STtIDI PERBANYAKAN TANAMAN STRAWBERI
(Fragaria ananassa
Duch) SECARA
IN
VZTRO
OLEH
AGCJSTIANSYAH
PROGRAM PASCASAKJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
AGUSTIANSYAH. Studi Perbanyakan Tanaman Strawberi (Fragaria ananassa
Duch) Secara In vitro. (Di bawah bimbingan AGUS PURWITO DAN G.A.
WATTIMENA).
-
Salah satu kendala dalam pengembangan tanaman strawberi di Indonesia adalah terbatasnya ketersediaan bibit. Selama ini para petanilpengusaha strawberi
mengimpor bibit dalam bentuk bibit frigo, dimana bibit yang berupa fiigo tersebut
akan menurun produktivitasnya dari tahun ketahun.
Teknik kultur jaringan tanaman diyakini mampu memecahkan kendala dalam ha1 perbanyakan bibit tanaman. Dengan teknik kultur jaringan produksi bibit dapat dilakukan tanpa tergantung musim, jumlah yang dihasilkan cukup banyak dalam waktu relatif singkat serta bibit yang dihasilkan lebih sehat.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dilakukan dari bulan
Nopember 200 1 sampai dengan bulan Juni 2002.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zat pengatur tumbuh tanaman yang optimum untuk multiplikasi tunas adventif dan perakaran, konsentrasi hara dan sukrosa media MS untuk multiplikasi tunas, bahan pemadat media, dan teknik aklimatisasi plantlet yang baik.
Hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah (1). konsentrasi BA 0,5 uM adalah konsentrasi yang optimum untuk perbanyakan tunas strawberi
pada kultivar Doriet sedangkan BA 1 uM
+
IAA 0,2 uM adalah konsentrasiterbaik untuk kultivar Yael, (2) media tumbuh yang terdiri dari 1,5x MS
+
sukrosa 20 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas kultivar Yael. Pada kultivar
Doriet media tumbuh yang terdiri dari 2xMS + sukrosa 30 g/l dapat meningkatkan
ABSTRACT
AGUSTIANSYAH. Studi on Micropropagation of Strawberry. (Supervised by AGUS PURWITO and G.A. WATTIMENA).
-
One of problems of developing strawberry in Indonesia is limitation on amount of seed. We have to solve these problems with researching technically of seed technology. Tissue culture is a technology that could solve the problems of amount of seed. This technology already has done in so many countries and so many variation of plant.
This experiment have done in Biotechnology Laboratory, Department of Agronomy, Bogor Institute of Agriculture, during November 2001 until June 2002.
The objectives of this research is to optimize several factors such as plant growth regulators, strength of MS medium, sucrose, and type of agar on micropropagation of strawberry.
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis saya yang berjudul:
-
"STUD1 PERBANYAKAN TANAMAN STRAWBERI (Fragaria ananassa Duch) SECARA IN VITRO"
merupakan gagasan atau hasil penelitian saya sendiri, dengan pembimbingan komisi pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain.
Semua data dan informasi yang digunakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, 3 1 Oktober 2002
STUD1 PERBANYAKAN TANAMAN STRAWBERI
(Fragaria ananassa
Duch.)
S ECARA
IN
VITRO
AGUSTIANSYAM
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Agronomi
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Studi Perbanyakan Tanaman Strawberi
(E+'ruguria unun Duch) Secara In vilro
Nama Mahasiswa : Agustiansyah
-
Nomor Pokok : 99749
Program Studi : Agronomi
Menyetuj ui,
1. Kolnisi pembimbing
Dr. Ir. &us Purwito, MSc. Ketua
Dr.
Ketua Program Studi Agrono~n
Ir. Hajrial Aswidinnoor, MSc.
Prof. Dr. Ir. G.A. Wattimena, MSc Anggota
Mengetahui,
Program Pascasarj an la IPB
MSc.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tanjungkarang pada tanggal 4 Agustus 1972 dari
-
ayah Muhammad Saleh Nur dan ibu Kemala Sumbai. Jenjang pendidikan penulisberturut-turut adalah sekolah dasar di SDN I Langkapura, Bandar Lampung (lulus
tahun 1985), sekolah lanjutan tingkat pertama di SMP Negeri 2 Tanjungkarang
(lulus tahun 1988), sekolah lanjutan tingkat atas di SMA Negeri 5 Tanjungkarang
(lulus tahun 199 1). Pada tahun 1996 penulis memperoleh gelar sarjana pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila).
Pada tahun 1996-2000 penulis bekerja sebagai staf penelitian dan pengembangan PT. Intidaya Agrolestari (Inagro) di Bogor. Pada Februari 2000 penulis menjadi mahasiswa Program Studi Agronomi, Program Pascasrajana IPB.
PRAKATA
Puji syukur ke hadirat Illahi Rabbi, dengan rahmat hidayah-Nya, tulisan -
ini dapat penulis selesaikan. Tesis yang berjudul 'Studi Perbanyakan Tanaman
Strawberi (Fragaria ananassa Duch) Secara In Vitro' ini disusun sebagai kelengkapan tugas akhir pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1. Dr. Ir. Agus Purwito, MSc dan Prof. Dr. Ir. G.A. Wattimena, MSc atas
bimbingan, arahan, dan saran-sarannya selama penulis melakukan percobaan dan pembuatan tulisan ini.
2. Dr. Ir. Nurul Khumaida, MSi selaku penguji diluar komisi pembimbing atas
kritik dan sarannya untuk perbaikan tulisan ini.
3. Isteri dan anak tersayang yang telah mendampingi dan memberikan dorongan
semangat selama kuliah dan menyelesaikan tesis ini.
4. Asnawati, S.Hut, MSi, Ir. Dwi Hapsoro, MSc, Ir. Yusnita, MSc, Ir. Dini Dinarty, MSi, dan Ir. Bambang Purwanto atas semua diskusi, saran , dan bantuanya.
5. Keluarga Besar Ayahanda Muhammad Saleh Nur di Lampung dan Keluarga Ayahanda Muhammad Muslih BA di Ciamis atas segala bantuan dan doanya.
6. Teman-teman di Laboratorium Bioteknologi Tanaman (Mas Didi, Mas Arief,
7. Rekan-rekan angkatan 1999 dan 2000 (Pepi, Zuraida, Pak Bakhtiar, Endah, Will y) Program Studi Agonomi Program Pascasarjana IPB.
8. Seinua pihak yang telah andil dalam pelaksanaan penelitian ini.
-
Akhirnya, penulis berdoa semoga tulisan ini bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Bogor, 3 1 Oktober 2002
DAFTAR IS1
...
DAFTAR IS1 ....
DAFTAR TABEL...
DAFTAR GAMBAR...
PENDAHULUANLatar Belakang
...
Tuj uan...
...
TINJAUAN PUSTAKABotani Tanaman Strawberi
...
...
Sejarah Perkembangan Strawberi...
Kultur Jaringan StrawberiPENGARUH BENZILADENIN DAN ASAM INDOL ASETAT TERHADAP PERBANYAKAN TUNAS STRAWBERI
(Fragaria ananassa Duh) SECARA IN WTRO
...
...
Abstrak...
PendahuluanBahan dan Metode
...
Hasil dan Pembahasan...
Kesimpulan...
PENGARUH KONSENTRASI HARA MEDIA DAN SUKROSA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI
...
(Fragaria anatzassa Duh) SECARA IN VITRO...
Abstrak...
Pendahuluan...
Bahan dan MetodeHasil dan Pembahasan
...
...
KesimpulanPENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMADAT MEDIA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI
...
(Fragaria atzanassa Duh) SECARA IN V7TRO...
AbstrakPendahuluan
...
...
Bahan dan Metode...
Hasil dan Pembahasan...
Kesimpulan...
V l l lPENGARUH IBA. NAA. DAN
IAA
TERHADAP PENGAKARAN STEK MIKRO STRAWBERI (Fragaria ananassa Duh)...
SECARA IN WTROAbstrak
...
Pendahuluan...
...
Bahan dan Metode-
...
Hasil dan Pembahasan...
KesimpulanPENGARUH JENIS MEDIA AKLIMATISASI TERHADAP DAYA HIDUP BIBIT STRAWBEFU (Fragaria ananassa Duch) HASIL
...
KULTUR JARINGAN...
AbstrakPendahuluan
...
...
Bahan dan Metode...
Hasil dan Pembahasan...
KesimpulanPEMBAHASAN UMUM
...
...
KESIMPULAN DAN SARANDAFTAR TABEL Teks
No Hal
-.
1. 16 Spesies penting strawberi, ploidi, penyebarannya
di dunia
...
102. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi umur
7 MST
...
183. Pengaruh BA dan IAA terhadap tinggi tunas strawberi umur
7 MST
...
194. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi yang
dapat diaklimatisasi umur 7 MST
...
205. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas total,
persentase tunas berakar, dan terbentuknya kalus
...
2 16. Pengaruh media dan sukrosa terhadap jumlah tunas
strawberi 7 MST
...
297. Pengaruh media dan sukrosa terhadap tinggi tunas strawberi
7 MST
...
328. Pengaruh media dan sukrosa terhadap jumlah tunas
...
strawberi yang dapat diaklimatisasi 34
9. Pengaruh konsentrasi media dan sukrosa terhadap jumlah
...
total tunas, persentase tunas berakar, dan kalus 35
10. Pengardl jenis dan konsentrasi pemadat media terhadap
jumlah tunas strawberi 7 MST
...
40 1 1 . Pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat media terhadaptinggi tunas strawberi 7 MST
...
4 112. Pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat medium terhadap
jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi
...
4213. Pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat medium terhadap
jumlah total tunas, jumlah tunas berakar, dan persentase
14. Pengaruh IBA, NAA, dan IAA terhadap tinggi tunas
...
15. Pengaruh IBA, NAA, dan IAA terhadap jumlah akar..
. ... . . .
..
. .. .
.. . . .. . .. .
..
16. Pengaruh IBA, NAA, dan IAA terhadap panjang akar...
..
...
.
...
....
.
. .. . .. . ... .
-~17. Pengaruh JBA, NAA, dan IAA terhadap jumlah daun
...
1 8. Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap tinggitanaman strawberi
...
19, Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap panjangakar strawberi
...
...
...
20. Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap jumlahakar strawberi
...
2 1. Pengaruh jenis media aklimatisasi terhadap jumlah
DAFTAR GAMBAR Teks
- No. Hal
1. Kemungkinan terjadinya strawberi hibrida alami hexaploid dan pentaploid 8
2. Kemungkinan terjadinya strawberi hibrida alami enneaploid dan dekaploid 9
5. Penampilan strawberi kultivar Doriet dan Yael pada BA 1 pM dan
BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM , dan MSO...
22 4. Penampilan strawberi pada BA 5 pM dan 10 pM...
23 5. Hubungan antara peningkatan konsentrasi sukrosa dan jumlah tunas.
. . . .
3 0 6. Penampilan strawberi kultivar Yael pada media 1 ,5xMS dengankonsentrasi sukrosa 20g/l, 30g/l, 40g/l,dan 50gA
...
3 17. Hubungan antara peningkatan konsentrasi sukrosa dan tinggi tunas..
. .
. .. .
338. Penampilan strawberi pada berbagai jenis bahan pemadat media
. . .
. .. .
. 4 19. Penampilan strawberi setelah diperlakukan dengan IBA, NAA, dan IAA
5 pM dan 10 pM
...
.
...
... ... ..
...
..
.
....
...
.. .
. .
...
. .
.. . . .
.. .
.. . .
..
. .
.
.
5 110. Penampilan strawberi pada keempat jenis media aklimatisasi ... 60
PENDAHULUAN Latar Belakang
Tanaman strawberi merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Daya pikat tanaman ini terletak pada buahnya yang benvarna merah mencolok dengan bentuk yang mungil, menarik, serta rasanya yang manis segar. Akan tetapi tanaman ini belum begitu banyak dibudidayakan
di Indonesia.
Di Indonesia strawberi disebut juga arben. Strawberi di Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya hanya dapat dibudidayakan di daerah dataran tinggi (> 800 m dpl) oleh karena itu penanamannya masih dalam skala kecil, sedangkan di negara beriklim sedang dan subtropik strawberi sudah lama dibudidayakan secara besar-besaran (Sukumalanandana dan Verheij, 1997 ).
Nilai gizi buah strawberi cukup tinggi, dimana setiap 100 g buah memiliki kandungan energi, protein, vitamin, lemak, dan unsur-unsur esensial lainnya Bagian yang dapat dimakan dari buah strawberi mencapai 96% (Herrera, 1999). Kandungan vitamin C buah strawberi lebih tinggi dibandingkan jeruk dan lemon (Bhat dan Dhar, 2000). Buah strawberi umumnya dikonsumsi sebagai buah segar sebagai makanan penutup atau diolah menjadi selai strawberi (Herrera, 1999).
strawberi selalu terinfeksi virus dan penyakit yang disebabkan mikoplasma.
Terdapat 54 virus, dan 8 mikoplasma yang selalu menginfeksi strawberi.
Di Indonesia, para pengusaha strawberi ulnumnya mengimpor bibit dalam
bentuk.frigo. Frigo adalah bibit berupa stolon yang diambil dari pembibitan pada bulan Desember atau Januari dimana tanaman mulai memasuki masa dormansi dan akar telah terisi cadangan makanan. Daun dan tangkai dibuang, tanaman
dibungkus dengan plastik dan disimpan dalam kotak karton yang diletakkan pada
suhu -22'~ selama hampir 9 bulan (Voth dan Bringhurst, 1990). Bibit frigo
yang diimpor menghasilkan produksi yang baik pada tahun pertama, tetapi produksi menurun dari tahun ke tahun. Oleh karena itu impor frigo harus
dilakukan tiap tahun untuk mempertahankan produksi dan kualitas buah
(Gunawan, 1995).
Teknik kultur jaringan telah terbukti dalam mengatasi kendala dalam ha1 pembibitan tanaman. Dengan teknik ini diharapkan kendala dalam pembibitan tanaman strawberi dapat diatasi karena teknik kultur jaringan memiliki beberapa
keunggulan.
Menurut Boxus ( 1 999), teknik kultur jaringan telah digunakan secara luas untuk perbanyakan cepat tanaman strawberi. Namun di Indonesia, perbanyakan strawberi secara in vitro belum banyak dilakukan padahal potensi dan prospek pengembangan strawberi di indonesia cukup bagus. Dijelaskan juga dengan teknik ini dapat dilakukan eliminasi terhadap virus yang menginfeksi bibit strawberi.
Beberapa aspek penting yang menentukan keberhasilan dalam
tanaman baik untuk multiplikasi tunas maupun pengakaran tunas, media yang digunakan, pemadat media, dan teknik aklimatisasi dalam ha1 ini media
aklimatisasi yang digunakan.
-
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mendapatkan metode perbanyakan tanaman strawberi secara rn vltro. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan 5 buah percobaan yang masing-masing tujuannya untuk mendapatkan zat pengatur tumbuh tanaman terbaik untuk multiplikasi dan pengakaran tunas, konsentrasi
11. TINJAlJAN PUSTAKA
Botani Tanaman Strawberi
Strawberi diklasifikasikan secara taksonomi seperti di bawah:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermathophyta
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : l~~rugurru
Spesies : l*iuguriu x ununussu Duch.
Di Indonesia tanaman ini senng juga disebut juga arben
(Sukumalanandana dan Verheij, 1999). Tanaman ini batang utamanya sangat pendek. Daun-daun terbentuk pada buku dan di ketiak setiap daun terdapat pucuk aksilar. Internode sangat pendek sehingga jarak daun yang satu dengan
yang lain sangat kecil dan memberi penampakan seperti rumpun tanpa batang. Batang utama dan daun yang tersusun rapat ini disebut crown. Ukuran crowrz
berbeda-beda menurut umur, tingkat perkembangan tanaman, kultivar, dan kondisi lingkungan pertumbuhan (Childers, 1980; Gunawan, 1995). Strawberi
merupakan tema tahunanlherbaceous tahunan Wereniul) yang menjalar
(Sukumalanandana danverheij, 1999; Herrera, 1999).
Daun strawberi merupakan daun majemuk beranak daun tiga, tangkai
daun panjangnya 1 3 - 1,7 cm, berbulu halus, anak daunnya berukuran 1,8-7 cm x
pinggiran anak daun bergerigi, dan lembaran bagian bawah daun benvarna hijau
(Sukumalandana dan Verheij, 1999). Dalam masa pertumbuhan vegetatif,
meristem apikal membentuk daun baru setiap 8-12 hari pada temperatur rata-rata
22". Daun dapat bertahan 1-3 bulan dan kemudian kering. Pada daun strawberi
terdapat stomata yang jumlahnya banyak sekali yaitu inencapai 300-400 stomata
per mm' sehingga mengakibatkan daun banyak kehilangan air melalui transpirasi (Childers, 1980 ; Gunawan, 1995).
Akar strawberi dewasa pada umurnnya mempunyai 20-35 akar primer,
tetapi ada juga jenis yang mempunyai 100 akar primer. Akar primer dapat bertahan lebih dari satu tahun, tetapi pada umumnya 1 tahun. Akar-akar baru
yang menggantikan akar primer ini tumbuh dari ruas yang paling dekat dengan akar primer. Hal ini dapat mengurangi kontak akar dengan tanah pada tanaman-
tanaman tua. Akar-akar tanaman dewasa mencapai panjang 1 meter, tetapi 90%
dari akar-akarnya berkumpul pada lapisan atas tanah pada kedalaman sekitar 15 cm. Pada tanah-tanah dengan drainase yang baik, 50% dari akar berkumpul di
kedalaman antara 15-45 cm (Childers, 1980; m w a r d el ul. 1991; Gunawan, 1995).
Pucuk-pucuk aksilar dapat berkembang menjadi stolon (runner), crown, cabang, atau tetap dengan pucuk dominan. Arah perkembangan pucuk aksilar ini
ditentukan oleh potensi genetiknya dan faktor lingkungan. Pada umumnya bila tanaman diberi hari panjang (penyinaran lebih dari 14 jam) maka akan terbentuk
stolon terdapat ruas-ruas. Ruas-ruas dari stolon ini dapat mencapai belasan sentimeter. Pada ruas terdapat pucuk aksilar yang dilindungi oleh bractae. Anakan akan membentuk akar pada ssat pucuk inembentuk daun trifoliate. Akar
dari anakan akan membentuk akar cabang setelah mencapai 2-5 cm (Edward et
ul. 1991).
Bunga tanaman strawberi mempunyai 5 sepal, 5 petal, 20-35 stamen, dan
ratusan pistil yang menempel pada receptacle dengan pola melingkar. Bunga
tersusun dalam influoresen yang terletak di ujung tanaman. Pada kondisi
pertumbuhan yang cocok, crown cabang yang timbul dari ketiak daun terakhir akan membentuk bunga pada ujungnya sehingga timbul kesan dua inflourescen
dalam satu tanaman. Inflouresen tersusun dari tangkai utama dan tangka~ cabang.
Diujung tangkai utama terdapat bunga yang disebut bunga primer. Bunga primer
ini mendominasi perkembangan bunga. Tangkai sekunder terbentuk di bawah bunga primer dan dilindungi oleh sepasang bractae. Diujung tangkai sekunder terdapat bunga sekunder. Pada tangkai sekunder terdapat cabang tertier dengan
bunga tertier, dan seterusnya. Setiap percabangan disertai sepasang bractae pada pangkalnya(Childers, 1980; Ednvard et u/ .I99 1 ; Gunawan, 1 955;
Sukumalanandanan dan Verheij, 1999).
Normalnya, inflouresen mempunyai satu bunga primer, dua sekunder,
empat tertier, delapan kuartener, dan kuiner. Akan tetapi, bila kondisi tidak menguntungkan maka primordia bunga berubah menjadi primordia daun sehingga sebagai gantinya bunga pada inflouresen akan terbentuk daun. Bunga
untuk menyerbuki ovule (bakal biji). Stigma yang siap menerima tepung sari
akan terasa kasar dan lengket. Keadaan represif ini bertahan selama beberapa hari. Penyerbukan dapat terjadi dengan bantuan angin, dengan gaya berat, atau serangga. Lebah madu juga dapat membantu meningkatkan produksi strawberi (Childers, 1980; Gunawan, 1995)
Buah strawberi benvarna merah yang biasa dikenal adalah buah semua
yang sebenarnya merupakan receptacle yang membesar. Buah sejatinya yang berasal dari ovul yang telah diserbuki berkembang menjadi buah yang kering dengan biji yang keras. Struktur buah keras ini disebut achene. Buah-buah sejati
berukuran kecil dan menempel pada receptacle yang membesar. Ukuran
strawberi ditentukan oleh jumlah buah achene yang terbentuk, sedangkan jumlah buah achene yang terbentuk ditentukan oleh pistil dan keefektifan penyerbukan. Buah primer mempunyai jumlah pistil terbanyak, yaitu mencapai lebih dari 400 buah. Jumlah pistil pada bunga sekunder antara 200-300 buah, sedangkan pada bunga tertier 50-150 buah. Oleh karena itulah, ukuran buah paling besar adalah buah yang berasal dari bunga primer kemudian disusul oleh bunga sekunder,
tertier, kuartener, dan kuiner. Pembesaran buah dari receptacle dirangsang oleh achene yang terbentuk. Penyerbukan yang tidak merata dapat menyebabkan bentuk buah menjadi kurang sempurna (Childers, 1980; Gunawan, 1995).
Menurut Bhatt dan Dhar (2000), Gunawan (1995), Hartmann et al.
(1997), Sukumalanandana d a ~ ~ Verheij (1999), tanaman strawberi dapat
diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan anakan dari stolon (runner)
dan sedikit yang diperbanyak dari biji hanya untuk keperluan persilangan
aksilar, tumbuh horizontal sepanjang tanah dan membentuk tanaman baru dengan satu mata tunas. Perbanyakan dengan stolon menghasilkan sedikit anakan dan belum terjamian bebas penyakit bawaan.
Sejarah Perkembangan Strawberi
Strawberi yang dibudidayakan sekarang dengan nama ilmiah Fragaria x
ananassa Duchesne adalah kultivar strawberi modern dengan tingkat ploidi
Oktoploid (2n = 8x = 56). Kultivar strawberi modem ini merupakan hasil
persilangan antara 2 spesies strawberi oktoploid Amerika yaitu Fragaria virginia
L., berasal dari Amerika Utara dan Fragaria chiloensis Duch., berasal dari pantai
barat Amerika Selatan (Bringhurst, 1990). Disamping itu ditemukan juga spesies
strawberi hibrida alami, dengan kemungkinan kejadian seperti Gambar ldan 2.
F. chilounsis (Reduced gamate)
2A2A92B2B' Heksaploid
AvAA1BB'
F. vesca (Unreduced)
Av
F.chiloensis (Reduced gamate)
<
2A2A12B2B'Pentaploid 2AvAA'BB1
F. vesca (Reduced)
2Av
[image:124.564.73.482.0.800.2]1.: clzzloenszs (unreduced gunw/e)
2A2A'2B2B' Enneaploid
A,2A2A'2B2B1
1.: vescu (Reduced)
2A,
atau
Pentaploid Hibrida (Unreu'uced)
A\AAIBB' Enneaploid
A,2A2A12B2B'
E
chzloensls (Reduced)2A2A12B2B'
Hexaploid hi brida ( (lnreduced)
2A,AA'BB Dekaploid
2A,2A2A'2B2B1
t.'.
clzrloensw (Reduced)2A,AA'BB1
atau
Pentaploid hibrida ((inreduced)
A\AA9BB'
Dekaploid
2A,.2A2A12B2B'
Pentaploid hibrida ((Jnreduced)
[image:125.568.82.465.75.791.2]Menurut Hancock (1 990), terdapat 16 spesies penting dari genus Fragaria.
Spesies-spesies tersebut menyebar di seluruh dunia, tetapi tetuanya, F. chiloensis
dan F. virginia hanya ada di Amerika Serikat, Kanada, dan Chili. Spesies, tingkat ploidi, serta lokasi penyebaran strawberi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. 16 Spesies penting strawberi, ploidi, dan penyebarannya di dunia
No 1 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 5
16 Ploidi 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x 4x 4x 5x 6x 8x 8x 8x 8x Spesies
F . vesca
F.viridis Duch
F. nilgerrensis Schlect
F . daltoniana J. Gay F. nubicola Lindl F. iinumae Makino
F . yesoensis Hara
F. nipponica lindl
F . orietalis Losink F. moupinensis (French.) F. bringhurstii
F. ~noschata Duch F . chiloensis(L.) Duch
F . virginiana Duch
F.iturupensis Staudt F x ananassa Duch
Lokasi
Amerika utara, Asia Utara, Eropa. Eropa dan Asia Timur
Asia Tenggara Himalaya Himalaya Jepang Jepang Himalaya Asia Utara China Selatan California
Eropa Tengah dan Utara
Pantai Pasifik, Amerika Utara, Chile
America Utara, dan Tengah Jepang
Kultur Jaringan Strawberi
Perbanyakan mikro tanaman strawberi sudah sejak lama dilakukan.
Selain perbanyakan mikro, teknik kultur jaringan pada strawberi juga telah dilakukan untuk keperluan pemuliaan tanaman, seperti preservasi plasma nutfah,
produksi tanaman haplooktoploid clan polihaploid, kultur embrio, kultur ovule, atau enzbryo rescue dari persilangan intespeslfzk dan intergenerik (Boxus et ul.
1984).
Meristem merupakan bagian tanaman yang paling sering digunakan
sebagai eksplan (Boxus et ul. 1984; Boxus, 1999; Torres, 1989; Karyanto et ul.
1999). Sedangkan Miller dan Chandler (1990) menggunakan kotiledon dari
tanaman dewasa, Sorvari et u1. (1993) menggunakan pucuk tanainan, Bhatt dan
Dhar (2000) menggunakan potongan buku dari stolon sebagai eksplan. Yoshino dan Hashimoto (1975) dalam George dan Sherrington (1984) sering menggunakan kultur meristem yang dikombinaskan dengan perlakuan panas untuk mendapatkan tanaman strawberi yang bebas virus.
Meristem yang berasal dari tanaman muda lebih baik dibandingkan
dengan meristem yang berasal dari tanaman tua. Jika meristern diambil dari tanaman yang disimpan pada cold storuge, persentase meristem yang terinfeksi penyakit cukup tinggi ( Boxus, 1984).
Pada kultur jaringan strawberi hampir semua peneliti menggunakan
garam mineral Murashige & Skoog (MS) sebagai media tanam yang diperkaya
dengan sukrosa 30 g/l (Boxus, 1984; Miller dan Chandler, 1990; Sorvari et ul.
Lee dan de Fossard (1975) dalam George dan Sherrington (1984) mendapatkan
tunas aksilar strawberi tumbuh paling baik pada media Fossard et a/. (1974).
Kultur in vitro strawberi tumbuh dengan baik pada media yang
mengandung zat pengatur tumbuh tanaman tidak terlalu tinggi. Boxus el a/.
(1984) dan Boxus (1999) menyimpulkan konsentrasi sitokinin (BA) yang baik
untuk proliferasi tunas adventif berkisar 0,25-2,5 pM. Torres (1999)
mendapatkan konsentrasi BA 1 mgll untuk merangsang keluarnya tunas aksilar.
Karyanto et u1. (1999) mendapatkan konsentrasi BA 1 pM untuk mendapatkan
jumlah tunas tertinggi pada kultur m vltro strawberi. Sedangkan Bhatt dan Dharr
(2000) pada kultur in vrtro strawberi liar mendapatkan konsentrasi BA 4 pM
PENGARUH BENZILADENIN DAN ASAM INDOLASETAT TERHADAP PERBANYAKAN TUNAS ADVENTIF STRAWBERI (Fragaria ananassa
Duch.)
SECARA IN VITRO
Abstrak
Tujuan percobaan ini adalah ( 1 ) untuk mengetahui pengaruh BA dan
koinbinasi BA dan IAA dalam merangsang perbanyakan tunas strawberi secara in
vitro, dan ( 2 ) mengetahui konsentrasi BA, dan kombinasi BA dan IAA yang dapat menghasilkan tunas terbanyak dan berkualitas. Percobaan ini menggunakan rancangan faktorial dalam rancangan lingkungan acak lengkap. Faktor pertama adalah konsentrasi BA 0; 0,5; 1 ; 2,5; 5 ; 10 pM dengan dan tanpa penambahan
IAA 0,2 pM. Faktor kedua adalah kultivar tanaman yaitu Yael dan Doriet. Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) konsentrasi BA 0,5pM dan I pM
+
IAA0,2 pM adalah konsentrasi yang optimum untuk perbanyakan tunas strawberi pada kultivar Doriet dan Yael. (2) Semakin tinggi konsentrasi BA dengan dan
tanpa penambahan IAA 0,2 pM akan menurunkan jurnlah tunas, tinggi tunas, dan
jumlah plantlet yang dapat diaklimtisasi.
PENDAHULUAN
Strawberi merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki
kepadatan populasi cukup tinggi untuk penanaman tiap hektarnya. Boxus,
Damiano, and Brasseur ( 1984) mengemukakan di California populasi tanaman
adalah 100.000/ha. Di Belgia, Perancis, dan Italia populasi per hektar adalah
30.000-40.000 tanaman. Sedangkan di Indonesia, menurut Gunawan ( 1995)
Ketersediaan bibit saat ini masih inenjadi kendala dalam usaha budidaya
strawberi di Indonesia mengingat besarnya kebutuhan bibit tanaman per hektar. Menurut Gunawan (1995), para pengusaha strawberi di Indonesia harus
mengimpor bibit dalam bentuk Jrigo dimana bibit impor ini menghasilkan
produksi yang baik pada tahun pertama tetapi menurun pada tahun-tahun
berikutnya.
Teknik kultur jaringan tanaman dapat ditawarkan untuk mengatasi kendala bibit strawberi di Indonesia mengingat teknologi ini telah terbukti
mampu menghasilkan bibit dalam jumlah besar, seragam, bebas penyakit, dan dalam waktu relatif singkat.
Boxus ( 1984; 1999) menyatakan bahwa perbanyakan mikro tanaman
strawberi telah di~wnakan secara has. Teknik ini sangat bermanfaat untuk
tanaman yang diperbanyak secara vegetatif seperti strawberi karena pada tanaman yang diperbanyak secara vegetatif selalu terinfeksi oleh virus dan
mikoplasma.
Pada perbanyakan mikro tanaman, peran zat pengatur tumbuh tanaman
(ZPT) sangat besar. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakn ZPT adalah jenis, konsentrasi, dan periode pengkulturannya. Namun demikian menurut Pierik (1 987), penentuan jenis dan konsentrasi zat pengatur turnbuh yang terbaik
pada media untuk merangsang perbanyakan tunas suatu tanaman sulit dilakukan karena tergantung dari tipe eksplan dan spesies tanaman.
Peningkatan jumlah tunas adventif dengan menggunakan sitokinin saja sudah efektif tetapi jumlah tunas akan lebih optimum jika sitokinin
Jadi kehadiran auksin di sini diharapkan berguna untuk memperbaiki
pertumbuhan kultur (George dan Sherringto, 1 984).
Strawberi umumnya sangat responsif terhadap Benziladnin (BA) (Styer
dan Chin, 1983; Kartha et a/. 1980). James dan Newton (1977) dulum Boxus
(1984) menyimpulkan bahwa konsentrasi BA dari 0,25 pM sampai 2,5 pM yang
dikombinasikan dengan IAA dari 0,25 pM sampai 1,O pM sangat cocok untuk
merangsang munculnya tunas adventif pada strawberi. Sedangkan Boxus (1 976),
Navatel (1979), Damaino (1980) dului?~ BOXUS (1984) mendapatkan BA 4,4 pM
dapat mempercepat munculnya tunas aksilar. Penelitian terakhir, Karyanto et ul.
( 1999) mendapatkn pada medium MS plus 1 pM BA rata-rata jumlah tunas 15,2. Percobaan ini bertujuan mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang optimum untuk perbanyakan tunas adventif strawberi kultivar Yael dan
Doriet dan melihat pengaruh peningkatan konsentrasi Benziladenin terhadap kultur In v ~ t r o strawberi.
BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu percobaan
Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan
Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB. Dimulai dari bulan Desember 2001
Bahan dan alat
Eksplan yang dipergunakan adalah kultur in vitro strawberi kultivar
Doriet dan Yael koleksi Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya
Pertanian IPB. Alkohol, BAP, IAA, Swallow globe, gula, dan bahan kimia
komponen media MS. Alat yang dipergunakan pada percoban ini adalah
laminar, autoklaf, dan peralatan tanam kultur jaringan lainnya.
Rancangan percobaan
Percobaan ini dilakukan secara faktorial dalam rancangan lingkungan acak lengkap terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah kultivar tanaman,
yaitu kultivar Yael dan kultivar Doriet. Faktor kedua adalah zat pengatur tumbuh
Benziladenian (BA) terdiri dari 6 taraf yaitu 0; 0,5pM; 1 pM; 2,5pM; 5uM; lOpM
dengan dan tanpa penambahan Indol Acetic Acid (IAA) 0,2 pM. Kedua Faktor
tersebut menghasilkan 24 perlakuan. Tiap perlakuan terdiri dari 10 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragarnnya. Selanjutnya perlakuan
yang berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati dibedakan dengan uji
lanjut DMRT taraf 5%.
Pelaksanan Percobaan
Bahan tanaman yang akan digunakan diperbanyak terlebih dahulu pada media MS yang diperkaya dengan BA 0,5 mgll dan IAA 0,01 mgll. Selargutnya setelah kultur in vitro tersebut berumur satu bulan kultur siap diperlakukan.
Setiap botol percobaan diisi 2 eksplan
.
Botol-botol kultur yang telah berisi stek mikro tersebut diinkubasi di dalam ruang kultur pada suhu 16' C dibawah penyinaran lampu.Pengamatan
Pengamatan dilakukan 7 minggu setelah tanam (MST). Peubah-peubah yang
diamati adalah sebagai berikut:
1. Jumlah tunas per eksplan. Peubah jumlah tunas ini diukur dengan
menghitung jumlah tunas yang tumbuh normalldaun telah membuka sempurna.
2. Tinggi tanaman. Peubah ini diukur dengan membentangkan daun strawberi
diatas penggaris. Diukur dari pangkal daun sampai ujung daun tertinggi.
3. Jumlah tanaman yang dapat diaklimatisasi. Kriteria tanaman yang dapat
diaklimatisasi adalah tanaman yang memiliki daun 5-6 buah dengan tinggi
minimal 2 centimeter dan telah berakar.
4. Persentase kultur berakar. 5. Kultur berkalusltidak.
6. Foto kultur sebagai alat bantu visual.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Jumlah tunas
Jumlah tunas dipengaruhi oleh interaksi antara konsentrasi Benziladenin dan kultivar ( Tabel lampiran 1). Selanjutnya berdasarkan analisis lanjut semua perlakuan berbeda nyata dengan kontrol. Rata-rata tertinggi jumlah tunas pada
kultivar Doriet terjadi pada perlakuan BA 1pM (14,O) dan pada kultivar Yael
pada perlakuan BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM yaitu 13,l. Peningkatan konsentrasiBA diatas 2,5 pM dengan dan tanpa penambahan IAA akan menurunkan jurnlah
tunas.
Tabel 2. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah tunas strawberi urnur 7 MST.
1. BA 0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM
4. BA 5 pM
5. BA 10 pM
6. BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM7. B A 1 p M + I A A 0 , 2 p M
8. BA 2,5 pM
+
IAA 0,2 pMZat Pengatur Tumbuh Tanaman
11,7 b-c 12,3 b-c 1 1,3 b-c 9 c-e 6,7 e 13,l cd 10,5 b-c 7,5 ed
Kultivar
DMRT 5%.
Doriet
9. BA 5 pM
+
IAA 0,2 pM10.BA 10 pM
+
IAA 0,2 pM1 1. MSO (kontrol)
2. Tinggi tunas
Yael
Tinggi tunas strawberi dipengaruhi oleh interaksi antara kultivar dan Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji
13,2 ba 10,l b-c
3,4 f
konsentrasi Benziladenin (Tabel lampiran 2). Hasil analisis lebih lanjut
10,s b-c 10,2 b-c 4,l f
menunjukkan bahwa antarperlakuan memiliki perbedaan yang nyata. Pada kultivar Doriet rata-rata tertinggi tinggi tunas didapat pada kontrol(3,65 cm) dan
[image:134.564.78.481.41.790.2]Tabel 3. Pengaruh BA dan IAA terhadap tinggi tunas (cm) strawberi umur 7 MST
I
KultivarI
1. BA 0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM 4. BA 5 pM 5. BA 10 pM
6. BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM7. B A 1 p M + I A A 0 , 2 p M
8. BA 2,5 pM
+
IAA 0,2 pM9. BA 5 pM + IAA 0,2 pM
10.BA 10 pM
+
IAA 0,2 pMZat Pengatur Tumbuh Tanaman
3,04 dc 2,48 d-f 1,53 hi 0,97 kj 0,67 k 2,63 de 2,27 g-f 1,69 hi 2,03 g-f
1,46 I
4,35 ba 4,69 a 2,59 d-f 1,82 g-i 0,83 kj 3,74 bc 3,03 dc 2,05 g-f
1,03 j 0,s kj
Doriet Yael
DMRT 5%. 1 1. MSO (kontrol)
3. Jumlah tunas dapat diaklimatisasi
Pada percobaan ini sebagian tunas berakar dan dapat diaklimatisasi. Pada Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji
3,65 bc
Tabel 4 disajikan bahwa rata-rata tertinggi jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi 3,52 c
didapat pada perlakuan BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM baik pada kultivar Yael [image:135.564.44.507.43.793.2]Tabel 4. Pengaruh BA dan IAA terhadap jurnlah tunas strawberi yang dapat diaklimatisasi umur 7 MST
4. Persentase tanaman berakar dan kondisi kalus Zat Pengatur Tumbuh Tanaman
1. BA0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM 4. BA 5 pM 5. BA 10 pM
6. BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM7. BA 1 p M + I A A 0 , 2 p M
8. BA 2,5 pM
+
IAA 0,2 pM9. BA 5 pM
+
IAA 0,2 pM10.BA 10 pM
+
IAA 0,2 pM1 1. MSO (kontrol)
Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa pada kultivar Yael dan Doriet dengan
semakin tinggi konsentrasi BA tanpa penambahan IAA akan menurunkan
persentase tanaman yang berakar sedangkan pada penambahan IAA dapat
meningkatkan persentase tanaman yang berakar. Sebaliknya semakin sedikit atau tidak adanya tanaman yang berakar akan meningkatkan kalus yang terbentuk.
Kultivar Doriet
2,4
+
0,5 1,3+
0,4 1,l+
0,30 0 2,9 f 1,l 2,5
+
1,0 1,3+
0,5 1,3+
0,60 1,6
+
0,5Yael
2,7
+
0,8 2,l+
0,7 1,5 If: 0,70 0 4,1 f 1,1 2,8
+
0,9 2,3+
0,6 [image:136.564.75.493.56.795.2]Menurut George dm
S m o n
(1984),difbensiasi
seluler
dan
oqpmgenesis
pada
kultur
jouingoln
dikonttol oleh
interaksi antamauksin
dan
s i t o k Selain itu, prhmbuhan
dan
mrfogenesis juga d i t e n t hobh
jenisauksin dan sitokinin yang d i i
T~~
y m g dihasilkan pembaanini
nmenunjukkanp a q d m yang tihk
n o d
(lebih
banyak h h s )dan
bwama
pucat
(vitrr3Rasi) padti kommtmi BA yang tinggi y d u pada perlrmkuan BA 5 JAM
dm
10 phi (Gatdm 4)
.
Menurut Ziv (1986) adanyaketi-rmalan
morfologi danfisiologi tamman yang d h l t w k a n seem in v i ~ o dhtmmya Ilrtalah gejala
sukulen berlebihan, b b y a
d k b i dengrrnbentuk
a b n o dPenyebab
utmav h i f b s i
addahterldu
tingginyakelembaban dalam botol
kultur, konsmtrasiham, konsentrasi
ZPT,dan &ya intensitas cahaya.(McComb
dan
Benaet, 1982 daZamYusnita
1990). SedangkanPiriek
(1987), pengaruh
sitokinh pada
kulturjaringan
tergantung pada tipe kdmdm
jenis Mtim yang
diguaakaxl.
Eksplan yang memproduksisito-
endogen
dalam jumlah cukup,
sudah
dapat men@& multiplikasi tunas tanpapalam- sitoldnin eksogen.
G a m h 3. Pemnpilan strawbwi
U i v a r
Doriet@T)
pada
BA 1pM
dan
Wivar
Yael(YL)
pada BA 0,5+
LAA
0,2pM,serta
Iron~rolWiwrr Doriet
@M) dan Yael(YtO)
lmrur 7 MSTbelum
mmpu m e n g b h tpembmukm
k a b
tmmm
pada
komabasi
BAthggi
sebhgga k d u
yang d j h a s bmasih
banyak dan tunas yang d i h a s bTabel 5. Pengaruh BA dan IAA terhadap jumlah total tunas, persentase tunas berakar dan terbentuknya kalus
Perlakuan
Y1= Kultivar Yael , Dt = Kultivar Doriet
1. BA 0,5 pM 2. BA 1 pM 3. BA 2,5 pM 4. BA 5 pM 5. BA 10 pM
6. BA 0,5 pM
+
IAA 0,2 pM7. BA 1 pM
+
IAA 0 , 2 pM8. BA 2,5 pM
+
IAA 0,2 pM9. BA 5 pM + IAA 0,2 pM
1 O.BA 10 pM
+
IAA 0,2 pM1 1. MSO (kontrol)
Tanpa pemberian zat pengatur tumbuh tanaman ternyata eksplan mengalami multipliksasi tunas, walaupun jumlah tunasnya lebih rendah dibandingkan perlakuan dengan pemberian zat pengatur tumbuh tanaman. Akan
tetapi tanpa pemberian zat pengatur tumbuh tanaman eksplan ~nenghasilkan tinggi tunas, panjang akar, dan jumlah tunas dapat diaklimatisasi lebih tinggi.
Hal ini terjadi pada kultivar Yael dan Doriet. Hasil penelitian ini juga
mendapatkan perlakuan BA 0,5 pM (Doriet) dan 1 pM + IAA 0,2 pM (Yael)
memberikan jumlah tunas tertinggi (Gambar 3). Hasil ini sejalan dcngan
penelitian (Boxus, 1999; Karyanto et al. 1999; Bhatt dan Dhar, 2000) tetapi
berbeda dengan hasil penelitian (Boxus et al. 1984; Miller, 1990; Torres, 1989). Adanya perbedaan ini diduga disebabkan oleh perbedaan kultivar yang digunakan. Perbedn genotipe eksplan dapat mempengaruhi kematnpuan eksplan
Jumlah total tunas
Ket :
+
= agak banyak,++
= banyak,+++
= banyak sekali,-
= tidak ada kalusKESIMPULAN
1. Konsentrasi BA 0,5 pM adalah konsentrasi yang optimum untuk
perbanyakan tunas strawberi pada kultivar Doriet sedangkan BA I pM
+
IAA 0,2 pM adalah konsentrasi terbaik untuk kultivar Yael.
PENGARUH KONSENTRASI HARA MEDIA DAN SUKROSA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI
(Fragaria ananassa Duch.) SECARA IN VITRO
Abstrak
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi hara dan sukrosa pada media MS terhadap multiplikasi tunas adventif strawberi secara
in vitro. Percobaan dilakukan dalam rancanga acak lengkap yang terdiri dari 32 kombinasi perlakuan. Konsentasi hara MS yang dicoba adalah O,SxMS, IxMS, 1,Sx MS, dan 2x MS dengan konsentrasi sukrosa 20 g/l, 30 g/l, 40 g/l, dan 50 gll.
Kultivar strawberi yang digunakan adalah Yael dan Doriet. Penelitian
menyimpulkan (I) Secara umum peningkatan konsentrasi hara medium dasar dapat meningkatkan jumlah tunas, tinggi tunas, tunas yang dapat diaklimatisasi,
dan persentase tunas berakar, (2) Penurunan dan peningkatan konsentrasi gula
akan menurunkan peubah-peubah yang diamati, (3) media tumbuh yang terdiri
-
dari 1,SxMS yang ditambah sukrosa 20 g/l dapat meningkatkan jurnlah tunas dan
tunas yang dapat diaklimtiasai untuk kultivar Yael Pada kultivar Doriet media
tumbuh yang terdiri dari 2xMS yang ditambah sukrosa 30 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas.
PENDAHULUAN
Keberhasilan perbanyakan tanaman menggunakan teknik kultur jaringan sangat tergantung pada media yang digunakan. Media kultur jaringan tanaman
menyediakan unsur hara makro dan mikro serta karbohidrat yang pada umurnnya berupa gula untuk menggantikan karbon yang biasanya didapat dari atmosfer
Unsur hara yang diberikan dalam media kultur jaringan berupa garam-
garam anorganik yang terbagi dalam unsur hara makro dan unsur hara mikro.
Unsur hara makro meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S, sedangkan unsur hara mikro
meliputi Fe, Mn, Zn, B, Cu , dan Mo. Selain itu, untuk memperbaiki
pertumbuhan dan morfogenesis kultur tanaman secara in vitro ditambahkan
sejumlah kecil senyawa organik seperti vitamin, asam amino, dan beberapa
senyawa penting lainnya (George dan Sherrington, 1984).
Selain unsur hara, karbohidrat juga berperan penting dalam keberhasilan kul tur jaringan tanaman. Dalam kultur jaringan gula sebagai sumber karbohidrat.
Menurut George dan Sherrington (1984), keberadaan gula berfungsi sebagai sumber energi pengganti karbon yang biasa didapat tanaman dari atmosfer
melalui fotosintesis, sedangkan Pierik (1987) menjelaskan bahwa gula berpengaruh pada potensial osmotik media. Hasil penelitian bahwa dalam media
Murashige dan Skoog (MS) setengah dari potensial osmotiknya disebabkan oleh gula (George dan Sherrington, 1984). Sukrosa merupakan sumber karbohidrat terbaik diikuti glukosa, maltosa, dan rafinosa. Sedangkan fruktosa, galaktosa,
BAHAN DAN METODE\
Tempat dan waktu percobaan
Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB. Dimulai dari bulan
Desember 200 1 sampai dengan Juni 2002.
Bahan dan alat
Eksplan yang dipergunakan adalah kultur in vitro strawberi kultivar
Doriet dan Yael koleksi Laboratorium Bioteknologi Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian IPB. Alkohol, BAP, IAA, Swallow Globe, gula, dan bahan kimia
komponen media MS. Alat yang dipergunakan pada percoban ini adalah laminar, autoklaf, dan peralatan tanam kultur janngan lainnya.
Rancangan percobaan
Percobaan ini dilakukan secara faktorial dalam rancangan lingkungan
acak lengkap terdin dari 3 faktor. Faktor pertama adalah kultivar tanaman,
yaitu kultivar Yael dan kultivar Doriet. Faktor kedua adalah modifikasi
komposisi nutrisi media Murashige dan Skoog (MS) yaitu 0,SxMS; 1,5xMS,
1 xMS; 2xMS. Faktor ketiga adalah gula dengan konsentrasi 20 d l , 30 gll, 30 gll, dan 50
dl.
Data yang diperoleh dianalisis sidik ragamnya. Selanjutnya perlakuan yang berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati dibedakan dengan uji
Pelaksanan Percobaan
Bahan tanaman yang akan digunakan diperbanyak terlebih dahulu pada
media MS yang diperkaya dengan BA 0,s mgll dan L4A 0,01 mgll. Selanjutnya
setelah kultur in vitro tersebut berumur satu bulan kultur siap diperlakukan. Kultur in vitro (eksplan) yang berupa tunas adventif tersebut dipotong dengan ukuran kurang lebih 1 centimeter. Tiap eksplan terdiri dari 2-3 mata tunas,
ditanam pada masing-masing perlakuan yang diperkaya dengan BA lpM
+
IAA0,2 pM. Setiap botol percobaan diisi 2 eksplan. Botol-botol kultur yang telah
berisi stek mikro tersebut dinkubasi di dalam ruang kultur pada suhu 16' C
dibawah penyinaran lampu.
Pengamatan
Peubah-peubah yang diamati adalah :
1. Jumlah tunas per eksplan. Peubah jumlah tunas ini diukur dengan
menghitung jumlah tunas yang tumbuh normall daun telah membuka
sempurna.
2. Tinggi tanaman. Peubah ini diukur dengan membentangkan daun strawberi diatas penggaris. Diukur dari pangkal daun sampai ujung daun tertinggi.
3. Jumlah tanaman yang dapat diaklimatisasi. Kriteria tanaman yang dapat
diaklimatisasi adalah tanaman yang memiliki daun 5-6 buah dengan tinggi
minimal 2 centimeter dan telah berakar.
4. Persentase kultur berakar
5. Kultur berkalusltidak.
Beberapa
peneliti menyimpub
hhwak o ~ l ~ e n t d
hara
dm
sukrosaberperan penting
dalorm
pmtumbuhan kultur. Bonnierdan
Tuy (1997)men-
hhm k u h r in v i m lilyakan
berkurangj
d
tunas,pertumbuhan bulb,
vigor,
dm
pematwtumbuh
kecambah jika
dikuhkan
p a d a m e d i a ' / r M S + 9 0 g / l S ~ s a S&n&nKumar,Sood,Palni,danGupta
(1999) menyimpulkan pada
in
vifroGladiolus
h y b r i h ,pertumbuhan
dan
proMhsi tmm
kbih
ihkpadamediadengm konse,rrtrasi h s a t i n g g i .Gambtrr 6. Peno~pilan strawberi (kuitivar Yml) pada media
MS
dengm
ko-i
sukmsa 20gll
(I), 30 (2), 40glt
(3),clan
50 g ( 4 ),
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Jumlah tunas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnlah tunas dipengaruhi sangat
nyata oleh perlakuan dan juga terdapat interaksi yang sangat nyata dari ketiga
faktor yang dicoba (Tabel lampiran 3). Pada kultivar Yael rata-rata tunas
tertinggi adalah 20,s didapat pada perlakuan 1,5xMS+20g/l sukrosa. Sedangkan
pada kultivar Doriet rata-rata tunas tertinggi adalah 28,2 didapat pada perlakuan 2xMS+30 g/l sukrosa
Tabel 6. Pengaruh media dan sukrosa terhadap jumlah tunas strawberi umur 7
MST.
1
Kuadratik tn tnNo 1 2 3 4 1 Media dasar 9 10 11 12 13 14 15 16 Kultivar MS 0,s 20 30 40 5 0 Linier Kuadratik Yael 13,2 f-j 13,O e-j 9,6 j-1 13,4 e-j tn Sukrosa(g/l) 20 30 40 50 Linier
Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda pada uji DMRT 5%.
1,5 2 Doriet 19,O b-h 24,4 a-c 13,2 e-j 1 5,4d-I tn 15,s d-j 17,s c-h 10,4 i-1 7,4 kl tn tn 22,O a-d 26,6 ab 16,O d-I 16,O d-I tn tn 2 0 30 40 50 Linier Kuadratik 20 3 0 40 50 Linier Kuadratik 20,s a-e 20,O a-f 19,6 a-g 12,6 h-k tn tn 17,s c-h 19,2 b-h 14,O d-j 9,8 i-1 tn tn 18,4 b-h 12,4 g-k
[image:146.574.96.500.113.772.2]2. Tinggi tunas
Pada Tabel lampiran 4 dapat dilihat bahwa tinggi tunas dipengaruhi oleh perlakuan (media dan sukrosa) dan tidak terdapat interaksi dari ketiga faktor yang dicoba. Pada kultivar Yael tinggi tunas rata- rata adalah 2,62 cm dan kultivar
Doriet adalah 2,24 cm. Sementara untuk tanaman kontrol Yael dan Doriet memiliki rata-rata tinggi tunas masing-masing 3,54 cm dan 3,7 cm. Akan tetapi pada percobaan ini didapati juga bahwa semakin tinggi konsentrasi hara dan
sukrosa, daun tanaman menjadi lebih lebar
.
Purwito (1999) menyimpulkan padatanaman kentang yang dikulturkan pada media MS dengan dua kali konsentrasi
unsur makro yang ditambah 60 g/l sukrosa dapat meningkatkan vigor tanaman
akan tetapi tanaman akan menjadi lebih pendek, jumlah daun menjadi lebih
sedikit, diameter menjadi lebih sempit, dan sistem percabangan menjadi lebih banyak. Sementara Hapsoro (1999) yang bekerja dengan tanaman vanili
Tabel 7. Pengaruh media dan sukrosa terhadap tinggi tunas strawberi umur 7 MST.
3. Jumlah tunas dapat diaklimatisasi
Pada Tabel 8 dapat kita lihat bahwa konsentrasi media dasar akan
mempengaruhi jumlah tanaman yang dapat diaklimatisasi. Dari data dapat kita lihat bahwa semakin tinggi konsentrasi hara media dasar jumlah tunas aklimatisasi akan meningkat. Dari keempat jenis media tersebut, media dengan
perlakuan 2 x MS memiliki rata-rata jumlah tunas aklimatiasi lebih baik yaitu 2,7
tunas walaupun jumlah ini lebih rendah dibandingkan media kontrol. Hal ini
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
berarti tidak berbeda pada uji DMRT 5%.
Kultivar Yael 1,48 e-j 1,30h-k 0,86 k 1,38 f-k tn tn 1,60 d-j 2,40 b-d 2,62 b 1,66 d-i tn tn 1,36 g-k 1,36 g-k 2,56 bc 2,54 bc tn tn 1,18 I-k 1,48 e-j 2,04 b-h 2,06 b-g tn tn
yzng sama pada kolom
Doriet 0,96 jk 1,211-k 0,96 jk 1,46 e-j tn tn 2,06 b-g 2,24 b-e 1,98 b-h 1,68 d-j tn tn 1,72 C-I 1,62 d-I 2,06 b-g 2,26 b-e tn tn 1,42 f-k 1,28 h-k 2,12 f-f 2,14 b-f tn tn yang sama Media MS 0,5 1 195 2
Keterangan: angka yang
[image:148.570.88.505.88.537.2]terjadi pada kultivar Yael. Pada kultivar Doriet, rata-rata jumlah tunas aklim
tertinggi diperoleh pada perlakuan 1 %X MS yaitu 2,6 tunas. Pada percobaan ini jumlah tunas aklimatisasi dipengaruhi oleh kultivar dan konsentrasi media dasar.
Pada percobaan ini konsentrasi peningkatan sukrosa menyebabkan penurunan jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi untuk kultivar Yael dan Doriet pada dasar 1xMS. Sedangkan pada media 1 1/2xMS dan 2xMS konsentrasi
sukrosa tidak berpengaruh baik pada kultivar Yael maupun Doriet.
Tabel 8. Pengaruh media dasar dan konsentrasi sukrosa terhadap jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi, 7 MST.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kultivar Yael 0 0 0 2,5
+
0,72 + 0 2 + 1 1,8
+
0,81,6 5 0 0 0 2,6
+
1,5 2,4+
0,50 2,6
+
2,O 2,5+
1,9 2,4 +_ 0,5Media MS 095 1 1,5 2 Doriet 0 0 0 0 0 2 + 0 1 + 0 5 + 0
0 0 2,s
+
1,4 2,s+
0,80 l + O 1,6
+
0,5 [image:149.570.89.500.279.812.2]4. Persentase tanaman berakar dan keadaan kalus
Hasil penelitian mendapatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi hara media dasar maka persentase jumlah tunas berakar meningkat. Hal yang sama terjadi juga jika konsentrasi sukrosa meningkat baik pada kultivar Yael maupun Doriet. Namun prosentase tunas berakar ini masih lebih tinggi pada perlakuan
kontrol. Ziv (1986) mengungkapkan pada tanarnan Dianthus caryophyllus
peningkatkan konsentrasi sukrosa akan mengurangi gejala vitrifikasi. Dari
percoban ini tampaknya peningkatkan konsentrasi hara dan sukrosa mengurangi kultur yang mengalam vitrifikasi.
Hasil penelitian juga mendapatkan sebagian besar perlakuan mendapatkan tanaman berkalus. Akan tetapi kalus yang timbul tidak banyak. Kalus yang
terjadi lebih banyak pada kultivar Yael dibandingkan kultivar Doriet. George dan Sherrington (1984) menyatakan kehadiran sukrosa berperan penting dalam
mikropropagasi dan kultur kalus. Konsentrasi sukrosa 2-4% merupakan
Tabel 9. Pengaruh konsentrasi media dasar dan konsetrasi sukrosa terhadapjumlah total tunas, persentase tanaman berakar dan terbentuknya kalus.
Kondisi kalus Persentase tunas Berakar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 tivar Yael Jumlah total tunas No KESIMPULAN Media Dasar
Ket :
+
= ada kalus,-
= tidak ada kalus Dt= Kultivar Doriet Y1= Ku1. Media tumbuh yang terdiri dari 1,5x MS yang ditambah sukrosa 20 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas dan tunas yang dapat diaklimtiasai untuk
Y1 0 0 0 74,6 2,53 6,74 17,3 21,6 8,65 0 7 3 3 19,O 0 8,33 13,8 24,5 MS 0,5 1 1,5 2
kultivar Yael Pada kultivar Doriet media tumbuh yang terdiri dari 2xMS
D t 0 0 0 0 0 1,5 6,25 6,25 0 0 12,9 15,9 0 1,42 7,14 25,8
Y 1 66 65 4 8 67 79 89 5 2 37 104 100 9 8 63 89 96 72 49
Sukrosa g/l 2 0 30 40 50 20 30 4 0 5 0 20 3 0 40 50 2 0 30 4 0 5 0
yang ditambah sukrosa 30 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas.
[image:151.568.69.508.78.793.2]PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMADAT MEDIA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ADVENTIF STRAWBERI
(EErugur~a ununussu Duch.) SECARA I N VITRO
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pemadat media dan peningkatan konsentrasi pemadat media terhadap multiplikasi tunas strawberi secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan non faktorial dalam rancangan lingkungan acak lengkap. Jenis pemadat media yang digunakan adalah Gelrite 2 dan 4 gll, Swallow Globe 7 dan
10 gll, Bacto-difco 7 dan 10 gll, dan media cair. Hasil penelitian ini
menyimpulkan bahwa ( 1 ) tidak ada perbedaan nyata antara Gelrite, Bacto, dan Swallow Globe pada konsentrasi masing-masing 2g/l, 7g/l, dan 7 g/l pada jumlah tunas, tinggi tunas, dan jumlah tunas yang dapat diaklimatisasi, (2) peningkatan konsentrasi pemadat media secara nyata menurunkan peubah-peubah yang diamati.
PENDAHULUAN
Salah satu upaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas plantlet adalah dengan memodifikasi media tanam kultur jaringan. Di dalam media
tanam kultur jaringan komposisi hara, zat pengatur tumbuh tanaman, sukrosa, dan pemadat media sangat berperan. Ziv (1986) mengemukakan bahwa konsentrasi agar, konsentrasi gula (sukrosa), dan kelembaban nisbi dalam wadah kultur
berpengaruh terhadap daya hidup plantlet setelah dipindah ke lapang. Sedangkan Pierik (1987) menyatakan sifat fisik medium dipengaruhi mempengaruhi
Jenis dan konsentrasi pemadat media akan mempengaruhi perkembangan
kultur. Pemadat medium yang sering digunakan adalah agar. Agar adalah
polisakarida yang diperoleh dan beberapa spesies alga dan digunakan sebagai bahan pemadat media. Umumnya konsentrasi agar yang ditambahkan ke dalam media kultur berkisar antara 0,6-1% (Gunawan ,1992). Pemakaian agar ini
berfungsi untuk menyangga eksplan, sehingga kontak antara eksplan dengan
udara terpenuhi. Disamping itu agar juga berfungsi sebagai penyumbang
komponen organik dan anorganik dalam media kultur. Agar Bacto difco adalah salah satu agar yang sering digunakan dengan konsentrasi 0,6-0,8%.
Beberapa peneliti yang menyimpulkan pentingnya jenis dan konsentrasi
agar, antara lain Singha (1984) melaporkan bahwa jenis agar mempengaruhi
proliferasi pucuk secara In vitro crabapple dan pear. Agustiansyah (1996)
menyimpulkan peningkatan konsentrasi Gelrite dan agar Bacto-difco
menghambat pertumbuhan tinggi setek mikro vanili. Hapsoro (1999)
menyimpulkan jenis agar mempengaruhi jumlah plantlet yang dihasilkan pada kultur vanili.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan waktu percobaan
Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman,
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian I PB. Dimulai dari bulan
Bahan dan alat
Eksplan yang dipergunakan adalah kultur in vifro strawberi kultivar Yael
koleksi Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian LPB.
Alkohol, BAP, IAA, agar Swallow Globe, Gelrite, agar Bacto difco, gula, dan bahan kimia komponen media MS. Alat yang dipergunakan pada percoban ini
adalah laminar, autoklaf, dan peralatan tanam kultur jaringan lainnya.
Rancangan percobaan
Percobaan ini dilakukan dalam rancangan lingkungan acak lengkap non
faktorial. Jenis pemadat medium yang digunakan adalah Gelrite 2 dan 4
dl,
agar Bacto 7 dan 10
dl,
dan agar Swallow Globe 7 dan 10 gll, media cair, sertaMSO sebagai kontrol. Keseluru