• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERHATI-HATILAH PARA PERUQYAH DAN PEMINTA RUQYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BERHATI-HATILAH PARA PERUQYAH DAN PEMINTA RUQYAH"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

1

BERHATI-HATILAH PARA PERUQYAH DAN

PEMINTA RUQYAH

SAAT ini, tidak sedikit ‘orang’ yang -- karena merasa memiliki kemampuan tertentu – ‘mewartakan’ diri sebagai peruqyah. Bahkan, ‘Dia’

selalu ‘unjuk diri’, serta mewartakan dan menyebarluaskan dengan berbagai iklan bahwa ‘dirinya’ adalah seorang peruqyah yang mâsyâallâh (baca:

‘hebat’). Tindakan ini, menurut pendapat saya – merupakan bagian dari

“kesombongan”. Mereka – para pewarta itu – sedikit pun tidak mungkin menjamin apa pun kepada siapa pun dengan ruqyahnya. Karena ‘ruqyah’ itu

adalah ‘doa’, yng berfungsi sekadar sebagai obat (syifâ’), dan bukan penyembuh (asy-Syâfî). Ingat … hanya Allahlah ‘Sang Penyembuh’ (asy-Syâfî).

Kita, manusia yang dha’îf ini, tak bisa menjamin kesembuhan kepaada siapa

pun dengan obat apa pun, termasuk dengan ‘ruqyah’.

Untuk itu, saya pribadi memunyai saran kepada “para peruqyah”, agar berhati-hati, dan lakuikan semuanya dengan sikap ‘tawakkal’ hanya kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan segera tinggalkan kesombongan sebagai orang yang mengaku ‘peruqyah’, dengan jaminan-jaminan yang – seolah-olah -- memastikan. Ruqyah – sebenarnya -- bisa dilakukan oleh siapa pun, oleh setiap muslim yang ikhlas, jujur, dan dengan ketakwaan serta keshalihannya. Tidak perlu seseorang – siapa pun dirinya -- mewartakan diri dan mengiklankan kepada semua orang bahwa dirinya adalah seorang peruqyah, sehingga banyak orang yang berdatangan kepadanya untuk diruqyah, dengan

sebuah harapan ‘pasti’. Ingat, hal ini ‘sama sekali’ tidak pernah disyariatkan. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha dengan seluruh kemampuan kita yang telah dianugerahkan oleh Allah. Penentu ‘keberhasilan’ setiap upaya kita

hanyalah ‘Allah’, termasuk upaya kita dalam meruqyah siapa pun, di mana pun dan kapan pun, dengan cara apa pun.

Ingat! Rasulullah shallâhu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah -- sekali pun -- mewartakan dirinya seperti itu, menjanjikan kesembuhan dengan ruqyahnya. Memang ada riwayat, bahwa dahulu beliau pernah ‘meruqyah’ dirinya atau orang lain, untuk siapa pun yang membutuhkannya, tetapi beliau

tidak pernah mewartakan dirinya sebagai ‘peruqyah’. Apalagi menjamin ‘kesembuhan’, dan apalagi melakukan komersialisasi ruqyah. Memang beliau pernah mengizinkan para sahabat untuk menerima upah dari jasanya, tetapo tidak pernah sama sekali menganjurlan untuk ‘meminta upah’.

Seseorang yang mewartakan dan meletakkan dirinya pada posisi

‘peruqyah’, dengan menjamin dan (dengan) meminta ‘upah’, bukanlah seorang yang berittiba’ pada Rasulullah shallâllâhu ‘alaihi wa sallam.

(2)

2

“Ambillah (pemberianku ini)! Dan bila kamu diberi sesuatu harta, sedangkan kamu tidak mengidam-idamkannya dan tidak pula meminta-mintanya, maka ambillah (harta pemberian itu). Dan jika tidak demikian (tidak diberi), maka janganlah kamu mengejarnya (untuk memintanya) dengan hawa nafsumu.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâri, juz IX, hal. 85, hadits no. 7164 dan Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz III, hal. 98, hadits no. 2452, dari Abdullah bin Umar radhiyallâhu ‘anhumâ)

Untuk itu, sekali lagi, saya sarankan kepada para peruqyah yang sering

mewartakan diri, “tinggalkan ‘cara-cara’ yang justeru bisa merendahkan

makna ‘ruqyah’ itu sendiri”, dan jadilah ‘seseorang’ yang meruqyah karena Allah, dengan sikap ikhlas dan tawakkal, tanpa memberikan jaminan apa pun kepada siapa pun, dan jangan pernah melakukan komersialisasi ruqyah. Karena asy-Syâfî hanyalah Allah semata, dan bukan “DIRI KITA”!

Kepada para peruqyah dan dan juga para peminta ruqyah: “Berdoalah kapan pun dan di mana pun kepada Allah, dan jangan sekali-kali

memanipulasi ‘doa’ atas nama ‘ruqyah syar’iyyah’.” NAIF!

Wa Allâh al-Musta’ân.

Referensi

Dokumen terkait

Warga jemaat yang berhak menjadi peserta Pelayanan Kedukaan “Yusuf Arimatea” (PKYA), adalah mereka yang telah terdaftar di Kantor Majelis/Jemaat GPIB FILADELFIA BINTARO JAYA

Hal ini dikarenakan komitmen profesional mengacu ke keadaan psikologis yang mencirikan hubungan individu dengan organisasi di mana dia sedang bekerja (Allen

Menghubungkait sejarah negara dengan sejarah dunia, mengamalkan unsur patriotisme secara berterusan serta mengambil iktibar daripada peristiwa sejarah.. Menjana idea secara

Dari hasil penelitian, ada beberapa saran yang dapat dikemukakan menyangkut reputasi perusahaan dengan loyalitas ansabah PT.Asuransi BSAM Cabang Pekanbaru yang dapat

Opini publik timbul karena adanya mass sentiment (pendapat-pendapat dalam masyarakat). 1) Dengan adanya mass sentiment kemudia berlanjut kepada masalah issue tentang

Belanja pegawai transito merupakan alokasi anggaran belanja pegawai yang direncanakan akan ditarik/dicairkan namun database pegawai pada Kementerian

Tujuan pembelajaran di SMP N 1 Sambi pada materi keunggulan iklim di Indonesia pada kelas eksperimen yaitu kelas VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF dan VIIIG

penyelenggaran pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembinaan personel. Oleh karena itu.. penyelenggaraan pendidikan harus senantiasa dikaitkan