentrasi peningkatan sukrosa menyebabkan penurunan jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi untuk kultivar Yael dan Doriet pada dasar 1xMS. Sedangkan pada media 1 1/2xMS dan 2xMS konsentrasi

sukrosa tidak berpengaruh baik pada kultivar Yael maupun Doriet.

Tabel 8. Pengaruh media dasar dan konsentrasi sukrosa terhadap jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi, 7 MST.

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kultivar Yael 0 0 0 2,5

+

0,7

2 + 0 2 + 1 1,8

+

0,8

1,6 5 0 0 0 2,6

+

1,5 2,4

+

0,5

0 2,6

+

2,O 2,5

+

1,9 2,4 +_ 0,5

Media MS 095 1 1,5 2 Doriet 0 0 0 0 0 2 + 0 1 + 0 5 + 0

0 0 2,s

+

1,4 2,s

+

0,8

0 l + O 1,6

+

0,5 [image:149.570.89.500.279.812.2]
(150)

4. Persentase tanaman berakar dan keadaan kalus

Hasil penelitian mendapatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi hara media dasar maka persentase jumlah tunas berakar meningkat. Hal yang sama terjadi juga jika konsentrasi sukrosa meningkat baik pada kultivar Yael maupun Doriet. Namun prosentase tunas berakar ini masih lebih tinggi pada perlakuan

kontrol. Ziv (1986) mengungkapkan pada tanarnan Dianthus caryophyllus

peningkatkan konsentrasi sukrosa akan mengurangi gejala vitrifikasi. Dari

percoban ini tampaknya peningkatkan konsentrasi hara dan sukrosa mengurangi kultur yang mengalam vitrifikasi.

Hasil penelitian juga mendapatkan sebagian besar perlakuan mendapatkan tanaman berkalus. Akan tetapi kalus yang timbul tidak banyak. Kalus yang

terjadi lebih banyak pada kultivar Yael dibandingkan kultivar Doriet. George dan Sherrington (1984) menyatakan kehadiran sukrosa berperan penting dalam

mikropropagasi dan kultur kalus. Konsentrasi sukrosa 2-4% merupakan

(151)

Tabel 9. Pengaruh konsentrasi media dasar dan konsetrasi sukrosa terhadapjumlah total tunas, persentase tanaman berakar dan terbentuknya kalus.

Kondisi kalus Persentase tunas Berakar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 tivar Yael Jumlah total tunas No KESIMPULAN Media Dasar

Ket :

+

= ada kalus,

-

= tidak ada kalus Dt= Kultivar Doriet Y1= Ku

1. Media tumbuh yang terdiri dari 1,5x MS yang ditambah sukrosa 20 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas dan tunas yang dapat diaklimtiasai untuk

Y1 0 0 0 74,6 2,53 6,74 17,3 21,6 8,65 0 7 3 3 19,O 0 8,33 13,8 24,5 MS 0,5 1 1,5 2

kultivar Yael Pada kultivar Doriet media tumbuh yang terdiri dari 2xMS

D t 0 0 0 0 0 1,5 6,25 6,25 0 0 12,9 15,9 0 1,42 7,14 25,8

Y 1 66 65 4 8 67 79 89 5 2 37 104 100 9 8 63 89 96 72 49

Sukrosa g/l 2 0 30 40 50 20 30 4 0 5 0 20 3 0 40 50 2 0 30 4 0 5 0

yang ditambah sukrosa 30 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas.

[image:151.568.69.508.78.793.2]
(152)

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMADAT MEDIA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI

(EErugur~a ununussu Duch.) SECARA I N VITRO

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat media dan peningkatan konsentrasi pemadat media terhadap multiplikasi tunas strawberi secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan non faktorial dalam rancangan lingkungan acak lengkap. Jenis pemadat media yang digunakan adalah Gelrite 2 dan 4 gll, Swallow Globe 7 dan

10 gll, Bacto-difco 7 dan 10 gll, dan media cair. Hasil penelitian ini

menyimpulkan bahwa ( 1 ) tidak ada perbedaan nyata antara Gelrite, Bacto, dan Swallow Globe pada konsentrasi masing-masing 2g/l, 7g/l, dan 7 g/l pada jumlah tunas, tinggi tunas, dan jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi, (2) peningkatan konsentrasi pemadat media secara nyata menurunkan peubah-peubah yang diamati.

PENDAHULUAN

Salah satu upaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas plantlet adalah dengan memodifikasi media tanam kultur jaringan. Di dalam media

tanam kultur jaringan komposisi hara, zat pengatur tumbuh tanaman, sukrosa, dan pemadat media sangat berperan. Ziv (1986) mengemukakan bahwa konsentrasi agar, konsentrasi gula (sukrosa), dan kelembaban nisbi dalam wadah kultur

berpengaruh terhadap daya hidup plantlet setelah dipindah ke lapang. Sedangkan Pierik (1987) menyatakan sifat fisik medium dipengaruhi mempengaruhi

(153)

Jenis dan konsentrasi pemadat media akan mempengaruhi perkembangan

kultur. Pemadat medium yang sering digunakan adalah agar. Agar adalah

polisakarida yang diperoleh dan beberapa spesies alga dan digunakan sebagai bahan pemadat media. Umumnya konsentrasi agar yang ditambahkan ke dalam media kultur berkisar antara 0,6-1% (Gunawan ,1992). Pemakaian agar ini

berfungsi untuk menyangga eksplan, sehingga kontak antara eksplan dengan

udara terpenuhi. Disamping itu agar juga berfungsi sebagai penyumbang

komponen organik dan anorganik dalam media kultur. Agar Bacto difco adalah salah satu agar yang sering digunakan dengan konsentrasi 0,6-0,8%.

Beberapa peneliti yang menyimpulkan pentingnya jenis dan konsentrasi

agar, antara lain Singha (1984) melaporkan bahwa jenis agar mempengaruhi

proliferasi pucuk secara In vitro crabapple dan pear. Agustiansyah (1996)

menyimpulkan peningkatan konsentrasi Gelrite dan agar Bacto-difco

menghambat pertumbuhan tinggi setek mikro vanili. Hapsoro (1999)

menyimpulkan jenis agar mempengaruhi jumlah plantlet yang dihasilkan pada kultur vanili.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu percobaan

Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman,

Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian I PB. Dimulai dari bulan

(154)

Bahan dan alat

Eksplan yang dipergunakan adalah kultur in vifro strawberi kultivar Yael

koleksi Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian LPB.

Alkohol, BAP, IAA, agar Swallow Globe, Gelrite, agar Bacto difco, gula, dan bahan kimia komponen media MS. Alat yang dipergunakan pada percoban ini

adalah laminar, autoklaf, dan peralatan tanam kultur jaringan lainnya.

Rancangan percobaan

Percobaan ini dilakukan dalam rancangan lingkungan acak lengkap non

faktorial. Jenis pemadat medium yang digunakan adalah Gelrite 2 dan 4

dl,

agar Bacto 7 dan 10

dl,

dan agar Swallow Globe 7 dan 10 gll, media cair, serta

MSO sebagai kontrol. Keseluru

Gambar

Gambar 1. Kemungkinan terjadinya strawberi hibrida alami hexaploid dan
Gambar 2. Kemungkinan terbentuknya strawberi hibrida alami enneaploid dan
Tabel 2. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi urnur 7 MST.
Tabel 3. Pengaruh BA dan IAA terhadap tinggi tunas (cm) strawberi umur 7
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi NAA berpengaruh nyata terhadap panjang akar dan tinggi tanaman dan konsentrasi BAP berpengaruh nyata terhadap parameter

Hasil pengamatan jumlah daun 10 - 40 hspt dapat dilihat pada tabel lampiran 9, 11, 13, 15 dan daftar sidik ragam pada lampiran 10, 12, 14, 16 menunjukkan bahwa pemberian

Evaluasi variasi somaklonal hasil perbanyakan in vitro tanaman nenas telah dilakukan pada plantlet dalam botol dan aklimatisasi di lapangan umur 6 minggu (Mhatre et al.

Hasil sidik ragam pengaruh perlakuan dosis EnricHS PMF dan pupuk konvensional terhadap tinggi tanaman umur 9 MST disajikan pada Tabel.

Persentase tanaman hidup dari eksplan variegata tertinggi ditunjukkan oleh eksplan yang ditanam pada medium yang mengandung IBA 2.5 mg/l.. Pada medium yang mengandung JBA

Data pengamatan berat kering per sampel tanaman sawi dengan pemberian pupuk kompos dan POC akar bambu serta sidik ragam dapat di lihat pada Lampiran 20.. Berdasarkan hasil

Lampiran Tabel 12 Sidik Ragam Jumlah Daun Bawang Merah Terhadap Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Sapi dan Dosisi Pupuk Kalium Pada Tanaman Umur 42 Hari

Kondisi tersebut sama halnya dengan hasil penelitian Mugiyo (2011, komunikasi pribadi) bahwa pertumbuhan tanaman Nepenthes rafflesiana Jack dalam tahap aklimatisasi