PERHITUNGAN RASIO LIKUIDITAS LAPORAN
KEUANGAN PADA DIREKTORAT AIRCRAFT
INTEGRATION
PT. DIRGANTARA INDONESIA
Laporan Kerja Praktek
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
Dalam menempuh Jenjang D3
Program Studi Keuangan dan Perbankan
Oleh :
NAMA
: Herni Siti jubaedah
NIM : 21508008
PROGRAM STUDI KEUANGAN DAN PERBANKAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
ii
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan
laporan Kerja Praktek yang dilaksanakan di PT DIRGANTARA INDONESIA,
Bandung.
Laporan kerja praktek ini merupakan salah satu syarat mata kuliah Kerja
Praktek semester V Program Studi Keuangan & Perbankan Fakultas Ekonomi
Universitas Komputer Indonesia.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan Laporan Kerja Praktek ini, sehingga dapat
terselesaikan. Terutama kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, Selaku Rektor Universitas
Komputer Indonesia
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati., Dra.,SE.,MSi. Selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
3. Ibu Linna Ismawati.,SE.,MSi. Selaku Ketua Program Studi Manajemen
Universitas Komputer Indonesia.
4. Ibu Trustorini Handayani.,SE.,MSi. Selaku Dosen Pembimbing dalam
iii
5. Ibu Elvira Azis.,SE.,MT. Selaku Koordinator Kerja Praktek Program Studi
Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi Universitas Komputer
Indonesia.
6. Bapak Darmazakti Natajaya Tirta.,SE.,MT. Selaku Dosen Wali Keuangan
dan Perbankan.
7. Bapak Doddy Handiman dan Bapak Edy. Selaku Pembimbing perusahaan
dalam pelaksanaan kerja praktek di PT Dirgantara Indonesia Bandung.
8. Pimpinan dan segenap karyawan Directorat Aircraft Integration PT
Dirgantara Indonesia.
9. Kepada kedua orang tua penulis yang senantiasa mendoakan dan
memberikan dukungan baik materil maupun moril.
10.Buat adikku Ridwan dan Tita , selalu memberikan masukan dan
dukungannya kepada penulis
11.Teman-teman kelas KP-1 tercinta yang tidak pernah berhenti untuk selalu
memberikan semangat dan do’anya.
12.R.Adrian Rizkita yang yang setiap hari terus menerus memberikan
pengarahan, masukannya dan dukungan penuh kepada Penulis.
13.Rekan-rekan Kerja Praktek juga dan semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan laporan ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa Laporan Kerja Praktek ini, masih jauh dari
sempurna baik dari segi isi maupun bentuk penyajiannya. Kritik dan saran Penulis
iv
Bandung, November 2010
Penulis
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Analisis laporan keuangan akan memberikan gambaran mengenai kemampuan
perusahaan dalam hal likuiditas. Perusahaan dapat mengukur seberapa jauh
kemampuannya untuk memenuhi tantangan dan tuntutan yang dihadapi . analisa yang
dihasilkan harus memberikan pemahaman yang baik terhadap operasional keuangan
perusahaan sehingga dapat diketahui kelemahan perusahaan yang dianggap baik.
Dengan analisa rasio yang dilakukan akan diketahui kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajibannya dan hasil yang telah dicapai dari kegiatan
operasionalnya.
Dari segi manajemen keuangan, perusahaan dikatakan mempunyai kinerja
yang baik atau tidak dapat diukur dengan :
1. Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban (utang) yang akan jatuh
tempo (liquidity).
2. Kemampuan perusahaan untuk menyusun struktur pendanaan, yaitu
perbandingan antara utang dan modal (leverage).
3. Kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan (profitability).
4. Kemampuan perusahaan untuk berkembang (growth).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan kerja
praktek dan menuangkannya dalam laporan kerja praktek dengan judul
“PERHITUNGAN RASIO LIKUIDITAS LAPORAN KEUANGAN PADA
DIRECTORAT AIRCRAFT INTEGRATION PT. DIRGANTARA INDONESIA”.
1.2. Tujuan Kerja Praktek
Tujuan Kerja Praktek bagi setiap mahasiswa adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Perhitungan rasio likuiditas laporan keuangan Direktorat
Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia (Persero) periode (2008 – 2009).
2. Untuk mengetahui perkembangan rasio likuiditas pada Direktorat Aircraft
Integration PT. Dirgantara Indonesia (Persero) periode (2008 – 2009).
3. Untuk mengetahui hambatan- hambatan dan penanggulangan perhitungan
rasio likuiditas pada Direktorat Aircraft PT. Dirgantara Indonesia (Persero)
Periode (2008 – 2009).
1.3. Kegunaan Kerja Praktek
Bagi mahasiswa, kerja praktek dilaksanakan bukan hanya untuk memenuhi
kewajiban sebagai salah satu syarat kelulusan. Tetapi memiliki kegunaan juga bagi
3
1. Bagi Mahasiswa
a. Dapat mengetahui, mendalami, dan menerapkan ilmu yang diterima
dibangku kuliah terhadap aplikasi dunia kerja.
b. Mampu mengenal dan beradaptasi di dunia kerja yang sesungguhnya
dimana akan ditempuh setelah menyelesaikan pendidikan.
c. Mendapatkan ilmu tambahan dan pengalaman selama kerja praktek yang
tidak didapatkan selama perkuliahan.
d. Dapat mengembangkan diri dan meningkatkan keterampilan pada
bidangnya.
e. Meningkatkan kemampuan mahasiswa akan pentingnya profesionalisme
dalam dunia kerja.
f. Menjadikan kepribadian yang disiplin, mandiri dan bertanggung jawab
terhadap kewajibannya dalam menyelesaikan tugas.
2. Bagi Universitas
a. Terjalinnya hubungan kerjasama antara universitas dengan perusahaan
tempat kerja praktek.
b. Sebagai bahan evaluasi universitas dibidang akademik untuk perbaikan
kurikulum kedepannya.
c. Dapat mengetahui keterkaitan atau korelasi antara ilmu yang diberikan di
bangku kuliah dengan kondisi nyata dunia kerja.
3. Bagi Perusahaan
b. Dapat membantu perusahaan dalam menyiapkan sumber daya manusia
yang potensial.
c. Tidak menutup kemungkinan adanya saran yang bersifat membangun
untuk lebih menyempurnakan sistem yang sudah ada, dari mahasiswa
pelaksana kerja praktek.
4. Bagi pihak lain pada umumnya
a. Dapat menambah wawasan mengenai keuangan suatu perusahaan dari hasil
kerja praktek yang ditulis dalam laporan kerja praktek.
b. Dapat mengetahui perkembangan keuangan suatu perusahaan dalam
beberapa periode.
1.4. Lokasi Dan Waktu Kerja Praktek
Pelaksanaan kerja praktek dilakukan di Unit Usaha Direktorat Aircraft
Integration PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Jalan Pajajaran No. 154 Bandung.
Waktu pelaksanaan kerja praktek dimulai pada tanggal 5 Juli 2010 sampai dengan
5 BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN PT DIRGANTARA INDONESIA
2.1. Sejarah Singkat Perusahaan
Melalui PP No. 12 tanggal 5 April 1976 pemerintah memberikan
kepercayaan kepada Prof. Dr. Ing. BJ Habibie untuk menghimpun segala potensi
dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia pada waktu itu guna mengelola
dan mengembangkan industri pesawat terbang di Indonesia, dengan dasar PP
itulah maka lahirlah PT. IPTN.
Pada tanggal 23 Agustus 1976 didasari kebutuhan untuk melayani sendiri
sarana transportasi udara yang mampu menghubungkan pulau yang satu dengan
pulau yang lain, karena Indonesia terbentuk atas pulau- pulau yang membentuk
negara Indonesia dan untuk menguasai teknologi.
Pada tahun 1979 PT. IPTN sudah beranjak memasuki tahap dua yaitu
“Integrasi Teknologi”. Tahap ini merupakan penggabungan kemampuan
rancangan dan produksi antara PT. IPTN dengan mitra kerja dari CASA Spanyol.
Melengkapi pesatnya industri pesawat terbang, PT. IPTN mendirikan divisi sistem
persenjataan.
PT. IPTN dan Boeing Company menandatangani kerjasama teknik yang
dibukukan pada tahun1982. Melalui landasan ini landasan baru telah dibuat untuk
ketika pada tahun 1987 PT. IPTN mulai memproduksi sebagian komponen
pesawat Boeing 737, 747, 757, 787, dan Boeing 777.
Secara bertahap dan berkesinambungan suatu pusat perawatan mesin yakni
Universal Maintenance Centre (UMC) didirikan pada tahun 1983. Pendirian dan
pengembangan UMC ini adalah dalam rangka melengkapi suatu agenda “Alih
Teknologi”. Unit ini juga berfungsi merawat, memperbaiki mesin- mesin pesawat
terbang dan helikopter maupun mesin- mesin turbin gas untuk industry dan untuk
keperluan maritime.
Pada usianya yang ke- 10, pemerintah republik Indonesia
menyelenggarakan Indonesia Air Show (IAS) I, yakni pada tahun 1986. Pameran
kedirgantaraan ini menarik perhatian masyarakat luas baik dari dalam maupun
dari luar negeri. Peristiwa ini adalah pertanggungjawaban pemerintah khususnya
PT. IPTN terhadap rakyat tentang apa yang telah dicapai selama 10 tahun
pertama.
Pada tahun 1987 PT. IPTN mulai memproduksi sebagian komponen
pesawat Boeing 737 dan 767. Kerjasama imbal produksi (off-set) dicapai dengan
General Dynamic untuk membuat komponen pesawat F-16 sehubungan dengan
pembelian pesawat tempur tersebut oleh pemerintah RI.
Dalam rangka meningkatkan peluang- peluang alih teknologi serta bisnis,
PT. IPTN bersama dengan New Media Development Organization, Jepang
7
Internasional (NSI). Perusahaan yang bergerak dalam perangkat lunak computer
ini didirikan pada tahun 1988 dan langsung beroperasi.
Untuk lebih memperluas produk- produk dan jasa yang dihasilkan
khususnya di wilayah benua Amerika, sejak tahun 1922 yang lalu PT. IPTN
memiliki branch office yang berkedudukan di Seattle Amerika Serikat dan diberi
nama IPTN-NA (IPTN North America). Itu semua sekaligus sebagai dasar unruk
melangkah lebih lanjut.
Memasuki dasawarsa kedua, PT. IPTN tidak hanya memelihara dan
meningkatkan penguasaan teknologi yakni mengembangkan teknologi dirgantara
sendiri untuk menghasilkan produk yang sama sekali baru.
Sejak tahun 1989, PT. IPTN mulai merancang bangun pesawat N-250. Ini
ditandai dengan peluncurannya pada tanggal 10 November 1994 yang bertepatan
dengan hari Pahlawan, dan beberapa bulan kemudian tepatnya pada tanggal 10
Agustus 1995, N-250 Gatotkaca diterbangkan untuk pertama kalinya. Peristiwa
ini selain dipersembahkan untuk hadiah ulang tahun kemerdekaan Republik
Indonesia yang ke- 50, dan tanggal tersebut dikukuhkan sebagai hari Kebangkitan
Teknologi Nasional.
Sebagai pertanggungjawaban kepada rakyat, pada bulan Juni 1996
pemerintah kembali menyelenggarakan Indonesia Air Show (IAS) II. Pada
kesempatan ini N-250 tampil sebagai primadona dan menunjukkan kebolehannya
Memasuki dasawarsa ketiga, PT. IPTN siap untuk merealisasi era jetsasi, yaitu
dengan dirancangnya pesawat N2130. Pesawat ini dilengkapi dengan dua buah
mesin jet dan akan mengangkut penumpang antara 100-130 orang.
Pada awal abad mendatang pesawat ini akan siap diluncurkan dan
melakukan penerbangan perdananya. Dibidang pemasaran langkah PT. IPTN
semakin progresif menembus pasaran internasional. Hal ini ditandai dengan
dibukanya AMRAI dan EURAI.
Ketika tahun 1997 krisis ekonomi dan moneter melanda kawasan Asia
Tenggara dan Indonesia yang berdampak pada berkurangnya potensi pasar PT.
IPTN. Terkait dengan itu, sejak Oktober 1998 industri ini mempersiapkan
paradigma baru.
Program restrukturisasi perusahaan yang mencakup : reorientasi bisnis,
penataan ulang postur SDM, serta restrukturisasi permodalan dan keuangan
digulirkan. Melalui restrukturisasi ini postur karayawan menyusut dari 15.000
menjadi 10.000 orang. Puncaknya adalah perubahan nama PT. IPTN menjadi PT.
Dirgantara Indonesia (PT. DI), yang dilanjutkan dengan pengukuhan direksi baru.
Nama baru diharapkan melahirkan citra baru yang lebih baik.
Orientasi PT. DI 70% pada bisnis inti pesawat terbang, sementara 30%
nya pada bisnis plasma. Dengan paradigma baru ini PT. DI melahirkan 6 profil
9
Visi :
1. Menjadi produsen pesawat terbang dan helicopter bertaraf Internasional
yang memberikan nilai pelanggan ( customer value ) lebih baik bagi
kebutuhan pasar global, komersial dan militer.
2. Menjadi perusahaan kelas dunia dalam industry dirgantara yang berbasis
pada penguasaan teknologi dan mampu bersaing dalam pasar global
dengan mengandalkan keunggulan biaya.
Misi :
1. Menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas Internasional,
diserahkan tepat waktu dengan biaya rekayasa , produksi dan operasional
yang optimum.
2. Memberikan kemudahan kepada customer dalam mendapatkan dan
mengoprasikan oesawat terbang dan helicopter dengan biaya kepemilikan
yang rendah.
3. Menjalankan usaha dengan selalu berorientasi pada aspek bisnis dan
komersil dan dapat menghasilkan produk dan jasa yng memiliki
keunggulan biaya.
4. Menjadikan perusahaan sebagai pemain kelas dunia di industry global
yang mampu bersaing dan melakukan aliansi strategis dengana industry
2.2 Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan hal yang sangat penting untuk
dipertimbangkan dalam sebuah organisasi, karena berperan dalam pencapaian
tujuan perusahaan. Pengertian struktur organisasi menurut Handoko adalah
organisasi dengan segala aktifitasnya, terdapat hubungan di antara orang-orang
yang menjalankan aktivitas tersebut. Makin banyak kegiatan yang dilakukan
dalam suatu organisasi, makin kompleks pula hubungan-hubungan yang ada.
Untuk itu perlu dibuat suatu bagan yang menggambarkan tentang hubungan
tersebut termasuk hubungan antara masing-masing kegiatan atau fungsi. Bagan
yang dimaksud dinamakan bagan organisasi atau struktur organisasi.
Untuk keterangan lebih jelas, maka struktur organisasi perusahaan dapat
11
Struktur Organisasi Directorat Aircrat Integration PT Dirgantara Indonesia
Sumber : Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia
Gambar 2.1
2.3 DESKRIPSI JABATAN
1. DIRECTORAT AIRCRAFT INTEGRATION
Tugas dan Tanggung Jawab directorat aircraft integration adalah :
a) Memimpin kantor divisi directorat AI, untuk mencapai suatu tujuan
PT Dirgantara Indonesia baik tujuan panjang maupun tujuan
pendek.
b) Mengadakan pembagian tugas dan koordinasi dalam pelaksanaan
kerja serta melakukan evaluasi agar pelaksanaannya sejalan dengan
program kerja.
c) Meneliti dan menganalisa kegiatan operasi yang memungkinkan
perluasan dan pengembangan operasi divisi tersebut.
d) Mengatur penyusunan program kerja.
e) Bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang
menyangkut operasional perusahaan baik ketentuan intern dan
ekstern.
2. DEPARTEMEN UR.UMUM DAN AKUTANSI
Tugas dan Tanggung Jawab Departemen Ur.Umum Dan Akutansi adalah :
a) Menganalisa , mengevaluasi akurasi data general ledger dan
subsidiary ledger untuk seluruh akun – akun cost accounting dalam
13
b) Mengeevaluasi transaksi terhadap akun – akun inventory , property
, dan kalkulasi harga pokok produksi secara tepat dan akurat dalam
mendukung penyajian laporan keuangan.
c) Menganalisa dan melakukan pengawaan setiap akun – akun
property , inventory dan kalkulasi biaya produksi untuk
mendukung laporan keuangan beserta penjelasannya.
3. DIVISI PEMASARAN DAN PENJUALAN
Tugas dan Tanggung Jawab Divisi Pemasaran dan Penjualan adalah :
a) Memastikan setiap Penjualan & Pemasaran membuat rencana
aktifitas untuk penjualan pesawat dan memasarkannya.
b) Memastikan penjualan & pemasaran mematuhi prinsip-prinsip
mengenai penjualan pesawat sesuai dengan ketentuan yang
dikeluarkan oleh PT Dirgantara Indonesia.
c) Memberikan pengarahan dan konseling kepada penjualan &
pemasaran officer sesuai kebutuhan guna meningkatkan
produktifitas.
d) Melakukan planning terhadap pengembangan penjualan &
pemasaran officer meliputi career planning, training, dan
pengembangan lainnya sehingga mendapatkan kesempatan untuk
4. BIDANG FINANCIAL ACCOUNTING
a) Tugas Pokok :
Memelihara akurasi data general ledger dan subsidiary ledger
untuk seluruh akun- akun financial aaccounting dalam laporan keuangan
yang ada di Direktorat Aircraft Integration dan membuat lampiran
pendukungnya secara lengkap, serta melakukan konfirmasi atas hutang/
piutang dengan pihak terkait dan dengan korporasi untuk keperluan
kompilasi laporan keuangan induk/ konsolidasi.
b) Wewenang dan Tanggung Jawab :
1. Menganalisis dan melakukan pengawasan dari setiap transaksi
keuangan, untuk menyajikan laporan keuangan berupa neraca,
laba/rugi, beserta penjelasannya.
2. Melaksanakan rekonsliasi dan validasi atas seluruh data pendukung
laporan keuangan dengan pihak terkait.
3. Melakukan konfirmasi atas akun- akun keuangan dengan pihak intern
maupun ekstern perusahaan.
4. Menjamin pelaksanaan TQI (Total Quality Improvement) dan K3LH
untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja accounting.
c) Hubungan Organisasi
1. Kedudukan
a) Bertanggung jawab langsung kepada manajer urusan umum dan
akuntansi.
15
- General ledger financial accounting, posting/ jurnal
- Subsidiary ledger financial accounting
- Rekonsiliasi, konfirmasi
2. Di Dalam Perusahaan
Berkoordinasi baik di lingkungan Direktorat Aircraft
Integration dan korporat dalam hal koordinasi, rekonsiliasi, validitas,
konfirmasi terhadap data- data pendukung pembuat laporan keuangan.
3. Dengan Instansi/ Lembaga/ Perusahaan di Luar PT DI.
Auditor dan Lembaga Perpajakan.
5. BIDANG COST ACCOUNTING
a) Tugas Pokok :
Menganalisis, mengevaluasi akurasi data general ledger dan
subsidiary ledger untuk seluruh akun- akun Cost Accounting dalam
laporan keuangan yang ada di Direktorat Aircraft Integration. Serta
mengevaluasi transaksi terhadap akun- akun inventory, properti, dan
kalkulasi harga pokok produksi secara tepat dan akurat dalam mendukung
penyajian laporan keuangan.
b) Wewenang dan Tanggung Jawab :
1. Menganalisis dan melakukan pengawasan setiap akun- akun properti,
inventory, dan kalkulasi biaya produksi untuk mendukung laporan
2. Melakukan koordinasi dan konfirmasi atas data- data properti dan
inventory dengan pihak terkait dalam rangka menentukan status
kekayaan/ asset.
3. Melakukan monitoring dan jurnal/ posting transaksi Cost Accounting
di Direktorat Aircraft Integration.
4. Melakukan koordinasi dengan koporasi dan unit lain dalam ragka
mendukung korporasi melakukan konpilasi jurnal transaksi ke general
ledger dan subsidiary ledger.
5. Mengajukan adjustment yang diperlukan dalam kesalahan posting
pada saat jurnal di Direktorat Aircraft Iintegration.
6. Membuat rekapitulasi data subsidiary ledger sebagai lampiran neraca
dan laba/ rugi Direktorat Aircraft Integration.
7. Menjamin pelaksanaan TQI (Total Quality Improvement) dan K3LH
untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas accounting.
c) Hubungan Organisasi
1. Kedudukan
a) Bertanggung jawab langsung kepada manajer urusan umum dan
akuntansi.
b) Membawahi posisi jabatan/ pekerjaan :
- General ledger, posting/ jurnal cost accounting
- Subsidiary ledger cost accounting
17
2. Di Dalam Perusahaan
Melakukan koordinasi dengan fungsi terkait baik di dalam
Direktorat Aircraft Integration dan direktorat lainnya maupun dengan
korporasi dalam pelaporan keuangan perusahaan.
3. Dengan Instansi/ Lembaga/ Perusahaan di Luar PT DI
a) Auditor, dalam hal audit laporan keuangan khusus terhadap akun-
akun cost accounting Direktorat Aircraft Integration.
b) Institusi lain, dalam hal inventarisasi dan rekonsiliasi data
pendukung laporan keuangan.
2.4. ASPEK KEGIATAN PERUSAHAAN
1. Aircraft
Memproduksi beragam pesawat untuk memenuhi berbagai misi sipil , militer dan
juga misi khusus.
NC-212
Pesawat berkapasitas 19-24 penumpang, dengan beragam versi , dapat lepas
landas dan mendarat dalam jarak pendek serta mampu beroperasi pada landasan
rumput atau tanah.
CN-235
Pesawat angkut komuter serba guna dengan kapasitas 35-40 penumpang , dapat
digunakan dalam berbagai misi , dapat lepas landas dan mendarat dalam jarak
NBO-105
Helicopter multi guna ini mampu membawa 4 penumpang , sangat baik untuk
berbagai macam misi , mempunyai kemampuan hovening dan maneuver dalam
situasi penerbangan apapun.
2. Aerostructure
Bisnis satuan usaha aerostructure meliputi :
a) Pembuatan komponen aerostructure ( machined parts, sub assembly ,
assembly )
b) Pengembangan rekayasa , pengembangan komponen aerostructure yang
baru.
c) Perancangan dan pembuatan alat-alat.
3. Aircraft Service
Dengan keahlian dan pengalaman bertahun-tahun , unit usaha aircraft service
menyediakan service pemeliharaan pesawat dan helicopter berbagai jenis yang
meliputi :
a) Penyediaan suku cadang.
b) Pembaharuan dan modifikasi struktur pesawat
c) Pembaharuan interior
d) Maintenance dan overhaul.
4. Engineering Service
Dilengkapi dengan perancangan dan analisis yang canggih fasilitas uji
19
internasional , satuan usaha engineering siap memenuhi kebutuhan produk dan
jasa bidang engineering.
5. Defence
Bisnis utama satuan usaha defence, terdiri dari :
a) Produk-produk militer
b) Perawatan
c) Perbaikan
d) Pengujian dan kalibrasi baik secara mekanik maupun elektrik dengan
tingkat akurasi yang tinggi
e) Integrasi alat-alat perang
20 3.1. Bidang Pelaksanaan Kerja Praktek
PT. Dirgantara Indonesia memiliki lima satuan usaha yaitu
Aircraft, Aerostucture, Aircraft Services, Engineering Services, dan
Defence. Berdasarkan bidang kajian yang diperlukan pada surat
permohonan kuliah kerja praktek, penulis ditempatkan di Direktorat
Aircraft Integration pada Departemen Umum dan Akuntansi. Dari
kesesuaian bidang kajian yang diperlukan dan penempatan kerja praktek,
3.2. Teknis Pelaksanaan Kerja Praktek
Hasil kerja praktek selama kurang lebih 1 bulan yang dimulai pada tanggal 05 juli 2010 sampai dengan 05 agustus 2010 pada PT DIRGANTARA INDONESIA cukup menberikan hasil yang baik pada penulis selaku mahasiswa PKL,sehingga dapat menambah ilmu dan pengetahuan tentang ilmu kerja yang sebenarnya.
Kegiatan atau aktivitas penulis selama kerja praktek di PT DIRGANTARA INDONESIA adalah sebagai berikut :
1. Membantu menginput data dari sistem produksi yang ada ke sistem keuangan.
2. Melakukan pengarsipan dokumen- dokumen fisik berdasarkan per nomor
21
3. Membantu mengambil data dari suatu sistem yang disebut dengan sistem
ERP.
4. Membantu proses pengolahan data dalam menjurnal untuk menghasilkan
laporan keuangan.
3.3. Hasil Pelaksanaan Kerja Praktek
3.3.1. Perhitungan Rasio Likuiditas pada Direktorat Aircraft
Integration PT. Dirgantara Indonesia Periode (2008 – 2009). Untuk mengetahui apakah keuangan Direktorat Aircraft Integration
PT. Dirgantara Indonesia periode (2008 – 2009) sudah baik dan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya
dapat menggunakan perhitungan rasio likuiditas.
Berikut ini adalah perhitungan untuk mengetahui nilai rasio
likuiditas Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia periode
Tabel 3.1
Data Terhitung untuk Likuiditas Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia Periode 2008 – 2009
(dalam jutaan rupiah)
NO KETERANGAN 2008 2009
1. Total aktiva Lancar 830.530 825.544
2. Total Kewajiban Lancar 511.161 345.129
3. Persediaan 548.707 371.370
4. Kas 107 202.299
Sumber : Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia
1) Rasio likuiditas untuk periode 2008 :
a. Current rasio
Current ratio = Total Aktiva Lancar
Total Kewajiban Lancar
x 100%
Current ratio = 830.530
511.161
x 100%
= 162,5%
Artinya : Jika perusahaan memiliki current rasio sebesar 162,5%,
hal itu berarti bahwa setiap Rp.1,00 perusahaan dapat melunasi utang atau
kewajiban lancarnya sebesar Rp. 162,5 aktiva lancar.
b. Quick ratio
Quick ratio = Total Aktiva Lancar – Persediaan
23
Quick ratio =830.530 –548.707
511.161
x 100%
=
0.55%
Artinya : Jika perusahaan memiliki Quick ratio sebesar 0.55%
, hal itu berarti bahwa setiap Rp.1,00 utang lancar perusahaan dapat
menjamin pembayarannya oleh Rp. 0,55 kas dan piutang yang ada jadi
tidak harus menunggu hasil penjualan persediaan yang dimiliki
perusahaan.
melunasi setiap utang lancar sebesar Rp.1,00
2) Rasio likuiditas untuk periode 2009 :
a. Current rasio
Current ratio = Total Aktiva Lancar
Total Kewajiban Lancar
x 100%
Current ratio =825.544
= 239,198%
Artinya : Jika perusahaan memiliki current rasio sebesar
239,198%,hal itu berarti bahwa setiap Rp.1,00 perusahaan dapat
melunasi utang atau kewajiban lancarnya sebesar Rp. 239,198 aktiva
lancar.
b. Quick ratio
Quick ratio = Total Aktiva Lancar – Persediaan
Total Kewajiban Lancar
x 100%
Quick ratio =825.544 – 371.370
345.129
x 100%
= 131,595%
Artinya : Jika perusahaan memiliki Quick ratio sebesar 131,595%
, hal itu berarti bahwa setiap Rp.1,00 utang lancar perusahaan dapat
menjamin pembayarannya oleh Rp. 131,595 kas dan piutang yang ada jadi
tidak harus menunggu hasil penjualan persediaan yang dimiliki
perusahaan.
c. Cast ratio
Cash ratio = Kas
25
utang lancar sebesar Rp.1,00
3.3.2. Perkembangan Rasio Likuiditas pada Direktorat Aircraft
Integration PT. Dirgantara Indonesia Periode (2008 – 2009)
Berikut tabel untuk mengetahui perkembangan rasio likuiditas
pada Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia Periode
2008 – 2009.
Tabel 3.2
Perkembangan Rasio Likuiditas Periode 2008 - 2009
No Rasio Likuiditas Periode
2008 2009
1. Current ratio 162,5% 239,198%
2. Quick ratio 0.55% 131,595%
3. Cash ratio 0,0002093% 58,615%
Sumber : Diolah penulis
Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa
perkembangan rasio likuiditas tahun 2008 - 2009 yang diperoleh
Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia adalah sebagai
1. Curent rasio pada tahun 2008 sebesar 162,5% tahun 2009 sebesar
239,198%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa curent rasio
yang diperoleh dari tahun 2008 ke tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar
76,7%.
2. Quick ratio pada tahun 2008 sebesar 0.55% tahun 2009 131,595% . Hasil
perhitungan tersebut menunjukkan bahwa quick ratio dari tahun 2008 ke
tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 131,04%.
3. Cash ratio diperoleh tahun 2008 yaitu sebesar 0,0002093% tahun 2009
yaitu sebesar 58,615%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa
cash ratio dari tahun 2008 ke tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar
58,6%.
3.3.3. Hambatan – hambatan dan penanggulangan perhitungan rasio likuiditas pada Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara
Indonesia Periode (2008– 2009).
Hambatan dalam perhitungan rasio yaitu sering terjadi human
error yaitu kesalahan yang dilakukan oleh auditor keuangan. Dimana
sering terjadi kesalahan pencatatan angka. Cara menanggulanginya adalah
dengan melakukan cross check ulang sehingga tingkat kesalahan dapat
27 BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan kerja praktek pada Bab III, maka penulis
dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perhitungan rasio likuiditas yang digunakan pada Direktorat Aircraft
Integration adalah Current Rasio mengetahui seberapa jauh aktiva lancar
perusahaan digunakan, Quick Ratio atau persediaaan, Cash Ratio
perbandingan antara kas di perusahaan dan di bank.
2. Perkembangan rasio likuiditas tahun 2008 - 2009 yang diperoleh
Direktorat Aircraft Integration PT. Dirgantara Indonesia adalah sebagai
berikut:
a. Curent rasio pada tahun 2008 sebesar 162,5% tahun 2009 sebesar
239,198%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa curent
rasio yang diperoleh dari tahun 2008 ke tahun 2009 mengalami
kenaikan sebesar 76,7%.
b. Quick ratio pada tahun 2008 sebesar 0.55% tahun 2009 131,595% .
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa quick ratio dari tahun
2008 ke tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 131,04%.
c. Cash ratio diperoleh tahun 2008 yaitu sebesar 0,0002093% tahun 2009
bahwa cash ratio dari tahun 2008 ke tahun 2009 mengalami kenaikan
sebesar 58,6%.
3. Dalam perhitungan rasio likuiditas terdapat suatu faktor yang dapat
menghambat yaitu Hambatan dalam perhitungan rasio yaitu sering terjadi
human error yaitu kesalahan yang dilakukan oleh auditor keuangan.
Dimana sering terjadi kesalahan pencatatan angka. Cara
menanggulanginya adalah dengan melakukan cross check ulang sehingga
tingkat kesalahan dapat dikurangi.
4.2 Saran
Berdasarkan pelaksanaan kerja praktek, maka sebagai masukan penulis
mengemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Dalam melakukan perhitungan rasio likuiditas perusahaan sebaiknya
melakukan pengadministrasian lebih tertib.
2. Untuk meningkatkan rasio likuiditas perusahaan tersebut harus
meningkatkan produksinya supaya kewajiban jangka pendeknya dapat
terpenuhi.
3. Untuk menanggulangi hambatan perhitungan rasio likuiditas tersebut
auditor keuangan harus lebih fokus lagi dalam melakukan tanggung
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. Data Pribadi
Nama : Herni Siti Jubaedah
Tempat/Tanggal Lahir : Bandung, 20 April 1990
Umur : 20 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Mahasiswa
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Alamat : Jl. Melong Asih Bbk. Sukamaju no.354
No. Telepon : 08997867937
II. Pendidikan Formal
1. Lulusan SDN Melong Asih 8 1996 – 2002 2. Lulusan SMP Pasundan 2 Cimahi 2002 – 2005 3. Lulusan SMAN 13 Bandung 2005 – 2008
4. UNIKOM 2008 – sekarang
Bandung ,
Saya Yang Bersangkutan