• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sistem Usaha Perikanan Gillnet Millenium di Karangsong, Kabupaten Indramayu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Sistem Usaha Perikanan Gillnet Millenium di Karangsong, Kabupaten Indramayu"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

BAGINDA BUDIMAN RITONGA. Analisis Sistem Usaha PerikananGillnet Milleniumdi Karangsong, Kabupaten Indramayu. Dibimbing oleh SUGENG HARI WISUDO dan JOHN HALUAN.

Kebijakan pembangunan perikanan Kabupaten Indramayu sebagai pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi daerah salah satunya adalah pengembangan kawasan PPI Karangsong di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu. Alat tangkapgillnet sangat banyak digunakan oleh nelayan, terdapat jenis gillnet yang populer yaitu gillnet millenium atau jaring millenium. Penggunaan gillnet millenium oleh nelayan berkembang dengan pesat dan menghasilkan keuntungan yang besar. Namun, kendala yang dihadapi yaitu semakin mahalnya harga BBM dan iklim yang tidak menentu dapat mengancam usaha penangkapangillnet millenium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keragaan teknis, mengidentifikasikan usaha, dan menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam usaha unit penangkapan gillnet millenium di Karangsong, Indramayu. Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem, sehingga dapat diketahui potensi usaha gillnet millenium di Karangsong dalam menghadapi kendala-kendala yang dihadapi. Analisis data terdiri dari analisis teknis, analisis usaha unit penangkapan gillnet millenium, dan analisis faktor-faktor produksi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kapal yang beroperasi di PPI Karangsong berbahan dasar kayu dengan ukuran kapal 5 GT, 20 GT, 30 GT, 40 GT dan 60 GT. Jaring millenium yang digunakan oleh nelayan terbuat dari bahan

polyamide monofilament, ukuran jaring millenium yang dioperasikan berdasarkan ukuran kapal yaitu sepanjang 20 pieces hingga 110 pieces. Nelayan di Karangsong sebagian besar merupakan nelayan penuh, nelayan berdasarkan struktur sosialnya yaitu juragan, jurumudi, dan bendega (anak buah kapal). Nilai R/C kelima ukuran kapal bernilai > 1 yang berarti layak untuk diusahakan, nilai PP dari kapal ukuran 5 GT sebesar 0,64 dan nilai PP dari kapal ukuran 20-60 GT > 2, nilai ROI pada kapal berukuran 5 GT sebesar 155% dan kapal ukuran 20-60 GT sebesar 36%-48%. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara bersama-sama terhadap hasil produksi yaitu GT Kapal (X1), jumlah ABK (X2), jumlah bahan bakar (X3), dan investasi (X4). Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara sendiri-sendiri yaitu GT Kapal (X1) dan jumlah bahan bakar (X3).

(2)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki wilayah pesisir dengan garis pantai sepanjang 114 km yang merupakan garis pantai terpanjang di Provinsi Jawa Barat. Secara umum Kabupaten Indramayu dikenal sebagai daerah pertanian dan sebagai daerah nelayan/maritim. Lebih dari 45% produksi perikanan laut Jawa Barat dipasok dari hasil nelayan di Kabupaten Indramayu (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, 2005). Kebijakan pembangunan perikanan Kabupaten Indramayu sebagai pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi daerah salah satunya adalah pengembangan kawasan PPI Karangsong di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu.

Menurut Omat (2008) hasil tangkapan ikan yang didaratkan di PPI Karangsong terdiri dari jenis ikan pelagis dan ikan demersal, diantara jenis ikan tersebut terdapat jenis komoditas ekspor seperti kakap merah, kakap putih dan cumi-cumi. .Jenis ikan yang mempunyai nilai produksi tertinggi yakni ikan tongkol. Nilai produksi yang dihasilkan oleh PPI Karangsong pada tahun 2006 sebesar Rp134.380.384.100,00 dan pada tahun 2010 mencapai Rp241.998.234.340,00 (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, 2011). Alat tangkapgillnetsangat banyak digunakan oleh nelayan, terdapat jenis

gillnet yang populer yaitu gillnet millenium atau jaring millenium. Jaring millenium ditemukan pada tahun 1999, kemudian menjadi alat yang banyak digunakan di Indramayu, khususnya di Desa Karangsong.

(3)

orang lndramayu banyak menyebutnya denganfly, satu senar ukurannya 0,2 dim. (KKP, 2011).

Penggunaan gillnet millenium oleh nelayan berkembang dengan pesat dan menghasilkan keuntungan yang besar. .Namun, kendala yang dihadapi yaitu semakin mahalnya harga BBM dan iklim yang tidak menentu dapat mengancam usaha penangkapangillnet millenium. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji usaha unit penangkapangillnet millenium di Karangsong dengan pendekatan sistem, sehingga dapat diketahui potensi usaha gillnet millenium di Karangsong dalam menghadapi kendala-kendala yang dihadapi.

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1) Menentukan keragaan teknis perikanan gillnet millenium di Karangsong, Indramayu;

2) Mengidentifikasikan usaha penangkapan gillnet millenium di Karangsong, Indramayu; dan

3) Menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam usaha unit penangkapan

gillnet milleniumdi Karangsong, Indramayu.

1.3 Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan perikanan

gillnet millenium di Indramayu khususnya Karangsong. .Selain itu, dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi mengenai unit usaha

(4)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap 2.1.1 Alat tangkapgillnet millenium

Jaring insang adalah salah satu dari jenis alat penangkap ikan dari bahan jaring monofilamen atau multifilamen yang dibentuk menjadi empat persegi panjang, pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung (floats) dan pada bagian bawahnya dilengkapi dengan beberapa pemberat (sinkers) sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan memungkinkan jaring insang dapat dipasang di daerah penangkapan dalam keadaan tegak menghadang biota perairan. Jumlah mata jaring ke arah horisontal atau ke arah Mesh lenght(ML) jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah mata jaring ke arah vertikal atau ke arah

Mesh depth(MD) (Martasuganda, 2008).

Jaring millenium atau lebih dikenal dengan jaring grondong pada nelayan Indramayu adalah alat tangkap yang termasuk ke dalam jenis jaring insang (gillnet). Berdasarkan konstruksinya, jaring millenium diklasifikasikan ke dalam jaring insang hanyut (drift gillnet). Menurut Martasuganda (2008) jaring insang hanyut (drift gillnet) adalah jaring insang yang cara pengoperasianya dibiarkan hanyut di perairan, baik itu dihanyutkan di permukaan perairan, kolom perairan atau dihanyutkan di dasar perairan. Jaring insang yang dihanyutkan di permukaan perairan disebut dengan jaring hanyut permukaan (surface drift gillnet), yang dihanyutkan di kolom perairan disebut dengan jaring hanyut kolom perairan (mid water drift gillnet), dan yang dihanyutkan di dasar perairan disebut jaring hanyut dasar perairan (bottom drift gillnet). Jaring millenium dapat dioperasikan pada permukaan perairan, kolom perairan, dan dasar perairan.

(5)

Menurut Ramdhan (2008) unit penangkapan gillnet millenium merupakan modifikasi dari jaring insang pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari konstruksi alat tangkap yang mengalami perkembangan pada bahan jaring dengan bahan

polyamide monofilament dengan serat pilinan 8-12 ply. .Bagian-bagian pada

gillnet milleniumterdiri atas badan jaring, pelampung, dan pemberat. Rinciannya adalah sebagai berikut:

a) Badan jaring

Badan jaring merupakan bagian yang berfungsi untuk menghadang ikan secara vertikal. Bahan yang digunakan adalahpolyamide monofilament pintal 10

ply berwarna putih transparan dengan ukuran jaring satu piece yaitu 75 x 10 meter. Jumlah mata jaring arah datar 1.230 mata dan mata jaring arah tegak 90 mata. .Nelayan menggunakan bahan polyamide monofilament karena bahan ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya memiliki serat pilinan 8-12plysehingga memungkinkan ikan-ikan kecil dapat terjerat dalam serat pilinan dan menjadi umpan untuk ikan yang berukuran besar. Sebagai bahan sintetis, bahan ini relatif tahan lebih lama terhadap pembusukan atau pelapukan dan tidak berpengaruh terhadap lamanya perendaman dalam perairan. Selain itu, bahan ini tidak menyerap air sehingga lebih ringan dalam proses penarikan jaring.

b) Pelampung

Pelampung jaring yang digunakan terbuat dari bahan polyurethane. Jarak antar pelampung 300 cm dan jumlah pelampung 25 buah dalam satupiece. Untuk pelampung umbul yang digunakan terbuat dari bahan plastik atau styrofoam. Jarak antar pelampung 25 meter dengan jumlah dalam satu piece 3 buah. Pelampung tanda menggunakan bahan polyurethane yang diikatkan pada sebuah tongkat kayu dengan panjang 3 meter yang telah diberi tanda berupa bendera atau lampu.

c) Pemberat

(6)

2.1.2 Kapal dan nelayangillnet millenium

Kegiatan perikanan gillnet millenium di Karangsong dilakukan nelayan dengan 3 jenis kapal, yaitu perahu motor tempel berukuran 5 GT, kapal motor 15 GT, dan kapal motor 30 GT. Kapal yang digunakan mempunyai ukuran panjang 12-15 m, lebar 2,5-2,8 m, dalam 1,5-1,8 m. Jaring millenium biasanya dioperasikan oleh 4-5 orang nelayan untuk kapal yang berukuran 5 dan 15 GT, dan 11-12 orang nelayan untuk kapal berukuran 30 GT (Ramdhan, 2008).

Nelayan jaring millenium di Indramayu dikelompokkan menjadi nelayan buruh dan pemilik. .Nelayan pemilik biasanya menyediakan kebutuhan perbekalan yang diperlukan saat melaut, setelah kapal merapat dan hasil tangkapan dijual barulah nelayan buruh membayar biaya perbekalan dari hasil tangkapan. Nelayan jaring millenium secara umum adalah penduduk asli Indramayu, hanya sebagian kecil merupakan pendatang dari Cirebon dan Jakarta (Putra, 2007).

2.1.3 Metode pengoperasian

Pengoperasian jaring insang biasanya dilakukan di daerah penangkapan yang diperkirakan akan dilewati oleh biota perairan yang menjadi target tangkapan, kemudian dibiarkan beberapa lama supaya biota perairan memasuki atau terpuntal pada mata jaring. Lamanya perendaman jaring insang di daerah penangkapan akan berbeda menurut target tangkapan atau menurut kebiasaan nelayan yang mengoperasikannya (Martasuganda, 2008).

Jaring millenium umumnya dioperasikan pada malam hari. Pengoperasiannya dibagi empat tahap yaitu: penentuan fishing ground, pemasangan jaring (setting), penarikan jaring (hauling), dan penyortiran serta pemindahan hasil tangkapan ke dalam palka. Sebelum berangkat menangkap ikan, nelayan mengawali dengan mempersiapkan perbekalan, mengecek kondisi mesin kapal, lalu menyusun jaring untuk mempermudah dalam penebaran jaring di laut (Ramdhan, 2008).

(7)

terkena minyak (KKP, 2011). .Proses pengoperasian jaring millenium pada Gambar 1.

Gambar 1 Proses pengoperasiangillnet millenium.

2.1.4 Hasil tangkapan

Hasil tangkapan utama jaring millenium adalah ikan tenggiri (Scomberomorus commersoni) dan ikan tongkol (Auxis thazard). Hasil tangkapan sampingan yaitu golok-golok (Chirocentrus dorab), pepetek (Leiognathus sp.), kembung (Rastrelliger sp.), tetengkek (Megalaspis cordyla), manyung (Arius thalassinus), bawal hitam (Formio niger), cendro (Tylosurus sp.) (Ramdhan, 2008).

2.2 Analisis Usaha

Analisis finansial penting dalam memperhitungkan insentif bagi orang-orang yang turut serta dalam menyukseskan pelaksanaan proyek (Kadariah, 1999). Analisis finansial dari usaha gillnet millenium ditinjau dari pendapatan usaha, analisis imbangan dan penerimaan, payback period, dan ROI. Bakar, 1973 yang dikutip Rini, 2006 menyatakan bahwa suatu usaha dikatakan sukses bila pendapatannya memenuhi syarat-syarat berikut:

Jaring ditebar apabila sampai difishing ground

(laut tenang, tidak berombak)

Pukul 22.00 jaring diangkat, sebab biasanya diatas pukul 23.00 ikan sudah jarang

Pengangkatan harus dilakukan secara teratur agar jaring tidak terlipat, sehingga mudah menata

Hasil tangkapan langsung dimasukkan ke dalam palka

(8)

1) Cukup untuk membayar semua pembelian sarana produksi termasuk biaya angkutan dan biaya administrasi;

2) Cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan, termasuk pembayaran sewa serta dana penyusutan modal; dan

3) Cukup untuk membayar upah tenaga kerja, atau bentuk-bentuk lainnya untuk tenaga kerja yang tidak diupah.

2.3 Fungsi Produksi

Menurut Marianti (1997), fungsi produksi yaitu suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara output (hasil produksi) sebagai peubah (variabel) tak bebas dengan input-inputnya (faktor produksi) sebagai peubah bebas. Apabila bentuk fungsinya telah diketahui atau telah diestimasi, maka dapat diramalkan besarnya output apabila input-inputnya berubah. Dapat juga diketahui besarnya peran masing-masing input dalam pertumbuhan ataupun peningkatan output. Fungsi produksi dapat digunakan untuk level perusahaan, level industri, ataupun level nasional (aggregat output).

Fungsi produksi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi yang melibatkan dua atau lebih variabel. Variabel (Y) yang dijelaskan disebut dengan variabel dependen dan variabel (X) yang menjelaskan disebut dengan independen. Penyelesaian hubungan antara Y dan X biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan model Ekonometrika yaitu regresi linier berganda (Soekartawi, 1990).

2.4 Perikanan Tangkap Sebagai Sistem

(9)

menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya (Pasal 1 ayat 5). Berdasarkan definisi tersebut, perikanan tangkap merupakan suatu sistem yang terdiri atas beberapa elemen atau subsistem yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan lainnya. Perikanan tangkap komersial sebagai suatu sistem yaitu sarana produksi, usaha penangkapan, prasarana (pelabuhan), unit pengolahan, unit pemasaran, dan unit pembinaan. .Keseluruhan sistem tersebut perlu dikelola secara terpadu (KPPURI, 2010).

2.5 Definisi Sistem

Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang mempunyai pengertian:

1) Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (Shrode, 1974 yang dikutip Amirin, 1984); dan

2) Hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen secara teratur (Awad, 1979 yang dikutip Amirin, 1984).

Jadi, dengan kata lain istilah “systema” itu mengandung arti sehimpunan bagian

atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan.

Sistem adalah sehimpunan unsur yang melakukan sesuatu kegiatan atau menyusun skema atau tata cara melakukan sesuatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan, dan hak ini dilakukan dengan cara mengolah data dan/atau energi dan/atau barang (benda) di dalam jangka waktu tertentu guna menghasilkan informasi dan/atau energi dan/atau barang (benda). Secara garis besar istilah sistem mengandung dua makna:

1) Sistem sebagai metode

(10)

2) Sistem sebagai suatu wujud benda (entitas)

Sistem sebagai suatu himpunan bagian-bagian atau unsur yang saling berkaitan, dilengkapi dengan unsur tujuan dan lingkungan (Amirin, 1984). Ciri-ciri pokok dari sistem adalah sebagai berikut:

1) Setiap sistem mempunyai tujuan;

2) Setiap sistem mempunyai “batas” (boundaries) yang memisahkannya dari lingkungannya;

3) Meskipun sistem itu mempunyai “batas”, akan tetapi sistem itu bersikap terbuka, dalam arti berinteraksi juga dengan lingkungannya;

4) Suatu sistem terdiri dari beberapa subsitem yang biasa pula disebut bagian, unsur, atau komponen;

5) Meskipun sistem itu terdiri dari beberapa bagian, unsur-unsur atau komponen, tidak berarti bahwa sistem itu merupakan sekedar kumpulan dari bagian, unsur atau komponen tersebut, melainkan merupakan satu kebulatan yang utuh dan padu;

6) Terdapat saling hubungan dan saling ketergantungan baik di dalam (intern) sistem, maupun antara sistem dengan lingkungannya;

7) Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses transformasi atau proses mengubah masukan menjadi keluaran. Karena itu maka sistem disebut sebagai “processor” atau “transformator”;

8) Di dalam setiap sistem terdapat mekanisme kontrol dengan memanfaatkan tersedianya umpan balik; dan

9) Mekanisme kontrol mengakibatkan sistem mempunyai kemampuan mengatur diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau keadaan secara otomatik (dengan sendirinya) (Amirin, 1984).

2.6 Pendekatan Sistem

(11)

kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi dan lolos seleksi. Tahap tersebut dimulai dengan berusaha memahami kebutuhan sistem yang harus dicukupi. Terdapat enam tahapan analisis sistem dari metodologi sistem yang harus dilakukan sebelum sampai pada tahap sintesi, yaitu (1) analisis kebutuhan, (2) identifikasi sistem, (3) formulasi masalah, (4) pembentukan alternatif sistem, (5) determinasi dari realitas fisik, sosial, dan politik, dan (6) penentuan kelayakan (Eriyatno, 1999).

2.7 Analisis Sistem

Analisis sistem digunakan untuk memahami perilaku sistem, mengidentifikasi faktor-faktor penting yang terkait dengan keberhasilan sistem, permasalahan yang dihadapi dan alternatif solusi yang dapat diajukan untuk mengatasi permasalahan. Tahap-tahap yang perlu dilakukan yaitu:

1) Analisis kebutuhan, merupakan permulaan pengkajian sistem. Analisis kebutuhan ditentukan berdasarkan kebutuhan pelaku sistem (stakeholder). Untuk keperluan analisis, terlebih dahulu dilakukan identifikasi pelaku secara selektif melalui pengamatan lapangan secara langsung, selanjutnya dilakukan identifikasi kebutuhan pelaku melalui wawancara semi terstruktur.

2) Formulasi masalah, merupakan permasalahan-permasalahan spesifik yang dihadapi sistem yang menyebabkan sistem tidak dapat bekerja secara optimal. Formulasi masalah dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara semi terstruktur terhadap pelaku sistem.

(12)

3 METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2011. Penelitian ini dilakukan di PPI Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

3.2 Bahan dan Alat Penelitian

Objek penelitian adalah unit penangkapan gillnet millenium (kapal, alat tangkap, dan nelayan) dan data hasil wawancara dari berbagai pihak yang terkait. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Alat tulis; 2) Kuesioner; 3) Datasheet; dan 4) Video kamera.

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan sistem.. Metode ini digunakan untuk menganalisis kebutuhan, formulasi masalah, dan identifikasi sistem. Langkah-langkah yang dilakukan, antara lain:

1) Analisis kebutuhan, mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan dari pihak pihak terkait dalam suatu sistem, yaitu: pemilik unit penangkapan gillnet millenium, nelayan gillnet millenium, dan pegawai Dinas Perikanan Indramayu;

2) Formulasi masalah, menyederhanakan situasi nyata dari masalah menjadi lebih spesifik dan matematis sehingga dapat menemukan alternatif pemecahan masalah. Informasi-informasi yang didapatkan dalam penelitian diidentifikasi untuk menjadi perumusan masalah;

(13)

3.4 Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan metode survey observasi lapangan, pengambilan data dilakukan dengan cara purposive sampling. Wawancara dilakukan terhadap 30 unit kapal gillnet millenium untuk menjadi data dari uji regresi. Responden yang dituju adalah pemilik unit penangkapan gillnet millenium, nelayan gillnet millenium, dan pegawai Dinas Perikanan Indramayu. Data diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu data primer dan data sekunder.

3.4.1 Data primer

Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara dan pengisian kuesioner terhadap nelayan dan pemilik kapal. Jenis data primer dari nelayan yang dikumpulkan berupa: dimensi utama kapal, desain alat tangkap gillnet millenium, daerah operasi penangkapangillnet millenium, jumlah hasil tangkapan dari setiap unit penangkapan gillnet millenium, penggunaan keperluan produksi (bahan bakar, es dan garam) dalam operasi penangkapan. Data primer dari pemilik kapal berupa: penggunaan tenaga kerja atau anak buah kapal (ABK) yang digunakan dalam pengoperasian alat tangkap dan kapal, sistem bagi hasil dalam usaha perikanan gillnet millenium, dan biaya investasi yang digunakan dalam kegiatan usaha penangkapan. Data primer tersebut dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.4.2 Data sekunder

Data sekunder yang berasal dari Dinas Perikanan Indramayu berupa data produksi perikanan ikan selama lima tahun terakhir (tahun 2006-2010), jumlah unit penangkapan gillnet millenium, dan data harga masing-masing jenis ikan hasil tangkapan. Data harga jenis ikan dapat dilihat pada Lampiran 3.

3.5 Analisis Data 3.5.1 Analisis teknis

(14)

3.5.2 Analisis pendapatan usaha

Analisis pendapatan usaha melihat penerimaan yang dapat diperoleh setelah total penerimaan dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan. Perhitungan pendapatan usaha dilakukan dengan persamaan (Djamin, 1984):

K = TR–TC

Keterangan : K : Keuntungan

TR :Total revenue/penerimaan total TC :Total cost/biaya total

Dengan kaidah keputusan sebagai berikut :

TR > TC, usaha unit penangkapangillnet milleniummendapat keuntungan; TR = TC, usaha unit penangkapangillnet milleniumdalam titik impas; TR < TC, usaha unit penangkapangillnet milleniummerugi.

3.5.3 Analisis imbangan penerimaan dan biaya (Revenue-Cost ratio)

Analisisrevenue cost ratio, untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu usaha dapat dilakukan dengan analisis perbandingan penerimaan total dan biaya total. Perhitungan analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan dengan persamaan (Hernanto, 1989 yang dikutip Putra, 2008):

R/C = TR/TC

Keterangan :

R/C :Revenue Cost Ratio

TR :Total revenue/penerimaan total TC :Total cost/biaya total

Dengan kaidah keputusan sebagai berikut :

R/C : > 1, usaha unit penangkapangillnet milleniumlayak untuk diusahakan; R/C : = 1, usaha unit penangkapangillnet milleniumdalam titik impas;

(15)

3.5.4 Payback period

Analisis payback period (PP) dimaksud untuk penghitungan perkiraan waktu pengembalian modal (investasi) uang yang ditanamkan (Edris, 1983). Penghitunganpayback period(PP) menggunakan rumus:

Payback Period =

3.5.5Return of investment(ROI)

Analisis return of investment adalah analisis usaha yang digunakan untuk mengetahui seberapa persen kemungkinan pengambilan keuntungan dari investasi yang ditanamkan, dengan asumsi bahwa pendapatan setiap tahun tetap (Hernanto, 1989 yang dikutip Putra, 2008). Rumus analisis ROI yaitu:

3.5.6 Analisis fungsi produksi

Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat hubungan antara produksi dan faktor-faktor produksi. Secara matematik persamaan Cobb-Douglas dapat dituliskan (Soekartawi, 1990) sebagai berikut:

Y=aX1ß1X2ß2X3ß3.... Xißie

Karena di dalam fungsi produksi Cobb-Douglas terdapat bilangan berpangkat, maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma. Persamaannya menjadi:

Log Y = loga +ß1log X1+ ß2log X2+ ß3log X3+ .... + ßilog Xi+ e

Keterangan:

Y =Produksi a =Intersep/konstanta

X1,X2,X3,…Xi = Faktor produksi e =Galat

ß1,ß2,ß3,….ßi = Nilai koefisien regresi masing-masing variabel

ROI =

investasi keuntungan

(16)

1. Hipotesis yang digunakan diuji dengan uji F

Uji statistik tentang pengaruh bersama-sama faktor produksi yang digunakan terhadap produksi ikan (Y). Dirumuskan sebagai berikut:

H0: bi= 0 (berarti antara Y dengan X tidak ada hubungan)

H1 : minimal salah satu bi ≠ 0 (berarti Y tergantung terhadap X secara bersama

sama)

 Jika : F-hitung > F-tabel .... Tolak Ho :

Diartikan bahwa pada tingkat kepercayaan tertentu secara bersama-sama keempat faktor produksi yang digunakan berpengaruh nyata terhadap perubahan produksi ikan (Y).

 F-hitung < F-tabel ... Terima Ho :

Diartikan bahwa pada tingkat kepercayaan tertentu secara bersama-sama keempat faktor produksi yang digunakan tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap perubahan produksi ikan (Y).

Secara statistik dapat dibuktikan bahwa ukuran kapal (X1), jumlah tenaga kerja (X2), jumlah bahan bakar (X3), dan investasi (X4) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap hasil produksigillnet milllenium(Y).

2. Pengujian hipotesis dengan uji t

Uji statistik tentang pengaruh sendiri-sendiri faktor produksi yang digunakan terhadap produksi ikan (Y). Dirumuskan sebagai berikut :

H0: bi= 0 (berarti antara Y dengan X tidak ada hubungan)

H1 : minimal salah satu bi ≠ 0 (berarti Y tergantung terhadap X secara

sendiri-sendiri)

 Jika : t-hitung > t-tabel .... Tolak Ho :

Diartikan bahwa pada tingkat kepercayaan tertentu atau taraf nyata tertentu, faktor produksi (Xn) berpengaruh nyata terhadap perubahan produksi ikan (Y).

 t-hitung < t-tabel ... Terima Ho :

(17)

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Keadaan Geografis dan Topografis

Secara geografis Kabupaten Indramayu terletak pada posisi 107°52'–108°36' BT dan 6°15' – 6°40' LS. Batas wilayah Kabupaten Indramayu: sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Subang; sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa; sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Cirebon; sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa dan Kabupaten Cirebon.

Cakupan wilayah administrasi pemerintah Kabupaten Indramayu saat ini terdiri dari 31 Kecamatan, 307 desa dan 8 kelurahan, dengan luas wilayah sebesar 204,011 ha atau 2.040.110 km yang membentang sepanjang pantai utara antara Cirebon-Subang. Berdasarkan topografinya ketinggian wilayah pada umumnya berkisar antara 0-18 m di atas permukaan laut berupa rawa, tambak, sawah, pekarangan. Kabupaten Indramayu sebagian permukaan tanahnya berupa dataran dengan kemiringan antara 0%-2% seluas 201.285 ha (96,03%) dari total wilayah. Keadaan ini berpengaruh terhadap drainase, bila curah hujan tinggi maka daerah-daerah tertentu akan terjadi genangan air dan bila kemarau akan mengakibatkan kekeringan (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 2011). Kabupaten Indramayu memiliki wilayah pesisir dengan garis pantai sepanjang 114 km yang merupakan garis pantai terpanjang di Provinsi Jawa Barat (Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, 2005).

4.2 Keadaan Iklim Indramayu

Letak Kabupaten Indramayu yang membentang sepanjang posisi pantai utara Pulau Jawa membuat suhu udara di Kabupaten Indramayu cukup tinggi berkisar antara 22,9°C–30°C.. Tipe iklim di Indramayu termasuk iklim tropis, dengan karakteristik iklim antara lain: suhu udara harian berkisar antara 22,9°C– 30°C dengan suhu udara tertinggi 32°C dan terendah 22°C, kelembaban udara antara 70-80%, curah hujan rata-rata tahunan 1.587 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 91 hari, curah hujan tertinggi sekitar 2.008 mm dan jumlah hari hujan

(18)

sebanyak 84 hari sedangkan curah hujan terendah sekitar 1.063 mm dengan jumlah hari hujan 68 hari.

4.3 Demografi

Desa Karangsong memiliki jumlah penduduk sebesar 4.677 jiwa pada tahun 2011, penduduk laki-laki berjumlah 1.890 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 2.787.. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian di Desa Karangsong dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Jumlah penduduk menurut mata pencaharian di Desa Karangsong pada 2011

No. Mata Pencaharian Jumlah (Orang)

1 Petani 106

(Sumber: Profil Desa Karangsong tahun 2011)

4.4 Keadaan Perikanan Tangkap Kabupaten Indramayu 4.4.1 Tempat pelelangan ikan

Secara geografis kawasan PPI Karangsong terletak pada koordinat 06°18'45" dan 06°19'45" LS dan 108° 21'30" dan 108° 22'30" BT. Kawasan PPI Karangsong berada di Desa Karangsong Kecamatan Indramayu, yang berjarak 4,5 km dari pusat ibu kota Kabupaten Indramayu. Lokasi PPI Karangsong berada di sekitar pesisir Laut Jawa yang letaknya berada masuk di bagian dalam dari bibir pantai. Keberadaan PPI Karangsong tidak lepas dari adanya peranan Sungai Prajagumiwang yang berfungsi sebagai alur pelayaran keluar masuk kapal atau perahu ke pelabuhan (Omat, 2008).

(19)

ini terjadi karena adanya kesepakatan rapat anggota tahunan antara para juragan, bakul, KUD, dan pihak TPI untuk membangun PPI menjadi lebih baik.

4.4.2 Unit penangkapan ikan

Usaha penangkapan ikan merupakan suatu unit penangkapan ikan yang terdiri dari alat tangkap, kapal/perahu, dan nelayan. Alat tangkap yang beroperasi pada tahun 2005-2009 didominasi oleh gillnet dan alat tangkap yang terbanyak setelahnya yaitu alat pukat pantai. Jumlah alat tangkap yang beroperasi pada tahun 2005 tidak mengalami perubahan hingga tahun 2006.. Namun, terjadi pertambahan alat tangkap gillnet yang beroperasi pada tahun 2007, diduga penambahan terjadi akibat nelayan yang mengoperasikan alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan trammel netberalih untuk memakai gillnet. Ketiga alat tangkap tersebut mengalami penurunan pada tahun 2007. Jumlah alat tangkap yang beroperasi pada tahun 2007 tidak mengalami perubahan hingga tahun 2009. Perkembangan jumlah dan alat tangkap di Indramayu pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Jenis dan jumlah alat tangkap di Indramayu 2005-2009. (Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu 2005-2009)

(20)

bulan Desember merupakan jumlah terendah yaitu sebesar 196. Jumlah kedua alat tangkap tersebut di PPI Karangsong pada tahun 2010 dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Jenis dan jumlah alat tangkap yang beroperasi di PPI Karangsong tahun 2010.

(Sumber: Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra 2010)

Perkembangan jumlah armada penangkapan terjadi peningkatan dari tahun 2005 hingga tahun 2007, namun terjadi penurunan pada tahun 2009 (Tabel 2). Kapal motor tempel mendominasi jumlah armada secara keseluran dan merupakan kapal yang sebagian besar berukuran 5 GT, dengan kekuatan mesin 20 PK dan berbahan bakar solar. Kapal motor terjadi peningkatan jumlah yang pesat pada tahun 2009, pertambahan ini karena bertambahnya jumlah kapal motor berukuran 5-10 GT dan 10-30 GT.

Tabel 2 Jumlah armada penangkapan di Indramayu tahun 2005-2009 Tahun Kapal Motor Motor Tempel Jumlah

2005 285 5656 5941

2006 285 5656 5941

2007 303 5725 6028

2008 303 5725 6028

2009 697 5282 5979

(Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu 2005-2009)

(21)

yaitu nelayan juragan dan nelayan bendega. .Nelayan bendega atau disebut nelayan buruh merupakan orang yang bekerja mencari ikan atau melaut tetapi tidak memiliki kapal maupun alat tangkap. Terjadi kenaikan jumlah nelayan pemilik dan nelayan buruh dari tahun 2006 ke tahun 2007, setelah itu jumlah cenderung tetap hingga tahun 2009 (Tabel 3). Nelayan kapal penangkapan ikan 5 GT terdapat 4-5 orang nelayan, kapal 30 GT terdapat 11-12 orang nelayan, dan pada kapal 40 GT dan 60 GT terdapat 13 orang nelayan.

Tabel 3 Jumlah nelayan di Indramayu tahun 2005-2009

Tahun Nelayan Pemilik Nelayan Buruh Jumlah

2005 4271 30411 34682

2006 4271 30411 34682

2007 4283 31124 35407

2008 4283 31124 35407

2009 4283 31124 35407

(Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu 2005-2009) 4.4.3 Koperasi

Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra adalah pihak pengelola dari PPI Karangsong. Koperasi menyediakan unit-unit usaha untuk mendukung keperluan nelayan, yaitu: unit waserda, unit BAP/spare parts, unit perbekalan, dan unit depot es. .Nelayan yang membutuhkan keperluan melautnya dapat mengambil barang dari unit tersebut dan pembayarannya dikurangi dari pendapatan hasil tangkapan. Untuk peningkatan permodalan usaha, KPL Mina Sumitra mengembangkan unit simpan pinjam bagi anggota untuk permodalan nelayan operasi penangkapan ikan di laut maupun permodalan bagi bakul/pedagang. Fasilitas-fasilitas di PPI Karangsong dapat dilihat pada Lampiran 4.

4.4.4 Produksi dan nilai produksi

(22)

Tabel 4 Perkembangan volume dan nilai produksi di Indramayu tahun 2006-2010 Tahun Produksi (kg) Nilai Rupiah (Rp) Rp/kg

2006 25.205.291,10 134.380.384.100,00 5.331,44 2007 23.851.487,70 145.360.954.975,00 6.094,41 2008 30.668.798,00 206.969.729.400,00 6.748,54 2009 29.325.048,50 197.024.396.300,00 6.718,63 2010 34.585.015,65 241.998.234.340,00 6.997,19

(Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu 2006-2010)

Volume dan nilai produksi yang terjadi di PPI Karangsong merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan pusat pendaratan ikan yang ada di Kabupaten Indramayu. Volume produksi pada tahun 2010 sebesar 16.525.820 kg dan nilai produksi Rp180.943.935.000,00 (Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra, 2010).

Alat tangkap yang mendominasi di PPI Karangsong adalah jaring millenium dan jaring rampus. Volume dari jaring millenium dan jaring rampus dihasilkan sebesar 15.638.784 kg dan nilai produksi Rp171.123.881.900,00 pada tahun 2010. Alat tangkap lain yang beroperasi yaitu payang, jaring sotong, dan pancing. Ikan tongkol merupakan hasil tangkapan terbesar yang didaratkan di PPI Karangsong yang tertangkap oleh jaring millenium dan jaring rampus. .Jenis ikan yang tertangkap pada jaring millenium lebih beragam. Berikut perbandingan volume dan nilai produksi pada jaring millenium dan jaring rampus rampus di PPI Karangsong pada Tabel 5.

Tabel 5 Volume dan nilai produksi di PPI Karangsong Indramayu berdasarkan alat tangkap jaring millenium dan jaring rampus menurut catatan KPL Mina Sumitra Indramayu

Tahun Jaring Millenium Jaring Rampus

kg Rp kg Rp

2008 7.803.557 86.387.073.100,00 4.873.863 59.984.182.000,00 2009 7.724.301 74.783.493.500,00 5.397.378 62.452.647.000,00 2010 9.593.113 97.410.050.100,00 6.045.671 73.713.831.800,00 2011

(bulan 1-5)

5.457.852 66.959.644.500,00 2.690.071 34.646.236.000,00

4.4.5 Daerah penangkapan ikan

(23)

perairan Karimunjawa, Masalembu, dan Selat Karimata. Operasi penangkapan ikan kapal 40-60 GT di perairan Masalembu, Karimun Jawa, Selat Karimata, dan Natuna (Lintang 1-3)..Posisi daerah penangkapan ikan dapat dilihat pada Gambar 3.

Keterangan: Pulau Biawak Perairan Masalembu

Laut Jawa Laut Cina Selatan

Selat Karimata

(24)

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Teknis PerikananGillnet Millenium 5.1.1 Unit penangkapan ikan

1) Kapal

Kapal gillnet millenium yang beroperasi di PPI Karangsong adalah kapal berbahan dasar kayu dengan ukuran 5 GT, 20 GT, 30 GT, 40 GT dan 60 GT. Kapal 5 GT memakai mesin motor tempel dengan kekuatan mesin 24 pk. Dimensi kapal 7 m x 2,5 m x 1,5 m. Banyak trip per bulan 20-30 kali tergantung pada musim, kebutuhan bahan bakar per trip sebesar 50 liter.

Kapal 20 GT memakai mesin motor inboard dengan kekuatan mesin 120 pk. .Dimensi kapal 20 GT yaitu 14 m x 4,1 m x 1,8 m. Lama trip 20 hari, kebutuhan bahan bakar per trip sebesar 1.200 liter. Kapal 30 GT memakai mesin motorinboard dengan kekuatan mesin 160 pk. Dimensi kapal 30 GT yaitu 18 m x 4,7 m x 1,8 m. Lama trip 30-40 hari, kebutuhan bahan bakar per trip sebesar 5.000 liter. Kapal 40-60 GT memakai mesin motor inboard dengan kekuatan mesin 220 pk. Dimensi kapal 40 GT 20 m x 5,3 m x 2,2 m dan 60 GT 22,5 m x 6 m x 2,6 m. Lama trip 40-60 hari, kebutuhan bahan bakar per trip sebesar 11.000 liter. Gambar kapalgillnet milleniumdapat dilihat pada Lampiran 5.

2) Alat tangkap

Jaring millenium dibuat dari bahan polyamide monofilamentberwarna putih transparan dengan ukuran mata jaring 4 inchi. Pelampung jaring terbuat dari bahanpolyurethane, jumlah pelampung 10 buah perpiece. Pemberat terbuat dari bahan semen seberat 400 gr dengan jarak antar pemberat 10 m. Pelampung umbul dibuat dari bahan gabus atau styrofoam dengan jarak antar pelampung umbul 30 m. Ukuran jaring millenium pada masing-masing kapal yaitu:

1) Jaring millenium kapal 5 GT sepanjang 20 pieces (panjang 120 m/piece, tinggi 9 m);

(25)

3) Jaring millenium kapal 30 GT sepanjang 80 pieces (panjang 98 m/piece, tinggi 21-24 m); dan

4) Jaring millenium kapal 40-60 GT sepanjang 110 pieces (panjang 98 m/piece, tinggi 24-27 m).

Gambar 5 Konstruksi jaring millenium (kapal 5 GT). 3) Nelayan

Nelayan di Karangsong sebagian besar merupakan nelayan penuh atau nelayan yang menghabiskan seluruh waktu kerja dalam kegiatan perikanan. Nelayan dibagi berdasarkan struktur sosialnya yaitu juragan, jurumudi, dan bendega.. Nelayan juragan adalah pemilik kapal dan yang menyediakan permodalan dalam melaut, juragan memperkerjakan nelayan yang terdiri dari satu orang jurumudi dan bendega (ABK). .Jumlah nelayan pada kapal 5 GT sebanyak 4 orang, 20 GT sebanyak 9 orang, 30 GT sebanyak 12 orang, dan 40-60 GT sebanyak 13 orang.

Sistem bagi hasil merupakan pendapatan dari penjualan hasil tangkapan dikurangi biaya perbekalan dan retribusi. Berdasarkan kesepakatan rapat anggota

(26)

tahunan antara para juragan, bakul, KUD, dan pihak TPI bahwa nelayan di PPI Karangsong dikenakan biaya retribusi sebesar 3% yang merupakan lebih besar dari ketetapan pemerintah yaitu sebesar 1,65%.

5.1.2 Kegiatan operasi penangkapan ikan 1) Persiapan

Diawali pada tahap persiapan, nelayan akan memeriksa jaring dan memperbaiki jaring yang rusak, kemudian jaring disusun dengan rapih. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan terhadap mesin dan pengisian bahan bakar, pengisian bahan bakar dimudahkan dengan adanya pom bensin Pertamina yang berada di tepi sungai.. Balok-balok es dimasukkan ke dalam kapal dan sebagian dihancurkan menjadi es curah dengan menggunakan mesin penghancur es. Setelah persiapan nelayan selesai maka kapal akan berangkat pada pukul 14.00 WIB.

(1) (2)

(3) (4)

(27)

2) Metode operasi

Kapal melakukan perjalanan menuju fishing ground sekitar 3-4 jam, daerah

fishing ground umumnya telah dikenal dan diketahui oleh para nelayan. Pukul 16.00-18.00 WIB jaring millenium diturunkan (setting), pertama pelampung tanda yang berada di ujung tali selambar diturunkan, kemudian kapal bergerak secara perlahan dan nelayan menurunkan piece pertama badan jaring hingga piece

terakhir. Jaring millenium dapat dioperasikan di permukaan air, kolom air, dan dasar perairan. .Hal ini dilakukan dengan cara mengatur panjang dari tali pelampung umbul. Setelah perendaman jaring selama 6 jam atau pukul 24.00 WIB maka jaring diangkat (hauling), penarikan jaring dilakukan dengan menggunakan mesin line hauler.. Proses hauling pada kapal 30 GT dapat berlangsung hingga pukul 08.00 WIB atau selama 8 jam.. Hasil tangkapan kemudian dimasukkan ke dalam palka yang berisi es curah.

(1) (2)

(3)

(28)

3) Penanganan hasil tangkapan

Penanganan hasil tangkapan yaitu hasil tangkapan yang terjerat pada jaring langsung dilepas saat penarikan, lalu disortir untuk dimasukkan ke dalam palka yang telah berisi es curah. .Sebagian dari hasil tangkapan sampingan dimanfaatkan nelayan untuk dikonsumsi.

4) Pendaratan hasil tangkapan

Kapal berlabuh di PPI Karangsong, kemudian melakukan pengbongkaran hasil tangkapan. .Hasil tangkapan ikan langsung diangkut menuju TPI Karangsong untuk dilelang. Adapun proses lelang di TPI adalah sebagai berikut. 1) Kapal mengantri untuk mendapatkan nomor lelang. Nelayan membawa hasil

tangkapannya dan mengantri untuk menimbang ikan;

2) Setelah ikan ditimbang, maka nelayan mendapatkan keranjang yang sudah ditandai berdasarkan nama juragan dan diberikan nomor urut lelang;

3) Proses lelang dilaksanakan;

4) Harga tertinggi mendapatkan keranjang yang diinginkan, kemudian bakul mengemas sendiri ikan yang didapatkan dari lelang, lalu membayar ke pihak TPI;

5) Pihak TPI kemudian membayarkan hasil pelelangan ikan ke juragan.

(29)

5.2 Analisis Usaha PenangkapanGillnet Millenium

Analisis usaha pada unit penangkapan gillnet millenium menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (Revenue-Cost ratio), analisis payback period, dan analisis return of investment. Analisis-analisis tersebut memberikan informasi mengenai kondisi usaha yang terjadi pada unit penangkapan gillnet millenium.

5.2.1 Modal investasi

Biaya investasi meliputi biaya kapal termasuk perlengkapannya, biaya mesin, dan biaya alat tangkap. Wawancara yang dilakukan terhadap beberapa nelayan menyatakan bahwa modal investasi berasal dari dana juragan kapal, milik sendiri, maupun dari pihak koperasi yang memberikan bantuan modal kepada nelayan anggota. Tabel 6 merupakan modal investasi yang diperlukan untuk memulai usaha unit penangkapan ikangillnet millenium.

Tabel 6 Perbandingan biaya investasi pada masing-masing ukuran kapal No. Ukuran kapal Biaya investasi (Rp)

1 5 GT 85.000.000,00

2 20 GT 850.000.000,00

3 30 GT 1.660.000.000,00

4 40 GT 2.570.000.000,00

5 60 GT 2.870.000.000,00

5.2.2 Biaya operasional usaha

(30)

Tabel 7 Perbandingan biaya usaha pada masing-masing ukuran kapal per tahun No. Ukuran

kapal Biaya tetap (Rp) Biaya tidak tetap (Rp) Jumlah (Rp)

1 5 GT 18.105.000,00 119.881.350,00 137.986.350,00

2 20 GT 85.903.333,00 174.209.250,00 260.112.583,00 3 30 GT 160.763.333,00 319.077.500,00 479.840.833,00 4 40 GT 232.323.333,00 500.075.000,00 732.398.333,00 5 60 GT 251.943.333,00 558.262.500,00 810.205.833,00

5.2.3 Pendapatan usaha

Pendapatan hasil tangkapan oleh kapal yang berukuran 5 GT tergantung dari musim, hal ini terjadi karena daerah penangkapan yang dapat dilalui tidak terlalu jauh dari pantai yaitu di sekitar pantai Indramayu sampai pulau Biawak, kapal 5 GT juga melakukan trip penangkapan ikan selama satu hari.. Kapal yang berukuran > 20 GT tidak tergantung musim, trip penangkapan ikan selama 20 hari hingga 60 hari, daerah penangkapan yang lebih jauh yaitu perairan Laut Jawa, Selat Karimata, Karimun Jawa, hingga perairan Natuna (Lintang 1-3). Pendapatan hasil tangkapan tergantung dari komposisi ikan yang didapat, produksi rata-rata kapal per trip dapat dilihat dari Tabel 8.

Tabel 8 Pendapatan usahagillnet milleniumper trip No. Ukuran

kapal Per trip (Rp) Trip/tahun Jumlah per tahun (Rp)

1 5 GT 1.914.286,00 210 402.000.000,00

2 20 GT 70.532.142,00 14 987.450.000,00

3 30 GT 251.400.000,00 7 1.759.800.000,00

4 40 GT 461.250.000.00 5 2.306.250.000,00

5 60 GT 620.330.000.00 5 3.101.650.000,00

5.2.4 Sistem bagi hasil

(31)

Wawancara yang dilakukan terhadap nelayan yang menggunakan kapal berukuran 5 GT dan 20 GT yaitu 50% untuk juragan dan 50% untuk nelayan. Nahkoda pada kapal 5 GT mendapatkan 1,5 kali lebih besar dari pendapatan per ABK, nahkoda kapal 20 GT mendapatkan 2 kali lebih besar dari pendapatan per ABK. Sistem bagi hasil kapal berukuran 30 GT dan 40-60 GT yaitu 60% untuk juragan dan 40% untuk nelayan. Nahkoda kapal mendapat 2 kali lebih besar dari pendapatan per ABK. Jumlah nelayan pada kapal 5 GT, 20 GT, 30 GT, dan 40-60 GT masing-masing adalah 4, 10, 11, dan 13 nelayan. Hasil pendapatan nelayan dan juragan per tahun dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Pendapatan sistem bagi hasil per tahun No. Ukuran

Kapal

Pendapatan

(Rp) Juragan (Rp) Nahkoda (Rp)

Per ABK (Rp) 1 5 GT 282.118.650,00 141.059.325,00 47.019.775,01 31.346.516,67 2 20 GT 813.240.750,00 406.620.375,00 73.930.777,28 36.965.488,64 3 30 GT 1.440.722.500,00 864.433.500,00 96.048.166,67 48.024.083,33 4 40 GT 1.806.175.000,00 1.083.705.000,00 103.210.000,00 51.605.000,00 5 60 GT 2.543.387.500,00 1.526.032.500,00 145.336.428,60 72.668.214,29

5.2.5 Analisis finansial usaha

(32)

Tabel 10 Analisis finansial usahagillnet millenium

No. Ukuran kapal Pendapatan usaha

(Rp) R/C PP ROI

1 5 GT 132.006.825,00 2,91 0,64 1,55

2 20 GT 363.668.708,00 3,79 2,33 0,42

3 30 GT 767.975.500,00 3,67 2,16 0,46

4 40 GT 944.311.000,00 3,15 2,72 0,36

5 60 GT 1.374.866.500,00 3,83 2,08 0,48

Keuntungan yang diperoleh oleh masing-masing ukuran kapal berbanding lurus dengan besarnya ukuran kapal. Kapal yang berukuran lebih besar akan mendapat pendapatan yang lebih besar. Hal ini dikarenakan semakin besar ukuran kapal maka hasil tangkapan yang dapat diangkut lebih besar dan waktu pengoperasian lebih lama dibandingkan dengan kapal yang berukuran lebih kecil. Berdasarkan analisis R/C semua ukuran kapal layak untuk diusahakan, nilai yang didapat dari masing-masing kapal tidak jauh berbeda yaitu setiap rupiah yang dikeluarkan mampu menghasilkan penerimaan sebesar Rp2,91 hingga Rp3,83, artinya besarnya pendapatan total akan dipengaruhi pada besarnya jumlah biaya tetap dan biaya tidak tetap yang dikeluarkan.

(33)

5.3 Analisis Faktor-Faktor Produksi PenangkapanGillnet Millenium

Faktor-faktor produksi yang dipilih pada penelitian ini mempengaruhi dalam usahagillnet millenium, dan yang diambil sebanyak 30 sampel (Lampiran 6). Berikut faktor-faktor produksi yang mempengaruhi dalam usaha gillnet millenium:

1) Ukuran kapal (X1)

Ukuran kapal dapat diduga sebagai faktor yang mempengaruhi hasil produksi, secara umum dapat dikatakan bahwa semakin besar ukuran kapal maka jumlah hasil produksi semakin besar. Kapal diukur berdasarkan volume yaitugross tonnage(GT).

2) Jumlah tenaga kerja (X2)

Tenaga kerja pada setiap kapal dibagi menjadi nahkoda dan anak buah kapal. Jumlah tenaga kerja pada masing-masing kapal sebanyak 3 hingga 13 orang.

3) Jumlah bahan bakar/BBM (X3)

Jumlah BBM yang digunakan berkisar dari 10.500 liter hingga 55.000 liter per tahun. ,Pemakaian rata-rata kapal yang berukuran 5 GT penangkapan ikan. Harga kapal dan mesin berkisar Rp35.000.000,00 untuk kapal 5 GT hingga Rp2.100.000.000,00 untuk kapal 60 GT, harga alat tangkap sebesar Rp2.500.000,00 per piece untuk kapal berukuran 5-20 GT dan Rp7.000.000,00 untuk kapal yang berukuran 30-60 GT.

Berdasarkan Tabel 11 (Lampiran 7) hasil regresi pada faktor ABK (X2) dan faktor investasi (X4) mempunyai nilai koefisien negatif. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada usaha penangkapan gillnet millenium adalah GT kapal (X1) dan jumlah BBM (X3). Model pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas dari unit penangkapangillnet milleniumdengan persamaan sebagai berikut:

(34)

Persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas dengan bantuan logaritma menjadi sebagai berikut:

Log Y = log 7.3236 + 0.7281 log X1-0.1716 log X2+0.4286 log X3

log 0.1030 X4

Tabel 11 Nilai koefisien regresi (bi), standard error koefisien regresi (Sbi) dan t-hitung fungsi produksi unit penangkapan gillnet millenium di Karangsong

Variabel Coefficients Standard

Error T Hitung

T Tabel (0.05)

Intersep 7.323659218 1.508192751 4.85592726 1.708

GT kapal (X1) 0.728188867 0.208897096 3.485873583 Jumlah ABK (X2) -0.171677785 0.40726071 -0.421554271 Jumlah BBM (X3) 0.428689939 0.093989185 4.561056053 Investasi (X4) -0.103026691 0.226114742 -0.455638981

Hasil regresi terdapat koefisien yang bernilai negatif, maka dilakukan regresi kembali tanpa menyertakan faktor ABK dan investasi (Lampiran 8). Regresi pada faktor yang berpengaruh nyata yaitu GT kapal dan jumlah BBM dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Nilai koefisien regresi pada faktor GT kapal dan jumlah BBM

Variabel Coefficients Standard Error T Hitung T Tabel (0.05)

Intersep 6.33564824 0.289791797 21.86275909 1.703

GT kapal (X1) 0.429156852 0.067424102 6.365036276 BBM (X3) 0.497962078 0.084127522 5.919134047

Hasil dari regresi pada variabel X1 dan X3 bernilai positif. .Model pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas dari unit penangkapan gillnet milleniumpada faktor X1 dan X3 didapat dengan persamaan sebagai berikut:

log Y = log 6.3356 + 0.4291 log X1+0.4979 log X3

(35)

berpengaruh nyata terhadap produksi hasil tangkapan gillnet millenium. Berikut merupakan analisis varian uji koefisien regresi fungsi produksi pada Tabel 13. Tabel 13 Analisis varian untuk uji koefisien regresi fungsi produksi unit

penangkapangillnet milleniumdi Karangsong

Sumber Df Sum of

Squares Mean Square f Hitung F Tabel Regression 2 1.937051993 0.968525997 436.085496 3.35

Residual 27 0.059965768 0.002220954

Total 29 1.997017762

Uji t-student digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel terhadap produksi hasil tangkapan. Berdasarkan analisis di atas dengan selang kepercayaan 95% diketahui bahwa ukuran kapal (X1) dan jumlah bahan

bakar (X3) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan, faktor ukuran kapal (X1)

bernilai 0.4291 yang berarti dalam setiap penambahan satu GT ukuran kapal akan meningkatkan produksi sebesar Rp429,1 dan faktor jumlah bahan bakar per tahun (X3) bernilai 0.4979 yang berarti dalam setiap penambahan satu liter bahan bakar

akan meningkatkan produksi sebesar Rp497,9 dalam keadaan ceteris paribus. Variabel ABK (X2) dan investasi (X4) tidak berpengaruh nyata secara

sendiri-sendiri namun berpengaruh nyata dalam keadaan bersama-sama dengan keseluruhan faktor. Persamaan garis antara faktor produksi GT kapal (X1) terhadap produksi (Y) dapat dilihat pada Gambar 9.

y = 5E + 07x + 1E + 08

(36)

oleh kapal, semakin besar ukuran kapal maka akan semakin besar daya angkut hasil tangkapan yang diperoleh. Persamaan garis antara faktor produksi jumlah (X3) terhadap produksi (Y) dapa dilihat pada Gambar 10.

y = 47710x + 1E+08

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000

Jumlah BBM/tahun (liter)

Gambar 10 Grafik hubungan antara jumlah BBM (X3) terhadap produksi (Y). Gambar 10 menunjukkan bahwa jumlah BBM memiliki hubungan parsial yang bersifat liner terhadap produksi hasil tangkapan, nilai optimum dihasilkan dengan jumlah bahan bakar sebesar 55.000 liter per tahun dimana jumlah bahan bakar yang dibawa sebesar 11.000 liter per trip. Faktor-faktor produksi usaha penangkapan ikan gillnet millenium memiliki nilai koefisien yang berbeda. Berikut merupakan pembahasan setiap variabel dari hasil regresi:

1) Ukuran GT kapal

Koefisien regresi GT kapal bernilai 0.4291 yang berarti dalam setiap dalam setiap penambahan satu GT ukuran kapal akan meningkatkan produksi sebesar Rp429,1. Kemampuan angkut kapal mempengaruhi kapasitas hasil tangkapan yang dapat dibawa. Hal ini akan menunjukkan kemampuan-kemampuan kapal antara lain yaitu jumlah tenaga kerja, jumlah BBM yang dapat diangkut, perbekalan, alat tangkap, dan kekuatan kapal di laut. Sehingga semakin besar ukuran kapal maka kemampuannya lebih baik.

2) Jumlah BBM per tahun

(37)

perjalanan yang dapat dilakukan oleh kapal. Jumlah BBM yang dipakai akan tergantung pada seberapa jauh pelayaran kapal menuju kefishing ground, jumlah bahan bakar yang digunakan harus diperhitungkan oleh nelayan ketika dipakai untuk melakukan pelayaran dan ketika kapal kembali ke PPI Karangsong.

5.4 Analisis Sistem PerikananGillnet Millenium 5.4.1 Analisis kebutuhan

Pihak-pihak yang terlibat dalam sistem perikanan di Karangsong memiliki kebutuhan untuk melancarkan kepentingannya masing-masing sesuai dengan pekerjaannya, adapun pihak-pihak tersebut adalah Dinas Perikanan Indramayu, petugas TPI, nelayan, pedagang, koperasi, pemilik kapal, dan konsumen. Kebutuhan-kebutuhan dari masing-masing pihak dirangkum pada Tabel 14. Tabel 14 Kebutuhan dari pihak yang terlibat dalam sistem perikanan gillnet

milleniumdi Karangsong, Kabupaten Indramayu

No Pihak-pihak terkait Kebutuhan

1. Dinas Perikanan Indramayu

- Data hasil tangkapan yang akurat - Sistem penangkapan rapih

- Pendapatan daerah dan nasional meningkat - Kelestarian sumberdaya ikan

2. Pihak TPI

- Keamanan dan Kenyamanan - Ikan HT yang didaratkan di TPI - Pengadaan sarana dan prasarana 3. Nelayan

- Informasi DPI, cuaca, dan stok - Akses pemasaran

- Subsidi BBM

4. Bakul ikan - Informasi jumlah ikan dan daya beli - Fasilitas TPI

5. Koperasi Mina Sumitra

- Data hasil tangkapan - Sumber modal

(38)

5.4.2 Formulasi masalah

Formulasi masalah berdasarkan pengamatan kondisi perikanan yang terjadi di PPI Karangsong. Kendala-kendala yang berhubungan dengan sistem usaha perikanangillnet milleniumdi Karangsong, sebagai berikut:

1) Mahalnya biaya operasional untuk melaut dikarenakan harga bahan bakar minyak naik; dan

2) Produksi ikan biasanya menurun jika memasuki cuaca kurang baik. Nelayan dengan tonase kurang dari 5 GT sulit melaut dengan cuaca buruk.

5.4.3 Identifikasi sistem

1) Diagram lingkar sebab akibat

Diagram sebab akibat digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang ditimbulkan akibat dari elemen yang terkait dalam sistem usaha perikanan gillnet millenium. Diagram sebab akibat juga akan membantu dan mengungkapkan penyebab-penyebab utama. Faktor yang positif ditandai dengan (+), sedangkan faktor negatif ditandai dengan (-). Gambar 12 merupakan diagram lingkar sebab akibat dari sistem usaha perikanangillnet millenium.

_

Gambar 12 Diagram sebab akibat sistem usaha perikanan gillnet millenium. Berdasarkan Gambar 12 bahwa sumberdaya ikan merupakan potensi dari usaha perikanan yang menjadi komoditi untuk diperdagangkan. Dalam hal ini, alat tangkap gillnet millenium yang mengeksplorasi sumberdaya ikan dapat

(39)

memberikan pengaruh positif dengan hasil tangkapan yang memuaskan, namun dapat memberikan pengaruh negatif pada sumberdaya ikan jika tidak dikendalikan oleh teknologi alat dan kelestarian lingkungan. Hasil tangkapan ikan gillnet millenium mendominasi ikan yang didaratkan di TPI Karangsong untuk dilelangkan yang akan dibeli oleh bakul. Harga dari ikan hasil tangkapan menghasilkan keuntungan bagi pemilik kapal, pendapatan dari hasil tangkapan setelah dikurangi modal dan retribusi kemudian dibagikan kepada nelayan. Biaya retribusi diberikan untuk pemerintah. Koperasi Perikanan Mina Sumitra sebagai pengelola PPI Karangsong membantu anggotanya yaitu pemilik kapal dan nelayan dalam permodalan untuk melaut. .Pemerintah dan KPL Mina Sumitra bekerjasama sehingga memberikan dampak positif bagi perkembangan perikanan di Karangsong. .Kebijakan pemerintah berguna bagi pedagang ikan dan kesejahteraan nelayan. Kebijakan perintah dibutuhkan untuk menjaga SDI tetap lestari seperti pembatasan alat, armada dan daerah operasi penangkapan ikan, namun akan berdampak negatif bagi unit usaha gillnet millenium. Kegiatan perikanan di Karangsong dapat dilihat pada Lampiran 10.

2) Diagram input-output

Diagram input-output memperlihatkan faktor-faktor dalam usaha perikanan. Input terdiri dari input lingkungan, input terkendali, dan input tidak terkendali. Input-input tersebut menghasilkan output yang dikehendaki dan meminimumkan atau mencegah input yang tidak dikehendaki. Input lingkungan berupa peraturan pemerintah dan iklim.

Input tidak terkendali meliputi harga ikan yang dipengaruhi oleh inflasi, naiknya bahan bakar minyak, dan ketersediaan ikan. Oseanografi dapat berubah-ubah dikarenakan iklim, gelombang laut, dan salinitas air laut sehingga dapat mempengaruhi potensi sumberdaya ikan. .Pasar dipengaruhi oleh konsumsi masyarakat yang berubah-ubah, tingkat pendapatan masyarakat yang memicu konsumsi, dan kelancaran distribusi.

(40)

milleniumtidak mudah kusut dibandingkan dengan jaring mono yang cepat rusak. Keahlian nelayan umumnya didapat dari pengalamannya dalam melaut dan belajar atau bekerja pada sesama nelayan. Modal usaha didapat dari juragan yang memperkerjakan nelayan, koperasi juga memberikan bantuan modal kepada nelayan yang menjadi anggota berupa perbekalan dalam melaut.. Berikut merupakan diagram input-output pada Gambar 13.

Gambar 13 Digram input-output.

Output dikehendaki yaitu pendapatan yang meningkat, terserap banyak lapangan kerja, hasil tangkapan cukup, dan pelelangan ikan hasil tangkapan lancar. Output yang tidak dikehendaki antara lain: usaha merugi, hasil tangkapan menurun, dan biaya operasional meningkat.

Bakul ikan yang membeli hasil tangkapan nelayan yang dilelang di TPI, selama tahun 2010 pedagang/bakul ikan di Indramayu sebanyak 1.125 orang. Berdasarkan kesepakatan rapat anggota tahunan antara para juragan, bakul, KUD,

(41)

dan pihak TPI bahwa bakul di PPI Karangsong dikenakan biaya retribusi sebesar 3% yang merupakan lebih besar dari ketetapan pemerintah yaitu sebesar 1,65%.

3) Diagram struktur sistem

Kegiatan sistem usaha perikanan gillnet millenium terdiri dari elemen-elemen yang saling berhubungan. Gambar 11 merupakan diagram struktur sistem usaha perikanangillnet milleniumdi Karangsong.

Tidak Tidak Tidak Ya

Ya Ya

Gambar 11 Diagram struktur sistem usaha perikanan gillnet millenium di Karangsong.

Usaha perikanan gillnet millenium di Karangsong dilihat dari aspek pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Input dari aspek pra produksi terdiri dari biaya investasi (biaya kapal, mesin, dan alat tangkap) dan biaya operasi, nelayan (juragan, nahkoda, dan anak buah kapal), dan tujuan hasil tangkapan utama yaitu ikan tenggiri dan ikan tongkol. Proses produksi diawali dengan persiapan melaut di PPI Karangsong, lalu berangkat menuju daerah penangkapan ikan kemudian

(42)
(43)

6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1) Kapal yang beroperasi di PPI Karangsong berbahan dasar kayu dengan ukuran kapal 5 GT, 20 GT, 30 GT, 40 GT dan 60 GT. Jaring millenium yang digunakan oleh nelayan terbuat dari bahan polyamide monofilament, ukuran jaring millenium yang dioperasikan berdasarkan ukuran kapal yaitu sepanjang 20 pieces hingga 110 pieces.. Nelayan di Karangsong sebagian besar merupakan nelayan penuh, nelayan berdasarkan struktur sosialnya yaitu juragan, jurumudi, dan bendega (anak buah kapal);

2) Nilai R/C kelima ukuran kapal bernilai > 1 yang berarti layak untuk diusahakan, nilai PP dari kapal ukuran 5 GT sebesar 0,64 dan nilai PP dari kapal ukuran 20-60 GT > 2, nilai ROI pada kapal berukuran 5 GT sebesar 155% dan kapal ukuran 20-60 GT sebesar 36%-48%;

3) Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara bersama-sama terhadap hasil produksi yaitu GT Kapal (X1), jumlah ABK (X2), jumlah bahan bakar (X3), dan investasi (X4). Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara sendiri-sendiri yaitu GT Kapal (X1) dan jumlah bahan bakar (X3).

6.2 Saran

1) Penelitian mengenai variabel yang lebih beragam untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas terhadap pengaruh faktor produksi;

2) Dibutuhkan peran pemerintah untuk terus mengembangkan pembangunan perikanan di Karangsong berupa peningkatan status PPI Karangsong, dikarenakan PPI Karangsong melayani kapal hingga berukuran 60 GT dan jumlah produksi perikanan yang didaratkan di PPI Karangsong besar dan meningkat setiap tahun.

(44)

ANALISIS SISTEM USAHA PERIKANAN

GILLNET

MILLENIUM

DI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU

BAGINDA BUDIMAN RITONGA

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(45)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Sistem Usaha Perikanan Gillnet Milleniumdi Karangsong, Kabupaten Indramayu adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, 26 Januari 2012

(46)

ABSTRAK

BAGINDA BUDIMAN RITONGA. Analisis Sistem Usaha PerikananGillnet Milleniumdi Karangsong, Kabupaten Indramayu. Dibimbing oleh SUGENG HARI WISUDO dan JOHN HALUAN.

Kebijakan pembangunan perikanan Kabupaten Indramayu sebagai pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi daerah salah satunya adalah pengembangan kawasan PPI Karangsong di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu. Alat tangkapgillnet sangat banyak digunakan oleh nelayan, terdapat jenis gillnet yang populer yaitu gillnet millenium atau jaring millenium. Penggunaan gillnet millenium oleh nelayan berkembang dengan pesat dan menghasilkan keuntungan yang besar. Namun, kendala yang dihadapi yaitu semakin mahalnya harga BBM dan iklim yang tidak menentu dapat mengancam usaha penangkapangillnet millenium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keragaan teknis, mengidentifikasikan usaha, dan menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam usaha unit penangkapan gillnet millenium di Karangsong, Indramayu. Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem, sehingga dapat diketahui potensi usaha gillnet millenium di Karangsong dalam menghadapi kendala-kendala yang dihadapi. Analisis data terdiri dari analisis teknis, analisis usaha unit penangkapan gillnet millenium, dan analisis faktor-faktor produksi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kapal yang beroperasi di PPI Karangsong berbahan dasar kayu dengan ukuran kapal 5 GT, 20 GT, 30 GT, 40 GT dan 60 GT. Jaring millenium yang digunakan oleh nelayan terbuat dari bahan

polyamide monofilament, ukuran jaring millenium yang dioperasikan berdasarkan ukuran kapal yaitu sepanjang 20 pieces hingga 110 pieces. Nelayan di Karangsong sebagian besar merupakan nelayan penuh, nelayan berdasarkan struktur sosialnya yaitu juragan, jurumudi, dan bendega (anak buah kapal). Nilai R/C kelima ukuran kapal bernilai > 1 yang berarti layak untuk diusahakan, nilai PP dari kapal ukuran 5 GT sebesar 0,64 dan nilai PP dari kapal ukuran 20-60 GT > 2, nilai ROI pada kapal berukuran 5 GT sebesar 155% dan kapal ukuran 20-60 GT sebesar 36%-48%. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara bersama-sama terhadap hasil produksi yaitu GT Kapal (X1), jumlah ABK (X2), jumlah bahan bakar (X3), dan investasi (X4). Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara sendiri-sendiri yaitu GT Kapal (X1) dan jumlah bahan bakar (X3).

(47)

© Hak cipta IPB, Tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1) Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber:

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(48)

ANALISIS SISTEM USAHA PERIKANAN

GILLNET

MILLENIUM

DI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU

BAGINDA BUDIMAN RITONGA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(49)

Judul Skripsi : Analisis Sistem Usaha Perikanan Gillnet Millenium di Karangsong, Kabupaten Indramayu

Nama : Baginda Budiman Ritonga

NIM : C44070066

Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Sugeng Hari Wisudo, S.Pi, M.Si Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc NIP: 19660920 199103 1 001 NIP: 19460527 197412 1 001

Mengetahui:

Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc. NIP: 19621223 198703 1 001

(50)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Judul dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2011 ini adalah “Analisis Sistem Usaha Perikanan Gillnet Millenium di Karangsong, Kabupaten Indramayu”.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Dr. Sugeng Hari Wisudo, S.Pi, M.Si dan Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc selaku dosen pembimbing atas arahan dan bimbingan yang telah diberikan;

2. Kedua orang tua, Bapak Ruslan Ritonga dan Ibu Ratna Siregar yang setiap saat mendoakan dan memberikan yang terbaik. Kakak dan adikku, Manda dan Adinda atas doa dan dukungannya;

3. Bapak Cartisa yang telah memberikan informasi usaha perikanan gillnet millenium;

4. Mukhlish, Khaerul, Roisul, Diki, Leo, Ochim, Lukman, Allan dan Iqbal (44 b19) atas bantuan yang diberikan;

5. Willy, Nooke, Dede, Ade, Baskoro, Danang, Fadli dan teman-teman PSP 44 yang telah memberikan semangat;

6. Bou Rostina, Uda Syam, dan Bang Rizal atas bantuannya selama di Bogor; 7. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

(51)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 12 April 1989 dari pasangan Bapak Ruslan Ritonga dan Ibu Ratna Siregar. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Penulis lulus dari SMA Josua Medan pada tahun 2007 2007 d dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur melalui . Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis memilih Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam kegiatan organisasi. Penulis pernah menjabat sebagai anggota Divisi Human Resources Development

(52)

DAFTAR ISI

1.1 Latar belakang ... 1 1.2 Tujuan... 2 1.3 Manfaat... 2 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap ... 3 2.1.1 Alat tangkapgillnet millenium... 3 2.1.2 Kapal dan nelayangillnet millenium... 5 2.1.3 Metode pengoperasian ... 5 2.1.4 Hasil tangkapan ... 6 2.2 Analisis Usaha... 6 2.3 Fungsi Produksi... 7 2.4 Perikanan Tangkap Sebagai Sistem ... 7 2.5 Definisi Sistem ... 8 2.6 Pendekatan Sistem ... 9 2.7 Analisis Sistem... 10 3 METODOLOGI PENELITIAN

(53)

3.5.4Payback period... 14 3.5.5Return of investment... 14 3.5.6 Analisis fungsi produksi... 14 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Keadaan Geografis dan Topografis... 16 4.2 Keadaan Iklim Indramayu ... 16 4.3 Demografi... 17 4.4 Keadaan Perikanan Tangkap Kabupaten Indramayu ... 17 4.4.1 Tempat pelelangan ikan ... 17 4.4.2 Unit penangkapan ikan... 18 4.4.3 Koperasi ... 20 4.4.4 Produksi dan nilai produksi... 20 4.4.5 Daerah penangkapan ikan ... 21 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar

Gambar 1  Proses pengoperasian gillnet millenium.
Gambar 2 Jenis dan jumlah alat tangkap di Indramayu 2005-2009. (Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu 2005-2009)
Gambar 3 Jenis  dan  jumlah alat  tangkap yang  beroperasi  di  PPI  Karangsong tahun  2010.
Gambar 4 Daerah penangkapan ikan.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Tabel 13 terlihat bahwa kelompok nelayan gillnet 6 GT mempunyai tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya ikan yang paling tinggi dengan nilai 2,1005. Hal

nyata karena panjang dan tinggi jaring yang digunakan pada penelitian ini hampir sama. Sehingga kedua faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan unit

Retribusi yang ditarik kepada masyarakat nelayan salah satunya retribusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berlandaskan hukum dalam Pasal 12 Peraturan Daerah Kabupaten

Kuisioner penelitian untuk nelayan jaring kembung (gillnet) di TPI Pantai LabuI. Alat Tangkap Jaring Kembung (gillnet)

Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa kelompok nelayan gillnet 3 GT dan 6 GT mempunyai alokasi pengeluaran untuk perikanan yang paling tinggi dibanding- kan dengan

Hasil tangkapan dari 20 responen nelayan gillnet di Sungsang menunjukkan jumlah total tangkapan selama satu tahun yaitu sebanyak 134.400 kg. Dengan demikian rata-rata

Proporsi hasil tangkapan sasaran utama, maka dapat dikatakan bahwa unit penangkapan pada alat tangkap gillnet millennium dapat dikatakan ramah lingkungan apabila dilihat dari

Saluran pemasaran Ikan Kakap Merah yang berawal dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong Kabupaten Indramayu dimulai dengan nelayan yang menjual hasil